B A B IV
GAMBARAN UMUM SUMATERA UTARA
4.1. Sejarah Provinsi Sumatera Utara
Di Zaman Pemerintahan Belanda, Sumatera merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernment van Sumatera, yang meliputi seluruh Sumatera, dikepalai oleh seorang Gouverneur berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari daerah-daerah administrative yang dinamakan Keresidenan. Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu kesatuan pemerintahan yaitu Provinsi Sumatera yang dikepalai oleh seorang Gubernur dan terdiri dari daerah-daerah Administratif Keresidenan yang dikepalai oleh seorang Residen.
Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (K.N.D) Provinsi Sumatera, mengingat kesulitan-kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan, diputuskan untuk membagi Provinsi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah, dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya melalui Undang-undang No. 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu:
1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.
2. Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.
3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu, Palembang, Lampung, dan Bangka Belitung.
Dengan mendasarkan kepada Undang-undang No. 10 Tahun 1948, atas usul Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan suratnya tanggal 16 Pebruari 1973 No. 4585/25, DPRD Tingkat I Sumatera Utara dengan keputusannya tanggal 13 Agustus 1973 No. 19/K/1973 telah menetapkan bahwa hari jadi Provinsi Sumatera Daerah Tingkat I Sumatera Utara adalah tanggal 15 April 1948 yaitu tanggal ditetapkannya U.U No. 10 Tahun 1948 tersebut.
Pada awal tahun 1949 berkaitan dengan meningkatnya serangan Belanda, diadakanlah reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Pada waktu itu, keadaan memerlukan suatu sistem pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Oleh karena itu perlu dipusatkan alat-alat kekuatan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer Istimewa yang berada dalam suatu tangan yaitu Gubernur Militer. Sehingga penduduk sipil dan militer berada dibawah kekuasaan suatu pemerintah. Perubahan demikian ini ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 16 Mei 1949 No.
21/Pem/P.D.R.I., yang diikuti Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 17 Mei 1949 No. 22/Pem/P.D.R.I jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan. Gubernur yang bersangkutan diangkat menjadi komisaris dengan tugas-tugas memberi pengawasan dan tuntutan terhadap pemerintahan, baik sipil maupun militer. Selanjutnya dengan instruksi Dewan Pembantu dan Penasehat Wakil Perdana Menteri tanggal 15 September 1949, Sumatera Utara dibagi menjadi dua Daerah Militer Istimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketuai oleh Gubernur Militer Tgk. M. Daud Beureuen dan Tapanuli/Sumatera Timur Selatan oleh Gubernur Militer Dr. F.L. Tobing.
Selanjutnya, dengan ketetapan Pemerintah Darurat R.I dalam bentuk Peraturan Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Desember 1949 No.8/Des/W.K.P.M dibentuklah Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur.
Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 Tahun 1950 Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Agustus 1949 No.8/Des/W.K.P.M tahun 1949 tersebut dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara dengan daerah yang meliputi daerah Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Selanjutnya dengan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, pada waktu RIS, ditetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi atas beberapa daerah-daerah Provinsi, yaitu:
1. Jawa Barat 2. Jawa Tengah 3. Jawa Timur 4. Sumatera Utara 5. Sumatera Tengah 6. Sumatera Selatan
7. Kalimantan 8. Sulawesi 9. Maluku 10. Sunda Kecil
Pada tanggal 7 Desember 1956 diundangkanlah Undang-undang No. 24 Tahun 1956 yaitu Undang-undang tentang pembentukan daerah otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara.
Pasal 1 Undang-undang No. 24 Tahun 1956 ini menyebutkan:
1. Daerah Aceh yang meliputi Kabupaten-kabupaten: Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Selatan, Kota Besar Kutaraja, daerah-daerah tersebut dipisahkan dari lingkungan daerah Otonom Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 Tahun 1950 sehingga daerah-daerah tersebut menjadi daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan nama Provinsi Aceh
2. Provinsi Sumatera Utara tersebut dalam ayat (1) yang wilayahnya telah dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai daerah otonom Provinsi Aceh, tetap disebut Provinsi Sumatera Utara.
Berdasarkan Undang-undang Darurat No. 7 Tahun 1956, Undang-undang Darurat No. 8 Tahun 1956, Undang-undang Darurat No. 9 Tahun 1956, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 4 Tahun 1964, Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 17 kabupaten/kota. Tetapi dengan terbitnya Undang-undang No. 12 Tahun 1998, tentang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Undang-undang No. 4 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Padang Sidempuan, Undang-undang No. 9 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat, serta Undang-undang No. 36 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Samosir dan Serdang Bedagai, maka wilayah Provinsi Sumatera Utara sudah menjadi 18 Kabupaten dan 7 Kota. Adapun Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut:
a. Wilayah Kabupaten:
1. Nias
2. Mandailing Natal (Madina)
10. Dairi 11. Karo
3. Tapanuli Selatan 4. Tapanuli Tengah 5. Tapanuli Utara
6. Toba Samosir (Tobasa) 7. Labuhan Batu
8. Asahan 9. Simalungun
12. Deli Serdang 13. Langkat 14. Nias Selatan
15. Humbang Hasundutan 16. Pakpak Bharat
17. Serdang Bedagai 18. Samosir.
b. Wilayah Kota:
1. Sibolga 2. Tanjung Balai 3. Pematang Siantar 4. Tebing Tinggi 5. Medan
6. Binjai
7. Padang Sidempuan
Seiring dengan pemberlakuan Undang-undang No. 22 tentang Otonomi Daerah, maka pengaturan rumahtangga daerah telah berada pada kewenangan pemerintah Kabupaten/Kota. Berkaitan dengan hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 31 Juli 2001 untuk membentuk Dinas- Dinas sebagai institusi teknis didalam melaksanakan tugas dan fungsi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
4.2. Letak Geografis Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara memiliki posisi yang strategis di bagian barat Indonesia. Sebelah barat Sumatera Utara berbatasan dengan Provinsi Istimewa Aceh yang sekarang disebut Provinsi Nangroe Aceh Darussalam sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Negara Malaysia di Selat Malaka, untuk wilayah di sebelah Selatan Sumatera Utara berbatasan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat, untuk wilayah perbatasan di sebelah Barat Provinsi ini berbatasan dengan Samudera Hindia.
Sedangkan keadaan geografi Provinsi Sumatera Utara terletak pada garis 10-40 Lintang Utara, dan 980-1000 Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi Sumatera Utara 71.680,68 Km2 .
Gambar 4.1
Peta Provinsi Sumatera Utara
Tabel 4.1
Luas Wilayah dan Letak Di Atas Permukaan Laut Suamatera Utara Menurut Kabupaten/Kota
1º - 4º Lintang Utara
1. Geografis Sumatera
Utara 98º - 100º Bujur Timur
2. Luas Wilayah 71.680,68 Km2
P. Sidempuan 260 - 1 100 m
Medan 2,5 - 37,5 m
Binjai 28 m
Tebing Tinggi 26 - 34 m
Pematang Siantar 400 m
Tanjung Balai 0 - 3 m
Sibolga 0 - 50 m
Serdang Bedagai1) -
Samosir1) -
Pakpak Bharat1) -
Humbang Hasundutan 330 - 2 075 m
Nias Selatan 0 - 800 m
Langkat 0 - 1 200 m
Deli Serdang 0 - 500 m
Karo 140 -1 400 m
Dairi 400 - 1700 m
Simalungun 0 - 369 m
Asahan 0 - 1 000 m
3. Letak diatas Permukaan Laut
Labuhan Batu 0 - 2 151 m
Toba Samosir 300 - 1 500 m
Tapanuli Utara 300 -1 800 m
Tapanuli Tengah 0 - 1 266 m
Mandailing Natal 0 - 500 m
Tapanuli Selatan 0 - 1 915 0
Nias 0 - 800 m
Sumber : BPS Kabupaten/Kota Keterangan : 1) Data tidak tersedia
Tabel 4.2
Luas Wilayah Suamatera Utara Menurut Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota Luas (Km2) Rasio Terhadap Total
(%)
Kabupaten
1. N i a s 3.495,39 4,88
2. Mandailing Natal 6.618,79 9,23 3. Tapanuli Selatan 12.138,30 16,93 4. Tapanuli Tengah 2.188,00 3,05 5. Tapanuli Utara 3.726,52 5,20
6. Toba Samosir 2.474,40 3,45
7. Labuhan Batu 9.223,18 12,87
8. Asahan 4.580,75 6,39
9. Simalungun 4.86,60 6,12
10. Dairi 1.927,80 2,69
11. Karo 2.127,29 2,97
12. Deli Serdang 2.407,96 3,36
13. Langkat 6.272,30 8,74
14. Nias Selatan 1.825,20 2,55
15. Humbang Hasundutan 2.335,33 3,25
16. Pakpak Bharat 118,30 1,70
17. Samosir 269,05 2,88
18. Serdang Bedagai 1.989,98 2,77
Kota
19. Sibolga 10,77 0,02
20. Tanjung Balai 60,52 0,09 21. Pematang Siantar 79,99 0,11 22. Tebing Tinggi 37,99 0,05
23. Medan 265,10 0,37
24. Binjai 90,33 0,13
25. Padang Sidempuan 140,00 0,20 Sumatera Utara 71 680,68 100,00 Sumber : Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sumatera Utara
Keterangan : Luas Kab/Kota Pemekaran sesuai dengan Undang-Undang yang berkaitan dengan Kab/Kota tersebut
4.3. Keadaan Kependudukan
4.3.1. Jumlah dan Komposisi Penduduk
Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat yang terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara keadaan tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,26 juta jiwa, dan dari hasil SP2000, jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 11,51 juta jiwa. Pada bulan April tahun 2003 dilakukan Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B). Dari hasil pendaftaran tersebut diperoleh jumlah penduduk sebesar 11.890.399 jiwa. Selanjutnya dari hasil estimasi jumlah penduduk keadaan Juni 2004 diperkirakan sebesar 12.123.360 jiwa dan pada tahun 2005 menjadi 12.326.678 jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara tahun 1990 adalah 143 jiwa per km2 dan tahun 2004 meningkat menjadi 169 jiwa per km2. Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun 1990-2000 adalah 1,20 persen per tahun, dan pada tahun 2000-2005 menjadi 1,37% per tahun.
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan variabel penting dalam demografi dan mempengaruhi pertumbuhan penduduk dimasa mendatang.
Hampir semua pembahasan mengenai masalah kependudukan melibatkan variabel umur dan jenis kelamin penduduk. Struktur umur penduduk antar daerah satu dengan daerah lain tidak sama. Struktur umur penduduk dipengaruhi oleh tiga variabel demografi, yakni kelahiran, kematian, dan migrasi. Faktor-faktor sosial ekonomi di suatu daerah akan mempengaruhi struktur umur penduduk lewat ketiga variabel diatas.
Komposisi penduduk Provinsi Sumatera Utara menurut umur pada tahun 2005 bersifat eksploratif di mana bercirikan lebih banyak pada penduduk usia muda. Komposisi penduduk Provinsi Sumatera Utara menurut umur pada tahun 2005 mempunyai perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan tahun 1990. Salah satu ciri yang dapat ditunjukkan adalah meningkatnya penduduk lansia (65 tahun ke atas) pada tahun 2005 menjadi 3,58 persen dari 3,17 persen pada tahun 1990. Hal tersebut mencerminkan dari dampak
keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan sehingga masyarakat mempunyai kesempatan untuk hidup lebih lama.
Penduduk perempuan di Sumatera Utara sedikit lebih banyak dari laki-laki. Pada tahun 2005 penduduk Sumatera Utara yang berjenis kelamin perempuan sebesar 50,01 % yaitu berjumlah sekitar 6.161.607 jiwa dan penduduk laki-laki sebesar 49,98 % ( 6.165.071 jiwa) . Dengan demikian sex ratio penduduk Sumatera Utara sebesar 99,92 persen. Penduduk Sumatera Utara masih lebih banyak tinggal di daerah pedesaan dari pada daerah perkotaan.
Tabel 4.3
Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin 2005 Golongan Umur Laki-Laki Perempuan Laki-Laki +
Perempuan
RasioJenis Kelamin
(1) (2) (3) (4) (5)
0 - 4 665 606 640 364 1 305 970 103,94
5 - 9 689 472 672 626 1 353 089 103,89
10 - 14 728 068 703 024 1 431 092 103,56
15 - 19 697 085 672 923 1 361 008 104,99
20 - 24 726 503 622 150 1 258 653 102,31
25 - 29 500 491 522 170 1 022 661 95,85
30 - 34 428 724 462 380 891 104 92,72
35 - 39 397 641 417 538 815 179 95,23
40 - 44 361 312 372 003 733 315 97,13
45 - 49 315 579 311 718 627 297 101,24
50 - 54 242 227 232 725 474 952 104,08
55 - 59 165 313 166 005 331 318 99,58
60 - 64 119 975 127 796 247 771 93,88
65 + 217 084 256 185 473 269 84,74
Jumlah 6 165 071 6 161 607 12 326 678 100,6 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2006
Ciri lain adalah menurunnya penduduk anak-anak (15 tahun ke bawah) menjadi 33,64 persen pada tahun 2005 dari sebesar 41,90 persen pada tahun 1990. Penurunan ini terutama disebabkan oleh adanya penurunan tingkat kelahiran. Persentase anak-anak antar kabupaten/kota antara tahun 1990 dan 2005 mempunyai perbedaan yang berarti.
Jika pada tahun 1990 seluruh kabupaten/kota mempunyai persentase anak-anak di atas 30
persen, sedangkan untuk tahun 2005 sudah terdapat 3 kabupaten/kota yang persentase anak-anak di bawah 30 persen yaitu Kota Binjai sebesar 26,97 persen, Kota Medan 27,92 persen, dan Kabupaten Langkat yang sebesar 28,78 persen.
Sementara itu Kabupaten Tapanuli Tengah dan Dairi mempunyai persentase anak-anak yang tinggi, keduanya bahkan di atas 40 persen selanjutnya diikut oleh Kabuapten Toba Samosir sebesar 39,78 persen dan Kabupaten Nias sebesar 39,19 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa upaya menekan tingkat kelahiran belum merata di setiap daerah Kabupaten/kota. Ada suatu kecenderungan bahwa semakin jauh daerah Kabupaten/kota dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi, persentase penduduk usia di bawah 15 tahun semakin tinggi.
4.3.2. Rasio Jenis Kelamin
Rasio jenis kelamin adalah suatu angka yang menunjukkan perbandingan jenis kelamin. Rasio ini merupakan perbandingan antara banyaknya penduduk laki-laki dan penduduk perempuan di suatu daerah pada waktu tertentu. Rasio jenis kelamin tahun 2005 di Provinsi Sumatera sebesar 99,92 persen artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki, dengan perbandingan setiap 100 orang perempuan terdapat 99,92 orang laki-laki. Angka rasio jenis kelamin tahun 2005 ini tidak berbeda jika dibanding hasil Sensus Penduduk 1990, dimana penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki, dengan rasio jenis kelamin 99,7 persen dan Sensus Penduduk tahun 2000 yang sebesar 99,9 persen, tetapi pada tahun 1980 jumlah penduduk perempuan lebih sedikit dari pada laki-laki dengan angka rasio jenis kelamin sebesar 100,7. Penurunan angka rasio jenis kelamin ini menandakan kaum laki-laki Sumut semakin banyak yang keluar.
Selanjutnya jika ditelusuri menurut kabupaten/kota, jumlah kabupaten/kota yang memiliki rasio jenis kelamin diatas 100 dengan dibawah 100 pada tahun 2005 menunjukkan adanya perbedaan. Dari 25 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara 10 daerah yang memiliki rasio jenis kelamin di atas 100, yaitu: Simalungun, Binjai, Tebing Tinggi, Tapanuli Tengah, Asahan, Deli Serdang, Labuhan Batu, Kota Sibolga, Serdang Bedagai dan Langkat. Kondisi ini disebabkan karena daerah-daerah tersebut merupakan daerah pantai dan perkebunanan sehingga banyak penduduk laki-laki datang untuk mencari pekerjaan dan membuka usaha baru.
Sementara 15 daerah lainnya yang memiliki rasio jenis kelamin di bawah 100 adalah Mandailing Natal, Toba Samosir, Tapanuli Selatan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Tapanuli Utara, Medan, Nias, Karo, Dairi, Nias Selatan, Humbang Hasudutan, Samosi dan Pakpak Barat. Keadaan ini terjadi disebabkan terjadinya migrasi keluar penduduk laki-laki baik untuk sekolah maupun bekerja.
Hal lain yang menarik dilihat adalah rasio jenis kelamin Kota Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara yang seharusnya menjadi tujuan bagi penduduk kabupaten/kota lain terutama di dalam Provinsi Sumatera Utara ternyata hanya mempunyai rasio jenis kelamin yaitu sebesar 98,69 persen. Hal ini diduga walaupun banyak penduduk yang masuk ke Kota Medan untuk bekerja atau sekolah namun banyak juga penduduk Kota Medan yang keluar terutama untuk mendapatkan tempat tinggal di sekitar Kota Medan yang harganya relatif lebih terjangkau namun fasilitas infrastruktur untuk mengakses Kota Medan relatif memadai.
Tabel 4.4
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Kabupaten/Kota 2005
Kabupaten/Kota Laki-Laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis Kelamin Kabupaten
1. N i a s 215 469 217 881 433 350 98,89
2. Mandailing Natal 185 742 193 303 379 045 96,09 3. Tapanuli Selatan 301 354 308 568 609 922 97,66 4. Tapanuli Tengah 139 781 138 691 278 472 100,79 5. Tapanuli Utara 126 572 128 828 255 400 98,25
6. Toba Samosir 82 579 85 008 167 587 97,13
7. Labuhan Batu 471 504 462 362 933 866 101,98
8. A s a h a n 507 791 502 065 1 009 856 101,14
9. Simalungun 410 155 408 820 818 975 100,33
10. D a i r i 129 104 130 054 259 158 99,27
11 .K a r o 155 388 156 912 312 300 99,03
12. Deli Serdang 766 278 757 603 1 523 881 101,14
13. L a n g k a t 483 462 471 886 955 348 102,45
14. Nias Selatan 140 038 142 677 282 715 98,15
15. Humbang Hasundutan 75 528 76 991 152 519 98,10
16. Pakpak Bharat 17 053 17 207 34 260 99,10
17. Samosir 59 064 60 809 119 873 97,13
18. Serdang Bedagai 293 195 289 876 583 071 101,14 Kota
19. Sibolga 44 121 43 139 87 260 102,27
20. Tanjung Balai 74 900 74 338 149 238 100,76
21. Pematang Siantar 112 765 114 786 227 551 98,24
22. Tebing Tinggi 66 556 67 826 134 382 98,13
23. Medan 998 697 1 011 979 2 010 676 98,69
24. Binjai 116 359 115 877 232 236 100,42
25. Padang Sidempuan 85 820 86 599 172 419 99,10
Sumatera Utara 6 059 276 6 064 084 12 123 360 99,92 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2006
4.3.3. Persebaran Penduduk
Persebaran penduduk berhubungan dengan pola pemukiman suatu daerah. Beberapa faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk antara lain : iklim, letak dan bentuk dataran/tanah, kesuburan tanah, sumber alam, sosial budaya, dan teknologi. Apabila persebaran penduduk di setiap daerah tidak merata, akibat langsung yang terlihat adalah kepadatan penduduk yang tidak merata. Kepadatan penduduk merupakan indikator dari tekanan penduduk di suatu daerah. Kepadatan penduduk di suatu daerah acapkali dinyatakan dengan banyaknya penduduk per kilo meter persegi.
Disamping itu, data juga menunjukkan dari 25 Kabupaten/Kota ternyata daerah yang berstatus sebagai Kota mempunyai kepadatan relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah dengan status kabupaten. Ini membuktikan bahwa daerah-daerah dengan tingkat perkembangan ekonomi yang baik, akan merupakan konsentrasi bagi penduduk sebagai wahana kegiatan hidupnya. Keadaan inilah yang selanjutnya menyebabkan penduduk melakukan migrasi, sehingga kepadatan penduduk semakin besar.
Kepadatan penduduk Sumatera Utara adalah 169 jiwa/km2, yang apabila dilihat dari masing-masing kabupaten / kota menunjukkan keadaan yang mencolok di mana kepadatan tertinggi adalah Kota Sibolga yaitu 8.102 jiwa/km2 dibandingkan dengan Pakpak Barat yang kepadatannya hanya 28 jiwa / km2. kabupaten yang tertinggi kepadatannya adalah kabupaten Deli Serdang 723/jiwa/km2, kemudian diikuti kabupaten Serdang Bedagai 293 jiwa/km2 dan Asahan 220 jiwa/km2.
Selanjutnya, dengan perkembangan pembangunan perekonomian Provinsi Sumatera Utara tahun-tahun terakhir ini memungkinkan kembali arus migrasi masuk Sumatera Utara meningkat. Dan dapat diduga juga bahwa migran yang masuk saat ini adalah migran non transmigrasi, yakni "migran-profesional" atau para migran yang masuk untuk bekerja di sektor pemerintahan dan swasta, karena adanya pengembangan sektor perdagangan, industri, pendidikan dan usaha bisnis lainnya.
Diduga motivasi migran keluar Sumatera Utara menuju DKI Jakarta adalah karena daya tarik Kota Jakarta yang sangat berlebihan, karena menyandang beberapa predikat, yakni sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat budaya dan sebagainya. DKI Jakarta sebagai Provinsi tujuan utama bagi para migran
semasa hidup Sumatera Utara ternyata sudah berlaku sejak tahun 1971, yakni sebesar 34,5% pada tahun 1971, berikutnya 36,7% pada tahun 1980 dan 25,9% pada tahun 1990.
Sebaliknya, Provinsi Riau sebagai Provinsi tujuan berikutnya adalah karena Provinsi ini merupakan kawasan pengembangan industri dan perkebunan yang cukup penting di Pulau Sumatera dengan kawasan BATAM-nya. Disamping itu, faktor jarak yang juga tidak terlalu jauh dengan Sumatera Utara. Barangkali boleh disebut mereka inilah sebagai "migran jarak dekat".
(a) Persebaran Penduduk menurut tipe daerah
Untuk dapat mengetahui tingkat urbanisasi pada setiap wilayah dalam suatu negara, terutama jika ingin membandingkan tingkat urbanisasi suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya, sebaiknya harus dibuat suatu definisi yang sama apalagi jika diinginkan analisis yang terinci mengenai komponen kependudukan menurut daerah perkotaan dan pedesaan. Badan Pusat Statistik menggunakan tiga indikator untuk mengklasifikasikan suatu desa/daerah termasuk desa/daerah perkotaan atau desa/daerah pedesaan. Ketiga indikator itu adalah : kepadatan penduduk, persentase pekerja yang bekerja di sektor pertanian dan banyaknya jenis fasilitas perkotaan yang ada di daerah/desa tersebut. Ketiga indikator itu, digunakan untuk menentukan daerah perkotaan atau pedesaan pada Sensus Penduduk 1990 dan SUPAS 2003.
Masalah urbanisasi memang merupakan masalah yang kompleks, masalah tersebut meliputi penyediaan fasilitas perkotaan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, dan fasilitas-fasilitas lainnya, juga masalah pemukiman, masalah sosial ekonomi dan sosial budaya. Jika urbanisasi yang terjadi karena adanya perubahan status dari suatu tempat yang tadinya berstatus daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, maka tahap terakhir dari pembangunan perkotaan adalah keadaan dimana persentase penduduk perkotaan mendekati seratus persen.
Gambar : 4.2
Persentase Persebaran Penduduk dan Luas Wilayah
36,85
18,48
28,34
19,39
34,81 62,13
0 10 20 30 40 50 60 70
Pantai Barat Dataran Tinggi Pantai Timnur
% Wilayah % Penduduk
Persentase penduduk perkotaan di Provinsi Sumatera Utara meningkat dari 35,5 persen pada tahun 1990 menjadi 43,2 persen atau sekitar 5,18 juta jiwa pada tahun 2004. Dengan demikian selama kurun waktu 14 tahun, penduduk Sumatera Utara yang tinggal di perkotaan bertambah sebanyak 6,7 persen. Pertumbuhan penduduk perkotaan di atas tidak hanya disebabkan oleh perpindahan penduduk dari desa ke kota semata, tetapi juga dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk alamiah serta reklasifikasi desa/kelurahan dari status daerah desa menjadi kota. Apabila persentase penduduk perkotaan dianggap sebagai indikator modernisasi, maka kesejahteraan penduduk Sumatera Utara berkembang cukup pesat. Sebab persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan selama kurun waktu 14 tahun terakhir berkembang relatif cukup pesat.
Gambar : 4.3
Persentase Persebaran Penduduk Sumatera Utara Menurut Desa – Kota Tahun 2001, 2003 dan 2005
43,1 56,9
43,2 56,8
43,2 56,8
0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0
2001 2003 2005
KOTA DESA
(b) Persebaran dan Kepadatan Penduduk Antar Kabupaten/Kota
Bila dilihat menurut letak geografis, terlihat bahwa sebaran penduduk di Provinsi Sumatera Utara tidak merata antara wilayah pantai barat, dataran tinggi, dan pantai timur. Dari gambar disamping terlihat luas masing-masing wilayah geografis kurang lebih 1/3 dari luas Provinsi Sumatera Utara, namun 62,13 persen penduduk tinggal di wilayah pantai timur yang relatif lebih ‘subur’ bila dibandingkan dengan wilayah lainnya. Secara keseluruhan, dengan luas mencapai 71.680 km2 Provinsi Sumatera Utara mempunyai kepadatan penduduk 167 jiwa/km2 atau setiap km2 rata-rata dihuni oleh 167 jiwa. Kepadatan penduduk antar kabupaten/kota mempunyai variasi yang tinggi dengan interval 157 jiwa/km2 di Kabupaten Mandailing Natal sampai 7847 jiwa/km2 di Kota Sibolga.
Tabel 4.5
Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten / Kota 2005
Kabupaten/Kota Luas Wilayah
(Km² ) Penduduk
Kepadatan Penduduk (per Km2) Kabupaten
1. N i a s 3 495,39 441 807 126
2. Mandailing Natal 6 618,79 386 150 58
3. Tapanuli Selatan 12 138,30 626 702 52
4. Tapanuli Tengah 2 188,00 283 035 129
5. Tapanuli Utara 3 726,52 256 201 69
6. Toba Samosir 2 474,40 158 677 64
7. Labuhan Batu 9 223,18 951 773 103
8. A s a h a n 4 580,75 1 024 369 224
9. Simalungun 4 386,60 826 101 188
10. D a I r i 1 927,80 261 287 136
11 .K a r o 2 127,29 316 207 149
12. Deli Serdang 2 407,96 1 569 728 652
13. L a n g k a t 6 272,30 970 433 155
14. Nias Selatan 1 825,20 288 233 158
15. Humbang Hasundutan 2 335,33 152 997 66
16. Pakpak Bharat 1 218,30 34 542 28
17. Samosir 2 069,05 131 073 72
18. Serdang Bedagai 1 989,98 588 176 296
Kota
19. Sibolga 10,77 88 717 8 237
20. Tanjung Balai 60,52 152 814 2 525
21. Pematang Siantar 79,99 230 487 2 881
22. Tebing Tinggi 37,99 135 671 3 571
23. Medan 265,10 2 036 185 7 681
24. Binjai 90,33 237 904 2 724
25. Padang Sidempuan 140,00 177 499 1 268
Sumatera Utara 71 680,84 12 326 678 172 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2006
Tabel 4.6
Jumlah Penduduk Menurut Daerah Kota dan Pedesaan dan Kabupaten/Kota, 2005 Daerah
Kabupaten/Kota
Kota Pedesaan Jumlah
Kabupaten
1. N i a s 20 434 412 916 433 350
2. Mandailing Natal 51 037 328 008 379 045
3. Tapanuli Selatan 9 239 600 683 609 922
4. Tapanuli Tengah 37 386 241 086 278 472
5. Tapanuli Utara 24 999 230 401 255 400
6. Toba Samosir 23 487 144 100 167 587
7. Labuhan Batu 185 759 748 107 933 866
8. A s a h a n 270 530 739 326 1 009 856
9. Simalungun 195 938 623 037 818 975
10. D a i r i 35 191 223 967 259 158
11 .K a r o 77 321 234 979 312 300
12. Deli Serdang 827 052 696 829 1 523 881
13. L a n g k a t 203 781 751 567 955 348
14. Nias Selatan 13 331 269 384 282 715
15. Humbang Hasundutan 14 929 137 590 152 519
16. Pakpak Bharat 4 652 29 608 34 260
17. Samosir 16 800 103 073 119 873
18. Serdang Bedagai 316 449 266 622 583 071
Kota
19. Sibolga 87 260 - 87 260
20. Tanjung Balai 132 582 16 656 149 238
21. Pematang Siantar 227 551 - 227 551
22. Tebing Tinggi 134 382 - 134 382
23. Medan 2 010 676 - 2 010 676
24. Binjai 217 052 15 184 232 236
25. Padang Sidempuan 104 732 67 687 172 419
Jumlah 2004 5 242 549 6 880 811 12 123 360
Sumber : BPS -SP2000, P4B , 2006
Gambar 4.4.
Peta Kepadatan Penduduk Sumataera Utara Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005
Sumber : BPS, Sumatera Utara Dalam Angka 2006.
4.4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Data tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan data komposit dari beberapa variable yaitu umur harapan hidup pada waktu lahir, tingkat pendidikan dan GNP per kapita. Pada tahun 2004 posisi Sumatera Utara berada di urutan ke 7 dari 30 propinsi yang ada di Indonesia
Tabel 4.7
Posisi IPM – Provinsi di INDONESIA - 2004
No. Provinsi % No. Provinsi %
1 DKI Jakarta 71,6 16 Sulsel 66,0
2 Sulut 71,3 17 Lampung 65,8
3 Jogjakarta 70,8 18 Jabar 65,8
4 Kaltim 70,0 19 Maluku Utara 65,8
5 Riau 69,1 20 Bangka Belitung 65,4
6 Kalteng 69,1 21 Sulsel 65,3
7 SUMUT 68,8 22 Sulteng 64,4
8 Sumbar 67,5 23 Kalsel 64,3
9 Bali 67,5 24 Jatim 64,1
10 Jambi 67,1 25 Sultra 64,1
11 Banten 66,6 26 Gorontalo 64,1
12 Maluku 66,5 27 Kalbar 62,9
13 Jateng 66,3 28 N T T 60,3
14 Bengkulu 66,2 29 Papua 60,1
15 Aceh 66,0 30 NTB 57,8
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2006
Tabel 4.8
Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kabupaten/Kota 2005 Komponen IPM
Kabupaten/Kota Harapan Hidup
Melek Huruf
Rata-rata lama sekolah
Pengeluaran riil per kapita
IPM Ranking
Kabupaten
01. N i a s 67,9 86,0 6,0 589,4 65,0 24
02. Mandailing Natal 62,5 98,1 7,3 612,9 67,5 23
03. Tapanuli Selatan 66,4 99,3 8,7 612,8 71,0 12
04. Tapanuli Tengah 66,8 95,4 7,8 595,9 68,4 21
05. Tapanuli Utara 66,9 98,1 8,7 612,2 70,9 13
06. Toba Samosir 68,9 96,6 9,7 720,2 73,8 5
07. Labuhan Batu 66,1 97,9 8,1 619,1 70,6 15
08. A s a h a n 67,7 94,0 7,1 617,3 69,7 19
09. Simalungun 67,5 95,8 8,4 611,1 70,5 16
10. D a i r i 66,2 95,7 8,1 616,5 69,9 18
11. K a r o 70,1 96,6 8,8 609,9 72,3 8
12. Deli Serdang 68,0 96,8 8,6 617,7 71,6 10
13. L a n g k a t 68,2 96,5 8,5 606,3 70,7 14
14. Nias Selatan 67,4 84,4 5,9 574,1 72,1 25
15. H.Hasundutan 66,2 97,7 8,5 597,2 69,1 20
16. P. Bharat 66,0 95,2 8,0 599,4 68,3 22
17. Samosir 67,9 96,4 9,4 612,5 71,7 9
18. Serdang Bedagai 67,2 96,0 8,5 606,4 70,0 17
Kota
19. S i b o l g a 69,0 99,2 9,4 612,7 72,9 6
20. Tanjung Balai 68,1 98,7 8,3 606,1 71,0 11
21. Pem. Siantar 71,0 99,2 10,6 619,0 75,4 1
22. Tebing Tinggi 70,1 98,3 9,5 620,6 74,0 4
23. M e d a n 69,9 99,0 10,6 618,6 74,7 2
24. B i n j a i 70,1 98,0 9,5 620,8 74,0 3
25. P. Sidempuan 68,1 99,3 9,6 613,5 72,6 7
Sumatera Utara 68,2 96,6 8,4 616,0 71,4 7
Nasional 68,7
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, 2006
Gambar : 4.5
Angka Harapan Hidup Kabupaten/Kota Se Sumatera Utara, 2005
62,5
66 66,1
66,2 66,2 66,4
66,8 66,9 67,2
67,4 67,5 67,7
67,9 67,9 68
68,1 68,1 68,2
68,9 69
69,9 70,1 70,1 70,1 71
55 60 65 70 75
M a nda iling N a t a l P a k pa k B ha ra t La buha n B a t u D a i r i H um ba ng H a s undut a n T a pa nuli S e la t a n T a pa nuli T e nga h T a pa nuli Ut a ra S e rda ng B e da ga i N ia s S e la t a n S im a lungun A s a h a n N i a s S a m o s ir D e li S e rda ng T a njung B a la i P . S ide m pua n L a n g k a t T o ba S a m o s ir S i b o l g a M e d a n K a r o T e bing T inggi B i n j a i P e m . S ia nt a r
Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup Sumatera Utara (AHH) tahun 2005 adalah 62,8, dengan AHH tertinggi adalah Pematang Siantar (71) sedangkan terendah Mandailinbg Natal (62,5). Apabila dibandingkan dengan rata-rata AHH Sumatera Utara, maka terdapat 8 kabupaten dan kota yang mempunyai AHH di tas rata-rata Sumatera Utara dan 17 Kabupaten kota lainnya di bawah rata-rata AHH Sumatera Utara.
Gambar : 4.6
Angka Melek Huruf Kabupaten/Kota Se Sumatera Utara, 2005
Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa Angka Melek Huruf
Sumatera Utara (AMH) tahun 2005 adalah 96,6, dengan AMH tertinggi adalah Padang Sidempuan (99,3) sedangkan terendah Nias Selatan (84,4). Apabila dibandingkan dengan rata-rata AMH Sumatera Utara, maka terdapat 15 kabupaten dan kota yang mempunyai AMH di atas rata-rata Sumatera Utara dan 10 Kabupaten/kota lainnya di bawah rata-rata AMH Sumatera Utara.
84,4 86
94 95,2
95,4 95,7
95,8 96
96,4 96,5 96,6 96,6 96,8
97,7 97,9 98
98,1 98,1 98,3 98,7
99 99,2 99,2 99,3 99,3
75 80 85 90 95 100 105
Nias Selatan N i a s A s a h a n P akpak B harat Tapanuli Tengah D a i r i Simalungun Serdang B edagai Samo sir L a n g k a t To ba Samo sir K a r o Deli Serdang Humbang Hasundutan Labuhan B atu B i n j a i M andailing Natal Tapanuli Utara Tebing Tinggi Tanjung B alai M e d a n S i b o l g a P em. Siantar Tapanuli Selatan P . Sidempuan
Gambar : 4.7
Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota Se Sumatera Utara, 2005
Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa Rata-rata Lama
Rata-rata Sekolah Sumatera Utara (RLS) tahun 2005 adalah 8,4 tahun, dengan RLS tertinggi adalah Medan (10,6 tahun) sedangkan terendah Nias Selatan (5,9 tahun).
Apabila dibandingkan dengan rata-rata RLS Sumatera Utara, maka terdapat 16 kabupaten dan kota yang mempunyai RLS di atas rata-rata Sumatera Utara dan 9 Kabupaten/kota lainnya di bawah rata-rata RLS Sumatera Utara.
5,9 6
7,1 7,3
7,8 8 8,1 8,1 8,3
8,4 8,5 8,5 8,5 8,6
8,7 8,7 8,8
9,4 9,4 9,5 9,5 9,6
9,7 10,6 10,6
0 5 10 15
Nias Selatan N i a s A s a h a n M andailing Natal Tapanuli Tengah P akpak B harat Labuhan B atu D a i r i Tanjung B alai Simalungun L a n g k a t Humbang Hasundutan Serdang B edagai Deli Serdang Tapanuli Selatan Tapanuli Utara K a r o Samo sir S i b o l g a Tebing Tinggi B i n j a i P . Sidempuan To ba Samo sir P em. Siantar M e d a n
Gambar : 4.8
Pengeluaran Riil Per Kapita Kabupaten/Kota Se Sumatera Utara, 2005
Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa Pengeluaran Ril Per
Pengeluaran riil per kapita Kapita Sumatera Utara (PRP) tahun 2005 adalah Rp.606,4 per bulan, dengan PRP tertinggi adalah Toba Samosir (720,2) sedangkan terendah Nias Selatan (574,1). Apabila dibandingkan dengan rata-rata PRP Sumatera Utara, maka terdapat 18 kabupaten dan kota yang mempunyai PRP di atas rata-rata Sumatera Utara dan 7 Kabupaten/kota lainnya di bawah rata-rata PRP Sumatera Utara.
574,1
589,4 595,9
597,2 599,4
606,1 606,3 606,4
609,9 611,1 612,2 612,5 612,7 612,8 612,9 613,5
616,5 617,3 617,7 618,6
619 619,1
620,6 620,8
630,2
540 560 580 600 620 640
Nias Selatan N i a s Tapanuli Tengah Humbang Hasundutan Pakpak B harat Tanjung B alai L a n g k a t Serdang Bedagai K a r o Simalungun Tapanuli Utara Samo sir S i b o l g a Tapanuli Selatan M andailing Natal P . Sidempuan D a i r i A s a h a n Deli Serdang M e d a n P em. Siantar Labuhan B atu Tebing Tinggi B i n j a i To ba Samo sir
Gambar : 4.9
Peta Penyebaran IPM Kabupaten/Kota Se Sumatera Utara, 2006
Sumber : BPS, Sumatera Utara Dalam Angka 2006
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menurut kabupaten/kota Sumatera Utara, tertinggi adalah Kota Pematang Siantar (75,1), kemudian diikuti oleh Medan (74,7), Binjai (74,0), Tebing Tinggi (74,0) dan Karo (71,9), sedangkan IPM terendah adalah Kabupaten Nias Selatan (72,1). Secara keseluruhan IPM daerah perkotaan lebih tinggi dari IPM daerah kabupaten. Hal ini disebabkan pada daerah perkotaan baik tingkat pendidikan, kesehatan dan pendapatan per kapita secara umum lebih baik dibandingkan dengan daerah kabupaten yang sebahagian besar merupakan daerah pedesaan.
4.5. Perekonomian
Seperti telah kita ketahui bersama, selama tahun 2004 bangsa Indonesia telah melaksanakan dua agenda besar yaitu pemilihan anggota legislative, dan pemilihan Presiden serta wakilnya secara langsung. Mengingat sistem pemilihan tersebut baru pertama kalinya diterapkan di Indonesia, maka dikhawatirkan akan dapat mengganggu stabilitas politik, dan keamanan yang sudah barang tentu akan berdampak langsung pada instabilitas sosial dan ekonomi masyarakarat baik secara nasional maupun regional.
Tabel 4.9
Produk Domestik Regional Bruto Sumatera Utara Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku 2003 - 2005 ( Milyar Rp. )
Lapangan Usaha 2003 2004 2005
1. Pertanian 25.789,49 28.893,55 32 093,41
2. Pertambangan dan Penggalian 1.216,80 1.382,70 1.717,54
3. Industri 26.131,97 29.946,90 35.555,03
4. Listrik, Gas, & Air Minum 1.331,84 1.492,12 1.722,08
5. Bangunan 5.671,18 6.735,75 8.128,89
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 19.106,34 21.856,50 24.772,57 7. Pengangkutan & Komunikasi 8.098,61 9.478,01 11.783,14 8. Keuangan, Asuransi, Usaha persewaan
bangunan & tanah, Jasa Perusahaan 6.189,41 7.195,31 8.350,73 9. Jasa Kemasyarakatan, Sosial &
Perorangan 9.865,72 11.119,67 12.779,87
Produk Domestik Regional Bruto 103.401,37 118.100,51 136.903,27 Produk Domestik Regional Bruto Tanpa
Migas 102.580,91 117.241,67 135.841,25
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan hasil penghitungan sementara, kinerja perekonomian Sumatera Utara Tahun 2004 yang diukur dengan besarnya PDRB atas dasar harga berlaku, sudah mencapai 107,5 Triliun Rupiah, atau 0,1 Triliun di bawah target 2004 yang bernilai 107,6 Triliun Rupiah.
Bila angka PDRB tersebut dihitung atas dasar harga konstan, perekonomian Sumatera Utara telah mampu tumbuh sebesar 5,79 persen selama tahun 2004 yang semula diperkirakan hanya sebesar 4,77 persen. Fakta dan kinerja ini, sekaligus merupakan suatu bukti kongkrit dari partisipasi masyarakat Sumut yang senantiasa menjaga situasi dan iklim kondusif diwilayah yang kita cintai ini, sehingga roda perekonomian dapat terus berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Gambar 4.10
Perkembangan PDRB Sumatera Utara Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku 2003-2005 (Milyar Rp.)
Selain pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan, indikator makro ekonomi yang lain seperti tingkat inflasi dan transaksi perdagangan luar negeri juga menunjukkan arah magnitud yang sama. Tingkat inflasi selama 2004 hanya meningkat 0,30 point dari yang pernah ditargetkan dalam rapat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), yaitu sebesar 6,50 persen (angka inflasi 2004 sebesar 6,80 persen).
102,560.91
117,241.67
135,841.25
0.00 20,000.00 40,000.00 60,000.00 80,000.00 100,000.00 120,000.00 140,000.00
2003 2004 2005
Selanjutnya inflasi pada 2 bulan pertama 2005, mencapai besaran 1,38 persen atau 0,12 point di atas angka nasional yang mencapai 1,26 persen. Namun demikian selama Februari, perkembangan harga di Sumatera Utara (secara rata-rata) mengalami penurunan atau deflasi, yaitu sebesar – 1,39 persen dibandingkan dengan harga-harga pada bulan Januari 2005. Hal ini dapat dimengerti karena Sumatera Utara selama Januari mengalami Inflasi yang cukup tinggi yaitu 2,82 persen sebagai konsekuensi tingginya demand akan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang terkana bencana tsunami. Untungnya setelah kondisi dan keadaan NAD secara berangsur- angsur sudah mulai normal, geliat harga di Sumatera Utara (khususnya Medan) sudah menunjukkan arah penurunan. Selama Februari, Sumatera Utara mengalami deflasi dengan penurunan harga tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan (ikan dencis, cabe merah, tomat, sayur-sayuran, ikan gembung, ikan tongkol, bayam, daging, ayam ras, ikan selar, kacang panjang, bawang merah, dan cabe rawit), yaitu sebesar 3,78 persen.
Kemudian disusul oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan besaran deflasi 1,17 persen.
Tabel 4.10
Produk Domestik Regional Bruto Sumatera Utara Menurut Sudut Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku 2003 - 2005 ( Milyar Rp. )
Jenis Penggunaan 2003 2004 2005
1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 57.954,34 72.439,51 74.438,58
2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta
yang Tidak Mencari Keuntungan 497,22 554,80 680,38
3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 8.410,27 9.850,36 11.811,49 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 15.293,45 19.179,27 22.594,22
5. Perubahan Stok 3.985,97 4.436,64 3.114,43
6. Ekspor 38.145,46 49.604,69 59.921,61
7 Dikurangi Impor 20.885,34 28.964,77 35.657,45
Produk Domestik Regional Bruto 103.401,37 118.100,51 136.903,27 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Meskipun secara agregat terjadi deflasi di Sumatera Utara, namun untuk beberapa komoditi yang masuk kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, mengalami inflasi, yaitu sebesar 0,07 persen. Sementara itu, harga barang dan jasa yang masuk kelompok kesehatan, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga, tidak mengalami perubahan harga.
Tabel 4.11
Kondisi Makro Sosial Ekonomi Sumatera Utara Tahun 2003-2004 Dan Kondisi yang Diharapkan Tahun 2005-2009
Kondisi Yang Diharapkan No Indikator Satuan Keadaan
2003*
Keadaan 2004*
2005* 2006* 2007* 2008* 2009*
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Pertumbuhan Ekonomi
Persen 4,42 5,79 5,95 6,29 6,70 6,97 7,29
2 PDRB- Berlaku
Triliun Rp.
96,23 107,51 121,88 138,96 158,33 180,47 206,96
3 PDRB- Konstan ’93
Triliun Rp
27,07 28,64 30,34 32,25 34,41 36,81 39,49
4 PDRB Perkapita Harga Berlaku
Juta Rp
8,07 8,91 9,98 11,24 12,65 14,25 16,14
5 Struktur Ekonomi
- Pertanian Persen 29,33 28,98 28,54 28,04 27,57 27,10 26,78 - Industri
Pengolahan
Persen 25,83 25,91 25,51 25,41 24,90 24,90 24,37
- Jasa-jasa Persen 8,08 8,15 8,31 8,49 8,69 8,69 9,11 Sumber. BPS Propinsi Sumatera Utara
Keterangan: *) Angka Sementara
**) Angka Sangat sementara e) Angka Perkiraan Kasar
Selanjutnya transaksi ekspor yang datanya baru mencakup Januari-November 2004, telah mampu memasok devisa sebesar 3,86 Milyar US$ dengan volume ekspor sebesar 6,88 juta ton dengan pencapaian seperti ini prediksi ekspor Sumatera Utara 2004 senilai 3,26 Milyar US$ dengan volume 5,54 juta ton telah terlampaui. Di sisi lain, nilai impor Sumatera Utara pada periode yang sama mencapai 0,86 Milyar US$ dengan volume sebesar 2,98 juta ton.
Dengan demikian terjadi surplus neraca perdagangan luar negeri sebesar 3,0 Milyar US$.
Dan bilamana geliat ekonomi yang sudah semakin membaik pada 2004 dapat terus berlangsung pada tahun 2005, maka kinerja perdagangan luar negeri Sumatera Utara tidak akan lebih rendah dibanding kinerja 2004.
Menyoroti masalah produktivitas padi, pada sedikit peningkatan yaitu dari 41,24 kwintal per hektar pada tahun 2003 menjadi 41,39 kwintal per hektar pada tahun 2004. dengan tingkat produktivitas seperti ini, diperkirakan produksi padi Sumatera Utara akan mencapai 3.407 ribu ton pada tahun 2004, dimana 3.206 ribu ton berasal dari padi sawah, dan 202 ribu ton berasal dari padi ladang. Dan berdasarkan angka ramalan I, produksi padi pada tahun 2005 akan mencapai 3.409 ribu ton dengan tingkat produktivitas 41,40 kwintal per hektar.
Tabel 4.12
Perbandingan Inflasi di Sumatera Utara dan Nasional Februari 2004-2005
Februari (%)
Kumulatif Januari Februari (%) Kota
2004 2005 2004 2005
Februari 2004- Februari
2005
1. Medan 0,09 -1,26 0,08 1,31 7,95
2. Pematang Siantar -0,45 -2,07 0,15 2,10 9,39
3. Sibolga -0,49 -3,01 0,45 1,65 7,91
4. Padangsidempuan 0,31 -1,20 0,65 1,11 9,49 Sumatara Utara 0,04 -1,39 0,13 1,38 8,14 Nasional -0,2 -0,17 0,55 1,26 7,15 Sumber. BPS Propinsi Sumatera Utara
Sementara itu, produksi sektor pertanian yang berkaitan dengan komoditi palawija, seperti jagung kedele, kacang tanah, dan ketela pohon, juga menunjukkan tingkat produktivitas yang menggembirakan selama periode 2003-2004. produksi jagung meningkat dari 687,4 ribu ton pada 2003 menjadi 712,1 ribu ton pada 2004; Kedele dari 10,5 ribu ton menjadi 12,3 ton; Kacang tanah dari 25,1 ribu ton menjadi 28,6 ribu ton;
dan ketela pohon dari 412,0 ribu ton menjadi 466,2 ribu ton. Peningkatan produksi tersebut berkaitan dengan meningkatnya luas panen selama tahun 2004. Selanjutnya untuk tahun 2005, berdasarkan angka ramalan I, terlihat masih ada arah peningkatan positif. Produksi ketela pohon akan mencapai 468,9 ribu ton, jagung mencapai 715,0 ribu ton, kedele dan kacang tanah masing-masing mencapai 11,1 ribu ton dan 28,9 ribu ton.
Gambar 4.11
Peta Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kabupaten/Kota Atas Dasar Harga Konstan 1993 - 2003
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara , 2006
Membaiknya indikator-indikator makro ekonomi, diharapkan akan memberi dampak positif terhadap masalah pengangguran, kualitas hidup, dan kemiskinan yang merupakan issue penting, dan terus mendapat perhatian serius dari setiap penyelenggara pemerintah. Berdasarkan angka yang dikumpulkan oleh Badan Statistik atau BPS lewat Survei Ekonomi Nasional yang populer dengan Susensus 2004, Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT di Sumatera Utara dari hasil Susensus selama periode 2002-2004,
masih menunjukkan angka peningkatan. Pada tahun 2004 jumlah pengangguran mencapai 433.942 orang atau bertambah sebanyak 29.825 orang jika dibanding dengan jumlah pengangguran tahun 2003 sebesar 404.117 orang. Sejalan dengan itu tingkat pengangguran terbuka juga naik dari 7,71 pada 2003 menjadi 8,36 persen pada 2004. Dan pada 2005, angka pengangguran ini, diperkirakan akan lebih besar mengingat masih belum mantapnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, terutama sektor rill dan pemulangan tenaga kerja Indonesia dari luar negeri seperti dari Malaysia dan sebagainya ke Sumatera Utara.
Tabel 4.13
Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Besar/Sedang Menurut Golongan Industri 2004 ( Unit )
Golongan Industri Perusahaan Tenaga Kerja
1. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 384 56 492 2. Industri Tekstil, Pakaian Jadi dan Kulit 55 5 393 3. Industri Kayu, Perabot Rumahtangga 133 27 958 4. Industri Kertas, Percetakan dan Penerbitan 32 4 457 5. Industri Kimia, Batubara, Karet dan Plastik 174 39 392 6. Industri Barang Galian Bukan Logam
Kecuali Minyak Bumi dan Batubara 32 3 055
7. Industri Logam Dasar 13 5 244
8. Industri Barang dari Logam, Mesin dan Peralatannya
87 10 341
9. Industri Pengolahan Lainnya 19 575
Jumlah 929 152 907
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara Keterangan : e) Angka Perkiraan
Selanjutnya, pembangunan manusia sebagai subjek dan objek pembangunan secara keseluruhan, terus diupayakan ke arah peningkatan yang lebih baik. Berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Manusia atau IPM selama 2003 telah terjadi peningkatan kualitas pembangunan manusia dari 68,6 pada 2002 menjadi 69,5. peningkatan IPM ini
tidak terlepas dari membaiknya kesehatan masyarakat sehingga mampu mendongkrak angka harapan hidup dari 67,1 tahun pada 2002 menjadi 68,0 tahun pada 2003.
Sejalan dengan membaiknya IPM, persentase penduduk miskin tahun 2004 juga mengalami perbaikan. Bila pada tahun 2003, jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara mencapai 1,89 juta atau 15,89 persen, namun pada tahun 2004 angka tersebut telah turun menjadi 1,8 juta atau 14,93 persen. Angka ini, sedikit lebih rendah dari yang kita perkirakan pada tahun 2004 yaitu sebesar 15,50 %.
4.6. Ketenagakerjaan
Banyak hal mengenai kehidupan sosial di suatu negara/masyarakat dapat dijabarkan kalau kita mengetahui mengenai komposisi lapangan pekerjaan dari angkatan kerjanya, komposisi jenis pekerjaannya, dan akta-fakta lain mengenai angkatan kerja.
Misalnya: apakah para penduduk muda (young population) berusia. Terlalu muda waktu memasuki angkatan kerja, hinga belum bisa mendapatkan pendidikan yang relatif cukup tingi. Kemudian berapa banyak penduduk tua (old population) dipaksa untuk tetap tinggaal dalam angkatan kerja setelah usia pensiun, hanya semata-mata karena kemiskinan.
Berapa banyak wanita yang bekerja. Seberapaa jauh dan apakah pekerjaan yang dilakukan kaum wanita itu betul-betul merupakan suatu yanag mereka inginkan (secara sukarela), ataukah hanya merupakan suatu pencerminan bahwa para wanita ini belum bisa hidup layak semata-mata hanya dari pendapatan suami mereka saja.
Selain itu, kita juga ingin mengetahui bidang apa saja yang dikerjakan oleh para wanita, anak-anak dan orang-orang yang sudah berusia lanjut, serta berapa jam mereka harus bekerja selama satu hari. Berapa besar pendapatan mereka dan apakah sesuai dengan jerih payah yang mereka berikan.
Di negara yang sedang berkembang, seberapa jauh pekerjaan musiman dapat mempengaruhi pendapatan kekerjaan dan apakah ada kepincangan distribusi pendapatan antara golongan dalam masyarakat. Ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan karakteristik angkatan kerja.
Ada hubungan timbal balik antara kekuatan-kekuatan ekonomi dan kekuatan- kekuatan demografi. Keduanya saling mempengaaruhi. Ada pandangan yang mengatakan bahwa kejadian-kejadian demografi adalah akibat dari kejadian-kejadian ekonomi.
Misalnya, pada waktu keadaan ekonomi makmur maka tingkat kelahirtan akan berubah (bisa naik dan bisa turun, tergantung situasi masyarakat setempat). Juga tingkat perpindahan penduduk di suatu negara cenderung naik pula.
4.6.1. Angkatan Kerja
Angkatan Kerja adalah Penduduk dalam usia kerja (15 tahun ke atas) baik yang bekerja maupun yang mencari pekerjaan pengangguran).
Tabel 4.14
Banyaknya Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan 2002 – 2005 (Jiwa)
Jenis Kegiatan 2002 1) 2003 1) 2004 2) 2005
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Angkatan Kerja 5 283 857 5 239 910 5 514 170 5 803 112 - Bekerja 4 928 353 4 835 793 4 756 078 5 166 132 - Mencari Kerja 355 504 404 117 758 092 726 980 2. Bukan Angkatan Kerja 3 835 219 2 650 673 2 482 832 2 272 896 3 Tenaga Kerja (1 + 2) 9 119 076 7 890 583 7 997 002 8 067 008 Sumber: BPS-Survey Sosial Ekonomi Nasional 2001-2005
Catatan: 1) Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas 1) Metode Baru
Jumlah angkatan kerja di Sumatera Utara tahun 2005 tercatat sebanyak 5.803.112 orang, yang terdiri dari mereka yang bekerja sebanyak 5.166.132 orang dan yang sedang mencari kerja sebanyak 726.980. Keadaan ini terus mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu yang termasuk bukan angkatan kerja tercatat sebanyak 2.272.896 orang, mereka ini adalah yang termasuk di dalamnya usia sekolah, ibu rumah tangga dan penerima penghasilan lainnya.
Apabila dilihat dari kelompok umur, jumlah angkatan kerja yang terbanyak adalah pada 15 – 39 tahun yang merupakan kelompok usia muda.
Tabel 4.15
Banyaknya Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Laki-Laki +
Perempuan
15 – 19 607 814 366 916 974 730
20 – 24 450 538 295 256 745 794
25 - 29 405 921 265 375 671 296
30 - 34 372 359 230 133 593 492
35 - 39 331 335 210 150 541 485
40 - 44 295 946 175 796 471 742
45 - 49 226 431 130 901 357 332
50 - 54 153 755 93 399 247 155
55 - 59 117 899 75 087 192 986
60 - 64 102 852 65 715 168 567
65+ 161 233 114 100 275 333
Total 2004 3 217 083 2 022 827 5 239 910
Sumber: BPS-Survey Sosial Ekonomi Nasional 2001-2005
Tabel 4.16
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama 2004-2005
Lapangan Pekerjaan Utama 2004 2005
1. Berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain 16,42 17,67 2. Berusaha dibantu anggota rumah
tangga/buruh tidak tetap
20,47 23,11
3. Berusaha dengan buruh tetap 2,85 2,08
4. Buruh/karyawan 33,23 28,44
5. Pekerja bebas pertanian 4,11 2,96
6. Pekerja bebas non pertanian 17,18 2,50
7. Pekerja keluarga 21,51 23,24
Sumber: BPS-Survey Angkatan KerjaNasional , 2005
Jika dilihat dari status pekerjaannya, hampir sepertiga (28,44 persen) penduduk yang bekerja di Sumatera Utara adalah buruh atau karyawan. Penduduk yang berusaha dengan dibantu anggota keluarga mencapai sekitar 23,47 persen, sedangkan penduduk yang bekerja sebagai pekerja keluarga mencapai 23,24 persen. Hanya 2,08 persen penduduk Sumatera Utara yang menjadi pengusaha yang mempekerjakan buruh tetap/bukan anggota keluarnya.
Gambar 4.12
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama 2005
17.65%
23.09%
2.08%
28.41%
2.96%
2.50%
23.32%
Berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain
Berusaha dibantu anggota rumah tangga
Berusaha dengan buruh tetap
Buruh / karyawan
Pekerja bebas pertanian
Pekerja bebas non pertanian
Pekerja keluarga
Jumlah penduduk Sumatera Utara yang merupakan angkatan kerja adalah sebanyak 5,51 juta jiwa yang terdiri dari 4,76 juta jiwa terkategori bekerja dan sebesar 758 ribu jiwa terkategori mencari kerja dan tidak bekerja (pengangguran terbuka).
Penduduk Sumatera Utara yang bekerja ini sebagian besar bekerja pada sektor pertanian yaitu 51,60 persen. Sektor kedua terbesar dalam menyerap tenaga kerja di Sumatera Utara adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar 17,18 persen. Sektor lain yang cukup besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor jasa-jasa, baik jasa perorangan, jasa perusahaan, dan jasa pemerintahan yaitu sebesar 10,78 persen, sementara penduduk yang bekerja di sektor industri hanya sekitar 8,07 persen saja.
Tabel 4.17
Persentase Angkatan Kerja Berumur 15 Tahun Ke atas Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan 2005
Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki+
Perempuan
1. Tidak/Belum Tamat Sekolah 1,50 3,95 2,52
2. Tidak/Belum Tamat SD 8,35 13,37 10,44
3. Tamat SD 28,14 30,20 29,00
4. Tamat SMTP 28,49 23,51 26,42
5. Tamat SMTA 28,88 23,13 26,49
6. Diploma I/II 0,44 1,53 0,89
7. Akademi/Diploma III 1,19 1,85 1,47
8. Universitas/Diploma IV 3,00 2,46 2,78
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS-Survey Sosial Ekonomi Nasional 2005
Persentase angkatan kerja Sumatera Utara tahun 2005 menurut jenis kelamin dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan menunjukkan bahwa persentase terbesar adalah mereka yang tamat SD sebesar 29,0 % kemudian diikuti mereka yang tama SMTP (26,42
%) dan tamat SLTA (26,49 %), sedangkan mereka yang tamat universitas hanya 2,78 % dari total angkatan kerja. Apabila dilihat dari jenis kelamin menunjukkan adanya variasi dimana untuk mereka yang tamat SMTP , tamat SMTA dan Universitas jumlah laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan, sedangkan untuk mereka yang berpendidikan tidak tamat dan tamat SD jumlah perempuan lebih tinggi. Keadaan ini menunjukkan bahwa secara umum tingkat pendidikan laki-laki lebih tinggi di Sumatera
Utara dibandingkan dengan perempuan. Keadaan ini sama dengan keadaan indonesia secara umum di mana laki-laki tingkat pendidikannya lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.
Gambar 4.13
Persentase Angkatan Kerja Berumur 15 Tahun Ke atas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan 2005
3% 10%
30%
26%
26%
1%
1%
3%
Tidak/Belum Tamat Sekolah Tidak/Belum Tamat SD Tamat SD
Tamat SMTP Tamat SMTA Diploma I/II Akademi/Diploma III Universitas/Diploma IV
Tabel 4.18
Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke atas Menurut Jenis Kelamin dan Kegiatan Seminggu Yang Lalu 2005 ) (Jiwa)
Kegiatan Seminggu Yang Lalu Laki-Laki Perempuan Laki-Laki+
Perempuan
I Angkatan Kerja 3 390 351 2 412 761 5 803 112
1. Bekerja 3 107 019 2 059 113 5 166 132
2. Mencari Pekerjaan 283 332 353 648 726 980
II Bukan Angkatan Kerja 589 758 1 674 138 2 272 896
1. Sekolah 393 452 406 650 800 102
2. Mengurus Rumahtangga 18 432 1 102 568 1 121 000
3. Lainnya 177 874 164 920 342 794
Jumlah 2005 3 980 109 4 086 899 8 067 008
2004 3 944 077 4 052 925 7 997 002
2003 3 896 573 3 994 101 7 890 583
2002 4 522 750 4 596 326 9 119 076
Sumber: BPS - Susenas 2006
Apabila dilihat dari kabupaten /kota yang ada menunjukkan bahwa angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian untuk daerah kabupaten secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan dengan yang bekerja di sektor industri dan jasa. Persentase tertinggi adalah di kabupaten Nias sebesar 89,97 persen sedangkan terendah adalah dikabupaten Asahan sebesar 51,33 %. Sedangkan untuk daerah kota menunjukkan persentase yang bekerja di sektor jasa secara umum adalah lebaih timggi dengan mereka yang bekerja baik di sektor industri maupun pertanian. Persentase tertinggi yang bekerja di sektor jasa adalah Kota Pematang Siantar sebesar 80,57 % kemudian diikuti Kota Tebing Tinggi, Medan dan P. Sidempuan, sedangkan persentase terendah adalah Kota Sibolga sebesar 62,99 %. Persentase angkatan kerja yang bekerja di sektor industri secara keseluruhan adalah Kabaupaten Desi Serdang (29,17%) untuk daerah kabupaten dan Kota Medan (23,40 %) untuk daerah perkotaan.
Tabel 4.19
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Selama Seminggu Yang lalu Menurut Kab/Kota dan Kelompok Lapangan Usaha 2005
Kabupaten/Kota Pertanian Industri J a s a Jumlah Kabupaten
1. N i a s 89,97 2,30 7,73 100,00
2. Mandailing Natal 78,48 5,05 16,47 100,00
3. Tapanuli Selatan 87,89 1,22 10,89 100,00
4. Tapanuli Tengah 68,56 5,87 25,57 100,00
5. Tapanuli Utara 82,30 2,27 15,43 100,00
6. Toba Samosir 85,95 0,85 13,20 100,00
7. Labuhan Batu 73,21 3,23 23,56 100,00
8. A s a h a n 51,33 13,88 34,79 100,00
9. Simalungun 62,10 9,74 28,16 100,00
10. D a i r i 83,50 1,33 15,17 100,00
11 .K a r o 80,72 1,40 17,97 100,00
12. Deli Serdang 27,16 29,17 43,67 100,00
13. L a n g k a t 61,68 13,66 24,66 100,00
14. Nias Selatan 1) - - -
15. Humbang Hasundutan1) - - - -
16. Pakpak Bharat1) - - - -
17. Samosir1) - - - -
18. Serdang Bedagai1) - - - -
Kota
19. Sibolga 26,94 10,07 62,99 100,00
20. Tanjung Balai 22,65 12,88 64,47 100,00
21. Pematang Siantar 3,41 16,02 80,57 100,00
22. Tebing Tinggi 3,41 19,71 76,88 100,00
23. Medan 3,86 23,40 72,74 100,00
24. Binjai 13,01 22,80 64,19 100,00
25. Padang Sidempuan 18,73 13,35 67,92 100,00
Sumatera Utara 51,60 13,05 35,35 100,00
Sumber : BPS-Survey Sosial Ekonomi Nasional 2004
Catatan: 1) Masih bergabung dengan Kabupaten Induk (Nias, Taput, Dairi, Tobasa dan Deli Serdang Tapsel)
Tabel 4.20
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama 2004-2005
Lapangan Pekerjaan Utama 2004 2005
1. Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan, Peternakan
56,03 51.60
2. Pertambangan dan Penggalian 0,33 0,62
3. Industri Pengolahan 6,00 8,07
4. Listrik, Gas dan Air 0,30 0,25
5. Bangunan 3,56 4,11
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 16,69 17,18
7. Pengangkutan dan Komunikasi 5,77 6,28
8. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 0,98 1,00
9. Jasa Kemasyarakatan 10,24 10,78
10. Lainnya 0,09 0,11
Jumlah 100,00 100,00
Sumber: BPS-Survey Sosial Ekonomi Nasional 20043-2005
Persentase angkatan kerja yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama menunjukkan bahwa lebih dari separunya (51,60%) bekerja pada Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan, Peternakan, keadaan ini lebih kecil jika dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya yaitu 56,03 %. Di samping sektor Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan, Peternakan, persentase yang bekerja di bidang Perdagangan, Hotel dan Restoran mencapai 17,18 % dan jasa kemasyarakatan sebesar 10,78 persen.
Sedangkan persentas terkecil adalah mereka yang bekerja pada bidang Pertambangan dan Penggalian (0,62 %), dean Listrik, Gas dan Air (0,30 %).