RISALAH RAPAT PANSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILlHAN UMUM

20  Download (0)

Teks penuh

(1)

RISALAH

RAPAT

PANSUS

RANCANGAN·UNDANG-UNDANG

TENTANG

PEMILlHAN UMUM

TERBATAS

Tanggal, 29 Agustus 2002

AUDIENSI (ke-3)

DENGAN

SEKRETARIAT BERSAMA KELOMPOK KERJA PETISI 50

KOMITE WASPADA ORDE BARU

GERAKAN RAKYAT MARHAEN

nIMPUNAN MAHASISWA ISLAM MPO

!

I

I

Sekretariat Pansus

.1

Rancangan Undang-Undang Tentang Pemilu

JI.Jenderal Gatot Subroto Jakarta ! Tlp.5715736 - 5175516 Fax.5715554

I

(2)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

, REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT PANSUS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILIHAN UMUM

Tahun Sidang Masa Persidangan Rapatke Jenis Rapat SifatRapat Hari, tanggal Pukul Tempat KetuaRapat Sekretaris Rapat Acara Hadi r \NGGOTA YANGHADIR : 8'.PDJP . 1. B. TERAS NARANG, SH 2. ALEZANDER LITAAY 3. H. SUWlGNYO,B.A. 4. RUSMAN LUMBANTORUAN 5. MARAH SIMONMhdSYAH 6. JAHAR HARAHAP

7. TB. MAMAS CHAERUDDIN

8. FIRMAN JAYA DAELI

fi'.PPP

[i'.REFORMASI

1. IR. SAMUEL KOTO

: 2002-2003 : I

:9

: Audiensi Ke-3 : Terbuka : Kamis, 29 Agustus 2002 : 13..00 WIB

: KK.III

Gedung Nusantara

II

: A. Teras Narang, S.H.

: Drs.

Helmizar

; 1. Saran dan masukan dalam rangka persiapan PembahasanRUUtentang Pemilu

2. Dialog.

: 19 dari 50 Anggota

- Sekretariat Bersama Kelompok Kerja Petisi 50 - KomiteWaspada Orde Barn

- GerakanRakyat Mahaen

- Himpunan Mahasiswa Islam MPO

F.PG

1. DRS. FERRY MURSYIDAN BADLAN

2. DRS. AGUN GUNADJAR SUDARSA

3. IR. RULLY CHAIRUL AZWAR

4. DRS. H. SLAMET EFFENDY YUSUF (Sakit) 5. ANDI MATALATTA, S.H.M.HUM.

F.KB

1. DRS. ALI MASYKUR MUSA,M.Si 2. DRS. SUSONO YUSUF

3. PROF.Dr. MANASEE MALO

F.TNIlPOLRI

(3)

F.KKI

TJETJE HIDAYAT PADMADINATA

F.PBB

HAMDAN ZOELFA, S.H.

(4)

PANSUS RUU PEMILU29-08-2002

KETUA RAPAT

(H.

TERAS NARANG, SE):

Baik bapak-bapak sekalian.

Perkenankanlah saya untuk membuka audensi pada siang hari ini. Ibu bapak sekalian tamu kami dari Petisi 50 yang ada 7 orang.

Pertama-tama ingin kami sampaikan kepada bapak-bapak sekalian, bahwa pada saat audensi ini ada kesepakatan dari kami untuk tidak perlu memenuhi qorum, tetapi apa yang kita bicarakan ini semuanya kita rekam, dan kemudianakan kita transkrip dan selalu kita bagikan kepada seluruh anggota.

Kebetulan pada kesempatan ini yang hadir adalah dari 3 Fraksi, 1 dari Fraksi POI Perjuangan 11 orang dari 15, kemudian pak Yusuf Muhammad dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dan pak Arifuddin dari Fraksi TNIIPOLRI. Nanti menyusul teman-teman dari fraksi lain untuk bisa bergabung dengan kita semuanya.

Sesuai juga dengan keputusan dari rapat pansus ruu pemilu, bahwa kami sarnpai dengan hari Rabu itu menerima masukan-masukkan dari masyarakat yang terkait dengan masalah Rancangan Undang-undang Tentang Pemilu. Tetapi bukan berarti bahwa kami membatasi diri sampai dengan hari Sabtu, kami selalu menerima masukan-masukan dari masyarakat, dari organisasi manapun yang terkait dengan masukannya berupa aspirasi tentang Rancangan Undang-undang Tentang Pemilu, di samping secara formi!. Oemikian kami juga membuka akses dengan website. Jadi nanti semua perkembangan,acara, proses pembahasan bisa diikuti, kalau memang itu sifatnya terbuka silakan hadir. Namun demikian apabila rapat tertutup sesuai dengan Tata Tertib yang berlaku, maka masih bisa hasilnya diakses melalui website. Jadi akan dicatat dan bisa berhubungan dengan Sekretariat Pansus Pemilu.

Baik demikian pak pengantar dari kami, dan selanjutnya kami serahkan sepenuhnya acara inL Maaf sebelumnya kita sepakat paling lama pukul 15.00 WIB, karena puku115.00 WIB kami akan melanjutkan dengan kelompok yang lain.

Silakan pak.

PETISI 50 (YUDUL HERI) :

Terima kasih.

Bismillahi rahmanirahim. Assalamualaikum Wr. WB.

Pertama-tama kami ucapkan terima kasih kepada pimpinan dan Anggota Panitia Khusus RUU Tentang Pemilihan Umum yang telah bersedia menerima rombongan kami dari Sekretariat Bersama Kelompok Kerja Petisi 50, Komite Waspada Orde Baru, Gerakan Rakyat Marhaen, dan Himpunan Mahasiswa Islam MPO pada hari ini.

,

Sebelumnya perkenankanlah dulu kami untuk memperkenalkan kawan-kawan kami yang hadir pada kesempatan ini. Yang paling ujung sebelah kanan Sdr. Krisna Pujangga dari Komite Waspada Orde Baru, Sdr. Ir. Bagus dari Komite Waspada Orde Baru, Sdr. Buntaran Sanusi dari Komite Waspada Orde Baru, Sdr. Krisna Legino dari Petisi 50, saya Yudul Heri dari Komite Waspada Orde Baru, dan ada juga dari Petisi 50, Sdr. Sa'finudin Ketua Umum HMI IVIPO. Ini sutradara dulu sidang simulasi Bulog Gate, di belakang Sdr. Wiwi, Sdr. Irawan dari KWOP dan juga Sekjen GP 27 Juli dari Komite Waspada Orde Baru, Sdr. Yudi dari Komite Waspada Orde Baru dan Sdr. Hardi dari HMI MPO.

Baiklah untuk mempersingkat waktu saya persilakan Sdr. Safinudin untuk membacakan masukan-masukan dari kami Sekretariat Bersama, silakan Sdr. Safinudin.

(5)

PETISI 50 (SAFINUDIN) :

Bismillahi rahmanirahim, Ass. Wr. WB.

Sekretariat bersama Pokja Petisi 50 KWOB DRM dan HMI MPO, masukan-masukan sekretariat bersama untuk rancangan undang-undang partai politik dan rancangan undang-undang pemilihan umum. Setelah mempelajari rancangan undang-undang partai polltik dan rancangan undang-undang pemilihan umum, bersama ini sekretariat bersama kelompok kerja Petisi 50 Komite Waspada Orde Baru Gerakan Rakyat Marhaen dan Himpunan Mahasiswa Islam MajeUs Penyelamat Organisasi menyampaikan masukan-masukan sebagai berikut:

Untuk Rancangan Undang-Undang Partai Politik :

1. Undang-undang partai politik, tidak boleh mengurangi apalagi meniadakan hak warga negara untuk mendirikan partai politik sesuai dengan hak-hak politik atau politpoloride warga negara yang juga sesuai dengan makna jiwa dan semangat pasal 28 undang-undang dasar 1945.

2. Berdasarkan pertimbangan dasar tersebut pada butir 1, maka :

1) jumlah anggota partai politik tidak boleh menjadi persyaratan interaktif bagi berdirinya partai politik. Perlu diingat bahwa pada prinsipnya setiap warga negara tidak terikat secara kaku pada keanggotaannya pada partai politik tertentu jika pada suatu saat pada satu pemilu dia memilih partai politik a, maka pada pemilu berikutnya warga negara tersebut dapat saja meninggalkan partai politik a dan pindah ke partai b atau c, karena partai a sudah dinilai tidak lagi aspiratif terhadap aspirasi politiknya.

2) Syarat keuangan seyogyanya hanya terbatas pada suatu jumlah yang perlu bagi pengelolaan administratif serta plaksanaan fungsi pro komunikatif terhadap rakyat pemilih terhadap partai politik yang besangkutan. Syarat keuangan tidak boleh menjadi penghambat bagi sebagian terbesar warga negara yang secara sosial ekonomi lemah sehingga kehilangan hak-hak politik dalam mendirikan dan menumbuhkan partai politik.

3) Sejalan dengan dilaksanakannya Otonoml Daerah, maka Undang-undang Partai Politik harus memberi peluang terbentuknya Partai Politik yang pendukungnya bersifat lokal jadi tidak harus tersebar secara nasional sesuai dengan pasal2 ayat 3.

3. Sebagai wujud pertanggungjawaban poUtik dan pertanggungjawaban moral partai Golkar yang notabene adalah mesin polltik rejim Orde Baru yang telah menyebabkan keterpurukan bangsa dan negara di segala bidang harus dinyatakan tidak layak atau diskualifite sebagai partai politik dalam era pasca Orde Baru.

4. Pengurus Golkar pada masa Orde Baru dalam segala tingkatannya dari pengurus pusat sampai komisaris di daerah di kecamatan dan kelurahan dilarang untuk menjadi pengurus partai politik dalam jangka 5 sampai 10 tahun tergantung dari besar atau peranannya dalam organisasi politik Golkar.

5. IImunya hak recall atas anggota lembaga permusyawaratan atau lembaga perwakilan hanya ada pada rakyat pemilih. Namun hal 'ini baru dapat dilaksanakan jika berlaku sistem pemilihan distrik. Jika hak recall dilakukan oleh partai politik dalam hal ini jika dalam pemilihan sistem proforsional, maka hak tersebut tidak boleh terjadi dalam hal anggota permusyawaratan atau lembaga perwakilan rakyat berbeda pendapat dengan partainya. Dengan demikian hak recall hanya dapat dilakukan dalam hal anggota tersebut memenuhi syarat :

(6)

1) mengundurkan diri dari keanggotaan partainya atau partai yang bersangkutan. 2) Tidak disiplin atau tidak memenuhi tugas dan kewajibannya sebagai anggota lembaga permusyawaratan atau lembaga perwakilan rakyat yang mana ditetapkan melalui rekomendasi dewan kehormatan lembaga permusyawaratan atau lembaga perwakilan rakyat yang bersangkutan.

6. Pengawasan partai politik hendaknya dilakukan oleh independen yang dibentuk khusus untuk itu dan bukan dibentuk oleh pemerintah pasal 21 ayat 1.

7. Sumber keuangan partai politik harus jelas indentitasnya, sehingga tidak terjadi lagi kasus dimana disebutkan bahwa partai politik tertentu adalah Hamba Allah.

Untuk Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum :

1. Pada prinsipnya setiap warga negara yang telah berusia 18 tahun punya hak pilih yaitu hak memilih dan hak dipilih.

2. Dalam kaitan dengan butir 1, mengingat bahwa terdapat sejumlah warga negara yang secara bebas dan sukarela dalam memilih profesi sebagai pegawai negeri sipil, TNI dan POLRI yang karena hidupnya ditanggung oleh pajak rakyat, maka untuk mereka :

1) tetap punya hak memilih yaitu hak, karena hak memilih adalah individual tidak dikaitkan dengan lembaga atau instusi.

2) Kehilangan hak untuk dipilih karena mereka telah memiliki profesi sebagai abdi negara, yang berarti secara bebas dan sukarela telah melepaskan haknya untuk dipilih.

3) Jika mereka ingin dikernbalikan haknya untuk dipilih maka sebagai konsekwensinya mereka harus menanggalkan profesi sebagai pegawai negeri sipil TNI atau POLRI dalam waktu jangka waktu pelepasan tersebut paling kurang 1 tahun sebelum yang bersangkutan mencalonkan atau dicalonkan untuk dipilih. Pelepasan atau penanggalan tersebut bersfat permanen artinya yang bersangkutan tidak dibolehkan kembali ke profesinya atau dikembalikan profesinya sebagai pegawai negeri sipil TNI atau POLRI jika dalam pemilihan ternyata tidak terpilih.

3. Peserta pemilu atau kontestan pemilu adalah semua partai politik yang dibentuk oleh rakyat secara demokratis sesuai dengan pasal 28 Undang Undang Dasar 1945 yang telah diamandemen dengan memenuhi persyaratan adminitratif.

4. Sistem pemilihan umum yang dipergunakan harus memperhatikan prinsip-prinsip terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa kepentingan rakyat pemilih dan kepentingan daerah. Untuk itu pemilihan anggota-anggota DPR, DPRD propinsi DPRD kabupaten atau kota dan DPD yang ideal haruslah dilaksanakan dengan sistem distrik yaitu pasal 6 ayat 1. Apalagi mengingat bahwa Presiden dan wakil Presiden telah diputuskan oleh MPR dipilih secara langsung oleh rakyat sesuai dengan amandemen ke 3 dan ke 4 Undang Undang Dasar 1945. Hal ini menjadi lebih penting untuk menghindari posisi eksekutif yang terlalu kuat dalam menghadapi lembaga legis/atif sebagaimana telah terjadi pada masa orde baru maupun orde lama. Akan tetapi jika ditempuh sistem campuran dalam pemilihan anggota DPR dan DPRD maka sistem campuran tersebut yaitu proporsional dan distrik haruslah lebih rinci pada sistem distrik lebih berat pada sistem distrik.

5. Dengan banyaknya indikasi keterlibatan dalam penggunaan dana negara secara tidak sah bagi kepentingan partai Golkar seperti contohnya kasus Bank Bali dana moneter bulog dan lain-lain kalau menuntut agar partai Golkar didiskualifikasi sebagai peserta pemilihan umum tambahan untuk pasal 14. Walaupun pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara Golkar dan partai Golkar, namun secara yuridis partai Golkar dan Golkar adalah dua instusi yang berbeda, maka

(7)

penyerahan aset-aset Golkar berupa gedung, gedung kantor gedungnya adalah rnilik negara yang nilainya total puluhan bahkan mungkin ratusan milyar rupiah mulai dari tingkat pusat sampai cabang kepada partai Golkar telah melanggar undang-undang nomor 2 tahun 1999 pasal 14 ayat 2, dimana disebutkan bahwa jumlah sumbangan dari setiap perusahaan dan badan lainnya yang dapat diterima oleh partai politik sebanyak-banyaknya adalah Rp. 150 juta dalam setahun. Sementara pasal14 ayat 3 undang-undang tersebut menyatakan bahwa sumbangan yang berupa barang dinilai menurut nilai pasar yang berlakukan sama dengan sumbangan yang serupa yang berupa uang.

6. Persyaratan elektoral presword diperlukan agar jumlah partai politik dapat disederhanakan jumlahnya secara demokratis. Untuk itu menerapkan ketentuan elektoral presword 2% adalah cukup memadai dalam jangka waktu 10 tahun kedepan. Setelah 10 tahun elektoral presword dapat ditingkatkan menjadi 3%. Namun demikian ketentuan tersebut yaitu 2% untuk dapat mengikuti pemilihan umum 2004 mendata perlu pula dimaknai secara bijak. Oalam hubungan ini kami mengusulkan agar dimungkinkan peserta pemilu dalam bentuk aliansi atau federasi, dalam arti partai-partai politik peserta pemilu tahun 1999 yang membentuk federasi atau aliansi tetap eksis sebagai partai politik walaupun tidak dapat secara langsung mengikuti pemilihan umum, tambahan untuk pasal 14. Aliansi atau federasi ini dimungkinkan dengan syarat misalnya jumlah anggota OPR dari partai-partai tersebut secara bersamaan mencapai jumlah total 10 orang atau jumlah pemilih partai-partai peserta pemilu tahun 1999 tersebut mencapai total suara sedikitnya 2 juta yaitu kira-kira 2 % dari jumlah pemilih dalam pemilihan umum 1999. Partai-partai yang tergabung dalam aliansi atau federasi akan mengikuti pemilu dalam satu bendera satu aliansi atau federasi dan calon bersama. Contoh pada barisan nasional di Malaysia walaupun ada perbedaan dalam sistem pemilihan umum dimana Malaysia melaksanakan sistem pemilihan elektoral distrik.

7. Mereka yang pernah menjadi anggota lembaga perwakilan atau lembaga permusyawaratan selama masa orde baru selama jangka waktu tertentu, misalnya 5 atau 10 tahun tidak diperkenankan menjadi calon anggota lembaga permusyawaratan atau lembaga perwakilan karena mereka inilah yang selalu menerima pertanggungjawaban mantan Presiden Soeharto dan memilihnya kembali setiap 5 tahun, tambahan untuk pasal 20.

8. Waktu pemilihan umum tingkat nasional harus dipisahkan dengan waktu pemilihan umum tingkat lokal agar diusulkan dalam kampanye tidak tertutupi atau dikalahkan oleh isu-isu nasional, pasal 31 ayat 1.

Oemikian masukan dari Sekretariat bersama disampaikan pada pansus RUU Partai Politik dan pansus RUU Pemilihan Umum OPR-RI.

Jakarta 29 Agustus 2002 Kelompok Pekerja Petisi 50 Kris Sinar Sekretaris, Komite Waspada Orde Baru Yudul Heri Oustam Ketua Presidium Gerakan Rakyat Marhaen, Sunardi Ketua Umum, Pengurus Sesar Mahasiswa Islam MPO Safinudin.

Terima kasih.

PETISI50 :

Oemikianlah apa yang disampaikan oleh rekan kami Safinudin, sebelumnya saya juga ingin memperkenalkan dua rekan kami yang terhormat sdr. Ari Maduto dari Komite Waspada Orde Baru dan juga sdr. Syamsul dari Gerakan Rakyat Marhaen di Sumatera Utara. Sebetulnya saya tidak tahu apakah dari Golkar ada disini? karena tempatnya kosonq, tetapi ada jadi tahu aspirasi kami yang disampaikan oleh rekan kami, kemudian ada dari Reformasi juga pak Tamim.

(8)

Baiklah mungkin ada beberapa tambahan dari rekan kami pak Teras mungkin pertama kali saudara Krisna.

PETISI 50 (KRIS SINAR) :

Terima kasih.

Pertama kami harus menyampaikan terima kasih kepada saudara-saudara Dewan Perwakilan Rakyat khususnya pansus yang telah menerima kami karena mau plus back ke belakang khususnya Petisi 50. Selama lebih dari 10 tahun kita berkali-kali menulis surat namun nyampaikan hal yang sama seperti hari ini kami sampaikan, saya kira dibaca pun tidak oleh DPR masa lalu. Padahalnya yang disampaikan itu saya kira itu zamannya Amir Machmud almarhum selalu mengatakan ini masuk ke keranjang sampah, itu selama baru kita diterima tahun 1991.

Saya pikir sebenarnya pansus ini mempunyai tugas berat, tidak hanya secara teknis menyusun aspirasi yang ada dari masyarakat, tapi juga harus mempertimbangkan secara serius kondisi masyarakat pada saat ini dimana undang-undang partai politik itu mau disusun untuk diberlakukan.

Undang-undang pemilihan umum dan undang-undang partai politik yang disahkan tahun 1999, waktu zamannya Habibie menjadi Presiden saya pikir itu sesungguhnya undang-undang rejim orde baru rejim Soeharto yang disana-sini dipoles, sehingga seolah-olah memberi kesan sudah mengalami reformasi. Namun sesungguhnya itu undang-undang masa rejim orde baru. Gate yang paling jelas adalah bahwa undang-undang itu artinya memungkinkan Golkar sebagai mesin politik orde baru serta dalam pemilihan dan anehnya bagi bangsa ini Golkar itu menjadi peserta nomor 2 dalam pemilihan. Artinya mengendalikan seluruh proses politik yang terjadi setelah.

Sebenarnya sebagian dari kelompok-kelompok reformasi dalam pemilihan umum 1999 tidak menghendaki pemilihan umum yang masih berdasarkan undang-undang partai politik dan undang-undang-undang-undang pemilu warisan rejim orde baru. Hal ini karena akan membawa konsekwensi hasil pemilihan umum akan mengokohkan kembali sistem orde baru dan A. Asikin membenarkan itu, kita semua menyaksikan. Tetapi daripada tidak ada pemilu, karena kalau tidak ada pemilu harus ada revolusi kan pilihannya itu revolusi.

Saya kira syarat untuk revolusi pada tahun 1998 itu tidak ada, karena seluruh aspirasi masyarakat seluruh kekuatannya telah dimatikan oleh orde baru. Jadi semuanya ikut pemilihan umum dengan maksud setidak-tidaknya ada perubahan, ada perubahan phisik dari mereka yang dulunya ikut bertanggungjawab dalam kejahatan politik orde baru, tapi itu tidak terjadi.

Sebenarnya hari ini kita mengalami situasi seperti ini, bahan seperti sistem dan peradaban politik orde baru semakin kuat. Dalam situasi inilah kita akan membangun kembali undang-undang politik dan undang-undang pemilihan umum yang baru. Apakah akan memberikan harapan untuk perubahan secara substansi saya kira ya, kita mengharapkan seperti itu, tapi saya sendiri ragu-ragu.

Kondisi masyarakat politik Indonesia dewasa ini setelah lebih dari 3 dekade hidup dengan suatu sistem politik otoriterian, bahkan sebagian mengatakan totalitarian. Yaitu tidak demokratis bahkan anti demokrasi dan menginjak-injak hak asasi manusia tanpa peradaban politik. Kita hidup 30 tahun dalam kebiadaban politik sebenarnya 30 tahun. Itu tidak bisa menghilang dengan sendirinya dan diatas masyarakat politik seperti ini dan kita harus menyusun undang-undang politik.

Kita semua kenai rekayasa politik orde baru yang menguasai demokrasi, sehingga selama 30 tahun kita seolah-olah ada pernilu, ada partai politik.

(9)

Sebenarnya tidak pemilihan umum yang sesungguhnya dan tidak apa partai politik yang sesungguhnya selama 30 tahun. Itu semua seolah-olah semua dan itu berlaku selama 30 tahun dan peradaban politik yang berparadigma pada mahkelisme, ini yang saya kira menjadi hal yang terpenting bagi kita untuk meperhatikan hal-hal ini semua.

Jadi satu catatan penting sebagai masukan untuk saudara-saudara dari pansus itu adalah undang-undang ini harus memberlakukan suatu perubahan yang cukup mendasar terhadap undang-undang pemilihan umum dan partai politik 1999. Tadi kita sudah disebutkan salah satu yang mendasar itu satu jurang, partai politik yang sudah jelas bertanggungjawab terhadap partai politik, karena mayoritas penggal praktek yang bertanggungjawab sejak 5 tahun memilih kembali Soeharto dan setiap kali 5 tahun menerima pertanggungjawaban Soeharto, mayoritas tunggal yang direkayasa itu tidak boleh lagi berlalu.

Saya kira itu kalau kita mau menilai undang-undang partai politik yang akan datang salah satu syaratnya ltu kalau Golkar sebagai penanggungjawab utama dari dari rezim partai politik orde bam tidak boleh ikut pemilu baru ada perubahan substansi yang dalam.

Yang kedua, yang ingin kami beri catatan. Ada kesan seolah-olah sekretariat di KPU pun sebagian kawan-kawan yang termasuk cendekiawan mempersyaratkan keuangan yang cukup berat untuk orang-orang mendirikan partai politik. Dan kita tahu bahwa dalam pemilihan umum 1999 cukup banyak partai-partai politik dan kita ingin tahu siapa-siapa yang dalam slogan begitu banyak memberikan begitu banyak partai politik pun mereka pencuri-pencuri uang selama orde baru yang mendirikan partai politik begitu banyak. Kalau untuk mengganggu suatu proses reformasi dan organisasi politik, jadi kalau syarat keuangan yang seperti ini ingin menghambat hak-hak politik rakyat saya kira ini juga suatu hal yang sangat tidak demokratis.

Jadi syarat keuangan tidak boleh menjadi penghambat hak-hak politik rakyat. Saya ambil contoh, saya hari ini datang sebagai petisi 50 dulu saya berkampanye penuh juang untuk PDI.P itu hak pemilihan saya, hanya untuk dua tujuan, satu mengahancurkan Golkar juga untuk pemilihan saya dan memberikan pendidikan politik, dan dua-duanya tercapai, yang kursinya kita menang juga yang sekarang ditujukan pak Dacosta saya penuh juang untuk itu. Didaerah-daerah masyarakat itu tidak tepat dapat uang banyak dari DPD, saya sendiri berkampanye ke daerah 1 sen pun saya tidak dapat dari DPP.

Jadi syarat keuangan apa yang diberatkan kepada kontestan pemilu. Rakyat di daerah itu membayar sendiri kampanye partai politiknya, mereka mengumpulkan bahan makanan untuk itu. Jadi syarat apa yang kita mau, kita diperlukan untuk syarat keuangan, jadi begini mengajak rakyat ini sebagai catatan awal untuk dialog-dialog kita siang hari ini.

Dan satu hal yang penting tadi sudah dibacakan ada saudara-saudara kita dari TNI, dia bermain judi dengan politik atau pegawai negeri berjudi dengan politik waktu orde baru.Kalau saya tidak terpilih saya kembali lagi jadi partai politik saya, ini apa maksudnya. Jadi kalau mau terjun ke partai politik secara permanen berhenti dari profesl, Itu baru gentlement, itu baru satria secara politik, itu kan main-main secara politik seperti ini, sebagai catatan awal.

(10)

PETISI 50 ( H. SUTO ) : Terima kasih.

Sebetulnya apa yang mqm disampaikan uu barangkali frekwensi penyampaiannya kepada lembaga apakah itu DPR dan sejenis itu mungkin sudah ke sekian kalinya. Bahwa sekarang era reformasi sebetulnya bukan hasil perjuangan DPR atau MPR. Kemudian yang kedua sejarah mencatat bahwa itu adalah pengorbanan mahasiswa. Pertanyaannya adalah pemain-pemain utama yang berada di lembaga yang menghianati bangsa itu sekarang justru dominan.

Jadi apakah ini babak ke 2,3,4 sandiwara yang lalu atau ada keseriusan mengembalikan bangsa ini. oleh karena itu hanya orang gila dan orang munafik yang tau dan merasa tidak tau bahwa golkar adalah pemain utama daripada rezim yang menghianati bangsa pada waktu yang lalu yaitu orde baru. Sehingga kalau golkar masih diperlakukan seperti tidak berdosa kepada bangsa ini saya kira memang kita sama-sama bersandiwara dan berkianat kepada bangsa. Itu tambahan seperti tadi yang sudah dibacakan.

Terima kasih.

PETISI 50 (BAGUS) :

Saya Cuma menambahi saja .

Sekitar tiga bulan yang lalu saya kesini bersama teman-teman mahasiswa menyebarkan questioner, Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia cabang Jakarta. Cuma minta tolong isi di komisi II ada 200 lebih questioner tentang asset Golkar. Cuma satu pak Tamin yang isi saya ingat itu yang lain manggut-manggut saha. Tidak apa-apa. Mau dibuang ke keranjang sampan silakan tidak masalah itu nomor lima puluh. Tapi ini dampaknya tidak main-main, hubungan lembaga kenegaraan dengan masyarakat makin jauh dan manipulasi seperti itu jangan dianggap main-main. Kalau tiga bulan yang lalu diisi dengan baik saya pikir kejadian ini untuk menyusun Undang-undang pemilu dan lain-lain bisa atau paling tidak ada proses yang simultan, inikan nggak mesti bersusah payah lagi.

Hari ini Bank Indonesia dipimpin oleh terpidana, ketua DPR kita terdakwa, calon gubernur dan TNI itu kasus 27 Juli tersangka, bagaimana rakyat mau dipimpin oleh orang-orang kayak gitu, jadi proses demokrasi main-main.

Jadi itu saja dari saya terima kasih.

PETISI 50 (SAMSUlIEllA) : Ya sekedar tambahan saja.

Saya perkenalkan diri Samsul Lelia salah satu Ketua Majelis Sentral Gerakan Marhein. Dari RUU tentang parpol kami tidak melihat ada kesempatan tumbuhnya partai loka\. Ini mencerminkan politik sentralisasi masih berlaku. Ketika melahirkan Undang-undang apakah itu Undang-undang Otonomi Daerah telah terjadi disentralisasi pemerintahan atau sidang tahunan kemarin ada yang tidak sependapat bi-cameral. Barangkali perlu dipertimbangkan adanya partai local yang menutup kemungkinan sentralisasi politik yang tidak dinamis.

Pentingnya partai local ini agar agar di daerah bisa lebih dinamis memperjuangkan kepentingan-kepentingannya. Dengan adanya partai local aspirasi rakyat dibawah itu bisa terakulasi secara dinamis dan tidak perlu menempuh gerakan bersenjata memperjuangkan politiknya.

Yang kedua, menyangkut calon presiden dan wakil presiden terkesan hanya partai politik saja yang bisa mengajukan calon presiden dan wakil presiden. Karena tidak semua rakyat Indonesia aktif di partai politik, alangkah idealnya kalau diberi

(11)

kesempatan diluar partai politik seperti LSM, organisasi masyarakat non partai juga mengajukan calon presiden dan wakil presiden tentu dengan persyaratan yang rasional.

Saya kurang sependapat seorang presiden harus memiliki persyaratan pendidikan tertentu. Silakan saja partai politik dan non partai politik mencalonkan siapa saja putra bangsa terbaik untuk dijadikan presiden atau wakil presiden. Tidak ada jaminan bahwa dengan pendidikan tertentu otomatis dia komitmen kepada bangsa inL

Hanya itu tambahan dari kami terima kasih. PETISI 50 (YUDUL HERI) :

Mungkin sementara kami cukup barangkali kita bisa dialog. KETUA RAPAT ( A. TERAS NARANG ) :

Baik bapak libu sekalian.

Masukan-masukan tadi kepada kami khusus RUU tentang pemilu mencatat disini ada delapan butir yang merupakan masukan dari secretariat bersama Pokja . Petisi 50, kemudian KWOB, dan HMI. Sebagaimana tadi yang saya sampaikan, bahwa panitia khusus Rancangan Undang-undang tentang Pemilu sangat mengharapkan masukan tentunya dengan mengacu dengan adanya rancangan Undang-undang yang disampaikan oleh pemerintah. Karena itulah yang menjadi bahan pansus ini untuk melakukan proses pembahasan sesuai dengan proses mekanisme bersama-sama dengan pemerintah. Masukan-masukan ke OPR baik secara langsung maupun kami catat dengan pandangan yang melalui media masa itu adalah salah satu bahan yang sangat penting bagi Anggota pansus RUU ini guna menjadi bahan pembahasan.

Nah untuk itu ada delapan butir yang disampaikan kepada kami dan kemudian ada 7 butir yang terkait dengan RUU Partai Politik. Nanti kami akan salurkan dan diserahkan kepada teman-teman yang dipercayakan untuk membahas RUU tentang Partai Politik. Baik kita masih ada waktu untuk teman-teman lebih kurang 30 menit untuk memperdalam masukan yang disampaikan kepada kita.

Karni persilahkan Pak Jahar Harahap. ANGGOTA F.PDIP (JAHAR HARAHAP):

Terima kasih Pimpinan dan Bapaklibu, dari pokja Petisi 50, Marhein dan sebagainya yang memberikan masukan kepada pansus.

Kalau saya mencermati butir-butir yang disampaikan maka saya jika kembali kebelakang memang apa yang disampaikan banyak mengandung kebenaran. Tetapi persoalannya adalah reformasi yang dilakukan 98 itu hanya berhenti ketika Soeharto mengundurkan diri tidak berkelanjutan. Kita misalkan Irak. ketika terjadi revolusi sernuasatu generasi dihabisi pak. Seluruh jenderal-jenderal dihabisi, partai-partai politik dihabisi, tapi ketika reformasi 98 berhenti ketika Soeharto mundur tidak dilanjutkan dengan kroni-kroni Soeharto. Maka munculah Undang-undang nomor 3 tahun 1999 yang juga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan orde baru, itu kalau kita kembali kebelakang.

Kemudian kita Iihat juga di Rusia ketika melaksanakan prestorika dan glassnot akibatnya Rusia terpecah belah. Ini pengalaman-pengalaman sejarah yang bisa kita liha. Ketika Soehartio mengundurkan diri tidak berlanjut, apakah ini kesalahan sejarah atau masa dalam berproses.

(12)

Undang-undang Nomor 3 sudah menjelaskan bahwa partai politik yang mencapai 2 persen itu otomatis tidak bisa ikut pernilu berikutnya. Tapi pada waktu itu tidak ada satu partai politik yang 48 itu yang menkomplain rnenqapa 2 persen. Kenapa setelah pemilihan umum setelah diketahui hasilnya. Itupun masih diam tapi setelah kita mau memasuki pemilahan 2004 baru muncul lagi suara-suara yang mengatakan POIP, GOLKAR bagaimana tidak mungkin sudah puluhan tahun ikut dalam system pemilu sementara kami baru berdiri tiga bulan lalu kemudian electoral trashwhole 2 persen. Tapi ketika itu tidak ada partai politik yang mempersoalkan electoral trashwhole 2 persen, itu maksud saya konsistensi kita terhadap peran yang kita buat pada waktu itu yang terbaik atau pemilu 99 yang paling demokratis dari pernllu-pemilu sebelurnnya.

Saya sependapat pak. Saya juga termasuk POI Perjuangan yang dikuntit terus oleh tentara ketika ada perbedaan pengurus dengan Megawati karena saya bertahan dengan hati nurani saya. Saya terus diteror melalui telepon. Jadi saya kira kita sama-sama.

Tapi ketika kita melengserkan Soeharto kenapa tidak diteruskan pada waktu itu. Jadi apa ini kesalahan sejarah. Jadi maksud saya masukan-masukan seperti ini banyak manfaatnya bagi pansus tapi supaya juga kita akan rnelihat secara jernih kondisi yang sedang berjalan pada bangsa ini ketika reformasi sedang berjalan pak

ini.

Kemudian yang kedua masalah partai-partai yang akan ikut pemilihan umum kan seperti yang disampaikan Oepdagri itu memang rada ketat harus ada uang jaminan, kepengurusan, dua pertiga di propinsi, dua pertiga di kabupaten.

Kebetulan background saya dari TNI, juga sudah pernah mengusulkan pada pemilu pada waktu kita menyusun Undang-undang pemilu tahun 71 supaya dibuat electoral trashwhole 5 persen jadi bukan 2 persen. Jadi ada seleksi alamiah secara demokratis. Kalau Memang partai itu jelas-jelas tidak mendapat dukungan dari rakyat ya sudahlah jangan bikin partai maksud saya jangan ngoyo-ngoyo ikut pemilu. Maaf pak ya ini sudah konsep TNI pada saat itu supaya tidak ada penyederhanaan yang dipaksakan.

Pemilihan pada tahun 1973 kemudian muncul POI, Golkar, PPP itukan ada proses yang saya anggap proses pemaksaan bukan proses melalui hasil pemilihan umum. Itulah yang direkayasa orde baru sehingga selama 32 tahun sebenarnya tidak ada partai politik, tidak ada OPR. Yang ada hanya suara-suara koor tapi ini semua bagian dari sejarah kita. Mengapa pada waktu itu kita mau pemilihan partai yang dipaksakan tidak melalui pemilihan umum.

Inikan yang kita lakukan pada pemilihan 1999 electoral 2 persen itu sebenarnya sudah demokatis, ada partai yang baru, yang lama ikut ini itulah demokrasi pak. Kemudian masalah partai local pak. Tidak usah lokal lagi gerakan separatis sudah muncul dimana-mana pak,bangsa kita bisa jadi 30 negara. Sedangkan partai secara vertical juga nasional itu pikiran separatis masih bermunculan seperti di Aceh dan lainnya, apalagi kalau ada partai local saya kira nanti merdeka yang dia minta. Ini pemahaman saya kalau partai local kita biarkan berdiri, jadi pikiran seperti kedaerahan akan muncul, saya kira ini pak masukan dari Bapak-bapak saya ucapkan terima kasih.

(13)

KETUA RAPAT :

Jadi saya rasa tidak adan pertanyaan. PETISI 50 (YUDI) :

Saya mengkoreksi sedikit pak.

Yang mengatakan kami tidak melakukan apa-apa, mengingat bahwa peristiwa semanggi I, semanggi II kita be~uang habis-habisan tetapi Memang orde baru kuat sekali pak. Pada saat itu yang menggodok undang-undang pemilu adalah orde baru bukan kaum reformis dan kita tidak bisa berbuat apa-apa korban cukup banyak pak. Kalau kita tidak melakukan apa-apa itu salah besar pak dan bahkan sidang tahunan kemarin kita melihat sandiwara besar yang dilakukan orde baru. Oimana ketua-ketua komisi dipimpin orde baru termasuk POI juga. Jadi kalau kita tidak berbuat apa-apa itu salah pak dan sampai sekarang kita tetap berjuang dan konsisten anti orde baru dan Golkar.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Baik kembali saya katakan ini sebagai bahan masukan, karena waktu yang dialokasikan pansus ini sangat terbatas, jadi kita diberikan batasan waktu sampai Oktober. Oengan satu harapan sampai bulan Nopember ini kita bisa memberikan banyak waktu kepada teman kita di KPU. Oengan adanya perubahan terhadap undang-undang Oasar 1945 dimana yang dipilih nanti adalah OPR, OPO, berarti kita harus banyak memberikan sosialisasi kepada rakyat yang didaerah tertutama. Karena kita betuI-betuI menyadari mereka adalah saudara kita dan mereka juga harus kita sentuh karena pendidikan politik milik seluruh bangsa Indonesia. Nah karenanya segala masukan-masukan yang bersifat substansi terhadap rancangan Undang-undang pemlu kami sangat mengucapkan terima kasih karena lebih memperkaya kami bagi Anggota pansus RUU Pemilu. Mungkin ada hal lain lagi.

PETISI50 (KRIS SINAR) :

Saya ingin tanya apakah OPR hidup terikat secara kaku pada rancangan undang-undang dari pemerintah atau OPR bisa mendrop sama sekali, Kalau memang aspirasi masyarakat menghendaki yang berbeda dari rancangan undang-undang yang dari pemerintah, seolah-olah OPR sama dengan orde baru juga hanya titik koma yang dirobah atau secara substansi tidak bisa merubah rancangan undang-undang peemerintah.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Betul pak, jadi kita bisa merubah dan kemudian seperti yang Bapak bilang tadi sepanjang adan pemikiran merubah total akan merubah total.

Silakan pak Tamim.

ANGGOTA F.REFORMASI (H. MUTAMINUL ULA, SH): Terima kasih Pimpinan dan Bapak-bapak.

Saya ingin memberikan pemikiran saja. Memang OPR sekarang ini secara normative seperti lembaga yang legislate yaitu membongkar, merubah dan peluang OPR untuk menciptakan suatu system berkaitan dengan pemilu ini system pemilu yang ideal, adiJ, jujur dan transparan. Saya kira merupakan kewajiban kita secara substantif maupun secara proses. Tetapi harus kita sadari pemilu ini satu proses saja jadi ada tiga komponen, partai politik, system pemilu dan produk.

(14)

Jadi kalau partai-partai ini kan inputnya makanan yang kita makan peneernaaannya system pemilu. Kalau peneernaan insya allah sempurna karena produk Tuhan dan outputnya ada sari-sari makanan yang kebuang. Jadi Memang sebenarnya kalau proses pemilu ada dua pihak yang pertama adalah pelakunya yang dimakan dan jadi yang dipilih kemudian yang memilih itu rakyat sendiri. Sebenarnya kalau rakyat atau pemilih itu mau memahami kedaulatannya secara full dan pendidikan politik merata secara mendalam saya kira untuk memotong masa lampau itu bukan perkerjaan yang mudah.

Sebenarnya kalau rakyat atau pemilih itu memahami kedaulatanyang secara betul, dan pendidikan politik merata, mendalam, saya kira untuk memotong masa lampau itu bukan pekerjaan yang sulit, justru itulah persoalan yang kita hadapi bersama. Saya kira bagaimana cita-eita memotong masa lampau saya tidak menyebut partai karena soal masa Jampau itu kan karakter yang dimiliki oleh banyak kelompok, cuma kadarnya saja yang berbeda tapi tidak identik pada satu kelompok partai

Jadi bagaimana seperti yang dikatakan Pak Teras Narang tadi, foot education, ini merupakan pekerjaan besar bersama-sama kita. Disamping DPR, bagaimana meneiptakan suatu sistem pemilu, disamping ada pansus, inputnya bersama kami. Jadi kalau sistem pemilunya bagus dan maksudnya bagus itu tetap ada plus minus, tetapi kalau karakter partai-partai tidak memberikan harapan yang pasti pada masa depan memang apa yang kita cita-citakan itu rasanya pesimis. Saya kira itu saja .

Terima kasih. KETUA RAPAT:. Silakan Pak Yudal.

PETISI 50 (YUDUL HARI) :

Jadi saya menyambut saudara Tamin ini kawan saya, memotong masa lampau jadi menurut kami orde baru tiga hal sistemnya, aktornya, perilaku dan budayanya. Sistemnya yaitu lokasi militer pada waktu itu, termasuk juga partai-partai yang dominannya adalah Golkar.

Jadi tidak perlu malulah saudara Tamim sebut saja masa lalu itu utamanya Golkar, mereka aktornya, mereka yang menduduki jabatan politik selama masa orde baru. Jelas tidak terlalu susah kita memang identifikasinya, lalu sistem dan perilakunya mungkin dia tidak termasuk dalam perilaku dan budaya, tidak masuk dalam aktor tapi dia mernpunyai perlaku sebagaimana pelaku orde baru perilaku KKN, penindasan HAM dan segala maeam.

Tadi Pak Teras mengatakan pembahasan ini mengacu ke draft Undang-undang yang dibawa oleh pemerintah. Untuk itulah kami menyebut disini tambahkan saja di pasal 14, persyaratan peserta pemilu, yaitu dilawan oleh Golkar, ini tidak simpel sebetulnya? Namun demikian saya tidak tahu apakah ada anggota pansus mau mengajukan ini sebab saya pikir tidak berani maju. Ini banyak yang sudah menyangkut suatu hal begitu. Pada waktu pansus Pak Firman galak, tapi abstain, malah saudara-saudara Pak Tarnim rnalah tidak berani masuk, kawan saya juga abstain masih bagusan dikitlah daripada tidak. Untuk Pak Harahap begini pak, kenapa kita stop sarna Soeharto. Beda pada waktu Soekarno ke Soeharto, pada waktu Marcos ke Corry Aquino itu antitesa betul ke off antara lama dan baru.

Jadi pada waktu itu betul-betul ada replascement dari rezim , nah pada waktu Soeharto ke Habibie falam replascement rezim ini muridnya. Pada saat itulah terjadi konsolidasi dari kekuatan-kekutan lama, pada saat itulah mulai lagi mengumpulkan uang dan segala maeam disana menurut saya. Saya punya informasi 40 miliar Bulog

(15)

itu kecil 400 uangnya sebetulnya, untuk pemilu itu dari Golkar. Bukan 40 kecil itu 40 sebetulnya, tapi itu agak terang benderang tapi itupun direkayasa di Pengadilan begitu, saudara Firman agak tanggung jawab kalau tadinya Akbar bebas tanggung jawab saudara Firman.

Kemudian mengenai elektrotresort memang Undang-undang dibuat oleh lama, tapi saya pikir kita perlu bijak jalan tengahlah. Kalau hanya dipaksakan soalnya 42 akan terdiskualifikasi, tapi kita juga berkeinginan partainya sederhana, partai Islam 16 barangkali, itu umat juga pusing mau pilih yang mana. Saya kira perlu ada jalan tengah yang saya katakan semacam aliansi, atau federasi.

Kalau dipaksakan betul 2%, partai-partai yang kecil juga bisa menuntut ,itulah produk-produk keuangan partai besar tidak benar semua. Saya punya data Golkar katanya untuk pemilu cuma habis 13 rniliar. Mana mungkin? Sedangkan menurut Teten Masduki biaya iklan TV dan segala macam dari biro iklan punya data 7 miliar. Jadi 6 miliar hanya utuk helikopter saja untuk seluruh Indonesia rasanya tidak mungkin. Ini kalau diteliti lebih lanjut banyak juga partai-partai yang kena,.kemudian

buatlah jalan tengah aliansi.

Jadi misalkan partai Keadilan dengan 7 dia nambah 3 suara lagi bisa muncul dalam satu aliansi, atau juga partai-partai kecil yang lain, atau barangkali jumlah pemilihnya 2 % sekitar 2 juta sekianlah barangkali, mungkin paling-paling dari 3, 42 partai mungkin cuma 2,3 lah yang muncul sebagai aliansi. Saya kira paling-paling nanti partainya cuma tinggal 10 apa 12. Disini perlu kebijakan dari partai besar, kerelaan mereka juga untuk memungkinkan partai-partai yang lebih kecil mungkin dalam bentuk aliansi. Jadi mereka punya bendera satu, punya calon bersama tapi partainya secara individu tetap ada. Biarkanlah fungsi itu berjalan secara alamiah nanti, kami mohon kiranya dipikirkan oleh anggota pansus. Oemikian Pak Teras.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, masih ada yang ingin menyampaikan pandangan-pandangannya. Silakan Pak Pataniari.

ANGGOTA F.PDIP (PATANIARI SIAHAAN):

Terima kasih pimpinan.

Rekan-rekan dari KWUB , HBMBU, GRM dan Petisi 50, semangat yang teman sampaikan akan menyerapi semangat teman-teman yang masih ada didalam OPR. Mengenai masalah pemilu ada beberapa hal yang ingin kami klarifikasi, yaitu masalah point 4 terutama, masalah sistem pemilu dalam rangka untuk menggalang persatuan dan kesatuan, disini memang ada beberpa hal pak.

Jadi memang ada masalah pilihan-pilihan yaitu ada sistem distrik ada namanya representatif proporsional. Kebetulan disini memang kita mencoba melalui hasil amandemen kemarin mencoba bahwa syarat kedepan nanti ini semua kerangka politik kitalah mengacu kepada paradiqrna baru dalam rangka amandemen tersebut. Persoalan-persoalan masalah pemilu memang ada masalah-masalah antara pilihan distrik dan proporsional. Kita sendiri memahami bahwa pasal 27 mengatakan kalau setiap orang punya hak yang sama, seyogyanya setiap orang apapun sama seperti orang Jawa.

Saat menggunakan heavy distrik pada tahun 1999, nilai satu orang di Jawa mungkin 3 orang di Papua, yang tahun 1999 heavynya distrik, karena setiap Dati II harus ada wakil. Sekarang persoalan yang kita sadari akan muncul 400 Dati II baru se Indonesia, dan itu dijawab paling tinggi 100, sedangkan kita bicara wakil rakyat,

(16)

memang kita ada masalah, masalah kesenjangan demokrasi dan masalah ketimpangan wilayah ini persolannya, konsentrasi penduduk di Jawa yang mungkin tidak sampai sepersepuluh bangsa Indonesia, itu mungkin 60%.

Sementara luas wilayah, kekayaan alan menjadi tidak seimbang, dan kerangka kita tentu harus punya pilihan. Apakah kita memilih rakyatnya sebagai patokan ataukah wilayah. Dalam kerangka ini mungkin kita melihatnya harus satu kesatuan yaitu bahwa masalah wilayah akan diwakili oleh DPD, aspirasi wilayah. Inipun disebagian teman-teman dianggap tidak adil, kenapa yang wilayah yang propinsi Gorontalo hanya dapat seorang, misalnya nanti 800.000 orang, kalau nanti wakilnya 4, sama yang Jawa Timur yang 31 juta memang kalau kita persoalkan perbedaan tidak akan selesai.

Jadi komposisi MPR nanti, sekalian kami kualifikasi, tidak ada bikameral disini. Pakar-pakar mengatakan bikameral tidak ada, yang berubah ialah komposisi keanggotaan IVIPR, dulunya itu anggota DPR, ditambah anggota utusan daerah dan golongan yang diatur dalam Undang-undang. Undang-undang menggunakan dasar yang lama pak Yudal tahu persis pasalnya langsung mengatakan bahwa presiden menguasai Undang-undang maupun yudikatif, itu persoalannya. Dengan demikian susduknya yang mengatur adalah pemerintah sendiri. Sekarang kita yang membuat keseimbangan penduduk dan wialyah, makanya bagaimanapun DPR kalau bicara penduduk pasti lebih banyak dari pulau Jawa, itulah yang ditanya.

Tapi apakah betul pasti orang Jawa semua

?

Itupun masih pertanyaan belum tentu, belum tentu yang orang Jawa wakilnya orang Jawa belum tentu juga. Kemudian yang kedua, bagaimana keseimbangan tersebut sebenarnya kita imbangi dengan DPDnya, DPR dengan proporsional. Ini sebetulnya paket pengertian kita mengenai distrik dan proporsional. Yang kedua tadi teman-teman menyampaikan bagaimana prestasi kelompok-kelompok lama orde baru, kalau bicara sekarang distrik berlangsung pemerintah, saya pikir itu yang populer sudah lama berkumandang berkibar, dikenal punya kemampuan pintar, punya hubungan dengan media massa, tentu akan sedikit kewalahan.

Saya pikir teman-teman sepakat bahwa demokrasi itu paling menguntungkan buat orang-orang kecil. Mereka tidak punya kekuatan dana, kekuatan mereka hanyalah kalau mereka bergabung dengan partai politik, dimana aspirasinya tertampung. Kalau kita adu orang perorang otomatis yang menang yang punya uang. Disinilah kita coba mengkombinasikan antara DPR dengan DPD.

Dengan demikian yang dimaksud dengan MPR itu bukan bikameral tapi MPR yang keanggotaannya semua dipilih, ini persoalannya. Memang sampai sekarang masih penuh kerancuan, soalnya kita bikameral menurut kami tidak, jadi yang dikatakan MPR adalah anggota DPR dan anggota DPD. Jadi tidak ada kata-kata joint sesion. Ini mungkin perlu kita klarifikasi bersama, karena terus terang kemarin L1PI juga kami lihat teman-teman juga tidak menggunakan tafsir yang tertulis, tapi menurut teori yang dipelajari luar negeri, ini gambaran saja.

Dengan demikian pengertian proportasi ini adalah kita mengutamakan penduduk, ketimpangan wilayah kita imbangi dengan persoalan di DPD, ini kira-kira adalah sebuah gambaran buat teman-teman. Kemudian masalah pengawasan, kami juga mengharapkan mungkin teman-teman bisa masukan berbagai rumusan-rumusan, bagaimana supaya kontrol terhadap pelaksanaan pemilu, terhadap penyalahgunaan keuangan bisa dimasukan rumusan-rumusannya, agar lebih melengkapi agar pemilu seperti diharapkan.

Sekian terima kasih, sehingga pres acountabilitas itu memang betul-betul kita harapkan, jadi semangat teman-teman saya pikir juga jadi kita masih adalah semangatnya bagaimanapun lama nggak ketemu tetap masih teman jugalah.

(17)

Terima kasih.

PETISI 50 (YUDUL HERY) :

Silakan-silakan, ini kawan lama ini Pak Pataniari, cuma saya kecewa juga abstain waktu pemilih kebobolan suara. Begini Pak Pata, saya itu tanggapin justru dengan distrik ya, di perhitungan jumlah penduduk, dengan sistem proporsional yang lalu, saya ingin mengatakan, PKB itu paling dirugikan. PKB itu suara popular foot lebih besar dari P3, tetapi kursinya lebih kecil dari P3, ya kan pak ?, kalau nggak salah, dengan sistem yang lama dia dirugikan. Dengan adanya DPO, dua kali rugi, daerah Gorontalo sarna Jawa Timur, 4 dan 4. Dengan distrik justru nanti bisa saja 3 kabupaten menjadi 1 distrik ya kan

?,

Sabang yang 23.000 tidak mungkin dia punya 1 calon, untuk bergabungan dengan beberapa kabupaten yang lain.

Justru dengan distrik diperhitungan jumlah penduduk. Imbangannya nanti adalah dengan adanya DPD, distrik betul-betul memperhitungkan penduduk, yang memperhitungkan wilayah. Yang saya agak prihatin kenapa dari POI Perjuangan agak menentang, padahal justru presiden dipilih secara langsung. Nanti presiden menjadi terlalu kuat, dihadapkan kepada DPR, kalau OPR mau interplasi segala rnacarn, apa kalian saya dipilih 50 % lebih, kalian sebenarnya siapa ? Partai, penduduk konsestan kalian tidak kenai, Meilono pernah cerita sarna saya dia tidak pernah kampanye, dia dimajuin disana dan kepilih. Itu bukti kesaktian sistem proporsional.

Jadi masyarakat tidak mengenal. Ini berarti saudara Pata keliru kalau anda katakan dengan sistem distrik itu mengabaikan masalah jumlah. Justru diperhitungkan masalah jumlah, cuma salahnya nanti barangkali, membagai-bagi distrik itu yang timbul masalah. Ini saya kira orang-orang yang ahli hukum yang mungkin jadi masalah, apakah sanggup dalam waktu 2 tahun, saya tidak tahu. Tetapi itu alasannya adalah teknis, tapi menurut saya justru itu lebih adil, distrik dan DPD, imbang antara pusat dan daerah, tapi bagi saya justru lebih adil distrik dan DPO imbang antara rakyat dan wilayah. Demikian Pak.

KETUA RAPAT :

Terima kasih.

Oh silakan Pak Kris.

PETISI 50 (KRIS SINAR) :

Tadi saudara Pataniary mengatakan pernilu yang lalu itu heavy distrik, saya kira tidak. Distrik yang dianggap wilayah pemilihannya adalah daerah tingkat I, tetapi tetap rakyat memilih tanda gambar , tidak membeli orang. Sistem distrik mengandaikan yang dipilih oleh rakyat itu orang, jadi tidak benar itu heavy distrik pemilu yang lalu.

Yang kedua itu saya pikir memang semua kita sepakat pemilu yang 99 itu pemilu yang tergopoh-gopoh, ditinjau dari kaca mata reformasi. Sebab kalau mau betul-betul menyiapkan konsolidasi kekuatan reformasi untuk ikut dalam pemilu itu, saya kira paling cepat 3 tahun, baru pemilu. Jadi Pemilu 1999 betul- betul tergopoh-gopoh dan hal itu menguntungkan kekuatan lama orde baru.

Yang ketiga saya pikir semangat yang ada pada kami sarna. Yaitu bahwa kita juga melihat suatu sistem politik dengan 48 partai politik ikut pemilu itu kan juga aneh. Itu memang demokrasi hanya pelembagaan dari kebebasan. Kalau tidak dilembagakan dengan distrlJkturkan kebebasan memang kita akan mempunyai partai yang begitu banyak. Karena itu memang saya pikir untuk Indonesia dengan

(18)

memperhatikan background aliran. Saya kira politik aliran orde baru mau membenam politik aliran, tapi saya kira struktur masyarakat yang begitu sulit akan muncul kembali, dan demokrasi harus menghormati partai politik dan dasar politik aHran.

Saya memberikan suatu i1ustrasi. Seminar Angkatan Darat ke II tahun 66 di Bandung, saya kira kita semua harus akui sejarah itu menunjukan desain. Desain politik orde baru angkatan darat, bukan kekuatan sipil dan kita harus akui. Itu waktu di seminar angkatan darat, diproyeksikan jumlah parpol di Indonesia yang reasonnable adalah 5 partai politik, dengan suatu perhitungan 2 partai politik merepresentasi kekuatan politik Islam, satu yang tradisional, satu yang modernis, satu merepresentasi kekuatan politik nasional, satu merepresentasi kekuatan politiknya kristen Katholik dan satu merepresentasi kekuatan politik bam yang mungkin Golkar atau apa. Tetapi menurut saya sebenarnya jalan pikiran itu cukup sehat kalau dilakukan secara demokratis dengan jalan elektrolat trosoltan.

Jadi disamping yang 5 % yang diajukan tadi saya kira memang cukup bagus, pada akhirnya harus 5

%,

kalau kita mau membatasi jumlah partai tidak bisa lain. Hanya begini yang tadi dikatakan Yudal, kita harus realistis bahwa ketika pemilu tergopoh-gopoh, kawan-kawan yang juga ikut menyumbang banyak pada perjuangan reformasi tidak perlu ada waktu untuk menyusun kekuatan menjelang pemilu 99. Karena itu untuk kali ini barangkali kita sendiri, ini saya sendiri pribadi , PDIP partai besar tetapi kawan-kawan yang partai kecil, seperti bintang misalnya, atau yang dikatakan oleh Soeharto, 3 tahun itu kan harus diberi kesempatan untuk usul aliansi, barangkali hal seperti itu perlu dipertimbangkan.

Yang berikut untuk saudara Jafar Harahap. Saya pikir tidak benar bahwa selama 30 tahun orba baru, kita semua larut dalam kayak kerbau dicucuk hidung. Saya kira tidak, ada orang yang tetap mempertahankan integritas selama 30 tahun. Saya tidak pernah ikut pemilu selama orde baru, karena saya berpikir saya merasa terhina ikut dalam suatu pemilu yang saya tahu itu rekayasa, penipuan dan cukup banyak.

Tapi kekuatan itu tidak cukup ampuh untuk melawan suatu kekuatan besar dibelakangnya dengan senjata segala macam. Itu tidak cukup ampuh saya kira, tapi dengan kemampuannya sebagai integrita juga mengkritik secara tajarn sistem politik orde baru. kawan-kawan, adik-adik mahasiswa berkorban banyak untuk itu, hanya memang itu tidak cukup utuk melawan tembok yang besar. Jadi saya pikir kita harus berpikir cukup jernih untuk melihat itu semua. Saya kira desk countinueitas dengan masa lampau itu adalah syarat penting untuk itu, dan saya kira inilah saatnya, dan kalau tidak makin lama makin ditunda itu rekonstruksi orde baru makin kuat.

Saya kira sekaranglah saatnya, jadi kalau kawan-kawan yang dulunya sempat di Golkar yang sekarang kemudian berpindah ke PDIP, ya tidak apa-apa. Namun demikian yang perlu adalah perubahan peradaban politik anda. Jadi anda harus membayar suatu dosa poUtik yang telah anda lakukan. Jadi rekonsiliasi itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada pengakuan iklas bahwa kita telah ikut bersalah dalam membuat bangsa ini terpuruk.

Gus Our itu bukan membuat kerusakan, hanya tidak mampu menghentikan kerusakan, mereka tidak mencicip duren, mereka tidak mampu menghentikan kerusakan karena kekutan yang mengelilingi dia itu luar biasa. Sehingga dia harus berkompromi bahkan sekarang dia dipenjara, oleh sistem dan peraturan politik orde baru itu sendiri.

Ini yang sebenarnya masalah yang kita hadapi, kalau tidak saya kira kita bermimpi mengenai ini semua. Jadi semua kekuatan yang ikut berdosa, itu sekarang petentang-petenteng, kalau kita Iihat tingkah laku politik mereka. Apakah itu peradilan, atau di DPR, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, selama 30 tahun. Padahal

(19)

terjadi hal-hal yang luar biasa untuk kepentingan bangsa ini, hampir habis selama 30 tahun, kok seolah-olah tidak terjadi apa-apa va, ini yang sebenarnya kita dipanggil untuk melerai itu semua.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Ya ini apalagi kalau tadi berbicara masalah sistem, pemilu. Kalau kita sudah Pak Yusdil, kalau kita bicara varian-variannya itu, tidak akan selesai seminggu. Apalagi kemudian Pak Kris. Kita kembali lagi ke saudara-saudara yang jauh di pedalaman. Kalau kita lagi melihat mereka dengan kondisi jauhnya jarak dari demokrasi dan kemampuan untuk ya bisa menyerap yang terkait dengan masalah footers education itu tadi, ya jadi panjang lagi diskusinya untuk masalah sistem pemilu. Memang dengan keterbatasan itu kita berupaya untuk mencari yang terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara kita ini. Ada catatan sedikit, saya pikir begini rakyat itu sangat tahu diri, yang tidak tahu diri itu adalah pemimpin, rakyat itu bisa tahu diri, kita bisa bayangkan pemilu 1955 dengan rakyat 60 % masih buta huruf, ternyata pemilihan umumnya begitu jujur dan demokratis. Jadi rakyat sebenarnya mengerti, rakyat itu tahu diri, rakyat itu sangat tahu berdemokrasi, pemimpin yang tidak tahu berdemokrasi.

KETUA RAPAT :

Ya itu kesimpulan kita pada siang hari ini Pak Kris. Silahkan Mas Safinudin.

PETISI 50 (SAFINUDIN) :

Komentar Pak Kris itu koma pak, ini mau menuju titik pak. Ada dua yang ingin saya sampaikan. Pertama bahkan justivikasinya diberikan Pak harahap terakhir tadi, kalau nggak salah nyatat saya, yang pertama mengenai masalah paradigma. Yang pertama mengenai kredibilitas, DPR, MPR, karena bapak-bapak ini sedang nikmat di dalam gedung-gedung ini, maka mungkin lupa bahwa ada dua indikator yang bisa disimpulkan oleh masyarakat di luar gedung ini.

Bahwa pertama selama orde baru dan orde lama yang sebelumnya kesimpulannya adalah seperti yang kata Pak Kris tadi, adalah penipuan dan penghianatan politik yang dilakukan oleh elit-elit di dalam gedung ini. Yang kedua indikator setelah Soeharto tersungkur, Soeharto belum meninggal pak hanya tersungkur. Pada saat itu mulai dari Sidang Istimewa, sampai Sidang tahunan yang dilakukandemikian oleh sidang-sidang yang dilakukan oleh DPR, rakyat berkesimpulan yang kalau bisanya dengan bahasa sopannya mengembalikan daftar tentang kekayaan dirinya saja sudah takut dan licik, menurut Ketua KPKP itu hanya sekitar 33 %, yang berani.

Jadi akhlak apa yang ada di anggota lembaga ini yang setiap bicara selalu disapa dengan sebutan yang terhormat, padahal de facto rakyat mencatat hanya untuk menceritakan hartanya berapa saja tidak berani. Saya pikir bukan untuk berani, ada istilah hibah, ada istilah macam-macam yang rakyat tahu betul kata Pak Kris. Rakyat ini bukan orang bodoh, terakhir yang kedua tolong bapak lihat proklamasi 17 Agustus 45, sampai detik ini, semua rezim yang bertahta di negeri ini turnbang, dengan tidak proses, yang tadi dibicarakan pakai pertimbangan ini, semuanya tumbang secara titik-titik, bisa secara hina, bisa secara nista, tapi tidak pernah turun dengan terhormat.

Oleh karena itu permohonan kami pada lembaga ini, dan makanya kami hadir di dalam pertemuan ini adalah tolong disadari bahwa rakyat tidak ingin lagi, ada rezim yang tumbang dengan nista, karena elit-elitnya seperti yang dikatakan Pak Kris

(20)

tidak tahu diri. Kerjanya hanya menghianati bangsa, sementara rakyat makin menderita. Pidato dari wakil ketua atau wakil pimpinan daripada Bank Dunia untuk wilayah Asia Timur, sixty percent of your people ada dibawah pafertylai dan ten and to twenty percent of them adalah absolut paferty.

Namun demikian apa yang kita Iihat di dalam basil sidang-sidang ini, seakan-akan rakyat yang 60 % itu berada di bawah garis kemiskinan bukan prioritas. Bahasa-bahasanya yang sebetulnya adalah bahasa-bahasa teknis yang selama ini dipakai oleh rezim orde baru. Inilah paradigma yang mudah-mudahan bisa jadi bahan renungan, karena tolong diingat pak, kita semua juga bisa menyaksikan bagaimana iklim di dalam gedung ini, dan bagaimana iklim yang ada di luar gedung ini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik terima kasih.

Bisa saya tutup Pak Yudal. Baik, terima kasih bapak-bapak dari sekretariat bersama pokja petisi 50 KWOB, IRM, HMI MBO. Apa yang disampaikan ini sudah terekam secara baik pak, dan ini kita akan traskrip, kemudian akan dibagikan kepada para anggota sebagai suatu bahan dalam rangka proses pembahasan . Sekali lag; terima kasih atas kehadirannya untuk memenuhi undangan dari kami pansus RUU tentang pemilu. Terima kasih Wabilah Waltaufikwalhidayah Wr.Wb. Jakarta, 29 September 2002 Ketua Rapat, A. TERAS NARANG, S.H.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di