• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN INDRAGIRI HULU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN INDRAGIRI HULU"

Copied!
208
0
0

Teks penuh

(1)

DRAFT

SEKRETARIAT DAERAH

KABUPATEN INDRAGIRI HULU

PENYUSUNAN

EVALUASI SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA, DAN

TUGAS POKOK DAN FUNGSI PERANGKAT DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN INDRAGIRI HULU

PT. TRI PERFECT UTAMA

PEKANBARU

TAHUN 2013

(2)

ii

Perubahan lingkungan yang terjadi secara cepat dan berkelanjutan menuntut dilakukannya perubahan dan reformasi birokrasi, serta memunculkan paradigma baru dalam tatakelola kepemerintahan, termasuk kepemerintahan daerah menuju kepemerintahan yang baik (good governance). Salah satu upaya dalam melakukan reformasi birokrasi adalah melakukan evaluasi untuk merestrukturisasi dan merasionalisasi organisasi perangkat daerah agar selalu relevan dengan perubahan yang terjadi di daerah serta memiliki struktur dan anatomi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Organisasi perangkat daerah hendaknya bersifat ramping namun dapat menampung seluruh urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah, serta memiliki kompetensi yang mendorong untuk terciptanya organisasi berkinerja tinggi.

Evaluasi organisasi perangakt daerah Kabupaten Indragiri Hulu dimaksudkan untuk mendapatkan bentuk alternatif struktur organisasi perangkat daerah yang memiliki karakteristik efisien, efektif, profesional, dan pleksibel sehingga memiliki kemampuan dan kapasitas operasional yang cepat dan akurat dalam membuat kebijakan dan mengambil keputusan, serta responsif dalam pelaksanaan tugas. Berdasarkan hasil evaluasi maka disusunlah organisasi perangkat daerah yang memiliki sifat dinamis agar mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan internal dan eksternal. Disamping itu, organisasi perangkat daerah yang diusulkan harus pula memiliki kompetensi agar mampu mengakomodasi kepentingan, kebutuhan dan potensi daerah, serta dapat mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah Kabupaten Indragiri Hulu.

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Kata Pengantar ... i Daftar Isi ... ii BAB I Pendahuluan ... 1 1. Latar Belakang ... 1

2. Maksud, Tujuan, dan Sasaran... 3

(3)

iii

BAB II Pendekatan Teoretis dan Empiris ... 14

1. Organisasi Perangkat Daerah... 16

2. Pendekatan Normatif ... ... 22

A. Landasan Yuridis ... 22

B. Landasan Sosiologis ... 27

C. Landasan Filosofis ... 30

3. Besaran Organisasi Maksimum ... ... 32

4. Pembagian Urusan Pemerintahan ... 37

5. Perumpunan Urusan Pemerintahan ... 39

6. Susunan Organisasi, Kedudukan, Tugas, dan Fungsi ... 42

7. Tata Kerja ... 49

8. Ketentuan Lain-lain ... 50

BAB III Kondisi Existing Daerah ... 52

1. Gambaran Umum Daerah ... 52

2. Orientasi Pembangunan Daerah ... 55

3. Kondisi Variabel Besaran Organisasi ... 59

A. Perkembangan Jumlah Penduduk ... 59

B. Perkembangan Wilayah ... 66

C. Perkembangan Jumlah APBD ... 67

4. Kondisi Existing Kelembagaan ... 69

A. Susunan Organisasi Sekretariat Daerah ... 71

B. Susunan Organisasi DPRD ... 73

C. Susunan Organisasi Dinas Daerah ... 73

D. Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah ... 85

E. Susunan Organisasi Kecamatan ... 91

F. Susunan Organisasi Kelurahan ... 92

BAB IV Analisa Organisasi Perangkat Daerah ... 93

(4)

iv

2. Analisa Organisasi Existing ... 96

3. Rencana Besaran Organisasi... 102

4. Analisa Potensi Daerah ... 104 a. Pertumbuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ... 106 b. Perkembangan Demografi ... 110

c. Pertumbuhan Bidang Ekonomi... 111

d. Pertumbuhan Bidang Pendidikan ... 115 5.

Analisa Kebutuhan Daerah ... 118

A. Disain Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ... 120

B. Disain Organisasi Dinas Daerah ... 121

C. Disain Organisasi Lembaga Teknis Daerah ... 140

D. Disain Organisasi Kecamatan ... 153

E. Disain Organisasi Desa/Kelurahan ... 154

BAB V Penutup ... 155 Daftar Pustaka ... 159 Lampiran 1... 160 Lampiran 2 ... 161 Lampiran 3 ... 162 Lampiran 4 ... 172 Lampiran 5 ... 182 Lampiran 6 ... 183 Lampiran 7 ... 184

(5)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.LATAR BELAKANG

Kabupaten Indragiri Hulu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau dengan luas wilayah 8.198,26 Km2 (819.826 Ha). Memiliki potensi alam dan sumber daya alam yang sangat prospektus di bidang agribisnis, di bidang pertambangan, dan di bidang parawisata. Semua potensi dan kekayaan alam ini, diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indragiri Hulu bila dieksploitasi dan dimanfaatkan secara terencana, berkelanjutan, dan bertanggungjawab melalui program-program pemerintah sebagaimana semangat yang dituangkan dalam Visi Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu, yaitu: “Indragiri Hulu Sejahtera Tahun 2015

Dalam Visi dan Misi Kabupaten Indragiri Hulu terdapat keinginan yang sangat kuat untuk menjadikan masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu (sebagai bahagian dari masyarakat NKRI) untuk ber-evolusi menjadi masyarakat dunia berbasis teknologi (technology base community), sebagaimana dituangkan dalam afirmasi: terciptanya jaringan telekomunikasi, informasi secara merata ke seluruh pelosok kabupaten, dan terwujudnya peningkatan pengetahuan masyarakat melalui informasi cepat dan akurat. Misi ini merepleksikan keinginan dan kesiapan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu dalam memasuki era globalisasi dan menjadi bahagian dari komunitas global dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan global, seperti: hak azasi manusia (human right), demokratisasi (democratization), penegakan hukum (law enforcement), dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).

Salah satu dampak dari globalisasi adalah terjadinya perkembangan dan perubahan secara dinamis dan berkelanjutan (sustainability) terhadap lingkungan strategis global. Sejarah mencatat bahwa dampak dari perubahan tersebut telah berpengaruh langsung terhadap tatanan kehidupan manusia di berbagai aspek, seperti aspek ekonomi, hukum, politik, sosial, budaya dan tata

(6)

2

penyelenggaraan pemerintah, serta untuk beradaptasi dengan tuntutan perubahan lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal pemerintah, maka Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu perlu untuk merestrukturisasi dan merasionalisasi Susunan Organisasi Perangkat Daerah serta penyelarasan Tugas Pokok dan Fungsi agar proses penyelenggaraan kepemerintahan dapat terselenggara secara lebih efektif, efisien, dan profesional sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah, serta selaras dengan peraturan perundangundangan.

Restrukturisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintah adalah konsekuensi logis dari dinamika sistem kepemerintahan yang desentralistik, yang memberi ruang dan kewenangan normatif bagi daerah untuk menata dan menentukan besaran beban tugas di daerah. Besaran beban tugas memerlukan penyesuaian terutama akibat terjadinya perubahan pada perspektif demografi (berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk), perkembangan dan pemekaran wilayah, dan besaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Struktur organisasi pemerintah harus bersifat dinamis dan rasional dengan rentang kendali (span of control) yang memungkinkan penyelenggaraan, pengelolaan, pengendalian, dan pertanggungjawaban pemerintah berjalan dengan baik. Sehingga proses pembangunan daerah, sejak dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses monitoring dan evaluasi dapat terwujud melalui mekanisme yang benar dan memberi dampak (imfact) yang baik dan manfaat (benefit) besar bagi masyarakat. Disamping itu, sistem yang dibangun harus mampu mendorong partisipasi semua komponen masyarakat, sehingga pelaksanaan pembangunan pada akhirnya tidak lagi menjadi beban pemerintah semata, tetapi juga harus menjadi tanggung jawab dan kebutuhan masyarakat.

Sebagai bentuk tanggungjawab (responsibility) dalam mengemban amanah otonomi daerah dalam upaya meningkatkan pelayanan, peningkatan peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan rakyat, sebagaimana diuraikan di atas, maka dirasa perlu untuk mengevaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu

(7)

3

mempertimbangkan aspek sosiologis, aspek yuridis, dan aspek filosofis, serta dengan memperhatikan potensi daerah, peluang, tantangan dan hambatan, serta keterbatasan alami yang ada. Evaluasi ini diharapkan dapat membentuk suatu Susunan Organisasi Perangkat Daerah yang berorientasi kepada pencapaian Visi dan Misi pembangunan Kabupaten Indragiri Hulu.

2.

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

Evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dimaksudkan untuk memperoleh informasi faktual yang akan dijadikan sebagai dasar kebijakan dalam merestrukturisasi dan merasionalisasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah. Tujuan

Evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu adalah:

a. Mengevaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah

Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu,

b. Menyusun Susunan Organisasi dan Tata Kerja (alternatif) yang memiliki struktur dan anatomi sesuai dengan peraturan perundang-undangan, serta memiliki kompetensi dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis dan perkembangan teknologi.

c. Menyusun Tugas Pokok dan Fungsi Perangkat Daerah yang memiliki cluster kewenangan yang tegas antar organisasi, untuk menghindari terjadinya disharmoni dan tumpang tindih kewenangan yang dapat menimbulkan in-efisiensi dan in-efektifitas dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan.

Sasaran yang ingin dicapai dalam evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu antara lain adalah:

a. Teridentifikasinya secara ilmiah faktor-faktor disorientasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja (existing) dalam penyelenggaraan pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu;

b. Terwujudnya Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjawab

(8)

4

tantangan perubahan internal dan eksternal dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi;

c. Terwujudnya penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Indragiri Hulu

berlandaskan kepada Visi dan Misi Kabupaten Indragiri Hulu dengan memanfaatkan sebesar-besarnya potensi daerah secara bertanggungjawab, berkeadilan dan berkelanjutan;

d. Terselenggaranya pemerintahan secara baik (good governance),

profesional, efektif dan efisien.

3.

METODE EVALUASI

Evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu menggunakan prinsip-prinsip pendekatan tailor made dengan disain yang lebih spesifik sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah serta ketersediaan sumber daya. Metode pendekatan tailor made diawali dengan melakukan kajian terhadap kondisi existing untuk selanjutnya dilakukan hipotesis guna mengetahui tingkat kesesuaian (kompatibilitas) kondisi existing dengan perkembangan lingkungan strategis dan kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan yang ada.

Evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu bersumber dari kajian yang bersifat ilmiah sehingga memiliki ciri-ciri : 1) Rasional, yaitu menggunakan cara-cara logik (masuk akal) dan memenuhi kaidah nalar manusia, 2) Empiris, yaitu menggunakan cara-cara yang teramati dan dapat dilakukan oleh semua orang secara berulang, dan 3) Sistematis, yaitu menggunakan langkah-langkah kajian yang runtut dan logis. Hasil evaluasi akan memberikan beberapa gambaran tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dari perspektif yuridis, sosiologis, dan filosofis. Untuk memperoleh data-data dalam kajian ini, dilakukan penelitian yang bersifat deskriptif. Pemilihan jenis penelitian ini karena sifatnya berorientasi kepada data-data tertentu yang bersifat khusus (tidak berlaku generalistik). Penelitian deskriptif mengutamakan teknik menggambarkan atau mendeskripsikan obyek yang diteliti melalui data-data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, kuisioner, dan telaah dokumentasi, sehingga lebih sesuai

(9)

5

untuk keperluan dalam merancang kebijakan yang berkaitan dengan penyusunan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah di Kabupaten Indragiri Hulu.

Untuk mengevaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu maka dilakukan kajian dengan metodologi sebagai berikut :

a.Studi Literatur

Penelitian ini diawali dengan melakukan kajian terhadap sejumlah literatur yang dapat mendukung hipotesis dan analisis, mencakup (1) kajian regulasi dan peraturan perundang-undangan nasional dan daerah, (2) Kajian sistem kepemerintahan pusat dan daerah, 3) kajian demografi, topografi, klimatologi, geologi, dan statigrafi sosial, (4) kajian rencana tata ruang wilayah Provinsi Riau dan Kabupaten Indragiri Hulu, (5) kajian potensi sumber daya Kabupaten Indragiri Hulu. Sumber kajian adalah referensi berupa buku-buku teks, peraturan perundang-undangan dan regulasi terkait, dokumen pemerintah, jurnal ilmiah yang dipublikasi secara nasional dan internasional, hasil riset yang dipublikasikan, dan juga informasi terkait yang diakses melalui internet.

b.Lokasi Penelitian

Evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dilakukan di wilayah administrasi Kabupaten Indragiri Hulu, mencakup instansi pemerintah, swasta, masyarakat, dan stakeholder pemerintah. Kajian lebih khusus dilakukan di ibukota kabupaten untuk mendapatkan informasi yang lebih detail tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu.

c. Metode Pengumpulan Data

Data-data dalam kajian ini terdiri dari data primer dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber data, baik data yang di ambil langsung melalui observasi, maupun data dokumentasi instansional, data koleksi

(10)

6

perorangan, serta dokumen yang sudah menjadi domain publik. Sebahagian dari data-data yang sudah menjadi domain publik diakses melalui website.

Data Primer diperoleh melalui survey primer yang menghasilkan data otentik produk dari hasil : pengukuran, pengamatan, permintaan keterangan secara lisan dan tertulis langsung dari objek penelitian di seluruh lokasi penelitian. Teknik pengambilan data primer antara lain :

- Observasi, adalah teknik pengambilan data langsung melalui pengamatan dan/atau pengukuran dengan atau tanpa alat, seperti ukuran luas, volume, ketinggian, lebar, kedalaman, dimensi, kecepatan, warna, serta sifat fisik dan mekanik lainnya yang ada pada kawasan objek penelitian. Sebahagian dari data yang diperoleh melalui observasi akan di amati silang (cross check) dengan data yang diperoleh dengan teknik pengambilan data yang lain. Observasi juga dilakukan ke kabupaten/kota lain yang diperkirakan memiliki kesamaan permasalahan kedaerahan dan kesamaan karakterisitik dengan Kabupaten Indragiri Hulu,

- Wawancara, adalah teknik pengambilan data secara verbal, baik yang bersifat monolog atau dialog dengan para nara sumber, baik yang bersifat kesaksian (testimony), pengalaman (experience), keahlian dan kepakaran (expertise). Khusus untuk data dari expert difokuskan kepada pejabat pemerintah, pakar ilmu kepemerintahan, pelaku dan praktisi pembangunan, serta pemangku kepentingan lain yang berkaitan dengan

tata kerja pemerintahan. Metode wawancara yang dipilih adalah wawancara terstruktur yaitu dengan membuat dan mengajukan pertanyaan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mereduksi bias informasi dan untuk efektifitas perolehan informasi, serta mempertajam tingkat akurasi informasi.

- Kuisioner, adalah teknik pengumpulan data tertulis melalui lembar kuisioner/angket yang disebar di seluruh lokasi objek penelitian. Tingkat keakuratan data dan informasi semata-mata mengandalkan kejujuran

(11)

7

responden, sehingga data yang diperoleh akan bersifat subjektif. Untuk mereduksi subjektifitas data, maka kuisioner di-design dalam bentuk pertanyaan yang bersifat terbuka dan berjenjang tanpa penyertaan lampiran bukti fisik responden dan bukti fisik dokumen objek data. Data yang diharapkan dari teknik pengumpulan data ini adalah gambaran kondisi sebenarnya yang sudah ada (existing) dan harapan dimasas yang akan datang.

Data primer yang diharapkan mendukung kajian evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu ini adalah seperti pada tabel berikut :

Tabel 1.1 Data dan Sumber Data Primer

No. Pengumpulan Data Teknik Sumber Data Data Masukan

1. Observasi Lokasi Objek Penelitian -Kondisi existing infrastruktur jalan dan jembatan,

- Kondisi existing infrastruktur bangunan gedung pemerintah, - Kondisi existing pasar dan

fasilitas umum lainnya, - Kondisi existing bangunan

perumahan rakyat,

- Aktifitas masyarakat di perkotaan dan perdesaan,

- Data lain yang dianggap perlu

2. Wawancara -Pejabat/Pegawai

-Pemerintah

Sistem koordinasi inter dan antar kelembagaan pemerintah,

-Kesesuaian antara latar belakang

pendidikan dan kompetensi dengan jabatan, kedudukan, dan

(12)

8 -Pejabat/Pegawai -Swasta, Pengusaha

Masyarakat dan Tokoh -Masyarakat

tupoksi.

Hambatan dalam menjalankan tugas pemerintahan dan dalam memberikan pelayanan, Rantai birokrasi dalam pengurusan kegiatan usaha, Transfaransi dan keberpihakan pemerintah terhadap pengusaha lokal,

Kemudahan dalam mengakses informasi dari pemerintah, Hambatan dalam menjalankan usaha,

Tingkat pengawasan pemerintah terhadap pembangunan

infrastruktur daerah, Tingkat kepuasan terhadap pelayanan aparatur pemerintah,

- Kemudahan dalam mengakses dan memperoleh pelayanan dasar di daerah,

- Tingkat kepuasan terhadap hasil/ produk pembangunan

- Ketersediaan infrastruktur dasar perdesaan,

- Masalah keamanan dan

ketentraman dalam menjalankan aktifitas.

3. Kuisioner -Masyarakat - Jenis, sistem dan model

pelayanan yang dibutuhkan, - Tingkat pelayanan yang

diharapkan,

- Bentuk dan fungsi infrastruktur yang dibutuhkan,

- Tingkat keamanan terhadap diri, keluarga dan harta benda, - Ketersediaan bahan pokok dan

stabilitas harga.

Data Sekunder, diperoleh secara tidak langsung pada objek kajian. Data sekunder merupakan data yang telah terkoleksi dan terdokumentasi (cetak dan/atau digital) pada instansi tertentu yang bukan merupakan rahasia negara, baik yang sudah dipublikasikan atau belum dipublikasikan. Data sekunder dapat berupa file dokumen, image, audio, dan video. Teknik pengambilan data sekunder antara lain adalah :

(13)

9

1. Survey Instansional, adalah pengumpulan data pada instansi pemerintah seperti; Sekretariat Daerah Kabupaten Indragiri Hulu, Sekretariat DPRD Kabupaten Indragiri Hulu, Inspektorat, BAPPEDA, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kantor Kecamatan, dan Kantor Kepala Desa. Disamping itu, data-data sekunder juga diperoleh dari Badan Pusat statistik Provinsi Riau dan pelaku pembangunan lainnya.

2. Survey Literasi, yaitu teknik pengumpulan data yang bersumber dari leteratur dan referensi terkait, misalnya data yang berkaitan dengan sumber daya aparatur, potensi sumber daya alam, serta peluang kerja sama dalam negeri dan luar negeri.

Data sekunder yang diharapkan mendukung evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu ini adalah seperti pada tabel berikut :

Tabel 1.2 Data dan Sumber Data Sekunder

No. Pengumpulan Data Teknik Sumber Data Data Masukan

1. Survey Literasi Buku dan Dokumen

-Referensi

UU-RI No. 6 Tahun 1965 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Inderagiri Hilir Dengan Mengubah UU No. 12 Tahun 1956, Tentang

Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi

Sumatera Tengah;

- UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional; - UU No. 32 Tahun 2004 Tentang

Pemerintah Daerah;

- PP No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; - PP No. 65 Tahun 2005 Tentang

Pedoman Penyusunan Dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;

- PP No. 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan

(14)

10

Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

- PP No. 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah; - PP No. 96 Tahun 2012 Tentang

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

- Perda Kab. Inhu. No. 18 Tahun 2008 Tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kab. Inhu;

- Perda Kab. Inhu No. 10 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Perda Kab. Inhu No. 18 Tahun 2008 Tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kab. Inhu;

- Perbup Kab. Inhu No. 12 Tahun 2008 Tentang Tupoksi dan Uraian Tugas Sekretariat Daerah Kab. Inhu. dan Sekretariat DPRD Kab. Inhu

- Perbup Kab. Inhu. No. 13 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Dinas Daerah Kab. Inhu;

- Perbup Kab. Inhu No. 14 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Lembaga Teknis Daerah Kab. Inhu;

- Perbup Kab. Inhu No. 15 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Kecamatan dan Kelurahan Lingkup Kab. Inhu;

- Perbup Kab. Inhu No. 3 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Perbup Kab. Inhu No. 12 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Sekretariat Daerah Kab. Inhu dan Sekretariat DPRD Kab. Inhu; - Perbup Kab. Inhu No. 7 Tahun

2011 Tentang Perubah-an Atas Peraturan Bupati Kab. Inhu No. 13 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Dinas Daerah Kab. Inhu;

(15)

11

- Perbup Kab. Inhu No. 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Perbup Kab. Inhu No. 14 Tahun 2008 Tentang Tupoksi dan Uraian Tugas Lembaga Teknis Daerah Kab. Inhu.

- Dokumen lain yang terkait 2. Survey Instansional - Sekretariat Daerah,

-Sekretariat DPRD, Inspektorat, Bappeda, Dinas Daerah, Lemba ga Teknis Daerah, Kantor Kecamatan, -Kantor Desa, dan institusi lain yang -terkait di Kabupaten

-RTRW Provinsi Riau dan Kabupaten Indragiri Hulu, Riau Dalam Angka

APBD Kab. Inhu 2008 – 2013 PAD Kab. Inhu 2008 – 2013 Pendapatan Total Kab. Inhu Tahun 2008 – 2013

PDRB Tahun 2008 – 2013 Alokasi Belanja Tahun 2008 –

Indragiri Hulu. 2013

- Badan Pusat Statistik -Jumlah dan nama Kecamatan dan

(BPS). Desa Tahun 2013

- Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tahun 2008

- Tupoksi Tahun 2008

- Jumlah dan Komposisi Pegawai Tahun 2008 – 2013

- Jumlah Jabatan Struktural Tahun 2008

- Jumlah Jabatan Fungsional Tahun 2008

- Jumlah Sekolah (SD, MI, SMP, SMA/SMK, MAN, PT) - Jumlah Puskesmas dan Rumah

Sakit (nama lokasi)

- Data jumlah penduduk tahun 2008 – 2013

- Angka kemiskinan 2008 – 2013 - Data Pendidikan berdasarkan

jenjang pendidikan

- Data Perusahaan (BUMD dan Swasta)

- Luas areal pertanian, perkebunan, hutan

- Jumlah dan jenis peternakan dan perikanan

- Jumlah Deposit bahan galian dan tambang (nama lokasi)

- Kawasan Wisata (nama lokasi) - Data Panjang Jalan (Nasional,

Provinsi, Kabupaten, Perdesaan) - Data Gedung Pemerintah dan

Rumah Ibadah,

- Data Proyeksi pembangunan infrastruktur (RPJM)

(16)

12

- Peta Administratif Kecamatan dan Desa

d.Populasi dan Teknik Sampling

Menurut Sugiyono (1997), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Selanjutnya Sugiono mengatakan bahwa, populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi bukan hanya sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu. Dengan demikian, yang dimaksud dengan populasi dalam kajian ini adalah seluruh orang dan/atau bangunan dan/atau objek lainnya yang terdapat di lingkungan lokasi penelitian.

Jika populasi di suatu lokasi penelitian memiliki jumlah dan karakteristik yang besar, maka secara teoretis diizinkan untuk mengambil sebagian dari jumlah dan karakteristik dari populasi yang ada sebagai sampel. Teknik pengambilan sampel (teknik sampling) dalam kajian ini menggunakan

teknik probability sampling, yaitu pengambilan sampel dengan

memberikan kesempatan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel. Sesuai dengan karakteristik wilayah objek penelitian, maka teknik sampling yang lebih khusus akan digunakan adalah Disproporsionate Stratified Random Sampling, terutama untuk objek yang memiliki populasi tidak proporsional terhadap populasi sejenis.

Penentuan jumlah sampel menggunakan tabel Krejcie dan nomogram Harry King. Tingkat kesalahan dari perhitungan menggunakan tabel Krejcie adalah 5% sehingga tingkat kepercayaan terhadap populasi adalah 95%. Sedangkan nomogram Harry King dalam perhitungannya membuat variasi tingkat kesalahan antara 5% s/d 15%.

(17)

13

e. Disain Penelitian

Penelitian ini didisain untuk mengetahui secara ilmiah tentang aspek yuridis, aspek sosiologis, dan aspek pilosofis dalam mengevaluasi dan menyusun Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. Kajian ini menggunakan pendekatan ilmu hukum, ilmu sosiologi, ilmu ekonomi, ilmu kepemerintahan, ilmu perilaku organisasi, ilmu lingkungan, ilmu statistik, dan bidang ilmu terkait lainnya. Disain penelitian dirancang agar dapat menjelaskan secara formal bagaimana urutan dan tata cara kajian ini dilakukan. Urutan kegitan penelitian disajikan dalam bentuk bagan alir (flow chart) seperti pada gambar di bawah ini.

(18)

14

(19)

15

BAB II PENDEKATAN TEORETIS DAN EMPIRIS

Menurut Ryaas Rasyid (1988), desentralisasi dapat juga dipahami sebagai penyerahan wewenang politik dan perundang-undangan untuk perencanaan, pengambilan keputusan dan manajemen pemerintahan dari pemerintah (pusat) kepada unit-unit sub nasional (daerah/wilayah) administrasi negara atau kepada kelompok-kelompok fungsional atau organisasi non pemerintahan/swasta. Pemahaman ini secara normatif memberi peluang kepada daerah-daerah untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas serta membuat kebijakan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam penyelenggaraan pemerintah di daerah. Asas desentralisasi memiliki landasan konstitusional sebagaimana diamanahkan pada Pasal 18 ayat (5) dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan: Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Otonomi daerah menggunakan prinsip diberikannya kewenangan kepada daerah untuk mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota menjabarkan lebih lanjut tentang pemberian kewenangan dimaksud. Dengan demikian, daerah memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dalam hal mengoptimalkan pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Salah satu instrumen yang sangat berpengaruh dalam pencapaian tujuan tersebut adalah dengan membentuk organisasi penyelenggara pemerintahan daerah berupa organisasi perangkat daerah dan kesiapan aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.

(20)

16

Berkaitan dengan kesiapan aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah, Yudoyono (2003) menjelaskan bahwa kesiapan aparatur pemerintah daerah dapat diamati dari dua sisi, yaitu kesiapan konsep dan kesiapan menjabarkan konsep ke dalam rincian langkah-langkah kebijakan praktika penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kesiapan konsep akan tampak dari rumusan hasil diskusi yang dilakukan secara intensif untuk mengakomodasi pemikiran-pemikiran cemerlang dalam rangka memperoleh konsep final pengelolaan daerah berdimensi jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Dari situ akan terbaca jelas mengenai rumusan visi, misi, dan strategi pemerintah daerah dalam melaksanakan otonomi daerah. Sedangkan kesiapan menjabarkan konsep ke dalam rincian langkah-langkah kebijakan tampak dari tersedianya program operasional, tahapan-tahapan pencapaiannya, rancangan berbagai peraturan daerah (Perda), rencana pengembangan, serta langkah-langkah nyata yang telah ditempuh selama masa persiapan. Semua itu merupakan potret dari kemampuan aparatur pemerintah daerah dalam menghadapi pelaksanaan otonomi daerah.

Menurut SANKRI (2003), Pemerintah Daerah merupakan penyelenggara pemerintah daerah otonom yang terdiri dari Pemerintah Daerah dan DPRD. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah secara keseluruhan adalah berpedoman kepada hal-hal sebagai berikut :

a. Digunakannya asas-asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan

tugas pembantuan;

b. Penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang

dilaksanakan di daerah kabupaten dan daerah kota;

c. Asas tugas pembantuan dapat dilaksanakan di daerah provinsi, daerah kabupaten, daerah kota, dan desa.

Selanjutnya dalam SANKRI (2003) dinyatakan bahwa asas-asas yang digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yaitu desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan mengandung makna sebagai berikut :

a. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan

(21)

17

b. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada

gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah; c. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan

desa dan dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggung jawabkannya kepada yang menugaskan.

1.ORGANISASI PERANGKAT DAERAH

Peraturan perundang-undangan telah menetapkan dan mengatur penyelenggaraan desentralisasi dalam bentuk pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Pemerintah (Pemerintah Pusat) adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Sedangkan pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut, pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

Penyelenggaraan desentralisasi pada praktiknya akan melahirkan benturan kepentingan (conflict of interest) terutama akibat konkurensi dalam berbagai bidang dan perspektif. Dalam rangka menghindari adanya tumpang tindih urusan dan benturan kepentingan maka setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren telah diupayakan adanya pembagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter dan fiskal nasional, yustisi, dan agama. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola

(22)

18

secara bersama antar tingkatan dan susunan pemerintahan atau konkuren adalah urusan-urusan pemerintahan selain urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan Pemerintah. Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.

Akibat adanya pembagian urusan yang diproyeksikan dalam fungsi-fungsi tersebut maka diperlukan satuan atau unit-unit penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah, yang akan menjadi pengelola dan pengurus setiap urusan pemerintahan. Unit-unit tersebut akan dibentuk dalam suatu cluster sesuai dengan bidang dan fungsi tertentu yang terhimpun dalam suatu wadah organisasi formal pemerintah yang disebut organisasi perangkat daerah. Rincian sasunan, kedudukan, tugas pokok, fungsi dan tata kerja perangkat daerah ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Perangkat daerah kabupaten/ kota adalah unsur pembantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan, dan kelurahan atau desa. Perangkat Daerah disusun dalam suatu Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah berdasarkan undang-undang.

Pada prinsipnya organisasi perangkat daerah dibentuk atas dasar pertimbangan sebagai berikut (SANKRI, 2003) :

a. Kewenangan pemerintahan yang dimiliki oleh daerah; b. Karakteristik, potensi, dan kebutuhan daerah;

c. Kemampuan keuangan daerah;

d. Ketersediaan sumber daya aparatur;

e. Pengembangan pola kerja sama antar daerah dan/atau pihak ketiga.

Selain dasar pertimbangan di atas, beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam pengorganisasian perangkat daerah adalah :

a. Pengorganisasian perangkat daerah mengacu kepada prinsip-prinsip

(23)

19

b. Jenis-jenis pelayanan masyarakat yang dibutuhkan;

c. Kecenderungan pengembangan potensi daerah ke depan;

d. Struktur organisasi dalam hal kompleksitas vertikal dan horizontal harus mempertimbangkan proses pengambilan keputusan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat

e. Pengorganisasian perangkat daerah mempertimbangkan pencapaian visi dan misi daerah;

f. Peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, kepala daerah dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf, unsur pengawasan, unsur perencanaan, unsur pendukung tugas, dan unsur pelaksana urusan daerah. Unsur staf adalah unsur yang akan membantu kepala daerah dalam penyusunan kebijakan dan koordinasi. Mengingat ruang lingkup tugasnya yang berkaitan erat dengan masalah penyusunan kebijakan dan pengkordinasian dinas daerah dan lembaga teknis daerah, maka unsur staf disusun dan ditempatkan dalam wadah sekretariat daerah yang dipimpin oleh seorang sekretaris daerah yang bertanggung jawab kepada bupati/walikota. Sedangkan untuk tugas-tugas pelayanan kepada DPRD, terutama untuk menyelenggarakan administrasi kesekretariatan dan keuangan, serta mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD, maka dibentuk sekretariat dalam wadah sekretariat DPRD yang dipin oleh seorang sekretaris DPRD. Sekretaris DPRD berada di bawah pimpinan DPRD dan oleh karenanya secara teknis operasional organisasi bertanggunbgjawab kepada pimpinan DPRD.

Namun karena sekretariat DPRD adalah merupakan cluster dari organisasi perangkat daerah, maka secara administratif bertanggung jawab kepada bupati/walikota melalui sekretaris daerah.

Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan oleh unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk inspektorat dan dipimpin oleh seorang inspektur yang bertanggung jawab langsung kepada bupati/walikota. Selain melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah, inspektorat melakukan tugas pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa, dan

(24)

20

pemerintahan daerah dilakukan oleh unsur perencana yang diwadahi dalam bentuk badan yang dinamakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Badan ini bertugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dipimpin oleh seorang kepala badan yang bertanggung jawab kepada bupati/walikota melalui Sekretaris Daerah.

Untuk mendukung tugas-tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik dilakukan oleh unsur pendukung tugas kepala daerah yang diwadahi dalam lembaga teknis daerah berupa badan, kantor, dan rumah sakit daerah. Lembaga teknis daerah berbentuk badan dipimpin oleh seorang kepala badan, lembaga teknis daerah berbentuk kantor dipimpin oleh seorang kepala kantor, dan rumah sakit daerah dipimpin oleh seorang direktur. Kepala kantor, kepala badan, dan direktur bertanggung jawab kepada bupati/ walikota melalui sekretarIs daerah. Lembaga teknis daerah berbentuk badan dapat membentuk unit pelaksana teknis tertentu untuk melaksanakan kegiatan teknis operasional yang memiliki wilayah kerja pada satu atau beberapa kecamatan. Rumah sakit daerah dapat berbentuk rumah sakit umum daerah dan rumah sakit khusus daerah. Rumah sakit umum daerah terdiri dari rumah sakit umum daerah kelas A, B, C, dan D, sedangkan rumah sakit khusus daerah terdiri dari rumah sakit khusus daerah kelas A dan B.

Tugas-tugas pelaksanaan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan dilaksanakan oleh unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah. Dinas daerah adalah unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang bertanggung jawab kepada bupati/walikota melalui sekretaris daerah. Pada dinas daerah dapat dibentuk unit pelaksana teknis dinas untuk melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa kecamatan. Sebagian kewenangan bupati/walikota dilimpahkan kepada camat yang memiliki wilayah kerja di kecamatan. Camat mempunyai tugas melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh bupati/walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, dan oleh karenanya

(25)

21

bertanggung jawab kepada bupati/walikota melalui sekretaris daerah. Di dalam wilayah kecamatan terdapat wilayah kerja lurah yang dipimpin oleh seorang lurah dan wilayah kerja desa yang dipimpin oleh seorang kepala desa. Lurah dan kepala desa bertanggung jawab kepada bupati/walikota melalui camat.

Adapun pengertian pertanggungjawaban pimpinan perangkat daerah sebagaimana diuraikan di atas, seperti pertanggungjawaban sekretaris DPRD, kepala badan, kepala kantor, direktur rumah sakit daerah, dan kepala dinas, melalui sekretaris

daerah adalah pertanggungjawaban yang bersifat administratif.

Pertanggungjawaban administratif yang dimaksud adalah meliputi penyusunan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas sekretariat DPRD, lembaga teknis daerah, dan dinas daerah. Dengan demikian baik sekretaris DPRD, kepala badan, kepala kantor, direktur rumah sakit daerah, dan kepala dinas, bukanlah merupakan bawahan langsung dari sekretaris daerah. Akan tetapi mengingat tugas dan kewajiban pengkoordinasian dinas daerah dan lembaga teknis daerah yang diemban oleh seorang sekretaris daerah maka pertanggungjawaban yang bersifat administratif dari masing-masing pimpinan pada dinas daerah dan lembaga teknis daerah secara langsung akan dilakukan melalui sekretaris daerah.

Selain dari organisasi perangkat daerah sebagaimana dijelaskan di atas, peraturan perundang-undangan mengatur pula mengenai pembentukan lembaga lain dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah, sebagai bagian dari perangkat daerah, seperti sekretariat badan narkoba kabupaten dan kota, sekretariat komisi penyiaran, serta lembaga lain untuk mewadahi penanganan tugas-tugas pemerintahan umum yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Namun untuk pengendaliannya, pembentukannya harus dengan persetujuan pemerintah atas usul kepala daerah. Pembinaan dan pengendalian organisasi dimaksudkan dalam rangka penerapan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi antar daerah dan antar sektor, sehingga masing-masing pemerintah daerah taat asas dan taat norma dalam penataan kelembagaan perangkat daerah.

(26)

22

Diantara hal yang bersifat substantif yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah adalah perubahan nomenklatur Bagian Tata Usaha pada Dinas dan Badan menjadi Sekretariat. Tujuan esensialnya adalah untuk lebih memfungsikan kesekretariatan sebagai unsur staf dalam rangka koordinasi penyusunan program dan penyelenggaraan tugas-tugas bidang secara terpadu dan tugas pelayanan administratif. Disamping itu, bidang pengawasan, sebagai salah satu fungsi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, dalam rangka akuntabilitas dan objektifitas hasil pemeriksaan, maka nomenklaturnya menjadi Inspektorat Provinsi, Inspektorat Kabupaten/Kota dan dipimpin oleh Inspektur, yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab langsung kepada kepala daerah.

Substansi lain yang diatur adalah eselonisasi, dimana eselon kepala bidang pada dinas dan badan perangkat daerah kabupaten/kota diturunkan yang semula eselon IIIa menjadi eselon IIIb. Penurunan eselon ini dimaksudkan dalam rangka penerapan pola pembinaan karir, efisiensi, dan penerapan koordinasi sesuai peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian. Sungguhpun demikian, bagi pejabat yang sudah atau sebelumnya memangku jabatan eselon IIIa, sebelum Peraturan Pemerintah ini ditetapkan kepada yang bersangkutan tetap diberikan hak-hak kepegawaian dan hak-hak administrasi lainnya dalam jabatan struktural eselon IIIa, walaupun organisasinya menjadi eselon IIIb, dan jabatan eselon IIIb tersebut efektif diberlakukan bagi pejabat yang baru dipromosikan memangku jabatan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Beberapa perangkat daerah yaitu yang menangani fungsi pengawasan, kepegawaian, rumah sakit, dan keuangan, mengingat tugas dan fungsinya merupakan amanat peraturan perundangundangan, maka perangkat daerah tersebut tidak mengurangi jumlah perangkat daerah yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini, dan pedoman teknis mengenai organisasi dan tata kerja diatur tersendiri.

Dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan pembinaan dan pengendalian organisasi perangkat daerah, pemerintah melakukan fasilitasi melalui asistensi, pemberian arahan, pedoman, bimbingan, supervisi, pelatihan, serta kerja sama, sehingga sinkronisasi dan simplifikasi dapat tercapai secara optimal dalam

(27)

23

kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu, pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada daerah dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsi legislasinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan pemerintahan daerah. Dalam implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah selalu diterapkan prinsip-prinsip organisasi, antara lain visi dan misi yang jelas, terukur, dan terarah – pengorganisasian kelembagaan fungsi staf, fungsi lini, dan fungsi pendukung secara tegas – efisiensi dan efektifitas – rentang kendali (span of control) yang rasional, serta tata kerja yang jelas.

2.PENDEKATAN NORMATIF

A. Landasan Yuridis

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam

Pembukaan (Preambule) mengamanahkan bahwa Pemerintah Negara Indonesia

bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Amanah tersebut menyiratkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk melaksanakan dan menyelenggarakan pemerintahan dalam rangka menuju masyarakat yang sejahtera. Disamping itu, pemerintah juga berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui program-program kerja pemerintah dan pemerintah daerah.

Mengingat adanya dinamika dalam kehidupan masyarakat serta untuk keperluan beradaptasi dengan perubahan lingkungan internal dan eksternal pemerintah, maka pemerintah perlu untuk melakukan antisipasi dengan melakukan restrukturisasi dan rasionalisasi terhadap Susunan Organisasi dan Tata Kerja agar dapat mengakomodir seluruh kebutuhan, kepentingan, dan potensi daerah. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan, namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat

(28)

24

wajib, diselenggarakan oleh seluruh provinsi, kabupaten, dan kota, sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah, yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masing-masing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat.

Pengaturan Organisasi Perangkat Daerah pada prinsipnya dimaksudkan untuk memberikan arah dan pedoman yang jelas kepada daerah dalam menata organisasi yang efisien, efektif, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah masing-masing serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat dan daerah. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, pemerintah dapat membatalkan peraturan daerah tentang perangkat daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dengan konsekuensi pembatalan hakhak keuangan dan kepegawaian serta tindakan administratif lainnya. Susunan

(29)

-

25

organisasi dan Tata Kerja disusun dengan mengacu dan berlandaskan kepada peraturan perundang-undangan. Landasan yuridis yang berkaitan dengan evaluasi terhadap substansi dan materi dalam Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Indragiri Hulu adalah :

a. Undang-Undang:

- Undang–Undang Nomor 12 Tahun 1956 Tentang Pembentukan

Daerah Otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah;

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1965 Tentang

Pembentukan Daerah Tingkat II Inderagiri Hilir Dengan Mengubah Undang-undang Nomor 12 Tahun 1956, Tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Sumatera Tengah;

- Undang-Undang no 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

- Undang-Undang no 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional;

- Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah;

- Undang-Undang No 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan

Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah;

- Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan

Bencana;

- Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

b. Peraturan Pemerintah:

- Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah;

- Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 Tentang Pedoman

(30)

-

26

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

- Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi

Perangkat Daerah;

- Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

c. Peraturan Menteri;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 Tentang

Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri No 59 Tahun 2007 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2007 Tentang

Pedoman Teknis Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 Tentang

Organisasi dan Tata Kerja Penanggulangan Bencana Daerah;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2011 Tentang

Standar Operasional Prosedur di Lingkungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 55 Tahun

2011 Tentang Pedoman Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah Otonom Baru;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 37 Tahun

2012 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013;

(31)

-

27

2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 62 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pemerintahan Dalam Negeri Di Kabupaten/Kota;

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Kebijakan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2013;

- Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 23 Tahun

2013 Tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2014.

d.Peraturan Daerah

- Peraturan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 18 Tahun 2008

Tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu;

- Peraturan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu Nomor Nomor 10 Tahun

2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu.

e. Peraturan Bupati

- Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 12 Tahun 2008

Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Sekretariat Daerah Kabupaten Indragiri Hulu dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Indragiri Hulu;

- Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 13 Tahun 2008

Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Dinas Daerah Kabupaten Indragiri Hulu;

- Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 14 Tahun 2008

(32)

-

28

Daerah Kabupaten Indragiri Hulu;

- Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 15 Tahun 2008

Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Kecamatan dan Kelurahan Lingkup Kabupaten Indragiri Hulu;

Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian

(33)

29

Tugas Sekretariat Daerah Kabupaten Indragiri Hulu dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Indragiri Hulu;

- Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 7 Tahun 2011

Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Dinas Daerah Kabupaten Indragiri Hulu;

- Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 8 Tahun 2011

Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Indragiri Hulu.

B.Landasan Sosiologis

Evaluasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu pada dasarnya adalah upaya Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu dalam mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan oleh organisasi perangkat daerah existing dalam menyelenggarakan seluruh urusan pemerintahan di Kabupaten Indragiri Hulu. Hasil evaluasi akan dijadikan dasar kebijakan dalam merestrukturisasi (penataan kembali) dan merasionalisasi susunan organisasi perangkat daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan, sehingga penyelenggaraan pemerintahan dapat berjalan secara efektif, efisien, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah Kabupaten Indragiri Hulu, serta untuk membangun sistem koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat dan daerah. Organisasi perangkat daerah yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan akan dapat berfungsi dengan baik manakala dalam pembentukannya dilandaskan kepada pertimbangan sosiologis yaitu pertimbangan yang berkaitan dengan kebutuhan internal dan eksternal organisasi yaitu kebutuhan masyarakat, aparatur pemerintah, dan pemerintahan itu sendiri.

Pertimbangan sosiologis adalah pertimbangan yang didasarkan kepada latar belakang lingkungan dan tata sosial kemasyarakatan, serta faktor-faktor yang dianut di tengah masyarakat. Adapun pertimbangan sosiologis dalam

(34)

30

merestrukturisasi dan merasionalisasi Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu adalah:

a. Secara geografis Kabupaten Indragiri Hulu memiliki kawasan seluas kurang lebih 8.198,26 Km2 (819.826 Ha) terdiri dari 14 (empat belas) wilayah administratif kecamatan yang terbagi kedalam 197 (seratus sembilan puluh tujuh) wilayah administratif kelurahan dan desa. Jarak antar pusat wilayah administrasi kecamatan ke pusat wilayah administrasi kabupaten (ibukota kabupaten) berkisar antara 0 – 96 Km. Wilayah administratif yang relatif sangat luas dan dengan jarak relatif jauh ini memerlukan organisasi pemerintahan dengan rentang kendali (span of control) yang kompatibel (mampu menggerakkan secara serasi dan seimbang) sehingga dapat terakomodir dalam perencanaan pembangunan jangka panjang, menengah, dan program jangka pendek daerah. Untuk tujuan tersebut diperlukan organisasi perangkat daerah yang dapat menjamin pencapaian program jangka panjang, jangka menengah, dan program jangka pendek daerah.

b. Secara topografis Kabupetan Indragiri Hulu berada pada bahagian hilir dari aliran Sungai Indragiri sehingga pada umumnya wilayah Kabupaten Indragiri Hulu merupakan wilayah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 5 meter sampai dengan 400 meter di atas permukaan laut (water sea level). Bagian selatan dan barat pada umumnya merupakan kawasan perbukitan rendah, sedangkan bagian utara dan timur merupakan dataran rendah. Bagian dataran rendah yang paling luas berada pada ketinggian 25 meter sampai dengan 100 meter di atas permukaan laut. Sebahagian besar dari dataran rendah ini memiliki lapisan permukaan tanah gambut (peat swamp).

Sungai Indragiri memiliki panjang lebih kurang 550 Km mengalir melewati beberapa kabupaten lain dimana hulunya berada di Danau Singkarak Sumatera Barat, sementara hilirnya berada di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu. Sungai Indragiri merupakan potensi alam yang memiliki fungsi yang

(35)

31

sangat strategis bagi Kabupaten Indragiri Hulu. Disamping memiliki potensi, kondisi topografi sebagai mana diuraikan di atas mengakibatkan sebagian besar wilayah Kabupaten Indragiri Hulu berpotensi mengalami bencana banjir. Bencana banjir berpotensi pula mendatangkan bencana bagi penduduk yang bermukim dan beraktifitas di sepanjang daerah aliran Sungai Indragiri. Potensi banjir tersebut merupakan akumulasi dari banjir kiriman dari daerah yang terletak lebih ke hulu. Peran strategis dan potensi bencana Sungai Indragiri memerlukan penanganan dan merupakan bahagian dari urusan pemerintahan daerah Kabupaten Indragiri Hulu yang perlu dikelola secara terorganisir dalam organisasi perangkat daerah.

c. Secara demografis Kabupaten Indragiri Hulu memiliki jumlah penduduk 420.221 jiwa (data 2012) dengan tingkat laju pertumbuhan rata-rata 5,13% per tahun (rata-rata 2008-2012). Pertumbuhan penduduk memberi dampak logis terhadap meningkatnya jumlah angka kelahiran, angka kepadatan penduduk, angka anak usia sekolah, angka angkatan kerja, tingkat pengangguran, angka kemiskinan, dan masalah lain yang berkaitan dengan kependudukan. Masalah kependudukan memerlukan penanganan yang komprehensif untuk mengendalikan berbagai dampak buruk dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Program kependudukan meliputi pengendalian kelahiran, menurunkan tingkat kematian ibu dan anak, perpanjangan usia dan harapan hidup, penyebaran penduduk yang seimbang, serta progran peningkatan dan pengembangan kualitas penduduk agar memiliki keunggulan bersaing

(competitive advantage) sebagai modal dasar dalam percepatan

pembangunan.

d. Kondisi sosial masyarakat yang secara terus-menerus berevolusi menuju masyarakat dengan tatanan sosial yang lebih maju akan menggeser paradigma lama menuju paradigma baru. Dalam paradigma baru, masyarakat membutuhkan infrastruktur dasar yang memadai, masyarakat mulai membutuhkan akses ke berbagai pusat-pusat informasi, masyarakat

(36)

32

membutuhkan solusi atas berbagai persoalan secara cepat dan tepat, masyarakat membutuhkan tingkat pelayanan prima, yaitu pelayanan yang sama atau bahkan di atas standar yang diberlakukan. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keamanan, keselamatan, kenyamanan, kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta upaya-upaya menjaga kualitas lingkungan hidup sesungguhnya adalah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat, sehingga diperlukan sinergitas antara masyarakat dan pemerintah dalam mengelola sumber daya yang ada. Masyarakat berhak untuk hidup dalam lingkungan yang layak agar mendapat kesejahteraan hidup lahir dan batin. Pemerintah adalah abdi masyarakat yang berkewajiban untuk memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Di satu sisi, masyarakat adalah customer (pelanggan) bagi pemerintah.

Salah satu prinsip yang harus dianut dalam hubungan pemerintah dan masyarakat adalah kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Masyarakat yang merasa puas dengan layanan pemerintah akan sangat mudah untuk diajak dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Sebaliknya, masyarakat yang tidak puas dengan pelayanan pemerintah maka cenderung menunjukkan sikap pembangkangan kepada setiap kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, agar penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Indragiri Hulu dapat berjalan dengan baik, efektif, rasional, dan akuntabel maka perlu dilakukan restrukturisasi dan rasionalisasi berdasarkan perkembangan daerah, kebutuhan daerah dengan mengacu kepada peraturan perundang-undangan.

C. Landasan Filosofis

Landasan filosofis adalah landasan yang didasarkan kepada pandangan tentang kebenaran, rasa keadilan, keyakinan, dan hukum. Selain dipengaruhi oleh bentuk negara dan sistem pemerintahan, tatanan organisasi pemerintahan dipengaruhi pula oleh tata nilai yang dianut berupa pandangan falsafah, citacita dan tujuan bernegara, serta perkembangan lingkungan strategis yang dihadapi baik dalam tatanan daerah, nasional, maupun internasional. Adanya perbedaan

(37)

33

dalam perkembangan lingkungan strategis yang dihadapi dan adanya perbedaan tata nilai dan sistem pemerintahan yang dianut menyebabkan timbulnya perbedaan dalam design organisasi dalam rangka mendukung efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan pemerintahan.

Dalam SANKRI (2003) dinyatakan bahwa dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung nilai-nilai peradaban dan kemanusiaan yang sangat luhur dan mendasar, hakiki dan universal, yang menghikmati, melandasi, memberi acuan, dan menggariskan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua itu merupakan dimensi-dimensi nilai Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diantara dimensi-dimensi nilai Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan nilai dan prinsip kepemerintahan yang baik (good governance) diantaranya adalah; demokrasi, kepastian hukum, transparansi, profesionalitas, desentralisasi, daya saing, dan akuntabel. Lebih dari itu dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia terkandung dimensi spiritual, yang menegaskan bahwa pelaksanaan berbagai dimensi kultural dan institusional didasari serta dihikmati keimanan dan ketaqwaan, yang juga mempunyai makna tunduk pada adanya tuntutan pertanggungjawaban, bukan saja kepada publik (public accountability) tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa (spiritual accountability).

Untuk penataan kelembagaan pemerintah daerah perlu adanya Pedoman Pengorganisasian Perangkat Daerah, baik besaran maupun nomenklaturnya sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah dalam rangka memudahkan pembinaan dan pengawasan karena dampak personel dan pembiayaan yang ditimbulkan oleh kelembagaan tersebut. Pedoman dimaksud di sini bukan berarti membuat keseragaman atau uniformitas, akan tetapi suatu aturan/ tatanan membuat rambu-rambu bagi daerah dalam menyusun perangkat daerahnya. Hal ini perlu dilakukan agar organisasi perangkat daerah yang dibentuk benar-benar efektif dalam merencanakan dan melaksanakan program pembangunan dan keseluruhan aktivitas kehidupan bermasyarakat.

(38)

34

Dalam bahagian keempat dari etika penyelenggara negara (SANKRI, 2003) disebutkan bahwa untuk terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang

bersih diperlukan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan

pemerintahan. Masyarakat memiliki hak dan tanggung jawab dalam mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Peran serta masyarakat dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih tidak boleh diartikan sebagai penghalang bagi aparatur pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Akan tetapi, keterlibatan masyarakat hendaklah didukung dengan pemberian dan perlindungan hak-hak sebagai berikut : hak untuk mencari, memperoleh, dan memberikan informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil, hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap kebijakan penyelenggaraan pemerintahan, dan hak untuk memperoleh perlindungan hukum. Inilah yang menjadi landasan filosofis dalam penataan organisasi perangkat daerah.

3.BESARAN ORGANISASI MAKSIMUM

Beradaptasi dengan perubahan lingkungan, baik lingkungan eksternal maupun internal, baik dalam skala makro maupun mikro, adalah salah satu tindakan yang harus diambil untuk mempertahankan eksistensi sebuah organisasi, termasuk organisasi pemerintah ketika berada dalam suatu lingkungan yang bergerak sangat dinamis secara kontiniu dan berkelanjutan. Pergeseran nilai dalam tatanan kehidupan adalah salah satu pemicu terjadinya perubahan lingkungan stratgis sehingga terjadi peningkatan standar sosial, ekonomi dan kultural masyarakat secara terus menerus. Hal ini perlu diantisipasi oleh birokrat dengan melakukan reformasi birokrasi sehingga perubahan dan pergeseran standar dalam seluruh tatanan kehidupan dapat diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas kinerja penyelenggara pemerintah. Peningkatan kualitas dan kuantitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan dapat dilakukan melalui penataan kelembagaan perangkat daerah.

Reformasi birokrasi baik pada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah merupakan kebutuhan dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang baik (good

(39)

35

governance). Reformasi birokrasi pada tataran pemerintah daerah antara lain bidang organisasi perangkat daerah yang diarahkan untuk terciptanya organisasi yang efisien, efektif, rasional dan proporsional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat dan daerah. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Dalam penataan kelembagaan perangkat daerah harus menerapkan prinsip-prinsip organisasi, antara lain visi dan misi yang jelas, pelembagaan fungsi staf, fungsi lini, dan fungsi pendukung secara tegas, efisien dan efektif, rentang kendali (span of control) yang idela, serta tatakerja yang jelas.

Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib, diselenggarakan oleh seluruh provinsi, kabupaten, dan kota, sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah, yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masing-asing daerah sebagai upaya optimasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat. Untuk memberikan arahan, pedoman, dan panduan kepada daerah dalam merestrukturisasi dan merasionalisasi organisasi perangkat daerah maka diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) yang pada prinsipnya memberikan arah dan pedoman yang jelas kepada daerah dalam menata organisasi yang efisien, efektif, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah masing-masing serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara pusat dan daerah.

Ada beberapa faktor yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan besaran organisasi perangkat daerah. Faktor pertibangan tersebut antara lain adalah faktor keuangan, kebutuhan daerah, cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas

(40)

36

yang harus diwujudkan, jenis dan banyaknya tugas, luas wilayah kerja dan kondisi geografis, jumlah dan kepadatan penduduk, potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani, sarana dan prasarana penunjang tugas. Berdasarkan kepada faktor-faktor tersebut, setiap daerah akan menentukan sendiri besaran dan struktur organisasinya. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007, tentang Organisasi Perangkat Daerah telah ditetapkan kriteria untuk menentukan besaran dan struktur organisasi perangkat daerah maksimum pada masing-masing pemerintah daerah dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah, dan jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ketiga variabel tersebut dibagi ke dalam beberapa interval kelas yang memiliki nilai tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah tersebut. Berdasarkan kepada tiga variabel tersebut, kemudian ditetapkan pembobotan masing-masing variabel, yaitu :

Tabel 2.1 Variabel Besaran Organisasi Perangkat Daerah

No. Variabel Satuan Bobot (%)

1. Jumlah Penduduk Jiwa 40

2. Luas Wilayah Km2 35

3. Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah (APBD) Rupiah 25

Jumlah 100

Sumber : Diolah dari PP. Nomor 41/2007

Berdasarkan tabel di atas, dapat ditetapkan kriteria untuk menentukan jumlah besaran organisasi perangkat daerah masing-masing pemerintah daerah dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah dan jumlah APBD, yang kemudian ditetapkan pembobotan masing-masing variabel yaitu 40% (empat puluh persen) untuk variabel jumlah penduduk, 35% (tiga puluh lima persen) untuk variabel luas wilayah, dan 25% (dua puluh lima persen) untuk variabel jumlah APBD, serta menetapkan variabel tersebut dalam beberapa kelas interval. Nilai variabel pada masing-masing interval kelas digunakan untuk menentukan jumlah keseluruhan

Gambar

Tabel 2.2  Nilai Kelas Interval Variabel
Tabel 2.3  Besaran Maksimum Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota
Gambar 3.1  Peta Wilayah Administrasi Kabupaten Indragiri Hulu
Tabel 3.1  Data Klimatologi Tahunan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian kualitatif dalam hal ini adalah untuk mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal Perusahaan Daerah Kabupaten Natuna sehingga dapat mengetahui mengapa

Demi menjalankan amanat UU KIP No 14 Tahun 2008 tersebut, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu membentuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) dan

Gugus Tugas KLA adalah lembaga koordinatif Pemerintah Kabupaten ditingkat Kabupaten yang mengkoordinasikan kebijakan, program dan kegiatan untuk penyelenggaraan KLA

Kemudian pada pasal 13 ayat (3) dan (4) disebutkan bahwa Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dan pejabat struktural eselon II di lingkungan PemerintahKabupaten/Kota

3. Memfasilitasi penyelenggaraan persidangan/rapat-rapat, upacara, pelantikan dan acara-acara resmi yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Memelihara dan

Hasil dari pelaksanaan kegiatan ini adalah diperolehnya dukungan dari stakeholder internal terhadap aksi perubahan e-SPPD Sekretariat Daerah Kabupaten Jember. Dengan

Bagian organisasi dan kepegawaian Sekretariat Daerah Kabupaten Demak menjadi ujung tombak dalam peningkatan nilai budaya kerja pegawai di lingkungan pemerintah Kabupaten

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik