• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi Vol. 2, No. 1 (JP2V) E-ISSN : P-ISSN :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi Vol. 2, No. 1 (JP2V) E-ISSN : P-ISSN :"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Copyright © Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Vokasi (JP2V)

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PPKn PADA MATERI MEMAHAMI KEDUDUKAN DAN FUNGSI PANCASILA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) KELAS VIII MTsN 5 PIDIE Nurjannah1

Diterima : 23 Januari 2021 Disetujui : 06 Februari 2021

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar PPKn pada materi kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia kelas VIII MTsN 5 Pidie. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTsN 5 Pidie. Jumlah siswa adalah 36 siswa dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 13 orang dan perempuan 23 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2019/2020 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari Juli 2019 sampai dengan September 2019 pada semester ganjil. Metodologi penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Teknik pengumpulan data yaitu mengumpulkan nilai tes yang dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran pada setiap siklus dengan menggunakan instrument soal (tes tertulis). Data observasi aktivitas siswa dilakukan dengan melihat keaktifan siswa proses pembelajaran. Data dianalisis dengan cara statistik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa pada kedua siklus tersebut, dari 68,75% (baik) meningkat menjadi 97,50% (sangat baik). Ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 44,44 % pada pra siklus meningkat menjadi 61,11% pada siklus I dan meningkat menjadi 88,89 % pada siklus II. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar PPKn pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila kelas VIII MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020. Kata Kunci: Hasil Belajar, Model Kooperatif Team Assisted Individualization (TAI), PPKn, Memahami

Kedudukan dan Fungsi Pancasila.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasana kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran.

Pembelajaran PPKn tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemprosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000).

Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada model pembelajaran yang melibatkan siswa secaraa langsung dalam pembelajaran. Adapun model yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama (Warsono dan Haryanto, 2012).

Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Melalui model pembelajaran kooperatif siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa lebih mudah

(2)

memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru, karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan”. (Wahyuni Sulaiman, 2001).

Mata pelajaran PPKn merupakan salah satu maa pelajaran yang diajarkan di MTsN 5 Pidie. Dalam proses pembelajaran PPKn diharapkan dapat membekali siswa dengan pengetahuan intelektual yang baik sehingga dapat diterapkan di lingkungan dengan sebagaimana mestinya. Adapun metode pmbelajaran yang digunakan guru di MTsN 5 Pidie sebenarnya sudah bervariasi seperti ceramah dan Tanya jawab. Akan tetapi umpan balik dari siswa masih kurang sehingga hasil belajar siswa kurang optimal. Apabila hal ini terus terjadi, maka tujuan pembelajaran tidak akan berjalan maksimal. Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti berupaya menemukan cara agar hasil belajar siswa sesuai dengan harapan.

Model pembelajaran kooperatif merupakan cara efektif yang bisa digunakan guru untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dilakukan secara berkelompok dengan teman sebaya. Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru, karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan”. (Wahyuni Sulaiman, 2001).

Salah satu model pembelajaran kooperatif untuk dapat mengatasi kesulitan belajar iswa seperti kenyataan di atas adalah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted

Individualization (TAI). Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)

merupakan model pembelajaran yang menempatkan peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 6 peserta didik) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi peserta didik yang memerlukannya (Suyitno, 2004).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Team

Assisted Individualization (TAI) ini dapat memberikan bantuan individual dalam kelompok dengan

karakteristik bahwa tanggung jawab belajar adalah pada peserta didik.

Materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila adalah materi yag diajarkan pada di kelas VIII pada semester satu. Dilihat dari nilai hasil belajar siswa pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila pada tahun sebelumnya, setelah dianalisis terdapat 20 siswa dari 36 siswa tidak mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Adapaun KKM pada mata pelajaran PPKn di MTsN 5 Pidie adalah 75.

Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran PPKn pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan aktiitas siswa.

1.2. Tujuan Penelitian

a) Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar PPKn siswa kelas VIII MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020.

b) Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar PPKn pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila siswa kelas VIII MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020.

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khususnya dapat tercapai (Djamarah, 2002). Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional khususnya, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diatas bisa disimpulkan pengertian hasil belajar adalah adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut melakukan kegiatan belajar dan pembelajaran serta bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh peserta didik. Fungsi penilaian hasil belajar ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar. Hasil belajar juga dapat dilihat melalui hasil tes formatif yang diberikan kepada siswa.

(3)

2.2. Hakikat Hasil Belajar

Dalam proses belajar mengajar siswa adalah yang menjadi fokus perhatian. Kegiatan yang dilakukan oleh guru tidak lain adalah untuk suatu upaya bagaimana lingkungan yang tercipta itu menyenangkan hati semua siswa dan dapat menggairahkan belajar siswa, itu berarti tidak ada seorang guru pun yang ingin agar siswanya tidak senang dan tidak bergairah dalam belajar, hal tersebut akan menggangu kelancaran kegiatan pengajaran.

Faktor yang menentukan dalam mencapai keberhasilan belajar yaitu keterampilan mengajar. Suprayekti (2006) mengemukakan bahwa “Keterampilan mengajar adalah sejumlah kompotensi yang menampilkan kinerja secara professional”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pola interaksi belajar mengajar dapat diwujudkan guru mengarah pada pencapaian ketuntasan belajar.

Agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar, tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip menggunakan variasi dalam mengajar. Menurut Djamarah (2002), Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar itu adalah sebagai berikut:

1) Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain itu juga ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Semua itu untuk mencapai tujuan belajar.

2) Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan sehingga,belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidah terganggu.

3) Penggunaan variasi benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru.

Hasil belajar siswa adalah tujuan akhir dari setiap pembelajaran. Hasil belajar yang tuntas adalah indikasi bahwa kegiatan pembelajaran telah berhasil dan materi telah dipahami oleh siswa dengan signifikan. Mukhtar (2007) mengemukakan bahwa, “Menilai hasil belajar menguji siswa sesuai dengan sasaran pembelajaran yaitu seberapa jauh siswa menguasai materi, memperagakan keterampilan dan menunjukkan sikapnya sesuai yang diharapkan.

2.3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe

Team Assisted Individualization (TAI) merupakan model pembelajaran yang menempatkan peserta didik

dalam kelompok-kelompok kecil (4 sampai 6 peserta didik) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi peserta didik yang memerlukannya (Suyitno, 2004).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Team Assisted Individualization (TAI) merupakan model pembelajaran peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil yang heterogen terdiri dari 4-5 kelompok dimana setiap siswa secara individual mengerjakan tugas individu dari materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok-kelompok dan semua anggota kelompok-kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

2.4. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Menurut Saminanto (2010), menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) adalah sebagai berikut:

a) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.

c) Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.

d) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.

e) Anggota kelompok menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.

(4)

f) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.

g) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.

h) Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

i) Kesimpulan dan penutup.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat membuat siswa lebih manarik mempelajari materi dan dapat mempercepat hubungan antara peserta didik dengan peserta didik dan peserta didik dengan guru. Karena dengan model pembelajaran tipe Team

Assisted Individualization (TAI), peserta didik tidak hanya dituntut pertanggungjawaban secara kelompok

tetapi juga pertanggungjawaban secara individu sehingga diharapkan peserta didik dapat memanfaatkan kelompok belajarnya untuk memperdalam materi yang sedang dipelajari agar dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal.

2.5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI).

Setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing masing. Menurut Shoimin (2013), Adapun kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted

Individualization (TAI) adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization.

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) adalah sebagai berikut:

1) Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalahnya. 2) Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan.

3) Adanya tanggungjawab dalam kelompok dalam menyelesaikan permasalahannya. 4) Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok

5) Mengurangi kecemasan (reduction of anxiety) 6) Menghilangkan perasaan “terisolasi” dan panic

7) Menggantikan bentuk persaingan (competirion) dengan saling kerjasama (cooperation). 8) Melibatkan siswa untuk aktif dalam proses belajar

9) Mereka dapat berdiskusi (discuss), berdebat (debate), atau menyampaikan gagasan, konsep, dan keahlian sampai benar-benar memahaminya.

10) Mereka memiliki rasa peduli (care), rasa tanggungjawab (take responsibility), terhadap teman lain dalam proses pembelajaran.

11) Mereka dapat belajar menghargai (learn appreciate) perbedaan etnik (ethnicity), perbedaan

tingkat kemampuan (performance level) dan cacat fisik (disability).

Berdasarkan pendapat diatas, dapat dijelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Team

Assisted Individualization (TAI) sangat bermanfaat untuk siswa, yang pada intinya dengan adanya model

pembelajaran ini akan membantu siswa lebih mudah untuk memahami materi pembelajaran karena dalam model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) siswa dituntut untuk lebih aktif dalam belajar. Selain itu dalam model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) akan membuat siswa memiliki kepedulian yang lebih terhadap orang lain, karena dalam model pembelajaran ini dituntut adanya kerjasama dengan anggota kelompok, saling menghargai perbedaan dan saling membantu apabila ada teman dalam satu kelompok kesulitan dalam memahami materi pembelajaran.

b. Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Kelemahan model model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) adalah sebagai berikut:

1) Tidak ada persaingan kelompok

2) Siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.

3) Terhambatnya cara berpikir siswa yang mempunyai kemampuan lebih terhadap siswa yang kurang.

4) Memerlukan periode lama

(5)

6) Bila kerjasama tidak dapat dilaksanakan dengan baik yang akan bekerja hanayalah beberapa murid yang pintar dan yang aktif saja.

7) Siswa yang pintar akan merasa keberatan karena nilai yang diperoleh ditentukan oleh prestasi atau pencapaian kelompok.

Berdasarkan uraian diatas, kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted

Individualization (TAI) dapat dijelaskan bahwa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) ini dapat membuat siswa yang kurang pandai bergantung pada siswa

yang pandai dalam satu kelompok sehingga mereka menjadi malas belajar. Hal ini juga dapat dirasakan berat oleh siswa yang pandai karena memiliki tanggungjawab yang besar untuk membantu temannya dalam satu kelompok yang kurang memahami materi karena keberhasilan dalam model pembelajaran ini dilihat dari pencapaian dalam satu kelompok.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilaksanakan dalam proses belalar mengajar, oleh sebab itu metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), dengan rancangan model siklus yang terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di MTsN 5 Pidie pada tahun pelajaran 2019/2020 dalam kurun waktu 3 bulan yaitu dari bulan Juli s.d September 2019 pada semester ganjil. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VIII MTsN 5 Pidie. Dengan jumlah 36 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan.

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal

Sebelum melakukan penelitian, guru memberikan pra siklus kepada siswa. pra siklus ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team

Assisted Individualization (TAI) di kelas VIII MTsN 5 Pidie dalam pembelajaran. Hasil pra siklus siswa

sebelum penerapan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekap Hasil Nilai Tes Pra Siklus

No. Nama Siswa KKM Nilai

Ketuntasan Tuntas Tidak Tuntas 1 Adelia Salsabila 75 60 - √ 2 Annisa Zakia 75 80 √ - 3 Audia Sarika 75 80 √ - 4 Aulia Nafsira 75 30 - √ 5 Azwa Nasyifa 75 80 √ - 6 Dian Ramadani 75 80 √ -

7 Fijal Murfid Al Aqil 75 90 √ -

8 Fina Zahara 75 60 - √ 9 Haniah Jamil 75 80 √ - 10 Havivil 75 90 √ - 11 Keysa Syahira 75 30 - √ 12 M. Zikral Bunayya 75 60 - √ 13 Manda Zasqya 75 50 - √ 14 Mikial 75 80 √ - 15 Mirsal 75 40 - √ 16 Muhammad Alif 75 80 √ - 17 Muhammad Hafizh 75 80 √ - 18 Muhammad Nabil 75 30 - √ 19 Muhammad Rafi 75 80 √  - 20 M. Riski Aulia 75 60 - √ 21 Muzammil Balyan 75 90 √ -

(6)

22 Nadia Rizkina 75 60 - √ 23 Nafis Syahril 75 50 - √ 24 Nia Ramadhani 75 50 - √ 25 Qurrata „Ayun 75 40 - √ 26 Ramadhana 75 30 - √ 27 Rawiyatul Hidayat 75 50 - √ 28 Rika Naisa 75 50 - √ 29 Salza Salsabila 75 50 -

30 Siti Zalikha Fartia 75 80 √ -

31 Sri Maqfirah 75 70 - √ 32 Sui Ramadhani 75 90 √ - 33 Syathira Aurelya E. 75 80 √ - 34 Vivi Sakira 75 80 √ - 35 Zahratul Muhairaq 75 40 - √ 36 Zam Harira 75 60 - Jumlah 2290 16 20 Rata-rata 63,61 Persentase (%) 44,44% 55,56%

Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 1, hasil pra siklus siswa yang dilakukan pada saat pra penelitian memperoleh persentase ketuntasan belajar sebesar 44,44% (16 siswa yang mencapai nilai KKM=75). Nilai terendah pada pra siklus adalah 30 dan nilai tertinggi adalah 90. Nilai rata-rata pada pra siklus adalah 63,61. Setelah melakukan pra siklus maka peneliti akan melanjutkan penelitian pada siklus I.

4.2. Hasil Penelitian Siklus I

Penilaian pada penelitian ini dilakukan malalui tes hasil belajar dan dilaksanakan setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila. Secara rinci hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Hasil Tes Belajar Siswa Siklus I

No. Nama Siswa KKM Nilai

Ketuntasan Tuntas Tidak Tuntas 1 Adelia Salsabila 75 70 - √ 2 Annisa Zakia 75 100 √ - 3 Audia Sarika 75 80 √ - 4 Aulia Nafsira 75 60 - √ 5 Azwa Nasyifa 75 90 √ - 6 Dian Ramadani 75 90 √ -

7 Fijal Murfid Al Aqil 75 100 √ -

8 Fina Zahara 75 70 - √ 9 Haniah Jamil 75 80 √ - 10 Havivil 75 90 √ - 11 Keysa Syahira 75 60 - √ 12 M. Zikral Bunayya 75 80 - 13 Manda Zasqya 75 70 - √ 14 Mikial 75 80 √ - 15 Mirsal 75 60 - √ 16 Muhammad Alif 75 80 √ - 17 Muhammad Hafizh 75 90 √ - 18 Muhammad Nabil 75 60 - √ 19 Muhammad Rafi 75 80 √  -

(7)

20 M. Riski Aulia 75 70 - √ 21 Muzammil Balyan 75 90 √ - 22 Nadia Rizkina 75 80 √ - 23 Nafis Syahril 75 70 - √ 24 Nia Ramadhani 75 60 - √ 25 Qurrata „Ayun 75 80 √ - 26 Ramadhana 75 80 √ - 27 Rawiyatul Hidayat 75 60 - √ 28 Rika Naisa 75 70 - √ 29 Salza Salsabila 75 60 -

30 Siti Zalikha Fartia 75 80 √ -

31 Sri Maqfirah 75 80 - 32 Sui Ramadhani 75 80 √ - 33 Syathira Aurelya E. 75 80 √ - 34 Vivi Sakira 75 80 √ - 35 Zahratul Muhairaq 75 60 - √ 36 Zam Harira 75 80 √ - Jumlah 2750 22 14 Rata-rata 76,39 Persentase (%) 61,11% 38,89%

Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2019

Berdasarkan tabel 2 di atas, maka dapat direkapitulasi hasil pembelajaran PPKn menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) di kelas VIII MTsN 5 Pidie. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini:

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I Jumlah Siswa Jumlah Nilai Nilai Rata-rata Jumlah Siswa Tuntas Jumlah Siswa Tidak Tuntas Persentase Ketuntasan Klasikal Ketercapaian Klasikal (85%) 36 2750 76,39 22 14 61,11% Belum Tuntas

Sumber: Hasil penelitian Tahun 2019

Dari analisis terhadap tes siklus I di atas, maka dapat dilihat bahwa terdapat 22 orang siswa yang nilainya telah mencapai KKM Individual, dengan kata lain terdapat 22 orang siswa (61,11%) yang telah tuntas belajar, sedangkan 14 orang siswa lainnya atau 38,89% memperoleh nilai pada siklus I masih di bawah KKM. Pencapaian indikator ketuntasan yang diharapkan adalah (KKM ≥ 85%), dan yang didapatkan dari hasil persentase hanya 61,11% dan ini dikatakan belum tuntas.

4.3. Hasil Penelitian Siklus II

Penilaian pada penelitian ini dilakukan malalui tes hasil belajar dan dilaksanakan setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila. Berikut hasil tes pada siklus II.

Tabel 4. Hasil Tes Belajar Siswa Siklus II

No. Nama Siswa KKM Nilai

Ketuntasan Tuntas Tidak Tuntas 1 Adelia Salsabila 75 90 - 2 Annisa Zakia 75 100 √ - 3 Audia Sarika 75 80 √ - 4 Aulia Nafsira 75 80 √ - 5 Azwa Nasyifa 75 100 √ - 6 Dian Ramadani 75 90 √ -

(8)

7 Fijal Murfid Al Aqil 75 100 √ - 8 Fina Zahara 75 90 - 9 Haniah Jamil 75 90 √ - 10 Havivil 75 90 √ - 11 Keysa Syahira 75 70 - √ 12 M. Zikral Bunayya 75 80 - 13 Manda Zasqya 75 90 - 14 Mikial 75 90 √ - 15 Mirsal 75 60 - √ 16 Muhammad Alif 75 80 √ - 17 Muhammad Hafizh 75 100 √ - 18 Muhammad Nabil 75 80 - 19 Muhammad Rafi 75 90 √  - 20 M. Riski Aulia 75 90 - 21 Muzammil Balyan 75 90 √ - 22 Nadia Rizkina 75 90 √ - 23 Nafis Syahril 75 80 √ - 24 Nia Ramadhani 75 80 √ - 25 Qurrata „Ayun 75 80 √ - 26 Ramadhana 75 90 √ - 27 Rawiyatul Hidayat 75 60 - √ 28 Rika Naisa 75 90 √ - 29 Salza Salsabila 75 60 -

30 Siti Zalikha Fartia 75 80 √ -

31 Sri Maqfirah 75 100 - 32 Sui Ramadhani 75 90 √ - 33 Syathira Aurelya E. 75 100 √ - 34 Vivi Sakira 75 100 √ - 35 Zahratul Muhairaq 75 80 √ - 36 Zam Harira 75 90 √ - Jumlah 3100 32 4 Rata-rata 86,11 Persentase (%) 88,89% 11,11%

Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4 di atas, maka dapat direkapitulasi hasil pembelajaran PPKn menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) di kelas VIII MTsN 5 Pidie. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini:

Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II Jumlah Siswa Jumlah Nilai Nilai Rata-rata Jumlah Siswa Tuntas Jumlah Siswa Tidak Tuntas Persentase Ketuntasan Klasikal Ketercapaian Klasikal (85%) 36 3100 86,11 32 4 88,89% Tuntas

Sumber Hasil penelitian Tahun 2019

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, maka dapat dilihat bahwa rata-rata hasil tes siklus II adalah 86,11. Pada siklus II hasil belajar siswa mangalami peningkatan yaitu terdapat 32 orang siswa yang nilainya telah mencapai KKM Individual, dengan kata lain terdapat 32 orang siswa (88,89%) yang telah tuntas belajar, sedangkan 4 orang siswa lainnya atau 11,11% memperoleh nilai pada siklus II masih di bawah KKM. Pencapaian indikator ketuntasan yang diharapkan adalah (KKM ≥ 85%), dan yang didapatkan dari hasil persentase 88,89 % dan ini dikatakan tuntas.

(9)

4.4. Pembahasan Perbandingan Antar Siklus

Pembelajaran PPKn dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted

Individualization (TAI) pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila di kelas VIII telah

mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang tuntas secara individu pada siklus I sebanyak 22 orang siswa dengan nilai rata-rata 76,39. Berdasarkan tabel 4.3, terdapat 22 orang siswa (61,11%) yang telah tuntas belajar secara klasikal, sedangkan 14 orang siswa lainnya atau 38,89% memperoleh nilai masih di bawah KKM. Maka dapat disimpulkan bahwa siklus I tes hasil belajar siswa belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan sebanyak 85% sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan pada siklus.

Setelah melakukan berbagai perbaikan pada siklus II, hasil belajar siswa meningkat dari 22 orang yang tuntas menjadi 32 orang dan nilai rata-rata siswa juga mengalami peningkatan dari 76,39 menjadi 86,11 pada siklus II. Secara klasikal, terdapat 32 orang siswa (88,89%) yang telah tuntas belajar, sedangkan 4 orang siswa lainnya atau 11,11% memperoleh nilai pada siklus II masih di bawah KKM. Pencapaian indikator ketuntasan yang diharapkan adalah (KKM ≥ 85%) dan yang didapatkan dari hasil persentase 88,89% dan ini dikatakan tuntas.

Untuk melihat peningkatan hasil belajar dari siklus I sampai siklus II dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

Gambar 1.

Persentase Hasil Belajar Siswa Sumber: Hasil Penelitian, 2019

Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Team

Assisted Individualization (TAI) pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila menimbulkan

dampak positif terhadap hasil belajar. Hal ini dapat dilihat persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 61,11%, meningkat pada siklus II sebesar 88,89%. Maka dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn kelas VIII MTsN 5 Pidie.

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar PPKn pada materi memahami kedudukan dan fungsi pancasila di kelas VIII MTsN 5 Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020. Hal ini dapat dilihat persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 61,11%, meningkat pada siklus II sebesar 88,89%.

(10)

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan saran yang ingin disampaikan adalah:

1)

Diharapkan kepada guru agar menggunakan model dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan

materi yang akan diajarkan agar siswa dapat lebih aktif dan lebih menyukai materi yang dipelajari sehingga bisa meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

2)

Perlu adanya pengarahan dari kepala sekolah kepada guru-guru bidang studi yang lain, untuk

menerapkan penggunaan sebuah model dalam pembelajaran yang digunakan sesuai dengan bahan ajar untuk menunjang pemahaman siswa menjadi lebih baik terhadap materi yang diajarkan.

6. DAFTAR PUSTAKA

[1] Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta [2] Hartoyo. 2000. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha. Nasional. [3] Saminanto. 2010. Model-Model Pembelajaran. Bandung: PT. Refika.

[4] Shoimin. 2013. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

[5] Suprayekti. 2006. Strategi Penyampaian Pembelajaran Kooperatif. Jurnal Pendidikan. [6] Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran. Semarang: FMIPA UNNES [7] Sulaiman,Wahyuni. 2001. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar. Bandung: Sinar Baru

Algesindon

[8] Warsono dan Haryanto. 2012. Pembelajaran Aktif Teori dan Assesmen. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gambar

Tabel 1. Rekap Hasil Nilai Tes Pra Siklus
Tabel 4. Hasil Tes Belajar Siswa Siklus II
Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II  Jumlah  Siswa  Jumlah Nilai  Nilai  Rata-rata  Jumlah Siswa  Tuntas   Jumlah Siswa Tidak  Tuntas  Persentase  Ketuntasan Klasikal   Ketercapaian Klasikal (85%)  36  3100  86,11  32  4  88,89%  Tuntas

Referensi

Dokumen terkait

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization)

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matematika Materi Pecahan Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) Pada Siswa

terhadap pembelajaran dengan model kooperatif untuk tipe Team Assisted

Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dikatakan berhasil meningkatkan kreativitas belajar siswa jika pada akhir siklus,

Berdasarkan hasil penelitian skripsi yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI ( Team.. Assisted Individualization ) Untuk Meningkatkan

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran Kooperatif tipe TAI ( Team Assisted Individualization ) menggunakan media maket energi alternatif

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) Untuk Meningkatkan Hasil

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Kemampuan awal siswa sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe