PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 03 TAHUN 2006 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN

NOMOR 03 TAHUN 2006

TENTANG

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA TARAKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TARAKAN

Menimbang : a. bahwa seiring dengan perkembangan kota yang sangat pesat menuntut adanya penataan ruang kota sebagai usaha untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan kota yang aman, tertib, nyaman dan teratur serta sehat, memenuhi kebutuhan manusia hingga dapat memberikan pelayanan yang optimal dan efisien;

b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antarsektor, antar bagian wilayah kota dan antar pelaku dalam pemanfaatan ruang di Kota Tarakan, maka Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 15 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tarakan Tahun 2000 - 2010 sudah tidak sesuai dengan perkembangan saat ini sehingga perlu direvisi dan disesuaikan dengan visi dan misi Kota Tarakan;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tarakan.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3186);

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);

4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274);

5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3501);

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);

(2)

7. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1997 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tarakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3711);

8. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang ((Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); 9. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 10. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4411);

11. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);

12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3660); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3721); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1982 tentang Irigasi (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3226);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang-Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3293);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838);

19. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3934);

(3)

20. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);

21. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan/atau Lahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4076); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4242);

23. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385);

24. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4453);

25. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung;

26. Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan;

27. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 1999 Nomor 11 Seri C-01) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 26 Tahun 2001 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2001 Nomor 26 Seri D-09);

28. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 21 Tahun 1999 tentang Hutan Kota (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 1999 Nomor 13 Seri C);

29. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 24 Tahun 2000 tentang Bangunan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2000 Nomor 23 Seri D) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 22 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 24 Tahun 2000 tentang Bangunan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2002 Nomor 22 Seri E-16);

30. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 03 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2002 Nomor 03 Seri E-01);

31. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 04 Tahun 2002 tentang Larangan dan Pengawasan Hutan Mangrove di Kota Tarakan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2002 Nomor 04 Seri E-02);

32. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 03 Tahun 2004 tentang Pembentukan Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tarakan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2004 Nomor 03 Seri D-01);

33. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 04 Tahun 2004 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Kota Tarakan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2004 Nomor 04 Seri D-02);

34. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 05 Tahun 2004 tentang Pembentukan Organisasi Dinas Daerah Kota Tarakan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2004 Nomor 05 Seri D-03);

35. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 06 Tahun 2004 tentang Pembentukan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan Kota Tarakan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2004 Nomor 06 Seri D-04);

36. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 12 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan dan Hasil Hutan (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2004 Nomor 12 Seri E-02);

(4)

37. Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pemberian Ijin Lokasi (Lembaran Daerah Kota Tarakan Tahun 2004 Nomor 13 Seri E-03).

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TARAKAN

DAN

WALIKOTA TARAKAN

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA TARAKAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia;Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;

2. Pemerintah Daerah adalah Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;

3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;

4. Kepala Daerah adalah Walikota Tarakan;

5. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disebut BAPPEDA adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tarakan; 6. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang

udara, termasuk di dalamnya tanah, air, udara dan benda lainnya serta daya dan keadaan, sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan memelihara kelangsungan hidupnya;

7. Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak, yang menunjukkan adanya hirarki dan keterkaitan pemanfaatan ruang;

8. Penataan Ruang adalah proses perencanaan, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang;

9. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang;

10. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang selanjutnya disebut RTRW Nasional adalah rencana tata ruang dalam wilayah administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah Negara;

11. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, yang selanjutnya disebut RTRW Provinsi adalah rencana dalam wilayah administrasi Provinsi Kalimantan Timur yang merupakan penjabaran strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah provinsi;

(5)

12. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota, yang selanjutnya disebut RTRW adalah rencana tata ruang yang berdasarkan potensi wilayah dengan memperhatikan RTRW Provinsi ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kota Tarakan;

13. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional;

14. Kawasan adalah suatu wilayah yang mempunyai fungsi dan atau aspek/pengamatan fungsional tertentu;

15. Lahan adalah suatu hamparan ekosistem daratan yang diperuntukannya untuk usaha dan/atau kegiatan ladang dan/atau kebun bagi masyarakat;

16. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan;

17. Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan;

18. Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi;

19. Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi;

20. Kawasan Permukiman adalah daerah tertentu yang didominasi lingkungan hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan sarana prasarana daerah dan tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja guna mendukung penghidupan, perikehidupan sehingga fungsi kawasan dapat berdaya guna dan berhasil guna;

21. Wilayah Pengembangan Kota, yang selanjutnya disebut WPK adalah bagian wilayah dari kota yang merupakan wilayah yang terbentuk secara fungsional dan administratif dalam rangka pencapaian daya guna pelayanan kegiatan kota;

22. Sistem Pusat Kegiatan Kota adalah tata jenjang dan fungsi pelayanan pusat-pusat kegiatan kota yang meliputi pusat-pusat kota, pusat-pusat bagian wilayah kota, pusat-pusat sub bagian wilayah kota, dan pusat lingkungan perumahan;

23. Rencana Pemanfaatan Ruang Kota adalah penetapan lokasi, besaran luas dan arahan pengembangan tiap jenis pemanfaatan ruang untuk mewadahi berbagai kegiatan kota baik dalam bentuk kawasan terbangun maupun kawasan/ruang terbuka hijau;

24. Kawasan Terbangun adalah ruang dalam kawasan permukiman perkotaan yang mempunyai ciri dominasi penggunaan lahan secara terbangun atau lingkungan binaan untuk mewadahi kegiatan perkotaan;

25. Kawasan atau Ruang Terbuka Hijau adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan dan atau pemanfaatannya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau tumbuh-tumbuhan secara alamiah ataupun budidaya tanaman;

26. Kawasan Industri adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama sebagai tempat pemusatan kegiatan industri beserta prasarana dan sarana pendukungnya;

27. Prasarana Kota adalah kelengkapan dasar fisik yang memungkinkan kawasan permukiman perkotaan dapat bergungsi sebagaimana mestinya yang meliputi jalan, saluran air minum, saluran air limbah, saluran air hujan, pembuangan sampah, jaringan listrik dan telekomunikasi;

(6)

28. Sarana Kota adalah kelengkapan kawasan permukiman perkotaan yang berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, perbelanjaan dan niaga, pemerintahan dan pelayanan umum, peribadatan, rekreasi dan kebudayaan, olahraga dan lapangan terbuka, serta pemakaman umum;

29. Kawasan Khusus adalah kawasan fungsional yang secara khusus ditetapkan dan pengembangan atau penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun waktu rencana;

30. Kawasan Bersejarah adalah daerah yang didalamnya terdapat beberapa peninggalan bersejarah,seperti kawasan peninggalan perang dunia ke II;

31. Kawasan Wisata adalah daerah yang memiliki beberapa potensi objek-objek wisata;

32. Pemanfaatan Ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan dalam RTRW;

33. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengawasan dan penertiban agar pemanfaatan ruang sesuai dengan tata ruang yang telah ditetapkan. Pengawasan dimaksud untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi raung yang ditetapkan dalam rencana yang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan, pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang. Penertiban pemanfaatan ruang adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud;

34. Lingkungan adalah suatu satuan ruang yang menggambarkan kesatuan sistem kehidupan baik aspek sosial, budaya, ekonomi maupun pemerintahan;

35. Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;

36. Daerah Aliran Sungai, yang selanjutnya disebut DAS atau disebut juga dengan Daerah Pengaliran Sungai, yang selanjutnya disebut DPS adalah sebuah kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air ke anak sungai dan sungai utama yang bermuara ke danau atau laut;

37. Garis Sempadan Sungai adalah garis batas kawasan sepanjang kiri-kanan sungai termasuk sungai buatan atau kanal atau saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai;

38. Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan pemusnahan dengan jalan mengawetkan/pelestarian; 39. Revitalisasi Kawasan adalah upaya menghidupkan atau menggiatkan kembali

suatu kawasan fungsional kota;

40. Konservasi dan Revitalisasi Alam adalah upaya untuk pelestarian, perlindungan maupun pengelolaan terhadap suatu kawasan dengan memperhatikan kondisi ekologis dan aspek-aspek lainnya sehingga kawasan tersebut dapat dipertahankan seperti keadaan aslinya.

BAB II

NORMA PERENCANAAN TATA RUANG

Bagian Pertama Asas

Pasal 2

Rencana Tata Ruang Kota Tarakan disusun berdasarkan atas asas :

a. Pemanfaatan ruang untuk semua kepentingan secara terpadu, berdayaguna dan berhasilguna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan;

(7)

b. Persamaan, keadilan dan perlindungan hukum;

c. Keterbukaan, akuntabilitas dan peran serta masyarakat.

Bagian Kedua Visi, Misi dan Tujuan

Pasal 3

Pembangunan Kota Tarakan diarahkan dengan visi terwujudnya Tarakan sebagai Kota pusat pelayanan, perdagangan dan jasa yang berbudaya, sehat, adil, sejahtera dan berkelanjutan.

Pasal 4

Untuk mewujudkan visi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, maka misi yang ditempuh adalah :

a. Menumbuhkembangkan pelayanan umum yang handal sebagai pusat rujukan wilayah sekitarnya;

b. Meningkatkan aktifitas jasa perdagangan nasional dan internasional; c. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan;

d. Melaksanakan pembangunan kota pulau yang sehat dan berkelanjutan;

e. Mengembangkan pola hidup dan sikap masyarakat Kota Tarakan yang berbudaya.

Pasal 5

Tujuan pembangunan Kota Tarakan adalah:

a. Meningkatkan kapasitas dan jangkauan pelayanan transit dan perdagangan dalam lingkup wilayah;

b. Menyiapkan ruang kota bagi pertambahan penduduk dan perluasan fungsi kota dan kurun waktu 10 (sepuluh) tahun mendatang;

c. Meningkatkan intensitas kegiatan perekonomian dan pelayanan di berbagai bagian wilayah kota secara merata;

d. Mendorong pertumbuhan kegiatan perekonomian di luar sektor pertambangan dengan mengoptimalkan penggunaan sumberdaya alam secara berkelanjutan; e. Meningkatkan kenyamanan, kesehatan, keselamatan, serta kelestarian

lingkungan;

f. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia masyarakat kota.

Bagian Ketiga Fungsi dan Kedudukan

Pasal 6

RTRW Kota Tarakan yang ditetapkan diharapkan dapat berfungsi sebagai pedoman untuk :

a. Perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kota Tarakan; b. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan antar

wilayah;

c. Penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat di wilayah Kota Tarakan;

d. Penyusunan rencana rinci tata ruang di wilayah Kota Tarakan (Rencana Detail Tata Ruang Kawasan dan Rencana Teknik Ruang Kawasan);

(8)

e. Pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan;

f. Dasar dalam mengeluarkan perjinan lokasi pembangunan.

Pasal 7

(1) RTRW Kota Tarakan merupakan strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kota Tarakan yang selaras dengan RTRW Nasional dan RTRW Propinsi Kalimantan Timur;

(2) RTRW mewadahi kepentingan strategis Nasional dan Propinsi setelah terlebih dahulu berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah;

(3) RTRW merupakan matra ruang dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Tarakan.

BAB III

WILAYAH, MATERI DAN JANGKA WAKTU RENCANA

Pasal 8

Wilayah perencanaan yang tercakup dalam RTRW Kota Tarakan meliputi wilayah daratan seluas 25.080 Ha (dua puluh lima ribu delapan puluh hektar) dari wilayah administrasi kota seluas 65.733 Ha (enam puluh lima ribu tujuh ratus tiga puluh tiga hektar), yang meliputi Kecamatan Tarakan Utara, Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Tarakan Timur.

Pasal 9

Materi RTRW Kota Tarakan meliputi: a. Kebijakan Penataan Ruang Kota; b. Rencana Struktur Tata Ruang Kota;

c. Rencana Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota;

d. Rencana Pengembangan Sarana dan Prasarana Kota; e. Indikasi Program Pembangunan Kota;

f. Pengendalian Pemanfaatan Ruang.

Pasal 10

Jangka waktu RTRW adalah sampai dengan Tahun 2013 atau sampai tersusunnya RTRW yang baru sebagai hasil evaluasi dan/atau revisi.

BAB IV

KEBIJAKAN PENATAAN RUANG KOTA

Bagian Pertama

Konservasi dan Revitalisasi Alam

Pasal 11

Kebijakan konservasi dan revitalisasi alam meliputi :

a. Mengkonservasi dan memproteksi kawasan hutan lindung, hutan kota dan hutan mangrove;

(9)

c. Merehabilitasi, mereboisasi, dan mencegah kerusakan kawasan hutan;

d. Memanfaatkan sebagian kawasan hutan untuk wisata ekologi dan wisata alam (ecotourism).

Bagian Kedua

Konservasi dan Revitalisasi Kawasan Bersejarah

Pasal 12

Kebijakan konservasi dan revitalisasi kawasan/bangunan bersejarah meliputi : a. Mengkonservasi dan merevitalisasi kawasan bersejarah;

b. Mengembangkan pariwisata budaya dan lingkungan hidup;

c. Mengembangkan dan promosi produk-produk wisata minat khusus; d. Meningkatkan peran masyarakat dan swasta sebagai pelaku utama wisata;

e. Meningkatkan pemasaran wisata.

Bagian Ketiga

Pengembangan Kawasan Wisata

Pasal 13

Kebijakan pengembangan kawasan wisata meliputi :

a. Mengembangkan pariwisata budaya dan lingkungan hidup;

b. Mengembangkan dan mempromosikan produk-produk wisata minat khusus; c. Meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta sebagai pelaku utama

wisata;

d. Meningkatkan pemasaran wisata.

Bagian Keempat

Pengembangan Kawasan Permukiman

Pasal 14

Kebijakan pengembangan kawasan pemukiman meliputi :

a. Membangun permukiman Kota Tarakan yang sehat, nyaman dan layak huni; b. Membatasi perkembangan permukiman yang kurang serasi dengan konservasi

lingkungan;

c. Menata permukiman kumuh;

d. Mengembangkan rumah susun dan rumah vertikal pada kawasan-kawasan yang berkepadatan tinggi;

e. Mengembangkan kawasan permukiman baru dengan sarana dan prasarana lengkap.

Bagian Kelima

Pengembangan Ekonomi Kota Tarakan

Pasal 15

Kebijakan pengembangan ekonomi Kota Tarakan meliputi :

a. Memperkuat sektor industri pengolahan kayu, udang dan ikan sebagai basis pengembangan ekonomi wilayah;

(10)

c. Mengembangkan industri rumah tangga yang menunjang struktur ekonomi; d. Meningkatkan produksi dan pemasarannya;

e. Meningkatkan kapasitas produksi dengan sistem buka tutup;

f. Menyediakan pusat kawasan peternakan rakyat untuk meningkatkan kinerja lingkungan;

g. Memperbaiki dan memperlancar transportasi dan pengiriman; h. Meningkatkan nilai perdagangan ekspor dan impor;

i. Meningkatkan volume perdagangan dengan wilayah belakang (hinterland); j. Mengembangkan dunia usaha di Kota Tarakan;

k. Mengembangkan pasar baru dan penataan/rehabilitasi pasar-pasar yang ada.

Bagian Keenam

Pengembangan Kawasan Khusus

Pasal 16

Kebijakan pengembangan kawasan khusus, meliputi :

a. Mengembangkan kawasan pertahanan dan keamanan di Tarakan sebagai pertahanan nasional dan kota;

b. Mengembangkan dan meningkatkan fasilitas untuk setiap jenjang pendidikan; c. Mengembangkan Kota Baru (New Town) untuk mendistribusikan kegiatan di

Kota Tarakan;

d. Mengembangkan Kawasan Pemerintahan;

e. Mengembangkan Kawasan Pantai Amal Tarakan Timur.

Bagian Ketujuh

Pengembangan Sistem Transportasi

Pasal 17

Kebijakan pengembangan sistem transportasi, meliputi : a. Menangani sistem transportasi di pusat kota;

b. Meningkatkan pemerataan aksebilitas pada seluruh wilayah;

c. Meningkatkan kualitas, prasarana dan jangkauan pelayanan sistem angkutan umum sebagai moda (jenis angkutan) alternatif bagi masyarakat;

d. Meningkatkan disiplin lalu lintas bagi pengguna jalan baik pribadi maupun umum;

e. Meningkatkan pelayanan dan sistem angkutan kota dengan mengintegrasikan sistem perpindahan antar moda darat, laut dan udara;

f. Menciptakan perairan pantai yang tertib;

g. Meningkatkan pelayanan sistem transportasi laut skala regional, nasional dan internasional;

h. Meningkatkan pelayanan sistem transportasi udara skala domestik dan internasional;

i. Meningkatkan Bandar Udara Juwata sebagai fasilitas pertahanan dan keamanan udara wilayah Kalimantan Timur bagian Utara.

Bagian Kedelapan

Pengembangan Sistem Prasarana Perkotaan

(11)

(1) Kebijakan pengembangan sistem drainase perkotaan, meliputi :

a. Mengembangkan DAS dan rawa-rawa sebagai daerah tangkapan air hujan; b. Meningkatkan kondisi hutan lindung sebagai kawasan resapan air;

c. Pengendalian terhadap bahaya banjir;

d. Pengaturan sistem drainase di perumahan dan permukiman.

