Pendidikan Karakter di Sekolah Revitalis

148 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Syamsul Kurniawan

PENDIDIKAN KARAKTER

DI SEKOLAH

(2)

Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara 1.

otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Pasal 1 ayat [1]).

Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam 2.

Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan: a. Penerbitan ciptaan; b. Penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya; c. Penerjemahan ciptaan; d. Pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan; e. pendistribusian ciptaan atau salinannya; f. Pertunjukan Ciptaan; g. Pengumuman ciptaan; h. Komunikasi ciptaan; dan i. Penyewaan ciptaan. (Pasal 9 ayat [1]).

Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin 3.

Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (Pasal 113 ayat [3]).

Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud 4.

(3)

Syamsul Kurniawan

PENDIDIKAN KARAKTER

DI SEKOLAH

(4)

Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KDT) Syamsul Kurniawan

Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter di Sekolah: Revitalisasi Peran Sekolah dalam Menyiapkan Generasi Bangsa Berkarakter/Editor: Masmuri/ Yogyakarta: Samudra Biru, 2017

x + 138 hlm.; 14 x 20 cm ISBN: 978-602-9295-24-8

I. Pendidikan II. Judul

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, juga tanpa izin tertulis dari penerbit

Penulis : Syamsul Kurniawan Editor : Masmuri

Lay Out : maryoahmada@gmail.com Design Cover : Roslani Husein

Cetakan Pertama, Februari 2017 Diterbitkan oleh:

Penerbit Samudra Biru (Anggota IKAPI)

Jln. Jomblangan Gg. Ontoseno Blok B No 15 RT 12 RW 30 Banguntapan Bantul

DI Yogyakarta 55198

(5)

PENGANTAR PENULIS

K

ARAKTER merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”. Karena itu penguatan pendidikan karakter dalam konteks sekarang menjadi sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di Negara kita.

Seperti kita ketahui, bangsa kita belakangan ini menunjukkan gejala kemerosotan moral yang amat parah, mulai dari kasus narkoba, kasus korupsi, ketidak adilan hukum, pergaulan bebas di kalangan remaja, pelajar, bahkan mahasiswa, maraknya kekerasan, kerusuhan, tindakan anarkhis, dan sebagainya, mengindikasikan adanya pergeseran ke arah ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa. Masalah inilah yang melatarbelakangi ditulisnya buku ini.

(6)

di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan siswa mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehinga terwujud dalam keseharian.

Buku ini mungkin tidak selesai tanpa bantuan berbagai pihak. Karena itu penulis merasa wajib untuk berterima kasih kepada semua pihak yang membantu baik secara langsung ataupun tidak sehingga buku ini dapat terbit.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyajian buku ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik dari segi penyajian, metodologi, maupun kandungannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran pembaca yang konstruktif sehingga dapat menyempurnakan isi buku ini untuk masa mendatang. Mudah-mudahan karya sederhana ini ada manfaatnya yang bisa dipetik bagi banyak orang.***

Pontianak, 1 Februari 2017

(7)

DAFTAR ISI

Pengantar Penulis ... v

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel dan Daftar Bagan ... ix

Bab I Pendahuluan ... 1

Bab II Rancang Bangun Pendidikan Karakter ... 13

Mendeinisikan Pendidikan Karakter ... 13

Urgensi Pendidikan Karakter ... 17

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter .... 26

Komponen Pendidikan Karakter ... 31

Bab III Pendidikan Karakter di Sekolah ... 45

Urgensi Pendidikan Karakter di Sekolah ... 45

Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter di Sekolah ... 49

Pengintegrasian dalam Budaya Sekolah ... 73

Penanaman Nilai-Nilai Karakter di Sekolah ... 78

Bab IV Penutup ... 125

Daftar Pustaka ... 127

Proil Penulis ... 133

(8)
(9)

DAFTAR TABEL DAN DAFTAR BAGAN

Tabel 2.1 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter . 28 Tabel 3.1 Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah . 50 Bagan 2.1 Tahapan Pendidikan Karakter ... 16 Bagan 2.2 Nilai-nilai Karakter Berdasarkan Ruang

(10)
(11)

BAB I

PENDAHULUAN

S

AAT ini kita tengah berada di pusaran hegemoni media, revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yang tidak hanya mampu menghadirkan sejumlah kemudahan dan kenyamanan hidup bagi manusia modern, melainkan juga mengundang serentetan persoalan dan kekhawatiran. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengurangi atau bahkan menihilkan nilai kemanusiaan atau yang disebut dehumanisasi.

Ibarat cerita Raja Midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan dia tidak semakin senang, tetapi semakin resah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan seisi rumah yan menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang raja pun akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya (Bakhtiar, 2010: 23).

(12)

yang ditandai dengan lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturrahim.

Contohnya, penemuan televisi, komputer, dan handphone telah mengakibatkan sebagian masyarakat terutama remaja dan anak-anak terlena dengan dunia layar. Layar kemudian menjadi teman setia. Hampir setiap bangun tidur menekan tombol televisi untuk melihat layar, mengisi waktu luang dengan menekan tombol handphone melihat layar untuk bersms ria, main game atau facebook-an. Akibatnya, hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang. Ini menunjukkan bahwa teknologi layar mampu membius sebagian besar remaja dan anak-anak untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain.

Lickona (1994) mengungkapkan sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda ini terdapat dalam suatu bangsa, berarti bangsa tersebut sedang berada di tebing jurang kehancuran. Tanda-tanda tersebut di antaranya:

Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. 1.

Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. 2.

Pengaruh peergroup yang kuat dalam tindak kekerasan. 3.

Meningkatnya perilaku yang merusak diri, seperti 4.

penggunaan narkoba, alkohol dan perilaku seks bebas. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. 5.

(13)

Diakui dan disadari atau tidak, perilaku masyarakat kita sekarang terutama remaja dan anak-anak menjadi sangat mengkhawatirkan, karena mengarah kepada apa yang disebut oleh Lickona di atas. Meningkatnya kasus penggunaan narkoba, pergaulan/ seks bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, dan lain-lain menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Peredaran dan pemakaian narkoba melonjak seiring penemuan kasus. Fakta peningkatan tersebut dapat dilihat dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) bahwa pemakai narkoba pada tahun 2008 telah mencapai 3,6 juta jiwa, meningkat tahun 2011 menjadi 3,8 juta jiwa. Sementara jumlah kasus narkoba meningkat dari tahun 23.531 kasus pada tahun 2010 menjadi 26.500 kasus di tahun 2011. Masih dari data yang sama, peredaran ekstasi dan sabu juga terus melonjak. Peredaran ekstasi naik 110 persen dari 371.197 tablet pada 2010 menjadi 780.885 tablet pada 2011, sedangkan sabu naik dari 283 kg pada 2010 menjadi 433 pada 2011. Begitu juga dengan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, mencatat pasien ketergantungan narkoba di rumah sakit spesialis, yang mengalami kenaikan dari 2.090 jiwa pada 2009 menjadi 8.017 pada 2011. Angka peningkatan yang fantastis dan menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan anak bangsa. Mengingat pengguna narkoba sebagian besar adalah anak muda yang masih berusia produktif (Kompas, 25 Januari 2012). Pengguna lem di kalangan siswa juga mengkhawatirkan, seperti trend di Pontiana. Berita tentang ini dilansir Pontianak Post (16 Pebruari 2012).

(14)

merambat di kalangan SMP. Banyak kasus remaja putri yang hamil di luar nikah sementara mereka tidak mengerti dan tidak tahu apa resiko yang dihadapinya. Menurut data hasil survey KPAI, sebanyak 32 persen remaja usia 14-18 tahun di Jakarta, Surabaya, dan Bandung pernah berhubungan seks. Salah satu pemicunya, muatan pornograi yang diakses via internet. Fakta lainnya, sekitar 21,2 persen remaja putri di Indonesia pernah melakukan aborsi. Selebihnya, separuh remaja wanita mengaku pernah bercumbu. Survei KPAI juga menyebutkan, 97 persen perilaku seks remaja diilhami pornograi di internet. Dunia internet adalah dunia yang menyebarkan “kebohongan yang positif ”, termasuk soal seks. Di Jakarta, menurut Riset Strategi Nasional Kesehatan Remaja yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan Survei yang dilakukan BKKBN menyebutkan 5,3 persen pelajar SMA di Jakarta pernah berhubungan seks, dan 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah (Kompas, http://nasional.kompas. com/read/2010/01/18/16461662/Makin.Banyak.Remaja. Lakukan.Seks.Pranikah).

Kasus tawuran juga meningkat dari tahun ke tahun. Contohnya di Jabotabek. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat hingga 25 Desember 2012 telah terjadi sebanyak 147 kasus tawuran di Jabodetabek yang menewaskan 82 pelajar. Sekitar 95 persen terjadi di Jakarta. Angka ini meningkat dibanding tahun 2011 yang hanya terjadi 128 kasus tawuran yang menewaskan 30 pelajar (Liputan 6, http://news.liputan6.com/read/2396014/ komnas-pa-2015-kekerasan-anak-tertinggi-selama-5-tahun-terakhir).

(15)

yang mujarrab dan ampuh untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut. Kata kunci dalam memecahkan persoalan tersebut terletak pada upaya penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter sejak dini. Alasan-alasan kemerosotan moral, dekadensi kemanusiaan yang sesungguhnya terjadi tidak hanya dalam generasi muda, namun telah menjadi ciri khas abad kita, seharusnya membuat kita perlu mempertimbangkan kembali bagaimana sekolah mampu menyumbangkan perannya bagi perbaikan karakter.

Diakui, persoalan karakter atau moral memang tidak sepenuhnya terabaikan di sekolah. Akan tetapi, dengan fakta-fakta seputar kemerosotan karakter pada sekitar kita menunjukkan bahwa ada kegagalan pada pendidikan yang diterapkan di sekolah, terutama dalam menumbuhkan anak-anak dan remaja yang berkarakter dan berakhlak mulia.

Padahal karakter yang positif atau mulia yang dimiliki anak-anak dan remaja kelak akan mengangkat status derajatnya. Kemuliaan seseorang terletak pada karakternya. Karakter begitu penting, karena dengan karakter yang baik membuat seseorang tahan dan tabah dalam menghadapi cobaan, dan dapat menjalani hidup dengan sempurna. Kestabilan hidup seseorang amatlah bergantung pada karakter. Karakter membuat individu menjadi matang, bertanggung jawab dan produktif.

(16)

Bahkan situasi dan kondisi karakter bangsa yang sedang memprihatinkan telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan karakter bangsa dijadikan arus utama pembangunan nasional. Hal ini mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan harus selalu diarahkan untuk memberi dampak positif terhadap pembangunan karakter. Mengenai hal ini secara konstitusional sesungguhnya sudah tercermin dari misi pembangunan nasional yang memposisikan pembangunan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…”.

Pada BAB IV tentang Arah, Tahapan, dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005–2025, masih dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, menguraikan bahwa “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…” tersebut ditandai oleh:

(17)

Pendidikan karakter juga menjadi salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 menyebutkan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk mempunyai kecerdasan, kepribadian, dan akhlak yang mulia. Amanah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan kata sambutan pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010 di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2010 yang bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”, mengemukakan ada lima isu penting dalam dunia pendidikan (http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_ content&task=view&id=4552):

Hubungan pendidikan dengan pembentukan watak atau 1.

dikenal dengan character building.

Kaitan pendidikan dengan kesiapan dalam menjalani 2.

kehidupan setelah seseorang selesai mengikuti pendidikan.

Kaitan pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Ini 3.

juga menjadi prioritas dalam pembangunan lima tahun mendatang.

Bagaimana membangun masyarakat berpengetahuan 4.

atau knowledge society yang dimulai dari meningkatkan basis pengetahuan masyarakat.

(18)

Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2010 juga menekankan bahwa pendidikan karakter merupakan suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan siswa menjadi cerdas tetapi juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Totalitas dari karakter bangsa yang kuat dan unggul, yang pada kelanjutannya bisa meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa, menuju Indonesia yang maju, bermartabat dan sejahtera di Abad 21.

Pemerintah saat ini, di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi juga menyuarakan pentingnya character building atau pendidikan karakter dalam rangka revolusi mental. Presiden Jokowi mengatakan, “Kita ini kan selalu bicara mengenai isik dan ekonomi. Padahal, kekurangan besar kita character building. Oleh sebab itu saya sebut revolusi mental” (Relawan Nasional Gerakan Revolusi Mental, http://www. revolusimental.or.id/2015/12/revolusi-mental-tidak-cukup-dengan-kata.html).

(19)

kesibukan dan aktivitas kerja orangtua yang relatif tinggi serta kurangnya pemahaman orangtua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga. Karena itu banyak orangtua yang menaruh harapan lebih kepada sekolah. Mereka berharap sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi anak-anaknya.

Sekolah merupakan lingkungan pendidikan formal, yang diharapkan ikut menentukan dalam perkembangan dan pembinaan karakter siswa. Bahkan sekolah dapat disebut sebagai lingkungan pendidikan kedua yang penting setelah keluarga dalam pendidikan karakter. Hal ini cukup beralasan mengingat posisi sekolah sebagai tempat khusus dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan.Sebagaimana kita mengerti, bahwa sekolah bilamana dalam pendidikan tersebut diadakan di tempat tertentu, teratur dan sistematis, kontinyu namun dalam kurun waktu tertentu, yang berlangsung mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan (Ahmadi dan Ukhbiyati, 1991).

Tujuan pendidikan di sekolah, termasuk membangun karakter siswa, semestinya dapat dicapai melalui pengembangan dan implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP). Di dalam SNP telah secara jelas dijabarkan standar kompetensi lulusan dan materi yang harus disampaikan kepada siswa. Karakter juga termasuk dalam materi yang harus dijabarkan kepada siswa.

(20)

memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang semakin terkikis.” Disampaikan Hamid Muhammad, ada tiga nilai utama yang dikembangkan di dalam Kurikulum 2013 (Warta DKI, http://wartadki.com/news-539-basis-kurikulum-2013-adalah-pendidikan-karakter-.html):

Menghormati kembali norma-norma budaya bangsa. 1.

Menumbuhkan nilai-nilai keilmuan. 2.

Menumbuhkan nilai kebangsaan serta cinta tanah air, 3.

termasuk menghargai budaya dan karya bangsa.

Harus diakui bahwa usaha ke arah ini telah dirintis sejak lama, antara lain melalui integrasi iman dan takwa (imtak) ke dalam pembelajaran, pendidikan budi pekerti, Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dan program-program lainnya. Namun demikian pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum secara optimal pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter di sekolah seharusnya membawa siswa ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Karena itu pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji dan dicari alternatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkan secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan.

(21)

internalisasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan siswa sehari-hari di masyarakat.

Kegiatan pembinaan kesiswaan yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pendidikan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan pembinaan kesiswaan merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan siswa sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh guru yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui pembinaan kegiatan kesiswaan di lingkungan sekolah diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi siswa.

Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi:, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, guru, dan sebagainya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.

(22)
(23)

BAB II

RANCANG BANGUN

PENDIDIKAN KARAKTER

Mendeinisikan Pendidikan Karakter

Marimba (1989: 19) merumuskan pendidikan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun ruhani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pengertian ini sangat sederhana meskipun secara substansi telah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikan. Menurut pengertian ini, pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didik oleh pendidik.

(24)

jasmani, akal dan hati. Dengan demikian tugas pendidikan bukan sekedar meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga mengembangkan aspek kepribadian seseorang.

Pendidikan menurut Kurniawan (2013: 27) adalah seluruh aktiitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh guru kepada siswa terhadap semua aspek perkembangan kepribadian baik jasmani dan ruhani. Berdasarkan ini, pendidikan berarti menumbuhkan kepribadian serta menanamkan rasa tanggung jawab, sehingga pendidikan terhadap diri manusia adalah laksana makanan yang berfungsi memberi kekuatan, kesehatan, dan pertumbuhan, untuk mempersiapkan generasi yang menjalankan kehidupan guna memenuhi tujuan hidup secara efektif dan eisien.

Sementara itu istilah karakter yang dalam bahasa Inggris character, berasal dari istilah Yunani charassein yang berarti membuat tajam atau membuat dalam (Echols dan Shadily, 2006; Bagus, 2005: 392). Karakter juga dapat berarti mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir. Karena itu karakter identik dengan ciri khas seseorang. Pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya, karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu.

Sejalan dengan ini Bagus (2005: 392) mendeinisikan karakter sebagai nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran. Atau, suatu kerangka kepribadian yang relatif mapan yang memungkinkan ciri-ciri semacam ini mewujudkan dirinya.

(25)

623). Karakter juga dapat dideinisikan sebagai nilai-nilai yang unik, baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil pola pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.

Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Menurut Zubaedi (2011: 10), karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti kritis dan alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya.

Karakter seseorang terbentuk karena kebiasaan yang dilakukan, sikap yang diambil dalam menanggapi keadaan, dan kata-kata yang diucapkan kepada orang lain. Karakter ini pada akhirnya menjadi sesuatu yang menempel pada seseorang dan sering orang yang bersangkutan tidak menyadari karakternya. Orang lain biasanya lebih mudah untuk menilai karakter seseorang.

(26)

tersebut. Dari keingingan yang terus menerus akhirnya apa yang diinginkan tersebut dilakukan. Timbulnya keinginan pada seseorang didorong oleh pemikiran atas sesuatu hal. Ada banyak hal yang bisa memicu pikiran yang informasinya datang dari panca inderanya. Misalnya, karena melihat sesuatu, maka orang berpikir, karena mendengar sesuatu maka berpikir dan seterusnya.

Bagan 2.1 Tahapan Pembentukan Karakter

Salah satu cara untuk membangun karakter adalah melalui pendidikan. Pendidikan yang ada, baik itu pendidikan di keluarga, masyarakat atau pendidikan formal di sekolah harus menanamkan nilai nilai untuk pembentukan karakter. Menurut Rahardjo (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 16, Nomor 3, 2010), pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan yang holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan siswa sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

(27)

program pengajaran yang bertujuan mengembangkan watak dan tabiat peserta didik dengan cara menghayati nilai-nilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin, dan kerjasama yang menekankan ranah afektif (perasaan/sikap) tanpa meninggalkan ranah kognitif (berpikir rasional), dan ranah skill (keterampilan, terampil mengolah data, mengemukakan pendapat, dan kerjasama).

Budi pekerti adalah watak atau tabiat khusus seseorang untuk berbuat sopan dan menghargai pihak lain yang tercermin dalam perilaku dan kehidupannya. Adapun watak itu merupakan keseluruhan dorongan, sikap, keputusan, kebiasaan, dan nilai moral seseorang yang baik. Budi pekerti juga mengandung watak moral yang baku dan melibatkan keputusan berdasarkan nilai-nilai hidup. Watak seseorang dapat dilihat pada perilakunya yang diatur oleh usaha dan kehendak berdasarkan hati nurani sebagai pengendali bagi penyesuaian diri dalam hidup bermasyarakat.

Urgensi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter seharusnya membawa siswa ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Problematika pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji kembali dan dicarikan solusinya serta perlu dikembangkan secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan.

(28)

dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat urgen untuk ditingkatkan (Zubaedi, 2011: 41).

Hasil penelitian Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Harapannya dengan pendidikan karakter seorang siswa menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan siswa menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik.

(29)

terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter, beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sudah menerapkan model pendidikan itu sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis, berdampak positif pada pencapaian akademis (Kurniawan, 2013: 34).

Pemerintah Amerika sangat mendukung program pendidikan karakter yang diterapkan sejak pendidikan dasar. Hal ini terlihat pada kebijakan pendidikan tiap-tiap negara bagian yang memberikan porsi cukup besar dalam perancangan dan pelaksanaan pendidikan karakter. Hal ini juga bisa terlihat pada banyaknya sumber pendidikan karakter di Amerika yang bisa diperoleh.

Di Jepang, pembinaan karakter merupakan salah satu pilar utama pendidikan yang dilakukan sejak dini. Houikuen atau setingkat penitipan anak merupakan yurisdiksi Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang, sedangkan youchien atau TK, diawasi oleh Kementrian Pendidikan Jepang. Meski dilaksanakan oleh kementerian yang berbeda, aktivitas di dua jenis sekolah ini sama-sama ditekankan pada pengembangan kecerdasan sosial dan emosional, serta keseimbangan tubuh dan daya pikir. Bersama dengan sekolah, keluarga merupakan faktor utama pengembangan karakter di Jepang. Kerja sama dan komunikasi antara pihak keluarga dan sekolah dilakukan sangat intensif melalui buku sekolah, surat elektronik, atau telepon.

(30)

kepekaan sosial serta semangat kebersamaan, karakter yang kemudian kita lihat melekat pada bangsa Jepang. Guru-guru maupun siswa TK sering memperdengarkan yelyel seperti ‘tomodachi ni naro’ (mari berteman), ‘saigo made gambaru’ (berusaha sampai selesai), atau ‘kokoro kara otagai o tasukete mimashou’ (mari saling menolong dengan tulus). Seluruh aktivitas sekolah selalu dilakukan dengan semangat kebersamaan (tomodachi, shinsetsu, nakayoku), semangat kerja keras (gambaru), antusiasme (genki), dan tanggung jawab (jibun no koto o jibun de suru). Pada akhir pendidikan TK, ketika anak harus memberikan kesan singkat seusai menerima diploma, banyak dari mereka, bahkan hampir semuanya, akan berbicara tentang gambaru, tomodachi, dan jibun no koto o jibun de suru tersebut. Proses internalisasi hasil pendidikan karakter terlihat sangat jelas.

Pada tingkat sekolah menengah (chuugakkou) dan sekolah menengah atas (koukou) pola pendidikan serupa pun masih diterapkan, namun dengan cara yang berbeda. Pada siswa diharapkan dapat dengan aktif memberikan pendapat atau jawaban mengenai suatu masalah umum yang diberikan oleh gurunya. Bahkan para siswa pun dengan berani memberitahu yang benar apabila sang guru salah dalam memberi jawaban. Pada musim panas, sekitar pertengahan Agustus, setiap tahun juga diadakan Pertandingan baseball (yakyuu) yang diikuti oleh seluruh sekolah seantero Jepang. Melalui seleksi yang ketat, setiap prefektur diwakili oleh satu sekolah.

(31)

sedang bertanding pun datang dari tempat yang jauh untuk memberikan dukungan. Setiap akhir pertandingan walaupun ada tim yang menang atau kalah, walaupun ada yang menangis ataupun tersenyum gembira, selalu diakhiri oleh pemberian hormat, dan saling bersalaman (rei). Di sinilah salah satu bukti nyata pendidikan karakter Jepang. Para siswa diajarkan untuk berusaha dengan keras dan bekerja sama dalam tim, tapi walaupun kalah ataupun gagal, mereka diajarkan untuk menerimanya dengan lapang dada, dan tidak berbuat curang. Satu hal yang sangat patut dicontoh.

Di Cina juga demikian, program pendidikan karakter telah menjadi kegiatan yang menonjol yang dijalankan sejak jenjang pra-sekolah sampai universitas dan mendapat dukungan kuat dari pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan pemimpin Cina sebagaimana tertuang dalam buku Education for 1.3 Billion karangan Li Lanqing (mantan Wakil PM Cina), bahwa Deng Xiaoping pada tahun 1985, secara eksplisit mengungkapkan pentingnya pendidikan karakter: “hroughout the reform of the education system, it is imperative to bear in mind that reform is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or woman of character and cultivating more constructive members of society.” Secara eksplisit pula Presiden Jiang Zemin, memberikan dukungan melalui pidato-pidatonya: “After many years of practice, character education has become the consensus of educators and people from all walks of life across this nation. It is being advanced in a comprehensive way” (Wibowo, 2012: 21).

(32)

in Primary and Secondary Schools”, “Outline for Moral Education in Primary and Secondary Schools” and the “Outline for Moral education in High Schools”. Di samping itu dirumuskan pula oleh pemerintah “Code of Conduct of Primary School Pupils”, the “Code of Conduct of Secondary School Students”, the “Norms of Daily Behaviors for primary School Pupils” yang harus diterapkan di sekolah. Selain itu didukung pula dengan berbagai pola pembinaan yang secara tidak langsung mendukung pengembangan karakter warga Negara.

Pola pembinaan karakter di Cina dikembangkan melalui beberapa cara sebagai berikut (Kurniawan, 2013: 36-38):

Pendidikan moral merupakan mata pelajaran yang 1.

(33)

hought of hree Representatives”, “outline of Modern Chines History”, and “Situation and Policy”. Pendidikan Moral di Cina masih mempertahankan karakternya sebagai indoktrinasi ideologi politik marxisme bagi generasi muda dan warga negaranya. Dengan Pendidikan moral inilah, Cina mampu mempertahankan ideologi politik marxisme nya melawan liberalisme-kapitalisme Barat.

Pendidikan karakter di

2. Cina tidak hanya dikembangkan

melalui mata pelajaran pendidikan moral dan ideologi politik, tetapi semua mata pelajaran mengambil bagian penting dalam pengembangan pendidikan karakter yang tercantum dalam standar isi kurikulum dan proses pembelajaran di kelas. Guru mengaitkan materi pembelajaran dengan nilai-moral-norma dalam kehidupan sehari-hari misalnya persaudaraan, hormat kepada orang tua, pemeliharaan lingkungan, kedisiplinan, kejujuran, evaluasi diri dan penilaian antar teman dalam penegakan aturan. Dalam setiap kesempatan pembelajaran guru menanamkan kebanggaan terhadap negara Cina, dan sejarah kejayaan negara Cina di masa lalu yang harus dibangkitkan kembali saat ini dan ke depan, Di tingkat universitas pada umumnya pemaparan materi perkuliahan diawali dengan latar belakang historis Cina yang mewarnai perkembangan pemikiran suatu teori. Di tingkat sekolah pun guru senantiasa menggali karya-karya para pemikir besar Cina di masa lalu dan saat ini. Kegiatan praktikum terintegrasi mulai kelas 3 SD sampai 3.

(34)

tidak heran jika di Cina terlihat beberapa mahasiswa memberikan pelayanan sosial dan praktik bekerja menjaga gerbang universitas, menjaga asrama, menjaga gedung perkuliahan. Di zebra cross terlihat siswa SMA bertugas menyeberangkan pejalan kaki, di tempat wisata menjadi pemandu wisata, mendorong kursi roda penyandang cacat, kepanitiaan dalam kegiatan sosial, misalnya pengumpulan buku sumbangan, menjaga stand dalam kegiatan expo, dan lain-lain. Melalui kegiatan penelitian (inquiry dan eksperimen) siswa dituntut kreatiitasnya untuk menemukan suatu karya baru. Tidak heran hal inilah yang membuat warga Cina kreatif dalam membuat aneka karya dalam home industry yang laku secara ekonomis di pasaran internasional. Penilaian terhadap praktikum terintegrasi dilakukan oleh panitia atau lembaga di mana siswa berpraktik dan seterusnya dilaporkan kepada guru/ sekolah/ universitas. Kegiatan praktikum terintegrasi ini merupakan wahana pembinaan moral siswa/mahasiswa secara praktis.

Pemerintah

4. Cina juga menunjukkan komitmen untuk memajukan pendidikan dengan membangun sekolah yang berasrama sejak SD sampai Perguruan Tinggi dengan fasilitas yang sangat memadai. Pada persekolahan berasrama pembentukan karakter (toleransi, kemandirian, ketekunan, pencapaian prestasi terbaik) terpola melalui aktivitas di sekolah dan di asrama.

(35)

tidak dipahami sebatas proses menghapal materi soal ujian, dan teknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria, malu berbuat curang, malu bersikap malas, malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal (Wibowo, 2012: 22).

Di sinilah bisa kita pahami, mengapa ada kesenjangan antara praktik pendidikan dengan karakter siswa. Bisa dikatakan dunia pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan yaitu tentang bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertakwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dalam Bab II, Dasar, Fungsi dan Tujuan, Pasal 3, UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:

(36)

Namun, kita tentu tidak boleh berputus asa. Jika bangsa ini konsisten dan mempunyai tekad yang kuat untuk “mengarusutamakan” pendidikan karakter, tentu bisa direalisasikan. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia.

Hal ini berarti, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebhinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme.

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu, pendidikan karakter adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional (Zubaedi, 2011: 72-73).

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentiikasi berasal dari empat sumber:

Agama. Masyarakat

1. Indonesia merupakan masyarakat

(37)

masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Karenanya, nilai-nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

Pancasila. Negara Kesatuan Republik

2. Indonesia

ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

Budaya. Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia 3.

yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai budaya ini dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Tujuan Pendidikan Nasional. UU RI Nomor 20 tahun 4.

(38)

di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Tujuan pendidikan nasional sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa (Zubaedi, 2011: 73-74). Berdasarkan keempat sumber nilai tersebut, teridentiikasi sejumlah nilai untuk pendidikan karakter seperti tabel 2.1 sebagai berikut:

Tabel 2.1

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter

No Nilai Deskripsi

(39)

2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8 Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9 Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat atau didengar.

10 S e m a n g a t Kebangsaan

(40)

11 Cinta Tanah Air

Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas diri dan kelompoknya. 12 Me n g h a r g a i

Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13 B e r s a h a b a t / Komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.

14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15 G e m a r Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. 16 P e d u l i

Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17 Peduli sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18 T a n g g u n g jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan YME.

Sumber: Kurniawan (2013: 41-42)

(41)

kebutuhan.

Bandingkan dengan rumusan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional (2011: 4), yang merinci nilai-nilai karakter berdasarkan ruang lingkup pendidikan karakter, sebagaimana bagan 2.2 sebagai berikut:

Bagan 2.2

Nilai-nilai Karakter Berdasarkan Ruang Lingkup Pendidikan Karakter

Komponen Pendidikan Karakter

(42)

menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signiikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri, tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia.

(43)

Untuk itu perubahan pendidikan harus relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut. Untuk itulah dalam proses pendidikan diperlukan suatu perhitungan tentang kondisi dan situasi di mana proses tersebut berlangsung dalam jangka panjang. Dengan perhitungan tersebut, maka proses pendidikan akan lebih terarah kepada tujuan yang hendak dicapai, karena segala sesuatunya telah direncanakan secara matang.

Pada dasarnya dalam rangkaian suatu proses pendidikan memiliki komponen yang sama, yang membuat proses pendidikan itu dapat berlangsung, demikian pula halnya dengan pendidikan karakter yang dikaji pada buku ini. Masing-masing komponen tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Guru 1.

Guru berdasarkan Poerwadarminta (1976: 250) adalah orang yang mendidik. Marimba (1989: 37) mendeinisikan guru sebagai orang yang memikul tanggung jawab mendidik. Maka berdasarkan ini, guru adalah orang-orang yang melakukan kegiatan atau bertanggung jawab dalam hal mendidik.

(44)

yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.

Guru dalam pengertian tersebut dengan demikian bukanlah sekadar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa. Berdasarkan rumusan ini seorang guru tidak hanya memberikan pelajaran di muka kelas, juga harus membantu mendewasakan siswa-siswanya.

Siswa 2.

Istilah siswa, murid dan pelajar, umumnya digunakan untuk mengidentiikasi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar sampai sekolah menengah. Di kalangan pondok pesantren mengenal istilah santri dengan maksud atau pengertian yang sama (Poerwadarminta, 1976: 664 dan 955).

Siswa adalah tiap orang atau sekelompok orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab I pasal 1 ayat 4, diidentiikasi sebagai, “anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”.

Kurikulum 3.

(45)

pada zaman romawi kuno yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis inish. Saat ini istilah kurikulum lebih lazim digunakan pada lingkungan pendidikan formal yaitu sekolah daripada di lingkungan pendidikan informal (keluarga) atau di lingkungan pendidikan non formal (masyarakat), untuk menyebut seluruh program pendidikan yang di dalamnya tercakup masalah-masalah metode, tujuan, tingkat pengajaran, materi pelajaran setiap tahun ajaran, topik-topik pelajaran, serta aktivitas yang dilakukan setiap peserta didik pada setiap materi pelajaran (Kurniawan, 2013: 53).

Menurut Crow & Crow, seperti dikutip Nata (1997: 123), yang dimaksud dengan kurikulum ialah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. Deinisi ini sejalan dengan deinisi kurikulum yang diberikan oleh Poerbakawatja dan Harahap (1982: 188), yaitu suatu kelompok mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk dapat lulus dalam suatu bidang tertentu.

Dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 1 ayat 19 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

(46)

Menurut Muhaimin dan Mujib (1993: 185), di antara fungsi kurikulum:

Kurikulum sebagai program studi, yaitu seperangkat a.

mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah atau di instansi pendidikan lainnya; Kurikulum sebagai

b. content, yaitu memuat sejumlah

data atau informasi yang tertera dalam buku-buku teks atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya proses pembelajaran;

Kurikulum sebagai kegiatan berencana, yaitu c.

memuat kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal tersebut dapat diajarkan secara efektif dan eisien; Kurikulum sebagai hasil belajar, yaitu memuat d.

seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu, tanpa menspesiikasikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil-hasil yang dimaksud. Dalam makna lain, memuat seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan; Kurikulum sebagai reproduksi kultural, yaitu proses e.

transformasi dan releksi butir-butir kebudayaan masyarakat agar dimiliki dan dipahami peserta didik sebagai bagian dari masyarakat tersebut;

Kurikulum sebagai pengalaman belajar, yaitu f.

keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah. Kurikulum sebagai produksi, yaitu seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.

(47)

pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam implementasi pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal, kurikulum merupakan salah satu komponen. Namun demikian, dalam kurikulum itu sendiri juga mempunyai beberapa komponen. Langgulung (1988: 303) menyebut sekurang-kurangnya ada empat komponen utama dalam kurikulum, yaitu:

Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh suatu jenjang a.

pendidikan. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin dibentuk dengan kurikulum tersebut;

Pengetahuan (

b. knowledge), informasi, data-data, aktivitas dan pengalaman dari mana dan bagaimana yang dimuat oleh suatu kurikulum. Dengan acuan ini akan dapat dirumuskan mata pelajaran mana yang dibutuhkan, mata pelajaran mana yang bisa digabungkan, dan mata pelajaran mana yang tidak diperlukan;

Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh c.

pendidik untuk mengajar dan memotivasi peserta didik untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki kurikulum;

Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam d.

mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.

(48)

Pendekatan dan Metode 4.

Pendidikan selalu menjadi tumpuan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat. Pendidikan merupakan alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat, dan membuat generasi mampu berbuat bagi kepentingan mereka dan masyarakat. Maka setiap institusi pendidikan (informal, formal, dan non formal) niscaya mendambakan dan ikut serta berupaya melahirkan generasi penerus (output) yang selain memiliki keunggulan bersaing (competitive advantage) untuk menjadi subyek dalam percaturan di dunia kerja, juga memiliki karakter yang baik sehingga dapat memakmurkan dan memuliakan kehidupan material dan spiritual diri, keluarga, dan masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam proses pendidikan karakter dan pengajaran nilai-nilai karakter diperlukan pendekatan yang bersifat multi approach, yang pelaksanaannya menurut Basuki dan Ulum (2007: 141) meliputi hal-hal sebagai berikut:

Pendekatan religius, yang menitik beratkan kepada a.

pandangan bahwa peserta didik adalah makhluk yang berjiwa religius dengan bakat-bakat keagamaan. Pendekatan ilosois, yang memandang bahwa b.

peserta didik adalah makhluk rasional atau “homo sapiens”, sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya didasarkan pada sejauh mana kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan sampai pada titik maksimal perkembangannya. Pendekatan sosio kultural, yang bertumpu pada c.

(49)

kehidupan bermasyarakat yang berkebudayaan. Dengan demikian pengaruh lingkungan masyarakat dan perkembangan kebudayaannya sangat besar artinya bagi proses pendidikan dan individunya. Pendekatan

d. scientiic, di mana titik beratnya terletak pada pandangan bahwa peserta didik memiliki kemampuan menciptakan (kognitif ), berkemauan dan merasa (emosional atau afektif ). Pendidikan harus dapat mengembangkan kemampuan analitis dan relektif dalam berpikir.

Adapun kata metode berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari dua suku kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti “jalan” atau “cara” (Ariin, 1991: 61). Jadi metode berarti jalan yang dilalui. Metode juga dapat berarti cara kerja, atau cara yang tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu (Salim dan Mahrus, 2012: 89). Kata metode juga dapat dideinisikan sebagai cara yang telah diatur atau terpikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud (Poerwadarminta, 1976: 649).

Bila dikaitkan dengan pendidikan atau pengajaran maka metode pendidikan adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau pengajaran.1 Masing-masing nama dan jenis metode

(50)

memiliki deinisi sendiri-sendiri, memiliki langkah-langkah, syarat-syarat penggunaannya, serta kelebihan dan kekurangannya. Semua itu harus diketahui dan dipahami oleh seorang pendidik. Demikian pula dalam penerapannya, harus mempertimbangkan beberapa hal yang menjadi alasan hal yang menjadi alasan mengapa suatu metode itu digunakan dan memperhatikan langkah-langkah penerapannya.

Namun demikian dapat diakui bahwa dasar teoritis di atas tidak selalu mendasari digunakannya suatu metode pendidikan jika yang dimaksud adalah pendidikan di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat. Umumnya pendidik, dalam hal ini orangtua di rumah atau masyarakat, tidak mengenal nama-nama dan jenis-jenis metode pendidikan. Yang ada mereka menerapkan cara-cara tertentu, yang jika diidentiikasi sesungguhnya bukanlah metode pendidikan yang asing dari berbagai metode pendidikan yang juga dikenal di sekolah.

Beberapa metode pendidikan yang lazim dipraktikkan di lingkungan sekolah, antara lain: ceramah, tanya jawab, diskusi, latihan (drill), pemberian tugas (resitasi), cerita, demonstrasi, sosio-drama, dan sebagainya. Dalam lingkungan pendidikan formal, yaitu sekolah, metode pendidikan tersebut dipilih dan digunakan secara bervariasi dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, keadaan peserta didik, situasi yang sedang berlangsung, kemampuan pendidik, serta fasilitas penunjang yang tersedia.

(51)

Evaluasi 5.

Dalam pendidikan karakter, evaluasi mutlak dilakukan karena bertujuan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian tujuan-tujuan pendidikan karakter, untuk selanjutnya menentukan langkah-langkah tindak lanjut atau kebijakan berikutnya.

Istilah evaluasi berasal dari kata “to evaluate” yang berarti “menilai”. Istilah nilai ini pada mulanya dipopulerkan oleh ilosof. Dalam hal ini, Plato merupakan ilosof yang pertama kali mengemukakannya. Pembahasan “nilai” secara khusus diperdalam dalam diskursus ilsafat, terutama pada aspek aksiologinya. Begitu penting kedudukan nilai dalam ilsafat, sehingga para ilosof meletakkan nilai sebagai muara bagi epistemologi dan ontologi ilsafat. Selanjutnya kata nilai menjadi popular, bahkan menjadi istilah yang lazim digunakan dalam dunia ekonomi. Kata nilai biasa ditautkan dengan harga. Untuk itu, penggunaan term nilai berkembang tidak hanya digunakan dalam diskursus ilsafat, tetapi juga pada diskursus-diskursus lain, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan sebagainya (Kurniawan, 2013: 58).

(52)

Di samping evaluasi terdapat pula istilah measurement. Measurement berasal dari kata “to measure” yang berarti “mengukur”. Measurement berarti perbandingan data kuantitatif dengan data kuantitatif lainnya yang sesuai dalam rangka mendapatkan nilai (angka) (Qahar, 1997: 7). Pengukuran dalam pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu yang akan dinilai. Ukuran atau patokan yang menjadi pembanding perlu ditetapkan secara kongkrit guna menetapkan nilai atau hasil perbandingan. Hasil evaluasi tidak bersifat mutlak tergantung dari kriteria yang menjadi ukuran atau pembandingnya.

Arikunto (1995: 3) membedakan tiga istilah tersebut yaitu pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran. Pengukuran ini bersifat kuantitatif. Penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk secara kualitatif. Sedangkan evaluasi adalah mencakup pengukuran dan penilaian secara kuantitatif.

(53)

hanya bisa dilakukan dari aktivitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari setelah ia melaksanakan shalat. Penilaian lebih sulit daripada pengukuran, apalagi jika penilaian itu dikaitkan dengan aspek-aspek keagamaan yang sebenarnya bukan wewenang manusia melainkan wewenang Tuhan.

Mochtar Buchori seperti yang dikutip Salim dan Mahrus (2012: 103-104) mengemukakan tujuan evaluasi pendidikan ada dua, yaitu:

Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik; a.

Untuk mengetahui tingkat eisiensi metode-metode b.

pendidikan yang digunakan selama jangka waktu tertentu.

Jika dikaitkan dengan pendidikan karakter maka tujuan evaluasi pendidikan karakter adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan proses pendidikan karakter dan untuk memperbaiki kekurangan yang ada supaya hasil selanjutnya menjadi lebih baik.

Sarana/ Prasarana dan Fasilitas Pendidikan Karakter 6.

(54)

dan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Karenanya, negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen (20 %) dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

(55)

BAB III

PENDIDIKAN KARAKTER

DI SEKOLAH

Urgensi Pendidikan Karakter Di Sekolah

Siswa-siswa di sekolah pada gilirannya merupakan generasi yang akan menentukan nasib bangsa ini di kemudian hari. Karena itu, karakter siswa yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa ini di kemudian hari. Karakter siswa akan terbentuk dengan baik manakala dalam proses tumbuh kembang mereka mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan diri secara leluasa. Dengan begitu siswa sebagai pribadi yang mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing.

(56)

seutuhnya. Itulah sebabnya mereka mempunyai kepentingan besar dalam bidang pendidikan, yaitu untuk mempersiapkan warga negaranya memiliki karakter yang kuat dalam rangka mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara.

Menurut William Bennet, sekolah memiliki peran yang sangat urgen dalam pendidikan karakter seorang peserta didik. Apalagi bagi peserta didik yang tidak mendapatkan pendidikan karakter sama sekali di lingkungan dan keluarga mereka. Apa yang dikemukakan Bennet ini, tentu saja bukan tanpa dasar, tetapi berdasarkan hasil penelitiannya tentang kecenderungan masyarakat di Amerika, di mana anak-anak menghabiskan waktu lebih lama di sekolah ketimbang di rumah mereka. William Bennet sampai pada kesimpulan bahwa apa yang terekam dalam memori anak didik di sekolah, ternyata mempunyai pengaruh besar bagi kepribadian atau karakter mereka ketika dewasa kelak. Ringkasnya, sekolah merupakan salah satu wahana efektif dalam internalisasi pendidikan karakter terhadap anak didik (Wibowo, 2012: 53).

Selain Amerika, negara maju lainnya seperti Jepang dan Cina juga telah menerapkan model pendidikan itu sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

(57)

pengembangan dan kesuksesan pendidikan karakter cukup besar, harus diakui jika implementasi pendidikan karakter masih terseok-seok dan belum optimal.

Barangkali kita masih ingat dengan kejadian berikut. Tanggal 16 Mei 2011 lalu, tepatnya setelah 4 hari ujian nasional berakhir, Siami mengetahui bahwa putranya Alif diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan jawaban kepada siswa lainnya di dalam kelas. Siami lantas mengkonirmasi hal ini pada kepala sekolah. Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ia lalu mengadu ke komite sekolah namun tak kunjung mendapat tanggapan. Ia pun membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya hingga akhirnya laporan tersebut sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Setelah dilakukan proses penyidikan, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggungjawab yaitu kepala sekolah dan dua guru. Sanksi ini lantas memicu kemarahan wali siswa. Mereka menilai Siami dan keluarganya tak punya hati, serta telah mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya. Puncaknya terjadi Kamis, 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II menuntut Siami meminta maaf dan mengusir Siami sekeluarga dari kampong (Oke Zone, http://news.okezone.com/read/2011/06/13/340/467597/ tragedi-sd-gadel-potret-kelam-ujian-nasional).

(58)

Sekolah semestinya juga harus berfungsi membentuk akhlak dan kecerdasan emosional siswa sehingga menjadi seseorang yang berbudi pekerti luhur. Sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung, hendaknya juga mengajarkan dan mentransmisi budaya seperti nilai-nilai, sikap, peran dan pola-pola perilaku. Sekolah harusnya mengajarkan dan membudayakan pada peserta didik untuk menghindari perbuatan curang dan menghargai kejujuran.

Kasus contek massal yang terjadi di SDN Gadel II Surabaya Jawa Timur menjadi salah satu contoh kasus tentang buruknya implementasi pendidikan karakter pada sebagian sekolah-sekolah kita. Contoh yang lain adalah meningkatnya kasus penggunaan narkoba di kalangan pelajar, pergaulan bebas di kalangan pelajar, maraknya angka kekerasan di kalangan pelajar, dan lain-lain, menandakan betapa pengetahuan agama dan moral yang didapatkan peserta didik di bangku sekolah ternyata tidak berdampak positif terhadap perubahan perilaku mereka.

(59)

Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter di Sekolah

Beberapa aspek yang semestinya diperhatikan dalam pendidikan karakter di lingkungan sekolah, yaitu: (1) Pembenahan kurikulum sekolah; (2) Memperbaiki kompetensi, kinerja dan karakter guru/ kepala sekolah; dan (3) Pengintegrasian dalam budaya sekolah.

Pembenahan Kurikulum Sekolah 1.

Satu hal yang menjadi sebab pentingnya kurikulum dalam pendidikan, bahwa dengan kurikulum maka kegiatan pendidikan akan terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kurikulum merupakan sejumlah kegiatan yang mencakup berbagai rencana strategi belajar-mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan.

Agar proses internalisasi pendidikan karakter di sekolah dapat berlangsung efektif, maka pembenahan kurikulum sekolah menjadi penting, terutama karena kurikulum adalah “ruh” atau inti dari pendidikan itu sendiri. Namun perlu ditegaskan juga bahwa pembenahan tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat kurikulum baru, tetapi hanya sekedar memperbaiki atau melengkapi kekurangan-kekurangan yang saat ini terdapat pada kurikulum sekolah. Ringkasnya, pembenahan kurikulum tidak lain adalah pengembangan kurikulum sekolah yang sudah ada, agar dapat sesuai dengan karakteristik pendidikan karakter.

(60)

pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu guru dan pemangku kebijakan pendidikan di sekolah hendaknya dapat mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah, silabus, dan rencana program pembelajaran (RPP) yang sudah ada. Perhatikan tabel 3.1 sebagai berikut:

1 Integrasi dalam mata pelajaran yang ada

Mengembangkan silabus dan RPP pada kompetensi yang telah ada sesuai dengan nilai yang akan diterapkan 2 Mata pelajaran

Ekstra kurikuler, seperti Pramuka, PMR, kantin kejujuran, UKS, KIR, olahraga dan seni, OSIS dan sebagainya.

Bimbingan konseling, yaitu pemberian layanan bagi anak yang mengalami masalah.

(61)

Pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum sekolah berarti memadukan, memasukkan, dan menerapkan nilai-nilai yang diyakini baik dan benar dalam rangka membentuk, mengembangkan, dan membina tabiat atau kepribadian siswa sesuai jati diri bangsa tatkala kegiatan pembelajaran berlangsung (Zubaedi 2011: 264). Nilai-nilai karakter yang dimaksud yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja-keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Integrasi nilai-nilai untuk pendidikan karakter ini ke dalam kurikulum sekolah dapat dilakukan melalui tahap-tahap perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Hakikatnya, pengembangan pendidikan karakter di sekolah adalah untuk mengusahakan agar siswa itu mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik mereka dan bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip tersebut, peserta didik belajar melalui proses “berpikir”, “bersikap”, dan “berbuat”. Ketiga proses dalam pendidikan karakter ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan sosial, dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri tidak hanya sebagai makhluk individu tapi juga makhluk sosial (Wibowo, 2012: 72).

(62)

Integrasi dalam mata pelajaran yang ada a.

Pengembangan nilai-nilai karakter diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dan setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Hal ini sejalan dengan pendapat Fasli Jalal yang dikutip Zubaedi (2011: 269) bahwa pendidikan karakter yang didorong oleh pemerintah untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah tidak akan membebani guru dan siswa, sebab hal-hal yang terkandung dalam pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dalam kurikulum, namun selama ini tidak dikedepankan dan diajarkan secara tersurat. Jadi pendidikan karakter tidak diajarkan dalam mata pelajaran khusus, namun dilaksanakan melalui keseharian pembelajaran yang sudah ada di sekolah.

Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan siswa sehari-hari di masyarakat.

Setiap guru diharapkan dapat menjadi guru pendidikan karakter dan setiap guru seharusnya berkompeten untuk mendidik karakter siswanya. Telah diterangkan bahwa bahwa pendidikan karakter pada prinsipnya tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan, tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Artinya, setiap guru mata pelajaran memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendidik karakter siswanya. Mengutip pendapat Zubaedi (2011: 270):

Figur

Tabel 2.1Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter
Tabel 2 1Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter. View in document p.38
Tabel 3.1Implementasi Pendidikan Karakter
Tabel 3 1Implementasi Pendidikan Karakter . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...