UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN LARI BOLAK BALIK MEMINDAHKAN BENDA PADA ANAK KELAS 1A SD NEGERI JARAKAN.

154  190  Download (4)

Full text

(1)

i

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN LARI BOLAK BALIK MEMINDAHKAN

BENDA PADA ANAK KELAS 1A SD NEGERI JARAKAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Robinson Bara Inna NIM 11108249001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v MOTTO

“Nilai sebuah kesuksesan : dedikasi, kerja keras, serta pengabdian pada hal-hal

yang ingin kau capai”.

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini kupersembahkan untuk:

1. Bapak dan Ibuku Tercinta ( Markus Bara, S.Sos. dan Ruth) .

2. Almamaterku tercinta Universitas Negeri Yogyakarta.

(7)

vii

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN LARI BOLAK BALIK MEMINDAHKAN

BENDA PADA ANAK KELAS 1A SD NEGERI JARAKAN

Oleh

Robinson Bara Inna NIM 11108249001

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui permainan lari bolak balik memindahkan benda pada anak kelas 1A SD Negeri Jarakan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1A SD Negeri Jarakan yang berjumlah 26 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Metode yang digunakan dalam mengambil data yaitu observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif pada kemampuan motorik kasar.

Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah diterapkannya permainan lari bolak-balik memindahkan benda kemampuan motorik kasar siswa mengalami peningkatan pada kemampuan berlari, teknik gerak lengan dan teknik gerak. Permainan ini juga dapat menumbuhkan semangat dan antusiasme siswa dalam mengikuti permainan lari bolak-balik. Langkah-langkah dalam bermain permainan lari bolak balik memindahkan benda sehingga hasil yang diperoleh mengalami peningkatan yaitu: (1) guru memperagakan gerakan berlari dengan teknik gerak lengan dan gerak kaki membentuk 90 derajat (2) media yang digunakan menarik perhatian siswa, (3) guru memberi motivasi dengan melombakan siswa dengan temannya saat berlari. Hasil penelitian kemampuan motorik kasar terlihat pada nilai rata-rata KKM pada awalnya hanya sebesar 69% pada siklus I, meningkat pada akhir siklus II menjadi 92%. Peningkatan kemampuan motorik kasar melalui permainan lari bolak balik memindahkan benda dapat dilihat dari kondisi awal ke siklus I sebanyak 18 siswa dan dari siklus I ke siklus II sebanyak 24 siswa.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas limpahan

rahmat dan kuasa-Nya, sehingg peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi

yang berjudul “ Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Pada Anak

Melalui Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda Pada Kelas 1A SD

Negeri Jarakan”

Penyusunan skipsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan

dari semua pihak. Oleh karena itu , pada kesempatan ini peneliti mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Dekan FIP UNY Bapak Dr. Haryanto, M.Pd. yang telah memberikan ijin

penelitian demi terselesaikan tugas akhir ini.

2. Ketua Jurusan PSD FIP UNY Ibu Hidayati, M.Hum. yang telah memberikan

rekomendasi permohonan ijin penelitian.

3. Bapak Sudarmanto, M.Kes. selaku pembimbing yang telah memberikan

bimbingan, petunjuk, serta pengarahan selama penulisan skipsi ini.

4. Bapak Banu Setyo Adi, M.Pd. yang telah bersedia menjadi expertjudment

dalam penyusunan instrumen penelitian.

5. Bapak Suparman, S.Pd.Jas. selaku Kepala Sekolah SD Negeri Jarakan yang

telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian.

6. Bapak Sugeng Rahardja, S.Pd. selaku Guru olahraga kelas 1A SD Negeri

Jarakan yang telah banyak membantu mendampingi dalam pelaksanaan

(9)

ix

7. Bapak Suparlan, M.Pd.I. bersama keluarga, selaku kepala Asrama mahasiswa

FIP UNY kampus UPP II yang telah membimbing dan mendidik kami dengan

tulus.

8. Bapak Markus Bara, S.sos. dan mama Ruth yang telah melahirkan dan

membesarkan saya dengan penuh kasih sayang.

9. Elsa Monita yang selalu membantu dalam memberikan dukungan dan

mencurahkan bantuan tenaga.

10. Teman-teman PPGT UNY 2011 yang banyak memberikan saran, motivasi

serta inspirasi demi kelancaran studiku.

11. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah membantu

dalam pelaksanaan dan penyusunan Tugas Akhir Skripsi.

Peneliti sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari

semua pihak. Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi peneliti khususnya dan

pembaca pada umumnya.

Yogyakarta, 27 Juni 2015

(10)

x

2. Tujuan Pengembangan Motorik Kasar. ... 11

3. Fungsi Pengembangan Motorik Kasar... 12

4. Model Pembelajaran Pada Motorik Kasar ... 12

(11)

xi

1. Pengertian Permainan Lari Bolak Balik MemindahkanBenda ... 14

2. Manfaat dan Fungsi Bermain bagi Perkembangan Anak ... 16

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kegiatan Bermain Pada Anak ... 18

4. Karakteristik Permainan Anak ... 18

5. Pembelajaran Kemampuan Motorik Kasar dengan Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda ... 19

C.Anak Usia SD ... 20

1. Karakteristik Masa Usia Sekolah Dasar ... 20

2. Karakteristik Perkembangan Anak Usia SD ... 21

3. Karakteristik Model Pengembangan Fisik Anak Usia SD ... 23

D.Kerangka Pikir ... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi Hasil Penelitian ... 40

1. Lokasi dan Subjek Penelitian... 40

(12)

xii

3. Hasil Penelitian Tindakan ... 44

B.Pembahasan ... 74

C.Keterbatasan Penelitian ... 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 79

B.Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 81

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Kisi-kisi instrumen ... . 35

Tabel 2. Instrumen Observasi Kemampuan Berlari ... 35

Tabel 3. Instrumen Observasi Teknik Gerak Lengan ... 35

Tabel 4. Instrumen Observasi Teknik Gerak Kaki ... 36

Tabel 5. Rubrik Penilaian Kemampuan Lari ... 36

Tabel 6. Rubrik Penilaian Teknik Gerak Lengan ... 36

Tabel 7. Rubrik Penilaian Teknik Gerak Kaki ... 37

Tabel 8. Hasil Observasi Pra Tindakan dalam Persentase ... 41

Tabel 9 .. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada Pra tindakan ... 44

Tabel 10. Hasil Observasi Penelitian Siklus I dalam Persentase ... 56

Tabel 11. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada siklus I ... 79

Tabel 12. Hasil observasi Tindakan Siklus II dalam Persentase ... 72

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 1. Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda Wira Indra

Satya (2006:20) ... 16

Gambar 2. Kerangka Pikir dalam Penelitian Tindakan Kelas untuk

Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar ... 25

Gambar 3. Model Penelitian Tindakan Kelas dari Kemmis dan Mc.

Taggart Suharsimi Arikunto (2006: 93) ... 29

Gambar 4. Grafik Hasil Rekapitulasi Kemampuan Motorik Kasar

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Surat Validasi Instrumen Penelitian ... 84

Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian ... 86

Lampiran 3. Jadwal Penelitian ... 91

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 93

Lampiran 5. Hasil Penelitian ... 117

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong

perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan

penalaran, dan penghayatan nilai-nilai (yang berimplikasi pada sikap,

mental, emosional, spiritual, dan sosial), serta pembiasaan pola hidup

sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan

yang seimbang dan utuh sebagai manusia, baik secara jasmani maupun

rohani Heri Rahyubi (2014: 352). Motorik kasar merupakan gerakan tubuh

yang menggunakan otot-otot besar. Gerakan berlari adalah perkembangan

dari gerakan berjalan. Gerakan dasar anggota tubuh saat berlari

menyerupai gerakan berjalan. Perbedaanya terletak pada irama ayunan

langkah pada lari iramanya lebih cepat dan saat-saat kedua kaki tidak

menginjak tanah.

Komponen motorik merupakan kemampuan dasar gerak fisik atau

aktivitas fisik dari tubuh manusia Wira Indra Satya (2006: 16).

Kemampuan dan keterampilan motorik merupakan sisi penting kehidupan

karena dari sinilah manusia bisa mengekspresikan dan mengaktualisasikan

potensi, bakat, kelebihan, dan talentanya. Pembelajaran motorik yang

digelar di berbagai lembaga pendidikan merupakan bagian penting dari

upaya membentuk karakter, moralitas, dan sikap sosial yang menjadi saah

(17)

2

yang lebih baik dan semakin baik. Yaitu bangsa dan negara yang mampu

meraih dan mewujudkan kegemilangan dan kejayaanya.

Heri Rahyubi (2014: 222-223) Aktivitas motorik merupakan

pengendalian gerakan tubuh melalui aktivitas yang terkoordinir antara

susunan syaraf, otot, otak, dan urat syaraf tulang beakang (spiral cord).

Aktivitas motorik kasar adalah keterampilan gerak atau gerakan tubuh

yang memakai otot-otot besar sebagai dasar utama gerakanya.

Perkembangan motorik, khusunya pada anak usia 6-7 tahun, lebih

teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak mendukung

mereka untuk bergerak bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi

pilihan yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot. Jika

seorang anak melakukan aktivitas di dalam ruangan, maka pemaksimalan

ruangan bisa dijadikan strategi untuk menyediakan ruang gerak yang

bebas bagi anak untuk berlari, melompat, dan menggerakkan seluruh

tubuhnya dengan cara-cara yang tidak terbatas. Stimulasi-stimulasi

tersebut akan membantu pengoptimalan motorik kasar namun pada

perkembangan motorik kasar anak kelas 1A SD Negeri Jarakan yang

seharusnya sudah terampil kemampuan berlari, teknik gerak lengan, dan

teknik gerak kaki masih banyak anak yang belum mampu melakukannya.

Pada kegiatan berlari anak masih belum bisa melakukannya dengan benar.

Olahraga memberi manfaat bagi perkembangan motorik anak.

Selain untuk perkembangan fisiknya, olahraga juga amat baik untuk

(18)

3

kecerdasan sangat mempengaruhi perkembangan motorik kasar dan halus.

Untuk melakukan suatu aktivitas motorik, dibutuhkan ketersediaan energi

yang cukup banyak. Tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari

melibatkan suatu mekanisme yang mengeluarkan energi dan protein

biasanya selalu terlambat dalam perkembangan motoriknya.

Piaget (Slamet Suyanto, 2005: 124) anak terlahir dengan

kemampuan refleks, kemudian ia belajar menggabungkan dua atau lebih

gerak refleks, dan pada akhirnya ia mampu mengontrol gerakannya.

Melalui bermain anak belajar mengontrol gerakannya menjadi

terkoordinasi.

Rebecca Isbel (Wira Indra Satya, 2006: 40) Bermain merupakan

pekerjaan anak-anak dan anak-anak sangat gemar bermain. Dalam

bermain anak mengembangkan keterampilan memecahkan masalah

dengan mencoba berbagai cara dengan mengerjakan sesuatu dan memilih

dan menentukan cara yang paling tepat. Dalam bermain anak

mengembangkan mentalnya dan menumbuhkan kemampuanya untuk

memecahkan masalah dalam hidupnya (perkembangan sosial) dan

meningkatkan kebugaran komponen motoriknya Mary Mayesky (Wira

Indra Satya, 2006:40). Bermain adalah kegiatan yang terjadi secara ilmiah

pada anak, anak tidak perlu dipaksa untuk bermain.

Bermain berguna untuk membantu anak-anak memahami dan

mengungkapkan dunianya baik dalam tahap berpikir maupun perasaan

(19)

4

melalui bermain anak dapat meningkatkan kemampuanya dan

mengembangkan dirinya. Namun, tidak semua anak memiliki tempo yang

sama dalam bermain. Ada anak yang dengan cepat dapat mengerti apa

yang akan dilakukanya dengan alat permainan tertentu. Tetapi ada pula

anak yang lebih lambat Marzollo & Lloyd (Mayke Sugianto T., 1995: 85).

Setiap bentuk kegiatan bermain pada anak sekolah dasar pada dasarnya

merupakan sesuatu yang sangat berguna untuk mengembangkan

keterampilan fisik, motorik, bahasa, emosi, kognitif, sosial, dan

perkembangan kepribadianya. Upaya melalui bermain memberikan

kesempatan pada anak untuk bereksplorasi, berkreasi, dan menemukan hal

baru. Belajar menjadi lebih menyenangkan dan juga dapat

mengekspresikan perasaan anak. Anak sangat suka bermain karena

bermain merupakan kegiatan yang dilakukan anak setiap hari baik

dilakukan di rumah maupun di sekolah, dengan bermain akan membuat

anak senang dan memberikan kepuasaan tersendiri pada anak.

Kemampuan motorik kasar bisa dikembangkan, misalnya dengan

berbagai permainan yang kreatif dan menyenangkan dengan cara bermain

lari bolak balik memindahkan benda . Permainan yang dimainkan di

lingkungan luar ruangan sangat baik untuk perkembangan motorik kasar

anak usia SD. Perkembangan kemampuan motorik kasar dapat distimulasi

dengan berbagai permainan, salah satunya melalui permainan lari bolak

balik memindahkan benda. Dengan melakukan permainan lari bolak balik

(20)

5

kemampuan yaitu berlari. Kelebihan permainan lari bolak balik

memindahkan benda yaitu kreatif dan menyenangkan, permainan yang

dapat dilakukan dalam waktu singkat, dan menarik. Menyenangkan

karena kegiatannya bermain jadi anak tidak merasa bosan serta anak tidak

merasa terganggu saat diteliti dalam bermain, waktu yang dibutuhkan

dalam bermain 10 menit, serta menarik karena permainan lari bolak balik

memindahkan benda termasuk permainan yang jarang di mainkan di

sekolah SD Negeri Jarakan.

Berdasarkan hasil observasi yang ada di SD Negeri Jarakan

kemampuan motorik kasar anak masih rendah. Hal ini dapat dilihat saat

anak bermain kucing dan tikus anak kurang bisa berlari dalam mengubah

arah dengan cepat, sehingga banyak anak yang cepat tertangkap saat

melakukan permainan tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, alat

permainan luar kelas yang masih terbatas serta fasilitas sekolah yang

mendukung dalam pembelajaran yang digunakan untuk mengembangkan

motorik kasar anak masih sangat minim sehingga hasil pada proses

pembelajaran belum maksimal.

Selain itu guru juga dalam memberikan pembelajaran kegiatan

motorik kasar kurang bervariasi yang menjadi salah satu faktor yang

berdampak pada kurangnya kemampuan motorik kasar anak terlihat pada

saat observasi guru belum menggunakan media yang menarik . Salah satu

cara yang dapat dilakukan unuk meningkatkan kemampuan motorik kasar

(21)

6

Berdasarkan data hasi observasi di Sekolah Dasar Negeri Jarakan,

Sewon, Bantul, Yogyakarta. Maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian di sekolah dasar tersebut dengan judul “Upaya Meningkatkan

Kemampuan pada Motorik Kasar Melaui Permainan Lari Bolak-balik

Memindahkan Benda Pada Anak Kelas 1A SD Negeri Jarakan”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka

didapatkan identifikasikan permasalahan sebagai berikut.

1. Kemampuan motorik kasar anak kelas 1A SD Negeri Jarakan masih

rendah.

2. Penggunaan metode guru kurang bervariasi dalam memberikan

kegiatan pembelajaran motorik kasar.

3. Alat dan fasilitas untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar

masih terbatas.

C. Batasan Masalah

Dari berbagai identifikasi masalah di atas, permasalahan pada

penelitian ini hanya pada kemampuan motorik kasar pada anak kelas 1A

SD Negeri Jarakan.

D. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan, maka dapat

(22)

7

“Bagaimana meningkatkan kemampuan motorik kasar anak

melalui permainan lari bolak balik memindahkan benda pada anak kelas

1A SD Negeri Jarakan” ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

yaitu untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar melalui permainan

lari bolak balik memindahkan benda pada anak kelas 1A SD Negeri

Jarakan.

F. Manfaat Penelitian

Dari pembahasan ini penulis berharap laporan penelitian ini bermanfaat

bagi:

1. Guru

Membantu guru untuk dapat lebih terampil dalam memberikan

kegiatan pembelajaran motori kasar pada anak.

2. Siswa

Kemampuan motorik kasar anak dapat berkembang secara optimal.

3. Sekolah

Dengan penelitian ini diharapkan sebagai masukan maupun bahan

pertimbangan dalam proses pembelajaran supaya lebih memperhatikan

perkembangan motorik kasar anak dengan berbagai motode dan

(23)

8

BAB II KAJIAN TEORI

A. Motorik Kasar

1. Pengertian Motorik Kasar

Motorik adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan

gerakan-gerakan tubuh Zulkifli (2002: 31). Sumantri (2005: 271) Motorik

kasar merupakan keterampilan yang bercirikan gerak yang melibatkan

kelompok otot-otot besar sebagai dasar utama gerakanya. Gerak

merupakan pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan

manusia. Gerak tidak hanya terdapat pada denyutan-denyutan di seluruh

tubuh manusia yang memungkinkan manusia hidup, tetapi gerak juga

terdapat pada ekspresi dari semua pengalaman emosial manusia Kamtini

& Husni Wardi Tanjung (2005: 67). Anak pada umumnya mereka dapat

melakukan kegiatan-kegiatan pergerakan menirukan. Jika ditunjukan

kepada anak suatu action yang dapat diamati (observable), maka anak

akan mulai membuat tiruan terhadap action itu sampai pada tingkat

otot-ototnya dan dituntut oleh dorongankata hati untuk meniruhkannya.

Corbin (Sumantri, 2005: 48) mengemukakan bahwa perkembangan

motorik adalah perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa

yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak. Aspek

perilaku dan perkembangan motorik saling mempengaruhi.

Perkembangan motorik adalah perkembangan pengendalian

gerakan jasmani melalui kegiatan pusat syaraf, dan otot yang terkoordinasi

(24)

9

Perkembangan motorik meliputi perkembangan otot kasar dan otot

halus. Otot kasar atau otot besar ialah otot-otot badan yang tersusun oleh

otot lurik. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan dasar tubuh yang

terkoordinasi oleh otak, seperti berjalan, berlari, melompat, menendang,

melempar, memukul, mendorong dan menarik Slamet Suyanto (2005: 51).

Gerakan dasar ke dalam gerakan lokomotor ini termasuk gerakan-gerakan

seperti berjalan, berlari, melompat, mengguling, melayang, dan

sebagainya.

Zulkifli (2002: 32) mengemukakan ada gerakan yang merupakan

akibat dari kemauan, ada gerakan yang terjadi di luar kemauan dan

biasanya kurang disadari karena gerakan itu dilakukan secara otomatis.

Gerakan-gerakan itu di bagi ke dalam tiga golongan meliputi: (a) Motorik

Statis, (b) Motorik Ketangkasan, (c) Motorik Penguasaan.

Sumantri (2005: 75) gerakan berlari merupakan perkembangan dari

gerakan berjalan. V. Gregory Payne & Larry D. Isaacs (2012: 358) berlari

dapat diartikan sebagai perpanjangan alami dari berjalan. Dengan kata

lain, berlari adalah suatu gerakan yang berpindah dari satu tempat ke

tempat lain. Pada anak usia 2 tahun pergelangan kaki membentuk sudut

sedikit, kurang dari 90 derajat dalam menyentuh tanah. Sedangkan, anak

usia 4 sampai 6 tahun anak mencapai 98 derajat pergelangan kaki dengan

jari-jari yang menunjuk ke arah tanah. Keterlibatan pinggul, lutut, dan

pergelangan kaki memberikan efek yang menghasilkan dorongan yang

(25)

10

bertambahnya usia seperti peningkatan derajat dukungan lutut lepas tandas

antara anak berusia 2 tahun (33.67 derajat), anak berusia 4 tahun (19.25

derajat), dan anak-anak berusia 6 tahun (15.20 derajat).

Lengan juga mempunyai peran penting dalam memberikan

pengaruh untuk berjalan dan berlari dalam membantu keseimbangan. Siku

tertekuk di 90 derajat, dan tindakan pemompaan yang kuat pada lengan

membuat tubuh mendorong maju kedepan.

V. Gregory Payne & Larry D. Isaacs (2012: 363) hasil study

DiNucci, (1976) anak usia 6 tahun dapat berlari dengan jarak 10 meter,

dapat berlari dengan waktu 3,34 detik, serta kecepatan rata-rata 8.98 detik.

Sedangkan anak usia 7 tahun dapat berlari dengan jarak 10 meter, dapat

berlari dengan waktu 3.15 detik, serta kecepatan rata-rata 9.52 detik.

Heri Rahyubi (2014: 212) menjelaskan Unsur-unsur kemampuan

fisik antara lain.

1) Kekuatan adalah kemampuan seseorang untuk membangkitkan tegangan (tension) terhadap suatu tahanan (resisten).

2) Ketahanan atau daya tahan (endurance) adalah kemampuan tubuh menyublai oksigen yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas, khususnya aktivitas yang bersifat fisikal.

3) Kelincahan (agility) adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara cepat.

4) Fleksibilitas atau kelenturan adalah kualitas yang memungkinkan suatu segmen bergerak semaksimal mungkin menurut kemaungkinan rentang geraknya (range of movement).

5) Ketajaman indera yang sangat membantu keterampilan gerak, terutama berkaitan dengan fungsi penglihatan dan pendengaran.

Bouchard,dkk (Wira Indra Satya, 2006: 39) membagi dalam 4 faktor utama antara lain.

(26)

11

b) Keseimbangan (balance) adalah hal yang berhubungan dengan kemampuan neuromuscular system untuk mempertahankan suatu posisi atau sikap tubuh yang effisien ketika tubuh dalam keadaan diam (static) atatu sedang bergerak (dynamic).

c) Koordinasi(coordination) adalah suatu kemampuan motorik yang sangat kompleks dan erat hubunganya dengan teknik, taktik, kecepatan, kekuatan, daya tahan, fleksibilitas.

d) Kecepatan gerak (speed movement) adalah kemampuan bagian atau anggota-anggota gerak tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan sejenis secara berturut-turut dan berkesinambungan dalam waktu sisingkat-singkatnya.

Dari teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengan

memadukan gerakan-gerakan terpisah pada beberapa bagian tubuh dapat

mencapai tujuan, termasuk tujuan membentuk pola dalam pembelajaran

gerak.

Berdasarkan unsur-unsur motorik kasar diatas, maka penelitian ini

akan dibahas tentang kemampuan berlari, teknik gerak lengan, dan teknik

gerak kaki dikarenakan kemampuan motorik kasar khususnya berlari pada

anak kelas 1A SD Negeri Jarakan masih rendah. Kemampuan berlari anak

pada pengamatan di sekolah, juga dapat dilihat dari sikap percaya diri

yang ada pada tujuan pengembangan motorik kasar.

2. Tujuan Pengembangan Motorik Kasar

Pada dasarnya tujuan dari pengembangan motorik kasar pada anak,

yaitu: (a) mampu meningkatkan keterampilan gerak; (b) mampu

memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani; (c) mampu

menanamkan sikap percaya diri; (d) mampu bekerjasama; (e) mampu

(27)

12

3. Fungsi Pengembangan Motorik Kasar

Pengembangan motorik kasar sangat mempengaruhi perkembangan

anak usia sekolah menuju kedewasaanya. Sumantri (2005: 10)

menyampaikan beberapa fungsi pengembangan motorik kasar yaitu:

a) Sebagai alat pemacu pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani, dan kesehatan anak.

b) Sebagai alat untuk membantuk, membangun dan memperkuat tubuh anak.

c) Sebagai alat melatih keterampilan dan ketangkasan gerak juga daya pikir anak.

d) Sebagai alat untuk meningkatkan perkembangan emosional. e) Sebagai alat untuk meningkatkan perkembangan sosial.

f) Sebagai alat untuk menumbuhkan perasaan senang dan memahami manfaat kesehatan pribadi.

4. Model Pembelajaran Pada Motorik Kasar

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang

melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan

pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi, model

pembelajaran cenderung preskriptif (memberi petunjuk dan bersifat

menentukan), yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran

Heri Rahyubi (2014: 251).

Selain memperhatikan hal-hal yang rasional dan teoretis, tujuan

dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran seharusnya memiliki

lima unsur dasar, yaitu (a) syntax, adalah langkah-langkah operasional

pembelajaran, (b) social system, adalah suasana dan norma yang berlaku

dalam pembelajaran, (c) principles of reaction, menggambarkan

bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespons

(28)

13

lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan (e) instrucsional

dan nurturant effects, adalah hasil belajar yang diperoleh langsung

berdasarkan tujuan yang didasar (instrucsional effects) dan hasil belajar di

luar yang disasar (nurturant effects).

Model inquiry training memiliki tiga prinsip kunci, yaitu

pengetahuan bersifat tentatif (sementara), manusia memiliki sifat ingin

tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan individualitasnya

secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara

berkelanjutan. Prinsip kedua mengindikasikan pentingnya siswa

melakukan eksplorasi.

Model inquiry training memiliki lima langkah pembelajaran, yaitu:

(1) menghadapkan masalah ( menjelaskan prosedur penelitian, menyajikan

situasi yang saling bertentangan), (2) menemukan masalah (memeriksa

hakikat obyek dan kondisi yang di hadapi, memeriksa tampilnya masalah),

(3) mengkaji data dan melakukan eksperimen (mengisolasi variabel yang

sesuai, merumuskan hipotesis), (4) mengorganisasikan, merumuskan, dan

menjelaskan, dan (5) menganalisis proses penelitian untuk memeroleh

prosedur yang lebih efektif.

Sistem yang mendukung model inquiry training adalah kerjasama,

kebebasan intelektual, dan kesamaan derajat. Dalam proses kerjasama,

interaksi anak harus didorong dan digalakkan. Sebagai dampak

(29)

14

Berdasarkan uraian di atas menunjukan bahwa model pembelajaran

ini dapat membuat pembelajaran efektif dan memberikan pengaruh besar

terhadap pembelajaran serta memberikan pengaruh langsung seperti

halnya terhadap perkembangan gerak motorik kasar anak.

B. Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda

1. Pengertian Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda

Permainan adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan dengan

terlibat di dalamnya, ketika fungsi serta bentuknya bervariasi Jhon W.

Santrock (2011: 123-124). Zulkifli L. (2002: 38) permainan merupakan

kesibukan yang dipilih sendiri tanpa ada unsur paksaan, tanpa didesak oleh

rasa tanggung jawab. Permainan tidak mempunyai tujuan tertentu. Tujuan

permainan terletak dalam permainan itu sendiri dan dapat dicapai pada

waktu bermain. Bermain merupakan suatu aktivitas yang dapat dilakukan

oleh semua orang, dari anak-anak hingga oragn dewasa, tak terkecuali para

penyandang cacat M. Thobroni & Fairuzul Mumtaz (2011: 42).

Marzollo & Lloyd (Mayke S. Tedjasaputra, 2001: 104) bermain

adalah belajar bagi anak, karena melalui bermain, anak dapat

meninggkatkan kemampuannya dan mengembangkan dirinya. Bermain

(play) merupakan istilah yang digunakan secara bebas sehingga arti

utamanya mungkin hilang. Arti yang paling tepat ialah setiap kegiatan

yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa

(30)

15

Bermain bagi anak adalah apa yang mereka lakukan sepanjang hari,

adalah kehidupan dan kehidupan adalah bermain. Anak-anak tidak

membedakan antar bermain, belajar, dan bekerja. Anak-anak adalah

pemain alami, mereka menikmati bermaindan dapat berkonsentrasi dalam

waktu yang lama untuk sebuah keterampilan. Ljublinskaja (Siti Rahayu

Haditono, 2006:133) mengemukakan permainan sebagai pencerminan

realitas, sebagai bentuk awal memperoleh pengetahuan. Bermain

merupakan motivasi intrinsik bagi anak dan tidak ada seorangpun yang

dapat mengatakan apa yang dilakukan dan bagaimana melakukanya Wira

Indra Satya (2006: 39).

Bettelheim (Mayke S. Tedjasaputra, 2001: 60) permainan dan

olahraga adalah kegiatan yang ditandai oleh aturan serta

persyaratan-persyaratan yang disetujui bersama dan ditentukan dari luar untuk

melakukan kegiatan dalam tindakan yang bertujuan. Olahraga selalu

berupa kontes fisik sedangkan permainan berupa kontes fisik atau juga

kontes mental.

Wira Indra Satya ( 2006: 45 - 46) permainan lari bolak balik dalam

tes kemampuan motorik kasar anak usia SD dapat dimodifikasi dengan

menambahkan pemberian tugas yang dapat mengembangkan kemampuan

motorik dan tingkat inteligensi anak. Permainan lari bolak balik yang di

modifikasi dengan menambahkan tugas seperti permainan lari bolak balik

(31)

16

Berdasarkan uraian tersebut, maka permainan lari bolak balik

memindahkan benda digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda Wira Indra Satya (2006:20)

Berdasarkan gambar diatas dapat disimpulkan bahwa permainan

merupakan suatu aktivitas anak yang menyenangkan dan mampu

mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Permainan yang

dimainkan anak harus mengandung unsur nilai pendidikan karena melalui

permainan tersebut anak dapat belajar mengembangkan aspek kepribadian.

2. Manfaat dan Fungsi Bermain bagi Perkembangan Anak

M. Thobroni & Fairuzul Mumtaz (2011: 43) mengemukakan

bahwa masing-masing permainan memiliki kebermanfaatanya sesuai jenis,

metode, dan caranya. Namun secara umum, kebermanfaatan bermain dapat

dalam disimpulkan sebagai berikut: (a) aspek fisik, (b) aspek

perkembangan motor kasar dan halus, (c) aspek sosial, (d) aspek bahasa,

(e) aspek emosi dan kepribadian Tahap Perkembangan Bermain Anak.

Cara memanfaatkan kegiatan bermain untuk mengembangkan

(32)

17

sosial, (d) emosi, (e) kepribadian, (f) kognisi, (g) ketajaman, (h)

penginderaan, (i) keterampilan olah raga, (j) menari Mayke S.

Tedjasaputra (2001: 38).

Slamet Suyanto (2005: 119-121) bermain memiliki peran penting

dalam perkembangan anak pada hampir semua bidang perkembangan

antara lain:

a. Kemampuan Motorik

Pada saat bermain anak berlatih menyesuaikan antara pikiran dan gerakan menjadi suatu keseimbangan.

b. Bermain Mengembangkan Kemampuan Kognitif

Bermain menjembatani anak dari berpikir konkret ke berpikir abstrak. c. Kemampuan Afektif

Bermain akan melatih anak menyadari adanya aturan dan pentingnya mematuhi aturan. Hal itu merupakan tahap awal dari perkembangan moral (afeksi).

d. Kemampuan Bahasa

Saat bermain anak menggunakan bahasa, baik untuk berkomunikasi dengan temannya maupun sekedar menyatakan pikiranya (thinking aloud).

e. Kemampuan Sosial

Pada saat bermain anak berinteraksi dengan anak yang lain yang mengajarkan anak cara merespons, memberi dan menerima, menolak atau setuju dengan ide dan perilaku anak yang lain.

Permainan lari bolak balik memindahkan benda termasuk

permainan outdoor (luar ruangan) dan biasa dimainkan dengan jumlah

anggota yang tidak sedikit serta membutuhkan ruang yang luas untuk

gerak leluasa bagi anak. Beberapa keuntungan yang didapatkan dari

permainan outdoor ini adalah anak dapat mengenal dan bersentuhan

langsung dengan alam, lebih banyak memberikan rasa nyaman terhadap

anak untuk bergerak dan membuat anak tidah jenuh karena banyak hal

(33)

18

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat bermain

adalah menumbuhkan kemampuan anak dalam hidupnya dan anak

mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak serta dapat

meningkatkan kebugaran komponen motoriknya.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Bermain Pada Anak

Elizabeth B. Hurlock (1978: 327) menyatakan ada beberapa faktor

yang mempengaruhi kegiatan bermain pada anak adalah sebagai berikut:

(1) kesehatan, (2) perkembangan motorik, (3) intelegensi, (4) jenis

kelamin, (5) lingkungan, (6) status sosioekonomi, (7) jumlah waktu bebas,

(8) peralatan bermain.

4. Karakteristik Permainan Anak

Elizabeth B. Hurlock (1978: 322-326) menyebutkan beberapa

karakteristik permainan anak meliputi: (1) bermain dipengaruhi tradisi,

(2) bermain mengikuti pola perkembangan yang dapat diramalkan, (3)

ragam kegiatan permainan menurun dengan bertambahnya usia, (4)

bermain menjadi semakin sosial dengan meningkatnya usia, (5) jumlah

teman bermain menurun dengan bertambahnya usia, (6) bermain semakin

lebih sesuai dengan jenis kelamin, (7) permainan masa kanak-kanak

berubah dari tidak formal menjadi formal, (8) bermain secara fisik kurang

aktif dengan bertambahnya usia, (9) bermain dapat diramalkan dari

(34)

19

Karakteristik bermain dan permainan anak juga harus diperhatikan

agar permainan yang disampaikan dapat mengembangkan kemampuan

yang dimiliki anak.

5. Pembelajaran Kemampuan Motorik Kasar dengan Permainan Lari

Bolak Balik Memindahkan Benda

Permainan lari bolak balik memindahkan benda merupakan

permainan yang dapat dimainkan secara beregu atau perorangan yang

berlari mengambil benda yang di tentukan dan kembali membawa benda

tersebut kembali ke posisi semula. Pembelajaran yang baik membutuhkan

perencanaan yang baik. Perencanaan yang dibuat oleh guru untuk

memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan anak

agar tujuan dapat tercapai. Pembelajaran anak usia sekolah pada dasarnya

masih menggunakan pembelajaran yang berorientasi pada bermain sambil

belajar dan belajar sambil bermain.

Permainan lari bolak balik memindahkan benda ini dipilih dalam

penelitian karena melalui permainan ini dapat mengembangkan

kemampuan fisik terutama melatih kemampuan motorik kasar pada anak.

Permainan ini dilakukan sesuai dengan karakteristik anak sehingga anak

akan merasa senang dalam melakukan kegiatan permainan lari bolak balik

(35)

20

C. Anak Usia SD

1. Karakteristik Masa Usia Sekolah Dasar

Haryu Islamuddin (2012: 39) Menjelaskan bahwa Masa usia

sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk

sekolah. Disebut masa sekolah, karena anak sudah menamatkan taman

kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya.

Disebut masa matang untuk belajar, karena anak sudah berusaha untuk

mencapai sesuatu, tetapi, perkembangan aktivitas bermain hanya bertujuan

untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitasnya itu

sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena sudah

menginginkan kacakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan oleh

sekolah.

Suryobroto (Haryu Islamuddin, 2012: 40-41) mengemukakan Masa

kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 sampai 9 atau 10

tahun yaitu: (1) adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan

kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah, (2) adanya sikap

yang cenderung untuk memamtuhi peraturan-peraturan permainan

tradisional, (3) ada kecenderungan memuji sendiri, (4) suka

membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain kalau hal itu dirasanya

menguntungkan untuk meremehkan anak lain, (5) kalau tidak dapat

menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting, (6)

(36)

21

rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas

diberi nilai baik atau tidak.

Jadi dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik

anak usia SD antara umur 6 sampai 7 anak telah mengalami

perkembangan yang dapat membantu anak untuk dapat menerima

pembelajaran dari gurunya. Pada anak usia SD anak juga sudah dapat

membedakan baik dan buruk dari perbuatan yang di buatnya dalam

kehidupan sehari-hari di rumah, sekolah, dan lingkungan tempat anak

berada.

2. Karakteristik Perkembangan Anak Usia SD

Pada usia SD anak sebagian besar menjalani kehidupanya di

sekolah, yaitu SD, mulai dari 6 sampai 12 tahun. Pada fase pertumbuhan

fisik anak tetap berlangsung. Anak menjadi lebih tinggi, lebih berat, dan

lebih kuat, dan juga lebih banyak belajar berbagai keterampilan. Beberapa

karakteristik perkembangan fisik anak usia SD antara lain.

a. Perubahan Tubuh

Perkembangan yang terjadi pada otot anak usia SD adalah

pertambahan kekuatan otot. Perkembangan otot ini dipengaruhi oleh faktor

keturunan dan latihan. Dalam perkembangannya, kekuatan otot tubuh anak

usia SD menjadi dua kali lebih besar dari sebelumnya Nandang Budiman

(37)

22

b. Kesehatan

Kebanyakan penyakit yang menyerang anak pada usia ini adalah

penyakit saluran pernafasan, influensa, infeksi alat pencernaan makanan

(gastrointestinal), radang paru-paru dan penyakit infeksi lainnya. Selain

itu, penyakit pada gigi juga cukup tinggi frekuensinya, karena sebagian

mereka seringkali lupa untuk mengosok gigi secara teratur. Anak usia SD

juga sering mengalami kecelakaan fisik.

Anak terkadang sering jatuh baik dari sepeda maupun sedang

berjalan, bertabrakan ketika berlari-larian, keseleo, dan sebagainya

sehingga kesehatannya terganggu. Kecelakaan seperti ini sering dialami

anak disebabkan sedikitnya oleh dua hal. Pertama, karena gerakan motorik

anak usia SD, terutama anak usia SD kelas awal, belum begitu seimbang.

Kedua, karena keterbatasan berpikir logisnya mereka kurang hati-hati

dalam bertindak dan bergerak. Misalnya anak berjalan sambil tidak

melihat yang diinjaknya.

c. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Fisik

Terdapat perbedaan dan keanekaragaman dalam perkembangan

fisik anak, dan itu terjadi secara individual, namun keanekaragaman

tersebut dapat digolongkan kedalam tiga bentuk tubuh. Ketiga golongan

bentuk tubuh itu adalah bentuk tubuh endomorf yang cenderung menjadi

gemuk dan berat, lalu bagun tubuh mesomorf yang cenderung menjadi

anak yang kekar, berat, dan segitiga, kemudian bagun tubuh ekstomorf

(38)

23

3. Karakteristik Model Pengembangan Fisik Anak Usia SD

Model stimulasi perkembangan fisik terutama diarahkan kepada

dua tujuan, yakni untuk medorong pertumbuhan fisik yang sehat dan

meningkatkan berbagai kemampuan fisik. Kemampuan fisik ini berfungsi

untuk membangun kekuatan anggota-anggota tubuh sebagai dasar untuk

melakukan garakan-gerakan, baik gerakan sederhana maupun kompleks.

D. Kerangka Pikir

Motorik kasar merupakan gerakan tubuh yang menggunakan

otot-otot besar. Gerakan berlari adalah perkembangan dari gerakan berjalan.

Gerakan dasar anggota tubuh saat berlari menyerupai gerakan berjalan.

Perbedaanya terletak pada irama ayunan langkah pada lari iramanya lebih

cepat dan saat-saat kedua kaki tidak menginjak tanah.

Untuk meningkatkan motorik kasar pada anak diperlukan beberapa

upaya dari pendidik dan orang tua. Banyak sekolah yang masih monoton

dalam pembelajaran khususnya yang berkaitan dengan motorik kasar,

sehingga anak akan merasa cepat bosan dan perkembanganya tidak

optimal. Melalui kegiatan yang menarik, anak akan lebih antusias untuk

melakukan kegiatan yang disampaikan oleh guru. Melalui permainan lari

bolak balik memindahkan benda diharapkan dapat memberi dampak

positif terhadap kegiatan pembelajaran, yakni meningkatkan aktivitas guru

dan anak dalam pembelajaran, serta dapat meningkatkan kemampuan

(39)

24

Dalam mengembangkan kemampuan motorik kasar pada anak usia

SD, perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan, karena dengan

suasana yang menyenangkan anak akan lebih mudah tersimulasi

kemampuan-kemampuannya. Salah satu cara yang digunakan adalah

dengan permainan.

Melalui permainan, anak aktif melakukan segala hal yang

diinginkan. Anak bebas dalam berkreasi melalui permainan, salah satunya

yaitu dengan permainan lari bolak balik memindahkan benda. Melalui

permainan inilah anak akan berinteraksi dengan anak lain dan

berpartisipasi aktif. Untuk meningkatkan kemampuan berlari dapat

dilakukan melalui permainan lari bolak balik memindahkan benda.Cara

bermain lari bolak balik memindahkan benda yaitu dengan berlari ke arah

tempat yang telah disediakan benda-benda dan mengambil salah satu

benda tersebut dan berlari kembali ke posisi semula dan diikuti oleh

seluruh anggota kelompok lainnya sampai giliran semua kelompok usai.

Bila anak sudah tertarik dan aktif dalam pembelajaran maka anak juga

lebih mudah dalam menerima dan menguasai materi yang diajarkan.

Perkembangan kemampuan motorik kasar khususnya kemampuan

fisik anak akan meningkat sehingga memudahkan dalam melalukan

aktivitas kesehariannya dengan lingkungan sekitar. Dengan menggunakan

permainan lari bolak balik memindahkan benda dapat membantu anak

(40)

25

berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dibuat bagan sebagai

berikut.

Gambar 2. Kerangka Pikir dalam Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar

E. Definisi Operasional

1. Kemampuan Motorik Kasar

Motorik kasar yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu

kemampuan motorik kasar pada anak usia SD. Motorik kasar adalah

gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar. Gerakan motorik kasar

anak lebih melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan seluruh anggota

tubuh anak. Pada usia SD perkembangan fisik motorik anak lebih

ditekankan pada koordinasi gerakan tubuh anak seperti , memanjat,

melompat, bergantung, melempar, berlari, dan mejaga keseimbangan. Keadaan Awal Kemampuan motorik kasar

anak kurang

Tindakan

Penerapan permainan lari bolak balik memindahkan benda dalam pembelajaran

(41)

26

2. Permainan Lari Bolak balik

Permainan lari bolak balik adalah suatu aktivitas yang

menyenangkan yang dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok

dengan berlari dari tempat yang satu ke tempat lain yang telah ditentukan

dan membawa benda yang dipindahkan.

Setelah anak selesai bermain permainan lari bolak balik, guru dapat

memberikan penghargaan berupa pujian kepada anak yang telah mengikuti

kegiatan permainan lari bolak balik memindahkan benda.

F. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan yang di ajukan dalam penelitian ini adalah

“melalui permainan lari bolak balik memindahkan benda dapat

meningkatkan kemampuan motorik kasar anak pada siswa kelas 1A SD

(42)

27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

tindakan kelas (Classroom Action Research). Suharsimi Arinkunto (2007:

3) Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap

kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan

terjadi dalam sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi

dalam sebuah kelas secara bersama.

Penelitian tindakan kelas ini dikemas dalam bentuk penelitian

tindakan kelas kolaboratif dengan bekerjasama dengan guru kelas dalam

bentuk merencanakan, mengobservasi, dan merefleksikan tindakan yang

telah dilakukan. Dengan demikian, sejak perencanaan penelitian peneliti

senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mengumpulkan data,

menganalisis data serta melaporkan hasil penelitian dengan dibantu

kolaboratornya.

B. Subjek Penelitian

Pengertian subjek penelitian adalah subjek atau orang yang akan

ditingkatkan kemampuan atau kompetensinya (Suharsimi Arikunto, 2010:

56). Adapun subjek yang diambil adalah pada siswa kelas 1A SD Negeri

Jarakan tahun ajaran 2014/2015 dengan jumlah sebanyak 26 siswa, yang

(43)

28

C. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Jarakan yang

berada di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Penelitian dilakukan pada saat jam pembelajaran olahraga.

2. Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada bulan April-Mei

2015 pada semester genap tahun ajaran 2014/2015.

D. Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD Negeri Jarakan,

dimana di sekolah tersebut perkembangan kemampuan motorik kasar pada

anak khususnya kelas 1A masih kurang, sehingga diperlukan pembelajaran

yang dapat mendukung perkembangan kemampuan motorik kasar pada

anak. Setting penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah di luar

kelas. Setting di luar kelas dalam lingkup sekolah ini dimaksudkan untuk

mempermudah pelaksanaan tindakan yang dilakukan.

Pemilihan setting di luar kelas agar anak tidak kesulitan dalam

keadaan di luar kelas. Mengingat anak usia sekolah jika tidak diawasi

penuh anak tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dan anak mudah

mengalihkan perhatianya. Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran

dalam kegiatan kemampuan motorik kasar anak melalui permainan lari

(44)

29

E. Prosedur Penelitian

Masing-masing siklus terdiri dari empat komponen pokok yaitu:

perencanaan, perlakukan/tindakan, pengamatan dan refleksi. Keempat

komponen tersebut menunjukan sebuah siklus atau kegiatan berkelanjutan

berulang seperti pada gambar berikut.

Refleksi

Perencanaan

Perlakuan & Pengamatan Keterangan: Siklus I: Taggart Suharsimi Arikunto (2006: 93)

Berdasarkan prosedur penelitian diatas, maka tindakan penelitian

kelas untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak dimulai dari

perencanaan, perlakuan dan pengamatan, dilanjutkan dengan refleksi.

Setelah melalui refleksi dan mendapatkan data mengenai kemampuan

(45)

30

memaksimalkan peningkatan kemampuan motorik kasar anak tersebut

dilakukan pada tindakan siklus selanjutnya.

Sesuai dengan desain penelitian diatas maka empat komponen

diatas dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Perencanaan

Perencanaan adalah langkah yang dilakukan oleh guru ketika akan

memulai tindakanya (Suharsimi Arikunto 2010: 17). Penyusunan rencana

merupakan tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan

motorik kasar.

Sebagai tahap persiapan awal, peneliti mengadakan observasi

mengenai keadaan sekolah secara umum, sarana prasarana pendukung,

proses pembelajaran, aktivitas anak selama pembelajaran, dan kegiatan

proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai dasar penyusunan

perencanaan yang dilakukan oleh peneliti berkerjasama dengan guru.

Peneliti membuat rencana atau rancangan tindakan yang akan

diberikan pada anak yaitu: standar kompetensi (SK), kompetensi dasar

(KD), strategi pembelajaran, media, aktivitas anak, aktivitas guru, hal-hal

yang akan diobservasi dan evaluasi kegiatan. Persiapan yang akan

dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berkut:

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang kegiatan

fisik motorik melalui permainan lari bolak balik memindahkan benda

(46)

31

b. Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi mengenai aktivitas

anak selama kegiatan motorik kasar,

c. Mempersiapkan alat untuk mendokumentasikan kegiatan

pembelajaran yang dilakukan berupa foto,

d. Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang akan digunakan

dalam pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan adalah implementasi dari perencanaan yang sudah

dibuat ( Suharsimi Arikunto 2010: 18). Dalam tindakan ini dilakukan

dengan menggunakan prosedur perencanaan yang telah dibuat dan dalam

pelaksanaannya bersifat fleksibel dan terbuka terhadap

perubahan-perubahan. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru kelas sebagai

kolaborator melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telas

dibuat oleh peneliti. Peneliti yang bekerja sama dengan kolaborator

membantu mengamati keterlibatan anak dalam proses pembelajaran yang

berhubungan dengan kemampuan motorik kasar.

3. Observasi/Pengamatan

Observasi atau pengamatan adalah proses mencermati jalannya

pelaksanaan tindakan (Suharsimi Arikunto 2010: 18). Obsevasi

dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung, guru olahraga

sebagai kolaborator melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang

(47)

32

membantu mengamati keterlibatan anak dalam proses pembelajaran yang

berhubungan dengan kemampuan motorik kasar.

Adapun aspek yang akan diamati dari kemampuan motorik kasar

dalam penelitian ini meliputi kemampuan berlari, teknik gerak lengan, dan

teknik gerak kaki.

4. Refleksi

Refleksi atau peristiwa perenungan adalah langkah mengigat

kembali kagiatan yang sudah lampau yang dilakukan oleh guru maupun

siswa (Suharsimi Arikunto 2010: 19). Refleksi dilakukan pada akhir tiap

siklus dan berdasarkan refleksi inilah dapat diketahui apakah tindakan

yang diberikan sudah sesuai dengan harapan peneliti serta untuk

mengetahui apakah diperlukan atau tidaknya tindakan siklus selanjutnya.

Data yang telah diperoleh pada pada lembar instrumen observasi

dianalisis kemudian peneliti bersama kolaborator melakukan refleksi

terhadap hasil observasi yang bertujuan untuk melakukan penilaian

terhadap proses yang terjadi serta segala hal yang berkaitan dengan

tindakan yang telah dilakukan. Refleksi ini juga bertujuan untuk menyusun

rencana tindakan perbaikan untuk tindakan siklus selanjutnya apabila

(48)

33

F. Metode Pengumpulan data

Metode pengumpulan data adalah cara yang digunakan oleh

peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan (Suharsimi Arikunto

2010: 175). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah antara lain.

1. Obsevasi

Observasi merupakan teknik mengumpulkan data yang dilakukan

dengan cara mengamati kejadian yang berlangsung dan mencatatnya

dengan alat observasi tentang hal yang akan diamati dan diteliti. Observasi

yang dilakukan guru untuk memantau siswa. Dalam pengamatan ini

menggunakan lembar observasi tentang kemampuan motorik kasar anak

dalam bermain permainan lari bolak balik memindahkan benda.

Pengamatan yang dilakukan adalah seberapa besar kemampuan anak

dalam berlari serta posisi teknik gerak lengan dan teknik gerak kaki saat

berlari.

2. Dokumentasi

Pada saat pelaksanaan tindakan hasil kegiatan di dokumentasikan

agar terlihat jelas pelaksanaan tindakan ini yaitu dalam bentuk foto hasil

penelitian, pengambilan foto diambil pada saat kegiatan awal, kegiatan

inti, dan kegiatan akhir.

G. Instrumen Pengumpulan Data

Instumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan

oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah

(49)

34

sehingga lebih mudah diolah (Suharsimi Arikunto, 2002: 136). Dalam

penelitian ini yang digunakan adalah bentuk check list. Check list

merupakan daftar pedoman observasi yang akan digunakan oleh peneliti

untuk mengamati aspek apa saja yang akan diobservasi, berisikan daftar

aspek yang akan diobservasi, sehingga tugas sebagai observer tinggal

memberi tanda (√ ) pada bagian yang diobservasi. Check list yang telah

dibuat dilakukan terhadap anak dalam indikator kemampuan anak dalam

melakukan gerakan berlari dengan melihat teknik gerak lengan dan teknik

gerak kaki saat anak mempraktikan kegiatan lari bolak balik memindahkan

benda.

Dalam penelitian tindakan kelas ini instrumen yang digunakan

adalah lembar observasi pada saat kegiatan. Lembar observasi bertujuan

untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan permainan lari bolak

balik memindahkan benda untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar

pada anak usia SD. Observasi dilakukan untuk memantau jalannya proses

belajar mengajar, dengan menggunakan lembar observasi. Hal ini

dilakukan untuk memudahkan kegiatan belajar mengajar, sehingga

tergambar aktivitas guru dan anak selama kegiatan mengajar berlangsung.

Lembar observasi yang digunakan oleh peneliti adalah lembar observasi

pembelajaran motorik kasar. Lembar observasi digunakan peneliti sebagai

pedoman ketika melakukan pengamatan untuk mendapatkan data yang

(50)

35

apakah pengetahuan tentang gejala anak sudah mengalami peningkatan

atau belum.

Lembar obeservasi diisi berdasarkan pada aktivitas anak saat

melakukan kegiatan pembelajaran. Anak yang sudah mampu memenuhi

kriteria dengan baik diberikan skor tiga, anak yang mampu memenuhi

kriteria sedang diberikan skor dua, dan anak yang kurang mampu

memenuhi kriteria atau rendah diberikan skor satu. Adapun instrumen

kisi-kisi, instrumen lembar observasi dan rubrik penilaian yang akan digunakan

dalam penelitian dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen

Variabel Sub variabel Indikator Kemampuan Motorik

Tabel 2. Instrumen Oservasi Kemampuan Lari

No Inisial Nama Kemampuan Berlari Keterangan

3 2 1

Keterangan :

Cepat : 3 (Tiga) Kurang Cepat : 2 (Dua) Belum Cepat : 1 (Satu)

Tabel 3. Instrumen Observasi Teknik Gerak Lengan

No Inisial Nama Teknik Gerak Lengan Keterangan

(51)

36

Keterangan :

Mampu : 3 (Tiga) Kurang Mampu : 2 (Dua) Belum Mampu : 1 (Satu)

Tabel 4. Instrumen Observasi Teknik Gerak Kaki

No Inisial Nama Teknik Gerak Kaki Keterangan

3 2 1

Keterangan :

Mampu : 3 (Tiga) Kurang Mampu : 2 (Dua) Belum Mampu : 1 (Satu)

Tabel 5. Rubrik Penilaian Kemampuan Berlari

Skor Deskripsi Keterangan

3

Anak dapat berlari dengan cepat dan melaksanakan instruksi guru

Anak dapat lari tetapi waktu yang diperlukan lebih lama

Tabel 6. Rubrik Penilaian Teknik Gerak Lengan

(52)

37 lengan yang tidak tertekuk dan belum begitu paham melakukan

Tabel 7. Rubrik Penilaian Teknik Gerak Kaki

(53)

38

H. Teknik Analisis Data

Untuk melaporkan hasil penelitian, maka data yang diperoleh harus

terlebih dahulu dianalisis. Data penelitian yang telah didapat kemudian

dianalisis dengan deskriptif kuantitafif dan kualitatif. Deskriptif kuantitafif

digunakan untuk menganalisis data berupa angka. Deskriptif kualitatif

dimaksudkan mengambarkan hasil pengamatan peneliti dan kolaborasi

dengan guru olahraga tentang kemampuan berlari bertujuan untuk

megetahui upaya meningkatan kemampuan motorik kasar melalui

permainan lari bolak balik memindahkan benda. Data observasi yang

diperoleh di hitung kemudian di ukur dalam persentase. Dengan itu akan

terlihat bagaimana peningkatan yang dicapai. Analisis data ini digunakan

sebagai rencana perbaikan selanjutnya.

Acep Yoni (2010:176) data yang berhasil dikumpulkan oleh

peneliti dikumpulkan dianalisis untuk mengetahui target pencapaian

pembelajaran dengan menggunakan rumus :

Acep Yoni (2010:175 - 176) menyatakan data yang

diinterprestasikan ke dalam persentase sebagai berikut:

1. Sangat Baik, apabila nilai yang diperoleh anak 75% - 100%

2. Baik, apabila nilai yang diperoleh anak 50% - 74,99%

3. Cukup, apabila nilai yang diperoleh anak 25% - 49,99%

4. Kurang, apabila nilai yang diperoleh anak 0% - 24,99% Persentase

(54)

39

I. Indikator Keberhasilan

Tindakan dalam penelitian ini anak dikatakan berhasil jika

kemampuan motorik kasar anak mengalami peningkatan sebesar 75% dari

(55)

40

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

1. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Jarakan, Panggungharjo,

Sewon, Bantul,Yogyakarta. Sekolah ini memiliki enam buah ruang kelas ,

yakni ruang kelas I hingga kelas III berada di SD Jarakan bagian utara

sedangkan kelas IV hingga kelas VI yang berada di SD Jarakan bagian

selatan. Penelitian yang dilakukan bertempat di lapangan sepak bola yang

sering digunakan untuk kegiatan berolahraga anak SD Negeri Jarakan desa

Kweni dengan jumlah murid kelas 1A berjumlah 26 siswa, terdiri dari 11

siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Penelitian ini berlangsung pada

bulan April – Mei 2015.

2. Deskripsi Observasi Awal

Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu penelti mengajukan

izin secara lisan untuk melakukan observasi pada kepala sekolah dan guru

olahraga pada tanggal 27 Maret 2015. Setelah diijinkan, disepakati bahwa

peneliti dapat segera melakukan observasi terhadap pembelajaran

Olahraga. Observasi ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 30 Maret 2015,

pukul 07.30-09.00 WIB. Sebelum peneliti menguraikan dalam

meningkatkan kemampuan motorik kasar anak kelas 1A melalui

permainan lari bolak balik memindahkan benda, terlebih dahulu peneliti

memaparkan kondisi awal pembelajaran yaitu sebelum dilakukanya

(56)

41

pengamatan terhadap kemampuan awal motorik kasar anak. Pengamatan

ini dilakukan pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan permainan

lari bolak balik memindahkan benda tetapi tanpa adanya pengarahan

khusus bagi anak. Hasil persentase dari pra tindakan ini nantinya akan

dibandingkan dengan persentase yang diperoleh sesudah adanya tindakan.

Dengan adanya perbandingan tersebut diharapkan peningkatan

kemampuan motorik kasar siswa di SD Negeri Jarakan anak akan lebih

jelas suatu peningkatan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan.

Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap seluruh anak diperoleh

hasil observasi pra tindakan kemampuan motorik kasar siswa SD Negeri

Jarakan Semester 2 Tahun Ajaran 2014/2015 dapat dilihat dari tabel

berikut.

Tabel 8. Hasil Observasi Pra Tindakan dalam Persentase

No. Aspek yang diamati Skor Jumlah Anak Persentase %

Dari perolehan data diatas maka dapat diketahui bahwa pencapaian

motorik kasar siswa di SD Negeri Jarakan masih rendah dan masuk dalam

kriteria kurang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya anak yang

(57)

42

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa hasil pra tindakan

kemampuan motorik kasar siswa di SD Negeri Jarakan pada kegiatan

berlari yang sudah memenuhi kriteria dengan mendapatkan skor 3 yaitu

anak yang dapat berlari dengan cepat dan melaksanakan instruksi yang

diberikan oleh guru dengan benar berjumlah 7 anak dengan persentase

27% tergolong dalam kriteria kurang. Kegiatan berlari digolongkan dalam

kriteria kurang karena masih banyak anak yang belum mampu mengikuti

instruksi yang diberikan guru dengan benar dan masih banyak anak yang

lambat dalam berlari dan belum mampu berlari dengan waktu yang

singkat.

Dari teknik gerak lengan, anak yang sudah memenuhi kriteria

dengan memperoleh skor 3 yaitu anak yang teknik gerakan lengannya

menekuk kurang dari 90 derajat, saat berlari dengan instruksi yang

diberikan oleh guru berjumlah 4 anak dengan persentase 15% tergolong

kedalam dalam kriteria kurang. Teknik gerak lengan digolongkan dalam

kriteria kurang karena masih anak yang belum mampu mengikuti instuksi

dari guru dan masih belum serius dalam mengikuti pembelajaran.

Sedangkan pada teknik gerak kaki yang telah memenuhi kriteria dengan

memperoleh skor 5 anak dengan persentase 19% tergolong dalam kriteria

kurang. Pada teknik gerakan kaki digolongkan dalam kriteria kurang

karena masih banyak anak yang belum mampu mengikuti instruksi yang di

berikan oleh guru dengan benar dan masih banyak yang anak yang belum

(58)

43

Berdasarkan data pra tindakan , maka dapat disimpulkan bahwa

kemampuan motorik kasar anak pada kemampuan berlari, teknik gerak

lengan, dan teknik gerak kaki belum berkembang secara optimal. Hal ini

dapat dilihat dari hasil persentase anak yang masih rendah dalam

memperoleh skor 3 dan beberapa pembelajaran di sekolah yang

mengembangkan motorik kasar jarang sekali dilakukan di sekolah.

Berdasarkan hasil observasi peningkatan kemampuan motorik

kasar anak di SD Negeri Jarakan masih rendah. Hal ini yang menjadi

tujuan peneliti untuk melakukan peneliti yang bertujuan untuk

meningkatkan motorik kasar anak melalui permainan lari bolak balik

dengan mengumpulkan data serta informasi mengenai kemampuan

motorik kasar anak. Maka peneliti membuat perencanaan untuk

memperbaiki kemampuan motorik kasar anak agar lebih maksimal dalam

melakukan gerakan-gerakan, yaitu dengan cara permainan lari bolak balik

memindahkan benda. Permainan lari bolak balik ini dibuat sedemikian

bervariasi, dengan harapan anak menjadi lebih tertarik dan lebih tertantang

dalam pembelajaran motorik kasar serta kemampuan motorik kasar anak

(59)

44

Adapun hasil dari observasi pra tindakan siswa yang mencapai

KKM adalah sebagai berikut:

Tabel 9. Persentase Jumlah Siswa yang memenuhi KKM pada pra tindakan

Kriteria Jumlah Siswa Persentase %

Mencapai KKM 9 35

Belum mencapai KKM 17 65

Jumlah 26 100

3. Hasil Penelitian Tindakan

a. Pelaksanaan Tindakan Siklus I

1) Perencanaan

Tahap perencanaan yang dilakukan pada siklus I yaitu

merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan ke 1, 2, dan

ke 3. Dalam perencanaan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.

(1) Menentukan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

Peneliti dalam menentukan standar kompetensi dalam proses

pembelajaran yang akan digunakan yaitu dengan menyesuaikan standar

kompetensi yang ada di SD Negeri Jarakan. Standar Kompetensi yang

akan digunakan adalah mempraktikkan gerak dasar ke dalam aktivitas

jasmani dan nilai yang terkandung di dalamnya. Sedangkan Kompetensi

Dasar yang digunakan adalah mempraktikan gerak dasar jalan, lari dan

lompat ke berbagai arah dengan berbagai pola dalam permainan sederhana,

serta nilai kerjasama, kejujuran, tanggung jawab dan toleransi.

(2) Menyusun Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP)

Dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

(60)

45

berkolaborasi dengan guru olahraga kelas 1 SD Negeri Jarakan untuk

mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan dalam melakukan perbaikan

pembelajaran dan merencanakan tindakan-tindakan dalam kegiatan

tersebut. Persiapan yang pertama adalah menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) untuk mata pelajaran Olahraga. Peneliti dan guru

sepakat untuk menjadikan permainan lari bolak balik memindahkan benda

menjadi kegiatan inti pada hari tersebut. Permainan lari bolak balik ini

tidak hanya mengembangkan aspek fisik tetapi saling dikaitkan sehingga

aspek perkembangan anak lainya dapat dikembangkan.

(3) Menyiapkan Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam peneltian ini berupa

lembar observasi. Lembar observasi tersebut digunakan untuk mencatat

hasil pengamatan perkembangan motorik kasar selama berlangsungnya

kegiatan bermain lari bolak balik memindahkan benda. Setiap siswa

diamati kemudian dinilai dan dimasukan dalam lembar observasi. Dalam

hal ini aspek yang diamati adalah aspek kemampuan lari, teknik gerakan

lengan dan teknik gerakan kaki.

(4) Menyiapkan Media yang akan digunakan sebelum kegiatan

pembelajaran dilaksanakan, peneliti menyiapkan bahan dan alat yang

akan digunakan.

(5) Menyediakan Alat yang akan digunakan untuk mendokumentasikan

Figure

Gambar 1. Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda Wira Indra Satya (2006:20)

Gambar 1.

Permainan Lari Bolak Balik Memindahkan Benda Wira Indra Satya (2006:20) p.31
Gambar 2. Kerangka Pikir dalam Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar

Gambar 2.

Kerangka Pikir dalam Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar p.40
Gambar 3. Model Penelitian Tindakan Kelas dari Kemmis dan Mc. Taggart Suharsimi Arikunto (2006: 93)

Gambar 3.

Model Penelitian Tindakan Kelas dari Kemmis dan Mc. Taggart Suharsimi Arikunto (2006: 93) p.44
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen

Tabel 1.

Kisi-kisi Instrumen p.50
Tabel 3. Instrumen Observasi Teknik Gerak Lengan

Tabel 3.

Instrumen Observasi Teknik Gerak Lengan p.50
Tabel 4. Instrumen Observasi Teknik Gerak Kaki

Tabel 4.

Instrumen Observasi Teknik Gerak Kaki p.51
Tabel 5. Rubrik Penilaian Kemampuan Berlari

Tabel 5.

Rubrik Penilaian Kemampuan Berlari p.51
Tabel 7. Rubrik Penilaian Teknik Gerak Kaki

Tabel 7.

Rubrik Penilaian Teknik Gerak Kaki p.52
Tabel 8. Hasil Observasi Pra Tindakan dalam Persentase

Tabel 8.

Hasil Observasi Pra Tindakan dalam Persentase p.56
Tabel 10. Hasil Observasi Penelitian Tindakan Siklus I dalam persentase

Tabel 10.

Hasil Observasi Penelitian Tindakan Siklus I dalam persentase p.71
Tabel 11. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada siklus I

Tabel 11.

Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada siklus I p.74
Tabel 12. Hasil Observasi Tindakan Siklus II dalam Persentase

Tabel 12.

Hasil Observasi Tindakan Siklus II dalam Persentase p.87
Tabel 13. Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada siklus II

Tabel 13.

Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM pada siklus II p.88
Gambar 4. Grafik Hasil Rekapitulasi Kemampuan Motorik Kasar Anak

Gambar 4.

Grafik Hasil Rekapitulasi Kemampuan Motorik Kasar Anak p.91
Gambar 1. Pengarahan dari guru

Gambar 1.

Pengarahan dari guru p.153
Gambar 5. Saat siswa berlari

Gambar 5.

Saat siswa berlari p.154

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in