BAKTI
SEORANG ANAK
Oleh:
S. Dhammasiri
Buku ini pernah diterbitkan oleh:
Graha Metta Sejahtera pada tahun 2006
Buku ini dipersembahkan oleh anak-anak, menantu serta cucu sebagai kado ulang tahun pernikahan yang ke-50 kepada
Ibu dan Ayah Yang telah melahirkan,
Yang telah merawat dan membesarkan kami semua Dengan penuh ketulusan dan kasih sayang
Dafatar Isi
Kata Sambutan iv Kata Pengantar vi Pada Mulanya 1
Macam-Macam Anak 14 Anak-Anak Malang 42
Kasih Sayang atau Kemelakatan? 53 Beda Agama? 59
Balas Jasa 72
Untuk Ibu dan Ayahku 86
Gatha Saat Bersujud Pada Ibu dan Ayah 88
Kata Sambutan
Sidang Pembaca Yang Budiwan, Budiwati
Dalam stamina normal kecuali abnormal, orangtua pasti memiliki kasih sayang kepada anak-anaknya. Apapun yang diberikan kepada anak-anak selalu dipilih yang terbaik. Sejahat-jahatnya orangtua tidak ingin anaknya menjadi jahat. Sebodoh-bodohnya orangtua tidak ingin anaknya menjadi bodoh, terbelakang pada zamannya. Orangtua, setiap hari berdoa serba semoga teriring segala puji kepada yang maha kuasa untuk anak-anaknya dengan idaman agar kelak anak-anak selalu serba unggul pada zamannya. Kalau pun misalnya “karsa kuasa karma”
berkehendak anak menjadi jahat, tetap orangtua berpengharapan semogalah semoga anaknya menjadi penjahat ulung kaliber dunia:
Penjahat yang tidak pernah tertangkap polisi!
Sungguh, indah kasih sayang orangtua kepada anak-anak. Di Jawa ada pepatah: “Anak karo telak abot anak (anak dengan tenggorokan berat anak).” Artinya, “walaupun orangtua sedikit kurang makan asal anak-anak nyaman.” Dalam dialek Manado, “Urus anak dulu jo, baru torang isi gergantang” Arti dekatnya, “Setelah anak-anak selesai, baru orangtua makan.” Penyair Cina kuno berkata: “Jangan dibanting keras-keras pintu itu, kamu masih lalu lalang di situ.” Artinya: “Jangan dikutuk anak-anak, itu masih darah dagingmu.”
Dari syair-syair para penyair popular itu, semua menyiratkan betapa besar kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya. Mengingat anak-anak adalah: buah hati, belahan jantung, perajut cerita penerus sejarah, bagian dari darah-daging dan pernah hidup senyawa dengan orangtua, terutama ibu selama sembilan bulan lima belas hari. Untuk
itu ada alasan, dekapan hangat kasih sayang orangtua pada anak- anak merupakan wujud kasih sayang alamiah yang sulit digambarkan sehingga sayang orangtua buat anak-anak membuat cemburu membara dalam dada. Orangtua selalu dibayang-bayangi rasa takut, cemas, cemburu, kuatir kehilangan anak-anaknya. Harapan orangtua selalu tuntutan perintahnya harus ditiru dan dipatuhi oleh anak-anak. Mutlak!
Hanya saja, kalau orangtua terlalu sayang dan sangat memanjakan anak, akibatnya anak menjadi tercekik sangat tersiksa dan tidak bisa berkembang mandiri secara alamiah jiwanya. Otak beku. Dampak dari perlakuan orangtua yang terlalu mengekang, mengungkung, mengurung dan semacamnya kelak dalam jiwa anak tertanam dua sifat ekstrim: terlalu egois agresif manja, dan atau menjadi kurang hormat kepada sesama terutama terhadap orangtua, karena anak dibuatnya merasa hidup tinggal di alam surga, atau sebaliknya anak menjadi bersifat minder, pasif, apatis, akibat siksa neraka.
Kami menyambut baik gagasan Samanera Dhammasiri menulis buku BAKTI SEORANG ANAK. Hendaknya menjadi perhatian bagi orangtua dan anak-anak serta mampu membaca buku yang satu ini, untuk mendapatkan suasana hati harmoni dalam hidup bersama.
Demikian sambutan kami. Terima kasih.
Pondok Labu, 1 Juni 2006 Bhikkhu Dhammasubho Thera
Kata Pengantar
Kehidupan seorang manusia dimulai dari kehidupan sebagai anak. Tidak ada orang yang lahir di bumi ini yang langsung menjadi orangtua. Selama menjadi anak, kita mendapatkan berbagai perlakuan dan kasih sayang dari orangtua kita. Tapi ada juga anak-anak yang tidak sempat melihat kedua orangtuanya karena berbagai alasan. Ada yang tidak sempat melihat kedua orangtua-nya karena ayahnya meninggal saat ia masih berada di kandungan, dan ibunya meninggal saat ia dilahirkan. Setelah kita dilahirkan, kedua orangtua kita membesar-kan dan merawat kita dengan penuh ketulusan. Mereka mengorbankan segalanya demi kebahagian kita.
Saya termasuk sebagai anak yang beruntung karena saya masih bisa melihat kedua orangtua saya hingga buku ini saya tulis. Saya juga mampu merasakan betapa luhurnya dan betapa besarnya jasa kedua orangtua saya. Mereka sendiri yang merawat dan membesarkan saya.
Sebagaimana yang saya ketahui, Mama dan ayah sering melupakan kebahagiaannya sendiri demi kebaha-gian anak-anaknya. Terinspirasi oleh keluhuran dan kebesaran jasa kebajikan yang telah mereka lakukan, saya menulis buku ini.
Buku ini saya tulis saat saya mampu menghayati kasih sayang yang telah diberikan oleh kedua orangtua saya. Oleh karena itu, Anda akan banyak menemukan pengalaman pribadi saya bersama kedua orangtua saya dalam buku ini. Namun demikain, buku ini bukanlah sebuah autobigrafi.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Bhante Dhammasubho. Di tengah-tengah
kesibukan sebagai Sanghanayaka, beliau masih mau meluangkan waktu untuk memberikan kata sambutan atas buku ini. Saya tidak lupa mengucapkan anumodāna kepada Bu Lina Chandra dan Pak Simon Liu yang selalu bersem-angat untuk menerbitkan buku-buku Dhamma.
Semoga kebajikan yang dilakukan akan membawa kebahagian bagi semua makhluk.
Semoga buku ini mampu memberikan sumbangsih bagi peningkatan nilai-nilai moral anak kepada kedua orangtuanya dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sehingga tercipta kedamaian di muka bumi ini.
18 Juli 2006
Colombo, Sri Lanka S. Dhammasiri
Pada Mulanya
A
nak adalah hasil hubungan antara suami dan istri.Untuk ukuran masyarakat Indonesia, seseorang akan dianggap sebagai anak yang syah bila pernikahan ibu dan ayahnya syah baik ditinjau dari agama maupun hukum pemerintah. Hal ini tentu agak berbeda dengan yang terjadi di negara-negara lain yang menganut aliran liberalisme.
Di negara-negara yang menganut aliran liberalisme, seorang anak tetap akan dianggap syah sebagai anak meskipun ibu dan ayahnya tidak diikat oleh tali perkawinan.
Di tengah-tengah masyarakat tentu kita menemukan banyak pasangan yang menjadikan anak sebagai tolak ukur kebahagiaan.
Mereka akan merasa bahagia kalau mereka punya anak. Sebaliknya, mereka akan kesepian bila tidak mempunyai anak. Oleh karena itu, banyak pasangan yang berusaha sekuat tenaga agar mereka bisa punya anak.
Bagi pasangan-pasangan yang sulit mendapatkan anak kemudian mereka sukses untuk mendapatkan anak, tentu mereka akan merasakan kebahagian yang luar biasa. Mereka akan merawat dan membesarkan anak tersebut dengan segenap pengorbanan. Apa pun kemauan anak dituruti, katanya demi menjaga kebahagiaan anak. Memang banyak yang kemudian sukses, tapi kita hendaknya mau membuka mata untuk melihat kenyataan bahwa banyak orangtua yang salah didik sehingga anak menjadi bumerang. Anak-anak yang mereka harapkan sebagai ladang kebahagiaan justru menjadi duri dalam daging.
Pasangan-pasangan yang berambisi untuk memiliki anak namun gagal untuk mendapatkan anak, dapat berakibat fatal. Kehidupan rumah tangga yang pada awalnya mereka harapkan berjalan mulus penuh kebahagiaan dapat berubah menjadi neraka. Hari-hari selanjutnya pun berubah. Suami dan istri saling menyalahkan dan saling menuduh.
Suami menuduh istri bahwa sang istri tidak memenuhi syarat untuk mengandung seorang anak. Sang istri pun tidak mau kalah. Ia menuduh suaminya sebagai suami yang tidak bermutu dan segudang tuduhan lainnya.
Jika kondisi sudah parah seperti itu—suami istri saling menuduh dan menyalahkan—kondisi rumah tangga pun dapat berubah menjadai lebih runyam. Keduanya dapat menempuh black-street untuk membuktikan bahwa mereka adalah yang lebih unggul, merekalah yang mampu memproduksi anak. Sang suami akan berselingkuh dengan wanita lain dan sang istri akan berselingkuh dengan pria lain.
Bila mereka masih tetap tidak sadar bahwa setiap makhluk memiliki kammanya sendiri, akhirnya kandaslah bahtera rumah tangga.
Tidak memiliki anak bukan hanya permasalahan di zaman modern ini. Sepanjang zaman—di masa lampau, sekarang dan yang akan datang—hal itu tetap akan terjadi.
Ada sebuah kisah menarik tentang pasangan yang tidak memiliki anak di zaman Sang Buddha. Menurut Bohirājakumāra Sutta dari Majjhima Nikāya dan juga Dhammapada Aṭṭhakatha, Pangeran Bodhi tidak punya anak selama ia menjalani kehidupan rumah tangga.
Setelah selesai membangun istana, ia mengundang Sang Buddha bersama para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Demi mewujudkan impian untuk memiliki anak, sang pangeran menggelar
kain putih mulai dari depan pintu hingga ke dalam ruangan dengan bertekad, “Bila Sang Buddha melangkahkan kaki pada kain ini, berarti saya akan punya anak. Bila tidak, itu berarti saya tidak akan punya anak.”
Sang Buddha yang mampu memahami dan membaca pikiran orang lain, mengerti bahwa Pangeran Bodhi mempunyai tekad untuk memiliki anak dengan menggelar kain putih tersebut. Sang Buddha yang juga memiliki kemampuan untuk melihat kehidupan masa lampau seseorang, tidak melangkahkan kaki pada kain putih tersebut.
Meskipun Pangeran Bodhi meminta-Nya hingga tiga kali untuk masuk, Sang Buddha tetap berdiri di depan pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bhante Ānanda mengerti mengapa Sang Buddha tidak mau masuk. Beliau pun meminta Pangeran Bodhi untuk memindahkan kain putih tersebut.
Setelah selesai makan, Pangeran Bodhi bertanya kepada Sang Buddha mengapa Beliau tidak mau melangkahkan kaki pada kain putih tersebut. Sang Buddha balik bertanya kepada pangeran Bodhi tentang keinginannya. Pangeran Bodhi menjelaskan apa yang sesungguhnya menjadi kehendaknya: Memiliki anak. Sang Buddha pun menceritakan kehidupan masa lampau Pangeran Bodhi bersama istrinya.
Menurut Sang Buddha, dalam salah satu kehidupan lampaunya, Pangeran Bodhi dan istri berlayar bersama dengan serombongan orang. Dalam pelayaran tersebut, kapal mereka hancur dihantam badai.
Mereka adalah satu-satunya pasangan yang selamat dan terdampar di sebuah pantai. Mereka kemudian hidup di pantai tersebut.
Di pantai tersebut, mereka dapat bertahan hidup karena setiap hari mereka makan telur burung. Anak burung serta burung-burung
dewasa juga menjadi santapan yang menyenangkan. Begitu banyak telur yang mereka makan, tak terhitung anak burung dan juga burung- burung dewasa yang mereka bunuh. Mereka melakukan semua itu tanpa perasaan bersalah maupun penyesalan.
Sebagai akibat dari perbuatan tersebut dalam kehidupan sekarang ini, Pangeran Bodhi bersama istri tidak memiliki anak. Seandainya saja pada saat mereka menghancurkan dan membunuh burung-burung tersebut mereka memiliki rasa bersalah atau penyesalan, mereka akan memiliki satu atau dua orang anak.
Kitab komentar juga memberikan contoh lain tentang orang yang tidak punya anak. Di Sāvatthi ada seorang kaya yang tidak punya anak.
Walaupun ia kaya, hidup bergelimang materi, ia tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia puas dengan mengenakan pakaian yang jelek. Lebih dari itu, ia adalah orang yang kikir. Ia tidak mau memberikan apapun yang ia miliki kepada orang lain. Jangankan untuk kebutuhan orang lain, menggunakan kekayaan tersebut untuk kesejahteraannya sendiri ia pun tidak mau.
Pada akhirnya orang itu meninggal tanpa ada yang menjadi pewaris harta kekayaannya. Raja Pasenasi sebagai penguasa negara mengambil alih kekayaan tesebut. Setelah itu, ia menghadap Sang Buddha dan mohon penjelasan mengapa orang tersebut harus mengalami kenyataan yang demikian.
Sang Buddha menceritakan, dalam kehidupan lampau orang tersebut juga menjadi orang kaya. Dalam kehidupan tersebut, ia berkepribadian yang tidak ada bedanya dengan kepribadiannya dalam kehidupan sekarang. Dalam kehidupannya yang lampau, ia juga saudagar yang pelit, enggan berdana kepada orang lain.
Suatu hari, ketika seorang paccekabuddha sedang berpindapatta ia minta istrinya untuk berdana makanan. Merasa ada perubahan, sang istri berdana makanan dalam jumlah yang cukup banyak kepada paccekabuddha tersebut. Ia mempersembahkan makanan pilihan kepada paccekabuddha tersebut. Dalam perjalanan ke vihāra, saudagar itu kembali bertemu dengan paccekabuddha tersebut.
Saudagar tersebut merasa menyesal mengapa ia minta istrinya untuk berdana kepada paccekabuddha tersebut. Lebih baik makanan tersebut diberikan kepada pembantunya yang pada akhirnya akan memberikan pelayanan yang lebih baik kepadanya.
Saudagar itu juga mempunyai saudara yang juga orang kaya.
Berharap menjadi pewaris kekayaan saudaranya, ia membunuh keponakannya sendiri. Setelah saudaranya meninggal, ialah yang berhak mewarisi kekayaan saudaranya.
Karena telah berdana makanan kepada paccekabuddha, ia menjadi orang kaya dalam kehidupan sekarang ini. Karena rasa penyesalannya telah berdana makanan kepada paccekabuddha, ia menjadi enggan untuk menggunakan kekayaannya demi kesejahteraannya sendiri.
Karena telah membunuh keponakannya, ia telah terlahir di neraka dan dalam kehidupan sekarang ini tidak punya anak.1
Demikianlah dua alasan mengapa dalam kehidupan sekarang ini, ada pasangan yang tidak memiliki anak. Baik kasus yang dialami Pangeran Bodhi maupun yang dialami oleh saudagar kaya itu, mereka tidak memiliki anak karena mereka harus menuai akibat dari perbuatannya di masa lampau. Bisa jadi pasangan-pasangan yang tidak memiliki anak karena perbuatannya di masa lalu sedang berbuah.
1 Dhammapada Aṭṭhakata IV, 76
Sebagai umat Buddha yang menempatkan pentingnya arti hukum sebab musabab yang saling bergantungan (paṭiccasamuppāda), tidak perlu tergesa-gesa menuduh pasangan hidupnya sebagai kambing hitam sehingga mereka tidak punya anak dalam kehidupan ini. Bisa saja, keduanya di masa lampau telah melakukan suatu tindakan yang merugikan makhluk lain. Bisa juga justru dirinya sendiri yang menjadi penyebab sehingga mereka tidak punya anak. Dalam kasus yang dialami Pangeran Bodhi, mereka bersama-sama melakukan perbuatan jahat di salah satu kehidupannya di masa lalu. Sedangkan saudagar itu, tidak mempunyai anak karena ulah perbuatan sang suami.
Selain karena akibat dari kamma, kondisi di masa sekarang juga cukup menentukan mengapa para perumah tangga tidak punya anak.
Sebagaimana disebutkan dalam Saṁyutta Nikāya, lendir (semha) atau hormon (pitta), udara, cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi sebab mengapa seseorang hidup dalam ketidaknormalan.2
Berteori memang lebih gampang daripada mempraktikkannya.
Demikian pula, berteori tidak punya anak karena banyak alasan juga hal yang mudah dilakukan. Akan tetapi, untuk benar-benar mampu menghadapi kenyataan semacam itu bukanlah urusan yang mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Lihat saja orang yang pandai, cerdas dan mempunyai banyak pengalaman tapi selalu bertengkar dengan pasangan hidupnya setiap hari gara-gara tidak punya anak.
Sebenarnya, kalau kita mau jujur, dapat menjalani hidup bersama dengan pasangan yang diharapkan adalah hal yang patut disyukuri meskipun tidak punya anak. Cobalah bayangkan betapa sengsaranya mereka yang bermimpi siang dan malam untuk bisa menjalani
2 Saṁyutta Nikāya IV, 230
kehidupan rumah tangga tapi sangat sulit untuk mendapatkan jodoh.
Kita seharusnya sadar dan mau membuka mata bahwa orang-orang yang kesulitan untuk mendapatkan jodoh hingga akhir hanyatnya juga banyak. Lebih-lebih di zaman modern ini tidak terhitung berapa jumlahnya orang yang kesulitan menjacari jodoh.
Bethoven adalah seorang komposer yang terkenal di dunia.
Pengagumnya tidak hanya dari kelas bawah tapi juga berasal dari kaum ningrat. Putri-putri keraton banyak yang terpaut atas kehebatannya.
Bahkan beberapa di antaranya sempat berpacaran dengan Bethoven.
Tapi bagaimanakah nasib sang komposer? Bethoven ternyata sulit mendapatkan pasangan hidup dan hidup melajang hingga akhit hanyatnya.
Adalah lebih baik hidup bersama pasangan yang tidak memberikan keturunan namun hidup bahagia daripada hidup bersama dengan pasangan yang dapat memberikan banyak anak tapi selalu berselingkuh dengan pasangan lain. Adalah lebih membahagiakan hidup berkeluarga tanpa anak dari pada hidup bersama dengan anak- anak yang menjadi sumber penderitaan siang dan malam. Menghadapi kenyataan masa sekarang adalah jauh lebih penting dan berarti daripada menghayalkan indahnya dunia yang akan datang atau menyesali masa lalu nan kelabu.
Di samping banyak pasangan yang merasa kurang beruntung karena tidak punya anak, banyak pula pasangan yang mudah memiliki anak tapi mereka masih tidak bisa menerima keberadaan anak tersebut sepenuhnya. Masih saja mereka merasakan ada sesuatu yang kurang walaupun mereka hidup dikelilingi oleh anak-anak yang berbhakti dan menyenangkan. Ambillah contoh pasangan yang semua anaknya perempuan. Pasangan ini mengharapkan untuk memiliki anak laki-
laki. Demikian juga, pasangan yang semua anaknya laki-laki berharap mempunyai anak perempuan.
Entahlah, saya sendiri juga sulit memahami mengapa ada pasangan yang hanya memiliki anak perempuan dan ada pula pasangan yang hanya memiliki anak laki-laki. Sebut saja pasangan A, punya anak 4. Semuanya wanita. Mereka sangat mengharapkan anak laki-laki. Mereka kemudian memutuskan untuk mempunyai anak lagi dengan harapan anak yang kelima ini laki-laki. Betapa bahagianya mereka ketika anak yang kelima itu ternyata benar-benar laki-laki. Tapi mereka benar-benar sedih luar biasa, karena satu minggu kemudian anak itu meninggal.
Ada lagi sebuah pasangan yang memiliki seorang anak perempuan. Mereka mempunyai keinginan untuk memiliki anak laki- laki. Ketika mengandung untuk yang kedua kalinya, setelah dicek janin yang ada dalam kandungan adalah laki-laki. Tapi tidak berselang lama kemudian wanita itu mengalami keguguran karena jatuh dari tangga. Setelah mengandung untuk yang ketiga kalinya, wanita tersebut sangat berhati-hati. Ia tidak banyak bergerak bahkan turun ke lantai bawah pun ia tidak mau. Semua ia lakukan di lantai atas. Setelah bayi itu dilahirkan, kondisinya sangat lemah karena kekurangan darah putih. Saya pun tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang sebab sudah setahun ini saya tidak punya kontak dengan keluarga tersebut.
Karena percaya pada tradisi bahwa anak laki-laki lebih membawa keberuntungan, seorang istri sangat berharap anaknya yang ketiga adalah laki-laki karena dua anak yang telah ia lahirkan adalah perempuan. Sang suami menceritakan kepada kami bahwa mereka melakukan berbagai usaha. Hanya saja, ia tidak menceritakan cara yang ia tempuh agar anaknya yang ketiga adalah laki-laki.
Usaha mereka berhasil. Anak yang dilahirkan ternyata laki-laki.
Sang istri sangat bahagia. Ia membesarkan anak tersebut dengan penuh kasih sayang. Semua permintaan ia turuti. Tetapi, apa yang terjadi setelah anak itu besar? Ternyata kondisi berubah. Anak yang dulu membawa kebahagiaan siang dan malam, kini menjadi sumber mala petaka. Meskipun telah diberi uang cukup, anak itu masih merasa kurang, ia sering membobol brankas uang milik orangtuanya sendiri serta mengambil seluruh isinya.
Pada saat saya ada di Malang, ayahnya dengan penuh antusias mengantarkannya ke vihāra karena ia ingin melewati masa liburan dengan bermeditasi. Namun setelah sampai di vihāra, ia menjadi ketakutan, tidak berani tidur di kuti karena di kutinya ada tokek. Anak ini percaya pada mitos bahwa tokek tidak akan melepaskan gigitannya sebelum ada petir menyambar. Kalau sampai digigit tentu harus tunggu tiga atau empat bulan untuk bisa melepaskan gigitan tokek itu karena saat itu adalah bulan Juni yang berarti memasuki musim panas.
Hari itu juga, ketika ayahnya akan pulang dia minta pulang, tidak bisa ditunda besok atau lusa. Ayahnya mengatakan bahwa ia hanya punya satu tiket untuk pulang lebih baik ia tunggu sampai sepuluh hari lagi. Ia tetap ingin pulang, dan ketika ayahnya mengatakan “Saya tidak punya uang yang cukup untuk pulang,” ia justru mengatakan
“Kalau saya tidak diberi uang akan saya jual tas dan sepatu saya untuk beli tiket.”
Ketika ibunya diberi tahu via telpon, sang ibu pun menjadi sedih dan menceritakan masalah itu kepada anak perempuannya.
Mendengar cerita tersebut, apakah komentar anak perempuannya?
“Ma aku tidak akan menikah, takut kalau punya anak seperti adik.”
Begitulah komentar anak perempuannya. Sang ibu yang sedih karena
melihat tingkah laku anak laki-lakinya, tambah sedih mendengar komentar anak perempuannya. Kondisinya benar-benar seperti luka yang ditaburi garam.
Ada lagi sepasang suami istri yang memiliki anak laki-laki.
Mereka sangat mengharapkan anak perempuan. Tapi hingga anak yang keempat dilahirkan, semuanya laki-laki. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi karena mereka percaya tradisi bahwa kalau mereka mempunyai anak hingga lima dan semuanya laki-laki, itu berarti Pandawa Lima. Menurut tradisi orang Jawa, kalau mereka mempunyai anak Pendawa Lima, mereka harus melakukan ritual demi kebahagiaan anak-anaknya
Itulah beberapa cerita tentang berbagai harapan para perumah tangga dalam memiliki anak. Tentu masih banyak cerita yang lainnya tentang harapan para perumah tangga dalam memiliki anak. Semua itu dapat dianggap sebagai keunikan dan kewajaran dalam kehidupan rumah tangga. Sepanjang seseorang belum bebas dari keserahan (lobha), kebencian (dosa), dan kobodohan batin (moha), sepanjang itu pula ia akan dipenuhi oleh berbagai keinginan.
Sebagai anak, saya juga menangkap adanya suatu keunikkan dalam keluarga saya. Ibu dan ayah juga tidak ada bedanya dengan jutaan pasangan yang ada di dunia ini. Mereka juga mempunyai keinginan dan harapan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang telah saya uraikan di atas.
Keluarga saya adalah keluarga besar. Karena kedua orangtua kami enggan ikut program KB, ibu melahirkan sembilan orang anak.
Hanya saja dua di antaranya meninggal ketika mereka masih kecil sehingga sekarang kami adalah tujuh bersaudara. Saya sendiri tidak
tahu, hanya mendengar ceritanya saja.
Ibu adalah orang yang pendiam namun penuh kasih sayang. Ia hanya bicara bila perlu. Berbeda dengan ayah yang suka bicara. Dari ayahlah, kami tahu banyak soal kehidupan rumah tangga ibu dan ayah kami. Menurut ayah, semua anak yang dilahirkan—kecuali adik yang merupakan anak terakhir—adalah karena keinginan.
Ayah tidak hanya punya keinginan untuk memiliki anak laki- laki atau perempuan, hari kelahirannya pun ditentukan. Misalnya saja, ayah punya keinginan, “Saya ingin punya anak laki-laki yang lahir pada hari Kamis Legi.” Dan ternyata, anak yang keempat adalah laki-laki. Kemudian lagi, ayah punya keinginan untuk memiliki anak perempuan yang lahir pada hari Kamis Legi, dalam kenyataan anak yang selanjutnya adalah perempuan yang lahir sesuai dengan hari yang diharapkan. Setelah kakak lahir, ayah masih mempunyai keinginan
“Saya ingin punya anak laki-laki yang lahir pada hari Sabtu Pahing.”
Tepat pada hari Sabtu Pahing lahirlah saya. Itulah yang saya ingat, empat yang lainnya saya tidak ingat secara pasti.
Begitulah keunikkan yang dimiliki oleh ayah. Karena keinginannya, sekarang anak-anak yang hidup adalah laki-laki, perempuan, laki-laki, laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan.
Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh ayah sehingga semua harapannya dalam memiliki anak dapat tercapai. Padahal, ayah tidak minta pada Mbah Dukun, pohon, gunung atau tempat-tempat keramat.
Ia hanya memiliki keinginan dan keinginan itu tercapai. Mungkinkah ini yang dikatakan sebagai kekuatan adiṭṭhana? Bisa jadi karena setahu saya setiap ayah punya keinginan, keinginan itu lebih mudah tercapai.
Banyak orang yang berharap hanya mempunyai anak laki-laki
saja dan ada pula yang berharap hanya memiliki anak perempuan.
Tentu setiap orang mempunyai alasan tersendiri sehingga mereka mempunyai keinginan semacam itu.
Banyak juga pasangan yang karena dipengaruhi oleh budaya dan tradisi merasa bahwa memiliki anak laki-laki lebih membawa keberuntungan bila dibandingkan dengan memiliki anak perempuan.
Pandangan semacam ini dapat berakibat fatal karena kalau semua pasangan berharap mempunyai anak laki-laki dunia ini akan dipenuhi oleh laki-laki dan akhirnya, manusia pun akan punah, lenyap dari bumi ini karena tidak ada wanita. Kita bisa mengambil contoh kasus yang terjadi di China.
Setelah pemerintah membatasi jumlah anak yang dapat dimiliki oleh setiap pasangan hanya satu anak, banyak pasangan yang mengaborsi kandungannya bila diketahui janin yang ada dalam kandungan tersebut adalah wanita. Kadang juga mereka memberikannya kepada orang lain bila anak yang lahir adalah perempuan. Berdasarkan berita yang pernah saya baca, sekarang ini banyak pria yang kesulitan mencari jodoh.
Dalam pandangan agama Buddha, mempunyai anak perempuan atau laki-laki tidaklah ada bedanya. Semuanya dapat membuat orangtuanya menjadi bahagia bila mereka memiliki moral yang baik.
Demikian juga—seperti nanti kita saksikan—banyak anak yang menjadi duri dalam daging bagi keluarga, bahkan lebih dari itu dapat membunuh orangtuanya sendiri.
Harapan untuk memiliki anak laki-laki, bukanlah sekedar tren di zaman modern ini. Di zaman kuno hal ini pun terjadi. Kita bisa mengambil Raja Pasenasi sebagai contohnya. Ia menjadi sedih karena
permaisurinya melahirkan anak perempuan. Melihat kesedihan ini, Sang Buddha mengatakan:
“Seorang wanita, o baginda raja
Dapat menjadi lebih baik daripada pria Ia dapat menjadi orang bijak dan bermoral Menjadi istri yang setia, patuh pada mertua Anak yang ia lahirkan
Dapat menjadi pahlawan, o baginda raja Anak dari wanita mulia tersebut
Dapat menjadi penguasa dunia.”3
Demikianlah komentar Sang Buddha terhadap kelahiran seorang wanita. Dalam kenyataan sehari-hari, memang banyak wanita yang mampu mengukir prestasi yang gilang gemilang, mengangkat derajat dan martabat tidak hanya orangtuanya tapi juga bangsanya.
Orangtua manakah yang tidak bangga kalau saja anak-anaknya seperti Bhikkhunī Dhammadinā, Visākhā, Ratu Sima, Ratu Smaratungga dan yang lainnya? Kalau ada orangtua yang merasa sedih atau tidak bangga melihat anak wanitanya berprestasi seperti itu, sungguh dia adalah orangtua yang tidak pernah mengerti dan menghargai arti prestasi.
3 S. I, 86.
Macam-Macam Anak
S
uami istri memulai karier mendidik anak dengan berbagai harapan dan keinginan. Banyak yang sesuai harapan tapi tidak sedikit yang harapannya meleset. Dengan kata lain, banyak suami istri hidup bahagia bersama anak-anaknya.Namun, banyak pasangan yang meneteskan air mata siang dan malam meratapi apa yang mereka alami.
Banyak pasangan merasa bahagia karena mereka memiliki anak- anak yang baik dan sesuai dengan harapannya. Sementara banyak pasangan yang menjadi sedih, meratap setiap saat karena anak- anak yang mereka miliki tidak bermoral, menimbulkan penderitaan bagi orangtuanya dan lingkungan sekitarnya. Dari sinilah kita bisa mengetahui bahwa ada dua jenis anak di dunia ini, yaitu anak yang baik dan anak yang tidak baik.
Baiklah marilah kita mulai pembahasan ini dengan membahas anak durhaka dan kita lihat bagaimana sepak terjangnya dan setelah itu kita lanjutkan dengan membahas anak yang berbudi luhur.
Malin Kundang adalah salah satu cerita yang paling terkenal tentang anak durhaka. Tentu Anda masih ingat bukan? Mudah- mudahan saja Anda masih ingat dengan jelas cerita itu karena saya sendiri hanya ingat cerita itu sepenggal. Saya hanya ingat akhir cerita itu. Di akhir cerita tersebut, setelah Malin Kundang menjadi kaya, ia tidak mau mengakui ibunya yang miskin. Akhirnya, ibunya menyumpahinya dan Malin Kundang menjadi batu.
Di zaman modern ini saya masih menemukan cerita yang hampir
tidak ada bedanya dengan cerita tersebut. Ketika saya ke Tulung Agung, saya melihat seorang wanita yang sudah renta. Ia menelusuri jalan yang berada di samping rel kereta api. Pendengarannya sudah tidak normal. Kita harus berbicara lebih keras agar dia bisa mendengar suara kita. Umat-umat yang ada di vihāra tersebut tidak merasa asing dengan wanita tersebut karena mereka sering melihat wanita tersebut melintas di depan vihāra.
Ia sering melintas di hadapan vihāra karena ia sering mengunjungi rumah orang yang ia anggap sebagai anak kandungnya. Rumahnya tidak jauh dari vihāra tersebut. Anak itu ternyata tidak ada bedanya dengan Malin Kundang. Ia tidak mau mengakui wanita tersebut sebagai ibu kandungnya.
Wanita itu benar-benar malang. Tidak ada orang yang mengurusnya, pakaiannya tampak lusuh dan seingat saya, umat-umat mengatakan ia tidur di terminal. Kadang karena rasa kasihan, ketika wanita itu melintas di depan vihāra, umat-umat memberikan makanan yang ada.
Di zaman modern ini, di mana tuntutan sangat banyak, banyak anak yang lupa daratan. Artinya, ia hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan kesejahteraan orangtuanya serta lingkungan sekitarnya. Karena banyak alasan, banyak anak yang kemudian terjerumus ke dalam lembah hitam, menjadi pengkonsumsi sabu-sabu.
Ada yang menjadi pengkonsumsi sabu-sabu karena putus cinta, ada yang mengkonsumsi sabu-sabu karena ingin berprestasi, dan banyak alasan lainnya.
Saya sempat beberapa kali bertemu secara langsung orang- orang yang sedang kecanduan sabu-sabu. Ketika masih ada di Malang
misalnya, beberapa orang datang karena mereka ingin bermeditasi demi membebaskan diri dari kecanduan sabu-sabu.
Seorang mahasiswa putus kuliah gara-gara ia kecanduan sabu- sabu. Orangtuanya telah berusaha mengobatkannya ke sana ke mari demi kesembuhan anaknya. Orangtuanya menghabiskan uang yang cukup banyak bahkan hingga menjual salah satu rumahnya. Tetapi, usahanya tidak membuahkan hasil. Dari orang-orang yang kecanduan sabu-sabu yang pernah saya temui, ini adalah yang terparah. Setiap hari ia hanya duduk di depan kuti sambil tertawa terbahak-bahak dan kadang menangis. Saya rasa sulit baginya untuk sembuh karena dia tidak mempunyai kesungguhan untuk membebaskan diri dari sabu- sabu.
Ada lagi seorang remaja berusia 21 tahun. Ia sudah kecanduan sabu-sabu selama 7 tahun. Ini berarti ia mengonsumsi sabu-sabu sejak berusia 14 tahun. Ia mengonsumsi sabu-sabu karena ingin berprestasi.
Menurut ayahnya, ia adalah seorang pembalap. Oleh karena itu, untuk membangkitkan rasa berani ia mengonsumsi sabu-sabu.
Hasilnya memang benar bahwa ia berprestasi tapi tidak sampai juara satu. Orangtuanya juga telah berusaha untuk mengobatkan anaknya tapi hasilnya tetap nihil. Kemungkinan untuk bebas dari narkoba cukup besar karena setelah satu minggu dalam meditasi tampak ada perubahan. Akan tetapi, saya tidak tahu kelanjutannya karena saat itu saya harus pindah ke vihara yang lain.
Itulah dua kasus anak-anak yang kecanduan sabu-sabu yang sempat membuat orangtuanya menderita. Kedua orangtua anak- anak tersebut minta bantuan agar anaknya dapat bebas dari narkoba.
Khusus untuk anak yang kedua ayahnya menangis di hadapan Bhante Khantidharo. Ia menyesali mengapa hal itu bisa terjadi.
Anak-anak semacam itu—ketika mereka masih kecil—
dibesarkan dengan penuh kasih sayang dengan harapan akan membawa kebahagiaan di masa yang akan datang. Kenyataannya justru sebaliknya. Mereka justru menjadi beban bagi keluarga, bahkan menghancurkan keluarga. Betapa tidak? Mereka telah memporak- porandakan perekonomian keluarga, menghabiskan harta benda orangtuanya.
Dua cerita yang saya kutip di atas tidaklah sampai menghebohkan banyak orang. Ada cerita lain yang terjadi di Kalimantan yang sempat menggemparkan bahkan beritanya terdengar hingga ke pulau Jawa.
Ada seorang guru agama yang cukup terkenal di suatu desa.
Ia mempunyai beberapa anak laki-laki. Ketika salah satu anak laki- lakinya lulus SMP, anak itu melanjutkan ke SMU. Kebetulan di desa itu tidak ada SMU sehingga ia harus dikirim ke tempat lain untuk bisa melanjutkan studi. Ia pun harus tinggal di rumah kos karena antara desanya dengan sekolahan cukup jauh.
Kebetulan, salah satu bibinya juga sedang duduk di bangku SMU.
Untuk meringankan biaya, mereka tinggal dalam satu kos. Apakah yang terjadi selanjutnya? Karena mereka tinggal satu rumah dan tidak ada yang lain, anak itu memaksa bibinya untuk melayani nafsu seksualnya. Kalau tidak mau, ia akan dibunuh. Setelah melakukan beberapa kali, bibinya pun menjadi hamil. Aneh juga, tidak ada orang yang mengetahuinya meskipun bibinya setiap hari selalu masuk sekolah.
Setelah tiba saatnya, bibinya melahirkan. Begitu mengetahui bibinya melahirkan, anak itu langsung membunuh anak itu. Ia kemudian menaruh mayat bayi tersebut dalam kardus dan membuangnya
ke sungai dengan harapan agar kardus itu hanyut terbawa arus air.
Mungkin karena kammanya harus berbuah, kardus itu tetap di tempat dan tidak terbawa arus.
Setelah beberapa hari, orang-orang yang ada di sekitar sungai mengambil kardus itu karena kardus itu tampak mencurigakan.
Gegerlah semuanya orang karena kardus itu berisi mayat. Selang beberapa saat, anak itu ditangkap dan dipenjara hingga 4 tahun karena alasan pengancaman, pemerkosaan dan pembunuhan.
Orangtuanya yang statusnya adalah guru agama dan juga sering menjadi penceramah, menjadi malu luar biasa. Hampir selama satu tahun ia tidak mau berceramah dan setiap ditawari untuk bercemarah ia selalu mengatakan, “Tidaklah, saya masih pusing.”
Begitulah kalau seseorang sedang dibutakan oleh nafsu seksual dan batinnya ditutupi oleh kebodohan. Ia melupakan segalanya, kehormatan dan nama baik orangtuanya sendiri. Yang terpenting baginya adalah terpuaskan nafsu seksualnya. Pada puncaknya, ia tega membunuh anaknya sendiri.
Ada cerita lain lagi yang hampir tidak ada bedanya dengan cerita di atas. Ada seorang janda yang suka “bermain-main” dengan lelaki yang bukan suaminya. Hubungan itu akhirnya membuat janda tersebut menjadi hamil. Setelah melahirkan, sang dukun bayi mengatakan
“Anakmu bagus, gagah, dirawat dengan baik ya!” Ketika dukun bayi itu telah pergi, bayi itu langsung dicekik. Tidak lama kemudian janda itu menjadi gila.
Pepatah memang mengatakan “Tidak ada harimau yang makan anaknya.” Tetapi, ketika nafsu seksual, kebencian dan kebodohan sedang menjadi raja, menguasai seluruh kehidupan kita, pepatah itu
pun sekedar slogan belaka, tanpa arti. Yang ada dalam pikirannya, hanyalah “Anak ini adalah hasil hubungan gelap. Kalau dia hidup, hanya akan membuat saya menjadi malu. Oleh karena itu, dia harus dienyahkan.”
Lebih dari sekedar menghancurkan keluarga baik dari segi meteri maupun non-materi, ada anak-anak yang tidak tanggung-tanggung membunuh orangtuanya sendiri. Kadang kala masalah sangat sepele, tidak dibelikan sepeda motor, tidak diberi uang, keinginannya untuk menikah tidak dituruti, ingin mendapatkan kekuasaan dan sebagainya.
Salah satu cerita yang paling dikenal oleh umat Buddha tentang dibunuhnya orangtua oleh anaknya sendiri adalah cerita tentang Ajātasattu. Ia membunuh ayahnya sendiri, Raja Bimbisāra.
Pada saat sang permaisuri sedang hamil, beberapa paranormal mengatakan bahwa kelak anak yang dilahirkan oleh sang permaisuri akan membunuh Raja Bimbisāra. Oleh karena itu, sang permaisuri berkeinginan untuk mengaborsi janin yang ada dalam rahimnya.
Mendengar ramalan paranormal tersebut, Raja Bimbisāra tidak berkomentar apa-apa dan hanya bersikap dingin atas ramalan tersebut.
Ketika bayi itu telah dilahirkan, ia diberi nama Ajātasattu.
Artinya, musuh yang belum lahir. Semenjak kecil, Ajātasattu hidup kuyup dengan kasih sayang karena ayahnya sangat menyayanginya walaupun paranormal telah meramalkan kelak ia akan membunuh sang raja.
Ajātasattu tumbuh dan berkembang menjadi putra bangsawan nan penuh wawasan. Y.M. Devadatta melihat hal ini dengan jelas. Ia kemudian mampu membuat Ajātasattu menjadi salah satu pengikut setianya. Y.M. Devadatta dapat membuat Ajātasattu menjadi pengikut
setianya karena Y.M. Devadatta mempertontonkan kemampuan supranaturalnya di hadapan Ajātasattu.
Setiap hari Ajātasattu berdana makanan kepada Y.M. Devadatta.
Ia membawa makanan tersebut ke tempat di mana Y.M. devadatta tinggal. Pangeran Ajātasattu juga membangun sebuah vihāra untuk Y.M. Devadatta dan para bhikkhu yang tergabung dalam kelompoknya.
Setelah mengetahui bahwa Ajātasattu menjadi pengikut yang setia, Y.M. Devadatta meminta Pangeran Ajātasattu untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Pangeran Ajātasattu pun menyusun strategi untuk melakukan hal itu. Raja Bimbisāra mencium gelagat Pangeran Ajātasattu dan mengirimkan utusan untuk menanyakan apa yang dia inginkan. Ajātasattu mengatakan ia mengharapkan kekuasaan. Raja Bimbisāra yang statusnya adalah seorang Sotāpanna, dengan mudah menyerahkan kekuasannya kepada putranya, Pageran Ajātasattu.
Mengetahui hal itu, Y.M. Devadatta justru masih tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Ia memerintahkan Pangeran Ajātasattu untuk membunuh ayahnya sebab ia menyadari betul bahwa Raja Bimbisāra adalah penyokong utama Sang Buddha. Tetapi, berdasarkan catatan-catatan yang ada, tidak ada senjata yang mampu dipergunakan untuk membunuh Raja Bimbisāra. Pageran Ajātasattu kemudian memenjarakan ayahnya di tāpanageha—secara harfiah berarti rumah panas.
Dipicu oleh rasa cinta dan kasih sayang, sang permaisuri setiap hari mengunjungi sang raja. Ia membawa makanan ketika sedang mengunjungi sang raja. Ketika para pengawal mengetahuinya, mereka melarang sang permaisuri untuk membawa makanan tersebut. Dengan berbagai cara, sang permaisuri berusaha membawa makanan untuk
menyuplai sang raja. Tapi, para pengawal memeriksanya sebelum ia memasuki penjara. Tidak ada jalan lain untuk menyuplai makanan kepada Raja Bimbisāra. Salah satu cara yang ia temukan adalah ia mandi dan memoles tubuhnya dengan catumadhura. Ketika mereka mengetahui hal ini, sang permaisuri pun dilarang mengunjungi sang raja.
Walaupun tidak disuplai makanan, Raja Bimbisāra tetap dapat bertahan hidup karena ia selalu bermeditasi khususnya bermeditasi jalan setiap saat. Meditasi jalan itulah yang menciptakan suatu kekuatan dalam tubuh sang raja. Mengetahui bahwa sang raja mampu bertahan hidup karena selalu mempraktikkan meditasi jalan, Pangeran Ajātasattu memerintahkan prajuritnya untuk menghancurkan telapak kaki Raja Bimbisāra dan menaburi luka tersebut dengan garam dicampur cuka. Tidak lama setelah itu, Raja Bimbisārapun mangkat.
Sang permaisuri yang sangat mencintai raja pun meninggal tidak lama kemudian karena ia merasa sedih atas kematian sang raja yang begitu memilukan.
Begitulah cerita singkat tragedi penghiatan anak kandung terhadap ayahnya sendiri. Demi kekuasaan dan dibutakan oleh keyakinan pada Y.M. Devadatta, Pangeran Ajātasattu tega membunuh ayahnya sendiri yang benar-benar mencintai dan menyayanginya sepenuh hati.
Dalam pandangan agama Buddha, membunuh orangtua kandung adalah salah satu garukamma, yaitu suatu perbuatan yang akan memberikan hasil sangat cepat dan sangat berat. Sebagai akibat atas perbuatan tersebut, dalam kehidupannya yang sekarang ini, Pangeran Ajātasattu tidak dapat mencapai tingkat kesucian apapun meskipun menurut kitab komentar Ajātasattu adalah salah satu upāsaka yang memiliki keyakinan terbesar terhadap Sang Tiratana. Setelah
meninggal, ia terlahir kembali di neraka avici, neraka yang paling berat hukumannya. Neraka ini biasa disebut sebagai neraka jahanan oleh kebanyakan masyarakat.
Apa yang dilakukan oleh Pangeran Ajātasattu ternyata menimbulkan mata rantai pembunuhan orangtua secara berkepanjangan.
Ajātasattu setelah berkuasa selama beberapa saat dibunuh oleh anaknya sendiri yaitu Udāyibhadda. Dengan demikian, Audāyibhadda menjadi raja. Tragedi yang sama juga dialami oleh Udāyibhadda. Ia dibunuh oleh anaknya sendiri, Anuruddhaka. Anuruddhaka sempat menikmati tahta kerajaan selama beberapa tahun pula dan akhirnya dibunuh oleh anaknya sendiri, Muṇḍaka.
Sama seperti generasi-generasi sebelumnya yang mati di tangan anaknya sendiri, Muṇḍaka juga mati di tangan anaknya sendiri. Ia dibunuh oleh Nāgadasaka. Nāgadasaka duduk di tahta kerajaan sebagai penguasa kerajaan Magadha selama kurang lebih 24 tahun. Sampai di sinilah tragedi penghiatan terhadap orangtua sendiri berhenti.
Nāgadasaka memang tidak dibunuh dan dihianati oleh putranya sendiri.
Namun, ia tetap harus menerima akibat perbuatannya. Rakyat tidak suka padanya. Oleh karena itu, rakyat menghianatinya. Nāgadasaka dilengserkan dari tahta kerajaan dan mereka mengangkat Susunāga sebagai raja.
Tragedi penghianatan terhadap orangtua sendiri terjadi selama beberapa dekade. Cara sang pangeran dalam merebut tahta kerajaan dari tangan ayahnya sendiri memicu munculnya cara-cara yang sama.
Setelah sang pangeran naik tahta, putranya pun mengikuti jejak ayahnya. “Aku harus membunuh ayahku agar aku dapat menjadi raja.”
Itulah tampaknya yang menjadi prinsip selama beberapa generasi.
Tidak ada catatan yang jelas bagaimana kondisi mental raja-raja selanjutnya setelah Raja Ajātasattu. Yang dapat ditemukan secara jelas adalah kondisi mental Raja Ajātasattu. Raja Ajātasattu sangat menyesali perbuatannya. Rasa penyesalan itu telah menghalangi Raja Ajātasattu untuk mencapai kesucian hingga akhir hidupnya.
Suatu ketika saya pernah bertemu dengan orang yang tampak kurang normal. Pakaiannya lusuh dan tampaknya ia tidak terlalu mempedulikan dirinya sendiri. Salah satu Bhante mengatakan kepada saya bahwa dulunya ia adalah orang yang baik. Dia menjadi seperti itu, tampak linglung, setelah ia membunuh ibunya sendiri. Melihat orang tersebut, yang ada dalam benak saya hanya “Dia calon penghuni neraka avici,” kendati kenyataan belum pasti seperti itu.
Kedua orangtua kita adalah manusia yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Bahkan, Sang Buddha mengatakan—seperti nanti juga kita saksikan dalam bab selanjutnya—sebagai anak kita tidak mungkin membalas jasa orangtua kita kecuali kita mampu melakukan hal-hal yang sifatnya sangat spektakuler. Karenanya, kalau kita melakukan penghianatan terhadapnya dengan cara membunuhnya, kita pun bisa membayangkan betapa besar kesalahan yang kita lakukan. Kita membunuh orang yang paling berjasa, kita membunuh orang-orang yang telah melahirkan kita ke muka bumi ini.
Melihat kenyataan semacam ini, setiap orangtua hendaknya mendidik anak-anaknya dengan baik, mengarahkan ke jalan yang benar. Bila tidak, ya bersiaplah untuk merasakan neraka di dunia ini.
Kurangnya pendidikan moral dan spiritual serta kesalahan dalam mendidik, akan membuat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia brutal, bahkan membunuh orangtuanya sendiri.
Gambaran tentang anak-anak durhaka telah kita lihat, bagaimana sepak terjang mereka sedikit banyak juga telah kita ketahui. Sekarang marilah kita tengok barang sesaat anak-anak yang bermoral, taat kepada orangtua dan mengerti bagaimana cara membalas jasa.
Anak yang baik adalah anak yang mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Ia mengerti mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus dihindari, mana yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan mana yang tidak, mana yang membawa penderitaan dan mana yang menimbulkan kebahagiaan. Seorang anak akan dikatakan sebagai anak yang tidak baik karena ia tidak dapat membedakan hal-hal semacam ini. Sebagai akibatnya, ia menjadi sumber malapetaka bagi keluarga.
Ia tidak habis-habisnya menyiksa keluarga.
Berbeda dengan anak yang tidak baik, anak yang baik akan membawa cahaya kedamaian dan ketenangan di dalam rumah. Ia menjadi sumber kebahagiaan bagi kedua orangtuanya maupun bagi anggota keluarganya. Baik di tengah-tengah masyarakat maupun di dalam Tipitaka, kita dapat menjumpai hal ini.
Ghaṭīkāra adalah seorang upāsaka yang hidup di zaman Buddha Kassapa. Ia adalah seorang pembuat gerabah. Setelah mendengarkan ajaran dari Sang Buddha, ia menjadi pengikut Sang Buddha dan menjadi salah satu dāyaka yang paling terpercaya. Salah seorang sahabat baiknya Jotipāla menjadi bhikkhu setelah ia mendengarkan khotbah dari Sang Buddha. Sementara, Ghaṭīkāra tidak bisa menjadi bhikkhu karena ia harus merawat kedua orangtuanya yang buta.
Meskipun sebagai upāsaka, Ghaṭīkāra adalah seorang yang telah mencapai tingkat kesucian anāgami. Dalam kehidupannya sehari-hari, ia adalah upāsaka yang taat menjalankan latihan moral nan lebih luhur.
Ia menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berbohong, minum minuman keras yang menjadi sumber lemahnya kesadaran. Ia hanya makan satu kali setiap hari, ia tidak lagi menggunakan perhiasan dan masih banyak lagi latihan moral yang ia jalankan.
Suatu pagi, Sang Buddha berpindapata ke rumah Ghaṭīkāra.
Tetapi, Sang Buddha hanya menjumpai kedua orangtua Ghāṭikāra. Sang Buddha kemudian bertanya, “Ke mana Ghaṭīkāra pergi?” “Bhante, Ghaṭīkāra sedang ke luar. Tapi ambil saja nasi yang ada di panci serta saos di tempatnya dan makanlah.” Begitu sahut orangtua Ghaṭīkāra.
Sang Buddha melakukan apa yang telah menjadi permintaan orangtua Ghaṭīkāra. Beliau mengambil sendiri nasi dan saos dari tempatnya.
Setelah selesai, Beliau kembali ke vihāra.
Ketika Ghaṭīkāra pulang, ia menanyakan kepada kedua orangtuanya siapa yang telah mengambil nasi dan saos. Mereka menjelaskan apa yang telah terjadi. Ghaṭīkāra bukannya mencak- mencak dan mengadukan Sang Buddha ke kantor polisi, tapi justru ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa sebab Sang Buddha benar- benar mempercayainya. Kebahagiaan itu berlangsung terus menerus hingga dua minggu. Sementara kedua orangtuanya merasakan kebahagiaan yang luar biasa selama satu minggu.
Pada saat musim hujan, kuṭhi Sang Buddha bocor. Ia meminta para bhikkhu untuk mengambil rumput yang ada di rumah Ghaṭīkāra.
Para bhikkhu mengatakan bahwa tidak ada rumput di rumah Ghaṭīkāra selain yang ada di atap rumahnya. Sang Buddha akhirnya menyuruh para bhikkhu untuk mengambil rumput yang ada di atap tersebut.
Mendengar suara orang mengambil rumput di atap rumah, orangtua Ghaṭīkāra bertanya, “Siapa yang mengambil atap itu?” Para
bhikkhu menjawab “Saudari, kuṭhi Sang Buddha bocor.” “Ya ambil saja bhante, ambil atap itu,” sahut orangtua Ghaṭīkāra.
Setelah kembali, Ghaṭīkāra menanyakan yang terjadi. Orangtuanya menjelaskan bahwa para bhikkhu mengambil atap tersebut karena kuṭhi Sang Buddha bocor. Kembali Ghaṭīkāra merasakan kebahagiaan yang luar biasa selama dua minggu tanpa henti. Sedangkan kedua orangtuanya merasakan kebahagian selama satu minggu. Selama musim hujan, rumah Ghaṭīkāra beratap langit. Tapi sungguh suatu keajaiban, tak setetes air pun yang mampu menembus atap tersebut.
Meskipun beratap langit, rumah mereka tetap sama seperti semula.
Mereka yang tinggal di rumah tersebut tidak basah kuyup karena hujan.4
Upāsaka Ghaṭīkā layak dijadikan suri tauladan. Ia adalah anak tunggal dari keluarga tersebut. Oleh karena itu, ia harus mengiklaskan diri untuk tidak menjadi bhikkhu demi kebahagiaan orangtuanya. Jika ia nekad menjadi bhikkhu, kedua orangtuanya akan hidup terlunta- lunta. Tidak ada yang merawat, tidak ada yang melayani mereka.
Sebagai anak, Ghaṭīkāra mengerti apa yang harus dilakukan. Ia tidak neko-neko dengan segala permintaan. Ia menjalankan moralitas dengan sebaik-baiknya. Ia berbhakti kepada Sang Buddha. Rasa bhaktinya telah menimbulkan kebahagiaan pada diri orangtuanya.
Mereka turut bergembira karena anaknya menjadi anak yang dipercaya oleh Sang Buddha. Sebagai contohnya, mereka merasakan kebahagiaan yang terus menerus selama satu minggu setelah mengetahui bahwa anaknya bahagia dan senang atas apa yang dilakukan oleh Sang Buddha.
4 Majjhima Nikāya II, 45ff
Sāma Jātaka5 memberikan contoh yang sedikit berbeda. Dalam Jātaka ini, dikisahkan ada seorang pedagang yang kaya raya. Ia juga hanya mempunyai anak tunggal. Hanya saja, Jātaka tidak menyebutkan nama pedagang itu maupun anaknya.
Setelah mendengarkan wejangan dari Sang Buddha, ia ingin menjadi bhikkhu. Tapi Sang Buddha tidak mau mengupasampada siapa pun yang tidak mendapatkan izin dari orangtuanya. Ia akhirnya pulang dan minta izin. Tentu orangtuanya tidak mengizinkan putra semata wayangnya meninggalkan mereka. Tidak ada yang akan menjadi pewaris harta kekayaan mereka, tidak ada yang akan meneruskan lini keluarga adalah yang menjadi alasannya.
Mendengar keputusan oangtuanya, anak itu kemudian memutuskan untuk tidak makan kecuali ia diizinkan menjadi bhikkhu.
Setelah satu minggu, badannya menjadi lemah. Tidak ada pilihan lain bagi kedua orangtuanya. Akhirnya kedua orantuanya mengizinkan anak itu menjadi bhikkhu. Cara yang sama juga ditempuh oleh Raṭṭhapala.
Cara ini juga pernah diterapkan oleh dua bhikkhu dari Jerman. Ketika mereka mengunjungi keluarganya di Jerman, keluarganya tidak mau mempersembahkan makanan yang sudah dimasak. Mereka berbeda agama. Mereka berbeda keyakinan. Singkatnya, fanatisme terhadap agama adalah alasan utamanya. Mereka hanya menyediakan bahan makanan. Kedua bhikkhu itu tetap bersikeras pada pandangannya.
Mereka tidak akan makan kecuali ada yang mempersembahkan makanan. Hari demi hari berlalu, tibalah pada saatnya mereka menjadi sangat lemah. Keluarganya akhirnya mempersembahkan makanan yang sudah dimasak kepada mereka.
Kembali pada cerita anak tunggal tersebut, setelah diizinkan
5 Jātaka No. 540 (JA VI, 68)
menjadi bhikkhu ia kemudian mendapatkan upasampada dan mempelajari ajaran Sang Buddha. ia belajar dengan penuh penuh ketekunan. Ia belajar Dhamma di bawah bimbingan gurunya selama lima tahun. Setelah menjadi bhikkhu yang bebas nissaya, ia meninggalkan gurunya dan pergi ke hutan untuk bermeditasi. Ia berjuang dengan penuh ketekunan selama 12 tahun. Meski demikian, ia tidak mendapatkan hasil apa pun.
Suatu hari ada bhikkhu dari Sāvatthi yang berkunjung ke tempat tinggal bhikkhu tersebut. Bhikkhu tersebut kemudian menanyakan kabar tentang seorang pedagang namun dia tidak menyebutkan namanya. Bhikkhu tamu tersebut menceritakan, pedagang tersebut sekarang menjadi miskin. Para perampok datang merampok harta mereka dan orang-orang yang mempunyai hutang tidak membayar hutang tersebut karena mereka mengetahui tidak ada yang menjadi pewaris kekayaan tersebut. Pedagang tersebut akhirnya menjual rumah mereka dan menjadi pengemis jalanan. Bhikkhu tamu itu juga menceritakan bahwa anak tunggal pedagang tersebut sekarang menjadi bhikhhu tapi ia tidak mengerti bahwa bhikkhu yang ada di hadapannya adalah anak pedagang tersebut.
Cerita yang memilukan itu benar-benar membuat bhikkhu tersebut menjadi sedih. Ibarat langit yang tak lagi mampu menyangga awan, ibarat bendungan yang tak kuasa lagi menampung air bah, ia juga tidak mampu membendung air matanya. Bhikkhu tamu itu menjadi heran mengapa bhikkhu tesebut menangis. Ia menjelaskan bahwa pedagang tersebut adalah orangtua kandungnya. “Kedua orangtua Bhante menjadi miskin karena Bhante, sekarang mengapa Bhante tidak merawat mereka?” kata bhikkhu tamu itu, berusaha untuk memberikan nasehat terbaiknya.
Bhikkhu tersebut akhirnya berkata pada dirinya sendiri, “Dua belas tahun aku berjuang dengan penuh keseriusan, tapi aku tidak pernah menapakkan kaki pada sang jalan atau mendapatkan buah dari kehidupan suci. Saya pasti bukanlah orang yang layak menjadi bhikkhu. Apa gunanya kehidupan suci semacam ini? Lebih baik saya lepas jubah, dan menjadi upāsaka. Dengan menjadi upāsaka, saya bisa membantu dan merawat kedua orangtua saya. Dengan kebajikan tersebut, saya pun bisa terlahir di alam surga kelak.”
Pada hari selanjutnya, ia memberikan kuṭhinya kepada bhikkhu tamu tersebut dan ia berangkat menuju Jetavana yang jaraknya tidak jauh dari Sāvatthi. Di dalam perjalanan, ia sampai pada persimpangan jalan, satu menuju Jetavana dan satu menuju Sāvatthi. Ia berdiri di persimpangan jalan tersebut untuk beberapa saat. Ia bingung untuk mengambil keputusan. “Lebih baik aku mengunjungi Sang Buddha terlebih dahulu atau mengunjungi orangtuaku?” Ia kemudian meneruskan, “Semenjak sekarang saya akan selalu berada di samping orangtua saya dan saya akan jarang mempunyai kesempatan untuk bertemu Sang Buddha. Lebih baik saya menemui Sang Buddha terlebih dahulu dan besok saya akan pulang.”
Bhikkhu tersebut tiba di Jetavana tepat pada saat Sang Buddha sedang memberikan nasehat kepada para bhikkhu. Saat itu, Sang Buddha sedang menceritakan tindakan seorang brāhmaṇa yang mengumpulkan makanan untuk menghidupi orangtuanya. Sang Buddha memuji tindakan tersebut. Beliau mengatakan bahwa karena kebajikan tersebut kelak ia akan terlahir di surga.6
Cerita tersebut menyentuh nurani bhikkhu tersebut yang paling dalam. “Kalau saya menjadi upāsaka, saya dapat membantu orangtua
6 Lihat Juga Saṁyutta Nikāya I, 181
saya; tapi Sang Buddha mengatakan bahwa seorang anak yang menjadi bhikkhu juga dapat membantu orangtuanya. Oleh karena itu, lebih baik saya membantu orangtua saya sementara saya masih menjadi bhikkhu dan tanpa harus menjadi upāsaka.” Bhikkhu tersebut akhirnya meninggalkan vihāra tanpa terlebih dahulu menemui Sang Buddha.
Pada pagi harinya, ia pergi ke Sāvatthi untuk berpindapata.
Setelah berpindapata, ia menemui kedua orangtuanya. Ia benar- benar merasa prihatin melihat kedua orangtuanya yang kini hidup terlunta-lunta. Ketika itu, mereka sedang bersandar di dinding.
Bhikkhu tersebut mendekati mereka dan berdiri tidak jauh dari kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya sudah tidak mengenali bhikkhu tersebut. “Tidak ada apa-apa yang layak kami berikan kepada bhante.”
Begitu orangtuanya berkomentar.
Bhikkhu tersebut tidak tahan mendengar ucapan orangtuanya.
Kata-katanya benar-benar menyayat nurani. Ia berdiri sambil menangis.
Walaupun begitu, kedua orangtua tetap masih tidak mengenalinya.
Setelah tiga kali mereka mengatakan hal yang sama, tapi bhikkhu itu tetap tidak pergi, sang ibu kemudian mendekati bhikkhu itu dan langsung bersujud sambil menangis. Ayahnya juga turut melakukan hal yang sama. Jeritan tangis kedua orangtuanya benar-benar menyayat relung hati bhikkhu tersebut. Ia juga turut menangis. Setelah ia dapat menguasai diri, ia mengatakan “Sudah jangan menangis saya akan merawatmu.”
Bhikkhu tersebut kemudian memberikan hasil pindapattanya kepada kedua orangtuanya. Setelah itu, ia berpindapatta lagi untuk keperluan dirinya sendiri. Semenjak hari itu, ia melakukan hal yang sama. Demikianlah cara bhikkhu tersebut merawat kedua orangtuanya.
Tidak selamanya bhikkhu tersebut mendapatkan makanan yang cukup karena pada saat tertentu terjadi kemarau panjang sehingga sulit mendapatkan makanan. Karena kekurangan makanan, bhikkhu tersebut menjadi kurus. Salah seorang temannya menanyakan mengapa sekarang ia menjadi kurus. Bhikkhu tersebut menceritakan apa yang sedang dia alami selama ini. Sahabatnya justru mengatakan,
“Bhante, Sang Buddha tidak mengizinkan kita untuk menggunakan persembahan dari umat secara sembarangan. Bhante telah memberikan persembahan itu kepada umat awam.”
Penuturan sahabatnya tersebut, benar-benar membuat bhikkhu tersebut tenggelam dalam perasaan malu. Tidak puas dengan hal tersebut, bhikkhu-bhikkhu yang lain melaporkan hal itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha kemudian memanggil bhikkhu tersebut dan meminta penjelasannya. Bhikkhu itu mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan yang dia alami. Sang Buddha memuji bhikkhu tersebut karena ia telah melakukan hal yang baik dan kembali bertanya,
“Kepada siapa barang-barang itu Engkau berikan?” Bhikkhu itu mengatakan, “Kedua orangtua saya Bhante.” “Sādhu, sādhu, sādhu,”
kata Sang Buddha merespon jawaban bhikkhu tersebut.
Di satu sisi, anak tersebut mempunyai cita-cita nan luhur untuk menjadi bhikkhu sehingga ia harus menemukan suatu cara agar orangtuanya mengizinkan dirinya menjadi bhikkhu. Akan tetapi, di sisi lain, kesuksesannya menjadi bhikkhu telah menjadi salah satu kondisi atas penderitaan yang dialami kedua orangtuanya. Orangtuanya yang pada mulanya adalah saudagar kaya jatuh miskin bahkan menjadi pengemis jalanan.
Anak manakah yang tidak merasa iba melihat penderitaan orangtua kandungnya? Hanya anak-anak yang tidak pernah mengerti
pengorbanan orangtuanya yang tidak akan peduli melihat penderitaan orangtuanya sendiri. Ia akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah ia tidak mengenal kedua orangtuanya.
Anak-anak yang mengerti pengorbanan orangtuanya, akan merasa iba dan berusaha mengulurkan tangan demi meringankan beban penderitaan baik fisik maupun mental. Kalau memang kita tidak mampu meringankan beban penderitaan secara materi, kita juga bisa meringankan beban mental mereka. Kita bisa memberikan hiburan paling tidak agar membuat mereka merasa diperhatikan oleh anak- anaknya.
Berdasarkan pengalaman saya sendiri, kedua orangtua saya bersama saudara-saudara saya, merasa senang ketika mereka menerima surat yang mengabarkan bahwa saya sedang dalam keadaan sehat. Hanya melalui suratlah saya bisa menghibur dan membuat ayah dan mama bersama saudara-saudara saya menjadi bahagia dan itulah yang mereka harapkan. “Di mana pun Bhante berada jangan lupa kirim kabar kepada kami agar kami bisa tahu kabar Bhante, tapi Bhante jangan mengharapkan balasannya.” Demikian mereka berpesan ketika kami sedang berkumpul bersama-sama. Meskipun mereka tidak pernah membalas surat saya kalau tidak saya minta tapi saya bisa menerima hal itu.
Sigalāka juga dapat dijadikan suri tauladan. Ia adalah anak yang patuh dan taat kepada orangtuanya. Ia menuruti semua permintaan orangtuanya. Namun, ia adalah anak yang malas ke vihāra. Oleh sebab itu, menjelang kematiannya, sang ayah meminta Sigalāka untuk menyembah enam arah setiap pagi dengan tujuan agar suatu saat Sang Buddha melihatnya.
Memang benar di pagi hari Sang Buddha melihat praktik yang dilakukan oleh Sigalāka. Dengan pakaian dan rambut basah, ia menyembah ke enam arah yaitu Timur, Selatan, Barat, Utara, Bawah dan Atas. Sang Buddha memberikan interpretasi lain terhadap arah- arah ini.
Sang Buddha menginterpretasikan bahwa timur adalah ibu dan ayah, selatan adalah guru, barat adalah istri dan anak-anak, utara adalah sahabat dan teman, bawah adalah pembantu dan pekerja, atas adalah guru-guru spiritual. Dengan memberikan penghormatan kepada mereka, berarti kita telah menghormati keenam arah tersebut.
Merekalah yang layak mendapatkan penghormatan dari kita bukan arah-arah yang sesungguhnya.7
Ada suatu pertanyaan, “Apakah anak yang baik adalah anak yang selalu menurut dan patuh kepada semua perintah orangtua?” Jawaban atas pertanyaan ini cukup relatif. Kalau kita lihat kenyataan di tengah- tengah masyarakat, sudah barang tentu tidak semua orangtua adalah orangtua yang bijak. Tidak semua orangtua adalah orang yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Belum tentu semua orangtua bisa membedakan mana yang akan membawa kebahagiaan dan mana yang akan menimbulkan penderitaan.
Pada umumnya, orangtua memang mengharapakan agar anak- anaknya dapat hidup bahagia. Namun, karena kerasnya keinginan dan kekolotan dalam berpikir, banyak orangtua yang kemudian menginterfensi semua urusan anak. Semua harus sesuai dengan kehendak orangtua. Hasilnya, banyak bakat anak yang tidak tersalurkan.
7 Dīgha Nikāya III, 188
Seorang anak bernama Rini menceritakan penderitaan hidupnya kepada Sarinah dalam rubrik “Oh, Tuhan…..”8 Rini adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Ibunya adalah istri kedua. Mereka hidup di sebuah tempat di Sulawesi.
Rini bersama keluarganya hidup dalam peraturan yang cukup keras. Ayahnya menetapkan berbagai peraturan dan peraturan itu harus ditaati. Bila tidak, mereka akan mendapatkan hukuman. Rini menuturkan bahwa mereka puas mendapatkan hukuman dari ayahnya karena sistem kepemimpinan ayahnya bersifat diktator dan bertangan besi. Mereka tidak diberi kebebasan untuk bermain maupun menikmati segarnya udara di luar rumah.
Rini juga dilarang menyalurkan bakatnya untuk berjualan.
Padahal, ayahnya sangat sedikit memberikan uang. Karena hal tersebut, mereka hidup dalam penderitaan yang tidak berkesudahan. Sifat sang ayah yang bertangan besi, mudah main pukul, membuat Abdullah kabur dari rumah entah ke mana tidak ada yang tahu rimbanya.
Tidak lama berselang ayahnya menceraikan ibunya. Cukup lama mereka berpisah, tapi sang ayah minta untuk rujuk kembali. Sang ibu tidak berani mengambil keputusan begitu saja. Ia mengonsultasikan masalah itu dengan Rini yang kebetulan saat itu ada di Semarang.
Kontan saja, Rini menolak permohonan itu.
Tentu tidak sedikit orangtua macam orangtua Rini, selalu menginterfensi, diktator dan bertangan besi. Kekerasan ayah Rini telah membuat Rini dan Abdullah enggan untuk hidup bersama ayahnya.
Dapatkah dalam hal ini kita menyalahkan Rini yang bersikap keras, tidak mau menerima tawaran ayahnya untuk rujuk kembali? Atau
8 Sarinah edisi 11 Maret 1991
salahkah Abdullah yang kabur dari rumah?
Kecenderungan manusia adalah untuk selalu hidup berbahagia dan sedapat mungkin menghindari penderitaan, apa pun bentuknya.
Sikap Rini dan Abdullah adalah semata-mata karena alasan ingin mendapatkan kebahagiaan. Secara psikologis, kita dapat memahami sekaligus memakluminya. Alasannya, sikap ayahnya yang keras dan serba diktator, telah menimbulkan trauma yang berkepanjangan. Kita bisa melihat sikap Rini. Ketika ia membaca surat dari ibunya tentang permohonan rujuk kembali, justru bukan rumah tangga yang penuh kebahagiaan yang dia bayangkan melainkan, ayahnya yang menjadi tirani dan sumber penderitaan bagi keluarga adalah yang muncul dalam benaknya.
Orangtua yang mendidik anaknya dengan jalan kekerasan, akan menghasilkan anak-anak yang keras pula. Rini dididik dengan keras, ia pun menjadi wanita yang keras pula. Ibarat kita menanam jagung, kita pun mau tidak mau harus mau menyaksikan jagung tumbuh di kebun kita.
Tragedi yang dialami oleh Kris hampir tidak ada bedanya.9 Karena semenjak kecil akan dibunuh oleh ayahnya, ia selalu mempunyai keinginan untuk membunuh orang yang minimbulkan masalah kepadanya. Bahkan, ia sempat beberapa kali akan membunuh ayahnya sendiri.
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak-anaknya maupun lingkungan sekitarnya, akan memberikan pengaruh yang berarti bagi kehidupan anak kelak. Pada umumnya, anak-anak meniru prilaku orangtuanya. Pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari
9 Sarinah edisi 25 Februari 1991
pohonnya.
Di dalam Sattigumba Jātaka10 terdapat sebuah contoh yang cukup menarik dalam kaitannya dengan pendidikan seorang anak. Ada seekor burung betet yang sedang mempunyai dua ekor anak. Anak-anak itu masih kecil dan tinggal di sarangnya. Tak disangka, angin besar datang dan membawa terbang kedua ekor burung tersebut. Kedua anak burung itu jatuh di tempat yang berbeda. Satu jatuh di kampung para perampok. Ia dirawat serta dibesarkan oleh para perampok dan diberi nama Sattigumba. Sementara yang satu, jatuh di hutan di mana banyak petapa. Burung yang malang tersebut dirawat dan dibesarkan oleh para petapa. Betet ini diberi nama Pupphaka.
Burung betet yang jatuh di kampung para perampok tumbuh dan berkembang sesuai dengan jiwa para perampok. Gaya bicara maupun gaya berpikirnya pun tidak berbeda dengan para perampok. Singkatnya, burung itu tumbuh menjadi burung yang serba kasar. Burung betet yang lainnya, Pupphaka, tumbuh dan berkembang menjadi burung yang baik. Ia bersikap ramah kepada siapa pun yang datang. Kata- kata yang keluar dari mulutnya juga kata-kata yang manis dan ramah.
Suatu ketika raja pergi berburu ke hutan. Ia tersesat bersama kusirnya. Ketika sedang beristirahat di dekat kampung perampok, betet itu pun melihat sang raja. Ia pun berpikir, “Bagaimana kalau kita membunuh orang ini karena ia sedang tidur dan kita ambil perhiasannya.” Betet melaporkan hal itu pada tukang masak. Ketika tukang masak itu mendekati orang yang dimaksud oleh betet tersebut, ia tercengang karena yang ia lihat adalah seorang raja. Terjadilah perdebatan antara betet dan tukang masak.
10 Jātaka no. 503 (JA IV, 430)
Sang raja terbangun karena mendengar suara berisik orang berdebat. Sang raja kemudian membangunkan kusirnya dan secepat kilat mereka melarikan diri karena menyadari ada bahaya yang mengancam. Mereka akhirnya sampai di hutan di mana betet yang baik tinggal. Melihat ada tamu yang datang, betet langsung menemuinya dan mengucapkan selamat datang kepadanya dengan penuh keramahan. Pupphaka langsung menawarkan apa saja yang ada di hutan tersebut kepada raja. Ia minta kepada raja untuk mengambil sendiri apa saja yang ia butuhkan karena Pupphaka tidak punya tangan untuk mempersembahkan kebutuhan-kebutuhan raja.
Kita telah menyaksikan dua ekor anak burung yang dilahirkan dari ibu yang sama. Mereka ditetaskan di atas pohon yang sama pula.
Akan tetapi, bencana telah memisahkan mereka. Mereka tumbuh dan berkembang di tempat yang berbeda. Kepribadian mereka juga tumbuh sesuai dengan lingkungan mereka masing-masing. Sattigumba tumbuh menjadi burung nan kasar, kata-kata yang keluar dari mulutnya juga kasar. Karena ia dibesarkan dan dididik di lingkungan perampok, dirinya pun tumbuh sesuai dengan jiwa perampok. Sedangkan Pupphaka yang dididik di lingkungan petapa, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kepribadian para petapa. Ramah, sopan, penuh rasa toleransi dan suka menolong, itulah karakternya.
Dewasa ini karena alasan kesibukan dan sebagainya, banyak orangtua yang menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada sang pembantu atau menitipkannya di tempat penitipan anak. Akibatnya anak-anak tumbuh sesuai dengan karakter pembantu. Masih untung kalau pembantunya adalah pembantu yang baik dan bermoral. Kalau tidak, pupuslah harapan orangtua.
Pada suatu saat ada seorang wanita dari desa menjadi pembantu
di kota. Ia merawat anak majikannya seperti anaknya sendiri. Ia merawat anak tersebut dengan penuh kasih sayang. Anak itu merasa betah tinggal dengan pembantu ini. Setelah dirasa sudah cukup umur, majikan tersebut tidak membutuhkan pembantu tersebut. Artinya, ia boleh pulang. Ketika pembantu tersebut pulang, anak tersebut tidak mau ikut orangtuanya sendiri dan sebaliknya menjadi sakit-sakitan.
Terpaksa pembantu itu diminta untuk merawat anak itu lagi.
Kalau memang orangtua mengaharapkan anak-anak berkembang sesuai dengan harapannya, mereka sendirilah yang harus turun tangan untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya. Mereka harus berani berkorban demi berkembangan mental anak-anaknya.
Sebagai akibatnya, anak akan bisa merasakan keluhuran kasih sayang orangtuanya sendiri.
Sebagaimana pengalaman saya sendiri, karena kami adalah orang desa, kami dibesarkan secara langsung oleh kedua orangtua kami. Kami bisa merasakan bagaimana kasih sayang kedua orangtua kami sepenuhnya. Saya sendiri berada dalam pelukan kasih sayang orangtua saya selama lebih dari 18 tahun. Mereka membesarkan dan merawat saya dengan penuh ketulusan.
Saya tidak perlu malu mengatakan bahwa ketika saya masih berada di rumah saya tidak begitu merasakan kasih sayang mereka.
Tapi setelah saya berpisah dengan mereka, berada jauh dari mereka, dan setelah saya mengerti arti kasih sayang, saya merasa bahwa kedua orangtua saya adalah orang yang luar bisa, terlebih lagi mama. Sampai saat ini, saya belum mampu menemukan wanita seluhur mama dalam hal kasih sayang. Ia adalah wanita yang terbaik bagi kehidupan saya, ia adalah wanita yang paling berjasa bagi kehidupan saya. Saya sampai pada kesimpulan itu karena selama 18 tahun mama sendiri yang
masak, mencucikan pakaian buat saya, yang tanpa disadari selama itu pula kemelekatan terpupuk sedikit demi sedikit.
Saya yakin bila anak-anak dididik sendiri oleh orangtuanya anak-anak akan memahami kasih sayang orangtuanya dan mereka akan menjadi anak-anak yang berbhakti kepada orangtua. Mereka akan menjadi anak-anak yang mengerti bagaimana cara membalas jasa kebajikan dan bukan menjadi anak-anak yang durhaka.
Kita telah menyaksikan Ajātasattu dididik dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Tetapi, ia justru menjadi anak yang durhaka—
membunuh orangtuanya sendiri. Dalam hal ini, kita perlu melihat kenyataan yang sebenarnya. Raja Bimbisāra memang membesarkan dan merawat sang pangeran dengan penuh kasih sayang, tapi kita juga perlu melihat teman pergaulannya. Ia berteman dengan Y.M.
Devadatta. Y.M. Devadatta adalah orang yang berambisi untuk menjadi penguasa. Ia bercita-cita menjadi pengganti Sang Buddha.
Singkatnya, ia menjadi penghianat gurunya sendiri. Konsekuensinya, Pangeran Ajātasattu juga menjadi penghianat orangtuanya sendiri.
Nasi telah menjadi bubur—begitulah pepatah mengatakan.
Raja Bimbisāra yang telah meninggal tidak mungkin dihidupkan kembali. Karena ulah sang anak, ia harus meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Tapi benarkah Pangeran Ajātasattu yang telah dibesarkan dengan penuh kasih sayang mempunyai niat yang murni untuk membunuh orang yang telah berjasa padanya? Kalau kita melihat cerita yang sesungguhnya, sebenarnya Pangeran Ajātasattu tidaklah sampai sebengis itu. Buktinya, ketika putranya lahir.
Sama seperti orangtua lainnya, Pangeran Ajātasattu sangat menyayangi putranya yang baru lahir. Ia menanyakan kepada
ibunya apakah Raja Bimbisāra juga menyintainya. Sang permaisuri menjelaskan bahwa Raja Bimbisāra sangat menyintainya. Langsung saat itu pula, Pangeran Ajātasattu menuju penjara di mana ia memenjarakan Raja Bimbisāra. Ia ingin membebaskan Raja Bimbisāra.
Namun, ketika Pangeran Ajātasattu sampai di penjara, Raja Bimbisāra telah lebih dahulu meninggal. Semenjak saat itu, Pangeran Ajātasattu menjadi sedih. Ia tidak dapat tidur sepanjang malam karena menyesali perbuatannya.
Untuk menghilangkan rasa penyesalan itu, ia berusaha mengunjungi seluruh guru-guru spiritual terkenal yang ada saat itu.
Tapi hasilnya tidak memuaskan. Pangeran Ajātasattu menjadi lega setelah ia mengunjungi Sang Buddha dan menyaksikan para bhikkhu hidup dalam kedamaian yang amat dalam.
Dalam berbagai kesempatan Sang Buddha menjelaskan bahwa tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan kekuatan kasih sayang (metta). Kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anaknya sedikit banyak juga dilandasi dengan metta. Demikian pula dengan Raja Bimbisāra. Ia bersikap dingin atas nasehat para nujum untuk menggugurkan embrio yang ada dalam rahim sang permaisuri.
Sebaliknya, dengan penuh ketulusan ia membesarkan sang pangeran.
Sebagai akibatnya, tidak ada niat yang tulus dalam diri Pangeran Ajātasattu untuk membunuh ayahnya sendiri. Kita bisa melihat bahwa di dalam nuraninya yang paling dalam ia pun menyayangi Raja Bimbisāra.
Dalam periode-periode tertentu, kadang anak akan tampak acuh tak acuh kepada orangtuanya walaupun orangtuanya telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang. Biasanya hal semacam ini akan terjadi pada saat anak sedang mengalami masa