DAFTAR ISI
Halaman
TAT I. PENDAHILIAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 10
C. Rumusan Masalah 12
D. Definisi Operasional 14
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 20
F. Pola Pikir Penelitian 23
TAT II. LANDASAN TEORETIS 25
A. Peranan Evaluasi dalam Pendidikan 25
B. Pendekatan Struktural-Komunikatif 27
1. Tujuan Tes Bahasa 29
2. Jenis Tes Bahasa 31
3. Bidang Tes Bahasa 32
4. Pendekatan dan Model Tes Bahasa 34
a. Pendekatan Psikometrik-Strukturalisme 39
b. Pendekatan Psiko-Sosiolinguistik 40
c. Pendekatan Komunikatif 41
5. Prinsip-prinsip Desain Tes Bahasa 47
6. Problematika dalam Desain Tes Bahasa 53
C. Pendekatan Literasi 66
1. Pengertian Literasi 66
2. Prinsip-prinsip Literasi 70
3. Perbedaan dengan Pendekatan Sebelumnya 73
4. Pendidikan Bahasa dalam Pendekatan Literasi 78
5. Model Penilaian dalam Pendidikan Literasi 82
6. Model Kurikulum Berbasis Kompetensi Wacana 85
7. Penerapan Pendekatan Literasi dalam Ujian Bahasa 94 a. Penerapan Pendekatan Literasi dalam PISA 2000 95
b. Desain Ujian dalam PISA 2000 97
c. Hasil Studi PISA 2000 104
D. Penelitian Terdahulu 112
TAT III. METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 115
A. Kerangka Penelitian 115
B. Metode Penelitian 118
C. Teknik Penelitian 119
D. Sumber Data 122
E. Populasi dan Sampel Penelitian 123
F. Teknik Analisis Data 126
G. Langkah-langkah Penelitian 129
ii
A. Hasil UAN 2004 Mata Ujian Bahasa Indonesia 132
1. Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah 133
2. Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah 142
B. Materi Soal UAN Bahasa Indonesia 162
1. Materi Soal SMP/MTS 162
a. Pokok Bahasan Soal SMP/MTS 162
b. Struktur Soal SMP/MTS 164
c. Mutu Soal SMP/MTS 167
d. Kesesuaian Soal SMP/MTS dengan Kurikulum 175
2. Materi Soal SMA/MA 182
a. Pokok Bahasan Soal SMA/MA 182
b. Struktur Soal SMA/MA 187
c. Mutu Soal SMA/MA 199
d. Kesesuaian Soal SMA/MA dengan Kurikulum 212
C. Daya Serap Materi Soal UAN 2004 220
1. Pengelompokan Paket Soal Bahasa Indonesia 220
2. Daya Serap Materi Soal Bahasa Indonesia 227
a. Daya serap Nasional 227
b. Daya Serap Tingkat Provinsi Jawa Barat 236
c. Daya serap Tingkat Kabupaten dan Kota di Jawa Barat 243
3. Daya Serap Konten, Proses, dan Konteks 319
TAT V. PEMTAHASAN HASIL PENELITIAN & PENGEMTANGAN
MODEL IJIAN NASIONAL 329
A. Pembahasan dan Interpretasi Hasil Penelitian 329
B. Pengembangan Model Ujian Nasional Bahasa Indonesia 340
1. Model Ujian Nasional SMP/MTs 340
2. Model Ujian Nasional SMA/MA 348
3. Prosedur Pengembangan Soal 351
4. Penilaian dan Pengolahan Hasil Ujian 368
5. Masalah Reliabilitas dan Validitas 377
6. Penutup 380
TAT VI. SIMPILAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI 381
A. Simpulan 381
B. Implikasi 395
C. Rekomendasi 398
DAFTAR PISTAKA 403
LAMPIRAN-LAMPIRAN 408
iii
DAFTAR TATEL
Halaman Tabel 1 Perbedaan Pendekatan Struktural, Komunikatif, dan Literasi dalam Pendidikan Bahasa 8 Tabel 2.1 Perbedaan Proses Belajar Mengajar dalam Pendekatan Struktural, Komunikatif, & Literasi 74
Tabel 2.2 Distribusi Soal Literasi dalam PISA 99
Tabel 2.3 Peta Tingkat Literasi dalam PISA 100
Tabel 2.4 Tingkat Kesulitan Butir Soal Literasi dalam PISA 103 Tabel 3.1 Pengelompokan Paket Soal dan Jumlah Peserta SMP/MTs di Jawa Barat 125 Tabel 3.2 Pengelompokan Paket Soal dan Jumlah Peserta SMA/MA di Jawa Barat 126
Tabel 4.1 Kisi-Kisi Soal SMP/MTS 162
Tabel 4.2 Struktur Soal SMP/MTS 165
Tabel 4.3 Sebaran Struktur Soal UAN SMP/MTS 167
Tabel 4.4 Pengelompokan Soal SMP/MTS Berdasarkan Kelas/Kurikulum 180
Tabel 4.5 Kisi-kisi Soal SMA/MA Program IPA dan IPS 182
Tabel 4.6 Struktur Soal SMA/MA Program IPA dan IPS 187
Tabel 4.7 Sebaran Struktur Soal UAN SMA IPA/IPS 190
Tabel 4.8 Kisi-kisi Soal UAN SMA Program Bahasa 191
Tabel 4.9 Struktur Soal UAN SMA Program Bahasa 194
Tabel 4.10 Sebaran Struktur Soal UAN SMA Program Bahasa 196 Tabel 4.11 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta SMP di Jawa Barat 221 Tabel 4.12 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta MTs di Jawa Barat 221 Tabel 4.13 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta SMA IPA di Jawa Barat 222 Tabel 4.14 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta MA IPA di Jawa Barat 223 Tabel 4.15 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta SMA IPS di Jawa Barat 224 Tabel 4.16 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta MA IPS di Jawa Barat 225 Tabel 4.17 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta SMA Bahasa di Jawa Barat 226 Tabel 4.18 Pengelompokan Soal dan Jumlah Peserta MA Bahasa di Jawa Barat 226 Tabel 4.19 Soal yang Paling Mudah Diserap Siswa SMP/MTs 228 Tabel 4.20 Soal yang Paling Sulit Diserap Siswa SMP/MTs 229 Tabel 4.21 Soal yang Paling Mudah Diserap Siswa SMA IPA/IPS 231 Tabel 4.22 Soal yang Paling Sulit Diserap Siswa SMA IPA/IPS 232 Tabel 4.23 Soal yang Paling Mudah Diserap Siswa SMA Bahasa 234 Tabel 4.24 Soal yang Paling Sulit Diserap Siswa SMA Bahasa 235
Tabel 4.25 Nilai Rata-rata SMP/MTs Jawa Barat 237
Tabel 4.26 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia SMP Kabupaten/Kota di Jawa Barat 245 Tabel 4.27 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia MTS Kabupaten/Kota di Jawa Barat 246 Tabel 4.28 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia SMA IPA Kabupaten/Kota di Jawa Barat 261 Tabel 4.29 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia MA IPA Kabupaten/Kota di Jawa Barat 263
Tabel 4.30 Perbandingan SMA dan MA IPA 264
Tabel 4.31 Soal Tertinggi dan Terendah SMA IPA 268
Tabel 4.32 Soal dengan Nilai Tertinggi dan Terendah SMA/MA IPA 272 Tabel 4.33 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia SMA IPS Kabupaten/Kota di Jawa Barat 280 Tabel 4.34 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia MA IPS Kabupaten/Kota di Jawa Barat 281 Tabel 4.35 Soal dengan Nilai Tertinggi dan Terendah SMA/MA IPS 291 Tabel 4.36 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia SMA Bahasa Kabupaten/Kota di Jawa Barat 299 Tabel 4.37 Nilai Rata-rata Bahasa Indonesia MA Bahasa Kabupaten/Kota di Jawa Barat 301
Tabel 4.38 Perbandingan SMA dan MA Bahasa 302
Tabel 4.39 Soal dengan Nilai Tertinggi dan Terendah SMA Bahasa 306
Tabel 4.40 Soal Tertinggi dan Terendah MA Bahasa 310
Tabel 4.41 Soal Tertinggi dan Terendah SMA/MA Bahasa 312
iv
Tabel 5.2 Kerangka Model Soal Ujian Nasional SMP/MTS 347
Tabel 5.3 Kerangka Model Soal Ujian Nasional SMA/MA 350
Tabel 5.4 Contoh Matriks Pengembangan Soal Ujian 353
Tabel 5.5 Contoh Kisi-Kisi Soal 354
DAFTAR GAMTAR/GRAFIK/TAGAN
Halaman
Gambar 1 Pola Pikir Penelitian 24
Gambar 2.1a Empat Model Evaluasi (a) 35
Gambar 2.1b Empat Model Evaluasi (b) 36
Gambar 2.2 Prosedur Evaluasi Performansi secara Langsung 36 Gambar 2.3 Prosedur Evaluasi Performansi secara Tidak Langsung 37 Gambar 2.4 Prosedur Evaluasi Sistem Bahasa secara Langsung 37 Gambar 2.5 Prosedur Evaluasi Sistem Bahasa secara Tidak Langsung 39
Gambar 2.6 Model Evaluasi dalam Pendekatan Literasi 83
Gambar 2.7 Model Kompetensi Komunikatif 85
Gambar 2.8 Model Hubungan Teks dan Konteks 86
Gambar 2.9 Model Bahasa dari Halliday 87
Gambar 3 Langkah-langkah Penelitian 131
Gambar 4.1 Perbandingan Hasil UAN SMP untuk Tiga Mata Ujian 134 Gambar 4.2 Perbandingan Hasil UAN SMP untuk Tiga Mata Ujian 138 Gambar 4.3 Perbandingan Hasil UAN Bahasa Indonesia SMP 137 Gambar 4.4 Perbandingan Hasil UAN Bahasa Indonesia MTs 140
Gambar 4.5 Hasil UAN SMA Program IPA 143
Gambar 4.6 Hasil UAN MA Program IPA 145
Gambar 4.7 Hasil UAN SMA Program Bahasa 148
Gambar 4.8 Hasil UAN MA Program Bahasa 150
Gambar 4.9 Hasil UAN SMA Program IPS 153
Gambar 4.10 Hasil UAN MA Program IPS 156
Gambar 4.11 Hasil UAN Bahasa Indonesia SMA 157
Gambar 4.12 Hasil UAN Bahasa Indonesia MA 159
Gambar 4.13 Hasil UAN Bahasa Indonesia SMA dan MA 160
Gambar 4.14 Struktur Soal UAN 2004 197
Gambar 4.15 Perbandingan Konten, Proses, dan Konteks UAN 2004 198
Gambar 4.16 Daya Serap Nasional SMP/MTS 228
Gambar 4.17 Daya Serap Nasional SMA/MA IPA/IPS 230
Gambar 4.18 Daya Serap Nasional SMA/MA Bahasa 234
Gambar 4.19 Daya Serap SMP/MTS Jawa Barat 238
Gambar 4.20 Daya Serap SMA Program IPA Jawa Barat 239
Gambar 4.21 Daya Serap SMA Program IPS Jawa Barat 240
Gambar 4.22 Daya Serap SMA Program Bahasa 242
Gambar 4.23 Daya Serap SMA dan MA Jawa Barat 243
Gambar 4.24 Daya Serap SMP Kab/Kota se-Jawa Barat 244
Gambar 4.25 Daya Serap MTs Kab/Kota se-Jawa Barat 246
Gambar 4.26 Perbandingan Daya Serap SMP dan MTs Kab/Kota se-Jawa Barat 247 Gambar 4.27 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi SMP 249
Gambar 4.28 Lima Soal dengan Daya Serap Terendah SMP 250
Gambar 4.29 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi MTs 252
Gambar 4.30 Lima Soal dengan Daya Serap Terendah MTs 254
Gambar 4.31 Daya Serap SMA IPA Kab/Kota se-Jawa Barat 260
v
Gambar 4.33 Perbandingan Daya Serap SMA dan MA Kab/Kota se-Jawa Barat 264 Gambar 4.34 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi SMA IPA 265 Gambar 4.35 Lima Soal dengan Daya Serap TerendahSMA IPA 266 Gambar 4.36 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi MA IPA 270 Gambar 4.37 Lima Soal dengan Daya Serap Terendah MA IPA 271 Gambar 4.38 Daya Serap SMA IPS Kab/Kota se-Jawa Barat 279
Gambar 4.39 Daya Serap MA IPS Kab/Kota se-Jawa Barat 281
Gambar 4.40 Perbandingan Daya Serap SMA dan MA IPS 282
Gambar 4.41 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi SMA IPS 283 Gambar 4.42 Lima Soal dengan Daya Serap TerendahSMA IPS 285 Gambar 4.43 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi MA IPS 288 Gambar 4.44 Lima Soal dengan Daya Serap Terendah MA IPS 289 Gambar 4.45 Daya Serap SMA Bahasa Kab/Kota se-Jawa Barat 298 Gambar 4.46 Daya Serap MA Bahasa Kab/Kota se-Jawa Barat 300 Gambar 4.47 Perbandingan Daya Serap SMA dan MA Bahasa 301 Gambar 4.48 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi SMA Bahasa 303 Gambar 4.49 Lima Soal dengan Daya Serap TerendahSMA Bahasa 305 Gambar 4.50 Lima Soal dengan Daya Serap Tertinggi MA Bahasa 308 Gambar 4.51 Lima Soal dengan Daya Serap Terendah MA Bahasa 309 Gambar 4.52 Daya Serap Konten, Proses, dan Konteks Soal SMP/MTs 319 Gambar 4.53 Perbandingan Daya Serap Konten, Proses, & Konteks Soal SMP/MTs 320 Gambar 4.54 Daya Serap Konten, Proses, dan Konteks Soal SMA/MA IPA/IPS 321 Gambar 4.55 Perbandingan Daya Serap Konten, Proses, & Konteks Soal SMA/MA IPA/IPS 322 Gambar 4.56 Daya Serap Konten, Proses, dan Konteks Soal SMA/MA Bahasa 322 Gambar 4.57 Perbandingan Daya Serap Konten, Proses, & Konteks Soal SMA/MA Bahasa 324
Gambar 4.58 Perbandingan Antarpaket Soal SMP/MTs 325
Gambar 4.59 Perbandingan Antarpaket Soal SMA/MA IPA/IPS 325 Gambar 4.60 Perbandingan Antarpaket Soal SMA/MA Bahasa 326 Gambar 4.61 Perbandingan Daya Serap dari Lima Kab/Kota Peringkat Tertinggi dan Terendah 328
vi
DAFTAR SINGKATAN/AKRONIM 3R Responding, Revising, Reflecting
3R Reading, wRiting, aRithmetic
4R Reading, wRiting, aRithmetic, Reasoning ACER Australian Council for Educational Research
BHS Bahasa
DEPDIKNAS Departemen Pendidikan Nasional EBTANAS Evaluasi Belajar Tahap Akhir
IAE International Association for the Evaluation of Education Achievement IB Isian terbuka (open constructed-response items)
ICC Item Characteristic Curve (Kurve Karakteristik Butir) IPA Ilmu Pengetahuan Alam
IPS Ilmu Pengetahuan Sosial
IRT Item Response Theory (Teori Respons Butir) IT Isian tertutup (closed constructed-response items) JMB Joint Matriculation Board
JS Jawaban Singkat (short response items)
KU Konteks Umum
KL Kompetensi Linguistik
KP1 Kompetensi Proses menemukan informasi/gagasan
KP2 Kompetensi Proses mengembangkan makna/melakukan inferensi KP3 Kompetensi Proses melakukan refleksi dan evaluasi terhadap isi wacana KPEK Konteks Pekerjaan
Kpend Konteks Pendidikan KPRIB Konteks Pribadi
Ksb Kompetensi Sosial-budaya KStr Kompetensi Strategi KTB Kompetensi Tindak Bahasa
Kw Kompetensi Wacana
MA Madrasah Aliyah
MTs Madrasah Tsanawiyah
OECD Organization for Economic Cooperation and Development PG Pilihan Ganda (multiple-choice items)
PGK Pilihan Ganda Kompleks (complex multiple-choice items) PIRLS Progress in International Reading Literacy Study
PISA Programme for International Students Assessment PUSPENDIK Pusat Penilaian Pendidikan
SMA Sekolah Menengah Atas SMP Sekolah Menengah Pertama TOEFL Test of English as a Foreign Language
TOEIC Test of English as for International Communication UAN Ujian Akhir Nasional
UETESOL University Entrance Test in English for Speakers of Other Languages UNAS Ujian Akhir Nasional
UNESCO United Nation for Education Cooperation WB Wacana Berkelanjutan
BABBIB
PENDAHULUANB
A.BLatarBBelakangBMasalahB
Ujian Akhir Nasional (UAN) dilaksanakan mulai tahun pelajaran 2003-2004 sebagai pengganti Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebtanas) berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 153/U/2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan (2003) menyebutkan bahwa evaluasi akhir ini dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Menurut UU 20/2003 tersebut, evaluasi pendidikan dapat dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan. Dengan demikian, pelaksanaan UAN itu adalah salah satu upaya standardisasi mutu kelulusan siswa dalam kerangka peningkatan mutu pendidikan nasional pada umumnya yang diharapkan dapat berimplikasi pada peningkatan mutu guru dan mutu manajemen persekolahan di masa yang akan datang (Depdiknas, 2004b).
Program IPS diujikan mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Ekonomi.
Selain mata ujian tingkat nasional, Keputusan Menteri itu menyebutkan bahwa setiap sekolah juga menyelenggarakan ujian nasional yang bentuk dan soalnya ditetapkan oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada Standar Kemampuan Lulusan dan Spesifikasi Ujian Nasional yang terlebih dahulu disusun oleh sebuah tim di Pusat Penilaian Pendidikan. Untuk jenjang SMP/MTs, mata ujian nasional yang diselenggarakan sekolah itu meliputi pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, IPA, IPS, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Kerajinan Tangan dan Kesenian (SMP), Bahasa Arab, Fiqih, Quran Hadist, Aqidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam (MTs), dan muatan lokal yang standar kompetensi dan spesifikasi soalnya disusun oleh sekolah serta ujian praktiknya diberikan dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing muatan lokal.
3
Studi ini tidak akan membahas mata ujian nasional yang diberikan oleh sekolah. Studi ini hanya akan membahas hasil ujian bidang studi bahasa Indonesia yang diberikan secara nasional untuk daerah pelaksanaan Provinsi Jawa Barat dan faktor-faktor yang mempengaruhi daya serap materi soal oleh siswa SMP/MTs dan SMA/MA.
Oleh karena itu, dari kenyataan ini penulis berpendapat bahwa saat ini diperlukan penyempurnaan pelaksanaan UAN dengan model yang lebih dapat diterima oleh berbagai pihak, dapat mengakomodasi keragaman daerah, namun tetap menjaga mutu pendidikan dengan memperhatikan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini sejalan dengan pendapat Cohen (1994: 22-23), yang mengatakan bahwa ujian bahasa dapat digunakan untuk mengevaluasi teori dan praktik ujian bahasa, dan mengembangkan teori tentang belajar bahasa dan penggunaan bahasa.
Kedua, pada tataran teoretis, terdapat juga kesenjangan antara
perkembangan ilmu bahasa dan ilmu pengajaran/pembelajaran bahasa dengan praktiknya di lapangan. Ilmu bahasa dalam lima puluh tahun terakhir telah menunjukkan perkembangan yang pesat, tetapi penerapannya dalam evaluasi pencapaian hasil belajar bahasa siswa masih belum sesuai dengan kepesatan perkembangannya (Suyata, 1996). Agustien (2004) mengatakan bahwa pengajaran bahasa selama ini – yang sekarang masih menggunakan pendekatan struktural-komunikatif – seyogianya sudah menggunakan pendekatan literasi sesuai dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Metode dan pendekatan yang paling menonjol dalam pengajaran bahasa yang sekarang masih sering digunakan adalah pendekatan struktural yang berfokus pada penggunaan bahasa tulis. Kesenjangan antara teori dan praktik ini dapat dijelaskan dalam bahasan singkat tentang perkembangan studi tentang bahasa berikut ini.
5
bahasa berbasis model-model dialog. Sesuai dengan perkembangan psikologi behavioristik pada masanya, kegiatan belajar bahasa menggunakan latihan-latihan (drill) dan pengulangan-pengulangan agar penggunaan bahasa menjadi tepat.
Pendekatan struktural ini juga masih banyak digunakan pada era tahun 1960-1980an, apalagi setelah Chomsky menolak psikologi behavioristik yang mengakibatkan tujuan pengajaran bergeser dari menanamkan kebiasaan berbahasa ke arah upaya menggunakan seluruh potensi kognitif siswa dalam berbahasa. Kegiatan belajar diarahkan pada kegiatan membangkitkan potensi itu dan melakukan transformasi pemakaiannya sesuai dengan kebutuhan berbahasa. Karena pendekatan Chomsky ini berdasarkan hasil penelitian dalam bidang sintaksis (1957), pengajaran bahasa terfokus pada tataran sintaksis.
Pendekatan struktural-komunikatif inilah yang sebagian besar masih menjadi dasar penyusunan soal-soal UAN 2004. Hal ini ditandai oleh adanya unsur-unsur bahasa yang diujikan secara terpisah (discrete) dan tataran yang diujikannya lebih kecil (atomistic) daripada kalimat (misalnya pengujian tentang fonem dan morfem). Jenis ujian ini banyak dilakukan karena hasil ujiannya mudah untuk dikuantifikasi, butir tesnya juga lebih luas cakupannya (meliputi berbagai tataran dan keterampilan bahasa), dan terutama pelaksanaannya lebih efisien (Weir, 1990).
Weir menyebutkan bahwa kelemahan yang menonjol dari pendekatan psikometrik-struktural ini antara lain adalah bahwa ujian ini tidak terlalu memperhatikan interaksi antarunsur bahasa dalam konteks komunikasi yang lebih luas karena ujiannya dilakukan secara terpisah-pisah. Pendekatan ini tidak efektif karena bagian penting dari bahasa itu akan hilang jika dianalisis secara terpisah. Pendekatan ini lebih banyak menguji kompetensi gramatikal yang secara nyata bukanlah prediktor yang baik untuk keterampilan komunikasi. Pendekatan ini juga bersifat artifisial karena tidak menguji performansi kebahasaan dalam situasi nyata.
Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa saat ini diperlukan pergeseran pendekatan dalam pendidikan bahasa dan evaluasi akhir pembelajarannya, dari pendekatan struktural-komunikatif pada pendekatan literasi.
Ketiga, sebagai implikasi dari perkembangan ilmu bahasa tersebut, setelah
7
secara teknis lebih bermakna kompetensi wacana, pendekatan baru – yang dikenal sebagai pendekatan literasi – lebih mendorong siswa untuk lebih sadar akan tujuan berkomunikasi dengan menggunakan berbagai genre serta lebih dalam mempelajari aspek sosial-budaya penggunaan bahasa. Dalam pendekatan ini, belajar bahasa adalah belajar menciptakan berbagai tipe wacana sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
Menurut Kern (2000: 16-17), literasi dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu dari sudut pandang linguistik, kognitif, dan sosial-budaya. Dalam konteks pendidikan bahasa, Kern mengatakan bahwa penggunaan teks dalam berbagai kesempatan yang bermakna itu terikat situasi, baik secara sosial, historis, maupun kultural. Seseorang dikatakan memiliki tingkat literasi yang tinggi apabila ia mampu menghubungkan antara teks dan konteks serta melakukan refleksi yang kritis terhadap hubungan tersebut.
Dalam pendekatan literasi, kurikulum pendidikan bahasa lebih berbasis wacana sebagai perkembangan dari kurikulum bahasa dalam pendekatan sebelumnya, yaitu pendekatan struktural dan pendekatan komunikatif. Salah satu model yang akan dikemukakan dalam penelitian ini adalah model yang digagas oleh Celce-Murcia et al. (1995; 2001). Menurut mereka, bahasa adalah sarana komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Dengan demikian, kompetensi berbahasa harus dapat menyampaikan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa dan turut berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai kompetensi komunikatif.
Kompetensi berbahasa yang dimaksud adalah kompetensi wacana (discourse competence), yaitu kemampuan seseorang berkomunikasi, baik secara lisan maupun
merupakan kemampuan gabungan dari kompetensi pendukungnya, yaitu (1) kompetensi linguistik yang meliputi kemampuan menggunakan tata bahasa, kosa kata, ejaan, ucapan, intonasi, dan tanda baca; (2) kompetensi tindak bahasa, yaitu kemampuan untuk menguasai empat keterampilan utama dalam berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis; (3) kompetensi sosial budaya, yaitu kemampuan untuk mengetahui latar belakang sosial dan budaya tempat bahasa itu tumbuh dan berkembang; dan (4) kompetensi strategi, yaitu kemampuan untuk menggunakan berbagai cara apabila untuk memudahkan penggunaan bahasa atau untuk mengatasi kesulitan yang muncul pada waktu berkomunikasi.
Model kompetensi di atas didasarkan pada model bahasa sebagai sistem semiotik sosial (Halliday, 1978). Menurut pandangan ini, ketika seseorang berpikir tentang bahasa, minimal ada dua aspek penting yang harus diperhitungkan, yakni teks dan konteks. Teks atau wacana tidak dapat berdiri sendiri, tetapi berada di dalam lingkup situasi tertentu yang melibatkan siapa yang berinteraksi, menggunakan jalur komunikasi yang mana, dan topik pembicaraannya tentang apa. Semua itu membangun register atau penggunaan unsur-unsur bahasa tertentu yang berbeda dari satu situasi ke situasi yang lainnya. Situasi itu juga terikat dalam suatu budaya tertentu (culturally-bound) yang menghasilkan perpaduan unsur bahasa dan budaya yang idiosinkretik atau unik.
Kern (2000: 304) menyimpulkan adanya perbedaan di antara tiga kategori besar pendekatan dalam pendidikan bahasa, yaitu pendekatan struktural, pendekatan komunikatif, dan pendekatan literasi dalam tabel berikut ini.
B
B
9
TabelB1B
PerbedaanBPendekatanBStruktural,BKomunikatif,BdanBLiterasiB
dalamBPendidikanBBahasaB
StrukturalB KomunikatifB LiterasiB
Mengetahui (knowing) Mengerjakan (doing) Mengerjakan dan merefleksi
berdasarkan pengetahuan
(doing and reflecting on doing in terms of knowing)
Pengetahuan tentang bahasa
(usage)
Penggunaan bahasa (use) Keduanya (usage/use relation)
Bentuk bahasa (language
forms)
Fungsi bahasa (language
function)
Keduanya (form-function
relation) Pencapaian pengetahuan
tentang bahasa (achievement
i.e. display of knowledge)
Kemampuan fungsional
untuk berkomunikasi
(functional ability to communicate)
Kemampuan berkomunikasi
dengan wajar yang
didorong oleh kesadaran
metakomunikatif
(communicative
appropriateness informed by metacommunicative awareness)
Kern (2000: 304) Dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya yang lebih mengutamakan isi (content), pendekatan literasi ini lebih mengutamakan kompetensi proses. Menurut Sukamto (2005), konsep ujian nasional seyogianya beralih dari kompetensi content ke proses sejalan dengan perubahan metode pembelajaran yang berbasis kompetensi.
Keempat, pada kenyataannya, pendekatan literasi ini telah diterapkan dalam
berbagai survey internasional, seperti yang digunakan dalam Program for International Student Assessment (PISA). PISA adalah studi yang diselenggarakan
dunia, yaitu The Netherlands National Institute for Educational Measurement (Belanda), Educational Testing Service dan Westat (Amerika Serikat), dan National Institute for Educational Research (Jepang). Pelaksanaan PISA dikoordinasikan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan diikuti oleh 42
negara, termasuk Indonesia. Hasil studi PISA digunakan untuk membandingkan pencapaian siswa suatu negara-peserta dengan negara lainnya dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Pada tahun 2000 dilakukan studi PISA dengan fokus perhatian pada literasi membaca, sedangkan tahun 2003 lebih fokus pada literasi matematika. Menurut rencana pada tahun 2006 akan dilakukan studi PISA dengan fokus pada literasi sains. Literasi membaca akan diteliti kembali pada tahun 2009 mendatang.
Dari hasil studi itu, literasi membaca siswa Indonesia dapat diketahui sangat rendah dibandingkan dengan siswa seusia mereka yang ada di negara lainnya. Literasi itu meliputi keterampilan menemukan informasi, memahami dan menafsirkan bacaan, serta melakukan refleksi dan evaluasi terhadap apa yang dibaca. Dari 42 negara itu, siswa Indonesia menduduki peringkat ke-39 dengan rata-rata nilai 371, sedikit di atas Albania (349) dan Peru (327). Peringkat satu sampai sepuluh diduduki oleh siswa dari Finlandia (546), Kanada (534), New Zealand (529), Australia (528), Irlandia (527), Hong Kong-China (525), Korea (525), Inggris (523), Jepang (522), dan Swedia (516) (OECD, 2003; Depdiknas, 2004a).
Kelima, pencapaian yang rendah ini rupanya paralel dengan rendahnya nilai
11
(2003), dan 5,79 (2004). Hal yang sama terjadi juga pada jenjang SMA IPA (masing-masing 5,56; 5,74; 5,34; 5.84; dan 5,60), SMA IPS (5,00; 5,05; 4,67; 5,43; dan 4,93), dan SMA Bahasa (4,75; 5,33; 5,06; 4,80; dan 4,66) untuk lima tahun terakhir.
Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas dan dengan melihat pencapaian literasi siswa Indonesia yang tidak memuaskan pada studi internasional di atas dengan hasil ujian nasional yang juga rendah dan cenderung menurun dalam lima tahun terakhir serta masih digunakannya pendekatan struktural-komunikatif dalam penyusunan soal UAN 2004 telah menarik perhatian penulis untuk meneliti lebih jauh tentang UAN 2004, khususnya materi soal UAN dan daya serap siswa terhadap materi soal tersebut.
B
B.BIdentifikasiBMasalahB
Masalah dalam penelitian ini diidentifikasi dari model pelaksanaan tes bahasa dalam pendekatan pendidikan literasi. Model yang paling relevan untuk
penelitian ini adalah model PISA yang menguji siswa SMP kelas III dan SMA kelas I. Untuk melihat ujian kemampuan dari perspektif yang lebih luas sebagai perbandingan terhadap hasil UAN 2004 ini maka survey PISA akan dibahas secara lebih mendalam untuk mengetahui kerangka ujian dan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan survey ini.
Selain program PISA, program lain yang berkaitan dengan pengujian literasi adalah PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), sebuah studi internasional tentang literasi membaca untuk jenjang sekolah dasar yang diselenggarakan oleh IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) dan akan dilaksanakan di Indonesia pada tahun 2006. PIRLS
bacaan dengan cara melibatkan anak-anak itu dalam proses membaca, baik membaca di sekolah maupun di rumah, yaitu kemampuan membaca cerita/karya sastra dan membaca untuk memperoleh dan menggunakan informasi. Ada empat jenis proses membaca yang dinilai, yaitu mencari informasi yang dinyatakan secara eksplisit, menarik kesimpulan secara langsung, menginterpretasikan dan mengintegrasikan gagasan dan informasi, dan menilai dan menelaah isi bacaan, penggunaan bahasa, dan unsur-unsur teks. Setiap pertanyaan dalam studi dirancang untuk menguji salah satu proses kemampuan membaca tersebut (Mullis et al., 2005).
PISA dipilih sebagai bahan perbandingan karena beberapa hal berikut ini. Pertama, siswa yang diuji dalam PISA adalah juga siswa yang berada dalam sistem
dan jenjang pendidikan yang sama, yaitu siswa SMP/MTs dan SMA/MA. Kedua, PISA juga menguji mata pelajaran yang sama; salah satunya adalah kemampuan membaca. Ketiga, sesuai dengan topik penelitian ini, pembahasan mendalam akan dilakukan hanya untuk aspek literasi membaca karena pembandingnya adalah mata ujian bahasa Indonesia dalam UAN 2004. Dan keempat, ini alasan yang sifatnya lebih pribadi, penulis sendiri ikut serta dalam mempersiapkan suatu laporan nasional (national report) untuk PISA 2000 dan ikut meneliti tingkat kesulitan soal yang diberikan dalam PISA, khususnya untuk soal-soal literasi membaca.
13
memberikan deskripsi terhadap materi soal itu berdasarkan keempat aspek di atas dan dihubungkan dengan daya serap siswa terhadap soal tersebut.
Dari hasil analisis dan deskripsi di atas, diajukan suatu model ujian nasional berdasarkan pendekatan literasi yang diharapkan dapat memberikan alternatif dan perspektif baru dalam evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia.
B
C.BRumusanBMasalahB
Seperti telah dikemukakan di atas, studi ini akan membahas struktur soal dan daya serap materi soal mata pelajaran bahasa Indonesia oleh siswa SMP/MTs dan SMA/MA di Provinsi Jawa Barat pada UAN 2004. Studi ini menggunakan
perspektif literasi dalam menganalisis materi soal UAN tersebut, yaitu analisis faktor struktur soal, jenis wacana yang diujikan, kompetensi yang terdapat dalam masing-masing soal, dan konteks wacana yang ada dalam materi soal. Studi ini juga meneliti perbedaan antara daya serap materi soal yang tinggi dan yang
rendah pada siswa di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.
Penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan berikut ini. 1. Masalah yang berkaitan dengan hasil umum UAN 2004 di Jawa Barat.
Bagaimanakah hasil umum UAN 2004 di Jawa Barat, sebagai sampel penelitian untuk model ujian nasional ini, dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia?
2. Masalah yang berkaitan dengan struktur, jenis, kompetensi-proses, dan konteks soal UAN.
a. Apakah soal UAN menggunakan struktur soal berkelanjutan (continuous text) dan soal tidak berkelanjutan (non-continuous text)?
b. Apakah soal UAN menggunakan berbagai jenis tipe teks (genre), baik yang berbentuk tekstual maupun nontekstual?
1) Apakah soal UAN mengandung kompetensi-proses dalam mencari dan menemukan informasi (retrieving information)?
2) Apakah soal UAN mengandung kompetensi-proses dalam mengembangkan makna yang diperoleh dari informasi yang ditemukannya serta membuat inferensi dengan menggunakan satu atau lebih informasi?
3) Apakah soal UAN mengandung kompetensi-proses dalam melakukan refleksi dan evaluasi terhadap isi wacana sekaitan dengan pengalaman sehari-hari, pengetahuan yang sudah didapat sebelumnya, dan pengembangan gagasan dari informasi yang diperolehnya?
d. Apakah soal UAN memuat konteks yang berhubungan dengan beberapa kepentingan berikut ini.
1) Apakah soal UAN mengandung konteks yang bersifat pribadi? 2) Apakah soal UAN mengandung konteks pendidikan?
3) Apakah soal UAN mengandung konteks pekerjaan?
4) Apakah soal UAN mengandung konteks yang bersifat umum?
3. Masalah yang berkaitan dengan daya serap materi UAN bidang studi bahasa Indonesia.
a. Materi soal mana yang memiliki daya serap yang tinggi untuk tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kabupaten dan kota di Jawa Barat?
b. Materi soal mana yang memiliki daya serap yang rendah untuk tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kabupaten dan kota di Jawa Barat?
c. Struktur, jenis, kompetensi, dan konteks soal yang mana yang memiliki daya serap yang tinggi dan rendah untuk tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kabupaten dan kota di Jawa Barat?
4. Masalah yang berkaitan dengan model evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA.
15
B
D.BDefinisiBOperasionalB
Untuk menghindari ketaksaan dalam memahami beberapa konsep dalam studi ini, penulis merasa perlu untuk menjelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam judul disertasi dalam uraian berikut ini.
Pengembangan model yang dimaksud dalam studi ini adalah pengembangan model hipotetik berdasarkan tahap analisis terhadap model yang ada – dalam hal ini model ujian nasional tahun 2004 dan model ujian dalam PISA 2000, tahap kajian terhadap hasil ujian nasional dalam bentuk analisis terhadap daya serap soal UAN 2004, dan tahap konstruksi terhadap model teoretis (Miller, 1991: 52) berdasarkan kajian dan perbandingan tersebut. Pada dasarnya pengembangan model ini adalah modifikasi dari proses penelitian dan pengembangan (research and development) seperti yang dikemukakan oleh Borg & Gall (1979: 772). Sebelum dilakukan pengembangan model, Borg & Gall menyarankan dilakukannya penelitian deskriptif terhadap model yang ada. Dalam studi ini, model yang dikaji itu adalah model UAN 2004 dan model PISA 2000 yang akan diperikan secara lebih rinci sesuai dengan pertanyaan penelitian dalam studi ini.
menangani teks tertulis (literacy) dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, literasi ini berkaitan dengan tiga parameter, yaitu konten berupa pengetahuan tentang seluk-beluk kebahasaan, proses – atau ’kemampuan berpikir’ dalam istilah Kern di atas, dan konteks – dalam istilah Kern ’lingkungan sosial dan budayanya’.
Dalam studi ini, untuk mengkaji model soal UAN 2004 digunakan teknik analisis isi (content analysis), salah satu teknik penelitian untuk memerikan pesan komunikasi secara objektif, sistematik, dan kuantitatif (Flournoy, 1992: 9). Berdasarkan analisis ini, diharapkan akan didapat deskripsi tentang konten, proses, dan konteks materi soal, yaitu struktur soal dalam UAN, jenis tipe wacana (genre) yang digunakan, kompetensi yang diujikan, dan konteks materi soal yang diberikan.
Konten yang dimaksud dalam studi ini berkaitan dengan kompetensi berbahasa yang merupakan kemampuan gabungan dari kompetensi pendukungnya, yaitu kompetensi linguistik yang meliputi kemampuan menggunakan tata bahasa, kosa kata, ejaan, ucapan, intonasi, dan tanda baca; kompetensi tindak bahasa (keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis); kompetensi sosial budaya yang mencakup pengetahuan tentang sosial dan budaya; kompetensi pembentuk wacana yang mencakup pengetahuan tentang koherensi dan kekohesifan wacana; dan kompetensi strategi untuk mengatasi kesulitan berkomunikasi (Celce-Murcia et al., 1995; 2001). Dengan demikian, parameter untuk menganalisis materi soal dari sudut konten ini dibatas pada empat aspek, yaitu aspek pengetahuan kebahasaan, pembentuk wacana, sosial-budaya, dan strategi komunikasi.
Struktur soal dalam studi ini adalah struktur wacana berkelanjutan (continuous texts) dan wacana tidak berkelanjutan (non-continuous texts) yang terdapat dalam soal
17
wacana yang terdiri atas rangkaian kalimat yang diatur dalam paragraf dalam bentuk deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi atau injungsi; sementara wacana tidak berkelanjutan adalah wacana yang dirancang dalam format matrik, termasuk di dalamnya pengumuman, grafik, gambar, peta, skema, tabel, dan aneka bentuk penyampaian informasi.
Jenis soal dalam penelitian ini adalah jenis wacana yang diberikan dalam setiap soal, baik yang bersifat tekstual dalam bentuk deskripsi, narasi, eksposisi, dan argumentasi; maupun jenis nontekstual dalam bentuk grafik, gambar, peta, skema, dan tabel.
Kompetensi atau kompetensi-proses dalam studi ini adalah kompetensi siswa dalam memproses wacana yang ada dalam soal yang menunjukkan tiga parameter, yaitu kemampuan mencari dan menemukan informasi (retrieving information), kemampuan mengembangkan makna yang diperoleh dari informasi yang ditemukannya serta membuat inferensi menggunakan satu atau lebih informasi, dan kemampuan melakukan refleksi dan evaluasi terhadap isi wacana dalam kaitannya dengan pengalaman sehari-hari, pengetahuan yang sudah didapat sebelumnya, dan pengembangan gagasan dari informasi yang diperolehnya
Konteks soal dalam penelitian ini didefinisikan sebagai konteks isi atau materi soal yang berkaitan dengan tujuan penyusunan wacana, baik dilihat dari sudut pengarang maupun kepentingan umum. Konteks ini dibatasi hanya pada empat konteks, yaitu apakah soal itu membahas konteks wacana untuk kepentingan pribadi, kepentingan umum, kepentingan bekerja, dan kepentingan pendidikan. (OECD, 2003; Depdiknas, 2004a).
2004 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah serta Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah untuk Program Studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa, dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Data yang ada dikelompokkan dan diuraikan serta diperbandingkan, baik untuk tingkat nasional, antarpaket yang diberikan pada tingkat provinsi Jawa Barat, dan antarkabupaten dan kota untuk mendalami perbedaan pencapaian siswa di masing-masing kabupaten/kota di Jawa Barat. Nilai yang diperbandingkan adalah nilai rata-rata untuk masing-masing soal yang diberikan.
Daya serap siswa terhadap materi soal ujian bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal siswa maupun faktor eksternal. Sehubungan objek penelitian ini adalah hasil ujian akhir nasional yang penyelenggaraannya dilakukan pada akhir tahun pelajaran maka penelitian terhadap faktor internal siswa menjadi sulit dilakukan karena para siswa itu sudah tidak lagi berada pada jenjang pendidikannya. Oleh karena itu, yang paling rasional adalah penelitian terhadap faktor eksternal siswa, yaitu faktor-faktor materi soal dan pengelolaan ujiannya.
Penelitian yang berhubungan dengan daya serap ini dibatasi pada empat parameter utama yang menjadi dasar penyusunan soal seperti disebutkan di atas, yaitu struktur, jenis, kompetensi, dan konteks soal dengan mengadopsi bentuk soal yang diselenggarakan oleh OECD/Unesco (2003). Parameter lainnya dalam pelaksanaan pengelolaan ujian dibatasi pada pembagian soal berdasarkan paket soal, yaitu Paket-1, Paket-2, dan Paket-3. Masing-masing paket soal itu ditetapkan berdasarkan kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi berdasarkan usulan dari Dinas Kabupaten/Kota di Jawa Barat.
19
siswa di kabupaten/kota di Jawa Barat (Depdiknas, 2004a). Setiap butir soal dalam UAN 2004 memuat pengetahuan dan proses berpikir siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia yang diujikan serta mengandung kompetensi yang telah disusun sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam Kurikulum. Materi soal ini diambil dari bahan ajar pada tahun pertama, kedua, dan ketiga untuk masing-masing jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA. Dari 60 butir soal yang diberikan, dapat diketahui materi mana yang paling dikuasai oleh para peserta UAN 2004 dan materi mana saja yang tidak dapat dikerjakan. Data daya serap ini diurutkan dan diklasifikasikan sesuai dengan tujuan penelitian untuk mengetahui status masing-masing.
PISA 2000 adalah singkatan dari Programme for Internasional Students Assessment yang merupakan survey yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan
Nasional dan dilaksanakan pada tahun 2000 berdasarkan model dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sebagai koordinator survey
internasional ini. Data yang dikumpulkan dalam PISA terdiri atas tiga kelompok besar, yaitu kelompok pengetahuan, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah. Data yang diperoleh dari kelompok pengetahuan adalah data kemampuan aspek membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam sebagaimana terdapat di dalam kurikulum sekolah (curriculum focused) serta bersifat lintas unsur di dalam kurikulum (cross-curricular elements).
perbedaan dalam hal jenis soal yang diberikan, tingkat kesulitan yang ditentukan, tipe wacana yang diujikan, sampai pada jenis pertanyaan yang diajukan.
E.BTujuanBdanBManfaatBPenelitianB
1.
TujuanB
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memerikan hasil Ujian Akhir Nasional Tahun 2004 Bidang Studi Bahasa Indonesia, khususnya menganalisis materi soal dan daya serap peserta ujian terhadap materi yang diberikan dalam UAN 2004 untuk wilayah pelaksanaan ujian di Provinsi Jawa Barat, serta mengajukan model teoretis ujian bidang pendidikan bahasa Indonesia dalam pendekatan literasi.
Secara lebih khusus, penelitian ini bertujuan:
a. memperoleh gambaran umum tentang hasil umum UAN 2004 dan hasil UAN bidang studi bahasa Indonesia untuk pelaksanaan UAN di Jawa Barat;
b. memperoleh deskripsi tentang struktur soal dalam UAN, jenis tipe wacana (genre) yang digunakan, kompetensi yang diujikan, dan konteks materi soal yang diberikan;
c. mendapatkan perbandingan daya serap peserta ujian pada tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kabupaten/kota di Jawa Barat; d. mendapatkan model ujian bahasa berdasarkan pendekatan literasi sebagai
alternatif evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia.
2.
ManfaatB
21
materia ujian akhir nasional bidang studi bahasa Indonesia. Temuan ini akan bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis bagi pihak-pihak.
Secara teoretis, studi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan konseptual dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi suatu ujian nasional dalam perspektif pendidikan literasi, khususnya konsep-konsep pendidikan literasi dalam bidang studi bahasa Indonesia. Para ahli dan teoretisi evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dapat mengembangkan temuan empiris ini untuk meningkatkan mutu pendidikan bahasa Indonesia, khususnya mutu ujian bahasa Indonesia di masa yang akan datang.
Secara praktis, para pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan baik di tingkat Provinsi Jawa Barat maupun di tingkat Kabupaten/Kota dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk melihat apakah kebijakannya selama ini, khususnya dalam pendidikan bahasa Indonesia, telah memberikan hasil sebagaimana dapat dilihat dari nilai rata-rata pencapaian siswa dalam UAN ini. Berdasarkan pemerian dan hasil analisis ini dapat diteliti lebih jauh lagi faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa tersebut, apakah yang berkaitan dengan input pendidikan (misalnya, raw-input, para siswanya sendiri) sumberdaya manusianya (misalnya, mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya), proses belajar mengajar, infrastruktur (misalnya, kelengkapan sarana pembelajaran) dan berbagai faktor lainnya yang mempengaruhi kemampuan siswa.
Demikian pula para perancang kurikulum pendidikan bahasa Indonesia diharapkan dapat merancang kurikulum yang lebih kreatif dan inovatif dengan becermin pada hasil UAN 2004. Kurikulum 2004 yang akan diberlakukan itu menuntut program turunannya yang lebih kontekstual sesuai dengan pengalaman belajar siswa serta berbasis literasi (literacy-based teaching and learning process), sehingga setelah siswa belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar, siswa dapat berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat literasinya
23
paling dikuasai dan kompetensi mana yang sangat kurang dipahami oleh para siswa.
Dan terakhir, penulis buku pelajaran dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan mutu penulisannya, terutama dalam pemilihan materi yang harus disampaikan, dalam penyajian materi yang lebih inovatif dan lebih memberdayakan kemampuan siswa sendiri, serta dalam aspek keterbacaan bukunya agar materi yang disampaikannya itu dapat dipahami dengan mudah oleh para pembacanya. Melalui analisis terhadap daya serap terhadap masing-masing butir soal yang telah ditentukan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa, para penulis buku juga dapat menentukan kompetensi mana yang paling dikuasai sehingga tidak terlalu banyak waktu dan bahan yang harus diberikan dalam bukunya, serta kompetensi mana yang sangat kurang mendapatkan perhatian dari para siswa sehingga memerlukan teknik penyampaian yang lebih inovatif dan kreatif.
B
F.BPolaBPikirBPenelitianB
Penelitian ini menggunakan model penelitian dalam pendekatan literasi seperti yang dilakukan oleh Mullis et al. (2005) dan OECD (2000/2003) tentangBpenyusunan materi soal PIRLS dan PISA. Model yang dikembangkan dalam bagan di bawah ini
UAN 2004
PISA 2000-2003 PERBANDINGAN
DAN ANALISIS
VARIABELBYANGBDIANALISISB
BERKELANJUTAN TIDAK BERKELANJUTAN TEKSTUAL
NONTEKSTUAL PRIBADI PENDIDIKAN PEKERJAAN UMUM KONTEN PROSES
VARIABEL STRUKTUR SOAL
VARIABEL JENIS SOAL
VARIABEL KONTEKS SOAL
VARIABEL KOMPETENSI SOAL
DAYA SERAP MATERI SOAL
TEORI EVALUASI DAN PEMBELAJARAN
BAHASA
PENDEKATAN LITERASI MODEL EVALUASI
GambarB1B
BABBIIIB
METODEBDANBTEKNIKBPENELITIANB
B
A.BKerangkaBPenelitianB
Dilihit diri sudut keilmuin, penelitiin ini termisuk ke dilim penelitiin
teripin, yiitu peneripin ilmu kebihisiin dilim pengijirin din pembelijirin
bihisi (language teaching and leaening), lebih khusus ligi dilim ujiin
kemimpuin bihisi (language testing). Penelitiin ini menggunikin berbigii
teori ujiin (testing) bihisi din hubunginnyi dengin pengimbilin keputusin
untuk menilii kompetensi din pengetihuin bihisi. Beberipi pendekitin
dilim desiin ujiin bihisi, yiitu pendekitin psikometrik-strukturilisme,
pendekitin sosio-psikolinguistik, pendekitin komunikitif, din pendekitin
literisi, dibicirikin din digunikin untuk menginilisis setiip butir soil ying
diberikin dilim UAN 2004.
Dilim pendekitin literisi, kurikulum pendidikin bihisi lebih berbisis
wicini sebigii perkembingin diri kurikulum bihisi dilim pendekitin
sebelumnyi, yiitu pendekitin strukturil din pendekitin komunikitif. Silih
situ model ying ikin dikemukikin dilim penelitiin ini idilih model ying
digigis oleh Celce-Murcii et al. (1995; 2001) ying mengitikin bihwi bihisi
idilih sirini komunikisi, bukin sekedir seperingkit iturin. Dengin
demikiin, kompetensi berbihisi hirus dipit menyimpiikin kemimpuin
berkomunikisi dengin bihisi din turut berpirtisipisi dilim misyirikit
pengguni bihisi.
Kompetensi berbihisi dilim pendekitin ini lebih mengutimikin
berkomunikisi biik seciri lisin miupun tertulis dilim sebuih peristiwi
komunikisi. Kompetensi ini bersifit ibstrik din merupikin kemimpuin
gibungin diri kompetensi pendukungnyi, yiitu kompetensi linguistik ying
meliputi kemimpuin menggunikin titi bihisi, kosi kiti, ucipin, intonisi,
din tindi bici; kompetensi tindik bihisi (actional competence), yiitu
keterimpilin menyimik, berbiciri, membici, din menulis; kompetensi
sosio-kulturil, yiitu pengetihuin tenting sosiil-budiyi; din kompetensi stritegi
untuk mengitisi kesulitin berkomunikisi. Oleh kireni itu, dipit dikitikin
jugi bihwi penelitiin ini beridi dilim keringki ilmu kewiciniin (discouese
analysis).
Penelitiin ini bertujuin untuk memerikin hisil (output) suitu proses
pendidikin pidi sekolih menengih di Indonesii, yikni hisil UAN 2004 khusus
untuk biding studi bihisi Indonesii dengin menginilisis miteri soil din diyi
serip peserti ujiin terhidip miteri ying diberikin dilim UAN 2004 untuk
wiliyih peliksiniin ujiin di Provinsi Jiwi Birit. Berdisirkin hisil pemeriin
din inilisis ini, penulis berhirip dipit menyusun konsep-konsep eviluisi
pembelijirin bihisi Indonesii berdisirkin pendekitin literisi.
Oleh kireni itu, dilihit diri jenis penelitiinnyi, penelitiin ini jugi
termisuk ke dilim penelitiin eviluisi (evaluation eeseaech) ying bertujuin
untuk mengeviluisi suitu fenomeni sosiil ying merekomendisikin perbiikin
pidi suitu progrim tertentu, dilim hil ini progrim UAN 2004.
Dilim penelitiin eviluisi, peneliti dipit menggunikin biik metode
deskriptif miupun metode konvensionil liinnyi ying sesuii dengin
permisilihin ying seding diteliti din dipit menjiwib pertinyiin ipikih
117
menurut Miller (1991: 90), metode kuilititif lebih memungkinkin din binyik
digunikin oleh piri peneliti kireni lebih murih, mudih dikerjikin, din wiktu
pengerjiinnyi lebih singkit.
Sesuii dengin sifit penelitiin din ketersediiin diti dilim penelitiin
ini, studi ini lebih difokuskin pidi peliksiniin progrim UAN 2004 ying sudih
berjilin tetipi progrimnyi sendiri misih ikin terus diliksinikin untuk
tihun-tihun ying ikin diting, serti inilisis terhidip pencipiiin din dimpik diri
UAN 2004 tersebut.
Penelitiin eviluisi dimulii diri suitu visi itiu nilii tertentu, ipikih
nilii itu tersurit itiupun tersirit ying kemudiin menentukin rumusin tujuin
ying ingin dicipii. Berdisirkin tujuin ying telih ditetipkin, disusun kriterii
untuk mengukur pencipiiin tujuin tersebut ying dipit berupi blue-peint itiu
kisi-kisi itiu bentuk liinnyi. Diri sinilih suitu progrim direncinikin dengin
mengicu pidi tujuin ying telih ditetipkin. Tihip berikutnyi idilih
peliksiniin progrim din disusul dengin kegiitin eviluisi. Berdisirkin
eviluisi progrim kemudiin dipit diidentifikisi din disusun kembili nilii-nilii
biru ying merupikin pengembingin diri nilii-nilii limi. Proses ini bersifit
rekursif din bersinimbungin.
Berkiitin dengin penelitiin ini, biik visi miupun tujuin ying ingin
dicipii dilim peliksiniin UAN 2004 telih ditetipkin sesuii dengin
Keputusin Menteri Pendidikin Nisionil Nomor 135/U/2003 sebigii disir
peliksiniin UAN 2004. Berdisirkin keputusin itu, kemudiin disusun kriterii
dilim bentuk kisi-kisi ying dipit mengukur kemimpuin siswi dilim
mengerjikin soil dilim biding bihisi Indonesii. Kisi-kisi ini ditetipkin oleh
Pendidikin Nisionil. Kisi-kisi ini kemudiin menjidi icuin formil dilim
penyusunin miteri soil UAN 2004 dilim biding bihisi Indonesii. Sejilin
dengin pendipit Suchmin di itis, lingkih berikutnyi idilih peliksiniin
UAN 2004, peliporin hisil Uin 2004, din disusul oleh eviluisi terhidip
peliksiniin UAN 2004.
B.BMetodeBPenelitianB
Sesuii dengin miksud din tujuin penelitiinnyi, metode ying ikin digunikin
dilim penelitiin ini idilih metode deskriptif inilitis, yiitu metode penelitiin
ying bertujuin untuk memerikin suitu fenomeni seciri inilitis, sistemitis,
fiktuil, din teliti (Isiic, 1982: 442). Dengin menggunikin metode deskriptif
inilitis ini, penelitiin ini dihiripkin dipit memerikin struktur, jenis, konteks,
din kompetensi soil serti hisil UAN 2004 biding studi bihisi Indonesii untuk
sekolih menengih di Indonesii, mendeskripsikin din menginilisis diyi serip
miteri soil oleh siswi di kibupiten din Koti di Jiwi Birit, memberikin
gimbirin tenting tingkit kompetensi siswi sebigiimini dipit dilihit diri
penguisiin miteri UAN 2004, menyusun konsep-konsep eviluisi pembelijirin
berdisirkin perbindingin dengin ujiin serupi pidi titirin internisionil,
yiitu perbindingin UAN 2004 dengin PISA 2000.
Penelitiin ini tidik diirihkin untuk menguji hipotesis, tetipi untuk
mengetihui seciri empiris tenting fikti itiu keidiin seciri sistemitis din
ikurit mengenii miteri soil din diyi seripnyi dilim UAN 2004, sesuii
dengin pendipit Ary & Rizvich (1985) ying mengitikin bihwi tujuin
119
viriibel itiu kondisi-kondisi sesuitu ying nyiti, sehinggi dipit diketihui
tenting stitus objek ying ditelitinyi.
B
C.BTeknikBPenelitianB
Penelitiin ini menggunikin dokumen soil din diti hisil UAN 2004 serti
dokumen PISA 2000 sebigii diti primer, sehinggi diperlukin teknik penelitiin
dilim bentuk kompilisi din minipulisi diti (Miller, 1991: 118), terutimi
untuk inilisis hisil umum UAN din diyi serip miteri soil UAN. Diti soil
din hisil UAN 2004 serti PISA 2000 itu diperoleh diri Pusit Peniliiin
Pendidikin, Bidin Penelitiin din Pengembingin Pendidikin, Depirtemen
Pendidikin Nisionil.
Untuk inilisis miteri soil, digunikin teknik inilisis isi (content analysis),
silih situ teknik penelitiin untuk memerikin pesin seciri objektif din
sistemitik (Flournoy, 1992: 9). Berdisirkin inilisis ini, dihiripkin ikin
didipit deskripsi tenting struktur soil dilim UAN, jenis tipe wicini (genee)
ying digunikin, kompetensi ying diujikin, din konteks miteri soil ying
diberikin.
Untuk menginilisis struktur din jenis wicini dilim soil digunikin
teknik inilisis dilim PISA (OECD, 2003), yiitu inilisis struktur berkelinjutin
(continuous texts) din tidik berkelinjutin (non-continuous texts). Seperti telih
dijeliskin di itis, wicini berkelinjutin idilih jenis wicini ying terdiri itis
ringkiiin kilimit ying diitur dilim pirigrif dilim bentuk deskripsi, nirisi,
eksposisi, irgumentisi itiu injungsi; sementiri wicini tidik berkelinjutin
idilih wicini ying dirincing dilim formit mitrik, termisuk di dilimnyi
Dilim menginilisis kompetensi-proses pemihimin terhidip biciin
digunikin teknik untuk menginilisis tigi proses membici, yiitu inilisis
kemimpuin menciri din menemukin informisi, kemimpuin mengembingkin
mikni din menifsirkin isi biciin, din kemimpuin melikukin refleksi din
eviluisi terhidip isi biciin dilim kiitinnyi dengin pengilimin sehiri-hiri,
pengetihuin ying sudih didipit sebelumnyi (peioe knowledge), din
pengembingin gigisin diri informisi ying diperolehnyi
Soil-soil ying berhubungin dengin konteks wicini ikin diinilisis diri
empit konteks, yiitu konteks pribidi, umum, kepentingin bekerji, din
kepentingin pendidikin.
Sebigii litir beliking peliksiniin UAN di Jiwi Birit, digunikin diti
hisil umum UAN bihisi Indonesii ying diurutkin diri provinsi ying
mendipitkin nilii riti-riti tertinggi din menurun pidi provinsi dengin nilii
riti-riti terendih. Pengurutin din menimpilin dilim bentuk grifik dilikukin
dengin menggunikin Miceosoft Office Excel 2003 ying seciri otomitis dipit
melikukin operisi sesuii dengin kebutuhin. Diri grifik ying dibuit seciri
otomitis itu dipit dilihit kecenderungin perolehin nilii riti-riti diri
mising-mising provinsi, sehinggi dipit ditirik simpulin tenting provinsi ying lebih
unggul dibindingkin dengin provinsi liinnyi. Diri diti ying idi dipit
diketihui kedudukin provinsi Jiwi Birit dilim peti perbindingin
intirprovinsi di seluruh Indonesii.
Anilisis dilikukin terhidip diyi serip miteri soil UAN 2004 Biding
Studi bihisi Indonesii di Jiwi Birit din dilikukin dengin menguriikin diti
hisil UAN 2004 pidi jenjing Sekolih Menengih Pertimi din Midrisih
121
Studi Ilmu Pengetihuin Alim, Bihisi, din Ilmu Pengetihuin Sosiil. Diti ying
idi dikelompokkin din diuriikin serti dibindingkin, biik untuk tingkit
nisionil, intirpiket ying diberikin pidi tingkit provinsi Jiwi Birit, din
intirkibupiten din koti untuk mendilimi perbediin pencipiiin siswi di
mising-mising kibupiten/koti di Jiwi Birit. Nilii ying diperbindingkin
idilih jugi nilii riti-riti untuk mising-mising soil ying diberikin.
Diyi serip miteri soil di sini dimiksudkin sebigii kemimpuin siswi
untuk mengerjikin setiip butir soil ying diberikin dilim UAN 2004 ini. Diri
60 butir soil ying diberikin, dipit diketihui miteri mini ying piling dikuisii
oleh piri peserti UAN 2004 din miteri mini siji ying tidik dipit dikerjikin.
Diti diyi serip ini diurutkin din diklisifikisikin sesuii dengin tujuin
penelitiin untuk mengetihui stitus mising-mising. Diri keenim puluh soil itu,
diimbil sepuluh soil ying piling menonjol, biik soil ying mendipitkin nilii
terbiik ying menunjukkin tingkit diyi serip ying tinggi, miupun soil ying
piling sulit untuk diserip oleh siswi.
Diti diri PISA 2000 digunikin untuk perbindingin tenting miteri ujiin
bihisi di dunii internisionil ying menggunikin pendekitin literisi sebigii
disir penyelenggiriinnyi; sehinggi dipit dikemukikin pembiruin konsep
dilim peliksiniin UAN Biding Studi bihisi Indonesii pidi tihun-tihun
menditing ying merupikin model UAN Biding Studi bihisi Indonesii. Diti
PISA 2000 ini diperikin kembili din dibindingkin dengin diti UAN 2004
untuk mendipitkin inti perbediin dilim hil jenis soil ying diberikin, tingkit
kesulitin ying ditentukin, tipe wicini ying diujikin, simpii pidi jenis
D.BSumberBDataB
Sumber diti utimi berisil diri Pusit Peniliiin Pendidikin, Bidin Penelitiin
din Pengembingin Pendidikin, Depirtemen Pendidikin Nisionil. Diti itu
berupi hisil penghitungin seciri nisionil terhidip peliksiniin UAN 2004 di
seluruh Indonesii. Diti itu memiliki tingkit keibsihin ying tinggi din dipit
dipertinggungjiwibkin kebenirinnyi kireni diperoleh diri Pusit Diti di
Pusit Peniliiin Pendidikin, Bidin Penelitiin din Pengembingin Pendidikin,
Depirtemen Pendidikin Nisionil. Diti itu diperoleh sesuii dengin izin diri
Kepili Pusit Peniliiin Pendidikin sejilin dengin tugis ying diberikin kepidi
penulis untuk menyusun liporin nisionil (national eepoet) tenting UAN 2004
din menginilisisnyi.
Untuk melihit perbindingin hisil UAN 2004 intirprovinsi digunikin
tibel hisil nilii riti-riti seciri nisionil untuk ketigi miti ujiin untuk jenjing
pendidikin SMP/MTs, yiitu bihisi Indonesii, bihisi Inggris, din Mitemitiki.
Demikiin puli untuk jenjing SMA/MA Progrim IPA, Bihisi, din IPS,
mising-mising digunikin tibel nilii riti-riti untuk miti ujiin bihisi Indonesii,
bihisi Inggris, din Mitemitiki (IPA), bihisi Indonesii, bihisi Inggris, din
bihisi Asing (Bihisi), din bihisi Indonesii, bihisi Inggris, din Ekonomi
(IPS). Di dilim tibel tersebut dipit diperoleh jugi diti tenting stitus sekolih
(negeri itiu swisti), jumlih sekolih, jumlih peserti, jumlih siswi ying lulus,
persentise kelulusin untuk mising-mising provinsi, din nilii gibungin negeri
din swisti, serti nilii totil pencipiiin untuk ketigi miti ujiin. Dengin
demikiin, untuk deskripsi tenting perbindingin pencipiiin mising-mising
123
bihisi Indonesii, serti kiitinnyi dengin tingkit kelulusin peserti ujiin,
digunikin diti diri tibel ini ying dipit diperiksi dilim Limpirin.
Diti tenting kisi-kisi soil ying diujikin dilim UAN 2004 diperoleh diri
diftir kisi-kisi ying memuit pokok bihisin ying diujikin, kipin pokok
bihisin ying diujikin itu diberikin dilim proses pembelijirin di kelis, din
keteringin ying menjeliskin pokok bihisi tersebut. Mising-mising soil
memuit ketigi komponen ying menyigi kemimpuin mengerjikin soil bigi
piri peserti ujiin. Diti tenting diyi serip terhidip mising-mising soil seciri
nisionil diperoleh diri diti ying simi ying disertii dengin nilii riti-riti
ying diperoleh piri peserti seciri nisionil. Diti tersebut, biik untuk
SMP/MTs miupun SMA/MA dipit dilihit dilim limpirin tenting Kisi-kisi
din Diyi serip Nisionil.
Diti tenting diyi serip siswi di provinsi Jiwi Birit diperoleh diri diti
perbindingin diyi serip itiu nilii riti-riti untuk mising-mising soil untuk
setiip kibupiten din koti. Diti ini memuit nimi kibupiten/koti, jumlih
peserti ujiin, nilii riti-riti untuk mising-mising soil, nilii riti-riti nisionil,
biik untuk SMP/MTs miupun SMA/MA untuk ketigi progrim studi (IPA, IPS,
din Bihisi). Diti untuk SMP/MTs dipit dilihit dilim limpirin tenting diyi
serip bihisi Indonesii SMP/MTs, sedingkin diti untuk SMA/MA terdipit
dilim limpirin tenting diyi serip bihisi Indonesii SMA/MA.
E.BPopulasiBdanBSampelBPenelitianB
Populisi penelitiin ini idilih niskih soil din peserti Ujiin Nisionil miti
pelijirin bihisi Indonesii tihun 2004. Niskih soil ini terdiri itis soil
terbigi itis soil untuk Piket-1, Piket-2, din Piket-3. Menurut Pusit Peniliiin
Pendidikin sebigii penyelenggirin ujiin nisionil ini, ketigi piket soil itu
memiliki tingkit kesulitin ying simi din disusun berdisirkin kisi-kisi ying
simi, sehinggi setiip butir soil pidi mising-mising piket soil itu menguji
kompetensi ying simi dengin tingkit kesulitin ying jugi simi. Keseluruhin
niskih soil ini diinilisis struktur soilnyi. Dengin demikiin, simpel penelitiin
tenting struktur soil ini idilih jugi populisi penelitiin ini.
Untuk penelitiin tenting diyi serip siswi terhidip soil ying diberikin,
populisi penelitiinnyi idilih seluruh peserti UAN 2004. Jumlih peserti UAN
SMP din MTs seluruh Indonesii sebinyik 4.754.225 oring siswi terdiri itis
3.999.877 oring peserti SMP din 754.348 oring peserti MTs. Adipun jumlih
peserti UAN SMA din MA sebinyik 2.229.788 oring siswi terdiri itis
1.017.490 oring peserti SMA din 211.298 oring peserti MA.
Diri keseluruhin peserti UAN 2004 itu, peserti diri Jiwi Birit
dijidikin sebigii simpel penelitiin ini kireni lokisi penelitiin din domisili
peneliti jugi di Jiwi Birit sehinggi memudihkin peneliti untuk
mengumpulkin diti ying diperlukin. Jumlih peserti UAN SMP/MTs di Jiwi
Birit idilih 460.058 oring, terdiri itis 359.534 oring siswi SMP (negeri din
swisti) din 100.524 oring siswi MTs (negeri din swisti). Peserti UAN 2004 itu
tersebir di 25 kibupiten/koti ying idi di Jiwi Birit din dikelompokkin
125
TabelB3.1B
PengelompokanBPaketBSoalBdanBJumlahBPesertaBSMP/MTsBdiBJawaBBarat
No.B Kota/KabupatenB SMPB MTsB PaketB PesertaB PaketB PesertaB
1. Kib Bogor 01 29463 01 13295
2. Kib Ciinjur 01 13519 01 4132
3. Koti Cirebon 01 4816 01 727
4. Kib Kuningin 01 10632 01 3118
5. Kib Purwikirti 01 7749 01 1658
6. Kib Sumeding 01 11543 01 1696
7. Koti Bindung 01 30102 03 1856
8. Kib Bindung 01 37422 02 7039
9. Koti Tisikmiliyi 01 6294 01 1550
10. Koti Cimihi 01 5452 01 650
11. Koti Binjir 01 1819 01 490
12. Koti Depok 02 12721 02 2790
13. Koti Sukibumi 02 3731 02 550
14. Kib Cirebon 02 18402 02 7071
15. Kib Subing 02 13584 02 2846
16. Kib Bekisi 02 16667 02 7160
17. Kib Ciimis 02 13209 02 5210
18. Kib Girut 02 19398 02 6731
19. Koti Bogor 03 12088 03 1644
20. Kib Sukibumi 03 14463 03 6987
21. Kib Indrimiyu 03 13598 03 6502 22. Kib Mijilengki 03 10144 03 3221
23. Kib Kiriwing 03 18992 03 3514
24. Koti Bekisi 03 22157 03 4130
25. Kib Tisikmiliyi 03 11569 03 5957 Paket-1 01 158811 01 27316 Paket-2B 02 97712 02 39397 B Paket-3B 03 103011 03 33811 B JumlahBPesertaBB B 359.534B B 100.524B
B B B 460.058B
B
B
Jumlih peserti UAN jenjing pendidikin SMA din MA di Jiwi Birit
idilih 164.298 oring ying terdiri itis 136.946 oring siswi SMA din 27.352
oring siswi MA. Peserti UAN itu terbigi itis 54.121 oring siswi SMA IPA,
79.933 oring siswi SMA IPS, din 2.892 oring siswi SMA Bihisi. Demikiin
puli untuk peserti MA, siswi ying mengikuti UAN 2004 sebinyik 5.764
oring siswi MA IPA, 29.679 oring siswi IPS, din 909 oring siswi MA Bihisi.
peserti UAN 2004 di 25 kibupiten/koti di Jiwi Birit sebigii simpel
penelitiin ini.
TabelB3.B2B
PengelompokanBPaketBSoalBdanBJumlahBPesertaBSMA/MABdiBJawaBBaratB
No.B NamaBKotaB PaketB SMA MA
IPA IPS BHS IPA IPS BHS
1. Koti Bindung 01 9634 11628 262 295 823 91
2. Kib Mijilengki 01 913 2391 200 121 651
3. Koti Bogor 01 3497 4358 18 179 644 34
4. Koti Binjir 01 185 368
5. Koti Bekisi 01 4484 5685 39 173 780 55
6. Kib Tisikmiliyi 01 778 1862 126 439 1322 103
7. Kib Kiriwing 01 2673 2867 26 202 577
8. Kib Sukibumi 01 1410 2408 272 225 1474 197
9. Kib Indrimiyu 01 1741 2447 63 193 661
10. Koti Cirebon 02 1465 2136 54 116 365
11. Kib Sumeding 02 1278 2370 118 17 277 23
12. Kib Kuningin 02 1056 2751 117 222 424 39
13. Koti Tisikmiliyi 02 1678 2128 40 274 588 39 14. Kib Purwikirti 02 713 1720 113 77 494
15. Koti Cimihi 02 1562 2004 16
16. Kib Ciinjur 02 1452 2475 337 369 1020 97
17. Kib Bogor 02 2702 4968 114 388 2098 7
18. Kib Ciimis 03 1491 2406 100 256 936 28
19. Kib Girut 03 3008 3551 116 508 1576 1
20. Koti Depok 03 1508 2600 32 104 391 16
21. Koti Sukibumi 03 1089 1294 25 149 297
22. Kib Subing 03 1482 2396 42 110 507
23. Kib Bindung 03 4283 7310 575 304 2018 78
24. Kib Cirebon 03 1765 3224 87 742 1775 101
25. Kib Bekisi 03 2274 2586 B 301 981 B
Paket-1 01 25.315 34.014 1.006 1.827 6.932 480 Paket-2B 02 11.906 20.552 909 1.463 5.266 205 B Paket-3B 03 16.900 25.367 977 2.474 8.481 224 B JumlahBPesertaBB B 54.121B 79.933B 2.892B 5.764B 20.679B 909B
B B B 136.946B 27.352B
B B B 164.298B
B
F.BTeknikBAnalisisBDataB
Untuk menginilisis miteri soil dilikukin inilisis miteri soil untuk ke-60 soil,
mising-mising soil SMP/MTs, SMA/MA Progrim IPA din IPS, din SMA/MA
Progrim Bihisi. Soil ying diinilisis dengin demikiin berjumlih 180 soil.
Anilisis difokuskin pidi struktur teks soil, jenis teks ying diberikin, konteks
miteri/isi soil, din kompetensi-proses ying diujikin. Dengin mengicu pidi
127
dideskripsikin, sehinggi diperoleh gimbirin tenting keidiin soil UAN 2004
dilim keempit ispek ying menjidi fokus penelitiin ini.
Berkiitin dengin diyi serip soil, inilisis jugi dilikukin terhidip
kisi-kisi soil ying diujikin dilim UAN 2004 ying diperoleh diri diftir kisi-kisi-kisi-kisi
ying memuit pokok bihisin ying diujikin, kipin pokok bihisin ying
diujikin itu diberikin dilim proses pembelijirin di kelis, din keteringin ying
menjeliskin pokok bihisi tersebut. Kisi-kisi soil ini diurutkin berdisirkin
tingkit kesulitin din diyi serip seciri nisionil din dikelompokkin untuk
mengetihui sub-biding miteri ujiin bihisi Indonesii pidi UAN 2004 ini.
Untuk melihit perbindingin hisil UAN 2004 intirprovinsi, tibel nilii
riti-riti seciri nisionil untuk jenjing pendidikin SMP/MTs, yiitu bihisi
Indonesii, bihisi Inggris, din Mitemitiki, diinilisis berdisirkin
kecenderungin din perbindingin biik intirmiti pelijirin miupun intirjenis
pendidikin. Demikiin puli untuk jenjing SMA/MA Progrim IPA, Bihisi, din
IPS, mising-mising diinilisis berdisirkin tibel nilii riti-riti untuk miti ujiin
bihisi Indonesii, bihisi Inggris, din Mitemitiki (IPA), bihisi Indonesii,
bihisi Inggris, din bihisi Asing (Bihisi), din bihisi Indonesii, bihisi
Inggris, din Ekonomi (IPS). Seperti telih dikemukikin, di dilim tibel tersebut
dipit diperoleh jugi diti tenting stitus sekolih (negeri itiu swisti), jumlih
sekolih, jumlih peserti, jumlih siswi ying lulus, persentise kelulusin untuk
mising-mising provinsi, din nilii gibungin negeri din swisti, serti nilii totil
pencipiiin untuk ketigi miti ujiin. Untuk perbindingin intirprovinsi ini,
diti nilii riti-riti untuk ketigi miti ujiin itu diklisifikisikin, diurutkin, din
diinilisis berdisirkin kecenderungin provinsi ying menduduki peringkit
teritis simpii peringkit terbiwih. Perbindingin itu tidik siji untuk