• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MATA KULIAH AUDITING CONTOH KASUS BUKTI AUDIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH MATA KULIAH AUDITING CONTOH KASUS BUKTI AUDIT"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH MATA KULIAH AUDITING

CONTOH KASUS BUKTI AUDIT

Disusun oleh Kelompok 5 (AK5-B3):

1. Fitriah Fajr

(142010300110)

2. Nur Sakdiyah

(142010300148)

3. Yunda Roro Anggraini

(142010300158)

4. Farikhatul Ilmiyah

(142010300163)

5. Eka Listya Putri

(142010300169)

6. Febi Kariyanti

(142010300181)

FAKULTAS EKONOMI – AKUNTANSI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

SEMESTER GANJIL 2016

(2)

1. Pengertian Bukti Audit

Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya. Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat ( controlling information) yang tersedia bagi auditor ( Mulyadi, 2002: 74).

a. Data Akuntansi

Salah satu tipe bukti audit adalah data akuntansi. Jurnal, buku besar, buku pembantu serta buku pedoman akuntansi, memorandom dan catatan tidak resmi, seperti daftar lembaran kerja ( worksheet) yang mendukung alokasi biaya, perhitungan, dan rekonsiliasi secara keseluruhan merupakan bukti yang mendukung laporan keuangan . Dipihak lain, tanpa dilandasi oleh kewajaran dan kecermatan data akuntansi yang mendukung laporan keuangan, pendapat auditor atas laporan keuangan tidak akan terjamin. Auditor menguji data akuntansi yang mendasari laporan keuangan dengan jalan:

1) Menganalisis dan me-review

2) Menelusuri kembali langkah-langkah prosedur yang diikuti dalamm proses akuntansi dan dalam proses pembuatan lembaran kerja dan alokasi yang bersangkutan.

3) Menghitung kembali dan melakukan rekonsiliasi jumlah0jumlah yang berhubungan dengan penerapan informasi yang sama.

b. Informasi Penguat

Bukti audit lain yang dikumpulkan oleh auditor sebagai dasaar pernyataan pendapatnya atas laporan keuangan adalah informasi penguat. Informasi penguat meliputi segala dokumen seperti cek, faktur, surat kontrak, notulen rapt, konfirmasi, dan pernyataan tertulis dari pihak yang mengetahui: informasi yang diperoleh auditor melalui permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi dan pemeriksaan, fisik; serta informasi lain yang dikembangkan oleh atau tersedia bagi auditor yang memungkinkannya untuk menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang kuat.

Dokumen yang relevan yang menunjang pencatan dalam akun-akun dan asersi dalam laporan keuangan, biasanya disimpan dalam arsip perusahaan dan tersedia bagi auditor untuk membuktikan asersi tentang keberadaannya.

2. Cukup atau Tidaknya Bukti Audit

Cukup atau tidaknya bukti audit berkaitan dengan kuantitas bukti yang harus dikumpulkan oleh auditor yang memerlukan pertimbangan profesional auditor yang memegang peranan yang cukup penting. Faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor dalam menentukan cukup atau tidaknya bukti audit adalah:

(3)

a. Matrealitas dan Resiko

Secara umum untuk jumlah akun yang saldonya besar dalam laporan keuangan diperlukan jumlah bukti yang lebih banyak bila dibandingkan dengan akun yang bersaldo tidak material. Dengan demikian jumlah bukti audit yang dikumpulkan dikumppulkan auditor dalam memeriksa sediaan diperusahaan manufajtur akan lebih banyak dibandingkan dengan bukti audit yang dikumpulkan oleh auditor dalam pemeriksaan terhadap surat berharga.

Untuk akun yang memiliki kemungkinan tinggi untuk disajikan salah saji dalam laporan keuangan, jumlah audit yang dkumpulkan oleh auditornya umumnya lebih banyak bila dibandingkan dengan akun yang memiliki kemungkinan kecil untuk salah disajikan dalam laporan keuangan. Karena penyediaan sediaan pada tanggal neraca lebih tinggi bila dibandingkan dengan resiko salah saji tanah.

b. Faktor Ekonomi

Pengumpulan bukti audit yang dilakukan oleh auditor dibatasi oleh dua faktor: faktor waktu dan biaya. Auditor harus memperimbangkan faktor ekonomi didalam didalam menentukan jumlah dan kompetensi bukti audit yang dikumpulkan. Jika dengan memeriksa sejumlah bukti yang lebih sedikit dapat diperoleh keyakinan yang sama tingginya dengan pemeriksaan terhadap keseluruhan bukti, auditor memilih untuk memeriksa jumlah yang lebih sedikit berdasarkan pertimbangan ekonomi, biaya dan manfaat ( cost and benefit). c. Ukuran dan Karakteristik populasi

Dalam pemeriksaan atas-atas unsur-unsur tertentu laporan keuangan, auditor seringkali menggunakan sampling audit. Dalam sampling audit, auditor memilih secara acak sebagian anggota populasi untuk diperiksa karakteristiknya. Umumnya semakin besar populasi semakin banyak jumlah bukti audit yang diperiksa oleh auditor.

Karakteristik populasi ditentukan oleh homogenitas anggota populasu. Jika auditor menghadapi populasi dengan anggota yang homogen, jumlah bukti audit yang dipilih dari populasi tersebut lebih kecil bila dibandingkan dengan populasi yang beranggota hiterogen.

3. Kompetensi bukti audit

Kompetensi bukti audit berhubungan dengan kualitas atau keandalan data akuntansi dan informasi penguat.

(4)

Keandalan catatan akuntansi dipengaruhi secara langsung oleh efektivitas pengendalian intern. Pengendalian intern yang kuat menyebabkan keandalan akuntansi dan bukti-bukti lainnya yang dibuat dalam organisasi klien. Sebaliknya pengendalian klien yang lemah seringkali tidak dapat mencegah atau mendeteksi kekeliuran dan ketidakberesan yang terjadi dalam proses akuntansi

 Kompetensi Informasi Penguat

Kompetensi informasi penguat dipengaruhi oleh:

a. Relevansi: fakor relevansi berarti bukti audit harus berkaitan dengan tujuan audit. Jika tujuan audit adal untuk menentukan eksistensi sediaan yang dicantumkan oleh klien dalam neraca, auditor harus memperoleh bukti dengan memperoleh bukti dengan melakukan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan yang dilakukan oleh klien.

b. Sumber: bukti audit yang berasal dari sumber di luar organisasi klien pada umumnya merupakan bukti yang tingkat kompetensinya dianggap tinggi. Dalam audit, auditor dapat memperoleh informasi secara langsung dengan car pemeriksaan tangan pertama, pengamatan, perhitungan yang dilakukan sendiri oleh auditor tersebut. Auditor juga melakukan pemeriksaan secara tidak langsung

4. Bukti Audit sebagai Dasar yang Layak untuk Menyatakan Pendapat Auditor

Pertimbangan bukti audit tentang kelayakan bukti audit dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini:

a. Pertimbangan profesional. Yang menentukan keseragaman penerapan mutu dan jumlah bukti yang diperlukan dalam audit. Pernyataan standar Auditing yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia berisi persyaratan tentang bukti audit dan memberikan panduan tentang cara yang harus ditempuh oleh auditor untuk memenuhi persyaratan tersebut. Auditor diharuskan memberikan alasan setiap penyimpangan dari Persyaratan Standar Auditing. b. Integritas Manajemen. Manajemen bertanggung jawab atas asersi yang

tercantum dalam laporan keuangan. Manajemen juga berada dalam posisi untuk mengendalikan sebagian besar bukti penguat dan data akuntansi yang mendukung laporan keuangan. Oleh karena itu, auditor akan meminta bukti kompenten jika terdapat keraguan terhadap integritas manajemen.

c. Kepemilikan Publik versus Terbatas. Umumnya auditor memerlukan tingkat keyakinan yang lebih tinggi dalam audit atas laporan keuangan perusahaan publik (misalnya PT yang go public) dibandingkan dengan audit atas laporan keuangan perusahaan yang dimiliki oleh kalangan terbatas (misalnya PT

(5)

Tertutup). Hal ini disebabkan karena dalam audit atas laporan keuangan perusahaan publik, laporan audit digunakan oleh pemakai dari kalangan lebih luas, dan pemakai laporan audit tersebut hanya mengandalkan pengambilan keputusan investasinya terutama atas laporan keuangan auditan.

d. Kondisi Keuangan. Umumnya jika sesuatu perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan proses kebangkrutan, pihak-pihak yang berkepentingan, seperti kreditur, akan meletakkan kesalahan di pundak auditor, karena kegagalan auditor untuk memberikan peringatan sebelumnya mengenai memburuknya kondisi keuangan perusahaan. Dalam keadaan ini, auditor harus mempertahankan pendapatnya atas laporan keuangan auditan dan mutu pekerjaan audit yang telah dilaksanakan.

5. Tipe Bukti Audit

Tipe bukti audit dapat digolongkan menjadi dua ( Mulyadi, 2002: 79) yaitu sebagai berikut:

a. Tipe Data Akuntansi

Didalam tipe data akuntansi masih dibagi lagi menjadi dua yaitu:

 Pengendalian intern sebagai bukti : digunakan untuk mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. kesalahan yang timbul akan segera dan secara otomatisdapat diketahui dengan adanya pengecekan silang ( cross check) dan cara-cara pembuktian ( proff) yang dibentuk didalamnya. Oleh karena itu, jika auditor mengetahui bahwa klien telah merancang pengendalian intern dan telah melaksanakan dalam kegiatan usahanya setiap hari, hal ini merupakan bukti audit yang kuat bagi auditor mengenai keandalan informasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Kuat dan lemahnya pengendalian intern merupakan faktor utama yang menentukan jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor dari berbagai sumber bukti. Semakin kuat pengendalian intern, semakin sedikit bukti audit yang yang harus dikumpulkan sebagai dasar pernyataan pendapat auditor.

 Catatan akuntansi sebagai bukti: jurnal, buku besar, dan buku pembantu, rekapitulasi biaya, penjualan, dan rekapitulasi angka yang lain, daftar saldo, laporan keuangan intern, dan laporan keuangan yang dibuat manajemen, merupakan catatan akuntansi yang digunakan oleh klien untuk mengolah transaksi keuangan guna menghasilkan laporan keuangan. Oleh karena itu pada waktu auditor melakukan verifikasi terhadap laporan keuangan, ia akan melakukan penelusuran kembali jumlah tersebut melalui catatan akuntansi. Keandalan catatan akuntansi sebagai bukti audit tergantung pada pengendalian intern yang diterapkan dalam penyelenggaraan catatan akuntansi tersebut.

(6)

b. Tipe Informasi Penguat Terbagi menjadi enam yaitu:

 Bukti fisik : bukti audit yang diperoleh dengan cara inspeksi atau perhitungan aktiva berwujud. Tipe bukti ini pada umumnya dikumpulkan oleh auditor dalam pemeriksaan terhadap sediaan dan kas, surat berharga, piutang wesel, investasi jangka panjang, dan aktiva berwujud. Pemeriksaan secara fisik terhadap aktiva merupakan cara langsung untuk membuktikan kebenaran adanya aktiva tersebut. Oleh karena itu, untuk untuk jenis aktiva tertentu, bukti fisik dianggap sebagai buktinyang paling andal dan bermanfaat. Akan tetapi untuk aktiva tertentu bukan merupakan bukti audit yang cukup untuk menentukan hak kepemilikan terhadap aktiva tersebut dan seringkali bukti audit bukan merupakan bukti yang konklusif sifatnya. Oleh karena itu, meskipun bukti fisik merupakan hal yang penting dalam hal pemeriksaan terhadap aktiva, namun pada umumnya masih harus didukung oleh tipe bukti audit yang lain.

 Bukti dokumenter. Dibagi menjadi tiga macam yaitu :

1) Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar yang bebas ysng dikirimkan langsung kepada auditor.

2) Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar yang bebas yang bebas disimpan dalam arsip klien.

3) Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan dalam organisasi klien.

 Perhitungan. Contoh tipe bukti audit ini adalah: 1) Footing, yaitu pembuktian penjumlahan vertikal.

2) Croos-footing yaitu pembuktian penjumlahan horizontal.

3) Pembuktiaan ketelitian perhitungan biaya depresiasi dengan cara menggunakan tarif depresiasi yang digunakan oleh klien.

4) Pembuktian ketelitiaan penentuan taksiran kerugian piutang usaha, laba persaham yang beredar, taksiran pajak perseroan dan lain-lain.

 Bukti lisan. Dalam rangka mengumpulkan bukti audit, auditor banyak meminta keterangan secara lisan yang menghasilkan keterangan informasi secara tertulis ataupun lisan. Keterangan yang diminta oleh auditor meliputi: masalah-masalah yang sangat luas, seperti kebijakan akuntansi, lokasi catatan dan dokumen, alasan penggunaan akuntansi yang berlaku umum, kemungkinan pengumpulan piutang usaha yang sudah lam tertagih, dan kemungkinan adanya uang bersyarat.

 Perbandingan dan ratio. Bukti ini dikumpulkan oleh auditor pada awal audit untuk membantu penentuan objek audit yang memerlukan penyelidikan yang mendalam dan diperiksa kembali pada akhir audit untuk mengeluarkan kesimpulan-kesimpulan yang dibuat atas dasar-dasar bukti lain.

 Bukti dari spesialis. Spesialis adalah seorang atau perusahaan yang memiliki keahlian atau pengetahuan khusus dalam bidang selain akuntansi dan auditing.

(7)

Sebuah Kasus Audit Asset Tetap

Pada Desember 2006 Indonesia Corruptin Watch (ICW) melaporkan kasus dugaan korupsi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ruislaag (tukar guling) antara asset PT. Industri Sandang Nusantara (ISN), sebuah BUMN yang bergerak di bidang tekstil, dengan asset PT. GDC, sebuah perusahaan swasta.

Dalam ruislaag tersebut PT. ISN menukarkan tanah seluas 178.497 meter persegi di kawasan Senayan dengan Tanah seluas 47 hektar beserta Pabrik dan mesin di karawang.

Berdasarkan hasil temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) semester II Tahun Anggaran 1998/1999, menyatakan ruislaag itu berpotensi merugikan keuangan Negara sebesar Rp. 121,628 miliar.

Kerugian itu terdiri dari kekurangan luas bangunan pabrik dan mesin milik PT. GDC senilai Rp. 63,954 miliar, berdasarkan penilaian aktiva tetap oleh PT. Sucofindo pada 1999; penyusutan nilai asset pabrik milik PT. GDC senilai Rp. 31,546 miliar; dan kelebihan perhitungan harga tanah senilai Rp. 0,127 miliar. Selain itu juga ditemukan bahwa terdapat nilai saham yang belum dibayarkan oleh PT. GDC sebesar Rp. 26 miliar.

Penyelesaian Kasus

Dalam kasus Ruislaag di atas, karena ketidakjelasan prosedur dan syarat-syarat tukar guling asset, sehingga sangat rawan untuk diselewengkan.

Seharusnya keputusan Tukar Guling tidak hanya menjadi wewenang salah satu pejabat saja, melainkan melibatkan beberapa pejabat sebagai pengendali dan control yang baik. Selain itu juga diperlukan sebuah aturan baku oleh perusahaan mengenai tukar guling, sehingga kemungkinan penyelewengan menjadi berkurang.

Diperlukan juga control dari lembaga bersangkutan terhadap penelitian tim penilik yang meneliti kelengkapan mengenai status asset, dokumen kelengkapan asset, sehingga tidak ada manipulasi dari nilai asset tersebut serta proses tukar menukar.

Walaupun menggunakan jasa Appraisal, penilaian asset tetap juga tetap harus diawasi untuk mencegah kecurangan-kecurangan.

Dari kasus diatas dapat dibuktikan bahwa PT. ISN memiliki pengendalian intern yang sangat buruk. Sehingga PT. ISN rawan dicurangi oleh rekanan-rekanan bisnisnya maupun oleh oknum-oknum pejabat perusahaan yang ingin mengambil keuntungan. Oleh karena itu hal pertama yang harus dibenahi oleh PT. ISN adalah soal Pengendalian Internnya.

Referensi

Dokumen terkait