LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK.

38  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING

UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

(Studi Deskriptif terhadap Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)

SKRIPSI

diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan bidang

bimbingan dan konseling

oleh

PIPIT ANTINI SUTARDI NIM 1104621

DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2015

(2)

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

(Studi Deskriptif terhadap Peserta Didik Kelas VIII

SMP Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015)

Oleh

Pipit Antini Sutardi

Sebuah skripsi yang diajukan memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana

pendidikan Psikologi Pendidikandan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan

©Pipit Antini Sutardi

Universitas Pendidikan Indonesia

Septembert 2015

Hak cipta dilindungi undang-undang

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian dengan dicetak ulang difoto

(3)
(4)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu i

ABSTRAK

Pipit Antini Sutardi (2015). Layanan Dasar Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik (Studi Deskriptif pada Peserta Didik Kelas VIII di SMP Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015).

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena yang menunjukkan masih rendahnya motivasi belajar peserta didik sehingga akan menghasilkan dampak yang kurang baik dalam pengembangan intelektualitas dan prestasi belajar. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum motivasi belajar pada peserta didik kelas VIII di SMP Negeri 1 Bandung tahun ajaran 2014/2015 yang dijadikan landasan dalam pembuatan layanan dasar bimbingan dan konseling. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan metode yang digunakan yaitu metode deskriptif,. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Bandung yaitu sejumlah 409 peserta didik. Penelitian yang dilakukan menggunakan teknik random sampling pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Sampel yang digunakan dalam penelitian sejumlah 162 peserta didik. Pada penelitian teknik pengumpulan data menggunakan teknis nontes berupa angket yang mengungkap motivasi belajar peserta didik, aspek motivasi belajar yang diteliti meliputi: (1) adanya dorongan dan keinginan untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi, (2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, (3) adanya harapan dan cita-cita masa depan terhadap belajar, (4) adanya keinginan untuk memperoleh penghargaan dalam belajar, dan (5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar. Struktur, komponen, dan materi layanan dasar layak untuk peserta didik kelas VIII dan dapat digunakan guru BK dalam kegiatan bimbingan kelompok. Peneliti selanjutnya dapat melaksanakan uji coba empiris melalui eksperimen.

(5)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ii

ABSTRAC

Pipit Antini Sutardi (2015). The basic services of guidance and counseling to increase motivation to study for students (Descriptive studies on students of 8th Grade SMP Negeri 1 Bandung Year 2014/2015)

This research is based on a phenomenon that shows the lack of students’ motivation to study which generate a poor effect in developing intellectuality and learning achievement. Generally, this research is proposed to find out the common picture of students of 8th Grade SMP Negeri 1 Bandung Year 2014/2015’s learning motivation which is also used as manufacture of basic services and counseling. The approach used in this research is quantitative and the method used in this research is descriptive. The populations are 409 participants of 8th Grade SMP Negeri 1 Bandung Year 2014/2015 students. The technique used in his research is random sampling technique and the taking of the participants is done by taking a full concern at strata in that populations. The sample used in this research is on 162 students. In this research, the data collection is done by using non-test technique in questionnaire form which show students’ motivations to learn and its aspects which are studied such as: (1) encouragement and willing to reach achievement (2) encouragement and needing in studying (3) building hope and future goals in studying (4) willing to gain appreciation in studying and (5) participating in interesting studying activities. Basic structure, component and material services are proper to be used for teaching 8th Grade students and for counseling teachers. The next researcher can do empirical trials through experiments.

(6)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

vi DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

ABSTRACT...ii

KATA PENGANTAR...iii

UCAPAN TERIMAKASIH ... ...iv

DAFTAR ISI ... ....vi

DAFTAR TABEL ... ...ix

BAB I PENDAHULUAN ... ...1

1.1. Latar Belakang Masalah ... ..1

1.2. Rumusan Masalah Penelitian ... 4

1.4. Tujuan Penelitian ... 4

1.5. Manfaat Penelitian ... 5

1.6. Sistematika Penulisan ... 5

BAB II KONSEP LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING DAN MOTIVASI BELAJAR ... 6

2.1. Konsep Dasar Motivasi Belajar ... 6

2.1.1. Pengertian Motivasi ... 6

2.1.2. Pengertian Belajar ... ... 7

2.1.3. Motivasi Belajar ... 8

2.1.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar ... 11

2.1.5. Unsur-unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar ... 12

2.1.6. Prinsip-prinsip Motivasi Belajar ... 13

(7)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

vii

2.1.8. Proses Motivasi Belajar ... 13

2.1.9. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar ... 14

2.1.10. Implikasi Motivasi dalam Belajar ... 16

2.2. Perkembangan Peserta Didik ... 16

2.3.Layananan Dasar dalam Bimbingan dan Konseling Perkembangan ... 18

2.3.1. Pengertian Bimbingan dan Konseling Perkembangan ... 18

2.3.2. Komponen Bimbingan dan Konseling Perkembangan ... 19

2.3.3. Layanan Dasar dalam Bimbingan dan Konseling Perkembangan .... 21

2.3.4. Tujuan Layanan Dasar ... 23

2.3.5. Strategi Layanan Dasar Bimbingan dan Konseling ... 26

2.3.6. Langkah-langkah Penyusunan Layanan Dasar Bimbingan dan Konseling ... 27

2.4.Layananan Dasar dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik ... 28

2.5.Penelitian Terdahulu ... 33

BAB III METODE DAN DESAIN PENELITIAN ... 35

3.1. Lokasi Populasi/Sampel Penelitian ... 35

3.1.1. Lokasi Penelitian ... 35

3.1.2. Populasi dan Sampel Penelitian ... 35

3.2. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 36

3.3.Definisi Operasional Variabel ... 37

3.3.1. Motivasi Belajar ... 37

3.4.Instrumen Penelitian ... 39

3.4.1. Pengujian Alat Ukur ... 43

(8)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

viii

3.4.3. Uji Coba Angket ... 43

3.5.Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen ... 44

3.5.1. Uji Validitas Butir Item ... 44

3.5.2. Uji Realibilitas Butir Item ... 46

3.6.Analisis Data ... 47

3.6.1. Vertifikasi Data ... 47

3.6.2. Penyekoran ... 47

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 50

4.1. Hasil Penelitian ... 50

4.1.1. Gambaran Umum Motivasi Belajar ... 50

4.1.2. Aspek Dorongan dan Keinginan untuk Mencapai Prestasi Belajar yang Tinggi ...52

4.1.3. Aspek Dorongan dan Kebutuhan dalam Belajar ... 52

4.1.4. Aspek Harapan dan Cita-cita di Masa Depan ...53

4.1.5. Aspek Keinginan untuk Memperoleh Penghargaan dalam Belajar .. 54

4.1.6. Aspek Kegiatan yang Menarik dalam Belajar...55

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 56

4.2.1. Gambaran Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 1 Bandung ... 56

4.3. Keterbatasan Penelitian ... 60

4.4.Rancangan Layanan Dasar untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik ... 60

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 68

(9)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ix

5.2. Rekomendasi ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 70

LAMPIRAN – LAMPIRAN ... 73

DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Perkiran Alokasi Waktu Layanan Bimbingan dan Konseling. ... 21

Tabel 2.2 Rencana Operasional untuk Meningkatkan Motivasi Belajar ... 31

Tabel 3.1 Jumlah Anggota Populasi ... 35

Tabel 3.2 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar ... 39

Tabel 3.3 Hasil Judgment Angket Motivasi Belajar ... 43

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar ... 44

Tabel 3.5 Hasil Uji Realibilitas Motivasi Belajar ... 47

Tabel 3.6 Ketentuan Pemberian Skor ... 47

Tabel 3.7 Kategorisasi Rentang Skor untuk Variabel Motivasi Belajar ... 48

Tabel 3.8 Interpretasi Skor Kategori Motivasi Belajar ... 48

Tabel 4.1 Kategorisasi Rentang Skor Motivasi Belajar ... 50

Tabel 4.2 Gambaran Umum Motivasi Belajar ... 51

Tabel 4.3 Kategorisasi Aspek Dorongan dan Keinginan untuk Mencapai Prestasi Belajar yang Tinggi ... 52

Tabel 4.4 Gambaran Aspek Dorongan dan Keinginan untuk Mencapai Prestasi Belajar yang Tinggi ... 52

Tabel 4.5 Kategorisasi Aspek Dorongan dan Kebutuhan dalam Belajar ... 53

(10)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

x

Tabel 4.7 Kategorisasi Aspek Harapan dan Cita-cita di Masa Depan ... 53

Tabel 4.8 Gambaran Aspek Harapan dan Cita-cita di Masa Depan ... 54

Tabel 4.9 Kategorisasi Aspek Keinginan untuk Memperoleh Penghargaan ... 54

Tabel 4.10 Gambaran Aspek Keinginan untuk Memperoleh Penghargaan .... 55

Tabel 4.11 Kategorisasi Aspek Kegiatan yang Menarik dalam Belajar ... 55

Tabel 4.12 Gambaran Aspek Kegiatan yang Menarik dalam Belajar ... 55

Tabel 4.13 Rencana Operasional Layanan Dasar untuk Meningkatkan

Motivasi Belajar Peserta Didik ... 64

(11)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan

kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia

dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan masyarakat.

Pendidikan merupakan proses yang esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita

pribadi individu (Yusuf & Juntika, 2010, hlm. 2).

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui

kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi perannya di masa yang akan

datang (Suherman, 2009, hlm. 2). Hal ini membuktikan bahwa bimbingan dan

konseling merupakan bagian integral dari program pendidikan secara keseluruhan.

Salah satu masalah yang dihadapi para peserta didik adalah rendahnya

motivasi belajar. Hanya sebagian kecil saja peserta didik-peserta didik yang

memiliki motivasi bagus dan bias mengelolanya sehingga bisa menjadikan itu

sebagai alat untuk keberhasilan dalam studinya. Tanpa motivasi manusia akan

kehilangan arah.

Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk

menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia

terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan

tertentu.

Motivasi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia,

sebab motivasi akan mendorong tercapainya cita-cita dan harapan. Khusus bagi

peserta didik yang masih harus menyelesaikan pendidikan formal, motivasi

belajar adalah salah satu alat untuk mewujudkan harapan, impian dan cita-cita.

Ada banyak variabel yang bisa mempengaruhi naik turunnya motivasi belajar

(12)

2

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Menurut Uno (2008, hlm. 23) motivasi dan belajar merupakan dua hal yang

saling mempengaruhi, apabila peserta didik tidak memiliki motivasi dalam belajar

maka pencapaian belajar tidak akan maksimal dan cita-cita atau impian peserta

didik pun tidak akan tercapai.

Motivasi belajar adalah kecenderungan peserta didik dalam melakukan

kegiatan belajar yang didorong oleh dorongan untuk mencapai prestasi atau hasil

belajar sebaik mungkin. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang

menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar

(Clayton Alderfer dalam Nashar, 2004, hlm. 42).

Hamzah (2008, hlm. 23) menjelaskan bahwa motivasi belajar adalah

dorongan internal dan eksternal pada peserta didik-siwa yang sedang belajar untuk

mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator

atau unsur yang mendukung. Hal tersebut memiliki peranan penting dalam

keberhasialan seseorang dalam belajar.

Motivasi belajar dapat ditumbuhkan dari dalam diri peserta didik tersebut,

seperti misalnya peserta didik bersemangat dalam belajar agar mampu menjadi

peserta didik yang berprestasi dikelas, dengan motivasi seperti itu berarti peserta

didik mampu untuk belajar teratur dirumah untuk mempelajari kembali materi

pelajaran yang sudah disampaikan dikelas, mengerjakan pekerjaan rumah,

membaca buku pelajaran dan mempelajari materi yang akan disampaikan pada

pertemuan berikutnya. Peserta didik mampu memotivasi dirinya sendiri untuk

mencapai tujuan-tujuan yang diinginkannya. Beda halnya dengan peserta didik

yang tidak mempunyai motivasi, mungkin saja peserta didik tersebut merasa tidak

perlu untuk belar dengan giat, bahkan hanya belajar ketika menghadapi ujian saja.

Motivasi belajar adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh

peserta didik dalam proses pembelajaran di sekolah, motivasi belajar bersumber

dari dua faktor yaitu, faktor internal yang dapat tumbuh dari dalam diri peserta

(13)

3

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam proses belajar pun motivasi sangat dibutuhkan, karena apabila peserta

didik tidak memiliki motivasi belajar maka tidak akan mungkin terjadi proses

belajar.

Penelitian Herlina (2010) yang berjudul “Program Bimbingan dan Konseling Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta didik Sekolah

Menengah Pertama” mengungkapkan peserta didik di SMP Negeri 14 Pontianak

memiliki masalah yang berawal dari rendahnya motivasi belajar seperti semangat

belajar, tidak memiliki jadwal belajar, sulit berkonsentrasi, dan sering tidak

mengerjakan tugas. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adanya

hasrat dan keinginan berhasi (52,48%), adanya dorongan dan kebutuhan belajar

(50,14%) dalam kategori rendah.

Bimbingan dan konseling mempunyai peran penting dan strategis dalam

meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Salah satu layanan bimbingan dan

konseling yang tepat diaplikasikan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta

didik adalah layanan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok sangat sasuai

karena memberikan banyak keuntungan bagi peserta didik. Peserta didik tidak

akan merasa bahwa hanya dirinya yang memiliki masalah, tetapi peserta didik

menyadari bahwa orang lain juga mengalami masalah dalam belajarnya.

Dalam bimbingan kelompok ini semua anggota terlibat dalam kelompok,

yaitu saling menggali informasi, memberikan tanggapan dan mendengarkan

pendapat dari temannya. Jika situsi dalam proses bimbingan kelompok

menyenangkan, maka semua peserta didik menemukan hal yang baru dan mampu

mengatasi masalah motivasi belajar yang sedang dialami oleh peserta didik

tersebut. (Prayitno & Anti, 2004, hlm. 75).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan subyek peserta didik kelas VIII

SMP Negeri 1 Bandung yang pada umumnya berusia 12-15 tahun yang masuk ke

dalam kategori remaja madya. Sebagian anak SMP merasa sudah cukup umur

dalam menghadapi kehidupan sendiri. Hal inilah yang membuat mereka ikut

(14)

4

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

belajar peserta didik akan bergantung pada dirinya sendiri, lingkungan terutama

teman-temannya.

Sebagian besar peserta didik kelas VII sampai kelas IX, terutama kelas VIII

sebagian mengalami berbagai macam permasalahan di lingkungan sekolah,

sehingga dapat mengganggu konsentrasi belajar dan berimbas pada turunya

prestasi belajar peserta didik. Masalah yang dihadapi peserta didik di sekolah,

sebagai contoh kurang menyukai pelajaran mata tertentu, sehingga cenderung

lebih suka membolos pada mata pelajaran tersebut.

Berdasarkan latar belakang diatas, dipandang perlu dilakukan penelitian

untuk memberikan layanan dasar untuk meningkatkan motivasi belajar peserta

didik. Dengan demikian penelitian ini diberi judul: “Layanan Dasar Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Motivasi belajar merupakan suatu energi yang menggerakan peserta didik

untuk belajar, juga sebagai suatu yang menggerakan aktifitas peserta didik kepada

tujuan belajar. Mc. Donald (Djamarah, 2002, hlm. 114) mendefinisikan “motivasi sebagai penggerak, pengarah, dan memperkuat perilaku”. Pada proses belajar,

motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak memiliki motivasi belajar,

maka tidak akan terjadi aktivitas belajar.

Motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah

faktor dari dalam diri kita yaitu kebiasaan belajar dari peserta didik itu sendiri.

Berdasarkan pemaparan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut,

maka rumusan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran motivasi belajar peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1

Bandung Tahun Ajaran 2014/2015?

2. Bagaimana rumusan layanan dasar untuk meningkatkan motivasi belajar

(15)

5

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini secara umum

bertujuan untuk pengembangan program bimbingan belajar untuk meningkatkan

motivasi belajar peserta didik kelas VIII SMPN 1 Bandung Tahun Ajaran

2014/2015.

Dari tujuan umum tersebut, penulis menjabarkan tujuan khusus secara lebih

spesifik yang bertujuan untuk menghasilkan:

1. Memperoleh hasil gambaran motivasi belajar peserta didik kelas VIII SMP

Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015.

2. Merumuskan layanan dasar untuk meningkatkan motivasi belajar peserta

didik kelas VIII SMP Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015.

1.4 Manfaat Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian maka manfaat yang diharapkan dalam

penelitian ini adalah:

1) Manfaat Teoritis

a) Dapat menambah ilmu pengetahuan secara praktis sebagi hasil dari

pengamatan langsung serta dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang

diperoleh selama studi di perguruan tinggi khususnya bidang ilmu

kependidikan.

b) Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan secara

umum dan khususnya ilmu kependidikan.

2) Manfaat Praktis

a) Penelitian ini dapat berguna sebagai masukan bagi guru SMPN 1 Bandung

untuk meningkatkan hasil belajar peserta didiknya.

b) Memberikan sumbangan pemikiran dan perbaikan dalam penanganan

masalah, motivasi belajar terhadap hasil belajar peserta didik di masa yang

(16)

6

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1.5 Sistematika Penelitian

Berikut ini merupakan rincian struktur penelitian dari setiap bab dalam

skripsi, yaitu :

Bab 1, berisikan latar belakang penelitian, identifikasi dan rumusan masalah,

tujuan penelitian serta manfaat penelitian baik teoritis maupun praktik.

Bab 2, berisikan tentang teori-teori motivasi belajar dan layanan dasar bimbingan

dan konseling dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian.

Bab 3, menjelaskan tentang lokasi, populasi, definisi operasional variable, metode

penelitian serta analisis data yang digunakan dalam penelitian ini.

Bab 4, memaparkan tentang temuan penelitian serta pembahasan hasil penelitian

yang didapat di lapangan.

(17)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 34

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Populasi/Sampel Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bandung

yang berlokasi di Jalan. Ksatrian No.12 Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo,

Kota Bandung, Jawa Barat.

3.1.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006, hlm. 130).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka ditetapkan bahwa populasi penelitian

adalah peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015

sebagaimana ditunjukkan tabel 3.1.

Tabel 3.1

Jumlah Anggota Populasi

Peserta didik Kelas VIII SMPN 1 Bandung

No Kelas Anggota Populasi

1 VIII.1 36

2 VIII.2 36

3 VIII. 3 31

4 VIII. 4 36

5 VIII. 5 36

6 VIII.6 34

(18)

35

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

8 VIII.8 34

9 VIII.9 34

10 VIII.10 32

11 VIII.11 35

12 VIII.12 34

Total 409

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dengan istilah random

sampling, dengan arti bahwa setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama

untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang

digunakan sesuai dengan penjelasan Riduan (2008, hlm. 65) bahwa:

Apabila populasi dibawah 100 dapat dipergunakan sampel sebesar 50% jika berada di antara 100 sampai 1000. Maka dipergunakan sampel sebesar 15%-50%. Penentuan jumlah sampel tersebut akan dirumuskan sebagai berikut.

S= 15%+ 1000 - n (50%-15%)

1000-100

Dimana :

S : Jumlah sampel yang diambil

n : Jumlah anggota populasi

S = 15% + 1000-jumlah peserta didik (50%-15%)

1000-100

S = 15%+1000-409 (35%)

900

S= 15%+ (591) (35%)

900

S= 15%+ 0,65 (35%)

(19)

36

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

S= 37,7% dibulatkan menjadi 38%

Dengan demikian sampel diperoleh sebesar 38% x 409 = 155,42 dibulatkan

menjadi = 155 peserta didik

3.2 Pendekatan dan Metode Penelitian

Sugiyono, (2008, hlm. 6) menyatakan bahwa:

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif yaitu suatu pendekatan yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, dimana pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah disesuaikan dengan variabel-variabel yang akan diteliti dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam pendekatan ini, peneliti dituntut untuk menggunakan angka, mulai

dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta hasilnya.

Menurut Arikunto, 1997, hlm. 10-11) bahwa:

Pendekatan kuantitatif memungkinkan dilakukannya pencatatan dan penganalisaan data hasil penelitian dengan menggunakan perhitungan-perhitungan statistik, selain itu kesimpulan penelitian yang didapatkan dengan menggunakan pendekatan ini akan lebih baik jika dilengkapi tabel, grafik, bagan, gambar atau tampilan lain agar dapat dipahami dengan baik.

Metode yang digunakan adalah deskriptif, karena diharapkan diperoleh

gambaran motivasi belajar peserta didik di SMP Negeri 1 Bandung kelas VIII

beserta indikator-indikator dari masing-masing aspek pada variabel motivasi

belajar. Gambaran indikator-indikator dari masing-masing aspek pada variabel

motivasi belajar peserta didik dianggap sebagai fenomena motivsi eblajar peserta

didik di sekolah yang sesungguhnya. Penelitian deskriptif merupakan penelitian

yang berusaha untuk memecahkan masalah sekarang berdasarkan data-data

faktual. Motivasi belajar peserta didik menjadi data awal pengukuran kebutuhan

penyusunan program bimbingan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta

didik.

(20)

37

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3.3.1 Motivasi Belajar

Mc. Donald (Oemar Hamalik, 1992, hlm. 173) mengatakan bahwa,

motivation is a energy change within the person characterized by affective

arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi

di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan

reaksi untuk mencapai tujuan. Belajar menurut Cronbach (Djamarah, 2002, hlm.

13) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of

experiences. Belajar sebagai aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan perilaku

sebagai hasil dari pengalaman.

Motivasi Belajar merupakan daya penggerak atau suatu kekuatan yang

memberikan arah dalam melakukan aktivitas belajar. motivasi belajar timbul

karena faktor dari diri sendiri dan dari luar. Motivasi belajar merupakan dorongan

internal dan eksternal pada peserta didik-peserta didik yang sedang belajar untuk

mengadakan perubahan tingkah laku (Uno, 2011, hlm. 23).

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya gerak di dalam diri peserta didik

yang menimbulkan kegiatan serta memberi arah pada kegiatan belajar (Winkel,

2009, hlm. 207).

Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta

didik yang menimbulkan kegiatan belajar yang dapat menjamin kelangsungan

kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat

tercapai (Sardiman, 2005, hlm. 75).

Motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar

karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam

dirinya taupun dari luar dirinya.

Motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik dipengaruhi oleh beberapa

faktor yang menetukan tinggi atau rendahnya motivasi yang dimiliki oleh peserta

didik. Adapaun beberapa faktor yang dapat mempengauhi motivasi belajar peserta

didik adalah (1) faktor internal yang disebabkan oleh kondisi fisik, cita-cita yang

(21)

38

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

lingkungan masyarakat; dan (3) faktor lingkungan keluarga yang dipengaruhi

keharmonisan di dalam keluarga dan harapan orang tua.

Menurut Uno (2006, hlm. 23) Hakikat motivasi belajar adalah dorongan

internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan

perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa aspek atau unsur yang

mendukung. Hal ini mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang

dalam belajar. Motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a) Adanya dorongan dan keinginan untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi

b) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.

c) Adanya harapan dan cita-cita masa depan terhadap belajar.

d) Adanya keinginan untuk memperoleh penghargaan dalam belajar.

e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti

dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis

dan dipermudah olehnya (Arikunto, 2010, hlm.160). Untuk variabel motivasi

belajar dan variabel kebiasaan belajar adalah angket tertutup dalam bentuk

cheklist, yakni angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga

responden tinggal memberikan tanda cheklist pada kolom jawaban yang sesuai

dengan karakteristik dirinya (Arikunto, 1998, hlm.112).

Kisi-kisi instrumen untuk mengungkap motivasi belajar dan kebiasaan

belajar peserta didik dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian.

Terdapat kisi-kisi instrumen yaitu kisi-kisi instrumen motivasi belajar. Kisi-kisi

instrumen motivasi belajar disajikan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2

(22)

39

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Aspek

berprestasi tinggi. (+)

2. Pelajaran untuk esok hari, saya pelajari

dahulu di rumah agar saya siap belajar di

sekolah. (+)

saya mendiskusikan dengan teman-teman

saya. (+)

6. Saya merasa kurang mampu

menyelesaikan setiap tugas mata

pelajaran yang diberikan pleh guru. (-)

7. Saya kurang bersemangat belajar ketika

saya sudah merasa bosan dan lelah. (-)

8. Saya merasa putus asa bila menghadapi

kesulitan dalam mengerjakan tugas atau

PR. (-)

tinggi, saya berusaha seperti dia. (+)

10.Saya malas ke sekolah karena takut

mengerjakan PR di depan kelas dan di

(23)

40

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dorongan dan

11.Apabila saya menemukan soal yang sulit

maka saya akan berusaha untuk

mengerjakan sampai saya menemukan

jawabannya. (+)

13.Saya menghindari bekerja sama dengan

siapapun ketika ulangan. (+)

14.Saya lebih senang mengerjakan tugas

atau PR walaupun teman memberikan

contekan. (+)

15.Saya merasa kurang yakin dapat

mengerjakan tugas atau PR sehingga

sering meminta bantuan kepada teman.

(-)

17.Saya selalu menyelesaikan tugas atau PR

dengan segera karena saya gelisah

apabila tugas atau PR belum selesai. (+)

Keinginan belajar

lebih baik karena

kebutuhan

penghargaan.

18.Saya semangat belajar karena ingin

memiliki prestasi yang tinggi. (+)

19.Saya lebeih semangat belajar karena guru

selalu menilai baik tugas atau PR saya.

(+)

20.Saya belajar lebih giat karena ingin

menapat reward dari guru. (+)

Harapan dan

cita-cita masa

Keinginan untuk

melanjutkan

21.Saya berusaha belajar lebih giat karena

(24)

41

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

depan pendidikan perguuan tinggi. (+)

22.Saya kurang berminat melanjutkan

sekolah karena memerlukan banyak

biaya. (-)

23.Saya kurang berminat melanjutkan

sekolah ke jenjang yang lebih tinggi

24.Saya berusaha untuk melanjutkan

sekolah ke jenjang yang lebih tinggi agar

nanti kondisi ekonomi keluarga saya

lebih baik. (+)

25.Saya belajar dengan baik karena ingin

menjadi orang sukses. (+)

26.Saya berusaha untuk melanjutkan

sekolah, apapun yang saya pilih yang

walaupun nilai saya kurang memuaskan.

(+)

28.Saya semakin rajin belajar ketika nilai

ulangan saya memuaskan. (+)

29.Saya kurang mampu menyelesaikan

tugas tepat waktu. (-)

diberikan oleh guru. (+)

31.Saya biasanya mengumpulkan tugas di

akhir batas pengumpulan. (-)

(25)

42

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

teman dibanding mengerjakan tugas

sekolah. (-)

34.Saya tetap memperhatikan guru

meskipun materi yang disampaikan

sudah saya pahami. (+)

35.Saya senang membahas kembali materi

yang sulit bersama teman ataupun

guru.(+)

36.Pelajaran yang saya pahami hanya

pelajaran tertentu saja. (-)

Ketertarikan

dengan cara guru

mengajar

37.Saya senang belajar karena guru

mengajar dengan menggunakan berbagai

cara. (+)

38.Saya merasa bosan karena guru hanya

menjelaskan materi dengan berceramah

saja. (-)

39.Saya kesulitan untuk fokus ketika guru

menerangkan materi di kelas. (-)

40.Saya memperhatikan guru apabila guru

memperhatikan saya. (-)

3.4.1 Pengujian Alat Ukur

Pengukuran item-item angket motivasi belajar dan kebiasaan belajar diukur

dengan menggunakan pernyataan angket dengan bentuk skala Guttman. Dengan

menggunakan skala Guttman ini akan diperoleh jawaban yang tegas yaitu “Ya”

(26)

43

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Penggunaan skala Guttman, yang disebut metode scalogram atau analisis

skala (scale analysis) sangat baik untuk menyakinkan peneliti tentang kesatuan

dimensi dari sikap atau sikap yang diteliti (Moh Nazir, 2005, hlm. 340).

3.4.2 Uji Keterbacaan

Instrumen angket Motivasi Belajar dan Kebiasaan Belajar diuji kepada

sampel yaitu kepada 34 orang peserta didik SMP Negeri 1 Bandung kelas VIII,

untuk mengukur sejauh mana keterbacaan instrumen tersebut.

Setelah uji keterbacaan untuk pernyataan-pernyataan yang tidak dipahami

kemudian direvisi sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dimengerti oleh

peserta didik SMP Negeri 1 Bandung dan kemudian dilakukan uji validitas.

3.4.3 Uji Coba Angket

Sebelum digunakan kepada sampel yang telah ditetapkan, terlebih dahulu

instrumen ini ditimbang oleh tiga orang ahli/dosen dari Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan

Indonesia (PPB, FIP, UPI), untuk mengetahui kelayakan alat tersebut. Selanjutnya

masukan dari ketiga dosen itu dijadikan landasan dalam penyempurnaan alat

pengumpul data yang dibuat.

Tabel 3.3

Hasil Judgement Angket Motivasi Belajar

Kesimpulan No Item Jumla

h

Memadai 1,2,3,4,7,8,9,10,12,15,16,18,20,22,23,24,25,2

6,27,28,29,31,32,33,34,36,37

27

Revisi 5,6,11,13,14,17,19,22,30,35,38,39,40 13

Buang

(27)

44

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3.5.1 Uji Validitas Butir Item

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan

dan kesahihan suatu instrumen. Uji validitas ini dilakukan unuk menguji

ketepatan suatu item dalam pengukuran instrumennya. Suatu pertanyaan

dikatakan valid dan dapat mengukur variabel penelitian yang dimaksud jika nilai

koefisien validitasnya lebih dari atau sama dengan 0,30 (Azwar, 2010, hlm. 6-7).

Uji Validitas yang digunakan untruk instrumen pengetahuan yang berupa

skor dikotomi yaitu bernilai 0 dan 1 digunakan korelasi point biserial dengan

rumus sebagai berikut.

Dengan:

Mi = Rata-rata skor dari subjek-subjek yang menjawab betul item yang dicari

korelasinya dengan tes

Mx = Rata-rata skor total

Sx = Standar deviasi skor total

p = proporsi subjek yang menjawab betul item tersebut

q = 1-p

(Saifudin Azwar, Reliabilitas dan Validitas, 2010)

Tabel 3.4

Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar

Butir Soal

Validitas

Coeficient Point Biserial Titik Kritis Kesimpulan

(28)

45

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5 0,576 0,30 Valid

6 0,446 0,30 Valid

7 0,313 0,30 Valid

8 0,410 0,30 Valid

9 0,359 0,30 Valid

10 0,623 0,30 Valid

11 0,395 0,30 Valid

12 0,367 0,30 Valid

13 0,492 0,30 Valid

14 0,387 0,30 Valid

15 0,352 0,30 Valid

16 0,545 0,30 Valid

17 0,642 0,30 Valid

18 0,316 0,30 Valid

19 0,486 0,30 Valid

20 0,388 0,30 Valid

21 0,359 0,30 Valid

22 0,565 0,30 Valid

23 0,632 0,30 Valid

24 0,329 0,30 Valid

25 0,363 0,30 Valid

26 0,363 0,30 Valid

(29)

46

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

28 0,407 0,30 Valid

3.5.2 Uji Realibilitas Butir Item

Azwar (2010) menyatakan bahwa:

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana tingkat kekonsistenan pengukuran dari suatu responden ke responden yang lain atau dengan kata lain sejauh mana pertanyaan dapat difahami sehingga tidak menyebabkan beda interpretasi dalam pemahaman pertanyaan tersebut. Sekumpulan pertanyaan untuk mengukur suatu variabel dikatakan reliabel dan berhasil mengukur variabel yang kita ukur jika koefisien reliabilitasnya lebih besar atau sama dengan 0,600.

Uji reliabilitas yang digunakan untuk instrumen pengetahuan adalah teknik

Koefisien Reliabilitas KuderRichardson 20 (KR-20). Teknik tersebut adalah

(30)

47

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dengan:

k = banyaknya item

Sx2 = varians skor total

p = proporsi subjek yang menjawab betul item tersebut

(Saifudin Azwar, Reliabilitas dan Validitas, 2010, hm. 2-4)

Tabel 3.5

Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar

Reliabilitas

Coeficient KR-20 Titik Kritis Kesimpulan

0,898 0,60 Reliabel

3.6 Teknik Analisis Data 3.6.1 Vertifikasi Data

Vertifikasi data dilakukan untuk menyeleksi data yang layak diolah. Data

yang telah dikumpulkan diperiksa kelengkapan, jumlah, dan ketelitian angket

yang telah diisi untuk kemudian diolah lebih lanjut. Hasil vertifikasi data

menunjukkan semua angket yang telah diisi oleh peserta didik layak untuk diolah.

3.6.2 Penyekoran

Data yang telah melalui vertifikasi diberi skor pada setiap pilihan jawaban

yang diambil. Angket melalui skala Guttman yang menyediakan dua alternatif

yaitu Ya-Tidak (forced choice) dengan cara pengisian memberikan tanda checklist

(√). Sistem pemberian skoring pada butir-butir pernyataan berbentuk positif dan negatif. Penyekoran setiap pilihan jawaban dapat diuraikan pada tabel 3.5.

Tabel 3.6

Ketentuan Pemberian Skor

(31)

48

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Positif 1 0

Negatif 0 1

Perhitungan skor motivasi belajar adalah dengan menjumlahkan skor dari

tiap-tiap pernyataan sehingga didapatkan skor total. Responden dibagi menjadi

tiga tingkat motivasi belajar dengan menggunakan kategorisasi total skor motivasi

belajar, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pengelompokkan data menjadi tiga

kategori dengan pedoman sebagai berikut.

Tabel 3.7

Kategorisasi Rentang Skor untuk Variabel Motivasi Belajar

Tingkatan Kategori

Tinggi X≥60,53

Sedang 40,05≤ X ≥60,52

Rendah X≤40,04

Setiap kategori interval mengandung pengertian sebagai berikut.

Tabel 3.8

Interpretasi Skor Kategori Motivasi Belajar

Tingkatan Rentang Interpretasi

Motivasi Belajar

Tinggi

X≥60,53 peserta didik sudah memiliki

motivasi belajar yang baik, melalui

aspek-aspek seperti dorongan dan

keinginan untuk mencapai prestasi

belajar yang tinggi, dorongan dan

kebutuhan dalam belajar, harapan

(32)

49

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

memperoleh penghargaan dalam

belajar, kegiatan yang menarik dalam

belajar.

Motivasi Belajar

Sedang

40,05≤ X ≥60,52 Peserta didik sudah memiliki

motivasi belajar tetapi belum

optimal, melalui aspek-aspek seperti

dorongan dan keinginan untuk

mencapai prestasi belajar yang

tinggi, dorongan dan kebutuhan

dalam belajar, harapan dan cita-cita

masa depan, memperoleh

penghargaan dalam belajar, kegiatan

yang menarik dalam belajar.

Motivasi Belajar

Rendah

X≤40,04 Peserta didik tidak memiliki motivasi

belajar, melalui aspek-aspek seperti

dorongan dan keinginan untuk

mencapai prestasi belajar yang

tinggi, dorongan dan kebutuhan

dalam belajar, harapan dan cita-cita

masa depan, memperoleh

penghargaan dalam belajar, kegiatan

(33)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

67

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka

dibawah ini akan dipaparkan beberapa kesimpulan yang patut ditelaah dari

penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Secara umum motivasi belajar peserta didik kelas VIII SMPN 1 Bandung

Tahun Ajaran 2014/2015 termasuk dalam kategori sedang.

2. Layanan dasar yang mengacu pada hasil identifikasi kebutuhan yang dirasakan

oleh peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015

yang terkait dengan motivasi belajar.

3. Lingkup materi yang disajikan dalam layanan dasar secara keseluruhan

ditentukan berdasarkan aspek motivasi belajar.

1.2Rekomendasi

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan, maka rekomendasi yang akan

disampaikan adalah sebagai berikut.

1) Guru Bimbingan dan Konseling

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar peserta didik

mempunyai motivasi belajar rendah yang kurang baik. Upaya yang harus

dilakukan guru bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.

a) Melakukan analisis kebutuhan (need assesment) lebih mendalam sebagai

landasan dalam mengembangkan dan melaksanakan program bimbingan

untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

b) Menggunakan program bimbingan yang telah disusun berdasarkan analisis

kebutuhan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

2) Bagi Pihak Sekolah

Berdasarkan hasil penelitian memberikan gambaran umum bahwa sebagian

(34)

68

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dengan hasil penelitian ini, sekolah hendaknya memberikan perhatian dan

dukungan yang lebih besar kepada peserta didik yang mengalami hambatan dalam

motivasi belajar dengan pendekatan yang paling baik. Sekolah diharapkan mampu

bekerja sama (antara personil sekolah) dalam upaya meningkatkan motivasi

belajar peserta didik yang rendah, khususnya dengan pihak bimbingan dan

konseling.

3) Bagi Peneliti Selanjutnya

Keterbatasan proses dan hasil penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari

keterbatasan peneliti dalam mengelola kegiatan penelitian. Oleh karena itu,

kepada peneliti selanjutnya direkomendasikan sebagai berikut.

a) Peneliti selanjutnya dapat menggunakan metode yang lebih beragam dan

menarik dalam memberikan layanan bimbingan belajar untuk meningkatkan

motivasi belajar sehingga presentase motivasi belajar yang dicapai peserta

didik lebih optimal.

b) Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan program menjadi eksperimen

untuk menganalisis efektifitas program bimbingan belajar dalam upaya

(35)

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

69

DAFTAR PUSTAKA

Abin, Syamsudin. (1996). Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Anonim. (2013). Gaya Belajar. [online]. Tersedia di:

http://pondokibu.com/mengenal-gaya-belajar-anak.html

Arifin, Z. (2011). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Arikunto, S. (1997). Dasar-dasar Evaluasi. Jakarta: Rineka Cipta.

__________. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Produk. Jakarta: Rineka Cipta.

__________. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Atkinson, R.L. et al. (2004). Intriduction to Psychology (Terjemah). San Diego: Harcourt Brace&Company

Azwar, S. (2010). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Connecticut State Department of Education. 2008. Comprehe

Djamarah, S. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

__________. (2008). Rahasia Sukses Belajar. Cetakan ke-2 (edisi revisi). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dimyati & Mudjiono. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Gysbers, N. C. & Henderson, P. (2006). Developing and Managing Your School

Guidance and Counseling Program. United States of America: The

American Counseling Association.

Hamalik, O. (1992). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara

Havighurst, R.J. (1953). Human Development and Education. New York: David McKey Company Inc.

Herlina, Uray. (2010). Program Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan

(36)

70

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kelas VIII di Sekolah MENENGAH Pertama Negeri 14 Pontianak. Tesis.

Fakultas Pasca Sarjana UPI, Bandung: Tidak Diterbitkan.

Indranatan, Rudy. (2013). Apa itu Berpikir Logis, Kritis dan Kreatif. [Online]. Tersedia: http://rudy-indranatan.blogspot.com/2013/02/bapa-itu-berpikir-logis-kritis-dan.html

McClelland, David. (1976). The Achievement Motive. Irvington Publishers, Inc. New York.

________________. (1976). Human Motivation. Illinois: Scott, Foresman&Company.

Monks F.J, (2002). Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai

Bagiannya, Edisi Keempat Belas.Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press.

Myrick, R. D. (2003). Developmental guidance and counseling: a practical

approach. (edisi keempat). Minneapolis: Educational Media Corporation.

Nashar. (2004). Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan

Pembelajaran. Jakarta: Delia Press.

Ngalim P. (2000). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nurihsan. A.J. (2006). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar

Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

Purnomo, S. A., & Novianty, R. (2013).50Games For Fun Learning and

Teaching. Bandung: Yrama Widya.

Riduan. (2008). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti

Pemula. Bandung: Alfabeta.

Rusmana, N. (2009). Bimbingan dan Konseling Kelompok Disekolah. Bandung: Rizki Press.

Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group

(37)

71

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta

Sobur, A. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Soediharjo. (2011). Program Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Motivasi

Belajar Peserta Didik; Studi Terhadap Peserta Didik SMK Broadcast Pertelevisian Cempaka Nusantara Depok Tahun Ajaran 2010-2011. Tesis

Sekolah Pasca Sarjana UPI. Bandung: Tidak Diterbitkan.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta.

Suherman, U. (2009). Manajemen bimbingan dan Konseling. Bandung. Rizqi Press.

Surya, M. (2003). Psikologi Konseling. Bandung: CV. Pustaka Bani Quraisy

Syah, M. (2003). Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Syamsudin, A. (2007). Psikologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Martiana

Uno, H. (2008). Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang

Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

_______. (2011). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Walgito, B. (2005). Pengantar Psikologi Umum. Yogyarkarta: Andi Offset

Wasty, S. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Willis, Sofyan S. (2004). Konseling Individual Teori dan Praktek Bandung:Alfabeta.

Winkel, W.S. (2009). Bimbingan di Instuisi Pendidikan. Jakarta: Grafindo.

Wulandari, Yunia. 2013. Layanan Dasar Bimbingan Untuk Mengembangkan

Survival and Safety Skills Peserta Didik. PPB FIP UPI.

Yusuf, LN, S. (2009). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizqi Press

(38)

72

Pipit Antini Sutardi, 2015

LAYANAN DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Figur

Tabel 3.1 Jumlah Anggota Populasi

Tabel 3.1

Jumlah Anggota Populasi p.17
Tabel 3.4 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar

Tabel 3.4

Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Motivasi Belajar p.27
Tabel 3.5  Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar

Tabel 3.5

Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar p.30
Tabel 3.8  Interpretasi Skor Kategori Motivasi Belajar

Tabel 3.8

Interpretasi Skor Kategori Motivasi Belajar p.31
Tabel 3.7 Kategorisasi Rentang Skor untuk Variabel Motivasi Belajar

Tabel 3.7

Kategorisasi Rentang Skor untuk Variabel Motivasi Belajar p.31

Referensi

Memperbarui...