ANALISIS MAKNA BENTUK DAN PERAN WARNA DALAM LOGO
Afri Deliansyah Nasution, Muhammad Takari, Fuad ErdansyahProgram Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak: Makna bentuk dan peranan warna pada hasil ciptaan para mahasiswa Polimedia. Secara teoritis
didorong rasa keinginan untuk memahami makna simbol dan peranan warna yang menghasilkan komunikasi sebuah tanda dari kebudayaan etnik Sumatera Utara sebagai materi untuk pembuatan logo pada karya mahasiswa Polimedia PSDD Medan. Sangat menarik untuk dikaji melalui disiplin seni rupa yang berbasis kultural. Untuk melihat ekpresi identitas melalui bentuk-bentuk ornamen yang didistorsi menjadi sebuah logo, yang secara tidak langsung akan mempertegas ekpresi identitas salah satu atau beberapa etnik yang terwujud melalui makna bentuk dan peranan warna. Oleh karena itu tesis ini berusaha menjelaskan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika, yang dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu seni rupa tradisional, modern, dan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dikaji melalui pendekatnan ilmu semiotika, dan disiplin ilmu seni rupa ditambah dengan imu-ilmu bantu (auxilary disciplines) seperti: ilmu budaya, antropologi, estetika,psikologi, dan lain-lainnya. dalam rangka mengomunikasi ekpresi identitas sebuah tanda pada logo melalui makna bentuk dan peranan warna yang diciptakan.
Kata Kunci: Logo, tanda, bentuk, warna dan identitas
1. PENDAHULUAN
Sumatera Utara memiliki penduduk dan budaya yang sangat heterogen. Keberagaman ini dijadikan potensi untuk membangun secara bersama, gesekan sosial dan friksi sesekali terjadi tetapi tidak sampai meluas. Sumatera Utara mencerminkan peradaban Nusantara yang beraneka-ragam namun tetap memiliki rasa integritas dan kebersamaan. Walaupun memiliki beragam keyakinan atau perbedaan agama.
Sumatera Utara yang memiliki keberagaman budaya sudah tentu memilik beragam ornamen, atau ragam hias. Ragam hias dari setiap suku di Sumater Utara memiliki potensi pawisata yang dapat dikembangkan melalui industri kreatif diantara adalah industri batik. Dengan kekayaan ragam hias yang beraneka ragam, motif-motif batik yang dihasilkan akan lebih memiliki pilihan variasi yang beragam dibandingkan daerah asal batik tersebut yaitu pulau Jawa.
Untuk memembus pangsa pasar sebuah industri harus memiliki komunikasi
terhadap konsumen melalui tanda yang memiliki simbol atau pun lambang dari industri atau perusahan batik tersebut, sehingga dapat mempengaruhi konsumen, agar mencapai tujuan yang dapat diidentifikasi.
Refleksi tanda tersebut direpresentasikan secara utuh dan total, melalui sesuatu makna simbol dan lambang menjadikan suatu kualitas dengan nilai-nilai yang ditunjukkan secara visual pada suatu gambar, terdiri dari unsur bentuk dan warna. Bentuk merupakan wujud dari sebuah makna simbol sedangkan warna mewakili dari suatu makna lambang secara konvensi.
Bentuk-bentuk ragam hias atau ornamen yang dimiliki pada setiap etnis di Sumatera Utara sangat beragam yang terdiri dari delapan etnis meliputi Melayu, Karo, Simalungun, Pakpak Dairi, Batak Toba, Mandailing, Angkola Pesisir, dan Nias, Ragam hias tersebut juga menghadirkan makna simbol atau makna lambang yang bersifat konvensi sesuai dengan etnis masing-masing.
Pengelompokan besar etnis di Sumatera Utara salah satu unsurnya adalah dari bentuk dan warna ornamen yang dimiliki pada setiap kolompok etnis batak, yaitu Karo, Simalungun, Pakpak Dairi, Batak Toba, Mandailing, Angkola Pesisir, yang memiliki beberepa bentuk dan warna ornamen yang hampir sama, tetapi pada setiap penafsiran dalam tanda, bentuk dan warna tersebut memiliki arti pada makna simbol dan makna lambang yang berbeda, yang dapat menginformasikan ataupun mengkomunikasikan perbedaan sehingga menghasilkan identitas dari masing-masing etnis yang terdapat dalam bagian kelompok besar etnis batak tersebut. Penafsiran sebuah tanda pada bentuk dan warna dari masing-masing etnis tersebut dapat dilihat melalui ilmu semiotika, yang meliputi makna denotatif dan konotatif sesusai dengan reprensi ilmu budaya yang di miliki seseorang. Dari bentuk-bentuk ragam hias atau ornamen tersebut yang didistorsi menjadi sebuah logo secara tidak langsung, dan akan mempertegas ekpresi identitas sekelompok etnis yang terwujud melalui bentuk dan warna, sehingga mengomunikasi sebuah tanda pada logo perusahan batik tersebut.
Dalam menciptakan sebuah logo informasi ekpresi identitas harus muncul melalui makna bentuk dan peranan warna. Sehingga terciptalah komunikasi melalui penafsiran sebuah tanda pada setiap logo. Namun dalam memahami sebuah logo, melalui makna bentuk dan peranan warna, mahasiswa tidak dibekali dengan ilmu filsafat dan estetika, serta motif ragam hias Sumstera Utara dari setiap etnis padahal untuk melihat ekpresi identitas dari logo melalui bentuk-bentuk ragam hias atau ornamen yang didistorsi menjadi sebuah logo, secara tidak langsung akan mempertegas ekpresi identitas salah satu etnis yang terwujud melalui makna bentuk dan beranan warna melalui ilmu semiotika,
sehingga mengomunikasi ekpresi identitas sebuah tanda pada logo yang akan diciptakan. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi penulis untuk melakukan penelitian Analisis Makna Bentuk dan Peranan Warna Pada Hasil Ciptaan Logo.
2. KAJIAN LITERATUR
a. Logo
Berdasarkan pendapat beberapa teori, makna logo merupakan hasil dari dasar pemikiran yang menghasilkan refrensi atau penggambaran maupun konseptualisasi dengan acuan simbolik. Secara garis besar, logo merupakan bentuk simbol visual yang memiliki makna ataupun penafsiran tanda, menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Keberadaannya mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau dibayangkan. Melalui pendekatan teori di dalam komunikasi, logo dapat diartinya dari sudut pandang semiotika, karena semiotika merupakan salah satu metode komunikasi yang merujuk pada bidang studi untuk mempelajari makna atau arti pada logo, yang didalamnya mengandung makna bentuk, peranan warna sebagai ekspresi identitas yang diperangaruhi oleh unsur budaya.
Semiotika merupakan studi tentang hubungan antara tanda (lebih khusus lagi simbol dan lambang) dengan apa yang dilambangkan. Perintis awal semiotika adalah Plato (428-348 SM) yang memeriksa asal muasal bahasa dalam cratylus (Cratylus adalah nama dari dialog Plato)
Kata “Semiotika” berasal dari bahasa Yunani, seme, bahasa semeiotikos, yang berarti penafsiran tanda. Sebagai salah satu disiplin ilmu, Semiotika berarti ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi. Pada sistem penandaan memiliki pengaruh besar, namun munculnya studi khusus tentang sistem penandaan. Sudah sejak dahulu, tanda menjadi sumber. Logo sudah dikenal sejak pusat peradaban di mesir dan Mesopotamia berkembang. Biasanya berupa
koin atau emblem kerajaan. Penemuan dan teknik baru pembuatan logo terus berkembang. Gamal Kartono mengatakan pada Jurnal Seni Rupa dalam “Sejarah dan Rahasia dibalik Logo”, ia mengulas bahwa pada zaman kekaisaran Romawi (27 SM-476 M) diciptakan identitas Nasional Pertama SPQR, singkatan dari Senatus Populusque Romanus atau Seant dari Rakyat Roma.
b. Klasifikasi Logo
Pengkatagorian bentuk logo dapat dilihat pada dua hal yang sederhana dan mendasar. Pertama dapat dilihat dari seni konstruksinya, pada umumnya dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu, 1).Elemen gambar dan tulisan saling terpisah (picture mark dan letter mark); 2).Gambar dan tulisan saling membaur, dapat disebut gambar bisa juga disebut tulisan (picture mark sekaligus letter mark); 3).Elemen tulisan saja (Letter mark saja). Kedua semua bentuk logo berasal dari bentuk-bentuk dasar (bentuk dasar tercipta dari titik dan garis). Apabila beberapa bentuk dasar bergabung, dapat membentuk dua jenis objek yang lebih kompleks yang dikenal sebagai gambar dan huruf. Pembahasan tentang gambar klasifikasi bentuk logo, areal yang paling kiri logo yang elemen gambarnya mendekati bentuk-bentuk dasar. Karena sifatnya abs`trak, sulit untuk menterjemahkan maknanya dari tampilan fisiknya saja. Pada areal yang paling atas adalah areal logo yang elemen gambarnya sangat menyerupai bentuk objek aslinya. Biasanya berupa foto, maupun illustrasi. Tampilan fisiknya kongkrit sehingga mudah dimengerti. Pada bagian bawah typographic logo yang elemen tulisannya mendekati bentuk huruf yang sudah baku dan nama entitasnya mudah dibaca. Ditengah-tengah adalah area logo yang mengandung semua elemen-elemen mendekati bentuk dasar berupa gambar sekaligus huruf. Baik elemen gambar maupun elemen tulisan.
c. Warna
Warna dapat direpresentasikan sebagai lambang yang menggambarkan suatu objek, sebagai ekpresi identitas dari karakter seseorang, perusahaan, produk, atau jasa yang diwakilkannya. Karakteristik warna perlu dijadikan pertimbangan dalam aplikasi warna, agar menjadi tujuan dalam menciptakan sebuah logo. Oleh karena itu pemilihan warna yang tepat memerlukan proses yang sangat penting dalam mendesain identitas visual, karena setiap warna yang digunakan dalam pembuatan logo menyangkut bidang psikologi, budaya dan komunikasi, dengan demikian warna harus memiliki arti dan penjelasan mengapa menggunakan warna tersebut.
Sebagai salah satu unsur pada logo, umumnya ada dua macam warna pada identitas visual, yaitu warna pada logo dan untuk warna perusahaan. Warna juga berperan sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari karakter seseorang, perusahaan, produk, atau jasa yang diwakilkan oleh budayanya.
Dalam perencanaan corporate identity, warna juga mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek ekpresi identitas dari karakter seseorang, perusahaan, produk, atau jasa yang diwakilkan oleh budayanya. Lebih lanjut dikatakan oleh Henry Dreyfuss, bahwa warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol tersebut. Pada area kiri dan kekanan, disebelah kiri logo adalah area logo yang bentuknya sederhana dan abstrak. Sedangkan semakin kekanan logo-logo bentuknyanya semakin kongkrit. Apabila diperhatikan pada area dari atas ke bawah, pada bagian atas logo didominasi oleh gambar kongkrit, sedangkan semakin mengarah ke bawah logo didominasi oleh logo berbentuk tulisan.
d. Kajian Bentuk
Bentuk merupakan fenomena dua dan tiga dimensi. Bentuk juga merupakan gabungan dari beberapa bentuk dasar, sehingga menciptakan unsur dua dimensi yang memiliki panjang dan lebar, dan tiga dimensi yang
memiliki panjang dan lebar serta tinggi. Bentuk dapat berarti bangun (shape) atau bentuk plastis (form). Menurut Kartika Sony Dharsono dalam bukunya “Estetika” mengatakan bahwa bangun (shape) ialah bentuk benda yang polos, seperti yang terlihat oleh mata, sekedar untuk menyebut sifatnya yang bulat, persegi, ornamental, tak teratur dan sebagainya. Sedang bentuk plastis ialah bentuk benda yang terlihat dan terasa karena adanya unsur nilai (value) dari benda tersebut.
Menurut pendapat lain bentuk ialah satu titik temu antara ruang dan massa. Djelantik mengakatan dalamnya buku “Estetika Sebuah Pengantar” Bentuk juga merupakan penjabaran geometris dari bagian semesta bidang yang ditempati oleh objek tersebut, yaitu ditentukan oleh batas-batas terluarnya namun tidak tergantung pada lokasi (koordinat) dan orientasi (rotasi)-nya terhadap bidang semesta yang di tempati.
Pendapat serupa juga dikatakan oleh Hendratman Heri, bentuk disebut juga shape, yang dihasilkan dari garis-garis yang disusun sedemikian rupa. Bentuk memiliki dua katagori yaitu bentuk dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D).
Ada yang mengatakan bentuk yang paling sederhana ataupun bentuk paling dasar adalah titik. Menurut Djelantik (1999:21), titik tidak mempunyai ukuran ataupun dimensi. Titik tersendiri belum memiliki arti tertentu. Kumpulan dari beberapa titik akan mempunyai arti tertentu. Kalau titik-titik berkumpul dekat sekali dalam satu lintasan akan menjadi bentuk garis. Beberapa garis akan menjadi bentuk bidang dan beberapa kumpulan bidang akan menjadi bentuk ruang.
Dengan demikian titik, garis, bidang dan ruang merupakan bentuk-bentuk dasar ataupun bentuk mendasar dalam seni rupa. Setiap bentuk mempunyai arti tersendiri, tergantung budaya, geografis, dan sebagainya, seperti bentuk segitiga bisa melambangkan konsep trinitas (ayah, ibu, anak), tetapi dimesir bentuk
segitiga melambangkan simbol feminimitas (kewanitaan).
Bentuk-bentuk dasar tersebut yang berstruktur memiliki peranan masing-masing dari seluruh aspek yang terdapat pada sebuah pengorganisasian ataupun penataan yang ada hubungannya dengan bagian-bagian yang tersusun akan menghasilkan sebuah pola ataupun motif. Pola atau motif ini merupakan susunan dari komposisi, titik, garis, bidang dan pembagian ruang, yang dapat melambangkan atau menyimbolkan sesuatu melalui perubahan bentuk ataupun wujud antara lain; stilisasi, distorsi, transformasi, dan disformasi.
4. Kajian Warna
Dalam sistem kebudayaan warna merupakan simbol-simbol ataupun lambang-lambang yang digunakan untuk berkomunikasi, dan diterapkan pada benda-benda menjadi sebuah tanda, begitu juga penerapan pada ragam hias, yang merupakan distorsi dari motif-motif alam. Menurut Francis D. K. Ching (2000 : 14) dalam bukunya Arsitekur bentuk ruang dan tatanan, mengatakan bahwa : warna merupakan sebuah fenomena pencahayaan dan persepsi visual yang menjelaskan persepsi individu dalam corak, intensitas dan nada. Selain itu Francis D.K. Ching menyebutkan bahwa warna adalah atribut yang paling menyolok membedakan suatu bentuk dari lingkungannya. Warna juga mempengaruhi bobot visual suatu bentuk. Kehadiran warna menjadikan benda dapat dilihat, dan melalui unsur warna
orang dapat mengungkapkan suasana perasaa, atau watak benda yang dirancangnya. Warna juga menunjukkan sifat dan watak yang berbeda-beda. Berdasarkan sifatnya dapat disebutkan sebagai warna muda, warna tua, warna tua, warna gelap, warna redup dan warna cemerlang.
Dilihat dari macamnya, warna terdiri dari warna merah, kuning, biru dan sebagainya, sedangkan dari segi karakternya disebutkan sebagai warna panas, warna dingin, warna lembut, warna mencolok, warna ringan, warna berat, warna sedih, warna gembira. Penataan
warna dalam desain ornament mempunyai peranan penting, karena karakternya yang akan mempengaruhi si pengamat, yang berdampak kepada minat untuk memilikinya setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi sosial pengamatnya. Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan Negara Timur, warna putih memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain kafan, meskipun secara teoritis putih bukanlah sebuah warna.
Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara warna putih, dianggap sebagai representasi pada kehadiran seluruh gelombang warna dengan posisi seimbang. Misalnya, warna merah dan putih dalam bendera kebangsaan Indonesia masing-masing melambangkan keberanian dan kesucian. Hubungan antara warna dan kebudayaan dapat dilihat dari tiga pola dalam kebudayaan. Dasar kepercayaan kosmologi manusia peladang pada zaman dulu menjadi landasan cara berfikirnya untuk semua hal, yakni tiga pola.
Menurut Sumardjo Yakub dalam bukunya “estetika paradoks” (2006:73) bahwa pola tiga bertolak dari kepercayaan dualisme antagonistik segala hal. Menurutnya langit di atas, bumi di bawah. Langit basah, bumi kering, Langit perempuan, bumi lelaki. Langit terang, bumi gelap keduanya terpisah dan berjarak. Jarak merupakan pemisahan yang harus diakhiri, dan harus mengawinkan keduanya agar hidup lebih hrrmoni dari dua entitas yang bertentangan tapi saling melngkapi. Peristiwa ini yang dimanakan dunia atas dan dunia bawah. Bebeda dengan kaum peramu yang lebih menekankan pada pertentangan. Harmoni ini tidak melenyapkan keduanya, tetapi mengawinkannya. Dalam perkawinan, lelaki tetap lelaki, perempuan tetap perempuan, dan keduanya melebur dalam satu kesatuan yang melahirkan entitas ketiga, yaitu anak dan entitas ketiga adalah dunia tengah. Dunia
tengah ini adalah penghubung antara dunia atas dan dunia bawah.
Sama halnya yang terjadi pada kosmologi Batak Toba, menstrukturkan kosmologinya secara bersejajar dari atas kebawah. Pada Batak Toba dunia atas berazazkan perempuan, dan namun didominasi oleh dunia bawah berazazkan lelaki. Hujan memamang berasal dari langit, tetapi air langit berasal dari sungai dan laut yang berasal dari dunia bawah.
Gambar 1.Kosmologi I La Galigo
3. PEMBAHASAN
a. Metode Penelitian
Hasil penelitian ini diperoleh dengan teknik kuesioner, teknik pengumpulan data dengan kuesioner akan memberikan seperangkat pertanyaan tertulis atau soalan yang merupakan penciptaan desain logo, analisis ini terfokus pada 50 orang (dua kelas) mahasiswa program studi multimedia polimedia dengan batasan semester II kelas A dan B Politeknik Negeri Media Kreatif Medan pada mata kuliah MDG I yang menjadi sample dan dikaitkan dengan rumusan masalah.
Agar penelitian ini lebih objektif dan akurat, pertanyaan atau soalan tertulis tersebut merupakan menciptakan desain logo batik dengan motif sumatera utara. Hasil karya logo dari 50 orang (dua kelas) mahasiswa program studi multimedia, yang akan di uraikan secara deskriptif sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan pada Bab I, yaitu, Logo Sebagai Tanda (Analisis Makna Bentuk Dan Peranan Warna Serta Pengaruh Ekspresi Identitas Pada Hasil Ciptaan Mahasiswa Politiknik Negeri Media Kreatif Psdd Medan). Pada pembahasan ini hanya 20 karya logo yang
memiliki kreteria logo yang baik saja yang akan dijadikan sampel.
Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis yang dasari oleh orang atau perilaku yang diamati. Pendekatannya diarahkan pada 50 karya logo dari hasil ciptaan mahasiswa Polimedia PSDD Medan dan hanya 20 karya logo yang memiliki kreteria logo yang baik saja yang akan dijadikan sampel.
Jadi, tidak dilakukan proses isolasi pada objek penelitian ke dalam variabel atau hipotesis. Tetapi memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.
Untuk tahap analisis, yang dilakukan oleh peneliti adalah membuat soalan pertanyaan untuk pengumpulan data, observasi, dan dokumentasi dan analisis data yang dilakukan sendiri oleh peneliti. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa tahap:
1. Pertama membuat soal untuk menciptakan desain logo sesuai dengan kreteria logo yang baik.
2. Kedua, melaksanakan proses pembuatan desain logo kepada mahasiswa Polimedia PSDD Medan guna menjadi data pendukung.
3. Ketiga melakukan dokumentasi langsung dilapangan untuk melengkapi data-data yang berhubungan dengan penelitian 4. Keempat, memindahkan data penelitian
yang berbentuk data dan gambar dari semua karya desain logo kepada mahasiswa Polimedia PSDD Medan.
5. Kelima, menganalisis hasil karya desain logo kepada mahasiswa Polimedia PSDD Medan yang telah dilakukan.
Agar pembahasan lebih sistematis dan terarah maka peneliti membagi ke dalam 3 pembahasan, yaitu:
1. Hasil penelitian
2. Deskriptif hasil penelitian
3. Analisis makna bentuk dan peranan warna
b. Hasil Penelitian
Setelah dilakukan proses pembuatan desain logo kepada 50 orang mahasiswa Polimedia PSDD Medan, desain logo yang akan dihasil harus sesuai ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan pada soalan yang diberikan kepada mahasiswa. Dengan kata lain, logo harus sesuai dengan deskripsi pada soalan, dengan ketentuan sebagai berikut : Seorang pengusaha batik ingin mendesain logo sesuai dengan bidang usahanya. Pengusaha tersebut menginginkan pada logo usahanya terdapat unsur motif Sumatera Utara. Dan juga harus memenuhi beberapa kreteria dalam mendesain logo perusahaannya yaitu:
1. Sederhana
2. Mudah diingat dan dimengerti 3. Tahan lama
4. Enak di pandang 5. Sesuai fungsi 6. Tepat Sasaran 7. Unik dan menarik 8. Fleksibel
Dari populasi yang merupakan 50 karya logo mahasiswa Polimedia PSDD Medan tersebut yang dijadi sampel dalam penelitian ini adalah karya logo yang memenuhi kreteria logo yang baik. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan pada logo. Aspek-aspek tersebut merupakan prinsip-prinsip dari logo diantaranya : sederhana; mudah diingat dan dimengerti; tahan lama; enak di pandang; sesuai fungsi; tepat sasaran; unik dan menarik dan fleksibel.
Pada penelitian ini dari 50 karya logo mahasiswa Polimedia PSDD yang jadi populasi, akan diseleksi menjadi 20 karya logo. Dari 20 karya direduksi sesuai dengan prinsip-prinsip logo serta yang memiliki kreteria logo yang baik saja yang akan dijadikan sampel. Logo yang telah direduksi nantinya harus sesuai dengan beberapa kreteria dalam mendesain logo yang baik, yang menjadi acuan logo yang akan dianalisis sesuai dengan pembahasan pada bab-bab sebelumnya.
direduksi sesuai dengan kedelapan prinsip-prinsip logo dengan menggunakan tabel. Dengan ketentuan apabila sesuai dengan kreteria akan diberi tanda “O”; apabila tidak sesuai dengan kreteria akan diberi tanda “X”.
Tabel 1. Format Reduksi Kreteria Logo
N O SAMPEL LOGO KRETERIA LOGO SED ER H AN A M U D AH D II N G AT T AH AN L A M A EN AK D IPAN D AN G SESU AI PU N G SI T EPAT SAS AR AN U N IK D AN M EN AR IK F L E K S IB E L 1 O O O O X O O O 2 O O O O X O O O 3 O O X O O O O X 4 O O O O X O X O 5 O O O O O O O O 6 O O X O O O X X N O SAMPEL LOGO KRETERIA LOGO SED ER H AN A M U D AH D II N G AT T AH AN L A M A EN AK D IPAN D AN G SESU AI PU N G SI T EPAT SAS AR AN U N IK D AN M EN AR IK F L E K S IB E L 7 O O X O O O X X 8 X O O O O O O X 9 O O O O X O X O 10 O O O O O O X O 11 O O O O X O X O 12 O O O O O O O O 13 O O O O O O O O
N O SAMPEL LOGO KRETERIA LOGO SED ER H AN A M U D AH D II N G AT T AH AN L A M A EN AK D IPAN D AN G SESU AI PU N G SI T EPAT SAS AR AN U N IK D AN M EN AR IK F L E K S IB E L 14 X O O O O O O X 15 X O O O O O O X 16 O O O O O O O O 17 O O O O O O O O 18 X O O O O O X X 19 O O O O X O O O 20 O O X O O O O O Keterangan tabel :
Apabila sesuai dengan kreteria diberi tanda “O”.
Apabila tidak sesuai dengan kreteria diberi tanda “X”
Hasil dari pengamatan pada 20 sampel logo yang akan diteliti, tidak semua desain logo hasil karya mahasiswa Polimedia PSDD Medan memenuhi kedelapan kreteria prinsip-prinsip logo. Pada pengamatan ini, terbagi menjadi lima kelompok penilain, kelompok tersebut adalah
1. SANGAT BAIK SEKALI
apabila desain logo tersebut memenuhi kedelapan kreteria prinsip-prinsip logo. 2. SANGAT BAIK
apabila desain logo tersebut hanya memenuhi tujuh dari kedelapan kreteria prinsip-prinsip logo
3. CUKUP BAIK
apabila desain logo tersebut hanya memenuhi enam dari kedelapan kreteria prinsip-prinsip logo
4. BAIK
apabila desain logo tersebut hanya memenuhi lima dari kedelapan kreteria prinsip-prinsip logo
5. KURANG BAIK
apabila desain logo tersebut kurang memenuhi lima dari kedelapan kreteria prinsip-prinsip logo
Untuk hasil pengamatan logo tersebut, dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.2. Tabel Pengamatan
JENIS PENGAMATAN PENILAIAN PENGAMTAN
SANGAT BAIK SEKALI
SANGAT BAIK CUKUP BAIK
BAIK KURANG BAIK
SAMPEL LOGO 5 5 7 3
Hasil reduksi dapat di lihat dari tabel pengamatan, bahwa logo yang menjadi sampel telah layak dikatakan sesuai dengan logo yang baik, sesuai dengan kreteri yang telah ditentukan pada pembahasan sebelumnya. Untuk pencapaian penelitian yang maksimal peneliti mengamati logo tersebut dari segi katagori. Karya-karya logo mahasiswa Polimedia PSDD yang menjadi sampel tersebut akan diamati ataupun dianalisis sesuai dengan katagori logo yang telah diuraikan pada Bab II. Katagori logo tersebut antara lain adalah : 1).Logotype, (logo bentuk tulisan saja) 2).Logogram (logo hanya bentuk gambar saja), dan 3).Combination typo and gram. (gabungan logotype dan logogram) 3.1).Logogram and separate type (logo tulisan dan gambar terpisah); dan 3.2).Logotype and blend gram (logo tulisan dan gambar berbaur); 3.2.1).Logo typographic (di dalam tuliasan terdapat gambar) 3.2.2.).Logo Gramgaphic 3.2.3).Logogram transform typo (logo terdiri dari elemen-elemen gambar kecil yang membentuk huruf) 3.2.4).Logotypo transform gram (logo elemen tulisan yang membentuk gambar).
4. KESIMPULAN
Sebuah logo dari merek besar tidak dipilih secara kebetulan. Ada banyak aspek yang diperhitungkan dalam pembuatan sebuah logo, baik dari segi bentuk, warna, susunan huruf, hingga makna psikologi yang ada didalamnya. Dalam mengembangkan sebuah merek, desain logo adalah raja dari segalanya. Desain logo yang baik yaitu mampu menimbulkan respon emosional dari pelanggan dan calon pelanggan untuk suatu produk tertentu di sebuah perusahaan. Sebuah logo yang kuat mungkin memang terlihat sangat sederhana, tapi dalam penciptaannya tidak ada yang sesederhana yang terlihat dan dibayangkan.
Jika bentuk logo yang digunakan oleh merek tertentu menggambarkan diri mereka, produk, perusahaan atau bahkan budaya lingkungan. Pikiran bawah sadar akan merespon dengan cara yang berbeda untuk setiap bentuk logo
yang berbeda melalui pola dasar ataupun motif ragam hias dan lain sebagainya, menyiratkan makna yang berbeda.
Bentuk-bentuk logo yang dihadirkan mahasiswa Pilimedia PSDD Medan, yang diadopsi dari bentuk dasar dan unsur budaya, setelah dianalisis, bentuk-bentuk tersebut telah memenuhi kreteria logo yang baik dan terarah pada kategori logo. Bentuk logo yang digunakan sudah mampu menggambarkan kualitas produk, identitas perusahaan, bahkan budaya lingkungan masyarakat Sumatera Utara.
Selain pertimbangan bentuk, warna juga menjadi bentuk komunikasi non verbal yang bisa mengungkapkan pesan secara instan dan lebih bermakna yang sering digunakan para marketer atau komunikasi visual yang handal untuk tujuan branding, sales dan penjualan serta marketing perusahaan.
Dalam ilmu komunikasi visual ada beberapa warna utama yang bisa memiliki dampak pada kesehatan dan mood yang pada akhirnya akan mendorong konsumen untuk lebih loyal terhadap produk perusahaan. Setiap warna memancarkan panjang gelombang energi yang berbeda dan memiliki efek yang berbeda pula. Dengan menggunakan berbagai nuansa warna pada materi promosi, branding, marketing, corporate identity serta logo perusahaan dapat membawa harmoni, stabilitas, keseimbangan dan peningkatan penjualan yang mengagumkan.
Warna-warna yang dominan pada logo karya mahasiswa Polimedia PSDD Medan, adalah merah, putih dan hitam. karena sebagain besar suku-suku di Sumatera Utara mayoritas memiliki kesamaan dalam pewarnaan ragam hias suku tersebut, hanya Melayu yang memiliki warna berbeda yaitu kuning dan hijau. Namun seriring perjalanan waktu, warna-warna dari suku Melayu mengalami adaptasi dari Arab Saudi, sehingga warna-warna tersebut tidak lagi hijau dan kuning, tetapi menjadi lebih beragam lagi seperti warna
merah, biru, hitam putih, serta coklat keemasan.
Sama halnya dengan suku Karo, warna dasar dari ragam hias suku ini awal merah, putih dan hitam. Kemudian berkembang dan warna pada ragam hias suku Karo semakin beragam dan bertambah seperti warna hijau, biru, ungu, dan masih banyak lagi.
Implikasi dari bentuk juga meluas hingga ke jenis huruf yang dipilih. Dari sudut pandang tipografi, bentuk yang muncul sebagai suatu rasa yang agresif atau dinamis. Disisi lain, bentuk yang seperti itu dinilai memiliki rasa yang lembut. Huruf yang bulat juga memberikan daya tarik yang fresh atau muda. Implikasi bentuk huruf terdapat pada beberapa katagori logo. yang lebih dominan pada jenis logotype.
Keragaman budaya yang ada di Sumater Utara, menjadikan logo-logo karya mahasiswa Polimedia PSDD Medan menjadi lebih beragam, identitas-identitas yang dihadirkan mampu mewakili masing-masing dari ketujuh suku yang ada di Sumatera Utara, walaupun latar belakang budaya pencipta logo tersebut berbeda dari unsur budaya logo yang diciptakan. Walaupun ada juga beberapa mahasiswa menciptakan logo dengan tema modern dan kontemporer
Pengaruh identitas mahasiswa baik dari suku budaya, asal daerah, tempat dilahirkan, lingkungan sekolah dan tempat tinggal, tidak begitu mempengahui terhadap logo yang diciptakan. Beberapa karya logo yang memilih tema modern dan kontemporer, padahal mahasiswa tersebut berasal dari daerah.
Jadi untuk menciptakan sebuah logo harus terampil dan profesional, harus menggunakan bentuk yang ada baik dari bentuk-bentuk dasar ataupun motif-motif ragam hias suatu kebudayaan serta warna yang sesuai dengan latarbelakang identitas untuk menyimpulkan kualitas khusus tentang merek dari perusahaan tersebut.
5. REFERENSI
Abdul, Juraid. 2006. Manusia, Filsafat,dan Sejarah. Jakarta : Bima Aksara.
Ali, Mat. 2014. Mahir Membuat Ide Kreatif dan Desain Logo, Jakarta: Techno Publishing. Arntson, Amy E. 2003. Grafihic design basic 4.
Whitewater: university of Wisconsin, Thomson Warswort
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek. ,edisi revisi V. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek. ,edisi revisi VI.Jakarta: Rineka Cipta.
Barbier, Jean Paul. 1983. Tobaland : The Shreds Of Tradition. Geneva : Musée Barbier-Müller. Berger, Arthur Asa. 1984. Signs in Contemporary
Culture an Introduction to Semiotics. Marianto & Sunarto. 2005. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Capsule. 2007. Design matter, Logos. Massachusetts: rackport publisfher, inc. Caniago, Ferri. 2012. Cara Mutakhir Jago Desain
Logo, Cipayung, Jakarta Timur : Niaga Swadaya.
Chernyshevsky, N.G. 2005. Hubungan Estitik Seni dengan Realita, Bandung: Ultimus.
Dharmojo. 2005. Sistem Simbol Dalam Munaba Waropen Papua, Jakarta :Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Dreyfuss, Henry. 2010. ‖Symbol Sourcebook: An Authoritative Guide to International Graphic Symbols‖, McGraw-Hill Companies. Hendratman, Hendri. Computer Graphic Design.
Bandung: Informatika, 2014
Hasibuan, Jamaludin S. 1985. Art Et Culture/ Seni Budaya. Pierre-René Bauquis. Djakarta : PT. Jayakarta Agung Offset.
Joosten, Leo. 1992. Samosir The Old Batak Society. Pematangsiantar.
Kartono, Gamal. 2012. Jurnal Seni Rupa FBS Unimed: Sejarah dan Rahasia dibalik Logo. Medan : Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan. Kartono, Gamal. 2014. Poster, Medan: UNIMED
PRESS Kartono, Gamal. 2015. Tipografi, Medan: UNIMED PRESS
Kartika, Sony Dharsono. 2007. Estetika, Bandung: Rekayasa Sains.
Masunah, Juju dan Narawati, Tati. 2003. Seni dan Pendidikan Seni, Bandung : P4ST UPI. Meggs, P.B. 2006. A History of Graphic Design, USA
: Viking
Metha, Aline. 2014. The True Power of Color. Yogyakarta : Octopus Publishing House. Narbuko, Cholid and Achmadi.H.Abu.1997.
Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Pena , Tim Prima. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gita media Press. Parera. J. D. 2004. Teori Semantik.edisi kedua.
Jakarta : Erlangga.
R.M. Yoyok. And Siswandi. 2007. Pendidikan Seni Rupa. Yudis Tira. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Printing.
Rustam, Surianto. 2014 Mendesain Logo, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009 Sulianta, Feri. Rahasia Teknik Warna, Jakarta: PT. Elex Media Komputerindo.
Sachari, Agus. 2005. Metodologi Penelitian Budaya Rupa Desain, Arsitektur, Seni Rupa dan Kriya. Jakarta: Erlangga