DAFTAR ISI. BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

Teks penuh

(1)

xi DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM ... i PERSYARATAN GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERSYARATAN BEBAS PLAGIAT ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

RINGKASAN ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 5 1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Tanaman Pletekan ... 7

2.2 Manfaat Pletekan ... 8

2.3 Metabolisme Sekunder Pletekan ... 9

2.4 Penelitian Mengenai Pemanfaatan Daun Peletekan ... 10

2.5 Diabetes ... 11

2.6 Biologi Tikus ... 16

2.7 Fisiologi Kerja Hepar ... 18

2.8 Enzim SGOT dan SGPT ... 19

2.9 Aloksan ... 20

BAB III. KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir ... 21

3.2 Konsep Penelitian ... 23

3.3 Hipotesis ... 24

BAB IV. METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian ... 25

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 26

4.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 26

(2)

xii

4.4.1Populasi ... 26

4.4.2 Sampel... 26

4.4.3 Teknik penentuan sampel ... 27

4.5 Variabel Penelitian ... 27

4.5.1 Identifikasi dan klasifikasi variable ... 27

4.6 Parameter Penelitian ... 27

4.7 Bahan Penelitian ... 28

4.8 Instrumen Penelitian ... 28

4.9 Prosedur Penelitian ... 29

4.9.1 Pembuatan ekstrak ... 29

4.9.2 Aklimatisasi hewan perobaan ... 29

4.9.3 Perlakuan dan perhitungan kadar gula darah ... 30

4.9.4 Analisis pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT ... 30

4.9.5 Pembuatan sayatan histologi hepar ... 31

4.9.6 Proses kromatografi kolom ... 32

4.9.7 Kromatografi lapis tipis ... 33

4.9.8 Uji fitokimia ... 34

4.9.9 Analisis Kromatografi Gas Chromatography- Spectroscopy Massa (GC-MS) ... 35

4.10 Analisis Data ... 36

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengukuran Gula Darah ... 37

5.2 Pengukuran SGOT dan SGPT ... 40

5.3 Pengamatan Gambaran Histologi Hepar ... 43

5.4 Analisis Senyawa Ekstrak Etanol Daun Pletekan dengan KLT ... 48

5.5 Identifikasi Senyawa Aktif Ekstrak Etanol Daun Pletekan ... 49

5.5.1 Uji fitokimia ... 49

5.5.2 Analisis Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (GC-MS) ... 51

BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan ... 57

6.2 Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 58

(3)

viii ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian mengenai efektivitas ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar SGOT, SGPT dan gambaran histologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan. Penelitian dilaksanakan selama bulan Maret - April 2016. Pelaksanaan penelitian meliputi pemeliharaan hewan uji dan pemberian perlakuan serta pengukuran gula darah di ruang pemeliharaan hewan coba, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Pengukuran SGOT dan SGPT pada tikus dilakukan di Laboratorium Kesehatan Provinsi Bali. Fraksinasi kromatografi kolom dan KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dilakukan di Laboratorium Sumber Daya Genetika dan Biologi Molekuler Pascasarjana, Universitas Udayana. Pembuatan preparat gambaran histologi hepar dilakukan di Balai Besar Veteriner (BBVET) Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas ekstrak etanol daun pletekan terhadap kadar SGOT dan SGPT, gambaran histologi hepar tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) serta mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung di dalam ekstrak etanol daun pletekan. Data yang diperoleh diuji dengan ANOVA, jika ada perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Analisa data dengan menggunakan SPSS versi 22.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pletekan mampu menurunkan kadar gula darah, berpengaruh terhadap penurunan kadar SGOT namun belum pada kadar SGPTnya. Gambaran histologi hepar terlihat membaik setelah pemberian ekstrak etanol daun pletekan. Diperoleh 4 senyawa aktif yang teridentifikasi dari ekstrak etanol daun pletekan dengan GC-MS yaitu Hexadecanamide, 9-Octadecenamide, (Z)-, Octadecenamide dan 1,2-Benzenedicarboxylic acid.

(4)

ix ABSTRACT

A research has been done on “The Effectiveness of the ethanol extract of the leaves pletekan (Ruellia tuberosa L.) against SGOT, SGPT and liver histology rat (Rattus norvegicus) which is induced by alloxan”. The research was conducted during the month of March-April 2016. The implementation of the study covering the maintenance and the treatment of animal test also the measurement of glucose have done in animal maintenance room, Program of Biology, Faculty of MIPA, University of Udayana Bukit Jimbaran. Measurement of AST and ALT in mice conducted at the Bali Provincial Health Laboratory. Fractionation column chromatography and TLC (Thin Layer Chromatography) has conducted in Laboratorium Resources Graduate Genetics and Molecular Biology, University of Udayana. Making preparations for liver’s histology perfomed in Great Hall Veterinary (BBVET) Denpasar. This study aims to determine the effectiveness of ethanol extract of leaves pletekan against SGOT and SGPT, liver’s histology strain Wistar male rats (Rattus norvegicus) and to identify the active compounds which is contained in the ethanol extract of the leaves pletekan. The data obtained is tested with ANOVA if there is difference between the treatment proceed, it will continue with DUNCAN test. The data is analyzed by using SPSS 22 version.

The results of this research showed that the ethanol extract of the leaves pletekan can lower blood sugar level, influence the reduction in SGOT but at SGPT level is not able yet. Four active compounds which identified from the ethanol extract of the leaves pletekan with GC-MS are Hexadecanamide, 9-Octadecenamide, (Z) -, Octadecenamide and 1,2-Benzenedicarboxylic acid. Key words: pletekan leave, SGOT, SGPT, male rats, active compound.

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perubahan pola hidup masyarakat Indonesia seperti pola makan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit. Salah satu penyakit yang muncul karena kebiasaan pola hidup yang kurang baik dan sering dikatakan penyakit keturunan adalah diabetes mellitus. Baik usia tua maupun muda dapat menderita penyakit diabetes mellitus (DM) karena makanan dan minuman yang dikonsumsi secara praktis atau instan. Pada tahun 2009 jumlah penduduk Indonesia yang mengidap diabetes mellitus sekitar 8 juta orang (menurut data WHO) dan akan meningkat menjadi lebih dari 21 juta jiwa pada tahun 2025 mendatang (Russel, 2011).

Diabetes mellitus disebabkan karena kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesa lemak (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005; Syamsudin, et al., 2010). Akibatnya kadar glukosa meningkat di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya dieksresikan lewat kemih (glikosuria) tanpa digunakan. Karena itu, produksi kemih sangat meningkat dan mengakibatkan penderita sering mengeluarkan air seni, merasa sangat haus, menurunnya berat badan dan berasa lelah (Tjay dan Rahardja, 2007).

Diabetes mellitus menurut Leslie (1993) merupakan gejala yang timbul pada seseorang, ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif

(6)

2

diabetes pada tikus dapat dilakukan dengan induksi aloksan. Aloksan merupakan senyawa kimia (2,4,5,6-tetraoksipirimidin; 5,6-dioksiurasil) yang bekerja secara spesifik sehingga dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel β pankreas. Mekanisme kerja aloksan di dalam merusak pankreas terjadi dengan cara pembentukan senyawa oksigen reaktif yang membentuk radikal superoksida melalui siklus redoks. Melalui siklus redoks akan terbentuk hidroksil yang sangat reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan sel-sel beta pankreas secara cepat (Kardi dkk., 2010).

Penderita diabetes mellitus biasanya mengobati penyakitnya dengan mengkonsumsi obat sintetik yang memiliki banyak efek samping seperti glibenklamid, metformin. Pengobatan dan pemeliharaan kesehatan diabetes mellitus membutuhkan biaya yang mahal terutama pada penderita yang disertai komplikasi klinis, hal ini mendorong sebagian masyarakat untuk mencari alternatif yang lebih aman, memberikan efek samping yang relatif rendah, serta mudah didapat yaitu dengan cara memanfaatkan tanaman obat tradisional (Kirtishanti, 2004). Akan tetapi, kecenderungan pemakaian obat sintetik ini telah banyak berubah. Penderita diabetes mellitus lebih menyukai pemakaian obat tradisional dan obat-obatan dari tumbuhan daripada obat-obatan sintetik. Hal ini disebabkan karena pemanfaatan bahan yang bersifat alami relatif lebih aman daripada bahan buatan (sintetik) (Leslie, 1993).

Pengobatan secara tradisional seperti memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat merupakan pengobatan yang telah diakui masyarakat dunia dan menandai kesadaran kembali ke alam (back to nature) untuk mencapai kesehatan yang

(7)

3

optimal dan mengatasi berbagai penyakit secara alami (Wijayakusuma, 2002). Banyak penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan ekstrak dari tanaman. Menurut Katno et al. (2011) penggunaan ekstrak etanol daun teh dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih berbeda secara nyata dibandingkan kontrol negatif dan sebanding dengan kontrol positif dengan pemberian dosis ekstrak etanol daun teh sebesar 72; 144; 288 dan 576 mg/200g BB.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kawatu et al. (2012) tentang efek pemberian ekstrak etanol daun kucing-kucingan (Acalypha indica L.) terhadap kadar gula darah tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi sukrosa, menunjukkan daun kucing-kucingan dengan dosis 3,15 g/kgBB, 6,3 g/kgBB, dan 12,6 g/kgBB memiliki efek menurunkan kadar gula darah tikus putih jantan galur wistar.

Dipa, dkk. (2015) melaporkan bahwa ekstrak daun sukun (Artocarpus communis Forst.) mampu menurukan kadar glukosa darah dan konsentrasi paling efektif yaitu dengan perlakuan ekstrak daun sukun dosis 100 mg/kg bb yang diberikan selama 21 hari dengan efektifitas sebesar 66,77 %. Penelitian oleh Verdayanti (2009) tentang pengaruh pemberian jus buah kersen (Muntingia calabura) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus norvegicus) diperoleh bahwa bahan aktif antidiabetes dapat berupa zat-zat seperti asam askorbat, fiber, betakaroten, riboflavin, tiamin dan niacin.

Aziza (2010) menyatakan bahwa pada organ hati, usus halus, dan limpa model diabetes dengan gula darah yang menurun menunjukkan adanya perbaikan gambaran histomorfologis hingga mendekati gambaran pada kelompok

(8)

non-4

diabetes pada tikus hiperglikemia yang diberi ekstrak sambiloto. Sambiloto memiliki famili yang sama dengan pletekan (Ruellia tuberosa L.) yaitu dari famili Achantaceae sehingga herba pletekan (Ruellia tuberosa L.) diduga berkhasiat sebagai antidiabetik (Poerwandari et al, 2002).

Salah satu penyebab kerusakan hepar yaitu karena pengobatan diabetes mellitus. Tanda-tanda umum biokimiawi dari kerusakan hepar adalah adanya peningkatan aktivitas beberapa enzim seperti SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dalam darah. Selain untuk obat tentu saja ekstrak etanol daun tanaman pletekan (Ruellia tuberosa L.) diharapkan tidak mengganggu fungsi organ lain seperti hepar karena hepar merupakan organ pertama yang akan menangkap radikal bebas yang ditimbulkan akibat obat yang digunakan atau komplikasi yang terjadi.

Menurut Ardiani (2008) Kadar SGOT dan SGPT tikus diabetes mellitus (DM) mengalami penurunan setelah pemberian 3,2 mg ekstrak air daun ceplikan (Ruellia tuberosa L.) dan histopatologi organ hepar juga normal. Anggari (2014) juga melaporkan bahwa ekstrak herba pletekan (Ruellia tuberosa L.) mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes mellitus walaupun secara tidak signifikan. Rajan et al. (2009) juga menyatakan bahwa pemberian ekstrak methanol daun R. tuberosa L. pada tikus yang diinduksi aloksan memiliki efek antidiabetes, antihiperlipodemik dan hepatoprotektor.

Bermacam pelarut kimia dapat digunakan karena sifat dari masing-masing pelarut berbeda, jenis dari pelarut yang digunakan akan menentukan jenis senyawa yang terlarut. Pelarut yang digunakan tergantung dari polaritas senyawa

(9)

5

(hukum like dissolves like). Senyawa nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar, senyawa semipolar larut dalam pelarut semipolar dan senyawa polar larut dalam pelarut polar. Dalam penelitian ini pelarut yang akan digunakan adalah etanol.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang efektifitas ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar SGOT, SGPT dan gambaran histologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana efektivitas ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus)?

2. Bagaimana gambaran histologi hepar tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) DM yang diberi ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.)?

3. Senyawa aktif apa sajakah yang terkandung dalam ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.)?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan :

1. Mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus).

(10)

6

2. Melihat gambaran histologi hepar tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) DM yang diberi ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.).

3. Mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung di dalam ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.).

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efektifitas ekstrak etanol daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar SGOT, SGPT dan gambaran histologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan sehingga dapat dijadikan obat herbal yang aman dikonsumsi dan mengurangi penggunaan obat-obat kimia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :