Genesa Hidrokimia Airtanah Jakarta Utara
“Airtanah Akifer Tertekan Kedalaman 0 – 20 m” Daerah Kalideres – Cengkareng
Jakarta Barat
Oleh :
A. Asseggaf, dkk.,
Prodi Teknik Geologi FTKE – USAKTI
DISKUSI LMIAH
Dalam Rangka Acara Ulang Tahun IAGI Yang Ke – 58
DATA PENELITIAN AIR ASIN
TERKUMPUL PERIODA 1978 - 2016
ADA 20 BUAH PENELITIAN PADA AKIFER 0 – 40M DAN MENUNJUKKAN 4 (Empat) KESIMPULAN,YAITU :
1. Kelompok Intrusi dan infiltrasi tegak :
(Hehanusa, 1979, 1980 & 1982; Tirtomiharjo & Maimun, 1994; PAM JAYA & DGTL, 1999; Prayogi, dkk., 2016 dan Nababan, dkk., 2016).
2. Tidak Terjadi Intrusi Airlaut :
Kecuali pada endapan Pematang Pantai (Qbr) yang kontak dengan airlaut terjadi pada 4.500 tahun yang lalu dapat berupa connate water dan airtanah purba.
( Iwaco & Waseco, 1994; Disbang DKI Jakarta & LPPM – ITB, 2000; BAPPEDA DKI Jakarta & LPPM ITB, 2004 dan Lubis et al, 2015 )
3. Bukan akibat intrusi airlaut;
Adanya air asin dalam akifer akibat kontrol geologi struktur, menyebabkan naiknya air fosil (brine) dari lapisan di bawah akifernya (Delinom, 2015).
4. Berhubungan dengan air hujan;
Analisis isotop stabil (2H & 18O) menyatakan
bahwa airtanah asin berhubungan dengan air hujan (Listiyani, 1999).
HASIL PENELITIAN
PERIODE 2004 - 2010
1. LPPM ITB & BAPPEDA DKI JAKARTA (2004) ; wilayah ini mempunyai tipe akifer tertekan. 2. Firdaus (2004) ; ketebalan lapisan atas
berupa lempung dengan ketebalan 4 – 9
meter, ke arah barat lempung relatif menipis. 3. Perdanawati (2008) ; fasies berkembang dari
MgCl2 menjadi MgHCO3.
4. Juliansar (2010) ; terdapat adanya unsur Mn2+.
METODOLOGI
1. Tahap Pertama Pengukuran ; a. Lokasi Dengan GPS
b. MAT ( SNI.6989.58 – BSN, 2008) c. Korelasi Litostratigrafi (KSS, 1996) 2. Tahap Kedua Pengukuran Sifat Fisik Lapangan ;
3. Tahap Ketiga Tata Cara Pengambilan Conto Air (Brassington, 2007) ;
a. Pemompaan Air Sumur 3X Volume b. MAT Normal Dilakukan Pengambilan
Conto Air 1/2 – 2/3 Kedalaman; 1). 8 Ion Kimiawi Utama
KLASIFIKASI SALINITAS BERDASARKAN TDS & Cl
* Matthes and Harvey, 1982 & **Stuyfzand, 1989
Salinitas (mg/l) Jenis air Tawar (Fresh water) Payau (Brackish) Asin (Saline) Asin pekat (Brine) TDS* < 1.000 1.000 - 10.000 10.000 - 35.000 > 35.000 Cl** < 150 150 - 1.000 1.000 - 20.000 > 20.000
DATA HASIL PENGUKURAN TDS dan Cl
Jenis salinitas
Lokasi sumur
1P 2G 3P 4P 5P 6G 7P 8G
DS (mg/l) 630/T 1430/P 1070/P 2220/P 2240/P 10000/A 670/T 850/T
GRAFIK LINIER DATA TDS TERHADAP CL Tawar Tawar Payau Asin Asin Payau
EVOLUSI FASIES KIMIAWI TERHADAP ALIRAN AIRTANAH LINTASAN 2G --- 3P --- 6G
Aliran airtanah (Baratdaya) ---> (Timurlaut)
Sumur 2G 3P 6G
Cl Payau Payau Asin
TDS Payau Payau Asin
EVOLUSI FASIES KIMIAWI TERHADAP ALIRAN AIRTANAH LINTASAN 1P --- 5P --- 8G
Sumur 1P 5P 8G
Cl Payau Payau Payau TDS Tawar Payau Tawar Fasies Cl + HCO3 Cl + SO4 HCO3 + SO4
Analisis isotop stabil 2H serta 18O mengacu
kepada persamaan LMWL Jakarta (Djiono,1988).
Isotop Kawasan Kalideres - Cengkareng
1. Kelompok Isotop Masih Menunjukkan Karakter Meteorik Lokal.
2. Diperkirakan Kelompok Ini Mendapat Suplai Airtanah lain (Selatan – Barat), Sehingga Terjadi Percampuran.
3. Lokasi 6G (Kamal) Mempunyai Nilai Isotop Stabil δ2H – 57,0‰
dan δ 18O – 8,79‰ Termasuk Nilai Airtanah Lokal. Nilai Isotop
Ini Tidak Mencerminkan Nilai Isotop Airlaut ;
KESIMPULAN
1. Dengan menggunakan kriteria TDS airtanah dominan Payau (2G/3P/4P/5P); Tawar (1P/7P/8G) & Asin (6G). Sedang berdasarkan Cl dominan Payau (1P/2G/3P/8G), Asin (4P/5P/6G) dan Tawar (7P).
1. Sumur Gali (G) mempunyai fasies;
Khlorida Sulfat/Cl + SO4 lokasi 2G & 6G; Bikarbonat Sulfat/HCO3+ SO4 lokasi 8G. Sumur Pantek (P) mempunyai fasies;
Khlorida Bikarbonat/Cl + HCO3lokasi 1P & 4P; Sulfat Bikarbonat/ SO4+ HCO3 lokasi 3P & 7P Khlorida Sulfat/Cl + SO4 lokasi 5P.
3. Perubahan fasies terhadap aliran airtanah;
a. Lokasi 2P --- 3P --- 6G (BD – TL)
Cl + SO4 --- SO4 + HCO3 --- Cl + SO4
b. Lokasi 1P --- 5P --- 8G (B --- T) Cl + HCO3 ---Cl + SO4 --- HCO3 + SO4
Evolusi kimiawi airtanah menunjukkan adanya perbedaan fasies untuk setiap aliran airtanahnya.
4. Keberadaan ion pada akifer airtanah menunjukkan :
a. HCO3; adanya infiltrasi air meteorik melalui singkapan batupasir (endapan sungai/as ataupun pematang pantai/ap).
b. Cl dan SO4; adanya mineral NaCl, CaSO4 dan CaSO4.2H2O dalam akifer endapan pematang pantai/ap yang kemudian tercucikan menjadi fasies kombinasi Cl, SO4 dan HCO3.
Atau dapat pula berasal dari :
Adanya mineral FeS2/pirit dan Kalsit/CaCO3 yang kemudian mengalami oksidasi menjadi ion2 SO
4 dan
Khusus lokasi 6G
Tidak terkena endapan pematang pantai/ap,
diduga adanya aliran akifer lain yang mempunyai ion Cl dan SO4 dengan kadar cukup tinggi.
Kemungkinan lain berasal dari air fosil atau
“connate water”. Dan bukan asal intrusi airlaut. 5. Isotop stabil airtanah menunjukkan bahwa seluruh
conto masih mencerminkan karakteristik airtanah yang mengalami evaporasi, walaupun adanya
PUSTAKA
• Asseggaf, A., Hendarmawan, Hutasoit, L.M., Hutabarat, J., 2017; Karakter Hidrogeologi Zonasi Akifer (0 – 20 m) Berdasarkan Geologi, Hidrokimia – Isotop Dalam Airtanah Jakarta Utara, FTG – UNPAD Tidak Dipublikasi (Disrtasi). • Badan Standarisasi Nasional. 2008. SNI.6989.58-2008. Metode Pengambilan
Contoh Air Tanah
• Brassington, R,. 2007; Field Hydrgology (3rd Edition), Chapter 7 Groundwater
Chemistry, John Wiley & Sons, LTD., England, 159 – 185.
• Delinom, R.M., (2015). Ancaman Bawah Permukaan Jakarta – Tak Terlihat, Tak Tepikirkan, dan Tak Terduga, (BAB VII), Jakarta: LIPI.
• Dinas Perindustian dan Energi, 2015. Kumpulan Data Pemboran Sumur Resapan dan Sondir Periode 2012 – 2014, Pemda DKI Jakarta, Jakarta (tidak dipublikasi)
• Direktorat Geologi, 1970. Peta geologi Teknik Jakarta – Bogor Sekala 1 : 50.000, Dirjend. Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan Umum dan Energi, Bandung.
• Djiono, Dkk., 1988. Detrium dan Oksigen-18 di Dalam Air Hujan. Laporan, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN, Jakarta.
• Freeze, R.A. & Cherry, J.A., 1979, Groundwater, Prentice– Hall, Inc. USA.
• Hehanusa, P., Tjiptasmara dan Nurlela, I., 1982. Hidrokimia Airtanah Dangkal Di Sekitar Teluk Jakarta, Laporan Penelitian No. 21/LGPN/1982, Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional – LIPI, Bandung.
• Matthes, G. Dan Harvey, J., 1982. The Properties of Grounwater, Chapter 4; Classification and Assessment of Groundwater, A Wiley – Interscience Publication, John Wiley & Sons, New York.\, pages 321 – 329.
• Nababan, dkk., 2016. Perubahan Karakteristik Hidrokimia Air Tanah Pada Cekungan Akuifer Tidak Tertekan dan Tertekan di Cekungan Air Tanah Jakarta. Publikasi khusus, Pertemuan ilmiah tahunan ke-1
Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PIT – PAAI), Bandung.
• Stuyfzand, P.J., 1989. A New Classification of Water Types, Regional Characterization of Water Quality
(Proceedings of Baltimore Symposium, May – 1989), IAHS – Publication No 182.
• Iwaco dan Waseco. DHV Consultants, Delft Hydraulics, TNO, Persero PT. Indah Karya, PT. Kwarsa Hexagon, and PT. Wiratman & Associates, 1994. Jabotabek Water Resources Management Study, Final Report, Ministry of Public Works, Directorate General of Water Resources Development, Jakarta.
• Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. IAGI.
• Listyani, T., 1999. Analisis Isotop Oksigen dan Hidrogen serta Hubungannya Dengan Genesa Airtanah Asin Pada Cekungan Airtanah Jakarta(Tesis), Program Studi teknik Geologi Program Pasca Sarjana ITB,
Bandung.
• Lubis, R.F., Bakti, H., Suriadarma, A., Onodera, S., dan Saito, M., 2015. Keluaran Airtanah Lepas Pesisir
(KALP) dalam Delinom, R.M., (2015): Ancaman Bawah Permukaan Jakarta – Tak Terlihat, Tak Tepikirkan, dan Tak Terduga, (BAB VII), Jakarta: LIPI.
• Maathuis, H., Yong, R.N., Adi S. & Prawiradisastra, S., 1996. Development of Groundwater Management Strategies in The Coastal Region of Jakarta, Indonesia (Final Report), Joint BPP Teknologi, Jakart –