• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hakekatnya baru berumur enam tahun, kemudian juga merupakan salah satu desa di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hakekatnya baru berumur enam tahun, kemudian juga merupakan salah satu desa di"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Keadaan Geografis

Desa Butu adalah merupakan desa pemekaran desa Moutong yang pada hakekatnya baru berumur enam tahun, kemudian juga merupakan salah satu desa di Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango, dengan memiliki luas wilayah kurang lebih 1800 Ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan desa Tunggulo b. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Moutong

c. Sebelah barat berbatasan dengan desa Bongopini/desa Ilohelumo d. Sebelah timur berbatasan dengan desa Ulantha

Sejak tahun 2007 telah memisahkan diri dari desa induk yaitu desa Moutong yang kemudian beralih nama menjadi desa Butu dan sudah memiliki Kepala Desa sebagai pimpinan di desa tersebut. Desa Butu terbagi 3 dusun dan masing-masing dusun di pimpin oleh kepala dusun, yang juga sebagai pembantu kepala desa dalam menjalankan tugas pemerintahannya sehari-hari, selain sekretaris desa dan kepala-kepala urusan lainnya.

Sesuai dengan kondisi geografis desa Butu Kecamatan Tilongkabila yakni: a. Ketinggian tanah dari permukaan laut yaitu 120 meter

b. Banyaknya curah hujan yaitu 23 mm/hm c. Suhu udara rata-rata 20-23 C

(2)

Sebagian besar wilayah desa Butu merupakan area pertanian dengan penduduk mayoritas petani jagung. Di samping itu ada juga wiraswasta, pegawai Negeri Sipil (PNS), sopir, pembantu rumah tangga.

Di lihat dari kondisi fisiknya, desa Butu merupakan desa penghasil jagung, karena sepanjang desa ini terdapat aliran sungai. Dan pada tahun 2011 desa Butu mendapatkan program dari pemerintah Gorontalo yang dinaungi oleh Dinas Pertanian dalam hal percobaan varietas buah melon yang dialokasikan pada kelompok tani “Suka Maju”.

2. Keadaan Demografis

Sesuai dengan data primer di peroleh bahwa desa Butu mempunyai jumlah penduduk 609 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 299 jiwa dan perempuan sebanyak 310 jiwa. Dilihat dari jumlah kepala keluarga sebanyak 283 KK (Kepala Keluarga).

3. Keadaan Posyandu

Ditinjau dari sasaran Posyandu yang terdiri dari bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, PUS/WUS (Pasangan Usia Subur/wanita usia subur) yang mendapatkan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Yang dimaksud dengan nilai strategis untuk pengembangan Sumber Daya Manusia sejak dini yaitu dalam peningkatan manusia yang akan datang. Dengan ini saya selaku peneliti dapat mengumpulkan data tentang Balita 0-5 tahun, ibu hamil dari Puskesmas pembantu tempat pelaksanaan Posyandu desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 1dan 2 berikut ini.

(3)

Tabel 1. Keadaan anak-anak dari usia 0-5 tahun di desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango.

(Sumber Data: Puskesmas Pembantu, 2013)

Berdasarkan data table 1 di atas, terlihat bahwa anak-anak usia 0-5 tahun ± 65 orang. Hal ini sangat membutuhkan perhatian dari Ketua Pokja IV PKK, orang tua balita dan tokoh masyarakat dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya, dan khususnya kesehatan ibu dan anak balita.

Berikut di bawah ini data ibu hamil desa Butu yang berjumlah 7 orang. Tabel 2. Jumlah ibu hamil di desa Butu Kec.Tilongkabila Kab. Bone Bolango.

Jumlah Ibu Hamil Jumlah

Dusun I 4

Dusun II 2

Dusun III 1

Jumlah 7

(Sumber Data: Puskesmas Pembantu, 2013)

Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat di ketahui jumlah ibu hamil yakni di dusun I sebanyak 4 orang di dusun II sebanyak 2 orang dan di dusun III sebanyak 1 orang Sehingga dapat di ketahui bahwa jumlah ibu hamil yang paling banyak yakni terdapat di dusun I.

4.1.2 Pelaksanaan Pengumpulan Data

No Usia Laki-Laki Perempuan Jumlah 1 2 3 8-28 hari < 1 Tahun 1-5 Tahun - 5 29 1 7 22 1 13 51 Jumlah 34 30 65

(4)

Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa proses pengumpulan data yang di tempuh dalam pelaksanaan penelitian ini adalah teknik observasi dan teknik wawancara. Observasi yang di maksud adalah untuk mengamati secara langsung aktivitas yang terjadi di Posyandu Lavenda desa Butu serta aspek-aspek lain yang mungkin berpengaruh dalam pelaksanaan lima program Posyandu pada umumnya dan khususnya kesehatan ibu dan anak. Wawancara digunakan untuk mengetahui secara langsung pelaksanaan program Posyandu dengan cara mewawancarai informan yaitu Ketua Pokja IV PKK yang membidangi kesehatan, kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat, orang tua balita, dan masyarakat desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango.

4.1.3 Deskripsi Hasil Pengumpulan Data

Dalam mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian, digunakan wawancara sebagai teknik utama. Dalam hal ini wawancara dilakukan peneliti terhadap Ketua Pokja IV PKK yang membidangi kesehatan, kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat, orang tua balita, dan tokoh masyarakat desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Wawancara yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program Posyandu di desa Butu.

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini telah dilakukan wawancara dengan informan penelitian. Hasil wawancara penelitian terkait dengan deskripsi pelaksanaan program Posyandu desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango diuraikan sebagai berikut:

Adapun 5 program pokok Posyandu tersebut adalah: 1. Kesehatan Ibu dan Anak

(5)

Hasil Wawancara yang dilakukan dengan informan penelitian terkait indikator kesehatan diuraikan sebagai berikut:

Pertanyaan ke 1 “Apakah di Posyandu terdapat kegiatan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak, seperti pemberian nasehat tentang makanan bergizi serta penyuluhan kesehatan untuk mencapai tujuan program kesehatan ibu dan anak?

Jawaban Ketua Pokja IV PKK, tentang pemeliharaan Kesehatan Ibu dan Anak yaitu :

“Saya selaku ketua Pokja IV berkeinginan sekali untuk mengadakan sistem lima meja, karena pada meja IV adalah pelayanan penyuluhan kesehatan perorangan/kelompok, baik menyangkut pemberian nasehat tentang makanan bergizi bagi ibu dan anak, karena sarana tidak memungkinkan seperti meja dan kursi tidak ada, maka penyuluhan sekali-sekali kami lakukan. Untuk pemeriksaan ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, misalnya penimbangan, pengukuran lila, pemeriksaan janin, pemberian pil tambah darah dll, rutin dilaksanakan oleh tenaga kesehatan/medis dibantu oleh kader Posyandu, namun untuk penyuluhan kesehatan ibu dan anak memang belum optimal di laksanakan” (Ww. HY. 6- 6- 2013).

Jawaban berbeda namun tujuan sama di peroleh dari orang tua balita yaitu:

“Kami tidak rutin mendapatkan penyuluhan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak setiap kami berkunjung di Posyandu, kecuali bagi ibu hamil yang benar-benar kurang timbangan dan punya kelainan dalam kandungannya, tetapi ibu-ibu yang punya anak balita jarang sekali mendapat penyuluhan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak” (Ww. SK. 6- 6- 2013).

Jawaban sama tapi berbeda dari tokoh masyarakat desa Butu yaitu:

“Menurut saya untuk pemeliharaan kesehatan ibu dan anak, tiap bulan sekali di Posyandu desa Butu ada pelayanan dari tenaga profesional untuk melayani warga dalam hal kesehatan dasar, namun dalam hal penyuluhan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak belum optimal di laksanakannya. misalnya: penyuluhan tentang makanan bergizi pada ibu dan nasehat tentang tumbuh kembang anak balita dan cara menstimulasinya dll” (Ww. RL. 6- 6- 2013)

Dari semua jawaban informan tersebut dapat disimpulkan bahwa di Posyandu Lavenda desa Butu sudah melaksanakan salah satu program Posyandu yaitu

(6)

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) meliputi pemeliharaan kesehatan ibu dan anak walaupun belum optimal di laksanakan misalnya dalam hal penyuluhan tentang makanan bergizi untuk mencegah gizi buruk karena kekurangan protein dan kalori, dan kurangnya nasehat tentang tumbuh kembang anak dan cata menstimulasinya. Pertanyaan ke 2 “Apakah dalam kegiatan Posyandu ada pemberian nasehat tentang tumbuh kembang anak?

Jawaban dari ketua Pokja IV PKK mengungkapkan:

“Pemberian nasehat tentang tumbuh kembang ini jarang sekali di lakukan, ini memang sangat memperhatinkan, untuk itu saya selaku Ketua Pokja IV PKK, berupaya mencari solusi agar setiap pelaksanaan Posyandu di adakan pemberian nasehat tentang tumbuh kembang anak” (Ww. HY. 6- 6- 2013) Jawaban berbeda tapi tujuannya sama di ungkapkan oleh orang tua balita

“Selama saya membawa anak saya ke Posyandu ini, saya jarang sekali mendapatkan pemberian nasehat tentang tumbuh kembang anak, yang ada kalau timbangan anak kami turun 1 kilo, baru di sarankan oleh petugas kesehatan untuk makan makanan yang bergizi, kami kurang sekali menerima nasehat bagaimana menstimulasi anak dalam hal tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan agar menjadi anak yang sehat, cerdas, dan produktif” (Ww. SK. 6- 6- 2013).

Jawaban di peroleh dari tokoh masyarakat yaitu :

”Pemberian nasehat secara umum tentang tumbuh kembang anak atau menstimulasi anak dengan baik pada masa pertumbuhan dan perkembangan saya akui memang kurang sekali di lakukan oleh kader dan tenaga medis, ini dapat di lihat pada kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak rata-rata standar standar saja.” (Ww. RL. 6- 6- 2013)

Dari jawaban dari ketiga informan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian nasehat tentang tumbuh kembang anak belum optimal dilaksanakan oleh petugas dan tenaga kesehatan

2. Keluarga Berencana

(7)

Pertanyaan ke 3 “Bagaimana pelayanan KB bagi pasangan usia subur ?

“Pelayanan KB (Keluarga Berencana) sudah dilaksanakan oleh petugas kesehatan dari puskesmas, walaupun ada sebagian besar orang tua balita yang belum menjalankan program KB ini” (Ww. HY. 7- 6- 2013)

Jawaban lain, di peroleh dari orang tua balita:

“Pelayanan KB pada pasangan usia subur, berupa KB suntik, pemberian obat/pil KB, di buka pada saat pelayanan Posyandu namun untuk pemasangan KB implan dan Spiral nanti menunggu kunjungan khusus dari petugas KB karena gratis di berikan, hal ini yang menjadi salah satu kendala dari Akseptor KB, sehingga mereka ada yang menunda pemasangan KB implan, dan untuk Spiral kurang peminatnya” (Ww. SK. 7- 6- 2013)

Jawaban berbeda tapi tujuannya sama dari tokoh masyarakat:

“Menurut saya, sebahagian besar masyarakat belum memahami program KB, terbukti setiap PUS (Pasangan Usia Subur) memiliki lebih dari 2 anak terutama orang-orang awam yang berpendidikan tidak tamat SD tinggal di ujung dusun, mereka berprinsip banyak anak banyak rezeki” (Ww. RL. 7- 6- 2013).

Dari ketiga jawaban dari informan tersebut dapat di simpulkan bahwa pelayanan Keluarga Berencana (KB) pada masyarakat desa Butu belum optimal di laksanakan, selain Pasangan Usia Subur (PUS) berprinsip banyak anak banyak rezeki.

Pertanyaan ke 4 “Apakah petugas kesehatan memberikan nasehat tentang bahaya melahirkan berkali-kali serta adakah petunjuk penggunaan pil, kondom, dll”?.

Jawaban di peroleh dari Ketua Pokja IV:

“Ya petugas kesehatan sekali-kali memberikan nasehat tentang bahaya melahirkan berkali-kali, untuk petunjuk penggunaan pil dan suntik memang ada, untuk kondom dan pemasangan implan belum di laksanakan karena petugas kesehatan yang ada di Puskesmas pembantu adalah petugas pemula yang baru 1 tahun bertugas di desa Butu dan masih berstatus tenaga kontrak dan masih gadis jadi masyarakat enggan bertanya hal demikian” (Ww. HY. 7- 6- 2013)

(8)

“Saya selama berkunjung ke Posyandu Lavenda desa Butu, jarang sekali menerima nasehat tentang bahaya melahirkan berkali-kali, kecuali bagi ibu hamil yang turun timbangannya dan punya kelainan pada kandungan karena faktor usia, sehingga akan di rujuk ke rumah sakit jika melahirkan” (Ww. SK. 7- 6- 2013)

Jawaban lain juga di peroleh dari tokoh masyarakat:

“Menurut saya, petugas kesehatan dalam hal memberikan nasehat tentang bahaya melahirkan berkali-kali, memang ada tapi bagi yang punya kelainan dalam hal kehamilan, secara perindividu maupun secara umum itu jarang di lakukan oleh petugas kesehatan” (Ww. RL. 7- 6- 2013)

Dari ketiga jawaban informan tersebut dapat disimpulkan bahwa, sebahagian besar masyarakat khususya ibu dari balita, jarang sekali menerima tentang nasehat bahaya melahirkan berkali-kali dari petugas kesehatan yang bertugas pada saat pelayanan Posyandú.

3. Imunisasi

Hasil wawancara dengan Ketua Pokja IV PKK:

Pertanyaan ke 5 “Apakah pelayanan imunisasi pada bayi terlaksana dengan baik sesuai dengan harapan masyarakat dan pemerintah?. Berikut jawaban ke tiga informan:

“Ya, Imunisasi sudah dilaksanakan oleh petugas kesehatan, namun sebagian besar orang tua bayi terlambat membawa anaknya untuk di imunisasi dengan alasan setelah di imunisasi anaknya akan sakit” (Ww. HY. 10- 6- 2013) Jawaban berbeda tapi tujuannya sama diperoleh dari orang tua balita :

“Saya selaku orang tua bayi sering membawa anak untuk di imunisasi, namun sebagian dari orang tua yang dari dusun 3 sering terlambat membawa anaknya dengan alasan tadi, setelah di imunisasi anaknya akan sakit, anak yang tadinya sehat setelah di imunisasi akan panas badannya” (ww. SK. 10- 6- 2013)

Jawaban berbeda tapi tujuannya sama di peroleh dari tokoh masyarakat:

“Pelayanan imunisasi bagi bayi 0-11 bulan, dan 1-5 tahun rutin tiap bulan pada saat pelayanan Posyandu, namun sebagian besar ibu atau masyarakat membawa anaknya balita karena termotivasi mengisi daftar hadir PKH (Program Keluarga Harapan), mereka takut, sekali tidak datang akan

(9)

mengurangi bantuan berbentuk uang dari PKH (Program Keluarga Harapan)” (Ww. RL. 10- 6- 2013)

Dari hasil wawancara ketiga informan tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa pelayanan imunisasi yang di laksanakan di Posyandu Lavenda desa Butu telah dilaksanakan namun belum sesuai harapan masyarakat dan pemerintah desa, sebagian besar orang tua balita terlambat membawa anaknya untuk di imunisasi dan sebagian besar orang tua juga termotivasi karena adanya program PKH (Program Keluarga Harapan).

Pertanyaan ke 6 “Bagaimana respon orang tua bayi dalam pelayanan imunisasi di Posyandu desa Butu.

Jawaban Ketua Pokja IV PKK :

“Sebagian besar dari orang tua sangat merespon dengan pelayanan imunisasi bayi di Posyandu desa Butu ini hanya termotivasi adanya pengawasan petugas PKH (Program Keluarga Harapan), dan sebagian kecil masyarakat tidak merespon pelayanan imunisasi, dengan alasan bahwa anaknya setelah di imunisasi akan sakit, dan sebagian pula mereka punya kesadaran sendiri untuk membawa anaknya untuk di imunisasi” (Ww. HY. 10- 6- 2013). Jawaban berbeda namun mempunyai tujuan sama diungkapkan oleh orang tua balita:

“Ada sebagian orang tua bayi tidak mau membawa anaknya untuk di imunisasi, dengan alasan setelah di imunisasi anaknya akan jatuh sakit, tidak ada gunanya itu bayi di imunisasi” (ww. SK. 10- 6- 2013)

Jawaban lain diungkapkan tokoh masyarakat:

“Sepanjang pengetahuan saya pelaksanaan imunisasi telah di respon oleh orang tua anak balita namun lebih didasari karena adanya pengawasan dari petugas PKH, berupa sanksi pemotongan uang dari PKH (Program Keluarga Harapan) dengan di keluarkan dari anggota PKH bagi yang tidak membawa anaknya untuk di imunisasi, juga karena mereka tidak mengerti manfaat dari imunisasi sejak dini” (Ww. R.L. 10- 6- 2013).

Hasil wawancara di atas menunjukkan adanya respon dari orang tua bayi membawa anaknya ke Posyandu untuk di imunisasi, walaupun ada sebagian kecil orang tua yang tidak memahami pentingnya imunisasi dini sehingga banyak masyarakat datang pada waktunya, dan pada dasarnya sebagian besar pula orang tua

(10)

balita membawa anaknya ke Posyandu hanya karena adanya pengawasan berupa pengisian daftar hadir PKH (Program Keluarga Harapan), kalau tidak hadir biaya dari PKH berupa uang akan di kurangi tiap balita.

4. Peningkatan Gizi

Hasil wawancara dengan Ketua Pokja IV PKK:

Pertanyaan ke 7 “Apakah di Posyandu ada pelayanan pendidikan gizi pada masyarakat, serta pemberian makanan tambahan atau bergizi kepada anak balita dan ibu hamil/menyusui, berikut jawaban informan:

“Pelayanan pendidikan gizi pada masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, bayi/balita dan PUS, jarang sekali ada, secara umum ke masyarakat belum pernah. Dan pemberian makanan tambahan biasanya satu tahun satu kali, berbentuk bubur kacang hijau, dan Biskuit MP-ASI, namun untuk tahun 2013 ini pemberian makanan tambahan belum ada dari Puskesmas” (Ww. HY. 11- 6- 2013).

Jawaban berbeda tapi tujuannya sama dari orang tua balita:

“Untuk pendidikan gizi bagi masyarakat khususnya para sasaran Posyandu, Kepala Puskesmas sudah menjanjikan tahun 2013 ini akan ada sosialisasi tentang kesehatan masyarakat, karena banyak kesibukan, kepala Puskesmas tidak jadi datang. Dan untuk makanan tambahan tahun 2012 kemarin ada bubur kacang hijau (Sorba) dan Biskuit MP-ASI, tahun 2013 ini belum ada makanan tambahan” (Ww. SK. 11- 6- 2013).

Jawaban di ungkapkan oleh tokoh masyarakat :

“Setiap masyarakat datang berobat atau memeriksakan kesehatan, selalu di berikan penyuluhan/pendidikan gizi, walaupun tidak optimal, dan untuk pemberian makanan tambahan setahun sekali, ini sangat memperhatinkan, ini akan kami bahas di tingkat Puskesmas/desa bagaimana jalan keluarnya dari masalah ini” (Ww. RL. 11- 6- 2013).

Hasil dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan gizi kepada masyarakat dan pemberian makanan bergizi belum jalan dengan baik. Pertanyaan ke 8 “Bagaimana cara kader Posyandu dalam memberikan kapsul vitamin A kepada anak balita, berikut jawaban dari ketiga informan:

(11)

“Menurut saya pemberian vitamin A oleh kader Posyandu pada balita sudah ada tapi selalu dibimbing oleh petugas kesehatan, mengingat selalu ada pergantian kader Posyandu, karena faktor insentif mereka minim dan diterimakan tiap triwulan” (Ww. HY. 11- 6- 2013).

Jawaban beda tapi tujuannya sama diungkapkan oleh orang tua balita bahwa:

“Biasanya kader Posyandu dalam memberikan vitamin A pada balita selalu ada petunjuk dari petugas kesehatan karena pemberian vitamin A itu sesuai usia balita, warna biru bagi usia 6-11 bulan,1-5 tahun warna merah dalam setahun 2 kali di berikan yaitu bulan Februari dan bulan Agustus” (Ww. SK. 11- 6- 2013).

Jawaban beda tapi tujuannya sama di ungkapkan tokoh masyarakat bahwa:

“Pemberian vitamin A kepada balita memang sudah ada karena hal itu yang praktis di berikan oleh kader namun ada petunjuk dari petugas kesehatan dan tidak semua kader ditugaskan untuk memberikan vitamin A mengingat ada kader yang masih baru bertugas” (Ww. RL. 11- 6- 2013).

Hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa kader Posyandu dalam pemberian vitamin A pada balita didampingi oleh petugas kesehatan mengingat selalu ada pergantian kader Posyandu.

5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare.

Terkait dengan indikator pencegahan dan penanggulangan Diare, untuk pencegahan melalui program PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat), dan penanggulangan melalui penyediaan oralit di Puskesmas.

Pertanyaan ke 9 “Apakah ada kegiatan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masyarakat, dan bagaimana cara-cara kader Posyandu maupun pemerintah desa Butu dalam memberikan penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat, telah di dapat hasil wawancara ke tiga informan penelitian sebagai berikut:

Jawaban di peroleh dari Ketua Pokja IV PKK :

“Kegiatan penyuluhan perilaku hidup bersih dan bersih (PHBS) pernah kami lakukan pada tahun 2008, sudah lama sekali, kegiatan penyuluhan tersebut tidak terorganisir dengan baik, hanya di lakukan dari door to door, untuk tahun-tahun berikutnya sudah tidak ada lagi, namun pada tahun 2012 sudah

(12)

ada sosialisasi dari mahasiswa KKS dari jurusan Kesehatan Masyarakat dan di mediasi oleh pemerintah desa Butu” (Ww. HY. 12- 6- 2013).

Jawaban berbeda tapi tujuannya sama dari orang tua balita :

“Penyuluhan kepada masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sudah ada dari mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat yang KKS tahun 2012, cuman pada saat itu kami warga desa Butu menjalankannya, namun saya melihat tetap masih banyak warga yang tidak menjalankan PHBS ini, contohnya rumah saya banyak berserakan sampah, disebabkan aliran air kolam dari tetangga, tersumbat di depan halaman rumah, saya cape untuk membersihkan sampah tiap hari, saya tidak punya tempat pembuangan sampah, mengingat saya tidak punya tanah untuk membuat lubang sampah di belakang rumah” (Ww. SK. 12- 6- 2013).

Jawaban diungkapkan oleh tokoh masyarakat bahwa:

“Menurut saya pemerintah desa Butu telah berupaya memaksimalkan penyuluhan perilaku bersih dan sehat pada masyarakat, melalui berbagai program P2WKSS (Peranan Program Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera). Dan tahun kemarin ada mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat turut memprogramkan Kegiatan PHBS ini, dengan berbagai cara melalui sosialisasi tentang manfaat PHBS sekaligus penyuluhan secara door to door, namun detik ini sebagian masyarakat desa Butu belum optimal melaksanakan PHBS contohnya banyak masyarakat membuang sampah di sembarangan tempat, tidak ada SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah), dan tempat pembuangan air besar dll, khususnya yng tinggal di ujung dusun, namun kami berharap adanya program P2WKSS akan merubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat desa Butu” (Ww. RL. 12- 6- 2013).

Pertanyaan ke 10 “Apakah dengan program Posyandu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam hal hidup perilaku bersih dan sehat? Hasil wawancara di peroleh jawaban dari ke tiga informan penelitian sebagai berikut:

Jawaban diperoleh dari Ketua Pokja IV PKK :

“Menurut saya dengan adanya program Posyandu ini mulai ada kesadaran masyarakat dalam hal hidup perilaku bersih dan sehat, walaupun belum optimal karena sebagian masyarakat dalam hal penanganan sampah masih memaki sistem lama, yaitu rumputnya di kumpul di depan rumah kemudian di bakar, dan untuk SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) ini sebagian masyarakat belum ada, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, sudah ada namun pelaksanaanya belum tepat, biasanya mereka mencuci tangan tidak pakai sabun, untuk penyediaan oralit sudah ada di Puskesmas pembantu tempat pelaksanaan Posyandu, namun masyarakat lebih banyak mengkomsumsi obat warung jika sakit diare” (Ww. HY. 12- 6- 2013).

(13)

Jawaban berbeda tapi tujuannya sama diperoleh dari orang tua :

“Dengan adanya program PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat), mulai tahun 2013 sebagian masyarakat mulai memahami pentingnya PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat, terbukti tidak banyak lagi anak yang kudisan kulit, dan Diare, tidak seperti tahun-tahun kemarin” (Ww. SK. 12- 6- 2013).

Jawaban di peroleh dari tokoh masyarakat :

“Ada juga masyarakat yang tidak mau tahu tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat) ini, khususnya warga yang tinggal di ujung dusun, yang sebagian besar warga berpendidikan tidak tamat SD, dari segi kesehatan sangat memperhatinkan” (Ww. RL. 12- 6- 2013).

Hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, sebagian masyarakat belum menjalankan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) namun dengan adanya program P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Dan Sejahtera) yang di pusatkan di desa Butu tahun 2013 pada tanggal 28 November ini kami punya harapan besar dalam perubahan pola pikir dan pola perilaku untuk masyarakat desa Butu.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Analisis Data Hasil Wawancara

Posyandu merupakan wadah untuk mendapatkan pelayanan dasar kesehatan masyarakat yang tercantum pada lima program Posyandu yaitu:

1. Kesehatan ibu dan anak

(a) Ibu: Pemeliharaan kesehatan ibu di Posyandu, pemeriksaan kehamilan dan nifas, pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah, Imunisasi TT untuk ibu hamil.

(b) Pemberian Vitamin A: Pemberian vitamin A dosis tinggi pada bulan Februari dan Agustus. Akibat dari kurangnya vitamin A adalah menurunnya

(14)

daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Widiastuti: 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 95).

(c) Penimbangan Balita: Penimbangan balita dilakukan tiap bulan di Posyandu (Widiastuti: 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 95). Penimbangan secara rutin di Posyandu untuk pemantauan pertumbuhan dan mendeteksi sedini mungkin penyimpangan pertumbuhan balita. Dari penimbangan yang kemudian dicatat di KMS, dari data tersebut dapat diketahui status pertumbuhan balita (Widiastuti : 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 54) apabila penyelenggaraan Posyandu baik maka upaya untuk pemenuhan dasar pertumbuhan anak akan baik pula. (Widiastuti : 2006 dalam Dinas Kesehatan RI 2006).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan pada program kesehatan ibu dan anak yang di paparkan di atas, yang menyangkut pemeliharaan kesehatan ibu dan anak, seperti penimbangan bagi ibu hamil dan anak balita serta peyuluhan kesehatan dan pemberian makanan tambahan, pada hari H pelaksanaan, temuan di lapangan yang datang ke Posyandu untuk di timbang dapat dirinci sebagai berikut: dari jumlah ibu hamil ada 7 orang, yang aktif hanya 4 orang dan yang tidak aktif 3 orang sedangkan balita yang ada di desa Butu berjumlah 65 anak yang aktif ke Posyandu 40 orang atau yang tidak aktif 25 orang ini menunjukkan program kesehatan ibu dan anak belum optimal di laksanakan.

2. Keluarga Berencana

Pelayanan Keluarga Berencana berupa pelayanan kontrasepsi kondom, pil KB (Keluarga Berencana), implan, spiral dan suntik KB (Keluarga Berencana). Pada program KB (Keluarga Berencana) yang meliputi kegiatan penyuntikan KB

(15)

(Keluarga Berencana), pemberian Pil, pemasangan implan dan spiral. Temuan di lapangan pada program KB (Keluarga Berencana) dari 198 PUS (Pasangan Usia Subur) yang tidak ikut serta KB (Keluarga Berencana) sejumlah 122 orang dan yang aktif 76 orang, ini menunjukkan pelaksanaan program Paysandú pada kegiatan KB (Keluarga Berencana) belum berhasil.

3 Imunisasi

Di Posyandu balita akan mendapatkan layanan imunisasi. Macam imunisasi yang diberikan di Posyandu adalah :

(a) BCG untuk mencegah penyakit TBC.

(b) DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.

(c) Polio untuk mencegah penyakit kelumpuhan.

(d) Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning). (Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, 2011:9).

Temuan di lapangan dari balita yang di bawah <1 tahun sejumlah 13 anak, yang hadir dibawa orang tuanya untuk di imunisasi ada sejumlah 11 orang dan anak yang tidak di bawah orang tuanya untuk di imunisasi ada 2 orang, namun ini tidak satu ukuran berhasil atau tidaknya ini program karena sesuai temuan di lapangan faktornya adalah karena adanya pengawasan dari petugas PKH (Program Keluarga Harapan) sehingga mereka membawa anaknya ke posyandu.

(16)

Posyandu yang sasaran utamanya ibu dan balita, sangat tepat untuk meningkatkan gizi balita. Peningkatan gizi balita di Posyandu yang dilakukan oleh kader berupa memberikan penyuluhan tentang ASI, status gizi balita, MP-ASI, Imunisasi, Vitamin A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita (Widiastuti: 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 24). Temuan di lapangan menunjukkan bahwa dari kegiatan peningkatan gizi bagi ibu dan anak maupun masyarakat, ada beberapa kegiatan yang tidak optimal di laksanakan, yaitu: pendidikan gizi pada masyarakat yang berupa sosialisasi/ penyuluhan gizi, pemberian makanan tambahan atau MP-ASI (Makanan Pendamping- Air Susu Ibu). Hal ini butuh perhatian dari pemerintah desa Butu khususnya Ketua Pokja IV PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), dan instansi lainnya yang terkait dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

5. Pencegahan Dan Penanggulangan Diare

Penyediaan oralit di Posyandu (Widiastuti : 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 127). Melakukan rujukan pada penderita diare yang menunjukan tanda bahaya di Puskesmas. (Widiastuti : 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 129) Memberikan penyuluhan penanggulangan diare oleh kader Posyandu. (Widiastuti : 2006 dalam Dinas Kesehatan RI. 2006: 132).

Pencegahan diare di Posyandu dilakukan dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat). Di lapangan di temukan dari hasil wawancara dengan informan bahwa, pencegahan diare dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan setelah membuang air besar, belum terlaksana dengan baik, sedangkan untuk penanggulangan diare dilakukan dengan pemberian oralit oleh petugas kesehatan,

(17)

namun tidak semua masyarakat datang berobat, namun lebih mengandalkan obat di warung.

Gambar

Tabel  1.  Keadaan  anak-anak  dari  usia  0-5  tahun  di  desa  Butu  Kecamatan  Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango

Referensi

Dokumen terkait

Parameter konservasi tanah dan air untuk model arsitektur pohon Massart (Curah hujan, aliran batang, curahan tajuk, aliran permukaan dan erosi) di ekosistem PHBM

Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan olahraga adaptif pada cabang beladiri shorinji kempo untuk meningkatkan kepercayaan diri anak

Menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah merupakan salah satu stakeholder yang penting untuk diadakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Public Relations

Tentukan titik pusat dari jari-jari dari persamaan bola di bawah ini, serta gambarlah grafik persamaan bola tersebut menggunakan.. perangkat lunak mathematica atau

Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan dan implementasi Graphical User Interface (GUI) menggunakan Geany IDE untuk mempermudah user untuk melakukan pengambilan data

Tujuan penelitian untuk mengetahui asupan karbohidrat dan lemak dan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe II yang rawat jalan di

Dan manfaat praktis dari penelitian ini adalah hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak yang berkepentingan dalam hal ini LPD Di

Berdasarkan laporan moratorium Dinas Kehutanan Provinsi Jambi tahun 2009 lalu, Luas wilayah hutan di Kabupaten Muaro Jambi adalah seluas 136.976,70 Ha yang terdiri dari