BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kebutuhan Dasar Dicintai Dan Mencintai
2.1.1 Definisi Kebutuhan Dasar Dicintai dan Mencintai
Kebutuhan cinta adalah kebutuhan dasar yang menggambarkan emosi seseorang. Kebutuhan ini merupakan suatu dorongan di mana seseorang berkeinginan untuk menjalin hubungan yang bermakna secara efektif atau hubungan emosional dengan orang lain. Dorongan ini akan menekan seseorang sedemikian rupa, sehingga ia akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan akan cinta kasih dan perasaan memiliki. Kebuthan akan mencintai dan dicintai in sagat besar pengaruhnya terhadap kepribadian seseorang terutama untuk seorang anak. Cinta berhubungan dengan emosi, bukan dengan intelektual. Perasaan lebih berperan dalam cinta daripada proses intelektual. Walaupun demikian, cinta dapat diartikan sebagai keadaan untuk saling mengerti secara dalam dan menerima sepenuh hati. Setiap individu, termasuk klien yang dirawat oleh perawat, memerlukan terpenuhinya kebutuhan mencintai dan dicintai.Klien merupakan individu yang berada dalam kondisi ketidakberdayaan karena sakit yang dialaminya.Pada kondisi ini diperlukan sentuhan perawat yang dapat memberikan kedamaian dan kenyamanan.Oleh karena itu, setiap perawat harus memiliki pemahaman yang benar mengenai konsep dalam pemenuhan kebutuhan mencintai dan dicintai.
Secara psikologis cinta adalah sebuah perilaku manusia yang emosional di mana wujudnya adalah tanggapan atau reaksi emosional seseorang terhadap rangsangan tertentu. Dalam hal ini cinta dipengaruhi oleh interasi antara pecinta dengan lingkungannya, kemampuan pecinta tersebut, serta tipe dan kekuatan unsur pendorongnya.
Dalam mendefinisikan cinta belum pernah ditemui satu rumusan tentang cinta yang singkat padat dan mewakili pemahaman akan cinta itu sendiri secara tepat. Ini dikarenakan bahwa pendefinisian itu merupakan suatu hasil pemahaman seseorang terhadap realitas yang dihadapinya, maka sangat
mungkin jika definisi yang dilontarkan seseorang sangat tergantung latar belakang historis yang membuat definisi dan kondisi yang melingkupi ketika definisi tersebut dilontarkan. Jika melihat cinta sangat erat berkait dengan dimensi perasaan, maka sangat tidak mustahil jika pendefinisian tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman seseorang dalam cinta. Kata cinta dalam bahasa Indonesia dapat berarti: suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali, berharap sekali, rindu, susah hati, (khawatir).
Sedangkan dalam kamus psikologi, cinta adalah perasaan khusus yang menyangkut kesenangan terhadap atau melekat pada objek, cinta berwarna emosional bila muncul dalam pikiran dan dapat membangkitkan keseluruhan emosi primer, sesuai dengan emosi di mana objek itu terletak atau berada. Banyak sekali tokoh-tokoh psikologi yang mencoba mendefinisikan cinta, dan harus diakui bahwa definisi-definisi tersebut sangatlah beragam dan tidak senada. Diantaranya adalah Sigmund Freud, yang mengungkapkan bahwa cinta dan hal-hal lain yang sama sifatnya dengan cinta tidak lebih dari salah satu kemampuan psikis manusia. Sumber dan pusat pendorong yang paling utama dalam cinta dan hal-hal lain tersebut adalah libido seksual. Berbagai pandangan yang mulukmuluk tentang cinta sebenarnya bermuara pada cinta seksual dan bertujuan pada penyatuan seksual. Jika objek cinta yang dimaksud bukan lawan jenis, maka pusat yang sebenarnya tetap libido seksual, hanya saja itu diproyeksikan kepada hal lain. Apabila energi yang berpusat pada libido seksual itu diproyeksikan kepada hal lain atau aktifitas lain, energi tersebut akan mengalami perubahan dari kehendak mewujudkan tujuan seksual, menjadi bentuk lain yang kreatif. Freud adalah orang pertama yang mengajukan teori cinta koheren yang dilandaskan pada prinsip-prinsip ilmiah. Dia menyimpulkan bahwa kita jatuh cinta karena kita mengikuti aturan-aturan yang tertanam di alam bawah sadar kita.
Erich Fromm, pakar Psikoanalisis, melihat adanya unsur-unsur mendasar dalam segala bentuk cinta sejati. Unsur-unsur itu mencakup kepedulian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan. Rasa hormat hanya mungkin muncul pada individu yang merasa tidak perlu mendominasi, mengendalikan
atau memanfaatkan orang lain. Cinta adalah bocahnya kemerdekaan. Dan jelas, orang tidak bisa mencintai apa yang tidak diketahuinya. Sementara itu, tokoh psikologi Humanistik, Abraham Maslow, memiliki gagasan bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, untuk berubah, dan berasal dari sumber genetik atau naluriah. Kebutuhan dasar tersebut tersusun secara hirarkhis dalam lima strata yang bersifat relatif, yaitu :
1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (fa’ali) 2. Kebutuhan akan keselamatan
3. Kebutuhan akan rasa aman
4. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki 5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.
Bagi Maslow, perasaan cinta dan memiliki tidak hanya didorong oleh kebutuhan seksualitas. Namun lebih banyak didorong oleh kebutuhan kasih sayang. Ia sepakat dengan definisi cinta yang dikemukakan oleh Karl Roger, bahwa cinta adalah “Keadaan dimengerti secara mendalam dan menerima dengan sepenuh hati”.
Dalam bukunya seni mencinta, Erich Fromm menyebutkan, bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima. Dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang paling penting dalam memberi ialah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan. Pada pengasuhan contoh yang paling menonjol adalah cinta seorang ibu pada anaknya; bagaimana seorang ibu dengan rasa cinta kasihnya mengasuh anaknya dengan sepenuh hati. Sedang dengan tanggung jawab dalam arti benar adalah sesuatu tindakan yang sama sekali suka rela yang dalam kasus ibu dan anak bayinya menunjukkan penyelenggaraan atas hubungan fisik. Unsur yang ketiga adalah perhatian diri sebagaimana adanya. Yang ke empat adalah pengenalan yang merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia. Dengan ke empat unsur tersebut, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan, suatu cinta dapat dibina secara lebih baik.
Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh Dr. Sarlito W.Sarwono. Dikatakannya bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman,
dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan padalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Unsur yang kedua adalah keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya. Makan minum dari satu piring-cangkir tanpa rasa risi, pinjam meminjam baju, saling memakai uang tanpa merasa berhutang, tidak saling menyimpan rahasia dan lain-lainnya. Unsur yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalu jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa saying, dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut yang menunjukkan segitiga cinta.
Selanjutnya Dr. Sarlito W. Sarwona mengemukakan, bahwatidak semua unsur cinta itu sama kuatnya. Kadang-kadang ada ketereikatannya sangat kuat, tetapi keintiman atau kemesraan kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiataan yang amat kuat, kecemburaannya besar, tetapi dirasakan oleh pasangannya sebagai dingin atau hambar, karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan kemesraan atau keintiman. Misalnya cinta sahabat karib atau saudara kandung yang penuh dengan keakraban, tetapi tidak ada gejolak-gejolak mesra dan orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal lain dari pada partnernya.
Cinta juga dapat diwarnai dengan kemesraan yang sangat menggejolak, tetapi unsur keintiman dan keterikatannya yang kurang. Cinta seperti itu dinamakan cinta yang pincang.
Cinta, menurut Teori Segitiga Sternberg, terdiri dari tiga aspek: keintiman, gairah, dan komitmen. Cinta yang sempurna adalah cinta yang memenuhi dari ketiga aspek tersebut. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing aspek.
Gairah (passion) cenderung terjadi pada awal hubungan, relatif cepat dan kemudian beralih pada tingkat yang stabil sebagai hasil pembiasaan.
Keintiman (intimacy) relatif lebih lambat dan kemudian secara bertahap bermanifestasi sebagai meningkatkan ikatan interpersonal. Perubahan keadaan
dapat mengaktifkan keintiman, yang dapat menyebabkan intimacy menurun atau justru semakin naik.
Komitmen (commitment) meningkat relatif lambat pada awalnya, kemudian berjalan cepat, dan secara bertahap akan menetap. Ketika hubungan gagal, tingkat komitmen biasanya menurun secara bertahap dan hilang.
Berdasarkan ketiga aspek tersebut, ternyata tidak semua orang memenuhi syarat sebuah cinta yang sempurna. Bisa saja mereka hanya memenuhi satu atau dua dari tiga aspek tersebut. Bagaimana bila hanya terpenuhi satu atau dua aspek? Stenberg membagi cinta dalam beberapa jenis berdasarkan aspek mana yang terpenuhi. Berikut adalah jenis cinta atau tipe cinta yang dikemukakan oleh Stenberg.
1.
Menyukai (Liking) dalam hal ini tidak diartikan dengan sepele. Sternberg mengatakan bahwa menyukai dalam hal ini adalah ciri persahabatan sejati, di mana seseorang merasakan keterikatan, kehangatan, dan kedekatan dengan yang lain tetapi tidak intens dalam hal gairah atau komitmen jangka panjang. Syarat adanya sifat menyukai adalah terpenuhinya intimacy.
2. Cinta gila (Infatuated love) sering dirasakan sebagai “cinta pada pandangan pertama.” Tapi tanpa aspek keintiman dan komitmen pada cinta, cinta gila mungkin akan menghilang tiba-tiba. Syarat adanya cinta gila adalah munculnya intimacy dan commitment.
3. Cinta kosong (Empty love). Kadang-kadang, cinta muncul tanpa ada perasaan keintiman dan gairah dan itu disebut dengan cinta kosong. Tipe cinta ini hanya ada perasaan untuk berkomitmen tanpa ada keintiman dan gairah diatara mereka. Biasanya ini muncul ketika ada budaya perjodohan dan sering diawali dengan tipe cinta kosong.
4. Cinta romantis (romantic love). Mereka yang memiliki cinta romantis akan terikat secara emosional (seperti pada nomer 1) dan adanya gairah satu sama lain. Syarat adanya cinta romantis adalah munculnya intimacy dan passion (gairah).
5. Pasangan cinta (Companionate love) sering ditemukan dalam pernikahan, di mana gairah sudah tidak nampak lagi, tetapi kasih sayang yang mendalam dan komitmen masih tetap ada. Companionate love umumnya merupakan hubungan antara Anda dengan seseorang yang hidup bersama, tetapi tanpa hasrat seksual atau fisik. Ini lebih kuat dari persahabatan karena dalam hubungan ini ada unsur komitmen. Salah satu contoh cinta yang ada dalam sebuah keluarga adalah bentuk companionate love, juga mereka yang menghabiskan banyak waktu bersama namun tidak ada hubungan seksual dan gairah disana.
6. Cinta bodoh (Fatuous love) dapat dicontohkan saat pacaran dan pernikahan dalam kerenggangan, di mana cinta masih ada komitmen dan gairah, tanpa ada pengaruh keintiman seperti keterikatan, kehangatan, dan kedekatan.
7. Cinta yang sempurna (Consummate love) adalah bentuk lengkap dari sebuah cinta. Ini adalah tipe yang ideal dan banyak orang ingin mencapainya. Sternberg mengingatkan, mempertahankan cinta yang sempurna mungkin lebih sulit daripada mencapainya. Cinta yang sempurna mungkin tidak permanen. Misalnya, jika gairah hilang dari waktu ke waktu, mungkin berubah menjadi cinta companionate.
Keseimbangan antara tiga aspek Sternberg yaitu intimacy, passion dan commitment dalam cinta cenderung bergeser dan dinamis. Pengetahuan tentang aspek cinta dapat membantu pasangan menghindari masalah dalam hubungan mereka.
Perasaan cinta yang sesungguhnya adalah perasaan saling percaya dengan hubungan sehat penuh kasih. Tanpa adanya perasaan saling percaya, maka hubungan cinta seseorang akan menjadi rapuh dan rusak. Kebutuhan cinta adalah meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima.
2.1.2 Ciri-Ciri dan Macam-Macam Perasaan Cinta
Objek cinta tidak selalu manusia, bisa juga benda, keadaan, pekerjaan, negara, bangsa, tanah air, Tuhan, dsb. Dengan demikian karakteristik yang menjadi perhatian orang yang mencintai sesuai dengan objek yang dicintai ada perbedaan. Dengan mengutip dari Erich Fromm, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengetengahkan lima macam cinta yang berbeda, yaitu: cinta sahabat, cinta orang tua, cinta erotik, cinta diri sendiri, dan cinta Tuhan.
1. Cinta sahabat atau persaudaraan, adalah cinta yang paling dasar dan umum. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain. Kehidupan kelompok, kebersamaan, interaksi sosial merupakan kebutuhan dasar dari individu. Untuk membentuk kehidupan bersama, kehidupan kelompok, dan interaksi sosial yang baik perlu didasari oleh rasa senang, rasa bersahabat, rasa cinta dari individu ke individu yang lainnya.
2. Cinta orang tua (cinta ibu atau ayah) kepada anak. Cinta ini cinta murni, sebab tanpa didasari pamrih atau imbalan apapun, cinta orang tua benar-benar ditujukan bagi kepentingan anaknya. Cinta orang yang tulus (unconditional parental love) menjadi dasar bagi pembentukan inti harga diri (core of self esteem) anak (Buss, 1973)
3. Cinta erotik merupakan cinta antara jenis kelamin yang berbeda, antara pria dengan wanita. Cinta ini disebut cinta erotik karena mengandung dorongan-dorongan erotik atau seksual. Pada umumnya, perasaan cinta ini muncul dalam diri seseorang bersamaan dengan munculnya hormon seksual pada saat memasuki masa remaja awal. Jika perasaan cinta ini
tidak terkendalikan dengan baik justru akan dapat menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan perilaku seksual.
4. Cinta diri sendiri. Manusia adalah makhluk yang bisa bertindak sebagai subjek dan juga sebagai objek. Berkenaan dengan masalah cinta, objek cintanya bisa dirinya sendiri. Kecintaaan terhadap diri sendiri yang berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan mentalnya, dengan apa yang disebut narcisisme.
5. Cinta Tuhan merupakan manifestasi dari hubungan manusia dengan yang ghaib, yaitu yang menciptakannya. Cinta Tuhan lahir dari keyakinan agamanya, dan akan Tuhannya yang menentukan segala kehidupannya. Cinta Tuhan juga merupakan manifestasi dari kesediaan makhluk untuk berbakti kepada-Nya.
Beragam sekali orang di dalam mendefinisikan cinta, dan semua itu tergantung dari pengalaman mereka masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa cinta ialah garam. Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam. Jadi, kalau orang dalam hidupnya tidak memiliki cinta, maka hidupnya tidak berarti. Supaya kita tidak condong dan hanyut pada ekstremitas tertentu, maka cinta perlu dibagi dalam beberapa jenis dan kategori. Muhidin M. Dahlan dalam bukunya “Mencari Cinta”, membagi cinta dalam empat kategori, yaitu cinta erotis (erotic love), cinta rasional (rational love), cinta romantis (romantic love), dan cinta agape (god love). 1. Cinta Erotis
Disebut cinta erotis atau cinta biologis, dikarenakan pada cinta ini daya tarik manusia antara satu dengan yang lain bersifat badaniah. Titik orientasi cinta ini berpusat pada kepuasan diri sendiri (egosentrisme). Seseorang dicintai sejauh ia dapat memenuhi kenikmatan seksual. Dalam hal ini, cinta dilihat sebagai suatu perbuatan biologis atau fisiologis. Cinta seperti ini akan cepat hilang manakala pasangannya sudah tidak menarik lagi. Cinta erotis hampir sama dengan cinta binatang. Kesamaannya sama-sama bertumpu pada dorongan “instingtif”. Perbedaanya terletak pada cara mengendalikan unsur intingtif tersebut. Pada manusia masih memiliki kesanggupan untuk mengendalikan daya seksualnya sesuai dengan hakekat dan
martabat kemanusiaannya. Maka bisa saja manusia akan sama dengan binatang apabila manusia tidak sanggup mengendalikan dorongan seksualnya itu. Megan Tresidder berpendapat bahwa cinta erotis pada esensinya adalah simfoni mempertentangkan impuls-impuls dan sensasi-sensasi.
2. Cinta Rasional
Jenis cinta semacam ini bersifat rasional atau dapat dipersepsi oleh nalar. Biasanya cinta rasional ini berbentuk material. Orang yang menganut cinta ini beranggapan bahwa apresiasi terhadap keindahan sebagai bentuk cinta yang merupakan perpaduan jiwa dan akal. Sepertiucapan Pitirin Sorokin dalam pengantar bukunya The Ways and Power of Love: “Pikiran yang waras tidak mempercayai sama sekali kekuatan cinta. Bagi kita, cinta tampak sebagai suatu hal yang menyesatkan. Kita menyebutnya penipuan diri, merupakan candu yang meracuni pikiran manusia, omong kosong yang tidak ilmiah dan khayalan yang tidak ilmiah pula”.
3. Cinta Romantis
Cinta romantis adalah cinta yang tidak hanya difikirkan tetapi juga dirasakan. Bagi penganut cinta ini memandang bahwa cinta adalah untaian bait-bait puisi yang menepuk-nepuk jiwa yang sedang dilanda perindu. Cinta adalah pemilik rasa dan hanya rasa. Maka tibatiba saja orang yang mangalami cinta semacam ini berubah manjadi pujangga yang bisa mengubah kepedihan menjadi barisan kata-kata yang indah. 4. Cinta Religius / Agape
Cinta ini merupakan sebentuk ritus penyerahan diri total kepada sang kekasih. Penganut cinta seperti ini tidak pernah berkeluh kesah sedikitpun karena jenis cinta ini adalah lebih tinggi tingkatannya dari jenis cinta yang lain. Bahkan penganut cinta ini bebas menari di dalam kesadaran yang tanpa batas dan tanpa harus terganggu oleh batas ideologi, agama, ras, dan sebagainya.
Sementara itu, Rollo May, menyebut empat macam cinta dalam tradisi barat yang berasal dari khasanah budaya Yunani. Pertama adalah seks, yaitu cinta yang hanya mementingkan nafsu, libido. Kedua adalah eros, yaitu dorongan cinta untuk berkreasi atau dorongan ke arah bentuk-bentuk
kehidupan dan hubungan yang lebih tinggi. Ketiga adalah cinta persaudaraan atau philia. Keempat adalah agape, atau memberikan dengan tanpa pamrih, sebagai contoh adalah cinta Tuhan pada manusia.Sifat cinta memang misterius, karena cinta hanya dapat dirasakan dan hanya orang-orang yang mengalaminya saja yang merasakan nikmatnya cinta. Bahkan belum pernah seorang pun yang sungguh-sungguh merasa puas dengan definisi cinta. Oleh sebab itu, Scott membagi cinta ke dalam tiga kategori yaitu : eros (cinta birahi), philia (cinta kasih pada anak), dan agape (cinta kasih sejati). Erich Fromm, dalam bukunya The Art of Loving, membagi cinta berdasarkan objeknya,14 yaitu:
1. Cinta Persaudaraan
Jenis cinta paling fundamental yang mendasari semua tipe cinta adalah persaudaraan (brotherly love). Cinta persaudaraan maksudnya adalah cinta terhadap semua manusia. Ciri khas dari cinta ini adalah tidak adanya eksklusifitas. Jika cinta kita telah mengembangkan kemampuan untuk mencintai, berarti mau tidak mau kita harus mencintai saudara-saudara kita. Dalam cinta persaudaraan terdapat pengalaman kesatuan dengan sesama manusia, pengalaman perdamaian, dan solidaritas antara manusia.
2. Cinta Keibuan
Cinta ibu adalah suatu peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan-kebutuhan seorang anak. Hubungan antara ibu dan anak pada dasarnya merupakan hubungan yang tidak seimbang, di mana yang satu memerlukan segala bantuan, sedangkan yang lain memberikan semua. Karena inilah cinta ibu dianggap sebagai jenis cinta yang tinggi dan ikatan emosional yang paling luhur.
3. Cinta Erotis
Cinta erotis adalah cinta yang mendambakan suatu peleburan secara total dan penyatuan dengan pribadi lain. Pada hakekatnya, cinta erotis bersifat eksklusif dan tidak universal. Cinta erotis bersifat eksklusif ketika ia hanya dapat meleburkan diri sepenuhnya dengan satu pribadi. Bagi penganut cinta ini, keintiman atau kemesraan ditentukan melalui hubungan seksual.
Bagi Fromm, mencintai diri sendiri adalah buruk. Ia menganggap bahwa selama kita mencintai diri sendiri, maka selama itu pula kita tidak mencintai orang lain. Karena cinta pada diri sendiri sama dengan mementingkan diri.
5. Cinta Tuhan
Ialah cinta yang tidak memohon atau mengharap apa-apa dari Tuhan. Orang yang benar-benar religius telah mencapai kerendahan hati untuk merasakan keterbatasan-keterbatasannya sampai pada tahap menyadari bahwa dia tidak mengetahui apa-apa tentang Tuhan. Bagi dirinya, Tuhan menjadi simbol pada dunia spritual, cinta, kebenaran dan keadilan.
Sasse membagi jenis cinta yang kemungkinan terjadi di kalangan muda-mudi , ke dalam tiga kelompok. Ketiga kelompok jenis cinta tersebut adalah ;
1. Cinta kilat (infatuation)
Pada umumnya pengalaman cinta pada pandangan pertama yang dialami oleh sepasang remaja besifat intensif dan sesaat. Huungan cinta yang seperti inilah yang diebut cita kilat (infantution). Karakteristik cinta kilat atau cinta pada pandangan pertama adalah hubungan cinta yang berawal pada keterkaitanterhadap penampilan fisik. Karakteristik lain yaitu cinta kilat bisa muncul meskipun seseorang tidak pernah bertemu secara langsung dengan orang yang dicintainya . jenis cinta ini belumdapat menjadi dasar pembentukan keluarga. Meskipun begitu, cinta pada pandangan pertama sangat penting dalam membantu remaja yang berusia belasan tahun belajar tentang cinta. Melalui cinta pada pandangan pertama dapat belajar tentang sifat-sifat yang bermanfaat untuk membina hubngan yang lebih baik dengan lawan jenisnya, menguasai keterampilan berkomunikasi denan lawan jenis,dan mempraktikkan keterampilan untuk menakrabkan diri dena orang lain. Pengembangan pribadi khususnya dalam emenuhi kebutuhan psikologis, bekajar memahami nilai-nilai orang lain dan memahami serta mengembangkan nilai-nilai diri sendiri.
2. Cinta Romantis (romantic love)
Cinta romantis biasanya tumbuh atau berawal dari ada pandangan pertama, berkembang dari hubungan yang akrab dan menjadi dasar dari sebuah pernikahan.Sasse (1981) mengemukakan bahwa cinta romantic tumbuh pada awalnya teman biasa, kemudian saling tertarik kemudian bersahabat( terlihat selalu bersama) dalam perahabatan keduaanya diam-diam saling memperhatikan dan mempelajari,dan berusaha mencari persamaan-persamaan ide. Salahstu perbedaan antara cinta pada pandangan pertama dan cinta romantic yaitu bagaimana pandangan seseorang terhadap pasangannya. Pada ssat pandangan pertama seseorang tidak menghiraukan reaksi-reaksi pasangan ketika pacaran . dalam cinta romantic mereka telah muali mempertimbangkan reaksi-reaksi pasangannya. Karakteristik lain dari cinta romantic adalah rentang waktunya berlangsung lebih lama dan jika cinta romatis kandas di tengah jalan, sangat susah untuk bersatu lag. Meskipin cinta romantic bisa menjadi dasar dari pernikahan tetapi tidak semua cinta romantic berakhir di pelaminan. Sebagian oaring mengalami cinta romantic lebih dari satu kali kemudian baru memasuki jenjang pernikahan.
3. Cinta Antara Suami dan Istri
Cinta suami –istri merupakan cinta yang kuat untuk yang cocok untuk perikahan. Cinta suami-istri berbeda dengan cinta romantic dalam hal kualitas. Diman dalam cinta suami istri kadar cinta terhadap pasangan smakin tinggi dan komitment terhadap pasangan hidup. Hal ini di sebabkan karena dalam cinta suami istri ada beberapa aspek yang menjadi dasar penyebab dari hal terebut, yaitu;
a. Atraksi atau daya tarik psikologis dan biologis
Daya tarik psikologis dan biologis dalam hubugan suami istri adalah pertautan mental dan fisiologis dai antara dua orang, termanifestasikan dalam bentuk dorongan seksual, rapport dan keintiman emosional. Jika dalam suatu keluarga pasangan suami istri tidak mempunyai daya tarik, maka hubungan suam istri
tersebut akan hampa dan tidak menutup kemungkinan hubunga itu berhenti sama sekali. Demikian juga antara dua orang yang sedang bercinta sudah mendalam dan intim,baik keintiman secara emosinal maupun daya tarik fisik dan seksual antar pasangan. b. Empati
Empati dalam cinta suami istri berarti kemampuan untuk memahami apa yang dipirkan dan apa yang dirasakan oleh pasangan masing-masing. Secara psikologis empati lebih dalam dari pada rapport. Dengan empati pasangan muda midi dapat menyampaikan pikiran masing-masing
c. Persahabatan
Persahabatan dalam cinta suami istri ditandai dengan sepasang muda mudi yang selalu ingin bersama-sama dan akan mengalami kebahagiaahan kala bersama-sama. Persahabatan tersebut akan terbina dengan baik kalau di antar pasangan tercapai suasana saling mempercayai .
d. Kepedulian
Kepedulian dalam cinta suami istri merupakan aspek terakhir dengan kepedulian pasangan muda mudi akan akan mengetahui kebutuhan masing-masing dan memberikan dukungan serta membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, kecuali pemenuhan kebutuhan seksual, karena tidak di benarkan dan tidak sesuai dengan nilai agama dan norma-norma yang berkembang di dalam masyarakat. Dengan demikian pasangan muda mudi yang sensitive terhadap kebutuhan pasangannya akan berpeluang besar menjadi pasangan suami istri yang bahagia.
Presscot, (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) mengemukakan beberapa ciri rasa cinta:
1. Cinta melibatkan rasa empati. Seseorang yang mencintai berusaha memasuki perasaan dari orang yang dicintainya.
2. Orang yang mencintai sangat memperhatikan kebahagiaan, kesejahteraan dan perkembangan dari orang yang dicintainya.
3. Orang yang mencintai menemukan rasa senang, dan hal ini menjadi sumber bagi peningkatan kebahagiaan, kesejahteraan, dan perkembangan dirinya.
4. Orang yang mencintai melakukan berbagai upaya dan turut membantu orang yang dicintai untuk mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemajuan.
2.1.3 Manfaat Cinta Bagi Kesehatan
Menurut peneliti, rasa cinta adalah emosi murni yang tulus dan bisa menyehatkan tubuh. Jatuh cinta bisa menyehatkan dengan syarat, harus stabil dan selalu merasa nyaman dengan hubungan cinta yang sedang dijalankan. Berikut manfaat cinta bagi kesehatan.
1. Lebih bahagia
"Berada dalam suatu hubungan memungkinkan tubuh Anda melepaskan hormon bahagia, yang membuat Anda selalu merasa baik,” kata psikolog klinis asal Mumbai, H'vovi Bhagwagar.
2. Kekebalan tubuh jadi lebih baik
Jatuh cinta akan memberikan dorongan kekebalan tubuh Anda. "Anda lebih tenang dan berpikiran positif, tentu ini menjadikan Anda tidak rentan terhadap pilek dan batuk," kata H'vovi. Sementara depresi atau perasaan sedih membuat Anda rentan terhadap serangan virus pilek dan flu.
3. Menghilangkan sakit dan nyeri
Berada dalam suatu hubungan yang stabil, memberikan Anda keamanan, sehingga dapat berbagi segala sesuatu yang Anda lewati. "Perasaan ini membantu Anda mengatasi rasa sakit dan nyeri yang lebih baik," kata dr Dhwanika Kapadia. Pasangan akan memotivasi Anda dan membantu melewati rasa sakit atau nyeri yang menyerang.
4. Meningkatkan konsentrasi
Pasangan yang saling mencintai dan peduli memungkinkan Anda memberikan yang terbaik. Hal ini memungkinkan Anda berkonsentrasi pada pekerjaan Anda. Dengan demikian bisa meningkatkan kinerja Anda.
"Ketika Anda bahagia, daya kretivitas akan semakin meningkat,” kata H'vovi. Apalagi jika satu sama lain saling memotivasi, ini akan menjadi
hal yang jauh lebih baik. Tak hanya untuk hubungan tapi juga kesuksesan kerja.
5. Siklus haid jadi teratur
Siklus menstruasi tergantung pada berbagai hal, seperti kesehatan dan gizi. Stres merupakan faktor penting juga. "Wanita dalam hubungan jangka panjang cenderung merasa tertekan. Namun dengan adanya perasaan cinta yang stabil akan membuat siklus haid teratur," kata H'vovi.
6. Terhindar dari stress
Wanita yang sudah menikah atau mereka yang telah memiliki kekasih, kemungkinan merasa cemas atau memiliki masalah sepele sangat sedikit. Mereka tahu bahwa mereka memiliki pasangan yang saling memahami satu sama lain dan merasa saling memiliki.
"Rasa memiliki menjadi sistem pendukung, membantu Anda menangani masalah dengan mudah," kata Dhwanika. Hal ini membuat stres berkurang dan risiko tekanan darah tinggi juga rendah, termasuk ketegangan dan migren.
2.1.4 Batasan Cinta
Menurut psikolog Elain dan William Walsten, cinta adalah suatu keterlibatan yang sangat mendalam. Keterlibatan itu diasosiasikan dengan timbulnya rangsangan fisiologis yang kuat dan diiringi denan perasaan mendambakan pasangan dan keinginan untuk memuaskannya.
Dari uraian tadi, jelaslah definisi cinta itu. Kalau bicara lebih lanjut tentang batasan-batasan cinta yang sebenarnya. Kita akan mendapatakan penjelasan lain dari filsuf Yunani, Baron dan Bryne (1994), Master Johnson dan Kolodny (1985), serta Tunner dan helms (1995). Mereka menjelaskan enam batasan cinta.
1. Cinta eros alias cinta birahi. Cinta ini identic dengan cinta seksual dan erotic yang bersumber dari melekatnya cairan seksual dalam tubuh dan bermuara pada lust (nafsu). Cinta ini ditandai dengan keinginan memiliki, menuntut, merengek, mendesak, mengambil, dan bukan memeri.
2. Cinta phelia alias rasa saying dan kasih. Cinta ini tumbuh dari diri seseorang; bisa karena hubungan keluarga atau indahnya sebuah
persahabatan yang mendalam. Biasanya, cinta model ini ada pada hubungan ortu-anak dan kakak adik.
3. Cinta agape alias cinta sebening embun. Sejuta rasa ada di dada seseorang yang mencapai kekuatan cinta pada pasanannya di tahap paling tingi. Cinta ini ditandai dengan perhatian aktif pada orang yang dicintai dengan penuh keikhlasan, saling menghargai dan memberi.
4. Cinta storge alias persahabatan. Cinta yang ini tumbuh subur di benak hati seseorang karena adanya sebuah persahabatan yang hangat dan akrab sehingga tidak tidak menekankan unsur passion dan hurt.
5. Cinta hudus. Cinta satu ini sering dilakukan anak muda zaman searang untuk bermain cinta dan engak ada seriusnya sama sekali. Kalau sudah gini, biasanya dua belah pihak Cuma dapet rugi dan pasti banyak nyebelinnya.
6. Cinta pragma alias cita untung rugi, yaitu kualitas suatu kualitas suatu hubungan dipikirkan dan dihitung dengan rumus jumlah keuntungan yang didapet oleh sebuah pasangan yang sedang dimabuk cinta.
2.1.5 Pengaruh Cinta
Cinta sebagai klimaks perasaan dan hubungan sangatlah beragam dan ia menimbulkan pengaruh yang beragam pula pada pencinta. Secara umum, cinta menimbulkan pengaruh-pengaruh sebagai berikut :
1. Cinta membuat orang lamban dan malas menjadi lincah dan terampil, bahkan membuat orang yang berfikir lamban menjadi gesit.
2. Cinta mengubah si kikir menjadi dermawan, si pemberang dan kaku menjadi penyabar dan penuh toleransi serta pengertian.
3. Cinta dapat membawa seorang petani yang sendirian harus menghadapi lumpur di sawah pagi-pagi buta, atau mengurus saluran airnya tengah malam agar padi bisa hijau dan panen menguning.
4. Cinta mampu membangunkan tenaga yang tidur, membebaskan daya kekuatan yang dirantai belenggu. Cinta berkobar dengan inspirasi dan membina pahlawan. Betapa banyak penyair, filsuf, dan seniman diciptakan oleh energi cinta yang gaib, kuat dan kuasa ini
Menurut Muhsin Labib, ada tujuh pengaruh yang ditimbulkan oleh cinta, yaitu :
Cinta diri membuat lingkup pemikirannya terbatas, dan kecenderungan-kecenderungan pribadinya terkurung karena pikiran dan hatinya hanya terfokus pada dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga ia menjadi kerdil. 2. Menciptakan daya dan kekuatan
Konsistensi yang merupakan energi dan daya survive dan kesabaran dalam menghadapi tekanan dan menanggung derita adalah akibat dari cinta.
3. Mengkonsentrasikan semua daya
Cinta telah menyatukan semua potensi manusia, karena pikiran, perilaku dan sepak terjang pecinta akan dikerahkan untuk mencari sesuatu yang tidak terjangkau oleh indra lahiriah. Karena itulah benaknya hanya terisi oleh pikiran tentang ma’syuq (yang dicinta).
4. Melembutkan hati dan menghindarkan jiwa dari kekerasan
Manusia yang telah tertawan cinta, betapa pun berwatak keras, pasti akan merasakan kelembutan dalam batas-batas tertentu, minimal ia bisa lebih bersabar di depan kekasihnya, sehingga secara perlahan membuat hatinya menjadi lembut. Andaikan hatinya lembut, maka ia akan menjadi lebih lembut setelah menjadi pecinta.
5. Mencabut kebebasan dan memasung kreatifitas
Seorang pecinta akan mengabaikan kepentingan dirinya demi kepentingan kekasihnya, bahkan ia tidak membedakan antara kepentingan dirinya dan kepentingan kekasihnya.
6. Membuat pecinta menjadi dermawan, tangkas dan cerdas
Cinta telah membuat manusia keluar dari lingkaran egonya. Karena cinta, manusia menyandang sifat-sifat tertentu yang merupakan akibat cinta, seperti kedermawanan, ketangkasan dan kecerdasan.
7. Melupakan kekurangan kekasihnya dan membutakan matanya
Karena tengelam oleh kekaguman pada keindahan kekasihnya, ia tidak melihat kekurangannya. Bahkan ia menganggap semua kelemahan sebagai keindahan dan kesempurnaan semata.
2.1.6 Karakteristik Cinta
Kebutuhan cinta adalah kebutuhan dasar yang menggambarkan emosi seseorang. Kebutuhan ini merupakan suatu dorongan seseorang berkeinginan
menjalin hubungan yang efektif untuk hubungan emosional dengan orang lain. Dorongan ini akan terus menekan seseorang sedemikian rupa sehingga ia akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan perasaan saling mencintai dan memiliki. Cinta dapat diartikan sebagai keadaaan saling mengerti yang mendalam dan penerimaan sepenuh hati. Beberapa karakteristik cinta menurut Ashley Montagu (1975) adalah sebagai berikut :
1. Cinta bukan hanya perasaan yang subjektif, tapi juga tindakan serius saat seseorang menyampaikan perasaannya kepada yang lain.
2. Cinta tidak bersyarat, tidak ada tawar menawar, tetapi disampaikan kepada orang yang menaruh minat kepada orang lain. Dalam hal ini, seseorang memeberi dukungan dan memengaruhi perkembangan orang lain.
3. Cinta adalah dukungan. Seseorang akan selalu ada bila orang lain membutuhkannya. Dalam cinta ada simpati dan pengertian.
Kebutuhan untuk dicintai atau mencintai adalah keinginan untuk berteman, bersahabat, atau bersama-sama beraktivitas. Ini merupakan identitas atau prestise untuk seseorang. kebutuhan dicintai dan mencintai meliputi kebutuhan untuk member dan menerima cinta serta kasih saying, menjalani peran yan memuaskan, serta diperlakukan dengan baik.
2.1.7 Konsep Mencintai dan Dicintai Yang Harus Diketahui Perawat
Ada beberapa konsep tentang mencintai dan diintai yang harus dipahami oleh setiap perawat, diantaranya yaitu :
1. Cinta adalah dukungan
Konsep ini memberikan makna bagi perawat bahwa klien yang dirawat membutuhkan adanya dukungan terhadap kesembuhannya.Dukungan yang diberikan perawat dapat dilakukan melalui intervensi keperawatan, misalnya denga memberikan motivasi untuk membangkitkan semangat hidupnya.Selain dukungan perawat, klien juga sangat membutuhkan dukungan keluarga, dalam hal ini perawat dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator yang memfasilitasi klien dengan keluarganya. Selain itu, perawat perlu melibatkan peran serta keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan terhadap klien.
2. Cinta adalah ketulusan
Konsep ini memeberikan landasan bagi perawat bahwa perawat harus tulus dan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan.Ketulusan ini diwujudkan dengan sikap perawat yang tidak membeda-bedaka dalam melayani seluruh pasien/kliennya.
3. Cinta adalah perhatian
Konsep ini selaras dengan hakikat keperawatan yaitu care, yang artinya keperawatn merupakan profesi yang memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap manusia. Klien yang dirawat akan diberikan asuhan keperawatan dengan penuh perhatian. Bentuk dari perhatian perawat adalah salah satunya yaitu kehadiran perawat sebagai helper.
2.1.8 Fondasi Hubungan Cinta
Papalia, Olds, dan Feldman merupakan ahli psikologi perkembangan yang menegmukakan tiga tipe dasar fondasi hubungan yang akrab atas dasar cinta. Tiga tipe dasar tersebut yaitu, cinta persahabatan, cinta seksualitas, dan cinta kasih
1. Cinta Persahabatan
Menurut ahli psikologi Papalia dkk. Hubungan cinta persahabatan merupakan hubungan emosional antara dua manusia atau lebih yang sejenis maupun tidak sejenis. Hubungan itu didasari saling pengertian, menghargai dan mempercayai satu sama lain. Mereka juga saling sharing atau bertukar informasi tertang berbagai pengalaman untuk satu tujuan tertentu yang telah disepakati bersama.
a. Tahapan Cinta Persahabatan
William Damon, seorang psikolog Amerika Serikat, mengatakan bahwa perkembangan persahabatan merupakan proses yang dapat terjadi sejak seorang individu mengenal dirinya sendiri atau individu. Sebagai makhluk sosial, setiap individu menyadari kebutuhan dirinya akan hadirya orang lain.
Menurut Damon (dalam Berk,2000) terdapat tiga tahap cinta persahabatan yaitu :
Persahabatan sebagai teman dalam kegiatan bermain (playmate) Anak-anak awal (early childhood) usia 4-7 tahun merupakan masa-masa bermain dengan teman sebayanya sebagai peer grup tersendiri. Mereka bermain bersama atau salingmeminjamkan alat permainan tanpa terlalu membedakan
jenis kelamin tertentu. Namun, jenis persahabatan ini tidak dapat dipertahankan dalam waktun yang lama karena adanya konflik-konflik kecil yang merupakan kenakalan dan kecurangan anak semasa TK. Akan tetapi hal tersebut dianggap wajar bila terjadi. Persahabatan sebagai upaya untuk saling membantu dan saling
mempercayai satu sama lain (make friends to build mutual trust and assistance)
Persahabatan yang lebih mendalam ada pada masa ini, yaitu ketika anak-anak usia tengan (middle childhood) usia 8-10 tahun. Ini terjadi Karena mereka mempunyai rasa percaya dan sudah muali bisa memberikan perhatian yang lebih kepada teman seusianya. Misalnya member nasihat kepada teman yang sedih dan member bantuan mengerjakan PR atau memberitahukan rencana ulangan harian kepada teman yang tidak masuk sekolah.
Perahabatan sebagai kehidupan relasi yang diwarnai dengan keakraban dan kesetiaan (friendship as intimacy and loyality)
Persahabatan pada tahap ini terjadi pada usia 11-15 tahun ketika seorang remaja beranggapan bahwa keakraban dan kesetiaan merupakan unsure penting dalam persahabatan. Para remaja akan memperlihatkan keakraban, kehangatan, keterbukaan, dan komunikasi yang bisa mencurahkan perhatian, perasaan, atau pengalaman hidupnya kepada orang lain.
Dalam dunia remaja, terdapat pula rasa saling percaya dalam menyimpan rahasia atau merasakan adanya pengkhianatan di antara mereka. Persahabatan pada masa remaja ini bisa dipertahankan sampai mereka memasuki masa dewasa. Selain itu, persahabatan pada masa ini dapat pula tercipta hubungan emosional. Terkadang dalam hubungan emosional tersebut, setiap individu bisa menganggap temannya itu bukan lagi seorang teman, melainkan saudara sendiri atau berubah menjadi seseorang yang lebib daripada teman biasa, bila persahabatan itu berbeda jenis kelamin.
b. Fungsi Persahabatan
Ahli psikologi, Cootman dan Parker, mengatakan bahwa persahabatan mempunyai fungsi yang bermacam-macam diantaranya :
Pertemanan (companionship)
Seorang individu harus berkorban dari berbagai segi, baik waktu, uang, maupun tenaga untuk individu lain dalam menjalani aktivitas yang sama di suatu tempat.
Sebagai stimulasi kompetensi
Sahabat pada seorang individu diharapkan bisa dijadikan sandaran untuk bisa mengembangkan potensi dirinya karena adanya situasi yang benar-benar memberikan peluang untuk maju. Seorang sahabat bisa memberikan informasi menarik, penting, dan bisa memacu potensi individu dalam persahabatan.
Sebagai dukungan fisik (physical support)
Kehadiran sahabat bagi seseorang bisa memberikan nuansa semangat akan adanya perhatian dan rasa berartinya seorang individu bagi sahabat. Demikian pula sebaliknya, perhatian dan rasa berarti ini sangat mendukung eratnya persahabatan.
Sebagai dukungan ego (ego support)
Masalah ataupun kebahagiaan yang dialami oleh seseorang akan terasa lebih mudah dan indah dijalani karena adanya dukungan seorang sahabat.
Perbandingan sosial (social comparison)
Fungsi persahabatan ini merupakan lahan individu untuk bercermin bagi dirinya ataupun sahabatnya. Secara otomatis, seorang individu, baik disadari maupun tidak, terkadang membandingkan dirinya dengan sahabat yang dimilikinya atau membandingkan kekurangan dan kelebihan antara sahabat yang satu dengan sahabat yang lain. Apabila terjadi perbandingan, seorang individu dalam persahabatan itu akan mencoba untuk memperbaiki dirinya.
Sebagai intimasi/afeksi (intimacy/affection)
Tanda sebuah persahabatan adalah adanya kedekatan personal sehinnga tumbuh rasa saling percaya antara yang satu dan yang lain. Kemampuan seorang sahabat untuk bisa memahami individu satu dengan individu yang lain disebabkan oleh berjalannya fungsi persahabatan untuk saling menerima, mempercayai, menghargai, dan mengetahui seluk beluk individu lain dalam suatu jalinan persahabatan.
2. Cinta Seksualitas
Ekspresi cinta tipe ini lebih mengutamakan factor seks. Seksualitas menjadi peran utama dibandingkan dengan perhatian dan curahan hati seseorang yang mengalaminya. Hal ini tentu saja dijalani oleh seseorang yang telah dewasa
Pada orang dewasa, cinta seksualitas menjadi bagian dari perjalanan hidupnya karena dinimati oleh mereka yang telah berkeluarga. Kita dapat melakukan tes pada cinta jenis ini. Menurut Charlie W. Sheeld bahwa untuk mengetes kadar cinta suami-istri diperlukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa menentukan apakah kualitas cinta itu bisa bersemi dan berkembang indah, lenih romantis atau tidak. Pasangan suami istri bisa mempertimbangkan hasil tes ini dan mencari cara-cara baru demi keutuhan cinta mereka. Tes tersebut diantaranya :
a. Tes Kemerdekaan (The Liberty Test)
Suatu pasangan hendaknya menyediakan peluang bagi pasangan hidupnya untuk mengembangkan kemandirian yang sehat (a healthy independence), seperti kata Kahlil Gibran, “Biarkan terdapat jarak dalam keb ersamaan anda”
b. Tes Tidak Mementingkan Diri Sendiri (The Unselfish)
Jangan tanyakan apa yang diberikan oleh pasangan kepada kita, tetapi pikirkan apa yang akan kita berikan kepada pasangan kita. Ini suatu tes penting karena suatu pasangan akan bisa mengakui bahwa “aku cinta kau” karena “kau seperti apa adanya”. Pernyataan ini semua bukan hanya dikatakan dengan kata-kata, melinkan juga perlu pengungkapan dengn perbuatan.
c. Tes Maaf-Memaafkan (The Mercy-Apology Test)
Ketika berpacaran, seorang sering melakukan kesalahan. Namun, niasanya mereka kurang bisa mengkritik dan memaafkan atau terkadang memafkan secara berlebihan.
Nilai maaf yang benar adalah bagaimana seseorang mampu mengakui kesalahan, menyesalinya, dan memperbaiki kekurangan atau kesalahan tersebut. Karena seorang pemberi maaf itu mampu menerima maaf bukan di bibir saja, melainkan dengan perlakuan tidak selalu mengungkit kesalahan pasangannya.
Apabila mengetahui arti kata “bersama” (a common philosophy) tentang gaji, menabung, dan belanja, bukan hal yang sulit bagi suatu pasangan untuk bisa berdamai, rukun, dan bahagia. Uang dapat dimanfaatkan sebagai pemersatu atau dapat juga menjadi pemecah belah suatun pasangan. Selayaknya, setiap pasangan membicarakan kemungkinan adanya konflik dalam keuangan, misalnya, apakah sudah mengganggarkan uang untuk sekolah anak, infak, orang tua, dan sebagainya. Pertanyaan keuangan akan lebih mudah terjawab apabila terdapat unsur kebersemaan.
e. Tes Seks (The Sex Test)
Dalam sebuah rumah tangga sangat diperlukan perilaku seks yang menggiurkan dan normal pada pasangan hidupnya. Rasa saling membutuhkan sangat diperlukan dalam hubungan seks pada pasutri. Bukan hal yang tabu bila seorang wanita membutuhkan seks. Namun, tentunya diungkapkan dengan car yang lembut dan tepat waktu kepada suami. Sebaiknya, dalam pernikahan terdapat perundingan berbagai bentuk yang diinginkan untuk membicarakan kerukunan dan rasa damai yang terinti (inner peace).
Cinta seksualitas pada masa remaja lebih mengacu oada hubungan seksual sebelum menikah (pre marital sexual intercourse) yang terlarang dan sangat merugikan bagi pasangan itu sendiri. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pasutri yang telah menikahpun dapat melakukan pelanggaran terhadap nilai sosial. Misalnya, perselingkuhan dengan orang lain yang bukan pasangan hidupnya yang sah. Perselingkuhan dapat terjadi antara suami-istri yang dimiliki orang lain atau pada gadis dan jejaka yang belum menikah (sexual intercourse extra marital). Factor-faktor yang mendorong terjadinya perselingkuhan antara lain ketidaksetiaan, kebosanan, konflik, dll.
Perselingkuhan yang sulit diselesaikan dapat menyebabkan perasaan benci, marah, dendam, stress, merasa dikhianati, dan bisa berakibat buruk seperti perceraian, bunuh diri, atau pembunuhan (A. Daryo).
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) saying (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehinga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasih.
Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya; dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
2.1.9 Fisiologi Cinta Berdasarkan Psikologi
Dalam hubungan antara jenis pasangan terutama yang sedang dilanda asmara,fenomena cinta sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dirasakan. Nah, ketika mata bertemupandang yang berlanjut pada persentuhan tangan, biasanya orang akan merasakan gejalayang sama:- darah mengalir lebih cepat, semburat merah muncul di pipi, peluh dinginmembasahi telapak tangan, bahkan menghela napas pun jadi terasa berat. Dalam situasiseperti inilah hati bagaikan bergolak, disesaki oleh gelora cinta.
Menurut Helen Fischer seorang “peneliti cinta” di Universiti Boston, Amerika Serikat, reaksi romantik seperti itu timbul kerana kerja sejumlah hormon yang ada dalam tubuh,khususnya hormon yang diproduksi otak. Gelora cinta manusia yang meluap-luap tidak jauh berbeda dengan reaksi kimia. Sayangnya, senyawa antara hormon ini sangat dekat. Dan,berdasarkan
teori Four Years Itch yang diumumkannya, daya tahan gelora cinta itu hanyamencapai empat tahun saja. Setelah itu, hancur tanpa kesan lagi. Sebagaimana yang terjadipada sebuah reaksi kimia, wujudnya tidak akan pernah kembali seperti semula.
Sesungguhnya pula, perasaan yang menghanyutkan dalam masa jatuh cinta tadi boleh dianalisis secara kimia. Jadi, prosesnya dimulakan pada saat mata saling bertemu. Tangan yang bersentuhan bagaikan dialiri arus eletrik. Fenomena ini sudah pasti kerana tindak balas hormon tertentu yang ada di otak, mengalir ke seluruh saraf hingga ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun. Inilah yang membuat wajah memerah, dan timbul perasaan “melayang”. Aliran darah yang demikian cepat membuat bernafas pun menjadi berat.
Jika dipikirkan, bagaimana hormon dalam otak bekerja, ketika seseorang sedang jatuhcinta? Boleh dijelaskan sebagai berikut. Ketika hubungan mata sedang berlangsung, tertanam suatu `kesan’.
1. Fase Pertama
Otak bekerja bagaikan komputer yang menyediakansejumlah data, dan menserasikannya dengan sejumlah data yang pernah direkam sebelumnya.
Ia mencari apa yang membuat pesona itu muncul. Kalau sudah begini, bau yang ditimbulkanoleh lawan jenis pun boleh menjadi pemicu timbulnya rasa romantik.
2. Fase Kedua
Yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi otak.Inilah sebabnya ketika terkesan oleh seseorang, secara automatik senyum pun dilontarkan. Spontan, pusat PEA pun aktif bekerja ketika “wisel” mula diaktifkan. Hormon dopamine dan norepinephrine yang juga terdapat dalam saraf manusia, turut mendampingi. Hormon-hormoninilah yang menjadi pemicu timbulnya gelora cinta. Setelah dua tiga tahun, efektiviti hormon-hormon ini mula berkurang.
3. Fase ketiga
yaitu ketika gelora cinta sudah reda. Yang tersisa hanyalah kasih sayang.Hormon endorphins , senyawa kimia yang identik dengan morfin,
mengalir ke otak.Sebagaimana efek yang ditimbulkan dadah dan sebagainya, saat inilah tubuh merasa nyaman,damai, dan tenang.
Teori tentang cinta pernah popular sekitar 9 hingga 10 tahun yang lalu. Lebih tepatsekali, ketika pendekatan ilmu faal yang membedah tubuh manusia menjadi popular.Selanjutnya, teori ini kian berkembang dan mula dihubung-hubungkan dengan bidang ilmulainnya. Kemudianya, ada juga teori cinta dengan pendekatan bioneurologi yang melihat,membandingkan, dan mengamati struktur otak orang gila misalnya, atau psikologi dan fisiologiyang mempelajari kaitan antara perilaku manusia dan pengaruh hormon pada tubuhnya. Cintasebenarya sama dengan emosi. Kalau emosi seringkali ditentukan oleh sejumlah hormon(terutama dalam siklus menstruasi), maka hal yang sama juga berlaku dalam proses jatuh cinta.Terutama ketika terjadi cinta pada pandang pertama, ada getaran dalam tubuh. Tapi, apakahya, gelora cinta semata-mata ditentukan oleh hormon dalam tubuh?
Diane Lie seorang psikologi sekaligus peneliti rambang pada sebuah Universiti di Beijingmembentangkan teorinya, meskipun urusan cinta boleh dijelaskan secara kimia, namunkecamuk cinta tidak semata-mata hanya ditentukan oleh aktivitas hormon, dan manusia tidakberdaya mengatasinya. Juga tidak selalu berarti bila kadar hormon berkurang, berartigetarannya pun berkurang.
Memang, pemacu semburan cinta (PEA) tadi, memiliki pengaruh kerja yang tidak tahanlama. Hormon yang secara ilmiah memiliki kesamaan dengan amfetamin ini, hanya efektifbekerja selama
2-3 tahun saja. Lama kelamaan, tubuh pun bagaikan imun, `kebal’ terhadap si pemicu gelora. Akan tetapi, sekali lagi, masih menurut Diane, proses jatuh cinta itu tidak semata-matahanya dipengaruhi hormon dengan reaksi kimianya. Apalagi dalam proses orang bercintahingga menikah, banyak faktor sosial lainnya yang menentukan. Contohnya proses jatuh cintayang dalam bahasa jawa dipanggil versi Tresno Jalaran Soko Kulino” yang bermaksud datangnya cinta karena pertemuan yang berulang-ulang “. Demikian pula ketika kita marah dan ingin memaki orang lain, hormon memang punya pengaruh khusus, namun tetap ada faktor lainyang ikut menentukanya.
Manusia merupakan makhluk yang paling kompleks. Jika proses reaksi kimia terjadipada hewan, barulah teori rendahnya daya tahan PEA ini boleh dipercayai. Jadi, teori Helen Fiscer yang disebut Four Years Itch juga boleh dipatahkan.
Pendeknya, teori PEA dilandaskan pada pendekatan ilmu eksakta, sedangkan teori FourYears Itch oleh Fischer yang lingkaran penelitiannya mencakup 62 jenis kultur ini, lebihmenggunakan pendekatan sosial. Fischer, yang juga penulis buku ” Anatomy of Love “, menemukan betapa angka perceraian mencapai puncaknya ketika usia perkawinan mencapai usia empat tahun. Kalaupun masa empat tahun itu telah dilalui, katanya, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kondisi ini membuat perkawinan mereka boleh bertahan hingga empat tahun lebih.
Menurut pandangan Diane, dalam hubungan suami istri atau bercinta, selain cinta, ada hubungan lain yang sifatnya friendship, (persahabatan). Kalau setelah beberapa waktu cinta itu menipis - mungkin kerana tersisihkan hal-hal lain, misalnya karena rutin yang dilakukan adalah hal-hal yang sama juga setiap hari, lalu segalanya jadi terasa membosankan.
2.2 Definisi Gangguan Mencintai dan Dicintai
Menurut Sheila L. Videbeck. 2008 menyatakan bahwa : perubahan pervasive emosi individu, yang ditandai dengan depresi atau mania.
Menurut Stuart Laraia dalam Psikiatric Nursing. 1998 menyatakan bahwa:
keadaan emosional yang memanjang yang mempengaruhi seluruh kepribadian individu dan fungsi kehidupannya. Hal ini berhubungan dengan emosi dan memiliki pengertian yang sama dengan keadaaan perasaan atau emosi. Ada 4 fungsi adaptasi dari emosi, yaitu sebagai bentuk dari komunikasi sosial, merangsang fungsi fisiologis, kesadaran secara subjektif dan mekanisme pertahanan psikodinamis.
Menurut Jhon W. Santrock dalam Psikologi the Scince of Mind and Behaviour: kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan
(euforia), gerak yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk mayor depresi atau dalam bentuk gangguan tipe bipolar.
2.3 Kategori Gangguan Mood
Gangguan mood dibagi menjadi dua kategori utama (Sheila, 2008) :
a. Gangguan unipolar, yang mencakup depresi mayor dan gangguan distimia, yang selama gangguan tersebut individu memperlihatkan kesedihan, agitasi, dn kemarahan karena satu perubahan mood yang ekstrem akibat depresi.
b. Gangguan bipolar (sebelumnya dikenal sebagai gangguan manik-depresif), ketika siklus mood individu antara mania dan depresi yang ekstrem, yakni antara depresi dan keadaan normal, atau mania dan keadaan normal. 2.3 Etiologi
Gangguan mood diyakini menggambarkan disfungsi sistem limbik, hipotalamus, dan ganglia basalis, yang membentuk kesatuan pada emosi manusia.Sebelum intrumen riset noninvasif yang menakjubkan ditemukan, yang saat ini tersedia untuk mengobservasi area fisiologi tubuh yang paling kecil, teori tentang gangguan mood difokuskan pada pengalaman hidup dan bagaimana individu memilih untuk meresponnya.Apakah individu belajar dan tumbuh dari pengalaman hidup yang negatif dan positif, atau apakah pengalaman tersebut mendorong terjadinya depresi atau mania? Beberapa teori ini memiliki fokus “menyalahkan korban”,
Sedangkan riset saat ini berfokus pada keyakinan bahwa gangguan mood merupakan ketidakseimbangan kimiawi yang bersifat biologis (hormonal, neurologis, atau genetik).Fakta bahwa tubuh manusia merupakan suatu alat luar biasa yang mampu mengatur dan memulihkan diri sendiri, yang dapat diperkuat oleh keinginan individu untuk berubah adalah alasan mengapa kombinasi psikoterapi dan obat-obatan psikotropik lebih efektif untuk membantu individu yang mengalami gangguan mood.
2.4 Faktor Predisposisi a. Faktor Genetik
Faktor genetik mengemukakan, transmisi gangguan kebutuhan mencintai dan dicintai diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi
gangguan kebutuhan mencintai dan dicintai meningkat pada kembar monozigote.
b. Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. Freud mengatakan bahwa kehilangan objek/orang, ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan menyalahkan diri sendiri dan dimunculkan dengan perilaku mania (sebagai suatu mekanisme kompensasi)
c. Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan, misalnya kehilangan orangtua yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.
d. Teori Kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami mania.
e. Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa mania merupakan msalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
f. Model Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa mania dimulai dari kehilangan kendali diri lalu menjadi aktif dan tidak mampu menghadapi masalah. Kemudian individu timbul keyakinan akan ketidakmampuannya mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif.
g. Model Perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya reinforcemant positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
h. Model Biologis
Mengemukakan bahwa dalam keadaan depresi/mania terjadi perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.
2.5 Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan kebutuhan mencintai dan dicintai meliputi faktor biologis, psikologis dan sosial budaya.
Meliputi perubahan fisiologis yang disebakan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma, dan ketidakseimbangan metabolisme.
b. Faktor Psikologis
Meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta, seseorang dan kehilangan harga diri.
c. Faktor Sosial Budaya
Meliputi kehilangan peran, perceraian, kehilangan pekerjaan. Rentang Emosi Emotional Responsive Reaksi kehilangan yang wajar
Supresi Reaksi kehilangan yangmemanjang
Mania atau Depresi
Keterangan:
Rentang emosi seseorang yang normal bergerak secara dinamis tidak merupakan suatu titik yang statis yang tetap. Dinamisasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti organobiologis, psikoedukatif, sosiokultural. Pada klien yang mengalami gangguan perasaan, reaksinya cenderung menetap dan memanjang.Tetapi hal tersebut, juga sangat tergantung pada tipe gangguan kebutuhan mencintai dan dicintainya. Apakah termasuk tipe manik atau depresif,atau kombinasi dari keduanya. Rentang respon emosi bergerak dari emosional responsive sampai mania/depresi dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1. Responsif: Klien lebih terbuka, menyadari perasaannya, dapat berpartisipasi
dengan dunia internal (memahami harapan dirinya) dan dunia eksternal( memahami harapan orang lain)
2. Reaksi kehilangan yang wajar: Klien merasa bersedih, kegiatan sehari-hari klien berhenti (misalnya bekerja, sekolah), pikiran dan perasaan klien lebih berfokus pada diri sendiri tetapi semua hal tersebut berlangsung hanya sementara
3. Supresi : Merupakan tahap dimana koping individu termasuk maladaptive, klien menyangkal perasaannya sendiri, klien berusaha menekan perhatiannya terhadap lingkungan. Apabila fase ini berlangsung terus menerus atau memanjang, maka hakl tersebut dapat mengganggu individu.
4. Depresi: Gangguan kebutuhan mencintai dan dicintai ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, perasaan tidak berharga, merasa kosong, putus harapan, selalu merasa dirinya gagal, sampai ada ide bunuh diri.
Mania: Maniaadalah suatu gangguan kebutuhan mencintai dan dicintai yang ditandai dengan adanya alam perasan yang meningkat, meluas atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang.
2.6 Macam Gangguan kebtuhan mencintai dan dicintai 2.6.1 Depresi
Depresi adalah suatu jenis gangguan kebutuhan mencintai dan dicintai atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedah¬an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
A. Tanda dan Gejala Depresi
1. Kemurungan, kesedihan, kelesuhan, kehilangan gairah hidup dan merasa tidak berdaya, perasaan bersalah atau berdosa dan tidak berguna serta putus asa
2. Sulit klonsentrasi dan daya ingat menurun 3. Nafsu makan dan berat badan menurun
4. Sulit tidur atau tidur berlebihan disertai mimpi-mimpi tidak menyenangkan
5. Agitasi
6. Retardasi (perlambatan gerakan) motorik 7. Hilang perasaan senang, meninggalkan hobi 8. Kreatifitas dan produktifitas menurun 9. Gangguan seksual/libido menurun
10. Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri
B. Ciri-Ciri Klien Yang Rentan Menderita Depresi
a. Mereka sukar untuk merasa bahagia, mudah cemas, gelisah, khawatir, iri, dan tegang
b. Mereka yang kurang percaya diri, rendah diri, mudah mengalah, dan lebih senagn berdamai untuk menghindari konflik/konfrontasi, merasa gagal dalam usaha dan sering mengeluh
c. Pengendalian dorongan dan impuls terlalu kuat, lebih suka menarik diri, sulit mengambil keputusan, enggan bicara/pendiam, pemalu, menghindari keterlibatan dengan orang lain
d. Suka mencela, mengkritik, menyalahkan orang lain, atau menggunakan mekanisme pertahanan penyangkalan.
2.6.2 Mania
Mania adalah gangguan afek yang ditandai dengan kegembiraan yang luar biasa dan disertai dengan hiperaktivites, agitasi serta jalan pikiran dan bicara yang cepat dan kadang-kadang sebagai pikiran yang meloncat loncat (flight of ideas).
Pasien membutuhkan cinta kasih dan perlindungan. Untuk mendapatkan ini pasien berusaha menguasai orang lain agar memenuhi dan memberi kepuasan kepadanya. Karena kebutuhan ini tidak nampak orang tidak melihatnya, bahkan menolak karena sikapnya yang mengganggu orang lain. Penolakan ini menimbulkan kecemasannya bertambah yang mengakibatkan gejala manianya lebih menonjol.
A. Tanda dan Gejala Mania
Pada dasarnya pasien mania sama dengan pasien depresif yang merasa tidak berharga dan tidak berguna. Karena tidak dapat menerima perasaan ini, mereka menyangkalnya dan mengakibatkan timbulnya kecemasan. Pasien memperlihatkan sikap banyak bicara, banyak pikiran dan cepat berpindah topiknya tetapi tidak dapat memusatkan pada satu topik. Meskipun mereka menunjukkan kegembiraan yang berlebihan,
Negative perception to problem
Stressor
Potential self destruction Helplessness depretion
Accumulation of stressor Maladaptive coping
sebenarnya pasien penuh dengan kebencian dan rasa permusuhan terutama terhadap lingkungannya. Ia melontarkan perasaannya secara kasar dalam cetusan cetusan yang pendek dan cepat beralih ke topik yang lain.
Pada pasien depresif tampak menonjol perasaan bersalah dan kebutuhan akan hukuman atas tingkah laku yang buruk, sedangkan pada pasien dengan mania rasa permusuhannya timbul, ia bertindak seolah olah mempunyai kekuasaan yang penuh dan tidak pernah membiarkan rasa bersalah menguasai dirinya. Dari luar pasientampak memiliki kepercayaan diri yang penuh dan membesarkan diri untuk menutupi perasaan tidak berharga, yang pada dasarnya bersifat depresif.Perilaku yang berhubungan dengan mania dan depresi bervariasi. Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikologikal yang tinggi. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi.
Afektif
Sedih, cemas apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, meras tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga.
Kognitif
Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.
Fisik
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepal, pusing, insomnia, nyeri dada, over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan, gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.
Tingkah laku
Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktivitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable, berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.
Keterangan:
Klien yang mengalami depresi biasanya diawali dari persepsinya yang negative terhadap stressor.Klien menganggap masalah sebagai sesuatu yang 100% buruk.Tidak ada hikmah dan kebaikan dibalik semua masalah yang diterimanya. Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya dukungan yang adekuat seperti dari keluarga, sahabat, ibu, tetangga, terutama keyakinannya kepada sang Maha Kuasa. Muncullah fase akumulasi stressor dimana stressor yang lain turut memperburuk keadaan klien. Klien akan merasa tidak berdaya dan akhirnya ada niat untuk mencederai diri dan mengakhiri hidup. Hal ini menjadi pemicu munculnya harga diri rendah yang akan menjadi internal stressor.
2.7Asuhan Keperawatan 2.2.1 Depresi
A. Pengkajian 1. Data demografi
a. Perawat mengkaji identitas klien dan melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang nama perawat, nama klien, panggilan perawatn, panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
b. Usia dan nomor rekam medik
c. Mahasiswa menuliskan sumber data yang didapat 2. Alasan masuk
Tanyakan pada klien atau keluarga:
a. Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang ke rumah sakit? b. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi masalah ini? c. Bagaimana hasilnya?
3. Tinjau kembali riwayat klien untuk adanya stressor pencetus dan data signifikan tentang:
b. Peristiwa hidup yang menimbulkan stress dan kehilangan yang baru dialami
c. Hasil dari alat pengkajian yang terstandardisasi untuk depresi (misal, Beck Depression Inventory, Hamilton Rating Scale of Depression, Geriatric Depression Scale, dan Self-Rating Depression Scale)
d. Episode-episode gangguan mood atau perilaku bunuh diri di masa lalu e. Riwayat pengobatan
f. Penyalahgunaan obat dan alkohol g. Riwayat pendidikan dan pekerjaan
4. Catat ciri-ciri respon fisiologik, kognitif, emosional dan perilaku dari individu dengan gangguan mood
5. Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan lelalitas perilaku bunuh diri klien a. Tujuan klien (misal, agar terlepas dari stress solusi masalah yang sulit) b. Rencana bunuh diri, termasuk apakah klien memiliki rencana tersebut c. Keadaan jiwa klien (misal, adanya gangguan pikiran, tingkat
kegelisahan, keparahan gangguan mood) d. Sistem pendukung yang ada
e. Stressor saat ini yang mempengaruhi klien, termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik), kehilangan yang baru dialami, dan riwayat penyalahgunaan zat.
6. Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan dasar klien atau keluarga tentang gejala, medikasi, dan rekomendasi pengobatan, gangguan mood, tanda-tanda kekambuhan serta tindakan perawatan sendiri.
B. Analisis Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS: klien merasa tidak berguna, merasa kosong DO: kehilangan minat melakukan aktivitas
Merasa tidak berguna
Sedih yang berlebihan
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
DS: klien merasa minder kepada kedua adiknya, sedih yang berlebihan
DO: klien menghindar dan mengurung diri
Sedih yang berlebihan
minder
Mengurung diri, menghindar
Isolasi sosial: menarik diri DS: klien malas mandi dan
mandi jika perlu saja
DO: kuku panjang dan hitam, kulit banyak daki dan kering, rambut berantakan, gigi kuning
Isolasi sosial: menarik diri
Defisit perawatan diri: mandi dan berhias
Defisit perawatan diri: mandi dan berhias
DS: ibu merasa frustasi DO: keluarga tidak peduli pada klien, keluarga membawa klien ke rumah sakit jiwa, dan dirawat untuk ketiga kalinya
Murung
Berdiam diri (tak peduli orang lain: keluarga)
Keluarga frsutasi
Ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan keluarga merawat pasien di rumah
DS: tidak mau makan DO: berat badan turun
Tidak mau makan
Berat badan turun
Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri
Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri
C. WOC
Resiko perilaku kekerasan terhadap diri-sendiri
Defisit Perawatan diri : mandi dan berhias Isolasi sosial : menarik diri
Gangguan alam perasaan: depresi
Ketidakefektifan koping keluarga : ketidakmampuan
keluarga merawat klien di rumah
Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah