BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. menjadi penentu utama kebijaksanaan, baik untuk pribadi maupun untuk

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Kebudayaan yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman masa lalu dapat menjadi penentu utama kebijaksanaan, baik untuk pribadi maupun untuk kepentingan bangsa atau negara. Hal ini sangat diperlukannya pemahaman kebudayaan, sesuai dengan pendapat Bani Sudardi (2003) yaitu untuk memahami kebudayaan suatu bangsa dengan baik, informasi-informasi dari masa lalu sangat mutlak diperlukan. Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui peninggalan suatu warisan / tradisi dari nenek moyang.

Peninggalan warisan atau tradisi dari nenek moyang salah satunya berwujud artefak yang berbentuk material seperti bangunan bersejarah, candi, masjid, istana raja dan lain-lain. Begitu pula dengan tradisi literasinya yang dapat ditemui dalam peninggalan tertulis berupa prasasti dan naskah-naskah kuna. Sebagai salah satu peninggalan tertulis, naskah kuna banyak menyimpan informasi dari masa lampau. Dibanding dengan prasasti yang mengandung informasi penting saja, naskah kuna dapat disebut dokumen bangsa yang dapat memberi informasi sangat luas dibanding dengan peninggalan budaya yang lain (Siti Baroroh Baried, 1983: 132).

Naskah kuna banyak tersimpan diberbagai museum, perpustakaan, instansi-instansi swasta, dan tidak menutup kemungkinan merupakan koleksi pribadi. Penyimpanan naskah dan cara penyimpanan disetiap tempat berbeda-beda menjadikan kondisi fisik pada naskah rata-rata mengalami kerusakan. Kerusakan-kerusakan yang demikianlah perlu adanya penanganan. Penanganan naskah harus

(2)

dilakukan dengan segera dan berdasarkan metode yang tepat, sesuai dengan pendapat Darusuprapta (1984: 143), dibutuhkan suatu upaya penanganan naskah

meliputi, penyelamatan, pelestarian, penelitian, pendayagunaan, dan

penyebarluasan.

Penanganan naskah tersebut harus dilakukan secara bertahap guna untuk mendapatkan hasil yang ideal atau sempurna. Dalam Bani Sudardi (2003:1) yang pertama-tama perlu diperhatikan mengenai alas naskah atau bahan tempat naskah ditulis. Dari alas naskah tersebut dapat dilacak berbagai informasi mengenai asal naskah, saat penulisan, tempat penulisan, umur naskah, teknologi pembuatan naskah, sampai pada cara pengawetan naskah. Ilmu yang mempelajari ataupun mengupas tuntas mengenai bahan naskah yangtersebut disebut sebagai kodikologi, yang fokus ilmu pembahasan sebatas fisik pada naskah. Kemudian, penelitian ini akan ditekankan pada pembahasan mengenai teks pada naskah sebagaimana untuk mengetahui pikiran yang dituang penulis pada naskah yang berupa teks-teks tersebut, bidang ilmu yang tepat adalah ilmu filologi.

Menurut Edwar Djamaris (2002:7) tugas utama dari seorang filolog yaitu mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan, memberikan pengertian yang sebaik-baiknya dan bisa dipertanggungjawabkan, sehingga dapat mengetahui naskah yang paling dekat aslinya karena naskah itu sebelumnya mengalami penyalinan untuk kesekian kalinya, serta cocok dengan kebudayaan yang melahirkannya. Jadi, perlu dibersihkan dari tambahan yang diterapkan saat penyalinan.

Langkah awal untuk penelitian filologi adalah melakukan inventarisasi naskah yang melalui berbagai katalog mengenai naskah Jawa, yaitu;

(3)

(Girardet-Sutanto, 1983; Nancy K. Florida, 1996; T.E. Behrend, 1990; Lindstay, Jennifer, 1994)

1. Descriptive Catalogus of the Javanese Manuscripts and Printed Book

in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta

2. Javanese Language Manuscripts of Surakarta Central Java A

Preliminary Descriptive Catalogus Level I, II, and III

3. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Sanabudaya

Yogyakarta

4. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3B (Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1998)

5. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Perpustakaan

Nasional Republik Indonesia

6. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 2 Keraton Yogyakarta

7. Daftar Naskah Perpustakaan Museum Radyapustaka Surakarta

8. Katalog Naskah Lokal Perpustakaan Reksa Pustaka Pura

Mangkunegaran Surakarta.

Hasil pembacaan melalui katalog-katalog tersebut peneliti tertarik pada satu judul naskah dan hanya ada satu naskah yang akan diteliti yaitu naskah Jawa berjudul Bab Dodotan. Bab dodotan membahas mengenai pakaian adat Jawa yang berada di keraton Surakarta. Ditemukan pula naskah yang sejenis dengan dodotan yang merupakan koleksi Sasana Pustaka Keraton Surakarta dengan judul Katrangan Bab Kampuhan, naskah yang berada di Sasana Pustaka secara isi sama yaitu membahas mengenai kampuh atau dodot, akan tetepi secara tulisan sangat berbeda. Maka, naskah bab dodotan bukan merupakan naskah jamak. Naskah Bab

(4)

Dodotan menjadi koleksi Perpustakaan Museum Sonobudaya, Yogyakarta. Dalam katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 1 Museum Sonobudaya karya T.E

behrend (1990) Bab Dodotan bernomor katalog F2 sedangkan pada katalog lokal

Museum Sonobudaya bernomor PBC 113. Berikut gambar 1 menampilkan nomor katalog lokal Museum Sonobudaya yang terdapat ada cover naskah.

Gambar 1: Nomor katalog lokal Museum Sonobudaya “PBC 113”

Judul naskah berada di sampul depan naskah yang ditulis menggunakan huruf jawa, beserta tarikh tahun pembuatan naskah.

Gambar 2: Judul Naskah “Bab Dodotan 1855; 1924”

(5)

Beragamnya macam naskah kuna dengan jenis isi yang berbeda-beda menjadikan Gerardet-Sutanto (1983: v–vi) mengklasifikasi naskah Jawa menjadi beberapa bagian, yakni:

a. Kronik, Legenda dan Mite. Di dalamnya termasuk naskah-naskah babad, pakem, wayang purwa, panji, pustakaraja dan silsilah

b. Agama, Filsafat dan Etika. Di dalamnya termasuk naskah-naskah yang

mengandung unsur-unsur: Hinduisme, Budhisme, Islam, mistik Jawa, Kristen, magic dan ramalan, sastra wulang

c. Peristiwa kraton, hukum, peraturan-peraturan

d. Buku teks dan penuntun, kamus ensiklopesdi tentang linguistik, obat-obatan, pertanian, antropologi, geografi, perjalanan, perdagangan, masak-memasak dan sebagainya

e. Seni dan pertunjukan seni. Di dalamnya termasuk tari Jawa, gamelan, tembang Jawa, buku seni, crita, fabel dan legenda, ikhtisar, periodisasi, bunga rampai.

Berdasarkan klasifikasi di atas naskah Bab Dodotan termasuk dalam jenis teks buku Adat Istiadat yang tergolong pada kelas (d). Hal ini sesuai dengan deskripsi dalamkatalog Induk Naskah Jilid 1 Museum Sonobudaya. Sedangkan

untuk kandungan isi naskah Bab Dodotan yaitu membahas mengenai cara

pemakaian dodot, macam nama dodot dan pemakainya.

Naskah Bab Dodotan merupakan naskah tunggal dan tulisan tangan (manuscript) oleh Purbadipura Bupati Surakarta pada tahun jawa 1855 atau 1924M. Naskah ini berbentuk prosa berbahasa jawa baru ragam krama dan ngoko serta terdapat bahasa Indonesia yang digunakan. Naskah ini dulunya milik Panti

(6)

Budaya, yang dibuktikan dengan cap merah bertulisakan “Panti Budaya”. Seperti berikut cap merah yang terdapat pada halaman awal naskah.

Gambar 3: Cap Panti Budaya

Kondisi fisik naskah Bab dodotan sudah rapuh / rusak. Sehingga di dalam naskah terdapat teks-teks tulisan yang hilang atau sering disebut naskah korup, hal ini dikarenakan kertas sudah tua. Berikut contoh teks-teks yang hilang / korup pada naskah.

Gambar 4: Naskah korup (Sumber: Bab Dodotan, hlmn 2) “(1) balênggi iku wus nganggo...” Terjemahan : “balênggi itu sudah memakai...”

(7)

Selain kondisi fisik naskah yang korup, terdapat juga kertas dan teks yang lepas dari bendel naskah yang kemudian diselipkan di bagian belakang lembaran-lembaran kertas kosong pada naskah. Teks pada kertas tersebut ditulis menggunakan pensil dan terdapat gambar ilustrasi yang penggambarannya juga menggunakan pensil.

Kondisi naskah seperti di atas memberi dorongan kepada peneliti untuk menindaklanjuti penanganan naskah dan teks yang berwujud penelitian. Penelitian yang akan dilakukan terhadap naskah teks Bab Dodotan mendasari dua alasan yaitu: pertama, penelitian secara filologis karena belum pernah dilakukan penelitian secara filologis kepada naskah Bab Dodotan yang di dalamnya ditemukan masalah-masalah filologis pada teks, seperti berikut:

1. Lakuna adalah bagian yang terlampaui /kelewatan, baik suku kata, kata, kelompok kata ataupun kalimat

Gambar 6: Lakuna (sumber: Bab Dodotan hlmn 1)

“...Rabinguawal..”

Kekurangan huruf “L” pada Rabiu mengalami pembetulan berdasarkan pertimbangan lingusitik menjadi “...Rabingulawal...”

(8)

2. Adisi adalah bagian yang kelebihan atau terdapat penambahan baik suku kata, kata, kelompok kata maupun kalimat. Berikut contoh yang termasuk adisi:

Gambar 7: Adisi (sumber: Bab Dodotan hlmn 3)

“...palipitdan...” Terjemahan : “”...lipatan...”

Penambahan suku kata pada palipitdan, mengalami pembetulan

menjadi palipidan sesuai dengan pertimbangan lingusitik dan persepsi peneliti.

3. Hiperkorek yaitu perubahan ejaan karena perubahan lafal

Gambar 8: hiperkorek (smbr: Bab Dodotan hlmn 5) “...bisa kalangsrah ing lemah...” Terjemahan : “...bisa menjutai ke tanah...”

kata kalangrah mengalami pembetulan berdasarkan pertimbangan linguistik dan konsistenan tulisan menjadi “...kêlangsrah...”

(9)

4. Korup atau cacat; teks mengalami kerusakan.

Gambar 9: Teks korup

“{1} balênggi iku wus nganggo papan...” Terjemahan : “...balênggi itu sudah memakai tempat...”

Korup yang terjadi pada gambar 9 dikarenakan naskah yang sudah tua sehingga naskah tersebut sangat rentan. Adapun penyelesaian teks korup akan dibahas pada Bab II Pembahasan kritik teks.

(10)

Gambar 10: Interpolasi (sumber: Bab Dodotan hlmn 1)

“mênawa dodoté cilik têgêsè mung pitung kacu...”

Terjemahan : “jika dodotnya kecil maksudnya hanya tujuh lebar kain...” Pada gambar 10 terdapat interpolasi di halaman 1 menggunakan pensil. Penambahan tersebut untuk memberi pemahaman kepada pembaca mengenai kalimat sebelumnya.

6. Digtografi adalah penulisan ganda

Digtografi terjadi pada halaman pertama, yang ditulis ulang pada kertas yang berbeda. Terjadi juga pada halaman 6 (nomor halaman yang menggunakan huruf Jawa) atau halaman 11 (penulisan halaman yang menggunakan pensil), digtografinya ditulis pada kertas yang berbeda dan berbeda halaman. Kertas tersebut berada di dalam naskah bagian belakang tepat di tengah-tengah halaman naskah yang tidak ada teks atau tulisannya. Digtografi yang ditulis menggunakan pensil di halaman yang berbeda merupakan sebuah pembetulan dari penulis

(11)

yang dilakukan penulis setelah menulis keseluruhan teks. Seperti pada gambar di bawah ini adalah tarikh dari pembetulan penulis

Gambar 11: interpolasi

“Jumungah tanggal kaping 5 Mulud Dal 1855, 5/10/24 patrap lan jênênge wong Dodotan...”

Terjemahan : “Jumat tanggal 5 Mulud Dal 1855, 5/10/24 cara dan namanya orang dodotan...”

(sumber: diluar teks pada bagian belakang naskah)

7. Tidak Konsisten Tulisan

(1) Penggunaan huruf „ny‟ dan „na‟ dalam menulis kata banjur

(a)

“Banjur tekuken munggah”

(12)

(b)

“banyjur talenana”

Terjemahan : “kemudian, ikatlah”

Gambar 12: Ketidakkonsistenan dalam penulisan (smbr: Bab Dodotan, hlmn 9)

Kata “banjur” dalam penulisan Jawa dapat menggunkan huruf „nya‟ yang kemudian diberi pasangan „ja‟ kemudian juga dapat menggunakan huruf „na‟ yang diberi pasangan „ja‟, dalam pengucapan tetap „banjur‟. Tetapi dalam naskah penulisan kata „banjur‟ tidak konsisten, lebih banyak menulis menggunakan na kemudian diberi pasangan ja.

(2) Penggunaan huruf Jawa murda pada kata Ratu

(a)

“...panjenengan dalem Ratu” Terjemahan : “...kamu adalah Ratu/Raja”

(13)

(b)

”...ngarsaning ratu”

Terjemahan: “...rumahnya ratu/raja”

Gambar 13: Ketidakkonsistenan penggunaan aksara murda. (Smbr: Bab dodotan hlmn 11 dan 12)

Ketidakkonsistenan penulis dalam menggunakan aksara murda pada kata ratu. Karena Ratu adalah nama orang ataupun jabatan / tahta, penulisan aksara murda yang benar pada kata Ratu yaitu huruf ta menggunakan aksara murda.

8. Gaya tulisan penulis

1) jika mengalami kesalahan dalam penulisan

Gambar 14: Pembetulan dengan pemberian dua sandhangan (Smbr: Bab Dodotan hlmn 1)

“banjur digandhèng ... mujur adu sèrèt”

(14)

Penggunaan dua sandhangan dalam satu huruf yang tidak memiliki makna. Setelah mengalami pembetulan menjadi “banjur digandhéng mujur adu sérét” pada huruf ha dan da tidak perlu dibaca.

2) Penggunaan kode dalam teks

Gambar 15: Kode angka arab (1) (smbr: Bab Dodotan hlmn 1)

“...dibalênggi(1)...”

Terjemahan : “...dibalênggi (1)...”

Kode angka arab (1) dengan kata sebelumnya dibalênggi, kode tersebut bermaksud untuk menjelaskan dibalênggi yang penjelasannya ditulis

pada halaman berikutnya.

Gambar 16: Maksud dari kata yang diberi kode (1) (smbr: Bab Dodotan bagian verso)

(15)

“(1) balênggi iku wus nganggo...”

Terjemahan : “(1) balênggi itu sudah memakai…”

Terdapat penjelasan mengenai kata balênggi pada halaman setelah kode angka arab (1)

9. Terdapat cap penanda bagian oleh pihak kolektor

Pada teks terdapat cap huruf A dan B. Cap tersebut berwarna merah sama seperti pada cap kepemilikan naskah „panti budaya‟. Cap diberikan sebelum naskah diterbitkan, maksudnya sebelum naskah menjadi bahan bacaan umum pada saat itu, naskah diteliti terlebih dahulu oleh pihak kolektor. Dari cap tersebut dapat disimpulkan bahwa cap merah huruf A dan B merupakan sebuah penanda bagian isi teks untuk membedakan pembahasan pada isinya, berikut tampilan cap huruf A dan B:

Gambar 17: Cap penanda bagian

Isi teks dibagi menjadi 2, untuk cap penanda bagian huruf A meliputi bagian dari teks yang membahas pengertian dan cara memakai dodot.

(16)

Sedangkan untuk cap merah huruf B adalah mendandakan bahwa bagian tersebut yang menjelaskan nama-nama dodot.

10. Perlunya diadakan rekontruksi teks

Masalah filologi tidak hanya sekedar menyelesaikan masalah-masalah mengenai kesalahan si penulis di dalam teks, akan tetapi juga perlu mencari kebenaran yang sesungguhnya. Maksudnya seperti yang terdapat dalam naskah Bab Dodotan, naskah ini memiliki keunikan dalam urutan penulisan. Keunikan itu dibantu dengan adanya interpolasi kalimat dan juga terdapat cap huruf dari pihak kolektor. Hal ini yang menjadikan peneliti untuk melakukan rekontruksi teks yaitu pengembalian seperti semula atau penyusunan kembali (KBBI). Penyusunan kembali teks naskah Bab Dodotan dilakukan dengan melihat urutan halaman teks yang tidak sesuai, disertai dengan adanya penambahan cap huruf A dan B oleh pihak kolektor. Rekontruksi teks tersebut dilakukan pada analisis data bagian terjemahan.

Contoh di atas adalah sedikit masalah-masalah yang terdapat dalam naskah teks Bab Dodotan. Berdasarkan kesalahan dan kekurangan tulis yang ditemukan, maka perlu adanya suntingan teks untuk mencapai kesempurnaan dalam penelitian dengan menuangkan persepsi peneliti secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, berdasarkan segi isi. Pada naskah Bab Dodotan memberikan informasi mengenai pakaian adat Jawa yang berupa dodot. Dalam teks naskah tersebut memberikan pengertian dari dodotan, cara memakai dan nama jenis pemakai dodot. Dodot adalah busana adat Jawa yang terbuat dari kain batik yang

(17)

panjang. Seperti dalam Naskah Bab Dodotan; “Dodot iku jarik bathik kang dawané sathithik-sathithiké pitung kacu, akèh-akèhé sangang kacu mori amba”, yaitu Dodot adalah kain bathik yang panjangnya sedikit-dikitnya 7 kacu (ukuran), banyak-banyaknya dengan lebar 9 kacu mori (kain putih polos). Busana dodot merupakan busana kebesaran yang digunakan oleh kawasan keraton yang pemakaiannya tidak sembarang acara. Adapun acara-acara yang mengharuskan memakai dodot seperti grebegan, pasowanan dan pernikahan.

Acara besar tersebut mewajibkan untuk memakai dodot. Dodot juga sering di sebut kampuh. Kampuh atau dodot memiliki fungsi maupun peranan strata sosial. Hal ini dibuktikan dari jenis bahan dasar dan gambar / corak yang terdapat pada kain dodot dan cara pemakaiannya. Maka dari itu, tidak boleh sembarang orang yang dapat mengenakannya dan tidak sembarang waktu digunakan.

Dodot maupun kampuh juga memiliki makna simbolis yang sesuai dengan prinsip orang jawa yaitu bergotong-royong karena memakai dodot tidak dapat dilakukan sendiri, perlunya bantuan orang yang paham mengenai cara memakai jarik panjang tersebut.

Memakai dodot memerlukan dua orang karena kain yang digunakan begitu

panjang. Sebelum memakaikan dodot di badan pemakai harus menggunakan

celana terlebih dahulu celana tersebut terbuat dari bahan cindhe, seperti dalam

teks naskah Bab Dodotan “orang yang mau mengenakan dodot harus

menggunakan saruwal/celana terlebih dahulu, setelah itu baru mengenakan dodot di badan”. Kemudian dilanjutkan melilitkan jarik yang panjang tadi ke badan orang yang akan memakai yang kemudian disampirkan ke bahu pengguna, seperti

(18)

teks naskah Bab Dodotan: Pojoking dodot kang balenggén diwiru tumeka pojoking dodot kang sisih (ngencong) banjur disampiraké pundhak tengen.

Cara memakai dodot dalam setiap acara besar setiap pangkat atau jabatan dalam kraton sama saja, akan tetapi yang membedakan adalah cincingan dan klèmbrèhan. Tidak hanya itu, motif pada kain kampuh yang dikenakan pria dapat membedakan strata sosial yang lebih menekankan jabatan si pengguna. Hal tersebut akan membedakan apakah dia Raja, Putra mahkota, Pangeran, dan Bupati. Adapun nama-nama dodot yaitu: (1) dodot bathik latar hitam dan putih (kampuh balênggèn) yang dipakai oleh raja, putra mahkota, para pangeran putra sentana dan pepatih dalem. (2) dodot Gadhung Mlati, yaitu ketika pengantin bertemu. (3) kampuh bangun tulak bermotif alas-alasan, dipakai ketika upacara nikahan. Walaupun dalam naskah Bab Dodotan tidak disertai gambar yang lengkap, akan tetapi dari teks tersebut memberikan informasi yang terperinci, dan cara-cara pemakaian dodot dengan jelas. Dodot bukan sekedar kain, tetapi juga pelengkap dalam berbusana Jawa Lengkap, biasanya untuk upacara resmi seperti pasowanan, grebeg, menerima tamu agung, pernikahan.

Dodot sebagai Busana adat Jawa yang perlu diketahui dan dikembangkan. Telah jarang masyarakat umum yang memahaminya. Apalagi mengetahui cara penggunaan dan siapa saja yang boleh memakai dodot. Dalam dunia akademik khususnya pada bidang atau jurusan Tata Rias, cara memakai dodot menjadi komponen yang pokok dalam pembahasan materi mereka karena dodot adalah salah satu pakaian Pengantin Adat Jawa (Solo-Jogja) yang dalam upacaranya sering disebut Basahan. Basahan antara solo dengan jogja berbeda. Sesuai dengan naskah Bab dodotan yang ditulis oleh R.T Purbadipura seorang Bupati Anom di

(19)

Surakarta pada masa PB X, pembahasan dalam kajian isi lebih menekankan pada gagrak Solo (gaya Solo/Surakarta) dan dalam lingkup keraton Surakarta.

Keraton Surakarta yang identik dengan kebudayaannya yang masih kental dan masih dilestarikan hingga sekarang. Khususnya pada penggunaan busana adat jawa, inilah yang mendorong peneliti untuk mengangkat dan meneliti naskah Bab Dodotan dari segi kajian isi sebagai bahan penelitian. Penunjang dari penelitian naskah Bab Dodotan adalah buku karya; Mooryati Soedibyo tahun 2003 dengan judul “Busana Keraton Surakarta Hadiningrat”, dan penelitian berupa skripsi oleh Rus Hendra tahun 2002 dengan judul “katrangan Bab Kampuhan (suatu tinjauan filologis)”, dilengkapi dengan wawancara kepada narasumber yang berkaitan mengenai busana kraton maupun kebudayaannya yaitu K.G.P.H Puger selaku Pengageng Sasana Pustaka dan K.R.A.A Budayaningrat (bp Yusdianto) selaku pengampu Pawiyatan (lembaga kebudayaan) di Surakarta. Maka, sangat disayangkan mengingat busana dodot berperan penting dalam kehidupan sekarang dan merupakan warisan budaya yang juga perlu dilestarikan akan hilang dan punah begitu saja.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian naskah Bab Dodotan, sebagai berikut : 1. Bagaimana suntingan teks naskah dengan judul Bab Dodotan yang bersih dari

kesalahan sesuai dengan cara kerja filologi?

2. Bagaimana kandungan isi naskah Bab Dodotan tentang nama jenis dodot dan penggunanya, cara pemakaian serta ketepatan pemakaian dodot dan makna simboliknya?

(20)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menyajikan suntingan teks naskah Bab Dodotan yang bersih dari kesalahan sesuai dengan cara kerja filologi.

2. Mendeskripsikan isi naskah Bab Dodotan tentang nama jenis dodot dan penggunanya, cara pemakaian serta ketepatan pemakaian dodot dan makna simboliknya.

D. Batasan Masalah

Bab dodotan adalah naskah tunggal yang perlu diteliti dari berbagai sudut pandang, karena di dalamnya terdapat permasalahan-permasalahan seperti lakuna, adisi, teks korup, dan juga dalam penyampaian isi yang terkandung di dalamnya. Adanya berbagai bentuk permasalahan yang terdapat dalam naskah Bab Dodotan, maka diperlukan penegasan dan pemberian batasan masalah sehingga tidak akan terjadi perlebaran permasalahan. Batasan masalah tersebut ditekankan pada dua kajian utama, yaitu kajian filologis dan kajian isi.

E. Landasan Teori 1. Pengertian Filologi

Dalam Kamus Istilah-istilah Filologi (1977:16) filologi adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau yang menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kasustraannya. Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata dari philos yang berarti cinta dan logos yang berarti kata. Jadi, dapat diartikan

(21)

sebagai cinta kata atau senang bertutur, yang berkembang menjadi senang belajar, senang ilmu, dan senang kesastraan atau senang kebudayaan (Siti Baroroh Baried, et al., 1994;2).

Dalam arti luas filologi adalah ilmu yang mempelajari segala segi kehidupan dimasa lalu seperti yang ditemukan dalam tulisan. Di dalamnya tercakup bahasa, sastra, adat istiadat, hukum, dan lain sebagainya, menurut Achadiati Ikram (1997:1). Dan, Edwar Djamaris (2002:3) dalam sejarah pekembangannya menyebutkan bahwa filologi merupakan suatu ilmu yang objek penelitiannya naskah-naskah lama. Jadi, secara umum filologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan masalalu dengan objek kajian adalah naskah-naskah lama yang di dalamnya mencakup berbagai pengetahuan.

2. Objek Filologi

Objek penelitian filologi adalah naskah dan teks, teks menunjukkan pengertian sesuatu yang abstrak, sedangkan naskah merupakan suatu yang konkret (Siti Baroroh Baried, 1983:5). Naskah tulisan tangan disebut manuscript dalam bahasa inggris, dan dalam bahasa belanda handscript. naskah tulisan tangan menjadi objek utama penelitian filologi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan. Maka, hal ini sesuai dengan kalimat Bani Sudardi dalam buku penggarapan naskah (2003:10), naskah adalah tempat teks-teks ditulis. Naskah wujudnya konkret, nyata, dapat dipegang dan diraba. Kaitannya dengan penelitian yang menjadi objek penelitian filologi kali ini adalah naskah tulisan tangan wujudnya konkret, nyata berjudul Bab Dodotan.

(22)

3. Langkah Kerja Penelitian Filologi

Langkah kerja penelitian filologi menurut Edwar Djamaris (2002:10),

meliputi inventarisasi naskah, deskripsi naskah, pertimbangan dan

pengguguran naskah, dasar-dasar penentuan naskah yang asli atau naskah yang berwibawa, transliterasi naskah, dan suntingan teks. Pada khasus naskah yang berjudul Bab Dodotan menggunakan tahapan atau langkah kerja penelitian filologi menurut Edwar Djamaris tahun 2002. Mengingat bahwa naskah ini merupakan naskah tunggal, tidak diperlukannya perbandingan naskah di dalam penggarapan.

Secara terperinci, langkah kerja penelitian filologi adalah sebagai berikut: a. Penentuan Sasaran Penelitian

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan sasaran penelitian karena banyaknya ragam yang perlu dipertimbangkan, baik dari segi tulisan, bahan, bentuk, maupun isinya. Ragam naskah tersebut cara penulisannya berbeda-beda, sepertiditulis menggunakan huruf Arab, Jawa, Bali, Sasak dan Batak. Adapula penulisannya pada kertas, daun lontar, kulit kayu, atau rotan. Kemudian, naskah juga memiliki bentuk tulisan yaitu puisi dan prosa. Naskah juga memiliki isi yang beragam, di antaranya sejarah atau babad, kesusastraan, cerita wayang, kesenian, cerita dongeng, primbon, adat istiadat, ajaran atau piwulang, agama, dan sebagainya.

Berdasarkan hal tersebut, sasaran yang ingin diteliti telah ditentukan yaitu naskah bertuliskan Jawa carik yang ditulis pada kertas berbentuk prosa yang termasuk dalam buku teks adat istiadat. Sasaran

(23)

penelitian ini tertuju pada naskah yang berjudul Bab Dodotan, naskah ini

memberikan informasi mengenai dodotan, cara pemakaiannya, macam

nama dodot dan pemakainya. b. Inventarisasi Naskah

Inventarisasi naskah dilakukan dengan mendata dan

mengumpulkan naskah yang judulnya sama dan sejenis untuk dijadikan objek penelitian. Menurut Edi S. Ekajati (1980), bila hendak melakukan penelitian filologi, pertama-tama harus mencari dan memilih naskah yang akan dijadikan pokok penelitian, dengan mendatangi tempat-tempat koleksi naskah atau mencarinya melalui katalog. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui jumlah naskah, dimana tempat penyimpanannya, dan penjelasan lain tentang keadaan naskah. Naskah Bab Dodotan hanya ditemukan satu judul naskah dan telah dilakukan pengecekkan di tempat

penyimpanan yaitu Museum Sonobudaya, jadi naskah Bab Dodotan

merupakan naskah tunggal. c. Deskripsi Naskah

Deskripsi naskah merupakan uraian singkat atau ringkasan pada naskah secara terperinci. Deskripsi naskah penting dilakukan karena untuk mengetahui kondisi naskah dan sejauh mana isi mengenai naskah yang diteliti. Emuch Herman Sumantri (1986:2) menguraikan bahwa deskripsi naskah merupakan sarana untuk memberikan informasi atau data mengenai: judul naskah, nomor naskah, tempat penyimpanan naskah, asal naskah, keadaan naskah, ukuran naskah, tebal naskah, jumlah baris setiap halaman, huruf, aksara, tulisan, cara penulisan, bahan naskah, bahasa

(24)

naskah, bentuk teks, umur naskah, pengarang atau penyalin, asal-usul naskah, fungsi sosial naskah, serta ikhtisar teks atau cerita.

d. Transliterasi

Transliterasi adalah penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf, dari abjad yang satu ke abjad yang lain (Siti Baroroh Baried, 1985:65). Transliterasi penting dilakukan karena menyangkut objek dari penelitian adalah naskah Jawa yang penulisannya menggunakan huruf Jawa. Semakin modernisasi zaman, banyak yang menesampingkan kasustraan klasik dan semakin banyak masyarakat yang tidak begitu mengenal lagi aksara Jawa. Dalam tahap transliterasi terhadap naskah Bab Dodotan yang merupakan naskah tunggal, maka peneliti memilih untuk menggunakan transliterasi standar. Transliterasi standar yaitu transliterasi yang disesuaikan dengan ejaan yang berlaku. Dalam transliterasi ini diperlukan beberapa kamus untuk menyesuaikan ejaan yang berlaku adapun macam kamusnya yakni Bausastra karangan W.J.S Poerwadarminta tahun 1939 dan kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa) karangan Tim penyusun Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2001.

e. Kritik Teks

Pengertian kritik teks menurut Paul Mass dalam Darusuprapta (1984:1) adalah menempatkan teks pada tempat yang sewajarnya, memberi evaluasi terhadap teks, meneliti atau mengkaji lembaran naskah dan lembaran bacaan yang mengandung kalimat-kalimat atau rangkaian kata-kata tertentu.

(25)

f. Suntingan Teks dan Aparat Kritik

Suntingan teks adalah hasil dari pembetulan-pembetulan dan perubahan-perubahan sehingga dianggap bersih dari segala kekeliruan (Darusuprapta, 1984:5). Dalam membuat suntingan, kesalahan-kesalahan yang ditemukan dicatat dalam suatu wadah khusus yang disebut aparat kritik. Sesuai dengan ciri khas suatu suntingan filologis adalah adanya pertanggungjawaban yang berupa aparat kritik tersebut (Bani Sudardi, 2003:58).

Aparat kritik merupakan pertanggungjawaban ilmiah dari kritik teks yang berisi kelainan bacaan yang ada dalam suntingan teks atau penyajian teks yang sudah bersih dari korup (Mulyani, 2005:26).

g. Terjemahan

Terjemahan sebenarnya bukan merupakan kegiatan filologi. Namun, karena bahasa teks-teks merupakan bahasa daerah atau bahasa klasik, maka teks-teks perlu di terjemahkan agar dapat dikenal oleh khalayak-khalayak secara meluas (Bani Sudardi, 2003:67). Jadi, penerjemahan teks merupakan hal yang penting untuk disajikan dan memiliki tujuan praktis. Menurut Mulyani (2009:28) terjemahan adalah suatu langkah dalam kajian filologi yang berupa penggantian bahasa naskah ke dalam bahasa lain, misal dari bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar lebih mudah dipahami masyarakat secara umum.

Dalam penelitian ini, menggunakan metode penerjemahan isi atau makna, sehingga lebih mudah dalam penyampaiannya. Terjemahan isi atau

(26)

makna adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bahasa sumber diimbangi salinannya dengan kata-kata bahasa sasaran yang sepadan (Darusuprapta, 1984:9).

4. Pengertian Busana dan Dodotan

Menurut Moeryati Soedibyo (2003:24), busana dapat dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan baik. Dengan busana yang dikenakan, seseorang akan bersikap tepat dan berkomunikasi dengan efektif sesuai dengan norma yang berlaku. Dari busana yang dikenakan juga akan diketahui derajat, pangkat, serta kedudukan seseorang dalam hierarki.

Mooryati Soedibyo (2003:24) juga menekankan bahwa busana khas keraton adalah hasil budi daya dan olah cipta kreatif para nenek moyang dengan pemahaman akan seni dan budaya dalam kaitannya dengan estetika dan etika.

Busana khas keraton yang merupakan hasil budidaya olah cipta ini salah satunya berupa dodot. Menurut KBBI (2002) Dodot adalah pakaian adat Jawa dari kain batik atau cindai panjang dan lebar, dipakai pada upacara resmi (oleh pengantin dan sebagainya). Dodot adalah nama lain dari kampuh, karena biasanya kampuh dipakai oleh orang yang berpangkat Bupati ke atas.

5. Macam dodot dan makna simbolik

Budaya sebagai hasil dari tingkah laku atau hasil kreasi manusia memerlukan bahan, material atau alat penghantar untuk menyampaikan maksud atau pengertian yang terkandung di dalamnya (Budiono, 2008:137).

(27)

Kampuh atau dodot adalah hasil kreasi manusia sebagai penghantar berupa simbol memberi maksud dan memiliki makna sesuai pemakainya. Adapun beberapa nama dodot sesuai pemakainya. Adapun nama-nama kampuh dan

yang berhak memakainya: 1) kampuh balênggèn batik yang tengahnya

memakai blumbangan untuk raja, putra mahkota, para pangeran putra sentana, dan pepatih dalem. Kampuh balenggen batik latar putih ler ageng untuk bupati dan bupati anom. Kampuh balenggen batik rejeng latar putih untuk abdi dalem mayor dan bupati anom gandhek. 2) dodot gadhung mlathi digunakan oleh pengantin, dengan warna hijau. 3) dodot Bangun Tulak digunakan ketika

penganten bertemu pasangannya. Dari nama dodot di atas untuk membedakan

strata kepangkatan di lingkungan Keraton Surakarta yang memiliki nilai filosofi adalah perbedaan motif-motif dari kain dodot tersebut. Moeryati (1984) juga mengatakan untuk pengantin pria dan wanita biasanya dipilih kain dengan corak sidomukti, sidoasih, sidomulyo, sidoluhur dan lain-lain yang mengandung makna bak bagi suami istri yang akan menghadapi hidup baru. Keanekaragaman nama kampuh dan pemakainya termasuk dalam fungsi dodot yang mencerminkan adanya berbagai golongan sosial.

Fungsi secara etimologi adalah jabatan, kedudukan, peranan, guna, kegunaan, manfaat. Kaitannya dengan penelitian ini, Dodot memiliki fungsi sosial dalam masyarakat karena tidak sembarangan orang yang dapat memakai dodot. Pemakaian dodot juga memiliki fungsi lain yaitu menjadi ciri khas masyarakat Jawa sering disebut gotong royong (team work) karena dalam memakainya tidak dapat dilakukan secara sendiri. Masyarakat yang berada dalam lingkungan keraton paham benar fungsi dari dodot. Dodot yang

(28)

memiliki strata sosial pemakainya, biasanya yang memakai kampuh atau dodot adalah orang yang berkedudukan tinggi/berpangkat. Tetapi untuk masyarakat pada umumnya dodot dapat digunakan saat melaksanakan pernikahan/kawin yang merupakan pelengkap dari pakaian adat Jawa.

Sebagai sarana pembelajaran dalam bidang Tata Rias, dodot memiliki peranan penting dalam keberhasilan seorang Perias Pengantin kususnya daerah Jawa. Karena, memakai / mengenakan dodot tidak dapat dilakukan sendiri dan membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajarinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) tata cara berarti aturan (cara) sesuai adat kebiasaan. Tata cara busana dalam KBBI (2002) juga diartikan cara-cara (aturan-aturan) berpakaian dan berias. Hal tersebut sesuai dengan isi naskah yang membahas langkah-langkah atau cara atau urutan memakai dodot.

Dalam naskah Bab Dodotan menguraikan mengenai cara memakai dodot.

Hal ini akan menjadikan satu landasan atau pedoman dalam pengembangan Tata Rias Pengantin Jawa. Tidak hanya itu, langkah-langkah memakai dodot dalam naskah ini akan mengajak kepada khalayak kembali pada masa kerajaan, dimana gotong royong sangat dibutuhkan pada saat itu.

F. Data dan Sumber Data

Data adalah yang dihasilkan dari sumber data. Data dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2 yaitu, primer dan sekunder. Untuk data primer dalam penelitian ini adalah naskah dan teks Bab Dodotan dengan nomor katalog lokal Museum Sonobudaya PB.113. Kemudian, untuk data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah naskah teks Bab Dodotan yang bersih dari keslahan

(29)

dan juga telah dialihbahasakan. Data sekunder juga merupakan data penunjang dari penelitian yang berupa buku-buku mengenai busana Jawa keraton. Selain data penunjang berupa buku, peneliti juga mamasukkan data berupa hasil wawancara terhadap narasumber yang bersangkutan mengenai pakaian adat Jawa (dodot), menjadi data sekunder dari penelitian.

Sumber data adalah segala sesuatu yang mampu menghasilkan data dan merujuk pada suatu tempat. Sumber data dari penelitian ini adalah naskah dan

teks Bab Dodotan yang tersimpan di Perpustakaan Museum Sonobudoyo,

Yogyakarta. Data naskah Bab Dodotan yang telah bersih dari kesalahan sesuai kerja filologi.

G. Metode dan Teknik 1. Bentuk dan Jenis Penelitian

Bentuk penelitian terhadap naskah dan teks Bab Dodotan adalah penelitian filologi, yang objek kajiannya adalah manuscript (naskah tulisan tangan). Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, yang berarti data yang ditemukan, dikumpulkan, diteliti, digambarkan, ditulis, dilaporkan, dianalisis, ditelaah sesuai dengan apa yang telah di peroleh atau sesuai dengan bentuk data asli (Moleong, 2010: 11). Bogdan R.C dan S.K. Bikelndalam M. Attar Semi (1993) bahwa pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif ini berpandangan bahwa semua penting dan semuanya mempunyai pengaruh. Dengan mendeskripsikan segala macam bentuk tanda (semiotic) akan membentuk dan memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif mengenai apa yang sedang dikaji.

(30)

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka atau library research yaitu penelitian yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data (Edi Subroto,1992:42).

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data penelitian. Teknik yang digunakan adalah content

analysis. Sutopo (2002:58) menjelaskan bahwa ada dua cara dalam

melakukan teknik pengumpulan data, yaitu: teknik pengumpulan data interaktif dan non interaktif. Dalam penelitian ini content analysis tergolong dalam teknik pengumpulan data non interaktif. Non interaktif yang dimaksudkan adalah pengumpulan data yang sebatas pada penelitian ini yaitu naskah Bab dodotan.

Langkah awal pengumpulan data penelitian ini yaitu dengan : (1) inventarisasi naskah. Kemudian, (2) melakukan observasi untuk meninjau langsung tempat penyimpanan naskah Bab Dodotan. (3) mencetak, naskah yang telah didigitalisasi oleh pihak museum dicetak dengan cara print. (4) setelah mendapat bentuk printout dari naskah kemudian di scan guna mempermudah dalam melakukan penelitian dan pembuktian.

Inventarisasi naskah, peneliti hanya menemukan satu naskah Bab Dodotan. Pengecekan dan pelacakan sudah dilakukan terhadap naskah-naskah sejenis, tetapi hanya menemukan satu buah naskah-naskah Bab Dodotan. Setelah melakukan inventaris naskah dilanjutkan pengumpulan data yaitu mencetak naskah yang telah didigitalisasi oleh Museum Sonobudoyo, karena naskah adalah barang lindung negara, sehingga tidak mudah untuk melihat

(31)

secara langsung naskah aslinya. Setelah melakukan cetak naskah kemudian hasil cetakan di scan guna memudahkan dalam pembuktian adanya naskah yang diteliti.

Langkah selanjutnya yaitu membuat deskripsi naskah. Hal ini untuk mendapat gambaran asli dari naskah Bab Dodotan. Deskripsi naskah yang memperinci bentuk fisik dari naskah hanya dilakukan di tempat penyimpanan naskah tersebut yaitu di Museum Sonobudaya, karena peraturan dari pihak Museum yang melarang keras naskah dibawa pulang/keluar dari area Museum. Setelah seluruh data dapat terkumpul dilanjutkan dengan analisis data secara filologi maupun kajian isi.

Analisis kajian isi menggunakan beberapa teori yang telah ada kemudian didukung dengan wawancara terhadap narasumber, dalam hal ini narasumber yang berkaitan adalah Pengageng Sasana Pustaka Keraton Surakarta yang juga selaku PLT PB XIII yaitu K.G.P.H Puger, dan Bp Yusdianto selaku pengampu pawiyatan Keraton Surakarta. Peneliti mengambil informan yang memiliki potensi di bidang Adat Jawa khusunya gagrak Surakarta karena akan menggali informasi mengenai Dodot, nama-nama dodot, cara pemakaian dodot, serta makna simboliknya.

3. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode penyuntingan naskah tunggal dengan edisi standar. Analisis data akan diolah sesuai dengan teori tahapan/langkah kerja penelitian filologi. Langkah kerja penelitian filologi menurut Edwar Djamaris yakni mulai dari penentuan sasaran penelitian, inventarisasi naskah, observasi pendahuluan dan deskripsi naskah,

(32)

transliterasi naskah, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik, dan terjemahan. Pada naskah tunggal langkah kerja perbandingan naskah dan dasar-dasar penentuan naskah yang akan ditransliterasi tidak diperlukan. Sedangkan yang dimaksud edisi standar (biasa) adalah penyunting mengidentifikasi sendiri bagian dalam teks yang terdapat permasalahan dan menawarkan jalan keluar.

Robson (1994: 25) menyebutkan jalan keluar dalam metode standar, antara lain: 1) Apabila penyunting merasa bahwa ada kesalahan dalam teks, peneliti dapat memberikan tanda yang mengacu pada aparatus kritik dan menyarankan bacaan yang lebih baik, 2) Jika terdapat teks yang salah, penyunting dapat memasukkan koreksi ke dalam teks tersebut dengan tanda yang jelas yang mengacu pada aparatus kritik dan bacaan asli akan didaftar dan ditandai sebagai “naskah”.

Metode standar digunakan karena isi naskah dianggap sebagai cerita biasa, bukan cerita yang dianggap suci atau penting dari sudut pandang agama atau bahasa, sehingga tidak perlu diperlakukan secara khusus atau istimewa. Menurut Edwar Djamaris (2002: 24), hal-hal yang perlu dilakukan dalam edisi standar, yaitu mentransliterasi teks, membetulkan kesalahan dalam teks, membuat catatan perbaikan atau perubahan, memberi komentar atau tafsiran, membagi teks dalam beberapa bagian dan menyusun daftar kata sukar.

Tahap akhir dari analisis data dengan mengungkapkan isi yang terkandung dalam teks naskah Bab Dodotan, kandungan isi dalam Bab Dodotan lebih menekankan pada pengertian busana dan cara pemakaian

(33)

dodotserta macam dan fungsi. Didukung dengan data penunjang, yakni buku-buku, artikel-artikel, majalah-majalah, makalah-makalah, akses internet dan lain-lain.

(34)

H. Sistematika Penulisan Bab I

Pendahuluan

Bab ini merupakan uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,kajian pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II

Analisis Data

Analisis Data merupakan bagian dari pemaparan hasil analisis dari permasalahan

yang dibahas dalam penelitian, yaitu mengenai Kajian Filologi,

mencakup;Inventarisasi Naskah, Deskripsi Naskah, Alih aksara, Terjemahan, Kritik Teks, Suntingan teks dan Aparat Kritik. Dan Kajian Isi membahas mengenai isi dari Naskah Bab Dodotan yang disertai dengan data wawancara.

Bab III Penutup

Berisi kesimpulan dan saran, pada bagian akhir dicantumkan daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar istilah dalam naskah Bab Dodotan

Figur

Gambar 1: Nomor katalog lokal Museum Sonobudaya

Gambar 1:

Nomor katalog lokal Museum Sonobudaya p.4
Gambar 2: Judul Naskah

Gambar 2:

Judul Naskah p.4
Gambar 4:  Naskah korup  (Sumber: Bab Dodotan, hlmn 2)

Gambar 4:

Naskah korup (Sumber: Bab Dodotan, hlmn 2) p.6
Gambar 3: Cap Panti Budaya

Gambar 3:

Cap Panti Budaya p.6
Gambar 6: Lakuna   (sumber: Bab Dodotan hlmn 1)

Gambar 6:

Lakuna (sumber: Bab Dodotan hlmn 1) p.7
Gambar 8: hiperkorek  (smbr: Bab Dodotan hlmn 5)

Gambar 8:

hiperkorek (smbr: Bab Dodotan hlmn 5) p.8
Gambar 9: Teks korup

Gambar 9:

Teks korup p.9
Gambar 10: Interpolasi  (sumber: Bab Dodotan hlmn 1)

Gambar 10:

Interpolasi (sumber: Bab Dodotan hlmn 1) p.10
Gambar 11: interpolasi

Gambar 11:

interpolasi p.11
Gambar 12: Ketidakkonsistenan dalam penulisan  (smbr: Bab Dodotan, hlmn 9)

Gambar 12:

Ketidakkonsistenan dalam penulisan (smbr: Bab Dodotan, hlmn 9) p.12
Gambar 14: Pembetulan dengan pemberian dua sandhangan  (Smbr: Bab Dodotan hlmn 1)

Gambar 14:

Pembetulan dengan pemberian dua sandhangan (Smbr: Bab Dodotan hlmn 1) p.13
Gambar 13: Ketidakkonsistenan penggunaan aksara murda.

Gambar 13:

Ketidakkonsistenan penggunaan aksara murda. p.13
Gambar 16: Maksud dari kata yang diberi kode (1)  (smbr: Bab Dodotan bagian verso)

Gambar 16:

Maksud dari kata yang diberi kode (1) (smbr: Bab Dodotan bagian verso) p.14
Gambar 15: Kode angka arab (1)  (smbr: Bab Dodotan hlmn 1)

Gambar 15:

Kode angka arab (1) (smbr: Bab Dodotan hlmn 1) p.14
Gambar 17: Cap penanda bagian

Gambar 17:

Cap penanda bagian p.15

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :