KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID) PEMBANGUNAN JALUR KERETA API LINTAS CILEUNGSI JONGGOL - CIANJUR

57  85  Download (0)

Full text

(1)

LAPORAN KEGIATAN

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS GUNADARMA

KAJIAN SURVEI

INVESTIGASI DASAR (SID)

PEMBANGUNAN JALUR

KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL

-CIANJUR

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK

(2)

Puji syukur kami ucapkan atas berkah dan rahmat Allah SWT sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Kami juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan pengguna jasa kepada pihak Universitas Gunadarma untuk melaksanaan kegiatan Kajian Survei Investigasi Dasar (SID) Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol – Cianjur.

Laporan Pengabdian Masyarakat ini membahas mengenai pendahuluan, gambaran umum wilayah, hasil survei lapangan, analisis data, rancangan dasar desain kereta api, dan ringkasan hasil kajian. Dengan harapan, laporan ini akan menjadi pegangan untuk melalui tahapan pekerjaan selanjutnya.

Jurusan Teknik Sipil – Universitas Gunadarma

KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID)

JALUR KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL - CIANJUR

(3)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survei Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

Pada Sub Bab ini akan dibahas mengenai pendahuluan yang berisikan latar belakang, maksud, tujuan dan sasaran, ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup pekerjaan, dasar hukum, uraian kegiatan, tinjauan kebijakan, metodologi, dan sistematika pembahasan.

1.1

LATAR BELAKANG

Perkeretaapian dalam sistem transportasi nasional sebagai penghubung antar wilayah yang digunakan untuk menggerakkan pembangunan nasional, perlu dikembangkan potensi dan ditingkatkan peranannya, baik nasional maupun internasional untuk mendorong dan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Transportasi kereta api tidak dapat dipisahkan dari moda transportasi lain dalam sebuah sistem transportasi yang utuh. Jalan raya dan jalan KA merupakan salah satu infrastruktur pada sistem transportasi yang berfungsi melayani distribusi jasa dan penumpang. Sistem transportasi jaringan jalan raya dan jalan KA fokusnya di wilayah Jabodetabek mengalami ketidakseimbangan dengan pertumbuhan infrastruktur.

Berdasarkan dokumen RPJMD tahun 2018- 2023 dan RTRW tahun 2009- 2029 yang tertuang dalam (Peraturan Gubernur Jawa Barat 2010), terdapat enam Wilayah Pengembangan (WP), salah satunya adalah WP Bodebekpunjur, terdiri dari wilayah Bogor, Bekasi, Kota Bekasi, Kota Depok

KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID)

JALUR KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL - CIANJUR

(4)

Jawa Barat merupakan daerah dengan penduduk terbesar yang berjumlah 48.683.700 pada tahun 2018 (18.37% penduduk Indonesia). Kondisi aktual saat ini, aktivitas perekonomian Jawa Barat didominasi daerah dekat Jakarta dan Bandung dengan share 60% PDRB Jawa Barat (BPS 2017).

Kebutuhan angkutan massal berbasis Rel di Indonesia khususnya angkutan penumpang untuk daerah perkotaan seperti Jabodetabek serta angkutan barang merupakan keharusan. Menyadari hal tersebut pemerintah telah menerbitkan UU nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian. UU tersebut ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 serta beberapa keputusan Menteri Perhubungan.

Sesuai rencana induk transportasi Jabodetabek dan Rencana Strategis Badan Pengelolaan Transportasi JABODETABEK, penyelenggaraan dan pengelolaan transportasi JABODETABEK adalah mewujudkan pembangunan, pengembangan, dan pengoperasian transportasi JABODETABEK dalam rangka integrasi pelayanan transportasi yang tertib, lancar, efektif, efisien, aman, selamat, nyaman, dan terjangkau oleh masyarakat tanpa dibatasi oleh wilayah administratif. salah satu rencana pengembangan perkeretaapian di wilayah Jabodetabek adalah pembangunan jalur kereta api lintas Cileungsi- Jonggol-Cianjur untuk mendukung pembangunan jalur ganda tersebut diperlukan dokumen perencanaan sebagai tahap awal pelaksanaan melalui kegiatan MS dan basic desain pembangunan jalur kereta api di Cileungsi Jonggol Cianjur.

Berdasarkan Peraturan Presiden no. 55 tahun 2018 dan no. 60 tahun 2020 serta RTRW Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur maka perlu diadakan kajian mengenai pembangunan jalur kereta api di Cileungsi-Jonggol-Cianjur. Melihat tata ruang wilayah dan tersedianya jalur eksisting maka potensi untuk pengembangan di daerah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur dapat direalisasikan. Kajian ini diharapkan adanya bangktian baru disekitar

(5)

khususnya di Kecamatan Cileungsi, Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Cianjur.

1.2

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

1.2.1

MAKSUD

Maksud dari pekerjaan ini adalah menyusun Studi Survei Investigasi Dasar Trase Pembangunan Jalur Kereta Api Jalur Cileungsi – Jonggol – Cianjur.

1.2.2

TUJUAN

Tersedianya Dokumen SID Pembangunan Pembangunan Jalur Kereta Api Jalur Cileungsi – Jonggol – Cianjur sebagai langkah awal dalam pelaksanaan pembangunan perkeretaapian sesuai dengan amanat UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

1.2.3

SASARAN

Sasaran dari kegiatan ini adalah dokumen yang memuat : 1. Kajian Awal Regulasi dan Kelembagaan

2. Perencanaan Transportasi

3. Perancangan Dasar Prasarana Perkeretaapian

4. Perancangan Dasar Depo dan Sarana Perkeretaapian 5. Analisis Kelayakan Proyek

6. Analisis Lingkungan dan Sosial

1.3

RUANG LINGKUP PEKERJAAN

1.3.1

RUANG LINGKUP WILAYAH

Lokasi pekerjaan berada di sebagian Wilayah Kabupaten Bogor dan sebagian wilayah Kabupaten Cianjur yang akan dilintasi oleh Pembangunan Jalur Kereta Api lintas Cileungsi – Jonggol – Cianjur.

(6)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survei Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

BAB 2 GAMBARAN UMUM

WILAYAH

KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID)

JALUR KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL - CIANJUR

Pada Sub Bab ini akan dibahas mengenai gambaran umum yang terdiri dari wilayah administrasi, dan kondisi transportasi di wilayah kajian.

2.1

GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT

2.1.1

WILAYAH ADMINISTRASI

Provinsi Jawa Barat merupakan daratan yang dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m dpl, wilayah lereng bukit yang landai di tengah dengan ketinggian 100-1.500 m dpl, wilayah dataran luas di utara dengan ketinggian 0-10 m dpl, dan wilayah aliran sungai. Jawa Barat terletak pada posisi antara 5o50’-7o50’ Lintang

Selatan dan 104o48’- 108o48’ Bujur Timur. Luas wilayah Jawa Barat adalah

berupa daratan seluas 35.377,76 km2.

Tahun 2018, wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat terdiri dari 18 wilayah kabupaten dan 9 kota, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri no. 56 tahun 2015 luas daratan masing-masing Kabupaten/Kota, yaitu: Bogor (2.710,62 km2), Sukabumi (4.145,70 km2), Cianjur (3.840,16 km2), Bandung

(1.767,96 km2), Garut (3.074,07 km2), Tasikmalaya (2.551,19 km2), Ciamis

(7)

km2), Bekasi (1.224,88 km2), Bandung Barat (1.305,77 km2), Pangandaran (1.010,00 km2), Kota Bogor (118,50 km2), Kota Sukabumi (48,25 km2), Kota Bandung (167,67 km2), Kota Cirebon (37,36 km2), Kota Bekasi (206,61 km2), Kota Depok (200,29 km2), Kota Cimahi (39,27 km2), Kota Tasikmalaya (171,61 km2),serta Kota Banjar (113,49 km2). Wilayah Provinsi Jawa Barat berbatasan dengan wilayah sekitar sebgai berikut

a. Sebelah Utara : berbatasan dengan Laut Jawa dan Provinsi DKI Jakarta b. Sebelah Barat : berbatasan dengan Provinsi Banten

c. Sebelah Timur : berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah d. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Samudera Hindia

Gambar 2. 1 Peta Administrasi Jawa Barat

(8)

Bogor 0% Sukabumi 0% Cianjur 0% Bandun 0% Garut g 0% sikmala 0% a Ciamis y 0% Majalengka 0% Sumedang 0% ndramayu 0% rawang 0% Ka Bekasi 0% Bandung Barat gandara Bogor Sukabumi Bandung ok Cimahi TKu

Gambar 2. 2 Persentase Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa

Barat

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat 2020

Tabel 2. 1 Luas Daerah dan Jumlah Pulau Menurut Menurut Kabupaten/ Kota

No Kota/ Ibukota Kabupaten Luas

01. Bogor Cibinong 2 710,02

02. Sukabumi Pelabuhan Ratu 4 145,70

03. Cianjur Cianjur 3 840,16

04. Bandung Soreang 1 767,96

05. Garut Torogong Kidul 3 074,07

06. Tasikmalaya Singaparna 2 551,19 07. Ciamis Ciamis 1 414,71 08. Kuningan Kuningan 1 110,56 09. Cirebon Sumber 984,52 10. Majalengka Majalengka 1 204,24 11. Sumedang sumedang 1 518,33 12. Indramayu Indramayu 2 040,11 13. Subang Subang 1 893,95 14. Purwakarta Purwakarta 825,74 15. Karawang Karawang 1 652,20 16. Bekasi Cikarang 1 224,88

17 Bandung Barat Ngamprah 1 305,77

18 Pangandaran Parigi 1 010,00 19 Bogor - 118,50 20 Sukabumi - 48,25 21 Bandung - 167,67 22 Cirebon - 37,36 Dep 7% Tasikmalaya 6% 1% Banjar ningan a 4% 0% Bekasi 7% Cirebon 1% 6% 2% Pan 4% 0% 0% n I Subang 0% Purwakarta 28% Cirebon 34%

(9)

No Kota/ Ibukota Kabupaten Luas

26 Tasikmalaya - 171,61

27 Banjar - 113,49

Jawa Barat 35 377,76

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat 2020

2.1.2

KONDISI TRANSPORTASI

A. Jalan

Berdasarkan pembagian kewenangan penanganan jalan, sistem jaringan jalan di Jawa Barat ditinjau dari status jalan, terdiri atas jalan nasional sepanjang 1.140,69 Km, jalan provinsi sepanjang 2.199,18 Km, dan jalan kabupaten/kota sepanjang 14.520,18 Km.

Selain itu, terdapat pula ruas-ruas jalan yang belum memiliki status dan fungsi yang seharusnya menjadi bebannya. Salah satu ruas jalan yang masih belum memiliki status, namun memiliki urgensi dalam meningkatkan pengembangan wilayah adalah ruas ruas jalan dalam koridor horisontal bagian selatan, yang membentang dari Kabupaten Sukabumi (Surade) sampai dengan perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis (Kalapagenep), dengan panjang 257,74 km.

Kondisi jalan di Jawa Barat digambarkan melalui kondisi kemantapan jalan. Pada Tahun 2007, kemantapan jalan nasional di Jawa Barat mencapai 85%, sementara kondisi kemantapan untuk ruas jalan provinsi berdasarkan survey Integrated Road Management System (IRMS) tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel di Bawah ini.

Tabel 2. 2 Kondisi Kemantapan Jalan Jawa Barat

Kondisi Jalan Mantap Jalan Tidak Mantap

Baik Sedang Jumlah Rusak

Ringan Rusak Berat Jumlah Jumlah Total Panjang

(Km) 504,76 1.415,38 1.920,14 182,70 96,34 279,04 2.199,18 Persentase

(10)

Untuk ruas jalan kabupaten/kota memiliki tingkat kemantapan yang lebih rendah, bahkan di beberapa wilayah banyak yang berada dibawah angka 50%. Selain ruas-ruas jalan tersebut, terdapat juga jaringan jalan tol, dengan panjang sekitar 251 Km, dengan perincian sebagai berikut :

 Jalan Tol Jakarta –Cikampek, dengan panjang 72 km  Jalan Tol Jagorawi, dengan panjang 46 km

 Jalan Tol Palimanan-Kanci, dengan panjang 26 km  Jalan Tol Padaleunyi, dengan panjang 47 km  Jalan Tol Cipularang, dengan panjang 60 km

Dalam pengembangan jalan tol yang ditujukan terutama untuk mendukung pusat pertumbuhan ekonomi, menghubungkan antar kawasan, serta mengatasi kemacetan di daerah perkotaan, terdapat rencana jalan tol yang masih dalam proses pembangunan, meliputi :

 Jalan Tol Cinere-Jagorawi, dengan panjang 15 km  Jalan Tol Depok-Antasari, dengan panjang 21 km  Jalan Tol Bogor Ring Road, dengan panjang 11 km  Jalan Tol Cimanggis-Cibitung, dengan panjang 25,4 Km

Kebijakan pengembangan jalan tol lainnya yang sedianya diperlukan dalam mendukung perkembangan pembangunan Jawa Barat, diarahkan pada :

 Pengembangan Jalan Sekunder dan pendukung Pulau Jawa yang meliputi: Ciawi Sukabumi-Bandung dan Cileunyi-Sumedang-Dawuan,

 Pengembangan Jalan tol daerah perkotaan, antara lain di wilayah Jabodetabek dan Bandung.

(11)

1. Koridor Utara : DKI Jakarta – Cikampek – Cirebon

2. Koridor Tengah : Jasinga – Bogor – Cianjur – Bandung – Banjar 3. Koridor Selatan : Pelabuhanratu – Sagaranten – Sindangbarang –

Pameungpeuk – Cipatujah – Kalapagenep – Pangandaran.

Secara umum kondisi jaringan jalan di Jawa Barat bagian utara dan tengah relatif baik, terutama untuk sistem horizontal. Untuk Jawa Barat bagian selatan, koridor Pelabuhanratu – Sagaranten – Sindangbarang – Pameungpeuk – Cipatujah –Pangandaran – Kelapagenep, belum memiliki kondisi yang baik, dalam sistem jaringan lintas vertikal maupun horizontal

Gambar 2. 3 Peta Infrastruktur Jalan dan Perhubungan

Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat 2009-2029

B. Perhubungan Darat

(12)

prospektif untuk dikembangkan, mengingat sarana transportasi ini memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat, selain juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan ketersediaan transportasi masal. Jalur-jalur yang tidak dimanfaatkan adalah Rancaekek – Tanjung Sari, Banjar – Cijulang, Bandung –Soreang – Ciwidey. Adapun jalur-jalur yang masih dapat dioperasikan, namun perlu peningkatan kualitas adalah jalur Bandung – Cianjur – Sukabumi, Sukabumi – Bogor, Padalarang – Cicalengka.

Selain jaringan rel, terdapat pula jaringan prasarana yang terdiri dari simpulsimpul berupa stasiun kereta api. Stasiun kereta api yang cukup besar di Jawa Barat adalah :

1. Jalur Selatan, yang meliputi Stasiun Bandung, Stasiun Tasikmalaya, Stasiun Banjar

2. Jalur Utara, yang meliputi Stasiun Bekasi, Stasiun Cikampek, Stasiun Cirebon.

B. Perhubungan Laut

Pelabuhan Laut yang terdapat di Jawa Barat, terdiri dari :

 Pelabuhan Regional Muara Gembong, Kab. Bekasi, merupakan pelabuhan kelas V

 Pelabuhan Regional Pangandaran, Kab. Ciamis, merupakan pelabuhan kelas V dengan kapasitas 300 DWT

 Pelabuhan Internasional Cirebon, Kota Cirebon, dengan kapasitas 4.000 DWT, yang dikelola oleh PT. Pelindo II (Cabang Cirebon)

 Pelabuhan Regional Khusus Kejawanan, Kab. Cirebon

 Pelabuhan Regional Indramayu, Kab. Indramayu, merupakan pelabuhan kelas V dengan kapasitas 300 DWT

 Pelabuhan Nasional Pamanukan, Kab. Subang, merupakan pelabuhan kelas V dengan kapasitas 300 DWT

(13)

 Pelabuhan Regional Pelabuhan Ratu, Kab. Sukabumi, merupakan pelabuhan kelas V dengan kapasitas 500 DWT.

Selain pelabuhan laut yang berfungsi sebagai moda transportasi laut, yang berorientasi ekonomi dan distribusi orang dan barang, Jawa Barat juga memiliki pelabuhan khusus, yaitu :

 Pelabuhan khusus Pertamina untuk BBM dan PLTG di Balongan Kabupaten Indramayu

 Pelabuhan Khusus milik PT. PLN yaitu Pelabuhan Khusus PLTU Muara Tawar di Kabupaten Bekasi

 Pelabuhan Khusus milik PT. Pupuk Kujang di Pamanukan Kabupaten Subang

 Pelabuhan Khusus yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera

 Pelabuhan Khusus PT. Sinar Surya Makmur yang dikhususkan untuk memuat dan membongkar bahan Batu bara

C. Perhubungan Udara

Sampai dengan tahun 2007, Jawa Barat memiliki beberapa bandar udara yang cukup mendukung pergerakan orang dan barang, diantaranya :

 Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dengan run way 2.250 m x 45 m, dikelola oleh PT. Angkasa Pura II

 Bandara Udara Nusa Wiru, Pangandaran dengan run way 1. 400 m x 30 m, dikelola oleh TNI

 Bandara Penggung/Cakrabuana, Cirebon, dengan run way 1.270 m x 30 m, yang dikelola oleh UPT Ditjen Perhubungan Udara, merupakan pelabuhan kelas IV

(14)

2.2

GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN BOGOR

2.2.1

WILAYAH ADMINISTRASI

Kabupaten Bogor secara geografis terletak di antara 16º21' - 107º13' Bujur Timur dan 6º19' - 6º47' Lintang Selatan. Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dan 435 desa/kelurahan dengan luas wilayah 298.620,26 Ha. Secara administratif, Kabupaten Bogor berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Provinsi Banten), Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kota Depok

b. Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Lebak (Provinsi Banten); c. Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Karawang, Kabupaten

Purwakarta dan Kabupaten Cianjur

d. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi

e. Sebelah Tengah : berbatasan dengan Kota Bogor.

Secara administratif, Kabupaten Bogor terdiri dari 411 desa dan 17 kelurahan (428 desa/kelurahan), 3.639 RW dan 14.403 RT yang tercakup dalam 40 kecamatan. Jumlah kecamatan sebanyak 40 tersebut merupakan jumlah kumulatif setelah adanya hasil pemekaran 5 (lima) Kecamatan di tahun 2005, yaitu Kecamatan Leuwisadeng (pemekaran dari Kecamatan Leuwiliang), Kecamatan Tanjungsari (pemekaran dari Kecamatan Cariu), Kecamatan Cigombong (pemekarandari Kecamatan Cijeruk), Kecamatan Tajurhalang (pemekaran dari Kecamatan Bojonggede) dan Kecamatan Tenjolaya (pemekaran dari Kecamatan Ciampea). Selain itu, pada akhir tahun 2006 telah dibentuk pula sebuah desa baru, yaitu Desa Wirajaya, sebagai hasil pemekaran dari Desa Curug Kecamatan Jasinga.

(15)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survei Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

Pada Sub bab ini akan dibahas mengenai hasil survei, dalam survei dijelaskan survei pendahuluan dan lapangan yang berisikan survei geoteknik dan topografi serta analisis hidrologi.

3.1 SURVEI PENDAHULUAN

Survei pendahuluan adalah permulaan yang digunakan dalam merencanakan tahap-tahap perencanaan berikutnya. Sebelum dilakukan perencanaan lebih lanjut, terlebih dahulu dilakukan survei pendahuluan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam perencanaan. Survei pedahuluan dilakukan sesuai dengan trase yang ditentukan untuk melihat situasi sebenarnya.

Berdasarkan hasil survei pendahuluan dan pengumpulan data sekunder peta rencana tata ruang wilayah, peta fisik dasar yang terdiri dari topografi, kawasan hutan lindung, infrastruktur transportasi dan peta rencana pegembangan Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur mengenai rencana pengembangan jalur kereta api, terdapat tiga alternatif koridor dari Cileungsi – Jonggol - Cianjur. Adapun kelebihan dan kelemahan dari tiga alternatif koridor tersebut dijelaskan pada tabel 3.1 berikut.

KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID)

JALUR KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL - CIANJUR

(16)

Tabel 3. 1 Kelebihan dan Kelemahan Alternatif Trase Cileungsi – Jonggol - Cianjur

Kelebihan Kelemahan

 Mengembangkan Kota Jonggol karena melewati pinggir Kota Jonggol

 Tidak banyak melewati pemukiman  Sudah mempertimbangkan topografi

 Tidak melalui Pusat Kota Jonggol.  Memiliki potensi demand yang lebih

rendah untuk angkutan penumpang karena tidak melalui kawasan pemukiman.

Sumber : Hasil analisis, 2020

Hasil dari analisis berdasarkan data primer dan sekunder maka terdapat 3 alternatif jalur KA Cileungsi – Jonggol - Cianjur untuk titik awal dari Rencana Stasiun Cileungsi yang terletak di Cileungsi berikut Alternatif yang di usulkan yaitu:

Survai pendahuluan dilakukan untuk mengetahui rencana trase yang akan dilalui alternatif-alternatif jalur kereta api serta melakukan identifikasi tata guna lahan di sekitarnya.

(17)

3.2 SURVEI LAPANGAN 3.3 SURVEI TOPOGRAFI

Maksud dan Tujuan dari pekerjaan survey topografi ini adalah untuk mendapatkan gambaran Topografi baik di daratan (Sawah, ladang, perkebunan, perumahan) maupun di sungai, sebagai dasar dari Kegiatan Kajian Trase, Lokasi Stasiun, dan Kebutuhan Lahan Kajian Survei Investigasi Dasar (SID) Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi - Jonggol – Cianjur.

Lokasi kegiatan pelaksanaan topografi adalah di sepanjang koridor rencana jalur kereta api yang sudah terpilih dan hasil diskusi, asistensi dengan instansi yang terkait didaerah yang terlewati rencana trase, pada hal ini adalah kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur.

Dari hasil survei lapangan, diidentifikasi bahwa koordinat awal trase Jalur KA adalah pada Koordinat X = 711612.518 ; Y = 9285137.814, yaitu pada rel badug Stasiun Nambo.

Sebagai titik referensi titik ikat pengukuran ditetapkan Titik Tinggi Geodesi (TTG) No.190 di Halaman Pintu Air Cibinong, dan Titik Tinggi Geodesi (TTG) No.64 di halaman kantor Jembatan Timbang Dinas Perhubungan Kab. Cianjur/ Samping Terminal Rawa Bango.

Pemilihan Trase, Lokasi Stasiun, dan Kebutuhan Lahan Kereta Api Kajian Survei Investigasi Dasar (SID) Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi - Jonggol – Cianjur ini, rute yang dipilih adalah trase dengan factor pendukung terbaik yang berupa perumahan, daerah pertokoan (Niaga) dan daerah industri,serta daerah pegunungan, sehingga diharapkan biaya pembebasan lahan yang dikeluarkan nantinya dapat diminimalkan sekecil mungkin demikian pula terhadap konflik sosialnya.

Kondisi pengukuran Topografi pada wilayah Kajian Survei Investigasi Dasar (SID) Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi - Jonggol – Cianjur sangat beragam,

(18)

dimulai pada KM.0+000 pada Badug Stasiun Nambo dilanjut pada daerah pemukiman dan daerah Industri dimana terdapat banyak pabrik dan pemukiman penduduk juga area persawahan, memasuki Kec. Jonggol Trase mulai menanjak melalui lereng perbukitan sampai perbatasan dengan Kab. Cianjur, kemudian menurun dan kembali melandai di area persawahan dan pemukiman di Kab. Cianjur sampai masuk ke area Stasiun Selajambe sebagai interkoneksi terhadap Jalur Kereta Api Bandung-Sukabumi.

(19)
(20)

3.3.1 PENGUKURAN KERANGKA DASAR HORIZONTAL

Titik Kontrol Horisontal didapat dengan pengukuran Poligon Terbuka yang berfungsi sebagai Kerangka Dasar Peta Topografi. Pengukuran Kerangka Kontrol Horisontal meliputi: Penentuan Azimut Awal Pengukuran Sudut, Pengukuran larak, dan Pengukuran Koordinat.

A. Penentuan Azimut Awal

Diperoleh dari perhitungan dua titik koordinat Bench Mark Referensi dan kontrol menggunakan GPS Geodetic yang mempunyai kesalahan yang relatif kecil.

B. Pengukuran Sudut

Pengukuran Polygon dilakukan dengan alat Theodolite Electronic Total Station dengan ketelitian 1" (1 second) dengan pembacaan Satu Seri Biasa dan Luar Biasa Muka Belakang.

Metode pengukuran sudut dengan alat Total Station yaitu dengan menggunakan Target Belakang (Back Sight) dan Target Depan (Front Sight) dilengkapi Single Prisma dan Centering Optis disetiap titik-titik Polygon yaitu dengan cara: memasukan beberapa Data Input ke Software atau Data Record alat Total Station yaitu berupa:

1) Height Instrument (tinggi alat)

2) Koordinat berdiri alat N, E, dan Z dari titik referensi 3) Azimut Back Sight dari hasil hitungan

4) Koordinat Back Set N, E, dan Z 5) Tinggi target belakang dan muka

Dan seterusnya disetiap titik Polygon dan cara pembacaannya sudah langsung secara elektronik dan disimpan di Data Record alat itu sendiri.

(21)

C. Pengukuran Jarak

Untuk mendapatkan sisi panjang Polygon dilakukan dengan pembacaan kemuka dan kebelakang dengan tiga kali pembacaan jarak dan diambil rata- rata, secara Electronic Distance Measurement (EDM) langsung dihitung secara otomatis, jarak datar dengan terlebih dahulu memasukan data pendukung yaitu:

1) Setting the Prisme Constant

2) Setting the Atmosphere Correction

3) Setting Refraction Correction dan Lengkung Bumi

3.3.2 PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL

Cara ini dilakukan dengan Pengukuran Waterpass Kring Terbuka. Referensi Titik Tinggi (Elevasi) diambil dari Titik Tetap (BM) BKS 2, dilakukan dengan cara:

1) Pembacaan 2 kali Double Stand Ke muka

2) Semua titik polygon dan titik tetap dilalui dengan Pengukuran Waterpass 3) Menggunakan alat ukur Automatic Level Wild Nak-2

4) Data Baca dicatat dengan ke 3 (tiga) benang silangnya (BA, BB, dan BT) 5) Bak Ukur (rambu) dilengkapi dengan Nivo

Diusahakan alat ukur berada ditengah-tengah dua Rambu

A. Pengukuran Memanjang

Pengukuran memanjang dimulai dari Titik Referensi BM01 sampai BM terakhir, dengan cara pengukuran sudut Polygon dan jarak pandang dengan EDM.

Pengukuran memanjang dilakukan dengan arah dari Cileungsi(Sta. Nambo)- Jonggol – Cianjur (Sta. Selajambe) yang selanjutnya pengukuran arah

(22)

memanjang rencana trase ini diukur polygon dan waterpass, sehingga didapat harga koordinat X,Y,Z .

B. Pengukuran Melintang

Pengukuran profil melintang rencana jalur jalan rel setiap interval 200 m untuk bagian lurus dan 100 m pada bagian lengkung. Pengukuran situasi di jalur alternative terpilih dengan lebar pengukuran melintang jalan rel minimum 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan. Pengukuran situasi di lokasi rencana emplasement, lebar pengukuran melintang minimum 50 m ke kiri dan 50 m ke kanan. Titik-titik yang diukur pada pengukuran melintang sebagai berikut:

 As jalan  Tepi jalan  Tepi saluran  As saluran

 Titik-titik profil tanah itu sendiri

Dengan arah pengukuran tegak lurus arah as jalan semua titik-titik profil didapat nilai koordinat X,Y,Z-nya.

3.3.3 PENGUKURAN DETAIL SITUASI

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan kebutuhan untuk studi dilakukan dengan alat Electronic Total Station Topcon ES65. Semua Titik Detail Situasi di ukur dari titik-titik polygon dengan pembaca sudut dan jarak memakai Electronic Distance Measurement dan langsung didapat harga koordinat X,Y,Z setiap titik detailnya.

Pelaksanaan Pengukuran yang dilakukan, sebagai berikut:

1) Berdiri alat disetiap titik polygon dan Back Sight ke titik polygon 2) Memasukan data input Tinggi Alat, Tinggi Target harga koordinat X,Y,Z

(23)

3.3.4 PROSES DATA LAPANGAN A. Processing GPS

Proses data Hand GPS dilakukan dengan meratakan hasil pengamatan yang telah di Record. Data GPS tersebut bereferensi pada speroid WGS’84 dengan system proyeksi UTM (Universal Transverse Mercator).

Parameter untuk proyeksi UTM adalah sebagai berikut:  Semi mayor axis (a) = 6.378.137.00 m  Flatteming (f) = 1/298.25722357  Central meridian = 117 degree  False Northing = 10.000.000  False Easting = 500.000  Scale Factor at central meridian = 0,9996

 Zone = 48 N

B. Processing Data Polygon

Tahapan pengolahan data polygon adalah sebagai berikut: 1) Down Load Data

Data- data hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur Total Station, selanjutnya di down load ke dalam PC dengan mempergunakan

USB, untuk merubah format bahasa alat kedalam format bahasa program

dengan mempergunakan fasilitas rinex. 2) Adjusment Data

Data-data yang sudah diolah selanjutnya diproses dengan mempergunakan metode hitung perataan Bowditch

(24)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survey Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

Pada Sub Bab ini akan dibahas mengenai analisis transportasi yang berisikan tentang hasil survei transportasi dan pemodelan transportasi. Pemodelan transportasi terdiri dari jaringan dan simpul transportasi serta pola pergerakan dan proyeksi permintaan dari penumpang dan barang. Dibahas juga mengenai analisa pola operasi kereta api meliputi kriteria operasi perjalanan kereta api, analisa permintaan angkutan penumpang dan barang, implikasi trase yang diusulkan terhadap pola Operasi meliputi kecepatan operasi perjalanan kereta api, kapasitas lintas, jenis stasiun di trase terpilih serta layout stasiun. Kemudian untuk kajian aspek lingkungan meliputi rona lingkungan awal dan penggunaan lahan. Lalu dibahas juga mengenai komponen lingkungan yang terkena dampak rencana pembangunan dan prakiraan dampak lingkungan. Direkomendasikan pula mengenai mitigasi terhadap bencana dan hasil kajian awal lingkungan. Pada analisis kelayakan proyek yang berisikan estimasi biaya yang terdiri dari biaya pengadaan lahan dan sarana, biaya pembangunan prasarana, dan biaya operasi lalu dianalisis kelayakan ekonomi dan finansial dilihat juga untuk kajian risikonya.

4.1 ANALISIS TRANSPORTASI

4.1.1 HASIL SURVEI TRANSPORTASI

Survey lalu lintas ditujukan untuk mengetahui besaran arus lalu lintas di ruas jalan utama. Terdapat 2 ruas jalan yang diambil datanya, yaitu Jl. Raya Puncak dan Jl. Transyogi (di titik Tanjungsari). Waktu pelaksanaan survey selama 24 jam dengan rincian yang dapat dilihat pada tabel data hasil survei lalu lintas tahun 2019.

KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID)

JALUR KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL - CIANJUR

(25)

Tabel 4. 1 Data Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) dari dan menuju Kabupaten

Bogor dan Kabupaten Cianjur

Titik Lokasi

Jenis Kendaraan

Total Sepeda

Motor PribadiMobil

Kendaraan Angkutan Umum Kendaraan Angkutan Barang Tanjungsari Bogor - Cianjur 8.357 2.244 180 867 11.649 Cianjur - Bogor 6.521 2.237 133 899 9.790 Total 14.878 4.482 313 1.766 21.439

Jalan Raya Puncak

Bogor - Cianjur 21.021 8.839 820 1.196 31.876

Cianjur - Bogor 20.750 8.681 796 1.108 31.335

Total 41.771 17.520 1.616 2.304 63.211

Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, 2019

Gambar 4. 1 Jaringan Jalan Koridor Cileungsi-Jonggol-Cianjur dan Pembebanan

(26)

4.1.2 PEMODELAN TRANSPORTRASI

4.1.2.1 JARINGAN TRANSPORTASI PADA KORIDOR CILEUNGSI- JONGGOL-CIANJUR

Jaringan jalan yang sejajar rencana rute jalur kereta api Cileungsi-Jonggol- Cianjur merupakan jalan provinsi. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 620/Kep.1086-Rek/2016 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan Menurut Statusnya Sebagai Jalan Provinsi. Koridor Cileungsi-Jonggol-Cianjur mempunyai nomor ruas 233 dengan nama ruas jalan Cileungsi-Cibeet dan nomor ruas 234 dengan nama ruas jalan Selajambe-Cibogo-Cibeet. Panjang ruas tersebut masing-masing adalah 44,58 Km dan 28,7 Km.

Keterangan: Lokasi Jalan Provinsi Koridor Cileungsi-Jonggol-Cianjur

Gambar 4. 2 Jaringan Jalan Nasional Pada Koridor Cileungsi-Jonggol-Cianjur Sumber: Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 620/Kep.1086-Rek/2016

(27)

4.1.2.2 SIMPUL TRANSPORTASI

Beberapa simpul transportasi pada wilayah kabupaten/kota pada koridor jalur kereta api Cileungsi-Jonggol-Cianjur tidak cukup banyak pilihan yang terdiri dari simpul terminal.

Tabel 4. 2 Prasarana Simpul Transportasi

No Kabupaten Simpul Transportasi 1 Bogor Stasiun Kereta Rel Listrik Nambo Terminal tipe B Cileungsi

Terminal tipe C Jonggol 2 Cianjur Stasiun Selajambe Stasiun Ciranjang

(28)

4.1.2.3 POLA PERGERAKAN PENUMPANG DAN BARANG

Pola pergerakan penumpang dan barang berbasis kecamatan, sehingga zona yang digunakan adalah zona wilayah administrasi kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur terutama data pergerakan penumpang dan barang dari dan menuju Kecamatan Cileungsi, Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Sukaluyu. Pola pergerakan nanti akan diolah menjadi nilai Matriks Asal Tujuan (MAT). Kombinasi MAT didapatikan dari data sekunder berupa MAT Kab. Bogor tahun 2011, MAT Kab. Cianjur tahun 2013 dan Asal Tujuan Transportasi Nasional (ATTN) Tahun 2018. Berikut ini merupakan penamaan zonasi wilayah yang dilakukan pada kegiatan ini serta jumlah penduduk pada wilayah kajian.

Tabel 4. 3 Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor

No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)

1. Nanggung 83.790 2. Leuwiliang 111.059 3. Leuwisadeng 67.593 4. Pamijahan 138.420 5. Cibungbulang 131.103 6. Ciampea 150.769 7. Tenjolaya 58.102 8. Dramaga 100.878 9. Ciomas 145.579 10. Tamansari 96.921 11. Cijeruk 81.167 12. Cigombong 88.382 13. Caringin 115.875 14. Ciawi 101.713 15. Cisarua 114.921 16. Megamendung 97.114 17. Sukaraja 174.737 18. Babakan Madang 98.519 19. Sukamakmur 71.145 20. Cariu 49.040 21. Tanjungsari 52.681

(29)

No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) 24. Klapanunggal 101.642 25. Gunung Putri 259.545 26. Citeureup 193.808 27. Cibinong 320.347 28. Bojonggede 225.817 29. Tajurhalang 102.545 30. Kemang 94.176 31. Rancabungur 54.506 32. Parung 106.873 33. Ciseeng 96.032 34. Gunungsindur 97.993 35. Rumpin 122.566 36. Cigudeg 114.036 37. Sukajaya 58.619 38. Jasinga 96.836 39. Tenjo 64.652 40. Parungpanjang 99.890 Jumlah 4.699.282 Sumber : BPS, 2020

Tabel 4. 4 Jumlah Penduduk Kabupaten Cianjur

No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)

1. Agrabinta 37.995 2. Leles 32.795 3. Sindangbarang 53.964 4. Cidaun 66.824 5. Naringgul 46.188 6. Cibinong 59.891 7. Cikadu 35.867 8. Tanggeung 45.696 9. Pasirkuda 35.574 10. Kadupandak 50.497 11. Cijati 33.793 12. Takokak 52.618 13. Sukanagara 50.784 14. Pagelaran 70.313 15. Campaka 65.871 16. Campakamulya 24.379 17. Cibeber 120.353

(30)

No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) 19. Gekbrong 53.470 20. Cilaku 101.844 21. Sukaluyu 73.033 22. Bojongpicung 73.784 23. Haurwangi 55.970 24. Ciranjang 78.004 25. Mande 72.519 26. Karangtengah 139.981 27. Cianjur 165.062 28. Cugenang 104.145 29. Pacet 101.335 30. Cipanas 108.911 31 Sukaresmi 83.294 32 Cikalongkulon 98.302 Jumlah 2.260.620 Sumber : BPS, 2020

Tabel 4. 5 Sistem Zonasi

No. Nama Zona No. Nama Zona 201 Cariu 303 Karangtengah 202 Tanjungsari 304 Sukaresmi 203 Jonggol 305 Cikalongkulon 204 Cileungsi 1001 Eksternal Utara 205 Klapanunggal 1002 Eksternal Barat 301 Sukaluyu 1003 Eksternal Selatan 302 Mande 1004 Eksternal Timur

(31)

4.1.2.4 ABILITY TO PAY (ATP) DAN WILLINGNESS TO PAY (WTP)

Berdasarkan penelitian mengenai “Studi Ability To Pay (ATP) & Willingness To Pay (WTP) Angkutan Orang Dengan Kereta Api Perkotaan Di Pulau Jawa”, didapatkan bahwa didapatkan rekomendasi berupa usulan tarif angkutan orang dengan KA kelas ekonomi beberapa kereta Api yang beroperasi di Jawa Barat.

Tabel 4. 6 Rekomendasi Usulan Tarif Angkutan Orang dengan KA Kelas Ekonomi

Perkotaan Di Pulau Jawa Tahun 2020

No Nama Kereta Api Lintas Besaran Tarif Saat Ini (Rp/Orang)

Rekomendasi Besaran Tarif (Rp/Orang) a Cilamaya Ekspres/ Cepat Purwakarta/

Walahar Ekspres Purwakarta - Tanjung Priok 6.000 10.000

b Jatiluhur Cikampek – Tanjung Priok 5.000 7.000

c Walahar Ekspres/ Ekonomi Lokal Tanjungpriok - Purwakarta 6.000 10.000

Sumber : Kementerian Perhubungan, 2019

4.1.2.5 PROYEKSI PERMINTAAN PERJALANAN KERETA API PENUMPANG

Berdasarkan analisis transportasi diatas serta metode proyeksi, selanjutnya dilakukan proyeksi demand dalam periode 30 tahun, dari 2021 hingga 2051. Pembebanan pertumbuhan dilakukan pada matriks asal tujuan yang ada di wilayah studi. Hasil proyeksi disajikan pada tabel dibawah ini. Proyeksi demand terbagi menjadi setiap stasiun.

Total potensi pergerakan penumpang terbanyak dengan skenario optimis sebanyak 10,8 juta pnp/tahun pada tahun 2021 dan meningkat hingga 25,1 juta pnp/tahun pada tahun 2051. Sedangkan pada skenario pesimis jumlah demand mencapai 2,1 juta pnp/tahun pada tahun 2021 dan 4,2 juta pnp/tahun pada tahun 2051. Stasiun dengan demand terbesar ditemukan pada koridor Kembang Kuning - Cileungsi sebesar 1,4 juta/tahun.

(32)

Tabel 4. 7 Proyeksi Demand Penumpang KA

Koridor Jumlah Penumpang (pnp/tahun)

2021 2026 2031 2036 2041 2046 2051 Nambo-Kembang Kuning 1.017.654 1.167.859 1.353.666 1.543.720 1.743.015 1.960.717 2.199.140 Kembang Kuning-Cileungsi 850.724 976.291 1.131.619 1.290.498 1.457.102 1.639.094 1.838.407 Cileungsi-Mampir 842.612 966.981 1.120.828 1.278.192 1.443.207 1.623.463 1.820.876 Mampir-Jonggol 476.181 546.466 633.408 722.339 815.593 917.460 1.029.023 Jonggol-Sukagalih 378.819 434.733 503.899 574.646 648.833 729.872 818.624 Sukagalih-Cibatu Tiga 171.879 197.248 228.630 260.730 294.390 331.159 371.428 Cibatu Tiga-Antajaya 48.099 55.198 63.980 72.963 82.383 92.672 103.941 Antajaya-Mekarjaya 25.667 29.456 34.142 38.936 43.963 49.454 55.467 Mekarjaya-Majalaya 45.024 51.670 59.890 68.299 77.116 86.748 97.297 Majalaya-Jamali 29.646 34.022 39.435 44.972 50.778 57.120 64.066 Jamali-Selajambe 13.270 15.229 17.652 20.130 22.729 25.568 28.677

(33)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survey Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

Tabel 4. 8 Proyeksi Demand Penumpang Naik dan Turun KA

Stasiun Jumlah Penumpang (pnp/tahun)

2021 2026 2031 2036 2041 2046 2051

Turun Naik Turun Naik Turun Naik Turun Naik Turun Naik Turun Naik Turun Naik

Nambo 166.929 166.929 191.568 191.568 222.047 222.047 253.222 253.222 285.913 285.913 321.624 321.624 360.733 360.733 Kembang Kuning 532.668 532.668 611.290 611.290 708.546 708.546 808.026 808.026 912.342 912.342 1.026.293 1.026.293 1.151.090 1.151.090 Cileungsi 366.430 366.430 420.516 420.516 487.420 487.420 555.853 555.853 627.614 627.614 706.003 706.003 791.853 791.853 Mampir 371.328 371.328 426.136 426.136 493.934 493.934 563.283 563.283 636.002 636.002 715.439 715.439 802.437 802.437 Jonggol 206.940 206.940 237.485 237.485 275.268 275.268 313.916 313.916 354.443 354.443 398.713 398.713 447.196 447.196 Sukagalih 123.731 123.731 141.993 141.993 164.585 164.585 187.692 187.692 211.923 211.923 238.392 238.392 267.381 267.381 Cibatu Tiga 39.136 39.136 44.913 44.913 52.058 52.058 59.367 59.367 67.032 67.032 75.404 75.404 84.573 84.573 Antajaya 15.743 15.743 18.067 18.067 20.941 20.941 23.881 23.881 26.964 26.964 30.332 30.332 34.021 34.021 Mekarjaya 15.378 15.378 17.647 17.647 20.455 20.455 23.327 23.327 26.339 26.339 29.628 29.628 33.231 33.231 Majalaya 17.910 17.910 20.553 20.553 23.823 23.823 27.168 27.168 30.675 30.675 34.507 34.507 38.703 38.703 Jamali 13.270 13.270 15.229 15.229 17.652 17.652 20.130 20.130 22.729 22.729 25.568 25.568 28.677 28.677 Selajambe 12.119 12.119 13.908 13.908 16.121 16.121 18.384 18.384 20.757 20.757 23.350 23.350 26.189 26.189 4-12

(34)

550000 500000 450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 0

Produksi Produksi Produksi Buah- Produksi Tanaman Sayuran Tanaman Buahan (ton) Tanaman

(Ton) Biofarmaka (ton) Perkebunan (Ton) Bogor Cianjur

4.1.2.6 PROYEKSI PERMINTAAN PERJALANAN KERETA API BARANG

Selain analisis demand kereta api penumpang, dilakukan analisis untuk KA pergerakan barang. Total produksi barang di wilayah kab. Bogor mencapai 5.323.414,62 ton/tahun sedangkan di wilayah kab. Cianjur mencapai 432.182,41. Pada wilayah Kabupaten Bogor produksi tanaman perkebunan menjadi produksi barang yang dominan, pada wilayah Kabupaten Bogor produksi tanaman buah-buahan menjadi produksi barang yang dominan. Hal ini dapat terlihat dari data yang diperoleh dari BPS sebagaimana tersaji pada Gambar di bawah ini.

Gambar 4. 7 Total Produksi Wilayah Bogor dan Cianjur

Sumber : BPS Kab. Bogor dan Kab. Cianjur, 2019

Berdasarkan analisis transportasi di atas serta metode proyeksi, selanjutnya dilakukan proyeksi demand dalam periode 30 tahun, dari 2020 hingga 2050. Pembebanan pertumbuhan dilakukan pada matriks asal tujuan yang ada di

(35)

wilayah studi. Hasil proyeksi disajikan pada tabel dibawah ini. Proyeksi demand terbagi menjadi setiap stasiun.

Total potensi pergerakan barang terbanyak dengan skenario optimis sebanyak 3,1 juta ton/tahun pada tahun 2021 dan meningkat hingga 7,2 juta ton/tahun pada tahun 2051. Sedangkan pada skenario pesimis jumlah demand mencapai 628 ribu ton/tahun pada tahun 2021 dan 1,2 juta ton/tahun pada tahun 2051. Stasiun dengan demand terbesar ditemukan pada koridor Kembang Kuning - Cileungsi sebesar 522 juta/tahun.

Tabel 4. 9 Proyeksi Demand Barang KA Skenario Optimis, Moderat, dan Pesimis

Koridor Jumlah Barang (ton/tahun)

2021 2026 2031 2036 2041 2046 2051 Nambo-Kembang Kuning 338.805 388.812 450.672 513.947 580.297 652.776 732.154 Kembang Kuning-Cileungsi 268.173 307.755 356.719 406.802 459.320 516.689 579.519 Cileungsi-Mampir 216.562 248.527 288.067 328.512 370.923 417.251 467.989 Mampir-Jonggol 118.474 135.961 157.593 179.719 202.920 228.265 256.022 Jonggol-Sukagalih 40.399 46.362 53.738 61.283 69.194 77.836 87.301 Sukagalih-Cibatu Tiga 22.933 26.318 30.505 34.788 39.279 44.185 49.558 Cibatu Tiga-Antajaya 6.345 7.281 8.440 9.624 10.867 12.224 13.711 Antajaya-Mekarjaya 421 483 560 639 721 811 910 Mekarjaya-Majalaya 404 463 537 612 691 778 872 Majalaya-Jamali 276 317 367 419 473 532 596 Jamali-Selajambe 131 151 175 199 225 253 284

(36)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survey Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

Tabel 4. 10 Proyeksi Demand Barang Bongkar dan Muat KA

Stasiun Jumlah Barang (ton/tahun)

2021 2026 2031 2036 2041 2046 2051

Bongkar Muat Bongkar Muat Bongkar Muat Bongkar Muat Bongkar Muat Bongkar Muat Bongkar Muat Nambo 70.632 70.632 81.057 81.057 93.954 93.954 107.145 107.145 120.977 120.977 136.087 136.087 152.635 152.635 Kembang Kuning 172.574 172.574 198.045 198.045 229.555 229.555 261.784 261.784 295.580 295.580 332.498 332.498 372.930 372.930 Cileungsi 98.088 98.088 112.566 112.566 130.475 130.475 148.794 148.794 168.003 168.003 188.986 188.986 211.967 211.967 Mampir 81.910 81.910 94.000 94.000 108.956 108.956 124.253 124.253 140.294 140.294 157.817 157.817 177.008 177.008 Jonggol 17.466 17.466 20.044 20.044 23.233 23.233 26.495 26.495 29.915 29.915 33.652 33.652 37.744 37.744 Sukagalih 19.884 19.884 22.819 22.819 26.449 26.449 30.163 30.163 34.057 34.057 38.310 38.310 42.969 42.969 Cibatu Tiga 6.082 6.082 6.979 6.979 8.090 8.090 9.225 9.225 10.416 10.416 11.717 11.717 13.142 13.142 Antajaya 247 247 283 283 328 328 374 374 423 423 475 475 533 533 Mekarjaya 128 128 147 147 170 170 194 194 219 219 246 246 276 276 Majalaya 161 161 185 185 214 214 244 244 276 276 310 310 348 348 Jamali 131 131 151 151 175 175 199 199 225 225 253 253 284 284 Selajambe 119 119 137 137 159 159 181 181 204 204 230 230 258 258

(37)

4.2

ANALISIS POLA OPERASI

4.2.1 KRITERIA OPERASI PERJALANAN KERETA API 4.2.1.1 LALU LINTAS KERETA API

Angkutan kereta api dilaksanakan pada jaringan jalur kereta api dalam lintas pelayanan kereta api yang membentuk jaringan pelayanan perkeretaapian. Jaringan pelayanan perkeretaapian sebagaimana dimaksud, terdiri atas:

a. jaringan pelayanan perkeretaapian antarkota; dan

b. jaringan pelayanan perkeretaapian perkotaan.

4.2.1.2 JENIS DAN FUNGSI STASIUN

a. Fungsi Stasiun bisa dikatagorikan kedalam: 1. Stasiun Penumpang (SP).

Stasiun kereta api untuk keperluan naik turun penumpang 2. Stasiun Barang (SB).

Stasiun kereta api untuk bongkar muat barang 3. Stasiun Operasi

Stasiun kereta api untuk menunjang pengoperasian kereta api.

b. Kelas stasiun kereta api

Setiap stasiun memiliki kelas stasiun, baik untuk stasiun penumpang, stasiun barang dan atau stasiun operasi.

Kelas stasiun dibagi dalam 3 (tiga) kelas, yaitu : 1. Kelas besar

Kelas besar; dalam pelaksanaannya bisa saja dibagi lagi kedalam beberapa kelas, misalnya kelas besar A, B atau kelas besar C.

(38)

2. Kelas Sedang

Umumnya berlokasi minimal di kota kecamatan, disamping untuk kepentingan operasi kereta api, juga bisa melaksanakan jasa pelayanan penumpang dan atau barang.

3. Kelas kecil

Umumnya di perkampungan atau desa dan hanya untuk kepentingan operasi kereta api (stasiun operasi)’

c. Penentu kelas stasiun

Penentuan klasifikasi stasiun didasarkan kepada kriteria-kreteria dengan bobot pada masing-masing kreteria 100 angka (point), kriteria dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Fasilitas Operasi;

Fasilitas Operasi dimaksud adalah jenis peralatan yang dipergunakan untuk mendukung operasi perjalanan kereta api, untuk lebih jelasnya lihat sub bab Fasilitas operasi:

2. Jumlah Jalur;

Semakin banyak jalur yang masih aktif, maka semakin tinggi bobot penilaiannya

3. Fasilitas Penunjang;

Semakin lengkap fasilitas penunjang, maka semakin tinggi bobot penilaiannya

4. Frekuensi Lalu-lintas (KA);

Semakin banyak jumlah kereta api; termasuk semakin lebih banyak kereta api yang berhenti, maka semakin tinggi bobot penilaiannya

(39)

5. Jumlah Penumpang;

Semakin banyak jumlah penumpang dan mungkin semakin tinggi nilai pendapatan, maka semakin tinggi bobot penilaiannya

6. Jumlah barang;

Semakin banyak jumlah penumpang dan mungkin semakin tinggi nilai pendapatan, maka semakin tinggi bobot penilaiannya

4.2.1.3 KECEPATAN KERETA API DAN BEBAN GANDAR

a. Kecepatan kereta api 1. Kecepatan rencana 2. Kecepatan maksimum 3. Kecepatan operasi 4. Kecepatan komersial b. Beban gandar

Beban gandar adalah beban yang diterima oleh jalan rel dari satu gandar. Beban gandar untuk lebar jalan rel 1067 mm pada semua kelas jalur maksimum sebesar 18 ton

4.2.1.4 GEDUNG DAN FASILITAS PENDUKUNG OPERASI KERETA API DI STASIUN

a. Gedung stasiun

Gedung stasiun kereta api merupakan bagian dari stasiun kereta api yang digunakan untuk melayani pengaturan perjalanan kereta api dan pengguna jasa kereta api.

b. Jenis

1. Gedung untuk kegiatan pokok, yang terdiri atas: a) hall;

(40)

c) loket karcis; d) ruang tunggu; e) ruang informasi; f) ruang fasilitas umum; g) ruang fasilitas keselamatan; h) ruang fasilitas keamanan

i) ruang fasilitas penyandang cacat dan lansia; da j) ruang fasilitas kesehatan.

2. Gedung untuk kegiatan penunjang stasiun kereta api, yang terdiri atas: a) pertokoan; b) restoran; c) perkantoran; d) perparkiran; e) perhotelan;

f) ruang lain yang menunjang langsung kegiatan stasiun kereta api.

3. Gedung untuk kegiatan jasa pelayanan khusus di stasiun kereta api, yang terdiri atas:

a) ruang tunggu penumpang; b) bongkar muat barang; c) pergudangan;

(41)

L = 0,64 m2/orang x V x LF e) penitipan barang;

f) ruang atm; dan

g) ruang lain yang menunjang baik secara langsung maupun tidak langsung kegiatan stasiun kereta api.

c. Persyaratan teknis gedung 1. Persyaratan Bangunan

a) Konstruksi, material, disain, ukuran dan kapasitas bangunan sesuai dengan standar kelayakan, keselamanan dan keamanan serta kelancaran sehingga seluruh bangunan stasiun dapat berfungsi secara handal.

b) Memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan gedung dari bahaya banjir, bahaya petir, bahaya kelistrikan dan bahaya kekuatan konstruksi.

c) Instalasi pendukung gedung sesuai dengan peraturan perundangundangan tentang bangunan, mekanikal elektrik, dan pemipaan gedung (plumbing) bangunan yang berlaku. 2. Luas bangunan ditetapkan untuk:

a) Gedung kegiatan pokok dihitung dengan formula sebagai berikut:

L = Luas bangunan (m2)

V = Jumlah rata-rata penumpang per jam sibuk dalam satu tahun (orang)

(42)

b) Gedung kegiatan penunjang dan gedung jasa pelayanan khusus di stasiun kereta api, ditetapkan berdasarkan kebutuhan.

3. Menjamin bangunan stasiun dapat berfungsi secara optimal dari segi tata letak ruang gedung stasiun, sehingga pengoperasian sarana perkeretaapian dapat dilakukan secara nyaman.

4. Komponen gedung meliputi: 1. gedung atau ruangan;

2. media informasi (papan informasi atau audio); 3. fasilitas umum, terdiri dari:

4. ruang ibadah; 5. toilet;

6. tempat sampah; 7. ruang ibu menyusui. 8. fasilitas keselamatan; 9. fasilitas keamanan;

10. fasilitas penyandang cacat atau lansia; 11. fasilitas kesehatan.

4.2.1.5 PENGALOKASIAN RUANG UNTUK PENGOPERASIAN

a. Untuk kepentingan operasi suatu jalur kereta api harus memiliki pengaturan ruang yang terdiri dari :

1. ruang bebas; 2. ruang bangun.

(43)

untuk lalu Iintas rangkaian kereta api. Ukuran ruang bebas untuk jalur tunggal dan jalur ganda, baik pada bagian Iintas yang lurus maupun yang melengkung, untuk lintas elektrifikasi dan non elektrifikasi.

c. Ruang bangun adalah ruang di sisi jalan rel yang senantiasa harus bebas dari segala bangunan tetap.

d. Batas ruang bangun diukur dari sumbu jalan rel pada tinggi 1 meter sampai 3,55 meter. Jarak ruang bangun tersebut ditetapkan sebagai berikut :

Tabel 4. 11 Jarak Ruang Bangun

Segmen Jalur Lebar Jalan Rel (1067 mm dan 1435 mm)

Jalur Lurus Jalur Lengkung

Lintas Bebas Minimal 2,35 mm di kiri kanan as jalan rel

R ≤ 300, minimal 2,55 m. R > 300, minimal 2,45 m. Di kiri kanan as jalan rel

Emplasemen Minimal 1,95 m di kiri kanan as jalan rel Minimal 2,35 m di kiri kanan as jalan rel Jembatan, Terowongan 2,15 di kiri kanan as jalan rel 2,15 m di kiri kanan as jalan rel

4.2.1.6 JENIS ANGKUTAN MELALUI KERETA API

a. Angkutan Penumpang.

1. Penumpang Eksekutif.

Dari pihak penyedia jasa angkutan memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan penumpang Bisnis dan Ekonomi, baik dari segi kelonggaran ruangan lebih longgar dan nyaman, dalam 1 (satu) kereta/gerbong sekitar untuk 50 penumpang.

2. Penumpang Bisnis

Perbedaan dengan pelayanan kelas eksekutif adalah ruangan lebih di persempit, sehingga kemampuan jumlah penumpang dalam 1 (satu) gerbong/kereta lebih banyak, dalam 1 (satu) kereta/gerbong sekitar untuk 64 penumpang.

(44)

3. Penumpang Ekonomi

Perbedaan dengan pelayanan kelas ekonomi adalah ruangan lebih di persempit lagi, sehingga kemampuan jumlah penumpang dalam 1 (satu) gerbong/kereta lebih banyak, dalam 1 (satu) kereta/gerbong sekitar untuk 100 penumpang. b. Angkutan Barang

1. Barang Negosiasi

Jenis barang yang diangkut biasanya barangnya tertentu dan tempat/stasiun pemberangkatan dan atau tujuan tetap.

2. Barang Non Negosiasi

Kebalikan dari jenis barang di atas, jenis barangnya umum dan terkadang tempat/stasiun pemberangkatan dan atau tujuan tidak tetap.

4.2.1.7 EMPLASMEN STASIUN

a. Emplasemen

Emplasen merupakan kumpulan jalur untuk pergerakan sarana perkeretaapian yang dihubungkan dengan wesel penghubung jalur melalui mekanisme perangkat persinyalan.

b. Skema rancangan Layout Emplasemen Stasiun

Klasifikasi jalur kereta api di stasiun dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis yaitu Jalur langsir atau jalur tepi (Siding track), Jalur sayap (Loop track) dan jalur utama (main track), ilustrasi dari istilah dimaksud seperti berikut :

(45)

Gambar 4. 8 Klasifikasi Dari Jalur Kereta Api

Penetapan jumlah dan lay out jalur di suatu stasiun tergantung berbagai unsur yang mempengaruhinya, antara lain jenis dan kelas stasiun, ketersediaan lahan, letak stasiun di dalam suatu jaringan pelayanan dan lain sebagainya.

c. Track layout di beberapa karakteristik stasiun

Layout untuk stasiun penghabisan (stasiun buntu) serta stasiun persimpangan (Junction) dapat didesain dengan berbagai model, diantaranya :

CLASIFICATION OF TRACK

LOOP TRACK

MAIN TRACK SIDING

(46)

Gambar 4. 9 Track Layout Kereta Api

d. Jenis dan fungsi Jalur di emplasemen suatu stasiun

Jenis – jenis jalur yang ada sesuai dengan peruntukannya atau ngusi jalur tersebut, beberapa jenis jalur dimaksud diantaranya :

1. Jalur utama atau disebut juga jalur kereta api, yaitu jalur yang ada di stasiun yang digunakan untuk kereta api datang, berangkat atau langsung dan dapat dipergunakan juga untuk kegiatan langsir. 2. Jalur stabling atau jalur simpan yaitu jalur untuk keperluan

menyimpan sarana perkeretaapian.

3. Jalur luncur yaitu jalur setelah penghabisan jalur utama yaitu untuk kereta api yang datang berhenti.

4. Jalur tangkap, yaitu jalur untuk menangkap gelundungan sarana kereta api

(47)

PT. INTIMULYA MULTIKENCANA Kajian Survei Investigasi Dasar

SID

Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol Cianjur

Pada Sub bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan dan rekomendasi untuk studi trase kereta api lintas Cileungsi – Jonggol- Cianjur

6.1

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan secara keseluruhan dapat diambil beberapa kesimpulan :

1. Berdasarkan hasil pengumpulan data sekunder peta topografi, kawasan hutan lindung, infrastruktur transportasi dan peta rencana pengembangan Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur dan hasil Pemilihan Trase Pembangunan Jalur Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol – Cianjur maka di usulan terpilih jalur ka untuk memenuhi aksesibilitas dan mobilitas akan pergerakan dengan panjang trase ± 79,0 km.

KAJIAN SURVEI INVESTIGASI DASAR (SID)

JALUR KERETA API LINTAS

CILEUNGSI – JONGGOL - CIANJUR

(48)

Gambar 6. 1 Rencana Trase Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol – Cianjur

2. Kondisi Topografi, Geoteknik Dan Hidrolika /Hidrologi a. Kondisi Topografi

Dari hasil pengukuran topografi dapat disajikan peta situasi dengan interval kontur setiap 1 meter. Selain garis kontur, informasi yang ditampilkan antara lain: sawah, sungai, bangunan, tiang listrik, jembatan, dan lain-lain.

b. Kondisi Geoteknik

 Secara umum melihat dari hasil lapangan, hasil bor mesin dapat di temukan kedalaman hasil N > 50 antara kedalaman 6,00 – 18,00 meter. Kondisi ini masing - masing lokasi tidak bergantung dari keadaan kondisi litologi tanah.

(49)

 Secara umum jenis lapisan tanah/batuan yang terdapat pada sepanjang jalur pemboran yang dilakukan cenderung sama, dimana terdapat batu lempung, lempung kepasiran, lempung kelanauan dan breksi vulkanik dengan kepadatan sedang hingga sangat kaku.

c. Kondisi Hidrolika/Hidrologi

 Dari pengamatan curah hujan harian maksimum selama 10 tahun terakhir, jenis curah hujan yang terjadi pada daerah wilayah studi adalah termasuk jenis hujan sangat lebat.

 Angka-angka curah hujan maksimum tersebut merupakan angka yang akan dianalisa lebih lanjut untuk mendapatkan nilai debit rencana, dimana untuk jembatan adalah debit rencana untuk periode ulang 100 tahun.

3. Analisis Permintaan Perjalanan

a. Total pergerakan penumpang terdapat pada besaran 1 juta pnp/tahun pada Tahun 2021 dan meningkat hingga 2,1 juta pnp/tahun pada Tahun 2051. Stasiun dengan demand terbesar ditemukan pada koridor Kembang Kuning – Cileungsi sebesar 532 ribu pnp/tahun.

b. Total pergerakan barang terdapat pada besaran 338 ribu ton/tahun pada Tahun 2021 dan meningkat hingga 732 ribu ton/tahun pada Tahun 2051. Nilai terbesar berada pada koridor Kembang Kuning - Cileungsi.

4. Pola Operasi

Trase baru Cileungsi – Jonggol - Cianjur merupakan lintas yang terintegrasi dengan jaringan jalur kereta api yang ada sekarang, dengan demikian pola pergerakan harus mewadahi kondisi eksisting ini, relasi angkutan baik

(50)

barang maupun penumpang yang sangat terkait langsung adalah pergerakan kereta api dari Bogor ke Cianjur dapat didesain sebagai berikut:

Tabel 6. 1 Pola Operasi Perjalanan KA

No. Trase Cileungsi – Jonggol - Cianjur Deskripsi 1 Frekuensi Kereta Api

Kereta Api Penumpang 3 KA/hari

Kereta Api Barang 3 KA/hari

2 Waktu Tempuh Kereta Api

Kereta Api Penumpang 115 menit

Kereta Api Barang 51 menit

3 Sarana Kereta Api

Kereta Api Penumpang 1 Loko + 10 Kereta Kereta Api Barang 2 Loko + 20 Gerbong

4 Kapasitas Kereta Api 80 pnp per kereta 5 Operasional Kereta Api

a. Jam Operasional Kereta Api 24 jam/hari b. Hari Operasional Kereta Api 365 hari/ tahun

5. Rencana Estimasi Biaya Pembangunan Jalur Kereta Api Cileungsi – Jonggol – Cianjur.

Tabel 6. 2 Perkiraan Anggaran Biaya Pengadaan Lahan

Jenis Lahan Luas Lahan Harga Rata- Rata (Rp/m2) Jumlah Harga (Rp./Juta) Ha m2 Pertanian 237,24 2.372.442 265.000 628.697 Hutan Produksi 129,79 1.297.926 540.000 700.880 Lahan Kering 188,39 1.883.904 570.000 1.073.825 Lahan Industri 4,35 43.500 1.050.000 45.675 Lahan Pemukiman 64,53 645.334 1.240.000 800.214 Total 624,31 6.243.106 3.249.291

(51)

Tabel 6. 3 Perkiraan Anggaran Biaya Pengadaan Lahan Stasiun dan Jalan Akses

Jenis Lahan Luas Lahan Harga Rata- Rata (Rp/m2) Jumlah Harga (Rp./Juta) Ha m2 Pertanian 4,382 43.820 265.000 11.612 Hutan Produksi 4,465 44.649 540.000 24.110 Lahan Kering 2,908 29.079 570.000 16.575 Lahan Pemukiman 22,437 224.368 1.240.000 132.456 Total 4,382 43.820 184.753

Tabel 6. 4 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Pembangunan Prasarana Kereta

Api Trase Cileungsi – Jonggol - Cianjur

Uraian Pekerjaan Persentase % Harga (Rp/ Juta)

Persiapan 0,021 2.373

Pekerjaan Jalan Rel 31,638 3.589.729

Pekerjaan Bangunan Hikmat 0,195 22.097

Pekerjaan Bangunan Stasiun 16,966 1.925.000

Pekerjaan Bangunan Depo 7,051 800.000

Pekerjaan Konstruksi Terowongan 41,345 4.691.176 Pekerjaan Perlintasan Tak Sebidang 1,859 201.980 Pekerjaan Persinyalan dan Perambuan 0,925 105.000

Jumlah 100 11.346.356

Ppn 10% 1.134.635

Total Keseluruhan 12.480.991

Tabel 6. 5 Estimasi Biaya Pengadaan Sarana Kereta Api

Uraian Jumlah (Unit) Harga (Rp/Juta) Total Harga (Rp./Juta)

Lokomotif Penumpang Tipe CC 204 1 45.000 45.000 Lokomotif Barang Tipe CC 206 2 47.500 95.000

Kereta Penumpang 10 16.000 160.000

Kereta Barang 20 5.600 112.000

(52)

Tabel 6. 6 Perkiraan Anggaran Biaya Manajemen dan Contigency

Uraian Jumlah Biaya (Rp./ Juta)

Persiapan dan Manajemen Proyek 62.404

Perencanaan, Pengawasan dan AMDAL 187.214

Price Contigency 374.429

Contruction Contigency 624.049

Total 1.248.099

Tabel 6. 7 Biaya Perawatan Prasarana Kereta Api

Uraian Jumlah Harga (Rp./ Juta) BIAYA OPEX PRASARANA / TAHUN

Biaya Perawatan Jalur 13.264

Biaya Perawatan Stasiun 4.284

Biaya Perawatan Fasilitas Operasi 700

Biaya Perawatan Depo 500

Biaya Tidak Langsung Tetap 250

Biaya Operasi Jalan Rel 59.892

Biaya Operasi Stasiun 11.052

Biaya Tidak Langsung Operasi Prasarana 19.725

Total OPEX Prasarana/Tahun 109.667 BIAYA OPEX SARANA / TAHUN

Biaya Operasi Langsung Tetap 2.760

Biaya Operasi Langsung Tidak Tetap 785

Biaya Operasi Tidak Langsung Tetap 2.995

Biaya Operasi Tidak Langsung Tidak Tetap 652 Biaya Perawatan Sarana (1 Train set) 1.632

Biaya Tidak Langsung Perawatan Sarana 300

Biaya Pengembangan SDM 600

Total OPEX Sarana/Tahun 9.724 T o t a l Opex per tahun 119.391

6. Kelayakan Ekonomi

Tingkat kelayakan ekonomi pembangunan jalur kereta api Cileungsi – Jonggol – Cianjur yang dihitung menggunakan metoda consumer surplus sebagai berikut.

(53)

Tabel 6. 8 Indikator Kelayakan Ekonomi Pembangunan Jalur Kereta Api

Indikator Ekonomi Discount Rate

5% 10% 15%

Net Present Value - NPV (RP./Juta) 33.214.494 2.752.912 (6.630.190)

Benefit Cost Ratio - BCR 5,09 2,11 1,03

Economic Internal Rate of

Return - EIRR (%) 6% 1% -3%

7. Kelayakan Finansial

Tingkat kelayakan finansial pembangunan jalur kereta api Cileungsi – Jonggol – Cianjur sebagai berikut.

Tabel 6. 9 Indikator Kelayakan Finansial Pembangunan Jalur Kereta Api

Indikator Finansial Discount

5 10% 15 Net Present Value - NPV (RP./Juta) (1.266.045) (10.410.338) (12.774.850)

Benefit Cost Ratio - BCR 0,933 0,381 0,183

Financial Internal Rate of

Return - FIRR (%) 0% -5% -9%

6.2

REKOMENDASI

1. Mengingat potensi sumber daya alam hasil pertanian, perkebunan, hutan dan pariwisata pada kawasan jalur kereta api Cileungsi – Jonggol - Cianjur yaitu Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur cukup potensial, maka jalur kereta api Cileungsi – Jonggol - Cianjur layak untuk dikembangkan dengan beberapa pertimbangan :

a. Kereta api konvensional lebih direkomendasikan pada jalur ini karena prediksi jumlah demand penumpang dan barang yang cukup besar. Selain itu juga biaya pengadaan dan operasional sarana kereta api konvensional relatif murah.

(54)

akan menjadikan aksesibiltas untuk pilihan moda yang baru bagi masyarakat Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur.

2. Proyek pembangunan jalur kereta api Cileungsi – Jonggol - Cianjur baik dengan skenario pembangunan prasarana ditanggung pemerintah, biaya sarana dan operasional oleh swasta/investor/BUMN maupun skenario keseluruhan biaya prasarana dan sarana serta operasional oleh swasta/investor/bumn dengan skema konsesi ini dapat memberikan keuntungan bagi investor dengan penetapan tarif yang sesuai, adanya subsidi dari pemerintah untuk penumpang kelas ekonomi dan pendapatan dari pengembangan stasiun.

3. Rekomendasi Studi Lingkungan

a. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tercantum bahwa untuk bidang/sektor perhubungan darat, Reaktivasi atau pembangunan baru jalur Kereta Api ≥ 25 Km dan/atau pembangunan jalur KA elevated > 5 Km maka wajib dilengkapi dengan studi AMDAL.

b. Dengan demikian rencana pembangunan jalur kereta api Cileungsi – Jonggol – Cianjur sepanjang ± 79 km termasuk dalam kategori rencana kegiatan wajib AMDAL. Oleh sebab itu perlu ditindaklanjuti dengan dilakukannya Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada tahun anggaran yang akan datang, sebelum dilaksanakannya kegiatan pembebasan lahan dan konstruksi. Adapun studi aspek lingkungan yang dilakukan oleh Konsultan saat ini merupakan kajian awal dalam rangka untuk mengetahui rona lingkungan (awal), identifikasi dampak potensial dan arahan pengelolaan lingkungan serta merekomendasikan perlu dilakukan studi lingkungan lebih lanjut.

(55)
(56)
(57)

Figure

Gambar 2. 1 Peta Administrasi Jawa Barat  Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat 2020

Gambar 2.

1 Peta Administrasi Jawa Barat Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat 2020 p.7
Gambar 2. 2 Persentase Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa  Barat

Gambar 2.

2 Persentase Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat p.8
Tabel 2. 1 Luas Daerah dan Jumlah Pulau Menurut Menurut Kabupaten/ Kota

Tabel 2.

1 Luas Daerah dan Jumlah Pulau Menurut Menurut Kabupaten/ Kota p.8
Gambar 2. 3 Peta Infrastruktur Jalan dan Perhubungan  Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat 2009-2029

Gambar 2.

3 Peta Infrastruktur Jalan dan Perhubungan Sumber: RTRW Provinsi Jawa Barat 2009-2029 p.11
Gambar 3. 1 Tata Guna Lahan pada Koridor Trase Terpilih

Gambar 3.

1 Tata Guna Lahan pada Koridor Trase Terpilih p.16
Gambar 3. 3 Situasi Hasil Pengukuran Topografi

Gambar 3.

3 Situasi Hasil Pengukuran Topografi p.19
Gambar 4. 1 Jaringan Jalan Koridor Cileungsi-Jonggol-Cianjur dan Pembebanan  Jalan

Gambar 4.

1 Jaringan Jalan Koridor Cileungsi-Jonggol-Cianjur dan Pembebanan Jalan p.25
Tabel 4. 1 Data Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) dari dan menuju Kabupaten  Bogor dan Kabupaten Cianjur

Tabel 4.

1 Data Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) dari dan menuju Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur p.25
Tabel 4. 2 Prasarana Simpul Transportasi

Tabel 4.

2 Prasarana Simpul Transportasi p.27
Tabel 4. 3 Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor

Tabel 4.

3 Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor p.28
Tabel 4. 4 Jumlah Penduduk Kabupaten Cianjur  No  Kecamatan  Jumlah Penduduk (Jiwa)

Tabel 4.

4 Jumlah Penduduk Kabupaten Cianjur No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) p.29
Tabel 4. 5 Sistem Zonasi

Tabel 4.

5 Sistem Zonasi p.30
Tabel 4. 6 Rekomendasi Usulan Tarif Angkutan Orang dengan KA Kelas Ekonomi  Perkotaan Di Pulau Jawa Tahun 2020

Tabel 4.

6 Rekomendasi Usulan Tarif Angkutan Orang dengan KA Kelas Ekonomi Perkotaan Di Pulau Jawa Tahun 2020 p.31
Tabel 4. 7 Proyeksi Demand Penumpang KA

Tabel 4.

7 Proyeksi Demand Penumpang KA p.32
Tabel 4. 8 Proyeksi Demand Penumpang Naik dan Turun KA

Tabel 4.

8 Proyeksi Demand Penumpang Naik dan Turun KA p.33
Gambar 4. 7 Total Produksi Wilayah Bogor dan Cianjur  Sumber : BPS Kab. Bogor dan Kab

Gambar 4.

7 Total Produksi Wilayah Bogor dan Cianjur Sumber : BPS Kab. Bogor dan Kab p.34
Tabel 4. 9 Proyeksi Demand Barang KA Skenario Optimis, Moderat, dan Pesimis

Tabel 4.

9 Proyeksi Demand Barang KA Skenario Optimis, Moderat, dan Pesimis p.35
Tabel 4. 10 Proyeksi Demand Barang Bongkar dan Muat KA

Tabel 4.

10 Proyeksi Demand Barang Bongkar dan Muat KA p.36
Tabel 4. 11  Jarak Ruang Bangun

Tabel 4.

11 Jarak Ruang Bangun p.43
Gambar 4. 8  Klasifikasi Dari Jalur Kereta Api

Gambar 4.

8 Klasifikasi Dari Jalur Kereta Api p.45
Gambar 4. 9  Track Layout Kereta Api  d.  Jenis dan fungsi Jalur di emplasemen suatu stasiun

Gambar 4.

9 Track Layout Kereta Api d. Jenis dan fungsi Jalur di emplasemen suatu stasiun p.46
Gambar 6. 1 Rencana Trase Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol – Cianjur

Gambar 6.

1 Rencana Trase Kereta Api Lintas Cileungsi – Jonggol – Cianjur p.48
Tabel 6. 2 Perkiraan Anggaran Biaya Pengadaan Lahan  Jenis Lahan  Luas Lahan  Harga Rata-

Tabel 6.

2 Perkiraan Anggaran Biaya Pengadaan Lahan Jenis Lahan Luas Lahan Harga Rata- p.50
Tabel 6. 1 Pola Operasi Perjalanan KA

Tabel 6.

1 Pola Operasi Perjalanan KA p.50
Tabel 6. 3 Perkiraan Anggaran Biaya Pengadaan Lahan Stasiun dan Jalan Akses  Jenis Lahan  Luas Lahan  Harga Rata-

Tabel 6.

3 Perkiraan Anggaran Biaya Pengadaan Lahan Stasiun dan Jalan Akses Jenis Lahan Luas Lahan Harga Rata- p.51
Tabel 6. 4 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Pembangunan Prasarana Kereta  Api Trase Cileungsi – Jonggol - Cianjur

Tabel 6.

4 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya Pembangunan Prasarana Kereta Api Trase Cileungsi – Jonggol - Cianjur p.51
Tabel 6. 7 Biaya Perawatan Prasarana Kereta Api

Tabel 6.

7 Biaya Perawatan Prasarana Kereta Api p.52
Tabel 6. 6 Perkiraan Anggaran Biaya Manajemen dan Contigency  Uraian  Jumlah Biaya (Rp./ Juta)

Tabel 6.

6 Perkiraan Anggaran Biaya Manajemen dan Contigency Uraian Jumlah Biaya (Rp./ Juta) p.52
Tabel 6. 9 Indikator Kelayakan Finansial Pembangunan Jalur Kereta Api

Tabel 6.

9 Indikator Kelayakan Finansial Pembangunan Jalur Kereta Api p.53
Tabel 6. 8 Indikator Kelayakan Ekonomi Pembangunan Jalur Kereta Api

Tabel 6.

8 Indikator Kelayakan Ekonomi Pembangunan Jalur Kereta Api p.53

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in