*Seminar Logistik Kemanusiaan Terintegrasi dalam Penanganan Bencana Padang, Hotel Grand Inna Muara, Padang 5 Juni 2015 oleh Kementerian Koordinator Perekonomian RI
1 of 6
PENGEMBANGAN MODEL LOGISTIK KEMANUSIAAN TERINTEGRASI: LESSON LEARNED PENANGANAN
BENCANA SUMATERA BARAT* Rika Ampuh Hadiguna
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Andalas Kampus Limau Manih, Padang 25163, Sumatera Barat
email: [email protected] Abstrak
Kompleksitas masalah dalam logistik kemanusiaan atau kebencanaan sudah dipahami banyak pihak. Namun demikian, permasalahan logistik akan menjadi kunci penting dalam penanganan bencana sehingga perlu dirumuskan faktor-faktor sukses dalam logistik kebencanaan yang terintegrasi. Makalah ini bertujuan membahas kerangka kerja dan faktor-faktor sukses dalam logistik kemanusiaan terintegrasi. Sebagai pemikiran konseptual yang dirumuskan melalui studi literatur, pendekatan pemikiran dilakukan berdasarkan data dan informasi melalui penelusuran berita-berita, hasil-hasil penelitian maupun sumber sekunder lainnya. Ada empat faktor penting dalam logistik kemanusiaan terintegrasi, yaitu penguatan institusi logistik kebencanaan, pemanfaatan sistem penunjang keputusan, perumusan indikator-indikator kinerja dan cetak biru sistem logistik kemanusiaan.
Kata kunci: Logistik kemanusiaan, terintegrasi, konspetual, faktor-faktor sukses
Pendahuluan
Sumatera Barat adalah salah satu daerah yang menghadapi tantangan bencana alam khususnya gempa dan tsunami. Bencana gempa pada 30 September 2009 merupakan titik balik kesadaran sepenuhnya masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghadapi ancaman gempa atau disusul tsunami secara cerdas, sistematis dan terorganisir. Sikap ini dapat dimaklumi karena jumlah korban ketika gempa terjadi sebagaimana publikasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat diperkirakan sebanyak 1.197 orang meninggal, 1.798 orang luka/sakit dan 6.554 orang mengungsi. Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman adalah wilayah yang mengalami banyak korban meninggal. Korban luka/sakit banyak ditemukan di Kota Padang sekitar 1.202 orang. Apabila diperhatikan dengan seksama, bencana gempa tersebut mengakibatkan korban luka/sakit dan
2 of 6 mengungsi sangat mendominasi yaitu sekitar 88,4% sehingga logistik kebencanaan sangat diharapkan peranannya.
Logistik kemanusiaan (humatarian logistics) atau logistik kebencanaan (disaster logistics) merupakan bagian dari kajian manajemen logistik dan rantai pasok. Karakteristik dari logistik kemanusiaan sudah diuraikan oleh Hadiguna dan Wibowo (2012), Holguin-Veras et. al. (2012) dan Roh et. al. (2013). Berbagai faktor yang dijadikan dasar penjelasan perbedaan antara logistik kemanusiaan dengan logistik komersial mengerucut pada tiga isu utama yaitu fungsi tujuan, permintaan dan pendistribusian. Sebuah sistem logistik kemanusiaan atau kebencanaan diharapkan memperhatikan tiga isu utama ini. Logistik kebencanaan harus menghadapi situasi yaitu volume barang skala besar yang harus dikirimkan, rentang waktu sangat singkat untuk segera melakukan pengiriman dan ketidakpastian terhadap jenis-jenis kebutuhan (Holguin-Veras et. al. 2007). Menurut Mitsotakis dan Kassaras (2010) respons pemberian bantuan harus diterima korban dalam 72 jam pertama setelah gempat terjadi dan 12 jam pertama merupakan masa kritikal yang disebut standard relief time (SRT). Pemerintah atau organisasi non-pemerintah harus secepatnya melakukan penilaian situasi dan mulai mengirimkan bantuan dari depot-depot lokal ke titik-titik permintaan. Hal ini menunjukan bahwa logistik kemanusiaan adalah sebuah masalah yang kompleks.
Kompleksitas dalam logistik kebencanaan sudah dipahami dengan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Banyak keputusan strategis dan taktis sudah dibuat di Sumatera Barat oleh pemerintah maupun masyarakat seperti penyusunan master plan, pembangunan shelter, pembangunan jalur evakuasi, latihan tanggap bencana, mitigasi bencana, sosialisasi kebencanaan, pembentukan organisasi siaga bencana dan lainnya. Namun demikian, permasalahan logistik akan menjadi kunci penting dalam penanganan bencana sehingga perlu dirumuskan faktor-faktor sukses dalam logistik kebencanaan yang terintegrasi. Makalah ini bertujuan membahas kerangka kerja dan faktor-faktor sukses dalam logistik kebencanaan terintegrasi. Makalah ini merupakan pemikiran konseptual yang dirumuskan melalui studi literatur. Data dan informasi diperoleh melalui penelusuran berita-berita, hasil-hasil penelitian maupun sumber sekunder lainnya.
Konsep Logistik Kemanusiaan
Pengertian logistik kemanusiaan tidak terlepas dari definisi manajemen logistik komersial. Perbedaannya muncul pada tata kelola yaitu logistik kemanusiaan harus responsif, pengiriman bantuan dalam jumlah yang mencukupi dan kesamaan perlakuan kepada para pengungsi tanpa mengabaikan minimisasi biaya (Ahmadi et. al., 2015). Pengertian logistik kemanusiaan menurut Thomas dan Kopczak (2005) adalah kegiatan-kegiatan
3 of 6 yang meliputi perencanaan, implementasi dan pengendalian biaya aliran dan penyimpanan barang secara efisien dan efektif dari titik asal ke titik konsumsi dengan tujuan mengurangi bertambahnya korban bencana yang sangat rentan. Van Wassenhove (2006) secara ringkas menyebutkan bahwa logistik adalah proses dan sistem yang diperlukan dalam mobilisasi orang, sumberdaya, ketrampilan dan pengetahuan untuk membantu orang-orang yang rentan
akibat gempa. Menurut Beamon (2004) respons terhadap kejadian bencana
terdiri dari empat tahapan yaitu penilaian, deploymet, pemulihan dan rekonfigurasi. Setiap tahapan mempunyai kebutuhan dan obyektif masing-masing.
Banyak studi logistik kemanusiaan telah dilakukan oleh para peneliti dengan fokus yang beragam. Hadi dan Hadiguna (2015) mengusulkan peran masjid sebagai bagian dari sistem logistik bencana khusus sebagai fasilitas atau lokasi pengungsian atau pendukung kegiatan logistik kebencanan. Hadiguna et. al. (2014) membangun perangkat lunak untuk penilaian kelayakan sebuah fasilitas publik yang akan difungsikan sebagai lokasi pengungsian bagi para korban bencana. Fasilitas publik ini diharapkan dapat dihuni para korban dalam waktu beberapa hari apabila terjadi bencana gempa dan tsunami yang merusak sebagian besar tempat tinggal masyarakat. Kemampuan perangkat lunak ini adalah multi person multi criteria decision making dan berbasis website. Hadiguna dan Elisa (2014) merumuskan indikator-indikator kinerja untuk logistik kebencanaan untuk fase tanggap darurat dan pemulihan. Hadiguna dan Wibowo (2012) mengevaluasi logistik bantuan bencana saat terjadinya gempa di Kota Padang tahun 2009. Teknik yang digunakan adalah sistem dinamis dengan menganalisis berbagai skenario pendistribusian bantuan khususnya makanan. Hadiguna (2011) membahas secara konseptual model persediaan untuk mendukung logistik bencana menggunakan teknik simulasi. Beberapa hasil kajian tersebut menunjukan bahwa logistik kemanusiaan mempunyai kompleksitas permasalahan karena dihadapkan pada ketidakpastian, keterlibatan banyak pengambil keputusan ataupun tingkat keparahan dari akibat bencana.
Usulan Konsep Integrasi
Dalam penangan kebencanaan, ada tiga kegiatan utama yang sering muncul, yaitu tanggap darurat, rekonstruksi dan rehabilitasi. Fase tanggap darurat sering memunculkan banyak isu. Petit dan Beresford (2012) menyebutkan bahwa faktor-faktor sukses kritikal dari logistik kemanusiaan terintegrasi adalah perencanaan strategis (strategic planning), manajemen persediaan (inventory management)
perencanaan transportasi (transport planning), perencanaan kapasitas (capacity planning), manajemen informasi (information management), manajemen sumberdaya manusia (human resource management), perbaikan terus menerus (continuous improvement), kerjasama (collaboration),
4 of 6 pemanfaatan teknologi (technology utilization). Keterkaitan antara faktor-faktor sukses kritikal dan fase-fase penanganan kebencanaan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Keterkaitan antara faktor-faktor sukses kritikal dan fase-fase penanganan kebencanaan
(Sumber: http://www.csafeglobal.com/humanitarian-logistics)
Ada empat rekomendasi yang patut dipertimbangkan dalam membangun logistik kemanusiaan terintegrasi. Pertama adalah memperkuat peran dan fungsi dari fasilitas publik seperti masjid sebagai institusi logistik kemanusiaan. Di Kota Padang, masjid merupakan fasilitas ibadah yang menjadi fasilitas yang dianggap suci sehingga digunakan bukan hanya tempat beribadah sholat berjamaa tetapi pertemuan masyarakat dan tempat belajar keagamaan. Pengelolaannya juga terorganisir dengan baik yang ditunjukan adanya struktur organisasi, pendanaan dan kegiatan rutin. Masjid mempunyai fasilitas yang sangat memadai sehingga patut dipertimbangkan sebagai tempat pengungsian atau tempat penyimpanan sementara bahan atau barang bantuan kebencanaan. Dua alternatif ini dapat disesuaikan dengan tingkat bencana yang terjadi, lokasi masjid, kapasitas dan konstruksi masjid dan organisasi pengelolaan masjid.
Ciri dari kebencanaan adalah banyaknya pengambil keputusan yang terlibat. Hal ini ditunjukan dari keterlibatan banyak instansi pemerintah dengan peran dan fungsinya masing-masing disaat normal tetapi ketika bencana terjadi terhambat dengan regulasi yang harus ditaati. Situasi ini dapat diatasi dengan memasukan peran mesin sebagai tools yang memfasilitasi terjadinya kompromi antar ratusan pengambil keputusan tersebut. Rekomendasi ini adalah menempatkan peran sistem penunjang keputusan sebagai alat bantu pengambilan keputusan. Kepentingan dari semua pihak dapat diformulasikan sebagai kriteria-kriteria dan banyak pihak dapat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Sistem penunjang keputusan seperti ini mengusung konsep multi person multi criteria decision making.
5 of 6 Rekomendasi ketiga berkaitan dengan kebijakan dan operasional. Sebagaimana telah disebutkan diatas, ada dua faktor sukses kritikal yang mendesak diimplementasikan yaitu perencanaan strategis dan perbaikan terus menerus. Perencanaan strategis terkait dengan regulasi sedangkan perbaikan terus menerus terkait dengan standard operating procedur. Kedua faktor ini membutuhkan indikator-indikator kinerja kunci. Indikator kinerja akan membantu dalam perencanaan, pengendalian dan perbaikan. Indikator kinerja juga bermanfaat untuk menemu kenali koordinasi antar instansi yang efektif sehingga logistik kebencanaan dapat beroperasi dengan efisien.
Rekomendasi terakhir adalah mempertimbangkan cetak biru sistem logistik kemanusiaan sebagai bagian dari cetak biru sistem logistik nasional. Pemikiran ini tidak terlepas dari perencanaan strategi manajemen bencana. Sistem logistik nasional telah memuat banyak hal yang berorientasi untuk mendukung kegiatan bisnis nasional. Implementasinya adalah investasi sektor infrastruktur dalam triliyunan rupiah. Apabila pembangunan infrastruktur dapat memasukan faktor kebencanaan maka logistik kemanusiaan dapat terfasilitasi dengan baik.
Kesimpulan
Ada empat pemikiran yang patut diperhatikan dalam membangun logistik kemanusiaan terintegrasi, yaitu penguatan institusi logistik kebencanaan, pemanfaatan sistem penunjang keputusan, perumusan indikator-indikator kinerja dan cetak biru sistem logistik kemanusiaan. Keberhasilan penanganan korban bencana ditentukan oleh strategi yang tepat baik jangka panjang, menengah dan pendek. Keempat pemikiran tersebut menjadi rekomendasi
dalam pembangunan logistik kemanusiaan terintegrasi. Dalam
implementasinya, pembangunan infrastruktur melalui implementasi Sistem Logistik Nasional patut memasukan “isu logistik bencana” dalam realisasi berbagai proyek. Kemudian, pendidikan logistik bencana penting dilakukan sebagai Knowledge Management System dalam penanganan bencana secara umum.
Referensi
Ahmadi, M., Seifi, A., Tootooni, B. (2015). A Humanitarian Logistics Model for Disaster Relief Operation Considering Network Failure and Standard Relief Time: A Case Study on San Francisco District. Transportation
Research Part E, 75, 145–163
Beamon, B. (2004). Humanitarian Relief Chains: Issues and Challenges. The
34th International Conference on Computer and Industrial Engineering,
6 of 6 Hadi, W. Z., Hadiguna, R. A. (2015). Model Kebijakan Penetapan Institusi Masjid sebagai Shelter dalam Sistem Logistik Bencana di Kota Padang.
Jurnal Optimasi Sistem Industri, 14(1), 16–30
Hadiguna, R.A., Kamil I., Deliati, A. and Reed R. (2014). Implementing a Web-Based Decision Support System for Disaster Logistics: a Case Study of an Evacuation Location Assessment for Indonesia. International Journal of
Disaster Risk Reduction, 9, 38-47
Hadiguna, R. A., Elisa, W. (2014). Model Pengukuran Kinerja Logistik Bencana pada Fase Tanggap Darurat dan Pemulihan. Seminar Nasional Teknologi
Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, 4-5 Juni 2014, 0281-0285
Hadiguna, R. A., Wibowo, A. (2012). Simulasi Sistim Logistik Bantuan Bencana Gempa–Tsunami: Studi Kasus di Kota Padang. Jurnal Teknik Industri. 13(2), 116–125
Model Persediaan dalam Logistik Kemanusiaan: Sebuah Studi Awal. 1st
Workshop on Modelling System for Policy Development, Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Jakarta, 22 Oktober 2011
Holguin-Veras, J., Pérez, N., Ukkusuri, S., Wachtendorf, T., Brown, B. (2007).
Transportation Research Record: Journal of the Transportation Research Board 2022, 76-82
Holguin-Veras, J., Taniguchi, E., Ferreira, F., Jaller, M., Thompson, R. G., Imanishi, Y. (2012). The Tohoku Disaster: Preliminary Findings Concerning The Post Disaster Humanitarian Logistics Response. Annual
Meeting of Transportation Research Board
Mitsotakis, A., Kassaras, G. (2010). Managing Disaster in The Ionian Sea: Planning And Optimizing Logistics For Disaster Relief Operations For The Island of Kefalonia. DTIC Document.
Petit, S., Beresford, A. (2012). Critical Success Factors in the Supply of Humanitarian Aid. Proceeding of International HumLogWorkshop:
Performance Measurement in Humanitarian Logistics, Essen, 24 September 2012, 72-87
Roh, S-Y., Jang, H-M., Han, C-H. (2013). Warehouse Location Decision Factors in Humanitarian Relief Logistics. The Asian Journal of Shipping and
Logistics, 29(1), 103-120
Tabbara, L. N. (2008). Emergency Relief Logistics: Evaluation of Disaster Response Models Based on Asian Tsunami Logistics Response. Thesis. Oxford Brookes University.
Thomas, A., Kopczak, L. (2005). From Logistics to Supply Chain Management: The Path Forward in The Humanitarian Sector. White Paper, Fritz Institute, San Francisco, CA.
Van Wassenhove, L. N. (2006). Humanitarian Aid Logistics: Supply Chain Management In High Gear. Journal of the Operational Research Society, 57(5), 475–489.