BAB I PENDAHULUAN. bank dan lembaga keuangan non bank. Kedua lembaga ini selain memiliki fungsi

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Lembaga keuangan di Indonesia terdiri dari dua yaitu, lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank. Kedua lembaga ini selain memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi juga memiliki fungsi untuk menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Lembaga keuangan bank maupun non bank selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dalam bidang kredit. Hal tersebut sesuai dengan pengertian bank yaitu sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Kasmir, 2010:23).

Pada kenyataannya bank sebagai lembaga keuangan yang dapat dijadikan alternatif pertama untuk memenuhi kebutuhan dana ternyata belum dapat bekerja semaksimal mungkin dalam menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat. Dalam kenyataannya hanya sebagian masyarakat saja yang dapat menikmati jasa perbankan ini. Selain harus memiliki agunan atau barang jaminan, pemberian pinjaman dibank juga mensyaratkan prosedur pinjaman yang relatif lama dan sulit untuk dipenuhi bagi masyarakat yang memiliki ekonomi menengah kebawah.

(2)

Karena keadaan tersebut banyak masyarakat yamg membutuhkan dana cepat mengalihkan kebutuhan dananya ke Pegadaian. Di Pegadaian masyarakat dapat memperoleh dana yang dibutuhkan dengan waktu yang singkat dan tingkat bunga yang dikenakan juga masih terjangkau. Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian merupakan salah satu lembaga keuangan bukan bank, yang secara resmi melakukan kegiatan pembiayaan yakni dalam penyaluran dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit atas dasar hukum gadai dengan maksud untuk melindungi masyarakat dari pihak- pihak non formal seperti praktek pengijonan, rentenir atau lintah darat. Tugas utama Perum Pegadaian adalah untuk mengatasi agar masyarakat yang sedang membutuhkan uang tidak jatuh ke tangan pelepas uang atau rentenir yang bunganya relatif tinggi (Kasmir, 2010).

Sebagai lembaga keuangan non bank yang bergerak dalam dibidang jasa perkreditan dengan tugas utamanya menyalurkan kredit gadai, peran Perum Pegadaian yang berorientasi untuk membantu dan melayani kebutuhan masyarakat berskala kecil sangat membantu pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya Perum Pegadaian, masyarakat yang kekurangan dana dapat sewaktu-waktu memenuhi kebutuhannya akan uang tunai, karena sesuai dengan namanya Perum Pegadaian adalah tempat dimana masyarakat yang membutuhkan dana dapat datang membawa barang-barang pribadinya sebagai jaminan dengan waktu tyang cepat, aman dan mudah. Hal ini sesuai dengan motto Perum Pegadaian yaitu ”Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”.

Kredit gadai adalah pemberian pinjaman (kredit) dalam jangka waktu tertentu kepada nasabah atas dasar hukum gadai dan persyaratan tertentu yang telah

(3)

ditetapkan perusahaan. Nasabah dapat menyelesaikan pinjamannya kepada perusahaan (Perum Pegadaian) dengan cara mengembalikan uang pinjaman disertai dengan sewa modal dan biaya administrasi berdasarkan ketentuan yang berlaku. Kredit gadai sebagai produk utama dari Perum Pegadaian merupakan kredit yang disalurkan oleh Perum Pegadaian dengan jaminan barang bergerak, dengan jangka waktu kredit selama 120 hari (4 bulan), dengan perhitungan sewa modal per 15 hari yang besarnya tergantung dari uang pinjaman yang diterima nasabah. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya sebagai penyalur dana kepada masyarakat, Perum Pegadaian akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan pendapatan sehingga laba yang diperoleh juga meningkat dan untuk mengembangkan perusahaan.

Besarnya kredit gadai yang diterima nasabah tergantung pada persentase tertentu dari nilai taksiran barang jaminan yang diserahkan kepada Perum Pegadaian. Nilai taksiran adalah nilai yang menggambarkan tentang berapa besar jumlah uang pinjaman yang dapat diberikan kepada nasabah dari barang jaminan yang diberikan. Nilai taksiran atas barang yang dijaminkan tidak sama jumlahnya dengan jumlah uang pinjaman yang diberikan. Uang pinjaman yang akan diberikan nilainya biasanya lebih kecil dari nilai taksiran. Hal ini dikarenakan untuk mencegah timbulnya kerugian bagi Perum Pegadaian. Apabila pada saat jatuh tempo nasabah yang bersangkutan tidak dapat menebus barang jaminannya, maka Perum Pegadaian akan melakukan pelelangan atas barang jaminan tersebut untuk menutupi modal pinjaman, sewa modal dan biaya administrasi. Barang

(4)

jaminan yang dilelang biasanya akan lebih tinggi, rendah atau sama dengan uang pinjaman.

Pendapatan perusahaan sangat diperhitungkan mengingat pendapatan sebagai tolak ukur menejemen untuk mengambil keputusan apakah meneruskan usaha atau menghentikan usahanya. Sebagai lembaga pembiayaan, pendapatan terbesar Perum Pegadaian berasal dari sewa modal kredit gadai yang disalurkan, biaya administrasi dan penjualan lelang. Pendapatan ini dapat dilihat dari banyaknya aktivitas kredit gadai yang disalurkan.

Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan merupakan salah satu dari 22 cabang pegadaian yang ada dikota Medan yang memiliki tugas dan wewenang dalam penyaluran kredit berdasarkan hukum gadai. Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan ini sangat aktif menyalurkan dana kepada masyarakat. Dari tabel 1.1dapat diketahui jumlah kredit gadai yang disalurkan, serta jumlah laba yang diterima oleh perum pegadaian Cabang Padang Bulan Medan dari kredit gadai yang disalurkan tahun 2006 sampai dengan tahun 2010.

Tabel 1.1

Perkembangan Jumlah Kredit Gadai yang Disalurkan, serta Laba Operasional yang Diperoleh Perum

Pegadaian Cabang Padang Bulan Tahun 2006-2010

TAHUN KREDIT GADAI

DISALURKAN (Rp) LABA OPERASIONAL (Rp) 2006 973.763.979 748.984.332 2007 1.006.122.248 948.589.944 2008 1.320.821.575 910.478.247 2009 1.806.981.263 936.466.617 2010 1.634.830.798 1.031.883.716 Sumber:Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan.

(5)

Tabel 1.1 menjelaskan bahwa jumlah kredit yang disalurkan Perum pegadaian Cabang Padang Bulan Medan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan maupun penurunan dan dari tabel 1.1 juga terlihat bahwa jumlah kredit gadai yang disalurkan Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan dari tahun ke tahun tidak selalu searah dengan laba yang diterima. Tahun 2007 jumlah kredit gadai yang disalurkan mengalami peningkatan sebesar 3.3% atau sebesar Rp. 32.358.269,-, dan laba yang dihasilkan mengalami peningkatan sebesar 26.7% atau sebesar Rp. 199.605.612,-. Tahun 2008 terjadi peningkatan jumlah kredit gadai yang disalurkan sebesar 31.3% dan tetapi terjadi penurunan laba sebesar 4%. Pada tahun 2009 jumlah kredit gadai yang disalurkan meningkat sebesar 36.8% atau sebesar Rp. 1.806.981.263,- dari Rp. 1.320.821.575,-, dan laba yang dihasilkan meningkat hanya sebesar 2.9% atau sebesar Rp. 25.988.370,-. Sedangkan pada tahun 2010 jumlah kredit gadai yang disalurkan mengalami penurunan sebesar 9.5% atau sebesar Rp. 172.150.465,-, akan tetapi laba yang dihasilkan meningkat sebesar 10.2% dari tahun sebelumnya.

Kegiatan perkreditan merupakan rangkaian kegiatan utama dari sebuah lembaga pembiayaan (Dandawijaya, 2001:33). Tugas pokok suatu lembaga pembiayaan adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat atau pengusaha yang membutuhkannya. Dengan demikian peranan kredit gadai yang disalurkan sangat penting bagi perusahaan yang mengandalkan sumber pendapatan utamanya dari operasi perkreditan dengan harapan semakin besar kredit yang disalurkan semakin besar pula margin laba yang diperoleh. Tabel 1.1 menunjukkan terdapatnya periode dimana terjadi

(6)

penurunan jumlah kredit yang disalurkan tetapi terjadi peningkatan laba bagi perusahaan. Dan sebaliknya, saat jumlah kredit yang disalurkan menurun terjadi peningkatan laba bagi perusahaan. Hal ini terjadi karena adanya kredit macet pada pemberian kredit yang menyebabkan penundaan penerimaan uang yang berasal dari modal serta sewa modal akibat adanya penundaan pelelangan barang jaminan dari kredit macet sehingga menyebabkan laba operasional yang diterima menurun. Berdasarkan uraian tersebut disertai pertimbangan akan pentingnya jumlah kredit gadai yang disalurkan kepada masyarakat maka perlu diadakan penelitian “Pengaruh Jumlah Kredit Gadai yang Disalurkan Terhadap Laba Operasional Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan jumlah kredit gadai yang disalurkan terhadap laba operasional Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan dari tahun 2006 sampai dengan 2010?”.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk megetahui dan menganalisi pengaruh jumlah kredit gadai yang disalurkan terhadap laba operasional Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010.

(7)

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi bahan masukan bagi pimpinan Perum Pegadaian Cabang Padang Bulan Medan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan yang berhubungan dengan kredit gadai.

b. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah dalam permasalahan manajemen yang berkaitan dengan Perum Pegadaian.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan bahan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin meneliti permasalahan yang sama atau yang berkaitan dengan skripsi ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :