• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH JUSTICIA SAVIHA MAWARNI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH JUSTICIA SAVIHA MAWARNI"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH RETURN ON INVESMENT (ROI), EARNING PER SHARE (EPS), INFLASI, NILAI TUKAR, PRICE TO BOOK VALUE (PBV)

TERHADAP HARGA SAHAM DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

PERIODE 2017 – 2019

OLEH

JUSTICIA SAVIHA MAWARNI 160503155

PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

PENGARUH RETURN ON INVESMENT (ROI), EARNING PER SHARE (EPS), INFLASI, NILAI TUKAR, PRICE TO BOOK VALUE (PBV)

TERHADAP HARGA SAHAM DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

PERIODE 2017 – 2019

Penelitian ini bertujuan untuk menujukkan pengaruh variabel Return On Investent, Earning Per share, Inflasi, Nilai Tukar, Price To Book Value terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Populasi dari penelitian ini sebanyak 39 perusahaan,dengan mengakses laporan keuangan dan laporan auditor melalui situs Bursa Efek Indonesia. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Purposive Sampling, sehingga diperoleh 20 perusahaan sampel untuk 3 tahun pengamatan (2017-2019) dengan 60 unit analisi.

Metode analisis data yang digunakan adalah metode regresi analitik.

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan metode regresi logistic dengan software SPSS 17, diketahui Return On Investment, Earning Per Share, Inflasi, Nilai Tukar, PBV secara bersama-sama atau simultan mampu mempengaruhi harga saham sebesar 68%, sisanya sebesar 32%. Akan tetapi Inflasi berpengaruh terhadap harga saham namun tidak signifikan dengan tingkat signifikansi 0,05.

Kata kunci: Return On Investment, Earning Per share, Inflasi, Nilai Tukar, Price To Book Value, Harga Saham

(7)

ABSTRACT

EFFECT OF RETURN ON INVESMENT (ROI), EARNING PER SHARE (EPS), INFLATION, EXCHANGE RATE, PRICE TO BOOK VALUE (PBV) AGAINST

SHARE PRICES IN BANKING COMPANIES REGISTERED ON THE INDONESIA STOCK EXCHANGE (IDX) PERIOD 2017 – 2019

This study aims to show the influence of the variable Return On Investent, Earning Per share, Inflation, Exchange Rate, Price To Book Value on stock prices in banking companies listed on the IDX. The population of this study were 39 companies, by accessing financial reports and auditors' reports through the Indonesia Stock Exchange website. The sampling method used was purposive sampling method, in order to obtain 20 sample companies for 3 years of observation (2017-2019) with 60 units of analysis. The data analysis method used is the analytical regression method.

Based on the results of data processing using the logistic regression method with SPSS 17 software, it is known that Return On Investment, Earning Per Share, Inflation, Exchange Rate, PBV together or simultaneously are able to influence stock prices by 68%, the remaining 32%. However, inflation has an effect on stock prices but not significant with a significance level of 0.05.

Keywords: Return On Investment, Earning Per Share, Inflation, Exchange Rate, Price To Book Value, Stock Price

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji, syukur, dan hormat kepada Allah SWT yang Maha Kuasa atas kasih dan karuniaNya yang telah memampukan penulis untuk meyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu.

Adapun skripsi ini berjudul “Pengaruh Return On Investment (ROI), Earning per Share(EPS), Inflasi, Nilai Tukar, dan Price to book value (PBV) terhadap Harga Saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2017-2019 Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan, bantuan, serta dukungan dan doa dari banyak pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis.

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak.,CPA, CA. selaku Ketua Departemen / Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Mutia Ismail M,M, ak. selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu dan memberikan bimbingan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

(9)

4. Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak.,CPA, CA selaku dosen penguji penulis, dan Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si., Ak., CA selaku dosen pembanding penulis yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Orangtua penulis yang tersayang. Papa Dan Umi. Adik penulis juga yaitu Sasha.

Terima kasih atas segala kasih sayang melalui doa, perhatian, dukungan, dan pengorbanan yang selama ini telah diberikan.

6. Orang-orang terdekat penulis, Redy , Arnila, Felisa, Saniya, Pani, Ayu, genk baper, ck susah, dan genk ular yang tersayang. Terima kasih untuk segala partisipasi, doa, dukungan, semangat, dan hiburan untuk penulis tetap semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Meskipun sebenarnya penulis yang banyak menghibur dan menyayangi kalian.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan penulis. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap agar skripsi bermanfaat bagi pembaca.

Medan, 16 November 2020 Penulis,

(10)

ii DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

BAB II LANDASAN TEORI .. ... 11

2.1 Dow Theory……... . 11

2.2 Harga Saham... ... 11

2.2.1 Pengertian Saham ... 11

2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham ... 11

2.2.3 Pengertian Saham ... 13

2.2.4 Jenis Saham ... 13

2.3 Bursa Efek Indonesia... ... 15

2.3.1 Pengertian Bursa Efek Indonesia ... 15

2.4 Return on Investment (ROI)... ... 16

2.4.1 Pengertian Return on Investment (ROI) ... 16

2.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ROI ... 16

2.4.3 Kelemahan dan Kelebihan ROI ... 17

2.5 Earnings Per Share (EPS)... ... 20

2.5.1 Pengertian Earnings Per Share (EPS) ... 20

2.5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi EPS ... 20

2.5.3 Kelemahan dan Kelebihan EPS ... 21

2.6 Inflasi... 21

2.6.1 Pengertian Inflasi ... 21

2.6.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi ... 22

2.7 Nilai Tukar... ... 24

2.7.1 Pengertian Nilai Tukar ... 24

2.7.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar ... 24

2.8 Price to Book Value (PBV)... 26

2.8.1 Pengertian Price to Book Value ... 26

2.9 Tinjauan Peneliti Terdahulu ... 26

2.10 Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian... 30

2.10.1 Kerangka Konseptual ... 30

2.10.2 Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

3.1 Jenis Penelitian ... 33

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

3.3 Batasan Operasional ... 33

(11)

iii

3.4 Definisi Operasional Variabel ... 34

3.4.1 Variabel Dependen ... ... 35

3.4.2 Variabel Independen ... .... 35

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 38

3.5.1 Populasi Penelitian ... ... 38

3.5.2 Sampel Penelitian ... ... 40

3.6 Jenis Data dan Sumber Data ... 41

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 41

3.8 Teknik Analisis Data ... 41

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 42

3.8.2 Analisis Regresi Linear Berganda Data Panel ... 42

3.8.3 Uji Asumsi Klasik ... 43

3.8.3.1 Uji Normalitas Data ... 43

3.8.3.2 Uji Multikolinieritas ... 44

3.8.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 44

3.8.3.4 Uji Autokorelasi ... 45

3.8.4 Uji Hipotesis ... 46

3.8.4.1 Uji F (Uji Serempak) ... 46

3.8.4.2 Uji Parsial (Uji T)... 47

3.8.4.3 Uji Koefisien Determinasi... 48

3.9 Prosedur Penelitian... 49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……….... 50

4.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 50

4.2 Uji Asumsi Klasik ... 51

4.2.1 Uji Normalitas Data ... 51

4.2.2 Uji Multikolinieritas ... 52

4.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 53

4.2.4 Uji Autokorelasi ... 54

4.3 Analisis Regresi Linier Berganda ... 54

4.4 Pengujian Hipotesis ... 56

4.4.1 Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji F) ... 56

4.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji T) ... 57

4.4.3 Analisis Koefisien Determinasi... 59

4.5 Pembahasan Penelitian ... 59

4.5.1 Pengaruh Return On Investment (ROI) terhadap harga saham ... 59

4.5.2 Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham ... 60

4.5.3 Pengaruh Inflasi terhadap Harga saham ... 60

4.5.4 Pengaruh Nilai Tukar terhadap Harga saham ... 61

4.5.5 Pengaruh Price To book Value (PBV) terhadap Harga Saham ... 61

BAB V KESIMPULAN……….. 63

5.1 Kesimpulan ... 63

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 65

5.3 Saran………. 65

(12)

iv

DAFTAR PUSTAKA ... 67

(13)

ii

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

Tabel 1.1 Daftar harga saham yang terdapat di Bursa Efek Indonesia ... 6

Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 29

Tabel 3.1 Operasional variabel penelitian ... 35

Tabel 3.2 Populasi dan sampel ... 38

Tabel 3.3 Pengambilan Keputusan Auto Korelasi ... 44

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif ... 50

Tabel 4.2 Uji Normalitas ... 51

Tabel 4.3 Uji multikolineritas ... 53

Tabel 4.4 Uji Autokorelasi ... 54

Tabel 4.5 Analisis Regresi Linear Berganda... 55

Tabel 4.6 Uji pengaruh simultan dengan uji F ... 56

Tabel 4.7 Uji signifikansi pengaruh parsial T ... 57

Tabel 4.8 Koefisien Determinasi... 59

(14)

iii

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

Gambar 1.1 Fenomena ... 7

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 30

Gambar 4.1 Uji Normalitas ... 50

Gambar 4.2 Uji Heteroskedasitas ... 51

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perkembangan perekonomian suatu negara sangat ditentukan oleh kondisi perbankan di negara tersebut. Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Bank merupakan suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (Financial Intermediary ) antara pihak-pihak yang memiliki dana (Surplus unit) dengan pihak –pihak yang memerlukan dana (Deficit Unit) serta sebagai lembaga yang berfungsi mempelancar aliran lalu lintas Pembayaran (Merkusiwati, 2007).

Sebagai lembaga mediasi antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang memerlukan dana, diperlukan bank dengan kinerja keuangan yang sehat, sehingga fungsi intermediasi dapat berjalan lancar (Febryani dan Zulfadin, 2003). Untuk dapat melakukan fungsinya tersebut, maka indikator yang dipergunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank yaitu melalui penilaian faktor capital, Aset Quality, Management, Earning dan Liquidity yang disebut dengan CAMEL, sebagaimana diatur oleh regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan.

Pemain Saham atau investor perlu memiliki sejumlah informasi yang berkaitan dengan dinamika harga saham agar bisa mengambil keputusan tentang saham perusahaan yang layak untuk dipilih. Informasi yang sahih tentang kinerja keuangan perusahaan, manajemen perusahaan, kondisi ekonomi makro, dan informasi relevan lainya diperlukan untuk menilai saham secara akurat (Utami

(16)

2

dan Suharmadi, 2002) menunjukkan bahwa faktor fundamental perusahaan memegang peran penting dalam proses pengambilan keputusan. Penilaian saham secara akurat bisa meminimalkan resiko sekaligus membantu investor mendapatkan keuntungan wajar, mengingat investasi saham dipasar modal merupakan jenis investasi yang berisiko tinggi meskipun menjanjikan keuntungan relatif besar. Investasi di pasar modal sekurang- kurangnya perlu diperhatikan dua hal yaitu: keuntungan yang diharapkan dan resiko yang mungkin terjadi. Ini berarti investasi dalam bentuk saham menjanjikan keuntungan yang besar sekaligus beresiko. Oleh karena itu, perusahaan berusaha berkembang dan menunjukkan kinerja yang lebih baik dimata investor.

Semakin berkembangnya kegiatan pengembangan perusahaan tentunya membutuhkan dana yang cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut tentunya diperlukan usaha untuk mencari tambahan dana berupa Fresh Money untuk disuntikan ke dalam perusahaan sebagai penambah dana yang sedang dijalankan ataupun untuk pengembangan dan perluasan bidang usaha.

Dalam rangka pemenuhan dana tersebut selain mencari pinjaman merger, perusahaan dapat mencari tambahan modal dengan cara mencari pihak lain yang berpartisipasi dalam menanamkan modalnya, hal ini dapat dilakukan dengan penjualan sebagaian saham dalam bentuk efek kepada masyarakat luas. Usaha ini dikenal dengan istilah penawaran umum ( go public ) di pasar modal .

Perusahaan yang go public dapat menjual belikan saham secara luas dipasar sekunder. Harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh demand dan supply antara penjual dan pembeli. Biasanya demand dan supply ini dipengaruhi

(17)

3

baik faktor internal maupun eksternal perusahaan. Faktor internal merupakan faktor yang berhubungan dengan tingkat kinerja perusahaan yang dapat dikendalikan oleh manajemen perusahaan, prospek di masa yang akan datang, rasio utang dan equity. Kedua faktor eksternal yaitu hal-hal diluar kemampuan manajemen perusahaan untuk mengendalikanya, seperti munculnya gejolak politik, perubahan kurs, laju inflasi yang tinggi, tingkat suku bunga deposito dan lain-lain.

Investor yang menanamkan dananya pada saham-saham perusahaan sangat berkepentingan terhadap laba saat ini dan laba yang diharapkan dimasa yang akan datang serta adanya stabilitas laba. Sebelum menanamkan dananya investor melakukan analisis terhadap kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.

Mereka berkepentingan atas informasi yang berhubungan dengan kondisi keuangan yang berdampak pada kemampuan perusahaan untuk membayar dividen untuk menghindari kebangkrutan. Oleh karena itu, investor hanya akan menginvestasikan dananya kepada perusahaan yang mempunyai reputasi baik.

Perusahaan yang mempunyai reputasi baik adalah perusahaan yang mampu memberikan dividen secara konstan kepada pemegang saham. Semakin meningkatnya laba yang diterima perusahaan maka semakin tinggi pula dividen yang membayarkan perusahaan kepada pemegang saham.

Analisa Return On Investment dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting, sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh. Return On Investment merupakan salah satu bentuk dari rasio

(18)

4

profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kekampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut. Sedangkan Earning per share merupakan pendapatan perusahaan dari perlembar saham yang dijual. EPS didapatkan dari pembagian antara laba setelah pajak dengan jumlah lembar saham. Dengan memperlihatkan EPS maka investor dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di pasar modal.

Earning per share (EPS) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham. Alasan peneliti mengambil tingkat earning per share dan return on investment sebagai variabel adalah; Pertama, kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih per lembar saham dan kemampuan perusahaan membagikan dividen merupakan indikator fundamental keuangan perusahaan dengan diwakili oleh rasio return on investment, yang sering kali dipakai sebagai acuan untuk mengambil keputusan investasi dalam saham. Kedua, semakin berkembangnya pasar modal di Indonesia menuju kearah yang efisien dimana semua informasi yang relevan bisa dipakai sebagai memasukan nilai harga saham ketika inflasi mengalami kenaikan harga saham pendapatan biasanya akan menurunkan. Hal ini berarti pula bahwa memiliki saham dengan dividen akan mengalami penurunan harga saham ketika inflasi meningkat. Pada kondisi ini, investor bisa memanfaatkan situasi dengan membeli saham dengan harga murah.

(19)

5

Terdapat tiga variabel dari berbagai variabel pergerakan harga saham yaitu variabel tingkat suku bunga, nilai tukar, dan harga saham. Untuk itu diperlukan penelitian ilmiah dalam rangka menganalisa pengaruh tingkat suku bunga dan nilai tukar terhadap harga saham perbankan menurut Weston dan Brigham (2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham laba per lembar saham, tingkat bunga, jumlah kas deviden yang diberikan, jumlah laba yang di dapat perusahaan, dan tingkat resiko dan pengembalian semakin tinggi tingkat suku bunga maka semakin rendah harga saham, nilai tukar juga mempengaruhi harga saham.

Menurut Tarigan (2007), bahwa nilai tukar berpengaruh positif terhadap harga saham. Semakin tinggi nilai tukar Rupiah terhadap terhadap dolar Amerika (Apresiasi) maka harga saham juga akan meningkat. Untuk membuktikan teori tersebut diatas, dilakukan penelitian ilmiah dengan tahapan perumusan masalah, pengumpulan data, dan analisis data dengan menggunakan uji regresi ganda.

Menurut Tryfino (2009:9), Price To Book Value (PBV) merupakan nilai/harga buku per lembar dari suatu saham yang diterbitkan. Book Value per lembar saham yang diterbitkan pada dasarnya mewakili jumlah asset/ekuitas yang dimiliki perusahaan tersebut.

Menurut Fidiana (2009), nilai buku berperan sebagai penilai kesehatan keuangan serta merefleksi nilai opsi jika pemenang saham melepas kepemilikanya. Nilai buku (Book Value) per lembar saham menunjukan aktiva bersih (Net Assets) yang dimiliki oleh pemegang saham.

(20)

6 Tabel 1.1

Daftar Harga Saham yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

No Nama Perusahaan Kode Harga Saham (Rp)

2017 2018 2019

1 Bank MNC Internasional

Tbk. BABP 51 50 50

2 Bank BTPN Tbk. BTPN 2.460 3.440 3.790

3 Bank MEGA Tbk. MEGA 3.340 4.900 4.830

4 Bank Permata Tbk. BNLI 625 625 1.010

5 Bank Central Asia Tbk. BBCA 21.900 26.000 28.175 6 Bank Danamon Indonesia

Tbk. BDMN 6.950 7.600 9.100

7 Bank Bukopin Tbk. BBKP 590 272 364

8 Bank Mandiri (Persero)

Tbk. BMRI 8.000 7.375 7.450

9 Bank Mayapada

Internasional Tbk. MAYA 3.850 7.025 6.900

10 Bank Qnb Indonesia Tbk. BKSW 240 182 185

11 Bank Mestika Dharma

Tbk. BBMD 1.375 1.380 1.380

12 Bank Maspion Indonesia

Tbk. BMAS 392 368 314

13 Bank BRI Syariah Tbk. BRIS 625 525 560

14 Bank Bumi Arta Tbk. BNBA 268 278 306

15 Bank Sinarmas Tbk. BSIM 880 550 545

16 Bank Panin Dubai Syariah

Tbk. PNBS 65 50 61

17 Bank Oke Indonesia Tbk. DNAR 280 276 306

18 Bank Ganesha Tbk. BGTG 83 82 95

19 Bank Yudha Bhakti Tbk. BBXB 400 284 268

20 Bank Pan Indonesia Tbk. PNBN 1.140 1.145 1.410 Sumber: www.idx.co.id

(21)

7 Gambar 1.1

Berdasarkan gambar tersebut menunjukkan harga saham banyak mengalami fluktuasi dan mengalami penurunan. Hal ini bisa terlihat pada grafik diatas dimana hampir secara keseluruhan setiap tahunnya harga saham berfluktuasi, penurunan saham ini didukung dengan peristiwa yang terjadi di 2019, saham BMRI turun 5,54% ke level Rp 7.250 dan saham BBCA turun 1,05%

ke level Rp 30.500. Berdasarkan data dan berita diatas, sebagian besar saham perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia mengalami fluktuasi. Tidak semua perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat menunjukkan harga saham sesuai dengan keinginan investor para sehingga investor perlu

HARGA SAHAM DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

Harga Saham2019

5000 HargaSaham2018

Harga Saham2017

BTPN PNBN BABP MEGA BNLI BBKP BMRI MAY BKSW BBMD BMAS BRIS BNBA BSIM PNBS DNAR BGTG BBXB BBCA MN

HARGA

(22)

8

selektif dan menganalisis secara mendalam mengenai perbankan tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.

Menurut Ross, Westerfield &Jordan (2009:93), Price Book Value (PBV) merupakan rasio yang akan membandingkan nilai pasar investasi dengan harga perolehannya.

Penelitian ini merupakan replikasi dari beberapa penelitian terdahulu salah satunya adalah penelitian Ulfa (2016) dimana penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi, nilai tukar, dan PBV berpengaruh terhadap harga saham secara simultan EPS dan PBV berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

Penelitian Lira (2013) yang menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham, dan suku bunga berpengaruh positif terhadap harga saham. Penelitian Rizqi (2012) menyatakan bahwa PBV berpengaruh negatif terhadap harga saham dengan hasil penelitian dari Siska Ulfa (2016).

Penelitian Yolanda (2017) menyatakan bahwa Earning per Share berpengaruh secara simultan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini juga menunjukkan kesamaan dengan hasil penelitian Siska ulfa (2016). Penelitian Raden (2013) menyatakan bahwa Inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan inflasi berpengaruh secara simultan terhadap harga saham.

Penelitian Kuasar (2018) menyatakan bahwa nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap harga saham, dan tidak terdapat pengaruh antara inflasi

(23)

9

terhadap harga saham, hasil penelitian ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh signifikan.

Penelitian Suci (2017) menyatakan bahwa inflasi dan nilai tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikembangkan diatas , maka perumusan masalah yang dirumuskan oleh penulis adalah “Apakah Return On Investment, Earning Per Share, Inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar, Price To Book Value berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI pada tahun 2017-2019.”

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Return On Investment, Earning Per Share, inflasi, tingkat suku bunga nilai tukar, Price To Book Value terhadap harga saham pada perusahaan perbankkan yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2017- 2019 baik secara parsial maupun simultan.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat.

Manfaat yang diharapkan tersebut yaitu:

(24)

10

1. Bagi penulis diharapkan penelitian ini dapat menambah dan memperdalam pengetahuan dan wawasan peneliti, khususnya mengenai pengaruh Return On Investment, Earning Per Share, inflasi tingkat suku bunga, nilai tukar, dan Price To Book Value terhadap harga saham.

2. Bagi Akademisi dan penelitian itu, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan dan bahan referensi melakukan Penelitian selanjutnya.

3. Bagi Investor, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk menentukan strategi investasinya.

4. Bagi manajemen perusahaan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan nilai perusahaan di bursa efek.

(25)

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori StakeHolder (stakeholder theory)

Stakeholder adalah semua pihak, internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung (Nor Hadi, 2011:93). Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan memiliki salah satu tanggung jawab kepada stakeholder, dengan melakukan pengungkapan sosial. CSR perusahaan seharusnya melampaui tindakan memaksimalkan laba untuk kepentingan pemegang saham. Namun lebih luas lagi bahwa kesejahteraan yang dapat diciptakan oleh perusahaan sebetulnya tidak terbatas kepada kepentingan pemegang saham saja, tetapi untuk kepentingan stakeholder, yaitu semua pihak yang memiliki keterkaitan atau klaim terhadap perusahaan (untung, 2008). Perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentigan sendiri, namun harus memberikan manfaat bagi para stakeholdernya.

2.2 Harga Saham

2.2.1 Pengertian Harga Saham

Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2012:102) menyebutkan bahwa harga saham adalah sebagai berikut:

“Harga saham merupakan harga yang terjadi di bursa pada waktu tertentu.

Harga saham bisa berubah naik ataupun turun dalam hitungan waktu begitu cepat.

Ia dapat berubah dalam hitungan menit bahkan dapat berubah dalam hitungan

(26)

12

detik. Hal tersebut dimungkinkan karena tergantung dengan permintaan dan penawaran antara pembeli saham dengan penjual saham”.

2.2.2 Faktor yang mempengaruhi harga saham

Menurut Brigham dan Houston (2010:33) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi naik turunnya harga saham yaitu sebagai berikut:

1. Faktor internal

a. Pengumuman tentang pemasaran produksi penjualan seperti pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan, dan laporan penjualan.

b. Pengumuman pendanaan, seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.

c. Pengumuman badan direksi manajemen (Management Board Of Director Announcements) seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen dan struktur organisasi.

d. Pengumuman pengambilalihan diverifikasi seperti laporan merger investasi, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan investigasi dan lainnya.

e. Pengumuman investasi seperti melakukan ekspansi pabrik pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya.

(27)

13

f. Pengumuman ketenagakerjaan (Labour Announcements), seperti negoisasi baru, kontrak baru, pemohon dan lainnya.

g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalaba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal Earning Per Share, Dividen Per Share, Price Earning Ratio, Net Profit Margin, Return On Assets dan lain-lain.

2. Faktor eksternal

a. Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan regulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

b. Pengumuman hukum seperti tuntutan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.

c. Pengumuman industri sekuritas, seperti laporan pertemuan tahunan insider trading, volume atau harga saham perdagangan pembatasan atau penundaan trading.

2.2.3 Pengertian Saham

Saham adalah bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham Tandelilin (2001). Investor memiliki hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan apabila memiliki saham perusahaan setelah dikurangi pembayaran semua kewajiban perusahaan.

Pemegang saham menjadi salah satu pemilik perseroan terbatas dan dapat ikut berpartisipasi dalam modal perusahaan serta mendapatkan dividen jika perusahaan tersebut memperoleh keuntungan.

(28)

14

Saham dikategorikan menjadi dua yaitu saham syariah dan saham non syariah. Perbedaan ini terletak pada kegiatan usaha dan tujuannya.Saham syariah adalah saham-saham yang memiliki karakteristik dan prinsip sesuai dengan syariah Islam. Sedangkan saham non syariah adalah saham yang kegiatan usahanya tidak sesuai dengan prinsip syariah Islam.

2.2.4 Jenis Saham

1) Ditinjau dari segi haknya:

1. Saham biasa (Common Stock)

Saham yang bisa melakukan pengakuan atas laba atau rugi yang diperoleh perusahaan. Apabila terjadi pembubaran perusahaan, maka pemegang saham biasa akan mendapatkan pembagian dividen paling akhir.

2. Saham preferen (Preffered Stock)

Saham preferen merupakan saham yang mampu memberikan bagian hasil atau laba yang tetap dimana jika terjadi kerugian maka prioritas utama dalam pembagian hasil atas penjualan asset tersebut adalah pemiliksaham.

2) Ditinjau dari pengalihannya:

1. Saham atas unjuk (Bearer Stocks)

Saham atas unjuk merupakan saham yang tidak tertulis nama pemiliknya sehingga mudah untuk dipindahtangankan atau dialihkan dari satu investor ke investor lain.

2. Saham atas nama (Registered Stocks)

(29)

15

Saham atas nama merupakan saham yang tertulis dengan jelas siapa nama pemiliknya sehingga ketika akan dialihkan harus melalui prosedur atau tata cara tertentu.

3) Ditinjau dari kemampuan dagang 1. Blue-Chip Stocks

Saham dari suatu perusahaan yang memiliki nama baik tinggi, memiliki keuntungan yang stabil, dan konsisten dalam membayar bagian dari laba yang telah dihasilkannya.

2. Income Stock

Saham dari suatu emiten yang mampu membagikan dividen atau bagian hasil secara tunai dan teratur.

3. Growth Stock

Saham yang memiliki nama baik tinggi dan mempunyai pertumbuhan keuntungan yang tinggi dibandingkan yang lainnya.

4. Speculative Stock

Saham dari suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun.

5. Counter cyclical Stocks

Saham ini merupakan saham yang paling stabil karena tidak mudah terpengaruh oleh situasi atau kondisi bisnis secara umum.

2.3 Bursa Efek Indonesia

2.3.1 Pengertian Bursa Efek Indonesia

(30)

16

Bursa Efek Indonesia merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEI) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Demi efektivitas operasional dan transaksi, pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivative menjadi BEI. Bursa hasil penggabungan Ini mulai beroperasi pada 1 desember 2007. Bursa Efek Indonesia juga memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan perusahaan. Visi Bursa Efek Indonesia adalah untuk menjadi bursa yang kompetitif dengan kreadibilitas tingkat dunia, dengan misi yaitu menyediakan insfrastruktur untuk mendukung terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien serta mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan (stake holders).

2.4 Return On Investment (ROI)

2.4.1 Pengertian Return On Investment (ROI)

Return On Investment (ROI) yaitu pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia di dalam persediaan (Sartono, 2010: 2013). Semakin tinggi rasio ini, semakin baik keadaan suatu perusahaan. Hansen & Mowen (2009) mengemukakan bahwa Return On Investment (ROI) adalah alat ukur yang sangat umum digunakan untuk mengukur kinerja pusat investasi. ROI lebih baik daripada earnings karena laba dari kegiatan operasi perusahaan saja yang dipertimbangkan. ROI merupakan salah satu indikator keungan terpenting dari perusahaan. Ada berbagai studi teoritis yang mencoba untuk mengungkapkan faktor penentu ROI yang berbeda yang mencakup banyak faktor seperti

(31)

17

produktivitas tenaga kerja, rasio debit, laba kotor, untuk penjualan bersih, total investasi, perputaran investasi, dan total perputaran omset. Namun, signifikansi dampak dari faktor-faktor ini pada ROI tergantung pada beberapa variabel kontrol seperti faktor demografi, risiko, dan karakteristik perusahaan (Mahmoud dan Amir, 2014).

2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi ROI

ROI dipengaruhi oleh 2 faktor, sebagai berikut (Lumbanraja, 2014:18):

1. Tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan.

2. Profit Margin dan besar keuntungan operasi yang dinyatakan dalam persentase dan jumlah penjualan bersih.

Efek dari kedua faktor tersebut adalah ROI berubah apabila terdapat perubahan pada Profit Margin atau Asset Turnover. ROI naik ketika Profit Margin naik, dengan cara efisiensi sektor produksi, penjualan dan lain-lain. ROI naik ketika Asset Turnover juga besar dengan cara manajemen dalam membuat kebijaksanaan investasi data dalam aktiva.

1. Analisis ROI dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh divisi atau bagian yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan. Artinya penting Rate Of Return pada tingkat bagian adalah untuk dapat membandingkan efisiensi suatu bagian dengan bagian yang lain didalam perusahaan bersangkutan.

2. Analisa ROI digunakan untuk pengukuran profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menggunakan “Product Cost System” , modal dan biaya dapat dialokasikan kepada berbagai produk

(32)

18

yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan sehingga akan dapat dihitung profitabilitasnya dari masing-masing produk.

3. ROI berguna untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk perencanaan.

Misalnya ROI digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan kalau perusahaan akan mengadakan eskpansi.

Disamping kegunaan dari analisis ROI terdapat kelemahan-kelemahan ROI yaitu sebagai berikut:

1. Salah satu kelemahan yang prinsipil ialah kesukaran dalam membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis, mengingat bahwa pokok praktek akuntansi yang digunakan masing-masing perusahaan tersebut adalah berbeda-beda. Perbedaan metode dalam penilaian berbagai aktiva antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain.

Perbandingan tersebut akan memberikan gambaran yang salah.

2. Fluktuasi nilai dari uang (daya beli) suatu mesin atau perlengkapan tertentu yang dibeli dalam keadaan inflasi dan hal ini akan berpengaruh dalam menghitung investment dan profit margin.

3. Analisa ROI tidak dapat digunakan untuk mengadakan perbandingan antara dua perusahaan atau lebih. ROI diperoleh dari dua rasio yang masing-masing mengandung unsur penjualan dimana penganalisa tidak mengetahui sebab terjadinya perubahan dalam penjualan tersebut.

4. ROI tidak dapat menunjukkan atau memberikan gambaran struktur modal maupun perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur modal (debt equity) yang digunakan untuk membiayai aktiva tersebut.

(33)

19 2.5 Earning per share (EPS)

2.5.1 Pengertian Earning per share (EPS)

Earning per share (EPS) adalah rasio antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham (Darmadji dan Fakhrudin, 2012:154).Earning per share (EPS) merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan. Menurut Samsul (2006: 167), membeli saham berarti membeli prospek perusahaan, itu tercermin pada laba perusahaan. Ukuran absolut dari pendapatan perusahaan tidak dapat menunjukkan kinerja keuangan yang sebenarrnya. Oleh karena itu para pemegang saham lebih tertarik dengan perubahan pendapatan relatif terhadap faktor lain (Cudia dan Manaligod, 2011). Rasio EPS adalah Ukuran rasio yang sangat penting karena mampu menganalisis sejarah kinerja operasional perusahaan dan dapat membantu membentuk opini mengenai potensi perusahaan dimasa depan. Informasi Earning per share (EPS) suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada seluruh pemegang saham perusahaan. Apabila EPS perusahaan tinggi, maka akan semakin banyak investor yang ingin membeli saham tersebut sehingga menyebabkan saham menjadi tinggi.

(34)

20

2.5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Earning per Share (EPS)

Berdasarkan penelitian Wulandari (2012) dalam Lumbanraja (2013: 24), faktor yang menyebabkan naik turunnya EPS adalah pada saat keadaan:

1. Laba bersih naik dan jumlah lembar saham turun.

2. Laba bersih naik dan jumlah lembar saham tetap.

3. Laba bersih tetap dan jumlah lembar saham turun.

4. Persentase penurunan jumlah lembar saham lebih besar dibandingkandengan persentase penurunan laba bersih.

5. Persentase kenaikan laba bersih dibandingkan dengan persentase kenaikan jumlah saham turun.

Keadaan tersebut menunjukkan EPS yang meningkat, sedangkan untuk penggambaran EPS yang mengalami penurunan adalah pada saat keadaan yang sebaliknya.

2.5.3 Kelebihan dan Kelemahan Earning per Share (EPS)

Earning per share (EPS) dianggap informasi yang paling mendasar dan mudah untuk diketahui dan mampu menggambarkan prospek perusahaan dimasa depan. Namun, EPS bisa menjadi informasi yang menjebak apabila tidak dihubungkan dengan pengkajian dan analisis laporan laba rugi.

(35)

21 2.6 Inflasi

2.6.1 Pengertian Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga secara umum, atau inflasi dapat juga dikatakan sebagai penurunan daya beli uang. Makin tinggi kenaikan harga makin turun nilai uang.Definisi diatas memberikan makna bahwa, kenaikan harga barang tertentu atau kenaikan harga panen yang gagal misalnya, tidak termasuk inflasi.

Ukuran inflasi yang paling banyak digunakan adalah: “Consumer price indeks”

atau “Cost of living indeks”. Indeks ini berdasarkan pada harga dari satu paket barang yang dipilih dan mewakili pola pengeluaran konsumen. Menurut Sukiwaty (2009) Inflasi merupakan proses suatu kejadian dan bukan tinggi rendahnya tingkat harga. Sehingga, jangan menganggap kalau tingkat harga tinggi itu berarti inflasi tinggi. Inflasi terjadi kalau proses kenaikan harga yang terus menerus dan saling pengaruh mempengaruhi.

2.6.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi Faktor-faktor yang mempengaruhi Inflasi:

1. Jumlah uang beredar (JUB)

Jumlah uang yang beredar nilai keseluruhan uang yang beredar ditangan masyarakat. Jumlah uang yang beredar ditangan masyarakat. Jumlah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) adalah jumlah uang beredar yang terdiri dari uang kartal dan uang giral. Ramadja dan Manurung (2008).

2. Pengeluaran pemerintah

Pemerintah mutlak diperlukan didalam setiap bentuk atau sistem perekonomian yaitu tidak hanya menyediakan barang-barang publik,

(36)

22

melainkan juga untuk mengalokasikan barang-barang produksi maupun barang konsumsi, memperbaki distribusi pendapatan, memelihara stabilitas nasional termasuk stabilitas ekonomi serta mempercepat pertumbuhan ekonomi. Khusus bagi negara yang berkembang kegiatan pemerintah pada umumnya selalu meningkat, karena pemerintah pada umumnya selalu meningkat, karena pemerintah bertindak sebagai pelopor dan pengendali pembangunan (Suparmoko, 2003).

3. Pengeluaran konsumsi masyarakat adalah pengeluaran konsumsi oleh rumah tangga dan perorangan serta lembaga swasta. Konsumsi masyarakat meliputi konsumsi barang dan jasa yang langsung dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Salah satu peristiwa modern yang sangat penting dan yang selalu dijumpai dihampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan harga – harga untuk menaik secara umum dan terus menerus (Mankiw, 2006: 145). Proses inflasi merupakan proses perebutan bagian rejeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat. Proses perebutan ini yang kemudian mengakibatkan permintaan masyarakat akan melebihi jumlah barang yang tersedia, sehingga menimbulkan inflationary gap. Dengan adanya inflationary gap tersebut maka akan mengakibatkan harga barang dan jasa naik, sehingga dapat mempengaruhi laju inflasi (Boediono, 1998).

Penanaman modal merupakan langkah awal kegiataan produksi. Dengan posisi semacam itu, investasi pada hakekatnya juga merupakan langkah awal

(37)

23

kegiatan pembangunan ekonomi. Dinamika penanaman modal mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi, mencerminkan marak lesunya pembangunan. Dalam upaya menumbuhkan perekonomian, setiap negara senantiasa berusaha menciptakan iklim yang dapat menggairahkan investasi.

Sasaran yang dituju bukan hanya masyarakat atau kalangan swasta dalam negeri, tapi juga investor asing. Demikian pula halnya Indonesia.

2.7 Nilai Tukar

2.7.1 Pengertian Nilai Tukar

Menurut Sukirno (2011;397) nilai tukar adalah: nilai tukar mata uang (exchange rate) atau sering disebut kurs merupakan harga mata uang terhadap mata uang lainnya. Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka mengingat pengaruh yang demikian besar bagi neraca transaksi berjalan maupun variabel-variabel makro ekonomi yang lainnya.

2.7.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Nilai Tukar

Menurut Sukirno (2011:402) faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar yaitu:

1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat

Cita rasa masyarakat mempengaruhi corak konsumsi mereka. Maka perubahan cita rasamasyarakat akan mengubah corak konsumsi mereka ke atas barang- barang yang diproduksi didalam negeri maupun yang diimpor. Perbaikan kualitas barang-barang dalam negeri menyebabkan keinginan mengimpor berkurang dan ia dapat pula menaikkan ekspor. Sedangkan perbaikan kualitas barang-barang impor menyebabkan keinginan masyarakat untuk mengimpor

(38)

24

bertambah besar. Perubahan-perubahan ini akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing.

2. Perubahan harga barang ekspor dan impor

Harga sesuatu barang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan apakah sesuatu barang akan diimpor ataupun diekspor. Barang-barang dalam negeri dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan menaikkan ekspor dan apabila harganya naik maka ekspornya akan berkurang. Pengurangan harga barang impor akan menambah jumlah impor. Dengan demikian perubahan harga barang ekspor dan impor akan menyebabkan perubahan dalam penawaran dan permintaan keatas mata uang Negara tersebut.

3. Kenaikan harga umum (inflasi)

Inflasi sangat besar pengaruhnya kepada kurs pertukaran valuta asing. Inflasi yang berlaku pada umumnya cenderung untuk menurunkan nilai sesuatu valuta asing, kecenderungan seperti ini wujud disebabkan efek inflasi yang berikut: Inflasi menyebabkan harga-harga di dalam negeri lebih mahal dari harga-harga di luar negeri dan oleh sebab itu inflasi berkecenderungan menambah impor Inflasi menyebabkan harga-harga barang ekspor menjadi lebih mahal, oleh karena itu inflasi berkecenderungan mengurangi ekspor.

4. Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian invetasi

Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi sangat penting peranannya dalam mempengaruhi aliran modal. Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang rendah cenderung akan menyebabkan modal luar negeri masuk ke Negara itu. Apabila lebih banyak modal mengalir sesuatu negara,

(39)

25

permintaan keatas mata uang sesuatu negara akan merosot apabila lebih banyak modal negara dialirkan keluar negeri karena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi di negara- negara lain.

5. Pertumbuhan Ekonomi

Efek yang akan diakibatkan oleh sesuatu kemajuan ekonomi kepada nilai mata uangnya tergantung kepada corak pertumbuhan eknomi yang berlaku apabila kemajuan ini terutama diakibatkan oleh perkembangan ekspor. Maka pemerintah ke atas mata uang negara itu bertambah lebih cepat dari penawarannya dan oleh karenanya nilai mata uang negara itu naik. Akan tetapi, apabila kemajuan tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat dari ekspor, penawaran mata uang negara itu lebih cepat bertambah dari permintaannya dan oleh karenanya nilai mata uang negara tersebut akan merosot.

2.8 Price to Book Value

2.8.1 Pengertian Price to Book Value

Menurut Tryfino (2009) Price to Book Value (PBV) adalah perhitungan atau perbandingan antara market value dengan book value suatu saham. Rasio ini berfungsi untuk melengkapi analisis book value. Jika pada analisis book value, investor hanya mengetahui kapasitas per lembar dari nilai saham, pada rasio PBV investor dapat mengetahui langsung sudah berapa kali market value suatu saham dihargai dari book valuenya.

(40)

26

Semakin tinggi PBV suatu perusahaan menggambarkan pasar percaya akan prospek perusahaan. PBV yang tinggi dapat mencerminkan tingkat kemakmuran para pemegang saham. Dengan kata lain, saham berbanding lurus dengan PBV. Jika perusahaan ingin meningkatkan PBV, hendaknya perusahaan dapat meningkatkan harga saham.

2.9 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Dengan variabel independen yaitu inflasi , nilai tukar , CR , DER , EPS DAN PBV dimana hasil penelitian secara simultan inflasi,nilai tukar, CR,DER DAN PBV berpengaruh signifikan terhadap harga saham dan secara parsial menunjukan bahwa variabel Earning per share (EPS) dan Price to book value (PBV) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

Lira (2013) dalam judul penelitiannya “pengaruh inflasi, suku bunga, Book Value (BV) terhadap harga saham perusahaan Indeks LQ45 yang terdaftar di BEI pada tahun 2008-2011” dengan variabel independent nilai buku (Book Value), suku bunga ,inflasi. Dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Suku bunga berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham .Book value berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham.

Rizqi (2012) dalam judul penelitiannya “pengaruh Price Earning Ratio (PER), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Price to Book Value (PBV), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2008-2010”. Dimana hasil

(41)

27

penelitian terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen Price to Earning Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Asset( ROA), Price to book value (PBV) dan Net Profit Margin (NPM) terhadap Harga Saham. Dimana Debt Equity Ratio (DER), Return on Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham dan price to book value (PBV) berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham.

Yolanda (2017) dengan judul penelitiannya “Pengaruh Earning Per Share terhadap harga saham pada bank return syariah dengan variabel independen yaitu earning per share (EPS) . Hasil penelitian menunjukkan bahwa earning per share (EPS) secara simultan berpengaruh terhadap harga saham

Raden (2013) dengan judul penelitian “Pengaruh inflasi dan kurs rupiah terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2012. Dengan variabel independennya yaitu inflasi dan kurs rupiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham dan kurs berpengaruh negatif terhadap harga saham. Inflasi dan kurs berpengaruh terhadap harga saham secara simultan.

Kausar (2018) dengan judul penelitiannya “Pengaruh nilai tukar dan inflasi terhadap harga saham di Jakarta Islamic Index (JII)”. Dengan variabel independen yaitu nilai tukar dan inflasi dan hasil penelitiannya menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara nilai tukar terhadap harga saham. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara inflasi terhadap harga saham.

(42)

28

Suci (2017) dengan judul penelitiannya “ Pengaruh inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap harga saham di sektor industri barang konsumsi pada indeks saham syariah Indonesia (ISSI) tahun 2012-2016”. Dengan variabel independen yaitu inflasi dan nilai tukar dengan hasil penelitian menunjukan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham dan nilai tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

No Peneliti (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Rizqi (2012) Variabel Independen:

Price Earning Ratio, Debt Equity Ratio, Return on asset, Price to Book Value, Net Profit Margin

Variabel Dependen:

Harga Saham

PER, DER, ROA, NPM terdapat pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, sedangkan PBV berpengaruh negatif terhadap harga saham

2 Lira (2013) Variabel Independen:

Nilai buku (book value), Suku bunga, Inflasi Variabel Dependen:

Harga Saham

Inflasi dan book value (BV) berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham, sedangkan Suku bunga berpengaruh positif terhadap harga saham.

3 Raden (2013) Variabel Independen:

Inflasi dan Kurs Rupiah Variabel Dependen:

Harga Saham

Inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham dan kurs berpengaruh negative terhadap harga saham

4 Siska ulfia (2016) Variabel Independen:

inflasi, nilai tukar, debt equity ratio (DER), earning per share (EPS), price to book value (PBV), current ratio (CR) Variabel Dependen:

Harga Saham

Inflasi ,nilai tukar , CR,DER, dan PBV berpengaruh terhadap harga saham secara simultan

Secara parsial EPS dan PBV berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.

5 Suci Yolanda (2017) Variabel Independen:

earning per share (EPS)

Variabel Dependen:

Harga Saham

Earning per share berpengaruh secara simultan terhadap harga saham

(43)

29

6 Kuasar (2018) Variabel Independen:

inflasi, nilai tukar

Variabel Dependen:

Harga Saham

Nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap harga saham

Tidak terdapat pengaruh antara inflasi

2.10 Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian

2.10.1 Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan teoritis yang telah diuraikan sebelumnya, maka kerangka berpikir penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual menurut Sugiyono (2014) adalah suatu hubungan yang akan menghubungkan secara teoris antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen dengan variabel dependen yang akan diamati melalui penelitian yang akan dilaksanakan.

Return on investment (X1)

Earning Per Share (X2)

Inflasi (X3)

(X1)

Harga Saham (Y) H1

H4

H3

H2

Nilai Tukar (X4)

H5

H6

Price to Book Value (X5)

(X1)

(44)

30

Dalam penelitian ini, variabel independen atau variabel bebas yang digunakan adalah Return On Investment (ROI), Eaning Per share (EPS), Inflasi, dan Price to Book Value. Sebagai variabel dependen yaitu Harga Saham.

Perubahan atas ROI dapat mempengaruhi perubahan Harga saham. Jika ROI tinggi maka harga saham akan tinggi.

Jika EPS semakin besar maka akan dapat mempengaruhi harga saham menjadi naik. Ketika inflasi mengalami kenaikan harga saham pendapatan biasanya akan menurun, hal ini berarti pula bahwa memiliki saham dengan dividen akan mengalami penurunan harga saham ketika inflasi meningkat.

Pada kondisi investor bisa memanfaatkan situasi dengan membeli saham dengan harga murah, secara histori, ketika suku bunga cenderung naik harga saham justru cenderung turun, maka harga saham cenderung naik maka laba bersih perusahaan diperkirakan turun karena naiknya beban bunga dan sebaliknya nilai tukar berpengaruh positif terhadap harga saham namun tidak signifikan.

Pergerakan harga saham dipengaruhi oleh besarnya demand dan supply, dimana demand dan supply ini depengaruhi oleh harapan atas kinerja keuangan perusahaan tersebut . Sehingga bisa saja terjadi sebuah saham memiliki PBV rendah namun harganya tidak naik karena kemungkinan investor memiliki harapan di masa depan kinerja keuangan perusahaan tersebut tidak sebaik massa lalu, atau kemungkinan kedua masih sedikit investor yang sadar bahwa saham tersebut saat ini memiliki PBV rendah.

(45)

31 2.10.2 Hipotesis Penelitian

Menurut Sugiyono (2007) hipotesis penelitian adalah: “penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif”. Sesuai dengan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan harus diuji secara empiris.

Berdasarkan kerangka konseptual di atas maka penulis mencoba merumuskan hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara dari penelitian sebagai berikut:

H1: Pengaruh Return On Investment terhadap harga saham

ROI berpengaruh positif terhadap harga saham. Return on Investment menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Peningkatan laba ini memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja keuangan suatu perusahaan dalam pencapaian tujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan yang akan direspon secara positif oleh investor sehingga permintaan saham perusahaan dapat meningkat dan dapat menaikan harga saham perusahaan.

(46)

32

H2: Pengaruh Earning Per Share terhadap harga saham

EPS berpengaruh positif terhadap harga saham. EPS merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham. Dan EPS merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan. Jika EPS mengalami peningkatan maka Harga saham juga akan meningkat.

H3: Pengaruh Inflasi terhadap Harga Saham

Inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham. Inflasi merupakan kenaikan harga secara umum atau jumlah uang yang beredar banyak.

Jika inflasi tinggi, maka harga saham akan mengalami penurunan karena adanya dorongan harga-harga meningkat sehingga daya beli investor pun akan menurun. Begitu juga sebaliknya, jika inflasi rendah, maka harga saham akan mengalami peningkatan karena daya beli investor yang tinggi sehingga permintaan terhadap saham meningkat dan mendorong pergerakan harga saham untuk naik.

H4: Pengaruh Nilai Tukar terhadap harga saham

Nilai tukar berpengaruh positif terhadap harga saham. Nilai tukar merupakan harga mata uang terhadap mata uang lainnya. apabila nilai tukar mengalami kenaikan maka otomatis nilai uang juga akan mengalami kenaikan sehingga membuat orang-orang tertarik untuk menanamkan saham dipasar modal dengan begitu harga saham juga akan cenderung meningkat.

(47)

33

H5: Pengaruh Price To Book Value terhadap harga saham.

PBV berpengaruh positif terhadap harga saham. PBV merupakan variabel yang menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku suatu saham. Semakin besar rasio ini menggambarkan kepercayaan pasar akan prospek keuangan perusahaan tersebut dan harga saham cenderung berpengaruh positif.

H6: Pengaruh Return On Investment, Earning Per Share, Inflasi, Nilai Tukar, dan Price To Book Value terhadap Harga Saham pada perusahaan perbankan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia pada periode 2017-2019 secara simultan.

(48)

34

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah asosiatif kausal. Penelitian asosiatif kausal adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003: 30). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.

Variabel return on investment (ROI), earning per share (EPS), inflasi, nilai tukar, tingkat suku bunga, price to book value (PBV) terhadap harga saham.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di website resmi masing-masing perusahaan pertambangan, website resmi Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan mengakses website: www.idx.co.id dan www.finance.yahoo.com. Waktu penelitian ini adalah Januari 2020 hingga Februari 2020.

3.3 Batasan Operasional

Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam penelitian serta untuk membatasi peneliti agar lebih fokus dalam melakukan penelitian, maka peneliti membuat batasan operasional. Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2017 sampai tahun 2019.

(49)

35

2. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independent variabel) yang terdiri dari return on investment, earning per share, inflasi, tingkat suku bunga, nilai tukar, price to book value dan variabel terikat (dependent variabel) yaitu harga saham.

3. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017- 2019.

3.4 Definisi Operasional

Definisi operasional menjelaskan mengenai definisi variabel-variabel yang akan digunakan, baik variabel dependen maupun variabel independen. Sehingga nantinya tidak menghasilkan data yang bias yang bisa membuat interpretasi data yang bisa (Bawono, 2006:27). Operasional variabel ini diperlukan untuk menentukan jenis dan indikator dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini. Selain itu dimaksudkan juga untuk menentukan skala pengukuran dari masing-masing variabel sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat digunakan secara benar.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel penelitian, yaitu lima variabel dependen (terikat) dan satu variabel independen (bebas). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah return saham. Sedangkan variabel independen meliputi return on investment, earning per share, inflasi, nilai tukar , price to book value.

(50)

36 3.4.1 Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Menurut Erlina (2008:33) Variabel dependen adalah variabel terikat atauvariabel tidak bebas, menjadi perhatian utama dalam sebuah pengamatan.

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga saham. Menurut Ang (dalam Ricky Setiawan, 2011) harga saham adalah nilai saham yang ditentukan oleh kekuatan jual beli saham pada mekanisme pasar tertentu dan juga merupakan harga jual dan dari investor yang satu ke investor yang lainnya.

Harga saham = Harga Penutupan akuntansi

3.4.2 Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen merupakan variabel yang memengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2009).

Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel independen adalah sebagai berikut : 1. Return on Investment (ROI)

Return on investment adalah laba atas investasi yangjelas dihitung berdasarkan hasil pembagian dari pendapatan yang dihasilkan dengan besaran modal yang ditanam. Artinya ROI berperan penting guna memberikan informasi mengenai ukurran profitabilitas bisnis dengan jelas sehingga segala kegiatan operasional dapat dievaluasi tingkat pengembalian investasinya.

ROI = Laba Setelah Pajak

Total Aset x 100

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dimulai dengan sintesis konjugat 198 AuNp- PAMAM G4-nimotuzumab dan kemudian dilakukan uji klirens serta analisa hasil urin dan feses tikus yang telah

Badan usaha yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjalankanc. usaha/kegiatan sebagai penyedia

Majd egy olyan képet festettem, amin két kislány áll virágmintás ruhában, egy vonalakkal, négyzetrácsos raszteren megrajzolt (paradicsomot szimbolizáló) kert el ő tt (2003-

Penelitian ini bertujuan ini bertujuan untuk mengakaji implementasi kebijakan pengelolaan inventaris barang bergrak milik daerah di lingkungan Pemerintah Kota

Selain penjualan melalui distributor perusahaan akan melakukan penjualan langsung ke projek projek perumahan Selain penjualan melalui distributor, perusahaan akan melakukan

Tabel 4.8 Perbandingan Peak yang Dihasilkan dari Pengujian XRD dengan Database Quartz low dan Cristobalite pada JCPDS-ICDD

Pengamatan lapangan dilakukan untuk mengetahui proses penguasaan dan pemilikan tanah timbul oleh penggarap di pesisir Laut Patimban, kendala yang dihadapi para penggarap dan solusi

Saran dari penulis yaitu sebaiknya pihak SMP N 9 Bandar Lampung bisa terus menjalankan layanan modeling, agar siswa bisa mencontoh tingkah laku baru dari model yang