Tabel 1. Penelitian Terdahulu. No. Nama dan Judul Hasil Penelitian Relevansi

21  218  Download (0)

Full text

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI 2.1. Penelitian Terdahulu

Untuk Mendukung penelitian yang dikaji, maka penulis mengambil beberapa referensi yang berasal dari skripsi dan jurnal, diantaranya akan disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Tabel 1. Penelitian Terdahulu

No. Nama dan Judul Hasil Penelitian Relevansi 1 Fithri Muta‟afi (2015) Kontruksi Sosial Masyarakat Terhadap Penderita Kusta ,Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya

konstruksi sosial masyarakat Desa Dalpenang terhadap penderita kusta dapatkan oleh beberapa hal, terkait informasi baru yang mereka dapatkan dari sosialisasi dan berbagai media sosial, pedoman hidup yang mengacu pada sebuah hadist tertentu dan masyarakat yang mengalami. Dimana pada awalnya memiliki pengetahuan awal yang dimiliki bersama atau disebut sebagai realitas ekternalisasi, bahwa penyakit kusta merupakan suatu penyakit kutukan dimana penderita ataupun keluarganya dianggap telah melakukan dosa besar karena melanggar aturan adat yang berlaku. dalam proses tahapan objektivasi, masyarakat tersebut memunculkan pandangan sosial yang baru yang berbeda terhadap penderita kusta. namun dari pada itu masih ada masyarakat yang mengkonstruksi penderita kusta sama seperti konstruksi awal mereka yaitu

Persamaan: metode penelitian dan cara pengabilan data sama –sama mengunakan metode kualitatif dan dalam pengambilan data mengunakan tri anggulasi data.

Perbedaan:

dari Jurnal ini juga mengkaji tentang bagaimana kontruksi sosial masyakat terhadap penyakit yang di alami oleh masyarakat Desa Dalpenang.

(2)

bahwa konstruksi masyarakat penderita kusta adalah seorang yang terkena kutukan, dari situlah ditemukan tiga pandangan lain yang berbeda dan kemudian di konstruksi antara lain, penderita kusta sebagai penderita penyakit keturunan, penderita kusta sebagai penderita penyakit menular berbahaya dan penderita sebagai penderita penyakit menular pada umumnya yang dapat disembuhkan. 2 Moh.Akbar Firdaus,(2017) Kontruksi Sosial Budaya Mengenai Haji Pada Masyarakat Madura Di Kelurahan Sidotopo Kecamatan Semampir Kota Surabaya

Secara umum sosok haji di konstruksikan oleh masyarakat Madura yang tinggal di Kota Surabaya sebagai sosok orang yang berpenampilan rapi dengan menggunakan sarung dan baju koko. Penampinal itu menjadi gambaran dari sosok orang yang setalah berangkat haji. Masyarakat sendiri memandang sosok haji adalah yang tahu dan faham akan hal agama,meskipun demikian anggapan tersebut tidak selalu benar, juga tidak sepenuhnya salah. Kebanyakan orang orang yang sudah berangkat haji merupakan orang yang mampu secara ekonomi dan tokoh masyarakat,tapi juga tidak semua orang yang berangkat haji tidak semua mendapatkan tempat di masyarakat. Konstruksi seperti itulah menjadi masyarakat sidotopo kota Surabaya.

relevansi jurnal ini antara peneliti tersebut dengan penelitian saya adalah persamaan: sama-sama akan mengkaji tentang konstruksi sosial masyarakat. Perbedaan: menggunakan metode study kasus dimana peneliti ikut andil atau ituk merasakan realitas sosial di masyarat tersebut. 3. Ismi Andari,(2018) Analisis Perubahan Orientasi Mata Pencaharian dan Nilai Sosial Masyarakat Pasca Alih Fungsi Lahan Persawahan Menjadi

Proses perubahan mata pencaharian di Desa Tanjung Selamat dibagi atas

tiga tahapan yakni: 1. Naiknya harga lahan yang di tawarkan oleh para petani sehinggah petani menjual lahannya dan berganti untuk tidak menjadi seorang petani

Relevansi dari jurnal penelitian ini dengan penelitian saya adalah Persamaan:

faktor-faktor

penyebab masyarakat lokal (setempat) mau menjulan lahan

(3)

Lahan Industri (Studi Pada Desa Tanjung Selamat Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli serdang). Fajultas ilmu sosial dan ilmu politik, Sumatra utara ,medan

padi.

2. harga padi yang yang fluktustif (tidak stabi) tidak pasti , sementara perawatan sawah atau lahan pertanian

yang membutuhkan biaya tinggi, sebagai para petani padi tidak bisa mendapatkan pendapatan yang maksimal.

3. tawaran bekerja dipabrik dengan gaji yang menjanjikan serta bisa diperoleh dalam waktu yang cepat yakni mingguan. Sehinggah ]para petani padi memilih utuk menjual lahan dan bekerja di pabrik.

Selanjutnya Ada dua penyebab perubahan mata pencaharian di Desa Tanjung Selamat yakni internal dan ekstrenal. penyebab internal adalah adanya keinginan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi agar bisa memenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah lagi kebutuhan biaya anak yang semakin tahun semakin mahal di dalam dunia pendidikan .

Sedangkan penyebab eksternal adalah kondisi lahan yang sudah banyak berganti dari sawah menjadi sebuah pabrik menjadi dasar utama, di tambah lagi ketika melihat tetangga yang bekerja di pakrik memperoleh gaji yang bisa di bilang menjanjikan, dari situ lah warga tertarik.

3. Perubahan nilai sosial yang terjadi di Desa Tanjung Selamat adalah pola pikir yang mulai mengarah kepada pemenuhan kebutuhan anak sekolah. Bergantinya nilai pendidikan yang di lakukan oleh masyarakat memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang dunia pendidikan anak setelah peralihan

pertanianya, untuk dijadikan lahan pertanian dan jurnal di samping juga menjelaskan bahwa tidak serta merta masyarakat menjualn lahan atas dasar individu mereka, namun juga ada ekternal juga memperngaruhi

penjulan tersebut yang berdampak peralihan lahan menjadi industry. Sama halnya yang ada di desa Gajah Kecamatan Deket Kabupaten Lamongan.

Perbedaan :

Menggunakan metode study kasus dan melihat realitas dengan sudut pandang gaya hidup dan nilai” berubah.

(4)

lahan sawah ke lahan industri membawa dampak baik bagi masyarakat.

4. Dr. Sakaria, M.Si,(2015)

Konstruksi Sosial Terhadap Waria Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Hasanuddin.

Dalam penelitian ini mengungkapkan waria ditolak untuk bisa mendaftakan diri sebagai pegawai negeri, karyawan di kantor kantor swasta, atau berbagai profesi lainnya, di tambah lagi seorang waria juga mengalami kesulitan dalam mengurus KTP.

Keadaan lain juga

menggambarkan penampilan yang di pandang sebelah mata seperti banci atau waria di dunia hiburan saat ini menjadi gaya baru di masa sekarang dan banyak minati oleh penonton Televisi , maka dari itu dijadikan sebagai salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan. Penampilan seperti banci yang cukup lucu dan menghibur malah diikuti atau di tiruoleh masyarakat di dalam keseharianya , dari situ jumlah waria bisa bertambah . namun begitu, pemahaman akan hal waria sebagai suatu kelompok yang berperilaku menyimpang tetap melekat pada masyarakat pada umumnya.

Teori lain yang dapat menjelaskannya adalah interaksionis simbolik. Prinsip dasarinteriaksionissimbolik dalam ritzer (2012) yaitu (1) manusia, tidak seperti hewan-hewan yang lebih rendah,diberkahi dengan kemampuan berpikir. (2)

Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian saya adalah Persamaan:

sama-sama berfokus mengenai konstruksi social, dimana realitas masyarat akal hal baru yang dilihat dan di fahami setaiap hari, kemudian melahirkan pandangan pandangan baru terhadap relitas yang ada.

Perbedaan :

Teory menggunakan interaksionis simbolik (litzer)

(5)

kemampuan untuk berpikir dibentuk oleh interaksi social. (3) dalam interaksi sosial orang yang mempelajari makna dan simbol-simbol yang memungkin kanmereka melaksanakan kemampuan manusia yang khas untuk berpikir. (4) makna-makna dan simbolsimbol memungkinkan orang melaksanakan tindakan dan interaksi manusia yang khas. (5) orang mampu memodifkasi atau mengubah makna-makna dan simbol-simbol yang mereka gunakandi dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka atas situasi.

5. Risdawati Ahmad, Nila Irchamnia, Okta pujiana. (2018) (2018) Konstruksi Sosial Dalam Keluarga Pengemis Di Kecamatan Sukun Kota Malang Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik , Universitas Negeri Malang.

Pada penelitian ini dimana ketika mencipkatan sesuatu yang terkontruksi di keluarga pengemis. Dalam proses ekternalisasi diamana narasumber mengkondisikan diri di lingkungan mereka ( lingkungan pengemis ) proses ini di lakukan secara alami karena sudah menjadi kebiasaan habit di keseharian saat berkomunikasi bahkan dengan para pengemis.

Kemudian proses objektivasi sendiri terbentuk saat indentitas baru yang di peroleh dari lingkungan tersebut, ( pengemis) . Yang terakhir yaitu proses penanaman nilai- nilai yang di dapatkan dalam keseharian mereka kemudia di terapkan hasil dari proses ekternalisasi, objektivasi yang biasa di sebut dengan internasisasi.

Persamaan antara jurnal ini dengan penelitian saya adalah mengunakan teory Peter L Belger dan mnegunakan

pendekatan. Studi life

history ini mencoba

mengungkap secara lengkap biografi subjek dengan tahapan

dan proses

kehidupannya. Perbedaan :

Objek jurnal penelitian ini melihat dari sudut pandang pekerjaan yang dilakukan oleh keluarga pengemis.

(6)

2.2. Kajian Pustaka

2.2.1 Konstruksi Sosial

Suatu proses pemaknaan yang dilakukan oleh setiap individu terhadap lingkungan dan aspek diluar dirinya yang terdiri dari proses eksternalisasi, internalisasi dan obyektivasi. Eksternalisasi adalah penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, obyektivasi adalah interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi, dan internalisasi adalah individu mengidentifikasi diri ditengah lembaga-lembaga sosial dimana individu tersebut menjadi anggotanya.

Istilah konstruksi sosial atas realitas (sosial construction of reality) dapat didefinisikan suatu proses tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. (Poloma, 2004:301).

Asal usul konstruksi sosial dari filsafat Kontruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut Von Glasersfeld, pengertian konstruktif kognitif muncul dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun apabila didalami lebih jauh, sebenarnya kata-kata Konstruktivisme peekenalkan oleh Giambatissta Vico, seorang epistemologi dari Italia, ia adalah cikal bakal Konstruktivisme (Suparno, 1997:24).

(7)

Filsuf yunani yang bernama Aristoteles yang telah memperkenalkan ucapannya „Cogito ergo sum’ yang berarti “saya berfikir karena itu saya ada”. cuitan Aristoteles yang terkenal ini menjadi landasan yang kuat bagi perkembangan gagasan-gagasan konstruktivisme sampai saat ini. Vico dalam ‘De Antiquissima Italorum Sapientia’, pengucapkan filsafatnya dengan berkata „Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan‟. (Suparno, 1997:24).

2.2.2 perubahan Lahan Pertanian ke Industri

Perubahan lahan pertanian menjadi kondisi yang kerap kali di jumpai pada masa-masa ini. meningkatnya taraf hidup dan terbukanya kesempatan untuk menciptakan peluang kerja membuat hal itu terjadi ditambah lagi dengan banyaknya investor asing ataupun investor dalam melakukan pembangunan, sehinggah membuat peningkatan pula dalam kebutuhan akan lahan pertanian tersebut.

Peralihan fungsi lahan pertanian ke industri juga merupakan suatu keadaan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah karena sifat ketergatungan masyarakat desa terhadap sektor pertanian menjadi foktor utama dalam keadaan ini.. Menurut Kustiawan (1997) alih fungsi atau perubahan lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. perubahan lahan umumnya terjadi di wilayah sekitar perkotaan dan dimaksudkan untuk mendukung perkembangan sektor industri dan jasa namun karena wilayah perkotaan semakin padat membuat perubahan lahan pertanian bergeset ke wilayah- wilayah pedesaan.

(8)

2.2.5. Lahan Industri

Pengertian Lahan Industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yangdikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri Bandung, Fokusmedia: 2014), h. 3.

Kawasan Industri dalam definisi tersebut merupakan tempat berlangsungnya kegiatan industri yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri.

Menurut National Industrial Zoning Committee‟s (USA) 1967 , yang dimaksud dengan kawasan industri atau Industrial Estate atau sering disebut dengan Industrial Park adalah suatu kawasan industri di atas tanah yang cukup luas, yang secara administratif dikontrol oleh seseorang atau sebuah lembaga yang cocok untuk kegiatan industri, karena lokasinya, topografinya, zoning yang tepat, ketersediaan semua infrastrukturnya (utilitas), dan kemudahan aksesibilitas transportasi. Menurut Industrial Development Handbook dari ULI ( The Urban Land Institute), Washington DC (1975) ,

Lahan industri adalah suatu daerah atau lahan yang biasanya didominasi oleh aktivitas industri. Kawasan industri biasanya mempunyai fasilitas kombinasi yang terdiri atas peralatan- peralatan pabrik (industrial plants), penelitian dan laboratorium untuk pengembangan, bangunan perkantoran, bank, serta prasarana lainnya seperti fasilitas sosial dan umum yang mencakup perkantoran, perumahan, sekolah, tempat ibadah, ruang terbuka dan lainnya. Istilah kawasan industri di Indonesia masih relatif baru. Istilah tersebut

(9)

digunakan untuk mengungkapkan suatu pengertian tempat pemusatan kelompok perusahaan industri dalam suatu areal tersendiri. Kawasan industri dimaksudkan sebagai padanan atas industrial estates. Sebelumnya, pengelompokan industri demikian disebut ― lingkungan industri‖.

Menurut Marsudi Djojodipuro , kawasan industri (industrial estate) merupakan sebidang tanah seluas beberapa ratus hektar yang telah dibagi dalam kavling dengan luas yang berbeda sesuai dengan keinginan yang diharapkan pengusaha. Daerah tersebut minimal dilengkapi dengan jalan antar kavling, saluran pembuangan limbah dan gardu listrik yang cukup besar untuk menampung kebutuhan pengusaha yang diharapkan akan berlokasi di tempat tersebut.( Lanta Kautsar Akromi,2019)

2.2.6. Tujuan Pembangunan Lahan Industri

Tujuan pembangunan kawasan industri secara tegas dapat disimak di dalam Keppers Nomor 41 Tahun 1996 tentang kawasan industri pada pasal 2 yang menyatakan pembangunan kawasn industri bertujuan untuk:

a. Mempercepat pertumbuhan industri di daerah b. Memberikan kemudahan bagi kegiatan industri

c. Mendorong kegiatan industri untuk berlokasi di kawasan industri

d. Meningkatkan upaya pembangunan industri yang berwawasan lingkungan Sedangkan, menurut Tim Koordinasi Kawasan Industri Departemen Perindustrian RI, tujuan utama pembangunan dan pengusahaan kawasan industri

(10)

(industrial estate) adalah untuk memberikan kemudahan bagi para investor sektor industri untuk memperoleh lahan industri dalam melakukan pembangunan industri. Pembangunan kawasan industri dimaksudkan sebagai sarana upaya pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang lebih baik melalui penyediaan lokasi industri yang telah siap pakai yang didukung oleh fasilitas dan prasarana yang lengkap dan berorientasi pada kemudahan untuk mengatasi masalah pengelolaan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah industri.( Tujuan Pembangunan Lahan Industri,2019)

2.2.7. Dampak Lahan Industri

Industri, termasuk agroindustri, merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan penting dalam pembangunan suatu wilayah dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pembangunan ekonomi antara lain melalui industri di suatu Negara dalam periode jangka panjang akan membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi negara tersebut maupun masyarakatnya, yaitu perubahan dari ekonomi tradisional yang dititik beratkan pada sektor pertanian ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor industri.( Dampak Industri PT.Global ,2007)

Proses industrialisasi juga adalah suatu proses rekayasa sosial yang memungkinkan suatu masyarakat siap menghadapi transformasi di berbagai bidang kehidupan untuk mampu meningkatkan harkat dan martabat kehidupannya sebagai mahkluk sosial di tengah perubahan dan tantangantantangan yang selalu muncul silih berganti.(Jakarta: Erlangga, 2002)

(11)

Industrialisasi dalam arti luas juga dapat kita pahami sebagai suatu proses yang tak terelakan‖ menuju masyarakat industrial untuk mengakrualisasikan segala potensi yang dimiliki suatu masyarakat dalam upayanya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dari waktu kewaktu. Jadi, industrialisasi bukan sekedar membangun wujud fisik semata, melainkan juga membentuk masyarakat untuk siap menghadapi realitas baru serta mengembangkan seperangkat infrastruktur yang menopang kehidupan industrial yang semakin pelik dan multidimensional.

Dampak ekonomi yang dibawakan oleh lokasi industri di suatu tempat terungkap antara lain dalam bentuk peningkatan produksi, pendapatan dan pengurangan pengangguran. Pengaruh langsung dampak ini pada umumnya dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi industri tersebut untuk kemudian meluas ke daerah dan bahkan mungkin ke tingkat nasional.( Marsudi Djojodipuro,1992)

Di sisi lain, sering kali kita mendengar pendapat bahwa industri itu sendiri mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin (Leading Sector). Dalam konteks ini peranan sentral sektor pemimpin dalam kaitannya dengan keberhasilan sebuah pembangunan adalah dengan adanya pembangunan industri, maka diharapkan akan dapat memacu dan mendorong pembangunan sektor-sektor lainnya, misalkan saja sektor-sektor pertanian dan sektor-sektor jasa.

Pertumbuhan industri yang cukup pesat akan merangsang pertumbuhan sektor pertanian guna menyediakan bahan-bahan baku bagi kegiatan industri. Sektor jasa pun turut berkembang dengan adanya industrialisasi tersebut,

(12)

misalnya berdirinya lembaga-lembaga keuangan, lembaga-lembaga pemasaran atau periklanan, dan sebagainya, yang kesemuanya itu nanti akan mendukung lajunya pertumbuhan industri. Keadaan tersebut akan mendorong adanya perluasan peluang kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan permintaan masyarakat (daya beli). Adanya peningkatan pendapatan dan daya beli (permintaan) tersebut menunjukan bahwa perekonomian itu tumbuh dan sehat.

Adapun dampak positif atau keuntungan yang dapat diambil dengan adanya pembangunan industri antara lain(pembangunan,2019):

a. Menambah penghasilan penduduk, yang akan meningkatkan kemakmuran. b. Menghasilkan aneka barang yang diperlukan masyarakat banyak.

c. Memperbesar kegunaan bahan mentah. Jadi semakin banyak bahan mentah yang diolah dalam perindustrian sendiri, semakin besar pula manfaat yang diperoleh.

d. Memperluas lapangan pekerjaan bagi penduduk.

e. Mengurangi ketergantungan Indonesia pada pihak luar negeri. f. Industri perkebunan dapat memberi hasil tambahan bagi para petani. g. Merangsang masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan industri.

h. Memperluas kegiatan ekonomi manusia, sehingga tidak semta-semata tergantung pada lingkungan alam.

(13)

a. Lahan pertanian menjadi semakin berkurang jumlahnya.

b. Tanah permukaan (top soil) yang merupakan bagian yang subur menjadi hilang.

c. Cara hidup masyarakat berubah. d. Lingkungan tercemar.

2.3. LANDASAN TEORI

2.3.1. Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luchmann

Dua istilah dalam sosiologi pengetahuan Berger adalah kenyataan dan pengetahuan. Berger dan Luckmann mulai menjelaskan realitas sosial dengan memisahkan pemahaman kenyataan dan pengetahuan. Realitas diartikan sebagai suatu kualitas yang terdapat didalam realitas-realitas yang diakui sebagai memiliki keberadaan (Being) yang tidak tergantung pada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata dan memiliki karakteristik yang spesifik. Jakarta: LP3ES,1190)

Menurut Berger dan Luckmann, terdapat dua obyek pokok realitas yang berkenaan dengan pengetahuan, yakni realitas subyektif da n realitas obyektif. Realitas subyektif berupa pengetahuan individu. Disamping itu, realitas subyektif merupakan konstruksi definisi realitas yang dimiliki individu dan dikonstruksi melalui peoses intrnalisasi. Realitas subyektif yang dimilik masing-masing individu merupakan basis untuk melibatkan diri dalam proses eksternalisasi, atau proses interaksi sosial dengan individu lain

(14)

dalam sebuah struktur sosial. Melalui proses eksternalisasi itulah individu secara kolektif berkemampuan melakukan obyektivikasi dan memunculkan sebuah konstruksi realitas obyektif yang baru.( Margaret M. Polomo,2001).

Sedangkan realitas obyektif dimaknai sebagai fakta sosial. Disamping itu realitas obyektif merupkan suatu kompleksitas definisi realitas serta rutinitas tindakan dan tingkah laku yang telah ma pan terpola, yang kesemuanya dihayati oleh individu secara umum sebagai fakta. Berger dan Luckmann mengatakan institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. meskipun institusi sosial dan masyarakat terlihat nyata secara obyektif, namun pada kenyataan semuanya dibangun dalam definisi subjektif melalui proses interaksi. Obyektivitas baru bisa terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang lain yang memiliki definisi subyektif yang sama.

Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolis yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupan. Pendek kata, Berger dan Luckmann mengatakan terjadi dialektika antara individu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.( Burhan Bungin ,2008)

Teori konstruksi sosial dalam gagasan Berger mengandaikan bahwa agama sebagai bagian dari kebudayaan, merupakan konstruksi manusia. artinya terdapat proses dialektika ketika melihat hubungan masyarakat

(15)

dengan agama, bahwa agama merupakan entitas yang objektif karena berada diluar diri manusia. dengan demikian agama, agama mengalami proses objektivasi, seperti ketika agama berada didalam teks atau menjadi tata nilai, norma, aturan dan sebagainya. Teks atau norma tersebut kemudian mengalami proses internalisasi kedalam diri individu , sebab agama telah diinterpretasikan oleh masyarakat untuk menjadi pedomannya. Agama juga mengalami proses eksternalisasi karena ia menjadi acuan norma dan tata nilai yang berfungsi menuntun dan mengontrol tindakan masyarakat.( Peter L. Berger & Thomas Lukhman,hal 33-36) Ketika msyarakat dipandang sebagai sebuah kenyataan ganda, objektif dan subjektif maka ia berproses melalui tiga momen dialektis, yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Dengan demikian, bisa dipahami bahwa realitas sosial merupakan hasil dari sebuah konstruksi sosial karena diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Masyarakat yang hidup dalam konteks sosial tertentu, melakukan proses interaksi secara simultan dengan lingkungannya. Dengan proses interaksi, masyarakat memiliki dimensi kenyataan sosial ganda yang bisa saling membangun, namun sebaliknya juga bisa saling meruntuhkan. Masyarakat hidup dalam dimensi-dimensi dan realitas objektif yang dikonstruksi melalui momen eksternalisasi dan objektivasi, dan dimensi subjektif yang dibangun melalui momen internalisasi.

Momen eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi tersebut akan selalu berprosessecara dialektis. Proses dialektika ketiga momen tersebut, dalam konteks ini dapat dipahami sebagai berikut:

(16)

2.3.1.1. Proses Sosial Momen Eksternalisasi

Proses eksternalisasi merupakan salah satu dari tiga momen atau triad dialektika dalam kajian sosiologi pengetahuan. Proses ini diartiakan sebagai suatu proses pencurahan kedirian mamusia secara terus menerus kedalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya. Atau dapat dikatakan penerapan dari hasil proses internalisasi yang selama ini dilakukan atau yang akan dilakukan secara terus menerus kedalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya. Termasuk penyesuaian diri dengan produk-produk sosial yang telah dikenalkan kepadanya. Karena pada dasarnya sejak lahir individu akan mengenal dan berinteraksi dengan produk-produk sosial. Sedangkan produk sosial itu sendiri adalah segala sesuatu yang merupakan hasil sosialisasi dan interaksi didalam masyarakat.

2.3.1.1.1. Proses Eksternalisasi adalah suatu keharusan antropologis.

Sehingga tatanan sosial merupakan sesuatu yang telah ada mendahului setiap perkembangan organism individu. Tatanan sosial yang terjadi secara terus-menerus dan selalu diulang ini merupakan pola dari kegiatan yang bisa mengalami proses pembiasaan (habitualisasi). Tindakan-tindakan yang dijadikan pembiasaan ini tetap mempertahankan sifatnya yang bermakna bagi individu dan diterima begitu saja. Pembisaan ini membawa keuntungan psikologis karena pilihan menjadi dipersempit dan tidak perlu lagi setiap situasi didefinisikan kembali langkah demi langkah.

Dengan demikian akan membebaskan akumulasi ketegangan-ketegangan yang diakibatkan oleh dorongan-dorongan yang tidak terarah. Proses

(17)

pembiasaan ini mendahului setiap pelembagaan. Manusia menurut pengetahuan empiris kita, tidak bisa dibayangkan terpisah dari pencurahan dirinya terus menerus kedalam dunia yang ditempatinya.( Peter L. Berger,hal 4-5).

Manusia merupakan sosok makhluk hidup yang senantiasa berdialektika dengan lingkungan sosialnya secara simultan. Eksternalisasi merupakan momen dimana seseorang melakukan adaptasi diri terhadap lingkungan sosialnya. Dunia sosial, kendati merupakan hasil dari aktivitas manusia, namun ia menghadapkan dirinya sebagai sesuatu yang bersifat eksternal bagi manusia, sesuatu yang berada diluar diri manusia.

Realitas dunia sosial yang mengejawantah, merupakan pengalaman hidup yang bisa dijadikan sebagai dasar seseorang untuk membentuk pengetahuan atau mengkonstruksi sesuatu. Realitas sosial, juga mengharuskan seseorang untuk memberikan responnya. Respon seseorang terhadap pranata-pranata sosial yang ada, bisa berupa penerimaan, penyesuaian maupun penolakan. Bahasa dan tindakan merupakan sarana bagi seseorang untuk mengkonstruksi dunia sosio-kulturalnya melalui momen eksternalisasi ini. secara sederhana momen eksternalisasi dapat dipahami sebagai proses visualisasi atau verbalisasi pikiran dari dimensi batiniah ke dimensi lahiriah. Eksternalisasi merupakan proses pengeluaran gagasan dari dunia ide ke dunia nyata.

Dalam momen eksternalisasi, realitas sosial ditarik keluar individu. Didalam momen ini, realitas sosial berupa proses adaptasi dengan teksteks

(18)

suci,kesepakatan ulama, hukum, norma, nilai dan sebagainya yang hal itu berada diluar diri manusia. sehingga dalam proses konstruksi sosial melibatkan momen adaptasi diri atau diadaptasikan antara teks tersebut dengan dunia sosio-kultural. Adaptasi tersebut dapat melalui bahasa, tindakan dan pentradisian yang dalam khazanah ilmu sosial disebut interpretasi atas teks atau dogma. Karena adaptasi merupakan proses penyesuaian berdasar atas penafsiran, maka sangat dimungkinkan terjadinya variasi-variasi adaptasi dan hasil adaptasi atau tindakan pada masing-masing individu.

2.3.1.2. Proses Sosisial Momen Objektivasi

Obyektivasi ialah proses mengkristalkan kedalam pikiran tentang suatu obyek, atau segala bentuk eksternalisasi yang telah dilakukan dilihat kembali pada kenyataan di lingkungan secara obyektif. Jadi dalam hal ini bisa terjadi pemaknaan baru ataupun pemaknaan tambahan.

Proses objektivasi merupakan momen interaksi antara dua realitas yang terpisahkan satu sama lain, manusia disatu sisi dan realitas sosio kultural disisi lain. kedua entitas yang seolah terpisah ini kemudian membentuk jaringan interaksi intersubyektif. Momen ini merupakan hasil dari kenyataan eksternalisasi yang kemudian mengejawantah sebagai suatu kenyataan objektif yang sui generis, unik. Pada momen ini juga ada proses pembedaan antara dua realitas sosial, yaitu realitas diri individu dan realitas sosial lain yang berada diluarnya, sehingga realitas sosial itu menjadi sesuatu yang objektif. Dalam proses konstruksi sosial, proses ini disebut sebagai interaksi sosial melalui pelembagaan dan legitimasi. Dalam pelembagaan dan legitimasi

(19)

tersebut, agen bertugas menarik dunia subyektifitasnya menjadi dunia obyektif melalui interaksi sosial yang dibangun secara bersama. Pelembagaan akan terjadi manakala terjadi kesepahaman intersubjektif atau hubungan subjek-subjek.( Nur Syam,2005).

Selain itu, obyektivitas dunia kelembagaan adalah obyektivasi yang dibuat dan dibangun oleh manusia. proses dimana produk-produk aktivitas manusia yang di eksternalisasikan itu memperoleh sifat obyektive adalah obyektivitas. Dunia kelembagaan merupakan aktivitas manusia yang diobjektivasikan dan begitu pula halnya dengan setiap lembaganya

(

Thomas Lukhmann,hal 87)

Masyarakat adalah produk dari manusia. Berakar dalam fenomena eksternalisasi yang pada gilirannya didasarkan pada konstruksi biologis manusia itu. Transformasi produk-produk ini kedalam suatu dunia tidak saja berasal dari manusia, tetapi yang kemudian menghadapi manusia sebagai suatu faktasitas diluar dirinya, adalah diletakkan dalam konsep obyektivitas. Dunia yang diproduksi manusia yang berada diluar sana memiliki sifat realitas yang obyektif. Dan dapat juga dikatakan bahwa masyarakat merupakan aktivitas manusia yang diobyektivasikan.Didalam konstruksi sosial momen ini terdapat realitas sosial pembeda dari realitas lainnya. objektivasi ini terjadi karena adanya proses eksternalisasi. Ketika dalam proses eksternalisasi semua cirri-ciri dan simbol dikenal oleh masyarakat umum.

(20)

Internalisasi adalah individu-individu sebagai kenyataan subyektif menafsirkan realitas obyektif. Atau peresapan kembali realitas oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia obyektif kedalam struktur-struktur dunia subyektif. Pada momen ini, individu akan menyerap segala hal yang bersifat obyektif dan kemudian akan direalisasikan secara subyektif. Internalisasi ini berlangsung seumur hidup seorang individu dengan melakukan sosialisasi. Pada proses internalisasi, setiap indvidu berbeda-beda dalam dimensi penyerapan. Ada yang lebih menyerap aspek ekstern, ada juga juga yang lebih menyerap bagian intern. Selain itu, selain itu proses internalisasi dapat diperoleh individu melalui proses sosialisasi primer dan sekunder.

Soaialisasi Primer merupakan sosialisasi awal yang dialami individu masa kecil, disaat ia diperkenalkan denga n dunia sosial pada individu. Sosialisasi sekunder dialami individu pada usia dewasa dan memasuki dunia publik, dunia pekerjaan dalam lingkungan yang lebih luas. Sosialisasi primer biasanya sosialisasi yang paling penting bagi individu, dan bahwa semua struktur dasar dari proses sosialisasi sekunder harus mempunyai kemiripan dengan struktur dasar sosialisasi primer. Dalam proses sosialisasi, terdapat adanya significant others dan juga generalized others. Significant others begitu significant perannya dalam mentransformasi pengetahuan dan kenyataan obyektif padaindividu. Orang-orang yang berpengaruh bagi individu merupakan agen utama untuk mempertahankan kenyataan subyektifnya. Orang-orang yang berpengaruh itu menduduki tempat yang

(21)

sentral dalam mempertahankan kenyataaan. Selain itu proses internalisasi yang disampaikan Berger juga menyatakan identifikasi. Internalisasi berlangsung dengan berlangsungnya identifikasi.

Tabel 1: Komponen Konstruksi Sosial

Komponen Keterangan

Eksternalisasi suatu pencurahan kedirian manusia secara terus-menerus ke dalam dunia, baik dalam aktifitas fisik maupun mentalnya. Tahapan ini adalah tahapan di mana masyarakat menanggapi akan adanya industri dan proses dimana masyarakat menjual lahan pertanian.

Objektivasi Disandangnya produk-produk aktifitas itu (baik fisik maupun mental), suatu realitas yang berhadapan dengan para produsernya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan (industri) dan lain dari para produsen itu sendiri. Tahapan ini adalah tahapan dimana masyarakat dihadapkan dengan kawasan industri,yang semulanya adalah lahan pertanian.

Internalisasi penerapan kembali realitas tersebut dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif.Tahapan dimana masyarakat sudah menerima dampak baik maupun buruk atas adanya industri disekitar mereka.

Figure

Tabel 1. Penelitian Terdahulu

Tabel 1.

Penelitian Terdahulu p.1
Tabel 1: Komponen Konstruksi Sosial

Tabel 1:

Komponen Konstruksi Sosial p.21

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in