(2) Kebijakan pengembangan sistem air bersih, meliputi :

a. Melindungi sumber air baku secara kuantitas, kualitas dan kontinuitas; b. Meningkatkan sistem pelayanan air bersih;

c. Memperkecil angka/nilai kebocoran yang relatif masih besar (kebocoran pipa jaringan distribusi).

(3) Kebijakan pengembangan Sistem Air Limbah, meliputi :

a. Penanganan air limbah domestik Kota Tarakan melalui pengelolaan air limbah secara terpadu;

b. Penanganan air limbah non domestik melalui sistem pengelolaan limbah non domestik yang tidak mencemari lingkungan.

(4) Kebijakan pengembangan Sistem Pengelola Persampahan, meliputi : a. Penanganan persampahan Terpadu;

b. Sistem pembuangan akhir sampah yang tidak mencemari lingkungan.

Bagian Kesembilan

Pengembangan Sistem Pelayanan Kegiatan Kota

Pasal 19

Kebijakan pengembangan sistem pelayanan kegiatan kota meliputi : a. Memadukan sistem kota lama dengan yang baru;

b. Mengembangkan Kota Tarakan ke bagian utara dan selatan;

c. Mengembangkan Kota Tarakan ke bagian barat dan timur Pulau Tarakan; d. Meningkatkan aksesibilitas Kota dari arah laut maupun udara;

e. Mengembangkan sistem loop untuk merangkai seluruh wilayah Daerah; f. Mengembangkan dan peningkatan jalan poros;

g. Menciptakan pusat-pusat pelayanan kota yang hierarkis; h. Menciptakan unit-unit pengembangan spasial baru.

Bagian Kesepuluh

Pengembangan Struktur Tata Ruang Kota

Pasal 20

Kebijakan pengembangan struktur tata ruang kota, meliputi :

a. Menciptakan kerangka kota baru yang merangkai seluruh wilayah Kota Tarakan;

b. Merevitalisasi kerangka kota yang ada;

c. Memanfaatkan alur sungai sebagai unsur kerangka kota; d. Mengendalikan pemanfaatan lahan pada area patahan;

e. Meningkatkan fungsi dan peran unsur pembentuk struktur tata ruang kota; f. Mengembangkan unsur pembentuk struktur tata ruang kota yang baru; g. Mengendalikan dan membatasi ruang-ruang struktural yang tidak sesuai.

(12)

Bagian Kesebelas Kependudukan

Pasal 21

(1) Kebijakan penyediaan ruang yang optimal dalam kaitannya dengan pengembangan kependudukan dijabarkan dalam strategi :

a. Menentukan ruang-ruang yang sesuai dengan kultur/budaya masyarakat setempat;

b. Menentukan ruang-ruang yang sesuai dengan kondisi fisik lahan dan kelayakan lahan;

c. Menentukan ruang-ruang yang sesuai dengan potensi untuk dikembangkan;

d. Menentukan ruang-ruang yang mempunyai aksesbilitas yang baik terhadap struktur tata ruang kota;

(2) Kebijakan konservasi dan revitalisasi warisan budaya terbangun dijabarkan dalam strategi :

a. Penataan dan pengaturan ruang untuk kawasan permukiman; b. Penetapan akan fungsi dari masing-masing kawasan;

(3) Memberikan kesempatan pendidikan penduduk baik pendidikan formal maupun non formal;

(4) Penyediaan dan peningkatan fasilitas kesehatan.

BAB V

RENCANA STRUKTUR TATA RUANG KOTA

Bagian Pertama Umum

Pasal 22

Rencana struktur tata ruang wilayah meliputi pembagian wilayah, rencana pengembangan sistem pusat pelayanan, rencana struktur kegiatan fungsional, dan rencana struktur jaringan transportasi.

Bagian Kedua Pembagian Wilayah

Pasal 23

(1) Pengembangan wilayah Kota secara fungsional dibagi dalam 5 (lima) WPK : a. WPK I yang merupakan Kawasan Kota Lama meliputi Kelurahan Karang

Anyar Pantai, Kelurahan Karang Anyar, Kelurahan Karang Rejo, Kelurahan Karang Balik, Kelurahan Selumit Pantai, Kelurahan Selumit, Kelurahan Sebengkok, Kelurahan Lingkas Ujung, Kelurahan Gunung

(13)

Lingkas, sebagian wilayah Kelurahan Pamusian, dan Kelurahan Mamburungan;

b. WPK II yang merupakan Kawasan Wisata dan Pendidikan meliputi sebagian wilayah Kelurahan Kampung Enam, sebagian wilayah Kelurahan Kampung Empat dan Kelurahan Mamburungan Timur;

c. WPK III yang merupakan Kawasan Campuran (Mix Use) meliputi sebagian wilayah Kelurahan Kampung Satu Skip dan sebagian wilayah Kelurahan Juata Laut;

d. WPK IV yang merupakan Kota Baru (New Town) dan Industri meliputi Kelurahan Juata Permai, Kelurahan Karang Harapan, sebagian wilayah Kelurahan Juata Laut dan sebagian wilayah Kelurahan Juata Kerikil; e. WPK V yang merupakan Kawasan Preservasi dan Konservasi meliputi

sebagian wilayah Kelurahan Juata Laut, sebagian wilayah Kelurahan Kampung Satu Skip, sebagian wilayah Kelurahan Pamusian, sebagian wilayah Kelurahan Kampung Enam, dan sebagian wilayah Kelurahan Kampung Empat.

(2) Tabel Pembagian WPK secara fungsional di Kota Tarakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Tabel 1 Lampiran I.

Bagian Ketiga

Pengembangan Sistem Pusat Pelayanan

Pasal 24

(1) Rencana pusat-pusat pelayanan kegiatan kota dengan fungsi dan tingkat pelayanan yang hierarkis dan terkait dengan sistem jaringan jalan, yaitu pusat kota dan sub pusat kota;

(2) Pusat kota diarahkan di 2 (dua) lokasi, yaitu :

a. Pusat Kota Lama Tarakan, meliputi sebagian dari wilayah kecamatan Tarakan Barat, Tengah dan Timur;

b. Pusat Kota Baru merupakan Pusat Pemerintahan di Kecamatan Tarakan Utara;

(3) Sub Pusat Kota diarahkan di 5 (lima) lokasi, yaitu :

a. Sub pusat kota di bagian Utara sebagai Kawasan Campuran (Mix Use Area) Industri dan permukiman Juata Laut;

b. Sub Pusat Kota di wilayah Kota Baru sebagai kawasan campuran (Mix Use Area) Komersial dan permukiman di Juata Laut;

c. Sub Pusat Kota di area pengembangan merupakan kawasan campuran (Mix Use Area) Komersial dan permukiman di Tanjung Simaya;

d. Sub Pusat Kota di bagian Timur sebagai kawasan campuran (Mix Use Area) Komersial wisata di sekitar Pantai Amal;

e. Sub Pusat Kota di bagian Selatan sebagai kawasan Industri di sekitar Mamburungan;

Bagian Keempat

Rencana Struktur Kegiatan Fungsional Kota

Pasal 25

Rencana struktur kegiatan fungsional yang akan dikembangkan di Kota Tarakan meliputi :

(14)

b. Kawasan Perdagangan dan Jasa c. Kawasan Permukiman; d. Kawasan Pertambangan; e. Kawasan Pariwisata; f. Kawasan Pertanian; g. Kawasan Peternakan; h. Kawasan Perikanan;

i. Kawasan Khusus, yang meliputi Kawasan Pertahanan dan Keamanan, Kawasan Pendidikan, Kawasan Olahraga, Kawasan Pemerintahan, dan Kawasan Kota Baru.

Bagian Kelima

Rencana Struktur Jaringan Transportasi

Pasal 26

(1) Rencana pergerakan menggunakan sistem loop yang berupa jalan lingkar sebagai jaringan jalan yang merangkai seluruh wilayah Pulau Tarakan, yaitu : a. Jalan lingkar luar Utara, menghubungkan wilayah di Kecamatan Tarakan

Utara, Tengah dan Timur;

b. Jalan lingkar luar Tengah, menghubungkan wilayah di Kecamatan Tarakan Tengah dan Kecamatan Tarakan Timur;

c. Jalan lingkar dalam menghubungkan wilayah di Kecamatan Tarakan Utara, Barat, Tengah dan Kecamatan Tarakan Timur;

(2) Rencana Jalan Poros yang merupakan jaringan jalan yang merangkai wilayah Utara dengan wilayah Selatan serta dari wilayah Barat dengan wilayah Timur, yaitu :

a. Jalan Poros Utara ke Selatan menggunakan ruas jalan meliputi: Jalan Yos Sudarso, Jalan Mulawarman, Jalan Aki Balak dan Jalan Pangeran Aji Iskandar;

b. Jalan Poros Barat ke Timur menggunakan ruas jalan meliputi: Jalan Gajah Mada, Jalan Sudirman, Jalan Sumatra, Jalan Pulau Sadau, Jalan Patimura, Jalan Pulau Ligitan, Jalan Sungai Sesayap, Jalan Sungai Kapuas, Jalan Sungai Kayan;

(3) Rencana Pintu-pintu Gerbang Kota yang terintergrasi dengan sistem Transportasi meliputi:

a. Pelabuhan di Tanjung Juata di Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara; b. Pelabuhan di Tanjung Simaya di Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara; c. Pelabuhan di Tanjung Selayung di Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara; d. Pelabuhan di Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur;

e. Pelabuhan di Tanjung Pasir, Kecamatan Tarakan Timur;

f. Pelabuhan di Pantai Barat dengan Jalan Akibabu, Kecamatan Tarakan Barat;

g. Pelabuhan di Pantai Barat kawasan pemerintahan Kecamatan Tarakan Utara.

(15)

BAB VI

RENCANA PEMANFAATAN RUANG KOTA

Bagian Pertama Umum

Pasal 27

(1) Rencana pemanfaatan ruang kota meliputi rencana pemanfaatan ruang kawasan lindung dan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya;

(2) Kawasan lindung meliputi kawasan hutan lindung dan hutan kota, kawasan hutan mangrove, kawasan bersejarah dan kawasan perlindungan setempat;

(3) Kawasan budidaya meliputi kawasan industri, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan pariwisata, kawasan permukiman, kawasan pertambangan, kawasan pertanian, kawasan peternakan, kawasan perikanan dan kawasan khusus (kawasan pertahanan dan keamanan, kawasan pendidikan, kawasan olahraga, kawasan pemerintahan, kawasan kota baru).

Bagian Kedua

Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung

Paragraf 1 Umum

Pasal 28

Rencana pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung meliputi penetapan lokasi, luasan dan arahan pengembangan bagi kawasan hutan lindung, kawasan hutan kota, kawasan hutan mangrove, kawasan bersejarah, dan kawasan perlindungan setempat.

Pasal 29

Rencana pemanfaatan ruang untuk hutan lindung dan hutan kota meliputi :

a. Kawasan hutan lindung termasuk rencana penambahan kawasan hutan lindung yang diperbaharui batasnya berdasarkan bentuk kontur, ketinggian, jenis tanah, tegakan, vegetasi dan kawasan bahaya geomorfologi dan potensi hutan lindung;

b. Kawasan hutan yang telah ditetapkan sebagai hutan kota dan kawasan atau ruang terbuka hijau yang pemanfaatannya lebih bersifat pengisian hijau tanaman atau tumbuh-tumbuhan secara alamiah ataupun budidaya tanaman.

Pasal 30

Hutan lindung dan hutan kota di seluruh wilayah Kota harus dijaga keutuhan dan keberadaannya untuk dikembangkan sebagai :

a. Kawasan daerah tangkapan air hujan sebagai sumber penyediaan air bersih Kota Tarakan;

b. Pengikat material tanah di Kota Tarakan yang mudah lepas terutama pada lahan-lahan kritis.

(16)

Pasal 31

Pengembangan lokasi hutan lindung dan hutan kota meliputi wilayah : a. Kawasan Hijau (Green Belt) di kawasan Kota Baru di Juata Laut; b. Kawasan Hijau (Green Belt) di kawasan lapangan tembak;

c. Hutan Kota di kawasan patahan yang memanjang di Tanjung Selayung;

d. Hutan Kota di Kelurahan Karang Harapan, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kelurahan Sebengkok, Kelurahan Mamburungan dan Kelurahan Kampung Enam.

Paragraf 2

Kawasan Hutan Lindung

Pasal 32

(1) Hutan Lindung Kota Tarakan diarahkan pengembangannya dengan batas baru yang disesuaikan dengan kondisi kontur, ketinggian, jenis tumbuhan/tanaman (vegetasi) dan kawasan bahaya geomorfologi yang membentang dari Utara ke Selatan Kota Tarakan;

(2) Alokasi ruang untuk Hutan Lindung mencakup ± 6.860 Ha (enam ribu delapan ratus enam puluh hektar), yang berlokasi di 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Timur dan Kecamatan Tarakan Utara;

(3) Alokasi ruang untuk hutan lindung di Kecamatan Tarakan Tengah berlokasi di Kelurahan Kampung Satu Skip dan Kelurahan Pamusian;

(4) Alokasi ruang untuk hutan lindung di Kecamatan Tarakan Timur berlokasi di Kelurahan Kampung Enam, Kelurahan Kampung Empat dan Kelurahan Mamburungan;

(5) Alokasi ruang untuk hutan lindung di Kecamatan Tarakan Utara, berlokasi di Kelurahan Juata Laut, Kelurahan Juata Kerikil dan Kelurahan Juata Permai.

Paragraf 3 Kawasan Hutan Kota

Pasal 33

(1) Kawasan Hutan Kota yang telah ditetapkan sebelumnya dan rencana Hutan Kota baru yang direkomendasikan berdasarkan kondisi bahaya geomorfoligikal, Kawasan Hijau (Greenbelt), Kota Baru, Lapangan Tembak atau suatu kawasan wisata khusus, meliputi :

a. Kawasan Hijau (Greenbelt) di kawasan Kota Baru dan kawasan Lapangan Tembak;

b. Hutan Kota di kawasan Patahan yang memanjang di Tanjung Selayung;

(2) Kawasan Hutan Kota dikembangkan di 4 (empat) Kecamatan dengan luas 2.797 Ha (dua ribu tujuh ratus sembilan puluh tujuh hektar), yang meliputi :

(17)

a. Kecamatan Tarakan Utara, yaitu Kelurahan Juata Laut, Kelurahan Juata Kerikil dan Kelurahan Juata Permai dengan luas lahan ± 1049 Ha (Seribu empat puluh sembilan hektar);

b. Kecamatan Tarakan Timur, yaitu Kelurahan Kampung Enam, Kelurahan Kampung Empat dan Kelurahan Mamburungan dengan luas lahan ± 844 Ha (delapan ratus empat puluh empat hektar);

c. Kecamatan Tarakan Tengah, yaitu Kelurahan Kampung Satu Skip, Kelurahan Pamusian dan Kelurahan Gunung Lingkas dengan luas lahan ± 650 Ha (enam ratus lima puluh hektar);

d. Kecamatan Tarakan Barat, yaitu Kelurahan Karang Balik dan Kelurahan Karang Harapan dengan luas lahan ± 254 Ha (Dua ratus lima puluh empat hektar).

Paragraf 4

Kawasan Hutan Mangrove

Pasal 34

(1) Hutan Mangrove merupakan ekosistem tanaman pesisir pantai yang sangat berperan penting menjaga kawasan pantai dari abrasi dan intrusi air laut ke daratan serta bermanfaat juga bagi ekosistem fauna yang tinggal dan hidup di bawahnya;

(2) Keberadaan Hutan Mangrove di Kota Tarakan saat ini sudah semakin berkurang, sehingga perlu adanya konservasi dan revitalisasi kawasan Hutan Mangrove di Kota Tarakan;

(3) Kawasan mangrove yang ada di pesisir pantai Kota Tarakan dipertahankan untuk mencegah abrasi kawasan pantai dan intrusi air laut.

Pasal 35

Rencana Pengembangan Kawasan Hutan Mangrove meliputi :

a. Penunjukan kawasan hutan mangrove di Juata Laut, Pantai Amal dan Pamusian menjadi kawasan hutan konservasi (Green Belt) minimal selebar ± 130 m (seratus tiga puluh meter) dari garis pantai sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

b. Pemberian legitimasi kawasan hutan mangrove sebagai areal yang dilindungi; c. Pelaksanaan kegiatan penghijauan pada lokasi yang telah ditunjuk sebagai

kawasan hutan konservasi;

d. Pengembangan potensi ekowisata;

e. Penyediaan sarana dan prasarana pendukung kawasan wisata alam (ecotourism) dengan memanfaatkan sarana milik masyarakat.

Pasal 36

(1) Hutan Mangrove yang diarahkan pengembangannya untuk kegiatan Konservasi, Ekowisata maupun sebagai penyangga/penahan (buffer) Ekosistem pantai, antara lain:

a. Hutan Mangrove yang membentang dari Juata Laut sampai kawasan Industri;

b. Hutan Mangrove Juata Laut, Pantai Amal dan Hutan Mangrove Tengkayu;

(2) Kawasan Hutan Mangrove terbagi dalam 4 (empat) Kecamatan dengan luas ± 766 Ha (tujuh ratus enam puluh enam hektar), meliputi :

(18)

a. Kecamatan Tarakan Utara, yaitu Kelurahan Juata Laut dengan luas lahan ± 363 Ha (tiga ratus enam puluh tiga hektar);

b. Kecamatan Tarakan Tengah, yaitu Kelurahan Kampung Satu Skip, Kelurahan Selumit Pantai, dengan luas lahan ± 89 Ha (delapan puluh sembilan hektar);

c. Kecamatan Tarakan Timur, yaitu Kelurahan Pantai Amal dan Kelurahan Mamburungan, Kelurahan Lingkas Ujung dengan luas lahan ± 203 Ha (dua ratus tiga hektar);

d. Kecamatan Tarakan Barat, yaitu di Kelurahan Karang Rejo dan Karang Anyar Pantai dengan luas lahan ± 110 Ha (seratus sepuluh hektar).

Paragraf 5

Kawasan Bersejarah dan Permukiman Tradisional

Pasal 37

(1) Keberadaan kawasan bersejarah ditetapkan berdasarkan potensi historis pada masa Perang Dunia II dan terkait dengan sejarah pemerintahan Kota;

(2) Rencana pemanfaatan ruang kawasan bersejarah mencakup kawasan tempat berlokasinya peninggalan benda-benda bersejarah Perang Dunia II dengan luas lahan ± 326,205 Ha (tiga ratus dua puluh enam koma dua ratus lima hektar).

Pasal 38

Lokasi kawasan Permukiman Tradisional meliputi permukiman di Karungan dan permukiman di Kelurahan Mamburungan, Kelurahan Selumit dan Kelurahan Juata Laut.

Pasal 39

Lokasi kawasan bersejarah dan atau objek bersejarah, antara lain meliputi :

a. Bunker Belanda dan Jepang di kawasan Peningki Lama, Juata Laut dan Karang Balik;

b. Tugu Australia di Kelurahan Kampung Satu Skip; c. Makam Jepang di Markoni;

d. Kawasan Pengeboran Minyak di Kelurahan Pamusian dan Kelurahan Kampung Satu Skip;

e. Rumah Bundar di Kelurahan Pamusian.

Paragraf 6

Kawasan Perlindungan Setempat

Pasal 40

Rencana pemanfaatan ruang untuk kawasan perlindungan setempat meliputi rencana penanganan sistem tata air dan sistem DAS, rencana penanganan kawasan hilir sungai, dan rencana penanganan kawasan pesisir pantai serta kawasan bantaran rawa sungai.

Pasal 41

(19)

a. Penetapan Garis Sempadan Sungai sesuai dengan kondisi alur sungai; b. Penghijauan pada lahan kritis;

c. Pembangunan bangunan penangkap sedimentasi (Check Dam); d. Penanganan pengendalian dan pengelolaan DAS;

Pasal 42

Rencana penanganan bantaran sungai di kawasan hilir sungai, meliputi:

a. Penetapan Garis Sempadan Sungai sesuai dengan kondisi normalisasi sungai; b. Penghijauan pada daerah sekitar tanggul sungai yang dibatasi jalan inspeksi; c. Pembangunan bangunan penangkap sedimentasi (Check Dam) guna

menghambat pendangkalan pada outlet sungai; d. Penanganan pengendalian dan pengelolaan DAS;

Pasal 43

Rencana penanganan kawasan pesisir pantai dan bantaran kawasan rawa sungai, meliputi:

a. Penetapan Garis Sempadan Pantai sesuai dengan peraturan yang berlaku; b. Normalisasi drainase di pesisir pantai dan membuat bangunan penahan abrasi

di tepi pantai;

Bagian Ketiga

Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya

Pasal 44

(1) Rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya di Kota Tarakan mencakup penetapan lokasi, luasan dan arahan pengembangan bagi kawasan-kawasan yang meliputi Kawasan Industri, Kawasan Perdagangan dan Jasa, Kawasan Permukiman, Kawasan Pertambangan, Kawasan Pariwisata, Kawasan Pertanian, Kawasan Peternakan, Kawasan Perikanan, Kawasan Khusus serta Sarana dan Prasarana Kota, dengan total luas lahan ± 14.368 Ha (Empat belas ribu tiga ratus enam puluh delapan hektar);

(2) Peta rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Gambar 1 Lampiran II;

(3) Tabel luasan rencana pemanfaatan ruang kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada Tabel 2 Lampiran I.

Paragraf 1 Kawasan Industri

Pasal 45

Pengembangan kawasan industri Kota Tarakan terbagi dalam 4 (empat) jenis kawasan, yaitu kawasan industri besar, kawasan industri menengah, kawasan industri kecil dan industri migas.

(20)

Pasal 46

Kawasan industri besar dengan luas total luas lahan sebesar ± 920 Ha (sembilan ratus dua puluh hektar) merupakan pengembangan kawasan industri yang telah ada yang menyebar di beberapa tempat yang strategis, seperti :

a. Industri pengolahan kayu di Kelurahan Juata Permai dan Kelurahan Kampung Empat;

b. Industri peternakan di Kelurahan Juata Permai; c. Industri pengolahan udangdi Tanjung Selayung; d. Industri pengolahan udang di Kelurahan Juata Laut; e. Industri pembibitan udang di Kelurahan Pantai Amal;

f. Industri pengolahan udang di Kelurahan Mamburungan (Tanjung Pasir).

Pasal 47

Kawasan industri menengah dengan luas total luas lahan sebesar ± 873 Ha (delapan ratus tujuh puluh tiga hektar) merupakan pengembangan kawasan industri yang khusus dimanfaatkan untuk usaha menengah yang dapat menyerap tenaga kerja dan diprediksi akan bertahan lama serta memiliki tempat-tempat strategis dan mempunyai akses baik dari laut, udara dan darat sehingga memudahkan para investor, diantaranya :

a. Kelurahan Karang Harapan; dan

b. Kelurahan Juata Laut (Tanjung Simaya);

Pasal 48

Kawasan industri kecil dengan luas lahan sebesar ± 141 Ha (seratus empat puluh satu hektar) adalah industri yang dapat mendukung aktivitas dari industri besar misalnya industri pengembangan udang, industri balok es, industri kerajinan kayu dan kawasan ini tersebar di beberapa lokasi, yaitu :

a. Kelurahan Juata Permai; b. Kelurahan Juata Laut;

c. Kelurahan Mamburungan; dan d. Daerah Tanjung Selayung.

Pasal 49

Pengembangan kawasan industri migas diarahkan tersebar di beberapa lokasi : a. Tarakan Utara di Kelurahan Juata Laut dan Kelurahan Juata Kerikil;

b. Tarakan Barat di Kelurahan Karang Harapan dan Kelurahan Karang Anyar; c. Tarakan Timur di Kelurahan Kampung Empat, Kelurahan Kampung Enam

dan Kelurahan Mamburungan (Karungan);

d. Tarakan Tengah di Kelurahan Pamusian dan Kelurahan Kampung Satu Skip; e. dan lokasi lain yang berpotensi (lepas pantai) sepanjang tidak mengganggu

kepentingan.

Pasal 50

Rencana pemanfaatan ruang untuk pengembangan kawasan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 tercantum pada Tabel 3 Lampiran I.

(21)

Paragraf 2

Kawasan Perdagangan dan Jasa

Pasal 51

(1) Kawasan Perdagangan dan Jasa (komersial) dengan pemanfaatan ruang sebesar ± 910 Ha (sembilan ratus sepuluh hektar), meliputi kawasan komersial sub pusat kota, kawasan pergudangan, dan kawasan pasar;

(2) Rencana kawasan komersial sub pusat terletak di tiap sub pusat kota sebagai kawasan yang melayani masyarakat di tiap sub pusat;

(3) Rencana Kawasan Pergudangan ini terletak di tiap daerah kawasan industri sebagai kawasan pendukung aktivitas kawasan ini tersebar di beberapa tempat, yaitu di daerah Kelurahan Juata Permai, Kelurahan Juata Laut, Kelurahan Mamburungan (Tanjung Pasir), Kelurahan Lingkas Ujung, Kelurahan Gunung Lingkas dan di daerah Tanjung Selayung;

(4) Rencana kawasan pasar terletak di tiap sub pusat kota, yaitu :

a. Tarakan Utara di Kelurahan Juata Permai, Juata Laut dan daerah Tanjung Juata dengan skala pelayanan lokal dan kota di Juata Kerikil;

b. Tarakan Utara di Kelurahan Juata Laut berdekatan dengan rencana kawasan permukiman berkebun dengan skala pelayanan lokal dan kota; c. Tarakan Tengah di Kelurahan Pamusian skala pelayanan lokal dan kota; d. Tarakan Tengah di daerah Kelurahan Sebengkok dengan skala pelayanan

lokal, kota dan regional;

e. Tarakan Timur di Kelurahan Kampung Enam berdekatan dengan rencana kawasan permukiman swadaya dengan skala pelayanan lokal dan kota; f. Tarakan Timur di Kelurahan Kampung Enam berdekatan dengan rencana

real estate dengan skala pelayanan lokal dan kota;

g. Tarakan Timur di Kelurahan Kampung Empat berdekatan dengan permukiman swadaya dengan skala pelayanan lokal dan kota;

h. Tarakan Timur di Kelurahan Lingkas Ujung dengan skala pelayanan lokal, kota dan regional;

i. Tarakan Timur di Kelurahan Mamburungan dengan skala pelayanan lokal dan regional;

j. Tarakan Barat di Kelurahan Karang Rejo dengan skala pelayanan lokal, kota dan regional;

k. Tarakan Barat di Kelurahan Karang Anyar dan Kelurahan Karang Harapan dengan skala pelayanan lokal dan kota;

(5) Rencana pemanfaatan ruang kawasan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Tabel 4 Lampiran I.

Paragraf 3 Kawasan Permukiman

Pasal 52

Kawasan permukiman dibagi menjadi tiga jenis kegiatan yaitu permukiman kerapatan rendah, permukiman kerapatan sedang, dan permukiman kerapatan tinggi.

(22)

Pasal 53

Permukiman Kerapatan Rendah diarahkan pada kawasan Timur dan Selatan Kota Tarakan yang mempunyai potensi bencana alam, pemandangan dan kondisi hutan lindung yang masih dapat dipertahankan, terdiri dari :

a. Permukiman Real Estate di Kelurahan Pantai Amal dan Tanjung Selayung; b. Permukiman berkebun di Tanjung Batu, Kampung Satu Skip, Juata Kerikil,

Juata Laut, Mamburungan, Karungan dan Karang Harapan;

Pasal 54

Permukiman Kerapatan Sedang diarahkan pada kawasan Barat, Timur Laut dan Barat Laut Kota Tarakan, yang terdiri dari :

a. Permukiman Swadaya di Kampung Enam, Kelurahan Pamusian, Karang Anyar, Tanjung Selayung, dan Karang Harapan;

b. Permukiman Pantai di Tanjung Binalatung; c. Permukiman Tepi Sungai di Tanjung Selayung; d. Permukiman Campuran di Juata Permai;

e. Permukiman Instansi/Pegawai di Juata Permai;

f. Permukiman Kota Baru di Juata Laut dan Karang Harapan;

g. Permukiman Industri di Juata Laut, Tanjung Pasir dan Karang Harapan.

Pasal 55

Permukiman Kerapatan Tinggi terdiri dari:

a. Permukiman Swadaya di Pusat Kota Lama Tarakan, Mamburungan, Gunung Lingkas dan Lingkas Ujung;

b. Permukiman Tepi Sungai di Pamusian;

c. Permukiman Campuran di Kelurahan Karang Anyar Pantai; d. Permukiman Nelayan di Kelurahan Juata Laut;

e. Permukiman di Kelurahan Selumit Pantai dan Kelurahan Karang Rejo.

Pasal 56

Permukiman dan permukiman berkebun yang ada di dalam dan di sekitar hutan lindung dihentikan perkembangannya karena cenderung mengganggu fungsi lindung.

Pasal 57

Kawasan permukiman yang diatur atau dibatasi pertumbuhannya, meliputi : a. Permukiman nelayan yang cenderung tidak teratur dan menutup akses publik

kearah laut/sungai atau mengintervensi hutan mangrove, antara lain Tanjung Binalatung, Pesisir Pantai Juata Laut, Pesisir Pantai Tanjung Pasir dan Tanjung Batu, Tepi Sungai Kelurahan Karang Rejo, Sungai Karang Anyar, Sungai Selumit dan Sungai Malundung;

b. Permukiman tengah kota yang tidak teratur/tidak mengikuti perencanaan kota yang cenderung menimbulkan kekumuhan, perlu peremajaan (renovation) dengan cara penataan kembali dan atau pembangunan Rumah Susun, antara lain di Kelurahan Karang Rejo, Kelurahan Selumit, Kelurahan Selumit Pantai, Kelurahan Karang Balik, Kelurahan Karang Anyar, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kelurahan Karang Rejo, Kelurahan Sebengkok, Kelurahan Lingkas Ujung, Kelurahan Juata Laut dan Kelurahan Kampung Satu Skip;

c. Permukiman perdagangan di tepi jalan di pusat kota yang peruntukannya tidak saling menunjang dan tidak sesuai dengan fungsi kawasan tersebut ditata melalui Urban Redevelopment yaitu di Jalan Yos Sudarso, Jalan Gajah Mada, Jalan Kusuma Bangsa, Jalan Mulawarman dan Jalan Sudirman;

(23)

Pasal 58

Permukiman yang didukung pertumbuhannya, antara lain :

a. Permukiman berkebun yang produktif yang sudah sesuai dengan peruntukannya, terdapat di Kecamatan Tarakan Utara, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Tarakan Timur;

b. Permukiman nelayan yang perlu ditata kawasannya sehingga lebih teratur yang terdapat di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Tengah, dan Tarakan Timur;

c. Permukiman industri yang perlu peningkatan infrastruktur yang terdapat di Kecamatan Tarakan Utara, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Tarakan Tengah;

d. Permukiman instansional dan permukiman real estate yang sudah sesuai dengan tata guna lahan yang ada, perlu memanfaatkan kondisi/bentukan alam sebagai potensi kawasan;

e. Permukiman swadaya di dalam kota, diperlukan pengontrolan dalam pelaksanaannya yang menyangkut Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Bangunan.

Paragraf 4

Kawasan Pertambangan

Pasal 59

Kawasan Pertambangan dengan luas lahan sebesar ± 1.321 Ha (seribu tiga ratus dua puluh satu hektar) merupakan kawasan pertambangan yang selama ini dieksplorasi yang tersebar di beberapa lokasi, yaitu :

a. Kelurahan Juata Laut; b. Kelurahan Juata Kerikil; c. Kelurahan Karang Harapan; d. Kelurahan Karang Anyar; e. Kelurahan Pamusian;

f. Kelurahan Kampung Satu Skip; g. Kelurahan Kampung Empat; h. Kelurahan Kampung Enam; i. Kelurahan Mamburungan.

Paragraf 5 Kawasan Pariwisata

Pasal 60

Pemanfaatan ruang untuk kawasan pariwisata dengan luas lahan ± 6.571,4 Ha (enam ribu lima ratus tujuh puluh satu koma empat hektar) meliputi kegiatan wisata alam, wisata buatan, wisata belanja dan wisata sejarah yang pengembangannya didasarkan pada potensi pariwisata yang ada.

Pasal 61

Pengembangan wisata alam diarahkan pada lokasi-lokasi :

a. Kecamatan Tarakan Timur di Kelurahan Lingkas Ujung, Kelurahan Mamburungan, Kelurahan Mamburungan Timur dan Kelurahan Panta Amal; b. Kecamatan Tarakan Barat di Kelurahan Karang Harapan;

(24)

Pasal 62

Pengembangan kawasan wisata buatan diarahkan pada lokasi :

a. Kecamatan Tarakan Timur di Kelurahan Kampung Empat (sport center, danau), Kelurahan Lingkas Ujung (taman kota);

b. Kecamatan Tarakan Tengah di Kelurahan Pamusian (taman kota) dan Kelurahan Kampung Satu Skip (kebun raya, kebun binatang);

c. Kecamatan Tarakan Utara di Kelurahan Juata Laut (kebun raya) dan di Kelurahan Juata Kerikil (sinic area);

d. Kecamatan Tarakan Barat di Kelurahan Karang Harapan (embung/danau), di Kelurahan Karang Anyar Pantai (taman kota) dan di Kelurahan Karang Harapan (Pulau Sadau).

Pasal 63

Pengembangan kawasan wisata belanja komersial diarahkan pada lokasi : a. Kecamatan Tarakan Barat di Kelurahan Karang Rejo (Jalan Gajah Mada); b. Kacamatan Tarakan Utara di Kelurahan Juata Permai dan Juata Kerikil.

Pasal 64

Pengembangan kawasan wisata sejarah diarahkan pada lokasi :

a. Kecamatan Tarakan Timur di Kelurahan Mamburungan dan Kelurahan Lingkas Ujung;

b. Kecamatan Tarakan Tengah di Kelurahan Pamusian dan Kelurahan Selumit Pantai;

c. Kecamatan Tarakan Barat di Kelurahan Karang Anyar Pantai dan Kelurahan Karang Balik.

Pasal 65

Kawasan Wisata Pantai Amal direncanakan sebagai kawasan wisata pantai yang dilengkapi dengan fasilitas penginapan seperti hotel, motel, cottage, restoran, permukiman real estate, fasilitas komersial dan hutan kota serta taman anggrek; dengan jenis kegiatan wisata pantai, belanja, hunian dan konservasi yang berlokasi di kawasan pantai yang membentang dari Tanjung Binalatung di Kelurahan Pantai Amal sampai dengan Tanjung Batu di Kelurahan Mamburungan.

Paragraf 6 Kawasan Pertanian

Pasal 66

Pengembangan kawasan pertanian dengan kegiatan pertanian tanaman pangan dan perkebunan dilakukan tersebar di lokasi-lokasi yang meliputi:

a. Tarakan Timur di Kelurahan Mamburungan, Kelurahan Mamburungan Timur dan Kelurahan Kampung Enam;

b. Tarakan Utara di Kelurahan Juata Laut, Kelurahan Juata Permai dan Kelurahan Juata Kerikil;

(25)

Paragraf 7 Kawasan Peternakan

Pasal 67

Pengembangan kawasan peternakan diarahkan di Kecamatan Tarakan Utara Kelurahan Juata Permai dengan luas lahan ± 115 Ha (seratus lima belas hektar) dan di Kecamatan Tarakan Timur Kelurahan Kampung Enam dengan luas lahan ± 200 Ha (dua ratus hektar).

Paragraf 8 Kawasan Perikanan

Pasal 68

Pengembangan kawasan perikanan merupakan rencana kegiatan pembibitan, budidaya, penangkapan dan pengolahan hasil perairan, meliputi :

a. Pembibitan udang di Tarakan Timur Kelurahan di Kelurahan Pantai Amal;

b. Penangkapan ikan di perairan Tarakan dengan luas wilayah perairan ± 40.653 Ha (empat puluh ribu enam ratus lima puluh tiga hektar);

c. Pengolahan hasil perikanan di Kelurahan Juata Laut, Kelurahan Pantai Amal dan Kelurahan Mamburungan.

Paragraf 9 Kawasan Khusus

Pasal 69

Kawasan Khusus yang dikembangkan meliputi kawasan pertahanan dan keamanan, kawasan pendidikan, kawasan olahraga, kawasan pemerintahan, dan kawasan kota baru.

Pasal 70

Pengembangan kawasan Pertahanan dan Keamanan meliputi :

a. Rencana alokasi lahan untuk Angkatan Darat, untuk lapangan tembak dialokasikan di kawasan Kampung Bugis Kelurahan Karang Anyar dengan luas lahan ± 3 Ha (tiga hektar) sampai dengan ± 5 Ha (lima hektar);

b. Rencana alokasi lahan untuk Olah Yuda, latihan tingkat kompi yang medannya bervariasi dialokasikan di hutan lindung dengan luas lahan ± 10 Ha (sepuluh hektar);

c. Penyediaan alur pertahanan dari pantai amal ke juata kerikil;

d. Pembangunan pangkalan Angkatan Udara (lanud) seluas ± 110 Ha (seratus sepuluh hektar) yang terletak 300 m (tiga ratus meter) sebelah utara pengembangan Bandara Juwata sebagai fasilitas pertahanan udara Republik Indonesia dari sebelah utara Indonesia;

e. Peningkatan pangkalan/pelabuhan Angkatan Laut (AL) dari tipe C menjadi pelabuhan tipe B di Kecamatan Tarakan Timur;

f. Rencana alokasi lahan satuan radar tetap pada kawasan radar yang ada di Kelurahan Mamburungan;

g. Peningkatan perkantoran dan permukiman masing-masing angkatan di kawasan yang ada melalui perbaikan dan peningkatan prasarana dan sarana pada kawasan-kawasan yang mengalami kerusakan.

(26)

Pasal 71

Kawasan pendidikan diarahkan pengembangannya pada lokasi yang meliputi : a. Pengembangan dan perluasan kawasan pendidikan tinggi di Tarakan Timur; b. Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Perikanan di Juata Laut

seluas ± 16 Ha (enam belas hektar);

c. Pembangunan Sekolah Menengah Umum di Juata Laut; d. Pembangunan Akademi Perawat di Pamusian Tarakan Timur.

Pasal 72

Kawasan Olahraga Pamusian dikembangkan sebagai pusat kegiatan Olah Raga, Keagamaan, dan Komersial dengan luas lahan ± 37 Ha (tiga puluh tujuh hektar) yang terletak di Kelurahan Kampung Empat Kecamatan Tarakan Timur.

Pasal 73

Kawasan Pusat Pemerintahan dikembangkan di kawasan Juata Laut dan Juata Permai, bagian barat laut Kota Tarakan yang berbatasan dengan kawasan Kota Baru Tarakan.

Pasal 74

Kawasan Kota Baru diarahkan pengembangannya di kawasan konsolidasi lahan di Kelurahan Juata Laut Kecamatan Tarakan Utara dengan luas lahan ± 600 Ha (enam ratus hektar).

BAB VII

RENCANA PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA KOTA

Bagian Pertama

Rencana Kependudukan dan Kepadatan Bangunan

Pasal 75

(1) Penyebaran penduduk sangat mempengaruhi pola pemanfaatan ruang dan jenis sarana serta prasarana kota pendukungnya;

(2) Arahan intensitas pemanfaatan ruang diatur melalui penetapan Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Garis Sempadan Bangunan, Ketinggian Bangunan, Garis Sempadan Sungai, dan jarak antara bangunan;

(3) Angka Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Garis Sempadan Bangunan dan Ketinggian Bangunan serta jarak antara bangunan akan mengacu kepada Rencana Detail Tata Ruang masing-masing kawasan kecamatan yang dibuat lebih rinci;

(4) Tabel rencana penyebaran penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Tabel 5 Lampiran I;

(5) Tabel angka Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum pada Tabel 6 Lampiran I.

(27)

Bagian Kedua

Rencana Penyediaan Sarana Kota

Pasal 76

(1) Sarana kota berfungsi sebagai salah satu aspek penunjang terselenggara dan berkembangnya kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat kota;

(2) Sarana kota yang dikembangkan meliputi kelompok sarana perniagaan, pendidikan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan dan pelayanan umum serta berbagai bentuk ruang terbuka hijau kota yang lokasinya diarahkan berdasarkan sistem pusat-pusat pelayanan yang akan dikembangkan;

(3) Tabel rencana penyediaan sarana kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum pada Tabel 7 Lampiran I.

Bagian Ketiga

Rencana Sistem Transportasi

Pasal 77

(1) Tujuan pengembangan sistem transportasi adalah untuk mendorong dan memacu perkembangan ekonomi dan investasi dan diarahkan untuk memberikan kemudahan, kelancaran, kenyamanan dan keselamatan dalam aksebilitas, mobilitas dan distribusi sehingga dapat mengurangi waktu tempuh dan biaya pergerakan baik untuk masyarakat maupun barang;

(2) Pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk menciptakan lalu lintas yang tertib dan teratur sehingga mengarah kepada kondisi ramah lingkungan dengan didukung oleh keberadaan prasarana transportasi yang memadai.

Pasal 78

Rencana pengembangan transportasi darat meliputi :

a. Penataan manajemen sistem transportasi kawasan pusat kota;

b. Peningkatan dan pembangunan jalan dalam jangkauan pelayanan sistem angkutan umum, untuk melayani pergerakan penduduk dan mengakses pusat-pusat pertumbuhan baru dengan aktifitas-aktifitas yang ditimbulkan.

Pasal 79

Rencana pengembangan transportasi laut diarahkan untuk lebih meningkatkan pelayanan pergerakan manusia, barang dan jasa melalui laut yang meliputi :

a. Penanganan ketertiban perairan pantai dan mencegah maraknya perdagangan illegal melalui laut di Pulau Tarakan;

b. Peningkatan pelayanan sistem transportasi laut berskala regional, nasional dan internasional.

Pasal 80

Rencana pengembangan transportasi udara diarahkan melalui upaya :

a. Peningkatan pelayanan sistem transportasi udara skala domestik dan internasional;

(28)

Pasal 81

(1) Pengembangan Jaringan Jalan Utama Kota Tarakan meliputi :

a. Jaringan lingkar utara, dengan pembangunan jalan arteri primer yang melingkar menyusuri pantai bagian utara, tengah dan barat dengan memanfaatkan embrio-embrio jalan yang sudah ada dengan Daerah Milik Jalan ± 50 m (lima puluh meter) dengan lebar badan jalan minimal ± 9 m (sembilan meter) berjarak ± 200 m (dua ratus meter) sampai dengan ± 500 m (lima ratus meter) dari tepi pantai;

b. Jalan lingkar timur, dengan pembangunan jalan arteri primer yang melingkar menyusuri pantai bagian timur dengan memanfaatkan embrio-embrio jalan yang sudah ada dengan Daerah Milik Jalan ± 50 m (lima puluh meter) dengan lebar badan jalan minimal ± 9 m (sembilan meter) berjarak ± 200 m (dua ratus meter) sampai dengan ± 500 m (lima ratus meter) dari tepi pantai;

c. Jalan lingkar dalam dengan pembangunan jalan kolektor primer yang melingkar pada batas tepi kawasan hutan lindung bagian utara dengan Daerah Milik Jalan ± 30 m (tiga puluh meter) dengan lebar jalan minimal ± 7 m (tujuh meter);

d. Pembangunan dan peningkatan jaringan jalan kolektor primer yang menghubungkan pusat kota dengan luar kota dengan memanfaatkan jalan-jalan yang ada (existing) dengan Daerah Milik Jalan ± 30 m (tiga puluh meter) dengan lebar badan jalan minimal ± 7 m (tujuh meter);

e. Pembangunan dan peningkatan jalan kolektor sekunder yang menghubungkan antara sub-sub pusat kegiatan dengan Daerah Milik Jalan ± 15 m (lima belas meter) dengan lebar badan jalan ± 7 m (tujuh meter); f. Pembangunan dan peningkatan jaringan jalan lokal yang menghubungkan

pusat-pusat lingkungan dengan hunian/perumahan dengan Daerah Milik Jalan ± 12 m (dua belas meter) dengan lebar badan jalan minimal ± 6 m (enam meter);

g. Pembangunan jaringan jalan/lintasan wisata pada kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai lintasan wisata dengan Daerah Milik Jalan ± 12 m (dua belas meter) dengan lebar badan jalan minimal ± 5 m (lima meter);

(2) Peta rencana sistem jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Gambar 2 Lampiran II.

Bagian Keempat

Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Kota

Paragraf 1 Sistem Drainase

Pasal 82

Rencana pengembangan sistem drainase meliputi :

a. Pemanfaatan ruang pada lokasi wilayah hulu sungai dengan kondisi topografi berbukit perlu memperhatikan jenis peruntukannya untuk lahan permukiman yang mempunyai kepadatan rendah;

b. Kawasan dengan topografi datar diarahkan pengembangannya untuk permukiman menengah keatas dan dianjurkan adanya lahan hijau atau ruang terbuka sebagai kawasan resapan air;

c. Pada kawasan pesisir agar dipertahankan ekosistem pantai/pesisir sejauh kurang lebih ± 130 m (seratus tiga puluh meter) dari pantai.

(29)

Pasal 83

Jalur sungai utama yang merupakan saluran Drainase Primer Kota menjadi bagian dari kerangka Kota Tarakan, antara lain :

a. Di Tarakan Utara yang bermuara di pantai Utara yaitu Sungai Mangatal dan Sungai Selayung;

b. Di Tarakan Utara yang bermuara di pantai Timur yaitu Sungai Simaya dan Andulung;

c. Di Tarakan Utara yang bermuara di pantai Barat yaitu Sungai Bengawan, Sungai Belalung, Sungai Bunyu dan Sungai Cinanti;

d. Di Tarakan Timur yang bermuara di pantai Barat yaitu Sungai Malundung, Sungai Pamusian; Sungai Karungan; dan Sungai Ngingitan;

e. Di Tarakan Timur yang bermuara di pantai Timur terdiri dari Sungai Batungguk, Sungai Binalatung, Sungai Amal dan Sungai Batu Mapan.

Paragraf 2

Sistem Pelayanan Air Bersih

Pasal 84

Pengelolaan sistem air bersih mencakup sistem pelayanan air bersih Kota Tarakan lama dan sistem pelayanan air bersih kawasan pengembangan baru Kota Tarakan.

Pasal 85

Sistem pelayanan air bersih Kota Tarakan lama mengacu pada sistem yang telah ada, meliputi :

a. Instalasi Pengolahan Air Persemaian, dengan mempertahankan daerah tangkapan air di DAS yang ada;

b. Instalasi Pengolahan Air Kampung Bugis, dengan mempertahankan debit air bakunya dengan memelihara DAS yang ada;

c. Instalasi Pengolahan Air Kampung Satu, di Kelurahan Kampung Satu Skip dengan menggunakan sungai Binalatung sebagai sumber air baku.

Pasal 86

Sistem pelayanan air bersih kawasan pengembangan baru Kota Tarakan meliputi : a. Instalasi Pengolahan Air Bengawan dan Belalung, dengan pembangunan

embung/bendungan di Kelurahan Juata Kerikil; b. Instalasi Pengolahan Air Juata Laut di Sungai Cinanti;

c. Instalasi Pengolahan Air Mangatal di lokasi dekat batas hutan lindung; d. Instalasi Pengolahan Air Selayung di lokasi dekat batas hutan lindung;

e. Instalasi Pengolahan Air Binalatung kedua pada sungai Binalatung bagian hilir;

f. Instalasi Pengolahan Air Kuli dan Batu Mapan direncanakan ada embung; g. Instalasi Pengolahan Air Slipi dan Betuguk Besar direncanakan ada

pembuatan embung;

h. Instalasi Pengolahan Air Mamburungan direncanakan sumber mata air harus dilindungi dari pencemaran lingkungan dan sanitasi perlu dibuat sumur dalam.

Pasal 87

Peta rencana penyediaan air bersih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 tercantum dalam Gambar 3 Lampiran II.

(30)

Paragraf 3

Sistem Pengelolaan Air Limbah

Pasal 88

Sistem pengelolaan air limbah mencakup pengelolaan air limbah cair dengan sistem setempat, pengelolaan limbah cair dengan sistem terpusat, pengelolaan limbah dengan sistem assainiring, dan pengelolaan limbah non domestik.

Pasal 89

Pengelolaan limbah cair sistem setempat (on site sanitation) diterapkan pada : a. Kawasan perdesaan dan/atau kawasan dengan kepadatan rendah

menggunakan septictank dan peresapan direncanakan mencapai 80 % (delapan puluh persen) dari total penduduk;

b. Kawasan permukiman di atas air di pesisir pantai dengan menggunakan septictank terapung sesuai dengan standard untuk pengaruh pasang surut, direncanakan mencapai 90 % (sembilan puluh persen) dari total penduduk pada kawasan kepadatan rendah.

Pasal 90

Pengelolaan limbah cair sistem terpusat (off site sanitation) diterapkan pada : a. Kawasan permukiman perkotaan atau pada kawasan kepadatan penduduk

yang relatif tinggi dengan menggunakan septictank Komunal, direncanakan mencapai 80 % (delapan puluh persen) dari total limbah cair perkotaan;

b. Kawasan permukiman di atas air dengan septictank terapung Komunal, pengelolaan limbah direncanakan mencapai 90 % (sembilan puluh persen) dari total penduduk permukiman diatas air kepadatan tinggi;

c. Kriteria kebutuhan air limbah septictank komunal adalah 1 (satu) unit septitank melayani 10 (sepuluh) sampai dengan 15 (lima belas) Kepala Keluarga.

Pasal 91

Pengelolaan limbah dengan sistem assainiring diterapkan untuk kawasan strategis dan kawasan pengembangan baru, yaitu dengan :

a. Kriteria perencanaan kebutuhan untuk penggunaan sistem assainiring (terpusat menggunakan riol-riol) dengan pengaliran gravitasi menggunakan pipa rapat air yang dilengkapi dengan bak kontrol;

b. Air limbah dialirkan ke bak penampungan dengan kapasitas sesuai dengan kebutuhan;

c. Dengan truk tinja air limbah dibawa ke Instalasi Pengolahan Limbah Tinja untuk diolah.

Pasal 92

Pengelolaan Limbah Non Domestik, mencakup :

a. Pengelolaan limbah cair non domestik direncanakan agar masing-masing industri yang ada harus memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah, untuk mengolah limbah yang dihasilkan sesuai dengan karakteristiknya;

b. Perancangan peraturan yang mengatur serta mengolah air limbah dalam bentuk Peraturan Daerah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :