• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Observasi Pembelajaran Matematik. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Observasi Pembelajaran Matematik. docx"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN OBSERVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Tentang

Melihat dan Menganalisis Pembelajaran Matematika di SLB YPPA Padang

Disusun Oleh :

Elisa Cristina Silitonga (14003005) Riza Novala Sari (14003022)

Ivo Anggraini (14003090)

Rahmadani Yusuf (14003094) Fatimah Azzahra (14003116) Finka Putri Manela (14003117)

Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Hj. Mega Iswari, M.Pd

PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan observasi ini tepat waktu. Sholawat beserta salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam yang berilmu pengetahuan.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Hj. Mega Iswari, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah “Pembelajaran Matematika” yang telah memberikan berbagai masukan dan bimbingan selama mengikuti kegiatan pembelajaran guna membantu dalam memahami pelajaran dan pembuatan laporan observasi ini. Tak lupa terimakasih kepada semua pihak yang berada di SLB YPPA Padang, khususnya kepada ibu Rafmateti, S.Pd selaku kepala sekolah SLB YPPA Padang yang memberikan kami izin, masukan, dan arahan. Selanjutnya terima kasih juga kepada semua pihak yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan laporan observasi ini.

Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini, baik pada teknik penulisan maupun materi. Dengan demikian, penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan laporan selanjutnya.

Padang, Februari 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan Penulisan ... 1

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kurikulum ... 2 B. Silabus ... 10 C. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) ... 13

BAB III HASIL OBSERVASI

A. Profil Sekolah ... 17 B. Laporan Observasi ... 18

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ... 21 B. Penutup ... 21

DOKUMENTASI ... 22

DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang menduduki peranan penting dalam dunia pendidikan. Matematika dalam pelaksanaan pendidikan diajarkan di institusi-institusi pendidikan baik ditingkat SLB (sekolah luar biasa), SD (sekolah dasar), SMP (sekolah menengah pertama), SMA (sekolah menengah atas), hingga perguruan tinggi. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai obyek kajian yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam menghayati dan memahami konsep-konsep matematika.

Pada kurikulum 2013, ada target-target yang harus dicapai oleh anak, bagi anak berkebutuhan khusus tentunya target itu sulit dicapai. Dengan demikian, perlunya modifikasi pembelajaran matematika bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus sesuai dengan kemampuannya.

B. Rumusan Masalah

1. Kurikulum apa yang digunakan?

2. Bagaimana penerapan dan persiapan kurikulumnya? 3. Apa saja strategi pembelajarannya?

4. Apa saja media pembelajaran yang digunakan?

C. Tujuan Penulisan

(5)

BAB II KAJIAN TEORI A. Kurikulum

1. Pengertian Kurikulum

Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latin curerer yaitu pelari, dan curere yang artinya tempat berlari. Pada awalnya kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari mulai dari garis start sampai dengan finish. Kemudian pengertian kurikulum tersebut digunakan dalam dunia pendidikan, dengan pengertian sebagai rencana dan pengaturan tentang sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari peserta didik dalam menempuh pendidikan di lembaga pendidikan.

Berikut ini beberapa pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli:

a. Pengertian Kurikulum Menurut Kerr, J. F (1968): Kurikulum adalah semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara individu ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di luar sekolah. b. Pengertian Kurikulum Menurut Inlow (1966): Kurikulum adalah usaha

menyeluruh yang dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah ditentukan.

c. Pengertian Kurikulum Menurut Neagley dan Evans (1967): kurikulum adalah semua pengalaman yang dirancang dan dikemukakan oleh pihak sekolah.

d. Pengertian Kurikulum Menurut Beauchamp (1968): Kurikulum adalah dokumen tertulis yang mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui berbagai mata pelajaran, pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

e. Pengertian Kurikulum Menurut Good V. Carter (1973): Kurikulum adalah kumpulan kursus ataupun urutan pelajaran yang sistematik. f. Pengertian Kurikulum Menurut UU No. 20 Tahun 2003: Kurikulum

adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

(6)

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang melakukan penyederhanaan, dan tematik-integratif, menambah jam pelajaran dan bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran dan diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.

3. Peran Kurikulum 2013

Dalam pendidikan formal di sekolah kurikulum memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Kurikulum memiliki banyak peranan, Oemar hamalik ( dalam Mida Latifatul Muzamiroh, 2013:24-26 ) terdapat tiga peranan yang dinilai sangat penting yaitu sebagai berikut :

a. Peranan konservatif

Peranan konservatif menekankan bahwa kurikulum dapat dijadikan sebagai sarana untuk mentransmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda, dalam hal ini para siswa. Peranan konservatif ini pada hakikatnya menempatkan kurikulum yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosial. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina prilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai sosial.

b. Peranan kreatif

(7)

yang dapat membantu peserta didik dalam rangka mengembangkan potensi yang ada pada dirinya guna memperoleh dan mendalami pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan-kemampuan baru, serta cara berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya sesusai dengan tuntutan perkembangan zaman.

c. Peranan kritis dan evaluatif

Peranan kritis dan evaluatif dilatar belakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai – nilai dan budaya yang aktif dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai – nilai budaya masalalu kepada peserta didik perlu adanya penyesuaian yakni disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada saat ini. Sealain dari itu perkembangan yang terjadi pada saat ini dan saat yang akan datang belum tentu sesuia dengan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya yang ada atau menerapkan hasil perkembangan baru yang terjadi, akan tetapi juga harus memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang hendak diwariskan. Oleh karena itu kurikulum juga diharapkan mampu berperan aktif dalam control atau filter sosial. Nilai – nialai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan diadakan modivikasi dan penyempurnaaan.

(8)

Muzamiroh (kupas tuntas kurikulum, 2013:133-135), Menteri Pendidikan dan Budaya menjelaskan bahwa kurikulum 2013 lebih bersifat tematik integrative yang berarti bahwa ada mata pelajaran yang terkait satu sama lain yakni dengan kata lain mata pelajaran bukan dihilangkan melainkan digabung. Pada kurikulum ini, guru tak lagi dibebani dengan kewajiban membuat silabus pengajaran untuk siswa setiap tahun seperti yang terjadi pada KTSP.

Tujuan kurikulum 2013, sebagaimana yang tercakup dalam Kompetisi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), bahkan silabus dan buku, telah dipriskripsikan secara terpusat.

Henny Supolo Sitepu (Mohammad Nuh,2013:192-198) kurikulum 2013 ini memusatkan pada pengembangan karakter siswa. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) kurikulum 2013 menyebutkan 3 kelompok sikap yang diharapkan dimiliki lulusan, yaitu sifat individu, sikap sosial, dan sikap alam. Terminologi “akhlak mulia” yang tercantum di pasal 3 UU No 20/2003 tujuan system pendidikan nasional dijabarkan dalam SKL sebagai sikap individu yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli dan santun. Kemudian sikap sosial yaitu memiliki toleransi, gotong royong, kerjasama dan musyawarah. Sedangkan sikap alam mencakup pola hidup sehat, ramah lingkungan, patriotic dan cintaperdamaian.

Menurut St. Kartono (Mohammad Nuh,2013:231) kurikulum 2013 memiliki sasaran dalam setiap jenjang. Untuk tingkat SD, diprioritaskan untuk pembentukan sikap. Sementara tingkat SMP difokuskan untuk mengasah keterampilan dan untuk tingkat SMA dimulai membangun pengetahuan.

4. Fungsi Kurikulum

(9)

bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Sedangkan bagi peserta didik berfungsi sebagai pedoman belajar (Mida Latifatu, 2013:

a. Fungsi kurikulum bagi siswa

Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fumgsi kurikulum (Mida Latifatu, 2013: 19-24) yaitu :

1) Fungsi penyesuaian (the adjustive or adaptive function)

Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan setiap peserta didik agar memiliki sifat well adjusted yaitu kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya, baik lingkunganfisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, peserta didik pun harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya. Tanpa bekal yang cukup, susah bagi peserta didik untuk melakukan penyesuaian diri padahal jika ingin konsisten maka dibutuhkan penyesuaian diri dengan lingkungannya.

2) Fungsi integrasi (the Integrating Function)

Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi – pribadi yang utuh. Setiap peserta didik pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, peserta didik pun harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakat. Sehingga dengan demikian peserta didik tidak asing di tempat di mana ia tinggal.

3) Fungsi diferensiasi (The Differentiating Function)

(10)

memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani dengan baik. Karena itu seorang guru dibutuhkan kesabaran dan wawasan yang luas guna menampung setiap peserta didiknya. Tanpa bekal yang baik sulit bagi seorang guru untuk memahami setiap karakter atau sifat yang melekat pada setiap peserta didiknya.

4) Fungsi persiapan (The Propaedeutic Funcion)

Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga juga diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya karena suatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Sebab banyak pula diantara masyarakat Indonesia yang hidupnya masih menengah kebawah sehingga dengan demikian sangat sulit bagi mereka untuk bisa membiayai putra putrinya guna mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi .hal ini dikarenakan keterbatasan ekonomi. Karenanya dengan kurikulum yang direncanakan dengan baik maka akan menghasilkan pribadi yang baik yang siap menghadapi kehidupan yang sebenarnya di masyarakat.

5) Fungsi pemilihan (The Selective Funcion)

(11)

untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.

6) Fungsi diagnostik (The Diagnostic Funcion)

Fungsi diagnostic mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan ( potensi ) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memhami kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan peserta didiknya dapat mengembangngkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahnnya.

b. Fungsi kurikulum bagi guru

Bagi guru kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan (hendyar soetopu dan wasty soemanto, 1993:18). Sedangkan menurut zulfanur z. firdaus dan rosmid rosa (1997:1.10) fungsi kurikulum bagi guru yaitu sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasikan pelajaran. c. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah

Adapun fungsi kurikulum bagi kepala sekolah yang diungkapkan oleh Hendyat Soetopo dan Wasty soemanto (Zulfanur Z. Firdaus dan Rosmid Rosa (1997:1.10) adalah sebagai berikut :

1) Pedoman dalam mengatakan fungsi supervise yaitu memperbaiki situasi belajar.

2) Pedoman dalam melaksanakan fungsi supervise dalam memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki situasi belajar.

3) Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi kemajuan belajar mengajar.

(12)

5) Sebagai seorang administrator. Kurikulum dapat di jadikan pedoman untuk memperkembangkan kurikulum lebih lanjut.

5. Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum 2013.

a. Kelebihan Kurikulum 2013

1) Lebih menekankan pada pendidikan karakter. Selain kreatif dan inovatif, pendidikan karakter juga penting yang nantinya terintegrasi menjadi satu. Misalnya, pendidikan budi pekerti luhur dan karakter harus diintegrasikan kesemua program studi.

2) Asumsi dari kurikulum 2013 adalah tidak ada perbedaan antara anak desa atau kota. Seringkali anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi mereka.

3) Merangsang pendidikan siswa dari awal, misalnya melalui jenjang pendidikan anak usia dini.

4) Kesiapan terletak pada guru. Guru juga harus terus dipacu kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru untuk meningkatkan kecakapan profesionalisme secara terus menerus.

b. Kekurangan Kurikulum 2013

1) Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013.

(13)

3) Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu pelajaran-pelajaran tersebut berbeda.

B. Silabus

1. Pengertian Silabus

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “garis besar, ringkasan, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran”. Silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standart kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam mencapai standar kompetensi dan kemampuan dasar.

Jadi, Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

2. Prinsip Pengembangan Silabus

Silabus dibuat tak lepas dari rangkaian produk untuk pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Karena di dalamnya terdapat garis-garis besar materi yang akan diajarkan. Maka dalaam pengembangannya, silabus memiliki delapan prinsip:

a. Ilmiah. Keseluruhan materi dan kegiatan yangg menjadi muatan dalaam silabus harus benar dan dapatt dipertanggungjawabkan secara keilmuan. b. Relevan. Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalaam silabus sesuai dengaan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

c. Sistematis. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalaam mencapai kompetensi.

(14)

e. Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

f. Aktual dan Kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalaam kehidupan nyata, dan peristiwa yangg terjadi.

g. Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapatt mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yangg terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

h. Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

3. Manfaat Silabus

Manfaat silabus agar pembelajaran yang berlangsung lebih terarah sehingga menjadi jelas dan pasti. Namun tak hanya itu saja manfaat silabus. Ada banyak manfaat silabus antara lain :

a. Pedoman pengembangan pembelajaran, seperti untuk pembuatan rencana pembelajaran, untuk pembuatan pengelolaan aktivitas atau kegiatan pembelajaran, dan pengembangan dalaam sistem penilaian. b. Sumber pokok dalaam penyusunan rencana pembelajaran, seperti

penyusunan rencana pembelajaran untuk satu standar kompetensi maupun satu kompetensi dasar.

c. Pedoman perencanaan pengelolaan kegiatan belajar, baik pengelolaan kegiatan belajar yangg dilakukan secara klasikal, kelompok kecil maupun pembelajaran yangg dilakukan secara individual.

d. Pedoman untuk pengembangan sistem penilaian. Ini memang menjadi salah satu peran utama silabus. Ia menjadi pengembang sistem penilaian, jika berbasis kompetensi maka sisem penilaian yang dilakukan harus mengacu pada standar kompetensi, kompetensi dasar dan pembelajaran yang termuat di dalam silabus.

(15)

Silabus dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terdiri dari beberapa komponen, sebagai berikut :

a. Standar Kompetensi Mata Pelajaran

Standar kompetensi mata pelajaran adalah batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu, kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan siswa untuk suatu mat pelajaran, kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki siswa, kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam dalam suatu mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi terdapat dalam Permen Diknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. b. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran yang harus dicapai siswa. Kompetensi dasar dalam silabus berfungsi untuk mengarahkan guru mengenai target yang harus dicapai dalam pembelajaran.Misalnya, mampu menyelesaikan diri dengan lingkungan dan sebagainya.Kompetensi Dasar terdapat dalam Permen Diknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.

c. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji.Hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan,maupun sikap.

d. Indikator Hasil Belajar

(16)

siswa.Tanda-tanda ini lebih spesifik dan lebih dapat diamati dalam diri siswa, target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi atau tercapai.

e. Materi Pokok

Materi pokok adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar.Secara umum materi pokok dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu: fakta, konsep, prisip, dan prosedur.

f. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran adalah bentuk atau pola umum kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.Strategi pembelajaran meliputi kegiatan tatap muka dan non tatap muka (pengalaman belajar).

g. Alokasi Waktu

Alokasi waktu adalah waktu yang diperlukan untuk menguasai masing-masing kompetensi dasar.

h. Adanya Penilaian

Penilaian adalah jenis, bentuk, dan instrumen yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur keberhasilan belajar siswa.

i. Sarana dan Sumber Belajar

Sarana dan sumber belajar adalah sarana dan sumber belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar.

C. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) 1. Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

(17)

silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu indicator atau beberapa indicator untuk satu kali pertemuan atau lebih.

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) harus berupa kegiatan konkrit yang dilakukan oleh guru di kelas dalam mendampingi peserta didik. Satu hal yang sangat penting yaitu kegiatan pembelajaran harus diarahkan agar berfokus pada peserta didik, sedangkan guru berperan sebagai pendamping. Artinya ketika guru memilih metode atauendekatan harus memungkinkan siswa berperan aktif dan berinteraksi dalam pembelajaran.

2. Susunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) a. Identitas

Identitas RPP meliputi: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas/Semester,dan Alokasi Waktu/ Jumlah Pertemuan.

b. Standar Kompetensi

Standar kompetensi merupakan kualifikasi peserta didik dalam menguasai pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Diharapkan dapat dicapai oleh setiap kelas materi dan/ atau semester pada suatu mata pelajaran.

c. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemempuan yang harus dikuasai peserta didik, dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indicator kompetensi dalam suatu pelajaran.

d. Indikator

Indikator adalah perilaku yang dapat diukur atau diobservasi untuk menunjukan pencapaian kompetensi tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

e. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang akan dicapai peserta didik sesuai kompetensi dasar.

(18)

Materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir‐butir uraian sesuai dengan rumusan indicator pencapaian kompetensi.

g. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang komunikatif agar peserta didik dapat mencapai kompetensi dasar atau indikator yang telah ditetapkan.

h. Media Pembelajaran

Media pembelajaran yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan sehingga akan mempermudah siswa dalam mencapai KD yang telah ditetapkan.

i. Kegiatan pembelajaran

Dalam kegiatan pembelajaran harus memuat langkah – langkah sebagai berikut :

1) Pendahuluan

Merupakan kegiatan awal yang dapat dilakukan untuk memotivasi peserta didik atau merangsang peserta didik agar turut aktif dalam pembelajaran.

2) Inti

Merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar. Proses pembelajaran harus berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa agar berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.

3) Penutup

Merupakan kegiatan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menyimpulkan apa yang telah dipelajari, penilaian dan refleksi, umpan balik dan/ atau tindaklanjut.

(19)

Sumber belajar yang digunakan harus berdasarkan standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan indicator pencapaian kompetensi.

k. Penilaian Hasil Belajar

(20)

BAB III HASIL OBSERVASI

A. Profil Sekolah

NPSN : 10307638

NSS : 802086105004

Nama Sekolah : SLB Autisma YPPA

Alamat : Jl. Garuda II RT.07 RW.01 Kel Andalas Kec. Padang Timur

Telepon : 07517879974

Kepala Sekolah : Rafmateti, S.Pd

Visi : “Menjembatani peserta didik untuk mendapatkan kesempatan sekolah disekolah reguler atas dasar pemikiran setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak, serta hak aksesibilitas untuk mendapatkan akses ke sekolah reguler/ umum”.

Misi : (a) Meningkatkan kualitas oranisasi dan manajemen sekolah dalam menumbuhkan keunggulan dan kompetitif, (b) Meningkatkan kualitas KBM dalam penanganan ABK, (c) Meningkatkan kualitas kompetensi guru dan pegawai dalam mewujudkan standar Pelayanan Minimal (SPM), (d) Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasana pendidikan dalam melayani ABK, (e) Meningkatkan kualitas SDM dan kualitas pembinaan kesiswaan dalam mewujudkan kemandirian siswa, (f) Meningkatkan kuantintas dan kualitas siswa yang inclusi/mainstreaming ke sekolah reguler melalui pendekatan individual dan klasikal.

Website : http://pkh-autismayppasumbar.sch.id E-mail Kepsek : [email protected]

Email TU : [email protected]

B. Laporan Observasi

(21)

dengan tiga gejala utama yaitu gangguan interakasi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku yang stereotipik. autisme ialah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sensori, pola bermain, dan emosi. Adapun pelaksanaan Observasi tersebut kami laksanakan dengan pengamatan selama kegiatan proses pembelajaran, tanya jawab dengan guru pengampu mata pelajaran Matematika, dan dikuatkan dengan dokumentasi tentang proses pembelajaran yang kami Observasi. Secara prosedural pelaksanaan Observasi yang kami lakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Kurikulum yang Berlaku di SLB Autisma YPPA Padang

SLB YPPA Padang menggunakan kurikum 2013, dimana pelaksanaan proses pembelajaran salah satunya mencakup aspek pembelajaran matematika. Proses pembelajaran tidak menggunakan silabus, dimana bahan materi untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diambil dari buku guru dan buku siswa yang telah disediakan oleh sekolah.

Pelaksanaan pembelajaran matematika telah terangkum secara menyeluruh dalam RPP yang telah dibuat oleh guru namun dalam pelaksanaannya RRP tersebut dimodifikasi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa yang bersangkutan.

2. Beban Belajar Kurikulum 2013

Beban belajar yang diberikan oleh guru ke siswa bertambah sedangkan menurut guru tidak sesuai dengan kemampuan anak autis yang lebih memerlukan kemampuan vokasional.

Proses pembelajaran yang dikembangkan menghendaki kesabaran guru dalam mendidik peserta didik sehingga mereka menjadi tahu, mampu dan mau belajar dan menerapkan apa yang sudah mereka pelajari di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya.

3. Penerapan Kurikulum 2013

(22)

cara belajar yang nyaman, menyenangkan, dan tidak membosankan, misalnya penerapan belajar menggunakan permainan sehingga membuat siswa aktif.

Selain pemeritah dan guru-guru yang terlibat dalam penerapan kurikulum 2013 ini, masyarakat dan keluarga merupakan peran penting untuk menerapkan inti dari kurikulum 2013. Misalkan dilingkungan keluarga ibu dan ayah harus bisa memantau dan menerapkan inti dari kurikulum 2013, contoh kecil menyuruh anaknya untuk beribadah sholat dan bersosialisai dengan teman-teman dekatnya. Lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh besar dalam hal ini, karena masyarakat bisa mempengaruhi pola hidup anak didik itu, misalkan dilingkungannya jarang sekali anak yang mengaji atau belajar dengan sendirinya anak itu akan melihat teman-temanya bermain dan maka dengan keluguan atau kepolosan anak pasti tertarik untuk bermain. Tetapi akan positif jika permainanya beredukasi dilingkungan masyarakat tersebut. Jadi kurikulum 2013 akan terealisasi jika semua unsur saling mendukung.

4. Persiapan kurikulum 2013

Di SLB Autis YPPA guru-guru harus siap karena untuk membuktikan keprofesionalan mereka. Persiapan yang dilakukan oleh guru-guru adalah mulai mempelajari dan memahami kurikulum 2013 diberbagai media sosial dan mulai mengkajinya, tetapi ada beberapa guru yang kebingungan untuk menerapkan kurikulum 2013, karena kurikulum 2013 mengharuskan siswanya sudah bisa membaca dan menulis setelah mendaftar sekolah maka penerapanya harus seperti apa karena tema yang diberikan sudah ditetapkan, maka solusi lain terlebih dahulu dipentingkan kemampuan vokasional. Ini yang jadi permasalahan di sekolah luar biasa dalam penerapan kurikulum 2013. Guru sangatlah berperan penting di slb karena mereka harus banyak memberikan materi dasar supaya di kelas-kelas berikutnya mengikuti, tetapi disisi lain juga disiapkan khusus pelatih yang mengisi kelas itu untuk meningkatkan kemampuan siswa sesuai bakat minat mereka.

(23)

Tidak jauh beda dengan metode pada KTSP, SLB Autisme YPPA Padang menggunakan metode pembelajaran :

a. Ceramah

Ceramah adalah strategi mengajar anak autis dengan cara ceramah dengan secara pelan-pelan dan berulang-ulang. Dengan tekhnik seperti ini, anak autis diharapkan agar memahami apa yang telah guru sampaikan dan mempaktekannya dalam kehidupan sehari-harinya.

b. Menulis

Menulis adalah pelatihan yang memanfaatkan motorik anak agar dapat menunjang dan mendukung proses pemahaman anak pada pelajaran.

c. Pemantauan

Pemantauan dilakukan oleh guru untuk memantau anak dalam proses pembelajaran. Bila anak melakukan kesalahan, dapat dikoreksi dan apabila benar maka diberi pujian agar anak lebih bersemangat dalam belajar.

6. Media

(24)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang kami lakukan, SLB YPPA Padang sudah menggunakan kurikulum 2013 dan guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum, hanya saja materi pembelajaran dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan anak didik.

Dalam memberikan pembelajaran Matematika, guru menggunakan berbagai pendekatan serta media pembelajaran yang bervariasi seperti media gambar, media tiruan, maupun media asli.

B. Saran

(25)

DOKUMENTASI

Saat proses wawancara dengan salah satu guru SLB YPPA Padang

(26)
(27)

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Referensi

Dokumen terkait

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk Program Bahasa ini merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan

adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu..

Pada kedua kurikulum sebelumnya, standar isi dirumuskan berdasarkan mata pelajaran (standar kompetensi lulusan mata pelajaran) yang dirinci menjadi Standar

Pembelajaran Tematik Kurikulum 2013 dapat diartikan suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu

Lailial Muhtifah M.Pd yang telah memberikan tugas observasi sebagai tugas MID Semester Mata Kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan dalam mengikuti

Standar Kompetensi (SK) : Setelah selesai mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa semester VII dapat membuat suatu rencana usaha,mampu mengembangkan produk, melakukan penetapan

Kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran maupun kompetensi dalam mata pelajaran tertentu harus dimiliki oleh peserta didik disebut ..... Berikut ini