• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Jakarta, 2 Juni 2022 Kepala. Afrizon Tanjung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Jakarta, 2 Juni 2022 Kepala. Afrizon Tanjung"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Pedoman Umum Program dan Kegiatan di lingkungan Pusdiklatbangprof Kementerian Sosial RI sesuai dengan Keputusan Menteri Sosial nomor 01 tahun 2022 tentang Organisasi Tata Kerja Kementerian Sosial.

Pedoman Umum ini disusun untuk menjadi acuan dalam rangka Pelaksanaan Program dan Kegiatan di lingkungan Pusdiklatbangrof beserta Satuan Kerja di lingkungan Pusdiklatbangprof yang meliputi program Pendidikan, Pelatiham dan Pengembangan Profesi.

Dalam penyusunan Pedoman Umum ini kami berupaya memetakan seluruh program dan kegiatan Pusdiklatbangprof mulai dari jenis kegaitan, tujuan, dan sasaran yang akan dicapai.

Kami telah berupaya menyusun Pedoman Umum ini dengan sebaik-baiknya, namun demikian disadari dalam penyusunan ini tentunya masih didapatkan kekurangan, untuk itu mohon kritik dan saran guna perbaikan pada masa yang akan datang. Semoga Pedoman Umum ini bermanfaat dan menjadi bahan m dalam meningkatkan kinerja di masa mendatang.

Jakarta, 2 Juni 2022 Kepala

Afrizon Tanjung

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 4

B. DASAR HUKUM 6

C. TUJUAN 7

D. RUANG LINGKUP 8

E. PENGERTIAN 8

BAB II PROGRAM DAN KEGIATAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN FORMAL (POLTEKKESOS)

A. TUGAS BELAJAR 10

B. IZIN BELAJAR 11

BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN PELATIHAN

A. PELATIHAN ASN 13

B. PELATIHAN NON ASN 14

C. PELATIHAN MASYARAKAT (PPKS) 14

BAB IV BIDANG PENGEMBANGAN PROFESI

A. JABATAN FUNGSIONAL PEKERJA SOSIAL 16

B. JABATAN FUNGSIONAL PENYULUH SOSIAL 20

C. JABATAN FUNGSIONAL LAINNYA 25

BAB V PENUTUP 28

(4)

PEDOMAN UMUM

PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI PUSAT PENDIDIKAN, PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI

KEMENTERIAN SOSIAL RI

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai negara, peranan negara dan pemerintah bergeser dari peran sebagai pemerintah (government) menjadi kepemerintahan (governance). Pergeseran peran tersebut cenderung menggeser paradigma klasik yang serba negara menuju paradigma yang lebih memberikan peran kepada masyarakat dan swasta. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 disebutkan bahwa dalam paradigma kepemerintahan yang baik (good governance) terdapat prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektivitas, dan supremasi hukum (Suhady, Idup, & Desi Fernanda, 2001). Dalam bahasa yang lebih sederhana, terdapat tiga prinsip utama dalam kepemerintahan yang baik yaitu: partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas (Simanjuntak, 2005).

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Pusdiklatbangprof telah menetapkan kebijakan, program dan kegiatan yang telah dijabarkan menjadi dokumen Rencana Kerja (Renja) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) sebagai pedoman dalam Penetapan Kinerja (PK) Tahunan pada setiap unit Eselon II di lingkungan Badan Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Profesi.

Pusdiklatbangprof adalah suatu lembaga yang secara fungsional bertugas melaksanakan dan mengkoordinasikan pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesi, baik bagi SDM aparatur pemerintahan maupun masyarakat. Penyelenggaraan diklat kesejahteraan sosial didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2000 tentang Diklat Jabatan Pegawai Negeri Sipil, jenis diklat terdiri dari Pelatihan Dasar CPNS dan Diklat Dalam Jabatan. Pelatihan Dasar CPNS dan yang terdiri dari Pelatihan Kepemimpinan Pengawas, Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II, Pelatihan Teknis, dan Pelatihan Fungsional. Selain itu Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 09/HUK/2003, tentang Diklat Sumber Daya Manusia Kesejahteraan Sosial sebagai dasar penyelenggaraan Diklat Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat (TKSM).

(5)

Sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan, Pusdiklatbangprof bertugas mendidik dan melatih Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat (TKSM). Tujuannya adalah untuk membentuk ASN yang professional, berkualitas, kreatif, inovatif, berdaya saing, serta mampu menjalankan fungsinya sebagai pelaksana kebijakan publik; pelayan masyarakat; perekat dan pemersatu bangsa. Sasaran dari penyelenggaraan pelatihan adalah peningkatan sikap, dan semangat pengabdian yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara; peningkatan kompetensi teknis, manajerial dan atau kepemimpinan, peningkatan efisiensi, efektivitas dan kualitas pelaksanaan tugas yang dilakukan dengan semangat kerjasama dan tanggung jawab sesuai dengan lingkungan kerja dan organisasi. Sebagai lembaga pemerintah, Pusdiklatbangprof dituntut memberikan pertanggungjawaban kepada pimpinan, juga kepada masyarakat Indonesia atas capaian kinerja dalam suatu laporan yang disebut dengan Laporan Kinerja (LAKIN) Instansi Pemerintah.

Praktik pekerjaan sosial di Indonesia merupakan kegiatan utama dalam pelayanan sosial. Untuk menghasilkan pelayanan sosial yang berkualitas, maka penerapan standardisasi dalam praktik pekerjaan sosial merupakan suatu yang mutlak harus dilaksanakan.

Standardisasi ini ditujukan baik kepada pelaku profesi maupun lembaga kesejahteraan sosial pemberi pelayanan, dimana pelaku profesi melaksanakan tugasnya. Standardisasi bagi pelaku profesi lebih diarahkan kepada standardisasi kompetensi yang perumusannya ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 29 Tahun 2017 Perubahan atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial. Sedangkan untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial ditujukan kepada standardisasi pelayanan minimal yang ditetapkan berdasarkan Permensos No. 22 Tahun 2016. Penerapan ke 2 (dua) standardisasi ini merupakan implementasi pasal 55 Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.

Pelaksanaan Sertifikasi Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial merupakan implementasi standardisasi pelaku profesi dalam praktik pekerjaan sosial dan penyelenggaraan kesejahteraan sosial, dilaksanakan melalui ‘uji kompetensi’ yang ditujukan untuk mengukur sejauh mana penguasaan dan penerapan standar kompetensi yang dipersyaratkan. Uji kompetensi dilaksanakan untuk mengukur 3 (tiga) aspek yaitu: (a) Pengetahuan; (9) Pengalaman praktik/keterampilan; dan (c) Nilai dalam praktik pekerjaan sosial

Berkaitan dengan kondisi di atas, maka dipandang perlu untuk menerbitkan Pedoman Umum Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi yang mengatur pelaksanaan Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi. Semoga dengan adanya Pedoman Umum ini, pelaksanaan Pendidikan, pelatihan dan Pengembangan Profesi dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

(6)

Dalam Peraturan Presiden No. 18 Tahun 2020 tentang Rencana Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024 dan perubahan organisasi tata kerja di lingkungan Kementerian Sosial berdampak pada perubahan Rencana Strategis Kementerian Sosial Tahun 2020-2024.

Sasaran Stategis dukungan manajemen untuk peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Penyelenggara Kesejahteraan Sosial sebagaimana Amanah Undang-Undang No. 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial untuk peningkatan pelayanan publick serta Undang- Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

59 Tahun 2021 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimal dan Peraturan Menteri Sosial No. 9 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Petunjuk Teknis SPM Bidang Sosial di Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota diantaranya standar kompetensi mengenai mutu dan jenis pelayanan dasar bidang social di Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.

B. DASAR HUKUM

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4967);

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5235);

3. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional

4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri sipil; (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 198, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4019);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5294);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Upaya Penanganan Fakir Miskin melalui Pendekatan Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5449);

(7)

9. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 24);

10. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 25);

11. Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 Tahun 2012 tentang Sertifikasi Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial

12. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2015 tentang Sertifikasi Pekerja Sosial

13. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial.

14. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2017 tentang Revisi Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial.

15. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 7 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi Manajerial Pegawai Negeri Sipil (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 297);

16. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 7 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi Manajerial Pegawai Negeri SIpil (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 297);

17. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 8 Tahun 2013 tentang Pedoman Perumusan Standar Kompetensi Teknis Pegawai Negeri Sipil (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 298);

18. Peraturan Menteri Sosial RI No 1 tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial RI.

19. Peraturan Menteri Sosial RI No 2 tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial RI.

C. TUJUAN

Adapun yang menjadi tujuan dari Pedoman Umum ini a

1. Sebagai acuan bagi Para Pihak terkait dalam pelaksanaan Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Pelayanan bidang Kesejahteraan Sosial.

2. Sebagai acuan dalam pengembangan pelaksanaan koordinasi lintas sector yang terkait dengan Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Pelayanan bidang Kesejahteraan Sosial.

(8)

3. Sebagai acuan dalam penyiapan alokasi anggaran terkait dengan Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi Pelayanan bidang Kesejahteraan Sosial.

D. RUANG LINGKUP

1. Ruang lingkup yang akan dibahas dalam Pedoman Umum ini adalah:

2. Program dan kegiatan yang terkait dengan Pendidikan 3. Program dan kegiatan yang terkait dengan Pelatihan

4. Program dan kegiatan yang terkait dengan Pengembangan Profesi

E. PENGERTIAN

1. Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperolah manfaat yang sebesar-besarnya.

2. Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, yang dilaksanakan secara tertib dan bekerja sama dengan semua pihak yang terkait.

3. Pendidikan dan Pelatihan yang selanjutnya disebut Diklat adalah penyelenggaraan proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas dan jabatan tertentu.

4. Standar Diklat adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan Diklat dan acuan penilaian kualitas pelayanan Diklat sebagai kewajiban penyelenggara Diklat dalam rangka mendorong dan menciptakan tenaga professional, inovatif dan kompetitif dalam penyelenggaraan kediklatan.

5. Standardisasi Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disebut Standardisasi Diklat Kesos adalah proses merumuskan, menetapkan dan menerapkan serta merevisi parameter / standar diklat kesejahteraan sosial yang dilaksanakan secara tertib dan bekerja sama dengan semua pihak yang terkait.

6. Akreditasi adalah penetapan tingkat kelayakan dan standardisasi lembaga pendidikan dan pelatihan kesejahteraan sosial yang didasarkan pada penilaian standar manajemen, standar sumber daya manusia, standar program, dan standar sarana dan prasarana.

7. Sertifikasi adalah proses penetapan atas kelayakan seseorang yang ditempuh melalui suatu uji kompetensi sesuai dengan standar setelah mengikuti diklat dan kelayakannya disahkan dan ditetapkan dengan keputusan dari pejabat yang berwenang dan dibuktikan dengan sertifikat sebagai penetapan tertulisnya.

(9)

8. Evaluasi adalah suatu usaha untuk melakukan penilaian dengan cara melakukan pengukuran dan hasil pengukuran tersebut dibandingkan dengan tolok ukur atau standar yang sudah ditetapkan.

9. Evaluasi hasil belajar adalah suatu upaya melakukan penilaian yang menekankan kepada diperoleh informasi tentang seberapa peningkatan kompetensi peserta diklat dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

10. Evaluasi pembelajaran adalah proses sistematis untuk memperoleh informasi tentang keefektifan pelaksanaan diklat dalam membantu peserta diklat mencapai tujuan secara optimal.

11. Kompetensi adalah kemampuan setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

12. Komite Standar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial adalah institusi/lembaga/unit kerja/tim yang bertugas membantu penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kesejahteraan sosial agar dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan sesuai standar yang ditetapkan.

13. Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi yang selanjutnya disingkat dengan PBK adalah proses pembelajaran yang menekankan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan agar melaksanakan tugasnya secara efisien, efektif dan produktif.

14. Penilaian adalah proses mengumpulkan keterangan, mengenai kemajuan yang memenuhi kriteria dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya yang telah ditentukan.

15. Asesor adalah orang yang memiliki wewenang untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi yang dimiliki seseorang dan/atau kapasitas lembaga.

16. Pelaksana adalah lembaga atau orang yang bertugas untuk membantu atau melaksanakan kegiatan pendaftaran calon peserta, pelaksanaan, evaluasi, sertifikasi, dan akreditasi Diklat.

17. Fasilitator adalah seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang serta hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan kepada peserta diklat di bidang atau kejuruan tertentu.

18. Peserta Diklat adalah sumber daya manusia kesejahteraan sosial yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran melalui jalur pendidikan dan pelatihan.

19. Mentor adalah seseorang yang ditunjuk sebagai pembimbing untuk memberikan arahan, konseling dan nasehat-nasehat pada peserta pendidikan dan pelatihan.

(10)

BAB II

PROGRAM DAN KEGIATAN PENDIDIKAN

Pendidikan Formal (Poltekesos) berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 24 Tahun 2019, Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung yang selanjutnya disebut Poltekesos Bandung adalahperguruan tinggi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Sosial. Statuta Poltekesos Bandung yang selanjutnya disebut Statuta adalah peraturan dasar pengelolaan Poltekesos Bandung yang digunakan sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional Poltekesos Bandung.

Poltekesos Bandung merupakan perubahan dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung berdasarkan Keputusan Menteri Sosial Nomor PBS.1-5-4/5980 Tahun 1964 diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 14Tahun 2001 tentang Pendirian Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung.

Poltekesos Bandung menyelenggarakan Pendidikan Vokasi di bidang kesejahteraan sosial. Poltekesos Bandung dapat menyelenggarakan PendidikanProfesi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara sistematismelalui: tatap muka terjadwal, penugasan terstruktur, kegiatan belajar mandiri, evaluasi, praktikum dan penyusunan karya ilmiah.

A. Tugas Belajar

Peraturan Menteri Sosial Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemberian Tugas Belajar dan Ijin Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Sosial sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 4 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemberian Tugas belajar dan Ijin Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan kementerian Sosial sudah tidak sesuai dengan perkembangan pelaksanaan tugas belajar dan ijin belajar, dan terakhir yaitu Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Pemberian Tugas belajar dan Ijin Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Sosial.

Tugas Belajar adalah pemberian kesempatan oleh Menteri Sosial atau Pejabat yang ditunjuk kepada Pegawai Negeri Sipil lingkup Kementerian Sosial untuk mengikuti pendidikan pada lembaga pendidikan atau lembaga lain di dalam atau di luar negeri, yang sebagian atau seluruhnya dilakukan di dalam dan di luar negeri dalam pengorganisasian Kementerian Sosial untuk jangka waktu tertentu,

(11)

sesuai dengan bidang studi atau ilmu atau keahlian yang telah ditentukan dengan menggunakan biaya Pemerintah Republik Indonesia, Pemerintah Negara Asing, Badan Internasional atau Badan Non Pemerintah lainnya.

Pegawai tugas belajar Program Pascasarjana S2 dan S3 di Lingkungan Kementerian Sosial RI dituntut memiliki kesiapan mental untuk belajar mandiri, kreatif, inisiatif, berwawasan luas, daya kritis yang tinggi serta motivasi maupun semangat yang kuat. Tuntutan ini didasarkan pada tantangan yang harus dihadapi oleh seorang pegawai tugas belajar dalam menyelesaikan studi. Kendala yang dihadapi pegawai tugas belajar bukan hanya persoalan-persoalan teknis akademis semata, akan tetapi juga persoalan non-teknis seperti aspek psikologis, sosiologis yang secara simultan berpengaruh terhadap kelancaran dalam proses penyelesaian studi. Berdasarkan pembiayaannya maka Tugas Belajar ada 3 yaitu biaya dalam DIPA Pusdiklatbangprof untuk mengakomodir TB jenjang S1 Non Kesos, S2 Non Kesos dan S3 baik luar dan dalam negeri dan Tugas Belajar beasiswa dari DIPA selain Pusdiklatbangprof.

Khusus Tugas Belajar Poltekesos jurusan yang Pekerja Sosial Sarjana Terapan (D4) dan SP1 dan SP2.

Dalam amanat Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2021 menyatakan bahwa Calon Tugas Belajar yang akan mengambil jurusan Kesejahteraan Sosial maka diwajibkan untuk menempuh pendidikan ke Poltekesos.

B. Izin Belajar

Peraturan Menteri Sosial Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemberian Tugas Belajar dan Ijin Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Sosial sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sosial Nomor 4 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemberian Tugas belajar dan Ijin Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan kementerian Sosial sudah tidak sesuai dengan perkembangan pelaksanaan tugas belajar dan ijin belajar, dan terakhir yaitu Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Pemberian Tugas belajar dan Ijin Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Sosial.

Izin belajar adalah kesempatan belajar kepada pegawai negeri sipil di lingkungan Kementerian Sosial yang berkeinginan untuk mengikuti pendidikan formal pada sekolah lanjutan atau perguruan tinggi di dalam negeri yang terkareditasi dengan biaya sendiri dan tetap melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pegawai negeri sipil.

Ijin Belajar meliputi program pendidikan dasar menengah, pendidikan dasar akademik dan pendidikan dasar vokasi. Ijin belajar diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil untuk melanjutkan

(12)

Pendidikan ke perguruan tinggi yang memiliki program studi dengan status terakreditasi A.

Pelaksanaan izin belajar dilakukan pada perguruan tinggi atau lembaga Pendidikan di dalam negeri yang jarak tempuhnya tidak mengganggu pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai Pegawai negeri Sipil.

(13)

BAB III

PROGRAM DAN KEGIATAN PELATIHAN

A. TUJUAN

Tujuan dilaksanakannya program pelatihan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan pengetahuan,sikap dan Ketrampilan aparatur, non aparatur dan masyarakat agar dapat melaksnakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Peningkatan kualitas SDM secara umum merupakan kunci keberhasilan pembangunan Nasional, karenda diarahkan untuk mengarahkan kemampuan dan memiliki etos kerja yang produktif, terampil, kreatif, disiplin, profesional, khususnya untuk ASN, Non ASN dan Masyarakat.

Program pelatihan terdiri dari serangkaian kegiatan yang diawali dengan:

1. Analisis Kebutuhan Pengembangan Kompetensi ( AKPK)/ analisis Kebutuhan Diklat (AKD)/

2. Penyusunan Kurikulum Dan Silabus TOT dan Pelatihan 3. Penyusunan Modul TOT dan Pelatihan

4. Penyusunan Pedoman TOT dan Pelatihan 5. Standarisasi Modul TOT dan Pelatihan 6. Training of Trainer (TOT)

7. Pelatihan

B. PELATIHAN ASN

Berdasarkan Peraturan LAN Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pengembangan Kompetensi PNS, bentuk pengembangan kompetensi terdiri dari pendidikan dan/atau pelatihan. Pasal 27 bentuk pengembangan kompetensi melalui pelatihan terdiri atas pelatihan klasikal dan nonklasikal. Pelatihan ASN yang dilaksanakan oleh Pusdiklatbangprof diantaranya adalah:

1. Pelatihan Manejerial

2. Pelatihan Kepemimpinan Administrator 3. Pelatihan Kepemimpinan Pengawas 4. Pelatihan Dasar CPNS

5. Pelatihan Fungsional

6. Pelatihan Penjenjangan Jabatan Fungsional Pekerja Sosial 7. Pelatihan Penjenjangan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial 8. Pelatihan Jabatan Fungsional Arsiparis

9. Pelatihan Jabatan Fungsional Analis Kebijakan 10. Pelatihan Jabatan Fungsional Lainnya

11. Pelatihan Teknis

(14)

12. Pelatihan Peksos Pendamping ODGJ 13. Pelatihan Kesehatan Jiwa

14. Pelatihan Peksos Pendamping Adiksi Napza 15. Pelatihan Peksos Pendamping ODHA 16. Pelatihan Peksos Pendamping Anak

17. Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Bagi ASN

18. Pelatihan Peksos Pendamping Anak Mengalami Kekerasan 19. Pelatihan Peksos Pendamping Perempuan Korban Kekerasan 20. Pelatihan Peksos Pendamping Lansia

21. Pelatihan Peksos Pendamping ABH 22. Pelatihan PDPS

23. Pelatihan MPKS 24. Pelatihan MLKS

25. Pelatihan Peksos Pendamping disabilitas

26. Pelatihan Peksos Penamping eks Napi terorisme, deportan dan…..

27. Pelatihan Peksos Pendamping Pekerja Migran 28. Pelatihan Sistem Perlindungan Anak

29. Pelatihan Sosiokultural 30. Pelatihan bahasa Inggris 31. Pelatihan bahasa Isyarat

C. PELATIHAN NON ASN (SDM KESOS)

Merujuk pada Permensos Nomor Tahun 16 Tahun 2017 tentang Standar Nasional SDM Penyelenggara Kesejahteraan Sosial dan Permensos No 1 Tahun 2022 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kemensos maka, Pusdiklatbangprof melaksanakan Pelatihan bagi Non ASN yang ditujukan bagi SDM Penyelenggara Kesejahteraan Sosial yang terdiri dari pelatihan:

1. Pelatihan pendamping /pengusrus orsos 2. Pelatihan Pendamping PKH (entry) 3. Pelatihan FDS /P2K2 Bagi SDM Kesos

4. Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Stunting Bagi SDM Kesos 5. Pelatihan Dasar Pendamping Sosial

6. Pelatihan Kewirausahaan Sosial

D. PELATIHAN MASYARAKAT

Merujuk pada Kebijakan Menteri Sosial dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat maka Pusdiklatbangprof menyelenggarakan pelatihan yang berbasis masyarakat

(15)

yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Masyarakat agar mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Adapun Pelatihan masyarakat diantaranya adalah:

1. Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat 2. Pelatihan FDS /P2K2 Bagi Masyarakat 3. Pelatihan Keluarga Pendamping LU 4. Pelatihan Mitigasi Bencana

5. Pelatihan Keluarga Pendamping Anak Disabilitas 6. Pelatihan Keluarga Pendamping ODHA

7. Pelatihan Keluarga Pendamping ODGJ 8. Pelatihan Keluarga Pendamping Napza

9. Pelatihan Keluarga dalam Pencegahan Kekerasan dan Penelantaran Anak 10. Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Stunting Bagi Masyarakat

(16)

BAB IV

BIDANG PENGEMBANGAN PROFESI

A. Jabatan Fungsional Pekerja Sosial 1. Latarbelakang

Perkembangan permasalahan kesejahteraan sosial yang sulit dipredikisi, baik secara kualitas maupun kuantitas bergerak mengikuti deret ukur, terlebih dengan membuminya tehnologi digital dikalangan masyarakat akar rumput (grassrooth), yang tidak diiringi dengan pembangunan kesejahteran sosial yang belum optimal, memberikan dampak negative terhadap cita-cita negara Republik Indonesia yang termaktub dalam pembukan Undang-Undang Dasar 1945, antara lain “Memajukan Kesejahteraan Umum”. Sementara Pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kesejahteraan sosial baik secara kulitas maupun kuntitas bergerak seperti deret hitung.

Kondisi diatas tentunya segera mendapat perhatian pemangku kebijakan untuk segera merealisasikan langkah-langkah strategis, tidak hanya untuk mempercepat peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia, namun dibarengi dengan penyebaran sumber daya manusia yang merata di berbagai daerah.

Undang-undang Nomor. 11 Tahun 2009, tentang kesejahteraan sosial telah mengisyaratkan tentang penyebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial, sesuai dengan tugas dan fungsinya dari Pemerintahan Pusat hingga Pemerintah Daerah.

Pekerja Sosial sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial yang mempunyai tugas dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Sosial. Pekerja sosial merupakan elemen penting dalam penyelengaraan kesejahteraan sosial dilakukan agar kesejahteraan sosial berjalan efektif dan memiliki dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang panjang dan berkelanjutan.

Pusat Pendidikan, Pelatihan Dan Pengembangan Profesi, sebagai Lembaga Pembina Jabatan Fungsional Pekerja Sosial dan Penyuluh Sosial telah melakukan langkah-langkah strategis di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kaesejahteraan Sosial, berupa kebijakan-kebijakan pembangunan Kesejahteraan Sosial, khususnya terhadap Pekerja Sosial, yang merupakan ujung tombak pembangunan kesejahteraan sosial ditengah-tengah masyarakat, namun belum mendapatkan hasil yang optimal.

Masih banyak dijumpai berbagai permasalahan dalam karier jabatan fungsional Pekerja Sosial, seperti dalam penyusunan Penilaian dan Penetapan Angka Kredit,

(17)

Pengusulan Kenaikan jenjang pangkat dan Jabatan Pekerja Sosial karena terbatasnya Tim Verifikasi Pengusulan Angka Kredit di berbagai daerah, belum memadai peta Jabatan bagi Pekerja Sosial dan promosi jabatan serta standar kompetensi bagi Jabatan Fungsional Pekerja Sosial.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka diperlukan pedoman umum Pengembangan Jabatan Pekerja Sosial, sebagai langkah strategis untuk mempercepat keberhasilan Pejabat Fungsional Pekerja Sosial sebagai salah satu SDM penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang mendasar pada masyarakat.

Pedoman Pengembangan Jabatan Fungsional Pekerja Sosial sebagai acuan dalam meningkatkan kapasitas Pejabat Fungsional Pekerja sosial dalam mengembangkan karier Jabatan fungsionalnya dalam tugas dan fungsinya sebagai Pejabat fungsional Pekerja Sosial dalam penyelengaraan kesejahteraan sosial.

2. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahateraan Sosial;

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

3. Undang-undang Nomor 14 tahun 2019 tentang Pekerja Sosial

4. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5121);

5. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2012);

6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan

(18)

Aparatur Sipil Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1907);

8. Peraturan Menteri Sosial Nomor 01 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial.

9. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 33 tahun 2020 tentang Pekerja Sosial

10. Peraturan Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2019 tentang Pembinaan Penyelenggara Penilaian Kompetensi Pegawai Negeri Sipil

3. Maksud dan Tujuan a. Maksud.

Mewujudkan fungsional Pekerja Sosial yang kompeten dan profesional.

b. Tujuan

1. Menjadi Acuan Umum dalam mengembangkan Jabatan Fungsional Pekerja Sosial baik bagi Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota, dan instansi terkait lainnya.

2. Meningkatkan kualitas dan komitmen Fungsional Pekerja Sosial dalam penyelenggaraan pelayanan sosial baik bagi Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota, dan instansi terkait lainnya.

3. Mengoptimalkan Unit Pembina Jabatan Fungsional Pekerja Sosial dalam mengembangkan Kapasitas sumber daya manusia pekerja sosial dalam penyelenggaraan kegiatan kesejahteraan sosial.

4. Pelatihan Teknis

a. Diklat Sertifikasi Jabatan Fungsional Pekerja Sosial (wajib) 1. Peserta

Calon dan/atau Pekerja Sosial yang akan diangkat sebagai Pekerja Sosial kategori keterampilan ataupun keahlian.

2. Tujuan

Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta dalam

penguasaan Jabatan Fungsional Pekerja Sosial sesuai ketentuan yang berlaku.

3. Jenis

(a) Pelatihan Sertifikasi JFPS kategori keterampilan.

(b) Pelatihan Sertifikasi JFPS kategori keahlian.

(19)

4. Penyelenggara

(20)

Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi, serta Lembaga Diklat yang terakreditasi.

b. Diklat Teknis Substantif (1) Peserta

Pekerja Sosial semua jenjang jabatan.

(2) Tujuan

Meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan peserta dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

(3) Jenis Pelatihan

(a) Pelatihan Teknis yang menunjang terhadap penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial dalam bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Bidang Rehabilitasi Sosial dan Bidang Pemberdayaan Sosial.

(b) Pelatihan Teknis Substansi Metodologi dan Teknologi Pekerjaan Sosial.

▪ Pendekatan awal

▪ Pengungkapan dan pemecahan masalah

▪ Penyusunan rencana intervensi

▪ Intervensi

▪ Evaluasi

▪ Terminasi dan rujukan

▪ Bimbingan dan Pembinaan Lanjut

▪ Dan pelatihan lainnya sesuai dengan kebutuhan (4) Penyelenggara

Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi, serta Lembaga Diklat yang terakreditasi.

5. Uji Kompetensi

Bahwa untuk mengembangkan karier dan peningkatan profesionalisme fungsional Pekerja Sosial serta untuk meningkatkan kinerja organisasi, perlu dilaksanakan Uji Kompetensi.

Pelaksanaan uji kompetensi dimaksud sebagaimana ketentuan yang berlaku, terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dan dibuat regulasi sebagai payung hukum pelaksanaan Uji Kompetensi.

Berdasar pertimbangan tersebut maka pedoman pelaksanaan Uji Kompetensi merupakan standar yang perlu untuk dipedomani dalam

(21)

penyelenggaraan Uji Kompetensi agar terjamin mutu hasil penilaian Uji Kompetensi fungsional Pekerja Sosial dalam melaksanakan peran dan fungsi di masing-masing setting pelayanan kesejahteraan sosial.

Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Pekerja Sosial merupakan proses penilaian terhadap kompetensi (a) teknis, (b) manajerial (c) sosial kultural dari fungsional Pekerja Sosial dalam melaksanakan tugas dan fungsi dalam jabatan fungsional Pekerja Sosial. Uji Kompetensi dilaksanakan untuk menilai kompetensi Pekerja Sosial sehingga dapat menghasilkan Pekerja Sosial yang profesional dalam melakukan tugas, fungsi dan perannya dalam pembangunan kesejahteraan sosial.

Hasil proses Uji Kompetensi ini digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan standar kompetensi fungsional Pekerja Sosial. Proses Uji Kompetensi terdiri dari 2 (dua) tahapan yaitu seleksi administrasi dan uji pemenuhan standar kompetensi Jabatan Fungsional Pekerja Sosial. Seleksi administrasi dilakukan untuk verifikasi/validitas dan kesesuaian informasi administrasi dengan persyaratan yang sudah ditetapkan dalam kebijakan yang mengatur tentang Jabatan Fungsional Pekerja Sosial, sedangkan proses pemenuhan standar kompetensi dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi Pekerja Sosial. Uji Kompetensi ini dilakukan dengan berdasar pada prinsip profesionalisme, keterbukaan, tidak diskriminatif, dan berbasis kompetensi.

B. Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial 1. Latarbelakang

Perkembangan permasalahan kesejahteraan sosial dilihat dari populasi dan kompleksitas permasalahannya terus mengalami peningkatan. Berbagai faktor turut mempengaruhi terhadap permasalahan sosial tidak hanya disebabkan oleh situasi individu, kelompok dan masyarakat yang mengalami permasalahan, melainkan banyak faktor diluar situasi tersebut. Saat ini yang menjadi problematik dalam mengurai permasalahan sosial adalah melemahnya modal sosial dalam masyarakat, salah satunya yang paling fundamental adalah rasa kesetiakawanan sosial dan gotong

(22)

royong dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial di masyarakat. Perlu dilakukan Langkah-langkah strategis untuk melakukan intervensi sosial sehingga tidak terjadi perluasan masalah. Langkah awal melakukan penyadaran masyarakat secara kolektif melalui penyuluhan sosial.

Undang-undang Nomor. 11 Tahun 2009, tentang kesejahteraan sosial telah mengisyaratkan tentang penyebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial, sesuai dengan tugas dan fungsinya dari Pemerintahan Pusat hingga Pemerintah Daerah. Penyuluh Sosial sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial yang mempunyai tugas dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Sosial. Penyuluh sosial merupakan elemen penting dalam penyelengaraan kesejahteraan sosial dilakukan agar kesejahteraan sosial berjalan efektif dan memiliki dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang panjang dan berkelanjutan.

Pusat Pendidikan, Pelatihan Dan Pengembangan Profesi, sebagai Instansi Pembina Jabatan Fungsional Pekerja Sosial dan Penyuluh Sosial telah melakukan langkah- langkah strategis di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial, berupa kebijakan-kebijakan pembangunan Kesejahteraan Sosial, khususnya terhadap Penyuluh Sosial, yang merupakan ujung tombak pembangunan kesejahteraan sosial ditengah-tengah masyarakat, namun belum mendapatkan hasil yang optimal.

Masih banyak dijumpai berbagai permasalahan dalam karier jabatan fungsional Penyuluh Sosial, seperti dalam penyusunan Penilaian dan Penetapan Angka Kredit, Pengusulan Kenaikan jenjang pangkat dan Jabatan Penyuluh Sosial karena belum adanya Tim Verifikasi Pengusulan Angka Kredit di berbagai daerah, belum memadai peta Jabatan bagi Penyuluh Sosial dan promosi jabatan serta standar kompetensi bagi Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka diperlukan pedoman umum Pengembangan Jabatan Penyuluh Sosial, sebagai langkah strategis untuk mempercepat keberhasilan Pejabat Fungsional Penyuluh Sosial sebagai salah satu SDM penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang mendasar pada masyarakat.

Pedoman Pengembangan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial sebagai acuan dalam meningkatkan kapasitas Pejabat Fungsional Penyuluh sosial dalam mengembangkan karier Jabatan fungsionalnya dalam tugas dan fungsinya sebagai Pejabat fungsional Penyuluh Sosial dalam penyelengaraan kesejahteraan sosial.

(23)

2. Dasar Hukum

a. Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.

b. Undang Undang RI Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penanganan Fakir Miskin.

c. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015-2019 (Buku I tentang Agenda Pembangunan Nasional).

d. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.

e. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547).

f. Peraturan Menteri Sosial Nomor 01 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial.

g. Peraturan Menteri Sosial Nomor 10 Tahun 2014 tentang penyuluhan sosial.

h. Peraturan Menteri Sosial Nomor 29 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Sumber Daya Kesejahteraan Sosial.

i. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/06/M.PAN/4/2008 tentang Jabatan Fungional Penyuluh Sosial dan Angka Kreditnya.

j. Peraturan Bersama Menteri Sosial dan Kepala BKN Nomor 41/ HUKPPS/2008 dan Nomor 13 Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dan Angka Kredit,

3. Maksud dan Tujuan a. Maksud.

Mewujudkan fungsional Penyuluh Sosial yang kompeten dan profesional.

b. Tujuan

1. Menjadi Acuan Umum dalam mengembangkan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial baik bagi Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota, dan instansi terkait lainnya.

2. Meningkatkan kualitas dan komitmen Fungsional Penyuluh Sosial dalam penyelenggaraan pelayanan sosial baik bagi Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota, dan instansi terkait lainnya.

(24)

3. Mengoptimalkan Unit Pembina Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial dalam mengembangkan Kapasitas sumber daya manusia penyuluh sosial dalam penyelenggaraan kegiatan kesejahteraan sosial.

4. Pelatihan Teknis

a. Pelatihan Dasar Sertifikasi Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial (wajib) 1. Peserta

Calon dan/atau Penyuluh Sosial yang akan diangkat sebagai Penyuluh Sosial kategori keahlian.

2. Tujuan

Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peserta dalam penguasaan Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial sesuai ketentuan yang berlaku.

3. Jenis

Pelatihan Sertifikasi JF Penyuluh Sosial kategori keahlian.

4. Penyelenggara

Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi, serta Lembaga Diklat yang terakreditasi.

Pelatihan Pengembangan Profesi 1. Peserta

Penyuluh Sosial semua jenjang jabatan.

2. Tujuan

Meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan peserta dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

3. Jenis Pelatihan

Pelatihan Teknis yang menunjang terhadap penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial dalam bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Bidang Rehabilitasi Sosial dan Bidang Pemberdayaan Sosial.

5. Penyelenggara

Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi, serta Lembaga Diklat yang terakreditasi.

5. Uji Kompetensi

Bahwa untuk mengembangkan karier dan peningkatan profesionalisme fungsional Penyuluh Sosial serta untuk

(25)

meningkatkan kinerja organisasi, perlu dilaksanakan Uji Kompetensi.

Pelaksanaan uji kompetensi dimaksud sebagaimana ketentuan yang berlaku, terdapat beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dan dibuat regulasi sebagai payung hukum pelaksanaan Uji Kompetensi. Berdasar pertimbangan tersebut maka pedoman pelaksanaan Uji Kompetensi merupakan standar yang perlu untuk dipedomani dalam penyelenggaraan Uji Kompetensi agar terjamin mutu hasil penilaian Uji Kompetensi fungsional Penyuluh Sosial dalam melaksanakan peran dan fungsi di masing-masing setting pelayanan kesejahteraan sosial.

Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial merupakan proses penilaian terhadap kompetensi (a) teknis, (b) manajerial (c) sosial kultural dari fungsional Penyuluh Sosial dalam melaksanakan tugas dan fungsi dalam jabatan fungsional Penyuluh Sosial. Uji Kompetensi dilaksanakan untuk menilai kompetensi Penyuluh Sosial sehingga dapat menghasilkan Penyuluh Sosial yang profesional dalam melakukan tugas, fungsi dan perannya dalam menunjang gerak awal dan gerak dasar pembangunan kesejahteraan sosial.

Hasil proses Uji Kompetensi ini digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan standar kompetensi fungsional Penyuluh Sosial. Proses Uji Kompetensi terdiri dari 2 (dua) tahapan yaitu seleksi administrasi dan uji pemenuhan standar kompetensi Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial. Seleksi administrasi dilakukan untuk verifikasi/validitas dan kesesuaian informasi administrasi dengan persyaratan yang sudah ditetapkan dalam kebijakan yang mengatur tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Sosial, sedangkan proses pemenuhan standar kompetensi dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi Penyuluh Sosial. Uji Kompetensi

(26)

ini dilakukan dengan berdasar pada prinsip profesionalisme, keterbukaan, tidak diskriminatif, dan berbasis kompetensi.

C. Jabatan Fungsional Lainnya 1. Latarbelakang

Perkembangan permasalahan kesejahteraan sosial dilihat dari populasi dan kompleksitas permasalahannya terus mengalami peningkatan. Berbagai faktor turut mempengaruhi terhadap permasalahan sosial tidak hanya disebabkan oleh situasi individu, kelompok dan masyarakat yang mengalami permasalahan, melainkan banyak faktor diluar situasi tersebut. Saat ini yang menjadi problematik dalam mengurai permasalahan sosial adalah melemahnya modal sosial dalam masyarakat, salah satunya yang paling fundamental adalah rasa kesetiakawanan sosial dan gotong royong dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial di masyarakat.

Perlu dilakukan Langkah-langkah strategis untuk melakukan intervensi sosial sehingga tidak terjadi perluasan masalah. Langkah awal melakukan penyadaran masyarakat secara kolektif memerlukan penangannya melalui jabatan fungsional lainnya yang ada dilingkungan Kementerian Sosial.

Undang-undang Nomor. 11 Tahun 2009, tentang kesejahteraan sosial telah mengisyaratkan tentang penyebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial, sesuai dengan tugas dan fungsinya dari Pemerintahan Pusat hingga Pemerintah Daerah. Penyuluh Sosial sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia (SDM) Kesejahteraan Sosial yang mempunyai tugas dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Sosial. Peran fungsional lainnya merupakan elemen penting dalam penyelengaraan kesejahteraan sosial dilakukan agar kesejahteraan sosial berjalan efektif dan memiliki dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang panjang dan berkelanjutan.

Pusat Pendidikan, Pelatihan Dan Pengembangan Profesi, mempunyai tugas tambahan yaitu memberikan pengembangan kapasitas dan pelatihan teknis bagi jabatan fungsional linnya yang berkoordinasi dengan instansi Pembina masing- masing.

Masih banyak dijumpai berbagai permasalahan dalam karier jabatan fungsional lainnya , seperti dalam penyusunan Penilaian dan Penetapan Angka Kredit, Pengusulan Kenaikan jenjang pangkat dan jabatan fungsional lainnya.

(27)

2. Dasar Hukum

a. Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.

b. Undang Undang RI Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penanganan Fakir Miskin.

c. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015-2019 (Buku I tentang Agenda Pembangunan Nasional).

d. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.

e. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547).

f. Peraturan Menteri Sosial Nomor 01 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial.

3. Maksud dan Tujuan a. Maksud.

Mewujudkan jabatan fungsional yang kompeten dan profesional.

b. Tujuan

1. Menjadi Acuan Umum dalam mengembangkan Jabatan Fungsional lainnya baik bagi Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota, dan instansi terkait lainnya.

2. Meningkatkan kualitas dan komitmen Fungsional lainnya dalam penyelenggaraan pelayanan sosial baik bagi Dinas/Instansi Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota, dan instansi terkait lainnya.

3. Mengoptimalkan Unit Pembina Jabatan Fungsional lainnya dalam mengembangkan Kapasitas sumber daya manusia dalam penyelenggaraan kegiatan kesejahteraan sosial.

4. Tata Cara Penyusunan DUPAK

Tata cara penyusunan DUPAK jabatan fungsional lainnya menyesuaikan dengan kebijakan masing-masing instansi pembina

6. Pelatihan Teknis

Pelaksanaan pelatihan teknis bagi jabatan fungsional lainnya dilaksanakan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan oleh instansi Pembina masing-masing.

(28)

7. Uji Kompetensi

Pelaksanaan uji kompetensi bagi jabatan fungsional lainnya dilaksanakan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan oleh instansi Pembina masing-masing.

(29)

BAB V PENUTUP

Demikian Pedoman Umum Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi ini dibuat, semoga dalam penerapannya benar-benar dapat meningkatkan kompetensi, sikap dan keterampilan para kelompok sasaran untuk menjadi tenga professional dalam mengatasi permasalah social yang ada. Namun apapun bentuk atau muatan darior Pedoman ini yang terpenting adalah kemauan dan komitmen dari para SDM yang ditugaskan untuk secara sungguh- sungguh mengikuti semua proses dan tahapan yang akan dilaksanakan dan selanjutnya untuk menerapakannya.

Referensi

Dokumen terkait

Konten adalah salah satu fondasi dasar dalam menggunakan digital marketing dan menjadi bagian penting dari proses konversi sehingga semua produk dan jasa harus dilengkapi dengan

Di samping itu, walaupun dalam kenyataan Tiongkok sosialis adalah terbelakang dari negeri-negeri kapitalis yang maju di bidang ekonomi, tekhnologi dan kebudayaan, ini bukanlah

Mahkamah Konstitusi sebagai benteng terakhir penjaga keadilan untuk; memerintahkan kepada Termohon untuk melaksanakan tugas konstitusionalnya yang tertunda, yaitu Rapat

Hasil identifikasi variabel kemudian dimodelkan dan dianalisis menggunakan analisis regresi berganda untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi nilai satuan

Dinas Sosial yang membidangi Sekretariat, Bidang Kesejahteraan Sosial, Bidang Rehabilitasi Sosial telah menetapkan sasaran dan target kinerja dengan langkah-langkah yang

Instansi Pembina Jabatan Fungsional Fungsional Penyuluh Sosial, Pengantar Kerja, Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan, Pekerja Sosial, Penggerak Swadaya Masyarakat serta

jalan yang bersangkutan yang terdiri dari unsur penyelenggara jalan, instansi yang menyelenggarakan urusan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan dan unsur

 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan Pengembangan Jabatan Fungsional bersama dengan Unor menyiapkan kebijakan, rencana dan program pengembangan