• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT ELDERLY REGULAR HEMODIALYSIS PATIENTS HAVE HIGHER MEAN OF CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS AND SERUM INTERLEUKIN-6 LEVEL THAN NON-ELDERLY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRACT ELDERLY REGULAR HEMODIALYSIS PATIENTS HAVE HIGHER MEAN OF CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS AND SERUM INTERLEUKIN-6 LEVEL THAN NON-ELDERLY"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENYANDANG HEMODIALISIS REGULER USIA LANJUT MEMILIKI RERATA CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS DAN KADAR INTERLEUKIN-6 SERUM YANG LEBIH TINGGI

DIBANDINGKAN BUKAN USIA LANJUT

Peningkatan populasi usia lanjut (≥60 tahun) berdampak pada meningkatnya kejadian penyakit ginjal kronik (PGK), serta peningkatan kebutuhan akan hemodialisis.

Faktor usia diduga berperan terhadap terjadinya aterosklerosis dan inflamasi, termasuk pada penyandang hemodialisis (HD) reguler. Pada populasi umum, terdapat bukti bahwa usia lanjut memiliki proses aterosklerosis dan inflamasi yang lebih tinggi, tetapi studi pada populasi penyandang HD reguler masih terbatas. Selain usia, peningkatan produk kalsium- fosfat yang terjadi akibat kondisi hiperparatiroidisme sekunder serta lama menjalani HD reguler juga diduga berperan terhadap aterosklerosis dan inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa penyandang HD reguler usia lanjut memiliki aterosklerosis, melalui pemeriksaan carotid intima-media thickness (CIMT) yang lebih tinggi dibandingkan bukan usia lanjut, penyandang HD reguler usia lanjut memiliki inflamasi, melalui pemeriksaan interleukin-6 (IL-6), yang lebih tinggi dibandingkan bukan usia lanjut, serta pengaruh langsung maupun tidak langsung (melalui IL-6 serum) dari usia, lama menjalani HD reguler, dan produk kalsium-fosfat terhadap CIMT.

Penelitian observasional, studi potong lintang analitik dilaksanakan di Instalasi HD Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah pada bulan Mei-Juni 2016. Penyandang HD reguler berusia ≥18 tahun diikutsertakan, dengan menyingkirkan keganasan, anemia berat, merokok, systemic lupus erythematosus, infeksi akut, gangguan fungsi hati, dan riwayat terapi steroid jangka panjang. Variabel penelitian ialah rerata CIMT dengan grayscale ultrasound, IL-6 serum dengan alat Quantikine® HS ELISA, produk kalsium-fosfat dari pemeriksaan fosfat dan kalsium darah, serta usia dan lama menjalani HD reguler dari anamnesis dan rekam medik. Uji t independen digunakan untuk membandingkan rerata CIMT dan IL-6 antara kelompok usia lanjut dan bukan usia lanjut. Analisis jalur digunakan untuk menguji pengaruh usia, lama menjalani HD reguler, dan produk kalsium-fosfat terhadap CIMT melalui IL-6.

Dari 60 sampel penyandang HD reguler, sebanyak 30 sampel usia lanjut dan 30 sampel bukan usia lanjut. Pada uji t independen, kelompok usia lanjut memiliki rerata CIMT lebih tinggi dibandingkan bukan usia lanjut (0,73±0,1 mm berbanding 0,58±0,09 mm, p<0,001), kelompok usia lanjut memiliki kadar IL-6 serum lebih tinggi dibandingkan bukan usia lanjut (5,96±3,95 pg/ml berbanding 4,19±2,36 pg/ml, p=0,04). Pada analisis jalur menunjukkan terdapat hubungan langsung antara usia dan rerata CIMT (critical ratio 6,77;

p<0,01), sedangkan untuk produk kalsium-fosfat (p=0,54) dan lama menjalani HD reguler (p=0,46) tidak didapatkan hubungan bermakna terhadap rerata CIMT.

Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa dari rerata CIMT, penyandang HD reguler usia lanjut memiliki proses aterosklerosis lebih tinggi dibandingkan bukan usia lanjut. Dari IL-6 serum, penyandang HD reguler usia lanjut memiliki proses inflamasi lebih tinggi dibandingkan bukan usia lanjut. Disarankan pemantauan lebih terhadap terjadinya aterosklerosis dan inflamasi pada penyandang HD reguler usia lanjut. Dari hasil penelitian juga disimpulkan bahwa pada penyandang HD reguler, usia memiliki hubungan langsung terhadap rerata CIMT. Namun, hubungan usia secara tak langsung serta hubungan produk kalsium-fosfat dan lama menjalani HD reguler terhadap rerata CIMT menunjukkan hasil tidak bermakna. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dipakai sebagai dasar penelitian lebih lanjut agar dapat membuktikan lebih jauh peran penuaan, gangguan mineral, dan hemodialisis terhadap proses aterosklerosis melalui inflamasi.

Kata kunci: Usia lanjut, penyandang HD reguler, CIMT, IL-6.

(2)

ABSTRACT

ELDERLY REGULAR HEMODIALYSIS PATIENTS HAVE HIGHER MEAN OF CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS AND SERUM INTERLEUKIN-6 LEVEL THAN NON-ELDERLY

Increasing elderly population (≥60 years old) had an impact on the increased incidence of chronic kidney disease (CKD), as well as increased demand for hemodialysis.

The age factor thought to contribute to the occurrence of atherosclerosis and inflammation conditions, including in regular hemodialysis (HD) patients. In general population, there is evidence that the elderly has higher atherosclerosis and inflammation process, but the study in population with regular HD is still limited. Besides age, increased calcium-phosphate product that occurs due to the condition of secondary hyperparathyroidism and length of regular HD is also thought to contribute to atherosclerosis and inflammation. This study was conducted to prove that elderly regular HD patients have atherosclerosis, through examination of carotid intima-media thickness (CIMT), which was higher than non-elderly, elderly regular HD patients had inflammation, through examination of interleukin-6 (IL-6), higher than non-elderly, as well as the directly or indirectly effect (through IL-6 serum) of age, length of regular HD, and calcium-phosphate product towards CIMT.

An analytic cross-sectional observational study was conducted at Hemodialysis Instalation, Sanglah General Hospital, from May until June 2016. Regular HD patients over 18 years old were involved in this study, to exclude malignancy, severe anemia, smoking, systemic lupus erythematosus (SLE), acute infection, liver function abnormality, and history of long-term steroid therapy. The studied variables were the means of CIMT using grayscale ultrasound, serum IL-6 level using Quantikine® HS ELISA, calcium-phosphate product using blood calcium and phosphate examination, age and length of regular HD from history taking and medical record. Independent t-test analysis was used to compare mean CIMT and IL-6 between elderly and non-elderly regular HD patients. Path analysis was used to test the effects of age, length of regular hemodialysis, and calcium-phosphate product towards CIMT through IL-6 examination.

From 60 samples with regular HD, 30 samples were elderly and 30 samples were non-elderly. In the independent t-test, it was found in the elderly group had a mean of CIMT higher than non-elderly group (0.73±0.1 mm versus 0.58±0.09 mm, p<0.001), elderly group had higher serum IL-6 level than non-elderly group (5.96±3.95 pg/ml versus 4.19±2.36 pg/ml, p=0.04). Of path analysis, showed there was a direct correlation between age and the mean of CIMT (critical ratio of 6.77; p <0.01), whereas for the calcium-phosphate product (p

= 0.54) and length of regular HD (p = 0.46 ), there were no significant correlation towards mean of CIMT.

From the results of this study, it could be concluded that based on mean of CIMT, elderly regular HD patients has atherosclerosis higher than non-elderly. Based on serum IL-6 examination, elderly regular HD patients have higher inflammation process than non-elderly.

It is recommended to do another monitoring of atherosclerosis and inflammation in elderly regular HD patients. It can be also concluded that in regular HD patients, age has a direct correlation towards mean of CIMT. However, indirect correlation of age and the correlation of calcium-phosphate product and length of regular HD towards mean of CIMT showed no significant results. The results of these studies are expected to be used as the basis for further research in order to further prove the role of aging, mineral disturbances, and hemodialysis towards atherosclerosis processes through inflammation.

Keywords: Elderly, regular hemodialysis patients, CIMT, IL-6.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR SINGKATAN ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 6

1.3.1 Tujuan Umum ... 6

1.3.2. Tujuan Khusus ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

2.1. Penyakit Ginjal Kronik ... ... 9

2.1.1. Definisi dan Stadium Penyakit Ginjal Kronik ... 9

2.1.2. Epidemiologi Penyakit Ginjal Kronik ... 9

2.1.3. Manifestasi Klinis dan Komplikasi Kardiovaskuler ... 12

2.1.4. Peran Produk Kalsium-Fosfat terhadap Aterosklerosis pada PGK ... 13

2.1.5. Terapi Hemodialisis dan Komplikasi Kardiovaskuler ... 15

2.1.6. Hemodialisis pada Usia Lanjut ... 18

2.2. Aterosklerosis ... 21

2.2.1. Definisi dan Klasifikasi Aterosklerosis ... 21

(4)

2.2.2. Patogenesis Aterosklerosis ... 21

2.2.3. Aterosklerosis pada Usia Lanjut dan Penyakit Ginjal Kronik ... 24

2.2.4. Pemeriksaan Penunjang pada Aterosklerosis ... 32

2.3. Carotid Intima-Media Thickness ... 32

2.3.1. Studi CIMT pada Usia Lanjut ... 35

2.3.2. Studi CIMT pada PGK ... 37

2.4. Interleukin-6 dan Perannya pada Inflamasi dan Aterosklerosis ... 38

2.4.1. Studi IL-6 pada Usia Lanjut ... 40

2.4.2. Studi IL-6 pada PGK ... 41

2.5. Peran Peningkatan CIMT dan IL-6 terhadap Perkembangan Terapi .... 43

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, PENELITIAN ... 46

3.1. Kerangka Berpikir ... 46

3.2. Kerangka Konsep ... 47

3.3. Hipotesis Penelitian ... 48

BAB IV METODE PENELITIAN ... 49

4.1. Rancangan Penelitian ... 49

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49

4.3. Ruang Lingkup Penelitian ... 49

4.4. Penentuan Sumber Data ... 49

4.4.1. Populasi Penelitian ... 49

4.4.2. Kriteria Inklusi ... 50

4.4.3. Kriteria Eksklusi ... 50

4.4.4. Besaran Sampel ... 50

4.5. Variabel Penelitian ... 51

4.5.1. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel ... 51

4.5.2. Hubungan Antar Variabel ... 52

4.5.3. Definisi Operasional Variabel ... 53

4.6. Bahan dan Alat Penelitian ... 57

4.7. Prosedur Penelitian ... 58

4.8. Alur Penelitian ... 60

4.9. Analisis Data ... 61

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 64

5.1. Karakteristik Dasar Subyek Penelitian ... 64

(5)

5.2. Usia Lanjut dan Aterosklerosis (Carotid Intima-Media Thickness)

pada Penyandang Hemodialisis Reguler ... 68

5.3. Usia Lanjut dan Inflamasi (Interleukin-6) pada Penyandang Hemodialisis Reguler ... 73

5.4. Hubungan Usia, Lama Menjalani Hemodialisis Reguler, dan Produk Kalsium-Fosfat Terhadap Aterosklerosis (Carotid Intima-Media Thickness) Melalui Inflamasi (Interleukin-6) ... 76

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 86

6.1. Simpulan ... 86

6.2. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 88

LAMPIRAN ... 99

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Klasifikasi PGK berdasarkan LFG ... 10

Tabel 5.1. Karakteristik dasar demografi subyek penelitian ... 65

Tabel 5.2. Karakteristik dasar pemeriksaan fisik dan laboratorium subyek penelitian ... 67

Tabel 5.3. Hubungan antar konstruk ... 79

Tabel 5.4. Hubungan antar variabel konstruk dengan rerata CIMT ... 80

Tabel 5.5. Hubungan antar variabel konstruk dengan kadar IL-6 ... 81

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Skema hemodialisis ... 17

Gambar 2.2. Proses aterogenesis ... 23

Gambar 2.3. Penurunan konstituen seluler dan terjadinya penuaan sel ... 30

Gambar 2.4. USG menunjukkan ketebalan intima-media arteri karotis ... 36

Gambar 2.5. Kaskade sitokin pada aterosklerosis ... 39

Gambar 2.6. Peran IL-6 dalam perubahan inflamasi akut menjadi kronik ... 42

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian ... 47

Gambar 4.1. Hubungan antar variabel ... 52

Gambar 4.2. Alur penelitian ... 62

Gambar 5.1. Rerata CIMT pada kelompok usia lanjut dan bukan usia lanjut .. 69

Gambar 5.2. Kadar IL-6 serum pada kelompok usia lanjut dan bukan usia Lanjut ... 74

Gambar 5.3. Model struktural/path diagram ... 77

Gambar 5.4. Hasil analisis jalur model struktural ... 78

(8)

DAFTAR SINGKATAN

ABI Ankle-brachial index

ACCF American College of Cardiology Foundation AGE Advanced glycation end-products

AHA American Heart Association

ALT Alanine aminotransferase

ARA American Rheumatology Association

ARIC Atherosclerosis Risk in Community

AST Aspartate aminotransferase

ATP Adenosine triphospate

bFGF Basic Fibroblast growth factor

BUN Blood urea nitrogen

CD4 Cluster of differentiation 4 CIMT Carotid intima-media thickness

CKD-EPI Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration

CKMB Creatinine-kinase MB

CR critical ratio

df degree of freedom

DM Diabetes mellitus

DNA Deoxyribonucleic acid

EBCT Electron beam computed tomography

EKG Elektrokardiografi

eNOS Endothelial nitric oxide synthase FGF-23 Fibroblast growth factor 23

FIELD Fenofibrate Intervention and Event Lowering in Diabetes

GDP Glukosa darah puasa

GDS Glukosa darah sewaktu

GGA Gagal ginjal akut

GGK Gagal ginjal kronik

HD Hemodialisis

HDL High density lipoprotein

HIV-1 Human immunodeficiency virus-1

HPT Hormon paratiroid

HS high sensitivity

hsCRP high sensitivity C-reactive protein

IFCC International Federation of Clinical Chemistry

IK Interval kepercayaan

IL-1 Interleukin-1

IL-1β Interleukin-1β

IL-6 Interleukin-6

IL-18 Interleukin-18

IMT Indeks massa tubuh

IRR Indonesian Renal Registry

ISO The International Organization for Standarditation

JNC Joint National Committee

IVUS Intravascular ultrasound

(9)

KDIGO Kidney Disease Improving Global Outcomes Kemenkes RI Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

KV Kardiovaskuler

LDL Low density lipoprotein

LDLc Low density lipoprotein cytotoxic

LFG Laju filtrasi glomerulus

MCP Monocyte chemoattractant protein

MMP Matriks metaloproteinase

MSCT Multislice computed tomography

NHANES National Health and Nutritional Examination Survey

OCT Optical coherence tomography

OR Odd ratio

PDGF Platelet-derived growth factor

PERKENI Perkumpulan Endokrinologi Indonesia PERNEFRI Perhimpunan Nefrologi Indonesia PET Positron emission tomography

PGK Penyakit ginjal kronik

PJK Penyakit jantung koroner

PKV Penyakit kardiovaskuler

RAA Renin Angiotensin Aldosteron

ROS Reactive oxygen species

RSUP Rumah Sakit Umum Pusat

SE Standard error

SEEK Screening and Early Evaluation of Kidney Disease

SKA Sindrom koroner akut

SLE Systemic lupus erythematosus

SMART Second Manifestations of ARTerial disease

SNI Standar Nasional Indonesia

SST Serum separator tube

TGF-β Transforming Growth Factor-β

TNF Tumor necrosis factor

TTGO Tes toleransi glukosa oral

URR Urea Reduction Ratio

USG Ultrasonografi

USRDS United States Renal Data Systems

VCAM Vascular cell adhesion molecule

WHO World Health Organization

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Keterangan Laik Etik ... 99

Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian ... 100

Lampiran 3. Informasi Pasien ... 101

Lampiran 4. Formulir Persetujuan ... 103

Lampiran 5. Formulir Penelitian ... 104

Lampiran 6. Prosedur Pemeriksaan Interleukin-6 ... 108

Lampiran 7. Data Penelitian ... 112

Lampiran 8. Analisis Data Penelitian ... 122

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Populasi dunia saat ini mengalami peningkatan proporsi usia lanjut. Kejadian ini terkait kecenderungan pola hidup seseorang yang lebih sehat dan harapan hidup yang lebih panjang. Peningkatan populasi usia lanjut, yaitu populasi yang berusia 60 tahun ke atas, berdampak pada berbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial, hingga kesehatan. Dampak pada bidang kesehatan, kejadian penyakit tidak menular cenderung meningkat karena penyakit kronik dan degeneratif lebih sering terjadi pada usia lanjut.

Di seluruh dunia, populasi usia lanjut sebesar 9,2% pada tahun 1990, menjadi 11,7% tahun 2013, dan diperkirakan meningkat sebesar 21,1% pada tahun 2050.

Jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan meningkat menjadi 2 kali, yaitu dari 841 juta penduduk pada tahun 2013 menjadi 2 miliar penduduk pada tahun 2050. Peningkatan proporsi usia lanjut ini lebih pesat terjadi di negara berkembang.

Saat ini diperkirakan 2/3 penduduk usia lanjut berada di negara berkembang (United Nations, 2013). Seiring dengan penurunan angka kelahiran, diperkirakan pada tahun 2020 akan terjadi suatu masa dimana populasi usia lanjut semakin meningkat sedangkan populasi usia <5 tahun cenderung menurun (WHO, 2011).

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu penyakit kronik pada usia lanjut yang berkaitan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Prevalensi PGK pada usia lanjut lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lebih muda, yaitu sebesar 39,4% pada usia >60 tahun berbanding 12,6% pada usia 40-59 tahun

(12)

(Mallapallil, 2014). Satu dari 4 pasien yang menjalani terapi pengganti ginjal di Amerika Serikat berusia >75 tahun (Franco dan Fernandes, 2012).

Usia lanjut merupakan faktor risiko nontradisional independen terhadap terjadinya komplikasi kardiovaskuler (KV), terutama aterosklerosis dan komplikasinya (penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskuler, dan penyakit arteri perifer). Risiko kejadian KV meningkat bila terdapat faktor risiko lain, termasuk PGK dan salah satu modalitas terapinya yaitu hemodialisis (HD). Penyakit kardiovaskuler (PKV) berperan pada terjadinya lebih dari setengah kematian pada pasien PGK usia lanjut (Dalrymple dkk., 2011).

Usia lanjut, PGK, atau HD merupakan faktor risiko terhadap kejadian KV, terutama aterosklerosis. Namun, studi mengenai peran usia lanjut terhadap aterosklerosis pada populasi khusus yaitu penyandang HD reguler masih terbatas.

Studi oleh Coll dkk. (2010) menunjukkan bahwa faktor prediktor kuat terhadap terjadinya kalsifikasi linear arteri pada PGK ialah faktor usia (OR 1,04; IK 95% 1- 1,08; p=0,04) dan dialisis (OR 8,09; IK 95% 2,67-24,5; p<0,001). Studi ini tidak membandingkan antara kelompok usia lanjut dan bukan usia lanjut.

Berdasarkan tingginya kejadian aterosklerosis dan morbiditas serta mortalitasnya, dikembangkan pemeriksaan dini adanya aterosklerosis subklinis, termasuk pada pasien PGK dan usia lanjut. Pemeriksaan carotid intima-media thickness (CIMT) merupakan salah satu modalitas untuk menilai aterosklerosis

subklinis pada sirkulasi perifer. Modalitas ini memiliki keunggulan prosedurnya yang noninvasif, sehingga menjadi salah satu modalitas ideal terutama bagi usia lanjut. Pemeriksaannya ialah dengan menggunakan ultrasonografi (USG) (grayscale ultrasound) yang dapat mengukur ketebalan intima-media pada berbagai tempat

(13)

sekitar percabangan bifurkasi arteri karotis komunis. Peningkatan CIMT ini menggambarkan kekakuan arteri atau aterosklerosis subklinis, terutama pada usia lanjut (Cheng dkk., 2009). Carotid intima-media thickness merupakan salah satu penanda aterosklerosis dan menjadi salah satu faktor risiko independen dan prediktor terhadap kejadian maupun kematian KV (Paul dkk., 2012).

Beberapa studi membuktikan peran usia terhadap CIMT pada pasien PGK.

Pada penyandang HD, didapatkan bahwa usia memiliki hubungan positif dan bermakna dengan peningkatan CIMT (r=0,68; p=0,001) (Brzosko dkk., 2005).

Sedangkan, untuk studi yang membandingkan rerata CIMT pada penyandang HD reguler dengan populasi khusus usia lanjut, datanya masih terbatas. Studi oleh Ren dkk. (2011) menunjukkan bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko independen kekakuan arteri karotis pada pasien PGK usia lanjut yang menjalani HD. Usia berkorelasi negatif dengan koefisien distensibilitas arteri pada penyandang HD usia lanjut (r=-0,459; p<0,001) (Ren dkk., 2011).

Salah satu faktor yang diduga berperan dalam kejadian aterosklerosis pada PGK adalah peningkatan produk kalsium-fosfat. Pada PGK, terjadi ekskresi fosfat urin yang tidak efisien yang menyebabkan hiperfosfatemia. Penurunan 1,25- dihidroksivitamin D menyebabkan hipokalsemia dan bersama dengan hiperfosfatemia akan merangsang sekresi hormon paratiroid (HPT) dan menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder, dan pada akhirnya akan terjadi hiperkalsemia. Peningkatan fosfat, kalsium, serta produk kalsium-fosfat serum dapat merangsang terjadinya kalsifikasi vaskuler dan jaringan, serta merupakan faktor risiko kejadian KV (Shanahan dkk., 2011). Studi Sharma dkk. (2014) meneliti CIMT pasien PGK dan menganalisis faktor risiko peningkatan tunika intima-media

(14)

berdasarkan efek fosfat serum. Studi tersebut menunjukkan CIMT berkorelasi kuat dan bermakna dengan fosfat serum (r=0,911; p<0,0001) serta produk kalsium-fosfat (r=0,768; p<0,0001).

Salah satu faktor risiko dari dialisis yang diduga berperan terhadap terjadinya aterosklerosis ialah lama menjalani HD. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam terbentuknya kalsifikasi intima arteri pada penyandang HD reguler ialah lama menjalani dialisis (National Kidney Foundation, 2010). Studi Iseki dkk. (2003) menunjukkan bahwa semakin lama menjalani dialisis memiliki risiko kematian lebih besar, dengan hazard ratio 1,002 (IK 95% 1,000-1,004: p=0,0245) pada penderita nondiabetes dan hazard ratio 1,006 (IK 95% 1,001-1,011; p=0,0214) pada penderita diabetes. Keterkaitan dengan kematian tersebut masih diduga terhadap proses inflamasi dan aterosklerosis yang terjadi serta faktor uremik. Studi Patel dkk. (2012) menunjukkan bahwa CIMT berkaitan dengan lama menjalani dialisis (p=0,017).

Pada aterosklerosis, diperkirakan proses inflamasi berperan pada tiap tahap aterogenesis. Beberapa penanda inflamasi diperkirakan meningkat dan berperan dalam menilai proses inflamasi pada aterosklerosis tersebut. C-reactive protein (CRP) dan interleukin-6 (IL-6) merupakan 2 penanda inflamasi yang menonjol perannya pada patogenesis aterosklerosis (Wang dkk., 2013). Interleukin-6 diperkirakan lebih terkait dengan kematian dan berhubungan dengan lebih banyak penyebab inflamasi dibandingkan CRP (Jofre dkk., 2006).

Interleukin-6 merupakan penanda inflamasi yang semakin luas diteliti pada berbagai studi, termasuk pada aterosklerosis dan kejadian KV. Beberapa studi juga meneliti IL-6 pada populasi usia lanjut dan PGK. Interleukin-6 merupakan sitokin yang paling banyak diidentifikasi dan paling terkait dengan kondisi patologis akibat

(15)

proses inflamasi kronik yang terjadi pada usia lanjut (Naugler dan Karin, 2007).

Adanya peningkatan kadar IL-6 dengan terjadinya aterosklerosis pada penyandang dialisis menunjukkan adanya hubungan antara inflamasi dan terjadinya aterosklerosis. Pada sebuah systematic review dan meta-analisis terhadap 22 studi IL- 6 dengan subyek penyandang dialisis, menunjukkan bahwa IL-6 sebagai penanda inflamasi memiliki hazard ratio 1,152 (IK 95% 1,094-1,214) untuk all-caused mortality dan hazard ratio sebesar 1,181 (IK 95% 1,068-1,307) untuk kematian

akibat PKV (Zhang dkk., 2013). Sedangkan, studi yang membandingkan kadar IL-6 pada penyandang HD reguler dengan populasi khusus usia lanjut, datanya masih terbatas.

Berdasarkan pada tingginya morbiditas dan mortalitas aterosklerosis pada penyandang HD reguler usia lanjut, diperlukan studi untuk membuktikan faktor risiko usia ikut berperan pada proses terjadinya aterosklerosis dan inflamasi terkait aterosklerosis. Peranan faktor usia terhadap proses aterosklerosis (melalui pemeriksaan CIMT) dan inflamasi (melalui pemeriksaan kadar IL-6 serum) pada penyandang HD reguler ini akan berpengaruh terhadap pemantauan dan perkembangan terapi. Beberapa uji klinis dalam menilai suatu efikasi obat baru dikembangkan untuk memperbaiki progresivitas kerusakan arteri.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah penyandang HD reguler usia lanjut memiliki rerata CIMT yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyandang HD reguler bukan usia lanjut?

(16)

2. Apakah penyandang HD reguler usia lanjut memiliki kadar IL-6 serum yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyandang HD reguler bukan usia lanjut?

3. Apakah usia, lama menjalani HD reguler, dan produk kalsium-fosfat pada penyandang HD reguler memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap rerata CIMT melalui IL-6 serum?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas, dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk membuktikan bahwa penyandang HD reguler usia lanjut memiliki proses aterosklerosis (melalui pemeriksaan rerata CIMT) dan inflamasi (melalui pemeriksaan kadar IL-6 serum) yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyandang HD reguler bukan usia lanjut, serta untuk membuktikan pengaruh langsung maupun tidak langsung (melalui IL-6 serum) dari usia, lama menjalani HD reguler, dan produk kalsium-fosfat pada penyandang HD reguler terhadap rerata CIMT.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk membuktikan bahwa pada penyandang HD reguler usia lanjut memiliki rerata CIMT yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyandang HD reguler bukan usia lanjut.

b. Untuk membuktikan bahwa pada penyandang HD reguler usia lanjut memiliki kadar IL-6 serum yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyandang HD reguler bukan usia lanjut.

(17)

c. Untuk membuktikan pengaruh langsung dan tidak langsung (melalui IL-6 serum) dari usia, lama menjalani HD reguler, dan produk kalsium-fosfat pada penyandang HD reguler terhadap rerata CIMT.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Secara akademik, dengan adanya peran usia lanjut terhadap terjadinya aterosklerosis (melalui pemeriksaan CIMT) dan inflamasi (melalui pemeriksaan IL-6 serum) pada penyandang HD reguler, dapat digunakan untuk menjelaskan peran usia sebagai faktor risiko terjadinya inflamasi dan aterosklerosis pada populasi khusus penyandang HD reguler.

2. Secara praktis, dengan adanya peran usia lanjut terhadap terjadinya aterosklerosis (melalui pemeriksaan CIMT) dan inflamasi (melalui pemeriksaan IL-6 serum) pada penyandang HD reguler, maka dalam pelaksanaan proses HD reguler terhadap kelompok usia lanjut perlu dilakukan pemantauan lebih terhadap proses aterosklerosis dan inflamasi, termasuk pencegahan dan penerapan terapinya, serta mencari sumber-sumber inflamasi. Pemeriksaan CIMT dan IL-6 serum dapat dipertimbangkan sebagai pemeriksaan rutin bagi penyandang HD reguler usia lanjut, sebagai penanda aterosklerosis dan inflamasi.

Referensi

Dokumen terkait

“ Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, suku bangsa untuk

Kegiatan ini dapat membantu guru dalam meningkatkan motivasi belajar anak dan mendorong guru agar lebih kreatif dalam menggunakan metode dan media yang sesuai

Setelah menguasai materi pelajaran ini, kemampuan Anda telah bertambah. Dengan belajar memperkenalkan diri dan orang lain, Anda telah mahir menggunakan intonasi dengan

Dari analisis hasil pengujian di atas penulis menarik kesimpulan bahwa diantara ketiga metode yang penulis terapkan dalam aplikasi metode Prewitt memiliki tingkat akurasi

Nusa Indometal Mandiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sparepart mobil dan ingin meningkatkan kualitas produknya dengan cara mengurangi jumlah defect hingga mencapai

Rizka Tama Line di Bandar Lampung mempunyai dampak yang positif terhadap peningkata disiplin kerja karyawan, 7 orang karyawan (18,925) menyatakan bahwa, kompensasi yang

perempuan yang sudah berdagang lebih dari. 10 tahun di pasar tradisional

Melalui program ini masyarakat kampung Karangpete khususnya anak-anak dan remaja lebih menghargai akan kesenian dan umumnya diharapkan masyarakat mampu memanfaatkan barang bekas