• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL SASTRA DAN BUDAYA IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSIDING SEMINAR NASIONAL SASTRA DAN BUDAYA IV"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL SASTRA DAN BUDAYA IV

KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA

Tim Penyunting

Drs. I Ketut Ngurah Sulibra, M. Hum.

Drs. I Wayan Teguh, M. Hum.

Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M. Hum.

DENPASAR, 29 – 30 MARET 2019

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2019

(3)

viii

ORIENTASI NILAI BUDAYA PETANI SAYUR: STUDI KASUS DI DESA ARGOSARI, KECAMATAN SENDURO, KABUPATEN LUMAJANG, PROVINSI JAWA TIMUR

Ketut Darmana ... 221

CERITA SI LUTUNG DAN SIKEKUWE DALAM SEBUAH PERBANDINGAN

Komang Paramartha, I Nyoman Sukartha ... 227

KISAH CINTA DAN PENGORBANAN DI BALIK TRADISI PASOLA DI

SUMBA (KONSEP AWAL PENULISAN SKENARIO FILM PASOLA SUMBA) Maria Matildis Banda ... 234

KAJIAN SEMIOTIKA PEIRCE PADA PUISI IA TAK PERNAH JANJI LANGIT SELALU BIRU DALAM ANTOLOGI PUISI DI KOTA TUHAN AKU ADALAH DAGING YANG KAU PECAH-PECAH KARYA STEBBY JULIONATAN Moh. Yusril Hermansya ... 240

PERAN EKOLOGI SASTRA PUISI TERHADAP PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Mursalim ... 247

PROBLEMATIKA KURIKULUM GENERIK PELAJARAN BAHASA BALI Nengah Arnawa ... 252

DIVERSIFIKASI PEMAKNAAN ISTILAH BUDAYA BALI DI MEDIA ONLINE

Ni Ketut Alit Ida Setianingsih, I Gusti Ngurah Parthama ... 258

PRASASTI SEBAGAI BUKTI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BALI KUNO

Ni Ketut Puji Astiti Laksmi ... 265

“ARDHANARESWARI”; REPRESENTASI NILAI KEARIFAN LOKAL BALI DALAM MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER

Ni Luh Arjani ... 270

PERSPEKTIF GENDER TUTURAN PERINTAH BAHASA JEPANG: STUDI PENDAHULUAN

Ni Luh Kade Yuliani Giri ... 275

REDUPLIKASI ADJEKTIF SECARA MORFEMIS DALAM BAHASA BALI Ni Luh Komang Candrawati ... 280

GEGURITAN SIWARATRI KALPA (LUBDAKA): ANALISIS ALUR CERITA DAN PENOKOHAN

Luh Putu Puspawati ... 287

(4)

Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 287 GEGURITAN SIWARATRI KALPA (LUBDAKA):

ANALISIS ALUR CERITA DAN PENOKOHAN

Luh Putu Puspawati

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

ABSTRAK

Geguritan Siwaratri Kalpa sebuah geguritan berbahasa bali, geguritan itu diikat oleh pemakaian pupuh. Pengarang Ida Bagus Putu Bangli dari sanur. Tujuan dibuat karya ini adalah untuk mengenalkan berbagai pupuh dalam kesusastraan Bali yang dapat dipahami oleh generasi muda, dalam rangka menyiapkan generasi yang paham dalam hal tembang Bali.

Isi geguritan ini berkaitan dengan tokoh Lubdaka yang hidup sebagai pemburu, setelah meninggal rohnya menjadi rebutan antara Dewa Siwa dan Dewa Yama. Dalam perebutan itu masing-masing mengerahkan prajurit dipihak Dewa Siwa dan Dewa yama. Dewa Siwa penguasa sorga dan Dewa Yama penguasa neraka. Dewa Siwa memenangkan roh Lubdaka dibawa ke Siwalaya dan mendapatkan anugrah Siwa.

Kata kunci: Siwa, Yama, roh, Lubdaka

I.Pendahuluan

Karya sastra yang berbentuk geguritan ini, berjudul Siwaratri Kalpa, awalnya proses penciptaan geguritan Siwaratri Kalpa digubah berdasarkan cerita Lubdaka yang disusun dalam pupuh/gending Bali. Tujuan disusunnya buku ini sangat ideal seperti halnya penulis dari desa Sanur ini menjadi salah satu tujuan wisata dunia, sehingga pariwisata budaya sudah tentu harus didukung oleh manusia-manusia yang berbudaya.

Motivasi terbitnya buku ini dalam kata pengantar buku yang dicetak 2004 (selesai ditulis 2001) dimaksudkan untuk kreativitas generasi muda yang getol dengan gending-gending Bali, dengan seni budaya yang bernafaskan agama Hindu, diyakini mampu mengantisipasi proses perkembangan dunia makin mengglobal.

Pengarang geguritan dalam pemahbah parwa dengan unggapan bahasa Jawa Kuna didahului manggala dengan kata singgih……Ksamakuanguluniki ngawis tatakena pemargine

carita dilanjutkan sanghyang murti niskala gemerlap sumerasah sunuruping rangdu praja

mandala

Mijil..Sanghyang Kawisuara murti, sawettuning tinuduh denira hyang perama siwa, danira

gumatak wang para.

(5)

288 Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019

Sigra..Sanghyang ringgit amolah cara, angikit jatining asta dasa parwa. Wus jangkep punang

Carita gumaweyakeniranngin pinunggal para ya ta yeki siwa rari kalpa pangarania

Setelah selesai pemujaan kepada Dewa pengarang Asta Dasa Parwa lalu pengarang menceriterakan singkat tentang cerita Lubdaka minta diri kepada istrinya dan putranya dengan mengutip bagian-bagian Kakawin Ramayana dalam….kawi sarat samaya kala mirah parangka, kalon taleg paradesa ringawarna kepada ranya. Purwakaning angriptarum, kakandung labuh kartika massa…panedenging sari.

Setelah tembang malampah yang berisikan makna singkat ceritera Siwaratri yaitu tentang pesan orang tua kepada seorang anak agar dikemudian hari menjadi manusia berguna. Lalu bagian akhir pengarang menyebutkan

….sanangkana maksalawaning brata siwaratri maka nimitap siwa pada binuktinira.

Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan membaca dan menganalisis teks-teks yang terkait.

II.Struktur Teks (forma) Geguritan Siwaratri Kalpa b. Pupuh Semarandana (10 pupuh)

c. Pupuh Durma (6 pupuh) d. Pupuh Dandang (9 pupuh) e. Pupuh Pangkur (16 pupuh)

f. Tembang Eman- Eman (10 pupuh) g. Pupuh Durma (10 pupuh)

h. Sinom Lawe (5 pupuh) i. Pupuh Ginada (5 pupuh) j. Pupuh Durma (12 pupuh) k. Pupuh Dandang (10 pupuh)

III. Alur Cerita Geguritan Siwaratri Kalpa 3.1. Pupuh Semarandana

Menyebutkan kerajaan Tumapel sebagai seorang raja adalah Ken Arok menuruti pikiran tamak, makanya pengarang membuat kakawin Lubdaka yang menceriterakan pemburu mirip dengan Ken Arok, Ken Dedes diculik yang bersuami Tunggul Ametung. Seorang istri utama ini dipakai gambaran pengarang sebagai suluh menjadi manusia, karena karmapala tidak melempas. Demikian peringatan Mpu Tanakung seperti di Bali yang berbudaya.

Ketika sasih keempat, pesan kepada orang Bali agar paham dengan gending Bali ngawe lango, setiap tahun agar ingat Siwaratri Kalpa agar melek, bulan kepitu Betara Siwa menjaga. Di ceriterakan juru boros setiap hari berburu berbagai binatang, meninggalkan istri dan anak terus melakukan pembunuhan.

Ketika hari cerah pergi pagi sekali sang Lubdaka keluar dari pedukuhan , lengkap sarana berburu. Dalam perjalanan tidak menemukan binatang, haripun sudah malam.

(6)

Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 289 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019

3.2 Pupuh Durma

Sang Lubdaka masuk ke dalam hutan dalam perburuan itu matahari sudah siang tidak menemukan binatang. Tidak berhasil merasa sedih, sekarang tiba-tiba muncul taman tempat Sang Pandawa melakukan pebersihan dulu dan ada suara/pesan begini nasib jadi orang, hidup menunggu kematian, ingat sangkan paraning meneresi, bila kurang pengetahuan yadnya dibuat, tri rna diingat dan dihormati kepada pitara.

3.3 Pupuh Dandang

Pemburu bingung bermalam di hutan, lalu naik ke pohon bila, karena akan mendapatkan bahaya besar, bila ada binatang macan dating, ketika itu musim hujan, angina kencang, semakin tidak dapat tidur, di taru bila inilah menggigil sambil memetik daun-daun bila, menunggu besok pagi. Betara Siwa meyoga di bawah pohon bila, tiba-tiba arca dilihat, tempat Hyang Parama Guru beryoga dan semadi, tidak terasakan daun itu jatuh di arca itu dari malam hari Lubdaka terkejut Diberikan makna cerita tidak tidur semalaman akan melebur dosa tidak dapat dilebur semalaman juga dipikirkan begadang satu malam saja, yang utama adalah memahami yang dikuasai musuh loba dengki irihati, panca indria dipegang. Tri marga dijalani, melaksanakan karya Siwarartri, tutur penting disertai sembah bakti.

3.4. Pupuh Pangkur

Pemburu merasa sedih balik dari gunung, sedih hati tidak makan minim merasakan lapar, jangan-jangan rasanya tidak kuat pulang, ingat anak istri dan merasakan miskin jadi orang. Ketika tiba di rumah, dengan bergurau mengapa kakak kurus bagaimana pekerjaannya. Sehat saja itu sudah senang itu jawabannya.

Lalu dijelaskan tujuan menjadi manusia dan kelahiran manusia ingat sabda, bayu, idep dipegang, mati tidak ada pemberitauan, perbuatan yang patuh mengantarkan ke sorga. Pada karma ingat seperti Ke Arok kepastian kena keris Mpu Gandring.

3.5. Tembang Eman-Eman

Ceritera di Pitaloka, Kingkarabala di depan Betara Yamadipati sebagai jaksa guru se dang rapat membicarakan hukuman pitara papa. Diceriterakan kematian Lubdaka, para cikrabala diutus oleh Yamadipati menyongsong roh sang Lubdaka 1000 tahun kena hukuman di kawah. Kesengsaraan roh di kawah, sedih akan dibawa bahwa perbuatan baik buruk jadi manusia tidak diketahui dan tidak bisa dihapus akan dinikmati nanti.

Yamaloka dan sorga seperti Yudistira menghadap di depan Yamadipati dilihat para pitara, tidak tahu tujuannya pergi, ditanyai karena ke timur batas utara selatan roh tanpa jasa. Ada roh dalam sebatang bamboo karena tidak mempunyai anak cucu, leluhur sang Jayatkaru karena loba dalam tapa barata, brahmacari.

Diceriterakan di Siwaloka, sang Lubdaka sudah pulang tinggal di Yamaloka, lalu mengutus untuk menjemput di Batara Yama, karena Lubdaka orang sadu, karena membuat yoga berata, Siwaratri, karena mendapat anugrah (kretawara). Roh sang Lubdaka papa di Yamaloka, akan minta Lubdaka sesuai ucapan Betara Guru sudah sesuai dengan Siwaratri Kalpa, terjadi perbedaan pendapat karena Siwa Sang Dyaksa (yama) mengatakan Lubdaka tidak sadu perbuatannya Hingsakarana, membunuh segala macam binatang di hutan, roh

(7)

290 Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019

sang Lubdaka ada di kawah karena berbuat jahat. Dibantu para bidadari yang asih kepada Betara Guru menenangkan para sengsara oleh kerti pulang kea lam Siwa.

Sang Cingkrabala marah atas perbuatan bidadari, pikirannya tidak benar, berbuat yang disebut asta dasta, kini atmanya sudah di depan Sang Hyang Siwa, bahwa roh I Lubdaka akan mendapat wara nugraha, ulah ikut ke jalan darma membuat brata yang benar, penuh/buat dan berhasil sida labda karya.

3.6. Pupuh Durma

Perang terjadi antara Cingkrabala (rakyat Yamadipati) dan para widyadara (pasukan Dewa Siwa) dengan berbagai senjata gada, cakra, keris, rakyat cingkrabala kalah dan bersembunyi. Kekalahan Cingkrabala lalu menghadap Sang Hyang Yama lalu berpikir dalam hati.

3.7. Sinom Lawe

Tentra (widyadara) bergembira dan kembali ke suraloka Si Lubdaka diceriterakan diterima Dewa Siwa dan menyembah bahwa anakku, senang datang sekarang, mendapatkan yasa kerti (anunggal), juga sadhu dan melaksanakan tapa brata Anakku menerima yasana sekarang didapat dengarkan panugrahan bapa, segala yang ada pada diri ayah, anakku memiliki semuanya, lama anakku muponin, ngulurin manah sakahyun sukane di Siwaloka. Anakku dengan ayah, selamat, berata Siwaratri Kalpa. Demikian orang sengsara tetap berbuat kebaikan, hanya itu ada dalam hati.

3.8. Pupuh Ginada

Pasukan Kingkara menghadap Sang Hyang Yama berperang dengan bidadari (gandarwa) Sang Hyang Yama berkata kepada Cingkrabala, mengapa Sang Hyang Siwa menghalanginya, karena itu pituduh Sang Hyang Siwa menariknya baik buruk perbuatan manusia.

3.9. Pupuh Durma

Diceriterakan sampai sekarang di gunung Kalase tempat Sang Hyang Ardhanareswari Sang Hyang Siwa malingga ring singgasana, disertai Dewi Giriputri datang Sang Hyang Yama ke tempat Dewa Siwa, menyembah betara yang menguasai urip, yang ada di triloka, termasuk menguasai pati, ucapan Betara Siwa pedek bahwa roh itu bernama Si Lubdaka, yang telah melakukan perbuatan darma utama, tapa berata dan banyak mengutus gandarwa.

3.10. Pupuh Dandang

Si Lubdaka mendapatkan tempat sorga,dari dulu agar melaksanakan yasa, sebelum ada manusia, melaksanakan berata wiku, bapak sudah lupa baru sekarang ada orang melaksanakan brata Siwaratri. Yang utama berata dulu, lalu segala dosa lebur Yamaloka tur kaungsi, Siwaloka yang dituju segala papanya hilang.

IV. Tokoh Dalam Geguritan Siwaratri Kalpa

Ada dua tokoh yang disebutkan dalam geguritan Siwaratri Kalpa yaitu tokoh manusia bernama Lubdaka, istri dan anaknya. Ini disebut tokoh dunia dengan berbagai mahluk binatang yang hidup di dunia.

(8)

Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV 291 Denpasar, 29 - 30 Maret 2019

Tokoh alam Dewa ada dua yaitu tokoh yang penguasa sorga, yaitu Dewa Siwa dan prajuritnya. Roh Lubdaka mendapatkan wara nugraha (anugrah) karena ke jalan darma, melakukan brata yang benar penuh dengan ketekunan dan kekusukan, berhasil sida labda karya (kelepasan). Karena baru sekarang ada yang melaksanakan Brata Siwaratri yang utama berarti segala dosa terhapuskan dan segala papa hilang Siwaloka yang dituju

Tokoh alam neraka yang menghukum roh ke dalam alam neraka yaitu Betara Yamadipati dan prajuritnya Kingkarabala. Yamadipati bertugas sebagai jaksa guru (yang menghukum) roh di kawah/neraka, selama 1000 tahun mendapatkan hukuman di kawah, perbuatan baik buruk jadi manusia tidak diketahui dan tidak bisa dihapus akan dinikmati nanti, segala papanya hilang.

V. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disampaikan simpulan sebagai berikut:

1. Geguritan Siwaratri Kalpa (Lubdaka) berasal dari kakawin Jawa Kuna yang dibuat oleh Ida Bagus Putu Bangli dari Sanur (2001).

2. Isi geguritan ada pendahuluan sebagai penulis tentang kakawin Lubdaka, pengawi besar parwa dan akhirnya tercipta geguritan Siwaratri Kalpa dengan ungkapan izin singgih… menyebut rakawi besar, mijil dengan menyebut Sang Hyang Paramasiwa, lalu sigra muncul karya geguritan Siwaratri Kalpa, oleh penulis disebut sebagai tembang malampah.

3. Isi ini menceriterakan tentang tokoh pemburu Lubdaka yang setiap hari membunuh binatang, tetapi karena pada malam Siwa memetik daun bila yang dibunuh mucul lingga, singgasana Dewa Siwa maka Lubdaka diberikan anugrah sorga.

4. Siapa yang menjalankan tapa, brata, berbuat sadu dan darma yang jatuh pada panglong ping pat belas sasih kepitu maka teks Siwaratri Kalpa beliau akan mendapat anugrah terbebas dari papa neraka.

5. Tokoh dalam Geguritan Siwaratri Kalpa ada dua yaitu tokoh manusia biasa Lubdaka, istrinya, anaknya serta mahluk lainya di dunia ini. Tokoh alam Dewa yaitu tokoh Dewa Siwa dan prajurinya yang menghuni sorga, tokoh yang menghuni neraka adalah Dewa Yamadipati dan prajuritnya Kingkarabala.

DAFTAR PUSTAKA

Kakawin Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung (diterjemahkan IB Agastya) Yayasan Dharma Sastra, 2002.

Bangli, IG Putu 2001, Geguritan Siwaratri Kalpa, Surabaya: penerbit Paramita

Zoetmulder, P.J. 1994, Kalangwan Karya Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang:

2005, Jakarta: Jambatan.

Tim Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, 2005, Kesusastraan Bali, Denpasar, Jl Ir Juanda.

(9)

350 Seminar Nasional Sastra dan Budaya IV Denpasar, 29 - 30 Maret 2019

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan tema seminar, yaitu Peranan Tenaga Pendidik (Guru dan Dosen) Profesional dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia, diharapkan prosiding ini

Tuturan antara pembeli dengan pedagang, tuturan ini terjadi pada pagi hari ketika pembeli melihat sayuran yang segar yang dijual oleh pedagang di pasar. Pembeli

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya maka buku kumpulan makalah-makalah yang dikompilasi

Upacara Tumpek Landep adalah upacara yang ditujukan kehadapan Sang Hyang Pasu- pati dan merupakan Pujawali Bhatara Siwa yang berfungsi melebur dan mralina. Upacara

Hal ini sesuai dengan pendapat Mursell (2007) yang mengungkapkan bahwa proses pembelajaran untuk menghasilkan hasil belajar yang otentik harus diawali dengan sesuatu

Hal ini sesuai dengan pendapat Mursell (2007) yang mengungkapkan bahwa proses pembelajaran untuk menghasilkan hasil belajar yang otentik harus diawali dengan sesuatu

Dari paparan-paparan di aatas, dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm, bagaimana peranan lingkungan

Penekanan terhadap komponen program pengajaran antara lain berpusat pada pengajar (guru), peserta didik (siswa), teknik yang digunakan kooperatif learning, dalam hal ini