• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH PERIODE"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH PERIODE 2017-2019

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Adila Febianto Soewarno 11161130000110

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1441 H/2020 M

(2)

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Skripsi yang berjudul:

KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH PERIODE 2017-2019

1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam tulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 16 November 2020

Adila Febianto Soewarno

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama : Adila Febianto Soewarno NIM : 11161130000110

Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional

Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH PERIODE 2017-2019

dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.

Jakarta, 27 November 2020

Mengetahui, Menyetujui,

Ketua Program Studi Pembimbing

M. Adian Firnas, S.IP, M.Si Ahmad Alfajri, MA.

NIP. NIP. 198507022019031005

(4)
(5)

v

ABSTRAK

Skripsi ini menganalisis kepentingan nasional Rusia melalui Astana Peace Talks periode 2017 – 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan orientasi kepentingan nasional Rusia sehubungan dengan kerja sama politik yang dibangun Rusia dengan aktor-aktor kunci di Suriah. Pada dasarnya Astana Peace Talks adalah katalisator bagi terlaksananya Intra-Syrian Talks yang dilaksanakan oleh PBB, yang sempat berhenti berjalan karena kebuntuan politik antara pihak oposisi dan pihak pemerintah Suriah. Astana Peace Talks mengundang pihak eksternal Syria untuk terlibat dan mengurai kebuntuan tersebut.

Keterlibatan Rusia sebagai peace broker pada proses perdamaian Astana sebenarnya memiliki sejumlah tantangan, antara lain: pertumbuhan ekonomi Rusia yang tidak stabil; hubungan sesama rekan sponsor Astana yang penuh ambivalensi; dan partisipasi pihak oposisi yang tidak menentu. Meskipun demikian, Rusia tetap bertekad untuk menjadi negara penjamin pada proses perdamaian Astana dan berpartisipasi aktif selama tiga tahun pembicaraan ini berlangsung.

Adanya kesediaan Rusia mengambil peran peace broker di tengah kesulitan- kesulitan yang dihadapinnya menjadi suatu fenomena ingin skripsi ini pahami.

Kerangka pemikiran yang digunakan adalah teori Realisme Klasik oleh Hans J.

Morgenthau dan konsep turunannya yaitu kepentingan nasional yang juga dikemukakan oleh Hans J. Morgenthau dan dilengkapi oleh literatur karya Michael G.

Roskin dan P. H. Liotta. Sedangkan metode yang penulis gunakan adalah metode kualitatif yang berjenis deskriptif analitik. Analisis menggunakan teori dan konsep tersebut menghasilkan temuan bahwa sejak awal keterlibatan Rusia di Suriah, Rusia selalu memiliki kepentingan nasional yang lebih besar daripada sekedar dominasi di Suriah. Orientasi utama Rusia adalah dominasi Kawasan. Rusia memainkan peran peace broker pada tahun 2017 – 2019 untuk mencapai kepentingan nasionalnya yang bersifat vital dan secondary.

Kata kunci: Kepentingan nasional, Realisme, peace broker, Astana Peace Talks, Rusia, Suriah.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, puji serta syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian untuk skripsi ini. Shalawat serta salam tak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad Sallalahu ‘Alaihi Wassalam yang telah membawa ummatnya dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.

Rasa Syukur penulis ucapkan karena akhirnya penulis telah menyelesaikan skripsi dengan judul “Kepentingan Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriah Periode 2017 – 2019”. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama bagi peneliti yang literaturnya penulis jadikan sumber dalam pembuatan skripsi ini. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang sudah memberikan dukungan selama penulisan skripsi ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada:

1. Orang tua yang selalu memberikan dukungan selama penulisan skripsi. Untuk mama, Marini, dan papa, Febianto Soewarno, yang selalu mengirimkan do’a serta memenuhi kebutuhan penulis baik secara moril ataupun materil.

2. Bapak Ahmad Alfajri, MA. selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas waktu, ilmu, dan bimbingan yang telah bapak berikan dalam penyusunan

(7)

vii

skripsi ini hingga selesai. Semoga bapak dan keluarga senantiasa diberi kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan oleh Allah SWT.

3. Seluruh dosen-dosen Ilmu Hubungan Internasional UIN Jakarta atas segala ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis. Semoga bapak dan ibu senantiasa diberi kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan oleh Allah SWT.

4. Kepada kakak-kakak yang penulis sayangi, Mba Ica dan Mas Andri. Terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada penulis baik secara morill maupun materil. Kepada kakak-kakak ipar yang juga penulis sayangi, Mas Angga dan Kak Aza, terima kasih atas segala dukungan dan logistik yang mengenyangkan di akhir pekan. Tak lupa, keponakan yang selalu datang setiap minggu lengkap dengan tangis dan tawanya, Ameira.

5. Kepada Muhammad Fajrin Mubarok, yang selalu baik hati dan tidak pernah lelah menghadapi pesimisme penulis. Man, you’re my rock.

6. Sahabat-sahabat penulis selama perkuliahan, Muhammad Alifurrohman, Argista Wahyu Febriani, Hayasha Zuriati Robbani, Gaby Tiara, Farhatul Kamilah, Nida Fajriyatul Huda. It’s been such a roller coaster ride, isn’t it? All of you are my steady flames and bright burning stars, terima kasih ya, sudah selalu menjadi sahabat yang sangat baik.

7. Alya Nur Zurayya, for sticking up with me since high school… and counting!

8. Teman-teman AIESEC in UIN Jakarta, tim Organizing Committee Global Youthpreneur 2018, Faisal, Maya, Ghina, dan Vivi. Querencia 2019/2020,

(8)

viii

Kemal, Rizka, Velia. Terkhusus tim Endorphine Talent Management 2019/2020, Kak Evi, Hanafi, Monik. See you guys on top!

9. Teman-teman International Studies Club (ISC). Untuk BPH ISC 2019/2020, Alif, Farha, Rima, Ara, Alfi, Rizka, Ferin, I kind of miss our endless night of meeting.

10. Teman-teman HI. Terkhusus teman-teman HI C yang penulis sayangi dan tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap semoga Allah SWT membalas semua amal baik, dukungan, do’a, serta bantuan yang telah diberikan semua pihak kepada penulis. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis menerima saran dan masukan untuk menyempurnakan skripsi ini. Masukan tersebut dapat disampaikan melalui [email protected]. Terima kasih.

Jakarta, 18 November 2020

Adila Febianto Soewarno

(9)

ix

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Pernyataan Masalah ... 1

B.Pertanyaan Penelitian ... 8

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D.Tinjauan Pustaka ... 9

E.Kerangka Teoretis ... 16

1.Realisme Klasik ... 16

2.Konsep Kepentingan Nasional ... 18

F.Metode Penelitian ... 24

G.Sistematika Penulisan ... 25

BAB II KONFLIK SURIAH DAN PERJALANAN PROSES PERDAMAIAN SURIAH ... 28

A.Profil Negara Suriah ... 28

B.Aktor Domestik dalam Konflik Suriah ... 30

C.Aktor Internasional dalam Konflik Suriah ... 33

D.Dinamika Konflik Suriah ... 36

1.Pecahnya Demonstrasi Damai pada Tahun 2011 dan Keterlibatan Aktor Regional sebagai Awal Konflik Suriah ... 36

2.Dominasi Islamic State dan Keterlibatan Negara-negara Adidaya yang Menimbulkan Eskalasi dalam Konflik Suriah ... 41

E.Proses Perdamaian untuk Suriah ... 48

1.Upaya Perdamaian Suriah: Rencana Perdamaian oleh Liga Arab dan Geneva I - II (2011 – 2012) ... 49

(10)

x

2.Upaya Perdamaian Suriah: Proses Perdamaian Vienna dan Konferensi

Kelompok-kelompok Oposisi Suriah di Riyadh Tahun 2015 ... 51

3.Upaya Perdamaian Suriah: Geneva Tahun 2016 dan 2017 ... 54

BAB III ASTANA PEACE TALKS DAN POSISI RUSIA DALAM KONFLIK SURIAH ... 56

A. Astana Peace Talks Tahun 2017 -2019 ... 56

B.Hasil Pembicaraan Damai Astana ... 66

C.Tantangan dan Posisi Rusia selama Pembicaraan Damai Astana tahun 2017 - 2019 ... 69

1.Pertumbuhan Ekonomi Rusia yang Tidak Stabil ... 70

2.Hubungan Sesama Rekan Sponsor Astana yang Penuh Ambivalensi ... 73

3.Partisipasi Pihak Oposisi yang Tidak Menentu ... 77

4.Posisi Rusia Sebagai Peace Broker di Suriah ... 80

BAB IV ANALISIS KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH TAHUN 2017-2019 ... 84

A.Kepentingan Nasional Rusia Melalui Astana Peace Talks ... 87

1.Kepentingan Vital: Proteksi terhadap Wilayah Ukraina dan Krimea ... 88

2.Kepentingan Vital: Mencegah Timbulnya Militan Islam di dalam Rusia ... 91

3.Kepentingan Vital: Peningkatan Kekuatan Angkatan Laut di Pelabuhan Tartus ... 95

4.Kepentingan Sekunder: Mengamankan Akses Sumber Daya untuk Reformasi Ekonomi Rusia ... 99

BAB V PENUTUP ... 105

A.Kesimpulan ... 105

B.Saran ... 109

DAFTAR PUSTAKA ... 111

(11)

xi

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK

Tabel I.E.1. Konsep Kepentingan Nasional……….22 Tabel I.E.2. Kerangka Tabel Kepentingan Nasional Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriah Periode 2017 – 2019………...23 Grafik III.C.1 GDP Riil Rusia [Presentase Pertahun]………....71 Tabel IV.B.3 Kepentingan Nasional Rusia Melalui Astana Peace Talks di Suriah

Periode 2017 – 2019………87 Tebel IV.B3.4 Skor Global Terrorism Index Rusia dan Eurasia Pada Tahun 2002- 2018……….95

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1. Jaringan Kompleks Konflik di Suriah……….38

Gambar III.2. Peta Zona De-eskalasi Astana Peace Talks……….63

Gambar III.3. Peta Safe Zone Turki di Suriah………76

Gambar IV.4. Koridor Transportasi Utara – Selatan………101

Gambar IV.5. Jalur Gas Turkstream…….………103

(13)

xiii

DAFTAR SINGKATAN

AS Amerika Serikat

CIS Commonwealth of Independent States

DK-PBB Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa EEU Eurasian Economic Union

FSA Free Syrian Army GDP Gross Domestic Product HNC High Negotiations Committee

IRGC Iranian Islamic Revolutionary Guard Corps IS Islamic States

ISIL Islamic State of Iraq and the Levant ISIS Islamic State in Iraq and Syria ISSG International Syria Support Group MENA Middle East and North Africa MOU Memorandum of Understanding NATO North Atlantic Treaty Organization NCC National Coordination Committee

OPCW Organization for the Prohibition of Chemical Weapons PBB Perserikatan Bangsa-bangsa

RUR Russian Ruble

SNC Syrian National Council UAE Uni Émirat Arab

UCDP Uppsala Conflict Data Program YPG Yekîneyên Parastina Gel

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

Bashar al-Assad mengambil alih kekuasaan di Suriah setelah meninggalnya Hafez al-Assad pada tahun 2000. Kekuasaan yang dipimpin oleh dua generasi Assad telah mengembangkan rasa tidak puas di Suriah terutama pada kalangan mayoritas Islam Sunni. Protes anti-pemerintah meletus di Suriah pada tanggal 15 Maret 2011, Protes ini terinspirasi dari protes serupa di Timur Tengah yang dikenal dengan peristiwa Arab Spring. Pada akhir tahun 2011, perang senjata mulai terjadi antara pemerintah – yang merupakan kaum elit Alawite – dan pihak anti-pemerintah. 1

Kompleksitas perang meningkat karena adanya campur tangan aktor-aktor domestik dan internasional. Pemerintah Suriah, pihak oposisi, kekuatan asing, dan kelompok Jihadis Islam adalah aktor-aktor yang mendesain konflik Suriah. Perang telah menimbulkan banyak bencana, ratusan ribu orang telah menjadi korban dan kota- kota telah menjadi puing. Sepertiga populasi telah meninggalkan Suriah atau menjadi internally displaced person. Masyarakat dunia terus mendorong proses perdamaian Suriah yang sudah menginjak tahun kesembilan. Upaya-upaya perdamaian Suriah yang telah dilaksanakan sejak tahun 2011 meliputi, Pembicaraan Arab League I dan II (2011 – 2012), Inter-Syrian Geneva Talks oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (2012 – saat ini),

1 Hafeez Ullah Khan dan Waseem Khan, Syria: History, The Civil War, and Peace Prospect (Journal of Political Studies, Vol. 24, Issue 2, 2017), hlm. 591

(15)

2

Moscow Platform I dan II (2015), Astana Opposition Conference I dan II (2015), Vienna I dan II (2015), Riyadh Conference (2015), dan Astana Peace Talks (2017 – saat ini). 2

Pada tahun 2015, di bawah pemerintahan Vladimir Putin, Rusia memutuskan untuk terlibat dalam konflik perang saudara di Suriah dan mendukung rezim Bashar al- Assad. Kala itu, bentuk dukungan yang disediakan oleh Rusia adalah bantuan strategi dan pasukan militer yang berfokus pada misi penyelamatan Rezim Assad dari kehancuran total akibat terjadinya perang saudara. Intervensi militer yang dilakukan Rusia ini menggeser dominasi pihak oposisi dan kelompok jihadis Islam pada sebagian besar wilayah Suriah. 3 Keterlibatan Rusia yang semakin ekstensif di Suriah memengaruhi perilaku negara-negara lain di Timur Tengah dan negara-negara Barat.

Rusia telah menimbulkan dampak yang cukup besar pada kepentingan nasional setiap aktor yang terlibat dalam konflik Suriah. Sehingga, semakin banyak aktor internasional yang mendorong agar konflik Suriah diselesaikan melalui proses negosiasi.

Rusia melihat kondisi tersebut sebagai sebuah peluang. Pada 20 Desember 2016, Menteri Luar Negeri Rusia, Iran, dan Turki melakukan joint statement untuk merevitalisasi proses politik dan mengakhiri konflik Suriah.4 Pernyataan bersama

2 Hafeez Ullah Khan dan Waseem Khan, Syria: History, The Civil War, and Peace Prospect (Journal of Political Studies, Vol. 24, Issue 2, 2017), hlm. 599.

3 Hafeez Ullah Khan dan Waseem Khan, Syria: History, The Civil War, and Peace Prospect (Journal of Political Studies, Vol. 24, Issue 2, 2017), hlm. 595.

4 Republic of Turkey Ministry of Foreign Affairs, Joint Statement by Iran, Russia and Turkey on agreed steps to revitalize the political process to end the Syrian conflict [Database online] (Turkey, December 2016). Diakses melalui https://bit.ly/TurkeyRussiaIran dilihat pada 30 Agustus 2020.

(16)

3

tersebut adalah dampak dari Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) 22545, yang berisikan roadmap untuk proses perdamaian di Suriah.

Resolusi tersebut membuat Rusia dan Turki mengajukan proposal lain dan menjadikan Resolusi DK-PBB 2254 itu sebagai dasar hukum untuk membentuk proses politik yang diperlukan dalam menyelesaikan konflik Suriah.

Pada 23 Desember 2016, delegasi oposisi Suriah yang mencakup dua belas faksi pemberontak, dan delegasi pemerintah Suriah yang dipimpin oleh Bashar Jaafari bertemu di Astana untuk mengadakan pembicaraan dengan tema pembahasan The International Meeting on Syrian Settlement. Setelah pertemuan tersebut, Resolusi DK- PBB 23366 pun diadopsi pada tanggal 31 Desember 2016. Resolusi ini membuka jalan bagi proses perdamaian Astana Peace Talks dan dimulainya kembali pembicaraan intra-Suriah di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Astana Peace Talks merupakan salah satu dari serangkaian proses perdamaian Suriah pertama yang mengundang pihak-pihak pemerintah dan oposisi untuk menegosiasikan masa depan Suriah. Forum ini dilaksanakan di ibu kota Kazakhstan, yaitu Astana. Astana dipilih menjadi lokasi pembicaraan karena dianggap sebagai wilayah yang netral bagi semua pihak yang terlibat. Dengan demikian, putaran pertama Pembicaraan Damai Astana pun dilaksanakan pada tanggal 23 – 24 Januari 2017.

5 United Nations Security Council, Resolution 2254 [Database Online] (S/RES/2254, 2015).

Diakses melalui http://unscr.com/en/resolutions/doc/2254 dilihat pada 15 Maret 2020.

6 United Nations Security Council, Resolution 2336 [Database Online] (S/RES/2336, 2016).

Diakses melalui http://unscr.com/en/resolutions/doc/2336 dilihat pada 15 Maret 2020.

(17)

4

Pembicaraan Astana disponsori oleh Rusia, Turki, dan Iran. Delegasi Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, turut berpartisipasi dalam Astana Peace Talks.

Sementara, The Syrian Democratic Council – yang mewakili Syrian Democratic Forces, aliansi milisi Kurdi, Arab, dan Suriah yang sebagian besar dipimpin oleh Yekîneyên Parastina Gel (YPG) atau People’s Protection Units – tidak diundang ke pembicaraan Astana. Kelompok-kelompok seperti Islamic State (IS) dan Jabhat al- Nusra juga tidak dilibatkan dalam pembicaraan Astana. Mohammed Alloush akan mewakili pihak oposisi lainnya yang hadir dalam pembicaraan Astana yaitu, Ahrar Ash-Sham, Jaysh al-Islam, Ansar al-Sham, juga Free Idlib Army.

Rusia menghadapi serangkaian tantangan baru saat berusaha untuk beralih dari peserta dalam konflik di Suriah ke peace-broker. Pada beberapa putaran awal pelaksanaan Astana Peace Talks, terdapat sejumlah permasalahan yang membuat pihak oposisi dan pemerintah Suriah enggan untuk menyetujui memorandum of understanding (MoU) dari pembicaraan damai Astana. Pihak oposisi merasa bahwa MoU tersebut mengandung loopholes yang tetap melegitimasi aksi pemerintah Suriah dan aliansinya untuk terus membombardir daerah sipil dengan alasan perang terhadap kelompok jihadis Islam atau kelompok teroris di Suriah. Bagi pihak pemerintah Suriah, MoU Zona de-eskalasi akan membatasi ruang geraknya untuk merebut wilayah yang masih diduduki pihak oposisi, pemerintah Suriah tidak ingin pihak oposisi memiliki

(18)

5

kesempatan untuk menduduki wilayah manapun di Suriah walaupun hanya bersifat sementara.7

Selain itu, Astana Peace Talks juga memiliki agenda yang pelaksanaannya cukup bertentangan dengan rezim Bashar al-Assad di Suriah. Alexander Lavrentyev, selaku delegasi Rusia untuk Suriah, menyatakan bahwa Astana Peace Talks memiliki agenda untuk menciptakan Constitutional Committee atau Komite Konstitusional di Suriah. Tujuan dari pembentukkan Komite Konstitusional adalah untuk mengembangkan konstitusi Suriah yang lebih melibatkan partisipasi masyarakat luas dan memberikan dorongan untuk pertimbangan seluruh jajaran penyelesaian politik di Suriah di bawah naungan PBB di Jenewa.8 Kemudian, hubungan antara Rusia dan Suriah menjadi semakin kompleks saat memasuki fase pasca-konflik.9 Belakangan ini, Rusia sangat aktif melakukan upaya rekonstruksi yang didukung oleh kekuatan internasional dan regional. Namun, pemerintah Suriah tidak sepakat dengan hal-hal

7 Anne Barnard dan Rick Gladstone, Russia Reaches Deal for Syria Safe Zones, but Some Rebels Scoff [Artikel Online] (The New York Times, 4 Mei 2017) Diakses melalui

https://www.nytimes.com/2017/05/04/world/middleeast/russia-iran-turkey-syria-de-escalation- zones.html?smpr&_r=0 dilihat pada 5 April 2020.

8 Nikolay Kozhanov, Why is Syria so Important? Moscow’s Vision of its Tasks in Syria Prior to the Beginning of Russian Military Deployment [Jurnal Online] (Russia and the Syrian Conflict, Gerlach Press, 2016) Diakses melalui http://www.jstor.org/stable/j.ctt1hj9wjf.1 dilihat pada 5 April 2020.

9 Indikator pasca-konflik yang digunakan pada penelitian ini adalah agenda-agenda Astana Peace Talks yang sudah memasuki agenda rekonstruksi pada tahun 2019.

(19)

6

yang berkaitan dengan rekonstruksi jika targetnya di kemudian hari adalah menerima kembali para pengungsi ke tanah air Suriah.10

Perlu diketahui bahwa sejak awal keterlibatan Rusia di Suriah, Gross Domestic Product Rusia tidak dalam kondisi stabil. Di mana Rusia mendapatkan sanksi ekonomi dan sanksi diplomatik terkait aneksasi Krimea dan Krisis Ukraina pada tahun 2014. Di bawah tekanan sanksi ekonomi dan diplomatik yang diberikan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, Rusia memilih untuk melibatkan diri pada konflik Suriah untuk memutus isolasi diplomatik yang Rusia alami.11

Selain itu, hubungan Rusia dengan dengan Turki yang merupakan salah satu negara penjamin dalam pembicaraan damai Astana juga menjadi sorotan. Di mana interaksi antara Rusia dan Turki sepanjang tahun 2000an dapat dikatakan cukup ambivalen. Dalam konflik Suriah, Rusia dan Turki berada di pihak yang berbeda, di mana Rusia mendukung rezim Bashar al-Assad, dan Turki mendukung pihak oposisi.

Rusia membuka fase baru dalam kebijakan luar negerinya terhadap Suriah melalui dukungan militer yang secara spesifik dilakukan dengan serangan udara langsung pada tanggal 30 September 2015 di kota Homs dan Hama. Target dari serangan udara Rusia adalah kelompok-kelompok pemberontak yang didukung oleh

10 Julien Barnes-Dacey, Chapter 3: Geo-Politics of Reconstruction: Who Will Rebuild Syria and Pay for It? (Italy: Rebuilding Syria: The Middle East’s Next Power Game?, ISPI, September 2019) hlm. 62

11 Scott B. Lasensky dan Vera Michlin-Shapir, Chapter 9: Avoiding Zero-Sum: Israel and Russia in an Evolving Middle East (Italy: The Mena Region: A Great Power Competition, ISPI and Atlantic Council, Oktober 2019), hlm. 154.

(20)

7

Turki, seperti Syrian National Army. Sehingga, dalam hitungan minggu, hubungan Rusia dan Turki pun memburuk dengan cepat karena kehadiran militer Rusia yang semakin kuat di Suriah.

Perbedaan antara Rusia – Turki mengenai Suriah menyeret keduanya kepada krisis serius pada tanggal 24 November 2015. Saat itu, jet tempur F-16 Turki menembak jatuh sebuah jet tempur SU-24 Rusia yang melanggar wilayah udara Turki di dekat perbatasan Suriah. Tujuh bulan berikutnya, hubungan politik, ekonomi dan budaya antara kedua negara hampir sepenuhnya beku.12 Pada tahun 2015, Rusia memberikan sanksi ekonomi kepada Turki. Sanksi yang diberikan berupa pembatasan impor beberapa barang Turki, pembatasan staf Turki yang bekerja di Rusia, larangan operasi tur yang berangkat ke Turki, dan larangan penerbangan ke Turki atau Turki ke Rusia.13 Akibat sanksi tersebut, Turki kehilangan lebih dari $ 10 miliar – lebih dari 1%

– dari Produk Domestik Bruto negaranya. Namun, pada bulan Agustus 2016, keduanya melakukan pemulihan hubungan dan Rusia secara bertahap mengangkat sanksi yang sebelumnya ia berikan kepada Turki.

Keterlibatan Rusia di Suriah melalui Astana Peace Talks menarik untuk dibahas karena Rusia menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan Astana

12 Emre Erşen, Evaluating the Fighter Jet Crisis in Turkish – Russian Relations (Insight Turkey Vol. 9 No.4, September 2017) hlm. 87.

13 Lin Jenkins, Vladimir Putin announces Russian sanctions against Turkey [Artikel online]

(The Guardian: 28 November 2015) diakses melalui

https://www.theguardian.com/world/2015/nov/28/vladimir-putin-calls-for-greater-sanctions-against- turkey dilihat pada 4 Januari 2021.

(21)

8

Peace Talks. Namun, Rusia tetap berkeinginan untuk melanjutkan proses perdamaian Astana dan memainkan perannya sebagai peace broker di Suriah. Hal tersebut adalah alasan mengapa penelitian berjudul Kepentingan Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriah periode 2017 – 2019 ini dilakukan.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan pernyataan masalah di atas maka pertanyaan penelitian yang akan diajukan adalah:

Kepentingan jangka panjang apa yang ingin dicapai oleh Rusia melalui peran peace broker dalam Astana Peace Talks di Suriah tahun 2017 – 2019?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan berjudul Kepentingan Rusia Melalui Astana Peace Talks di Suriah Periode 2017-2019 adalah:

1. Menganalisis keterlibatan Rusia pada Astana Peace Talks di Suriah pada periode 2017 - 2019;

2. Menjelaskan orientasi kepentingan Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriah sehubungan dengan kerja sama politik yang dibangun Rusia dengan aktor-aktor kunci yang terlibat dalam pembicaraan Astana;

3. Mengaplikasikan konsep dalam studi Hubungan Internasional yang relevan dan dapat digunakan sebagai alat analisa tentang kepentingan Rusia dalam Astana Peace Talks.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat, di antaranya:

(22)

9

1. Diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu Hubungan Internasional baik di dalam lingkup universitas, lingkup nasional dan internasional;

2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah acuan bagi penelitian berikutnya yang akan membahas mengenai kepentingan Rusia di Suriah atau kawasan Timur Tengah secara umum.

D. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka pertama yang peneliti gunakan adalah sebuah tulisan oleh Raymond Hinnebusch dengan judul “The Battle over Syria’s Reconstruction”.14 Tulisan ini dipublikasikan melalui Global Policy Volume 11, Issue 1, Februari 2020.

Hinnebusch memaparkan persaingan para aktor dalam proses rekonstruksi Suriah dan bergulat dengan pertanyaan: apakah rezim pemerintah dapat mengkonsolidasikan kembali kontrolnya atas Suriah dan membentuk keseimbangan internal; apakah aktor internasional mampu mempertahankan pengaruh dalam situasi rekonstruksi yang terfragmentasi; dan apakah pendanaan untuk program rekonstruksi tersedia.

Analisis penulis mengenai pertempuran rekonstruksi di Suriah dapat dilihat melalui perebutan kekuatan, wilayah, dan sumber daya yang disalurkan melalui aset-aset hard power (persenjataan, uang, dan sumber daya manusia) dan power balancing. Interaksi dari dalam ataupun luar perlu dilacak, dalam tulisan tersebut penulis menggunakan

14 Raymond Hinnebusch, The Battle over Syria’s Reconstruction (Global Policy Vol. 11 Issue 1, 2020) hlm. 113.

(23)

10

teori Neo-Classical Realism. Hinnebusch menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengulas perjuangan domestik menghadapi kekuasaan dan persoalan rekonstruksi, perjuangan geopolitik Suriah selama fase pemberontakan yang sebagian besar melibatkan pasukan militer, dan perjuangan geo-ekonomi internasional atas rekonstruksi Suriah.

Hinnebusch melihat Domestic Struggle Suriah dari segi ekonomi, rezim Bashar al-Assad tidak memiliki kondisi perekonomian yang baik sejak konflik di Suriah ini pecah. Terutama, fragmentasi ekonomi di Suriah menyebabkan proses perdagangan internal kacau. Terjadi penyelundupan senjata besar-besaran ke dalam Suriah dan penyelundupan minyak mentah ke luar Suriah.15 Keadaan perekonomian domestik di Suriah telah mengahasilkan ketidaksetaraan baru antara orang biasa dan masyarakat yang sudah berada di puncak kejayaan perekonomian, kekayaan besar akan didapatkan bagi mereka yang berhasil mencari keuntungan perang, dan sisanya akan jatuh miskin karena memilih terlibat dalam gerakan menuju neo-liberalisasi. Suriah merupakan negara yang berisiko memiliki kecenderungan rekonstruksi pasca perang dengan masalah sosial yang buruk dan memicu terjadinya kekerasan lebih lanjut dengan adanya tindak korupsi.

Geopolitical Struggle, krisis Suriah telah menarik kekuatan-kekuatan global dan menjadi arena pertahanan hegemoni internasional. Misalnya, Amerika Serikat ingin

15 Raymond Hinnebusch, The Battle over Syria’s Reconstruction (Global Policy Vol. 11 Issue 1, 2020) hlm. 115.

(24)

11

mempertahankan hegemoninya atas nama tatanan dunia liberal dan upaya Rusia untuk mempromosikan dunia multipolar melalui keterlibatannya di Suriah. Geo-economics Struggle, restrukturisasi Suriah tentunya sangat terdampak dari aktor-aktor yang terlibat dalam perjuangan geopolitik. Rusia merupakan kekuatan utama yang mempromosikan rekonstruksi Suriah, Rusia memberikan dukungan militer dan ekonomi besar-besaran kepada rezim Suriah dalam waktu lama dan beberapa kali juga hutang rezim Assad dianggap lunas olehnya.

Tulisan Hinnebusch berbeda dengan penelitian ini karena Hinnebusch menggunakan teori neo-classical realism untuk menjelaskan faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi terciptanya kebijakan dari pemerintah Suriah. Terutama dalam hal penyusunan ulang kebijakan Suriah dan penyesuaiannya terhadap kekuatan global dan regional, serta penekanan bahwa tanpa bantuan dari negara lain dalam hal rekonstruksi, Suriah akan menjadi negara gagal yang tidak dapat menopang stabilitas negaranya sendiri.

Sedangkan, penulis menggunakan konsep kepentingan nasional yang merupakan turunan dari teori Realisme Klasik untuk menganalisis kepentingan jangka panjang Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriah. Peneliti memiliki subjek penelitian yang berbeda dengan tulisan Hinnebusch karena peneliti akan lebih memperdalam keterlibatan Rusia di Suriah melalui pembicaraan damai Astana. Namun, tulisan Hinnebusch adalah tulisan yang menarik untuk melengkapi sudut pandang penulis

(25)

12

dalam melihat situasi pada fase rekonstruksi di Suriah, adaptasi Suriah pada konflik di negaranya, serta penyusunan kebijakan luar negeri pemerintah Suriah.

Tinjauan pustaka kedua yang peneliti gunakan adalah sebuah tulisan oleh Zeinab A. Ahmed dengan judul “Russian Role in Syrian in the Light of its Strategy Towards the Middle East (2015 – 2018)”. Tulisan dipublikasikan melalui Eurasian Journal of Social Sciences Volume 6 Nomor 3 tahun 2018. Tulisan ini mengemukakan argumen deskriptif mengenai Strategi Rusia di Timur Tengah hingga tahun 2018 dan campur tangan Rusia dalam krisis Suriah dengan tujuan untuk mengubah kecenderungan hasil perang di Suriah dan merestrukturisasi hubungan Rusia dengan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik Suriah.

Penulis menganalisis motif keberadaan Rusia di Suriah melalui pendekatan yang dilakukan Rusia terhadap aktor-aktor kunci di Timur Tengah. Rusia memiliki kebijakan yang berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terhadap Timur Tengah. Rusia memiliki kebijakan yang sepenuhnya non-ideologis dan independen dari perjuangan Sunni dan Syiah.16 Karakteristik ini membuat strategi Rusia dapat dibedakan dari kebijakan Barat yang selama ini menjamin dan memanfaatkan perpecahan Sunni dan Syiah untuk mencapai kepentingan mereka dan mendapatkan lebih banyak keuntungan dari kondisi tersebut. Analisis ini didukung oleh data-data yang menunjukkan beberapa peristiwa kesepakatan militer antara Rusia

16 Zeinab Ahmed, Russian Role in Syria in the Light of its Strategy Towards the Middle East (Eurasian Journal of Social Sciences Vol. 6 No. 3, 2018) hlm. 40.

(26)

13

dengan dengan aktor-aktor penting di Timur Tengah seperti Iran, Turki, Arab Saudi, Israel, dan Yordania.

Berkurangnya peran AS di wilayah Timur Tengah menjadi faktor meningkatnya interaksi Rusia dengan aktor-aktor kunci di Timur Tengah. Penulis menyatakan bahwa kerja sama dengan aktor regional di Timur Tengah dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan pengaruhnya di kawasan yang dinamis ini dalam jangka pendek, meskipun kepentingan Rusia mungkin tidak sejalan dengan kepentingan negara-negara regional Timur Tengah dalam jangka panjang.17

Jurnal ini tidak menjadikan proses perdamaian Suriah sebagai objek kajian utama untuk membahas strategi yang dilakukan Rusia di Suriah karena cakupan dari jurnal ini adalah kawasan Timur Tengah secara umum. Sedangkan, pada penelitian kali ini pembahasan dititikberatkan pada objek kajian pada salah satu proses perdamaian Suriah. Zeinab Ahmed membahas mengenai hubungan yang dibangun Rusia dengan aktor-aktor kunci di Timur Tengah, tidak hanya Suriah. Sehingga, peneliti dapat menggunakan data-data temuan penulis untuk lebih memperdalam aspek dan bobot kepentingan Rusia di Suriah.

Tinjauan pustaka ketiga yang peneliti gunakan adalah sebuah buku yang diterbitkan oleh ISPI dan Atlantic Council pada bulan Oktober 2019. Judul tulisan ini adalah The MENA Region: A Great Power Competition. Buku ini memiliki beberapa

17 Zeinab Ahmed, Russian Role in Syria in the Light of its Strategy Towards the Middle East (Eurasian Journal of Social Sciences Vol. 6 No. 3, 2018) hlm. 40.

(27)

14

bab yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dikerjakan, beberapa diantaranya adalah Bagian Kedua: Same Ends but Different Means: Change, Continuity and Moscow’s Middle East Policy oleh Mark N. Katz.18 Mark berargumen bahwa semua aktor di Timur Tengah dapat mereduksi pengaruh eksternal kekuatan-kekuatan besar dunia seperti Rusia hanya jika seluruh wilayah regional ingin bersatu untuk mengadili atau menindak lanjuti external hegemon power. Namun, pada kenyataannya, banyak pihak di wilayah Timur Tengah yang enggan untuk bekerja sama dan mengatasi percampuran tangan negara lain di luar Timur Tengah atau MENA (Middle East and North Africa).

Kemudian pada Bagian Ketiga: The Astana Model: Methods and Ambition of Russian Political Action oleh Andrey Kortunov. Ia menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Rusia di Timur Tengah dan Afrika Timur adalah salah satu kebijakan Putin yang cukup sukses karena Rusia tidak dibatasi oleh aliansi kaku yang bisa membatasi fleksibilitasnya dalam menjalin hubungan antar negara. Andrey juga berargumen bahwa Rusia tidak bisa diam pada preferential position selamanya, akan ada saat di mana Rusia harus memilih pihak mana yang akan ia dukung lebih banyak. Andrey melihat keterlibatan Rusia di Astana Peace Talks pada tahun 2017 dapat diamati dalam jangka pendek. Menurut Andrey, peningkatan keterlibatan Rusia di Timur Tengah dalam hal peace settlement itu dapat mempertaruhkan beberapa keunggulan komparatif

18 Karim Mezran dan Arturo Varvelli, ed., The Mena Region: A Great Power Competition (ISPI and Atlantic Council, Oktober 2019)

(28)

15

Rusia sebagai perantara yang jujur dalam konflik Suriah. Seiring berjalannya waktu, sebagian posisi istimewa Rusia di Suriah yang dekat dengan hampir semua pihak ini akan menjadi rapuh dan tidak berkelanjutan. 19

Andrey mengemukakan kemungkinan penciptaan sistem keamanan kolektif di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara untuk mengatasi pengurangan pengaruh Rusia yang mengancam posisinya di Suriah. Namun sistem tersebut terhalang oleh beberapa kendala, seperti: 20

1. Sistem keamanan kolektif inklusif yang membutuhkan partisipasi yang tidak hanya datang dari negara-negara Arab, tetapi juga negara-negara non- Arab di wilayah tersebut seperti Turki, Israel, dan Iran.

2. Kedua, dunia Arab sendiri masih sangat terfragmentasi dan sulit untuk didamaikan, ilustrasi krisis paling baru dalam tulisan Andrey adalah krisis di Qatar.

3. Tidak ada kebijakan one size fits all yang bisa benar-benar berhasil untuk diaplikasikan di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.

Andrey menejelaskan bahwa secara teori penciptaan sistem keamanan kolektif ini memang hebat. Namun, sistem tersebut hampir tidak dapat dicapai dalam praktiknya.

19 Andrey Kortunov, The Astana Model: Methods and Ambition of Russian Political Action (ISPI and Atlantic Council, Oktober 2019) hlm. 56

20 Andrey Kortunov, The Astana Model: Methods and Ambition of Russian Political Action (ISPI and Atlantic Council, Oktober 2019) hlm. 59

(29)

16

Meskipun memiliki objek kajian yang sama yaitu Astana Peace Talks – terutama pada bab 3 yang ditulis oleh Andrey Kortunov – terdapat perbedaan ide antara kepentingan nasional yang disampaikan Andrey dan kepentingan nasional yang disampaikan peneliti. Kepentingan nasional yang disampaikan Andrey berkaitan dengan kemungkinan penciptaan sistem keamanan kolektif yang dikaji melalui strategic shifting dan posisi istimewa Rusia di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.

Namun, bab yang ditulis oleh Andrey ini membahas strategi Rusia untuk mendekati semua pihak di Timur Tengah pasca berkurangnya peran AS di kawasan. Yang mana, hal tersebut akan memerkaya cakrawala berpikir penulis dalam memahami strategi Rusia di Timur Tengah.

E. Kerangka Teoretis 1. Realisme Klasik

Realisme Klasik merupakan teori yang dikembangkan oleh salah satu tokoh yaitu Hans Morgenthau. Morgenthau menekankan batasan-batasan politik yang dipengaruhi oleh sifat manusia yang dianggap egois. Faktor tersebut berkontribusi pada paradigma hubungan internasional yang konfliktual. Menurut Morgenthau, sebuah teori harus bersifat empiris dan logis.21 Caranya adalah dengan mempelajari apa yang terjadi di dunia untuk

21 Hans Morgenthau, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace (New York, Knopf, 1954) hlm.3

(30)

17

memahami apa yang terjadi di dunia, sehingga teori yang ada diciptakan atas dasar pengalaman-pengalaman yang benar-benar terjadi di dunia.22

Morgenthau menyatakan bahwa dunia yang kita pijak adalah dunia yang dipenuhi dengan aktivitas struggle for power. Sebagai sebuah teori yang mengutamakan aktor negara, Realisme meyakini bahwa manusia memiliki sifat rakus dan kompetitif. Hal-hal tersebut merefleksikan sifat suatu negara, kaum Realis berpendapat bahwa negara selalu terlibat dalam perebutan kekuasaan sebagai hasil dari keinginan untuk bertahan hidup dan mendominasi negara lain.

Satu hal terpenting bagi suatu negara dalam pandangan Realisme adalah kekuasaan atau power.23 Realisme menekankan sifat manusia dalam politik internasional, yang berarti bahwa sifat manusia menyebabkan sebuah negara untuk bertindak dengan cara tertentu dan secara inheren mementingkan diri sendiri. Untuk memahami Realisme, kita harus memahami asumsi filosofis di balik banyak pemikiran Realis.24 Realisme memiliki klaim dan generalisasi tertentu mengenai sifat hubungan internasional dan motivasi para aktor. Kaum Realis setuju dengan gagasan Thomas Hobbes tentang ‘the international state of nature as a state of war’. Sehingga, dalam situasi berperang sebuah negara

22 Hans Morgenthau, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace (New York, Knopf, 1954) hlm.5

23 Hans Morgenthau, Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace (New York, Knopf, 1954) hlm.5

24 Luke Glanville, How Are We to Think about the 'National Interest'? (AQ: Australian Quarterly Vol. 77, No. 4,2005) hlm. 33

(31)

18

harus mencari ‘power after power’. Morgenthau menyatakan bahwa ‘the main signpost that helps political realism to find its way through the landscape of international politics is the concept of interest defined in terms of power'. 25

Bagi Morgenthau, kepentingan nasional itu ‘taken in isolation, the determination of its content in a concrete situation is relatively simple; for it encompasses the integrity of the nation's territory, of its political institutions, and of its culture’. Morgenthau juga membenarkan pengejaran bahwa individu mungkin berkata pada dirinya sendiri “‘let justice be done, even if the world perish’, but the state has no right to say so in the name of those who are in its care”. Sehingga, mengejar kepentingan nasional bukan hanya kebutuhan politik tetapi juga kewajiban moral bagi suatu bangsa untuk menjaga hubungannya dengan bangsa lain, tetapi sebagai penuntun (one guiding star), standar pemikiran (one standard of thought), dan aturan atas suatu tindakan (one rule of action).

2. Konsep Kepentingan Nasional

Kepentingan nasional merupakan sebuah konsep turunan dari teori Realisme Klasik. Hans J. Morgenthau melihat kepentingan nasional dalam dua tingkatan: the vital (primary) dan the secondary. Untuk memahami kategori vital yang berkonsentrasi pada fundamental physical existance atau kehidupan

25 Luke Glanville, How Are We to Think about the 'National Interest'? (AQ: Australian Quarterly Vol. 77, No. 4,2005) hlm. 34

(32)

19

suatu negara, maka tidak boleh ada kompromi atau keraguan untuk berperang.

Dengan kata lain, semua negara harus mempertahankan kepentingan vital ini dengan harga berapapun. Kepentingan vital relatif mudah didefinisikan, misalnya persoalan keamanan negara – terutama bagi negara yang bebas dan mandiri – dan persoalan perlindungan terhadap lembaga, masyarakat, dan nilai- nilai fundamental suatu negara.26 Sedangkan kepentingan sekunder adalah kepentingan yang dapat dikompromi dan bukan merupakan kepentingan yang mengancam kedaulatan suatu negara. Hal ini membuat kepentingan sekunder cenderung lebih sulit untuk didefinisikan walaupun sudah melihat tujuan negosiasi dari suatu kompromi. 27

Kepentingan sekunder tidak boleh diabaikan walaupun tidak mengancam kedaulatan suatu negara. Morgenthau percaya bahwa Kepentingan Sekunder dalam waktu dekat dapat berubah menjadi Kepentingan Vital dan dapat menjadi ancaman keamanan bagi suatu negara. Kepentingan vital kadang-kadang dapat meluas ke luar negeri jika seseorang mendeteksi negara ekspansionis yang jauh saat ini, tetapi mengumpulkan kekuatan dan penaklukan yang nantinya akan mempengaruhi negara sendiri. Kekuatan imperialis yang mengancam kepentingan suatu negara lebih baik ditangani sejak dini dan selalu

26 Alfred Marleku, National Interest and Foreign Policy: The Case of Kosovo (Italia: MCSER Publishing, Mediterranean Journal of Social Sciences Volume 4 No. 3, September 2013) hlm. 416

27 Michael G. Roskin, National Interest: From Abstraction to Strategy [Jurnal online]

(Amerika Serikat, Strategic Studies Institute, 20 Mei 1994) Diakses melalui

https://publications.armywarcollege.edu/pubs/1656.pdf dilihat pada 10 Agustus 2020. Hlm.5

(33)

20

ditangani dengan tenaga yang memadai. Jika suatu kepentingan bersifat sekunder, reposisi prioritas dapat dinegosiasikan, asalkan pihak lain tidak terlibat dalam kebijakan ekspansionisme. Contohnya, saat Rusia memiliki kebijakan ekspansionisme untuk mengklaim wilayah Krimea pada tahun 2014, maka Krimea tidak ragu untuk melibatkan diri dalam peperangan, karena kedaulatan negaranya sedang terancam.

Bobot atau weight of impact dari level Kepentingan Vital dan Kepentingan sekunder ini menyerupai hierarki intensitas dan penerapan (intensity and applicability) yang dikemukakan oleh Donald Neuchterlein. Di mana terdapat core strategic interests (kepentingan inti strategis) akan lebih mudah masuk ke dalam kelompok kepentingan vital karena berkaitan dengan isu-isu seperti kedaulatan negara dan pencegahan konflik interstate. Kondisi di mana pembuat kebijakan tidak mau berkompromi maka akan langsung menjadi core strategic interests. Apabila pembuat kebijakan dapat berkompromi, maka masalah tersebut akan tetap menjadi kelompok kepentingan sekunder.28 Dalam kepentingan sekunder, kompromi bisa bermacam-macam bentuknya dan tergantung pada jenis kepentingan yang sedang dibahas (misalnya kepentingan ekonomi atau budaya). Contohnya, Rusia memiliki kepentingan untuk membangun kembali Gross Domestic Product di negaranya, sehingga bentuk

28 Dr. P. H. Liotta, Still Worth Dying for National Interests and The Nature of Strategy [Jurnal Online] (Naval War College Review, Vol. 56 No. 2, Article 10, Musim Semi 2003) hlm. 123 – 138.

Diakses melalui https://digital-commons.usnwc.edu/nwc-review/vol56/iss2/10/ dilihat pada 15 Agustus 2020. Hlm. 130

(34)

21

komprominya adalah saat Rusia melakukan kerja sama dengan Iran untuk menghindari future economic damage Rusia.

Kemudian, Michael G. Roskin melengkapi dua tingkatan kepentingan nasional Morgenthau dan P. H. Liotta dengan mengkategorikan keduanya berdasarkan Weight of Impact atau bobot dari kepentingan nasional. Tambahan lain dibedakan menjadi permanent dan temporary, specific dan general.29 Permanent Interest atau Kepentingan permanen biasanya relatif konstan dari waktu ke waktu sehingga kepentingan ini dapat bertahan dalam periode waktu yang lama. Temporary Interest atau Kepentingan sementara adalah apa yang suatu negara anggap sebangai kepentingan nasionalnya pada waktu tertentu.

General Interest atau Kepentingan umum adalah kepentingan yang diterapkan oleh suatu negara secara positif terhadap: (1) wilayah geografis yang luas; (2) terhadap negara-negara dalam jumlah yang besar; atau (3)kepentingan dalam beberapa bidang tertentu. Contoh dari kepentingan umum ini adalah perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) di negara lain. Kemudian keinginan untuk mempertahankan HAM ini direalisasikan dalam bentuk ratifikasi terhadap perjanjian mengenai HAM yang melibatkan banyak negara lainnya dalam cakupan geografis yang luas. Specific Interest atau Kepentingan Spesifik sangat ditentukan oleh ruang dan waktu dan seringnya merupakan logic

29 Michael G. Roskin, National Interest: From Abstraction to Strategy [Jurnal online]

(Amerika Serikat, Strategic Studies Institute, 20 Mei 1994) Diakses melalui

https://publications.armywarcollege.edu/pubs/1656.pdf dilihat pada 10 Agustus 2020. Hlm. 5

(35)

22

outgrowth dari Kepentingan Umum.30 Berikut ini adalah tabel taksonomi kepentingan nasional yang melibatkan bobot dari kepentingan vital dan kepentingan sekunder. Tabel ini diadopsi dari tulisan P.H. Liotta dan Michael G. Roskin:

Tabel I.E.1. Konsep Kepentingan Nasional

Russian National Interest through Astana Peace Talks in Syria 2017 -2019 Aspects of Interest Level of Interest Weight of Impact Interest(s)

Importance

Vital Core Strategic Secondary Significant Value

Duration

Vital Temporary

Secondary Permanent

Specificity

Vital Specific

Secondary General

Kemudian, perlu diketahui bahwa setiap level Kepentingan dapat mencakup tiga bobot kepentingan. Contohnya, kepentingan suatu negara untuk mendukung perjanjian hak asasi manusia, dapat dikategorikan dalam level sekunder (significant value, permanent, dan General). Dalam bab analisis, peneliti akan menggunakan tabel di atas yang disertai dengan beberapa perubahan yang disesuaikan dengan Kepentingan Nasional Rusia melalui

30 Alfred Marleku, National Interest and Foreign Policy: The Case of Kosovo (Italia: MCSER Publishing, Mediterranean Journal of Social Sciences Volume 4 No. 3, September 2013) hlm. 416

(36)

23

Astana Peace Talks di Suriah Periode 2017-2019. Berikut adalah contoh tabel yang akan peneliti gunakan:

Tabel I.E.2. Kerangka Table Kepentingan Nasional Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriah Periode 2017-2019

Russian National Interest through Astana Peace Talks in Syria 2017 -2019 Aspects of

Interest

Level of Interest

Weight of Impact

Interest(s)

Importance

Vital (Tiga bobot kepentingan)

Secondary (Tiga bobot kepentingan)

Dinamika yang terjadi dalam hubungan Rusia dengan aktor-aktor lain yang terlibat dalam konflik Suriah berlandaskan pada kepentingan nasional.

Seiring berjalannya waktu, tentunya Kepentingan setiap aktor yang terlibat dalam konflik akan mengalami perubahan, tidak terkecuali Rusia. Penggunaan tabel taksonomi kepentingan nasional di atas akan membantu peneliti dalam menelusuri Hierarchy of intensity and applicability dari satu kepentingan

(37)

24

nasional. 31 Level of interest yang dilengkapi dengan weight of impact diharapkan dapat membantu penulis dalam menganalisis pertanyaan penelitian serta menjelaskan urgensi kepentingan nasional Rusia yang ingin dicapai melalui permainan strategi penuh tantangan dan ambiguitas di Suriah.

F. Metode Penelitian

Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Peneliti memilih metode kualitatif karena penelitian ini memiliki analisis data berjenis deskriptif analitik. Analisa yang bersifat deskriptif dikomunikasikan melalui data, kemudian data tersebut dapat mengkomunikasikan studi teoritis melalui konsep yang telah diilustrasikan oleh data. Sehingga analisisa deskriptif ini mampu membuat gambaran analisis mengenai gejala dan situasi yang menjadi bagian dari pokok permasalahan yang sedang diteliti.32

Peneliti melihat bahwa metode kualitatif akan membantu peneliti menjelaskan kepentingan Rusia melalui Astana Peace Talks di Suriahpada tahun 2017-2019. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah analisis induktif, di mana pola, kategori, dan tema akan dibangun dari bawah ke atas. Proses ini akan mengilustrasikan upaya peneliti dalam mengolah

31 Dr. P. H. Liotta, Still Worth Dying for National Interests and The Nature of Strategy [Jurnal Online] (Naval War College Review, Vol. 56 No. 2, Article 10, Musim Semi 2003) hlm. 131. Diakses melalui https://digital-commons.usnwc.edu/nwc-review/vol56/iss2/10/ dilihat pada 15 Agustus 2020.

Hlm. 131

32 Steven J. Taylor, Robert Bogdan dan Marjorie L. DeVault, Introduction to Qualitative Research Methods 4th Edition (Kanada: John Wiley & Sons, Inc., 2016) hlm.4

(38)

25

serangkaian data menjadi tema yang utuh.33 Selain itu, proses penelitian juga akan dilakukan melalui studi literatur. Studi literatur merupakan proses pencarian data yang bersumber dari berbagai informasi, hasil penelitian para ahli, serta berita analisis yang dimuat dalam berbagai sumber pustaka seperti buku, jurnal, karya tulis ilmiah, artikel web atau internet yang dapat dipertanggungjawabkan, media cetak, serta skripsi yang sesuai dengan tema yang diangkat oleh peneliti. Dalam skripsi ini, peneliti juga menggunakan data primer yang didapat dari dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Rusia.

G. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan awal dari penulisan skripsi yang memuat pernyataan masalah yang akan diangkat oleh peneliti dan pertanyaan penelitian. Selain itu, bab ini akan dilengkapi dengan tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika tulisan. Bab Pendahuluan ini bertujuan untuk mengetahui maksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan.

BAB II KONFLIK SURIAH DAN PERJALANAN PROSES PERDAMAIAN

33 John W. Cresswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Amerika Serikat: SAGE Publications Ltd., 2014) hlm.62

(39)

26

Pada bab kedua, peneliti akan menjabarkan latar belakang dari konflik Suriah dan aktor-aktor yang terlibat dalam konflik Suriah seperti Rezim Bashar al-Assad, pihak oposisi, kekuatan asing, dan jihadis Islam. Kemudian, bab ini juga akan membahas mengenai upaya proses perdamaian Suriah sebelum terciptanya Astana Peace Talks pada tahun 2017.

BAB III ASTANA PEACE TALKS DAN POSISI RUSIA DALAM KONFLIK SURIAH

Pada bab ketiga, peneliti akan memberikan deskripsi mengenai forum perdamaian Astana Peace Talks. Peneliti akan memberikan gambaran umum mengenai awal terciptanya forum Astana Peace Talks sebagai salah satu strategi kepentingan Rusia di Timur Tengah. Bab ini juga akan menjelaskan apa yang berhasil dicapai, dan apa yang belum dapat dicapai selama tiga tahun pembicaraan ini berlangsung.

BAB IV ANALISIS KEPENTINGAN RUSIA MELALUI ASTANA PEACE TALKS DI SURIAH TAHUN 2017

Pada bab keempat, peneliti akan menjawab pertanyaan penelitian mengenai apa kepentingan jangka panjang di Suriah melalui Astana Peace Talks 2017 – 2019. Analisis akan dilakukan dengan membedah data-data strategis yang peneliti dapatkan dan analisis akan dipaparkan dengan menggunakan konsep kepentingan nasional.

BAB V KESIMPULAN

(40)

27

Pada bab kelima, peneliti akan mengemukakan hasil dari keseluruhan penelitian dan memuat jawaban atas pertanyaan penelitian.

(41)

28

BAB II

KONFLIK SURIAH DAN PERJALANAN PROSES PERDAMAIAN SURIAH

Tulisan pada bab ini akan memberikan penjelasan terkait konflik Suriah dan perjalanan proses perdamaian Suriah dari tahun 2011 hingga 2019. Dimulai dari sekilas mengenai negara Suriah, awal mula meletusnya konflik Suriah untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad, eskalasi konflik yang terjadi karena keterlibatan kelompok- kelompok jihadis Islam seperti IS, dan keadaan konflik Suriah pada tahun 2019. Pada bagian selanjutnya, peneliti akan menjelaskan upaya-upaya perdamaian yang telah dilakukan untuk mengatasi konflik Suriah pada tahun 2011 – 2019. Melalui penjelasan yang peneliti urutkan secara sistematis, maka tujuan dari penulisan bab ini adalah untuk memberikan gambaran menyeluruh kepada pembaca terkait konflik Suriah dan upaya proses perdamaian Suriah.

B. Profil Negara Suriah

Republik Arab Suriah adalah negara berbentuk republik yang populasinya sebagian besar tinggal di sepanjang poros utara-selatan bagian barat negara tersebut, tepatnya adalah di kota-kota seperti Damaskus dan Aleppo. Hal ini dikarenakan bagian tengah negara Suriah merupakan daerah gurun yang jarang ditinggali penduduk.

Lembah Eufrat dan sudut timur laut Suriah adalah rumah bagi beberapa tanah pertanian

Gambar

Tabel I.E.1.     Konsep Kepentingan Nasional……………………………………….22  Tabel I.E.2.  Kerangka  Tabel  Kepentingan  Nasional  Rusia  melalui  Astana  Peace  Talks di Suriah Periode 2017 – 2019………………………………...23  Grafik III.C.1  GDP Riil Rusia [Presentase Pertahun]…
Tabel I.E.1. Konsep Kepentingan Nasional
Tabel I.E.2. Kerangka Table Kepentingan Nasional Rusia melalui Astana  Peace Talks di Suriah Periode 2017-2019
Gambar II.1. Jaringan Kompleks Konflik di Suriah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini juga dipersetujui oleh ibu kepada suspek yang tidak berpuas hati dengan SOP tangkapan yang dilaksanakan terhadap anaknya dan berharap polis mempunyai SOP

Modifikasi komposisi medium tanam dengan mengubah formulasi komposisi vitamin dan konsentrasi gula yang terdapat di dalam medium MS memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada

Mahasiswa KMIS merupakan sekelompok mahasiswa yang bersifat heterogen dalam hal latar belakang jurusan dan fakultas, tetapi peneliti di lapangan pada saat kegiatan

Terakhir adalah kombinasi pengungkapan modal intelektual dan variabel kontrol yang tergolong dalam variabel dummy (reputasi pengacara, reputasi auditor, reputasi

Pada tahap observasi, secara garis besar keadaan kelas pada siklus II adalah: (1) pada fase 1 peneliti dapat menguasai kelas sehingga siswa tidak ramai sendiri

Pembelajaran yang digunakan guru yaitu tematik dengan menggunakan metode ceramah akan tetapi diselingi dengan sesi tanya jawab dengan para siswa, menggunakan media

• Membangkitkan potensi budaya yang ada di masyarakat agar dapat mendukung daya tarik wisata kampung Pelangi Kota Magelang..