• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan, Budaya, dan Informasi PILAR KBI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kebijakan, Budaya, dan Informasi PILAR KBI"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

Klaster dan Roadmap Penelitian

Pilar Kebijakan, Budaya dan

Informasi

LPPM

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21

(2)

Daftar Isi

Daftar

Isi... ...3

Executive

Summary... ... ...4

1.Pendahuluan... ...7

2.Pencarian

Informasi……...... ...16

3.Media dan

informasi... ...28

4.Kebijakan………..

………34

5.Kelembagaan dan

Kemitraaan……….....69 3. Ucapan Terima

(3)

Executive Summary

Para peneliti Universitas Padjadjaran bidang sosiohumaniora yang mencakup para peneliti dari Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu komunikasi, Ilmu Budaya, Ilmu Hukum, dan Ilmu Ekonomi berkolaborasi menghasilkan kesepakatan tentang kluster penelitian di bawah Pilar kebijakan, budaya dan komunikasi dibawah koordinasi Tim Penjamin Mutu Penelitian Universitas Padjadaran, LPPM UNPAD.

Tujuan kolaborasi ini, pertama tama adalah untuk mempercepat peningkatan kualitas penelitian bidang sosiohumaniora. Sealian itu juga diharapkan dapat mempertajam keragaman fokus penelitian sosial sehingga mampu menghasilkan produk penelitian unggulan yang berpeluang besar menghasilkan kerjasama dengan pemerintahan maupun industri

Tujuan dari pembuatan klaster dan roadmap kebijakan, budaya dan informasi adalah untuk menentukan pengelompokan bidang kajian sosiohumnaiora agar semua sumberdaya manusia dan sumber daya pendukung (fasilitas) dapat digunakan secara optimal untuk mencapai luaran penelitian yang telah ditargetkan.

Tujuan umum Rencana Induk Penelitian (RIP) bidang sosiohumaniora dan penyusuan pilar serta klaster adalah:

1. Membuat metode atau teknologi untuk mengetahui potensi ilmu sosial, komunikasi, budaya, ekonomi, psikologi dan hukum.

2. Menghasilkan serangkaian penelitian yang direncanakan dengan terarah, jelas, terprogram dan terjadwal

(4)

I. PENDAHULUAN

Dokumen ini merupakan Rencana Induk Penelitian (RIP) Universitas Padjadjaran Bidang Kebijakan, Budaya dan Informasi yang memuat penjelasan tentang klaster dan roadmap penelitiannya. Pertama akan dipaparkan roadmap keseluruhan dari Pilar Kebijakan, Budaya dan Informasi disertai mekanisme dengan out put unggulan dari pilar ini. Bagian selanjutnya memuat uraian perklaster yang mencakup, latar belakang, benchmarking, roadmap, fasilitas, dan kerjasama yang telah dibina oleh masing-masing klaster.

I.1. LATAR BELAKANG

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada 2010 Provinsi Jabar menduduki urutan ketiga tertinggi secara nasional dalam raihan PDRB setelah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Timur, dengan total Rp 770.660.479,00. Namun ironinya, tingkat pendapatan ini tidak berbanding lurus dengan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) yang diraih Prov Jabar yaitu sebesar 72 menduduki urutan ke 15 dari 33 Provinsi se-Indonesia. Karena nilai IPM merupakan gabungan dari nilai indikator daya beli, kesehatan, dan pendidikan di suatu wilayah, maka mengacu pada data di atas, rendahnya IPM provinsi Jabar disebabkan oleh tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakatnya.

Provinsi Jabar seharusnya memiliki nilai tinggi untuk bidang pendidikan karena di Jawa Barat terdapat banyak perguruan tinggi berkualitas yang menjadi rujukan dan tujuan siswa dari provinsi lain yang hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Rata-rata angka partisipasi sekolah di Jawa Barat adalah 8 tahun atau setara kelas 2 sekolah lanjutan pertama. Kondisi ini ironi dengan keberadaan perguruan tinggi di Jawa Barat.

(5)

Ekonomi Indonesia (MP3EI), maka penelitian perlu diarahkan pada penelitian berorientasi produk yang dapat mempercepat hilirisasi hasil penelitian. Topik penelitian staf akademik Unpad, baik yang sedang berlangsung maupun yang akan dilakukan, disyaratkan untuk memiliki orientasi dan tujuan akhir penelitian yang jelas, terprogram dan terjadwal. Tujuan akhir dari suatu rangkaian penelitian ditentukan saat penelitian mulai diinisiasi sehingga orientasi penelitian menjadi lebih terarah.

Pilar 5 yaitu Kebijakan, Informasi dan Budaya merupakan salah satu dari 5 pilar penelitian yang mengacu pada Rencana Induk Penelitian (RIP) Universitas Padjadajaran (Unpad). Termasuk kedalam pilar 5 adalah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari berbagai fakultasdi bidang sosiohumaniora, sepereti FISIPM FIKOM, FH, FE, FIB dan Fakultas Psikologi yang diimplementasikan dalam berbagai skema penelitian di bawah koordinasi LPPM UNPAD. Berdasarkan jejak rekam dan minat peneliti, maka untuk tahun 2012-2016, produk yang ingin dicapai oleh pilar5 adalah adanya m-Gov di bidang kesehatan dan pendidikan.

Untuk mendorong agar penelitian berorientasi produk yang berkontribusi dalam memecahkan masalah di masyarakat, maka penelitian perlu dikelompokkan menjadi berbagai klaster penelitian multidisplin.

Klaster 2012 2013 2014 2015

2016

Pola pencarian informasi

Pemetaan

pola-pola Pengemba-ngan jejaring Informasi

participatory Media and content dev. (alternatif),

maps Revisi kebijakan Sosialisasi Implementasi kebijakan Evaluasi Kelembagaa

of game Sinergitas dalam supporting mGov

(6)

Kemitraan Mapping Modelling bentuk kemitraan

Uji coba model bentuk

kemitraan

Implementasi sistem

informasi kemitraan

(7)

Klaster 2012 2013 2014 2015

2016

Pemahaman Identifikasi Inventarisasi Data base dev Content for

mGov dev Ensiklopedi

Analysis Studi kelayakan mGov

maps Model designand modul dev terdiri atas berbagai penelitian dari hulu sampai hilir dengan tujuan terarah. Setiap cluster akan didorong menyatukan visi untuk menentukan misi dan cara (mekanisme, strategi) mencapai outcome yang ditetapkan bersama oleh peneliti yang terlibat. Tim suatu riset cluster adalah tim kolaboratif dan interdisiplin yang terdiri dari para peneliti dari berbagai fakultas, mahasiswa dan institusi lain yang terlibat dalam riset. Klaster di pilar 5 berorientasi pada :

1. Klaster media dan informasi 2. Klaster Kebijakan

3. Klaster kelembagaan dan governance 4. Klaster Pola Pencaraian Informasi

(8)

institusi lain untuk penajaman arah penelitian. Pemetaan penelitian memungkinkan setiap cluster untuk (i) melakukan evaluasi diri atas keunggulan/ kelemahan, (ii) mendapatkan informasi lebih akurat tentang apa yang telah dilakukan oleh Insitutusi lain, (iii) mendapatkan informasi tentang berbagai permasalahan dalam penelitian, terutama dalam posisi penelitian Unpad dalam peta penelitian lokal/regional/nasional, menghindarkan penelitian duplikasi, serta menjajagi kerjasama penelitian.

Dokumen orientasi penelitian dari setiap cluster dijadikan dasar untuk:

1. Meningkatkan kualitas penelitian bidang homaniora baik ilmu sosial, politik, komunikasi, ekonomi, psikologi dan bukum

2. Menjadi pedoman implementasi penelitian berbasis cluster yang disepakati tim Penjaminan Mutu LPPM.

3. Menetapkan arah dan hasil/produk penelitian jangka pendek (2015), serta orientasi hasil penelitian jangka panjang (2020)

4. Mengakses sumberdaya nasional ataupun internasional yang berkaitan dengan topik penelitian.

5. Membangun akses untuk memperkuat kemitraan yang mendukung investasi maupun memulai “komersialisasi produk”.

(9)

KLASTER

II.1. POLA PENCARIAN INFORMASI

II. 1. 1. Latar Belakang

Faktor kesehatan merupakan faktor penting bagi kualitas hidup manusia. Tanpa kesehatan, aktivitas manusia tidak dapat dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan akan informasi kesehatan semakin meningkat. Meningkatnya kebutuhan akan informasi kesehatan, selain dipicu oleh semakin beragamnya jenis gangguan kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat, juga disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup sehat.

Saat ini, pola hidup sehat sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, baik di kalangan masyarakat perkotaan, maupun masyarakat di daerah pedesaan. Dengan demikian, informasi mengenai kesehatan menjadi salah satu informasi yang banyak dicari oleh masyarakat. Bagi sebagian masyarakat perkotaan yang memiliki status ekonomi dan tingkat pendidikan dari kalangan menengah ke atas, informasi kesehatan dapat dengan mudah diakses melalui media internet, namun bagi masyarakat pedesaan di wilayah yang infrastuktur jaringan internetnya belum memadai ataupun bagi masyarakat perkotaan yang memiliki tingkat edukasi rendah, mengakses informasi melalui internet, masih relatif sulit dilakukan.

(10)

masyarakat sebagai korban mal praktek yang disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat terhadap informasi kesehatan.

Oleh karena itu, penting kiranya, diadakan sosialisasi mengenai informasi kesehatan yang benar bagi masyarakat. Sejauh ini, pemerintah, LSM dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat, sudah berupaya untuk melakukan sejumlah kegiatan sosialisasi kesehatan. Namun, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kekuatan informasi yang disampaikan secara word of mouth dari significant others masih lebih dominan dibandingkan dengan kekuatan informasi yang disampaikan dalam konteks komunikasi kelompok ataupun komunikasi publik pada suatu kegiatan sosialisasi.

Dengan demikian, perlu dilakukan suatu kajian untuk menemukan suatu model sosialisasi informasi kesehatan yang efektif bagi masyarakat. Adapun model sosialisasi informasi kesehatan ini tentunya harus disesuaikan dengan kondisi demografis, psikografis dan sosiografis msyarakat, meliputi: jenis perilaku pencarian informasi, jenis kebutuhan informasi kesehatan, sumber serta jejaring informasi yang ada dan digunakan oleh masyarakat, termasuk model partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan informasi.

Sebagai lembaga pendidikan, sudah seharusnya, Universitas Padjadjaran mengerahkan civitas akademikanya dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk mencerdaskan masyarakat dalam mencari, mengolah dan memanfaatkan informasi kesehatan agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sehat.

2. Benchmarking

(11)

menentu akibat adanya kesenjangan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan yang dibutuhkan. Dalam upaya menanggulangi kesenjangan inilah, seseorang berusaha menggunakan berbagai sumber informasi (Chen dan Chernon, dalam Pannen 1990: 31).

Kesenjangan informasi ditenggarai sebagai salah satu penghambat dalam komunikasi yang terjadi antara profesional dalam bidang kesehatan dengan pengguna layanan kesehatan. Dalam komunikasi antara dokter dan pasien misalnya, proses interaksi seringkali tidak berjalan lancar karena adanya gap tingkat pengetahuan antara kedua belah pihak (Dida, 2011). Dari sisi pasien, kebiasaan dokter menggunakan istilah medis pada saat berkomunikasi dipandang sebagai salah satu hambatan dalam berkomunikasi karena minimnya pengetahuan mereka tentang istilah-istilah yang digunakan.

Selain itu, di dalam masyarakat seringkali tersebar mitos atau stigma yang dihubungkan dengan penyakit tertentu. Mitos atau stigma ini menyebar dari mulut ke mulut atau bahkan dari generasi ke generasi. Tidak heran bila kemudian mitos atau stigma itu mendistorsi informasi seputar penyakit tersebut (Dida, 2011).

Masyarakat sebenarnya sudah mulai aktif melakukan usaha pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan berbagai cara. Umumnya masyarakat mendapatkan informasi kesehatan dari media massa seperti surat kabar, tv, dan radio. Banyak juga di antaranya mendapatkan informasi dari penyuluhan, pelatihan, dan seminar. Bahkan, menurut Setianti (2011) sebagian relawan Mitra Citra Remaja Bandung mengaku bergabung dengan lembaga konseling tersebut didorong oleh kesadaran minimnya informasi kesehatan reproduksi yang mereka miliki. Menurut mereka, sosialisasi dan pelatihan yang diadakan Mitra Citra Remaja dapat memperkaya informasi yang mereka butuhkan.

(12)

disajikan dinilai kurang menarik, terlalu dilebih-lebihkan, atau sebaliknya, terlalu disederhanakan.

Sementara itu, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, pencarian informasi kesehatan melalui media baru pun semakin marak. Media baru didefinisikan sebagai bentuk isi media yang mengkombinasikan dan mengintegrasikan kata, text, dan gambar dalam berbagai jenisnya; disimpan dalam format digital dan didistribusikan melalui jaringan internet (Terry Flew, 2002:10). Masyarakat perkotaan semakin akrab dengan internet karena media ini terbukti dapat diandalkan sebagai sumber informasi yang cepat dan efisien. Akan halnya dalam pemenuhan informasi kesehatan, penelitian yang dilakukan Hadisiwi (2011) mengungkap bahwa pemanfaatan internet masih sangat terbatas karena belum meratanya akses masyarakat terhadap jenis media ini.

Demi mendapatkan solusi bagi kesenjangan informasi kesehatan di tengah-tengah masyarakat, cluster ini akan mengkaji beberapa aspek berikut:

1. Perilaku pencarian informasi kesehatan 2. Kebutuhan informasi kesehatan

3. Persepsi terhadap informasi kesehatan 4. Sumber informasi kesehatan

5. Jejaring informasi kesehatan

(13)

3. ROADMAP DAN TARGET HASIL PENELITIAN

ISU STRATEGIS KONSEP PEMIKIRAN PEMECAHAN

MASALAH TOPIK YANG DIPERLUKAN CLUSTER ISSUE TEMA PENELITIAN PERTAHUN

2013 2014 2015 2016

KOMUNIKASI

KESEHATAN PENYEBARAN INFORMASI KESEHATAN Infromasi di bidang Kesehatan &

(14)
(15)

KPI

BA FD PN PI JN JNA JI HAKI

PERILAKU PENCARIAN INFORMASI KESEHATAN

1 1 1

KEBUTUHAN INFORMASI

1 1

PERSEPSI MENGENAI

INFORMASI KESEHATAN 1 1

JEJARING INFORMASI 1 1

PARTISIPASI PEMANFAATAN INFORMASI

1 1

KLASIFIKASI KEBUTUHAN

1

ANALISIS HAMBATAN DAN DUKUNGAN

1 1

ANALISIS SUMBER INFORMASI

1 1

RANCANGANA MATERI SOSIALISASI

1 1

RANCANGAN MEDIA SOSIALISASI

1 1 1

MODEL SOSIALISASI INFORMASI KESEHATAN

1 1

JUMLAH 3 2 6 1 6 3 1 1

Catatan : jumlah diambil dari roadmap pilar 5

4. Fasilitas

(16)

data serta penyusunan model sosialisasi. Beberapa fasilitas yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

1. Ruang diskusi dan pertemuan 2. Laboratorium komputer 3. Laboratorium televisi 4. Laboratorium Radio 5. Labiratorium Fotograsi

6. Laboratorium Grafis dan Multimedia 7. Ruang uji coba model sosialisasi

5. Kerjasama

Berdasarkan kajin yang dilakaukan serta tujuan masing-masing kegiatan maka diperlukan kerjasama dengan beberapa pihak terkait. Pihak-pihak yang dapat dilibatkan dalam berbagai kajian atau kegiatan idalam cluster pola apencarian informasi antara lain:

1. Pemerintah melalui Dinas kesehatan di tingkat provinsi maupun daerah 2. Rumah sakit pemerintah maupun swasta

3. Praktisi Kesehatan

4. Lembaga penelitian yang menghasilkan teknologi kesehatan 5. Media Massa nasional maupun lokal

6. LSM di bidang Kesehatan

7. opinion leader di berbagai wilayah sasaran

Selain pihak-pihak yang telah disebutkan di atas, dalam prosesnya pihak-pihak tersebut dapat bertambah sesuai dengan kebutuhan untuk menghasilkan sebuah model sosialisasi maupun penyebarluasan pemanfaatan model tersebut.

6. RINGKASAN

(17)

Selanjutnya, hasil dari penelitian lanjutan akan diikuti dengan penelitian selanjutnya untuk menghasilkan pemahaman mengenai faktor penghambat dan faktor pendukung yang dimiliki masyarakat dalam pencarian informasi kesehatan serta model partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan informasi kesehatan. Pada tahap berikutnya, akan dirumuskan rancangan materi dan media sosialisasi informasi kesehatan, agar dapat ditetapkan sebuah model sosialisasi informasi kesehatan yang efektif bagi masyarakat.

Adapun, tindak lanjut dari hasil penelitian akhir berupa model sosialisasi informasi kesehatan yang efektif bagi masyarakat ini, akan dipublikasikan melalui sejumlah media publikasi baik di lingkup akademis seperti jurnal bertaraf nasional dan internasional, ataupun publikasi yang bersifat umum seperti surat kabar, website informasi kesehatan, maupun media literasi lainnya.

Penelitian-penelitian tersebut membutuhkan fasilitas yang mendukung proses pencarian data hingga implementasi kegiatan, seperti komputer, infocus, kamera foto, handycam dan program software untuk penganalisisan data. Selain itu, untuk menghasilkan suatu kegiatan implementasi yang efektif, diperlukan hubungan kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait, seperti: Pemerintah melalui Dinas kesehatan di tingkat provinsi maupun daerah, Rumah sakit pemerintah maupun swasta, Praktisi Kesehatan, Lembaga penelitian yang menghasilkan teknologi kesehatan, Media Massa nasional maupun lokal, LSM di bidang Kesehatan, opinion leader di berbagai wilayah sasaran.

2. KLASTER MEDIA DAN SISTEM INFORMASI

1.

Latar Belakang

(18)

peradaban sekarang memiliki peluang besar untuk dapat diakses secara luas seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Namun demikian, Informasi-informasi penting yang telah diakses melalui berbagai jenis media menyangkut kesehatan pada faktanya belum dapat dikelola dan disosialisasikan secara baik dan menyeluruh yang salah satu penyebabnya adalah belum optimalnya mengkonstruksi konsep tentang informasi kesehatan dan melakukan pengelolaan informasi kesehatan tersebut dalam berbagai media.

Burgin (dalam Hutcheon, 2004: 4) menyatakan bahwa semua bentuk representasi kultural–literal, visual, aural didasarkan pada ideologi tertentu, sehingga tidak mungkin menghindarkan diri dari pola hubungan dan arapatus sosial politik. Hutcheon (2004: 11) menyinggung masalah titik pertemuan aktualitas historis dokumenter dengan refleksi diri. Titik pertemuan yang dimaksud adalah kajian-kajian representasi yang menitikberatkan pada eksplorasi cara di mana struktur narasi dan citra menstruktur cara kita melihat diri kita sendiri dan cara kita mengkosntruksi konsep diri kita, sekarang dan masa lalu. Menurutnya, kita tidak akan pernah dapat melepaskan diri dari beban tradisi panjang representasi visual dan naratif; kita juga kehilangan keyakinan pada kesempurnaan dan kekuatan representasi yang ada.

Karena sehat itu sendiri adalah produk budaya yang terus diberdayakan hingga sekarang ini, maka pemaknaan tentang level produksi, representasi, identitas, konsumsi, dan regulasi menjadi penting untuk ditinjau berdasarkan berbagai pendekatan dan berbagai disiplin ilmu.

(19)

perawatan kesehatan yang dilahirkan pihak Barat. Di dalamnya pun diuraikan kebijakan-kebijakan mengenai kesehatan yang memperhatikan kepentingan kesehatan negara-negara tropis dengan permasalahan-permasalah menyangkut kesehatan masyarakat dan pengembangan kesehatan tropical di Hindia Belanda yang dianggap lamban berkembang, salah satunya diakibatkan karena sukarnya mencari ahli-ahli kesehatan yang resmi didatangkan dari Belanda. Di bab lain diuraikan tentang refleksi perawatan kesehatan tradisional yang secara ideologis memegang peranan penting bagi diberlakukannya pengobatan tradisional. Secara jelas diuraikan pula kepercayaan personal masyarakat Jawa atas kesehatan yang berakar dari pemahaman konseptual tentang “sehat” dan “sakit”. Dalam perspektif modern ditunjukkan bagaimana pentingnya kesehatan ibu dan anak. Posyandu adalah salah satu representasi bentuk perawatan kesehatan ibu dan anak. Peran dokter dan perawat ditunjukkan perbedaannya dalam konsep barat dan praktik di Jawa.

Dalam konteksa kekinian, Situs resmi kementrian Kesehatan RI hingga 2012 salah satu jaringan informasi yang memiliki Bank Bata Kesehatan dengan visi: better information, beter decisions, better health demgan menu-menu: fasilitas, kesehatan, sumber daya manusia, penyakit, gizi-kesehatan ibu dan anak, farmasi dan alat kesehatan, dan upaya kesehatan. Selain itu dalam situs resmi tersebut terdapat rubrik PROMKES (program Promosi kesehatan). Kedua data tersebut merupakan bagian kecil yang menggambarkan bagaimana pengelolaan informasi kesehatan diberdayakan melalui media internet. Hal tersebut belum memberi gambaran umum menyangkut bagaimana masyarakat tertarik dan memanfaatkan situs tersebut.

Kemajuan Teknologi komunikasi mengembangkan konvergensi dan digitalisasi di bidang media sehingga berkembang media yang bersifat multimedia dan online. Semua itu menjadi dasar mengembangkan inovasi di bidang media. Komunikasi yang dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan tersebut mengembanagkan berbagai alternative dalam mengakses atau menyebarluaskan informasi.

(20)

informasi maupun system distribusinya. Mc Cormick secara sederhana menyebutkan multimedia sebagai kombinasi tiga elemen, suara, gambar dan teks. Secara lebih komprehensif pengertian pengertian multi media juga dapat mencakup pemahaman tentang komunikasi multimedia. Secara teknis komunikaki multimedia dapat dimaknai sebagai proses transmisi data dan manipulasi semua bentuk informasi baik berbentuk kata-kata, gambar, video, musik, angka atau tulisan yang kesemua bentuk tersebut diolah komputer dalam bentuk digital.

Terkait dengan permasalahan kesehatan, salah satu masalah yang harus terus dikembangkan adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka para provider di bidang kesehatan harus terus mengembangkan layanan informasi kesehatan yang menjadi tanggung jawab pihaknya masing-masing. Sistem informasi kesehatan yang tersedia seharusnya bersifat interaktif dan mampu mengatasi hambatan waktu, jarak maupun jumlah sasaran yang dapat dijangkaunya. Penggunaan media menjadi hal yang tidak dapat lagi diabaikana untuk menciptakan sistem informasi yang dapat mengatasi hambatan tersebut.

Penggunaan media dalam system informasi yang dikembangkan selain mengacu pada tujuan yang ingin dicapai juga harus didasarkan pada pemahaman tentang kebutuhan informasi serta pola penggunaan media sasaran yang ingin dicapai. Oleh karena itu pendekatan yang dilakukan dalam mengembangkan media dan system informasi kesehatan harus diawali dengan pemetaan dan analisis khalayan serta provider kesehatan. Selain itu pemanfaatan sumberdaya content, manusia dan teknology yang maksimal dalam menyusun rancangan media dan system informasi harus dilakukan.

(21)

dapat meningkatkan produktivitas para provider di bidang kesehatan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang kesehatan maupun dalam melakukan pelayanab ksesehatan.

Tentu saja pemetaan informasi kesehatan dalam berbagai media perlu dilakukan untuk memberi gambaran secara jelas kepada masyarakat luas. Pemetaan tersebut pun dapat dihubungkan dengan pengelolaan konten informasi yang dapat dimanfaatkan msyarakat luar. Konten-konten yang dimaksud dihasilkan melalui studi awal menyangkut bagaimana perilaku masyarakat (tradisonal dan modern) dalam memanfaatkan informasi kesehatan melalu berbagai media. Selain itu pemetaan pun dilakukan terhadap varian-varian konten informasi kesehatan yang telah dipublikasikan melalu berbagai media.

Dengan demikian, penelitian berkesinambungan ini menjadi penting terutama menyangkut pemetaan konten-konten informasi kesehatan, penentuan model/desain sistem informasi dalam media, digitalisasi konten, pengembangan media alternatif bidang kesehatan melalui website dalam banyak penawaran konten dan kemanfaatannya, serta strategi publikasi dan pemanfaatannya bagi masyarakat luas.

2.

Benchmarking

Telaah mengenai pemanfaatan media informasi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban umat manusia di muka bumi. Di awal abad dua puluh, Alvin Toffler menggambarkan dinamika di dalam perkembangan tersebut dalam tiga gelombang besar yang diawali era nomadik dan pertanian, dilanjutkan era industri, dan berikutnya, era informasi. Menurut Sang Futurolog, perilaku manusia dalam pemanfaatan media informasi sangat mewarnai karakter tiap era dan pengaruh terbesar datang dari perkembangan teknologi media informasi itu sendiri.

(22)

yang pasif sementara perspektif kedua memandang pengguna media sebagai entitas aktif.

Perspektif pertama berpendapat bahwa khalayak mudah dipengaruhi media. Pada rentang 1920-an sampai 1940-an penelitian awal berkaitan media massa dan khalayak banyak dipengaruhi perspektif pertama ini terpengaruh teori fungsional. Pada masa ini, penelitian lebih banyak diarahkan pada efek media. Model jarum hipodermik misalnya, menggambarkan betapa media mempunyai efek langsung, seketika, dan mempengaruhi khalayak dan tertanam pada kesadaran mereka (Watson dan Hill, 1997:105)

Perspektif khalayak aktif memandang pengguna media sebagai pihak penentu dalam pemilihan media. Salah satu teori yang dapat menjelaskan perspektif ini adalah teori Uses and Gratification dari Elihu Katz, Jay G. Blumer, dan Michael Gurevicth. Teori ini menggambarkan bahwa khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan motif tertentu dan mereka mencari media yang dapat memenuhi kebutuhan (Blumler dan Katz, 1974). Frank Biocca menawarkan 5 karakteristik khalayak aktif, yaitu:

1. selektivitas.

Khalayak aktif memilih dan memilah media yang mereka gunakan 2. utilitas.

Khalayak aktif menggunakan media yang dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan mereka.

3. tujuan atau niat

Berhubungan dengan tujuan penggunaan isi media. 4. keterlibatan atau usaha

Diyakini bahwa khalayak aktif mengikuti, memikirkan, dan menggunakan media.

5. khalayak aktif mempan dari pengaruh

Mereka tidak semata-mata dipengaruhi media.

Lebih lanjut, pertemuan khalayak dengan media didasari 3 kerangka teoritis. DeFleur dan Ball-Rokeach menguraikannya sebagai berikut:

(23)

belajar, dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan in menyebabkan pengaruh media massa yang berbeda pula.

2. Perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial, yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama. Golongan sosial pada usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, pendidikan, tempat tinggal, dan keyakinan beragama menampilkan kategori respons. Sebagai contoh, anak-anak cenderung membaca majalah anak, sementara ibu-ibu cenderung membaca majalah wanita seperti Femina atau Kartini. Menurut Rachmat, diduga orang yang berpendidikan rendah jarang membaca surat kabar, namun sering menonton televisi. Eksekutif dan kalangan bisnis menyukai rubrik niaga dalam surat kabar dan majalah. Kelompok mengengah cenderung menyukai acara pendidikan, berita, dan informasi.

Secara empirik, pola pemanfaatan media di dalam masyarakat sangat beragam dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi riil masyarakat itu sendiri. Penelitian Fadilah dan Yulianti (2009) mengenai pola pemanfaatan media massa di kawasan Jatinangor menunjukkan media televisi menjadi media yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dan jumlahnya jauh melampaui media radio, apalagi cetak dan online. Penonton dengan kategori sering rata-rata menghabiskan waktu selama lebih dari satu jam sehari dan waktu menonton yang paling banyak dipilih adalah antara pukul 18.00 sampai 21.00.

Konsep komunitas diadaptasi lembaga penyedia informasi dalam bentuk perpustakaan komunitas di kota Bandung sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya mulai tahun 2001. Mereka menyediakan informasi dengan cara yang disesuaikan dengan karakteristik komunitasnya baik isi maupun kemasannya, seperti kenyamanan ruang baca dan diskusi, kemudahan mengakses informasi, keramahan pelayanan, musik, bahkan café yang meyediakan minuman dan makanan (Ute dkk. 2009).

(24)

media dan sisem infomasi kesehatan. Kajian-kajian yang sepakt untuk dilakukan adalah :

1. Pemetaaan media dan sistem informasi 2. Analisis Meida tentang Informasi Kesehatan 3. Penggunaan media dan infromasi kesehatan 4. Pemanfaatan media oleh provider kesehatan 5. Rancangan media dan sistem infromasi kesehatan 6. Digitalisasi konten media keseahatan

7. Model partisipasi masyarakat

8. Strategi media provider informasi kesehatan

9. Pengembangan Media alternatif dan sistem informasi kesehatan 10.Literasi Informasi dan Media di bidang Kesehatan

(25)

3. Roadmad dan Target Hasil Penelitian

an Media Masih kurangnya peran media

(26)

informasi kesehata n

Pemanfaat-an media Pemanfaa-tan media tentang infromasi kesehata n oleh tenaga medis dan instansi kesehata n

(27)
(28)

KPI

BA FD PN PI JN JNA JI HAKI

PEMETAAN INFORMASI

KESEHATANDI MEDIA 1 1

ANALISIS MEDIA TENTANG

INFORMASI KESEHATAN 1 1

PENGGUNAAN MEDIA TENTANG INFORMASI KESEHATAN OLEH KHALAYAK

1

PEMANFAATAN MEDIA INFORMASI KESEHATAN OLEH TENAGA MEDIS DAN INSTANSI DI BIDANG

KESEHATAN

1 1

DESAIN MEDIA INFORMASI

KESEHATAN 1 1

DESAIN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

1

MODEL PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN MEDIA TENTANG INFORMASI KESEHATAN

1

STRATEGI MEDIA KOMUNIKASI KESEHATAN PARA TENAGA MEDIS DAN INSTANSI DI BIDANG

KESEHATAN

1

PENGEMBANGAN MEDIA ALTERNATIF

DI BIDANG KESEAHATN 1 1

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DALAM MEDIA ALTERNATIF DI

BIDANG KESEHATAN

1 1

LITERASI INFORMASI DAN MEDIA DI

BIDANG KESEHATAN 1 1

WEBSITE NAVIGASI

INFORMASI KESEHATAN SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF DI BIDANG KESEHATAN

1 1

(29)

4. Fasilitas

Fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk program penelitian ini berperan penting dalam menciptakan produktivitas yang perlu dihasilkan dari setiap target penelitian secara optimal. Fasilitas-fasilitas yang dimaksud diharapkan dapat menunjang optimalisasi (a) koordinasi antara tim peneliti, tenaga lapangan, dan pihak terkait (responden, instansi, dll.), (b) kinerja yang berhubungan target-target penelitian, dan (c) produk yang dihasilkan. Dengan demikian, fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

8. ruang pertemuan cluster media dan sistem informasi 9. ruang perpustakaan (konten spesifik)

10.ruang multimedia 11.ruang komputer

12.lab. uji coba desain produk 13.studio foto

14.studio rekaman (audio-visual) 15.peralatan lapangan (camcorder, dll.

5. Kerjasama

Untuk mewujudkan media alternative di bidang kesehatan dan aplikasinya dimasayarakatr maka perlu dilakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait diantaranya, Tenagan medis atau Praktisi Kesehatan

8. Profesioanl di bidang media on line 9. Komunitas di bidang advokasi kesehatan 10.opinion leader di berbagai wilayah sasaran

11.Lembaga kesehatan swasta maupun pemerintah.

RINGKASAN

Penelitian berkesinambungan menyangkut media dan sistem informasi kesehatan ini bertujuan (1) memetakan konten-konten informasi kesehatan yang tertampung dalam berbagai jenis media, (2) penentuan model/desain sistem informasi dalam media, (3) digitalisasi konten, (4) pengembangan media alternatif bidang kesehatan melalui website, dan (5) strategi publikasi.

(30)

kesehatan dalami media audio-visual, (4) digitalisasi konten, (5) website navigasi informasi kesehatan.

Capaian penelitian dapat dipublikasikan dalam jurnal nasional dan internasional. Selain itu produk akhir tiap capaian penelitian dapat diditindaklanjuti ke pengurusan HAKI.

Fasilitas fisik yang diperlukan untuk penelitian ini terutama berhubungan dengan penyediaan ruang diskusi, peralatan lapangan, dan lab pengujian desain produk.

Adapun kerjasama dilakukan dengan pihak-pihak terkait di antaranya: (1) Kementrian Komunikasi dan Informatika dan dinas-dinas terkait, (2) Kementrian Kesehatan dan dinas-dinas terkait, (3) LSM, (4) IT programmer, (5) tokoh-tokoh masyarakat dan msyarakat umum.

3. KLASTER KEBIJAKAN

3.

Latar Belakang

Walaupun sejak 2007 Indonesia telah mencatatkan diri sebagai negara berpenghasilan menengah (Middle Income Country)¸ namun pada kenyataannya Indonesia masih dihadapkan pada masalah-masalah pembangunan yang kronis, termasuk tingginya kemiskinan dan kesejangan pembangunan di berbagai daerah. Laporan tahunan Asian Development Bank 2012 mencatat bahwa kemampuan negara-negara di kawasan Asia dalam mengurangi kemiskinan tidak dibarengi oleh kemampuan pemerintah mendisai kebijakan pembangunan yang mampu mengurangi kesenjangan antar wilayah dan antar kelompok penghasilan (ADB 2012, hal.#). Kondisi ini sangat berbeda dengan situasi di negara-negara maju pada tahun 1960an dan 1970an yang mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan dan pemerataan (growth and equity). Bahkan negara-negara di Amerika Latin mampu mengurangi kesenjangan pembangunan di tahun 1990an.

(31)

PDRB wi wilayah tersebut menduduki posisis ke 3. Hal ini menunjukkan ada masalah krusial dalam pembangunan di Jawa Barat, apalagi kebijakan dan program-program pembangunan masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu.

Hal yang sama terjadi di Kabupaten Sumedang, yang telah menjadi pusat pendidikan tinggi di terkemuka di Indonesia, diantaranya Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Institute Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN). Kabupaten Sumedang tercatat sebagai kabupaten dengan IPM tertinggi di Jawa Barat (nilai 72,42), namun ironisnya tingkat partisipasi pendidikan dasar sangat rendah yaitu 7.2 tahun. Artinya Kabupaten Sumedang belum mampu melaksanakan program nasional Wajib Belajar 9 tahun.

Disamping itu, fakta di atas menunjukkan bahwa kontribusi tingginya nilai IPM tersebut lebih banyak ditentukan oleh banyaknya mahasiswa dan dosen pendatang yang terkonsentrasi di kawasan pendidikan Jatinangor, bukan tingginya tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Sumedang. Penelitian-penelitian terdahulu juga mengungkapnya tingginya kesenjangan pembangunan di kawasan Jatinangor, khsususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

(32)

Disain riset ini merupakan salah satu kontribusi Unpad untuk mendekatkan development gap yang saat ini terjadi di Kabupaten Sumedang dengan mengembangkan serangkaian penelitian (kualitatif, kuntitatif dan action research) selama 5 tahun (2013-2016). Pengembangan penelitian kebijakan difokuskan pada penelitian kebijakan pendidikan dan kesehatan di kawasan pendidikan Jatinangor dengan pendekatan multidisciplinary research di bidang sosio humaniora, seperti sosiologi, hubungan internasional, administrasi negara, administrasi bisnis, antropologi dan pemerintahan bahkan membuka peluang berintegrasi dengan disiplin ilmu lain yang ada di Universitas Padjadjaran.

4.

Benchmarking

Penelitian tentang kebijakan pembangunan bidang kesehatan dan pendidikan selalu menjadi topik utama yang menarik didiskusikan. Kesenjangan pembangunan, diantaranya sangat nampak dalam kemampuan masyarakat dalam mengakses pelayanan dan pendidkan sebagai hak-hak dasar manusia. Dari berbagai penelitian terdahulu, perspektif penelitian yang dilakukan berbeda-beda sesuai dengan konteks penelitian, isu permasalahan yang dominan, dan pendekatan yang berbeda.

(33)

implementasi kebijakan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Dasgupta, dkk (2011) didasarkan pada survey pelaksanaan desentralisasi dan governance di Indonesia tahun 2006. Penelitian ini menilai bagaimana kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas.

Secara detail, Roadmap Cluster Kebijakan ini dikembangkan berdasarkan tema spesifik di bidang pendidikan dan kesehatan yang dibagi ke dalam beberapa tahapan tertentu:

1. Tahun 2012:

Penelitian diutamakan pada upaya mendisain ‘Strategic Maps’ kebijakan di bidang pendidikan dan kesehatan dengan mengidentifikasikan kebijakan pendidikan dan kesehatan pada level nasional, provinsi, kabupaten, Kecamatan dan Desa. Salah satu produk yang dihasilkan adalah Data Base partisipasi pendidikan masyarakat.

2. 2013: Revisi Kebijakan (naskah akademik)

Tahun kedua pelaksanaan penelitian di arahkan pada revisi dan advokasi penyusunan kebijakan. Penelitian menghasilkan anaskah akademik sebagai bahan masukan para pengambil kebijakan.

3. 2014: Sosialisasi pada semua stakeholders

Setelah dilakukan revisi kebijakan, tahun ke tiga diarahkan (FGD, Media2 komunikasi lain seperti poster, iklan TV, Radio, FB, twitter, web Unpad 4. 2015: Pilot Project Impementasi kebijakan mGov

Sosialisasi kebijakan diikuti oleh pelaksanaan implementasi kebijakan dengan memilih kecamatan di kawasan pendidikan Jatinangor untuk diberikan pendampingan.

5. 2016: Evaluasi

Tahun terakhir difokuskan pada evaluasi kebijakan

5.

Roadmad dan Target Hasil Penelitian

Bagan di bawah ini memberikan gambaran umum bagaimana Roadmap Cluster Kebijakan dibuat:

Gambar 1

(34)

4. Fasilitas

Untuk menghasilkan sebuah disain model kebijakan kesehatan dan pendidikan, maka setiap kajian atau kegiatan harus secara optimal. Untuk melaksanakan rencana yanag ditetapkan dibutuhkan dukungan fasilitas yang memadai. Terkait dengan fasilitas yang dibutuhkan di antaranya adalah beberapa alat terkait dengan sistem dokumentasi, pengolahan dan analisis data serta penyusunan model lembaga. Beberapa fasilitas yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

16.Ruang diskusi dan pertemuan 17.Dokumentasi

18.Laboratorium komputer

(35)

5.Kerjasama

Kerjasama yang dilakukan untuk peningkatan kapasitas kelembagaan ini memerlukan dua kerjasama, yaitu:

1. Kerjasama Dalam Negeri; Pemerintahan Daerah, NGO, dan swasta

2. Kerjasama Luar Negeri; NGO, Lembaga-lembaga donor internasional yang memiliki kekhususan perhatian pada kesehatan dan pendidikan di Kabupaten Sumedang khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.

Output dari kerja sama ini adalah menjadikan hasil penelitian untuk dijadikan arus utama pembangunan kesehatan dan pendidikan untuk mempertinggi IPM dan mereduksi paradoks pembangunan yang sedang terjadi seperti saat ini.

6. Ringkasan

Penelitian menyangkut kesehatan dan pendidikan ini bertujuan:

1. Mendisain ‘Strategic Maps’ kebijakan di bidang pendidikan dan kesehatan dengan mengidentifikasikan kebijakan pendidikan dan kesehatan pada level nasional, provinsi, kabupaten, Kecamatan dan Desa. Salah satu produk yang dihasilkan adalah Data Base partisipasi pendidikan masyarakat.

2. Revisi Kebijakan (naskah akademik)

Tahun kedua pelaksanaan penelitian di arahkan pada revisi dan advokasi penyusunan kebijakan. Penelitian menghasilkan anaskah akademik sebagai bahan masukan para pengambil kebijakan.

3. Sosialisasi pada semua stakeholders

Setelah dilakukan revisi kebijakan, tahun ke tiga diarahkan (FGD, Media2 komunikasi lain seperti poster, iklan TV, Radio, FB, twitter, web Unpad 4. Pilot Project Impementasi kebijakan mGov

Sosialisasi kebijakan diikuti oleh pelaksanaan implementasi kebijakan dengan memilih satu kecamatan di kawasan pendidikan Jatinangor untuk diberikan pendampingan.

(36)

Capaian penelitian dapat dipublikasikan dalam jurnal nasional dan internasional. Selain itu

produk akhir tiap capaian penelitian akan ditindaklanjuti untuk mendapatkan Hak Atas

Kekayaan Intelektual (HAKI).

4. KLUSTER KELEMBAGAAN

1. Latar Belakang

Kelembagaan merupakan ejawantah dari bentuk kehidupan kolektif manusia. Kehidupan kolektif dalam masyarakat seringkali bersifat dinamis, tidak selalu berada dalam kondisi yang stabil. Penelitian yang dilakukan dalam kelembagaan haruslah penelitian yang dilakukan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, kelompok dengan benda, individu dengan benda dan kelompok, maupun individu dengan benda. Kompleksitas masalah kelembagaan menjadi isu penting dalam ilmu sosial dan/atau kemanusiaan (humaniora). Oleh karena itu kajian kelembagaan selalu dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan dalam masyarakat.

Berkaitan dengan permasalahan bangsa Indonesia saat inipun adalah persoalan kelembagaan yang kompleks. Carut marutnya aspek kehidupan menjadikan perkembangan masyarakat seolah-olah terhambat dan mengalami kemunduran. Lembaga formal dan informal menjadi sangat penting dalam menuntaskan masalah kebangsaan ini. Berbagai macam variabel sangat mempengaruhi persoalan kebangsaan ini, diantaranya adalah aspek kesehatan dan pendidikan. Kedua aspek tersebut dapat dikatakan adalah aspek strategis namun pada kenyataannya, banyak sekali masalah kesehatan dan pendidikan yang menghambat kemajuan bangsa. Mengerucut pada masyarakat Jawa Barat, tahun 2010, Indeks Pembangunan Manusia Jawa Barat memiliki nilai 72 atau berada di peringkat 15 dari 33 provinsi di Indonesia. Ironis dengan PDRB Jawa Barat yang menduduki 3 besar, setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur.

(37)

mencapai 67,42 tahun; dan angka melek huruf sebanyak 97,73% dari total populasi. Namun terjadi paradoks, antara angka-angka tersebut dengan kenyataan pada masyarakat Kabupaten Sumedang yang menunjukkan kondisi sebaliknya. Disinyalir terjadi kesenjangan pembangunan (development gap) dikarenakan di Kabupaten Sumedang terdapat 4 perguruan tinggi, yaitu IPDN, IKOPIN, ITB, dan Unpad di kawasan Jatinangor. Karenanya roadmap penelitian ini akan berpangkal pada penelusuran empiris mengenai realita yang terjadi pada masyarakat Kabupaten Sumedang.

Road Map yang disusun dimulai dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 Dalam cluster ini lebih menggali kembali peranan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan. Perancangan peta jalan (Road Map) ini harus dimulai dengan hasilan (ouput) harus disesuaikan dengan beberapa kompetensi dasar di beberapa jurusan di ilmu sosial. Dalam rumpun ilmu sosial dan ilmu politik misalnya berkembang isu-isu sosiologi, hubungan internasional, administrasi negara, administrasi bisnis, antropologi dan pemerintahan. Rumpun sastra juga memiliki berbagai keunikan yang justru tidak dimiliki oleh pendidikan di Indonesia bahkan di dunia, seperti sastra sunda yang dapat menjadi kekhasan dalam melakukan kajian. Selama ini kajian-kajian tentang kesundaan masih sangat rendah partisipasinya dalam dunia modern. Ini adalah tantangan bagi kebudayaan yang unik ini di tengah-tengah derasnya pengaruh global.

2. BENCHMARKING

Telaah mengenai kesehatan dan pendidikan bisa jadi tidak dapat dilepaskan dari lintasan peradaban umat manusia. Syarat utama dalam melanggengkan kehidupan umat manusia adalah perilaku kesehatan dan perilaku pendidikan dalam arti luas yang memungkinkan manusia dapat bertahan hidup secara turun-temurun dan meningkatkan peradabannya. Dengan kata lain, kesehatan dan pendidikan sama pentingnya karena dari kedua aspek tersebut, manusia dapat bertahan hidup dari kepunahan.

(38)

kesehatan dan pendidikan. Untuk mengatasi masalah kesehatan dan pendidikan tersebut maka kajian yang dapat dilakukan mengarah kepada produk media dan sisem infomasi kesehatan. Kajian-kajian yang dapat dilakukan adalah :

1. Identifikasi lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan (formal dan nonformal) berkaitan dengan nilai-nilai pada masyarakat

2. Pemetaan kelembagaan lokal yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan

3. Penyusunan model penguatan kelembagaan lokal yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan

4. Manajemen kelembagaan

5. Penyusunan kebijakan lembaga bidang Kesehatan dan Pendidikan

6. Peningkatan kemampuan manajerial Pada Lembaga Kesehatan dan Pendidikan dalam mGov

7. Kolaborasi dan integrasi kelembagaan

(39)

PETA JALAN (ROAD MAP) dan TARGET HASIL PENELITIAN

ISSUE TEMA PENELITIAN PER TAHUN

(40)

Masyarakat menyediakan layanan

kesehatan dan pendidikan secara sporadis

Jejaring layanan kesehatan dan pendidikan

Pemetaan jejaring layanan kesehatan dan pendidikan

(41)

GAMBAR 1

Fundamental Terapan

Sumber: Tim Penyusun Road Map Cluster Kelembagaan dan Produk, 2012

3. Fasilitas

Untuk menghasilkan sebuah model lembaga layanan di bidang kesehatan dan pendidikan maka setiap kajian atau kegiatan harus secara optimal. Untuk melaksanakan rencana yanag ditetapkan dibutuhkan dukungan fasilitas yang memadai. Terkait dengan fasilitas yang dibutuhkan di antaranya adalah beberapa alat terkait dengan sistem dokumentasi, pengolahan dan analisis data serta penyusunan model lembaga. Beberapa fasilitas yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

19.Ruang diskusi dan pertemuan

20.Dokumentasi

21.Laboratorium komputer

Fasilitas merupakan pemenuhan utama untuk menunjang aktivitas penelitian. Kompetensi penunjang ini perlu ada struktur peneliti yang mapan di dalam beberapa kajian. Selain itu para peneliti ini perlu dibekali dengan remunerasi dan proses administrasi keuangan yang baik. Tempat dan fasilitas pendukung penelitian perlu didukung dengan baik.

5.Kerjasama

Kerjasama yang dilakukan untuk peningkatan kapasitas kelembagaan ini memerlukan dua kerjasama, yaitu:

3. Kerjasama Dalam Negeri; Pemerintahan Daerah, NGO, dan swasta

4. Kerjasama Luar Negeri; NGO, Lembaga-lembaga donor internasional yang

memiliki kekhususan perhatian pada kesehatan dan pendidikan di Kabupaten

Sumedang khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.

Output dari kerja sama ini adalah menjadikan hasil penelitian untuk dijadikan arus utama pembangunan kesehatan dan pendidikan untuk mempertinggi IPM dan mereduksi paradoks pembangunan yang sedang terjadi seperti saat ini.

(42)

6. Ringkasan

Penelitian ini menyangkut kesehatan dan pendidikan bertujuan:

1. Identifikasi lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kesehatan dan

pendidikan (formal dan nonformal) berkaitan dengan nilai-nilai pada

masyarakat

2. Penataan kelembagaan lokal yang berkaitan dengan kesehatan dan

pendidikan

3. Penguatan kelembagaan lokal yang berkaitan dengan kesehatan dan

pendidikan

4. Manajemen kelembagaan

5. Penyusunan Kebijakan lembaga bidang Kesehatan dan Pendidikan

6. Peningkatan Kemampuan Manajerial Pada Lembaga Kesehatan dan

Pendidikan

7. Jejaring lembaga kesehatan dan jejaring lembaga pendidikan; dan

8. Implementasi dan Evaluasi Kebijakan lembaga bidang Kesehatan dan

pendidikan

Capaian penelitian dapat dipublikasikan dalam jurnal nasional dan internasional. Selain

itu produk akhir tiap capaian penelitian akan ditindaklanjuti untuk mendapatkan Hak

Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Referensi

Dasgupta, Basab, Narayan, Ambar and Skoufias, Emmanuel, Measuring the Quality of

Education and Health Services: The Use of Perception Data from Indonesia (August 1,

2009). World Bank Policy Research Working Paper Series, Vol. , pp. -, 2009. Available

at SSRN:

http://ssrn.com/abstract=1471131

(43)

Gambar

GAMBAR 1Identifikasi Model Penyusunan

Referensi

Dokumen terkait

Instalasi CSSD melayani semua unit di rumah sakit yang membutuhkan kondisi steril, mulai dari proses perencanaan, penerimaan barang, pencucian, pengemasan &

Demikian pula jumlah kumulatif barang yang dimuat melalui penerbangan internasional pada bulan Januari – Oktober 2016 naik signifikan dari 4.310 kg menjadi 57.956 kg

• Dibutuhkan informasi mengenai persediaan terkait dengan transaksi jual- beli yang terjadi untuk memantau kekonsistensian antara jumlah barang yang keluar masuk dari gudang

Pada modul pengirim sinyal terdiri dari beberapa komponen antara lain Load Cell yang digunakan untuk sensor berat cairan intravena, sensor Photodiode yang

Kemitraan Sektor Publik dan Swasta telah digunakan di banyak negara untuk mengembangkan infrastruktur telekomunikasi, mempercepat akses sekolah ke perangkat keras

•• Sistranas$ tatanan transportasi yang terorganisasi se#ara Sistranas$ tatanan transportasi yang terorganisasi se#ara Kesisteman terdiri dari transportasi ,alan$

Hasil kajian mendapati bahawa tahap pemikiran politik mahasiswa terhadap Pilihan Raya Kampus di Universiti Malaya keseluruhannya berada di.. tahap

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian tugas akhir yang dilakukan adalah membuat rancang model sistem informasi yang diharapkan dapat membantu dalam proses kegiatan