Perlindungan Hukum dan Tanggung Jawab Pegawai Bank terhadap Data Nasabah Dikaitkan Prinsip Kerahasiaan Bank Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

45 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DAN TANGGUNGJAWAB PEGAWAI BANK DIKAITKAN PRINSIP KERAHASIAAN BANK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN DAN UNDANG-UNDANG NOMOR

30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG. ABSTRAK

Perbankan di Indonesia yang berasaskan demokrasi ekonomi dengan fungsi utamanya sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Bank merupakan lembaga keuangan yang eksistensinya tergantung mutlak pada kepercayaan dari para nasabahnya yang mempercayakan dana simpanan mereka pada bank. Berdasarkan peraturan perundang-undangan perbankan dan prinsip kerahasiaan dalam suatu bank, rahasia bank berhubungan dengan keuangan dan hal lain dari nasabah bank yang menurut kelaziman dunia perbankan wajib dirahasiakan. Dalam suatu bank sering terjadi pertukaran database nasabah antara pegawai bank satu dengan pegawai bank lainnya. Terdapat pelanggaran peraturan perundang-undangan perbankan yang dilakukan oleh pegawai bank dalam menjaga kerahasiaan data nasabah yang merupakan objek rahasia dagang suatu bank dan dituntut tanggung jawab hukum suatu bank kepada pegawai bank terhadap kerahasiaan data nasabah.

Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang dan pendekatan konseptual dengan lebih mengacu pada bahan hukum primer (yaitu Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang dan Kitab Undang-Undang-Undang-Undang Hukum Perdata) dan bahan hukum sekunder. Data-data yang digunakan dianalisis cara analisis kualitatif dengan pola pikir logika deduktif, yaitu pola pikir untuk menarik kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis bahwa pelanggaran pembocoran rahasia bank berupa data nasabahnya dikarenakan kegiatan perbankan yang dilaksanakan oleh salah satu Bank Swasta tidak sesuai dengan hak nasabah dan kewajiban Bank seperti yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap manusia selalu berusaha untuk memenuhi

kebutuhan di dalam hidupnya. Hal ini merupakan dorongan fitrah yang

mutlak dan tidak bisa dihilangkan dari diri setiap manusia. Dalam

kehidupan sosial kemasyarakatan, manusia adalah makhluk yang

senantiasa bergantung dan terikat serta saling membutuhkan kepada yang

lain. Secara naluriah, manusia saling tolong menolong demi tercapainya

sebuah cita-cita yang diharapkan bersama. Salah satu dalam kegiatan

usaha manusia yaitu sarana perekonomian yang terdapat di dalam setiap

negara. Berdasarkan tujuan nasional yang tertuang di dalam alinea

keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu membentuk suatu

pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan

kesejahteraan umum.

Hal ini tidak dapat disangkal bahwa dalam mencapai tujuan

pembangunan nasional yaitu untuk mewujudkan masyarakat adil dan

makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tujuan

itu sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia yang terdapat dalam

(7)

1. “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

2. Memajukan kesejahteraan umum. 3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.

4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan bagi

sistem ekonomi Pancasila, yang lebih dikenal dengan demokrasi ekonomi,

konstitusi ekonomi tersebut terlihat pada materi, yang berbunyi :

1. “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

3. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian Indonesia diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. 5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam

undang-undang.”

Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 ini merupakan salah satu

dasar sistem perekonomian di Indonesia. Sistem perekonomian ini

termasuk tata cara untuk mengatur perilaku masyarakat dalam melakukan

kegiatan ekonomi untuk meraih suatu tujuan. Salah satu lembaga

perekonomian di Indonesia yang menangani masalah ini yaitu lembaga

keuangan yang mempunyai wewenang dari pemerintah. Lembaga

keuangan yang berada di Indonesia ini termasuk salah satu badan hukum

(8)

dalam bidang ekonomi. Salah satu badan usaha di Indonesia yang sangat

berperan yaitu bank.

Keterkaitan antara Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dan bank

yaitu bahwa bank sangat berperan penting dalam saran perekonomian

masyarakat. Masyarakat modern sekarang sudah tidak awam lagi untuk

mengenal bank dan fungsi karena peran bank sebagai sarana

perekonomian tidak hanya terpaku pada satu fungsi, fungsi lainnya yang

ada di dalam suatu bank sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Karena pada

zaman era globalisasi sekarang, fasilitas dan kenyaman yang bank berikan

terhadap nasabah itulah yang dibutuhkan para nasabah dan calon nasabah

untuk kenyamanan pelayanannya.

Seperti halnya, di dalam Pasal 23 Undang-Undang Dasar 1945

yang menjelaskan kedudukan dan khususnya fungsi bank yaitu,

1. “ Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat

2. Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah

3. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.”

Berdasarkan penjelasan Pasal 23 Undang-Undang Dasar 1945 ini

sudah jelas, bahwa Bank adalah salah stau lembaga keuangan yang diberi

(9)

akan transaksi ekonomi pada masa sekarang ini cukup tinggi. Salah satu

penyedia layanan jasa transaksi ekonomi adalah bank. Makin maraknya

persaingan di dunia perbankan, menyebabkan berbagai strategi dilakukan

oleh pihak bank dalam rangka menarik minat masyarakat untuk dijadikan

nasabah. Penyedia layanan jasa transaksi ekonomi seperti bank semakin

berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan yang baik kepada

masyarakat. Bank merupakan suatu lembaga yang lahir karena fungsinya

sebagai Agent of trust dan agent of development. Pengertian yang

dimaksud sebagai Agent of trust adalah suatu lembaga perantara

(intermediary) yang dipercaya untuk melayani segala kebutuhan keuangan

dari dan untuk masyarakat. Sedangkan sebagai Agent of development,

bank adalah suatu lembaga perantara yang dapat mendorong kemajuan

pembangunan melalui fasilitas kredit dan kemudahan-kemudahan

pembayaran dan penarikan dalam proses transaksi yang dilakukan oleh

para pelaku ekonomi. Di Indonesia, pengembang tertinggi atas dua fungsi

di atas terletak pada Bank Indonesia selaku Bank Sentral dan bank-bank

umum seiring dengan kebutuhan pelayanan transaksi ekonomi bagi

masyarakat, industri perbankan telah mengalami perubahan besar. Industri

ini menjadi lebih kompetitif. Saat ini, bank memiliki fleksibilitas pada

layanan yang mereka tawarkan, lokasi tempat mereka beroperasi, dan tarif

yang mereka bayar untuk simpanan deposan. Hal ini membawa pada

semakin bervariasinya produk-produk bank.1

1Setyani Alfinuha, Peran Per ankan Bagi Masyarakat , , (http;//setyani 4. o

(10)

Perbankan merupakan salah satu faktor utama pembangunan

ekonomi di Indonesia. Setiap masyarakat memerlukan lembaga perantara

keuangan khususnya bank yang menjadi salah satu lembaga/badan usaha

yang mengandalkan kepercayaan. Bank dapat memberikan kenyamanan

fasilitasnya bagi masyarakat yang mempunyai kelebihan dana dalam

bentuk simpanan, bank dapat menyalurkan dananya untuk masyarakat

yang memerlukan dan membutuhkan dana dalam bentuk pinjaman, serta

melayani dan memperlancar kebutuhan pembiayaan masyarakat di dalam

sektor perekonomian.

Perbankan di Indonesia yang berasaskan demokrasi ekonomi

dengan fungsi utamanya sebagai penghimpun dana dan penyalur dana

masyarakat, memiliki peranan yang strategis untuk menunjang

pelaksanaan pembangunan nasional, dalam rangka meningkatkan

pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan

stabilitas nasional, ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Sebagai

salah satu motor penggerak pengembangan bangsa, lembaga perbankan

mempunyai peran yang sangat strategis karena bank mempunyai fungsi

sebagai sarana intermediasi. Bank diharapkan dapat menyerasikan,

menyelaraskan, dan menyeimbangkan unsur pemerataan pembangunan

dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional yang

pada akhirnya mengarah kepada peningkatan taraf hidup masyarakat

banyak.

(11)

Bank merupakan lembaga keuangan yang eksistensinya tergantung

mutlak pada kepercayaan dari para nasabahnya yang mempecayakan dana

simpanan mereka pada bank. Oleh karena itu bank sangat berkepentingan

agar tingkat kepercayaan masyarakat, yang telah maupun yang akan

menyimpan dananya, terpelihara dengan baik dalam tingkat yang tinggi.

Mengingat bank adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem

pembayaran, yang masyarakat luas berkepentingan atas kesehatan dari

sistem-sistem tersebut, sedangkan kepercayaan masyarakat kepada bank

merupakan unsur paling pokok dari eksistensi suatu bank, maka

terpeliharaya kepercayaan masyarakat kepada perbankan adalah

kepentingan masyarakat banyak.

Bank sebagai lembaga intermediasi, memiliki fungsi sebagai

perantara keuangan. Dalam peranannya tersebut, terdapat hubungan antara

bank dan nasabah didasarkan pada dua unsur yang saling terkait, yaitu

hukum dan kepercayaan. Suatu bank hanya dapat melakukan kegiatan dan

mengembangkan banknya, apabila masyarakat “percaya” untuk

menempatkan uangnya dalam produk-produk perbankan yang ada pada

bank tersebut. Berdasarkan kepercayaan masyarakat tersebut, bank dapat

memobilisasi dana dari masyarakat untuk ditempatkan di banknya dan

menyalurkan kembali dalam bentuk kredit serta memberikan jasa-jasa

perbankan.2

2

(12)

Pelayanan dan etika pemasaran produk jasa bank harus dilakukan

dengan baik dan benar sehingga mendapat simpati dan menarik bagi

masyarakat calon nasabah bank yang bersangkutan. Apabila pelayanan

dan etika bank dilakukan dengan baik dan benar maka pemasaran

produknya diharapkan akan berhasil baik pula. Jika masyarakat simpati,

akan menimbulkan kepercayaan sehingga pemasaran produk jasa bank itu

akan lebih lancar. Pelayanan dan etika juga merupakan daya penarik bagi

(calon) nasabah untuk menjadi nasabah, serta tidak menimbulkan

persaingan yang tidak sehat antar sesama bank. Lebih lanjut salah satu

faktor yang memperngaruhi kadar kepercayaan masyarakat kepada bank

adalah terjamin atau tidaknya rahasia nasabah yang ada di bank.3

Berdasarkan peraturan perundang-undangan perbankan dan prinsip

kerahasiaan dalam suatu bank, rahasia bank merupakan segala sesuatu

yang berhubungan dengan keuangan dan hal-hal lain dari nasabah bank

yang menurut kelaziman dunia perbankan wajib dirahasiakan. Rumusan

delik rahasia bank tersebut telah diubah dengan rumusan yang baru,

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat 1 dari Undang-Undang No. 10

tahun 1998 tentang Perbankan yang berbunyi sebagai berikut : bank wajib

merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya,

kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 41 A,

Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, dan Pasal 44 A. Prinsip kerahasiaan bank ini

3

(13)

diatur dalam Pasal 40 sampai dengan Pasal 47 A Undang-Undang No. 10

Tahun 1998 tentang Perbankan.

Bank wajib merahasiakan keterangan mengenai nasabah

penyimpan dan simpanannya, kecuali dalam hal :4

1. “adanya perintah tertulis dari pimpinan Bank Indonesia dalam rangka perpajakan agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak.

2. adanya izin dari pimpinan Bank Indonesia kepada pejabat Badan Piutang dan Lelang Negara/Panitia Urusan Piutang Negara, untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan nasabah debitur

3. adanya izin dari pimpinan Bank Indonesia kepada Polisi, Jaksa, atau Hakim sehubungan dengan kepentingan peradilan untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan tersangka atau terdakwa pada bank

4. terjadinya perkara perdata antara bank dengan nasabah yang bersangkutan, direksi bank yang bersangkutan dapat menginformasikan kepada pengadilan tentang keadaan keuangan nasabah yang bersangkutan dan memberikan keterangan lain yang relevan dengan perkara tersebut

5. dalam rangka tukar menukar informasi, direksi bank dapat memberitahukan keadaan keuangan nasabahnya kepada bank lain dalam rangka tukar menukar informasi antar bank yang bertujuan untuk memperlancar dan mengamankan kegiatan usaha bank, antara lain guna mencegah kredit rangkap serta mengetahui keadaan dan status dari suatu bank yang lain. Dengan demikian bank dapat menilai tingkat risiko yang dihadapi, sebelum melakukan suatu transaksi dengan nasabah atau dengan bank lain.

6. adanya permintaan, persetujuan, atau kuasa dari nasabah penyimpan yang dibuat secara tertulis. Bank wajib memberikan keterangan mengenai simpanan nasabah penyimpan pada bank yang bersangkutan kepada pihak yang ditunjuk oleh nasabah penyimpan tersebut atas permintaan, persetujuan, atau kuasa ( secara tertulis ) dari nasabah penyimpan.”

4

(14)

Data nasabah termasuk salah satu kerahasiaan bank yang tidak

boleh diketahui oleh umum dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Pengaturan ini terdapat di dalam Pasal 1 angka (1) Undang-Undang

Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang dijelaskan bahwa rahasia

dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang

teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna

dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia

Dagang. Lingkup perlindungan rahasia dagang meliputi metode produksi,

metode pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang

teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui

oleh masyarakat umum. Suatu informasi dianggap bersifat rahasia apabila

informasi tersebut hanya diketahui oleh pihak tertentu atau tidak diketahui

secara umum oleh masyarakat. Kemudian suatu informasi dianggap

memiliki nilai ekonomi apabila sifat kerahasiaan informasi tersebut dapat

digunakan untuk menjalankan kegiatan atau usaha yang bersifat komersial

atau dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi.

Data pribadi nasabah mudah sekali berpindah tangan, baik secara

sengaja maupun tidak sengaja tanpa sepengetahuan orang yang

bersangkutan. Kondisi ini mencemaskan karena banyak kejadian yang

telah merugikan nasabah. Seperti kasus bank swasta besar yang berada di

Singapura, salah seorang pegawai bank dipecat karena membocorkan data

87 nasabah. Data itu berupa nama, alamat surat elektronik dan kekayaan.

(15)

produk yang mengaku bagian pemasaran perbankan dan asuransi yang

mengetahui nama dan nomor telepon selular calon nasabah yang bertujuan

untuk meningkatkan reputasi, pangkat dan gajinya tanpa memikirkan kode

etik mereka sebagai bankir.5

Permasalahan yang timbul saat ini yaitu pertukaran data nasabah

(database) dalam suatu bank dapat atau sering terjadi antara pegawai bank

satu dengan pegawai bank lainnya. Hal tersebut bertentangan dengan

peraturan yang sudah dicantumkan di dalam Undang-Undang Perbankan

yang menyatakan bahwa bank memberikan keterangan dan

memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan

keuangan Nasabah Penyimpan tertentu, hanya untuk kepentingan

perpajakan, Pimpinan Bank Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan

dan kepada pejabat pajak.

Berdasarkan prinsip kerahasiaan bank terdapat pelanggaran

peraturan perundang-undangan perbankan yang dilakukan oleh pegawai

bank dalam menjaga kerahasiaan data nasabah merupakan objek rahasia

dagang suatu bank, oleh karena itu, dituntut tanggung jawab hukum suatu

bank kepada pegawai bank terhadap kerahasiaan dana nasabah. Untuk

menghindari pelaggaran-pelanggaran yang timbul dari penerapan rahasia

bank ini dan untuk mewujudkan rasa aman bagi nasabah yang terlah

mempercayai bank maka seluruh kegiatan bank juga harus mendapatkan

pengawasan dari semua aparat penegak hukum.

5

(16)

Berdasarkan latar belakang ini Penulis tertarik untuk membahas

beberapa topik yaitu hubungan kontraktual antara bank dan nasabah dan

tanggung jawab bank dalam menjaga rahasia data nasabah, data nasabah

dapat dikategorikan rahasia dagang yang dilindungi dalam rezim Haki

( Hak Kekayaan Intelektual ) dan penggunaan data nasabah, dan tanggung

jawab korporasi dan pegawai bank dalam menjaga data nasabah dengan

pihak ketiga dikaitkan Undang-Undang Perbankan. Adapun Judul skripsi

yang serupa dengan uraian ini yaitu “ Perlindungan Hukum Terhadap

Nasabah Bank Berkaitan Dengan Menjaga Rahasia Bank “ yang dibuat

oleh salah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang

bernama Ayu Endah Damastuti tahun 2008. Perbedaan yang terdapat

dalam skripsi ini dengan skripsi yang dibuat oleh mahasiswa Fakultas

Hukum Universita Indonesia tersebut yaitu antara lain memfokuskan

kepada hukum perlindungan konsumen sedangkan skripsi yang penulis

buat ini lebih mengacu kepada Hukum Kekayaan Intelektual. Secara garis

besar, skripsi yang serupa ini membahas juga mengenai masalah-masalah

bank dalam prakteknya. Dengan demikian penulis skripsi ini tertarik untuk

mengambil materi mengenai data nasabah sebagai rahasia dagang dan

tanggung jawab pegawai bank berdasarkan prinsip kerahasiaan bank. Oleh

karena itu penulis pengambil judul TINJAUAN YURIDIS DATA

NASABAH DAN TANGGUNG JAWAB PEGAWAI BANK

DIKAITKAN DENGAN PRINSIP KERAHASIAAN BANK

(17)

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7

TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang dirumuskan beberapa masalah yang

akan penulis bahas, yaitu :

1. Bagaimana hubungan kontraktual antara bank dan nasabah dan

kewajiban bank menjaga rahasia data nasabah ?

2. Apakah data nasabah dapat dikategorikan rahasia dagang yang

dilindungi dalam rezim Haki dan bagaimana penggunaan data nasabah

yang dilakukan oleh pihak bank ?

3. Bagaimana tanggung jawab korporasi dan pegawai bank dalam

menjaga data nasabah dengan pihak ketiga dikaitkan dengan

Undang-Undang Perbankan ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penulis terhadap data nasabah suatu bank yang merupakan

tanggung jawab pegawai bank adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui hubungan kontraktual antara bank dan nasabah dan

kewajiban bank menjaga rahasia data nasabah.

2. Untuk mengetahui data nasabah termasuk rahasia dagang atau tidak

(18)

3. Untuk mengetahui dan menggambarkan pertanggung jawaban

korporasi pegawai bank dalam menjaga data nasabah dengan pihak

ketiga di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perbankan

D. Kegunaan Penelitian

Manfaat penulisan tentang data nasabah suau bank yang

merupakan tanggung jawab pegawai bank adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum

pada umumnya, serta memberikan manfaat bagi mahasiswa ataupun

mereka yang sedang melakukan penelitian dalam bidang perbankan

khususnya mengenai data nasabah sebagai salah satu kerahasiaan

bank, juga memberi manfaat bagi penulis untuk mendapatkan

pengetahuan dan wawasan atau pengalaman baru

2. Manfaat Praktis

Guna mengembangkan penalaran dan pembentukan pola pikir yang

dinamis sekaligus mengetahui kemampuan berpikir penulis dalam

menerapkan ilmu yang diperoleh. Dan memberikan manfaat sebagai

pengukur data-data sistematis yang dilakukan dalam mengkaji

permasalahan yang ada terkait dengan data nasabah suatu bank yang

merupakan suatu kerahasiaan bank dan tanggung jawab pegawai bank.

(19)

memberi masukan kepada pihak yang membutuhkan pengetahuan

terkait masalah kerahasiaan data nasabah pada suatu bank.

E. Kerangka Pemikiran

1. Kerangka Teoritis

Penulis menggunakan salah satu teori yaitu teori pembangunan

hukum yang dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmadja untuk

menganalisa skripsi ini bahwa hukum adalah sarana pembangunan

yaitu sebagai alat pembaharuan dan pembangunan masyarakat yang

merupakan alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat.

Mengingat fungsinya, sifat hukum pada dasarnya adalah konservatif.

Artinya hukum bersifat memelihara dan mempertahankan yang telah

tercapai. Selain itu hukum harus dapat membantu proses perubahan

pembangunan masyarakat.6

Teori hukum pembangunan Mochtar Kusumaatmadja memiliki

pokok-pokok pikiran tentang hukum yaitu:7

a. “ Bahwa arti dan fungsi hukum dalam masyarakat direduksi pada satu hal yakni ketertiban (order) yang merupakan tujuan pokok dan pertama dari segala hukum. Kebutuhan terhadap ketertiban ini merupakan syarat pokok (fundamental) bagi adanya suatu masyarakat yang teratur dan merupakan fakta objektif yang berlaku bagi segala masyarakat manusia dalam segala bentuknya. Untuk mencapai segala ketertiban dalam masyarakat maka diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan antar manusia dalam masyarakat.

6

Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-konsep dalam pembangunan, Bandung: Pusat Studi Wawasan Nusantara Hukum dan Pembangunan, 2002, hlm. 13.

7

Mochtar Kusumaatmadja (et.al.), .Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan, Bandung: Alumni, 2002. Hlm. 1.

(20)

Disamping itu, tujuan lain dari hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan ukurannya, menurut masyarakat dan zamannya.

b. Bahwa hukum sebagai kaidah sosial, tidak berarti pergaulan antara manusia dan masyarakat hanya diatur oleh hukum, namun juga ditentukan oleh agama, kaidah-kaidah kesusilaan, kesopanan, adat kebiasaan, dan kaidah-kaidah lainnya.oleh karenanya, antara hukum dan kaidah-kaidah sosial lainnya terdapat jalinan hubungan yang erat antara yang satu dan lainnya. Namun jika ada ketidaksesuaian antara kaidah hukum dan kaidah sosial, maka dalam penataan kembali ketentuan-ketentuan hukum dilakukan dengan cara yang teratur, baik mengenai bentuk, cara maupun alat pelaksanaannya.

c. Bahwa hukum dan kekuasaan mempunyai hubungan timbal balik, dimana hukum memerlukan kekuasaan bagi pelaksanaannya karena tanpa kekuasaan hukum itu tidak lain akan merupakan kaidah sosial yang berisikan anjuran belaka. Sebaliknya kekuasaan ditentukan batas-batasnya oleh hukum. Secara populer dikatakan bahwa hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kelaziman.

d. Bahwa hukum sebagai kaidah sosial tidak terlepas dari nilai (values) yang berlaku di suatu masyarakat, bahkan dapat dikatakan bahwa hukum itu merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (The living law) dalam masyarakat yang tentunya merupakan pencerminan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri.

e. Bahwa hukum sebagai alah pembaharuan masyarakat artinya hukum merupakan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat. Fungsi hukum tidak hanya memelihara dan mempertahankan dari apa yang telah tercapai, namun fungsi hukum tentunya harus dapat membantu proses perubahan masyarakat itu sendiri. Penggunaan hukum sebagai alat untuk melakukan perubahan-perubahan kemasyarakatan harus sangat berhati-hati agar tidak timbul kerugian dalam masyarakat sehingga harus mempertimbangkan segi sosiologi, antropologo kebudayaan masyarakat.”

Hakikatnya pembangunan hukum meliputi segala hal yang berada

di dalam kehidupan suatu masyarakat. Pembangunan hukum itu sendiri

(21)

masyarakat, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pembangunan hukum

di Indonesia sangat dibutuhkan untuk menciptakan suatu negara yang adil

dan makmur. Pada dasarnya pembangunan hukum wajib diperjuangkan

oleh masyarakat Indonesia untuk mengadakan pembaharuan dan isi dari

ketentuan hukum yang berlaku. Karena terbentuknya hukum di Indonesia

bergantung pada perkembangan masyarakat pada zaman ini.

Teori lainnya yang digunakan dalam kasus ini adalah Teori

Tanggung Jawab Hukum oleh Hans Kelsen. Teori Tanggung Jawab

Hukum ini menegaskan bahwa seseorang bertanggung jawab secara

hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung

jawab hukum, berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi

dalam hal perbuatan yang bertentangan. Kegagalan untuk melakukan

prinsip kehati-hatian yang diharuskan oleh hukum disebut kekhilafan

(negligence) dan kekhilafan biasanya dipandang sebagai satu jenis lain

dari kesalahan (culpa), walaupun tidak sekeras kesalahan yang terpenuhi

karena mengantisipasi dan menghendaki, dengan atau tanpa maksud jahat,

akibat yang membahayakan.8 Hans kelsen selanjutnya membagi tanggung

jawab yang terdiri dari :9

a. “ Pertanggungjawaban individu yaitu seorang individu bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang dilakukan sendiri;

8

Hans Kelsen, Teori Umum dan Negara dan Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif Empiri, Jakarta: Terjemahan Soemardi BEE Media Indonesia, 2007. hlm. 81-83. 9

(22)

b. Pertanggungjawaban kolektif berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain;

c. Pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena sengaja dan diperkirakan dengan tujuan menimbulkan kerugian;

d. Pertanggungjawaban mutlak yang berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan karena tidak sengaja dan tidak diperkirakan.”

Adapun perlindungan hukum yaitu salah satu upaya atau usaha

untuk melindungi masyarakat dari perbuatan melawan hukum yang

berhubungan pula dengan adanya pembangunan hukum. Perlindungan

hukum ini meliputi hak dan kewajiban manusia sebagai subjek hukum

melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan

pelaksanaanya dengan suatu sanksi dan bertujuan untuk dapat memberikan

suatu keadilan, ketertiban, kepastian dan kedamaian.

Perlindungan hukum terhadap nasabah bank sangat terkait dengan

masalah kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. Perbankan

di Indonesia memegang peranan penting sebagai penggerak perekonomian

nasional, baik saat ini maupun masa yang akan datang. Perkembangan

perekonomian nasional di zaman era globalisasi ini bergerak cepat dengan

tantangan yang semakin kompleks. Mengingat bahwa Indonesia

merupakan negara yang berdasarkan atas hukum oleh karena itu perlunya

penyesuaian kebijakan dari pemerintah mengenai masalah perkenomian

nasional khususnya dalam bidang perbankan. Dalam melakukan kegiatan

(23)

langsung dengan prinsip-prinsip hukum publik (hukum perbankan dan

ketentuan lain terkait) dan hukum privat (hukum perdata)

Pada tataran sosiologis bank merupakan sebuah sub sistem hukum.

Sebagai sub sistem hukum maka dalam pelaksanaannya melibatkan tiga

unsur pokok sebagaimana dijelaskan oleh Lawrence M. Friedman dalam

teorinya yaitu :10

a. “ Substansi hukum yaitu menyangkut peraturan yang berkaitan dengan bank dalam hal ini hak-hak nasabah penyimpan dana bila adanya pembobolan rekening nasabah kedua.

b. Struktur hukum yaitu berkaitan dengan pihak-pihak yangberperan dalam penegakkan hukum perbankan masih selalu menemui berbagai kendala di lapangan.

c. Culture hukum yaitu budaya hukum masyarakat terutama para nasabah penyimpan dana dalam hal ini belum sepenuhnya mengetahui akan hak-haknya yang seyoganya secara hukum butuh perlindungan kepastian hukum.”

Adapun teori pertumbuhan hukum ekonomi menurut Walt

Whitmen Rostow (1916 - 1979) yang berkaitan dengan perbankan,

W.W.Rostow mengungkapkan teori pertumbuhan ekonomi dalam bukunya

yang bejudul The Stages of Economic Growth menyatakan bahwa

pertumbuhan perekonomian dibagi menjadi 5 (lima) sebagai berikut:

a. Masyarakat Tradisional (The Traditional Society) ; Merupakan

masyarakat yang mempunyai struktur pekembangan dalam fungsi-fungsi produksi yang terbatas, belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi modern, serta terdapat suatu batas tingkat output per kapita yang dapat dicapai

b. Masyarakat pra kondisi untuk periode lepas landas (the

preconditions for take off) ; Merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi dimana masyarakat sedang berada dalam proses transisi

10

(24)

dan sudah mulai penerapan ilmu pengetahuan modern ke dalam fungsi-fungsi produksi baru, baik di bidang pertanian maupun di bidang industri.

c. Periode Lepas Landas (The take off) ; merupakan interval waktu

yang diperlukan untuk mendobrak penghalang-penghaang pada pertumbuhan yang berkelanjutan, kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi diperluas, tingkat investasi yang efektif dan tingkat produksi dapat meningkat, investasi efektif serta tabungan yang bersifat produktif meningkat atau lebih dari jumlah pendapatan nasional, dan Industri-industri baru berkembang dengan cepat dan industri yang sudah ada mengalami ekspansi dengan cepat.

d. Gerak Menuju Kedewasaan (Maturity) ; Merupakan perkembangan terus menerus daimana perekonoian tumbuh secaa teratur serta lapangan usaha bertambah luas dengan penerapan teknologi modern, investasi efektif serta tabungan meningkat dari 10 % hingga 20 % dari pendapatan nasional dan investasi ini berlangsung secara cepat, output dapat melampaui pertamabahn jumlah penduduk, barang-barang yang dulunya diimpor, kini sudah dapat dihasilkan sendiri, serta tingkat perekonomian menunjukkkan kapasitas bergerak melampau kekuatan industri pad masa take off dengan penerapan teknologi modern

e. Tingkat Konsumsi Tinggi (high mass consumption) ; Sektor-sektor

industri merupakan sektor yang memimpin (leading sector) bergerak ke arah produksi barang-barang konsumsi tahan lama dan jasa-jasa, pendapatn riil perkapita selalu meningkat sehingga sebagian besar masyarakat mencapai tingkat konsumsi yang melampaui kebutuhan bahan pangan dasar, sandang, dan pangan, kesempatan kerja penuh sehingga pendapata nasional tinggi, dan pendapatan nasional yang tinggi dapat memenuhi tingkat konsumsi tinggi”

Saat ini operasional perbankan di Indonesia di atur dalam

Undang-Undang Perbankan (Undang-Undang-Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang

Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10

Tahun 1998), berikut semua ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh

otoritas terkait. Peraturan-peraturan yang terkait dengan kegiatan

perbankan di Indonesia diatur pula oleh Bank Indonesia dan dalam

(25)

2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) beserta peraturan yang

terkait. Demikian pula Undang-Undang No. 7 Tahun 2009 tentang

Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.3 Tahun

2008 tentang Lembaga Penjamin Simpanan ( LPS ) menjadi

Undang-Undang, dan ketentuan-ketentuan pelaksanaannya. Keberlakuan hukum

terhadap suatu lembaga perbankan disesuaikan dengan status lembaga

perbankan yang bersangkutan.11

Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998

tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang

Perbankan yang dimaksud dengan perbankan adalah segala sesuatu yang

menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta

cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya dan terbentuk

suatu lembaga perbankan atas dasar kepercayaan masyarakat atau nasabah

bank. Pihak nasabah merupakan unsur yang sangat berperan di dalam

dunia perbankan, hidup dan matinya dunia perbankan bergantung kepada

kepercayaan dari pihak masyarakat atau nasabah.

Setiap bank mempunyai kewajiban untuk menjamin kerahasiaan

informasi data nasabahnya. Hal ini merupakan prinsip kerahasiaan

mengenai data nasabah yang menyimpan dana di bank tersebut dengan

diatur peraturan perundang-undangan perbankan. Data nasabah di suatu

bank termasuk salah satu objek hukum kekayaan intelektual yaitu rahasia

11

(26)

dagang/rahasia suatu perusahaan karena sebuah informasi yang tidak

diketahui oleh umum dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Selanjutnya dalam Surat Edaran BI No.2/377/UPBB/PbB, tanggal

11 September 1969 tentang Penafsiran Pengertian Rahasia Bank. Dalam

(SE BI) ini disebutkan yang dimaksud dengan keadaan keuangan nasabah

yang tercatat padanya ialah keadaan mengenai keuangan yang tercatat

pada bank yang meliputi segala simpanannya yang tercantum dalam

semua pos-pos pasiva dan segala pos-pos aktiva yang merupakan

pemberian kredit dalam berbagai macam bentuk kepada yang

bersangkutan. Ketentuan untuk menjaga Rahasia Bank berlaku pula

terhadap Pihak Terafiliasi yaitu (a) anggota dewan komisaris, pengawas

direksi atau kuasanya, pejabat, atau karyawan bank, (b) anggota pengurus,

pengawas, pengelola atau kuasanya, pejabat, atau karyawan bank, khusus

bagi bank yang berbentuk hukum koperasi sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, (c) pihak yang memberikan jasanya

kepada bank, antara lain akuntan publik, penilai, konsultan hukum, dan

konsultan lainnya, (d) pihak yang menurut penilian Bank Indonesia turut

serta mempengaruhi pengelolaan bank, antara lain pemegang saham dan

keluarganya, keluarga komisaris, keluarga pengawas, keluarga direksi,

keluarga pengurus.12

12

(27)

Berdasarkan prinsip kerahasiaan bank terkait data nasabah pada

suatu bank yang dikeluarkan oleh pegawai bank yang seharusnya

berdasarkan peraturan perundang-undangan perbankan yaitu prinsip

kehati-hatian. Hal ini dapat dikategorikan sebagai rahasia dagang atau

bukan dan bagaimana tanggung jawab hukum atas kerahasiaan data

nasabah pada suatu bank.

2. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan

antara konsep satu terhadap konsep yang lainya dari masalah yang ingin

diteliti. Kerangka konsep ini gunanya untuk menghubungkan atau

menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topik yang akan dibahas.

Kerangka ini didapatkan dari konsep ilmu / teori yang dipakai sebagai

landasan penelitian yang didapatkan di bab tinjauan pustaka atau kalau

boleh dikatakan oleh penulis merupakan ringkasan dari tinjauan pustaka

yang dihubungkan dengan garis sesuai variabel yang diteliti. Tinjauan

pustaka berisi semua pengetahuan (teori, konsep, prinsip, hukum maupun

proposisi) yang nantinya bisa membantu untuk menyusun kerangka

konsep dan operasional penelitian. Temuan hasil peneliti yang telah ada

sangat membantu dan mempermudah peneliti membuat kerangka

konseptual. Kerangka konseptual diharapkan akan memberikan gambaran

dan mengarahkan asumsi mengenai variabel-variabel yang akan diteliti.

Kerangka konseptual memberikan petunjuk kepada peneliti di dalam

(28)

konseptual yang telah disusun untuk menentukan pertanyaan-pertanyaan

mana yang harus dijawab oleh penelitian dan bagaimana prosedur empiris

yang digunakan sebagai alat untuk menemukan jawaban terhadap

pertanyaan tersebut. Kerangka konseptual diperoleh dari hasil sintesis dari

proses berpikir deduktif (aplikasi teori) dan induktif (fakta yang ada,

empiris), kemudian dengan kemampuan kreatif-inovatif, diakhiri dengan

konsep atau ide baru yang disebut kerangka konseptual. 13

Dalam Kerangka Konseptual penulis memberikan beberapa

definisi operasional sebagai berikut :

a. Pengertian Hukum pada umumnya adalah peraturan-peraturan

tertulis dan tidak tertulis yang memaksa dan menentukan

langkah manusia dalam lingkungan masyarakat dimana

peraturan tersebut dibuat oleh pemerintah.

b. Pengertian data adalah sekumpulan informasi yang diolah dari

keadaan nyata.

c. Pengertian nasabah adalah seseorang ataupun badan usaha

(korporasi) yang mempunyai rekening simpanan dan pinjaman

dan melakukan transaksi simpanan dan pinjaman tersebut pada

sebuah bank.

13

(29)

d. Pengertian data nasabah adalah informasi mengenai nasabah

seperti alamat rumah, nomor telepon, pekerjaan dan lain-lain

yang termasuk data pribadi.

e. Pengertian tanggung jawab adalah suatu tindakan dimana

seseorang wajib mananggung akibat yang sudah dilakukannya.

f. Pengertian tanggung jawab hukum adalah suatu akibat atas

konsekuensi kebebasan seorang tentang perbuatannya yang

berkaitan dengan etika atau moral dalam melakukan suatu

perbuatan.14

g. Pengertian Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana

dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk

lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak

berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 10 tentang

Perbankan Tahun 1998

h. Pengertian Perbankan adalah lembaga keuangan yang

kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk

simpanan kemudian menyalurkan kembali ke masyarakat, serta

memberikan jasa-jasa bank lainnya.

i. Pengetian Prinsip adalah asas, kebenaran yang jadi pokok dasar

orang berfikir, bertindak, dan sebagainya dalam kamus bahasa

Indonesia.

14

(30)

j. Pengertian Prinsip Kerahasiaan Bank adalah bank wajib

merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan

simpanannya. Namun dalam ketentuan tersebut kewajiban

merahasiakan itu bukan tanpa pengecualian berdasarkan Pasal

40 Undang-Undang Nomor 10 Tentang Perbankan Tahun 1998

k. Pengertian perjanjian adalah suatu kesepakatan antara dua

pihak atau lebih.

l. Pengertian hubungan kontraktual adalah hubungan hukum yang

dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum yaitu

menimbulkan hak dan kewajiban terhadap para pihak dalam

perjanjian. 15

m. Pengertian Haki ( Hak Kekayaan Intelektual ) adalah hak

eksklusif yang diberikan suatu peraturan kepada seseorang atau

sekelompok orang sebagai hasil kreatifnya yang di ekspresikan

ke khalayak umum dalam bentuk apapun dan bernilai

ekonomis.

n. Pengertian Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak

diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/ atau bisnis

dimana mempunyai nilai ekonomis karena berguna dalam

kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia

dagang.

15

(31)

o. Pengertian Korporasi adalah kumpulan orang dan atau

kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum

maupun bukan badan hukum.16

F. Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode Yuiridis Normatif yaitu mengkaji

atau menganalisis data sekunder yang berupa bahan-bahan hukum

sekunder dengan memahami hukum sebagai perangkat peraturan atau

norma-norma positif di dalam sistem perundang-undangan yang mengatur

mengenai kehidupan manusia. 17 Dalam permasalahan tentang

pertanggungjawaban pegawai suatu bank terhadap hubungan kontraktual

nasabah dengan bank dan kerahasiaan bank mengernai pemberian

informasi data nasabah yang dilakukan oleh pegawai bank dengan pihak

ketiga yaitu berupa pendekatan peraturan perundang-undangan mengenai

perbankan dengan tipe penelitian bersifat deskriptif analitis :

1. Sifat Penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara

deskriptif analitis, yaitu menggambarkan hal-hal atau peristiwa yang

sedang diteliti.

2. Jenis Data dan Sumber Bahan Hukum

16

http://erlannopri.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-korporasi.html diakses Hari Senin, 22 September 2015 pukul 18.50

17

(32)

Data yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah data sekunder

yaitu data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung guna

mendukung penelitian. Data sekunder dapat berupa tulisan-tulisan

tentang hukum baik bentuk dalam buku ataupun jurnal-jurnal.

Tulisan-tulisan hukum tersebut berisi tentang perkembangan atau kasus-kasus

mengenai penelitian ini. Penelitian menggunakan data sekunder terdiri

dari :

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang berupa norma dan

Pancasila, Peraturan Dasar ( UUD 1945 ) dan Undang-Undang

Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang

Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang terdiri dari

buku-buku (textbook) yang ditulis oleh para ahli hukum,

jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum,

yurisprudensi, dan hasil-hasil simposium mutakhir yang berkaitan

dengan topik penelitian.

c. Bahan hukum tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan hukum penunjang yang

memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum

primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus hukum,

(33)

3. Pendekatan Penelitian

Penelitian skripsi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan

konseptual dan pendekatan Peraturan Perundang-Undangan misalnya,

Kitab Undang Hukum Perdata (KUHPerdata),

Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas

Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dan

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berbagai tahap yaitu

studi kepustakaan yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data

yang terdapat dalam buku-buku, perundang-undangan, makalah yang

berhubungan dengan kerahasiaan bank dalam menjaga data nasabah

yang dilakukan oleh pegawai bank tersebut dengan prinsip-prinsip

kerahasiaan.

5. Langkah Penelitian

Penulis akan melakukan persiapan studi kepustakaan terhadap jenis

data dan sumber bahan hukum yang tercantum dalam dua butir diatas.

Setelah data terkumpul, maka penulis akan melakukan analisis

terhadap data-data tersebut dan menyusunnya kedalam suatu

kesimpulan.

6. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisa kualitatif, yaitu

(34)

selanjutnya dianalisa secara kualitatif berdasarkan disiplin ilmu hukum

prinsip kerahasiaan bank untuk mencapai kejelasan masalah yang akan

dibahas.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan hukum yang ditunjukan untuk memberikan

gambaran kepada pembaca mengenai seluruh bahasan dalam penulisan

hukum yang akan disusun. Adapun sistematika penulisan hukum ini

adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab pertama berisi tentang latar belakang, identifikasi

masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran,

metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PRINSIP KERAHASIAAN DALAM

PERUSAHAAN DAN HUKUM PERBANKAN

Selajutnya dalam bab dua berisi tentang asas-asas dan prinsip

kerahasiaan yang menjelaskan tentang kerahasiaan sebuah perusahaan

dalam menjaga informasi data yang tidak diketahui oleh masyarakat luas

sehingga bersifat rahasia. Selain itu menjelaskan apakah asas-asas dan

prinsip tersebut telah diterapkan dengan baik dan benar dalam sistem

kerahasiaan data informasi yang dimiliki perusahaan. Kemudian akan

menjelaskan mengenai asas-asas dan teori kerahasiaan dalam hukum

(35)

BAB III PENGATURAN PERTANGGUNGJAWABAN BANK

KEPADA PEGAWAINYA DALAM MENJAGA DATA NASABAH.

Dalam bab tiga ini penulis skripsi menjelaskan tentang bagaimana

sistem suatu bank dalam menjaga data nasabahnya yang bersifat rahasia

oleh pegawai bank tersebut serta menjelaskan mengenai

petanggungjawaban bank kepada pegawainya yang melanggar ketentuan

mengenai kerahasiaan data nasabah. Kemudian akan menjelaskan

mengenai prakteknya bagaimana pegawai bank memberikan informasi

data nasabah kepada pihak ketiga yang seharusnya bersifat rahasia.

BAB IV ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN BANK DALAM

KERAHASIAAN INFORMASI DATA NASABAH TERHADAP

PEGAWAI SUATU BANK

Dalam bab empat berisi tentang pokok-pokok permasalahan yang

ingin diungkap berdasarkan identifikasi masalah, yaitu berupa kualifikasi

data nasabah, kerahasiaan suatu bank yang harus dijalankan oleh pegawai

bank serta pertanggungjawaban pegawai bank dalam menjaga data

nasabah dengan pegawai bank lainnya.

BAB V PENUTUP

Bab lima yang merupakan bab terakhir berisi tentang kesimpulan

dan saran. Kesimpulan yang diambil dari jawaban atas hasil penelitian

yang telah ditemukan, dan saran-saran yang diambil untuk dapat menindak

(36)

133

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat ditarik

kesimpulan, yaitu :

1. Hubungan kontraktual antara bank dan nasabah dalam transaksi di

perbankan adalah hubungan kontraktual berdasarkan perjanjian yang

disepakati oleh kedua belah pihak yang diatur di dalam Pasal 1320 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata yaitu sepakat mereka yang mengikatkan

diri, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu sebab yang halal

dan suatu hal tertentu. Hubungan hukum antara Bank Swasta tersebut

dengan nasabahnya terjadi setelah kedua belah pihak menandatangai

perjanjian untuk memanfaatkan produk jasa yang ditawarkan bank,

dimana setiap produk bank selalu terdapat ketentuan-ketentuan yang

ditawarkan oleh Bank Swasta tersebut. Dengan adanya persetujuan dari

nasabah ini berarti nasabah telah menyetujui isi perjanjian, dengan

demikian berlaku asas pacta sun servanda. Kemudian apabila melihat

pada kasus pembocoran data nasabah yang dilakukan oleh Bank Swasta

(37)

dapat menjalankan kewajibannya sebagai lembaga keuangan dalam usaha

perbankan, untuk mengelola data Nasabahnya sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, hubungan kontraktual di

bidang perbankan terdiri atas pendanaan antara Bank dengan Nasabahnya,

dengan didasarkan oleh fungsi utama dari suatu bank. Kemudian selain di

bidang pendanaan, hubungan kontraktual antara Bank dengan Nasabahnya

di bidang perkreditan dapat berupa kredit, seperti kredit modal kerja,

kredit investasi, atau kredit usaha kecil. Maka dari itu, dalam menjaga

rahasia nasabahnya sudah menjadi kewajiban Bank untuk tetap menjaga

rahasia keuangan nasabah dalam artian, segala sesuatu yang berhubungan

dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya,

kewajiban bank untuk mengamankan dana nasabah, yang dalam kaitannya

dengan tanggung jawab mengamankan uang nasabah perlu mengadakan

suatu jaminan simpanan uang pada bank, kewajiban untuk menerima

sejumlah uang dari nasabah, dengan mengingat fungsi utama perbankan

sebagai penghimpun dana masyarakat, maka bank berkewajiban untuk

menerima sejumlah uang dari nasabah atas produk perbankan yang

dipilih, seperti tabungan dan deposito, kewajiban untuk melaporkan

kegiatan perbankan secara transparan kepada masyarakat dan kewajiban

bank untuk mengetahui secara mendalam tentang nasabahnya.

(38)

2. Pengkategorian Data Nasabah dapat disebut sebagai Rahasia Dagang yang

dilindungi dalam rezim HKI, harus didasari bahwa rahasia dagang

merupakan informasi di bidang teknologi atau bisnis, tidak diketahui

umum, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha

serta dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang. Hal tersebut

dikarenakan data nasabah merupakan sistem informasi dalam bidang

teknologi atau bisnis transaksi mengenai keuangan nasabah, data nasabah

tersebut tidak diketahui oleh masyarakat luas, data nasabah bank tersebut

sudah jelas memiliki nilai ekonomis yaitu berupa jumlah saldo rekening

Nasabah tersebut. Di dalam penggunaan data nasabah yang dilakukan oleh

pihak Bank, makaBank Swasta tersebut dapat memberikan informasi

tentang data nasabahnya, harus sesuai dengan Pasal 40 ayat (1) UU No. 10

Tahun 1998 Tentang Perbankan. Bank Swasta tersebut dapat memberikan

informasi data nasabah yang sudah diatur di dalam Pasal 44A ayat (1)

Undang-Undang Perbankan menegaskan bahwa atas permintaan,

persetujuan atau kuasa dari nasabah penyimpan yang dibuat secara

tertulis. Oleh karena itu, ciri-ciri Rahasia Bank termasuk kedalam rezim

Rahasia Dagang HKIadalah sebagai berikut:

a. Bersifat informasi di bidang teknologi atau bisnis. Data nasabah

merupakan informasi Nasabah yang ada dalam sistem kompterisasi

(39)

kepentingannya untuk bisnis dan kegiatan ekonomi Nasabah

tersebut.

b. Tidak diketahui umum. Data nasabah yang ada di suatu Bank,

berdasarkan peraturan perbankan dan peraturan internal Bank tidak

dapat diketahui oleh khalayak banyak karena bersifat rahasia untuk

melindungi kepentingan Nasabah tersebut.

c. Mempunyai nilai ekonomikarena berguna dalam kegiatan usaha

dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang (pihak

Bank). Data nasabah yang dijaga kerahasiaannya oleh Bank,

merupakan data-data informasi Nasabah yang salah satunya adalah

jumlah saldo rekening.

Dalam penggunaan data nasabah yang dilakukan oleh Pihak Bank, maka

pengecualian rahasia bank mengacu Pasal 40 ayat (1) UU No. 10 Tahun

1998 yaitu untuk kepentingan perpajakan Adapun untuk kepentingan

perpajakan (jika permintaan tertulis oleh menteri keuangan

mencantumkan data berdasarkan Pasal 4 ayat (3) Peraturan Bank

Indonesia Nomor : 2/19/PBI /2000 tentang persyaratan dan tata cara

pemberian perintah atau izin tertulis membuka rahasia bank), untuk

kepentingan penyelesaian piutang bank yang telah diserhakan kepada

BUPLN/PUPN (Peraturan Bank Indonesia Nomor: 2/19/PBI /2000

tentang persyaratan dan tata cara pemberian perintah atau izin tertulis

(40)

pidana, dalam perkara perdata antara bank dengan nasabah, dalam

tukar-menukar informasi antar bank, atas permintaan, persetujuan atau kuasa

dari nasabah penyimpan atau ahli warisnya dan dalam hal nasabah

penyimpan telah meninggal dunia.

3. Tanggungjawab korporasi dan Pegawai Bank dalam menjaga Data

Nasabah dengan Pihak Ketiga, berdasarkan asas vicarious liabilitybahwa

korporasi dapat dituntut bertanggungjawab. Menurut asas ini, bila

seseorang agen atau pekerja korporasi bertindak dalam lingkup

pekerjaannya dan dengan maksud untuk menguntungkan korporasi,

melakukan suatu kejahatan, tanggungjawabnya dapat dibebankan kepada

perusahaan.Pertanggungjawaban Pegawai Bank dalam hal ini adalah

Direksi Bank Swasta memberikan sanksi kepada pegawai bank pribadi

yang membocorkan data nasabahnya. Pegawai bank adalah semua pejabat

dan karyawan Bank Swasta tersebut yang diberi wewenang dan

tanggungjawab untuk melaksanakan tugas operasional bank, juga

mempunyai akses terhadap informasi mengenai keadaan bank. Kemudian,

Direksi Bank Swasta harus bertanggungjawab atas pembocoran data

nasabah tersebut. Akibat hukumnya adalah segala akibat yang terjadi dari

segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum terhadap

obyek hukum atau akibat-akibat lain yang disebabkan karena

kejadian-kejadian tertentu oleh hukum yang bersangkutan telah ditentukan atau

(41)

dalam menjaga krahasia data nasabah, maka Bank Swasta tidak

menjalankan asas-asas hukum (khusus). Hal ini beralasan karena Bank

Swasta tersebut tidak dapat menjalankan asas-asas diatas salah satu

contohnya dengan bocornya data diri dan data keuangan nasabah, yang

akibatnya masyarakat telah kehilangan kepercayaannya terhadap Bank

Swasta tersebut

B. Saran

Saran peneliti mengenai data nasabah dan pertanggungjawaban Bank dalam

pembocoran data nasabah, adalah:

1. Bagi Akademisi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kerahasiaan data nasabah

mengenai pertanggungjawaban bank kewajiban bank dalam menjaga

kerahasiaan data nasabah membutuhkan pengaturan lebih lanjut agar

menjadi jelas. Perlu pengkajian lebih dalam tentang tanggungjawab hukum

suatu Bank dalam pengelolaan data nasabah serta mengenai kerahasiaan data

nasabah mengenai kewajiban bank untuk menjaga data nasabah dengan baik

sebagai masukan guna kemajuan ilmu hukum khususnya di bidang hukum

perbankan, sehingga dapat menambah pengetahuan dan mendorong adanya

perkembangan ilmu hukum terkait kerahasiaan data nasabah terkait dengan

(42)

2. Bagi Masyarakat

Masyarakat dalam hal ini nasabah perlu membaca syarat dan ketentuan

ketika akan menjadi nasabah. Nasabah juga perlu memahami hak-haknya

yang akan diberikan oleh pihak bank dalam menjaga kerahasiaan data

nasabah sesuai sebagaimana yang telah diatur di dalam peraturan

perundang-undangan mengenai perbankan. Kemudian nasabah juga agar bisa lebih

kritis apabila terdapat syarat-syarat yang diberikan oleh bank cenderung

merugikan nasabah tersebut.

3. Bagi Pemerintah

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan melalui Bank Indonesia

memperketat mengenai kerahasiaan data nasabah pada suatu bank. Hal

tersebut bertujuan agar memberikan sanksi tegas kepada bank yang

melakukan pelanggaran dalam bentuk pembocoran data nasabah serta untuk

lebih meningkatkan kredibiltas Bank Swasta tersebut dan meningkatkan

kepercayaan masyarakat khususnya nasabah. Pemerintah juga perlu

mengeluarkan peraturan yang lebih terperinci mengenai tanggungjawab

bank dalam pengelolaan data nasabah sebagai bentuk implementasi dari

Peraturan Bank Indonesia khususnya tentang tanggungjawab hukum Bank

atas kerahasiaan data nasabah. Selain itu, demi mengisi kekosongan hukum,

maka perlu membentuk peraturan perundang-undangan yang mengatur

bahwa kerahasiaan data nasabah (rahasia bank) termasuk ke dalam rezim

(43)

A. Buku-Buku

Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.

Abdulkadir dan Muhamad dan Rilda Muniarti, Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004.

Abdul R Saliman, dkk, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan (Teori dan Contoh Kasus), Kencana Renada Media Group, Jakarta, 2005.

Adolf Huala, Hukum Perdagangan Internasional, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

Anis Baridwan, Ketentuan Pasar Modal Dalam Penegakan Good Corporate Governance, PPH, Jakarta, 2004.

Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2000.

Chatamarrasjid, Menyingkap Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Veil), PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.

Dorojatun, Pentingnya Good Governance Pada Government Governance, PPH, Jakarta, 2004.

Hans Kelsen, Teori Hukum Murni, Bandung, Terjemahan Raisul Mutaqien Nuansa dan Nusa Media, 2006.

Hans Kelsen, Teori Umum dan Negara dan Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif Empiri, Jakarta, Terjemahan Soemardi BEE Media Indonesia, 2007.

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009.

Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2013.

Jimly E. Alias, Peranan Manajemen Risiko Strategik dalam Mendukung Good corporate governance, Bisnis Express, Jakarta, 2004.

Johannes Ibrahim. Cross Default&Cross Collateral Sebagai Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah. Bandung: Refika Aditama, 2004.

Jonker Sihombing, Tanggung Jawab Yuridis Bankir atas Kredit Macet Nasabah, PT.Alumni, Bandung, 2009.

Lawrence M. Friedman, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang, Suryandaru Utama, 2005.

Leden Marpaung, Kejahatan Perbankan, Erlangga, Jakarta, 1993.

Mahfud MD, Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi, Pustaka LP3ES, Jakarta, 2006.

Malayu Hasibuan, Dasar-Dasar Perbank, Jakarta, Bumi Aksara, 2001. Moch Anwar, Tindak Pidana di Bidang Perbankan, Alumni, Bandung, 1986.

(44)

Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Alumni, Bandung, 2006.

Mochtar Kusumaatmadja dan Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 2009. Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Cetakan ke

VI, 2012.

Muhamad Djumhana, Asas-Asas Hukum Perbankan Indonesia, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008.

Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Cooperate law dan eksistensinya dalam Hukum Indonesia, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.

Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.

Ridwan Khairandy dan Camelia Malik, Good corporate governance serta perkembangan pemikiran dan implementasinya di Indonesia dalam perspektif hukum, Kreasi Total Media, Yogyakarta, 2007.

Roberts Ellis Smith, Privacy How to Protect What Left of It, Anchor Press, New York 1979.

Sabian Utsman, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum Makna Dialog Antara Hukum dan Masyarakat, Pustaka Pelajar Yokyakarta, 2009.

Sentosa.Sembiring, Hukum perbankan, Bandung, Mandar Maju, 2000.

Soekidjo Notoatmojo, Etika dan Hukum Kesehatan, Jakarta, Rineka Cipta, 2010.

Soerjono Soekanto, Peneliatian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta, Rajawali, 1985.

Try Widiyono, Aspek Hukum Operasional Transaksi Produk Perbankan Di Indonesia, Ghalia Indonesia, 2006.

Y Sri Susilo, Sigit Triandarudan dan A Totok Budi Santoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Salemba Empat, Jakarta, 2000.

Yunus Husein. 1, Rahasia Bank Privasi Versus Kepentingan Umum, Program Pasca Sarjana Fakultas Hukum Unieversitas Indonesia, Jakarta, 2003.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar 1945

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1999 tentang bank Indonesia Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang

Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan

(45)

Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/12/PBI/2006 tentang perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan good corporate governance Peraturan Bank Indonesia Nomor : 5/21/PBI/2003 tentang perubahan atas Peraturan Bank

Indonesia Nomor: 3/10/PBI/2001 tentang penerapan prinsip mengenal nasabah Surat Edaran BI No.2/377/UPBB/PbB, tanggal 11 September 1969 tentang Penafsiran

Pengertian Rahasia Bank

Surat keputusan direksi bank Indonesia Nomor: 27/6/UPB pada tanggal 25 januari 1995

C. Sumber Lainnya

Setyani Alfinuha, “Peran Perbankan Bagi Masyarakat”, 2012, (http;//setyani14.co.id)

diakses hari senin, 14 September 2015 pukul 16.40 WIB.

Kebocoran Data Pribadi Gawat, Dapat dibaca di Majalah Nasional Kompas. 18 Februari 2013.

https://adysetiadi.files.wordpress.com/2012/03/bab-4-choe-_konsep-hipotesis_-_repaired. Diakses hari, Selasa-22 September 2015 pukul 17.10 WIB.

http://daniputralaw.co.id/2012/12/wanprestasi-dan-hubungan-kontraktual.html.diakses hari senin, 22 September 2015 pukul 18.33 WIB.

http://erlannopri.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-korporasi.html diakses Hari Senin, 22 September 2015 pukul 18.50 WIB.

http://therealking-yohanes.blogspot.co.id/2010/05/asas-good-corporate-governance.html, 28 Oktober 2015, Pukul 12.15 WIB.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...