BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tidak ada keputusan ekonomi yang dibuat tanpa mempengaruhi. berdampak pada perekonomian.

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Ekonomi Lingkungan

1. Ekonomi dan Lingkungan

Bahasan mengenai ekonomi lingkungan berangkat dari logika sederhana bahwa lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari ekonomi. Perubahan di salah satunya akan mempengaruhi lainnya. Tidak ada keputusan ekonomi yang dibuat tanpa mempengaruhi lingkungan, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan artifisial. Begitu pula sebaliknya, setiap perubahan lingkungan pasti akan berdampak pada perekonomian.

Turner et al., (1994) mengatakan bahwa sistem ekonomi dunia yang telah memberikan semua barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia modern saat ini, tergantung dan tidak dapat beroperasi tanpa dukungan dari lingkungan ekologis, hewan, tumbuhan, dan hubungan kesalingtergantungannya (disebut juga sebagai biosphere) (Turner, et al.,1994:1).

Senada dengan itu, Hussein (2004) juga menyatakan bahwa ekonomi memiliki ketergantungan terhadap lingkungan alam, bahkan dalam hal memenuhi kebutuhan bahan mentah, pembuangan limbah sisa, dan fasilitas-fasilitas penunjang kehidupan, ekonomi sepenuhnya tergantung pada lingkungan alam (Hussein, 2004: 3).

(2)

Tietenberg (2006) melihat bahwa hubungan ekonomi dengan lingkungan mempunyai kesesuaian dengan hukum thermodynamics pertama – energy dan zat tidak bisa dibuat atau dihancurkan. Artinya jumlah material yang masuk ke dalam perekonomian akan terakumulasi dalam sistem atau kembali ke lingkungan sebagai buangan (Tietenberg, 2006:15).

Field (2006) merangkumkan hubungan ekonomi dengan lingkungan dengan menyatakan bahwa sistem perekonomian berada di dalam, dan dilingkupi oleh alam (Field,2006: 22). Jika digambarkan, secara sederhana hubungan tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 2.1

Skema Hubungan Ekonomi dengan Lingkungan Alam

Notasi (a) Mewakili aliran dari bahan mentah yang masuk ke sistem perekonomian. Kajian mengenai lingkungan dalam fungsinya sebagai penyedia bahan mentah disebut dengan ekonomi sumber daya alam. notasi (b) menggambarkan aliran residu dari aktivitas perekonomian yang berdampak pada kualitas lingkungan. Kajian

(3)

mengenai aliran residu perekonomian dan dampak yang dihasilkannya pada lingkungan merupakan kajian yang disebut ekonomi lingkungan (Field, 2006: 23).

Sekat pemisah antara ekonomi sumber daya alam dan ekonomi lingkungan seringkali masih sangat kabur. Untuk memperjelasnya, uraian dari Field, 2006 bisa dijadikan acuan (Field, 2006: 23).

1.1Ekonomi Sumber Daya Alam

Ilmu ekonomi sumber daya alam adalah aplikasi dari prinsip ekonomi dalam mengkaji tentang upaya ekstraksi dan pemanfaatan sumber daya alam. Ekonomi sumber daya alam melingkupi (Field, 2006:21):

(a) Ilmu ekonomi mineral: Berapa tingkat ekstraksi bijih mineral yang tepat untuk ditambang? Bagaimana eksplorasi dan angka cadangan merespon tingkat harga?

(b) Ilmu ekonomi kehutanan: Berapa tingkat pemanfaatan hasil hutan yang tepat? Bagaimana kebijakan pemerintah mempengaruhi mempengaruhi tingkat pemanfaatan hasil hutan oleh perusahaan penebangan kayu?

(c) Ilmu ekonomi bahari: Aturan macam apa saja yang bisa dibuat untuk mengelola penangkapan ikan? Bagaimana perbedaan tingkat penangkapan ikan mempengaruhi persediaan ikan?

(4)

(d) Ilmu ekonomi pertanahan: Bagaimana orang-orang di sektor swasta membuat keputusan terkait dengan pemanfaatan tanah? Bagaimana hukum hak kepemilikan properti dan tata guna lahan mempengaruhi alokasi ruang yang diperuntukan untuk berbagai penggunaan?

(e) Ilmu ekonomi energi: Berapa tingkat ekstraksi sumber daya minyak yang tepat? Seberapa sensitive penggunaan energy terhadap perubahan dalam harga komoditas energi?

(f) Ilmu ekonomi perairan: Bagaimana perbedaan hukum pemanfaatan atas air mempengaruhi cara pemanfaatan air oleh komunitas-komunitas yang berbeda?

(g) Ilmu ekonomi pertanian: Bagaimana para petani membuat keputusan mengenai penerapan aplikasi konservasi lingkungan dalam mengolah lahan mereka? Bagaimana program pemerintah mempengaruhi pilihan petani dalam mengambil keputusan tanaman panenan apa yang diusahakan dan bagaimana untuk mengolahnya?

Cabang-cabang dari ilmu ekonomi sumber daya alam tersebut biasa dibedakan ke dalam dua golongan: (1) golongan sumber daya terbarukan: sumber daya kehidupan, seperti perikanan, kehutanan, dan pertanian. (2) sumber daya tak terbarukan: sumber daya yang tidak bisa atau tidak memiliki

(5)

proses untuk penambahan (replenishment), seperti mineral dan minyak bumi.

1.2Ekonomi Lingkungan

Aktivitas perekonomian bisa dibagi ke dalam dua kelompok besar, produksi dan konsumsi. Produksi dan konsumsi menghasilkan residu (sisa), baik yang berupa material, gas, maupun energi. Residu yang dikeluarkan akan masuk kembali ke lingkungan alam. Fokus dari ekonomi lingkungan adalah pada aliran residu dari aktivitas perekonomian dan pengaruhnya pada kualitas lingkungan alam (Field,2006: 21).

2. Lingkungan Sebagai Aset Ekonomi dan Sosial

Dalam ekonomi lingkungan dilihat sebagai asset gabungan yang menyediakan berbagai jasa. Lingkungan dianggap sebagai asset yang khusus, hal ini karena lingkungan menyediakan sistem pendukung kehidupan yang menyokong keberadaan manusia baik secara langsung maupun sebagai penyedia bahan mentah (Tietenberg, 2006: 14-15).

Sumber daya alam sebagai input diakui sebagai faktor penting dalam ekonomi produksi. Begitu juga kualitas lingkungan, kualitas lingkungan bisa dianggap sebagai aset produktif bagi masyarakat. Produktifitas lingkungan alam bergantung pada kemampuannya untuk mendukung dan mensejahterahkan kehidupan manusia, atau bisa juga dalam kerangka mencerna dan memberikan

(6)

sumbangan untuk meminimisasi dampak produk buangan dan bahaya lingkungan.

Kualitas aset lingkungan dipengaruhi secara langsung oleh kuantitas dan tipe residual yang dihasilkan perekonomian. Dalam kerangka mengenai adanya konsep trade-off antara output ekonomi dan kualitas lingkungan bisa dijelaskan menggunakan kurva kemungkinan produksi – Production Possibility Curves (PPC) seperti dalam gambar 2.1 (Field,2006: 30).

Gambar 2.2 PPC

Kurva PPC menggambarkan dua variasi kombinasi yang bisa diproduksi oleh masyarakat dengan tingkat teknologi dan sumber daya tertentu. Dalam gambar 2.2 garis vertikal merupakan indeks dari output berupa barang ekonomi yang diperdagangkan. Garis horizontal merupakan indeks kualitas lingkungan yang diturunkan dari data pada berbagai dimensi keadaan lingkungan. Sebagi contoh, pada tingkat

(7)

produksi barang yang diperdagangkan di pasar sebesar kualitas lingkungan akan berada di tingkat , pada tingkat produksi yang lebih rendah ( ) kualitas lingkungan akan berada pada level yang lebih tinggi ( ). Keadaan ideal yang menjadi tujuan dari setiap komunitas masyarakat adalah merubah PPC hingga trade-off yang terjadi lebih menguntungkan (Field,2006:30).

Dalam mengukur output ekonomi agregat biasnya pengukuran hanya dilakukan pada kuantitas barang pasar. Hal ini terjadi karena barang pasar mudah untuk dihitung nilai agregatnya. Kualitas lingkungan pada umumnya bukan merupakan barang pasar (non-market), karena kualitas lingkungan tidak diperdagangkan secara langsung dimana harga bisa dilihat.

B. Alat Analisis

1. Willingness To Pay (WTP)

Alat analisis yang digunakan untuk melakukan penilaian kualitas lingkungan memiliki ide dasar sederhana dengan logika bahwa setiap individu pasti mempunyai nilai preferensi (kesukaan) untuk barang atau jasa. Permasalahannya adalah bagaimana membuat ide tentang preferensi yang masih abstrak ini menjadi tampak jelas?

Untuk melihat makna nilai kesukaan lebih jelas, maka perlu dilakukan simplifikasi dimana konsep nilai kesukaan ini disempitkan hingga bisa ditarik kesimpulan bahwa: nilai kesukaan individu atas suatu barang atau jasa adalah setara dengan nilai kerelaan dan

(8)

kesanggupan dari individu tersebut untuk berkorban demi barang atau jasa tersebut. Dengan demikian konsep ini dinamakan willingness to pay (WTP) yang artinya kira-kira kerelaan untuk membayar (Field, 2006: 43)

Hal yang perlu diperhatikan dalam melihat nilai W TP adalah bagaimana membedakan nilai total dan nilai marginal dari W TP. Nilai marginal WTP adalah nilai W TP terhadap pertambahan satu unit konsumsi atas barang atau jasa. Nilai total W TP adalah jumlah nilai WTP dari sejumlah unit barang yang dikonsumsi oleh individu.

Nilai marginal dari WTP memperlihatkan penurunan setiap ada penambahan satu unit barang yang dikonsumsi, bentuk kurva yang menurun ini biasa disebut kurva permintaan. “Kurva permintaan individu memperlihatkan jumlah dari barang dan jasa yang individu tersebut mungkin minta (beli dan konsumsi) dalam berbagai tingkat harga” (Field, 2006:45).

Jadi kurva permintaan individu atau kurva marginal WTP merupakan rangkuman dari perilaku konsumsi individu dan kemampuan individu untuk konsumsi barang tersebut. Dengan demikian kurva permintaan individu akan berbeda untuk setiap individu, tergantung dari nilai kesukaan (preferensi) dan selera dari tiap-tiap individu. Selera setiap individu akan tergantung dari banyak hal, seperti keadaan psikologi, sejarah pribadi, dan banyak hal lain

(9)

yang sulit dijelaskan. Dengan demikian ada kemungkinan nilai W TP berbeda-beda meskipun dalam individu yang sama.

WTP yang dijelaskan dimuka adalah W TP individu. Dalam kasus WTP yang digunakan sebagai dasar untuk kebijakan publik, penilaian kualitas lingkungan atau estimasi dari perilaku sebuah kumpulan, WTP yang digunakan adalah WTP agregat.

Untuk melihat bagaimana melakukan agregasi atas nilai WTP individu maka bisa dilihat dalam contoh sederhana berikut.

Gambar 2.3

Permintaan Agregat/ Kurva Willingness To Pay Marginal

Dalam sebuah kelompok terdapat tiga orang individu A, B, dan C. Dengan tingkat harga sebesar $15 maka perm intaan individu A adalah 4 unit, permintaan individu B adalah 0 dan individu C adalah 3. Nilai agregat dari semua individu pada tingkat harga $15 adalah 7 unit. Pada tingkat harga $8 maka permintaan individu A adalah 10 unit, individu B adalah 6 unit, dan individu C adalah 8 unit. Nilai agregat ketiga individu pada tingkat harga $8 adalah 24. Dengan

(10)

menghubungkan titik permintaan agregat pada harga $15 dan $8 maka didapatkan kurva permintaan agregat (Field,2006: 48).

2. Benefit

Benefit (manfaat) adalah istilah teknis yang sering dipakai ekonom untuk mengambarkan keadaan yang lebih baik. Contoh, ketika kualitas lingkungan lebih baik maka masyarakat akan disebut menerima manfaat, sebaliknya ketika keadaan leb ih buruk maka bisa dimaknai bahwa nilai manfaat dari kualitas lingkungan mengalam i pengurangan (Field, 2006: 48).

Permasalahannya adalah bagaimana mengungkapkan nilai benefit secara jelas dan terukur? Sifat antroposentris ilmu ekonomi menjadikan pengukuran nilai benefit atas sesuatu diukur dari sudut pandang manusia (individu), dengan demikian alat ukurnya adalah kesediaan membayar (willing to pay) atau berkorban untuk menikmati sesuatu atau menghindari sesuatu. Dengan kata lain nilai benefit yang didapatkan sesorang atas sesuatu setara dengan jumlah yang mau mereka bayarkan untuk menikmati sesuatu tersebut.

(11)

Gambar 2.4

Willingness To Pay dan Nilai Benefit

Untuk lebih jelasnya hubungan konsep manfaat dan WTP bisa digambarkan dengan contoh berikut. Ada dua kurva permintaan untuk suatu barang. Manfaat yang ingin dilihat adalah manfaat ketika ada tambahan kuantitas dari Q1 ke Q2. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa manfaat diukur dengan WTP, dan Total W TP adalah area di bawah kurva perm intaan. Ketika ada penambahan kuantitas sebesar selisih (Q2-Q1) maka manfaat tambahan yang didapat oleh kurva permintaan yang berada di bawah adalah area b, dan manfaat total adalah area a+b (Field, 2006: 49).

Keadaan diatas beralasan secara logika, dimana individu yang memiliki kurva permintaan tinggi akan memiliki kerelaan untuk berkorban yang lebih tinggi dibanding dengan individu yang memiliki kurva perm intaan rendah karena manfaat yang dirasakan oleh individu yang memiliki kurva permintaan tinggi dibandingkan dengan manfaat

(12)

yang dirasakan oleh individu yang memiliki kurva permintaan lebih rendah.

3. Cost

Pendekatan yang digunakan untuk mengestimasi cost (biaya) atas suatu proyek atau kebijakan publik akan berbeda dengan pendekatan yang digunakan oleh sektor swasta. Pada sektor swasta cost didapatkan dengan cara yang merefksikan semua pengeluaran langsung yang berkaitan dengan implementasi dan operasi dari proyek tersebut. Pada sektor publik, nilai cost yang terkur merupakan nilai atas kesempatan yang hilang. Selain itu, biaya dan internal dan eksternal dari proyek harus dimasukan, tetapi tetap dalam kerangka opportunity cost (Hussein, 2004: 182).

C. Analisis Lingkungan 1. Framework

1.1 Analisa Dampak

a. Analisa Dampak Lingkungan

Analisa dampak lingkungan pada intinya merupakan identifikasi dan kajian mengenai semua reaksi lingkungan yang diakibatkan oleh sebuah kebijakan atau proyek. Analisa dampak lingkungan tidak terbatas pada dampak secara ekologis saja, tetapi juga dampak ekonomi (Field,2006: 110).

(13)

b. Analisa Dampak Ekonomi

Fokus dari analisa dampak ekonomi adalah penelusuran dampak ekonomi dari program publik dan pengaruhnya terhadap berbagai variable ekonomi (Field, 2006: 111).

c. Analisa Dampak Kebijakan

Analisa dampak kebijakan memfokuskan kajiannya pada identifikasi dan estimasi secara komprehensif dan sistematis atas segala dampak yang diakibatkan dari sebuah kebijakan (Field, 2006:112).

1.2 Cost Effectiveness Analysis

Cost Effectiveness Analysis dilakukan untuk mengestimasi biaya dari berbagai alternatif yang berbeda dengan tujuan melakukan perbandingan diantara berbagai alternatif tersebut (Field,2006:112).

1.3 Damage Assesment

Tujuan dari damage assestment adalah untuk mengestimasi nilai dari kerusakan sumber daya, dengan demikian hasil dari penilaian tersebut bisa dijadikan sumber data untuk proses recovery(Field, 2006:114).

1.4 Benefit-Cost Analysis

Analisis Benefit-Cost(B/C) di sektor publik adalah padanan dari analisis laba-rugi di sektor swasta. Alat analisis ini d igunakan

(14)

untuk membantu pembuatan kebijakan publik yang memiliki output dan atau input non-market.

Dalam kerangka kerja analisis BC ada 4 tahap inti yang tidak bisa dilewatkan (Field,2006: 116):

1. Menentukan secara jelas proyek atau program

2. Menjelaskan secara kualitatif input dan output dari program atau proyek

3. Mengestimasi biaya sosial dan manfaat dari input dan output tersebut

4. Membandingkan benefitdan cost 2. Benefit-Cost Analysis: Benefit

2.1 Fungsi Kerusakan: Aspek Fisik

Ketika terjadi penurunan kualitas lingkungan atau kerusakan lingkungan, nilai manfaat dari kualitas lingkungan akan tercermin dari nilai yang dikeluarkan untuk upaya perbaikan kembali atau penjagaan kualitas linkungan pada tingkat yang diinginkan (Field, 2006: 136).

2.2 Pengukuran Kerusakan

a. Dose Response Method: Metode ini diaplikasikan dengan menghubungkan data fisiologis manusia dan hewan dengan tekanan berupa polusi. Contohnya: level polusi tertentu dihubungkan dengan dengan perubahan dalam output, lalu

(15)

perubahan output tersebut dinilai dengan harga pasar atau harga bayangan (Turner et al.,1994: 114).

b. Replacement Cost: Teknik valuasi dari pendekatan ini dilakukan dengan penilaian pasar mengenai biaya yang dibutuhkan untuk restore (penempatan kembali) atau recovery

(penyembuhan) atas kerusakan lingkungan (Hussein, 2004: 149).

c. Mitigation Behaviour: Upaya pelembutan dampak ini diukur dengan harga pasar melalui observasi terhadap upaya antisipasi atas dampak lingkungan (Turner, et al., 1994: 116).

d. Opportunity Cost: Tidak ada usaha langsung yang dibuat untuk menilai manfaat lingkungan dengan metode ini selain nilai manfaat dari aktivitas, program, atau proyek akan member

peluang terjadinya kerusakan lingkungan (Turner et al.,1994: 116).

3. Willingness To Pay

Pada dasarnya, ada tiga jalan yang bisa digunakan dalam mengungkap nilai willingness to pay seseorang atas perbaikan kualitas lingkungan (Field, 2006: 142):

1. Melihat berapa besar pengeluaran seseorang untuk mengurangi dampak dari buruknya kualitas lingkungan terhadap dirinya. Artinya pengeluaran itu juga bisa menggambarkan kesediaan

(16)

seseorang untuk menikmati kualitas lingkungan yang lebih baik.

2. Melihat nilai pasar dari barang atau jasa yang berada di dua pasar dengan kualitas lingkungan berbeda. Kualitas lingkungan yang lebih baik cenderung meningkatkan nilai pasar. Nilai dari peningkatan inilah yang menggambarkan kesediaan seseorang untuk membayar perbaikan kualitas lingkungan.

3. Kedua cara diatas merupakan pendekatan tidak langsung dari penaksiran WTP. Untuk cara ketiga adalah pendekatan langsung yang dilakukan dengan survei atau menanyakan langsung kesediaan seseorang untuk menikmati perubahan kualitas lingkungan.

4. Willingness To Pay: Cara Tidak Langsung

4.1 Travel Cost Method: Logika dari metode ini sangat sederhana, nilai manfaat dari suatu situs/ kawasan akan setara dengan biaya perjalanan yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengunjungi situs tersebut. Metode ini sering digunakan di sektor turisme (Turner et al., 1994: 116).

4.2 Hedonic Pricing Method: Dasar pemikiran dari metode ini adalah fakta bahwa kualitas lingkungan akan mempengaruhi secara langsung pada harga pasar dari barang atau jasa yang berkaitan dengan lingkungan tersebut. Metode ini umum digunakan di sektor properti (Turner et al., 1994: 120).

(17)

5. Willingness To Pay: Cara Langsung

Valuasi metode WTP dengan cara langsung dikenal sebagi Metode contingent valuation (CV). Metode ini termasuk di dalam metode penilaian langsung karena dilakukan dengan survei yang dicobakan untuk mengungkapkan respon seseorang secara moneter terhadap perubahan kualitas lingkungan (Tietenberg, 2006: 38) Pendekatan ini disebut penelitian contingent (tertentu) karena “metode ini mengupayakan agar seseorang menyatakan tentang bagaimana seseorang tersebut akan bertindak ketika dia

dihadapkan pada berbagai kemungkinan tertentu” (Field, 1994:148 dalam Irawan, 2001 : 10).

Metode CV didasarkan pada konsep sederhana dimana bila ingin mengetahui nilai atas sumber daya yang tidak memiliki nilai pasar, maka bisa dilakukan dengan bertanya mengenai nilai tersebut secara langsung (Field, 2006: 149). Metode CV biasa diterapkan pada penghitungan nilai lingkungan apabila teknik pasar tidak bisa digunakan dalam penghitungan nilai lingkungan (Dixon, 1996: 70 dalam Irawan 2001: 11). Berbeda dengan penghitungan nilai melalui nilai pasar, metode CV berkaitan dengan sebuah peristiwa hipotesis (hyphothetical event) tentang

peningkatan dan penurunan kualitas lingkungan (Irawan, 2001: 11).

(18)

Cara paling mudah dalam untuk melakukan metode CV adalah dengan bertanya mengenai nilai yang diberikan seseorang terhadap perubahan tertentu dalam kualitas lingkungan. Cara lain yang lebih kompleks dapat dilakukan dengan apakah seseorang mau membayar sejumlah Rp. X untuk perubahan tertentu dalam kualitas lingkungan (Tietenberg, 2006 : 39).

Pada dasarnya metode CV menilai perubahan tertentu dalam kualitas lingkungan dengan menanyakan dua jenis pertanyaan berikut (Field, 2006):

1. Apakah anda bersedia membayar (WTP) sejumlah Rp X tiap periode untuk memperoleh peningkatan kualitas lingkungan. 2. Apakah anda bersedia menerima (W TA) sejumlah Rp X

untuk kompensasi atas diterimanya kerusakan lingkungan Dalam Metode CV dikenal empat macam cara untuk mengajukan pertanyaan kepada responden (Fauzi, 2004 dalam Pramesi 2008: 77), yaitu:

1. Permainan lelang (bidding game), responden diberi pertanyaan secara berulang-ulang tentang apakah mereka ingin membayar sejumlah tertentu. Nilai ini kemudian bisa dinaikan atau diturunkan tergantung respon pada pertanyaan sebelumnya. Pertanyaan dihentikan sampai nilai yang tetap diperoleh.

(19)

2. Pertanyaan terbuka, responden diberikan kebebasan untuk menyatakan nilai moneter untuk suatu proyek perbaikan lingkungan.

3. Payment Card, nilai lelang dengan cara menyakan responden apakah mau membayar pada kisaran tertentu dari nilai yang ditentukan sebelumnya. Nilai in i ditunjukan kepada responden dengan kartu.

4. Model referendum tertutup, responden diberi suatu nilai rupiah, kemudian diberi pertanyaan setuju atau tidak.

Analisis dengan Metode CV memiliki kelebihan dalam fleksibilitas dan mudah untuk dilaksanakan untuk menilai

lingkungan yang memiliki cakupan sangat luas. (Field, 2006: 151). Tetapi disamping itu, metode CV juga

memiliki kesulitan tersendiri karena responden sangat potensial untuk memberikan jawaban yang bias baik berupa penilaian yang terlalu tinggi (upper estimate) maupun penilaian terlalu rendah (under estimate) terhadap perubahan kualitas lingkungan. Ada empat jenis bias yang mungkin ditimbulkan dari metode CV (Tietenberg,2006 : 39) :

1. Strategic bias, bias ini terjadi karena responden memiliki kepentingan khusus yang terkait dengan jawaban pertanyaan tersebut. Sehingga jawaban dari responden tidak menggambarkan penilaian sebenarnya melainkan penilaian

(20)

yang dipengaruhi motif untuk melindungki kepentingan mereka.

2. Information Bias, bias ini terjadi karena responden tidak memiliki pengetahuan memadai atau tidak punya pengalaman terkait dengan atribut yang ditanyakan dalam penelitian. Akibatnya jawaban responden tidak menggambarkan penilaian sebenarnya melainkan karena ketidaklengkapan informasi.

3. Starting-poin bias, bias ini terjadi karena instrumen survei yang digunakan untuk mewawancarai berupa rentang jarak kemungkinan yang sudah dikenal. Cara untuk menjelaskan rentang jarak yang tercermin dalam kuesioner akan sangat mempengaruhi jawaban dari responden. Rentang jarak Rp.0 sampai Rp. 100.000 mungkin akan menghasilkan respon yang berbeda jika dibandingkan dengan rentang jarak Rp. 10.000 sampai Rp. 100.000, meskipun sebenarnya tidak ada respon dalam rentang Rp. 0 sampai Rp.10.000

4. Hypothetical bias, bias ini terjadi karena pembangunan hipotesis perubahan kualitas lingkungan yang tidak sempurna sehingga rentan direspon secara tidak sempurna juga oleh responden.

Karena metode CV ini sangat rentan menimbulkan bias penilaian, maka satu-satunya cara untuk meminimalisasi bias

(21)

tersebut adalah melaui setiap tahapan yang harus metode CV ini dengan cermat hingga bisa diungkapkan nilai willingness to pay yang memiliki bias yang minim

6. Benefit Cost Analysis: Cost 6.1 Persepektif Biaya: Isu Umum

Analisis costbisa dilakukan dalam berbagai level kebijakan dan proyek. Level-level tersebut adalah (Field, 2006: 160-161): 1. Level komunitas tunggal atau proyek lingkungan tunggal, cost

pada level ini hanya didasarkan pada biaya dan spesifikasi pembangunan (engineering).

2. Level industri, penghitungan cost dalam level ini lebih rumit dibanding level sebelumnya. Hal ini disebabkan karena diperlukan prediksi dengan akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan atas bagaimana pihak industri akan bereaksi atas perubahan kebijakan mengenai lingkungan. 3. Level nasional, dalam level ini penghitungan cost sangat rumit

karena tingkat keterkaitan antar sektor sangat tinggi. Untuk mendapatkan nilai cost akan dibutuhkan data makro ekonomi dan model agregasi yang canggih dan kompleks (Field,2006: 162).

(22)

6.2 Konsep Biaya

a. Opportunity Cost, opportunity cost dari penggunaan sumber daya tertentu akan ditentukan oleh nilai kesempatan hilang tertinggi yang dimungkinkan jika sumber daya tersebut digunakan untuk alternatif kepentingan lain (Field, 2006: 163). b. Biaya Lingkungan, kebijakan pengurangan atau eliminasi

residu perekonomian sebenarnya merupakan sebuah bentuk pengalihan media, dengan kata lain ada sumber daya lain yang dikorbankan. Contohnya residu dari reaktor nuklir tidak bisa dikurangi atau dihilangkan, melainkan harus dinetralisasi dengan air selama ribuan tahun (Field, 2006: 163).

c. Biaya Pelaksanaan, kebijakan lingkungan tidak b isa berjalan sendiri. Ada sumber daya yang harus disediakan untuk

memastikan kelancaran kebijakan lingkungan (Field, 2006: 164).

D. Peneltian Sebelumnya

Aplikasi contingent valuation (CV) telah luas d igunakan dalam berbagai studi lingkungan, termasuk yang berkaitan dengan sektor transportasi perkotaan.

Wipulanusat dan Herabat (2007) memanfaatkan aplikasi CV untuk melihat preferensi masyarakat atas perbaikan kualitas berkendaraan di jalan raya Bangkok (Wipulanusat dan Herabat, 2007: 1). Wang et al., (2004) mengaplikasikan survei CV untuk melihat preferensi masyarakat

(23)

atas berbagai rancangan kebijakan untuk menurunkan tingkat polusi yang berasal dari sepeda motor di Kota Bangkok (Wang et al., 2004: 3). Lambert.,et al.,(2000) memanfaatkan survei CV untuk mengukur manfaat dari program pengurangan kebisingan lalu lintas (Lambert et al.,2000:1).

Dalam melakukan survei CV ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah ukuran sampel. Mitchell dan Carlson (1989) menyarankan bahwa berdasarkan toleransi statistik, jumlah sampel yang

sesuai adalah antara 200-2500 jumlah sampel (Vaughan dan Darling, 2000: 1)

Kedua, adalah rancangan kuesioner. Kuesioner harus dirancang sedemikian rupa dalam rangka meminimisasi bias. Bias-bias tersebut adalah strategic bias, information bias, starting-point bias, hypothetical bias (Tietenberg, 2006: 39).

Strategic bias terjadi ketika responden memiliki kepentingan khusus yang terkait dengan jawaban pertanyaan tersebut. Dampaknya jawaban tidak menggambarkan penilaian sebenarnya melainkan penilaian yang dipengaruhi motif untuk melindungi kepentingan mereka (Tietenberg, 2006:39). Antisipasi untuk meminimisasi strategic bias bisa dilihat dalam penelitian estimasi biaya lingkungan dari lalu lintas jalan yang dilakukan Centre for Transport Ressearch on environmental and health Impact and Policy (TRIP). Caranya adalah dengan memilih responden secara cermat. Responden yang menjadi sampel dibatasi dengan hanya memasukan penduduk yang bertempat tinggal dekat di tepi

(24)

jalan. Ketika memilih penduduk setempat, WTP dari orang yang bekerja di tepi jalan, pejalan kaki, dan pengendara sepeda angin yang tidak dimasukan ke dalam valuasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya upper estimation akibat kepentingan individu dari responden tersebut (TRIP, 2003: 8).

Information bias terjadi manakala responden tidak memiliki pengetahuan memadai atau tidak punya pengalaman terkait dengan atribut yang ditanyakan dalam penelitian. Akibat dari ketidaklengkapan informasi tersebut, responden tidak memberikan penilaian objektif sebenarnya (Tietenberg,2006: 39). Nilai yang didapat dari survei CV akan tergantung dari tingkat informasi yang dim iliki responden dan informasi yang disediakan dalam survei (Pate dan Loomis, 1997 dalam Raje et al., 2002: 392) Untuk meminimisasi information bias, penelitian dari Raje et al., (2002) mengenai perbaikan layanan air bersih pemerintah, melakukannya dengan cara menyediakan informasi mendetail bagi responden mengenai kondisi layanan bersih saat ini, rencana perbaikan layanan ke depan, termasuk juga biaya eksplorasi dan distribusi air di masa depan. Dengan demikian kemungkinan terjadinya information bias bisa diminimisasi (Raje,et al., 2002: 392).

Starting point bias biasanya disebabkan oleh pertanyaan atau perilaku dari pewawancara tentang tingkat nilai W TP yang diperkirakan. Jika pertanyaan mengenai nilai WTP ditanyakan dalam bentuk nilai yang meningkat, menurun, atau rentang jarak, jawaban dari responden akan

(25)

sangat dipengaruhi oleh nilai mulanya (starting point) (OECD, 1995: 88). Untuk meminim isasi starting point bias, The Blue Ribbon panel dalam Giraud et al.,(2001) menyarankan penerapan pertanyaan referendum dengan menanyakan kepada responden mengenai kesediannya membayar sebesar nilai terberi (given value) untuk barang dan jasa terberi (given goods and service). Dengan demikian konsistensi nilai dari respon responden bisa dijaga (Giraud, et al., 2001: 332). Selain referendum, teknik open ended question (pertanyaan terbuka) juga bisa dilakukan (OECD, 1995: 85).

Hypothetical bias biasanya terjadi karena responden dihadapkan pada even yang berupa rencana, bukan kejadian aktual. Karena mereka tak harus benar-benar membayar nilai yang diberikan, respon dari responden akan cenderung berbeda dibanding ketika mereka harus membayarnya secara sungguhan (Tietenberg, 2006:39). Upaya minimisasi jenis b ias ini dipengaruhi secara total oleh design kuesioner dan perilaku dari pewawancara.

Setelah upaya minimisasi b ias dilakukan, yang perlu diperhatikan adalah analisa data. OECD, 1995 menyarankan nilai W TP lebih baik diungkapkan dalam model pilihan diskrit (OECD, 1995:86). Raje, et al., memilih model regresi logistik (Raje, et al.,2002: 93), Irawan memilih model probit bertingkat (Irawan, 2001: 21), dan Wang,et al., memilih model probit bertingkat (Wang, et al., 2001: 10). Analisa data dalam penelitian ini akan mengikuti pola yang diterapkan oleh Irawan (2001)

(26)

Selanjutnya, respon WTP harus ditabulasi silang dengan faktor-faktor sosial ekonomi dan faktor-faktor penentu lainnya. Untuk melakukannya, perlu dilakukan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi besaran nilai W TP maksimal. Wang, et al., memasukan faktor-faktor sosial ekonomi (umur, pendapatan, jumlah anggota keluarga) dan faktor-faktor non sosial ekonomi (lama kepemilikan sepeda motor, harga bahan bakar, jarak tempuh harian, biaya perjalanan per minggu, dan biaya perawatan sepeda motor) ke dalam faktor-faktor yang mempengaruhi besaran nilai WTP untuk menghilangkan polusi sepeda motor di Bangkok (Wang, et al., 2004:18). Gupta dan Mythili memasukan pendapatan, tingkat pendidikan, pekerjaan, tujuan pemanfaatan, dan opini sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi besaran nilai W TP atas upaya perbaikan kualitas air di Danau Powai, India (Gupta dan Mythili, 2007:10-11). Santagata dan Signorelo mengidentifikasi bahwa faktor-faktor sosial ekonomi (jenis kelamin, umur, pendidikan,jumlah anggota keluarga tingkat pengeluaran) beserta dengan pengetahuan, pengalaman kunjungan dalam satu tahun terakhir memebrikan pengaruh terhadap besaran nilai WTP atas upaya perbaikan manajemen di National Musei Aperti, Napoli (Santagata dan Signorelo, 1998: 8).

(27)
(28)

F. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini memiliki pertanyaan penelitian yang akan d icari jawabannya. Pertanyaan tersebut adalah:

1. Berapakah nilai WTP pengguna angkutan umum, berikut dengan probabilitasnya, untuk pelayanan BRT Koridor I di Surakarta?

2. Apakah faktor-faktor sosial ekonomi mempengaruhi besaran nilai WTP pengguna angkutan umum untuk BRT Koridor I di Surakarta? 3. Apakah perilaku masyarakat dalam melakukan mobilitas

Figur

Gambar 2.2 PPC

Gambar 2.2

PPC p.6

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :