• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksotika Suku Mentawai Dalam Fotografi Dokumenter

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Eksotika Suku Mentawai Dalam Fotografi Dokumenter"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

EKSOTIKA SUKU MENTAWAI

DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER

SKRIPSI

TUGAS AKHIR PENCIPTAAN SENI FOTOGRAFI

Rindha Mita Purwaningsih

NIM 1410037131

JURUSAN FOTOGRAFI

FAKULTAS SENI MEDIA REKAM

INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA

2018

(2)

EKSOTIKA SUKU MENTAWAI

DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER

SKRIPSI

TUGAS AKHIR PENCIPTAAN SENI FOTOGRAFI

untuk memenuhi persyaratan derajat sarjana Program Studi Fotografi

Rindha Mita Purwaningsih

NIM 1410037131

JURUSAN FOTOGRAFI

FAKULTAS SENI MEDIA REKAM

INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA

2018

(3)
(4)
(5)

Tugas Akhir Karya Seni ini dipersembahkan untuk: Kedua Orangtuaku tercinta yang selalu memberikan dukungan, semangat, motivasi dan doa yang tiada hentinya.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan karya fotografi Tugas Akhir ini. Selama menjalani pendidikan di Institut Seni Indonesia penulis banyak menemukan pengalaman dan banyak belajar dan menyelesaikan karya fotografi untuk Tugas Akhir di jurusan Fotografi, FSMR ISI Yogyakarta. Penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ayah Purnomo dan Ibu Parsih untuk segala kasih sayangnya, doa, dan kesabaran serta tak henti-hentinya memberikan semangat untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

2. Marsudi, S.Kar., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta.

3. Dr. Irwandi, M.Sn, Ketua Jurusan Fotografi ISI Yogyakarta.

4. Pamungkas Wahyu S. M.Sn., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Seni Media Rekam dan dosen pembimbing I yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan tugas akhir skripsi ini

5. Oscar Samaratungga SE., M.Sn., Sekretaris Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam dan dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama proses penyusunan penciptaan karya seni tugas akhir ini.

6. Drs. Risman Marah, M.Sn., selaku Cognate yang telah menguji dan memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

7. Tanto Harthoko, M.Sn., selaku dosen wali yang telah membimbing selama menjalani masa perkuliahan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

8. Seluruh dosen Jurusan Fotografi Fakultas Seni media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang telah membimbing dan memberi banyak ilmu selama masa perkuliahan.

9. Seluruh staff Jurusan Fotografi Fakultas Seni media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang telah banyak membantu selama perkuliahan.

(7)

10.Bapak Mateus Sabaggalet Kepala Desa Madobag Siberut Selatan yang telah mengizinkan pemotretan di dusun Buttui.

11.Aman Lau Lau, Aman Telepon, Aman Godai, Tetew, Baboy, Telepon, Yusman, Letik, Leai, Siruki, Bily, Linduan, sikaro, yang membantu proses untuk melakukan kegiatan proses pemotretan selama di Mentawai.

12.Untuk semua masyarakat dusun Buttui, Siberut Selatan Kepulauan Mentawai yang membantu dalam proses pemotretan, wawancara, dan kerjasamanya.

13.Alan Ridho Irelzanov dan Septa Rieldi yang telah membantu, meluangkan waktunya, dan menemani perjalanan penulis selama di Mentawai.

14.Maissy Audina, Ita Nur, Destine Ngestyas, Ramdhan Wibowo, Gilar Rakhmantyo, Imam Sudrajat, Imam Hidayat, Jaka Umbaran, untuk bantuan, dukungan dan semangat nya yang luar biasa.

15.Teman-teman fotografi angkatan 2014 yang telah memberi semangat dan dukungan telah banyak membantu selama perkuliahan.

16.Kakak ku Ricky Riau Bahari, Rinna Mutia Puriningsih, dan adik ku Riyan Catur Putra atas dukungan, semangat dan kebersamaan nya.

17.Seluruh pihak yang telah membantu dalam proses tugas akhir ini yang tidak dapat dicantumkan satu per satu.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa tugas akhir skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik yang membangun dan saran sangat penulis harapkan agar bisa lebih baik lagi kedepannya. Semoga skripsi tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi pembaca dan pencipta karya seni selanjutnya.

Yogyakarta, 11 Juli 2018 Penulis

(8)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR KARYA ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x ABSTRAK ... xi BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Penegasan Judul ... 6 C. Rumusan Ide ... 8

D. Tujuan dan Manfaat ... 8

BAB II IDE DAN KONSEP PERWUJUDAN A. Latar Belakang Timbulnya Ide ... 9

B. Landasan Penciptaan ... 13

C. Tinjauan Karya ... 19

D. Ide dan Konsep Perwujudan ... 25

BAB III PROSES PENCIPTAAN A. Objek Penciptaan ... 27

B. Metode Penciptaan ... 38

C. Proses Perwujudan ... 43

BAB IV ULASAN KARYA ... 57

BAB IV PENUTUP ... 79 A. Kesimpulan ... 86 B. Saran ... 87 DAFTAR PUSTAKA ... 88 LAMPIRAN ... 90 BIODATA PENULIS ... 98

(9)

DAFTAR KARYA

Karya Foto 1 Keluarga Sikerei ... 58

Karya Foto 2 Teteu ... 59

Karya Foto 3 Mencari Ikan ... 61

Karya Foto 4 Ternak Babi ... 63

Karya Foto 5 Sako Ilo’ ... 65

Karya Foto 6 Ube ... 66

Karya Foto 7 Tangkapan ... 67

Karya Foto 8 Leccu ... 68

Karya Foto 9 Kerja ... 70

Karya Foto 10 Garis ... 71

Karya Foto 11 Tato Mentawai ... 72

Karya Foto 12 Sikerei ... 74

Karya Foto 13 Sarapan ... 75

Karya Foto 14 Kapurut ... 76

Karya Foto 15 Santai ... 78

Karya Foto 16 Persiapan ... 79

Karya Foto 17 Berburu... 80

Karya Foto 18 Dandan ... 81

Karya Foto 19 Sabo Sikerei ... 82

Karya Foto 20 Turuk Laggai ... 83

(10)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Kepulauan Mentawai ... 2

Gambar 1.2 Tinjauan Karya ... 19

Gambar 1.3 Tinjauan Karya ... 21

Gambar 1.4 Tinjauan Karya ... 22

Gambar 1.5 Tinjauan Karya ... 23

Gambar 1.6 Kamera ... 44

Gambar 2.1 Lensa 10-22 mm ... 45

Gambar 2.2 Lensa 50 mm ... 46

Gambar 2.3 Lensa 75-300mm ... 47

Gambar 2.4 Kartu Memori ... 47

Gambar 2.5 Tripod ... 48

Gambar 3.1 Laptop ... 49

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran

1. Foto Dokumentasi Ujian dan Pameran 2. Foto Dokumentasi Pemotretan

3. Surat Keterangan Penelitian 4. Curriculum Vitae

5. Poster 6. Katalog

(12)

xi

EKSOTIKA SUKU MENTAWAI DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER

Oleh

Rindha Mita Purwaningsih

ABSTRAK

Objek penciptaan tugas akhir membahas tentang eksotika kegiatan sehari-hari suku pedalaman Mentawai, Siberut Selatan. Penciptaan karya didasari oleh minimya informasi tentang keseharian masyarakat pedalaman dusun Buttui dan diciptakan karya ini, diharapkan mampu memberi gambaran dan informasi tentang kehidupan para suku pedalaman di Mentawai melalui fotografi dokumenter. Karya tugas akhir berorientasi dengan eksotika kegiatan sehari-hari suku Mentawai sebagai dasar acuan proses penciptaan dengan metode observasi, eksplorasi, dan eksperimental. Karya foto tugas akhir dibuat dalam fotografi dokumenter, peristiwa-peristiwa yang menarik lewat bidang Jurnalistik. Dengan memberi suatu cara pandang baru dan inspirasi bagi yang melihat dan merasakan dapat membuka mata kita seutuhnya tentang lingkungan budaya di sekitar kita yang mulai terkikis oleh kerasnya kemajuan dan ketatnya perkembangan zaman.

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penciptaan

Fotografi merupakan aktivitas mengambil gambar melalui kamera untuk menghasilkan karya seni dan bisa dinikmati baik diri sendiri atau publik, yaitu pemotretan yang menghasilkan foto yang indah, bernilai seni tinggi, dan dapat dinikmati masyarakat luas pada umumnya sehingga tertarik oleh keindahan, kekaguman, dan pengalaman batin akibat kesan yang ditimbulkan oleh foto tersebut. Foto yang bernilai seni tidak hanya merupakan foto pemandangan alam/landscape yang indah saja seperti suasana di pedesaan dengan air terjun yang airnya deras sekali di bawah terbitnya matahari pagi dengan ditutupi sebagian pepohonan yang rindang dan tinggi.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 1500 suku bangsa dan setidaknya memiliki 1027 bahasa. Berbicara tentang keberagaman suku, di Sumatera Barat ada sebuah suku kuno yang menempati Kepulauan Mentawai yang dikenal dengan Suku Mentawai. Suku Mentawai merupakan suku pedalaman yang menghuni pulau-pulau di Mentawai. Hingga saat ini, Suku Mentawai banyak dijadikan sebagai bahan penelitian oleh para peneliti, yang bertujuan untuk memahami bagaimana pola hidup dan pola interaksi dari suku di bagian barat Indonesia ini. Beberapa peneliti berpendapat bahwa Suku Mentawai

(14)

2 berasal dari ras polinesia, namun ada juga yang meyakini bahwa suku ini berasal dari ras Proto Malaya alias suku Melayu Tua.

Gambar 1.1

Peta Kepulauan Mentawai Sumber:

https://sains.kompas.com/read/2015/06/28/16300061/Peta.Bawah.Laut. Mentawai.Tuntas.Patahan.Aktif.Ditemukan (diakses 8 April 2018 pukul

13.00 WIB).

Mentawai merupakan kepulauan yang terdiri dari beberapa puluh pulau kecil, dengan empat pulau besar yakni Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Pulau Sipora, Pulau yang terbesar adalah Pulau Siberut. Ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai berkedudukan di Tuapejat, Pulau Sipora (Ulung, 2013: 222).

(15)

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat dengan posisi geografis yang terletak diantara 0055’00’’ – 3021’00’’ Lintang Selatan dan 98035’00’’ – 100032’00’’ Bujur Timur dengan luas wilayah tercatat 6.011,35 km2 dan garis pantai sepanjang 1.402,66 km. Secara geografis, daratan Kabupaten Kepulauan Mentawai ini terpisahkan dari Propinsi Sumatera Barat oleh laut, yaitu dengan batas sebelah Utara adalah Selat Siberut, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Mentawai, serta sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia (Agung et al, 2014: 2).

Suku Mentawai adalah suku yang unik. Setelah diteliti, ternyata Suku Mentawai adalah suku tertua di Indonesia. Para peneliti meyakini bahwa nenek moyang dari Suku Mentawai sudah mendiami lokasi Kepulauan Mentawai di barat Sumatera ini sejak tahun 500 SM. Karena umurnya yang sudah tua, maka tentu saja adat istiadat di suku ini sangatlah kuat. Hal ini terbukti dengan tetap berpegang teguh pada tradisi dan tidak terpengaruh dengan arus modernisasi serta globalisasi yang sangat gencar terjadi di Indonesia saat ini. Mereka mengolah sagu, talas, dan mereka juga berburu dan mengumpulkan hasil hutan liar, termasuk tanaman obat suci yang digunakan dalam upacara penyembuhan mereka. Saat ini persentase orang Mentawai yang cukup besar adalah orang Kristen, namun sisa-sisa cara hidup mereka sebelumnya masih ada di bagian pulau Mentawai.

(16)

4 Suku Mentawai merupakan suku yang memiliki agama dan kepercayaan tersendiri. Kepercayaan yang dianut oleh suku ini dikenal dengan nama Sabulungan. Sabulungan adalah suatu kepercayaan terhadap seluruh benda yang memiliki roh dan jiwa. Ketika roh tidak dapat dirawat dengan baik, maka roh ini akan bergentayangan dan menyebabkan kesialan serta juga menyebabkan munculnya wabah penyakit.

Fenomena suku Mentawai menarik untuk dijadikan karya seni fotografi dokumenter, karena melalui media foto bisa mengkomunikasikan kepada masyarakat umum / khalayak tentang eksotika kehidupan sehari-hari suku pedalaman Mentawai dengan menggunakan teknik EDFAT, yang dimaksud dengan teknik EDFAT yaitu pemotretan dengan objek foto dengan long shoot dan angle tertentu, pengambilan gambar yang terfokus pada bagian kecil dan penting, pembingkaian photo shot sebagai aspek estetis, sudut pengambilan pemotretan / sisi pandang, dan waktu kecepatan rana.

Menurut Feininger (1996: 9), Fotografi adalah bahasa gambar, hasil terakhir dari bentuk tertua komunikasi percetakan. Tujuan yang hakiki dari fotografi ini adalah komunikasi.

Foto merupakan salah satu media komunikasi yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan/ide kepada orang lain. Foto atau fotografi merupakan sebuah media yang bisa digunakan untuk mendokumentasikan suatu momen atau peristiwa penting. Fotografi

(17)

dapat menguak kembali kenangan demi kenangan terdahulu dan mempunyai nilai dokumentasi yang tinggi karena mampu merekam sesuatu yang tidak mungkin kembali.

Fotografi dokumentasi bertujuan merekam kejadian-kejadian penting, baik untuk kepentingan pribadi atau kepentingan instansi, dalam gambar-gambar foto (Sundardi, 1979: 193). Melalui foto dokumentasi, kenyataan yang terjadi dapat diwakilkan dan dapat terungkap dengan bahasa visual dua dimensi.

Fotografi dokumenter merupakan sarana yang paling tepat dalam penyampaian informasi yang penting dan perlu untuk diketahui oleh banyak orang. Karya foto dokumenter dapat menampilkan realita yang ditampilkan pada kehidupan suku Mentawai.

Pembuatan fotografi dokumenter harus tetap mempertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan objek foto dan teknik pemotretan. Foto dokumenter baru bisa dikatakan baik jika hasilnya bukan hanya sekedar menggambarkan suatu kejadian secara terang dan jelas, namun juga mampu merekam nuansa suatu peristiwa. Foto dokumenter yang baik harus dapat menceritakan keseluruhan acara, mulai dari proses persiapan, puncak acara, sampai penutupannya (Sugiarto, 2006: 16).

Pemilihan judul tersebut juga dilatarbelakangi oleh keinginan dan ketertarikan penulis untuk melakukan dokumentasi terhadap kehidupan di suku Mentawai. Penelitian dilakukan di Dusun Buttui, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

(18)

6 Perjalanan yang ditempuh untuk sampai ke dusun Buttui dari Muara Siberut sekitar enam jam menggunakan pongpong (perahu mesin).

Penulis ingin menggambarkan eksotika kehidupan sehari-hari suku Mentawai, tujuan pembuatan karya seni fotografi ini nantinya dapat menjadi eksplorasi suku Mentawai dengan menggunakan media fotografi, sumber acuan referensi fotografi, dan edukasi mengenai tradisi suku Mentawai.

B. Penegasan Judul

Penegasan judul dalam “Eksotika Suku Mentawai dalam Fotografi Dokumenter” laporan tugas akhir penciptaan karya fotografi ini diperlukan untuk menghindari salah penafsiran judul yang ingin disampaikan.

a. Eksotika

Kata Eksotika dalam sebuah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) punya arti “memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal umum; diperkenalkan atau dimasukkan dari luar negeri; bergaya asing; luar biasa; istimewa; indah; ganjil” (Suharso, 2011:24 ).

Eksotika menurut pandangan penulis sebagai keindahan dan keunikan yang dimiliki pada suku pedalaman Mentawai yang kaya akan budaya, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda dengan masyarakat umum.

(19)

b. Suku Mentawai

Kepulauan Mentawai terdiri dari 213 pulau dengan 4 pulau utama yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Beribu kota di Tua Pejat, kabupaten Mentawai terbagi menjadi empat kecamatan dan 40 desa (Kurnia, 2017: 31).

c. Fotografi Dokumenter

Fotografi Dokumenter adalah visualisasi realita yang dilakukan oleh fotografer untuk mengkomunikasikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Fotografi dokumenter adalah bagian terpenting dari seluruh aliran yang ada. Pada foto dokumenter kemampuan pertama adalah untuk memberitahukan kebenaran tentang dunia nyata dan mengkomunikasikan komentar fotografer.

Fotografi dokumenter merupakan dasar dari fotografi jurnalistik yang dikenal sekarang. Karya foto dokumenter dan karya foto jurnalistik terlihat mirip, karena satu sama lain saling berhubungan erat dalam hal cara pandang, pendekatan, dan kemampuan menyampaikan pesan si fotografer. Perbedaan muncul ketika fungsi personal mereka beralih kepada kepentingan umum berupa publikasi. Foto dokumenter dengan sederhana punya komitmen sosial yang kuat.

Pengertian fotografi dokumenter dalam buku Photo Journalism the Visual Approach karya Frank. P. Hoy yaitu merekam dari sebuah keadaan lingkungan atau seseorang yang sebenarnya tanpa banyak tipuan visual (rekayasa).

(20)

8

C. Rumusan Ide

1. Bagaimana menunjukkan kehidupan sehari-hari Suku Pedalaman Mentawai dalam bentuk fotografi dokumenter.

2. Teknik apa saja yang digunakan dalam memvisualisasikan kehidupan sehari-hari Suku Pedalaman Mentawai.

D. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan

a. Eksplorasi suku Mentawai dengan menggunakan media fotografi dan eksplorasi teknik fotografi dalam karya fotografi dokumenter.

b. Menerapkan teknik fotografi dokumenter dengan metode EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, Time) pada visualisasi Eksotika Suku Mentawai, menggunakan gambar atau foto secara sistematik serta menganalisis hasil foto.

2. Manfaat

a. Menyampaikan informasi dalam bentuk visual pada masyarakat secara umum.

b. Karya fotografi ini bisa menjadi inspirasi mahasiswa/i yang ingin mengunjungi suku pedalaman di Mentawai.

c. Menambah keberagaman penciptaan karya seni fotografi dalam lingkup akademik jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Gambar

Foto  merupakan  salah  satu  media  komunikasi  yang  bisa  digunakan  untuk  menyampaikan  pesan/ide  kepada  orang  lain

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat adanya penyebaran Covid-19 kami berharap segala kegiatan pengumpulan data penelitian harus menerapkan protocol kewaspadaan dan pencegahan penyebaran

Selain itu penelitian ini juga didukung studi empiris yang dilakukan oleh Marbun (2012) dengan menganalisis pengaruh penanaman modal dalam negeri, inflasi dan

Maḥabbatul ‘ibadah dalam pembelajaran akidah akhlak dapat dilakukan dengan cara mengkonstruksikan ide-ide, pikiran dan konsep baru untuk menemukan rasa cinta

Hasil pengujian daya hambat pada masing-masing formula lendir bekicot (Achatina fulica) dengan variasi konsentrasi yang dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 4 Februari 2015 melalui metode wawancara terhadap 10 orang remaja yang berusia 15 sampai

Berdasarkan hasil, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara perilaku asertif dengan penyesuaian diri, sehingga semakin tinggi perilaku asertif

Teknologi smart phone Android yang semakin canggih terlihat pada perkembangan aplikasi yang sangat pesat, hal ini memungkinkan sebuah aplikasi pembelajaran matematika

Tampilan Permainan Kategori Nama Desa Pada Gambar 13 merupakan tampilan dari permaianan Word Game Scramble dengan salah satu kategori permainan Arti Nama Desa