5.1.
Potensi Pendanaan APBD Kabupaten Probolinggo
Pembiayaan pembangunan bidang permukiman perlu memperhatikan arahan dalam peraturan dan perundangan terkait, antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah ditetapkan untuk mengganti Undang-undang 32 Tahun 2004 yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Muatan Undang-undang Pemerintahan Daerah tersebut membawa banyak perubahan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Salah satunya adalah pembagian urusan pemerintahan daerah.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 klasifikasi urusan pemerintahan terdiri dari 3 urusan yakni urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan pemerintahan umum. Urusan pemerintahan absolut adalah Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Urusan pemerintahan konkuren adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan umum adalah Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan.
Untuk urusan konkuren atau urusan pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dibagi menjadi urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. Urusan Pemerintahan Wajib adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh semua Daerah. Sedangkan Urusan Pemerintahan
BAB V
KERANGKA STRATEGI PEMBIAYAAN
Pilihan adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki Daerah. Berikut gambaran pembagian urusan pemerintahan :
Gambar 5. 1 Pembagian Urusan Pemerintahan
Sumber : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah didukung sumber-sumber pendanaan meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pendapatan Lain yang Sah, serta Penerimaan Pembiayaan. Penerimaan daerah ini akan digunakan untuk mendanai pengeluaran daerah yang dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ditetapkan mealui Peraturan Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan
Dana Perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Khusus. Pembagian DAU dan DBH ditentukan melalui rumus yang ditentukan Kementerian Keuangan. Sedangkan DAK digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah atas dasar prioritas nasional. Penentuan lokasi dan besaran DAK dilakukan berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus dan kriteria teknis. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 Tentang Pinjaman Daerah
Sumber pinjaman daerah meliputi Pemerintah, Pemerintah Daerah lainnya, Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank, serta Masyarakat. Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri, tetapi diteruskan melalui pemerintah pusat. Dalam melakukan pinjaman daerah Pemda wajib memenuhi persyaratan :
a. Total jumlah pinjaman pemerintah daerah tidak lebih dari 75% penerimaan APBD tahun sebelumnya;
b. Memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman yang ditetapkan pemerintah paling sedikit 2,5;
c. Persyaratan lain yang ditetapkan calon pemberi pinjaman
d. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari pemerintah;
e. Pinjaman jangka menengah dan jangka panjang wajib mendapatkan persetujuan DPRD.
5. Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (dengan perubahan Perpres 13/2010 & Perpres 56/2010).
Menteri atau Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur, Jenis infrastruktur permukiman yang dapat dikerjasamakan dengan badan usaha adalah infrastruktur air minum, infrastruktur air limbah permukiman dan prasarana persampahan. 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (dengan perubahan Permendagri 59/2007 dan Permendagri 21/2011), Struktur APBD terdiri dari :
a. Pendapatan daerah yang meliputi : Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain yang Sah.
b. Belanja Daerah meliputi : Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung
c. Pembiayaan Daerah meliputi : Pembiayaan Penerimaan dan Pembiayaan Pengeluaran.
7. Peraturan Menteri PU Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur.
Kementerian PU menyalurkan DAK untuk pencapaian sasaran nasional bidang Cipta Karya, adapun ruang lingkup dan kriteria teknis DAK bidang Cipta Karya adalah sebagai berikut :
a. Bidang Infrastruktur Air Minum
DAK Air Minum digunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem penyediaan air minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh perkotaan dan di perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Kriteria teknis alokasi DAK diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi sasaran/target Millenium Development Goals (MDGs) yang mempertimbangkan :
Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah Tingkat kerawanan air minum
b. Bidang Infrastruktur Sanitasi
DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasin(air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. DAK Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target MDGs yang dengan kriteria teknis :
Kerawatan sanitasi
Cakupan pelayanan sanitasi
8. Peraturan Menteri PU No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum
Dalam menyelenggarakan kegiatan yang dibiayai dana APBN, Kementerian PU membentuk satuan kerja berupa Satker Tetap Pusat, Satker Unit pelaksana Teknis Pusat, dan Satuan Non Vertikal tertentu. Rencana program dan usulan kegiatan yang diselenggarakan Satuan Kerja harus mengacu pada RPIJM bidang infrastruktur ke-PU-an yang telah disepakati. Gubernur sebagai wakil Pemerintah mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan kementerian yang dilaksanakan di daerah dalam rangka keterpaduan pembangunan wilayah dan pengembangan lintas sektor.
Berdasarkan peraturan perundangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkup sumber dana kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya yang dibahas dalam RPIJM meliputi :
1. Dana APBN, meliputi dana yang dilimpahkan Ditjen Cipta Karya kepada Satuan Kerja di tingkat provinsi (dana sektoral di daerah) serta Dana Alokasi Khusus bidang Air Minum dan Sanitasi
2. Dana APBD Provinsi, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah provinsi untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala provinsi/regional 3. Dana APBD Kabupaten/Kota, meliputi dana daerah untuk urusan
bersama (DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah kabupaten untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala Kabupaten/Kota
4. Dana Swasta, meliputi dana yang berasal dari skema kerjasama pemerintah dengan swasta (KPS), maupun skema Coorporate Social Responsibility (CSR)
5. Dana Masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat
6. Dana Pinjaman, meliputi pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri. Dalam melaksanakan suatu program, anggaran menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menentukan berjalan tidaknya suatu program. Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam melaksanakan proses pembangunan juga membuat anggaran, yaitu APBD Kabupaten Probolinggo. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakikatnya merupakan perwujudan amanat rakyat kepada eksekutif dan legislatif untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada masyarakat dalam batas otonomi daerah yang dimiliki. Bertitik tolak pada hal tersebut, maka setiap penyusunan APBD Kabupaten Probolinggo disusun dengan memperhatikan prinsip-prinsip:
1. Partisipasi Masyarakat
Hal ini mengandung makna bahwa pengambilan keputusan dalam proses penyusunan dan penetapan APBD sedapat mungkin melibatkan partisipasi masyarakat sehingga masyarakat mengetahui akan hak dan kewajibannya dalam pelaksanaan APBD.
2. Transparansi
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang disusun harus dapat menyajikan informasi secara terbuka dan mudah diakses oleh
masyarakat yang meliputi: tujuan, sasaran, sumber pendanaan pada setiap jenis/obyek belanja serta korelasi antara besaran anggaran dengan manfaat dan hasil yang dicapai dari suatu kegiatan yang dianggarkan. Transparansi dan akuntabilitas anggaran, baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan, maupun akuntansinya merupakan wujud pertanggungjawaban Pemerintah Daerah dan DPRD kepada rakyat.
3. Disiplin Anggaran
Anggaran daerah disusun berdasarkan kebutuhan riil dan prioritas masyarakat di daerah sesuai dengan target dan sasaran pembangunan daerah. Dengan demikian, dapat dihindari adanya kebiasaan alokasi anggaran pembangunan ke seluruh sektor yang kurang efisien dan efektif.
4. Keadilan Anggaran
Pajak daerah, retribusi daerah dan pungutan daerah lainnya yang dibebankan kepada masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan untuk membayar, masyarakat yang memiliki kemampuan pendapatan rendah secara proporsional diberi beban yang sama, sedangkan masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk membayar tinggi diberikan beban yang tinggi pula.
5. Efisiensi dan Efektivitas Anggaran
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang maksimal guna kepentingan masyarakat.
6. Taat Azas
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai kebijakan daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah di dalam penyusunannya tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum dan peraturan daerah lainnya.
Dalam pembahasan potensi pendanaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya pada APBD Kabupaten Probolinggo, Berdasarkan realisasi belanja Daerah Kabupaten Probolinggo, dapat diketahui sebagai berikut :
1. Total Belanja APBD
Berdasarkan data total belanja APBD Kabupaten Probolinggo, diketahui bahwa total belanja APBD dari tahun 2012 – 2016 mengalami kenaikan dengan rata-rata pertambahan 0.14%. dari data pertambahan tersebut maka nantinya akan dijadikan dasar analisa proyeksi belanja daerah 5 (lima) tahun yang akan dating.
2. Belanja APBD Bidang Cipta Karya
Rata-rata total belanja daerah Bidang Cipta Karya Kabupaten Probolinggo tahun 2012 – 2016 sebesar 4.9 %, dengan sektor belanja terbanyak adalah untuk Pengembangan Kawasan Permukiman dengan rata-rata 76,32 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dan tabel berikut :
Gambar 5. 2 Proporsi Belanja Bidang Cipta Karya Menurut Sektor
Di Kabupaten Probolinggo Tahun 2012 - 2016
Gambar 5. 3 Proporsi Belanja Bidang Cipta Karya Terhadap Total Belanja APBD
Tabel 5. 1 Realisasi Belanja Bidang Cipta Karya Menurut Sektor
Di Kabupaten Probolinggo Tahun 2012 - 2016
SEKTOR REALISASI (Rp)
2012 % 2013 % 2014 % 2015 % 2016 %
Pengembangan Kawasan
Permukiman 68,417,104,100 92 35,937,221,250 64 91,420,000,000 84 77,578,071,930 94 37,642,000,000 48 Penataan Bangunan dan
Lingkungan - - - - 200,000,000 0.2 - - - -
Pengembangan SPAM 3,766,700,000 5 12,122,434,000 21 7,909,912,000 7 1,440,000,000 2 10,578,674,000 13 Pengembangan PLP 2,010,000,000 3 8,484,721,000 15 9,161,651,000 8 3,372,765,000 4 30,910,326,000 39
Total Belanja APBD
Bidang Cipta Karya 74,193,804,100 100 56,544,376,250 100 108,691,563,000 100 82,390,836,930 100 79,131,000,000 100
Prosentase Total Belanja APBD Bidang Cipta Karya Terhadap Total Belanja APBD (%)
5.81 4.17 6.84 3.92 3.74
Total Belanja APBD 1,276,919,162,160 1,355,852,096,544 1,588,223,287,289 2,099,798,851,599 2,117,397,445,652 Sumber : Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Probolinggo
Tabel 5. 2 Matriks Potensi Pendanaan APBD Kabupaten Probolinggo
Tahun 2017 - 2022
SEKTOR PROYEKSI (Rp.)
2017 2018 2019 2020 2021 2022
Pengembangan Kawasan
Permukiman 90.271.342.175 102.909.330.079 117.316.636.291 133.740.965.371 152.464.700.523 173.809.758.596 Penataan Bangunan dan
Lingkungan 43.527.876 49.621.778 56.568.827 64.488.463 73.516.848 83.809.207
Pengembangan SPAM 11.569.783.763 13.189.553.490 15.036.090.979 17.141.143.716 19.540.903.836 22.276.630.373 Pengembangan PLP 16.393.167.500 18.688.210.950 21.304.560.483 24.287.198.951 27.687.406.804 31.563.643.757
Total Belanja APBD Bidang
Cipta Karya 118.277.821.314 134.836.716.298 153.713.856.580 175.233.796.501 199.766.528.011 227.733.841.933 Total Belanja APBD 2.413.833.088.043 2.751.769.720.369 3.137.017.481.221 3.576.199.928.592 4.076.867.918.595 4.647.629.427.198
5.2.
Potensi Pendanaan APBN
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 menjabarkan sasaran pembangunan kawasan permukiman yang menjadi prioritas, yaitu sebagai berikut :
1. Tercapainya pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 persen melalui penanganan kawasan permukiman kumuh seluas 38.431 hektar, peningkatan kualitas pemukiman perdesaan seluas 78.384 Ha, peningkatan kualitas permukiman khusus seluas 3.099 Ha, inkubasi 10 kota baru dan peningkatan keswadayaan masyarakat di 7.683 kelurahan. 2. Tercapainya 100 persen pelayanan air minum bagi seluruh penduduk
Indonesia yang dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu optimalisasi dan pembangunan baru (supply side), peningkatan efisiensi layanan air minum (demand side), dan penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment).
3. Optimalisasi penyediaan layanan air minum dilakukan melalui (i) fasilitasi SPAM PDAM yaitu bantuan program PDAM menuju 100% PDAM Sehat dan pengembangan jaringan SPAM MBR di 5.700 kawasan dan (ii) fasilitasi SPAM non-PDAM yaitu bantuan program non-PDAM menuju 100% pengelola non-PDAM sehat dan pengembangan jaringan SPAM MBR di 1.400 kawasan. Sedangkan pembangunan baru dilakukan melalui (i) pembangunan SPAM kawasan khusus yaitu SPAM kawasan kumuh perkotaan untuk 661.600 sambungan rumah (SR), SPAM kawasan nelayan untuk 66.200 SR, dan SPAM rawan air untuk 1.705.920 SR; (ii) pembangunan SPAM berbasis masyarakat untuk 9.665.920 SR; (iii) pembangunan SPAM perkotaan yaitu SPAM IKK untuk 9.991.200 SR dan SPAM Ibukota Pemekaran dan Perluasan Perkotaan untuk 4.268.800 SR; (iv) pembangunan SPAM Regional untuk 1.320.000 SR di 31 kawasan. 4. Peningkatan efisiensi layanan air minum dilakukan melalui penerapan
prinsip jaga air, hemat air dan simpan air secara nasional. Penerapan prinsip tersebut dilakukan melalui (i) pelaksanaan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) pada komponen sumber, operator dan konsumen di seluruh kabupaten/kota; (ii) optimalisasi bauran air domestik di seluruh kabupaten/kota; (iii) penerapan efisiensi konsumsi air minum pada tingkat rumah tangga sekitar 10 liter/orang/hari setiap tahunnya dan pada tingkat komersial dan fasilitas umum sekitar 10 persen setiap tahunnya.
5. Penciptaan lingkungan yang mendukung dilakukan melalui (i) penyusunan dokumen perencanaan air minum sebagai rujukan pembangunan air minum di seluruh kabupaten/kota yang mencakup Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM), rencana strategis penyediaan air minum daerah (Jakstrada) dan rencana tahunan penyediaan air minum; (ii) peningkatan pendataan air minum sebagai rujukan perencanaan dan penganggaran air minum di seluruh kabupaten/kota; (iii) fasilitasi pengembangan peraturan di daerah yang menjamin penyediaan layanan air minum di seluruh kabupaten/kota. 6. Meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi layak (air limbah
domestik, sampah dan drainase lingkungan) menjadi 100 persen pada tingkat kebutuhan dasar yaitu (i) untuk sarana prasarana pengelolaan air limbah domestik dengan pembangunan dan peningkatan infrastruktur air limbah sistem terpusat skala kota, kawasan, dan komunal di 438 kota/kab (melayani 34 juta jiwa), serta peningkatan kualitas pengelolaan air limbah sistem setempat melalui peningkatan kualitas pengelolaan lumpur tinja perkotaan dan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di 409 kota/kab; (ii) untuk sarana prasarana pengelolaan persampahan dengan pembangunan TPA sanitary landfill di 341 kota/kab, penyediaan fasilitas 3R komunal di 334 kota/kab, fasilitas 3R terpusat di 112 kota/kab; (iii) untuk sarana prasarana drainase permukiman dalam pengurangan genangan seluas 22.500 Ha di kawasan permukiman termasuk 4.500 Ha di kawasan kumuh; serta (iv) kegiatan pembinaan, fasilitasi, pengawasan dan kampanye serta advokasi di 507 kota/kab seluruh Indonesia.
7. Meningkatnya keamanan dan keselamatan bangunan gedung termasuk keserasiannya terhadap lingkungan melalui (i) pembinaan dan pengawasan khususnya bangunan milik Pemerintah di seluruh kabupaten/kota; (ii) penyusunan Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria (NSPK) untuk seluruh bangunan gedung dan penerapan penyelenggaraan bangunan hijau di seluruh kabupaten/ kota; dan (iii) menciptakan building codes yang dapat menjadi rujukan bagi penyelenggaraan dan penataan bangunan di seluruh kabupaten/kota. Berdasarkan target kinerja prioritas pada RPJMN 2015-2019 maka kerangka pendanaan Ditjen Cipta Karya untuk tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 3 Rencana Pendanaan Renstra Ditjen Cipta Karya 2015-2019 Indikator Outcome
2015-2019
Alokasi Anggaran (Rp. Miliar) Total Renstra DJCK 2015-2019 (Rp. Milyar)
2015 2016 2017 2018 2019
Proporsi rumah tangga yang menempati permukiman tidak layak di perkotaan, perdesaan dan permukiman khusus 4.863 10.605 10.836 10.276 9.869 46.449 Penataan Bangunan dan Lingkungan 1.254 1.203 1.666 1.970 2.340 8.433 Capaian Pelayanan
Akses Air Minum
5.265 6.169 6.828 7.542 8.096 33.900 Capaian Pelayanan Akses Sanitasi 3.835 5.466 6.894 9.077 10.373 35.645 Dukungan Manajemen 594 754 803 855 944 3.949 - Setditjen 257 314 345 378 414 1.708 - Keterpaduan Infrastruktur 276 331 346 361 378 1.692 - BPPSPAM 61 109 112 116 152 550 Total APBN 15.811 24.197 27.027 29.720 31.622 128.376 Sumber : Renstra Ditjen Cipta Karya 2015 - 2019
Ditjen Cipta Karya juga menyelenggarakan kegiatan Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman. Adapun indikator kinerja program Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman adalah meningkatnya kontribusi penanganan kawasan permukiman di kawasan kumuh perkotaan, kawasan permukiman perdesaan, dan kawasan permukiman khusus, dengan sasaran kegiatan dan indikator yaitu:
1. Layanan Perkatoran dengan indikator terselenggaranya pelayanan pendukung kegiatan pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan pelaksanaan pengembangan kawasan permukiman selama 60 bulan; 2. Peraturan Pengembangan Kawasan Permukiman dengan indikator
tersusunnya 10 NSPK bidang pengembangan kawasan permukiman; 3. Pembinaan dan pengawasan pengembangan kawasan permukiman
dengan indicator terselenggaranya pembinaan dan pengawasan pengembangan permukiman di 507 kab/kota;
4. Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Perkotaan dengan indikator meningkatnya kualitas permukiman di 38.431 Ha daerah perkotaan;
5. Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Perdesaan dengan indikator meningkatnya kualitas permukiman di 78.384 Ha daerah perdesaan;
6. Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Khusus dengan indikator meningkatnya kualitas permukiman di 3.099 Ha kawasan khusus;
7. Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dengan indikator terselenggaranya pendampingan masyarakat di 11.607 kelurahan;
8. Fasilitasi kota dan kawasan perkotaan dalam pemenuhan SPP dan pengembangan Kota Layak Huni dengan indikator terselenggaranya fasilitasi di 18 kota, 12 kawasan perkotaan metropolitan dan 744 kota/kawasan perkotaan;
9. Perintisan inkubasi kota baru dengan indikator terselenggaranya perintisan inkubasi di 10 kota baru.
Adapun pengelompokan kegiatan Pengembangan Kawasan Permukiman berdasarkan strategi pendekatan pembangunan bidang Cipta Karya adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 4 Sasaran Kegiatan Pengembangan Kawasan Permukiman
Strategi Pendekatan Sasaran Kegiatan
Membangun Sistem Permukiman Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman di Perkotaan
Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman di Perdesaan
Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman di Kawasan Khusus
Fasilitasi Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota Layanan pendukung kegiatan Pengaturan, Pembinaan Pengawasan, dan Pelaksanaan Pengambangan Kawasan Permukiman Pengaturan Pengembangan Kawasan Permukiman
Pembinaan dan Pengawasan Pengembangan Kawasan Permukiman
Perintisan Inkubasi Kota Baru
Memberdayakan Masyarakat Pendampingan Pemberdayaan Masyaraakat
Tabel 5. 5 Sasaran Kegiatan Pengembangan Kawasan Permukiman
Sasaran Indikator Kinerja Satuan Target Renstra
2015 2016 2017 2018 PENGATURAN, PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN Layanan Perkantoran Jumlah bulan layanan pendukung kegiatan Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan, dan Pelaksanaan pengembangan kawasan permukiman Bulan Layanan 12 12 12 12 Peraturan Pengembangan Kawasan Permukiman Jumlah NSPK bidang pengembangan kawasan permukiman yang tersusun NSPK 2 2 2 2 Pembinaan dan pengawasan pengembangan kawasan permukiman Terselenggaranya pembinaan, dan pengawasan pengembangan permukiman di 507 kab/kota Kab/Kota 507 507 507 507 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Perkotaan Meningkatnya kualitas permukiman di 38.341 Ha di daerah perkotaan Ha 2.680 9.300 9.500 8.900
Fasilitasi Kota dan Kawasan Perkotaan dalam Pemenuhan SPP dan Pengembangan Kota Layak Huni
Terselenggaranya fasilitasi kota dan kawasan
perkotaan dalam pemenuhan SPP dan
pengembangan Kota Layak Huni di 18 kota, 12 kawasan perkotaan metropolitan dan 744 kota/kawasan perkotaan Kab/Kota/ Kawasan - - 6 kota, 4 kawasan perkotaan metropolitan, 365 kota/ kawasan perkotaan 6 kota, 4 kawasan perkotaan metropolitan, 194 kota/ kawasan perkotaan Perintisan inkubasi kota Terselenggaranya perintisan inkubasi di 10 kota baru Kab/Kota 0 2 3 3 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Perdesaan Meningkatnya kualitas permukiman di 78.384 Ha daerah perdesaan Ha 47.530 7.683 7.501 7.835 Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Khusus Meningkatnya kualitas permukiman di 3.099 kawasan khusus Ha 266 500 667 833 Penataan Kawasan Permukiman Berbasis Masyarakat Terselenggaranya penataan kawasan permukiman berbasis masyarakat di 11.067 kelurahan Kelurahan 11.067 11.067 11.067 11.067
Lanjutan Tabel 5. 5 : Sasaran Kegiatan Pengembangan Kawasan Permukiman
Cacatan
ANGGARAN (Rp. Miliar) Total Alokasi (Rp. Miliar)
Pendekatan Diuraikan 2019 Total 2015 2016 2017 2018 2019
12 60 4.863 10.605 10.836 10.276 9.869 46.449 Fasilitasi Pemda Provinsi/Kab/Kota
2 10 Fasilitasi Pemda Provinsi/Kab/Kota 507 507 Fasilitasi Pemda Provinsi/Kab/Kota 8.051 38.431 Membangun Sistem Permukiman 6 kota, 4 kawasan perkotaan metropolit an, 194 kota/ kawasan perkotaan 18 kota, 12 kawasan perkotaan metropolita n, 744 kota/ kawasan perkotaan Fasilitasi Pemda Provinsi/Kab/Kota 2 10 Fasilitasi Pemda Provinsi/Kab/Kota 7.835 78.384 Membangun Sistem Permukiman 833 3.099 Membangun Sistem Permukiman 11.067 11.067 Memberdayakan Masyarakat
Sumber : Renstra Ditjen Cipta Karya 2015 - 2019
Selain dari Ditjen Cipta Karya, dalam hal pengembangan permukiman potensi pendanaan juga terdapat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan. Dimana Untuk melaksanakan arah, kebijakan, strategi, program dan kegiatan utama pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat diperlukan dukungan keragka pendanaan yang maksimal. Perhitungan pendanaan memperhatikan antara lain 1) Aokasi Program adalah penjumlahan dari alokasi kegiatan; 2) Alokasi Kegiatan merupakan penjumlahan dari alokasi Output; dan 3) Alokasi Output merupakan hasil proyeksi berdasarkan volume target.
Tabel 5. 6 Kerangka Pendanaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Per Program Tahun 2015-2019
NO PROGRAM ALOKASI (MILIAR RUPIAH) TOTAL
2015 2016 2017 2018 2019
01 Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Pu Dan Perumahan Rakyat
198 218 237 261 291 1.204
02 Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Kementerian Pu-Pr
03 Peningkatan Pengawasan Dan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
105 113 120 129 142 609
04 Penelitian Dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
520 537 555 574 586 2.772
05 Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat
569 625 688 757 832 3.471
06 Pembinaan Konstruksi 723 924 1.144 1.365 1.587 5.743 07 Pembinaan Dan Pengembangan
Infrastruktur Permukiman 15.997 24.179 26.982 29.608 31.503 128.268 08 Penyelenggaraan Jalan 57.051 69.948 52.105 55.121 43.952 278.177 09 Pengembangan Infrastruktur Wilayah 526 841 1.084 1.289 1.524 5.263 10 Pengelolaan Sumber Daya Air 30.813 62.025 73.667 75.556 74.500 316.562 11 Penyediaan Perumahan 7.768 44.193 58.775 44.048 29.878 184.663 12 Pengembangan Pembiayaan
Perumahan Dan Kawasan Permukiman *)
342 362 383 406 430 1.924
TOTAL 115.002 204.435 216.228 209.442 185.579 930.686
Sumber : Renstra Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
5.2.
Alternatif Sumber Pendanaan
Bagian ini berisikan potensi alternatif pembiayaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, di luar APBN dan APBD, antara lain melalui KPS, CSR, dan sebagainya. Untuk kegiatan yang layak secara finansial dapat dibangun dengan skema KPS, sedangkan kegiatan yang tidak layak secara finansial dapat diusulkan kepada swasta sebagai CSR.
Dalam hal alternatif sumber pendanaan, adapun sumber-sumber dana yang ada untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur bidang cipta karya di Kabupaten Probolinggo adalah sebagai berikut :
Tabel 5. 7 Matriks Potensi Alternatif Pembiayaan Pembangunan
Infrastruktur Bidang Cipta Karya (Rp. 000-)
Nama Kegiatan Deskripsi Kegiatan Biaya Kegiatan (Rp) Kelayakan Finansial Keterangan Pengembangan SPAM 1. Peningkatan kapasitas produksi dari 310 L/det menjadi 435 L/det, dengan pasang intake baru dan penambahan pompa produksi serta penggantian meter induk. 2. Penambahan jaringan perpipaan transmisi and Total Biaya Pengembangan Rp. 68.514.889 Biaya Yang Disediakan Oleh PDAM Rp. 13.714.485 - Sumber : Dokumen Buissnes Plan PDAM
jaringan distribusi pada wilayah yang belum dapat terlayani.
3. Perbaikan/ pemeliharaan/ penggantian pipa transmisi jenis ACP. 4. Penurunan tingkat
kehilangan air (NRW) sebesar 1% per tahun melalui perbaikan / pemeliharaan/ penggantian pipa transmisi jenis ACP dan sistem jaringan distribusi serta penggantian + 2.500 meter air pertahun yang umur teknis di atas 5 tahun selama kurun waktu 2012 - 2016. 5. Program – program diatas diharapkan akan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah sambungan PDAM sebesar kurang lebih 5000 unit atau 1.000 unit per tahun sampai dengan tahun 2016.
Sumber : Hasil Analisa
5.3.
Strategi Peningkatan Investasi Bidang Cipta Karya
Satgas RPIJM daerah perlu merumuskan strategi peningkatan investasi pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya, yang meliputi :
1. Peningkatan DDUB oleh kabupaten/kota dan provinsi;
2. Peningkatan Penerimaan Daerah dan Efisiensi Pengunaan Anggaran; 3. Peningkatan Kinerja keuangan perusahaan daerah;
4. Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya;
5. Pendanaan untuk operasi, pemeliharaan dan rehabiltasi infrastruktur permukiman yang sudah ada;