• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemaknaan Ritual Setelah Panen Suku Dayak Kanayatn Di Pontianak: Studi Etnografi Komunikasi Upacara Adat Naik Dango

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemaknaan Ritual Setelah Panen Suku Dayak Kanayatn Di Pontianak: Studi Etnografi Komunikasi Upacara Adat Naik Dango"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms.. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP.

(2) LAMPIRAN TRANSKRIP WAWANCARA. Narasumber II. : Yohanes Nenes. Hari/Tanggal Wawancara. : Minggu, 4 Juni 2017. Waktu Wawancara. : 15.00. Tempat Wawancara. : Jl. Wonobaru No. 8B. Cynthia Novella (C) Yohanes Nenes (Y). C: Sudah berapa lama Pak aktif dalam kegiatan ini? Y: Sudah sejak 2004, berarti sudah 13 tahun ya kira-kira. C: Berapa banyak suku Dayak Kanayatn yang ada di Pontianak dan apa makna dari kata Dayak? Y: Dayak Kanayatn disebut juga sebagai Dayak Ahe. Ahe yang artinya Apa. Karena bahasa Dayak Kanayatn merupakan bahasa paling mudah dan mirip dengan bahasa asli Indonesia, jadinya bahasa Dayak Kanayatn dipakai sebagai bahasa persatuan suku Dayak di seluruh Kalimantan Barat. Kalo di Kalimantan Barat, sudah terdapat 450 bahasa Dayak dan 250 subsuku yang tersebar luas. C: Mengapa rumah orang Dayak berbentuk persegi panjang? Y: Rumah masyarakat Dayak disebut juga dengan Rumah Panjang atau Rumah Radankg. Rumah tersebut memiliki fungsi untuk menghindari binatang buas, menghindari dari musuh. Jadi ketika mereka akan diserang musuh, mereka bersama-sama bergotong-royong melawan musuh.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(3) C: Ritual Naik Dango itu sendiri, makna nya apa ya? Y: Jadi, naik dango itu biasa disebut dengan Gawai Dayak. Itu tuh acara pesta nya orang Dayak Kanayatn sebagai tanda bahwa masa panen sudah selesai. Biasanya kegiatan ini pasti di lakukan di semua daerah khususnya Kalimantan Barat, termasuk di Pontianak seperti kemarin kan itu selama seminggu tanggal 20 Mei sampai 27 Mei. C: Apa saja persiapan yang dilakukan sebelum upacara adat Naik Dango kemarin? Y: Jadi pertama-tama, padi pertama yang di ambil, disimpan dan digunakan sebagai bibit untuk tahun depan. Padi tahun lalu di ambil di Pahuman dan Pahayaman nama tempatnya. Padi tersebut dimasukkan dalam satu lumbung, lumbung itu dari masing-masing orang Dayak itu berbeda. Dayak Kanayatn itu menyebutnya Baluh, Gadoponkg, atau Langko. Ada juga yang disebut Pante’. Itu kayak sebuah wadah yang terbuat dari bambu atau kayu yang dibuat seperti rumah tanpa atap. Fungsinya untuk menjemur padi. Padi yang mau disimpan untuk bibit berikutnya, dipersembahkan juga kepada Sang Pencipta agar bibit tidak rusak dan dapat menghasilkan lebih bagus. Nah, setelah itu barulah ada ritual lain lagi, namanya Ngampar Bide. Baru terakhir itulah Naik Dango sebagai persembahan kepada Jubata (Tuhan), ucapan syukur lah. Makanya banyak sekali acara-acara lomba dan kesenian di Pekan Gawak Dayak kemarin. C: Saat acara kemarin, banyak sekali orang Dayak yang memakai baju khas dan corak yang menarik. Apa saja makna dari simbol-simbol tersebut? Y: Corak yang dipakai suku Dayak Kanayatn itu simbolnya paku/pakis dan cucur, artinya ada kehidupan berkelanjutan atau terus menerus. Lebih bermakna generasi yang berkembang. Lalu, warna dominan yang biasa dipakai itu sudah pasti warna merah, hitam dan kuning. Kalo untuk Dayak Kanayatn khususnya, Dayak Kanayatn itu bajunya menggunakan rompi, tidak ada manik-manik, dasarnya warna hitam dan merah. Kalau untuk laki-laki biasa disebut dengan Kapoak. Celana dan baju terbuat dari kayu yang namanya Tarap, tidak ada manik, dari kerang-kerangan laut. Lonceng kecil yang digunakan di kaki hanya digunakan saat mereka ingin berdukun. Beda dengan perempuan, celana dan rok terbuat dari bahan kayu yang disebut Tarap, pernak-pernik yang digunakan karang laut dengan lonceng kecil yang digunakan di kaki. Masyarakat Dayak juga wajib menggunakan ikat kelapa berwarna merah dalam keadaan apapun. Jaman dulu memang digunakan untuk sehari-hari. Ketika zaman semakin berkembang, pakaian dan pernak-pernik hanya digunakan saat akan melakukan ritual adat tertentu, misalnya pengobatan, upacara, dll. Makna ikat kepala berwarna merah itu disebut dengan Rinyuakng. Kalau untuk pakaian adat di Gawai Dayak kemarin, sudah banyak yang dikostum sendiri sebagai pelengkap. Jadi, pernak pernik kalung yang menggunakan taring binatang itu untuk menunjukkan bahwa dia pernah membunuh binatang tersebut. Sebagai bukti sekaligus simbol bahwa masyarakat Dayak berburu. Simbol tengkorak pada masyarakat Dayak Kanayatn biasanya tidak digunakan bersama pakaian adat. Tengkorak tersebut disimpan di. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(4) dalam suatu rumah, pada waktu itu ada budaya Ngayau. Hasil kepala Ngayau disimpan disitu. Ngayau dilaksanakan salah satu syarat seorang laki-laki apakah ia sudah dewasa. Saat laki-laki akan meminang perempuan, syarat yang diajukan untuk membuktikan itu adalah dengan mendapatkan tengkorak dari kampung yang berbeda selain Kanayatn. Laki-laki tersebut harus keluar dari kampungnya untuk mengayau. Makna ngayau adalah sebagai identitas bahwa laki-laki sudah mampu berumah tangga dan berhak mengikuti atau berpartisipasi dalam perang antar suku. C: Dari lomba-lomba yang diadakan, mengapa suku Dayak Kanayatn menerapkan budaya memahat patung? Apa aritnya? Y: Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, patung disebut juga dengan Pantak’. Pantak’ memiliki banyak bentuk, seperti wajah manusia, binatang misalnya burung enggang gading, harimau, burung elang, beruang, orang utan dan sebagainya yang biasanya dipakai sama suku Dayak lain sebagai pakaian khas mereka, sebagai simbol pelengkap sajalah. Binatang yang dibentuk itu dianggap harus memiliki kekuatan fisik. Fungsi memahat patung sebagai pengingat dan penggambaran situasi masa lalu. Orang Dayak Kanayatn sampai saat ini masih percaya bahwa untuk mengambil suatu roh, bisa melalui patung itu. Dihidupkan melalui ritual-ritual tertentu. Bagi kami, patung berfungsi sebagai media interaksi untuk berdialog atau berkomunikasi dengan roh-roh yang dianggap masih ada, khususnya roh nenek moyang dari dunia tidak nyata ke dunia nyata. Ritual menghidupkan patung ini biasanya harus menggunakan darah babi hitam, darah ayam merah jatan, darah anjing hitam, sesajian makanan seperti nasi, garam, tumpik. C: Sebenarnya apa yang membedakan Dayak Kanayatn dengan Dayak lainnya yang ada di Kalimantan? Y: Jadi ada beberapa hal yang membedakan kami dengan Dayak lainnya. Pertama, ada yang namanya budaya Ngayau dan mangkok merah. Itu tidak ada di suku Dayak lain, hanya diterapkan oleh suku Dayak Kanayatn. Kedua, budaya Matok, itu maksudnya menandai tempat-tempat yang akan diserang dengan kekuatan roh dari jarak jauh. Ketiga, budaya Tariuh, sejenis ritual memanggil roh nenek moyang, tapi ritual-ritual dengan jarak minimal 100km sudah bisa terdengar. Sebelum menghadapi genderang perang, masyarakat biasanya orang Dayak Kanayatn sudah mencuci dirinya agar kebal dari serangan. Dikarenakan kepercayaan yang kuat terhadap alam, segala jenis tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan ilmu kekebalan, tapi hanya berlaku pada masyarakat Dayak Kanayatn asli. Ketika Matok dan Tariuh ini sudah dijalankan, masyarakat Dayak berjalan sudah seperti kaki Kancil, cepat sekali dan tidak meninggalkan jejak sama sekali. Lalu, kalo mangkok merah itu biasanya digunakan dalam suasana genting, karena waktu dulu tidak ada alat komunikasi. Jadi, mangkok merah inilah sebagai alat komunikasi seperti saat ini yaitu SMS atau telegram. Hanya saja, mangkok merah ini mengandung kekuatan roh yang sudah dimantra. Di dalamnya terdapat darah ayam, bulu ayam, beras kuning, dan cangkarok (biji beras). Sebenarnya mangkok. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(5) merah ini tidak dijalankan oleh setan, hanya mengandung kekuatan megis dan berjalan dari kampung A ke kampung B, berlanjut ke kampung C dan seterusnya. Penyampaian pesan ini berjalan sangat cepat dan menandakan bahwa situasi benar-benar sedang genting menandakan adanya perang. Berjalannya mangkok merah ini bukan berjalan sendiri, melainkan disampaikan juga oleh masyarakat Dayak. Ketika seseorang sudah mendapatkan Mangkok Merah, maka mereka harus segera melanjutkan pesan ke masyarakat lainnya. Terakhir yang paling unik itu, orang Dayak Kanayatn mampu membedakan suku dalam bentuk bau. Misalnya orang Madura, Jawa, dan Dayak kan mirip-mirip ya. Ini salah satu kelebihan orang Dayak Kanayatn mampu mengetahui suku lain dari jarak 400km dengan waktu kurang dari 1 (satu) jam. Tapi hanya berlaku untuk orang Dayak asli, kalo perkawinan campuran itu sudah tidak bisa.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(6) TRANSKRIP WAWANCARA. Narasumber I. : Feridiana Janiam. Hari/Tanggal Wawancara. : Senin, 5 Juni 2017. Waktu Wawancara. : 19.00. Tempat Wawancara. : Jl. Wonobaru No. 8B. Cynthia Novella (C) Feridiana Janiam (J). C: Apa makna upacara adat Naik Dango bagi Ibu sebagai tokoh masyarakat Dayak Kanayatn? J: Naik Dango itu kan upacara adat orang Dayak ya, sebagai bentuk sukacita lah gitu. Menandakan untuk penutupan tahun berladang. C: Apa saja tahap-tahap yang dilakukan sebelum ritual adat Naik Dango? J: Melanjutkan dari Pak Yohanes ya. Jadi, pertama itu pergi ke suatu tempat disebut Nabo’ Panyugu. Artinya kita pergi ke suatu tempat namanya Nabo’. Tanah dibuka dengan bentuk lingkaran atau segiempat dan dipasang bambu yang dinamakan sarungkang. Nyangahatn menggunakan 1 ayam bepinta, buka lahan besar2 lalu dibakar. Adat untuk meminta agar lahan bisa menghasilkan dan tidak diganggu oleh hama. Saat akan menjatuhkan benih pertama, ada ritual lagi. Benih pertama ditaruh di Jangkek itu benih tahun lalu, lalu taruh di lahan bambu. Benih tersebut di ambil bersama-sama yang dinamakan Alean, maksudnya bekerja secara gotong royong, jadi ramai-ramai 1 kampung. Nanti ketika padi tumbuh, mulai matang sedikit, namanya Matahatn (ngambil 1 padi). Daun-daun diambil, masukkan dalam 1 rumah-rumahan, dihanyutkan ke sungai. Jadi semua hama (penyakit padi) hanyut bersama air, minta sama Sang Pencipta. Ketika padi sudah matang, diambil lagi disebut dengan Ritual Matahatn. Nanti setelah itu, ritual lagi. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(7) di Panyugu terdapat Pantak’ (patung) yang tangannya membentang, tempayan, dan daun Rinyuakng. Nabo’ itu berarti berkunjung dengan tujuan bebilang dan minta restu kepada nenek moyang untuk melakukan acara. Mereka juga melakukan Nyangahatn. Nyangahatn Nabo’ Panyugu pakai tali tarap (saat bermantra) di lumbung padi, beras banyu, tampukng tawar (menawari/penawar), ayam, beras ketan tanpa ragi dalam bambu namanya Sole Tareng. Biasanya memang di dekat Panyugu pasti selalu ada pohon Rinyuakng, karena pohon Rinyuakng itu selalu di tanam di tempat yang ada Pantak’ dan dianggap suci. Jadi, tempat suci itu biasanya dipegunungan, di bawah pohon besar tetapi harus ada patung dari kayu itu. lalu, lanjutlah ada kegiatan ritual lagi namanya Ngampar Bide. Itu kegiatan setelah Nabo’ Panyugu, yaitu berpinta kepada roh nenek moyang untuk mengadakan suatu pesta atau acara. Ritual ini dijalankan di rumah yang dijadikan sebagai tempat untuk mengadakan acara. Mereka menjiwai dan memasukkan roh dalam rumah tersebut agar pesta atau acara yang dilakukan tidak diganggu dan meminta maaf kepada roh nenek moyang jika ada kekurangan dalam acara tersebut. Maka ada pepatah masyarakat Dayak Kanayatn dalam ritual nyangahatn yaitu, “Jika ada kekurangan janganlah dicari, inilah yang kami punya maka lengkapilah.” Bide merupakan peraga adat seperti lamin. Barulah terakhir itu acara Naik Dango ya, biasanya orang Dayak itu siimpan makanan di sudutsudut atas rumah-rumahan (kasih makan untuk roh) namanya Tumpakng. Di dalam Tumpakng ada tumpik, sekapur sirih, suwiran daging ayam & babi. Nyangahatn gak pake babi, tapi pestanya bole pake babi. Apa saja yang dibutuhkan dalam ritual Nabo’ Panyugu dan Ngampar Bide? J: Kalo dalam Nabo’ itu sifatnya mentah atau mantak, jadi ada tumpik (cucur) tidak boleh warna merah, harus putih. Lalu ayam di potong atau bekipis namanya. Ayamnnya harus yang masih hidup, tunggu sebentar, kemudian di rebus, diambil semua ramuan di dalam, baru namanya Nyangahatn masak. Kalau udah masak, Nyangahatn masak boleh ada cucur merah pakai gula merah. Ayam 2 ekor, tempayan, parang, sekapur sirih lengkap, pahar, uang sebagai mata, beras pulut dan beras biasa masing-masing 1kg, piring putih 2, telur kampung 2, bontokng (beras yang dimasak dengan daun, daun pisang/pinang), pelita, baliung. Dalam pahar biasanya ada ayam, nasi, baliung, sekapur sirih, uang, beras, bontokng, tumpik poe’ itu semacam cucur putih dan nasi ketan. Trus, ada piring putih berfungsi untuk menaruh beras, seperti kita mengirim surat, sebagai bukti bahwa kita telah melakukan ritual adat. Makna mantra memohon kepada Jubata agar saat Pekan Gawai tidak terjadi malapetaka, tidak terjadi keruntuhan, tidak terjadi halhal yang menimpa orang baik pekerja seni ataupun orang yang membantu saat gawai. Mantra diucapkan dalam bahasa Dayak oleh roh nenek moyang. Terakhir, barulah kegiatan makannya setelah ritual selesai, makan bersama. Dimasak bersama babi ayam dan lain-lain. Itulah bentuk syukurannya.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(8) C: Apa saja makna-makna dari bahan-bahan yang digunakan sebagai peraga dalam upacara? J: Babi. -. -. -. -. Babi itu sebagai salah satu bahan pelengkap dalam upacara adat Dayak Kanayatn. Babi itu penting dalam ritual ini, karena memang digunakan sebagai lambang berkurban. Kan ingin meminta restu kepada Jubata, makanya babi sebagai makanan pokok masyarakat Dayak pun dipersembahkan. Tanpa babi, upacara adat tidak dapat dilaksanakan. Masyarakat Dayak Kanayatn menggunakan babi karena melambangkan hukum adat yang perlu ditegakkan, ketika babi sudah ada dalam ritual adat, maka upacara tersebut sudah siap untuk dilaksanakan. Babi dianggap hewan yang sakral dan memiliki kekuatan, keberanian, dan kehidupan dalam tradisinya. Selain itu, babi juga dianggap sebagai syarat untuk memasuki kehidupan baru. Pada saat pembacaan mantra/doa Nyangahatn, babi dilambangkan sebagai pengorbanan masyarakat Dayak Kanayatn yang bertujuan untuk dipersembahkan kepada Jubata (Tuhan) sebagai rasa balas budi, membayar kesalahan dan sebagai ucapan terima kasih (syukur) kepada Jubata (Tuhan). Jika tidak ada seekor babi yang dikurbankan, maka masyarakat Dayak Kanayatn dianggap memiliki hutang kepada Jubata (Tuhan) sehingga babi hitam jantan sebesar 30-40kg yang diiris-iris harus dikurbankan. Ayam Ayam memiliki arti dan tujuan agar segala sesuatu yang sudah dilarutkan. Ayam juga berfungsi sebagai bentuk kurban dan biasanya menggunakan seekor ayam jantan dan seekor ayam betina berwarna putih. Ayam juga dilambangkan sebagai kehidupan dan kemakmuran karena ayam itu kan bisa terbang bebas, lalu bisa mencari makan sana sini (sendiri). Salapa Singsorongan Di dalam nya berisi pinang, daun sirih, kapur sirih. Jadi, orang dahulu para leluhur itu setiap kali ada pesta, pasti akan makan siirh. Makanya selalu ada kapur sirih, bahkan biasa rokok karena dipercayai masyarakat suku Dayak Kanayatn para leluhur akan datang pada saat pesta berlangsung. Tali, parang Benda tersebut dikenali sebagai alat atau media untuk menjaga roh manusia. Pelita Melambangkan lilin, sebagai cahaya dan penerangan masyarakat Dayak Kanayatn untuk mencari jalan kepada Jubata (Tuhan), agar dalam ritual berjalan dengan lancar. Air bunga kemangi Air kemangi dipercayai orang Dayak untuk membersihkan diri baik secara rohani maupun secara fisik.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(9) - Pelantaran Di wadah ini biasanya berisi beras pulut (poe’) dan beras gunung, telur, buah tengkawang, dan uang koin yang dipersembahkan kepada Jubata (Tuhan) sebagai tanda penghormatan. - Pahar Tempat menaruh sesajian biasanya terbuat dari tembaga. - Tempayan manyanyi Tempat untuk menyimpan beras saat sedang mengadakan ritual sebagai bentuk padi yang akan dipersembahkan kepada Jubata (Tuhan) dan para nenek moyang. - Tampukng tawar Berisi kunyit dan beras dan dibuat dalam pesta agar jangan sampai ada hal-hal buruk yang terjadi. - Tumpi poe’ Biasa tumpi ini dikenal dengan cucur dan pulut, itu adalah makanan ciri khas suku Dayak Kanayatn. - Air pencuci yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan Jubata (Tuhan) dan menandakan awal datanya Jubata. Air pencuci ini dibuat dengan menggunakan air biasa. Itulah benda serta syarat-syarat yang digunakan oleh suku Dayak Kanayatn dalam melakukan ritual adat dalam menyambut upacara adat Naik Dango. Biasanya kalau dalam Nabo’, ada dua jenis bahan yang digunakan, tapi hanya pilih salah satu ya. Ada yang disebut Nyangahatn mantak (mentah) dan Nyangahatn masak. Sebenarnya tidak ada perbedaan khusus, hanya saja untuk kegiatan Naik Dango kemarin itu menggunakan bahan mentah (mantak) karena ada ritual memanggil roh. Dalam Nyangahatnnya, sesajian itu semua disimpan di atas pahar. Untuk babi itu selalu ada dan selalu digunakan dalam ritual adat, ayam, dan anjing itu hanya dipakai saat-saat tertentu, biasanya dipakai saat genting atau saat akan perang. Jadi meminta kekuatan dari roh leluhur dengan menggunakan darah anjing karena dipercaya bahwa roh memakan darah. Semua sesajian yang dipersembahkan ini sebagai bentuk rasa penghormatan kepada Jubata (Tuhan) dan roh nenek moyang agar mendapat berkat agar melimpah dan perladangan akan meningkat setiap tahunnya.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(10) Upacara Pembukaan Pekan Gawai Dayak XXXII. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(11) Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(12) Lomba Pahat Patung dan Melukis Kanvas. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(13) Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(14) Para finalis Bujang Dara Gawai Dayak XXXII. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(15) Kampanye Gawai Dayak XXXII pada Sabtu, 20 Mei 2017 pkl. 13.00.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(16) Foto bersama Joseph Odillo Oendoen, S. Sn selaku Ketua Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat (SEKBERKESDA).. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(17) Foto bersama narasumber yaitu Feridiana Janiam dan Yohanes Nenes selaku tokoh Dayak Kanayatn dan merupakan pasangan suami istri.. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(18) Patung Pantak’ yang terdapat dalam Panyugu. Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(19) Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(20) Pemaknaan Ritual Setelah..., Cynthia Novella, FIKOM UMN, 2017.

(21)

Gambar

Foto bersama Joseph Odillo Oendoen, S. Sn selaku Ketua Sekretariat Bersama  Kesenian Dayak Kalimantan Barat (SEKBERKESDA)
Foto bersama narasumber yaitu Feridiana Janiam dan Yohanes Nenes  selaku tokoh Dayak Kanayatn dan merupakan pasangan suami istri

Referensi

Dokumen terkait

Peristiwa Komunikatif dalam upacara adat Babarit yaitu perayaan mengucap rasa syukur dalam bentuk ritual khusus yang dilaksanakan satu tahun sekali yang sudah

Skripsi ini berjudul KOMUNIKASI RITUAL ADAT SEBA MASYARAKAT BADUY LUAR (STUDI ETNOGRAFI KOMUNIKASI RITUAL ADAT SEBA MASYARAKT BADUY LUAR DESA KANEKES KECAMATAN

Upacara Adat Bau Nyale merupakan kegiatan upacara yang sederhana untuk mengenang sang Putri dan juga masyarakat Lombok menyakini bahwa pesan yang disampaikan sang

4 Di dalam ritual adat Dayak Ngaju yang paling dikenal adalah upacara Tiwah, yaitu upacara kematian.. Selain upacara

Penelitian dengan judul “Pengaruh Covid 19 Terhadap Ritual Adat Pernikahan Suku Dayak Keninjal di Kabupaten Melawi Kalimantan Barat” merupakan sebuah kajian baru yang akan

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ritual puncak adat Kwangkai sebagai suatu upacara kematian yang berkaitan dengan teori tindakan beralasan dimana intensi atau niat sebagai

Seperti hal nya dalam upacara ritual Boren Dayong masyarakat Dayak Hibun menggunakan gerak tari sebagai suatu simbol yang mempunyai arti dan guna menyampaikan pesan,