• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL. Pemerintah: Mendikbud beserta Staf.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG PENDIDIKAN NASIONAL. Pemerintah: Mendikbud beserta Staf."

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

4.

Rapat

Ke- 3

CATATAN RAPAT PANITIA KHUSUS RUU TENT ANG Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke -Jenis Rapat Dengan Sifat Rapat Hari, tanggal Wa kt u Temp at Ketua Rapat Sekretaris Ac a r a Had i r ANGGOTA TETAP : 1 . dr. Bawadiman PENDIDIKAN NASIONAL 1988-1989 II 5

Rapat Kerja ke-3 MENDIKBUD Terbuka

Selasa, 29 Nopember 1988 10.00 WIB.

Etadartha Samiti I Gedung MPR-RJ dr. Bawadiman

Drs. Noer Fata

Pembahasan DIM RUU tentangPendidikan Nasional. Pansus DPR-RI:

39 dari 48 orang Anggota Te tap; 15 dari 23 orang Anggota Pengganti

Pemerintah:

Mendikbud beserta Staf.

14. H. Basyuni Suriamihardia 2. H. Soelaeman Tjakrawiguna, S;fJ. 15. Anton Priyatno, S.1-1. ·

16. Drs. H. Hasanudin 3. H. Surya Mardjiyo

4. H. Imam Sofwan 17. Muhammad Roem, S.1-1. 5. B.N. Marbun, S.H. ·

6. Ir. A. Moestahid Astari

18. H. Achmad H.M.S., S.H. 19. Ibnu Saleh

7. Ki. Soeratman 20. Jr. Soewardjo Adikoesoemo 8. H. Soegiyono

9. H. Obos Syabandi Purwana

21. Har son o

22. Dra. Ny. Syamsiar Lasahido 10. Dr. Johannes Riberu 23. H. Djamaluddin Tambunan, S.H. 11. Drs. Dewa Putu Tengah

12. Drs. Osman Simandjuntak 13. H. Ismael Hassan, S.H.

24. Drs. Mozes Adisoerjo Soenarjo 25. Ir. Ida Bagus Putra

(2)

27. Sahuntung Sastrohamidjojo 28. A.S. Harjono

29. Basas Suyono 30. Ors. Made Sudiartha 31 . A.R. Lubis

32. Soebagjo, S.H ANGGOTA PENGGANTI :

1. Ora. Ny. Inne E.A. Soekaryo 2. H. CH. Muhammad Muas

3. Ors. H. Hoesni Tharnrin Assaat, S.H. 4. Sri Redjeki Lasmindar, S.H.

S. Ir. Ny. H. Tati. S. Soemiarno 6. Drs. Awang Faroek Ishak 7. Drs. Bambang Wahyoedi 8. J. Moelyono 9. H.J. Sanggor 10. J.H.Salu 11 . Sadikun Sugihwaras 12. Sundoro Syarnsuri 13. Muhammad Yusuf Husein 14. Ny. Aisyah Aminy, S.H. l 5. Drs. H. Ali Sofwan

PEMERINTAH :

1. Prof. DR. Fuad Hasan (Mendikbud) 2. Bambang Triantoro (Sekjen. Depdikbud) 3. Harsja W. Bachtiar 4. W.P. Napitupulu S. P u g e r 6. Waskito 7. Moegiadi 8. Soetanto Wirjoprasonto 9. Budihardjo 10. E. Soeharya 11. Sugeng Karno 12. Soejoto 13. D. Budi Kencono, S.H. 14. Ny .. Mardiyah Santoso 15. Bambang Haryadi, S.H. 16. Mardjuki, S.H.

KETUA RAPAT (dr. Bawadiman):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

33. Putjo Bintoro

34. H. Ismail Hasan Metareum, S.H.

3 5.

Drs.

H.

Zarkasih Nur

36. Sukardi Effendi, S.H. 37. Drs. Suandi Hambali

38. H. Soetardjo Soerjogoeritno, BSc. 39. A. Tyas Satijono Soenarto

Karena korum telah terpenuhi dan semua yangberkaitan telah hadir, maka ij"nkan de-ngan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Rapat Pansus Pendidikan Nasional DPRRI bersarna Pemerintah saya nyatakan dibuka.

(3)

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudara sekalian, khususnya kepada Saudara Menteri bersama staf, tidak keliru kalau Pimpinan atas nama Pansus menyampaikan selamat HUT KORPR1 XVII semoga semakin man tap sebagai abdi rakyat dan abdi masyarakat dan abdi negara.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, mari kita melanjutkan acara yang telah kita sepakati bersama.

Kalau Pimpinan boleh mengulangi, kemarin telah terselesaikan keseluruhan Bab I. Sekarang kita memasuki Bab II yaitu halaman 10. Bab II ini termasuk judul yang be-lum disepakati, hanya berbeda tempat saja urutan. Kalau RUU-nya judulnya Dasar, Fungsi, dan Tujuan, Fraksi Karya Pembangunan mengusulkan perubahan Dasar, Tujuan dan Fung~

si. Kalau disepakati untuk menghemat waktu dan kerja, kalau soal judul ini bisa diselesai-kan adiselesai-kan lebih baik.

Kami persilakan Fraksi Karya untuk menyampaikan alasannya mengapa ibarat kursi ini dipindah digeser tempatnya.

Terima kasih.

FKP (Drs. H. Hasanudin}:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara Ketua dan Bapak-bapak sekalian, Bapak Menteri.

Fraksi Karya Pembangunan setelah melihat Rancangan yang disampaikan oleh Peme-rintah, untuk Bab II ini berjudul : Dasar, Fungsi dan Tujuan. Untuk itu FKP mencoba meli-hat berbagai contoh. Sebab memang keharusan rµembuat suatu urutan barangkali tidak ada. Mungkin saja orang membuat : Fungsi, Dasar, Tujuan atau sebaliknya. Untuk itu ter-paksa kita melihat satu hal yang tertera di dalam sistem administrasi negara atau sebuah buku terbitan LAN tahun '87 di mana di dalam sistematika dalam bagian 2 tentang admi-nistrasi negara dalam kerangka sistem pemerintah negara, itu urutannya adalah pertama ma-salah dasar atau landasan, yang kedua cita-cita atau tujuan, sedangkan berikutnya adalah fungsi. Ja<li itu sebabnya FKP mencoba, oleh karena masalah pendidikan ini adalah bagian daripada semacam sub-sistem daripada sistem negara secara keseluruhan maka diusulkan su-paya urutannya adalah: Dasar, Tujuan dan Fungsi.

Selain i tu Fraksi kami juga mencoba melihat dari kalangan intern pendidikan sendiri dan itu ki ta dapatkan di dalam buku Wawasan Nusantara Jilid III khusus masalah pendidikan dan kebudayaan, karangan Prof. Mr. Munajad Danusaputra, Penerbi t Alumni Bandung 1983. Di dalam Bab IV tentang sistem pendidikan nasional pada halaman 212 tertulis : dasar, Tujuan, Fungsi. Ada lanjutannya yaitu unsur-unsur pokok dan asas pelaksanaan pen-didikan nasional.

Dengan dua hal itu maka barangkali FKP sudah mempunyai kekuatan untuk mencoba mengubah urutan menjadi:

Dasar,

Tujuan dan

Fu.ngsi-Kemudian oleh karena hari ini juga HUT KORPRI, saya lihat daripada hasil Musyawarah KORPRI II Tahun 83, Anggaran Dasar KORPRI Bab Illjuga disebut sama: Atsas, Tujuan dan Fungsi.

Jadi i

tulah

Saudara Ketua, kena apa FKP mengusulkan supaya urutan itu seperti itu. Jadi saya ulangi jelasnya, menjadi: Dasar, Tujuan dan Fungsi. Kecuali nanti ka.lau ada argumentasi lain yang membenarkan urutan yang lain.

(4)

K.EnJA:

Terima kasih atas penjelasan dari FKP. Barangkali karena tadi disinggung-singgung referensinya itu dari peraturan perundangan Pemerintah, kami mohon Pemerintah barang-kali bisa memberikan tanggapannya sebelwn Fraksi-fraksi lain nanti menanggapi.

PEMERINTAH

(Prof.

Dr. Fuad Huwi):

Saudara Ketua yang terhormat, hadirin sekalian. Assalamu'alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh.

Kalau hanya soal urutan saja dan ini menjadi kesepakatan bersama maka kami bersedia menyesuaikan diri pada konsensus dalam pertemuan ini.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih atas pendapatnya Pemerintah. Kami persilakan F ABRI untuk memberi-kan pandangan tanggapannya terhadap usul FKP.

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo) :

Fraksi ABRI sebenamya tidak memasalahkan ini karena urutannya secara logika me-mang sudah demikian. Jadi kita bicara Pasal 2 mengenai Dasar, Pasal 3 itu Fungsi yang ada kaitannya dengan tujuan. Sehingga Pasal 4 ini menjelaskan Tujuan. Dengan demikian dasar kami adalah tidak banyak perubahan, ini juga bisa kita pakai.

Mengapa kita harus cari yang lain, begitu Pak. Praktis dan logis sudah tercapai ini. Demikian pendapat kami, terima kasih.

KEnJA:

Terima kasih. Jadi bagi F ABRI perubahannya kelihatannya tidak prinsipil. Jadi kalau toh rnisalnya yang lama bisa digunakan, mengapa dicari yang lain.

Kami persilakan dari FPP. FPP (H. Ismail

Hasan

Metaremn, S.H.):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara Pimpinan, Saudara Menteri dan Staf. Hadirin yang saya hormati.

Kami tadi mendengar penjelasan dari Pak Menteri, kelihatannya yang merencanakan sendiri sudah tidak keberatan kalau diubah. Kami juga agak repot untuk memikirkan itu. Jadi kami serahkan saja kepada kita bersama.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih Pak Ismail. Baiklah, kami mohon rekan yang lain dari Fraksi PDI.

FPDI

(A. 'fyas Satijono Soenarto) :

Fraksi kami melihat bahwa memang tidak ada satu rumusan yang harus demikian urut-an daripada judul ini, yurut-ang kedua ialah karena dari pihak pengusul sendiri (P"emerintah)

(5)

juga tidak keberatan rupanya dengan masalah urutannya saja, maka kami juga sependapat kalau hal ini bisa diselesaikan dalam kesempatan ini.

Terima kasih. KETUA:

Jadi kembalilah Fraksi Karya menghendaki perubahan, sedangkan dari F

ABRI

meng-anggap tidak prinsip wong yang lama juga bisa, sedangkan F PP suli t karena Pemerin tahnya sudah rnana-mana begitu, lalu F PDI menghendaki karena tidak prinsip bisa diselesaikanlah di dalam forum ini. Kalau memang ini bisa diselesaikan, bagus sekali.

Bagaimana FKP kembali ? FKP (Drs. H. Hasanudin) :

Saudara Ketua, memang barangkali saya sudah mengatakan tadi bahwa tidak ada se-suatu keharusan yang menentukan bagaimana urutan itu. Tetapi untuk menentukan urut-an itu biasurut-anya kita mempergunakurut-an sesuatu yurut-ang biasa dipakai sebelumnya kira-kira begi-tu. Kalau kita berbicara masalah yang lama, ini kan baru suatu rancangan yang barangkali kita akan mencari sesuatu yang barangkali Pak Menteri setuju kalau pakai istilah lebih baik dengan suatu pertanggungjawaban moral barangkali begitu. Tetapi FKP tentu mengatakan bahwa andaikata Pemerintah sudah setuju, ten tu yang paling berbesar hati adalah pengusul dari Fraksi Karya. Tetapi oleh karena kita mencari mufakat dalam rangka musyawarah, saya kembalikan kepada Pimpinan, Fraksi Karya ten tu tidak bisa menjawab lebih daripada itu.

Terima kasih. KETUA:

Jadi kami kembalikan kepada Pemerintah. Kalau Pemerintah itu bisaje!as, itu mungkin Fraksi lain bisa melihat apakah Pemerintah itu setuju diubah apa tidak.

PEMERINTAH:

Kalau saya di tan ya setuju tidaknya, maka suli t. Tetapi saya pikir perlu a tau tidaknya diubah, menurut hemat saya tidak perlu. Tetapi kalau urutan itu dinrnsalahkan sekedar atas dasar kebiasaan-kebiasaan, itu tidak-mengubah isinya. Jadi sebetulnya tidak perlu tambah kerjaan juga tidak apa-apa.

Tam bah kerjaan juga tidak rusak. Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih. Sekali lagi kami persilakan Fraksi

ABRI

bisa menjembatani.

F ABRI

(Sahuntung Sastrohamidjojo) :

Fraksi

ABRI

sebagaimana kita katakan tadi, jadi praktis ya kita ikuti urutan ini: Da-sar, Fungsi, lalu Tujuan. Sebab ini isinya nanti pada Pasal 4 itu kita juga sudah sepakat

GBHN.

Jadi ini fungWiya diuraikan lebih dahulu yang menuju pada tuiuan.

Demikian Pak, jadi kalau memang akan diputuskan

dalam

Forum ini ya kita lobby du-lu barangkali supaya

bisa

enak.

(6)

KE1UA:

Bagaimana kalau omong-0mong kecil begitulah, karena ini masalahnya juga kecil.

FKP

(Drs.

H.

Hasanudin):

Saudara Ketua, saya kira bukan masalah kecil atau besar, oleh karena apa pun tentu kita menginginkan suatu, menurut Fraksi Karya ya, sesuatu yang lebih baik. Mungkin hal ini dianggap tidak cocok dengan pendapat yang lain. Saya usulkan bagaimana kalau masa-lah ini dipanjakan saja.

Terima kasih. K.ElUA:

Bagaimana Fraksi-fraksi lain, kalau ini di panjakan usu! FKP. Silakan Fraksi ABRI.

F ABRI (SahWltung Sastrohamidjojo) :

Dari Fraksi ABRI mengharapkan bisa selesai sekarang, narnun karena ini musyawarah Pak,jadi kalau toh rekan-rekan dari FKP menghendaki dipanjakan, sumonggo.

Terima kasih.

KETIJA:

Kalau dilanjutkan sumonggo kerso begitu Pak ya.

Baiklah kalau begitu kita panjakan, mungkin nan ti lebih enak. T erima kasih.

( KETOK PALU )

Kita lanjutkan, Pasal 2 sudah disepakati, Iha ini akibat kami memberikan informasi aki-bat perubahan tempat, di sini Sekretariat Pansus juga salah meletakkan Pak, maka kami mohon maaf. Kalau kita lihat sandingannya di halaman 11 itu yang di kolom FKP itu se-benarnya untuk Tujuan, sedangkan Pasal 3-nya ini untuk Fungsi.Jadi kalau kita melihat pa-sal RUU-nya itu yang sandingannya FKP itu ada di halaman 12. Jadi ini terbalik supaya nanti kita jangan dulu. Jadi sekarang, ini hanya sebagai informasi saja. Pasal 3 kita lewati saja pak, ten tang Fungsi banyak sekali hal-hal perubahan yang substansial. Kemudian Pasal 4, Pasal 4 menyangkut Tujuan,itu kalau kita lihat halaman 12, sekali lagi kalau kita ingin meliha t usulan FKP hams membaca yang di halaman 11-nya. Semuanya menghendaki kem-bali pada GBHN 1988, hanya cara penuangannya itu yang berbeda-beda.

Bagaimana kalau Pimpinan mengusulkan langsung saja ke Panja ? Tetapi kaJau dikehen-daki masing-masing Fraksi ingin memberikan la tar belakangnya, silakan.

Tetapi saya ,ulangi lagi, baik FKP, FABRI, FPP dan FPDI kalau kita lihat semuanya ingin supaya mengacu GBHN 88 dan dari pihak Pemerintah juga tidak berkeberatan, ini kelihat-an pad:: jawabkelihat-an Pemerintah dkelihat-an sebagainya.

Apakah masih perlu Fraksi-fraksi ingin memberikan alasannya. Kami persilakan kalau masih periu. Kalau tidak langsung saja diketok ke Panja.

F ABRJ (SahWitWlg Sastrohamidjojo) : Interupsi

Karena di dalam DIM sebenarnya dulu juga dalam pemandangan umum masing-masing

(7)

menyetujui bahwa rumusan GBHN ini masuk sebagai tujuan pendtdikan, maka FABRI me-nyarankan kena apa tidak ke Panitia Perumus saja dan

bukan ke Panjii.,

ka,,:na

toh ini ha-nya tinggal ambil mana, sampai mana ini kedalamanny4.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih atas peringatan dari FABRI. Apakah setuju·ini masuk Timus? Silakan FPP.

FPP (H. Ismail Hasan

Metarewn,

S.H.)

Terima kasih Saudara Pimpinan. Kami ingin bertanya kepada Pimpinan, apakah me-nurut kemungkinan yang sudah lebih di dalam menelaahnya dianggap sudah prinsip-prinsip sudah tertampung dari semua Fraksi?

Terima kasih. KETUA:

Kalau menurut pendapat kami, itu semuanya memang tidak lepas daripada GBHN 88, hanya ada yang mengambil utuh sesuai dengan apa yang ada di dalam GBHN". Ada yang mengambil tidak sampai selesai. Oleh karena itu kalau nan ti di dalam Timus kalau hake-katnya kita memang ingin mengambil apa yang telah disepakati di GBHN 88 maka tentu-nya kita mengacu ke situ semua.

Bagaimana pihak Pemerintah apakah bisa ke Timus ? Bagaimana apakah disetujui? F PDI ?

( RAPAT SETUJU) Terima kasih.

Jadi Pasal 4 mengenai tujuan pendidikan nasional ke Tim Perumus. (KE TOK PALU )

Dengan catatan yaitu mengacu kepada GBHN 88.

Sekarang kita Ianjutkan ke halaman 13 Bab III yaitu Pasal 5.

Ingin kami sampaikan supaya Pasal 5 sekaligus dibahas bersama-sama dengan Pasal 6 sesuai dengan usulan dari FPDI. Dua materi tidak berbeda, hanya FPDI mengusulkan Pasal 5 dan Pasal

Q.

itu dijadikan satu pasal yang terdiri dari 2 ayat yang masing-masing ayat isinya adalah materi dari kedua pasal tersebut. Ini posisinya. Sedangkan dari FKP, Pasal 5-nya sendiri sendiri tidak ada perubahan, dari F ABRI juga tidak ada perubahan, dari FPP tidak ada perubahan, dari FPDI hanya mengusulkan yang dijadikan ayat ( 1) di tam bah "dan pengajaran". Kemudian Pasal 6-nya FKP tetap, F ABRI tetap, hanya mohon penjelas-an kepada Pemerintah pengertipenjelas-an pendidikpenjelas-an dasar. Kemudipenjelas-an dari FPP ada penyempur-naan yaitu ditambahkan di teRgah "memperoleh ilmu pengetahuan disamping kemampuan . . . . dan seterusnya" dan pendidikan dasamya diusulkan "pendidikan menengah" sehingga nanti dari FPP bisa menjelaskan.

Sedangkan dari FPDI, Pasal 6-nya dijadikan usulan perubahan ayat (2) konsisten yaitu ditambahi "pengajaran" dan di belakang kata "pendidikan dasar" di tarn bah "9 tahun".

(8)

Oleh karena itu kalau disepakati,

kami

mohon Pemerintah kiranya bisa menjelaskan pengertian pendidikan dasar pada Pasal 6 ini terkait pada pertanyaan dari Fraksi ABRI dan juga mungkin nan ti ada kaitannya dengan usul perubahan dari FPP.

Kami persilakan.

PEMERINTAH :

Terima kasih Saudara Ketua. Yang dimaksudkan pendidikan dasar di sini adalah satu paket sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama. Sementara ini kita tidak meng-ubah nama-nama itu menjadi misalnya sekolah dasar 9 tahun tetapi tetap mengingat keada-an a tau kenyatakeada-annya Jebih baik disebut pendidikkeada-an dasar ykeada-ang meliputi dua jenjkeada-ang seko-lah ini. Dan ini sesuai juga dengan apa yang telah dirumuskan dalam GBHN yaitu kewajiban belajar yang harus dirintis sejak sekarang menuju pada pendidikan dasar selama 9 tahun.

Terima kasih. KE1UA:

Terima kasih penjelasan dari Pemerintah. Jadi pengertian pendidikan dasar ini adalah sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama.

Oleh karena itu karena ini mungkin terkait pengertian dari usulan FPP yaitu bukan ta-matan pendidikan dasar dan tata-matan pendidikan menengah.

Kami persilakan FPP untuk menjelaskan usulannya.

FPP (H. Ismail Hasan Metaremn, S.H.)

Terima kasih Saudara Pimpinan, pertama-tama kami ingin menanggapi dulu usul tentang pasal dan ayat. Kami ingin kita sepakat dulu mengenai masalah pasal dan ayat ini, oleh karena permasalahannya barangkali bisa diatur kemudian. Karena itu apabila kita setuju bersama maka masalah pasal dan ayat apakah tidak lebih baik diatur sesudah kita menyelesaikan prinsip-prinsip. Kalau prinsip-prinsip sudah ketemu, pasal dan ayat ini kita nggak usah cari pasal, begitu kira-kira pandangan kami.

Yang kedua, mengenai masalah yang berhubungan dengan Pasal 5 dan 6 apakah mau dibahas satu per satu atau dua-duanya, baiklah karena kami dipersilakan tadi oleh Pimpin-an untuk itu maka kami ingin menyampaikPimpin-an juga sedikit pPimpin-andPimpin-angPimpin-an tentPimpin-ang motivasi kami mengusulkan ini.

Kalau Pasal 5 kami setuju penuh dengan apa yang dikemukakan atau yang ada di dalam RUU, kali ini kami setuju penuh, jadi bukan tidak memberi komentar.

Mengenai Pasal 6 kami ingin supaya dari kita ada pemikiran mengenai masalah ke-mampuan dan keterampilan yang dicantumkan dalam RUU. Kami anggap bahwa jenjang :iendidikan ini akan menentukan permasalahan ilmu pengetahuannya, bukan hanya masa-lah-masalah kemampuan lainnya tetapi ilmu patut kita menonjolkan oleh karena di situ kita menuntut ilmu. Jadi di samping kemampuan dan keterampilan ditambah dengan ilmu pengetahuan karena ini merupakan juga esensi daripada perbedaan jenjang.

Kemudian yang kedua mengenai masalah menengah, memang benar kesimpulan Saudara Pimpinan, kami ingin supaya kita lebih maju daripada yang sudah-sudah. Kalau yang sudah-sudah kita berpikir cukup sesudah dasar itu sudah selesai kewajiban umum warga negara maka untuk tahap yang akan kita tinggal landas nanti barangkali sudah patut kita kiranya kita tetapkan dan sekarang ini bahwa kita mengingini semua warga negara kita harus tingkat menengah. lni kami anggap suatu hal yang perlu kita pikirkan kalau

(9)

memang kita betul-betul akan konsekuen, mudah-mudahan akan tinggal landas pada tahun-tahun yang akan datang ini. Jadi untuk tinggal landas kita harus menyiapkan diri lebih daripada yang sudah-sudah. Kita tidak berpretensi untuk melampaui atau untuk berkompetisi dengan negara-negara maju, akan tetapi kita harus memikirkan bahwa kita sudah melangkah ke negara maju. Karena itu kalau kita hendak menetapkan sesuatu terhadap rakyat kita atau mengarahkan atau menganjurkan rakyat kita untuk dapat ber-pendidikan maka ukurlah tidak lagi pada ukuran yang lama, tetapi kita bikin ukuran yang baru yang berarti kita sudah maju selangkah.

Inilah barangkali yang perlu kami sampaikan untuk secara umum sekarang ini. Terima kasih.

KE TUA:

Terima kasih pak. Kalau kami boleh menanyakan yang dimaksudkan pengertian menengah itu sampai menengah tingkat atas?

FPP (H. Ismail Hasan Metarewn, S.H.)

Sebenamya kami ingin tingkat atas.

KETUA:

Terima kasih. Demikian penjelasan dari FPP dalam usulannya Pasal 6, karena Pasal 5 FPP mudah-mudahan nanti kalimatnya yang kali ini bisa makin ditiadakan, jadi menyetujui. Sebelurn Pernerintah menanggapi, kami persilakan sekaligus FPDI, jadi kita tidak membicarakan, kami sependapat soal ayat tetapi materinya yaitu materi Pasal

5

dan Pasal

6

oleh FPDI ini mau diangkat menjadi satu pasal terdiri dari ayat.

Kami persilakan.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Fraksi karni mengusulkan bahwa karena Pasal 5 dan 6 itu mengatur masalah yang sama, hak yang sama, maka kami usulkan mungkin juga untuk kepentingan praktis yuridis. mengurangi jumlah pasal tanpa mengurangi arti dan maknanya. Kedua pasal ini digabung-kan menjadi 2 ayat dengan penambahan kata "pengajaran '. lni merupadigabung-kan konsekuensi pada Pasal 31 UUD '45. Dengan demikian maka setelah usulan kami Pasal 5 akan menjadi 2 ayat.

Ayat (1) : Setiap warga negara yang mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran.

Ayat (2) : Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan dan pengajaran agar memperoleh kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setaraf dengan kemampuan dan ke-terampilan tamatan pendidikan dasar.

Yang kami maksudkan dengan "pendidikan dasar" ialah 9 tahun sekolah dasar ditambah dengan sekolah menengah pertama, sebagaimana Pemerintah sendiri memberikan pen-jelasannya.

(10)

KE TUA:

Terima kasih dari Fraksi PDI yang telah memberikan penjelasannya yang menghendaki adanya penyempumaan dari materi baik Pasal 5 maupun Pasal 6 dengan tambahan masing-masing kata "dan pengajaran".

Karena masih ada perbedaan tadi dari FPP, kami mohon tanggapan dari Pemerintah. Jadi FPP mengusulkan apa sudah tidak saatnya kita ancang-ancang tamatannya itu tidak pendidikan dasar dalam arti kata berhenti SMTP tetapi sampai tingkat atas.

Kami persilakan.

PEMERINTAH:

Saudara Ketua dan hadirin yang terhonnat, kalau kita memproyeksikan pasal ini ke dalam maksud untuk kemudian hari memperpanjang masa wajib belajar, maka barang-kali hampir tidak ada di dunia III ini yang melaksanakan wajib belajar sampai tingkat menengah atas. Tetapi kalau kita rentang ini sampai pendidikan dasar yang berarti meliputi SMTP maka ada kemungkinan di kemudian hari waktu kita memproyeksikan wajib belajar 9 tahun ini masih bisa ditanggung. Itu pertama. Kedua, ini adalah pendidikan yang di-anggap minimal sebelum anak memasuki usia kerja yang batasnya 15 tahun. Jadi kalau umpamanya batas usia ketenagaan kerja itu 15 tahun maka sebenarnya yang perlu ditetap-kan adalah masa belajar sampai usia anak 15 tahun dan ini diperkiraditetap-kan tingkat SMTP itu tadi, berarti 9 tahun dihitung dari mulai sekolah dasar sampai dengan SMTP. Itu per-tama. Kedua mengenai istilah atau dianggap perlunya tambahan memperoleh ilmu penge-tahuan, ini masalah tafsiran saja, sebab kalau kita baca Pasal 6 itu maka kemampuan ini meliputi segala-galanya yang dihasilkan oleh pendidikan dan pendidikan sebagaimana didefinisikan di muka sekali meliputi pengajaran. Oleh karena itu dengan menyebutkan pendidikan berpegang pada tujuan pendidikan sebagaimana disebutkan pada permulaan RUU ini dengan sendirinya meliputi pengajaran. Sekarang tinggal kita ingin konsekuen pada satu istilah saja digunakan sesuai dengan definisi yang sudah kita anut atau tiap kali ctiurai lagi, jadi tiap kali harus menyebut pendidikan dan pengajaran-pendidikan dan ;_Jengajaran dan seterusnya.

Jadi menurut hemat karni Pasal 6 ini sudah memadai dan kalau dibaca secara ke-seluruhan perkataan "kemampuan dan keterampilan" itu muncul dua kali ketika disetara-kan yaitu untuk mengikuti pendididisetara-kan agar memperoleh kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setaraf dengan kemampuan dan keterampilan tamatan pen-didikan dasar.

Karena dalam kalimat bersusun ini satu ditambah, maka mungkin yang kedua juga :1arus ditambah. Oleh karena itu kami menghimbau untuk mengartikan dalam kemampuan itu implisit kemampuan intelektual, kemampuan menguasai pengetahuan dan sebagainya.

Saya kira demikian, terima kasih.

KETUA:

Terima kasih atas penjelasan Pemerintah. Sebelumnya kami mohon urun rembugnya dari Fraksi lain yang mempunyai sikap sependapat dengan RUU kami persilakan Fraksi Karya untuk memberikan urun rembugnya setelah mendengar penjelasan dari masing-masing Fraksi yang mengusulkan dan tanggapan dari Pemerintah.

(11)

FKP

(B.

Soegiyono) :

Bapak Pimpinan dan Bapak Menteri Penaidikan dan Kebudayaan Bapak-lbu sekalian Anggota Pansus yang kami honnati.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Pendirian atau pandangan dari Fraksi Karya Pembangunan kami rasa cukup jelas pada Pasal 6 yang telah kita tegaskan bahwa mengapa kita tetap seperti RUU, karena argumen-tasi yang tad! kita telah menerima penjelasan dan juga sebelumnya, kita telah pula mem-punyai dasar pemikiran bahwa pendidikan dasar itu pada hakekatnya sampai dengan nanti atau nanti akan mulai daripada pemasukan tahap Pelita V memang seperti apa yang telah diuraikan oleh pihak Pemerintah bahwa sekolah dasar itu akan merupakan pendidikan dasar itu akan menjadi 1 paket ialah 6 tahun plus 3 tahun SMTP. Jadi dengan pengertian ini sebenamya tamatan pendidikan dasar di dalam analog dengan pasal ini pada hakekatnya adalah dipandang atau FKP memandang cukup mampu untuk memiliki kemampuan dan ketrampilan setelah melalui 1 paket dengan SMTP tadi. Jadi pengertian ini mengapa FKP berpegang pada RUU yang sekarang ini, karena cukup jelas bahwa Pasal 6-nya kami ulang setiap warganegara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidik-an agar memperoleh kemampupendidik-an dpendidik-an keterampilpendidik-an ypendidik-ang sekurpendidik-ang-kurpendidik-angnya setara dengpendidik-an kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar.

Jadi kami rasa Pasal 6 ini sudah cukup jelas, dengan demikian maka Fraksi Karya Pembangunan berpendirian tetap dengan apa yang telah ditegaskan di dalam pandangannya ialah tetap seperti Rm.I, dan kemudian setelah berkembang di dalam floor ini pada hake-katnya adalah lebih memperkuat pandangan kita karena posisi pendidikan dasar menda-tang.

Terima kasih Bapak Pimpinan. KE TUA:

Terima kasih atas urun rembugnya dari Fraksi Karya, kami mohon urun rembugnya dari Fraksi ABRI.

FABRI (Drs. Made Sudiartha):

Dari Fraksi ABRI mengenai Pasal 5, jadi setelah juga mendengar pendapat dari Peme-rintah tadi maka kita tetap menyetujui Pasal 5 ini sehingga terhadap saran adanya tambah-an pengajartambah-an bartambah-angkali karena dalam pendidiktambah-an sudah termasuk pengajartambah-an vide Pasal 1.

Kemudian mengenai tambahan angka 9 tahun di bawah itu Pak, barangkali ini tidak perlu tapi mungkin masuk di dalam penjelasan saja kalau memang diperlukan.

Kemudian mengenai PasaJ 6, di sini kami ingin menggarisbawahi bahwa sebagaimana tadi dijelaskan memang Pasal 6 ini menyebutkan mengenai hak minimal warganegara untuk mengikuti pendidikan dasar. Jadi barangkali tambahan ilmu pengetahuan yang kami terjemahkan menjadi sign tidak perlu karena untuk sampai ke pendidikan dasar barangkali hanya cukup memperoleh kemampuan dan keterampilan yang setara dengan kemampuan dan keterampilan tamatan pendidikan dasar, dan kami mendukung Pemerintah bahwa ini memang barangkali kalau kita sampai pendidikan menengah ini juga tidak jelas menengah pertama, menengah atas barangkali memang buat dananya berat, sekarang pentingnya pemerataan lebih dahulu pendidikan dasar semuanya bahwa nanti akan mampu di kemudi-an hari.

(12)

Mengenai penyatuan Pasal 5 dan 6 terserah nanti kalau disepakati dapat kami sepakati. Terima kasih.

KETIJA:

Terima kasih atas pandangan dari Fraksi

ABRI,

kami ingin mengembalikan kepada Fraksi Persatuan Pembangunan masalah tamatan menengah yang diartikan oleh FPP sampai menengah tingkat atas dengan pihak Pemerintah telah memberikan penjelasannya.

Kami persi:lakan.

FPP {H.

Ismail Hasan Metarewn, S.H.):

Terima kasih, kalau kami tidak salah mengambil kesimpulan Pasal 5 sudah tidak ada persoalan sehingga dibatalkan atau tidak atau diayatkan terserah pada Pimpinan dan kita semua. Kami hanya bicara soal Pasal 6.

Tadi Pak Menteri mengemukakan beberapa hal antara lain masalah GBHN setelah kami teliti bahwa di G BHN men ye but menengah pertama, kemudian dalam rumusan yang ada pada kita sekarang ini ada 2 persoalan yang kami ketengahkan, pertama mengenai masalah intelektual memang kami ingin mengingatkan bahwa jenjang-jenjang pendidikan ini tidak terlalu jauh berfokus atau sebaliknya bisa kami anggap berfokus pada perbedaan ilmu pengetahuan, tingkat kemampuan di bidang ilmu pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan barangkali bisa kita pertimbangkan untuk kita se!esaikan bersama.

Kemudian yang kedua, mengenai pendidikan dasar sebagaimana telah dikemukakan penama tadi bahwa kami ingin kita sudah menilai diri kita, kita sudah menilai barangkali sebenarnya bukan ingin tapi sudah menilai bahwa diri kita sebenarnya pada hakekatnya sudah mampu untuk menyatakan diri lebih maju daripada yang sudah-sudah, ini kalimat saya gunakan saya tidak mau katakan negara maju tapi sudah maju daripada yang sudah-sudah sehingga pemikiran yang lama baiklah kita tinggalkan, kita mulai menempatkan diri kita pada tempat yang sebenarnya, yang sesungguhnya. Sekarang ini kita sekarang saja uukan hanya harapan kita untuk tinggal landas sekarang saja kita sudah ke tingkat itu bahwa kalau memang kami pemah mendengar selentingan dari teman-teman bahwa Peme-~intah menganggap pendidikan dasar itu sampai ke SMP sesungguhnya kami timbul per-t:myaan pada kami di dalam Fraksi apakah nanti akan diubah SD-nya sehingga SMP sampai +ingkat 9 tahun dan sebagainya, apakah itu akan ada pemikiran ke situ yaitu kesemuanya ''arus kita bicarakan tidak hanya separuh-separuh nan ti kita tetapkan di Undang-undang ini :ida SD, ada SMP, ada SMA tapi pemikiran kita sudah lain dari itu, ini sebenamya perlu te-gas lebih dahulu dari kita, apakah kita akan menganggap sekolah dasar itu betul sampai 9 tahun sampai SMP, jadi SD dengan SMP itu berbeda sehingga ini yang perlu kita luluskan lebih dahulu sebelum kita menetapkan apakah kita akan menggunakan sekolah dasar atau sekolah menengah, tapi kami mengharap bahwa kita harus sudah lebih maju daripada wak-tu yang lalu, tidak rnentargetkan unwak-tuk kembali ke belakang.

Terima kasih.

KElUA:

Terima kasih juru bicara FPP karena ada masalah pertanyaan yang agak prinsipal maka h:ami sebelum ini kami minta dari Pemerintah untuk menjelaskan.

PEMERINTAH:

Terima kasih Saudara Ketua, mengenai istilah pendidikan dasar yang sebetulnya tidak identik dengan sekolah dasar ini liputannya berbeda-beda dari jaman ke jaman, dari negeri

(13)

ke negeri, akan tetapi dewasa ini pada umumnya yang disebut pendidikan dasar minimal sebelum seseorang masuk di lapangan kerja dalam 9 tahun itu, sebelum perang misalnya ada sekolah-sekolah di bawah 6 tahun karena pada waktu itu dianggap sudah memadai pendidikan yang berlangsung 3 tahun, 4 tahun dan lain-lain sebagainya, akan tetapi dalam proyeksi kita mudah-mudahan pendidikan dasar dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah dapat diwujudkan menyeluruh 9 tahun, maka masih meliputi SD dan SMP, sistem 6, 3, 3 ini masih berlangsung untuk waktu yang cukup lama oleh karena melihat keadaan yang sekarang ini sulit untuk sekaligus menyatakan SD 9 tahun, bukan kesulitan untuk pengadaan sarana dan prasarana atau tenaga pengajar saja akan tetapi memang kondisi ma-syarakat umumnya masih memerlukan waktu untuk dihadapkan pada kenyataan kewajiban belajar 9 tahun, jadi apakah kemudian hari pendidikan dasar ini jadi identik dengan sekolah dasar ini barangkali lebih baik dipertimbangkan sesuai dengan kenyataan yang berkembang kemudian hari.

Kalau sejak sekarang kita mengubah misalnya pendidikan dasar 9 tahun, menengah 3 tahun maka konsekuensinya bukan saja terhadap penyediaan dana, sarana, tenaga dan se-bagainya akan tetapi kewajiban masyarakat untuk memenuhi persyaratan ini, sekarang saja dalam realisasi wajib belajar meskipun sekolah ada, guru ada dan sebagainya masih ada beberapa lingkungan masyarakat yang menarik anaknya dari sekolah sebelum selesai sekolah dasar, jadi sebelum pendidikan dasar 6 tahun, kalau nanti direntang pendidikan dasar ini menjadi 9 tahun dan ini kemudian dijadikan kewajiban belajar, maka mestinya ada sangsi apabila orang tua menarik anaknya dari pendidikan dasar yang 9 tahun ini, barangkali lebih baik dan lebih luwes untuk sementara ini tidak mengubah sistem 6, 3, 3 itu tapi menganggapnya sebagai suatu paket pendidikan dasar 6 plus 3, kalau paket ini nan ti sudah man tap barangkali I 0, 20 tahun lagi bisa saja kita menyatakan pendidikan dasar 9 tahun jadi identik dengan 1 jenjang sekolah 9 tahun.

Kekhawatiran kami adalah apabila ini rinci sejak sekarang, dan ini menjadi Undang-undang maka dengan sendirinya akan menjadi kewajiban, nah kewajiban ini rasanya sulit untuk dipenuhi dalam waktu 5 sampai 10 tahun mendatang melihat kondisi yang nyata sekarang bukan dari dana atau sarana, prasarana akan tetapi dari kenyataan sosial yang masih berbeda-beda dari suatu lingkungan ke lingkungan lainnya. Beberapa angka-angka participation write jadi angka partisipasi belajar ini saja masih menunjukkan tingkat yang rendah di sana-sini bahkan di mana sekolah sudah ada.

Jadi kami harapkan pengertian dari FPP kiranya rumusan yang lapang ini dengan sebutan di sana sekurang-kurangnya, jadi minimal sudah disebutkan, mudah-mudahan ini tidak menjadi over commitment yang tidak bisa dipenuhi, oleh karena itu Pasal 6 ini bisa diterima sebagaimana dirumuskan aslinya itu.

Terima kasih. KETUA:

Karena ini mungkin sangat mendasar, tidak ada jeleknya kita terbuka, karni persila-kan dari FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metarewn, S.H.):

Terirna kasih Saudara Pirnpinan, yang terakhir sekali kami tertarik dengan Pak Menteri tadi menyatakan masalah sekurang-kurangnya, kami mohon supaya dihubungkan dengan kalimat yang di atas "berhak" jadi kalau kita bicara berhak kemudian sekurang-kurangnya belum wajib sehingga ini perlu dipertimbangkan, ini adalah arahan dari kita.

(14)

Kedua, apabila tadi dikatakan kita belwn sanggup maka apakah tidak mungkin kita bikin aturan peralihan. Peraturan peralihan yang sesuai disesuaikan dengan kata kenyataan, jangan kita bikin LTndang-undang untuk sekian tahun kemudian kita ubah !agi begitu.

Kita

arahkanlah Undang-undang ini ke masa yang akan datang, ke masa yang agak langgeng sedikitlah Undang-undang kita jangan sampai dikeritL1< oleh anak muda sekarang kok Un-dang-undang yang dihasilkan DPR kok kaya UnUn-dang-undang mudah katanya, jadi hanya untuk dibatasi beberapa tahnn kemudian diubah lagi, ini ada kritikan anak-anak muda yang sebetulnya saya tidak setuju terns terang tapi jangan sampai begitu, mari kita bikin Undang-undang yang sifatnya langgeng. Adapun di situ kita tentukan aturan peralihan silakan, kalau kita mengadakan Undang-undang dengan arah yang jauh kemudian kita akan sesuai-kan pelaksanaannya dengan tahapan-tahapan kemungkinan yang ada pada kita itu barang-kali lebih baik daripada kita merencanakan Undang-undang untuk sekian tahun. Ini pan-dangan kami, jadi kami coba cungkil supaya kita berpikir bersama-sama di samping yang kami kemukakan tadi di sini "setiap warganegara berhak atas kesempatan dan seterusnya" baru kita katakan sekurang-kurangnya, hak itu sekurang-kurangnya.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih, mungkin kita sudah mengetahui persis latar belakang atau kemauan dari rekan FPP, kita tinggalkan sebentar, jadi kita masuk ke FPDI, Pasal 5 belum selesai sem-purna Pak Ismail karena dari FPDI itu menghendaki tambahan dan pengajaran.

Kemudian tadi ada saran dari F ABRI bagaimana kalau kata 9 tahun itu nanti dilempar saja di dalam penjelasan.

Kami persilakan FPDI. FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Berangkat dari usul kami setidak-tidaknya di sana-sini sudah kami dengar pendapat yang sependapat dengan kami walaupun tidak persis seperti apa yang kami mau misalnya saja pendidikan dasar 9 tahun yang di dalam usul kami cantumkan 9 tahun tetapi kami tadi mendengar dari rekan kami F ABRI itu baik kalau di dalam penjelasan. Memang kami nanti tidak akan keberatan di dalan Panja kalau lebih jauh dibicarakan hanya yang tentu kami rnasih tetap bertahan bahwa 9 tahun itu nampak di dalam rumusan-rumusan apakah itu di dalam penjelasan ataukah dalam pasal perundang-undangan.

Mengenai usu! kami bahwa 2 pasal itu dijadikan l pasal dan terdiri dari 2 ayat rupanya juga dari pihak Pemerintah tidak ada reaksi dalam ha! ini. paling tidak ada 3 Fraksi yang sudah tadi ada suara bahwa itu tidak menjadi masalah.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih, jadi menurut pendapat Pimpinan mungkin ini akan lebih efektif kalau didiskusikan di dalam Panja, apakah Pemerintah keberatan? Jadi soal nanti menjadi 1 pasal, 2 ayat atau tetap menjadi 2 pasal terserah Panja. Dengan demikian Pasal 5 dan Pasal 6, silakan FKP.

f'KP (H. Soegiyono) :

J adi kembali kepada Pasal 5, jadi yang dihubungkan dengap saran dari FPDf mengenai pengajaran. Jadi pengajaran itu dalam pengetahuan pengembangan kita pada diskusi ke-:narin setelah menjadi kesepakatan kita bahwa telah termasuk dj. dalam pengertian pen-didikan, dan ini bisa dimasukkan di dalam ketentuan umum, jadi dengan demikian maka

402

(15)

kita tidak dipermasalahkan lagi memang di dalam UUD 1945 menyebut pengajaran, tetapi karena pengembangan keadaan prospek pengembangannya sudah cukup lama dan ber-kembang, maka pengertian pengajaran itu pada hakekatnya adalah sudah termasuk di dalam pendidikan.

Di dalam kata bakupun juga demikian, jadi kalau kami boleh sampaikan di dalam kata baku di sini bahwa di tingkat ini juga merupakan hasil pendidikan yang benar-benar atau cara mendidik itu sudah bukan karena apa, tapi karena salah didikan. Dua pend1d1kan, orang yang mendidik misalnya guru yang hanya sebagai tenaga pengajar tetapi harus pula sebagai pendidikan. Jadi pengertian pendidikan di dalam kata bakupun pengajaran itu sudah termasuk di dalam pengertian pendidikan.

Terima kasih. KETUA:

Terima kasih Pak, jadi pendapat FKP tidak keliru, tapi tadi juga FPDI mempunyai alasan tertentu mungkin kalau di Panjakan lebih ketemu. Jadi apakah FKP setuju kalau Pasal 5 dan Pasal 6 oleh kita dorong ke Panja.

(FKP: SETUJU)

Terima kasih, Pasal 5 dan 6 itu masuk Panja dengan catatan saya ulangi lagi soal apa-kah jadi 2 ayat, apaapa-kah tetap 2 pasal nan ti Panja.

Pasal 7 kita lewati halaman 14.

Kemudian kita memasuki Pasal 8 halaman 15. FABRI (Drs. Made Sudiartha) : Interupsi

Mengapa Pasal 7. KETUA:

Kita bicarakan yang benar-benar bisa dibicarakan, tapi kalau yang satu sudah mengata-kan dihapus itu ten tu argumentasinya itu sangat dalam dan tajam sehingga nanti ada forum-nya yang lebih akrab lagi, begitu maksudforum-nya, ditangguhkan, ini dilewati.

Jadi kita sekarang memasuki seperti kernarin karni usulkan pasal dan atau ayat yang sifatnya bisa menuju ke arah penyernpurnaan .

. Sekarang Pasal 8 halarnan 15 ayat (1) FKP tetap, F ABRI tetap, kemudian FPP ingin sepertinya sesuai dengan jiwa ayat tersebut ingin mengernbalikan istilah pendidikan khusus itu kepada pendidikan luar biasa. Kernudian dari FPDI ingin menambahkan kata "berhak". Jadi di tengah-tengah itu kata "berhak".

Oleh karena itu kami persilakan dari FPP untuk menjelaskan usulannya, ayat (1)-nya lulu.

FPP (H. Ismail Hasan Metareurn, S.H.) :

Terima kasih Saudara Pimpinan, Fraksi kami mengusulkan supaya warganegara yang memiliki kelainan fisik dan at au mental dapat memperoleh perhatian khusus. Khusus ayat (1) kami memberi narna, hanya rnengubah nama pendidikan khusus dengan pendidik-an luar biasa oleh karena kami ingin mengusulkpendidik-an jalur pikirpendidik-an kita atau alur pikirpendidik-an kita supaya dibagi kepada umum dan khusus yang kemarin sudah pernah kami jelaskan, jadi di sini ada istilah yang dari RUU pendidikan khusus kami mengubah mengusulkan

(16)

menjadi pendidikan luar biasa karena khusus digunakan untuk masalah kedinasan dan lain-lain. Oleh karena itu ini kami gunakan untuk namanya saja pendidikan !uar biasa hanya ini rnJsalah nama di sini barangkali tidak terlalu jauh.

Terima kasih, kalau ayat (1) ini Pak.

KETIJA:

Terima kasih, dari FPDI.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto):

Dari Fraksi karni ay;1t (1) dan kemudian sekaligus ayat (2) walaupun belum dibicara-kan tapi karena kami masalahnya sama ingin mengusuldibicara-kan bahwa kata "dapat" pada kedua ayat itu kami usulkan diganti dengan kata "berhak". mengapa demikian ? Karena kami rnerasa bah\\ a "berhak'" ini lebih konsisten daripada pengertian yang kita miliki di dalam UUD kita Pasal 31 "Setiap warganegara berhak .... '"

Demikian penjelasan kami.

KETIJA:

Terima kasih pada FPDI, kami mohon penjelasan dari pihak Pemerintah baik yang menyangkut apa yang dikemukakan oleh FPP dan FPDI.

PEMERINT AH :

Saudara Ketua dan sidang yang terhormat. Mengetai istilah khusus dan luar biasa ini · memang tergantung dari asal kata mana yang diterjemahkan dalam peristilahan bahasa Inggris, sekolah-sekolah untuk golongan yang pertama ini memang disebut special edu-cation, jadi diterjemahkan khusus tidak keliru, sedangkan dalam bahasa Belanda buiten.-gewoon onderbewys, jadi luar biasa. Kedua artinya sama. Karena Sekolal1-sekolal1 ini nyatanya namanya Sekolah Dasar Luar Biasa. jadi kalau diganti Luar Biasa juga tidak Juar biasa juga.

Yang kedua mengenai perkataan "dapat dan berhak". lni dari pihak kami tidak ada keberatan untuk merubah berhak, oleh karena memang anak-anak yang disebutkan me-nyandang ketunaan tertentu itu juga berhak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu tidak ada salahnya diubah ''berhak".

Terima kasih. KETUA.

Terima kasih. kalau begitu ayat (1) bisa kita dorong ke Tim Perumus, barangkali bukan ke Panitia Kerja. Bagaimana Pak?

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto):

Memang kami tetap selalu akan menghargai semua pihak hanya kalau tokh di dalam forum ini dirnana kit a berangkat dari niat yang sama bangsa dan anak cucu kita, apakah tidak bisa ha! yang tidak begitu berat ini diselesaikan di sini.

Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih FPDI. Jadi ayat (1) itu ada dua hal, pemerintah khususnya tidak ke-beratan untuk mengubah kata "dapat" menjadi ''berhak". Kemudian kata "pendidikan 4()4

(17)

khusus ., U.ijadikan "pendidikan luar biasa". Oleh karena itu apabila kita sepakat untuk. merubah menjadi "pendidikan luar biasa", ya kita sahkan di sini.

Kami mohon F ABRL

Dua hal lagi, Pak. Jadi usulan dari FPP mengubah "luar biasa" dan kata "dapat"

digan-ti "berhak". ·

F ABRI (Drs. Made Sudiartha) :

Pertama, yang ayat (I) mengenai "dapat diganti "berhak" ini kami tidak keberatan. Sedangkan mengenai"memperoleh pendidikan khusus" ini memang soal tafsiran. Sebenar-nya dalam rumusan "pendidikan khusus nanti pada Pasal 11 ini juga termasuk Sekolah Luar Biasa, ini menurut pengertian kami. Jadi kalau "pendidikan khusus" adalah masuk juga di dalamnya antara lain "Sekolah Luar Biasa" itu. Memang namanya sekarang

"Seko-lah Luar Biasa tapi bukan Pendidikan Luar Biasa tapi Seko"Seko-lah Luar Biasa ini masuk dalam pendidikan khusus. Ini pengertian kami. Jadi barangkali kalau masih bisa didiskusikan ke Tim Perumus.

Terima kasih. KETUA:

J adi dari F ABRI belum mantap setelah dirubah menjadi "Pendidikan Luar Biasa" FKP kami persilakan.

FKP (H. Soegiyono) :

Memang pendirian bagi FKP tetap seperti semula. Kalau tadi dikembangkan oleh Pemerintah nampaknya bisa diubah. Ini akan bertentangan dengan Pasal 11. Pasal 11 ayat (1 ), kami bacakan :

Pendidikan yang termasuk dalam jalur formal dibagi menurut jenisnya. KETUA: Interupsi

Pasal 11 itu belum dibahas. FKP 1 (H. Soegiyono) :

Bukan, ini berhubungan dengan keterangan Pemerintah tadi, Pak. Supaya tidak meng-confiuskan ke sebelah sini, Pak. Jadi "pendidikan khusus" disebut di sini Pak. Ini untuk mengkaitkan saja Pak. Terima kasih.

KETUA:

Begini Bapak-bapak sekalian, jika ingin mengkaitkan hati-hati karena yang dikaitkan itu juga masih dipermasalahkan. Karena pendidikan khusus ada usulan dari FPP yang lain. J adi mohon jangan terlalu cepat-cepat mengkaitkan. Boleh saja asal menyadari materinya itu. Jangan sampai bertabrakkan. Jadi masih ada yang belum mantap, untuk diubah menjadi ''pendidikan luar biasa", kalau begitu F PDI masuk ke Timus.

Silakan FKP FKP (Anton P.):

Jadi begini Pak ini mungkin masalahnya tidak hanya istilah, karena kalau kita lihat DIM, istilah yang dipakai itu berkait dengan Pasal-pasal berikut kalau pagi ini disepakati

(18)

di sini itu berarti juga sudah ada perubahan sikap terhadap Pasal yang berikut. Itu per-soalannya. Jadi mengenai istilah luar biasa atau khusus itu nanti barn bisa kita sepakati pada pasal di mana kita bicara itu ada kesepakatan, mau pakai istilah khusus ya boleh atau luar biasa ya silakan.

KETUA:

Jadi Pimpinan menawarkan bertumpu pada pendapat Pemerintah, jadi kalau FKP mempunyai pendirian demikian "Monggo'', maka kita musyawJrah jadi tidak ada nyam-bung sana nyamnyam-bung sini.

Jadi ini kita dorong ke Panja dan FPDI 1dipersilakan. FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Karena masaJahnya

FPDI

sendiri sudah tidak ada masc:lah dan per]u mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah tentu saja dan FABRI hanya karena masalahnya adalah masalah kita bersama, FPDI tidak tinggal diam begitu tentu saja, jadi kami belum mem-berikan sikap apa-apa sebenarnya. Apa itu luar biasa atau khusus hanya kalau toh kalau dibicarakan disini secara baik itu kami agak senang dengan lebih scnang tapi kalau toh memang perlu didorong kepada Panja memang kami toh di Panja pun kcmi sudah tidak ada masalah mengenai usulan kami, terima kasih.

KETUA:

Kalau begitu kami mohon untuk urun rembugnya bagaimana pendapat FPDI tentang Pendidikan Luar Biasa yang diusulkan FPDI.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto) :

Kalau kit a berbicara ·pada Pasal 8 Ayat ( 1) ini memang sebenarnya disini kit a mengenai Pendidikan Khusus sebenarnya sudah meliputi juga Pendidikan Luar Biasa (sudah meliputi) tetapi kalau nanti itu diubah menjadi Pendidikan Luar Biasa kami kira ini akan menjadi batasan yang tidak seluas sekarang yang diajukan oleh konsep ini sendiri terima kasih. KETUA:

Kalau begitu melihat cara saling adu argumentasi kita masukkan ke Panja saja menge-nai Pasal 8 Ayat ( 1 ).

Sekarang RUU Ayat (2) dari F ABRI tidak ada masalah dari FPDI dengan sendirinya menjadi tic:i.k u.da masalah karena istilah "dapat" diganti "berhak" itu pada prinsipnya tidak keberatan.

Di sini usulan FKP dan FPP, kami persilakan FKP untuk memberikan alasannya. FKP (H. Soegiyono) :

Ayat (2) dari pandangan FKP adalah memang mengusulkan perubahan jadi istilah "Pendidikan" diganti dengan "perlakuan" motifnya adalah mengapa istilah "pendidikap.' diganti dengan "perlakuan" karena pada GBHN pada titik "H" sendiri telah dinyatakan, ini suatu penjabaran atau sebagai amanat GBHN bahwa anak didik yang berbakat istimewa perlu mendapat perhatian khusus bukan perlakuan khusus, jadi perlakuan khusus pada Ayat (2) seuagai u~u; µt;rubahan FKP adalah sebagai perwujudan pada apa yang tertera didalam GBHN titik "H" itu yang disebut "Perhatian Khusus" yang berbakat istimewa.

(19)

Agar mereka dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan tingkat pertumbuhan pribadinya.

Dua-

motif inilah yang digunakan oleh FKP mengapa istilah ''Pendidikan Khusus" pada Ayat (2) diganti atau diubah "Perlakuan", demikian terima kasih.

KETUA:

Terima kasih selanjutnya kami persilakan FPP untuk memberikan alasannya. FPP (H.

Ismail

Hasan Metareum, S.H.) :

Terima kasih, sebenamya kami melihat pada Ayat (2) ini tidak terlepas dari istilah dalam ayat yang pertama yang diberikan oleh Pemerintah dan soal itu sudah kita Panjakan. Kami hubungkan masalah ini dengan GBHN, kami mengambil persis kalimat at au kata dari GBHN itu yang kami anggap sudah kita diskusikan lama dan lebih tepat. Kalau disebut dengan Pendidikan Khusus dan mereka yang mempunyai kemampuan luar biasa ini barang kali akan menimbulkan akibat terhadap mereka sendiri, mereka kok diberikan pendidikan khusus kaya yang aneh-aneh begitu, ini pandangan kami maka kami kembali pada GBHN oleh karena istilah dalam GBHN sudah kami anggap tepat sekali dan memang kita harus ikuti bahwa di GBHN dipakai istilah "Perhatian Khusus".

Karena itulah maka kami usulkan bahwa terhadap mereka diberikan perhatian khusus, disamping itu yang saya sampaikan baru saja bahwa soal yang aneh-aneh sebenarnya bukan secara tidak biasa istilahkan itu tetapi barangkali Bapak Menteri sebagai seorang Psikolog lebih tahu dari kami sudah pasti itu. Maka barangkali terhadap mereka yang mempunyai kemampuan tidaklah berarti dikucilkan ditempatkan di pendidikan khusus sehingga mereka timbul ada macam-macam psikologis saya kira psikologis pada diri mereka.

Karena itu maka diberikan perhatian khusus apakah diberikan bea siswa, diberikan hal-hal yang lainlah yang merupakan kemudahan atau fasilitas barangkali itu sangat kita harapkan dan kita jangan memakai istilah yang sebalik dari pada itu, terima kasih.

KETUA:

Terima kasih, sekarang kami persilakan dari pihak Pemerintah. PEMERINT AH :

Saudara Ketua dan Sidang yang terhormat, mengingat tadi mengenai istilah "Khusus" pada Ayat (I) masih akan dibicarakan dalam Panja maka perkataan "Khusus" pada ayat berikutnya juga tentunya akan dibicarakan karena dua-dua ini harus sama istilahnya. Kedua apabila tadi disarankan oleh FPDI agar kata "dapat" diubah menjadi "berhak" maka saya juga cenderung untuk mengubah kata "pendidikan" dalam hal oleh karena hak atas pendidikan luar biasa dalam arti anak-anak dengan intelegensi (kemampuan) yang luar biasa genius dan sebagainya ini kalau diwujudkan dalam bentuk pendidikan itu mem-punyai tuntutan-tuntutan yang khusus pula sampai saat ini di Indonesia hanya ada Sekolah Luar Biasa dalam arti Luar biasa untuk anak yang terbelakang tapi untuk anak luar biasa dalam arti jenius dan sebagainya kita tidak memiliki sekolah. Oleh karena itu kalau kata "dapat" diganti "berhak" mungkin lebih baik atau kata "Pendidikan" diganti "Perhatian" sesuai dengan rumus GBHN 1988, terima kasih.

KETUA:

Jadi dari Pemerintah mengusulkan kata "dapat" itu diganti dengan kata "berhak·", tidak keberatan dari pihak Pemerintah ? Ya Pak dan "pendidikan" diganti dengan "per-hatian".

(20)

Kalau memang pihak Pemerintah ini telah menyetujui untuk Ayat (2) ini dengan kata "dapat" diganti dengan "berhak" dan kata "pendidikan" diganti dengan "perhatian", sekarang kami kembalikan pada FABRI yang pada semulanya menyetujui rumusan RUU, silakan.

ABRI (A.S.

Haryono):

F ABRI menyetujui kedua-duanya ini karena kita sejajarkan kedua-duanya ini, ini kit a bicara mengenai kualitas manusia jadi yang satu cacad dan yang satu lebib Jadi tentu semuanya berhak memperoleh pendidikan khusus, bahwa sekarang belum ada tapi kami yakin bahwa nanti akan ada pendidikan khusus untuk anak yang jenius itu.

Jadi atas dasar itu maka kami berpangkal pada Undang-undang ini harus menjangkau ke depan

sehingga

kami bisa menerima kata "dapat" diganti "berhak" namun untuk ayat (1) tetap dengan kata "pendidikan khusus" dan untuk ayat (2)juga "pendidikan khusus", terima kasih.

KETUA:

Kalau begitu kita masukan ke Panja saja, setuju Pak ? J adi kami ulangi alasan Peme-rintah dari kata "pendidikan" menjadi "perhatian" disesuai dengan

GBHN

itulah alasan-nya kurang lebih, silahkan interupsi.

F

ABRI {Sah1Dlt1Dlg Sastrohamidjojo) : lnterupsi

Itu nanti barangkali didalam pelaksanaannya Pak, didalam pengaturan ini kita harus mewadahi bahwa anak-anak jenius ini tentunya nanti berhak mendapatkan pendidikan khusus.

KETUA:

Jadi bagaimana kalau kita Panjak.an saja kalau begitu, silahkan interupsi.

FKP (H.

Soegiyono) : Interupsi

Jadi pengertian FKP dalam pengamatan yang pertama tadi mengapa memilih (me-mindahkan) atau mengusulkan kata "pendidikan" ke "perlakuan" motivasinya sudah kami kemukakan yang kedua tadi.

Kemudian ada satu prospek lagi bahwa pengembangan, kalau kita menggunakan istilah "pendidikan khusus" ini seolah-olah ini anak yang cerdas itu memang pada hakekat-nya tidak tepat untuk diberikan pendidikan khusus dengan pengertian apabila juga pen-didikan luar biasa misalnya anak yang cerdas luar biasa atau kecerdasannya luar biasa itu seolah-olah nanti mendapatkan pendidikan luar biasa juga.

Untuk ini maka perlakuan khusus itu apa ? Perlakuan khusus yang kami maksudkan antara lain misalnya menambah kurikulwn atau cokurikulwn jadi tidak merubah suasana yang menimbulkan di dalam suatu klas atau di dalam satu jenjang itu menimbulkan gaps tetapi justru perlakuan itu pada perwujudannya terlihat antara lain pada kurikuler atau Co-curikuler tadi pak ini antara lain jadi bisa berbentuk lain, terima kasih atas perhatian. KETUA:

J

adi kembali pad a F ABRI tetap belum bergeser.

(21)

F ABRI (Sahuntung Sastrohamidjojo) :

Untuk F

ABRI

kita tidak kaku jadi kami fleksibel jadi kita lihat dalam forum ini dus bagaimana musyawarah kita ini kami tentu mengikuti jadi apakah ini ke Panja atau ke Timus kami serahkan terima kasih.

KETUA:

Begini Pak, kalau misalnya ini maaf tidak mendesak Pak, kalau F ABRI itu menyetujui pendapat Pemerintah yang terakhir itu bisa kita sahkan begitu Pak masalahnya, jadi Pasal 8 ayat (2) ini bisa menjadi sah karena berhak memperoleh perhatian khusus, dikembalikan kepada GBHN. Kalau ini disetujui nanti tinggal FKP apakah mengubah kata "perlakuan" dengan "perhatian" ini bisa disahkan itu masalahnya.

FKP (H.

Soegiyono) :

Baik, terima kasih pak karni dapat menerima dus menjadi ''berhak memperoleh perha-tian khusus" bagi Ayat (2).

KETUA:

Apakah FKPtidak keberatan kata "Perlakuan" ke "perhatian" dengan bersumber pada GBHN.

FKP (H.

Soegiyono) :

Jadi ini nampaknya meninmeningvesdhil dalam pengertian istilah jadi kalau pengerti-an GBHN-nya mempengerti-ang perhatipengerti-an khusus dalam pengertipengerti-an ini. Tetapi di dalam perhatipengerti-an khusus itu apa di dalam performancenya di dalam pemberian sesuatu itu tadi.

Justru itu pandangan dari Pemerintah. yang jelas sudah ke "perhatian tapi memilih kata "Perlakuan", nah ini kami mohonkan Pengertian perlakuan di dalam saran pengertian kami ini justru adalah perwujudan dari pada setiap perhatian khusus tadi.

KETUA:

Jadi FKP menganggap "perhatian" dan "perlakuan" itu masih jauh tempatnya, bagai-mana Pemerintah barangkali bisa menjembatani lagi.

PEMERINT AH :

Terima kasih Saudara Ketua mudah-mudahan penjelasannya bisa dijernihkan sebagai berikut, yang di "perhatikan" bisa menjadi "perlakuan", jadi kalau umpamanya "perhati-an" dipertahankan lalu sekurang-kurangnya kita mendapat satu keseragaman rumusan anta-ra Undang-undang dengan GBHN.

Penjelasannya bisa menyebutkan nan ti berupa perlakuan khusus, terima kasih. KElUA:

Bagaimana Pak.

FKP

(H. Soegiyono) :

Saya rasa dengan penjelasan yang terakhir Pak Menteri ini bahwa perlakuan akan di-cantumkan dalam penjelasan, saya rasa cukup sinkron di dalam pengembangan nantinya, terima kasih.

(22)

KETUA:

Terima kasih atas jiwa besamya FKP, jadi kalau Pasal 8 ayat (2) kalau baca sesuai dengan kesepakatan "Warga negara yang mamiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus "dengan catatan nanti di dalam penjelasannya

dibe-rikan penjelasan sehingga nampak "perlakuan" itu, disetujui ? Dengan demikial\ Pasal 8 (2) dengan perubahan tadi menjadi sah.

Terima kasih Bapak-bapak/lbu sekalian jadi Bab III sudah selesai sekarang kita mema-suki halaman 16 Bab IV judul Bab kembali disini serupa tapi tidak sama dengan Bab II tadi jadi dari FKP juga rupanya ingin menggeserkan yang RUU-nya semula "Satuan, Jalur dan Jenis Pendidikan" usul FKP menjadi Jalur, Jenis dan Satuan Pendidikan, mohon penje-lasan dari FKP.

FKP (Anton Priyatno, S.H.) :

Memang tidak ada patokan tapi ini berdasarkan pada penalaran di dalam perurnusan undang biasa kita berangkat dari suatu yang sifatnya lebih perurnusan Undang-undang biasa kita berangkat dari suatu yang sifatnya lebih luas kemudian bermuara kepada sesuatu yang lebih konkret. Nah kalau kita lihat jalur mempunyai ruang lingkup yang lebih luas karena nampaknya kemarin juga sudah disepakati bahwa jalur-jalur itu ada formal, non formal dan informal. Jenis, itu adalah bagian-bagian di dalam jalur sehingga mempunyai pengertian sub di antara jalur. Satuan adalah sesuatu yang lebih konkret di dalam jenis, karena itulah maka berdasarkan penalaran ini dan kebiasaan di dalam membuat suatu ru-musan perundangan berangkat dari sesuatu yang lebih luas menuju kepada sesuatu yang le-bih konkret, saya kira ini alasan kami mengapa judul ini ingin adakan perubahan menjadi Jalur, Jenis dan Satuan, terima kasih.

KETUA:

Demikian alasan dari FKP jadi rupanya serupa tapi tidak samanya dengan tadi agak berbeda di sini hanya mengajak atas dasar penalaran dan dikaitkan dengan yang satu me-rupakan kekhususan dari yang atasnya.

Mohon tanggapan dari Fraksi-fraksi lain kalau seandainya yang terakhir ini mungkin dite-rima barangkali bisa judul ini kita sahkan, kepada Pemerintah lebih dahulu barangkali untuk memberikan penjelasan.

PEMERINT AH :

Perubahan seperti halnya tadi ada juga yang diubah, kami, tidak keberatan apa lagi kalau ini memang mengikuti kebiasaan pembuatan perundang-undangan kami

menyesuai-kan.

KETUA:

Terima kasih atas tanggapan dari Pemerintah, mohon urun rembugnya F ABRI.

FABRI

(Drs.

Made Sudhiartha):

Kami bertolak kepada Pasal 1 tentang ketentuan-ketentuan umum, yang mengatur tentang butir 3 bahwa yang diatur ini mengenai sistem pendidikan. Dimana kita menganut sistem "Satuan" jadi begitu tepat adalah kita kembali kepada judul yang lain oleh karena kita mengatur tentang sistem satuan,jadi satuan itu akan menentukan methode mana yang akan dipakai atau jalur mana yang dipakai dan jenisnya bagaimana. Jadi lebih tepat kita kepada judul yang terdapat.

(23)

KETUA:

Terima kasih atas pandangannya dari F ABRI, mohon pandangan dari FPP.

FPP (H. Ismail

Hasan Metarewn,

S.H.):

Sesuai dengan DIM yang memang ada yang kami ralat sebenamya itu yang ditulis di-sini seharusnya dibaca tidak ada tadinya, karni menganggap manapun yang digunakan toh

tidak mengubah esensi karena itu kami terima apa yang diputuskan oleh Sidang, terima ka-sih.

KETUA:

Terima kasih dari FPP selanjutnya kami mohon FPDI untuk memberikan pandangan· nya.

FPDI (A. Tyas Satijono Soenarto):

Fraksi karni sesuai dengan apa yang menjadi pendirian karni dalam DIM memang kami mendukung Rancangan Pemerintah tentang judul ini dan kalau toh kami juga masih tentu saja sependapat dengan Pemerintah bagaimana tadi disampaikan kalau toh itu menjadi ke-biasaan perundang-undangan kami juga rupanya mendukung seperti itu dan kemudian yang berkembang di dalam sidang ini tentu saja kami juga akan ikut serta, terima kasih.

KETUA:

Karena masalahnya mungkin nanti kalau pendekatannya lebih dekat itu lebih enak, bagaimana kalau kita dorong saja seperti BAB II ke Panja saja, setuju Pak?

Terima kasih. - .

-(RAP AT SETUJU) Jadi judul Bab IV itu kita Panjakan.

Kita lanjutkan sekarang Pasal 9 Ayat (1) disini yang mengajukan usu! perub ahan dari pihak FPP dengan mengubah kata ''belajar mengajar" diusulkan dengan kata "pendidikan". Sedangkan FPDI, F

ABRI

dan

FKP

tidak ada usu! perubahan, mohon penjelasannya dari FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.) :

Terima kasih, ini barangkali idenya atau pnns1pnya sudah banyak kita bicarakan mengenai pendidikan dan pengajaran dalam masalah ini istilah belajar mengajar juga hanya khusus pengajaran, karena ini satuan pendidikan maka apapun yang dia lakukan tidak lepas dari soal pendidikan oleh karena itu maka usulan tidak hanya belajar mengajar yang ada disana meskipun nyatanya kita lihat sebagai orang awam yang terjadi disana tapi juga mendidik karena itu istilah pendidikan ini jangan sampai ditiadakan dari setiap satuan pen-didikan, terima kasih.

KETUA:

Dernikian penjelasan dari FPP, kami serahkan kepada pihak Pemerintah. PEMERINT AH :

Saya pikir seperti halnya sudah kita mengacu kepada definisi pendidikan yang menca-kup. pengarahan maka .Pasal 9 !~i r:ienyebutkan satuan pendidikan sebagai penyelenggara keg1atan m~ka kegiat.an .1tu sendw d1sebut kegiatan belajar mengajar, peranannya ada pada proses bela3ar menga3ar itu. Sedangkan kalau diganti pendidikan definisi ini menjadi tidak Jalan oleh karena satuan pendidikan menyelenggarakan pendidikan sedangkan tempatnya atau w~dahnya adalah sekolah dan sekolah ini khusus menekankan pada proses atau kegiat-an bela1ar mengajar, demikikegiat-an terima kasih.

(24)

KETIJA:

Terima kasih atas penjelasan dari pihak Pemerintah kami kembalikan ke pihak FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metareum. S.H.) :

Kami hanya ingin bertanya kepada pihak Pemerintah, saya tidak capai ke Pak Menteri tetapi kepada pihak Pemerintah, apakah di sekolah itu hanya belajar mengajar terimakasih. KETUA:

Mohon adanya penjelasan lebih luas Pak.

PEMERINTAH :

Supaya selanjutnya tidak lagi persoalan maka ijinkanlah saya menguraikan agak pan-jang mengenai istilah yang selalu dikisruhkan ini, dus memang sekolah adalah penyelengga-ra pendidikan akan tetapi pada hakekatnya sekolah terutama, terutama, menyelenggapenyelengga-ra- menyelenggara-kan kegiatan belajar mengajar.

Kalau boleh saya boleh menggunakan istilah asing maka sekolah adalah suatu onderwizs inrichting bukan ofvoeding instituut.

Oleh karena maka tekanannya selalu pada kegiatan belajar mengajar itu tadi atau proses belajar mengajar itu tadi, ini lembaga sekolah.

Kalau dilihat konkritnya memang sebagaian besar jam~am di sekolah itu adalah jam pe-lajaran meskipun ini tidak berarti bahwa pendidikan tidak terselenggara, misalnya pendi-dikan jasmani ini juga pendipendi-dikan, pendipendi-dikan agama juga pendipendi-dikan tapi wujudnya adalah dalam batasan jam pelajaran atau jadwal pelajaran atau si!abus pelajaran dan sebagainya. Oleh karena istilah pendidikan itu dalam ketentuan di

RUU

ini sudah mencakup istilah pengajaran maka selanjutnya kedua pengertian pendidikan seperti juga dalam proses bim-bingan ada pendidikan atau dalam proses latihan ada pendidikan. Tapi tidak selalu dibalik begitu artinya tidak perlu lagi-lagi diulang kembali.

Sehingga kalau kita sebutkan di sini sebagaimana tercantum Pasal 9 itu menurut hemat kami sudah memadai apalagi kalau jelas di sini satuannya adalah sekolah, terima kasih. KEnJA:

Terima kasih Pak Menteri bagaimana FPP. FPP (H. Ismail Hasan Metareum, S.H.)

Pertanyaan lanjutan karena kalimat ada lanjutannya maka bagaimana hubungannya dengan di luar sekolah, terima kasih.

KEnJA:

Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINT AH :

Proses belajar mengajar di luar sekolah ini diselenggarakan melalui wadah-wadah ju_ga dus misalnya sanggar belajar dan lain sebagainya ini juga proses belajar mengajar. Apa yang

sekarang diselenggarakan oleh Ditjen. Pendidikan luar Sekolah pada hakekatnya juga kegi-atan belajar mengajar, jadi kejar usaha, kejar paket A dan lain-lain sebagainya itu juga dicontohkan pendidikan dalam keluarga nah disini barangkali pendidikan lebih kena sekali-pun mungkin saja dalam us aha pendidikan dalam keluarga ada juga ada proses belajar me-ngajar. Nah disini pendidikan luar sekolah yang dimaksudkan tentunya Pendidikan luar sekolah yang dilembagakan sebagaimana sekarang ini diselenggarakan oleh Ditjen. Pendi-dikan luar Sekolah, terimakasih.

(25)

KETUA:

Demikian tadi jawaban dari pihak Pemerintah, bagaimana dari pihak FPP.

FPP (H. Ismail Hasan Metaremn, S.H.):

Sebenarnya begini Pak Pimpinan dan Pak Menteri, kami melihat rumusan ini memang ada hal-hal yang barangkali masih merupakan kejanggalan atau memang apa namanya, tapi kalimat ini kalau kita baca bahwa pengertian yang agak sedikit lain apalagi istilah diluar sekolah mungkin di Depdikbud Pendidikan luar sekolah orang sudah tahu persis.

Tetapi di Undang-undang proses belajar mengajar di luar sekolah ini menjadi permasalahan karena itu kami mengusulkan dlrumuskanlah yang lebih baik, terima kasih.

KETUA:

Terima kasih dari FPP, kami mohon pandangan dari Fraksi-fraksi yang lain kami per-silakan dari FPDI, meskipun usulannya sama.

FPDI (A Tyas Satijono Soenarto) :

Kami mempunyai pengertian bahwa di dalam satuan pendidikan memang ini di sana adalah operasional oleh karenanya memang kegiatannya adalah kegiatan belajar mengajar menurut pengertian kami, tentu di dalamnya sudah mencakup juga masalah-masalah pen-didikan terima kasih.

KETUA:

Terima kasih, dari pihak F ABRI mohon pandangannya. F ABRI (

Drs.

Made Sudhiarta ) :

Fraksi ABRI untuk ayat (1) jadi kami masih te tap berpendirian bahwa proses dari pen-didikan itu adalah belajar mengajar di manapun dilakukan apapun macamnya dari yang be-lajar, ada bebe-lajar, ada yang diajari dan siswanya belajar a pa pun yang diberikan.

Oleh karena i tu kami berpendapat bahwa ayat (1) sebaiknya seperti apa yang tertulis di sini. Terima kasih.

KETUA:

Terima kasih, kami juga min ta pandangannya dari Fraksi Karya Pembangunan. FKP (Anton Priyatno, S.H.):

Terima kasih, konsisten dengan tadi yang kami kemukakan bahwa satuan pendidikan itu adalah lembaga yang konkret, yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan, tentu ru-musan di dalam penyelenggaraan tidak boleh yang bersifat umum, harus peruru-musan yang operasional, nah perumusan yang operasional di dalam dunia pendidikan yang kita kenal adalah proses belajar mengajar. Karena ini kita bicarakan mengenai apa yang dimaksud dengan satuan pendidikan adalah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan yang di dalamnya terdapat yang harus kita rumuskan adalah kegiatan atau proses belajar mengajar, saya kira sudah tepat hanya karena memang kita belum berbicara perkara yang lebih luas lagi karena sontak ke sini inilah resikonya saya kira, terima kasih.

KETUA:

Dengan adanya pandangan urun rembug dari FKP, FABRI, FPDI, apakah FPP masih juga menghendaki perumusan yang lebih baik

?

Apa sesuai dengan RUU ?

Referensi

Dokumen terkait

b. Metode Pendekatan Masyarakat di Pedesaan. Metode pendekatan kepada masyarakat desa Sawohan dengan ceramah, diskusi, dan demonstarsi, dan penugasan atau kerja sama

Berbagai hal yang diinginkan istri selama memberikan ASI. Jenguk anak atau istri ke sini tuh udah senang. Juga perhatian sama moral juga ya tapi itu ngga di

Dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ditetapkan ketentuan-ketentuan pokok yang memberikan pedoman kebijakan dan arahan bagi daerah

Jumlah Waran Yang Ditawarkan Sebanyak-banyaknya sebesar 402.781.000 lembar Waran Seri I (32,22% dari Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Perseroan pada saat

Karena para pemain sepakbola untuk memiliki lebih, melibatkan waktu bermain dalam permainan (lebih banyak kesempatan untuk memecahkan masalah yang hanya

bahwa berdasarkan perkembangan keadaan berkenaan dengan teknis Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam jabatan Tenaga Ahli/Pakar dan Tenaga Profesional di Lingkungan Sekretariat

kebijakan Direksi dalam melaksanakan pengurusan bank serta memberikan nasehat kepada Direksi.  Dewan Komisaris telah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

perkara pencurian yang dilakukan oleh terdakwa, dikatakan juga bahwa seseorang baru dapat dikatakan terdakwa pencurian apabila telah diperiksa oleh penyidik, jaksa