• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PROGRAM PENGABDIAN PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN (PENGABDIAN PM-PMP) TAHUN ANGGARAN 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PROGRAM PENGABDIAN PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN (PENGABDIAN PM-PMP) TAHUN ANGGARAN 2012"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA MELALUI PENDAMPINGAN TERPADU BERBASIS KAJI TINDAK PEMBELAJARAN

DI KABUPATEN KLUNGKUNG DAN KARANGASEM

Dr. I Nyoman Suardana, M.Si. (NIDN: Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.

Dr. I Made Kirna, M.Si. (NIDN: Dr. I Wayan Bagia, M.

Dr. Ni Made Ratminingsih, M

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penugasan Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Penerapan Model Pengem

Mutu Pendidikian (PM

LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

LAPORAN PROGRAM PENGABDIAN

PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN

(PENGABDIAN PM-PMP)

TAHUN ANGGARAN 2012

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA MELALUI PENDAMPINGAN TERPADU BERBASIS KAJI TINDAK PEMBELAJARAN

DI KABUPATEN KLUNGKUNG DAN KARANGASEM PROVINSI BALI

Oleh:

Dr. I Nyoman Suardana, M.Si. (NIDN: 0023116603 Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd. (NIDN: 0001125708)

Dr. I Made Kirna, M.Si. (NIDN: 0031126443) Dr. I Wayan Bagia, M.Si. (NIDN: 0031125010) Ni Made Ratminingsih, M.A. (NIDN: 0008096602)

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penugasan Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Penerapan Model Pengem

Mutu Pendidikian (PM-PMP) Bagi Dosen Perguruan Tinggi Tahun 2012 N0:094/SP2H/KPM/Dit.litabmas/IX/2012

Tanggal 11 September 2012

FAKULTAS MIPA

LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

DESEMBER 2012

1

PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA MELALUI PENDAMPINGAN TERPADU BERBASIS KAJI TINDAK PEMBELAJARAN

DI KABUPATEN KLUNGKUNG DAN KARANGASEM

0023116603) . (NIDN: 0001125708)

0008096602)

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penugasan Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Penerapan Model Pengembangan

PMP) Bagi Dosen Perguruan Tinggi Tahun 2012 N0:094/SP2H/KPM/Dit.litabmas/IX/2012

LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

(2)

2 HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul PM-PMP : Peningkatan Kompetensi Guru SMA Melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran Di Kabupaten Klungkung dan Karangasem Provinsi Bali

2. Ketua PM-PMP

a. Nama Lengkap : Dr. I Nyoman Suardana, M. Si. b. Jenis Kelamin : Laki-laki

c. NIDN : 0023116603 d. Jabatan Struktural : -

e. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

f. Fakultas/Jurusan : MIPA/Pendidikan Kimia

g. Perguruan Tinggi : Universitas Pendidikan Ganesha h. Tim PM-PMP

No. NIDN Nama Bidang

Keahliah Fakultas/ Jurusan

Perguruan Tinggi 1 0023116603 Dr. I Nyoman Suardana, M. Si. Pendidikan Kimia

MIPA/Pend. Kimia Undiksha

2 0001125708 Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M. Pd.

Pendidikan Bahasa Indonesia

Bahasa dan Seni/ Pend. Bhs Indonesia Undiksha 3 0031126443 Dr. I Made Kirna, M.Si. Pendidikan Kimia

MIPA/Pend. Kimia Undiksha

4 0031125010 Dr. I Wayan Bagia, M. Si. Ilmu Ekonomi Manajemen Ekonomi/Pend. Ekonomi Undiksha 5 0008096602 Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A. Pendidikan Bahasa Inggris

Bahasa dan Seni/ Pend. Bhs Inggris

Undiksha

3. Jangka Waktu PM-PMP : 3 Bulan 4. Pembiayaan

a. Jumlah biaya dari Dikti : Rp. 82.500.0000-, (Delapan puluh dua juta lima ratus

ribu rupiah)

b. Jumlah biaya dari sumber pembiayaan lain: Rp - Mengetahui,

Dekan Fakultas MIPA Undiksha

Prof. Dr. Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si. NIDN. 0031125821

Singaraja, 14 Desember 2012 Ketua Tim PM-PMP,

Dr. I Nyoman Suardana, M.Si. NIDN. 0023116603 Menyetujui,

Ketua LPM Undiksha

Prof. Dr. Ketut Suma, M.S. NIDN. 0001015913

(3)

3 ABSTRAK

Mutu pendidikan pada jenjang SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem masih rendah. Hal ini tercermin dari hasil capaian ujian nasional yang belum optimal, yaitu beberapa kompetensi siswa < 60. Untuk meningkatan mutu pendidikan ini dilakukan Penerapan Model Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran. Sasaran progam pengabdian PM-PMP ini meliputi guru-guru mata pelajaran SMA yang di-UN-kan, kepala SMA, dan pengawas SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Model pendampingan ini mencakup empat kegiatan pokok, yaitu: (1) diklat pendalaman materi pelajaran, pembelajaran inovatif dan asesmen, lesson study, manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan; (2) lesson study di sekolah sampel; (3) evaluasi keefektivan model; dan (4) FGD tindak lanjut pengembangan mutu pendidikan. Hasil penerapan model ini adalah sebagai berikut. Guru, kepala sekolah, dan pengawas memberi respon positif terhadap pelaksanan diklat dan lesson study. Guru-guru dapat melaksanakan lesson study dengan baik. Guru-guru sudah mulai terbuka dengan pembelajaran yang dilakukan. Mereka sangat merasakan manfaat lesson study bahwa pembelajaran yang dirancang dan direfleksikan secara bersama-sama akan lebih baik dibandingkan apabila dilakukan sendiri. Efektivitas pembelajaran, juga ditunjukkan oleh respon positif dari sebagian besar siswa. Melalui lesson study, kepala sekolah dan pengawas dapat mengadakan supervisi langsung terhadap dokumen perangkat pembelajaran dan pembelajaran riil di kelas. Untuk itu, direkomendasikan agar model ini dapat dilanjutkan dan diperluas sasarannya mencakup pendidikan dasar dan menengah.

(4)

4 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami berhasil menyelesaikan laporan program pengabdian PM-PMP ini. Program ini merupakan penerapan Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupeten Klungkung dan Karangasem Provinsi Bali. Model ini terdiri atas tiga kegiatan pokok, yaitu: 1) pendidikan dan latihan (diklat), 2) kaji tindak pembelajaran (lesson study), dan 3) focus group discussion (FGD). Program PM-PMP ini melibatkan guru-guru mata pelajaran SMA yang di-UN-kan, kepala SMA, pengawas, dan kepala dinas pendidikan dan olah raga Kabupaten Klungkung dan Karangasem.

Program pengabdian PM-PMP ini dapat terlaksana berkat dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah mendanai program PM-PMP ini. 2. Dekan FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha yang telah memberikan dukungan

kepada kami untuk selalu berkarya yang terbaik.

3. Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat yang telah memfasilitasi pelaksanaan program pengabdian PM-PMP ini.

4. Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kabupaten Klungkung dan Karangasem yang telah berkenan menugaskan kepala SMA dan pengawas yang ada di bawah naungannya dan sekaligus bersedia sebagai peserta FGD.

5. Kepala SMA pada sekolah sampel di Kabupaten Klungkung dan Karangasem yang telah berkenan menugaskan guru-guru mata pelajaran SMA yang di-UN-kan pada SMA yang dipimpinnya serta sekaligus sebagai peserta diklat dan obesever pada kegiatan lesson study.

6. Guru-guru SMA mata pelajaran yang di-UN-kan yang telah berkenan sebagai peserta diklat dan pelaksana lesson study di sekolahnya masing-masing.

Kami mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan selama kami berinteraksi dengan semua pihak. Kami berharap mudah-mudahan kegiatan PM-PMP ini bermanfaat bagi semua pihak.

Singaraja, 14 Desember 2012 Pelaksana PM-PMP

(5)

5 DAFTAR ISI Hal. HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN ii ABSTRAK iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN viii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Analisis Situasi 1

1.2 Permasalahan Wilayah 9

1.3 Solusi yang Ditawarkan 10

1.4 Target Luaran 15

BAB II PELAKSANAAN PM-PMP 16

2.1 Lokasi PM-PMP 16

2.2 Pihak yang Terlibat dalam Pengabdian PM-PMP 16

2.3 Peran Setiap Pihak yang Terlibat 16

2.4 Tahapan Kegiatan yang Dilaksanakan dalam Pengabdian PM-PMP 17

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN PM-PMP 20

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan 20

3.2 Peserta dan Materi Diklat 23

3.3 Hasil Pendidika dan Latihan (Diklat) 25

3.4 Hasil Lesson Study di Kabupaten Klungkung 28

3.5 Hasil Lesson Study di Kabupaten Karangasem 56

3.6 Hasil Focus Group Discussion (FGD) 80

3.7 Kendala-kendala Pelaksanaan Program Pengabdian PM-PMP 81

BAB IV PENUTUP 83

4.1 Simpulan 83

4.2 Rekomendasi 83

DAFTAR PUSTAKA 84

(6)

6 DAFTAR TABEL

Hal. Tabel 1.1 Profil Kompetensi Rendah Siswa untuk Setiap Mata Pelajaran yang

Di-UN-kan di Kabupaten Klungkung dan Karangasem pada Tahun 2008, 2009, dan 2010

5

Tabel 1.2 Rincian Tahapan Kegiatan dari Model Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem

14

Tabel 3.1 Susunan Acara Diklat PM-PMP Undiksha 2012 20

Tabel 3.2 Lesson Study di Kabupaten Klungkung 22

Tabel 3.3 Lesson Study di Kabupaten Karangasem 22

Tabel 3.4 Peserta Diklat Gelombang I dari Kabupaten Klungkung 23 Tabel 3.5 Peserta Diklat Gelombang I dari Kabupaten Karangasem 24 Tabel 3.6 Peserta Diklat Gelombang II dari Kabupaten Klungkung 24 Tabel 3.7 Peserta Diklat Gelombang II dari Kabupaten Karangasem 25 Tabel 3.8 Respon Guru Di Kabupaten Klungkung Terhadap Pelaksanaan Diklat 26 Tabel 3.9 Respon Guru Di Kabupaten Karangasem Terhadap Pelaksanaan Diklat 27 Tabel 3.10 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia 30 Tabel 3.11 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Bahasa Inggris 33 Tabel 3.12 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika 36 Tabel 3.13 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Fisika 39

Tabel 3.14 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Kimia 43

Tabel 3.15 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Biologi 46 Tabel 3.16 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Ekonomi 49 Tabel 3.17 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Sosiologi 51 Tabel 3.18 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Geografi 54 Tabel 3.19 Respon Guru Terhadap Lesson Study di Kabupaten Klungkung 55 Tabel 3.20 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia 58 Tabel 3.21 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Bahasa Inggris 60 Tabel 3.22 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika 63 Tabel 3.23 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Fisika 65

Tabel 3.24 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Kimia 68

Tabel 3.25 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Biologi 71 Tabel 3.26 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Ekonomi 73 Tabel 3.27 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Sosiologi 76 Tabel 3.28 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Geografi 78 Tabel 3.29 Respon Guru Terhadap Lesson Study di Kabupaten Klungkung 79 Tabel 3.30 Peserta FGD Program PM-PMP Kabupaten Klungkung dan Karangasem 80

(7)

7 DAFTAR GAMBAR

Hal.

Gambar 1.1 Peta Pulau Bali 1

Gambar 1.2 Diagram Alur Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran

(8)

8 DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Contoh Materi Pendidikan dan Latihan (Diklat) Lampiran 2. Angket untuk Guru terhadap Pelaksanaan Diklat Lampiran 3. Instrumen Lesson Study

Lampiran 4. Foto-foto Kegiatan Program Pengabdian PM-PMP Lampiran 5. Draf Artikel Ilmiah

(9)

1.1 Analisis Situasi

Kabupaten Klungkung merupakan k Kabupaten dan Kodya di Bali, terletak batas-batas wilayah sebagai berikut. D

Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kabupaten Gianyar, dan sebelah Selatan Samudra India. Untuk lebih jelasnya batas

dilihat pada Gambar 1.1.

wilayah Kabupaten Klungkung 315 Km². Kabupaten Karangasem

115°31′ BT di provinsi Bali

Karangasem adalah sebagai berikut. Di sebelah U

Lombok, sebelah Barat Kabupaten Klungkung dan Bangli, dan sebelah Selatan Samudra India. Untuk lebih jelasnya batas

dilihat pada Gambar 1.

Besakih. Kabupaten Karangasem Lingkungan dan 552 dusun

Di Kabupaten Klungkung terdapat 11 SMA yang mencakup 5 SMA Negeri dan 6 SMA Swasta. Sementara itu, d

atas 9 SMA Negeri dan 11 SMA Swasta. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah BAB I

PENDAHULUAN

Klungkung merupakan kabupaten yang paling kecil dari 9 (sembilan) Kabupaten dan Kodya di Bali, terletak pada koordinat 8°39′ LS 115°29

sebagai berikut. Di sebelah Utara Kabupaten Bangli, sebelah Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kabupaten Gianyar, dan sebelah Selatan Untuk lebih jelasnya batas-batas wilayah Kabupaten Klungkung dapat 1. Ibu kota Kabupaten Klungkung terletak di Semarapura. Luas ah Kabupaten Klungkung 315 Km².

Kabupaten Karangasem di lain pihak terletak pada koordinat

Bali dengan ibukota Amlapura. Batas-batas wilayah Kabupaten ah sebagai berikut. Di sebelah Utara Laut Bali, sebelah Timur Selat Lombok, sebelah Barat Kabupaten Klungkung dan Bangli, dan sebelah Selatan Samudra India. Untuk lebih jelasnya batas-batas wilayah Kabupaten Karangasem dapat dilihat pada Gambar 1.1. Di kabupaten ini terletak pura terbesar di Bali, yaitu

. Kabupaten Karangasem mempunyai 8 kecamatan, 3 kelurahan dusun, 185 Desa Adat dan 605 Banjar Adat.

Gambar 1.1 Peta Pulau Bali

Di Kabupaten Klungkung terdapat 11 SMA yang mencakup 5 SMA Negeri dan Sementara itu, di Kabupaten Karangasem terdapat 20 SMA yang terdiri atas 9 SMA Negeri dan 11 SMA Swasta. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah 9 abupaten yang paling kecil dari 9 (sembilan)

LS 115°29′ BT dengan tara Kabupaten Bangli, sebelah Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kabupaten Gianyar, dan sebelah Selatan batas wilayah Kabupaten Klungkung dapat di Semarapura. Luas

pada koordinat 8°22′ LS batas wilayah Kabupaten tara Laut Bali, sebelah Timur Selat Lombok, sebelah Barat Kabupaten Klungkung dan Bangli, dan sebelah Selatan batas wilayah Kabupaten Karangasem dapat terbesar di Bali, yaitu Pura kelurahan, 75 desa, 52

Di Kabupaten Klungkung terdapat 11 SMA yang mencakup 5 SMA Negeri dan abupaten Karangasem terdapat 20 SMA yang terdiri atas 9 SMA Negeri dan 11 SMA Swasta. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah

Kabupaten Karangasem

Kabupaten Klungkung

(10)

10 Kabupaten Klungkung dan Karangasem melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hasil wawancara dengan Kabid Dikmen SMA/SMK/MA Kabupaten Klungkung Bapak I Ketut Suadnyana (2011) dinyatakan bahwa peningkatan mutu pendidikan dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu: workshop Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pengengembangan kinerja guru melalui PKG, workshop mata pelajaran melalui MGMP, dan workshop evaluasi diri sekolah (EDS) yang diperuntuk bagi kepala-kepala sekolah. Sementara itu, program-program peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan yang dicanangkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karangasem meliputi: pelaksanaan setifikasi pendidik, penetapan angka kredit jabatan fungsional gutu dan tenaga teknis, pemilihan guru dan siswa berprestasi, pemilihan calon kepala sekolah, monitoring dan pengawasan (Renstra Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karangasem tahun 2010-2015).

Walaupun berbagai program dan upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah diuraiakan di atas, mutu pendidikan pada jenjang SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem masih rendah. Hal ini tercermin dari tingkat ketidaklulusan siswa dan hasil capaian ujian nasional yang masih belum optimal. Hasil penelusuran Kirna et al. (2011) menemukan bahwa hampir setiap tahun ajaran terdapat cukup banyak siswa yang tidak lulus karena capaiannya masih di bawah nilai standar kelulusan. Hasil capaian siswa SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem dalam mengikuti UN dari tahun ajaran 2007/2008 sampai dengan 2009/2010 ditemukan bahwa pada tahun ajaran 2007/2008 di Kabupaten Klungkung, siswa yang tidak lulus UN diantaranya: dari SMAN 2 Semarapura sebanyak 2 (1,77%) dari 113 peserta, dari SMAN 1 Banjarangkan sebanyak 6 (8,33) dari 72 orang peserta UN, dan dari SMA PGRI Klungkung yang tidak lulus UN sebanyak 4 (4,35%) dari 92 orang peserta UN. Seluruh peserta UN yang tidak lulus dari Kabupaten Klungkung tersebut berasal dari kelompok/jurusan IPS.

Di Kabupaten Karangasem, siswa yang tidak lulus UN tahun ajaran 2007/2008 adalah dari SMAN 2 Amlapura sebanyak 1 (1,22%) dari 82 peserta (IPS), dari SMA 1 Amlapura sebanyak 5 (5, 43%) dari 92 peserta (IPS), dari SMA PGRI 1 Amlapura sebanyak 23 (10,85%) dari 212 peserta (IPS), dari SMAN 1 Manggis sebanyak 1 (2,70%) dari 37 peserta (IPA), dari SMAN 1 Sidemen 4 (5,48%) dari 73 peserta (IPA) dan dari kelompok/jurusan IPS sebanyak 13 (34,21%) dari 38 peserta.

(11)

11 Tingkat kelulusan UN tahun ajaran 2007/2008 tersebut, memang jauh berubah dibandingkan dengan UN tahun ajaran 2008/2009, yang mana hanya ada 1 orang siswa yang tidak lulus UN dari seluruh peserta UN di Kabupaten Klungkung dan Karangasem, yaitu dari SMAN 2 Semarapura (kelompok IPS). Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem untuk pelaksanaan UN tahun ajaran 2008/2009 memang mencapai tingkat kelulusan di atas tingkat kelulusan kabupaten/kota lain di Provinsi Bali.

Pada tahun ajaran 2009/2010, tingkat ketidaklulusan peserta UN tampaknya meningkat lagi dibandingkan dengan tahun 2008/2009. Dari seluruh siswa yang ikut UN di Kabupaten Klungkung dan Karangasem ada beberapa peserta yang tidak lulus, diantaranya: dari SMA Parisada Amlapura 2 (5,71%) dari 35 orang peserta, dari SMAN 1 Nusa Penida sebanyak 2 (2,63%) dari 76 peserta, dari SMA Pariwisata Saraswati Klungkung sebanyak 10 (12,35%) dari 81 peserta. Semua peserta yang tidak lulus tersebut berasal dari kelompok IPS.

Selain angka ketidaklulusan siswa yang hampir setiap tahunnya tetap ada dan cenderung fluktuatif, hasil analisis data terhadap hasil UN tahun ajaran 2007/2008, 2008/2009, dan 2009/2010 juga menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok terkait dengan tingkat kelulusan siswa antara sekolah negeri dan swasta, antara sekolah yang ada di kota dan sekolah yang ada di luar kota. Di samping itu, penguasaan kompetensi dasar mata pelajaran antara mata pelajaran juga menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Ada mata pelajaran yang nilai UN-nya sangat tinggi, namun nilai mata pelajaran yang lain sangat rendah. Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan kompetensi siswa terhadap mata pelajaran yang di-UN- kan masih kurang maksimal. Artinya, masih ada mata pelajaran yang di-di-UN-kan yang secara substansi kurang dikuasi oleh siswa.

Dari hasil analisis terhadap perolehan rata-rata nilai ujian nasional (UN) baik pada kelompok IPA maupun IPS tampak bahwa sekolah yang berada di pusat kota Kabupaten dengan status sekolah negeri, seperti SMAN 1 dan SMAN 2 Semarapura di Kabupaten Klungkung, SMAN 1 dan SMAN 2 Amlapura di Karangasem, rata-rata nilai UN-nya lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah lain yang berada di luar pusat kota kabupaten, meskipun statusnya sama-sama sekolah negeri. Jika dibandingkan berdasarkan status sekolah, meskipun keberadaannya sama-sama di pusat kota kabupaten, rata-rata nilai yang diperoleh oleh sekolah yang berstatus negeri secara umum lebih tinggi dari sekolah yang berstatus swasta. Sebagai contoh: SMA 1

(12)

12 Semarapura yang berada di Kecamatan Klungkung (kota) total nilai rata-rata dari 6 mata pelajaran yang di-UN-kan pada tahun pelajaran 2009/2010 pada kelompok IPA sebesar 54,78 ranking 7) dari 130 SMA yang ikut UN di Provinsi Bali. Capaian ini jauh berbeda dengan capaian dari SMAN pada kecamatan lain di Kabupaten Klungkung, seperti: SMAN 1 Dawan sebesar 53,09 (ranking 25), SMAN 1 Nusa Penida sebesar 51,81 (ranking 53), dan SMAN 1 Banjarangkan sebesar 50,31 (ranking 86). Selajutnya, jika dibandingkan antara sekolah negeri dan swasta pada lokasi/kota kecamatan yang sama, secara umum SMA Negeri capaian nilainya lebih tinggi. Sebagai contoh, SMA Wisata Dharma Nusa Penida hanya memperoleh total nilai rata-rata sebesar 46,81 (ranking 123). Capaian ini jauh lebih rendah dibandingkan SMAN 1 Nusa Penida.

Berdasarkan analisis terhadap hasil capaian UN sebagaimana yang diuraikan di atas dan kajian empirik di lapangan dapat dikemukakan bahwa mutu pendidikan di Kabupaten Klungkung dan Karangasem ternyata belum merata. Dengan kata lain, masih terdapat perbedaan yang sangat mencolok berkaitan dengan mutu pendidikan antara SMA negeri dan SMA swasta, antara sekolah yang berada di pusat kota kabupaten dengan sekolah yang berada di luar kota kabupaten.

Lebih lanjut, hasil analisis terhadap kompetensi siswa SMA melaui penelitian Pemetaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan (PPMP) di Kabupaten Klungkung dan Karangasem pada mata pelajaran yang di-UN-kan menunjukkan bahwa penguasaan pembelajaran tergolong baik (Kirna et al., 2011). Hanya beberapa kompetensi yang masih belum mencapai KKM = 60. Secara ringkas profil kompetensi rendah siswa untuk setiap mata pelajaran yang di-UN-kan di tingkat kabupaten dipaparkan dalam Tabel 1.1. Pada Tabel 1.1, tahun ajaran 2007/2008; 2008/2009; dan 2009/2010 ditulis masing-masing dengan 2008; 2009; dan 2010.

Secara umum, jenis kompetensi yang belum mencapai KKM = 60 untuk semua mata pelajaran yang di-UN-kan, di tingkat kabupaten adalah berbeda-beda dari tahun ajaran 2007/2008; 2008/2009; dan 2009/2010. Hanya sedikit sekali kompetensi yang sama yang belum mencapai KKM = 60 muncul pada tahun yang berbeda. Kisi-kisi soal yang diujikan sedikit berbeda dari tahun ajaran 2007/2008 s/d 2009/2010. Hal ini terlihat jelas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Ini mungkin menjadi salah satu penyebab penguasaan kompetensi pada mata pelajaran-mata pelajaran tersebut relatif kurang baik dibandingkan dengan mata pelajaran kelompok rumpun matematika dan IPA.

(13)

13 Tabel 1.1 Profil Kompetensi Rendah Siswa untuk Setiap Mata pelajaran yang Di-UN-kan

di Kabupaten Klungkung dan Karangasem pada Tahun 2008, 2009, dan 2010

No Mata Pelajaran Tahun

Kompetensi yang Belum Mencapai KKM = 60 Kabupaten Klungkung Kabupaten Karangasem Persentase (%) Kisaran Kompetensi (%) Persentase (%) Kisaran Kompetensi (%) 1 Bahasa Indonesia IPA 2008 20 11,00-58,90 20 21,50-59,73 2009 20 11,55-58,56 18 10,20-58,14 2010 28 1,94-58 32 6,57-57,14 2 Bahasa Indonesia IPS 2008 18 37,04-47,80 34 19,20-58,83 2009 26 27,96-59,44 28 4,59-57,40 2010 30 7,11-57,33 52 5,53-59,84 3 Bahasa Inggris IPA 2008 10 15,76-51,31 20 19,53-58,87 2009 6 53,40-59,80 8 44,75-57,54 2010 18 0,78-47,83 22 1,14-58,86 4 Bahasa Inggris IPS 2008 8 14,46-40,22 36 8,16-59,37 2009 6 41,11-49,26 10 50,22-57,54 2010 30 2,23-54,02 20 0,00-50,52 5 Matematika IPA 2008 2,5 55,76 10 43,34-51,53 2009 2,5 58,97 0 - 2010 7,5 2,37-45,35 5 36,96; 58,57 6 Matematika IPS 2008 2,5 29,81 5 10,94; 51,75 2009 2,5 57,78 5 57,49; 59,91 2010 10 25,91-49,33 10 20,29-54,49 7 Fisika 2008 25 4,98-58,64 27,5 18,09-52,22 2009 15 4,75-57,53 17,5 27,09-57,08 2010 7,5 0,39-32,17 10 0,00-45,14 8 Kimia 2008 2,5 31,94 2,5 22,53 2009 2,5 52,75 5 49,92; 55,56 2010 17,5 2,33-47,54 10 10,00-45,14 9 Biologi 2008 5 34,82; 40,6 10 42,32-59,83 2009 17,5 8,66-53,81 10 6,24-46,73 2010 15 0,78-52,97 10 17,72-50,72 10 Ekonomi 2008 12,5 44,44-48,50 10 33,99-55,34 2009 10 25,19-49,44 15 24,42-58,36 2010 47,5 0,00-59,56 27,5 0,20-51,23 11 Sosiologi 2008 18 2,29-52,38 26 2,42-55,07 2009 24 4,26-52,04 20 9,26-59,05 2010 46 0,44-55,95 48 0,82-59,34 12 Geografi 2008 36 2,47-55,20 42 10,40-59,19 2009 22 18,89-58,33 20 18,98-54,59 2010 36 0,00-56,89 48 0,21-56,24

(14)

14 Baik di Kabupaten Klungkung maupun Karangasem memperlihatkan kecenderungan persentase kompetensi yang belum mencapai KKM = 60 adalah identik, termasuk kisaran harga KKM-nya. Sebagian besar mata pelajaran yang dicantumkan pada Tabel 1 menunjukkan karakteristik yang mirip. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi siswa terhadap mata pelajaran yang di-UN-kan selama periode tiga tahun di tingkat kabupaten, baik Klungkung maupun Karangasem adalah mirip. Pencermatan terhadap jenis kompetensi yang belum mencapai KKM = 60 untuk masing-masing mata pelajaran juga memperlihatkan kemiripan di Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Hanya mata pelajaran Matematika kelompok IPA, Biologi, dan Sosiologi yang menunjukkan perbedaan yang cukup berarti, sementara mata pelajaran yang lain adalah cenderung sama. Beberapa mata pelajaran hanya berbeda karena adanya perbedaan jumlah kompetensi yang belum mencapai KKM = 60. Baik di Kabupaten Klungkung maupun Karangasem terdapat kecenderungan yang sama bahwa pada kelompok IPA, penguasaan kompetensi sudah tergolong sangat baik, namun pada kelompok IPS, penguasaan kompetensi relatif kurang baik dibandingkan dengan kelompok IPA. Mata pelajaran bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) juga lebih banyak memiliki kompetensi yang belum mencapai KKM = 60. Penguasaan kompetensi siswa sepertinya sangat banyak dikontribusi oleh karakteristik mata pelajaran. Pelajaran kelompok IPS dan bahasa secara epistemologi termasuk pengetahuan yang berada pada jenjang kompleksitas yang lebih besar dari kelompok IPA. Walaupun demikian, realitasnya, siswa-siswa yang dijuruskan pada bidang IPS justru yang memiliki kemampuan akademik yang relatif kurang dibandingkan dengan jurusan IPA.

Kemiripan penguasaan kompetensi dasar mata pelajaran, baik lintas kabupaten maupun sekolah tidak mudah dijelaskan. Kemiripan ini mungkin cermin dari pengelolaan sekolah maupun pelaksanaan proses pembelajaran yang relatif sama dari sekolah yang ada di dua kabupaten ini. Kemiripan ini juga mengindikasikan bahwa profil sekolah sudah relatif sama, baik dilihat dari sarana-prasarana, sumber daya manusia, dan juga pengelolaan seperti sudah disebutkan di atas.

Selain kemiripan penguasaan kompetensi siswa, permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem relatif sama. Hal ini sesuai dengan hasil Focus Group Discussion tentang Analisis Dokumen Kurikulum (Silabus dan RPP) sekolah sampel di Kabupaten Klungkung (SMAN 1 Semarapura,

(15)

15 SMAN 1 Dawan, SMAN 1 Nusa Penida) dan di Kabupaten Karangasem (SMAN 1 Amlapura, SMAN 1 Sidemen, dan SMAN 1 Kubu), bahwa faktor penyebab belum tercapainya tingkat penguasaan kompetensi siswa (KKM = 60) pada masing-masing mata pelajaran SMA yang di-UN-kan di Kabupaten Klungkung dan Karangasem adalah serupa (Kirna et al, 2011). Adapun faktor penyebabnya adalah sebagai berikut.

1) Permasalahan Standar Isi

• Silabus yang dibuat belum mencerminkan karakteristik sekolah karena sebagian besar silabus hanya mengadopsi contoh dari BNSP sehingga urutan dan redaksi kalimatnya banyak yang sama.

• Indikator dan kedalaman materi belum dikaji berdasarkan analisis materi yang cermat.

• Sebagian mata pelajaran tidak didukung RPP pada semester berjalan karena kurang optimalnya supervisi.

• Indikator, terutama untuk kelas X dan XI, kurang mengacu pada kisi-kisi soal 2) Permasalahan Standar Proses

• RPP belum terimplementasi secara optimal dalam pembelajaran karena tidak optimalnya supervisi.

• Pembelajaran masih banyak menggunakan informasi atau berpusat pada guru. • Pembelajaran belum banyak yang kontekstual dan mengembangkan kemampuan

berpikir kritis/bernalar.

• Pembelajaran belum banyak berangkat dari tugas-tugas secara kooperatif yang sesuai dengan karakteristik materi subjek.

• Penggunaan media ICT maupun non ICT masih kurang.

• Pembelajaran belum didukung dengan buku ajar yang direkomendasikan kemendiknas, sebagian besar siswa belajar hanya menggunakan LKS bukan buatan guru.

• Sebagian besar praktikum tidak terlaksana.

• Supervisi hanya pada pemeriksaan dokumen tanpa tindak lanjut yang jelas dan terkesan atasan dan bawahan.

• Pembelajaran kurang menggunakan media alami.

• Kegiatan MGMP belum intensif dalam meningkatkan kinerja guru. 3) Permasalahan Standar Kelulusan Siswa

(16)

16 • Kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan bernalar masih rendah.

• Motivasi belajar sebagian siswa masih kurang.

• Kemampuan dalam mengeksplorasi informasi siswa sangat kurang. • Sebagian besar siswa masih rendah minat bacanya.

4) Permasalahan Standar Pendidik dan Kependidikan

• Penguasaan guru terhadap materi tertentu, konsep dan keterampilan masih perlu ditingkatkan.

• Kemampuan guru dalam melakukan analisis materi masih perlu dtingkatkan dalam mengembangkan RPP.

• Sebagian besar guru belum memiliki pemahaman yang baik tentang permen diknas No. 41tahun 2007 tentang standar proses.

• Kemampuan guru dalam mengembangkan LKS dan media masih kurang. • Keterampilan dalam mengelola pembelajaran berbasis teknologi masih kurang. • Hanya sedikit guru yang terlibat cukup intent dalam kegiatan pelatihan.

• Kemampuan supervisor dalam mensupervisi pelaksanaan pembelajaran masih perlu ditingkatkan

5) Permasalahan Standar Sarana/prasaran

• Ketersediaan sarana/prasarana laboratorium kurang, baik jenis maupun jumlahnya.

• Ketersediaan buku ajar, terutama bahasa dan sastra, di perpustakaan masih kurang.

• Ketersediaan buku teks yang direkomendasikan oleh kemendiknas (BSE) sangat terbatas.

• Ketersediaan media ICT dan non ICT masih kurang.

• Kondisi sebagian media non ICT yang tersedia kurang baik.

• Belum lengkapnya jenis laboratorium sesuai dengan jenis mata pelajaran. 6) Permasalahan Standar Pengelolaan

• Belum adanya/optimalnya mekanisme dan prosedur operasional standar dalam mendorong pengelolaan sekolah menuju kinerja yang maksimal.

Belum adanya mekanisme reward and punishment yang jelas dan tegas terkait dengan kinerja guru.

(17)

17 7) Permasalahan Standar Penilaian

Penilaian masih dominan pada paper and pencil test, walaupun ada tuntutan penilaian afektif dan psikomotorik.

• Penilaian otentik belum berjalan dengan baik.

• Penilaian baru mencakup pada C1 dan C2, dan beberapa C3. Penilaian masih kurang mengukur kemampuan berpikir kritis.

• Tidak semua tugas ada tindak lanjut berupa balikan, dan balikan hanya berupa nilai dari tugas.

1.2 Permasalahan Wilayah

Berdasarkan paparan dalam analisis situasi di atas, permasalahan yang dihadapi oleh Kabupaten Klungkung dan Karangasem dalam meingkatkan mutu pendidikan cukup luas. Untuk memecahkan semua permasalahan yang diungkapkan di atas secara bersamaan merupakan tugas yang berat. Oleh karena itu dilakukan pendalaman dan direduksi lebih lanjut menjadi permasalahan utama dan selanjutnya menjadi fokus pemecahan masalah untuk mengoptimalisasi mutu pendidikan di Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Permasalahan utama tersebut adalah sebagai berikut.

1) Silabus dan RPP yang dikembangkan belum mencerminkan karakteristik sekolah dan didasarkan analisis materi yang cermat.

2) Kurangnya kemampuan guru dalam mengembangkan LKS dan media pembelajaran yang memfasilitasi pembalajaran berpusat pada siswa, serta pembelajaran inovatif yang memfasilitasi siswa berpikir tingkat tinggi.

3) Pembelajaran lebih dominan berpusat pada guru, kurang kontekstual, kurang memanfaatkan teknologi.

4) Evaluasi pembelajaran lebih dominan pada aspek kognitif tingkat rendah dan belum signifikan mengarah pada penilaian otentik.

5) Penguasaan guru terhadap materi subjek tertentu masih perlu ditingkatkan.

6) Mekanisme pengembangan profesi dalam wadah MGMP dan pengawasan/supervisi belum optimal.

7) Belum adanya/optimalnya tata kelola dan prosedur operasional prosedur (POS) terkait dengan supervisi dan kinerja guru. Supervisi baru menyentuh aspek administratif.

(18)

18 1.3 Solusi yang Ditawarkan

Berdasarkan permasalahan utama yang diuraikan di atas, model pengembangan mutu pendidikan yang diharapkan dapat mengatasi masalah di atas adalah “Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem.” Model ini difokuskan pada pendampingan, yaitu suatu kolaboratif dosen (Tim PM-PMP) dengan pihak sekolah (guru dan kepala sekolah) dan pengawas untuk bersama-sama mencapai tujuan. Kata pendampingan memberi makna bahwa peran dosen adalah sebagai mitra kolegial. Walaupun demikian, model yang diajukan ini tidak bisa mengabaikan kegiatan-kegiatan yang sifatnya informatif dan pelatihan keterampilan dasar sebelum dilakukan pendampingan.

Peningkatan kompetensi guru dalam konteks model ini dimaksudkan sebagai semua usaha untuk meningkatkan pengetahuan guru terhadap materi subjek dan keterampilan dalam mengelola pembelajaran. Terpadu yang dimaksudkan di sini adalah peningkatan kompetensi guru dilakukan mencakup beberapa aspek yang berkontribusi terhadap kinerja guru, meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pengelolaan, serta melibatkan beberapa komponen, seperti guru, kepala sekolah, pengawas (supervisor), dan dinas prndidikan kabupaten. Semua aspek dan komponen tersebut diintegrasikan dan diarahkan untuk peningkatan kompetensi guru.

Program-program yang dilaksanakan dalam Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem adalah sebagai berikut.

(1) Peningkatan kompetensi guru SMA yang mencakup kompetensi profesional (materi pelajaran) dan kompetensi pedagogi (pembelajaran dan asesmen).

(2) Peningkatan kompetensi kepala sekolah dan pengawas SMA yang mencakup kompetensi pedagogi, manajemen sekolah dan supervisi pendidikan

(3) Peningkatan kualitas perangkat pembelajaran yang meliputi Silabus dan RPP yang digunakan guru.

Penerapan Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem dilakukan dengan metode sebagai berikut.

(19)

19 1) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)

Pendidikan dan pelatihan dilakukan terhadap materi subjek, model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran (lesson study), manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan. Peserta Diklat terdiri atas guru-guru SMA mata pelajaran yang di-UN-kan, kepala sekolah dan pengawas SMA dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Di Kabupaten Klungkung, guru SMA yang dilibatkan adalah guru guru dari SMAN 1 Semarapura, SMAN 1 Dawan, dan SMAN 1 Nusa Penida. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem, guru SMA yang dilibatkan adalah guru-guru dari SMAN 1 Amlapura, SMAN 1 Sidemen, dan SMAN 1 Kubu.

Diklat peningkatan kompetensi guru dilakukan dengan memberikan pendalaman meteri tentang materi subjek, model-model pembelajaran dan asesmen serta kaji tindak pembelajaran (lesson study). Sementara itu, diklat untuk kepala sekolah dan pengawas dilakukan dengan memberikan pengetahuan tentang model-model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran, manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan.

Nara sumber diklat terdiri atas: (1) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali menyampaikan materi tentang kebijakan peningkatan mutu pendidikan, (2) Tim pelaksana pengabdian PM-PMP memberikan materi sesuai dengan mata pelajaran yang di-UN-kan, (3) pakar bidang pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran, manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan.

2) Kaji tindak pembelajaran (lesson study)

Implementasi terhadap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama diklat, ditindaklanjuti dengan melaksanakan kaji tindak pembelajaran. Kaji tindak pembelajaran merupakan proses bersiklus, meliputi: tahap perencanaan plan), pelaksanaan tindakan (do), dan refleksi (see) (Saito, et al., dalam Santyasa, 2009).

Tahap perencanaan dilakukan melalui kegiatan diskusi perangkat pembelajaran pada saat diklat dan disempurnakan di sekolah oleh tim lesson study. Pada tahap tindakan, masing-masing guru model menerapkan perangkat pembelajaran (yang telah rancang bersama tim lesson study) di kelas sesuai dengan jadwal mata pelajaran di sekolah masing-masing. Pelaksanaan pembelajaran ini diobservasi oleh guru observer, pengawas, dan kepala sekolah. Observasi dilakukan untuk mengatahui efektivitas dari pembelajaran yang dilakukan guru model. Pengamatan lebih diarahkan pada aktivitas belajar siswa sebagai refleksi dari pembelajaran yang dilakukan oleh guru model.

(20)

Hasil-20 hasil observasi ini didiskusikan pada tahap refleksi untuk melakukan perbaikan pembelajaran berikutnya. Kegiatan ini dipantau oleh tim pengabdian PM-PMP.

3) Evaluasi keefektivan model

Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem dievaluasi keefektivannya melalui observasi pada pelaksanaan diklat dan kaji tindak pembelajaran (lesson study).

Evaluasi Keefektivan Diklat

Keefektivan diklat diamati dari antusisme guru, kepala sekolah, dan pengawas yang hadir dalam mengikuti diklat. Keantusiasan peserta peserta (guru, kepala sekolah, dan pengawas) menunjukkan bahwa materi yang sajikan dalam pelatihan dapat dirasakan manfaatkan oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas. Oleh karena itu, antusiasme peserta (guru, kepala sekolah, dan pengawas) dapat dipandang sebagai keberhasilan dari pelaksanaan diklat. Di samping itu, keefektivan diklat dianalisis dari respon guru-guru terhadap diklat yang dijaring dengan angket.

Evaluasi Kefektivan Lesson Study

Keefektivan lesson study dianalisis dari hasil monitoring pelaksanaan lesson study oleh tim pengabdian PM-PMP, observasi pelaksansaan pembelajaran oleh guru observer, kepala sekolah, pengawas, dan respon siswa dan guru terhadap pembelajaran, serta hasil refleksi lesson study.

4) Focus Group Discussion Tindak Lanjut Pengembangan Mutu Pendidikan

Bertolak dari hasil evaluasi keefektivan Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA Melalui Pendampigan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Klungkung dan Karangasem, kepala sekolah, dan tim PM-PMP. Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan kebijakan tindak lanjut pengembangan mutu pendidikan yang berupa model peningkatan kompetensi guru dan supervisi pendidikan yang dapat diterapkan di semua SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Di samping itu, FGD juga untuk merumuskan pola kerjasama antara Undiksha dan dinas pendidikan dan olah raga kabupaten serta dengan pihak sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.

(21)

21 Sebagaimana suatu model perbaikan, pemecahan masalah dalam peningkatan kompetensi guru menggunakan pola pikir penelitian tindakan (Action Research), sehingga diperlukan satu kegiatan yang mewadahi evaluasi terhadap pelaksanaan dan efektivitas model pada akhir program. Hasil evaluasi keefektivan model digunakan sebagai dasar untuk merumuskan kebijakan tindak lanjut pengembangan mutu pendidikan yang dilakukan melalui focus group discussion (FGD). Secara diagram, alur kegiatan dalam model pemecahan masalah diajukan ditunjukkan pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Diagram Alur Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA Melalui Pendamping Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran

Model pemecahan masalah yang diajukan mencakup kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di tingkat kabupaten dan sekolah. Kegiatan pada tingkat Kabupaten, maupun sekolah, baik di Kabupaten Klungkung maupun Karangasem adalah sama. Kegiatan di tingkat kabupaten terdiri atas Diklat dan FGD. Diklat melibatkan guru, pengawas, dan kepala sekolah, sedangkan FGD melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga di Kabupaten Klungkung dan Karangasem, kepala sekolah, dan tim PM-PMP. Kegiatan pada diklat tingkat kabupaten terkait dengan peningkatan wawasan, pemahaman dan kemampuan guru tentang materi subjek, model pembelajaran dan asesmen, serta kaji tindak pembelajaran (lesson study). Di samping itu, kegiatan diklat di kabupaten terkait dengan peningkatan wawasan, pemahaman dan kemampuan kepala sekolah dan pengawas tentang model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak

Tingkat Kabupaten Tingkat Sekolah Diklat Kepala Sekolah Evaluasi dan FGD Guru Supervisor Pendampingan Terpadu Pengembangan dan implementasi model peningkatan kompetensi guru dan supervisi pendidikan Plan Do Reflect

(22)

22 pembelajaran, manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan. Berbekal wawasan dan kemampuan yang diperoleh pada kegiatan di tingkat kabupaten, selanjutnya dilakukan pendampingan peningkatan kompetensi guru melalui kaji tindak pembelajaran di sekolah. Uraian kegiatan secara lebih rinci setiap komponen model yang dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru menurut model pemecahaan yang diajukan ini adalah seperti disajikan pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Rincian Tahapan Kegiatan dari Model Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem

No Kegiatan Program Tujuan Peserta 1 Diklat Pendalaman materi

subjek, model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran

• Meningkatkan penguasaan guru terhadap materi subjek

• Meningkatkan kemampuan guru tentang pembelajaran inovatif

• Meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan asesmen otentik • Meningkatkan pemahaman guru tentang

kaji tindak pembelajaran

Guru

Pendalaman materi tentang model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan

• Meningkatkan kemampuan kepala sekolah dan pengawas tentang asesmen otentik

• Meningkatkan pemahaman guru tentang kaji tindak pembelajaran

• Meningkatkan penguasaan kepala sekolah dan pengawas terhadap manajemen sekolah

• Meningkatkan kemampuan kepala sekolah dan pengawas dalam supervisi pendidikan

Kepala sekolah, pengawas

2 Kaji tindak pembelajaran (lesson study) 2.1 Perencanaan/ plan Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Perangkat Pembelajaran

• Meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan RPP mengacu pada standar proses (Permen Diknas No. 41 tahun 2007)

• Meningkatkan kemampuan guru dalam mengembang-kan, LKS, media pembela-jaran, dan asesmen otentik

Dosen, guru, kepala sekolah, pengawas 2.2 Pelaksanaan Tindakan/do Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran di Kelas.

• Meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas Dosen, guru, kepala sekolah, pengawas 2.3 Observasi, evaluasi, dan refleksi/ reflect Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran di Kelas.

• Meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas Dosen, guru, kepala sekolah, pengawas 3 Evaluasi Evaluasi Efektivitas

Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melaui Pendampingan Terpadu Berbasis

• Mengetahui Efektivitas Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melaui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran

Dosen, Kepala sekolah, dan Pengawas

(23)

23 Kaji Tindak Pembelajaran 4 Focus Group Discussion Kebijakan pengembangan mutu pendidikan

• Merumuskan kebijakan tindak lanjut pengembangan mutu pendidikan di kabupaten Dosen, Kepala sekolah, dan dinas Kabupaten 1.4 Target Luaran

Target luaran penerapan Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem adalah sebagai berikut.

1) Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran yang telah Terverifikasi.

2) Bukti peningkatan kompetensi guru SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem sebagai akibat dari implementasi model peningkatan kompetensi guru SMA melalui pendampingan terpadu berbasis kaji tindak pembelajaran.

(24)

24 BAB II

PELAKSANAAN PM-PMP

2.1 Lokasi PM-PMP

Kegiatan pengabdian PM-PMP berlokasi di Kabupeten Klungkung dan Kabupaten Karangasem Provinsi Bali. Jarak Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dengan Kabupaten Klungkung sekitar 90 km, sedangkan dengan Kabupaten Karangasem sekitar 95 km. Jumlah SMA yang dilibatkan dalam kegiatan PM-PMP di Kabupaten Klungkung dan Karangasem masing-masing tiga SMA. SMA yang dilibatkan di Kabupaten Klungkung adalah SMAN 1 Semarapura, SMAN 1 Dawan, dan SMAN 1 Nusa Penida, sedangkan di Kabupaten Karangasem adalah SMAN 1 Amlapura, SMAN 1 Kubu, dan SMAN 1 Sidemen.

2.2 Pihak yang Terlibat dalam Pengabdian PM-PMP

Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pengabdian PM-PMP di Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem masing-masing 27 guru mata pelajaran SMA yang di-UN-kan, tiga kepala SMA, tiga pengawas SMA, satu orang Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga, dan lima dosen tim PM-PMP. Dengan demikian, jumlah total pihak yang terlibat dalam kegiatan pengabdian PM-PMP di masing-masing Kabupaten adalah 39 orang.

2.3 Peran setiap pihak yang terlibat

Guru berperan sebagai pelaksana lesson study di sekolah yang merupakan salah satu program pengabdian PM-PMP karena guru merupakan subjek utama yang akan ditingkatkan kompetensinya. Peningkatan kompetensi guru sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan kompetensi guru bermuara pada peningkatan hasil belajar siswa. Guru-guru berperan dalam merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran dalam pelaksanaan lesson study (kaji tindak pembelajaran).

Kepala Sekolah berperan dalam melakukan supervisi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Melalui pendampingan terpadu berbasis kaji tindak pembelajaran, kepala sekolah secara langsung dapat melaksanakan supervisi terhadap pelaksanaan pembelajaran riil di kelas. Dengan demikian, supervisi oleh kepala sekolah tidak hanya menyangkut supervisi dokumen perangkat pembelajaran,

(25)

25 tetapi juga supervisi terhadap implementasi perangkat pembelajaran riil di kelas. Kehadiran kepala sekolah dalam pembelajaran memberikan motivasi bagi guru-guru dalam melaksanakani pembelajaran. Pada kegiatan PM-PMP ini, kepala sekolah mendapatkan informasi aktual mengenai pembelajaran yang dilakukan guru.

Pengawas SMA berperan dalam melakukan pengawasan proses pembelajaran. Pengawasan ini penting dilakukan agar guru-guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik. Pengawas dapat melakukan pembinaan terhadap guru-guru yang belum dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dengan baik. Pengawasan dalam kegiatan PM-PMP terutama dalam pelaksanaan lesson study memberikan gambaran secara riil bagaimana guru-guru dapat memainkan peranannya dengan baik dalam proses membelajarkan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kabupaten berperan dalam menugaskan kepala sekolah dan pengawas SMA di kabupatennya masing-masing untuk mengikuti program peningkatan kompetensi guru melalui pendampingan terpadu berbasis kaji tindak pembelajaran. Kepala Dinas juga berperan dalam merumuskan kebijakan tindak lanjut pengembangan mutu pendidikan yang berupa model peningkatan kompetensi guru dan supervisi pendidikan yang dapat diterapkan di semua SMA di Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem Provinsi Bali.

Dosen tim PM-PMP berperan sebagai pelaksana pengabdian PM-PMP. Dosen tim PM-PMP mengkoordinasikan pelaksanaan PM-PMP dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga di Klungkung dan Karangasem, merencanakan dan melaksanakan seluruh kegiatan PM-PMP.

2.4 Tahapan kegiatan yang dilaksanakan dalam pengabdian PM-PMP

Penerapan Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

2.4.1 Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)

Pendidikan dan pelatihan dilakukan terhadap materi subjek, model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran (lesson study), manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan. Peserta Diklat terdiri atas guru-guru SMA mata pelajaran yang di-UN-kan, kepala sekolah dan pengawas SMA dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Di Kabupaten Klungkung, guru SMA yang dilibatkan adalah guru-guru

(26)

26 dari SMAN 1 Semarapura, SMAN 1 Dawan, dan SMAN 1 Nusa Penida. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem, guru-guru yang dilibatkan adalah guru-guru dari SMAN 1 Amlapura, SMAN 1 Sidemen, dan SMAN 1 Kubu.

Diklat peningkatan kompetensi guru dilakukan dengan memberikan pendalaman materi kepada guru-guru SMA tentang materi subjek, model-model pembelajaran dan asesmen serta kaji tindak pembelajaran (lesson study). Sementara itu, diklat untuk kepala sekolah dan pengawas dilakukan dengan memberikan pengetahuan tentang model-model pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran, manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan.

Nara sumber diklat terdiri atas: (1) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali menyampaikan materi tentang kebijakan peningkatan mutu pendidikan, (2) Tim pelaksana pengabdian PM-PMP memberikan materi sesuai dengan mata pelajaran yang di-UN-kan, (3) pakar bidang pembelajaran dan asesmen, kaji tindak pembelajaran, manajemen sekolah, dan supervisi pendidikan.

2.4.2 Kaji tindak pembelajaran (lesson study)

Implementasi terhadap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama diklat, ditindaklanjuti dengan melaksanakan kaji tindak pembelajaran. Kaji tindak pembelajaran terdidi atas tiga tahapan, yaitu: tahap perencanaan plan), tahap pelaksanaan tindakan (do), dan tahap refleksi (see).

Tahap perencanaan dilakukan melalui kegiatan diskusi perangkat pembelajaran pada saat diklat dan disempurnakan lebih lanjut di sekolah masing-masing oleh tim lesson study. Pada tahap tindakan, masing-masing guru model menerapkan perangkat pembelajaran (yang telah rancang bersama tim lesson study) di kelas sesuai dengan jadwal mata pelajaran di sekolah masing-masing. Pelaksanaan pembelajaran ini diobservasi oleh guru observer, pengawas, dan kepala sekolah. Observasi dilakukan untuk mengatahui efektivitas dari pembelajaran yang dilakukan guru model. Pengamatan lebih diarahkan pada aktivitas belajar siswa sebagai refleksi dari pembelajaran yang dilakukan oleh guru model. Hasil-hasil observasi ini didiskusikan pada tahap refleksi untuk melakukan perbaikan pembelajaran berikutnya. Kegiatan ini dipantau oleh tim pengabdian PM-PMP.

(27)

27 2.4.3 Evaluasi keefektivan model

Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem dievaluasi keefektivannya melalui oberservasi pada pelaksanaan diklat dan kaji tindak pembelajaran (lesson study), respon guru, dan respon siswa

Evaluasi Keefektivan Diklat

Keefektivan diklat diamati dari antusisme guru, kepala sekolah, dan pengawas yang hadir dalam mengikuti diklat. Keantusiasan peserta (guru, kepala sekolah, dan pengawas) menunjukkan bahwa materi yang sajikan dalam pelatihan dapat dirasakan manfaatkan oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas. Oleh karena itu, antusiasme peserta dapat dipandang sebagai keberhasilan dari pelaksanaan diklat. Disamping itu, keefektivan diklat juga dianalisis dari respon guru. Diklat dikatakan efektif jika lebih dari 75% menjawab setuju dan sangat setuju terhadap pelaksanaan diklat.

Evaluasi Kefektivan Lesson Study

Keefektivan lesson study dianalisis dari hasil monitoring pelaksanaan lesson study oleh tim pengabdian PM-PMP, observasi pelaksansaan pembelajaran oleh guru observer, kepala sekolah, pengawas, dan respon siswa dan guru terhadap pembelajaran/lesson study, serta hasil refleksi lesson study. Respon siswa dikatakan positif jika lebih dari 75% siswa menjawab “Ya” terhadap penyataan tentang respon siswa terdahap pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Demikian juga, respon guru dinyatakan positif jika lebih dari 75% guru menjawab setuju dan sangat setuju.

2.4.4 Focus Group Discussion Tindak Lanjut Pengembangan Mutu Pendidikan Bertolak dari hasil evaluasi keefektivan Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA melalui Pendampigan Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga di Kabupaten Klungkung dan Karangasem, kepala sekolah, dan tim PM-PMP. Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan kebijakan tindak lanjut pengembangan mutu pendidikan yang berupa model peningkatan kompetensi guru dan supervisi pendidikan yang dapat diterapkan di semua SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Di samping itu, FGD juga untuk merumuskan pola kerjasama antara Undiksha dan dinas pendidikan dan olah raga kabupaten serta dengan pihak sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.

(28)

28 BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN PM-PMP

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

PM-PMP di Kabupaten Klungkung dan Karangasem dilaksanakan dalam tiga tahapan kegiatan, yaitu: 1) pendidikan dan latihan (diklat), 2) kaji tindak pembelajaran (lesson study), dan focus group discussion (FGD). Diklat dilaksanakan di kampus Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) secara bersamaan untuk semua kabupaten/kota se-Provinsi Bali dari tanggal 9 s/d 11 Nopember 2012 yang terbagi dalam dua gelombang, yaitu: gelombang I dilaksanakan pada tanggal 9 s/d 10 dan gelombang II pada tanggal 10 s/d 11 Nopember 2012. Susunan acara diklat ditunjukkan pada Tabel 3.1 dan foto-foto pelaksanaan diklat terlampir.

Tabel 3.1 Susunan Acara Diklat PM-PMP Undiksha Tahun 2012 Gelombang I

Hari/Tanggal No Acara Waktu Pelaksana

Jumat, 9 -11- 2012 (Ruang 1)

1 Presensi Peserta + Kudapan 12.45 – 13.00 Panitia

2 Pembukaan

• Laporan Ketua Panitia

• Sambutan Kepala Dinas Provinsi • Sambutan Rektor sekaligus

membuka acara

13.00 - 13.30 Panitia

3 Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan

13.30 – 15.00 Kepala Dinas Provinsi 4 Penjelasan Umum Kegiatan

PM-PMP

15.00 – 16.00 Prof. Dr. Ida Bagus Arnyana, M.Si 5 Model Pembelajaran Inovatif dan

Asesmen

16.00 - 19.00 Prof. Dr. Ketut Suma, M.S

6 Makan Malam 19.00 - 20.00 Panitia

7 Kaji Tindak Pembelajaran 20.00 – 22.00 Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si. Sabtu,

10-11-2012 (Ruang 1)

1 Manajemen Sekolah 08.00 – 10.00 Prof. Dr. Nyoman

Natajaya, M.Pd.

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Supervisi Pendidikan 10.30 – 12.30 Prof. Dr. I Nyoman

Natajaya, M.Pd. Ruang 2 1 Pendalaman Materi Matematika 08.00 – 10.00 Prof. Dr. I Nengah

Suparta, M.Si

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Matematika 10.30 – 12.30 Prof. Dr. I Nengah Suparta, M.Si

(29)

29 lanjutan Hari/Tanggal No Acara Waktu Pelaksana

Ruang 3 1 Pendalaman Materi Fisika 08.00 – 10.00 Prof. Dr. I Wayan

Santiyasa, M.Si

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Fisika 10.30 – 12.30 Prof. Dr. I Wayan Santiyasa, M.Si

Ruang 4 1 Pendalaman Materi Kimia 08.00 – 10.00 Dr. I Nyoman

Suardana, M.Si.

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Kimia 10.30 – 12.30 Dr. I Nyoman

Suardana, M.Si.

Ruang 5 1 Pendalaman Materi Biologi 08.00 – 10.00 Prof. Dr. Ida Bagus

Putu Arnyana, M.Si.

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Biologi 10.30 – 12.30 Prof. Dr. Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si. Gelombang II

Sabtu, 10 -11- 2012 (Ruang 1)

1 Presensi Peserta + Kudapan 13.30 – 14.00 Panitia

2 Penjelasan Umum Kegiatan PM-PMP

14.00- 15.00 Prof. Dr. Ida Bagus Arnyana, M.Si 3 Model Pembelajaran Inovatif dan

Asesmen

15.00 - 18.00 Prof. Dr. Ketut Suma, M.S

4 Makan Malam 18.00 - 19.00 Panitia

5 Kaji Tindak Pembelajaran 19.00 – 21.00 Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si. Minggu,

11-11-2012 (Ruang 2)

1 Pendalaman Materi Bahasa Indonesia

08.00 – 10.00 Drs. Nyoman Merdana, M.Pd.

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Bahasa Indonesia

10.30 – 12.30 Drs. Nyoman Merdana, M.Pd.

Ruang 3 1 Pendalaman Materi Bahasa Inggris 08.00 – 10.00 Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Bahasa Inggris 10.30 – 12.30 Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.

Ruang 4 1 Pendalaman Materi Sosiologi 08.00 – 10.00 Drs. I Wayan Mudana,

M.Si.

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Sosiologi 10.30 – 12.30 Drs. I Wayan Mudana, M.Si.

Ruang 5 1 Pendalaman Materi Ekonomi 08.00 – 10.00 Dr. I Wayan Bagia,

M.Si

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Ekonomi 10.30 – 12.30 Dr. I Wayan Bagia, M.Si

Ruang 6 1 Pendalaman Materi Geografi 08.00 – 10.00 Prof. Dr. I Gede Astra

Wesnawa M.Si

2 Kudapan 10.00 – 10.30 Panitia

3 Pendalaman Materi Geografi 10.30 – 12.30 Prof. Dr. I Gede Astra Wesnawa M.Si

(30)

30 Sementara itu, kegiatan lesson study dilaksanakan di sekolah sampel, yaitu: tiga SMA dari Kabupaten Klungkung (SMAN 1 Semarapura, SMAN 1 Dawan, SMAN 1 Nusa Penida) dan tiga SMA dari Kabupaten Karangasem (SMAN 1 Amlapura, SMAN 1 Kubu, dan SMAN 1 Sidemen). Pelaksanaan lesson study diawali dengan melakukan perencanaan pembelajaran pada saat diklat dan disempurnakan lebih lanjut dilanjutkan dengan pemantapan perencanaan pembelajaran di lapangan oleh guru-guru yang terlibat dalam lesson study (tiga orang guru untuk tiap-tiap mata pelajaran yang di-UN-kan). Jadwal lesson study di Kabupaten Klungkung dan Karangasem secara berturut-turut disajikan pada Tabel 3.2 dan Tabel 3,3.

Tabel 3.2. Lesson Study Di Kabupaten Klungkung

Hari/tanggal Tempat Lesso Study Mata Pelajaran Guru Model

Senin, 19-11-2012 SMAN 1 Semarapura

Kimia A.A. Gde Raka Dibiaguna, S.Pd. Biologi Dra. Komang Susilawati

Fisika Drs. A.A. Ngurah Sucipta

Selasa, 20-11-2012 SMAN 1 Nusa Penida

Sosiologi Drs. Nyoman Arjana Ekonomi Drs. Dewa Ketut Astawa Geografi I Ketut Wirata, S.Pd., M.Pd.

Rabu, 21-11-2012 SMAN 1 Dawan

Matematika Drs. I Wayan Sukara Bahasa Indonesia Drs. I Nyoman Narta

Bahasa Inggris I Wayan Lunga, S,Pd.

Tabel 3.3. Lesson Study Di Kabupaten Karangasem Hari/tanggal Tempat Lesso Study Mata Pelajaran Guru Model

Rabu, 21-11-2012 SMAN 1 Sidemen Bahasa Indonesia Drs. I Nengah Sumiarta Bahasa Inggris I Komang Gede Nesa, S.Pd

Kamis, 22-11-2012 SMAN 1 Amlapura

Matematika Drs. I Wayan Gede

Kimia Ni Wayan Eka Pratiwi, S.Pd. Biologi Drs. I Made Suta

Fisika Putu Dwika Putri Dharmadewi, S.Pd., M.Pd.

Senin, 26-11-2012 SMAN 1 Kubu

Sosiologi Drs.I Gede Nyoman Arya Winata Ekonomi Drs. I Made Sujana

(31)

31 FGD untuk merumuskan kebijakan pengembangan mutu pendidikan, dilaksanakan di Undiksha pada tanggal 14 Desember 2012 dengan melibatkan kepala dinas pendidikan dan olah raga provinsi, kepala dinas pendidikan dan olah raga Kabupaten Klungkung dan Karangasem, dan kepala SMA dari sekolah sampel di Kabupaten Klungkung dan Karangasem.

3.2 Peserta dan Materi Diklat

Peserta diklat pada gelombang I terdiri atas: kepala sekolah dari enam SMA, yaitu: SMAN 1 Semarapura, SMAN 1 Dawan, SMAN 1 Nusa Penida, SMAN 1 Amlapura, SMAN 1 Kubu, dan SMAN 1 Sidemen; pengawas SMA Kabupaten Klungkung dan Karangasem; guru-guru matematika, kimia, biologi, dan fisika dari enam sekolah sampel. Peserta diklat gelombang II terdiri atas: guru-guru bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sosiologi, ekonomi, dan geografi. Peserta yang diundang diklat pada gelombang I dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem, masing-masing sebanyak 18 orang, yaitu: tiga orang kepala SMA, 3 orang pengawas SMA, dan 12 orang guru mata pelajaran yang di-UN-kan. Peserta yang hadir dalam diklat gelombang I dari Kabupaten Klungkung 15 orang, sedangkan dari Kabupaten Karangasem 12 orang. Daftar peserta yang hadir pada diklat gelombang I dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem, masing-masing ditunjukkan pada Tabel 3.4 dan Tabel 3.5.

Tabel 3.4 Peserta Diklat Gelombang I dari Kabupaten Klungkung

No Nama Jabatan Instansi

1 Drs. I Ketut Riasa, M.Pd. Pengawas Disdikpora Kab. Klungkung

2 Drs. I Wayan Suarya Pengawas Disdikpora Kab. Klungkung

3 Drs. I Komang Tista, M.Ag. Pengawas Disdikpora Kab. Klungkung

4 Drs. I Wayan Sukara Guru SMAN 1 Dawan

5 I Gusti Nyoman Susanta, S.Pd. Guru SMAN 1 Dawan

6 Ni Luh Sumariasih, S.Pd. Guru SMAN 1 Dawan

7 Hari Purnomo, S.Pd. Guru SMAN 1 Dawan

8 I Gst.Ayu Sri Indrawati, S.Pd. Guru SMAN 1 Nusa Penida

9 I Gst. Ayu Sri Juniati, S.Pd. Guru SMAN 1 Nusa Penida

10 Drs. I Wayan Kariasa, M.Pd. Guru SMAN 1 Nusa Penida

11 Drs. I Nyoman Mudjarta Kepala Sekolah SMAN 1 Semarapura

12 Agus Soleh, S.Pd. Guru SMAN 1 Semarapura

13 Drs. A.A.Gd. Ngurah Sucipta Guru SMAN 1 Semarapura

14 A.A. Raka Dibiaguna, S.Pd. Guru SMAN 1 Semarapura

(32)

32 Tabel 3.5. Peserta Diklat Gelombang I dari Kabupaten Karangasem

No Nama Jabatan Instansi

1 Drs. I Made Suta Guru SMAN 1 Amlapura

2 Ni Wayan Eka Pratiwi, S.Pd Guru SMAN 1 Amlapura

3 Putu Dwika Putri Dharma Dewi, S.Pd, M.Pd. Guru SMAN 1 Amlapura

4 Drs. I Wayan Gede Guru SMAN 1 Amlapura

5 I Nyoman Suarsana,S.Pd Guru SMAN 1 Kubu

6 I Putu Budiasa,S.Pd Guru SMAN 1 Kubu

7 Drs. I Nyoman Jiwa Guru SMAN 1 Kubu

8 I Wayan Dana,S.Pd.,M.Pd Guru SMAN 1 Kubu

9 I Komang Sudana Martayasa, S.Pd. M.Pd Guru SMAN Sidemen

10 I Nyoman Dirga, S.Pd. M.Pd Guru SMAN Sidemen

11 I Wayan Subrata, S.Pd. M.Pd Guru SMAN Sidemen

12 Luh Mahayani Ngurah Putri, S.Pd Guru SMAN Sidemen

Pada diklat gelombang II, peserta yang diundang dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem, masing-masing sebanyak 15 orang guru mata pelajaran yang di-UN-kan. Semua peserta yang diundang dari Kabupaten Klungkung hadir dalam diklat gelombang II, sedangkan peserta yang hadir dari Kabupaten Karangasem adalah 14 orang. Daftar peserta yang hadir pada diklat gelombang II dari Kabupaten Klungkung dan Karangasem, masing-masing ditunjukkan pada Tabel 3.6 dan Tabel 3.7.

Tabel 3.6. Peserta Diklat Gelombang II dari Kabupaten Klungkung

No Nama Jabatan Instansi

1 Drs. Nyoman Nartha Guru SMAN 1 Dawan

2 I Wayan Lunga, S.Pd. Guru SMAN 1 Dawan

3 Drs. I Nyoman Sunarta Guru SMAN 1 Dawan

4 Wayan Widja, S.Pd. Guru SMAN 1 Dawan

5 Drs. I Ketut Bajera Guru SMAN 1 Dawan

6 Ni Wayan Sumarnisih, S.Pd. Guru SMAN 1 Nusa Penida

7 I Wayan Oka Sudiana AS.Pd. Guru SMAN 1 Nusa Penida

8 Drs. I Nyoman Arjana Guru SMAN 1 Nusa Penida

9 Drs. Dewa Ketut Astawa Guru SMAN 1 Nusa Penida

10 I Ketut Wirta, S.Pd.M.Pd. Guru SMAN 1 Nusa Penida

11 Dra. Ni Nengah Widiani Guru SMAN 1 Semarapura

12 I Nyoman Sumarta, S.Pd.Ing. Guru SMAN 1 Semarapura

13 Drs. I Kadek Putrawan Guru SMAN 1 Semarapura

14 Drs. I Wayan Sudirka Guru SMAN 1 Semarapura

(33)

33 Tabel 3.7. Peserta Diklat Gelombang II dari Kabupaten Karangasem

No Nama Jabatan Instansi

1 Dra. Desak Made Sriastini, M.Pd Guru SMAN 1 Amlapura

2 Ni Made Sri Martiningsih, S.Pd Guru SMAN 1 Amlapura

3 Ni Ketut Suryani. S.Sos Guru SMAN 1 Amlapura

4 Sri Suci Handayani, S.Pd. Guru SMAN 1 Amlapura

5 Dra. Ni Ketut Suriarini Guru SMAN 1 Amlapura

6 I Gede Kariawan,S.Pd Guru SMAN 1 Kubu

7 I Made Krana,S.Pd Guru SMAN 1 Kubu

8 Drs. I Made Sujana Guru SMAN 1 Kubu

9 Drs.I Gede Nyoman Arya Winata Guru SMAN 1 Kubu

10 I Nengah Kariasa,S.Pd Guru SMAN 1 Kubu

11 Drs I Nengah Sumiarta Guru SMAN Sidemen

12 I Komang Gede Nesa, S.Pd Guru SMAN Sidemen

13 Drs I Ketut Wika Guru SMAN Sidemen

14 Drs I Wayan Suwitra Adnyana Guru SMAN Sidemen

Meteri diklat meliputi: Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan, Penjelasan Umum Kegiatan PM-PMP, Model Pembelajaran Inovatif dan Asesmen, serta Kaji Tindak Pembelajaran (diberikan kepada semua peserta diklat), Manajemen Sekolah dan Supervisi Pendidikan (diberikan kepada kepala sekolah dan pengawas), serta materi mata pelajaran yang di-UN-kan, yaitu: matematika, kimia, biologi, fisika, bahasa Indonesia, bahasa inggris, sosiologi, ekonomi, dan geografi (diberikan kepada guru-guru sesuai bidang studinya).

3.3 Hasil Pendidikan dan Latihan (Diklat)

Diklat untuk kepala sekolah, pengawas, dan guru-guru SMA Kabupaten Klungkung dan Karangasem berlangsung baik dan lancar. Semua peserta memberikan respon postif terhadap pelaksanaan diklat. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti acara diklat. Dalam kegiatan diklat, semua peserta dapat menghadiri kegiatan secara penuh waktu dan tekun mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Hal ini terjadi karena meteri diklat yang diberikan dapat menyentuh kebutuhan mereka. Banyak pertanyaan yang disampaikan oleh peserta diklat berkaitan dengan lesson study, misalnya: 1) apakah lesson study dilaksanakan untuk semua materi pelajaran atau hanya pada topik-topik tertentu? 2) apakah melalui lesson study akan mampu mengurangi

(34)

34 tawuran antar pelajar yang lagi marak-maraknya tergadi akhir-akhir ini? 3) guru-guru kita nampaknya belum siap melakukan lesson study karena mereka sangat sulit menerima kritikan, bagaimana pendapat dan pandangan Bapak berkaitan dengan hal tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan adanya keinginan dari guru-guru dalam melaksanakan lesson study sebagai fokus utama dari kegiatan PM-PMP dalam rangka pembinaan profesi guru. Beberapa guru merasa khawatir kalau mereka mendapat kritikan saat bertindak sebagai guru model. Kekhawatiran ini ditanggapi dengan baik oleh nara sumber. Nara sumber menjelaskan bahwa pelaksanaan lesson study adalah merupakan pembelajaran kita, artinya pembelajaran yang dirancang, dilakukan, dan direfleksikan bersama sehingga kegagalan dalam pelaksanaan lesson study adalah kekagalan bersama, bukan hanya kegagalan guru model. Untuk itu, guru model tidak perlu khawatir karena yang diamati pada lesson study lebih fokus pada aktivitas siswa.

Dalam pelaksanaan diklat, peserta juga diberi kesempatan untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang akan digunakan dalam lesson study. Pada kegiatan ini, guru-guru dari mata pelajaran yang sama (masing-masing terdiri atas tiga orang guru) secara bertim merencanakan pembelajaran dan menyepakati guru model, tempat, dan waktu pelaksanaan lesson study. RPP untuk masing-masing mata pelajaran yang telah dibuat, disempurnakan lebih lanjut di sekolah sampel sesuai dengan kesepakatan tim lesson study. Pembuatan RPP ini masing-masing dibimbing oleh tim PM-PMP selaku nara sumber dalam kegiatan pendalaman materi bidang studi.

Pada akhir diklat, guru-guru diminta tanggapan tentang kefektivan pelaksaan diklat menggunakan angket. Tangapan atau respon guru-guru SMA di Kabupaten Klungkung dan Karangasem terhadap pelaksanaan diklat, masing-masing disajikan pada Tabel 3.8 dan Tabel 3.9.

Tabel 3.8 Respon Guru Di Kabupaten Klungkung terhadap Pelaksanaan Diklat (n =25) No Pernyataan SS (%) S (%) TS (%) STS (%)

1. Setelah saya mengikuti pelatihan pengetahuan saya tentang teori-teori pembelajaran bertambah

69.2 30.8 2. Setelah mengikuti pelatihan pengetahuan saya tentang model-model

pembelajaran inovatif bertambah

42.3 57.7 3. Setelah mengikuti pelatihan pengetahuan saya tentang asesmen

inovatif bertambah

30.8 69.2 4. Setelah mengikuti pelatihan pengetahuan saya tentang penyusunan

RPP bertambah

Gambar

Gambar 1.1 Peta Pulau Bali
Gambar 1.2 Diagram Alur Model Peningkatan Kompetensi Guru SMA Melalui       Pendamping Terpadu Berbasis Kaji Tindak Pembelajaran
Tabel 1.2  Rincian Tahapan Kegiatan dari Model Pendampingan Terpadu Berbasis Kaji  Tindak Pembelajaran di Kabupaten Klungkung dan Karangasem
Tabel 3.1 Susunan Acara Diklat PM-PMP Undiksha Tahun 2012  Gelombang I
+7

Referensi

Dokumen terkait

GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP PERLINDUNGAN HUKUM PEMEGANG SAHAM MINORITAS (Studi Kasus PT. Sumalindo LJ Tbk.) penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat

Oleh itu, kajian ini akan melihat konsep pertahanan menyeluruh dalam latihan khidmat negara yang telah dijalankan oleh negara Malaysia iaitu Program Latihan

-0,13 dengan nilai rata-rata 0,08 datI pada tanaman kontI'ol tidak diperoleh nilai faktor trallster 137CS dari tanah ke tanaman kangkung kar'ena konsentrasi. 137 Cs dalam

Analisa kejenuhan basa perlu analisis no... No Jenis analisis Metode Tarif/sampel (Rp.)

Penelitian mengenai penanganan air sungai tercemar logam berat skala laboratorium dengan menggunakan adsorben nata de coco ini diharapkan dapat memberikan efek yang

Seperti halnya program DDRR di negara-negara lain, Program DDRR di Liberia dilakukan dalam satu rangkaian tahapan, yaitu proses gencatan senjata atau perdamaian,

Skripsi berjudul “Persepsi Masyarakat Tentang Makna Punakawan Dalam Cerita Wayang ( Studi di Desa Ngareanak, Kec. Kendal )” dengan latar belakang bahwa pagelaran

Dari grafik dapat dilihat bahwa tanpa pemberian bokashi eceng gondok lebih tinggi dari pemberian dengan dosis satu setengah kilogram bokashi eceng gondok hal ini