PEMANFAATAN SITU JATIJAJAR, DEPOK, JAWA BARAT OLEH Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (ORDO: ODONATA)
RAUDHATUZZAHRAH
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021 M / 1443 H
i
PEMANFAATAN SITU JATIJAJAR, DEPOK, JAWA BARAT OLEH Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (ORDO: ODONATA)
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
RAUDHATUZZAHRAH 11140950000027
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021 M / 1443 H
i
RAUDHATUZZAHRAH PEMANFAATAN SITU JATIJAJAR, DEPOK, JAWA BARAT JAKARTA 11140950000027 OLEH Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (ORDO: ODONATA) 2021 M / 1443 H
i
PEMANFAATAN SITU JATIJAJAR, DEPOK, JAWA BARAT OLEH Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (ORDO: ODONATA)
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
RAUDHATUZZAHRAH 11140950000027
Menyetujui,
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Paskal Sukandar, M.Si Narti Fitriana, M.Si
NIP. 195103251982101001 NIDN. 0331107403
Mengetahui:
Ketua Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
ii
PENGESAHAN UJIAN
Skripsi berjudul “Pemanfaat Situ Jatijajar, Depok, Jawa Barat oleh Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (Ordo: Odonata)” yang ditulis oleh Raudhatuzzahrah dengan NIM 11140950000027 telah diuji dan dinyatakan
“LULUS” dalam Sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Biologi.
Menyetujui;
Penguji I, Penguji II,
Dr. Nani Radiastuti Ardian Khairiah, M.Si NIP. 196509022001122001 NIP. 199011102019032020
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Paskal Sukandar, M.Si Narti Fitriana, M.Si
NIP. 195103251982101001 NIDN. 0331107403
Mengetahui :
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Ketua Program Studi Biologi
Nashrul Hakiem, S.Si., M.T., Ph.D NIP. 197106082005011005
iii
PERNAYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Tangerang Selatan, Agustus 2021
RAUDHATUZZAHRAH NIM. 11140950000027
iv ABSTRAK
RAUDHATUZZAHRAH. Pemanfaatan Situ Jatijajar, Depok, Jawa Barat oleh Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (Ordo: Odonata). Skripsi. Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dibimbing oleh Dr. Paskal Sukandar, M.Si dan Narti Fitriana, M.Si. 2021.
Capung merupakan organisme yang dijadikan indikator lingkungan yang sehat, salah satu jenis capung yang dapat dijadikan indikator adalah Brachythemis contaminata. Jenis capung B. contaminata yang kosmopolit dapat ditemukan di tambak, sawah, sungai dan kolam yang membuat B. contaminata layak dijadikan indikator kualitas lingkungan Situ Jatijajar. Tujuan penelian ini untuk mengetahui pemanfaatan lingkungan oleh capung B. contaminata dan menganalisis pengaruh faktor mikroklimat terhadap keberadaan capung B. contaminata di Situ Jatijajar Depok. Metode yang digunakan adalah metode survei, dengan penentuan titik sampling secara purposive, pengambilan sampel menggunakan line transect yang dibuat sebanyak 3 transek sepanjang 100 m di jalur pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan di bulan Desember 2019 – Januari 2020 di Situ Jatijajar Depok, Jawa Barat. Hubungan keberadaan B. contaminata dengan faktor mikroklimat dianalisis dengan analisis koefisien korelasi Pearson. Hasil uji koefisien Korelasi Pearson didapatkan nilai -1,000 untuk kelembapan udara dan 1,000 untuk kecepatan angin menunjukkan hubungan yang kuat dengan keberadaan capung B.
contaminata. Capung B. contaminata memanfaatkan 14 titik di sekitar Situ Jatijajar sebagai tempat bertengger. Nimfa capung tidak ditemukan di perairan Situ Jatijajar. Faktor mikroklimat yang mempengaruhi keberadaan B.
contaminata yaitu suhu udara, kecepatan angin, kelembapan udara dan kecerahan air.
Kata Kunci: Brachythemis contaminata; korelasi Pearson; mikroklimat; Situ Jatijajar
v ABSTRACT
RAUDHATUZZAHRAH. The utilization of Situ Jatijajar, Depok, West Java by Brachythemis contaminata Fabricius, 1793 (Ordo: Odonata). Undergraduate Thesis. Study Program of Biology, Faculty of Science and Technology, State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta. Supervised by Dr. Paskal Sukandar, M.Si and Narti Fitriana, M.Si. 2021.
Dragonfly is an organism that is used as an indicator of a healthy environment, one type of dragonfly that can be used as an indicator is Brachythemis contaminata. The cosmopolitan type of dragonfly B. contaminata can be found in ponds, rice fields, rivers, and ponds which makes B. contaminata worthy of being an indicator of the environmental quality of Situ Jatijajar. The purpose of this study was to determine the environmental utilization of B. contaminata dragonflies and to analyze the influence of microclimate factors on the presence of B. contaminata dragonflies in Situ Jatijajar Depok. The method used is a survey method, by determining the sampling point purposively, sampling using line transects made as many as 3 transects along 100 m on the pedestrian path.
This research was conducted in December 2019 – January 2020 at Situ Jatijajar Depok, West Java. The relationship between the presence of B. contaminata and microclimate factors was analyzed by Pearson correlation coefficient analysis.
The results of the Pearson Correlation coefficient test obtained a value of -1,000 for air humidity and 1,000 for wind speed indicating a strong relationship with the presence of B. contaminata dragonflies. Dragonfly B. contaminata utilize 14 points around Situ Jatijajar as perches. Dragonfly nymphs were not found in the waters of Situ Jatijajar. Microclimate factors that affect the presence of B.
contaminata are air temperature, wind speed, humidity and, water brightness.
Keywords: Brachythemis contaminata; microclimate; Pearson correlation;
Situ Jatijajar
vi
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum wr.wb.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi penelitian dengan judul “Pemanfaatan Situ Jatijajar, Depok, Jawa Barat oleh Brachythemis contaminata (Fabricius, 1793) (Ordo: Odonata)”. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Kegiatan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan pada Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Oleh karena itu skripsi ini disusun sebagai pelengkap melihat rancangan penelitian yang akan dilakukan dan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Sains pada Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Nashrul Hakiem, S.Si. M.T., Ph.D selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Priyanti, M.Si selaku Ketua Program Studi Biologi & Narti Fitriana, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Drs. Paskal Sukandar, M.Si selaku pembimbing I & Narti Fitriana, M.Si selaku Pembimbing II atas ketersediaan dalam membimbing dan memberikan arahan secara teknis selama penelitian kepada penulis.
4. Dr. Fahma Wijayanti, M.Si & Ir. Etyn Yunita, M.Si selaku penguji seminar proposal dan seminar hasil yang telah memberikan arahan serta bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.
vii
5. Seluruh Dosen Prodi Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan civitas akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Kedua orang tua dan keluarga besar yang telah memberikan do’a dan dukungannya kepada penulis.
7. Suami yang telah memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis.
8. Teman-teman Biologi 2014 yang berperan dalam memberi motivasi dan mendoakan dalam penyelesaian penelitian serta kegiatan penelitian.
Kiranya, penyusunan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya penulis. Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan yang telah mereka lakukan. Aamiin.
Tangerang Selatan, Agustus 2021
Penulis
viii DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT. ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
1.5 Kerangka Berpikir ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Situ Jatijajar ... 5
2.2 Odonata ... 6
2.2.1 Habitat Capung ... 9
2.2.2 Perilaku Capung ... 10
2.2.3 Siklus Hidup dan Manfaat Capung ... 12
2.3 Capung Brachythemis contaminata ... 15
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 17
3.2 Alat dan Bahan ... 17
3.3 Metode Penelitian ... 18
3.4 Analisis Data ... 19
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Faktor Mikroklimat ... 28
4.2 Jumlah Brachythemis contaminata di Situ Jatijajar ... 30
4.3 Pemanfaatan Tumbuhan dan air di Situ Jatijajar ... 31
4.4 Hubungan Brachythemis contaminata dengan Faktor Mikroklimat ... 33
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ... 36
5.2 Saran ... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 37
LAMPIRAN ... 40
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Situ Jatijajar ... 16
Gambar 2. Topografi Capung ... 17
Gambar 3. Tipe Posisi Hinggap ... 20
Gambar 4. Siklus Hidup Capung ... 22
Gambar 5. Capung Brachythemis contaminata ... 23
Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian ... 25
Gambar 7. Capung Brachythemis contaminata jantan dan betina ... 30
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Interpretasi analisis koefisien korelasi Pearson ... 20 Tabel 2. Rata-rata analisis faktor mikroklimat di Situ Jatijajar Depok ... 21 Tabel 3. Jumlah betina dan jantan Brachythemis contaminata yang ditemukan
selama pengamatan ... 30 Tabel 4. Tempat bertengger capung B.contaminata di Situ Jatijajar Depok ... 31 Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Korelasi Pearson ... 34
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Hasil uji Koefisien Korelasi Pearson ... 34 Lampiran 2. Kerangka Berpikir ... 35 Lampiran 3. Tempat bertengger capung B.contaminata di Situ Jatijajar Depok .. 35
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Capung merupakan salah satu organisme yang dijadikan indikator lingkungan sekitar masih baik, salah satunya adalah capung Brachythemis contaminata. Capung B. contaminata merupakan salah satu jenis capung yang umum dijumpai di Indonesia. Distribusi capung ini kosmopolit, dapat ditemukan di sungai, sawah, tambak dan kolam (Setiyono et al., 2017). Fitriana (2016) melaporkan bahwa capung B. contaminata yang paling banyak ditemukan di Situ Pamulang dan memanfaatkan Ipomoea aquatica untuk tempat hinggap, sementara itu Hidayah (2008) melaporkan bahwa capung B. contaminata merupakan jenis capung yang selalu hadir pada setiap pengamatan di Kebun Raya Bogor (KRB).
Hal ini menunjukkan bahwa B. contaminata merupakan salah satu capung yang berhasil melakukan adaptasi dengan lingkungannya sehingga terdistribusi secara luas.
Capung merupakan serangga yang erat kaitannya dengan air. Tahapan pradewasa capung bersifat akuatik dan individu dewasa biasanya ditemukan dekat perairan (Borror, 1996). Capung memiliki beberapa manfaat bagi manusia.
Beberapa manfaat dari capung antara lain dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kualitas air dan mengurangi serangga merugikan seperti nyamuk. Hal ini disebabkan nimfa capung sangat peka terhadap polutan dan capung merupakan predator bagi jentik – jentik nyamuk (Iskandar, 2015). Kepekaan nimfa Odonata terhadap perubahan lingkungan membuat mereka menjadi bagian dari bioindikator yang paling terlihat jelas dari kesehatan lingkungan. Sebagai bioindikator air bersih, nimfa capung tidak akan hidup di air yang sudah tercemar dan perairan yang tidak ada tumbuhannya.
Perubahan populasi capung merupakan tanda tahap awal pencemaran air, di samping tanda lain yang berupa kekeruhan air dan melimpahnya ganggang hijau.
Hal ini menunjukkan peranan capung B. contaminata penting untuk diamati bagi keberlangsungan ekosistem sebagai indikator pencemaran lingkungan. Oleh
2
karena itu, pelestarian capung harus disertai dengan memelihara tempat hidupnya (Susanti, 1998).
Capung mampu berbiak di hampir segala macam air tawar yang tidak terlampau panas, asam atau asin (Paulson, 2011). Salah satu kawasan perairan tawar yang terdapat di Depok adalah kawasan Situ Jatijajar. Situ Jatijajar merupakan kawasan air tawar yang memiliki aliran air tenang dan bersih di permukaannya, namun terlihat juga sampah yang berada di pinggir-pinggir situ berupa sampah pengunjung. Saat ini pemanfaatan Situ Jatijajar dijadikan untuk pemancingan, konservasi cadangan air dan pariwisata.
Berdasarkan penelitian Zamhuri (2017) dengan melakukan pengamatan di pagi (08:00-10:00 WIB) dan sore hari (15:00-17:00 WIB) didapatkan hasil yaitu dari 7 perilaku capung B. contaminata yang diamati, perilaku istirahat merupakan yang paling banyak dilakukan yaitu sebanyak 97,24% pada jantan dan 97,47%
pada betina, kemudian yang paling sedikit dilakukan oleh capung B. contaminata yaitu perilaku reproduksi sebanyak 0,03% pada jantan maupun betina. Sehingga pada penelitian ini saya melakukan pengamatan di jam aktifnya yaitu sebelum matahari terbit (06:00–10:00) dan sore hari (14:00-17:00 WIB).
Penelitian mengenai pemanfaatan lingkungan oleh capung B. contaminata di Indonesia masih minim informasinya. Hal ini yang menjadi alasan dilakukannya penelitian tentang pemanfaatan lingkungan oleh capung B.
contaminata di Situ Jatijajar, Depok. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang salah satunya adalah penjagaan atau peningkatan keseimbangan lingkungan Situ Jatijajar Depok.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
a. Bagaimanakah pemanfaatan lingkungan oleh capung B. contaminata di Situ Jatijajar Depok?
b. Bagaimanakah pengaruh faktor mikroklimat terhadap keberadaan capung B. contaminata di Situ Jatijajar Depok?
3
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui pemanfaatan lingkungan oleh capung B. contaminata di Situ Jatijajar Depok.
b. Menganalisis pengaruh faktor mikroklimat terhadap keberadaan capung B.
contaminata di Situ Jatijajar Depok.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan berbagai kepentingan yang salah satunya adalah penjagaan atau peningkatan pengelolaan lingkungan Situ Jatijajar Depok dan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.5 Kerangka Berpikir
BAB II
Distribusi capung Brachythemis cotaminata kosmopolit dan mudah dikenali dengan warnanya yang kuning pada betina dan jingga pada jantan.
Penekanan pada penelitian ini yaitu pemanfaatan Situ Jatijajar, Depok oleh B. contaminata
Capung sebagai bioindikator air bersih
Hubungan faktor mikroklimat dengan pemanfaatan lingkungan di Situ Jatijajar oleh B. contaminata
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Situ Jatijajar
Situ Jatijajar merupakan kawasan wisata alam dengan perairan tawar yang terletak di Kecamatan Cimanggis, Kelurahan Jatijajar, Kota Depok, Jawa Barat dengan luas 6,5 hektar dengan kedalaman 1-4 m. Keadaan perairan Situ Jatijajar terlihat tampak tenang dan bersih di permukaannya, namun terlihat juga sampah yang berada di pinggir-pinggir situ berupa sampah pengunjung. Komunitas hewan di Situ Jatijajar berupa berbagai ikan air tawar, burung dan serangga sedangkan komunitas vegetasinya berupa ganggang.
Batas wilayah Situ Jatijajar sebelah Timur dan Utara berbatasan dengan Jalan Jatijajar I dan rumah warga, sebelah Selatan berbatasan dengan Terminal Jatijajar dan Situ Rawabadak, sebelah Barat berbatasan dengan Taman PP Cimanggis BPDAS Citarum Ciliwung dan Jalan Raya Bogor.
Gambar 1. Situ Jatijajar (Dokumentasi pribadi, 2019)
Masalah yang timbul saat ini yaitu adanya pencemaran limbah yang datang dari pengunjung yang buang sampah sembarang di area Situ Jatijajar, sementara itu masih ditemukan adanya capung. Banyaknya penduduk sekitar di lokasi ini menyebabkan tingginya aktivitas oleh warga sekitar untuk pemancingan, konservasi cadangan air dan pariwisata. Salah satu organisme yang
5
dijadikan bioindikator adalah capung. Kepekaan nimfa capung terhadap perubahan lingkungan membuat mereka menjadi bagian dari bioindikator yang paling terlihat jelas dari kesehatan lingkungan. Berkurangnya jumlah Odonata pada suatu daerah bisa menjadi indikasi dari perubahan kualitas kesehatan air dan lingkungan (Klym, 2003).
Kualitas air penting untuk nimfa, karena capung menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan nimfa yang sangat bergantung pada habitat perairan air.
Apabila situ ini kotor, ikan akan terakumulasi dengan pencemarnya, kemudian di rantai makanan akan mengendap pada manusia. Apabila Situ ini bersih, maka akan banyak capung di Situ.
2.2 Odonata
Odonata termasuk dalam kelompok insekta atau serangga yang memiliki ciri–ciri terdiri atas tiga bagian yaitu: kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen).
Gambar 2. Topografi capung (Samways, 2008)
Kepala Odonata relatif besar dibanding dengan tubuhnya, bentuknya membulat/memanjang ke samping dengan bagian belakang berlekuk ke dalam.
Bagian yang sangat menyolok pada kepala adalah sepasang mata majemuk yang besar yang terdiri dari banyak mata kecil yang disebut ommatidium. Dengan mata
6
ini capung mampu melihat ke segala arah dan dengan mudah dapat mencari mangsa atau meloloskan diri dari musuhnya, bahkan dapat mendeteksi gerakan yang jauhnya lebih dari 10 m dari tempatnya berada. Di antara kedua mata majemuk terdapat sepasang antena pendek, halus seperti benang (Aswari, 2003).
Mulut Odonata berkembang sesuai dengan fungsinya sebagai pemangsa, bagian depan terdapat labrum (bibir depan), di belakang labrum terdapat sepasang mandibula (rahang) yang kuat untuk merobek badan mangsanya. Sepasang maksila yang terdapat di belakang mandibula berguna untuk membantu pekerjaan mandibula dan bagian mulut yang paling belakang adalah labium yang menjadi bibir belakang (Borror et al, 2004).
Bagian dada (toraks) terdiri dari tiga ruas yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks, masing–masing mendukung satu pasang kaki. Berdasarkan fungsinya kaki capung termasuk dalam tipe kaki raptorial yaitu kaki yang dipergunakan untuk berdiri dan menangkap mangsanya. Abdomen terdiri dari beberapa ruas, ramping dan memanjang seperti ekor atau agak melebar. Memiliki tambahan umbai diujungnya yang dapat digerakkan dengan variasi bentuk tergantung jenisnya (Watson et al, 1991). Sayap capung bentuknya khas yaitu lonjong/memanjang dan tembus pandang, kadang-kadang berwarna menarik seperti coklat kekuningan, hijau, biru atau merah. Lembaran sayap ditopang oleh venasi (Aswari, 2003). Para ahli mengidentifikasi dan membedakan capung dengan melihat susunan venasi pada sayap (Susanti, 1998).
Capung tergabung ke dalam Ordo Odonata oleh Fabricius pada tahun 1793.
Nama tersebut diambil dari bahasa Yunani: odonata-gnata yang berarti rahang gigi. Capung digolongkan dalam dua subordo, yakni Zygoptera dan Anisoptera.
Berdasarkan perbedaan ukuran, Zygoptera (capung jarum) memiliki ukuran tubuh yang kecil dan ramping seperti jarum, dan ketika hinggap posisi sayapnya menutup di atas punggung, sedangkan Anisoptera (capung/capung biasa) memiliki tubuh yang lebih besar dan lebih kekar daripada capung jarum, capung biasa umumnya dapat terbang dengan kecepatan tinggi dan dengan jarak yang jauh, dan ketika hinggap posisi sayapnya terentang. Kebiasaan capung jarum
7
adalah makan sewaktu hinggap, sedangkan capung biasa biasanya dapat menangkap dan memakan mangsanya sambil terbang (Susanti, 1998).
Menurut Theischinger (2009), perbedaan antara Zygoptera dan Anisoptera berdasarkan venasi pada sayap adalah sel discoidal (discoidal cell) Zygoptera berbentuk segiempat sederhana, kadang-kadang terpotong oleh crossvein, dan kadang terbuka di bagian pangkal, sedangkan discoidal cell Anisoptera terbagi menjadi banyak segitiga dan segitiga, biasanya bentuknya berbeda antara sayap depan dan sayap belakang, dan biasanya terpotong oleh crossvein.
2.2.1 Habitat Capung
Menurut Odum (1993) habitat suatu organisme adalah tempat organisme itu hidup atau menunjukkan tempat yang dihuni oleh suatu komunitas. Capung identik dengan kawasan perairan air tawar karena capung menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan nimfa yang sangat bergantung pada habitat perairan air tawar dan tidak ditemukan satu jenis pun capung yang hidup di laut, namun ada beberapa yang tahan terhadap tingkat garam tertentu dan ada juga nimfa capung hutan tropis yang hidup di darat (Susanti, 1998).
Capung dewasa sering terlihat di tempat-tempat terbuka, terutama di perairan tempat mereka berkembang biak dan berburu makanan. Sebagian besar capung senang hinggap pada pucuk rumput, perdu, dan lain-lain, yang tumbuh di sekitar perairan. Vegetasi air yang hidup di perairan tawar juga berperan sebagai tempat meletakkan telur bagi sebagian besar jenis capung (Susanti, 1998).
Pola penyebaran capung disuatu habitat membentuk pola tertentu yang berbeda-beda antara populasi satu dengan yang lain. Pola penyebarannya yaitu acak, teratur dan berkelompok dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Penyebaran acak terjadi jika individu-individu mempunyai kemungkinan sama untuk menempati setiap titik pada suatu ruang yang ada di dalam habitatnya.
Hal ini mungkin dapat terjadi di habitat yang kondisinya sama di seluruh permukaan habitat.
b. Penyebaran teratur terjadi jika setiap individu cenderung menjauhi individu lain, sehingga semua individu akan menjauhi individu lain jika mereka
8
berdekatan dengan demikian jarak antara individu akan menjadi kurang lebih sama.
c. Penyebaran berkelompok terjadi jika individu-individu cenderung tertarik pada tempat-tempat tertentu di dalam habitatnya, atau tertarik untuk mendekati individu lain yang ada di dekatnya.
Capung B. contaminata dapat dijumpai pada ketinggian 0-1460 mdpl dan tersebar di kawasan tropis seperti Asia Tenggara, India, Srilanka, Amerika Tengah, dan sebagian kawasan Amerika Utara. Penyebaran capung ini biasanya secara berkelompok (Susanti, 1998).
2.2.2 Perilaku Capung
Posisi hinggap merupakan salah satu tingkah laku pada capung. Menurut buku “Dragonflies of Yogyakarta” terdapat 5 posisi hinggap pada capung. (1) Vertical, hanging (tegak menggantung), (2) vertical, on a flat surface (tegak, pada permukaan yang datar), (3) oblique (miring), (4) horizontal, on a flat surface (datar), dan (5) horizontal at the tip “teed up” (datar, bertengger di ujung).
(Setiyono et al, 2017). Hal ini mengacu pada fungsi posisi hinggap B.
contaminata yaitu sebagai pengaturan panas, menunggu calon pasangan atau mangsa dan melindungi wilayah. Posisi dan lokasi hinggap juga dapat memberikan isyarat perilaku. Adapun capung membutuhkan habitat yang nyaman dan aman agar perilaku yang biasa dilakukan ketika kawin (mating) tidak terganggu dan proses reproduksinya berjalan dengan baik.
Gambar 3.Tipe posisi hinggap (Setiyono et al, 2017)
9
Pada beberapa jenis capung, capung jantan yang siap kawin memiliki suatu kebiasaan untuk menguasai suatu ‘areal’. Capung jantan umumnya berwarna cerah atau mencolok daripada betina. Warna yang mencolok pada capung jantan ini membantu menunjukkan areal toritorialnya pada jantan lain. Perkelahian antara capung-capung jantan sering terjadi dalam memperebutkan areal masing- masing. Bila ada satu ekor capung betina terbang mendekati salah satu wilayah, maka jantan penghuni akan mencoba mengawininya (Susanti, 1998).
Capung melakukan perkawinan sambil terbang di sekitar perairan dengan menggunakan umbai ekornya. Capung jantan akan mencengkram bagian belakang kepala capung betina. Kemudian capung betina akan membengkokkan ujung perutnya menuju alat kelamin jantan yang sebelumnya sudah terisi sel-sel sperma.
Keadaan ini membentuk posisi yang menarik seperti lingkaran yang disebut “roda perkawinan” (Nanao, 1996).
Setelah kawin, capung betina siap untuk meletakkan telur-telurnya dengan berbagai cara sesuai dengan jenisnya, ada yang menyimpannya di sela-sela batang tanaman, ada pula yang menyelam ke dalam air untuk bertelur. Oleh sebab itu, capung selalu terikat dengan air untuk meletakkan telur-telurnya maupun untuk kehidupan nimfanya.
Capung jantan menempatkan diri pada tempat tertentu dan berperilaku sedemikian rupa sehingga membuat para pengganggu menghindar dan melarikan diri. Pada jenis capung yang memperlihatkan teritorialnya, capung jantan menduduki suatu daerah lebih dari beberapa hari yang berurutan, walaupun demikian individu yang agresif dapat tetap di daerahnya tanpa gangguan mulai 1 sampai 3 minggu (Patty, 2006).
Capung dewasa biasanya hidup secara diurnal (siang hari), krepuskular (sore hari). Kisaran musim terbang tiap jenis berbeda-beda mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Beberapa jenis capung memiliki aktivitas utama yaitu hinggap di lokasi tertentu, biasanya capung hinggap secara horizontal di atas batu, pinggiran sungai, ranting dan sebagainya. Perilaku capung dalam beraktivitas di habitatnya bermacam-macam. Perilaku tersebut diantaranya menyerang mangsa secara tiba-tiba ketika makan, menantang pengganggu
10
habitatnya dan cara kopulasi yang cukup unik. Jenis capung yang selalu berhinggap pada jenis Anisoptera yaitu Gomphidae, Petaluridae dan Libellulidae (Watson & O’Farrell, 1996).
2.2.3 Siklus Hidup dan Manfaat Capung
Capung merupakan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna (hemimetabola). Hemimetabola adalah metamorfosis yang melalui tiga stadium perkembangan yaitu telur, nimfa, dan imago. Perkembangan Odonata dimulai dengan fase telur. Telur capung diletakkan dengan dua cara yaitu tipe endofitik dan eksofitik. Pada spesies capung tipe endofitik, telur diletakkan di dalam jaringan tanaman air, tanaman yang berada di pinggiran air, atau ke dalam lumpur. Pada tipe eksofitik capung tidak memiliki ovipositor, telur dikeluarkan secara tunggal, bertahap, atau berkelompok dari lubang kelamin (Gullan &
Cranston, 2000).
Gambar 4. Siklus hidup capung meliputi telur (A), nimfa (B), dan capung dewasa (Subagyo, 2016)
Setelah 5-40 hari telur menetas, capung memasuki fase nimfa. Seekor nimfa dapat hidup di dalam air selama berbulan-bulan, perkembangan nimfa menjadi capung dewasa pada capung jarum lebih cepat dibandingkan dengan capung biasa, perkembangan nimfa capung sekitar 36-180 hari. Nimfa hidup di dalam air bernapas dengan insang (Susanti, 1998), pada kedalaman hingga 120 cm memangsa jentik-jentik nyamuk, ikan-ikan kecil, dan larva serangga lainnya.
11
Menurut Corbet (1980) selama periode reproduksi kebanyakan hidup pada rentang waktu 1-2 minggu dan bisa mencapai 5-8 minggu untuk Zygoptera sedangkan periode reproduksi untuk Anisoptera rentang waktu 2-3 minggu dan bisa mencapai 3-6 minggu, hal ini dipengaruhi oleh jenis spesies, cuaca, lingkungan dan habitat. Periode pematangan berlangsung sejak kemunculan naiad sampai kematangan seksual yang melibatkan; perubahan warna tubuh, warna sayap, perkembangan alat kelamin, ukuran dan kemunculan ektoparasit tertentu (tungau), dan pertumbuhan jumlah lapisan pada endokutikula. Selama periode ini, capung dewasa menyebar tergantung tempat bernaung dan keberlanjutan habitat.
Masa reproduktif dimulai ketika capung dewasa mulai menunjukkan perilaku seksual, oviposisi, dan periode terbang (William & Feltmate, 1992).
Capung dewasa sering terlihat di tempat-tempat terbuka, terutama di perairan tempat berkembang biak dan berburu makanan. Sebagian besar capung hinggap pada pucuk rumput, perdu dan tanaman yang tumbuh di sekitar kolam, sungai, parit atau genangan-genangan air lainnya. Capung melakukan kegiatan pada siang hari ketika matahari bersinar. Oleh karena itu, ketika cuaca cerah, capung akan terbang sangat aktif dan sulit untuk didekati. Waktu dini hari, senja hari, dan saat matahari terbenam, capung relatif lebih mudah didekati (William &
Feltmate, 1992).
Capung dapat juga disebut sebagai bioindikator air bersih karena nimfa capung tidak akan dapat hidup di air yang sudah tercemar atau sungai yang tidak terdapat tumbuhan di dalamnya. Perubahan populasi capung merupakan tanda tahap awal pencemaran air di samping tanda lain yang berupa kekeruhan air dan melimpahnya ganggang hijau. Oleh karena itu, pelestarian capung harus disertai dengan memelihara tempat hidupnya (Susanti, 1998). Sebagaimana telah dicantumkan dalam AL-Quran mengenai binatang dan habitatnya terdapat dalam surat Huud ayat 6:
َتِك يِف ٌّلُك ۚ اَهَعَد ْوَتْسُم َو اَه َّرَقَتْسُم ُمَلْعَي َو اَهُق ْز ِر ِ َّاللَّ ىَلَع َّلَِّإ ِض ْرَ ْلْا يِف ٍةَّباَد ْنِم اَم َو
ٍنيِبُم ٍبا
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
12
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (LauhMahfuzh)” (Q.S. Huud: 6).
Bagi manusia, khususnya di beberapa negara Asia Timur capung dapat digunakan sebagai pembasmi efektif nyamuk-nyamuk penyebab penyakit demam berdarah. Hal ini karena nimfanya memakan bebagai spesies binatang air termasuk jentik nyamuk penyebab malaria dan demam berdarah (Patty, 2006).
Capung juga bergantung pada habitat perairan seperti sawah, sungai, kolam, dan rawa, karena tempat tersebut dijadikan sebagai tempat berkembang biak dan memperoleh makanan. Dalam ekosistem pada habitat sawah maupun sungai dan rawa-rawa, capung juga berfungsi sebagai serangga predator baik dalam bentuk nimfa maupun dewasa, capung memangsa berbagai jenis serangga serta organisme lain termasuk serangga lain dan hama tanaman yang bersifat merugikan (Saputri, 2013).
2.4 Capung Brachythemis contaminata
Capung B. contaminata disebut juga capung oranye karena memiliki tubuh yang hampir seluruhnya berwarna oranye. Klasifikasi capung ini secara lengkap menurut Tang et al. (2010) adalah Kingdom Animalia, Phylum Arthropoda, Class Insekta, Ordo Odonata, Family Libellulidae, Genus Brachythemis, Species Brachythemis contaminata.
Gambar 5. Capung Brachythemis contaminata (Susanti, 1998)
Seluruh tubuh jantan capung ini oranye. Mata majemuk cokelat kekuningan. Toraks dan abdomen oranye kecokelatan dengan panjang abdomen 18-21 mm. Sisi atas abdomen terdapat garis–garis hitam tipis dan bercak hitam tebal di ruas 8-9. Warna embelan oranye. Keduan sayap transparan dengan venasi
13
oranye, pola sayap lebar dan melengkung sampai sebelum pterostigma, panjang sayap belakang 20-25 mm, dan pterostigma oranye. Tungkai kuning kecoklatan.
Tubuh jantan yang belum dewasa berwarna seperti betina.
Betina memiliki ukuran abdomen yang sama dengan jantan. Sintoraks dan abdomen kuning. Sayap betina kuning pucat dengan pterostigma kuning kecoklatan dan panjang sayap belakang 22-27 mm. Aktifitas terbang capung jenis ini cenderung lebih tenang daripada jenis Libellulidae lainnya. Aktif saat pagi sampai sore hari. Pada pagi dan siang hari biasanya terbang berkelompok di sekitar tanaman air, sedangkan sore hari pergerakannya lebih cepat. Jantan akan selalu menjaga daerah teritorial dan sering terbang hilir mudik di sekitar tempat hinggapnya. Dapat ditemukan di tempat terbuka, di sekitar tanaman seperti rumput, kangkung dan semak di area perairan. Spesies ini dapat dijumpai sepanjang tahun (Rahadi et al, 2013).
14 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2019-Januari 2020 yang berlokasi di Situ Jatijajar, Depok, Jawa Barat. Lokasi pengambilan data berada pada titik kordinat E 106°51’40”,S 6°25’20”.
Gambar 6. Peta lokasi penelitian (Google earth, 2019) 3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah jaring serangga (insect net), kamera digital, stopwatch, anemometer, secchi disk, termometer, thermo hygrometer digital.
Bahan yang digunakan adalah sampel air situ dan capung B. contaminata.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan penentuan titik sampling secara purposive sampling yaitu berdasarkan jalur pejalan kaki.
Pengambilan sampel menggunakan line transect (transek garis) yang dibuat sebanyak 3 transek sepanjang 100 m di jalur pejalan kaki, penentuan titik
15
sampling berdasarkan studi pendahuluan waktu dan lokasi perjumpaan capung kemudian ditandai menggunakan GPS (Global Positioning System).
Pengamatan dilakukan pada pagi hari saat waktu aktifnya capung pukul 06.00-10.00 WIB dan sore hari pukul 14.00-17.00 WIB. Setiap pengamatan dilakukan pengambilan faktor mikroklimat meliputi, suhu udara (ºC), kelembapan udara relatif (%), kecepatan angin. Pengukuran suhu udara (ºC) dan kelembapan udara relatif (%) dilakukan dengan menggunakan thermo hygrometer digital.
Pengukuran kecepatan angin dilakukan dengan menggunakan anemometer dengan cara diletakkan menghadap arah angin. Capung memiliki peranan penting sebagai indikator perairan maka dilakukan juga pengukuran faktor mikroklimat meliputi suhu air (ºC) menggunakan termometer, kecerahan menggunakan secchi disk, DO (Dissolved Oxygen) (mg/l) dan pH menggunakan WQC (Water Quality Checker).
Pengambilan data perilaku capung B.contaminata di lapangan menggunakan metode scan sampling yaitu mencatat perilaku lebih dari satu individu per waktu yang sudah ditentukan sebelumnya yaitu 30 menit sekali.
Pengamatan dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pengamatan dimulai dari tanggal 21 Desember 2019 sampai 3 Januari 2020. Pemilihan waktu penelitian berdasarkan waktu aktifnya capung. Perilaku yang diamati untuk dicatat yaitu terbang, kawin, istirahat, makan, dan sosial juga dicatat. Pemanfaatan tanaman yang digunakan oleh capung juga dicatat dan diidentifikasi.
3.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif. Data yang diperoleh pada penelitian ini ditabulasikan dengan program Microsoft Excel 2010. Data perilaku capung ditabulasikan ke dalam bentuk tabel berdasarkan data hari, tanggal, waktu, cuaca, jenis dan posisi hinggap. Data faktor mikroklimat ditabulasikan dalam bentuk tabel berdasarkan waktu pagi dan sore serta faktor mikroklimat yang diukur.
Hubungan keberadaan B. contaminata dengan faktor mikroklimat dianalisis dengan analisis koefisien korelasi Pearson. Data yang dianalisis adalah data keberadaan B. contaminata dan mikroklimat yang telah diolah sebelumnya.
Hipotesis yang diajukan adalah:
16
H0: Keberadaan B. contaminata tidak dipengaruhi faktor mikroklimat.
H1: Keberadaan B. contaminata dipengaruhi faktor mikroklimat.
Analisis dilakukan dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics.
Hasil analisis diinterpretasikan menurut Sugiyono (2007) seperti disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 . Interpretasi analisis koefisien korelasi Pearson (Sugiyono, 2007).
Nilai Interpretasi
0-0,199 Sangat rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat kuat
17 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Faktor Mikroklimat
Pengukuran faktor mikroklimat dilakukan untuk mengetahui karateristik iklim di lokasi penelitian. Faktor mikroklimat merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas capung B. contaminata di habitatnya. Faktor mikroklimat yang diukur diantaranya suhu udara, suhu air, pH air, kecepatan angin, kelembapan udara kecerahan air dan DO air. Data tersebut ditabulasikan dan disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 2. Rata-rata analisis faktor mikroklimat di Situ Jatijajar Depok
Faktor Mikroklimat Pagi ±stdev Sore ±stdev
1 2 3 1 2 3
Suhu Udara (ºC) 27,80 29,20 29,40 28,80±0,87 34,50 35,20 35,90 35,20±0,70 Suhu Air (ºC) 29,90 29,90 29,60 29,80±0,17 32,80 33,00 32,90 32,90±0,10 pH air 7,03 7,26 6,92 7,07±0,17 7,37 7,73 7,21 7,43±0,26 Kecepatan angin (m/s) 4,50 5,60 6,50 5,53±1,00 5,30 7,20 7,80 6,76±1,30 Kelembapan udara (%) 69,10 64,00 62,70 65,26±3,38 49,60 50,40 49,60 49,86±0,46 Kecerahan air (m) 0,62 0,62 0,62 0,62±0 0,59 0,57 0,56 0,57±0,01 DO (mg/L) 17,10 16,20 17,10 16,80±0,52 18,20 17,60 18,20 18±0,35
Berdasarkan hasil pengukuran faktor mikroklimat terlihat bahwa nilai rata- rata suhu udara di setiap titik pengamatan berkisar antara 28,80 ± 0,87 sampai dengan 35,20±0,70. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kawasan Situ Jatijajar Depok memiliki suhu udara rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan habitat capung B. contaminata di Situ Tujuh Muara Pamulang. Zamhuri (2017) melaporkan bahwa suhu udara rata-rata di Situ Tujuh Muara Pamulang berkisar 27,6±1,7 - 28,2 ± 1,3 °C. Hal ini disebabkan adanya perbedaan waktu penelitian dan kondisi lokasi penelitian pada kedua tempat tersebut yang berdampak adanya perbedaan iklim. Menurut Ross (1982) setiap jenis serangga memiliki jangkauan suhu masing-masing agar ia dapat hidup, dan pada umumnya jangkauan suhu yang efektif adalah suhu minimum. Serangga memiliki kisaran suhu tertentu untuk kehidupannya, diluar kisaran suhu tersebut serangga dapat mengalami kematian. Efek ini terlihat pada proses fisiologis serangga, pada suhu tertentu
18
aktivitas serangga tinggi dan akan berkurang (menurun) pada suhu yang lain.
Umumnya kisaran suhu yang efektif adalah 15ºC (suhu minimum), 25ºC (suhu optimum) dan 45ºC (suhu maksimum) (Krebs, 2014). Capung banyak dijumpai di tempat-tempat terbuka yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan intenitas sinar matahari yang cukup, dan suhu yang hangat (25ºC - 33ºC) (Corbet, 1999).
Suhu air yang diperoleh di lokasi penelitian berkisar 29,80±0,17 sampai dengan 32,90±0,10 ºC. Telur serangga akan berkembang dengan baik pada perairan dengan suhu antara 25ºC-30ºC. Kisaran suhu air antara 20ºC-30ºC merupakan suhu optimal untuk menunjang kehidupan organisme perairan (Pescod, 1973). Suhu perairan dipengaruhi dengan adanya aktivitas yang diakibatkan manusia seperti limbah panas dan air pendingin pabrik serta penggundulan DAS juga dapat menyebabkan peningkatan temperatur perairan (Barus, 2001).
Hasil pengukuran derajat keasaman yang diperoleh di lokasi penelitian yaitu dengan nilai pH 7,07±0,17 - 7,43±0,26. Kadar pH perairan akan memberikan dampak langsung terhadap keanekaragaman dan distribusi organisme dan dipakai untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1993).
Nilai kecepatan angin yang diperoleh di lokasi penelitian berkisar 5,53±1,00 m/s - 6,76±1,30 m/s. Hasil ini menunjukkan bahwa kecepatan amgin di kawasan Situ Jatijajar lebih tinggi dibandingkan di kawasan Situ Tujuh Muara Pamulang yang berkisar 0,6±0,3 - 0,9±0,6 m/s. Hal ini disebabkan adanya perbedaan waktu dan kondisi lokasi penelitian pada kedua tempat tersebut yang berdampak terhadap perbedaan iklim.
Kelembapan udara yang diperoleh di lokasi penelitian berkisar 49,86±0,46 - 65,26±3,38%. Kelembapan udara merupakan faktor penting yang mempengaruhi penyebaran, aktivitas, perkembangan serangga, kemampuan terbang, kemampuan bertelur dan pertumbuhan serangga. Kisaran kelembapan udara optimum bagi serangga pada umumnya sekitar 73-100%. Kelembapan udara optimum serangga berbeda menurut jenis dan stadium (tingkatan kehidupan) pada masing-masing perkembangan (Sudarwati et al., 2014). Kelembapan udara yang rendah akan mempercepat penguapan atau kehilangan air dari tubuh makhluk hidup
19
(Dharmawan, 2005). Menurut Wardhana (2017), ketika kelembapan udara menurun, beberapa jenis capung lebih memilih bertengger di bawah naungan, namun untuk jenis-jenis capung yang menyukai intensitas cahaya yang tinggi akan memilih bertengger di bawah terik matahari serta aktif terbang seperti capung dari famili Libellulidae.
Hasil kecerahan air yang diperoleh di lokasi penelitian berkisar 0,62±0 – 0,57±0,01 m. Hal ini menunjukkan bahwa kecerahan perairan Situ Jatijajar relatif rendah. Hal ini di duga karena tingginya kandungan lumpur serta tutupan air oleh alga dan sampah rumah tangga, sehingga air menjadi keruh dan sinar matahari sulit menembus ke dalam air.
Kadar oksigen yang terlarut di dalam suatu perairan dikenal dengan istilah Disolved Oxygen (DO). Kadar DO yang direkomendasikan oleh SNI (2001) berkisar antara 3-6. Kadar DO yang diperoleh di Situ Jatijajar Depok berkisar 16,80±0,52 - 18±0,35. Tingginya kadar air dalam suatu perairan disebabkan oleh hasil fotosintesis dan absorsi udara (Odum, 1994).
4.2 Jumlah Brachythemis contaminata di Situ Jatijajar
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di 3 titik di Situ Jatijajar, ditemukan perbedaan jumlah jantan dan betina Brachythemis contaminata. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan capung adalah kondisi fisik lingkungan, seperti suhu, kelembapan, intensitas cahaya dan kecepatan angin.
Beberapa faktor tersebut akan menjadi pembatas pesebaran beberapa jenis capung endemik yang memiliki faktor fisik yang spesifik. Kondisi fisik habitat yang optimal akan mempengaruhi keberadaan jenis capung (Crumrinne et al., 2008).
Gambar 7. Brachythemis contaminata jantan (Horizontal, at the tip “teed up”) (a) Brachythemis contaminata betina (Horizontal, on a flat surface) (b)
A B
20
Terlihat pada gambar 7a tipe posisi hinggap pada B. contaminata jantan di posisi horizontal, at the tip “teed up’), dan pada gambar 7b tipe posisi hinggap pada B. contaminata betina di posisi horizontal, on a flat surface. Hal ini sesuai dengan buku “Dragonflies of Yogyakarta” yang menyebutkan bahwa tipe posisi hinggap pada B. contaminata yaitu horizontal, at the tip “teed up” dan horizontal on a flat surface. Hal ini mengacu pada fungsi posisi hinggap B. contaminata yaitu sebagai pengaturan panas, menunggu calon pasangan atau mangsa dan melindungi wilayah. Posisi dan lokasi hinggap juga dapat memberikan isyarat perilaku. Adapun capung membutuhkan habitat yang nyaman dan aman agar perilaku yang biasa dilakukan ketika kawin (mating) tidak terganggu dan proses reproduksinya berjalan dengan baik (Setiyono et al, 2017).
Tabel 3. Jumlah betina dan jantan Brachythemis contaminata yang ditemukan selama pengamatan di Situ Jatijajar Depok
Titik 1 Titik 2 Titik 3 Total
Betina 27 105 164
Jantan 15 75 75 461
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh jumlah betina dan jantan B.
contaminata yang terlihat di Tabel 3. Capung B. contaminta di tiga titik tersebut di dapat sebanyak 461 individu. Setiap titik memiliki perbedaan yang signifikan.
Ketiga titik tersebut yang paling sedikit ditemukan jumlah B. contaminata yaitu pada titik 1, sedangkan yang paling banyak ditemukan yaitu pada titik 3. Titik 1 memiliki jumlah jantan B. contaminata 15 dan jumlah betina 27 sedangkan titik 3 memiliki jumlah jantan B. contaminata 75 dan jumlah betina 164.
Perbedaan yang signifikan ini dipengaruhi oleh lokasi yang berbeda di setiap titik. Kondisi titik 1 merupakan jalan setapak yang masih banyak dilalui oleh pengunjung dan sekaligus dekat dengan outlet, selain itu di sebelah kiri merupakan pagar pekarangan rumah warga. Dengan kondisi seperti ini, tidak banyak aktivitas yang dilakukan oleh capung B. contaminata, karena sedikitnya tempat untuk bertengger. Kondisi titik 3 merupakan jalan setapak yang jauh dari akses masuk, sehingga jarang ada aktivitas yang dilakukan oleh manusia.
Biasanya capung jantan akan mempertahankan tempat bertenggernya selama berhubungan dengan kesediaan situs (teritorial) yang cocok untuk aktivitas
21
reproduksi, terutama jika terdapat capung betina di dekat tempatnya bertengger.
Selama pengamatan sering kali terlihat capung berpindah lokasi bertengger. Hal ini diduga sebagai upaya capung mencari wilayah yang lebih menguntungkan untuk mencari makan dan pasangan. Pada capung jantan perilaku di tinggalkannya wilayah dan perpindahan tempat bertengger memperlihatkan 3 hal yaitu (1) ketidakmampuan untuk menangkap dan berkopulasi dengan capung betina yang berada di wilayahnya (2) adanya pengambilan wilayah oleh jantan lain (3) adanya peningkatan persaingan dari pejantan lain (Alcock, 1982; Waage, 1988).
4.3 Pemanfaatan Tumbuhan dan Air di Situ Jatijajar Depok
Capung memanfaatkan lingkungan sekitar dan tumbuhan sebagai tempat bertengger (Tabel 4). Selain bertengger terlihat juga capung melakukan aktivitas terbang dalam waktu singkat. Aktivitas antara bertengger dan terbang (transition flight) merupakan salah satu cara capung mengatur termoregulasi tubuh, saat kondisi kelembapan udara cukup tinggi, capung melakukan sedikit pergerakan umtuk tetap menghangatkan tubuhnya (Corbet dalam De Marco et al., 2005).
Tabel 4. Tempat bertengger capung Brachythemis contaminata di Situ Jatijajar Depok
No. Tempat bertengger Titik
1 2 3
1 Cyperus rotundus
2 Batang Manihot sp.
3 Konblok Jalan
4 Pagar
5 Ipomoea aquatica
6 Leersia hexandra
7 Mimosa pigra
8 Batang
9 Imperata cylindrica
10 Serasah
11 Ruellia tuberosa
12 Borreria laevis
13 sp1
14 Rumput
Keterangan = adanya tempat bertengger capung Brachythemis contaminata di titik tersebut
22
Terdapat 14 titik yang teramati digunakan oleh capung untuk bertengger selama pengamatan di Situ Jajar Depok. Cyperus rotundus dan Batang Manihot sp. merupakan tumbuhan yang teramati digunakan oleh capung untuk bertengger di ke tiga titik penelitian. Selain itu tumbuhan yang juga teramati menjadi tempat bertengger adalah Leersia hexandra yaitu di titik 2 dan 3 serta Ipomoea aquatica di titik 2. Ipomoea aquatica (kangkung air) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan oleh capung sebagai tempat bertengger dan meletakkan telurnya.
Hal ini dilakukan oleh capung agar telur tetap aman dan tidak terbawa arus sampai menetas menjadi nimfa (Syarifah et al., 2018).
Hasil ini sesuai dengan pernyataan Susanti (1998) yang menyatakan capung B. contaminata menyukai bertengger di vegetasi yang tumbuh di permukaan air. Hal ini didukung oleh penelitian Zamhuri (2017) yang menunjukkan bahwa capung B. contaminata sering dijumpai bertengger pada tumbuhan kangkung air (Ipomoea aquatica). Titik 3 lebih banyak yang dijadikan tempat untuk capung B. contaminata bertengger. Hal ini disebabkan karena masih banyak vegetasi di area titik 3, minimnya aktivitas manusia dan adanya empang.
Berdasarkan hasil penelitian ini, tidak ditemukan adanya nimfa capung.
Capung juga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan karena capung termasuk serangga air yang sangat sensitif terhadap perubahan kandungan zat, sehingga perubahan jumlah nimfa capung dapat dijadikan sebagai indikator baik atau buruknya perairan tersebut (Rini, 2011). Nimfa capung memakan jentik- jentik nyamuk yang dapat menularkan penyakit berbahaya seperti malaria &
demam berdarah. Sehingga kehadiran capung dalam suatu ekosistem dapat menjadi indikator keseimbangan ekosistem tersebut. Menurunnya populasi capung salah satunya disebabkan oleh rusaknya tempat hidup (habitat) mereka karena aktivitas manusia seperti pengambilan tanah, penggundulan hutan, polusi yang berasal dari pertanian dan industri, buangan kotoran pada aliran sungai dan sebagainya. Parameter perairan Situ Jatijajar Depok yang tidak mendukung dan tidak ditemukannya nimfa capung menjelaskan bahwa perairan Situ Jatijajar Depok tergolong buruk (Husnia, 2019).
23
4.4 Hubungan B. contaminata dengan Faktor Mikroklimat
Pada penelitian ini, faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan capung adalah kondisi fisik lingkungan, seperti suhu, kelembapan, intensitas cahaya dan kecepatan angin. Beberapa faktor tersebut akan menjadi pembatas pesebaran beberapa jenis capung endemik yang memiliki faktor fisik yang spesifik. Kondisi fisik habitat yang optimal akan mempengaruhi keberadaan jenis capung (Crumrinne et al., 2008).
Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Korelasi Pearson antara capung B.contaminata dengan variabel faktor mikroklimat.
Korelasi
P.Value Korelasi TB/B
Capung Variabel
B. contaminata
Suhu udara 0,013 0,999 B
Suhu air 0,439 -0,189 TB
pH 0,469 -0,098 TB
Kecepatan angin 0,009 1,000 B Kelembapan udara 0,007 -1,000 B Kecerahan air 0,011 -0,999 B
DO 0,431 -0,216 TB
Keterangan: TB: Tidak Berhubungan, B: Berhubungan
Uji statistik dengan korelasi Pearson (Tabel 5 dan Lampiran 1) dilakukan untuk mengetahui hubungan antara keberadaan B. contaminata dengan faktor mikroklimat. Faktor mikroklimat yang dijadikan variabel yaitu suhu udara, suhu air, pH, kecepatan angin, kelembapan udara, kecerahan udara dan DO. Data faktor mikroklimat yang digunakan dalam uji koefisien korelasi Pearson dapat dilihat di Lampiran 4.
Berdasarkan uji yang telah dilakukan, diperoleh nilai koefisien korelasi untuk tiap variabel seperti pada Tabel 5. Nilai signifikansi pada variabel suhu udara, kecepatan angin, kelembapan udara dan kecerahan air memiliki hubungan antara keberadaan capung B. contaminata dengan variabel tersebut. Hasil uji korelasi untuk variabel suhu air, pH dan DO menunjukkan tidak ada hubungan keberadaan capung B. contaminata dengan variabel suhu udara, pH dan DO.
Keempat variabel yang berhubungan dengan keberadaan capung B.
contaminata memiliki jenis hubungan yang berbeda seperti ditunjukkan pada
24
Tabel 5. Suhu udara dan kecepatan angin memiliki hubungan yang kuat dan berbanding lurus dengan keberadaan capung. Hal ini menunjukkan semakin tinggi suhu udara dan kecepatan angin maka semakin banyak jumlah capung dan sebaliknya semakin rendah suhu udara dan kecepatan angin maka semakin sedikit jumlah capung. Sedangkan variabel kelembapan udara dan kecerahan air memiliki hubungan yang berbanding terbalik yang berarti semakin tinggi kelembapan udara dan kecerahan air maka semakin sedikit jumlah capung dan sebaliknya semakin rendah kelembapan udara dan kecerahan air maka akan semakin banyak jumlah capung B. contaminata sampai batasan tertentu. Christina & Siwi (1991) dan Borror et al., (2004) menyatakan bahwa capung dapat mengalami dehidrasi atau kekurangan air apabila berada pada lingkungan dengan cuaca terik dan kelembapan udara relatif yang cenderung rendah.
Capung membutuhkan kondisi yang optimal untuk bisa hidup di suatu habitat atau lingkungan. Faktor mikroklimat yang optimal akan mempengaruhi keberadaan jenis capung (Crumrine et al., 2008). Selain itu Mc Cauley (2006) menyatakan keberadaan jenis capung dibedakan oleh jarak, jenis habitat dan faktor fisik yang membatasinya. Capung B. contaminata meskipun termasuk spesies kosmopolit (Sigit et al., 2013) namun tetap bergantung pada faktor mikroklimat dengan kisaran optimum untuk bisa bertahan di lingkungan. Borror et al. (1992) menyatakan bahwa anggota Famili Libellidae termasuk B.
contaminata banyak ditemukan di perairan berbatu dan berlumpur yang airnya kurang cerah.
Variabel hasil uji korelasi yang memiliki hubungan dengan keberadaan capung B. contaminata juga diinterpretasi dengan tabel interpretasi Sugiyono (2007). Nilai korelasi keempat variabel yaitu suhu udara (0,999), kecepatan angin (1,000), kelembapan udara (-1,000) dan kecerahan air (-0,999) termasuk dalam kategori sangat kuat. Suhu dan kelembapan udara merupakan faktor abiotik yang sangat penting bagi siklus hidup capung. Selain itu kecepatan angin berpengaruh bagi pergerakan capung saat terbang (Safrudin & Maulana, 2020).
26 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
1). B. contaminata memanfaatkan 14 titik di sekitar Situ Jatijajar sebagai tempat bertengger. Nimfa capung tidak ditemukan di perairan Situ Jatijajar.
2). Faktor mikroklimat yang mempengaruhi keberadaan B. conaminata yaitu suhu udara, kecepatan angin, kelembapan udara dan kecerahan air.
5.2 Saran
Penelitian B. contaminata ini merupakan penelitian capung pertama di Situ Jatijajar. Sebagai indikator air bersih ada baiknya kelestarian Situ Jatijajar dijaga untuk menjaga keberadaan capung serta kebersihan air di Situ Jatijajar.
27
DAFTAR PUSTAKA
Aswari, P. (2003). Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa bagian Barat. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.
Barus. (2001). Pengantar Limnologi. Jakarta: Swadaya Cipta.
Borror, D. J., Triplehorn, C.A & Johnson, N. F. (1992). Pengenalan pelajaran serangga. Diterjemahkan oleh Suryobroto, M. Yogyakarta: UGM Press.
Borror, D. J., Triplehorn, C.A & Johnson, N. F. (1996). Pengenalan pelajaran serangga edisi keenam. Partosoedjono S, penerjemah; Brotowidjoyo MD, editor. Yogyakarta: UGM Press. Terjemahan dari: An Introduction to The Study of Insects.
Borror, D. J., Triplehorn, C.A & Johnson, N. F. (2004). Introduction to study of insect. USA: Thomson Brooks/Cole.
Campbel, N, A., Jane, B, R., & Lawrence, G, M. (2004). Biology edisi kelima jilid 3. Terjemahan oleh Wamen Manulu. Jakarta: Erlangga.
Christina, L. S. & Siwi, S.S. (1991). Kunci determinasi serangga. Yogyakarta: PT Kanisius.
Corbet, P. S. (1980). Biology of Odonata. Annu. Rev. Entomol. 25: 189-217.
Corbet, P. S. (1999). Dragonflies: Behavior & ecology of Odonata. Harley Books, Great Horkesley, Colchester.
Crumrine, P.W., Switzer, P.V., & Crowley, P.H. (2008). Structure and dynamics of Odonate communities: accesing habitat, responding to risk, and enabling reproduction. Aguilar, A.C. (eds). Dragonflies and damselflies: Model organisms for ecological and evolutionary research. New York: Oxford University Press Inc.
De Marco Jr., P, & D. C. Resende. (2005). Thermoregulatory Constraits on Behaviour: Patterns in a Neotropical Dragonfly Assemblage. Neotropical Entomology. 34(2): 155-162.
Dharmawan, A. (2005). Ekologi hewan. Malang: UM Press.
Fitriana, N. (2016). Diversitas capung (Odonata) di Situ Pamulang Kota Tangeran Selatan, Banten. Jurnal Pro-Life, Vol 3(3), 228-240.
Gullan, P.J., & Craston, P.S. (2000). The insects; an outlite of entomology.
Blackwell Publishing Ltd. Oxford.
Hidayah, S. N. I. (2008). Keanekeragaman dan aktivitas capung (Odonata) di Kebun Raya Bogor. Skripsi. Sarjana Program Studi Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Bogor: IPB.
28
Husnia, F. (2019). Biodiversitas capung subordo Zygopter sebagai bioindikator kualitas air di aliran sungai kawasan Muria desa Colo kabupaten Kudus Jawa Tengah. Skripsi. Sarjana Sains dan Ilmu Biologi. Semarang: UIN Walisongo.
Iskandar. (2015). Metodelogi penelitian pendidikan dan sosial. Jakarta: Referensi.
Jumar. (2000). Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta.
Klym, M. (2003). Introduction to dragonfly and damselfly watching. Texas: Texas Parks and Wildlife.
Krebs, C.J. (2014). Ecological methodology, 3rd ed. New York: Harper & Row Publishing.
Leger, D. W. (1992). Biological foundation of behaviour an integrative approach.
New York: Harpen Collins Publisher.
McCauley, S.J. (2006). The effects of dispersal and recruitment limitation on community structure of Odonates in artificial ponds. Ecography 29, 585–
595.
Nanao, J., & Nanao, K. (1996). Seri misteri alam 3; Kumbang koksi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Odum, E.P. (1993). Dasar – dasar ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingun.
Yogyakarta: UGM Press
Odum, E.P. (1994). Dasar – dasar ekologi. Edisi ketiga. Penerjemah Tjahjono Samingun dan B. Srigandono. Yogyakarta: UGM Press.
Pamungkas, D.W & Ridwan, M. (2015). Keragaman jenis capung dan capung jarum (Odonata) di beberapa sumber air di Magetan, Jawa Timur. Jurnal Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1: 1295-1301.
Patty, N. (2006). Keanekaragaman jenis capung (Odonata) di Situ Gintung Ciputat, Tangerang. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Paulson, D. (2011). Dragonflies and damselflies of the east. New Jersey:
Princeton University Press.
Rahadi, W.S., Feriwibisono, B., Nugrahani, M., Dahlia, B. P. I & Makitan, T.
(2013). Naga terbang wendit. keanekaragaman capung perairan wendit, Malang. Indonesia Dragonfly Society. Malang.
Rini, D.S. (2011). Ayo mencintai sungai. Surabaya: Ecoton.
Ross. (1982). Entomology, Fourth Edition. Canada: John Willey & Sons.
29
Safrudin, A. & Maulana F. 2020. Kepadatan populasi capung sambar hijau (Orthetrum sabina) pada persawahan di Desa Karang Buah kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala. Jurnal Pendidikan Hayati 6 (2):37-45.
Samways, M. J. (2008). Dragonflies and damselflies of south Africa. Bulgaria:
Pensoft Publisher.
Saputri, D. (2013). Jenis - jenis capung (Odonata) di persawahan masyarakat rimbo tarok kelurahan gunung sarik kecamatan kuranji Padang.
Universitas Andalas Padang.
Setiyono, J., Diniarsih, S., Oscilata, E. N. R., & Budi, N. S. (2017). Dragonflies of Yogyakarta, jenis capung Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia Dragonfly Society. Yogyakarta.
Sigit W., B. Feriwibisono, M.P. Nugrahani, B. Putrid & T. Makitan. (2013). Naga terbang wendit. Malang: Indonesia Dragonfly Society.
Subagyo, T.S. (2016). Keanekaragaman capung (Odonata) di kawasan Rawa Jombor, Klaten, Jawa Tengah. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Sugiyono. (2007). Metode penelitian pendidikan pendekatan kualitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Susanti, S. (1998). Seri panduan lapangan: Mengenal capung. Bogor: Puslitbang Biologi, LIPI.
Syarifah, E.B., Fitriana N & Wijayanti F. (2018). Keanekaragaman capung (Odonata) di Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Margasatwa Ragunan, DKI Jakarta, Indonesia. Bioprospek, 13(1): 50-58.
Theischinger, G. (2009). Identification guide to The Australian Odonata. Sydney:
Department of Environment, Climate Change and Water NSW.
Wardhana, P.K. (2017). Keanekaragaman capung di Jogja Adventure Zone sebagai bahan penyusun lembar kegiatan siswa bagi siswa kelas X SMA.
Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Watson, J. A. L., & A. F. O’Farrel. (1991). Odonata (dragonflies and damselfy).
Division of Entomologi CSIRO Australia. Melbourne: Melbourne University Press.
Watson, J. A. L., & A. F O’Farrell. (1996). The insects of Australia, a text book for students and research workers volume I second edition. Melbourne:
CSIRO Australia. Melbourne University Press.
William, D. D., & Feltmate B.W. (1992). Aquatic insects. UK: Cab Internation Wallingford.
Zamhuri, I. (2017). Studi habitat dan perilaku capung Brachythemis contaminata (Fabricius, 1793) di Situ Tujuh Muara, Pamulang. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
30
Lampiran 1. Hasil uji Koefisien Korelasi Pearson Correlations
SU SA pH KA KU CA DO Capung
SU
Pearson
Correlation 1 -,231 -,140 1,000** -
1,000** -,997* -,175 ,999* Sig. (1-tailed) ,426 ,455 ,005 ,006 ,024 ,444 ,013
N 3 3 3 3 3 3 3 3
SA
Pearson
Correlation -,231 1 ,996* -,217 ,211 ,157 -,918 -,189
Sig. (1-tailed) ,426 ,029 ,430 ,432 ,450 ,130 ,439
N 3 3 3 3 3 3 3 3
pH
Pearson
Correlation -,140 ,996* 1 -,126 ,120 ,065 -,950 -,098
Sig. (1-tailed) ,455 ,029 ,460 ,462 ,479 ,101 ,469
N 3 3 3 3 3 3 3 3
KA
Pearson
Correlation 1,000** -,217 -,126 1 -
1,000** -,998* -,189 1,000**
Sig. (1-tailed) ,005 ,430 ,460 ,002 ,019 ,439 ,009
N 3 3 3 3 3 3 3 3
KU
Pearson Correlation
-
1,000** ,211 ,120 -1,000** 1 ,998* ,195 -1,000**
Sig. (1-tailed) ,006 ,432 ,462 ,002 ,018 ,438 ,007
N 3 3 3 3 3 3 3 3
CA
Pearson
Correlation -,997* ,157 ,065 -,998* ,998* 1 ,249 -,999*
Sig. (1-tailed) ,024 ,450 ,479 ,019 ,018 ,420 ,011
N 3 3 3 3 3 3 3 3
DO
Pearson
Correlation -,175 -,918 -,950 -,189 ,195 ,249 1 -,216
Sig. (1-tailed) ,444 ,130 ,101 ,439 ,438 ,420 ,431
N 3 3 3 3 3 3 3 3
Cap ung
Pearson
Correlation ,999* -,189 -,098 1,000** -
1,000** -,999* -,216 1 Sig. (1-tailed) ,013 ,439 ,469 ,009 ,007 ,011 ,431
N 3 3 3 3 3 3 3 3
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed).
30 Lampiran 2. Rata-rata faktor mikroklimat di Situ Jatijajar Depok
Waktu Suhu Udara (ºC) Suhu Air (ºC) pH air Kecepatan angin (m/s)
Kelembapan udara (%)
Kecerahan Air
(m) DO air (mg/L)
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Pagi 27,8 29,2 29,4 29,9 29,9 29,6 7,03 7,26 6,92 4,5 5,6 6,5 69,1 64 62,7 62,6 62,3 62,3 17,1 16,2 17,1 Sore 34,5 35,2 35,9 32,8 33 32,9 7,37 7,73 7,21 5,3 7,2 7,8 49,6 50,4 49,6 59,8 57,4 56,5 18,2 17,6 18,2
Lampiran 3. Tempat bertengger capung B.contaminata di Situ Jatijajar Depok
No Tempat Bertengger Gambar No Tempat Bertengger Gambar
1 Cyperus rotundus 2 Manihot sp.
3 Konblok jalan 4 Pagar