• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN NATAH DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN NATAH DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN NATAH

DI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI

Oleh:

I Made Suarya

Dosen Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur Universitas Udayana Email: [email protected]

ABSTRAK

Sepintas kelihatan bahwa natah sama dengan halaman rumah. Tetapi kalau ditelusuri lebih jauh natah memiliki konsep yang unik, yang sangat berbeda dengan halaman rumah. Keunikan ini tidak terlepas dari keunikan kehidupan Masyarakat Bali. Sehingga natah mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kehidupan Masyarakat Bali.

Peranan natah di dalam kehidupan Masyarakat Bali, pertama terletak pada letak; dimana natah memiliki tempat tertentu. Jadi natah tidak saja memiliki pengertian sebagai ruang (space), tetapi juga memiliki pengertian sebagai tempat (place). Kedua, natah sebagai orientasi bangunan-bangunan yang mengelilinginya. Ketiga, natah memiliki dimensi tertentu yang diambil dari ukuran anggota badan kepala keluarga pemilik rumah atau pendeta, dengan penggandaan berdasarkan sloka tertentu sebagai indeks pemberi karakter. Keempat, disamping kegunaan yang bersifat profan dan unuversal, natah memiliki kegunaan tertentu yang bersifat sakral yaitu sebagai tempat penyelenggaraan upacara keagamaan. Dan Kelima, natah memiliki tiga makna yaitu makna kekosongan, makna keselarasan microkosmos dengan macrokosmos, dan makna pertemuan antara purusa dan pradana.

Kata kunci : tata-letak, orientasi, dimensi, guna, makna. ABSTRACT

At first glance natah seems equal to a house yard. Yet, if we trace deeply that natah has the unique concept that is completely diverse with house yard. Its uniqueness can be not released from the distinctiveness of Balinese community life thus natah has the significant role in Balinese community life.

Natah has some important roles in Balinese community life. First of all, natah has a certain place hence it has not just meaning as a space but also as a place. Second, natah is as orientation of buildings surrounding. Third, natah has a certain dimension that is taken from the body measurement of the household head or the Hindu Priest by doubling it be based on a certain sloka as index of provider character. Fourth, natah has the use as profane area and also as sacred area that is as place of the religious ritual. Fifth, natah has three meanings i.e. the meaning of emptiness, the meaning of harmony between micro cosmos and macro cosmos and the meaning of companionship between purusa and pradana.

Key Words : location arrangement, orientation, dimension, use, meaning.

PENDAHULUAN

Salah satu kekhasan Rumah Tinggal Masyarakat Bali Tradisional (Umah Bali) adalah adanya natah. Natah ini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali, karena natah merupakan cerminan kehidupan sosial masyarakat, baik sosial spiritual, sosial

ekonomi, maupun sosial budaya. Yang menjadikannya menarik adalah justru karena

natah tersebut merupakan lahan kosong (bukan

bangunan), namun sarat dengan makna, disamping secara fisik bersifat multi guna.

Perkembangan masyarakat dalam segala segi kehidupan, menimbulkan perkembangan

(2)

kebutuhan akan ruang, yang akhirnya mengakibatkan perubahan pada rumah tinggalnya. Keenderungan ingin terpandang baru merupakan sikap yang wajar.Yang menjadi masalah adalah adanya sikap yang salah kaprah, yang memandang bahwa segala sesuatu yang berbau Barat (‘modern’) adalah simbol kemajuan, sedangkan yang berbau Timur (‘tradisional’) adalah simbol keterbelakangan. Dalam kaitannya dengan arsitektur fenomena ini harus diimbangi dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai arsitektur tradisional khususnya tentang natah. Dengan demikian akan terjadi transformasi (pemalihan) nilai-nilai arsitektur secara wajar, sehingga natah yang sarat makna tidak semakin ditinggalkan, atau diabaikan. Lebih jauh lagi maka natah akan dapat berterima pada rumah tinggal Masyarakat Bali kini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa rumah dengan pola natah akan memerlukan luas persil yang relatif besar. Sebagai ilustrasi terdapat

Umah Bali yang membutuhkan luas persil

(pekarangan) ± 9 are. Hal ini akan menimbulkan

kesan bahwa pada lahan yang sempit (kurang dari 9 are) tidak memungkinkan membangun rumah dengan pola natah. Kesan tersebut ditengarai menyebabkan rumah dengan pola ruang sesuai dengan Umah Bali semakin ditinggalkan, dan muncul kecenderungan beralih menuju rumah dengan pola ruang masa kini yang menjanjikan efisiensi lahan. Bila fenomena ini berkembang maka natah hanya merupakan kenangan, dan akan dijumpai hanya di dalam naskah saja.

Natah tidak hanya terdapat pada Rumah

Tinggal Masyarakat Bali Tradisional pada umumnya sebagai mana yang dikenal dengan tipe Bali Majapahit (“tipe dataran”), tetapi terdapat juga pada Umah Bali tipe Bali Aga (“tipe pegunungan”), seperti pada rumah tinggal yang terdapat di Desa Tenganan, Bugbug, Penglipuran dan sebagainya.

NATAH

1. Terminologi

Natah merupakan istilah atau sebutan

yang memiliki konsep yang khas dan unik.

Sepanjang yang penulis ketahui tidak ada istilah lain yang memiliki konsep sama dengan natah. Namun terdapat beberapa istilah yang mempunyai pengertian yang hampir sama dengan natah.

Dalam bahasa Inggris terdapat istilah

communal open space. Di Indonesia khususnya

di Nusa Tenggara Timur seperti pada Kampung Ruteng Pu’u, Kampung Todo dan Kampung Wae Rebo terdapat istilah Nata (Pilipus Jeraman, 2000). Nata ini mempunyai pengertian hampir sama dengan natah. Hanya saja nata merupakan lahan kosong dikelilingi oleh unit-unit rumah tinggal, dan bukan dikelilingi oleh gugus-gugus bangunan. sebagaimana natah pada

Umah Bali.

Foto 1. Natah dalam Rumah Tradisional Bali

Sumber: Dokumentasi, 2002.

Dalam bahasa daerah Bali, natah sama dengan natah, yaitu sebutan natah yang umum digunakan di lingkungan pura, griya dan puri, seperti adanya istilah natah pura dan natah puri. Istilah natah juga dijumpai dalam cerita rakyat dalam bentuk nyanyian (gaguritan) “Sampik” yang cukup populer dikalangan masyarakat Bali yaitu :

I Sampik tong nawang natah, peragat di kamar mengeling, ……….. (Si Sampik tidak mengenal natah, terus-menerus menagis di kamar tidur ……)

Pada umumnya pada Umah Bali terdapat tiga natah yaitu natah sanggah (merajan), natah

bale dan natah paon. Kalau halaman didepan

penunggun karang dianggap sebagai natah, maka pada Umah Bali terdapat empat natah. Namun ada juga rumah tinggal yang memiliki dua natah

natah yaitu natah merajan dan natah-bale.

(3)

Adanya tiga natah yaitu natah merajan

dan natah-bale (natah-umah),dan natah

penunggun karang ini, sesuai dengan konsep

Arsitektur Nusantara Bali atau Arsitektur Tradisional Bali, yang membedakan alam menjadi tiga yaitu alam dewa, alam manusia dan alam bhuta. Jadi natah merupakan simbol dari ketiga alam tersebut. Oleh karena itu dalam upacara ritual “mecaru” yang mempunyai makna menyucikan alam, dilakukan pada tiga

natah tersebut.

Natah bale (natah-umah), yang terletak

ditengah-tengah umah, secara fisik keberadaanya paling dominan. Sehingga pembahasan selanjutnya ditekankan pada natah-bale.

2. Unsur-unsur Natah

a. Tata Letak

Gambar 1. Jenis-jenis Natah dan Letaknya

Sumber: Gelebet (1986) Arsitektur Tradisional

Daerah Bali. (digambar kembali sesuai analisis)

Natah sanggah terletak pada zone kaja kangin yaitu di tengah-tengah sanggah, natah bale (natah umah) terletak ditengah-tengah umah dan natah paon terletak di depan paon dan penunggun karang terletak kaja-kauh

(barat-laut), sesuai dengan letak penunggun karang.

Natah-bale terletak bersebelahan atau

mempunyai hubungan langsung dengan sanggah. Hal ini berkaitan dengan hubungan kegiatan saat diselenggarakan upacara keagamaan tertentu.

Natah-bale yang terletak

ditengah-tengah umah, merupakan pedoman penamaan gugus-gugus bangunan yang mengelilinginya. Karena tanpa kehadiran natah niscaya nama

daja, dangin, delod dan bale-dauh tidak pernah ada.

Secara fisik keberadaan natah tersebut memberi peluang bagi terciptanya penghawaan dan pencahayaan yang baik pada gugus-gugus bangunan yang berada disekelilingnya.

b. Orientasi

Umumnya natah-bale menjadi orientasi

sanggah, dangin, delod, paon, bale-dauh dan meten (bale-daja). Kalau tidak terdapat bale-dangin, maka natah menjadi orientasi sanggah, bale-delod, paon, bale-dauh dan meten

(bale-daja}. Kalau terdapat natah-paon, maka

natah-bale tidak menjadi orientasi paon, sebab paon berorientasi ke natah-paon. Ada juga natah

yang hanya menjadi orientasi sanggah,

bale-mundak (bale-delod) dan meten. Jadi yang

paling pokok adalah natah menjadi orientasi

sanggah, meten dan bale-delod dan bale-dauh.

c. Dimensi

Kalau natah dipahami sebagai bentuk geomerik yang mempunyai elemen pembatas, konsekuensinya adalah natah memiliki dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal (panjang dan lebar), bersifat terukur sedangkan dimensi vertikal tidak dapat diukur (bersifat imajiner). Berdasarkan konsep ruang luar sebagai arsitektur tanpa atap, maka natah merupakan ruang luar karena tidak memiliki atap. Natah merupakan representasi dari alam. Oleh karena itu natah tidak diatapi karena natah sudah memiliki atap yaitu langit, sebagaimana terjadi pada alam.

Dimensi natah sangat dipengaruhi

ukuran atau luas persil (pekarangan). Dimensi horizontal natah adalah akibat dari letak gugus-gugus bangunan yang mengelilingi natah..

Natah yang dikelilingi oleh meten, bale-delod, paon dan bale-dauh, panjangnya adalah jarak

antara meten dan paon; sedangkan lebarnya adalah jarak antara bale-dauh dan bale-delod. Natah yang dikelilingi oleh meten, bale dangin,

bale-delod dan bale-dauh, panjangnya adalah

jarak antara bale-dauh dan bale-dangin, NATAH PENUNGGUN KARANG NATAH BALE NATAH SANGGAH NATAH PAON

(4)

sedangkan lebarnya adalah jarak antara meten dan bale-delod. Jadi dimensi natah bervariasi sesuai dengan gugus-gugus bangunan yang mengelilingi natah.

Dimensi natah ditentukan berdasarkan kelipatan ukuran telapak kaki (tapak) pemilik rumah. Dengan sloka, pengurip dan sesa, sebagai indeks pemberi karakter. Adanya sloka dan sesa (sisa), ini menyebabkan dimensi natah sangat fleksibel dan sangat bervariasi.

Putra (1996) mengungkapkan bahwa terdapat tiga cara di dalam menentukan dimensi (panjang dan lebar) natah sebagai berikut :

1. Panjang dan lebar natah = 15 tapak +

pengurip + sesa, dimana satu tapak = ± 30

cm, pengurip selebar telapak kaki = ± 10cm.

Sesa bervariasi dari dua tapak sampai 40 tapak sesuai dengan pemaknaan atau

karakter yang diinginkan. Sesa ini diberlakukan kalau ukuran pekarangan cukup luas sehingga bangunan masih memungkinkan digeser kepinggir sehingga

natah menjadi lebih luas. Ukuran natah dari

barat ke timur umumnya menggunakan sesa 2, 3, 4, 5, 6, 12, 13, 14, 15, 16, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 32, 33, 34, dan 40. Jadi ukuran

natah dari barat ke timur bervariasi dari

yang terkecil adalah 15 tapak + atapak

ngandang (pengurip) + 2 tapak (sesa) =

± 520 cm., 550 cm, 580 cm dan seterusnya sampai dengan ukuran natah yang terbesar adalah 15 tapak + atapak ngandang (pengurip) + 40 tapak (sesa) = 1660 cm. Jadi ukuran natah dari barat ke timur bervariasi dari 520 cm, 550 cm, 580 cm dan seterusnya sampai 1660 cm. Ukuran natah dari utara keselatan (dari meten ke paon adalah 15 tapak + pengurip + sesa, dengan

sesa bervariasi yaitu 3, 4, 8, 16, 20, 23, 24,

26, 27, 28, 36, dan 40 tapak. Jadi ukuran dari utara ke selatan bervariasi dari yang paling kecil yaitu 15 tapak + 3 tapak

ngandang (pengurip) + 3 tapak (sesa) = 550

cm, 580 cm, 570 cm, 720 dan seterusnya sampai ukuran yang terpanjang yaitu 1660 cm.

Jadi ukuran natah yang paling kecil adalah 520 cm x 550 cm dan yang terbesar adalah 1660 cm x 1660 cm.

2. Dimensi natah berdasarkan tapak +

pengurip atapak ngandang dengan sloka : bale banyu, sanggar waringin, gedong simpen, macan pancuran, gajah palesungan, warak katuron, dan gedong punggul.

3. Dimensi natah berdasarkan tapak (telapak

kaki) + pengurip atapak ngandang dengan

sloka “asta wara” yaitu sri, indra, guru, yama, rudra, brahma, kala, uma.

(Lihat Gambar 2.)

Gambar 2. Dimensi Natah Berdasarkan Tapak dengan Sloka Asta Wara

Sumber: Majalah BIC Bali, No. 576 - Th. 1976

d. Guna

Secara garis besar kegunaan natah dapat dibedakan menjadi dua yaitu kegunaan yang bersufat sakral dan kegunaan yang bersifat profan. Kegunaan yang bersifat sakral berkaitan dengan upacara keagamaan, sedangkan kegiatan yang bersifat profan merupakan kegiatan sehari-hari yang tidak berkaitan langsung dengan upacara keagamaan.

Masyarakat Bali yang beragama Hindu melaksanakan lima jenis upacara keagamaan yang disebut dengan panca yadnya. Masing-masing upacara keagamaan tersebut memiliki

SRI INDRA GURU YAMA LUDRA BRAHMA KALA UMA UMA SR I YAM A UM A UM A KALA KALA INDRA GURU KEMULAN TAKSU SRI URIP KAJA

(5)

ketentuan mengenai tempat pelaksanaannya. Ada yang dilakukan di dalam bangunan (bale dan bangunan merajan), dan masing-masing dari

yadnya tersebut ada yang dilaksanakan pada natah. Upacara rsi yadnya hanya dilaksanakan

pada griya (rumah kasta brahmana) yaitu pada

natah griya dan natah-merajan. Upacara pitra yadnya seperti upacara memandikan jenazah dan

rangkaian upacara ngaben dan memukur dilakukan pada natah bale. Sebagian upacara

manusa yadnya seperti upacara tiga bulanan,

potong gigi dan pernikahan dilakukan pada

natah merajan dan natah-bale. Upacara bhuta yadnya seperti mecaru dilaksanakan pada natah-merajan, natah-bale, natah penunggun karang,

dan di lebuh.

Kegiatan yang bersifat profan yaitu kegiatan menjemur hasil bumi, transformasi ilmu pengetahuan, bermain, kegiatan penunjang pada upacara ritual seperti menerima tamu, dan sebagainya. Kegiatan ini umumnya dilakukan pada natah-bale (natah-umah) dan natah paon.

Dalam konteks ruang positif dan ruang negatif, natah merupakan ruang positif. Hal ini disebabkan karena adanya kegiatan yang dilakukan pada natah, disamping itu natah memiliki batas yaitu bale (gugus-gugus bangunan) yang mengelilinginya (terbingkai dari alam).

Dalam kegiatan upacara keagamaan,

natah diberi atap dan digunakan sebagai ruang

tamu atau ruang lainnya. Dalam hal ini natah sebagai ruang luar berubah menjadi ruang dalam. Tetapi sifatnya adalah temporer, sehingga atapnya tidak permanen, dan hanya representatif sebagai penaung terhadap panasnya sinar matahari dan hujan

e. Makna

Natah pada hakekatnya adalah ruang

kosong. Kalau natah dilihat dari hakekatnya yaitu “kekosongan”, maka natah mempunyai makna yang sangat dalam, seperti yang diungkapkan oleh Lou Tzu dalam Klassen (1990), dengan metaforanya tentang kekosongan, yang mengatakan bahwa hanya di dalam kekosongan terletak kebenaran yang esensial. Senada dengan pernyataan Lou Tzu, makna kekosongan (suwung/sunia) juga dijumpai pada nyanyian (gaguritan) “Tam Tam”

yang cukup populer di kalangan masyarakat Bali yaitu :

Iku langgeng nora obah, agung ngebekin gumi, ya katon nora katonang, nika agung paling alit, ya ane suwung maisi, sane telah nu setuwuk…………

(Yang ajeg itu berubah, yang besar memenuhi bumi, yang kelihatan tidak dilihat, yang besar paling kecil, yang kosong berisi, yang habis masih ada selamanya ………)

(Dalam kekosongan itu sesungguhnya bukan kosong, tetapi yang kosong itu sesungguhnya berisi atau kekosongan itu sarat dengan makna).

Natah melambangkan sesuatu yang

kosong (luang), karena dengan kekosongan dapat dipahami makna tentang isi. (Swanendri, 2000)

Pendapat Lao Tzu, gaguritan Tam Tam maupun pendapat Swanendri di atas mengandung pengertian yang senada, bahwa yang nampak kosong itu sesungguhnya bukan kosong tetapi sarat dengan makna.

Gomudha (1999), mengungkapkan bahwa natah merupakam simbol tempat

pertemuan antara Purusa dan Pradhana, pertemuan antara langit dan Pertiwi/tanah,. dengan demikian makna natah yang paling utama adalah memberi peluang suatu kehidupan, yakni berumah-tangga selama jiwa bertemu dengan raga atau sepanjang ayat dikandung badan. Purusa merupakan unsur-unsur kejiwaan (acatana/paramaatma/atma) dan pradhana merupakan unsur kebendaan (catana/panca

maha bhuta).

Swanendri (2000), mengungkapkan

natah disimbolkan sebagai pusat dari perputaran,

dan kalau dianalogikan dengan tubuh manusia, maka natah adalah tali pusar.

Pernyataan Gomudha, maupun Swanendri, mengandung pengertian yang senada yaitu alam ini terdiri dari dua unsur yaitu purusa dan pradhana. Pertemuan antara purusa dan

pradhana ini menghasilkan benih-benih

kehidupan.

Natah menyatukan atau mepertemukan

dua hal yang berlawanan dan berpasangan

(6)

(binary oposition) pada arah vertikal dan horizontal. Pada arah vertikal merupakan pertemuan antara purusa dan pradhana, sedangkan pada arah horizontal kangin-kauh dan

kaja-kelod. Peranan natah ini melandasi

timbulnya pola ruang kosong sebagai ruang orientasi dalam rumah tinggal maupun perumahan.

Dimensi natah ditentukan berdasarkan kelipatan atau penggandaan ukuran anggota badan yaitu telapak kaki (tapak) pemilik rumah (kepala keluarga) atau pendeta. Sehingga terjadi keselarasan antara penghuni dan natahnya. Disamping itu kelipatan ukuran telapak kaki ini berdasarkan sloka tertentu, ditambah pengurip dan sesa, sebagai pemaknaan atau indeks pemberi karakter. Dimensi tersebut mengandung makna keselarasan kosmologi yaitu keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Jadi makna natah juga meresap pada dimensinya.

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, maka natah dapat disipulkan sebagai berikut :

1. Natah tidak sama dengan halaman rumah yang hanya memiliki pengertian sebagai ruang (space). Disamping memiliki pengertian sebagai ruang (space), natah juga memiliki pengertian sebagai tempat (place) tertentu, sebagaimana terdapat natah

merajan, natah bale (natah umah). Sehingga natah merupakan lahan kosong yang

memiliki tempat tertentu

2. Natah (natah-bale) terletak ditengah-tengah

umah, sehingga natah merupakan pusat umah. Natah tidak harus dikelilingi oleh

gugus-gugus bangunan secara lengkap. Namun semakin lengkap gugus-gugus bangunan yang mengelilingi natah, maka kualitas natah semakin baik.

3. Natah memiliki dimensi tertentu, yang ukuran dasarnya tapak (telapak kaki) diambil dari ukuran anggota badan penghuni atau pendeta. Penggandaan ukuran ini berdasarkan sloka tertentu sesuai dengan pemaknaan atau karakter tertentu yang dipercaya keberadaannya. Dimensi natah (dimensi horizontal) bersifat flaksibel

(bervariasi), tergantung dari luas lahan, karakter yang diharapkan dan sesuai dengan filsafat desa, kala, patra (tempat, waktu dan kondisi).

Natah dalam kaitannya dengan dimensi natah adalah ruang yang terbentuk akibat

komposisi bangunan yang mengelilingi

natah. Karena komposisi bangunan tersebut

bervariasi, maka dimensi natah juga bervariasi.

4. Natah pengandung 3 makna. Pertama, natah mengandung makna filosofis tentang kekosongan, dimana pada kekosongan terdapat kebenaran yang esensial, atau yang kosong itu sesungguhnya penuh berisi. Kedua, natah sebagai pusat mengandung makna pertemuan antara purusa dan

pradhana, yang memberikan kehidupan dan

kemakmuran. Ketiga, natah mengandung makna keselarasan kosmologi yaitu keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos, yang diungkapkan melalui dimensi natah yang berdasarkan ukuran anggota badan penghuni (pemilik), yaitu telapak kaki.

5. Natah memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan Masyarakat Bali.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Ir. I Gusti Made Putra, M Si. , dosen pada Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, atas informasi yang diberikannya melalui wawancara.

2. Pimpinan dan staf redaksi Jurnal Permukiman Natah atas diterbitkannya tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (?) Gaguritan Tam Tam, Cempaka 2, hal.3.

Gelebet, I Nyoman. 1986. Arsitektur Tradisional

Daerah Bali. Denpasar: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek

(7)

Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Gomudha, I Wayan. 1999., Reformasi

Nilai-Nilai Arsitektur Tradisional Bali pada Arsitektur Kontemporer di Bali. Institut Teknologi Sepuluh

Nopember Surabaya: Tesis Program Pascasarjana Program Studi Arsitektur Bidang Keakhlian dan Kritik Arsitektur.

Jeramam, Pilipius. 2000. Studi Morpologi dalam

Konstruksi Bangunan Tradisional di Nusa Tenggara Timur.

Klassen,Winand. 1990. Architecture And

Philosophy. Cebu City: Univesity Of

San Carlos, Philippines. Majalah BIC Bali no.576 - 1976.

Putra, I Gusti Made. 1996. Arsitektur

Tradisional Bali (tidak

dipublikasikan).

Swanendri, Ni Made. 2000. Eksistensi Rumah

Bali sebagai Basis Ekonomi Rumah Tangga, Institut Teknologi Sepuluh

Nopember Surabaya: Tesis Program Pasca Sarjana Program Studi Arsitektur Alur Pemukiman Kota dan Lingkungan.

Gambar

Foto 1. Natah dalam Rumah Tradisional Bali  Sumber:  Dokumentasi, 2002.
Gambar 1. Jenis-jenis Natah dan Letaknya  Sumber:  Gelebet (1986) Arsitektur Tradisional  Daerah Bali
Gambar 2.  Dimensi Natah Berdasarkan Tapak  dengan Sloka Asta Wara

Referensi

Dokumen terkait

disebabkan karena pada konsentrasi tinggi jumlah ion logam dalam larutan tidak sebanding dengan jumlah partikel arang aktif tulang sapi yang tersedia, sehingga

Pada kondisi dimana petugas tidak yakin/ tidak pasti dengan identitas pasien (misalnya saat pemberian obat), petugas dapat menanyakan nama dan tanggal lahir5. pasien (jika

bahwa tingkat pengetahuan responden terhadap rokok berada dalam kategori baik sebesar 0,4%, kategori sedang.. sebesar 64,5%, dan kategori kurang

bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000,

Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kesiapan siswa yang memadai, dan partisipasi dalam pembelajaran sesuai paradigma Student

Karena itu peneliti ingin meneliti tentang kelengkapan dari persyaratan berobat rawat jalan bagi pasien BPJS karena apabila selalu tidak lengkap maka akan menghambat

Salah seorang guru pendidikan agama Islam (PAI) mengatakan bahwa “proses menanggulangi akhlak mazmumah pada siswa SMAN 1 Kluet Selatan menghadapi hambatan berupa

Berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua pihak atas