PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN KLUNGKUNG
TAHUN 2014
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Untuk mencapai Visi pembangunan di Kabupten Klungkung 2013 – 2018 sebagai pedoman pembangunan yaitu “ Klungkung Yang Unggul Dan Sejahtera”. Guna mencapai visi tersebut telah ditetapkan 11 misi yang akan dijalankan oleh pemerintah daerah, 3 (tiga) misi diantaranya untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan dibidang kesehatan yaitu sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas dan saing sumber daya manusia Kabupaten Klungkung
2. Mewujudkan pemerintahan yang baik berdasarkan prinsip good coorporate governance
3. Pengembangan jasa layanan kepada masyarakat yang lebih baik.
Dalam implementasi Visi dan Misi tersebut, sangat dibutuhkan adanya data dan informasi kesehatan. Menurut WHO, dalam Sistem Kesehatan selalu harus ada Subsistem Informasi yang mendukung subsistem lainnya. Tidak mungkin subsistem lain dapat bekerja tanpa didukung dengan Sistem Informasi Kesehatan. Sebaliknya Sistem Informasi Kesehatan tidak mungkin bekerja sendiri, tetapi harus bersama subsistem lain. Ini tercermin pula dalam SKN 2009, dimana terdapat Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan yang menaungi pengembangan Sistem Informasi kesehatan.
BAB
I
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 17 ayat 1 menyebutkan bahwa pemerintah bertanggungjawab atas ketersediaan akses informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memlihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Selain itu pada pasal 168 menyebutkan bahwa untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan, yang dilakukan melalui system informasi dan melalui kerjasama lintas sektor, dengan ketentuan lebih lanjut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan pada pasal 169 disebutkan pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan.
Kesehatan adalah hak dasar setiap orang yang sangat berharga. Kesehatan juga menjadi salah satu kunci utama dalam menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) disamping
pendidikan dan tingkat pendapatan masyarakat. Upaya
pembangunan kesehatan yang diinginkan adalah pembangunan kesehatan yang dapat berkontribusi positif terhadap pencapaian masyarakat yang sehat dan produktif.
Dalam mewujudkan masyarakat sehat dan produktif pembangunan kesehatan diarahkan guna tercapainya masyarakat yang mandiri dan mampu mengatasi gangguan kesehatan baik karena penyakit maupun bencana alam serta dapat mengakses
pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata.
Pembangunan Kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung
dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan yang meliputi promosi, preventif, kuratif dan rehabiltatif.
Salah satu keluaran dari penyelenggaraan system informasi kesehatan kabupaten adalah Profil Kesehatan Kabupaten Klungkung, yang merupakan paket penyajian data/informasi kesehatan yang relative lengkap, berisi data/informasi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan dan informasi terkait lainnya yang diukur keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan tersebut melalui berbagai indikator antara lain indikator Standar pelayanan Minimal (SPM) di Bidang Kesehatan.
Profil Kesehatan Kabupaten pada intinya memuat berbagai data dan informasi yang akan menggambarkan tingkat pencapaian
indikator kinerja sesuai dengan target SPM Nomor
741/per/III/Kepmenkes/2008.
Informasi kesehatan tersebut sangat bermanfaat sebagai dasar penyusunan perencanaan dan kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Kabupaten Klungkung pada tahun berikutnya.
B. TUJUAN PROFIL KESEHATAN KABUPATEN KLUNGKUNG
Profil Kesehatan Kabupaten Klungkung adalah salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang merupakan tulang punggung bagi
pelaksanaan pembangunan daerah berwawasan kesehatan di
Kabupaten Klungkung. Penyusunan profil Kesehatan Kabupaten Klungkung ini bertujuan untuk :
1. Menyediakan data dan informasi kesehatan dalam penyusunan rencana pembangunan daerah, memberikan analisis-analisis yang mendukung penyediaan dana dan landasan pengembangan sumber daya.
2. Tersedianya data/informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai
kebutuhan dalam rangka evaluasi tahunan kegiatan-kegiatan dan pemantauan pencapaian indicator kinerja sehingga dapat diberikan gambaran tentang kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Klungkung.
Penyusunan dan analisa Profil Kesehatan Kabupaten Klungkung ini dilakukan dengan cara menghimpun laporan-laporan unit pelaksana di Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, Rumah Sakit Umum Klungkung, Pusat Perbekalan Kesehatan dan Puskesmas serta sektor/unit kerja terkait lainnya.
C. SISTEMATIKA
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan Profil Kesehatan dan sistematika penyajiannya.
BAB II GAMBARAN UMUM
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Klungkung. Selain uraian tentang letak geografis, adminitratif dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor-faktor-faktor lainnya misalnya kependudukan, ekonomi dan pendidikan.
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat serta pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. Bab ini juga mengakomodir indikator standar pelayanan minimal (SPM) yang sudah dicapai pada masing-masing program kesehatan tahun 2014.
BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Bab ini menguraikan tentang sarana dan prasarana kesehatan, tenaga kesehatan dan sumber pembiayaan kesehatan.
BAB VI KESIMPULAN
Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu ditelaah dan dilakukan analisis lebih lanjut di tahun yang bersangkutan. Selain keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka upaya menuju Kabupaten Sehat.
LAMPIRAN
Pada lampiran dimuat sebanyak 82 tabel yang berisikan data pencapaian indikator program dan indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan.
SITUASI WILAYAH
A. KONDISI GEOGRAFIS
Kabupaten Klungkung merupakan kabupaten dengan wilayah geografis terkecil dari sembilan kabupaten/kota di wilayah Provinsi Bali. Kabupaten Klungkung wilayahnya terbagi menjadi dua bagian yaitu Klungkung Daratan dan Klungkung
Kepulauan. Secara administrasi Kabupaten Klungkung
mewilayahi 4 kecamatan dengan 59 desa/kelurahan dengan luas
wilayah kurang lebih 315 Km2. Kecamatan terluas adalah
Kecamatan Nusa Penida yang berada di Klungkung Kepulauan dengan luas wilayah dua pertiga dari luas Kabupaten Klungkung
(202,84Km2 ) sedangkan tiga kecamatan dengan luas wilayah
112,16 Km2 berada di Klungkung Daratan yaitu Kecamatan
Klungkung, Banjarangkan dan Kecamatan Dawan. Gambar 1 PUS K N U SA PE N I DA I PUSK N U SA PE N I DA I II PUSK ESM A S D A W A N I PUSK B AN JA RA N G K AN II PUSK KLU N G K UN G I PUSK KLU N G K UN G I I PUSK N U SA PE N I DA I I PUSK B AN JA RA N G K AN I PUSK ESM A S D A W A N I I KA BUPA TEN GIA N YA R KA BUPA TEN BAN GL I KA B UPA TEN KA R A N GA SEM
SAM UDER A HIN D IA
9 0 9 18Mile s N E W S W IL AYAH K E R JA D IN AS K E SE H ATAN K AB U P AT E N K LU N G K U N G Pu sk es m a s PUS K B AN JAR AN G K AN I PUS K B AN JAR AN G K AN II PUS K K LU N G K UN G I PUS K K LU N G K UN G II PUS K N U S A P EN IDA I PUS K N U S A P EN IDA II PUS K N U S A P EN IDA III PUS KE SM AS D AW AN I PUS KE SM AS D AW AN II
BAB
II
Secara geografis, Kabupaten Klungkung terletak pada
posisi titik ordinat :1150 21’ 28” - 1150 37’ 43” Bujur Timur, dan
0080 27’ 37” - 0080 49’ 00” Lintang Selatan dengan batas-batas
di sebelah Utara Kabupaten Bangli, sebelah Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Selatan Samudra Hindia dan sebelah Barat Kabupaten Gianyar.
Seperti daerah tropis lainnya, Kabupaten Klungkung memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada Bulan September sampai dengan April dengan puncaknya sekitar Oktober dan Desember. Namun demikian terdapat perbedaan curah hujan yang sangat menjolok antara wilayah kepulauan Nusa Penida dengan wilayah Klungkung Daratan. Perbedaan curah hujan ini berpengaruh terhadap pemanfaatan lahan pertanian yang berdampak langsung terhadap perkonomian masyarakat disamping kemungkinan berpengaruh terhadap pola penyakit yang berkaitan dengan vektor seperti penyakit deman berdarah dengue dan malaria.
B. KONDISI DEMOGRAFI
1. Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur
Komposisi penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 menurut kelompok umur menunjukkan bahwa penduduk berusia muda (0-14 tahun) sebesar 24,37%, yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 65,50%, dan berusia tua (≥ 65 tahun) sebesar 10,13%. Hal ini dapat
Gambar 2. Piramida penduduk menurut umur di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
Sumber : BPS Klk, 2014
Struktur penduduk memberikan gambaran bahwa derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Klungkung sudah cukup baik. Proporsi penduduk produktif (kelompok umur 15-64 tahun) cukup tinggi dengan dasar piramida menjorok ke dalam.
Gambar piramida menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan telah berhasil mengendalikan angka kematian bayi dan meningkatkan umur harapan hidup yang terlihat dari peningkatan proporsi usia lanjut, namun disisi lain akan membawa dampak pada meningkatnya penyakit
2. Sex Ratio Penduduk
Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Klungkung tahun 2014, rata-rata ratio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klungkung sebesar 97,96. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki
3. Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data proyeksi BPS Jumlah penduduk di Kabupaten Klungkung tahun 2014 adalah 174.800 jiwa
(BPS Klk, 2014) dengan tingkat kepadatan penduduk
sebesar 552 jiwa per kilometer persegi, dimana wilayah yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Klungkung dengan kepadatan 1.947 jiwa per kilometer persegi sedangkan wilayah dengan kepadatan paling rendah terdapat di Kecamatan Nusa Penida yaitu 224 jiwa per kilometer persegi. Penyebaran penduduk tidak merata di empat kecamatan, yaitu 73,82 % berada di Klungkung daratan (Banjarangkan, Dawan dan Klungkung), sedangkan 26,18 % berada di Kepulauan Nusa Penida.
Grafik 1. Kepadatan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Klungkung tahun 2014
Sumber : BPS Klk, 2014
4. KONDISI SOSIAL EKONOMI
Kemampuan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah bisa dilihat dari besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilai PDRB Kabupaten Klungkung baik harga berlaku maupun konstan dari tahun 2009 - 2013 terus meningkat. Hal ini menunjukan terjadi pertumbuhan ekonomi dan kemampuan ekonomi secara total dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2013 nilai PDRB berdasarkan harga berlaku mencapai 3.727.870.000, sementara atas dasar harga konstan mencapai 1.551.110.000. Berikut nilai PDRB Kabupaten Klungkung dari tahun 2009-2013.
Tabel 1. Nilai PDRB Kabupaten Klungkung pada Tahun 2009-2013 (Juta)
Tahun Nilai PDRB Nilai PDRB
Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan
2009 2.441,93 1.240,50
2010 2.748,35 1.307,89
2011 3.022,79 1.383,89
2012 3.347,19 1.467,35
2013 3.727,87 1.551,11
Perekonomian Kabupaten Klungkung masih didominasi oleh sektor pertanian dan pariwisata. Berikut sektor pembentuk PDRB Tahun 2013.
Grafik 2. Diagram Distribusi Sektor Pembentuk PDRB di Kabupaten Klungkung tahun 2013
Sumber : BPS Klk, 2014
5. Rasio Beban Tanggungan
Ratio ketergantungan digunakan untuk mengetahui beban tanggungan ekonomi suatu daerah. Tingginya ratio beban tanggungan ini merupakan faktor penghambat pembangunan ekonomi suatu daerah, karena sebagian pendapatan yang
diperoleh oleh golongan produktif terpaksa harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan golongan tidak produktif. Daerah dengan usia penduduk tidak produktif semakin besar maka beban tanggungan ekonomi penduduk usia produktif semakin tinggi.
Grafik 3. Ratio beban tanggungan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Klungkung tahun 2014
Sumber : BPS Klk, 2014
Angka beban tanggungan penduduk di Kabupaten Klungkung pada tahun 2012 sebesar 51,53 % hal ini menggambarkan bahwa beban tanggungan ekonomi penduduk umur produktif sebesar 51,53 % terhadap penduduk non produktif. Ratio
beban tanggungan tertinggi adalah di Kecamatan
Banjarangkan (58,86 %) sedangkan beban tanggungan terendah terdapat di Kecamatan Nusa Penida (43,25 %).
13
DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT
Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indicator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi morbiditas, mortalitas dan status gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit.
Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya. Derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Klungkung Tahun 2014 dapat digambarkan sebagai berikut.
A. Mortalitas
Mortalitas adalah angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB,AKABA,AKI
1. Angka kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berumur tepat satu tahun. Angka kematian bayi digunakan sebagai indikator untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat
BAB
pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB disamping mengetahui kondisi lingkungan dan sosial ekonomi.
Secara umum AKB di Kabupaten Klungkung berfluaktif selama kurun waktu tahun 2010 - 2014 dan masih berada dibawah target MDGs 2015 maupun target provinsi. Target AKB yang ditetapkan dalam MDGs 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan target Provinsi Bali sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup.
Angka Kematian Bayi meningkat dari 5,95 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2010 menjadi 9,2 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2011, namun tahun 2012 berhasil diturunkan menjadi 6,8 per 1000 kalahiran hidup. Selama kurun tiga tahun kebelakang AKB cenderung meningkat. Tahun 2013 AKB meningkat menjadi 8,89 per 1000 kelahiran hidup tetapi tahun 2014 berhasil diturunkan menjadi 7,91 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian bayi terbesar masih didominasi oleh kasus berat bayi lahir rendah ( BBLR).
Grafik 4 . Trend angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Klungkung tahun 2010 s.d 2014
per 1000 kelahiran hidup
6,8 8,89 5,95 9,2 7,91 0 2 4 6 8 10 2010 2011 2012 2013 2014
15
2. Angka kematian Balita (AKABA)
Angka kematian balita menggambarkan kejadian kematian pada fase antara kelahiran sampai sebelum umur 5 tahun. AKABA di Kabupaten Klungkung juga telah berada dibawah target MDGs 2015 (32 per 1000 kelahiran hidup) maupun target Provinsi Bali (30 per 1000 kelahiran hidup). Pada tahun 2014 sebesar 9,63 per 1000 kelahiran hidup menurun jika dibandingkan tahun 2013 sebesar 10,60 per 1000 kelahiran hidup. Trend angka kematian balita selama kurun waktu 2010 – 2014 dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 5. Trend Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Klungkung tahun 2010 s.d 2014
per 1000 kelahiran hidup
10,6 9,63 10,2 7,4 6,3 0 2 4 6 8 10 12 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Kesga klk, 2014
3. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka kematian ibu mengacu pada jumlah kematian ibu terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan masa nifas. Kematian Ibu maternal di Kabupaten Klungkung masih merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian.
Kejadian AKI di Kabupaten Klungkung dari tahun 2010 - 2012 terjadi peningkatan, namun pada tahun 2013 dapat ditekan hingga tidak terjadi kematian ibu. Namun pada tahun 2014 kembali terjadi peningkatan kematian ibu sebesar 68,78 per 100.000 kelahiran hidup. Kecendrungan angka kematian ibu di Kabupaten Klungkung 2010-2014 dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik 6. Trend angka kematian ibu maternal (MMR) di Kabupaten Klungkung tahun 2010 s.d 2014
Per 100.000 Kelahiran Hidup
68,78 0 135,2 102 70 0 20 40 60 80 100 120 140 160 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Kesga klk, 2014
4. Umur harapan hidup
Salah satu pilar penting dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah bidang kesehatan yang diukur dengan indikator umur harapan hidup (Eo). Umur harapan hidup (UHH) dalam satu dekade cenderung meningkat secara signifikan. Umur Harapan Hidup terus meningkat dari 69,10 pada tahun 2010 menjadi 69,50 pada tahun 2013. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat terus meningkat.
17
Grafik 7. Umur Harapan Hidup (Eo) di Kabupaten Klungkung tahun 2010 – 2013 69,52 69,2 69,10 69,15 65 66 67 68 69 70 2010 2011 2012 2013 Sumber : proyeksi BPS Klk, 2014 B. Morbiditas
Angka kesakitan yang terjadi di masyarakat dapat menggambarkan status kesehatan masyarakat. Angka kesakitan (morbiditas) penyakit menular di Kabupaten Klungkung sepanjang tahun 2013 sebagai berikut.
1. Penyakit menular
a. Penyakit ISPA
Penyakit ISPA pada umumnya berada pada urutan pertama pada daftar sepuluh penyakit terbanyak dan menjadi salah satu penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita.
Pengendalian penyakit ISPA lebih difokuskan pada
penanganan dini terhadap penderita pneumonia balita yang ditemukan melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dalam kurun waktu tiga tahun (2010-2012) prevalensi pneumonia cenderung menurun, namun tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 4,55 % hingga tahun 2014 kembali
dapat diturunkan menjadi 2,44 % (549 balita). Penanganan dan penemuan penderita pneumonia pada anak balita mencapai 42,52 %. Prevalensi pneumonia pada anak balita selama 2010-2014 seperti tabel berikut.
Grafik 8. Angka Prevalensi Kasus Pneumonia Balita di Kabupaten Klungkung Tahun 2010 s.d 2014
4,7 4,53 3,42 4,55 2,44 0 1 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Penanggulangan Penyakit Klk, 2014
b. Penyakit Malaria
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya penurunannya berkaitan dengan komitmen internasional dalam MDGs tahun 2015.
Angka kesakitan malaria di Kabupaten Klungkung dalam 5 tahun
terakhir berfluktuasi namun masih dibawah target Anual Parasit
Insident (API) malaria <1 per 1000 penduduk. API malaria pada tahun
2014 sebesar 0,01 per 1000 penduduk. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu sebesar 0,02 per
19 1000 penduduk. Kasus yang diketemukan terjadi di wilayah Puskesmas Nusa Penida I sebanyak 1 kasus.
Grafik 9. Angka Anual Parasit Insiden Malaria di Kabupaten Klungkung Tahun 2010 s.d 2014
1 1 1 1 1 0,01 0,01 0,02 0,01 0,05 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 2010 2011 2012 2013 2014
TARGET API (per 1000 penduduk)
Sumber : Seksi Penanggulangan Penyakit Klk, 2014
c. Penyakit Tb BTA (+)
Milenium Development Goals (MDGs) menjadikan penyakit TB paru sebagai salah satu penyakit yang menjadi target untuk diturunkan selain malaria dan HIV/AIDS. Angka Prevalensi TB di Kabupaten Klungkung kurun waktu 2010-2014 berfluktuasi namun selama 3 tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2014 angka prevalensi TB paru sebesar 56,64 per 100.000 penduduk meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 50,94 per 100.000 penduduk dan tahun 2012 sebesar 35,39 per 100.000 penduduk Hal ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 10. Prevalensi TB per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung Tahun 2010 s.d 2014
69 52,73 35 50,94 56,64 0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Penanggulangan Penyakit Klk, 2014
Angka insident kasus tuberkulosis di Kabupaten Klungkung periode 2011-2014 cenderung mengalami peningkatan seperti terlihat pada tabel berikut.
Grafik 11. Angka Insiden TB Paru per 100.000 penduduk di Kabupaten Klungkung Tahun 2011 s.d 2014
31,64 17,27 50,41 47,48 0 20 40 60 80 100 2011 2012 2013 2014
21 Semua penderita TB paru positif sebanyak 114 penderita sudah mendapat paket pengobatan TB dengan strategi DOTS, dimana angka kesembuhan penderita TB paru (BTA+) sudah mencapai 95,95% meningkat dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 86,65% sehingga sudah mencapai target 80 %.
d. Penyakit IMS dan HIV/AIDS
Upaya penanggulangan PMS, HIV/AIDS ditujukan pada penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya preventif melalui penemuan penderita dan dilanjutkan dengan konseling (VCT).
Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS pada pendonor darah dari kegiatan pemeriksaan sampel darah (screening terhadap HIV) menunjukkan bahwa di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 0,13 % sampel darah terinfeksi HIV (7 orang dari 2787 sampel darah yang diperiksa).
Jumlah kasus HIV di Kabupaten Klungkung Tahun 2014 sebanyak 33 kasus , dimana paling banyak terjangkit pada kelompok umur 20-29 tahun dan 40-49 tahun masing-masing sebesar 27,27% (9 kasus), kemudian kelompok umur 30-39 tahun sebesar 24,24 % (8 kasus) serta 9,09 % (3 kasus) terjangkit pada usia balita (1-4 tahun).
e. Penyakit Kusta
Indonesia sudah mencapai eleminasi penyakit kusta pada tahun 2000, namun demikian di Kabupaten Klungkung penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan. Angka prevalensi penderita kusta di Kabupaten Klungkung dalam kurun waktu 2011-2013 terlihat sedikit
peningkatan namun masih berada dibawah target <1/10.000 penduduk, dan sudah dapat diturunkan menjadi 0,29 per 10.000 penduduk pada tahun 2014. Jumlah penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) mencapai 100 % sudah diatas target 90%.
Grafik 12. Trend prevalensi kasus kusta per 10.000 penduduk Di Kabupaten Klungkung tahun 2009 – 2014
1,64 0,29 0,64 0,43 0,4 1,36 0 1 2 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Prevalensi Target
Sumber : Seksi Penanggulangan Penyakit, 2014
2. Penyakit menular yang dapat dicegah dengan PD3I
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat dikendalikan /diberantas dengan mengoptimalkan program imunisasi. Penyakit yang termasuk kelompok PD3I adalah Difteri, Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, dan Polio. Jumlah Kasus PD3I yang diketemukan di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 adalah kasus campak sebanyak 46 kasus, dan polio (suspec AFP) sebanyk 5 kasus.
Kasus campak paling banyak diketemukan di Kecamatan Klungkung sebanyak 25 kasus, kemudian Kecamatan Dawan sebanyak 14 kasus, dan Kecamatan Banjarangkan sebanyak 7 kasus .
23 Upaya yang dilakukan dalam penemuan kasus lumpuh layuh (AFP) adalah surveilans epidemiologi aktif terhadap kasus AFP pada kelompok umur < 15 tahun. Kasus AFP yang diketemukan pada tahun 2014 sebanyak 5 kasus (11,74 per 100.000).
3. Penyakit menular berpotensi KLB.
a. Penyakit diare
Pada tahun 2014 jumlah penemuan dan penanganan kasus diare di Kabupaten Klungkung sebanyak 4938 kasus dari 3741 target yang ditentukan atau sebesar 132,01 % sehingga sudah melebihi target. b. Angka Insiden penyakit DBD
Secara umum morbiditas DBD masih menyebar secara sporadis dibeberapa desa. Angka insiden penyakit DBD selama kurun waktu 3 tahun ( 2010 – 2012) mengalami kecendrungan adanya penurunan, namun tahun 2013 terjadi peningkatan dimana angka insiden penyakit DBD sebesar 142,63 per 100.000 penduduk dan menurun lagi menjadi 177,9 per 100.000 di tahun 2014. Angka
kematian/case fatality rate (CFR) DBD sebesar 0 %.
Masih tingginya kejadian penyakit DBD seiring dengan rendahnya angka bebas jentik yang masih dibawah target sebesar 93,89% dari target yang diharapkan sebesar 95%.
Grafik 13. Insiden demam berdarah dengue (DBD) dan angka bebas jentik (ABJ) di Kabupaten Klungkung
tahun 2009 – 2014 276,16 117,92 142,64 26,81 47,5 93,89 93,45 92,37 94,16 85,5 0 50 100 150 200 250 300 2010 2011 2012 2013 2014 IR DBD ABJ
Sumber : Seksi Penanggulangan Penyakit Klk, 2014
c. Penyakit Cikungunya
Pada tahun 2014 penyakit Cikungunya ditemukan sebanyak 75 kasus yang terjadi di Desa Kusamba sebanyak 29 kasus dan di Desa Tihingan sebanyak 46 kasus. Seluruh kasus yang diketemukan telah dilakukan penanganan sehingga tidak terdapat kematian.
d. Penyakit Rabies
Penyakit ini disebabkan virus rabies dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies antara lain anjing, kucing, kera. Tahun 2014 terdapat kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Klungkung sebanyak 3.407 kasus gigitan. Tidak terdapat penderita positif rabies sehingga CFR sebesar 0 %.
25
C. Status Gizi
Kegiatan pemantauan pertumbuhan balita di Kabupaten Klungkung dilakukan secara rutin setiap bulan di 294 posyandu dengan sistem lima meja dibantu oleh kader posyandu.
1. Pemantauan pertumbuhan balita
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan melalui
pengukuran berat badan balita baik di posyandu maupun di sarana kesehatan. Indikator yang digunakan adalah tinggi badan per umur (BB/U). Hasil pemantauan pertumbuhan balita pada tahun 2014 berdasarkan laporan SKDN menunjukkan bahwa dari 10.601 balita yang ditimbang (menurut indikator BB/U) sebanyak 0,25% balita dengan Gizi lebih, sebanyak 97,3 % balita dengan Gizi Baik, sebanyak 1,9 % balita dengan Gizi Kurang dan sebesar 0,56 % balita dengan Gizi buruk.
Dalam penentuan status gizi buruk sebagai tindaklanjutnya dipergunakan indicator BB/TB dimana berdasarkan indicator tersebut terdapat 7 orang balita gizi buruk dimana seluruh
kasus tersebut (100%) sudah di mendapatkan
penanganan/intervensi/perawatan dengan pemberian paket PMT penyuluhan dan PMT pemulihan melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah
Prevalensi BBLR di Kabupaten Klungkung tahun 2014 sebesar 3,5% (102 kasus) menurun jika dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 3,8% (112 kasus). Seluruh kasus BBLR (100%) tersebut sudah mendapat penanganan.
Grafik 14. Trend Kasus Bayi BBLR di Kabupaten Klungkung Tahun 2009-2014
3,5 2,59 2,56 3,8 4,1 3,8 0 1 2 3 4 5 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Kesga,Klk, 2014
Jika ditinjau berdasarkan wilayah kerja puskesmas, Presentase kasus BBLR tertinggi pada tahun 2014 terdapat di Puskesmas Nusa Penida III (5,9%) sedangkan jumlah kasus BBLR terendah di Puskesmas Klungkung I (2,2%).
27
Grafik 15. Prevalensi Kasus Bayi BBLR per puskesmas di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
3,2 4,7 2,2 2,8 2,4 5,6 3,7 3,1 5,9 3,5 BAN JA RAN G KAN I BAN JA RAN G KAN II KLUN G KUN G I KLUN G KUN G II DAW AN I DAW AN II N US A P EN ID A I N US A P EN ID A II N US A P EN ID A III KA BU PA TEN
Sumber : Seksi Kesga, Klk, 2014
3. Kecamatan Bebas Rawan Gizi
Hasil pengamatan melalui kegiatan SKPG (sistem kewaspadaan pangan dan Gizi) pada kecamatan menunjukkan bahwa semua (100%) kecamatan di Kabupaten Klungkung bebas rawan gizi. Walaupun demikian sistem kewaspadaan pangan dan gizi tetap dilaksanakan sebagai upaya deteksi dini terhadap kerawanan gizi di masyarakat.
SITUASI UPAYA KESEHATAN
Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah di masyarakat. Upaya kesehatan masyarakat meliputi upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan dan pengendalian penyakit menular maupun tidak menular, penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa, pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika psikotropika,zat aditif dan bahan berbahaya serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap upaya kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan perorangan. Berikut ini diuraikan upaya kesehatan yang dilakukan selama tahun 2014.
BAB
A. Pelayanan Kesehatan Dasar
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi.
Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan masyarakat Pemerintah telah memberlakukan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai 1 Januari 2014. Sedangkan bagi penduduk yang tidak mempunyai jaminan kesehatan serta terdaftar sebagai penduduk Kabupaten Klungkung diberlakukan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) yang dimulai sejak bulan Januari tahun 2010 hingga sekarang melalui program
Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Pelayanan Kesehatan
yang diberikan melalui Program JKBM mencakup pelayanan dasar di tingkat puskesmas, sampai pelayanan rujukan ke RSUD Klungkung , RSUP Sanglah maupun Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Indera. Berikut diuraikan upaya pelayanan kesehatan dasar yang telah dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan selama tahun 2014.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua fasilitas kesehatan dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan nasional, pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Bila dibandingkan dengan target angka kematian ibu di Propinsi Bali 100 per 100.000 kelahiran hidup, angka kematian ibu di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sudah berhasil ditekan hingga menjadi 68,78 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun demikian kesehatan ibu dan anak masih memerlukan perhatian karena terdapat peningkatan jika dibandingkan tahun sebelumnya dimana pada Tahun 2013 tidak terjadi kematian ibu. Untuk itu perlu upaya-upaya untuk menurunkan angka kematian ibu yang terkait dengan kehamilan, kelahiran dan nifas sehingga kematian ibu terus dapat ditekan.
a. Pelayanan antenatal (K1 dan K4).
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional kepada ibu hamil selama masa kehamilan sesuai dengan pedoman pelayanan antenatal. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan kunjungan ibu hamil K1 dan K4. Pemantauan pelayanan ANC dilakukan pada pelayanan K1 sebagai gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 sebagai gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali kunjungan
dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester keempat. Angka ini dapat dipakai untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil.
Grafik 16. Pencapaian K1 di Kabupaten Klungkung Tahun 2014 98,3 101,1 100,8 91,3 100 96,6 98 100 94,9 106,3 80 85 90 95 100 105 110 BA N JAR A NG K AN I BA N JAR A NG K AN II K LU N G K UN G I K LU N G K UN G II D A W AN I D A W AN II N U SA P EN ID A I N U SA P EN ID A II N U SA P EN ID A III K AB
Sumber : Seksi Kesga Klk, 2014
Cakupan pencapaian ANC pada tahun 2014 yaitu kunjungan baru Bumil (K1) untuk Kabupaten Klungkung sebesar 98,3 % dari 100% yang ditargetkan. Terdapat 5 (lima) puskesmas yang telah mencapai target yaitu Puskesmas Banjarangkan I, Banjarangkan II, Klungkung II, Nusa Penida I dan Nusa Penida III, sedangkan 4(empat) puskesmas yang belum mencapai target yaitu Puskesmas Klungkung I, Dawan I, Dawan II dan Nusa Penida II. Pencapaian K1 paling tinggi di Puskesmas Nusa Penida III (106,3%) dan terendah di Puskesmas Klungkung I (91,3%).
Pada tahun 2014 cakupan pencapaian K4 di Kabupaten Klungkung sebesar 93,8% yang berarti masih dibawah dari target 95%. Puskesmas yang telah mencapai target adalah Puskesmas Banjarangkan I, Banjarangkan II, Klungkung II, Dawan II dan Nusa Penida III, sedangkan puskesmas lainnya belum mencapai target.
Pencapaian K4 tertinggi di Puskesmas Banjarangkan I (98,2 %) dan terendah di Puskesmas Klungkung I (86 %). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini. Grafik 17. Pencapaian K4 di Kabupaten Klungkung
Tahun 2014 93,8 97,4 93 94,1 95 93,2 96,2 86 95,5 98,2 0 30 60 90 BA NJA RA NG KA N I BA NJA RA NG KA N II KLU NG KU NG I KLU NG KU NG II DA W AN I DA W AN II NU SA P ENID A I NU SA P ENID A II NU SA P ENID A III KA B Sumber: Seksi Kesga Klk, 2014
b. Pertolongan persalinan oleh Tenaga kesehatan profesional
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Kabupaten Klungkung pada tahun 2014 sebesar 93,9 %, telah mencapai target SPM sebesar 90%. dengan pencapaian tertinggi di Puskesmas Nusa Penida III sebesar 105,1% dan pencapaian terendah di Puskesmas Klungkung I sebesar 89,3%.
Terdapat dua puskesmas yang belum mencapai target yaitu Puskesmas Klungkung I dan Nusa Penida II. Tingginya angka persalinan oleh tenaga kesehatan profesional tidak terlepas dari optimalisasi aspek pembinaan dan promosi kesehatan, walaupun demikian masih terjadi pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun atau anggota keluarga terutama pada beberapa wilayah kepulauan di Kecamatan Nusa Penida.
Grafik 18. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
97,6 91,8 89,3 94,5 91,8 92 96,6 86 105,1 93,9 0 30 60 90 120 BA N JAR AN GK AN I BA N JAR AN GK AN II K LUN GK UN G I K LUN GK UN G II D AW AN I D AW AN II N US A PE N IDA I N US A PE N IDA II N US A PE N IDA III KA B Sumber: Seksi Kesga Klk, 2014
Upaya peningkatan cakupan persalinan yang dilakukan melalui pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu, diantaranya Kemitraan Bidan Dukun, peningkatan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan melalui program jaminan persalinan, revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA).
c. Pelayanan kesehatan ibu nifas (KF3)
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu : kunjungan nifas pertama (KF-1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari, kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada hari ke -4 sampai dengan hari ke-28 setelah persalinan, dan kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan dalam waktu hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 setelah persalinan.
Pelayanan kunjungan nifas didefinisikan sebagai kontak ibu nifas dengan tenaga kesehatan baik di dalam gedung maupun di luar
gedung fasilitas kesehatan (termasuk bidan di
desa/polindes/poskesdes) dan kunjungan rumah. Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu, 2) pemeriksaan tinggi fundus uteri, 3) pemeriksaan lochia dan pengeluaran per vaginam lainnya, 4) pemeriksaan payudara dan anjuran asi ekslusif 6 bulan, 5) pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali dan 6) pelayanan KB pasca persalinan.
Cakupan pelayanan ibu nifas pada tahun 2014 adalah 94,50 %, ini menunjukan bahwa cakupan KF 3 sudah mencapai target standar pelayanan minimal bidang kesehatan sebesar 90 %. Cakupan KF 3 tertinggi di Puskesmas Nusa Penida III (108,6 %) dan terendah di Puskesmas Nusa Penida II serta Banjarangkan II (84,0 %).
Terdapat dua puskesmas yang belum mencapai target yaitu Puskesmas Nusa Penida II dan Banjarangkan II. Cakupan pelayanan kesehatan pada ibu nifas dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik 19. Cakupan Pelayanan Ibu Nifas (KF3) di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
100,2 84 90,4 96,5 91,8 90,3 99,2 84 108,6 94,5 0 30 60 90 120 BA N JA R AN G KA N I BA N JA R AN G KA N II K LU NG KU NG I K LU NG KU N G II D AW AN I D AW AN II N U SA P EN ID A I N U SA P EN ID A II N U SA P EN ID A III KA B Sumber: Seksi kesga klk, 2014
d. Penanganan komplikasi obstetric dan neonatal
Komplikasi kebidanan adalah penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Komplikasi kebidanan antara lain ketuban pecah dini, perdarahan per vagina, hipertensi kehamilan, ancaman persalinan premature, infeksi berat dalam kehamilan, distosia dan infeksi masa nifas. Cakupan penanganan komplikasi kebidanan yang dicapai tahun 2014 sebesar 62,3 % belum memenuhi target SPM bidang kesehatan yaitu 80 %. Puskesmas dengan cakupan tertinggi di Puskesmas Banjarangkan I (99,0 %) dan terendah di Puskesmas Nusa Penida II (22,3 %).
Terdapat 2 puskesmas yang telah memenuhi target yaitu Puskesmas Banjarangkan I dan Nusa Penida III. Sementara 7 puskesmas yang belum memenuhi target adalah Banjarangkan II, Klungkung I, Klungkung II, Dawan I, Dawan II, Nusa Penida I dan Nusa Penida II. Cakupan penanganan komplikasi kebidanan tahun 2014 dapat dilihat pada grafik.
Grafik 20. Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
99 70,2 23,9 69,5 61,2 74,3 69,7 22,3 82,1 62,3 0 20 40 60 80 100 BA N JA RA NG KA N I BA N JA RA NG KA N II K LU N G K UN G I K LU N G K UN G II DA W A N I DA W A N II NU S A PE N ID A I NU S A PE N ID A II NU S A PE N ID A III KA B Sumber: Seksi Kesga Klk, 2014
Penanganan neonatus risti/komplikasi meliputi: asfiksia, tetanus neonaturum, sepsis, BBLR (BB lahir <2.500gram), sindrom gangguan pernafasan dan kelainan neonatal yang mendapat pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit.
Grafik 21. Cakupan Penanganan Komplikasi Neonatal di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
90,2 36,4 17,5 30,9 34,4 82,4 35,4 51,3 57,4 46,3 0 20 40 60 80 100 BA N JA RA N G KA N I BA N JA RA N G KA N II K LU N G K U NG I K LU NG KU N G II DA W A N I DA W A N II NU S A P EN ID A I NU S A P EN ID A II NU S A P EN ID A III KA B Sumber: Seksi Kesga Klk, 2014
Pada tahun 2014 cakupan penanganan komplikasi neonatus yang dilaporkan sebesar 46,3 %. Sementara target standar pelayanan minimum bidang kesehatan yang harus dicapai adalah 80 %, artinya pada tahun 2014 cakupan penanganan komplikasi neonatal masih belum mencapai target. Terdapat 2 Puskesmas yang telah mencapai target hanya Banjarangkan I dan Dawan II, sedangkan puskesmas lainnya masih dibawah target.
e. Kunjungan neonatal (KN3)
Neonatus atau bayi baru lahir (0-28 hari) merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir.
Terkait hal tersebut, tahun 2008 ditetapkan perubahan kebijakan dalam pelaksanaan kunjungan neonates dari semula 2 kali (satu kali pada minggu pertama dan satu kali pada 8 – 28 hari), menjadi 3 kali(dua kali pada minggu pertama). Dengan perubahan ini, jadwal kunjungan neonatus dilaksanakan pada umur 6-48 jam, umur 3-7 hari dan umur 8-28 hari. Kunjungan neonatus lengkap (KN3) sebesar 98,2 % yang berarti telah diatas target sebesar 90%. Hanya terdapat 1 puskesmas yang belum mencapai target yaitu Puskesmas Nusa Penida II (87,4%) seperti terlihat pada grafik berikut.
Grafik 23. Cakupan Kunjungan Neonatus Lengkap(KN3) di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
98,2 110,7 87,4 104,1 96,7 91,4 99,5 93,8 96,8 101,3 0 20 40 60 80 100 120 BA N JAR AN GK AN I BA NJA RA N GK AN II K LU NG KU NG I K LUN G KU NG II D AW AN I D AW AN II NU SA P EN IDA I NU S A P EN IDA II NU SA P EN IDA III KA B Sumber: Seksi Kesga Klk, 2014
f. Pelayanan Kesehatan pada Bayi
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar tenaga kesehatan minimal 4 kali dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari – 3 bulan, 1 kali pada umur 3 – 6 bulan, 1 kali pada umur 6 – 9 bulan, dan 1 kali pada umur 9 – 11 bulan.
Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar, stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan kesehatan bayi. Indikator ini merupakan penilaian terhadap upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi. Pada tahun 2014 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 99,11% yang berarti bahwa telah memenuhi target.
Grafik 24. Cakupan Kunjungan Bayi di Kabupaten Klungkung Tahun 2014 99,11 83,2 90,9 131,5 101,5 94,8 97,9 95,3 96,4 94,5 0 20 40 60 80 100 120 140 BA N JAR AN G K AN I BA N JAR AN G K AN II K LUN G KU NG I K LUN G KU NG II DA W AN I DA W AN II NU SA PE N IDA I NU SA PE N IDA II NU SA PE N IDA III KA B
Sumber : Seksi Kesga Klk, 2014
g. Pelayanan Kesehatan pada balita
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan pada anak umur 12 – 59 bulan sesuai standar meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun, pemantauan perkembangan minimal 2 kali setahun dan pemberian vitamin A sebanyak 2 kali setahun (Februari dan Agustus).
Pada tahun 2014 cakupan kesehatan anak balita di Kabupaten Klungkung sebesar 80,9 %. Masih ada beberapa puskesmas yang belum mencapai target (masih dibawah 80%) yaitu Puskesmas Klungkung I, Nusa Penida I dan Nusa Penida III.
Grafik 25. Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita di Kabupaten Klungkung Tahun 2014
80,9 54,3 91,6 59 96,9 87,8 88,4 74 95,5 102,3 0 20 40 60 80 100 120 140 BA N JAR AN GK AN I BA N JAR AN GK AN II K LUN GK UN G I K LUN GK UN G II DA W AN I DA W AN II NU SA PE NID A I NU SA PE NID A II NU SA PE NID A III KA B
Sumber : Seksi Kesga Klk, 2014
h. Pelayanan Kesehatan pada siswa SD dan setingkat
Pelayanan kesehatan pada anak sekolah diberikan melalui program
UKS, dan UKGS dalam bentuk kegiatan pemeriksaan
kesehatan/skrining yang dilaksanakan di sekolah atau rujukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pada tahun 2014 cakupan pemeriksaan kesehatan (skrining) siswa SD/MI kelas 1 sebanyak 96,92 %, Cakupan SD/MI yang diperiksa kesehatannya (UKGS) sebanyak 100 % dimana cakupan murid SD/MI yang mendapat pemeriksaan kesehatan gigi dan mendapat perawatan 41,0 %.
i. Pelayanan kesehatan usila.
Pada tahun 2014 cakupan pelayanan usila (usia 60 tahun keatas) sebesar 67,75 % sehingga belum mencapai target 70 %.
2. Pelayanan Keluarga Berencana
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta KB yang sedang menggunakan alat/metode kontrasepsi(KB aktif), cakupan peserta KB yang baru menggunakan alat/metode kontrasepsi dan jenis kontrasepsi yang digunakan
akseptor. Cakupan current user aktif bermanfaat untuk mengetahui
mutu pelayanan kesehatan, mengetahui partisipasi masyarakat dalam program Keluarga berencana (KB). Tahun 2014 cakupan pelayanan KB aktif sebesar 81,68 % sudah mencapai target diatas 70 %, sedangkan cakupan peserta KB baru sebesar 4,4 %. Proporsi KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan pada tahun 2013 dapat dilihat pada gambar berikut.
Grafik 26. Cakupan Peserta KB Aktif yang memakai Alkon di Kabupaten Klungkung tahun 2014.
Dari tabel diatas terlihat bahwa peserta KB Aktif sebagian besar menggunakan metode kontrasepsi IUD (41,7%), kemudian suntik (39,1%), Pil (7,2%), Implan (5,9%), Kondom (3,7%), MOW (2,2%) dan MOP (0,7%).
Sedangkan cakupan peserta KB baru sebesar 4,4 %, sebagian besar menggunakan metode kontrasepsi IUD (30,3%), kemudian suntik (47,3 %), Implan (12,4 %), Pil (5,5%), MOW (2,5%) Kondom (1,8 %), dan MOP (0,3%).
Grafik 27. Cakupan Peserta KB Baru yang memakai Alkon di Kabupaten Klungkung tahun 2014.
Sumber: Seksi Kesga, 2014
3. Pelayanan Imunisasi
Kegiatan imunisasi rutin meliputi pemberian imunisasi untuk bayi umur 0-1 tahun (BCG, DPT, Polio, Campak, HB), imunisasi untuk wanita subur.ibu hamil (TT) dan imunisasi pada anak sekolah dasar. Kegiatan imunisasi sudah berjalan dengan baik dengan trend cakupan kegiatan terus meningkat.
Hal ini tercermin dari pencapaian cakupan Universal Child
Immunisation (UCI) sebesar 100% seluruh desa. Suatu desa/kelurahan
telah mencapai target UCI apabila > 80% bayi di desa/kelurahan tersebut mendapat imunisasi lengkap. Disamping itu cakupan pencapaian imunisasi campak pada bayi dan persentase bayi diimunisasi dasar lengkap masing-masing sebesar 97,97 %.
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan 1. Pelayanan kesehatan rujukan di RS
Salah satu program pelayanan rujukan adalah upaya kesehatan
perorangan yang bertujuan untuk meningkatkan akses,
keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan yg aman melalui sarana kesehatan perseorangan (puskesmas, rumah sakit, fasilitas lainnya). Upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan akses pelayanan medik rujukan di daerah kepulauan (Kecamatan Nusa Penida) telah dikembangkan melalui program pengembangan Puskesmas Nusa Penida I menjadi puskesmas rujukan dokter spesialistik dan program pelayanan kesehatan jiwa bagi masyarakat Kabupaten Klungkung di Puskesmas Banjarangkan II, Nusa Penida I dan Nusa Penida II. Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan kesehatan di rumah sakit biasanya dapat dilihat berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan rumah sakit adalah pemanfaatan tempat tidur (BOR), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), rata-rata lama hari perawatan (LOS),
pasien keluar meninggal (GDR) dan pasien keluar meninggal< 48 jam perawatan (NDR).
Grafik 28. Trend Pencapaian BOR dan LOS Rumah Sakit di Kabupaten Klungkung tahun 2009-2014
50,8 53,6 43,8 48,96 53,43 66,85 3,42 3,75 3,99 4,3 4,04 4 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2009 2010 2011 2012 2013 2014 BOR LOS
Sumber: Seksi Pengumpulan dan Pengolahan Data, Klk, 2014
Dari gambar diatas sejak kurun waktu tahun 2009 hingga tahun 2012 terlihat bahwa angka BOR di rumah sakit masih dibawah angka ideal yang diharapkan (60-85%) namun pada tahun 2013 angka BOR menunjukkan pencapaian maksimal pada kurun waktu lima tahun. Pada Tahun 2014 BOR rumah sakit di Kabupaten mengalami penurunan. Banyak faktor yang mempngaruhi angka BOR suatu rumah sakit, diantaranya semakin meningkatnya jumlah rumah sakit dan tempat tidur yang tersedia sedangkan masyarakat yang mencari pelayanan tidak terlalu tinggi. Penurunan BOR di semua rumah sakit se- Kabupaten Klungkung seperti tabel berikut:
Grafik 29. Trend Pencapaian BOR Rumah Sakit di Kabupaten Klungkung tahun 2014
0 50 100
RSU Klungkung 53,9 56,7 65,51 59,34
RSAI Permata Hati 82 70,8 88,93 46,54
RSU Bintang 38 23,5 54,56 20,3
2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Pengumpulan Data, 2014
Indikator lamanya hari perawatan (LOS) selama lima tahun terakhir cenderung stabil berkisar 3-4 hari walaupun masih dibawah angka ideal (6-9 hari). Ditinjau rata-rata lama hari perawatan (LOS) di rumah sakit 4 hari dimana untuk RSU Klungkung rata-rata 4 hari, RSU Bintang 5 hari dan RS Anak dan Ibu Permata Hati rata-rata 2 hari.
2. Jaminan Kesehatan.
Sejak 1 Januari 2014 pemerintah telah memberlakukan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah yang diselenggarakan oleh Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS).
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah. Paling lambat tahun 2019 seluruh penduduk di Indonesia sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan yang dilakukan secara bertahap. Kepesertaan BPJS Kesehatan terdiri dari:
1. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) jaminan Kesehatan adalah peserta jaminan kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu sebagaimana diamanatkan UU SJSN yang iurannya dibayari pemerintah sebagai peserta program Jaminan Kesehatan. Peserta PBI adalah fakir miskin yang ditetapkan dan diatur melalui peraturan pemerintah.
2. Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan yang terdiri atas :
a. Pekerja penerima upah dan keluarganya, yaitu PNS, Anggota TNI/Polri, pejabat negara, pegawai pemerintah non pegawai negeri, pegawai swasta, dan pegawai lain yang memenuhi kriteria pekerja penerima upah.
b. Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya, yaitu pekerja mandiri dan pekerja lain yang memenuhi kriteria pekerja bukan penerima upah.
c. Bukan pekerja dan anggota keluarganya, yaitu Investor,
pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis
kemerdekaan, dan yang memenuhi kriteria bukan pekerja. Bagi penduduk yang tidak terdaftar dalan JKN pemerintah Kabupaten Klungkung bekerjasama dengan Provinsi Bali tetap memberlakukan program JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara) Cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan di Kabupaten Klungkung tahun 2014 sudah mencapai 100 % sesuai dengan tabel berikut:
Tabel 2. Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan di Kabupaten Klungkung tahun 2014
No Jenis Kepesertaan Jumlah %
1. Peserta PBI APBN 49.491 28,31
2. Peserta Bukan PBI :
a. Pekerja Penerima Upah (PPU): 23.031 13,18 b. Bukan Penerima Upah/ Mandiri 1.747 1,00
c. Bukan Pekerja (PU) : 3.643 2,08
3. Jamkesda / JKBM 96.888 55,43
JUMLAH 174.800 100
Sumber: Seksi Jaminan Kesehatan & PSM, 2014
C. Pengendalian Penyakit Menular
Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular di Kabupaten Klungkung dilaksanakan melalui pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan penemuan kasus secara dini dilanjutkan dengan penanganan secara cepat dan tepat melalui pengobatan penderita.
a. Pelaksanan surveilans epidemiologi.
Kegiatan surveilans epidemiologi menyediakan informasi
epidemiologi penyakit baik terhadap penyakit menular maupun
new emerging disease yang sangat sensitif terhadap perubahan
yang terjadi dalam memprediksi dan mendeteksi dini terhadap peningkatan penderita atau Kejadian Luar Biasa (KLB) dan epidemis penyakit. Kegiatan Surveilan epidemiologi terhadap vektor penyakit dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik berkala (Pokja Jumantik) dan pola penyebaran kasus serta perubahan iklim baik untuk vektor penularan DBD (demam berdarah dengue), vektor malaria, cikungunya dan penyakit baru (new emerging disiase). Pemantauan jentik berkala oleh petugas kesehatan maupun juru pemantau jentik (Jumantik) untuk memantau nyamuk aedes aegypti, sedangkan petugas Juru Malaria Desa (JMD) untuk mengawasi perkembangan jentik nyamuk malaria dan tempat perindukannya (lagoon). Surveylance epidemiologi juga dilakukan pada kasus rabies dan Flu burung di desa yang terjangkiti. Dalam pengendalian rabies, untuk mencegah kematian diberikan vaksin VAR terhadap kasus gigitan hewan penular yang dicurigai dapat menularkan rabies.
b. Pengendalian penyakit polio.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio telah
dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. Kegiatan ini
ditindaklanjuti dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus AFP (Acute Flaccid Paralisis) pada
kelompok umur < 15 tahun. Kegiatan ini dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya virus polio liar yang berkembang di masyarakat. Setiap kasus-kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui keberadaan virus polio liar. Tahun 2014 kasus AFP < 15 tahun 11,74 per 100.000 penduduk <15 tahun atau sebanyak 11 kasus, sedangkan tahun 2013 kasus AFP < 15 tahun berjumlah 2 kasus dengan AFP rate sebesar 4,37 per 100.000 penduduk < 15 tahun.
c. Pengendalian penyakit Demam berdarah Dengue (DBD)
Upaya pengendalian DBD terdiri dari 3 hal pokok yaitu peningkatan surveilans epidemiologi, diagnosa dini dan pengobatan dini dan pengendalian vektor penyakit DBD. Upaya tersebut dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk aedes aegypti (PSN) dan juru pemantau jentik (Jumantik). Angka bebas jentik pada tahun 2014 sebesar 93,89 % tahun 2013, meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 93,45 %, namun masih berada dibawah target SPM sebesar >95%. Semua kasus DBD telah ditangani seluruhnya sehingga Angka kematian/case fatality rate (CFR) DBD pada tahun 2014 sebesar 0%. Inciden rate kasus DBD di Kabupaten Klungkung Tahun 2014 sebesar 117,92 per 100.000 penduduk.
d. Pengendalian penyakit malaria.
Upaya pengendalian penyakit malaria dilakukan terhadap pengendalian vektor potensial malaria dengan pengawasan lagoon, penegakkan diagnosa secara cepat dan pengobatan yang tepat. Upaya penegakkan diagnosa penderita di wilayah Jawa Bali dilakukan secara aktif (active case detection) oleh juru malaria desa (JMD) dengan mendatangi keluarga yang mengeluhkan gejala
klinis. Angka kesakitan malaria (Anual Parasit Insident /API) di
Kabupaten Klungkung tahun 2014 sebesar 0,02 per 1000 penduduk dan sudah dapat dikendalikan secara signifikan walaupun mobilitas penduduk pendatang dari daerah endemis sangat tinggi. Semua kasus malaria sudah mendapat penanganan pengobatan (100%) dengan angka kematian (CFR) karena malaria sebesar 0%.
c. Pengendalian penyakit kusta.
Upaya pelayanan terhadap penderita kusta antara lain melakukan penemuan penderita melalui survei kontak, dan pemeriksaan intensif penderita yang datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan atau kontak penderita. Semua penderita yang ditemukan langsung diberikan pengobatan paket MDT yang terdiri atas Rifampicin, lampren dan DDS selama kurun waktu tertentu. Apabila ditemukan penderita kusta dalam kondisi sudah parah akan dilanjutkan dengan rehabilitasi melalui institusi pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Angka penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) sudah mencapai 100% dari target 90%.
d. Pengendalian penyakit Tuberkulosis.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit TB-Paru dilakukan
dengan pendekatan DOTS (Directly Observed Treatment
Shourtcourse Chemotherapy) melalui pengawasan menelan obat.
Kegiatan ini meliputi penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak yang dilanjutkan dengan paket pengobatan.
Grafik 30. Trend penemuan penderita TB paru, di Kabupaten Klungkung tahun 2009 s.d 2014
92,50 101,00 78,99 70,28 77,78 57,63 0 20 40 60 80 100 120 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : Seksi Pengendalian Penyakit Klk, 2014
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Case Detection Rate (CDR) TB paru positif cenderung berfluktuatif mulai tahun 2009 hingga tahun 2012. Namun kencendrungan penemuan kasus selama kurun tiga tahun mengalami peningkatan mulai Tahun 2012 hingga Tahun 2013 dan sudah mencapai target sebesar 70% kecuali tahun 2012 masih dibawah target.
Semua penderita TB paru positif sebanyak 114 penderita (100%) sudah mendapatkan paket pengobatan TB dengan strategi DOTS dengan ditunjukan angka keberhasilan pengobatan (sucsess rate sebesar 104,05%). Angka kesembuhan penderita TB paru sebesar 95,95 % sudah mencapai target 80%.
e. Pengendalian penyakit ISPA dan Diare.
Pengendalian penyakit ISPA lebih difokuskan pada penanganan dini dan tatalaksana kasus secara cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia balita yang ditemukan. Upaya ini dikembangkan melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan bila peralatan tidak memenuhi standar dilakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi. Pada Tahun 2014 angka penemuan pneumonia pada balita 42,52 per 1000 hampir sama dengan angka penemuan pneumonia pada balita tahun 2013 sebesar 45,50 per 1000 balita. Kegiatan penanggulangan dan pengobatan penderita diare tahun 2013 di 9 puskesmas ditemukan sebanyak 4938 penderita yang menyebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klungkung, yang mendapat penanganan sebanyak 132,01%.
f. Penanggulangan PMS dan HIV/AIDS.
Upaya penanggulangan PMS, HIV/AIDS ditujukan pada penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya preventif melalui penemuan penderita yang dilanjutkan dengan konseling (VCT).