jika ada pilihan menjadi wanita kuat dan bahagia, aku akan memilihnya sebagai pilihan utama dalam hidup. Tapi semua tak semudah yang aku kira.

Teks penuh

(1)

GERIMIS DAN PELANGI

Rembulan bersinar terang di pertengahan malam dalam separuh keresahan yang hidup di hati. Sinarnya kuat, hingga menjadikan kebahagiaan pasang surut seperti sebuah permainan. Sesekali rembulan bermain petak umpat dibalik awan hitam yang pekat. Lalu, ia kembali memancarkan cahaya yang terang saat kehidupan mulai sirna. Malam pun senyap. Dalam kegundahan, aku masih bercengkrama dengannya, meski air mata tak bertuan tiada berpemilik lagi.

Terkadang aku berpikir bahwa tiada yang lebih utama, selain meraih keridhaan-Nya. Bulan saja mampu berkorban untuk malam dan malam pun menjaga insan hingga datang mentari kembali. Lalu, mengapa hati masih bisa terluka sekali pun terbungkus kaca tebal anti peluru. Inikah takdir yang harus aku lalui, Tuhan? Tapi kenapa harus aku? Hanya akukah sendiri yang merasakan kehancuran ini? Tak adakah sedikit saja kebahagiaan yang bertahan lama untuk menemani di penghujung waktuku ini? Seperti sebuah peperangan yang menelan korban. Aku terluka parah dan berdarah.

Jika ada dua pilihan antara menjadi wanita lemah, namun bahagia atau wanita kuat tapi tak bahagia, aku mungkin memilih yang pertama. Namun

(2)

jika ada pilihan menjadi wanita kuat dan bahagia, aku akan memilihnya sebagai pilihan utama dalam hidup. Tapi semua tak semudah yang aku kira. Menguras rasa yang semakin dangkal dan hati yang membeku karena diabaikan. Gersang yang aku lihat adalah sedih yang aku dapat. Sebuah kehampaan cinta yang selama ini aku puja.

Malam ini, aku benar-benar melihat langit begitu indah. Bertabur bintang yang terus berkelip. Ditemani alunan angin yang berbisik lembut, aku merindukan semua hal manis yang pernah aku rasa. Dekapan tanganku malam ini adalah bukan karena aku merasa dingin, tapi karena aku ingin menopang runtuhnya hidup. Aku malu jika menyerah, apa yang akan aku katakan pada Tuhan jika ia bertanya.

Aku menghapus linangan air hangat yang terjatuh. Aku berbalik dan meneguhkan diri jika semua akan baik-baik saja. Jika malam ini untuk sementara waktu aku merasa lega, itu karena ibu dan adikku sedang memiliki acara di luar. Besok aku harus menyiapkan hati baja kembali, karena akan ada banyak kejutan yang lebih menyakitkan dari apa yang pernah aku alami sebelumnya. Aku menutup pintu loteng dan bergegas turun ke bawah.

Apa yang aku alami adalah apa yang aku rasa. Apa yang aku rasa adalah apa yang aku hadapi. Jika

(3)

aku berhenti sampai di sini, itu artinya aku memutus kebahagiaan untuk datang. Aku berjalan menikmati lorong rumah dan menghitung jumlah keramik yang aku injak. Sampai pula aku di depan sebuah cermin di kamar.

Cermin yang berada di depan itu, mungkin sudah jenuh melihat aku terus menitikan air mata tiada henti. Terlalu sering aku berkaca dan mengeluhkan perasaanku dengan hanya menatapnya tajam. Setiap ada yang tak sehati, air mata turun menelusuri pipi. Setiap luka menggores selalu aku yang memprotes dan setiap aku merasa sakit, ia yang mungkin menjerit. Berbicara kekuatan hati, memang cinta yang mudah menggoyahkan. Dengan cinta, hidup bak di istana raja tapi dengan cinta pula hidup bak di gubuk derita.

Memang hanya cinta yang sanggup menghancurkan pondasi yang telah di bangun. Cukup sekali saja aku kehilangan bagian paling penting dalam keluarga. Tapi kini aku tertimpa satu lagi bencana jiwa. Aku telah menautkan hati pada-Nya, tapi luka dan duka terus saja mengejar dan memburu. Butakah aku dengan cinta pada manusia atau aku yang telah dibutakan cinta oleh manusia? Aku bagai pengemis cinta yang meminta-minta. Aku masih ingat saat itu.

(4)

“Sayang, kamu yang sabar ya. Ini adalah takdir yang harus kamu lewati. Aku yakin kamu bisa melewati semua perjalanan pahit hidup ini.” Kata Mahindra.

“Tapi kenapa harus aku Mahindra? Tidakkah Tuhan tahu kalau aku tak bisa hidup tanpa mereka berdua?” Tanyaku.

“Semua ini tentang takdir, sayang. Tuhan mengujimu dengan ini karena Ia tahu kamu adalah yang sanggup menghadapinya. Kalau dia menguji ini padaku, belum tentu aku bisa melewatinya sekali pun aku seorang lelaki.”

“Haruskah sekarang?”

“Ya, karena sekarang aku akan selalu ada di sampingmu.”

Dua buah foto berharga dalam hidup terpasang dengan senyum paling manis. Menghiasi dinding perasaan bersama aku yang kecil, yang lugu dan belum tahu serumit inikah kehidupan. Kehadirannya selalu terbayang menyapa, terlebih di saat duka mendera.

Aku masih bisa merasakan peluk mereka berdua, meski jasad itu tak ada. Jika sedih datang, mereka terkenang. Jika bahagia datang, mereka mungkin senang. Aku hanya bisa berdoa dan

(5)

menutup rapat-rapat semua misteri yang pernah muncul sekali dalam hidup. Ketakutan, keraguan, kebimbangan, kekhawatiran semuanya menjadi satu di waktu itu. Cukup hanya waktu itu saja, kedua orang paling berharga yang di renggut misteri.

Lalu, kini kemana orang yang akan selalu ada di sampingku? Lupakah ia dengan janji-janji manisnya? Tegakah ia menyakiti orang terkasihnya? Sudahkah ia bosan dengan semua ini? Aku tak mau berharap banyak lagi padanya. Cukup sampai di sini.

Aku terperanjat. Tengah malam ini ibu dan Myesha sudah pulang. Mungkin liburan mereka selama seminggu di Yogyakarta sudah selesai. Mereka terus memencet bel dan aku merapikan diri seakan baru saja terbangun dari tidur.

“Iya bu tunggu sebentar.” Jawabku. “Woy, buka.” Kata Myesha.

“Maaf ibu, Myesha tadi ketiduran. Ibu dan Myesha sehat?” Tanyaku.

“Sok akrab lu, ya sehat kali. Lu pengen kita mampus?” Balas Myesha.

“Astagfirullah, bukan maksud kakak seperti itu Myesha.”

(6)

“Bawa barang-barang itu masuk ke dalam dan buatkan air hangat untuk mandi malam ini. Juga mobil masukkan ke garasi dan ingat jangan coba sentuh apapun dari barang-barang belanjaan kita.”

“Iya ibu.”

“Oya, tolong buatkan sop dan makanan hangat juga buat kita. Kita laper banget nih.” Kata Myesha.

“Myesha.” Kataku.

“Apa? Mau bilang gue yang harus masak, perlu gue lapor ke ibu?” Ancam Myesha.

“Baiklah.”

Ada satu hal yang masih belum aku mengerti. Jika setiap orang memiliki hak untuk hidup nyaman dan bahagia, lantas sudah habiskah hak itu untukku? Apakah kebahagiaan itu hanya berlaku untuk masa lalu saja? Bagaimana aku akan bahagian sekarang, Tuhan?

Aku telah membuatkan sop, memasak air dan membereskan barang-barang ibu. Semua perintah mereka segera dilaksanakan dengan baik. Aku menghela dan masuk ke kamar.

Aku membuka semua media sosialku. Satu persatu aku tuliskan kata-kata mutiara yang aku dapat

(7)

berdasarkan apa yang aku alami sendiri. Aku mungkin takkan pernah bahagia lagi selama masih hidup bersama ibu dan adikku, oleh karena itu setidaknya orang yang membaca tulisanku bisa belajar banyak dari apa yang aku alami. Sebuah chat masuk pagi itu.

Kamu belum tidur Aila?

Belum Fa, aku masih ingin banyak merenung. Aku gundah.

Jangan lupa nanti shalat tahajud. Insyaallah kamu akan tenang.

Terimakasih banyak Fa, berkat kamu aku tahu Allah lebih jauh.

Yang paling penting adalah kamu tetap konsisten di jalanmu, meningkatkan ketakwaanmu dan terus berikhtiar. Bagaimana dengan ibu dan adikmu?

Mereka masih seperti biasanya Fa. Aku merasa semakin tidak nyaman sekarang Fa.

La, percayalah Allah memberikan ini karena Dia tahu kamu sanggup melewatinya dan aku yakin kamu bisa menghadapi situasi pelik ini.

(8)

Ingat, jika hidup kamu yang sekali ini, hanya kamu gunakan untuk mengeluh, lantas kapan kamu akan menikmati hidup bahagiamu. Yuk, bangkit dan tunjukkan kamu bisa menjadi yang terkuat. Bukan yang bisa mereka injak-injak begitu saja.

Pagi buta ini, aku masih asyik berkomunikasi dengan Syareefa. Dia tak henti memberikan kata-kata motivasi dan mendorongku untuk benar-benar terjun dari lingkar kurungku sekarang. Aku merasa ada energi lain yang terus memompa semangatku.

Di saat aku sedang asyik bermain dengan laptopku, tiba-tiba bel berbunyi. Aku sempat bingung, tamu siapa yang pagi-pagi buta seperti ini datang ke rumah.

Aku segera membuka pintu dan melihat orang yang ada di depan rumah. Aku tertegun beberapa saat ketika melihatnya.

Kesakitan menjalani pertemuan demi pertemuan tanpa sebuah kepastian yang terang darinya. Mengharapkan yang terbaik, sebaliknya mendapatkan yang terburuk. Menggantung cerita yang bukan sebuah pilihan hidup. Andai dulu aku berani melangkah, mungkin cerita akan berbalik arah. Tapi aku puas dengan keputusan yang aku berikan kepadanya. Aku lelah dengan semua ini.

(9)

Menjaga kedipan mata tetap di tempatnya. Mengunci rapat mulut dan tak berumbar dusta dari kata yang aku rasa percuma. Menutup rapat hati yang sesaat berontak dan ingin berteriak di hadapannya. Aku tak mau menorehkan luka di tempat yang sama.

Mungkin dulu, pintu ini selalu menyambut orang yang berharga dan dia adalah satu-satunya, tapi kini semua telah berubah. Tak disangka kini ia datang bersama keberaniaan yang nyata.

“Aila tunggu, jangan tutup pintunya. Aku mohon Aila.” Kata Mahindra.

“Kamu masih berani datang ke rumah ini? Urus saja kepentinganmu itu dan aku bukan siapa-siapa kamu lagi sekarang. Kita sudah selesai sampai di sini.”

“Kamu jangan gitu Aila, ini bisa kita selesaikan baik-baik. Aku yakin kamu sudah dewasa dalam menyikapi hal seperti ini. Kamu pun tahu aku tidak mungkin berkhianat.”

“Kamu pikir aku perempuan bodoh yang bisa kamu kibuli begitu saja? melihat orang yang sudah jelas-jelas berselingkuh dengan wanita lain di depan mata? Lalu kamu bilang aku sudah dewasa dalam menyikapi hal seperti ini?”

(10)

“Kamu terlalu merendahkan harkatku sebagai seorang hawa, Mahindra. Aku sakit kamu tusuk dari belakang seperti ini. Kamu pikir aku boneka yang bisa kamu permainkan setiap saat sesukamu?”

“Aku mohon.”

“Gak usah datang lagi! Aku jenuh kamu lukai. Mata ini lelah melihat kamu bermain cinta, aku tak sanggup lagi memberi maaf, Mahindra. Apa lagi yang harus aku pertahankan sekarang? Luka? Lelah? Capek? Sakit? Aku tak bisa. Aku punya masa depan yang harus aku perjuangkan, bukan hanya takluk dengan rayu buayamu.”

“Aila, aku minta maaf jika kemarin-kemarin aku salah dan kita bisa memulai lagi dari awal.”

“Dari awal lagi katamu? Apa kamu tidak menyadari kamu sering berlaku seperti ini? Aku selalu tak mau memperpanjangnya karena aku pikir kamu akan sadar, tapi ternyata tidak.”

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :