FAKTOR.TAKTOR.YAtr.$G
BEN$IJr*TT$C
SBNGAFITIS{SAKAN
IBU
'
TURITaDAF-PENC,EGSS${ SSlvtAM
$E&DARAIII}ENGUS
PADAFTG
''::'':'
''
SkriPsinA
fce'Fakeltas Kedot{ssanUnhrcrsitar*qqff.
gI '
Sebagai Pemenuhan Sdah Sahr Syaratuffiik
tr{endapadcan Gelar Sarjanalfuds**eran
: '''r:
'Oleh"
r'iMERI
FONDASARI
8P.03120050
FAKIIITAS
repol(rE8A{
$,NDALAS,.
FAKTOR.FAIff
OR
YA.NGBERHUBUNGAN
DENGAN
TINDAKAN IBU
pnxeuc*Hn N,,u.diiiEnc,biii{bfr& bsNcun.Dr,
;,
raTrrunup*ba*c:
,1i.i'.--'T:---,
,
i:
,:,,i,:'
, ''-: :l i' -'l: r '
SKRTPSI
OIgh
:"
r '' : r"i'r.:M$Srrqn{il,{
s
CI3110050,:
,,
,:
';
Tctnhdtue
i
*smnincf
,.*g1,fuifotuf*
fudo*
\
:
TBilNGAN
DENCAN T .NDAI(AI{ IBU
FAKT0R-FAry9RYAI{G
SERI{I
)ENcrJE
Dr
ififfi.GAp Fixbncex*x
tFMAs{
aERDARAII
E_-
-iriunasnx
JATr
BARTI*ADAI$G
SKRIPST
Olch:
I\q*X,P*$.SA$AFI
03 120 050
Telah
dipcrtehruken
!!
q"P"lTin
Pcngtii
ABSTRACT
SEVERAL
FACTORS
RELATED
TO THE
ACTTON SHOULD BE
CARRIED
OUT
BY THE MOTHER
ASTO
PREYENT
DENGUE
HEMORRIIAGIC
FEVER
(DHF)
IN
JATI
BARU
PADAIYG
By
Meri
Ponda
Sari
Dengue hemorrhagic
fever
is amajor
public
health problemin
Indonesia becauseof
itshigh
prevalence and wide spread.All
sortsof
reasons relatedto
thispoints is
thecommunity
itself in
treatingtheir
circles,in
this
caseabout
their environment.How
has it come about in Jati Baru district guided us to the fact thatDIIF
patientsgrows
rapidlytime
aftertime. This
examination issimply
directedto
let
us
know deeply about
the
prevention
dueto DHF
in
JatiBaru
district, Padang.This
research uses cross sectionalanalytic
designstudy which
collectedforty five
sampleif
the respondents.It
applies multistage simplerandom sampling aswell
as questionnaire for the instrument.The
analyticdata
isjust simply
"o-forward
indistribution
and cross table format.The
research shows severalanalytic
product.
The
amountof
the
well-educated respondentsis
897o andthe
poor-educated respondentsis
ll%.
The prosperous respondents is60%.
Thewell-knowledge
respondents is around 55%, andthe
other side is takes 45yo.Tte
good reacted respondentsis
53,33yo, anA t11gother
side 46,67%o. The well-prevented respondents is 42o/o, and 5g% comes from theother
opposites. This bivariateinformation
statistically conducts usto
the fact that there is arelation within
social economic, knowledge, and the attitudeitself in
preventing
DHF.
Meanwhile there
is no
relation between
educationof
the respondentswith
DHF
prevention.DFIF eradication requires to
effort the
handling disease with theterritorial
law,
community participation, and cross program efforts coordinated by the headABSTRAK
FAKTOR.FAKTOR
YAI\IG BERIIUBTJNGAN
DENGAIYTINDAKAN
IBU
TERHADAP PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH
DENGUE
DI KELURAHAN
JATI
BARU
PAI}AI\[G
Oleh:
Meri
PondeSari
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD)
masalah kesehatandi
[ndonesia, karena prevalensinya]ang
tinggi
dan penyebaran sernakin luas.Hal
ini
dipengaruhioleh
beberapa sebab, diantaranya tindakan masyarakat terutamamenyangkut lingkungan sekelilingnya- Kejadian
DBD
di
Kelurahan
Jati
Baru
menunjukkan kecenderungan peningkatanjumlah
penderita-Tujuan
penelitianini
adalahuntuk
mengetahuifaktor-faktor
yang berhubungan dengan tindakantbu
terhadap pencegahan
DBD
di Kelurahan Jati Baru Padang.Penelitian
ini
menggunakan desain cross sectionalanalytic
study denganjumlah
sampel45 responden Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalahmulti
stage simple rqndom sampling dan
menggunakankuesioner
sebagai instrumen Analisis data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabel silang.Hasil
penelitian diketahui
bahwa
responden dengantingkat
pendidikantinggi
sebesar89
vo.
Respondenyang tidak miskin
sebesar60
%-
Tingkat
pengetahuan yang baik67
Yodanyang kurang 33 vo. Sikap responden yangpositif
sebesar 62 yo dan negatif 38 %- Sedangakan responden yang mempunyai tindakan pencegahan
baik
sebanyak 42% dan
yangkurang
58%.
Hasil
analisisbivariat
menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara statusekonomi
pengetahuandan sikap
responden dengantindakan
pencegahanDBD.
Sedangkantingkat
pendidikan tidak berhubungan dengan tindakan pencegahanDBD.
PENGANTAR
A s s al amu' al a i kum w a Rahm atul I a hi w a B ar akaatuh.
segenap
lirnpahan
syukur
dan
pujian
tercurahhanya
padaRabb
yang Maha Rahman danRahim
untuk
segala kasihdan
hidayah-Nya hingga denganizin
sertapertolongan-Nya penulis
mampu
menyelesaikanpenulisan
skripsi
yang
berjudul"Faktor-faktor Yang
BerhubunganDengan
Tindakan
Ibu
Terhadap
Pencegahan Demam Berdarah Denguedi
Kelurahan Jati Baru Padang",
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Universitas Andalas Padang.Sungguh
bukan
hal yang
mudahbagi penulis
untuk
menuntaskan
penulisanskripsi
ini
tanpa bantuan, dorongan, petunjuk dan doadari
berbagai pihak.Melalui
coretan singftatini
penulis hendak mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:1"
Bapak
Drs. Adrial, M.Kes
sebagaipembimbing
I
dan
ibu
Dr.
Firdawati,M.Kes, sebagai pembimbing
II
untuk segala perhatian, bimbingan sertasaran-saran dan masukan selama penelitian dan penulisan skripsi
ini.
2.
BapakDR.Dr.H.Hafni
Bachtiar,MPH
danIbu Dra. Hj. Nuzulia
lrawati,MS
sebagai
tim
penguji skripsi yang telah
memberikan
banyak
saran
dan perbaikan demi kesempurniuut skripsiini.
3.
Bapak Dekan dan seluruh jajaran besertastaf
pengajar Fakultas KedokteranBapak
Dr.H.
Yorva Sayoeti,
Sp.A(K)
sebagaipembimbing
akadernik yang telah meluangkanbanyak
waktunyadalam
membantu penulis selama masapendidikan.
Teristimewa
kepada Papa danMama
tersayang,rrrtuk
sejagadcinta
kasih yang tiada berhingg4 doa-doa serta dorongan semangat yangtanpa henti. Dan atas semua pefuah serta nasehat, semoga ananda sanggup menjadi anak yang sholehah, mirmpu memberikan kebahagiaandm
kebanggaan.Anin.
Vivi (My
lovely),
Olis(My
Hero), Vananda(My Loph)
atas semua dukungan, dorongan doa, semangat serta wejangan meski kadang dengan beragam wujuddan bermacam ekspresi.
Teman-temanku
Debie,
Mayang,
Ria,
Diqa,
Astria
atas
semua humornya selamaini
yang telah mencerahkan kehidupan penulis, yang selalu menempatibilik-bilik
khususdalam
hati ini,
atas semua bantuan, doa, semangat untukterus maju.
8"
SobatkuDona,
Anen,Vivi
yangtelah
setia menjadi teman dalam suka danduka selama
ini.
Hanya
Allah-lah yang
bisa
membalas segala bantuanyang telah
diberikan
pada penulis dengan balasan yangterbaik
Penulis amat sadarskripsi
ini
masihjauh
darikata
sempuma.Namun
terlepasdari
itu
semua tersimpanharap
semogaskripsi ini
dapat mendatangkan manfaatuntuk
kita semua.Amin.
Padang, Agustus 2007 4.
5.
6.
7.
DAFTAR
ISI
ABSTRACT
ABSTRAK
PENGESAHAN
KATA
PENGAIYTAR
DAFTAR
ISI
DAFTAR
TABEL
DAFTAR
LAMPIRAN
BAB
1
PENDAHULUAI{
TY
Y
I
I 4
BAB
2l.l
Latar Belakang ...1.2
Perumusan Masalah ...1.3
Tujuan Penelitian1.3.1
TujuanUmum
1.3.2 Tujuan Khusus
1.4
Manfaat PenelitianTINJAUAN
PUSTAKA
....:...2.1
Definisi
DBD...2.2
Faktor Penyebab Penyakit.
2.2.1 PenyebabDBD
...
62.2.2 Y ektar DBD dan
Linghrngannya
...2.2.4Hosps
DBD danLingkungannya
I
2.3
Epidemiologi...
92.4
GambaranKlinis
danDiagnostik...
...
l0
4
4
5
6
2.5
Pencegahan.-..---2-5.1 Terhadap
Ve}*or
2.5.2 Meneegah Terjadi
Kontak
Langsung denganNyamuk2.5.3 Penyuluhan
2-6
Konsep Pengetahuan,Sikry,
dan Tindakan2.6.
I
Konsep Pengetahuanl0
13
l6
l7
l8
BAB
3BAB
42-6.2 Konsep
Sikap
...
192.6.3 Konsep
Tindakan
...-...2l
2.7 Masalah Sosial Ekonomi Yang Berhubungan DenganDBD
2.7.1FaktorPendidikan
...22
2.7.2
FaktorEkonomi
..-...23
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTf,SIS
PENELITTAN
...
,...-....24
3.1 Kerangka Konseptual
Penelitian...-...
.-.-.... 243.2 Hipotesis
Penelitian...."...
... 24METODE
PEI\IELITIAN...
... ... 254.1
DesainPenelitian
....-.-.- 254.2
Waktu
dan LokasiPenelitian-
... 254.3
Populasi danSampel.-...--
... 254.4
PengumpulanData....--..-
...-.-... 274.5
Variabel danPengukuran
...,...-... 274.8
Definisi
Operasional...
...-.-
Zt
BAB
5
HASIL
PENELITIAN
...,...
305.1
Analisis
Situasi-...
...-...- 305.2
Hasil
Penelitian
-...-..-.. 305.2. 1 Analisis
Univariat
..-....-...5.2.2.Amlisis
Bivariat
-..
32BAB
6 PEMBAHASAI\...
... 356.1
Tingkat
Perdidikan, Stdus Ekonomi, Pengetahuan,Sftap,
dan Tindakan PencegahanDBD-...
.-...--.- 35 6.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan TindakanBAB
7DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Pencegahan
DBD...
...
376.2.1 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tindakan
Pencegahan
DBD...
...
376.2.2 Hubungan Status
Ekonomi
dengan TindakanPencegahan
DBD...
...
386.2.3 Hubungan Pengetahuan dengan
Tirdakan
Pencegahan
DBD
..-.-.--
...--:--... ----.-.... 39 6.2.4 Hubungan Sikap dengan Tindakan.
PencegahanDBD
KESIMPULAN DA}{
SARAN
... 427.1
Kesimpulan
...-.-.
...
427.2
Saran..
...
43DAF"TAR
TABEL
Tabel
5.1
:Dishibusi
Ibulbu
Rumah Tanggadi
Kelurahan Jati BaruBerdasarkan Tingkat
Pendidikan
-..-3l
5.2
:Distribusi
Ibulbu
Ruamh TanggaDi
Kelurahan Jati BaruBerdasarkan Status
ekonomi...
-..-....-3l
5.3
:Distribusi
Pengetatruan lbu-Ibu Rumah Tangga Mengenai5.4
:DBD
di
Kelurahan JatiBanr
."...-...,..3l
Distribusi
Sikaplbu-Ibu
Rumah Tangga MengenaiDBD
di Kelurahan Jati
8aru...
... 32Distribusi
Tindakanlbu-Ibu
Rumah Tangga Terhadap PencegahanDBD
Di
kelurahan JatiBam
...-...- 32Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dengan Tindakan
Pencegahan
DBD...
....--... 32Hubungan Antara Status Ekonomi dengan Tindakan
Pencegahan
DBD...
... 33Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Tindakan
Pencegahan
DBD...,
..-... 33Hubungan Antara Sikap Dengan Tindakan Pencegahan DBD----..--.... 34 5.5
5.6
5.7
5.8
5.9
Lampiran
I
Lampiran2
Lampiran 3
Lampiran 4 Lampiran 5
Lampiran 6 Lampiran 7
DAFTAR
LAMPIRAN
Kuesioner Penelitian
Data Kasus DBD per Kelurahan
Di
Kecamatan PadangTimrn
Kota
Padang Tahrm2ffi3-2005
Analisis
Statistik Pe,rhitunganUji StatistikChi
Squa€ Master TabelSurat
lzin
Penelitian dari Kesbang LinmasKota
PadangSurat
Izin
Penelitian dari Lurah Jati Baru PadangDaftar
RiwayatHidup
BAB
1PENDAHULUAI\
1.1
Latar
Belakang.
Demam berdarah Dengue adalah salah satudari
banyak penyakit yang---
--disibdbkan oleh virus, ditandai dengan demam dan disertai dengan perdarahan.
Sejak
tiga
dekadeterakhir
penyakitini
begitu terkenal dibeberapa negara Asia Tenggara danAmerika
Selataru karena tanpa dapat diterangkantelah
terjadi perubahan dalam manifestasikliniknya.
Bila
sebelumnyaDBD yang
disertairenjatan
bi
Filipinatahun
1953 penyakitini
kemudian menjadi penyakit yangditakuti karena banyak menimbulkan kematian
(Nathiq
1991).Demam Berdarah Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat di lndonesia karena prevalensinya yang
tinggi
dan penyebarannya semakin luas(Suroso, 1990). Letusan
DBD
pertamakali
di
lndonesiaterjadi tahun
1968,kemudian jumlah penderita semakin meningkat dan penyebarannya pun semakin
luas seiring meningkatnya penyebaran penduduk dan transportasi yang semakin
lancar. Pada Januari hingga
Maret
2004 Kejadian Luar Biasa DBDdi
Indonesiatelah menimbulkan 39.938 kasus dengan 498 kematian atau Case Fatality Rate
(CFR) L,3 o
.
DibandingkanKLB
1997 denganCFR
2,2
Vo dan@run
1998dengan
CFR
1,9 yo,KLB
tahun 2004 terjadi penurunan CFR (Cussidkh
2rJ05;Santoso,2004)
.
Kota
Padang dengan jumlah penduduk sebanyak767.770jiwa
pada ahun ZOfh;merupakan daerah dengan angka kesakitanDBD
tertinggi dibandingkanpada tahun 2003 dilaporkan sebanyak 306 dari 351 orang penderita DBD, berasal
dari kota
Padang. Datadi
Dinas KesehatanKota
Padangjuga
melaporkansebanyak
554
orang penderita DBD pada tahun 2002, dengan jumlah kematian I Iorang (CFR
l,g8
Yo). Tahun 2003 dilaporkan sebanyak 306 orang penderita DBDdengan
jumlah
kematian 3 orang (CFR 0,98 %). Tahun 2004 dilaporkan sebanyak:- .-:.
5 t3 orang penderita DBD dengan jumlah kematian 7 orang
(CFR
L,36 Yo). Pada tahun 2005terjadi
peningkatan yang sangat tajam dari penderitaDBD
di
kotaPadang, yaitu sebanyak 1087 orang penderita. Pada ahun 2006 penderita
DBD
di Kota Padang sebanyak 760 orang penderita.Kdlurahan
Jati
Baru
adalah salahsatu
daerah endemisDBD
di
kota Padang.Menurut
Dinas
KesehatanKota
Padangpada tahun 2003
tercatat sebanyak12
kasusDBD,
tahun
2004 dilaporkan sebanyak13
kasus DBD,sedangkan tahun 2005 tercatat 16 kasus DBD, tahun 2006 tercatat 17 kasus DBD. Kelurahan
Jati
Baru merupakan salah sanr daerahdi
wilayah
kerja puskesmasAndalas yang
memiliki tingkat
kerawanantinggi
terhadapDBD
dengan angkabebas
jentik
di
KelurahanJati
baru (ABJ) pada tahun 2000 ditemukan 94, 6yo.Tahun
2003
ditemukanABJ
78, zyo dan pada tahun2004
ditemukan 887o. (Puskesmas.Andalas, 2004\
Penyakit
DBD
disebabkan olehvirus
Dengueyang
disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aeg/pti sebagai vektor utamanya, yang m€mpunyai tempat istirahatdan
aktivitasdi
dalam
rumah(in
door),disamping
Aedes albopictusberhubungan langsung dengan tanah seperti ban bekas, kaleng bekas yang berisi
air hujan, tempat rninum burung, vas bunga dan
aki
bekas(Sugito,
1989). Dari berbagai tempat perindukanini,
bak mandi merupakan tempat penampungan air(TPA)
yang paling banyak mengandung larva karena volumenya lebih besardibanding tempat lain (Suroso, 1990).
...
...
'
'Kepadatan populasi Aedes
aegtpti
sangat tergantungdari
pengetahuan,sikap dan tindakan masyarakat dalam menjaga kebersihan tempat penampungan
air dan sampah yang dapat merurmpung air (Ahmad,1997). Pencegahan penyakit
DBD
dipengaruhioleh
pengetahuan masyarakat, terutamaibg
rumah tangga karena ib'u-ibuinilah
yang bertanggungiawab dalam mengurus masalah rumah tangga, termasuk masalah kebersihan rumah, pengadaanair
bersitr, menyapuhalaman dan mencuci alat perlengkapan rumah tangga. Dalam hal
ini
pengetahuantentang pencegahan penyakit DBD
(Ahm&t997).
Beberapa
hasil
penelitian rnenyimpulkan bahwakejadian
DBD
terjadi karena tingginyaangka
kepadatan vektorDBD
di
daerah tersebut, sehinggadengan menurunkan angka kepadatan nyamuk Ae-aegtpti akan berdampak
positif
dalam menurunkan angka kejadianDBD (Rezeki
2005).
Dengan tingginya insiden ppnyakitDBD
di
wilayah kerja Rrskesmas Andalas, maka perlu usahapencegahan terhadap penyakit
ini.
Salah satu upaya pencegahan terseQut adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk Aedes yang menjadi perantaranya dengantidak menyediakan tempat perkembangbiakannya yang berupa tempat lembab dan
air (Soeparmantq 2002).
.^
berdekatan antara satu rumah dengan
*rnun
yang tainnya, sehingga dengan jarakterbang
vektor
40-100m,
memudahkan terjadinya penularanDBD.
Sebagianbesar
wilayah
ini
ditempati oleh
anak-anakkos,
yang
biasanya pulang kekampung
setiap
minggunya,sehingga
menguas
bak
mandi
dan
tempatpen4mpungan
air
lainnya rata-ratatidak
mereka lakukan.Dilihat
dari
keadaan -"_ --:.linlkdngannya, ibu-ibu
di
Jati
Baru gemar memelihara tanaman hias, sehinggalingkungan sekitar rumah menjadi lembab.
1.2
Perumusan MasalahBtxdasarkan uraian
di
atas maka peneliti ingin mengetahui faktor-faktorapa yang berhubungan dengan tindakan ibu terhadap demam berdarah dengue di
kelurahan Jati Baru Padang.
1.3
Tujuan
Penelitian1.3.1
Tujuan
UmumMengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan ibu terhadap pencegahan demam berdarah dengue di kelurahan Jati Baru Padang.
1.3.2
Tujuan
Khusus
.
l.
Mengetahui distribusi tingkat pendidikan ibudi
kelurahan Jati Baru2.
Mengetahuidistribusi
status ekonomi ibu di Kelurahan Jati Baru3.
Mengetahui distribusi pengetahuan ibu mengenaiDBD di
kelurahan Jati Baru
5.
Mengetahui distribusi tindakan ibu mengenai pencegahanDBD di
:,
kelurahan Jati Baru
6.
Mengetahuihubungan
tingkat
pendidikan dengan
tindakan
ibuterhadap pencegahan DBD
.
7-
Mengetahui hubungan status ekonomi dengan tindakanibu
terhadap ---*t
8.
Mengetahui hubungan pengetahuan dengantindakan
ibu
terhadappencegahan DBD.
9.
Mengetahui hubungan sikap dengan tindakan ibu terhadap pencegahan..DBD
1.4
Manfaat Penelitian.Dengan mengetahui tindakan
ibu
rumah
tangga mengenai pencegahandemam berdarah dengue, diharapkan memberikan manfaat sepeni :
1.
Bagi
instansiyang
berwenang memberikaninformasi
yang
baru tentang tindakan ibu rumah tangga Kelurahan Jati Baru khususnya dandi
Kotamadya Padangumumny4
sehingga memberi masukan dalam.-pengambilan tindakan untuk mengurangi kejadian demam berdarah
dengue.
.
2.
Bagi institusi
pendidikan memberikaninformasi terbaru
tentangtindakan
ibu rumah tanggadi
Kelurahan Jati Baru khususnya, dan diKotamadya Padang umumnya mengenai pencegahan DBD, sehingga diharapkan
timbulnya
suatuinformasi
baru untuk
menanggulangiBAB
2TINJAUAN
PUSTAKA2.1
Definisi DBD..
Demam
berdarah dengueadalah
penyakit infeksi
virus
akut
yang-'_ -- t
disibdbkan oleh
virus
denguedan
ditularkanmelalui
gigitan nyamuk Aedes,terutama menyerang anak-anak dengan
ciri-ciri
demam
tinggi
mendadak,manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan syok dengue(SSD) yaitu DBD yang disertai
oleh
syok (renjatan) akibat kehilangan plaslna(Syoeib, dkk t9s2). .
.2.2
Faktor
Penyebab Penyakit2.2.1
PenyebabDBD
Penyebab dari penyakit DBD adalah virus dengue anggota dari genus F/avi
virus (Arbo virus grup B) salah satu genus Familia Togoviridas. Arbovirus artinya penyakit yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh artropodo. Yirus dengue
tergolong RNA.
Virus
yang mempunyai diameter L7-25 nm, dapat berkembangbiak
di
dalam tubuh beberapa spesies nyamuk, darah manusia dan kultur jaringan(Harsono--, \992).
Sebagian besar
virus
itu
berada dalamkelenjar
liur
nyami8.
Waktu nyamuk menggigitorang
lain, maka
setelahalat
tusuk nyamuk
(probosis) menemukankapiler
darah, sebelum darahorang
itu
diisap,terlebih
dahulu dikeluarkan airliur dari
kelenjar liurnya agar darah yang diisaptidak
membeku2.2.2
Vektor
DBD dan LingkungannyaVirus dengue sebagai agen penyebab demam berdarah memerlukan masa
inkubasi umumnya selama
4-7
hari(Chiru
2000).Virus
dengue dibawa olehnyamuk Aedes
aegpti
das Aedes albopictus sebagaivektor
ke tubutr manusiamelalui
gigitan
nyamuk tersebut(Kapita Selekta
2001).
Nyamuk A.aegtpti--dewasa secara
umum ditandai oleh
garis-garisputih
keperakandan
hitam berselang seling yang arahnya longitudinaldi
daerah scutum (pertemuan kedua sayap) dan transversal pada daerah abdomen. Probosis(lidah)
bersisik hitam danpalpi (alat
perabalantena) pendek dengan ujunghitam
bersisikputih
perak.Femumya bersisik putih sedangkan tibianya hitam. Sayapnya juga berbintik lurik
berwarna gelap dan terang (Harsono, 1992).
Nyamuk betina meletakkan telurnya
di
atas permukaan air dalam keadaanmenempel pada dinding tempat perindukannya, rata-rata 100 butir telur tiap kali bertelur. Pertumbuhan
dari telur
menetas menjadi larva kemudian mengadakanpengelupasan
kulit
menjadi pupa dan akhirnya menjadi dewasa memerlukan waldu kira-kirat
hari. Dalam tempo L-2hari nyamukyang baru menetasini
akanmenggigit (mengisap
darah)
manusiadan
siapuntrk
melakukan perkawinan dengan]yamut<
jantan,
kemudian beristirahat
sarnbil
menunggu
prosespematangan telurnya. Siklus ini berulang setiap
34
hari @epkesRI
199.-2)-Biasanya nyamuk betina mencari nrangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari dengan dua puncak aktivitas
antara pukul08.00-10.00 dan 15.00-17.00 WIB. Tidak seperti nyamuk lain, Aedes
sebagai penular penyakit. Kemampuan terbang nyamuk
ini
40-100m.
Setelahmengisap darah
sambil
menunggu proses pematangantelurnya,
nyamukini
hinggap
padatempat
yangagak
lernbabdan
gelapserta
benda-benda yangtergantung
seperti
pakaian, kelambu,
atau
tumbuhan
dekat
tempat perkembangbiakannya (Hendorwanto,2004 dan Depkes zu, I 992)..
---..'-2.2.3
HospesDBD
dan LingkungannyaSeseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue rnerupakan
sumber penularan penyakit
DBD
(Syoeibdkk
1982).Menurut teori
infeksi sekundei, seseorang dapat terserang DBDjika
mendapatinfeksi
ulangan dengan virus dengue yang berlainan dengan infeksi sebelumnya. Penularan DBD dapat terjadidi
semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Tempat yang potensialuntuk terjadi
penularan
DBD
adalahwilayah yang banyak
kasus
DBD (rawar/endemis), sekolah, RS/puskesmas, hotel, pasar, restorarL tempat ibadatr,pemukiman baru
di
pinggir kota (DepkesRI
1992).Penyebaran
habitat
nyamuk Aedesaegpti
disebablen
meningkatnya mobilitas penduduk dan transportasi dari satu daerah ke daerah lain serta adanya perubahan lingkungan misalnya banyaknya tanaman yang ditebang sehingga suhuudara menjadi
tinggi
dan penduduk menjadi padat sehingga keadaa4 tersebut sesuai dengan habitat nyamuk Aedesaegtpti.
lnvestasilarva
aedes tampaknya berhubungandengan faktor-faktor ekologis
sepertitipe
rumah
dan
tempat2.3
EpidemiologiEpidemi Dengue dilaporkan pertama
kali
di
Bataviaoleh David
Bylonpada tahun 1779, sedangkan DBD mula-mula dikemukakan oleh Quintos dkk di Manila pada tahun 1954 (Depkes
RI
1995).Di
Indonesia penyakit tersebut baruditemukan pada tahun 1968 di kota Jakarta dan Surabaya dengan
jumlah
penderita..-':
5f,orbng,
meninggal sebanyak24
orang. Dalamtahun
1986 dilaporkan jumlah penderita mencapai 16.421 orang dengan kematian600
orang berasaldwi
23propinsi. Tahun
l9M
DBD
tersebardi
selunrh propinsi Indonesia kecualiTimor-Timur
baru tahun 1993 dengan ditemukannya kasusDBD
di-Dili
pada bulanMaret 1993 {Samsi
dklq
1990, dan Soroso,
1991).KLB
terbesar terjadi pada tahun 1998 denga Insidence Rate QR) 35,19 per100.000 penduduk dengan Case
Fatality
Rate(CFR)2
o/o. Padatahun
1999 IR menurun tajam sebesar 10,17 o/o, namun tahun-tahun berikutnya[R
cenderungmeningkat l5,gg oA
tahun
2000;21,66 Yo tahun20SL ;19,24 Yo pada tahun 2002dan23,87Yo pada tahun 2003 {Kristina,2004).
Peningkatan insiden DBD tampaknya terjadi setiap kurang lebih 5 tahun.
Kenaikan tersebut dapat disebabkan oleh penurunan kekebalan setiap
5
tahun,akibat m-u..taii virus setiap 5 tahun sehingga muncul strain baru yang virulen, atau
karena peningkatan laporan (Surveilance)
(11adi,2004).
.
Dari
datadata
penderitaklinis
DBD yang
dilaporkandi
Indonesiadiperoleh bahwa musim penularan DBD pada umumnya terjadi pada musim hujan
karena
populasivektor
penyakit
ini
meningkatpada
musim
hujan
akibat UeriamUatr banyaknya sarangnyamuk
di
luar rumah
sebagaiakibat
sanitasilingkungan yang kurang bersih (kateng bekas, bo0ol pecah, tempurung kelapa, dan
sebagainya) terisi
air
sehingga dapat digunakan untuk tempat perkembangbiakan nyamuk ini (SutrisnoA,
l99l).
2.4
GambaranKlinis
Dan Diagnostik.
Pada umumnya, kasusDBD
ditandai dengan adanya demam tinggi,...
fenbm'r3na perdarahan, hepatomegali, dan seringkali disertai dengan kegagalan
sirkulasi.
Trombositopenia
ringan atau
sedang
yang
diserfai
dengan hemokonsentrasi merupakanhasil
laboratoriumyang
penting.
Perubahanpatofisiologis utama menentukan derajat penyakit DBD dan memledakannya dari Demam Deggue yaitu adanya hemostasis yang abnormal dan kebocoran plasma
yang
diperlihatkan
sebagai trombositopeniadan
meningkatnya hematokrit(wHo,2003).
2.5
PencegahanPemberantasan
nyamuk
penular
DBD
ditujukan
untuk
membasmi penularan penyakit dan mencegah terjadinya kejadianluar
biasa(KLB)
DBD. Sepertidiketahui cara
untuk
mencegal/memberantaspenyakit
DBD
adalahdengan mlmutuskan rantai penularan yaitu memberantas/menurunkan populasi nyamuk penularnya. Diharapkan bahwa dengan menurunnya populasi nyamuk Aedes
degpti
penularan akan berkurang sehingga kasus yang terjadipun akanberkurang (Samsi dklq 1990).
Mengingat sampai
saat
ini
tidak
ditemukanvaksin
demam berdarah,sehingga
upaya
pemberantasantebih dititikberatkan kepada
pemberantasannyamuk penulamya dalam hal
ini
Aedes spp (Hadi" 2004\. Selama jentik yang adadi tempat-tempat perindukan tidak diberantas setiap hari, akan muncul nyamuk-nyamuk
baru yang
menetasdan
penularanpenyakit
akanterulang
kembali (Rezeki,2005).Upaya pemberantasan DBD lebih ditekankan pada upaya preventif, yaitu
me-la$anakan penyemprotan massal sebelum musim penularan penyakit di desa/
keluranan endemis
DBD.
Strategi ini diperkuatdengan menggalakkan pembinaanperan serta rnasyarakat dalam kegiatan pembrantasan sarang
nyamuk
(PSN),melaksanakan penanggulangan fokus di rumah penderita
dan
di
sekitar
tempattinggal penderita guna menc€gah terjadinya
Kejadian
Luar
Biasa
(KLB)'
danmelaksanakan
penyuluhan kepada masyarakatmelalui
berbagai
media(Saleh4 2005). Pergerakan PSN perlu lebih digalakkan dan dilaksanakan tidak
hanya mendadak pada saat terjadi peningkatan penderita DBD saja namun sebaiknya ditakukan berkala 3 bulan sekali-(Hasyimi dkk, 1994\'
Untuk
m€ngurangi kecenderungan penyebarluasanwilayah
terjangkitDBD,
mengurangi
kecenderunganpeningkatan
jumlah
penderita
danmengusahakan agar angka kematian tidak melebihi
3%
maka pemerintah terus menyempurnakan program pemberantasanDBD.
Strategi pemberantasan DBD lebih ditbkpnkan pada upaya preventif; yaitu melaksanakan penyemprotan masalsebelum
musim
penularanpenyakit
di
desa/kelurahan endemisOUO
y*g
merupakan pusat penyebaranpnyakit
ke
wilayah
lainnya.Strategi iur
juga didukung dengan menggalakkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)'penanggulangan fokus
di
rumah penderita dan di sekitar tempat tinggal penderitaguna
mencegahterjadinya
KLB,
dan
melaksanakanpenyuluhan
kepadaHaluni Achmad telah melakukan penelitian
di
Kelurahan Karang RepekKecamatan
wonosari
Kab.
GunungKidul,
dimana variabel
yang
sangatberpengaruh terhadap partisipasi ibu rumah tangga dalam pemberantasan sarang
nyamuk
DBD
adalah pengetahuanibu
rumah
tangga tentangpenyakit
DBD (Achmad, 1997) . Pengetahuan, sikap dan kebiasaan masyarakat merupakan faktor."..-.
res'iko-yang erat kaitannya dengan kejadian DBD di Kab. Bantul (widyana l99g).
Untuk
itu
perlu
diterapkan pendekatanyang
terpadu terhadap pengendalian nyamuk dengan menggunakan semua metode yang tepat (lingkungan,biologi
dankirniawi) (WHO,2003).
.
.
.,2.5.1
Terhadap Vektorl.
Pengelolaan LingkunganMeliputi
berbagai perubahan yang menyangkut upaya pencegahan atau mengurangi perkembangbiakan vektor sehingga mengurangi konak antara vektor dengan manusia.wHo (lgsz)
telah mendefinisikantiga jenis
pengelolaan lingkungan:l.
Mengubah lingkungan : perubahanfisik
habiat vektor, bertahan lama2- ..Pemanfaatan
lingkungan
:
melakukan
perubahan sementara padaperindukan vektor yang meliputi pengelolaan wadah yang "penting',
dan
"tidak penting"
;dan pengelolaanatau
menghilangkan ternpat perkembangbiakan.,alami',-3. Mengupayakan perubatran perilaku dan tempat tinggal manusia : sebagai
usaha untuk mengurangi kontak antara manusia-vektor .
Metode lingkungan untuk mengendalikan
vektor
serta mengurangi kontak dengan manusiaadalah
dengan melakukan Pernberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan buatanmanusia
dan
perbaikan desain rumah. M€*ode pengelolaan lingkungan utamayangdigunakan untuk mengendalikan nyamuk Aedes
aeglpti
adalah:...
.-.-: '-1. Perbaikan saluran air
Harus diperhatikan kondisi penyimpanan
air
pada berbagaijenis
wadah karenahal
tenebut dapat meningka&an perkembangbiakan Acdes. Kebanyakanwadah tersebut besar dan berat (contohnya t"ngki penyimpanan
)
dan sulit untuk dibersihkan..2.
Talang air atau sumber air bawah tanah antinyamuk
Perindukan
jentik
Ae.aegypti termasuk di talang air /tangki air bawah anahbangunan dari batu (masonary), saluran pipa air, maka struktumya harus dibuat anti nyamuk. Bangunan dari batu untuk tutup pintu air dan meteran air juga harus
dilengkapi dengan lubang pengering sebagai bagian dari tindakan pencegahan.
3.
Mengeringkan instalasi penampungan air.Genangan
air
/kebocoran di ruang berdinding batu, pipa penyaluran, kotak keran hidran,dll
akan menampungair
dan menjadi tempat perindukanjentik
Ae.aegpty bila tidak dirawat.4.
Tempat penampungan air di lingkungan rumah tanggaWadah penampungan
air
harus ditutup dengan penutupyang
rapat ataukasa, Setelah air digunakan harus drjaga agar wadah tetap tertutup.
5.
Jambangan/vas bungadan perangkap semutSemuanya harus dilubangi sebagai lubang pengeringan. Sebagai alternati{ untuk bunga segar dapat diberi campuran pasir dan
air.
Bunga harus dibuang setiap minggudan
vas digosok dan dibersihkan sebelum digunakan kembali. Perangkap semut untuk melindungirak
penyimpanan makanan dapat dibubuhi-..
..
garaniatau minyak.
6.
Pembuangan Sampah Padat dan Ban Bekas.Sampah padat,
kering
seperti kaleng, botol, emberdll
harusdikubur
didalam tanah.
Sampah tanaman ($empurungkelap4
kulit
ad
coklat)
harusdimusnahkan segera. Perlengkapan
rumah
danalat
berkebun harus disimpan terbalik untuk mencegah tertampungnyaah
hujan. Banmobil
bekas merupakan tempat pekembangbiakan utama Aedesdi
perkotaan. Penyimpananban
harusselalu ditutup untuk rnencegah tertampungnya air hujan.
7.
Mengisi Lubang PagarPagar
dan
pembatas pagar yang terbuatdari
tanaman berlubang sepertibambu harus dipotong pada ruasnya dan pagar beton harus dipenuhi dengan pasir
untuk rnengurangi perindukan Aedes (WHO, 2003).
2. Peagendalian Biologis
Penerapan pengendalian biologis yang ditujukan langsung terhqdap jentik vektor dengue
di
Asia
Tenggara hanya terbatas pada operasi berskala kecil. Pengendalian populasijentik
melalui predator alamiah misalnyaikan
pemakanjentikPoecilia reticulata. Penelitian Ambar Sutrisno menunjukkan bahwa dengan memglihara ikan jenis apa
saj4
larva nyamuk akan berkurang dan kasus DBDmenurun (Sutrisno, 199
l).
3.
PengendalianKimiawi
Menggunakan insektisida pembasmi
jentik
(larvaisda)yaitu
Abatisasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah butiran temephos (abate l7o), dimasukkanke dalam wadah dengan sendok plastik unhrk mengahrr dosis 1 ppm. Dosis
ini
telah terbuktiefektif
selama 8-12 minggu, khususnya di dalam gentong tanah liat,.".
-,dengan pola pemakaian air normal (WHO, 2003).
Penyemprotan
meliputi
penggunaanbutiran
kecil
ke
udara
untukmembunuh
nyamuk
dewasa
Swingfog
(alat
semprot
jinjing)
dapat direkomendasikan apabila wilayah yang dikerjakan tidak terlalu- luas' di wilayah perumahan padat, bangunan bertingkat trnggr, saluran tertutup, gudang dan tempatpenyimpanarq
saluran tertutup, tangki
pembuangan,dan
dasar
bangunan(wHo,2003).
2.5.2
MenrregahTerjadi Kontak
Langsung dengan NyamulcSampai saat ini pengobatan terhadap penyakit virus DBD hanya bersifat simptomatis. Vaksin sebagai pencegahan juga belum ada sehingga usaha terbaik
adalah melakukan pencegahan sedini mungkin. Upaya pencegahan yang palin
efektif danefisien adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) karena cara
kimiawi
memerlukan biaya yang sangat besar dan dampaknya tidak lama sertaefek samping terhadap lingkungan (Samsu 1990). Menurut WHO (2003), hal dibawah ini dapat dilakukan untuk melindungi
diri
dari nyamukAedes sp:1. Pakaianpelindung
-Pakaian dapat mengurangi resiko gigitan nyamuk bila pakaian cukup tebal
dan
longgar,lengan
panjangdan
celana panjang dengankaos kaki
yang- merupakan daerah
gigitan
nyamuk.Anak
sekolah seharusnya mengenakan-
pakaian semacam itu.
2. Obat nyamuk semprot, bakar, mats elecfic, Obat oles(repellent)
Produk insektisida rumah tangga digunakan sebagai alar perlindungan diri terha{ap nyamuk. Obat oles anti nyamuk diklasifikasikan menjadi dua; penangkal
':
alaini
(minyak mumi
dari
tanaman seperti; minyak serai, minyaksitnrn),
danpenangkal kimiawi( bahan seperti DEET/N-Diethyl-m-Toluarnide).
3.
Tirai
dan kelambu nyamuk yang dicelup larutaninsektisida-Tirai
yang telah dicelupkan ke larutan insehisida mempunJai manfaat yangterbatas dalaql program pemberantasan dengue karena spesies veklor menggigit pada
siang
hari.Namun dapat digunakan untukmelindungi bayi
dan
pekerjamalam (WHO,2003).
2.5.3
PenyuluhanPenyuluhan
perlu
diberikan
kepada penduduk ditempat-tempat yangdiduga
rawan
untuk
berkembangbiaknya nyamuk
sedini
mungkin
bahkansebelum terjadi wabah. Penyuluhan
lebih
ditingkatkan pada masyarakat umum terutama .keluargadan
masprakat
sekolah.
Survey yang dilakukan
olehKandepkes Ujung Pandang tahun 1994, dimana pengetahuan guru
UK!
tentangDBD menjadi semakin baik setalah dilakukan penyuluhan pencegahan
DBD
bagiguru
UKS
sekolah dasar dengandiskusi
kelompokdan
simulasi sebelumnya pengetahuan merekamasih
kurangdari 50 % (Purjonto
1997) .Penyuluhan intensifmelalui
berbagai media sepertiTV,
radio,surat
kabar,dan
lain-lairu.penyuluhan kelompok maupun penyuluhan tatap muka oleh kader-kader
di
desatermasuk kader dasawisma, tokoh-tokoh masyarakat dan agama (Rezeki, 2005) .
2.6
Konsep Pengetahuan, Sikap danTindakan
2.6.1
KonsepPengetahuan.-.
.-.
:
'-
-+engetahuan adalah hasil "tahu" setelah melakukan penginderaan terhadapsuatu objek oleh pancaindera. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseirang. Perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan bersifat langgeng daripada perilaku yang
tidak
didasari olehpengetahuaru Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang berperilaku
baru, terjadi proses yang berurutar1 yakni :
[.
Kesadaran (Awareness)2.
Merasa tertarik (Interest)3.
Menimbang-nimbang (Evaluation)4.
Melakukan percobaan (Trial)J.
Penerimaan (Adoption)Apabila adopsi perilaku baru melalui
proses
yang
didasari
oleh pengeta-h:::L kesadararUdan sikap
yangpositif,
makaperilaku
tersebut akanbartahan larna(long tasting). Pengetahuan yang dicakup di dalam donutln
kognitif
mempunyai enam tingkat yaitu :
1.
Tahu {Know)Tahu
diartikan
sebagai mengingat suatu materiyang
telah dipelajari sebelumnya2.
Memahami (Comprehe.nsion)Memahami
diartikan
sebagai
suatu
kemampuan menjelaskan dan penginterpretasi suatu rnateri yang diketahui secara benar.3.
Aplikasi
(Application).
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampauan untuk menggunakan materi....
t
'
'Jung
telah dipelajari pada situasi atau kondisi
riil.
4.
Analisis (Analysis)Analisis adalah suatu kernampuan untuk menjabarkan
materi ke
dalam komponen-komponen,tetapi
masihdi
dalam suatustruktur
organisasite-rsebut dan masih ada kaiUrnnya satu sama lain.
5.
Sintesis (sywlesis)sintesis adalah suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di
dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru
6.
Evaluasi {Evaluation)Evaluasi
ini
berkaitan dengan kemampuanuntuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suaturnteri
(Notoatmodjo S, 2003).2.6.2
Konsep Sikapsikap
merupakan reaksi atau respon yang masih tertutupdari
_seseorang
terhadap sutau stimulus atau objek.
sikap
tidak dapat langsungdilihat,
tetapihanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu
dari
perilaku yang tertutup. Sikapsecara nyata. menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi yang bersifat emosional terha&p stimulus sosial. Sikap yang
positif
terhadap suatu nilai kesehatan tidakselalu terwujud dalam bentuk yang nyata.
Robert
Kwick
{1974) menyatakan sikap adalah hanya suatu kecenderunganuntuk mengadakan tindakan terhadap suatu objek. Newcomb menyatakan sikap
adalah
kesiapanatau
kesediaanuntuk
bertindalq
dan
bukan
merupakanpelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan zuatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.
--'
--
'Menurut
Allport
(1974),
sikap
yang utuh
terdiri dari tiga
komponen pokok,yaitu:
l.
Kepercayaan fteyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek2.
Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek3.
Kece-nderungan untuk bertindak.Tingkatan sikap terdiri dari :
1. Menerima ( Receiving)
Menerima
diartikan
bahwa orang (subjek)
mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).2.
Merespon (Responding)Memberikan jawaban apabita ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suafu indikasi dari sikap.
3.
Me4ghargai (Valuing)Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suanr_masalah
adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4
Bertanggungiawab (Responsible)Sertanggungiawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
'
resiko merupakan sikap yang paling tinggi (Nosoafinodjo S, 2003).
2.6.3
Konsep TindakanTindakan merupakan
wujud
dari sikapyang
nyara.suatu
sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatuperbuatan yang nyata diperlukan faktor-faktor pendukung atau suatu kondisi yang
memungkinkan.
' -
-
'-Tindakan mempunyaibeberapa tingkat, yaitu:
l.
Persepsi (perception)Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek pertama.
2. Re-spons Terpimpin (Guided Response)
Dapat
melakukan sesuatu sesuai dengan urutanyang
benar dan sesuaidengan oontoh adalah merupakan indikator praktek tingkat
dua
-3. Mekanisme (Meconism)
Apabila
seseorang telahdapat
melakukan sesuatu dengan benar secaraotomatis, atiau sesuatu
itu
sudah merupakan kebiasaarL makaia
sudahmencapai praktek tingkat tiga.
4. Adopsi (Adoption)
Ad4ptasi
adalah
suatupraktek
atautindakan yang sudah
berkembangdengan baik (Notoarmojo, 2003).
2.7
Masalah Sosiat Dan Ekonomi Yang Berhuhungan Dengan DBD.
Pengalaman menunjukkan bahwa upaya pemberantasan vektor DBD akanberhasil
bila
tingkat
perkembangansosial
dan
ekonorni
masyrakat dapatmendukung. Kegagalan
dalam
mencapai
atau
mempertahanl€n
upayapemberantasan tidak hanya dipengeruhi oleh tingginya derajat penularan, tetapi
juga
oleh
perubahan lingkunganyang
terjadi selama kegiatan pemberantasanberlangsung. (Sukana, 1993).
2.7. 1
Faktor
Pendidikan..
Tujuan
pendidikan adalah untuk mengubahperilaku
individu, kelompok:.
--..doh inasyarakat menuju hal-hal
yang
positif
secara terencanamelalui
prosesbelajar. Perubahan
perilaku
mencakuptiga
ranahperilakq
yakni
pengetahuan,sikap,
dan
keterampilan melalui pros€s pendidikan kesehatan (Notoatmodjo,ree3).
Makin
tinggi pendidikan seseorang, maka makin tinggi pula pemahamanseseorang
tentang
pencegahandan
pengobatanpenyakit
(Syaflimaidesi, 2003).Pendidikan merupakan faktor penentu dalam mengubah pengetahuan dansikap seseorang. Masyarakat yang rnempunyai
tingkat
pendidikanyang
lebih tinggiakan
lebih mudah untukdiberi
penyuluhan/ pengarahan, bimbingan danpembinaan ( Ahmad, 1994).
Pembangunan
di
bidangpendidikan
meningkatkan pengetahuan danpemahaman terhadap kesehatan. Konsep sehat dan
sakit
menjadi mantap yangmempengaruhi persepsi
/
pandangan cara hidup dan upaya seseomng untuk dapatmeningkatkan derajat kesehatannya.
kngan
demikian
pemberantagan Aedesdirasakan sebagai suatu kebutuhan
yang
dilestarikan hasilnya sehingga vpaya untuk menyehatkandiri
dan
lingkungannya akanmereka
laksanakan secaraspontan.
Hal
ini akan menjadi suatu kebiasaan, sikap dan perilaku seseorang untukhidup sehat. (Sukan4 1993).
Pendidikan kesehatan mempunyai peranan yang penting dalam mengubah
perilaku masyarakat agar searah dengan tujuan pelaksanaan psN DBD, sehingga
rnenimbulkan perilaku
positif
dari masyarakat terhadap program pemberantasan sarang nyamuk yang bersifat non insektisida yang efektifyaitu
dengan melakukanpemb_ersihan
sarang nyamuk
(lzar, 2001).
Menurut Mandriwati
dari
hasil---.
pehelitian peningkatan
peran
serta keluargadalam
PSN DBD
di
Denpasarpendidikan yang tinggi hasil pelaksanaan PSN baik, sedangkan pendidikan rendah
hasil pelaksanaan PSN DBD kurang baik (Mandriwati, 2001).
2.7.2Faktor Ekonomi
Fahor ekonomi merupakan faktor yang
juga
ikut
menentukan timbulnya DBD, sebagai contoh di daerah yang sulit akan air, dirnana untuk kebutuhan hidup sehari-hari air harus dibeli, maka pekerjaan untuk menguras bak mandi, tempayanseminggu
sekali
sangat memberatkan kehidupanmereka.
(Sulena,
1993).Ekonomi
merupakansuatu indikator
keberhasilankeluarga. Apabila
tingkat keluarga sudahbaik,
masyarakat cenderung untuk memperftatikan kesehatandirinya
maupun keluargadirinya
maupun keluargaagar
tidak
sakit
Apabila tingkat ekonomi kurang memadai masyarakat cenderurrg untuk memperhatikan kebutuhan sehari-hari untuk bertahan hidup dan sering mengabaikan kesehatan.Menurut Mandriwati dalam
penelitian meningkatkanperan
serta masyarakat dalam PSNDBD di
Denpasar, ekonomi keluarga berpengaruh terhadap upaya pelaksanaan PSN DBD {Mandriwati, 200 1).BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL
DAN HTPOTBSTSPENELITIAN
3.1
Kerangka Konseptual Penelitian.
Variabel lndependent Variabel Dependenti
_::1:::l'_1
iKeterangan:
D
: Variabel yangditeliti
i-:l
: Variabel yangtidakditeliti
3.2 Hipotesis Penelitian
3.L1.
Ada
hubunganantara
tingkat
pendidikan
denganpencegahan terhadap DBD.
3.2.2.
Ada
hubunganantara
status
ekonomi
denganpencegahan DBD.
.
_-3.2.3.
Ada
hubunganantara
tingkat
pengetahuan denganpencegahan DBD.
tindakan
tindakan
tindakan
3.2.4. Adahubungan antara sikap dengan tirrdakan pencogahan DBD.
'--
Tingkat PendidikanStatus Ekonomi
Tindakan lbu terhadap Pencegahan DBD Pengetahuan
BAB.I
MBTODE
PENELTTIAN4.1Desain Penelitian
.
Penelitian ini dilakukan denganjenis Cr,o.ss Sectional Analytic Study..
:
._4.2 Waktu
dan Lokasi PenelitianPenelitian
ini
dilaksanakan padabulan
Desember 2006 sampai Agustus2007 dan berlokasi di Kelurahan JatiBaru Padr:rg.
4.3
Populasi dan Sampel 4.3.1PopulasiPopulasi penelitian
ini
adalah semua ibu rurnah tangga yang berada dan bertempat tinggal di Kelurahan Jati Baru Padang.4.3.2 Sampel
Sampel yang diambil dengan derajat kepercayaan 9O%o danpenyimpangan perkiraan sama dengan I0Yo dari populasi yang sebenarnya, maka jumlah sampel
diambil bprdasarkan rumus berikut:
, ZazxPxQ
d2
Il : Jumlahsampel
d :
presisi=O,I'' Za: Deviatbakualpha
a :
l-P
P
-
Proporsi partisipasi keluarga da!a:n uemberantasan sarang nyamukDBD 17, 5o/o: O,l8
Dari
hasil
perhitungandidapat
sampel
sebesar45
onang
denganmenggunakan perkiraan penambahan
sampel
t
t0%.
Pengambilan sampel dilakukan secaraMuki
Snge simple random sampling, dirnana sampel diambil secara bertahap. Tahap pertamadiambil
2
sampel s&ara acak sederhana padatingkat RW, tahap kedua diambil
dari
masing-masing RWterpilih
3 sampel RT:.
--:.secaf& acak sederhana, tahap ketiga diarnbil sejumlah
KK
dariRT
terpilih sequaacak sederhana.
-
RWI
RWII
tt
j'
T'
Ibul
lbu2Kriteria sampel :
1. Kriteria inklusi
:
Ibu-ibu rumah tangga yang berada dan bertempat tinggal di Kelurahan Jati Baru.2. Kriteria eklusi :
a
Responden tidak bersedia diwawancarai.
.-b. Responden tidak beiada di rumah dalam zknlikunjungan
c- Responden tidak numpu berkomunikasi karena sakiL bisu atau
tull
d. Responden berjumlah lebih dari satu orarg dalam satu rumah.
f---1
RT
1
RT2tt
Ibul
tbu2Kelurahan
4.4
Pengumpulan DataData
primer
: diperoleh dengan menggunakan kuesioner terhadap respondenData
sekunder
: diperolehdari
Puskesmas Andalas Padang,Lurah
Jati
BaruPadang.
.-.
-:
4.5 lFariabel dan Pengukuran
Variabel Skala Peneukuran Kategori
l.Dependent
aJindakan
Ibu
teftadapoencesahan DBD
Ordinal Kuesioner, no
3l
- 38 Baik Kurans2. Independent
a. Sants ekonomi
'a
b. Tingkat pendidikan
Ibu
c. PengetahuanIbu
mengenaiDBD
d. Sikap Ibu mengenai
DBD
Ordinal
Ordinal
Odinal
ffiinal
Sandar nasional yang dikeluarkan BPS 2003
Kuesioner, no 2
Kuesioner, no7
-2I
Kuesioner,no22-30
Miskin Tidak miskin Tinggi Rendah Baik Kurang Positif Nesatif
4.6 Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data primer adahh kuesioner.
4.7
Per_golahrn dan Anallsis DetaData yang terkumpul diolah
secaf,a manual denganmetode
tabulasi. Sedangkan analisis data dilakukan sesana&skriptif
menggunakan tabel frekuensiyang disusun berdasarkan hasil kuesioner dan untuk melihat hubungan antara
variabel
terikat
dengansatu
variabel bebas denganjenis
dataordinal,
makaaiianfan
pengujian statistik Chi-square, dengan derajat bermaknabib
/
hitung lebih besardarild
hbel.Rumus statistik yang dipakai :
x2=I*#r
X2 = Chi-square yang dicari >>
O-=
Hasil Observasi--
--.
E
= Nilai yang diharapkanNamun
jikanilai
E<5, maka digunakankor€ksiyatcdengan
mmus:xcz
=
r<'o-Y-l*
@ko Budiarto,2W2r.
3.8
llelinisi
Operasional3.8. I .Pengetahuan
Pengetahuan
baik
formal
maupuninformal
tentang
penyakit
DBD,pencegahan DBD.Pengetahuan dinilai dari
lima
belas pertanyaarL setiap jawaban yang benar diberi nilai satrl sedangkan jawaban yang salah diberi nitainol.
Hasil ukur baik adalahjika
*or
total besar dari rata-rata.Nilai
kurang adalahjika
skor total kecil atau sama dengan rata-iafa3.8.2. Sikap
Sikap merupakan
sikap
ibu
rumah tangga tertradap pencegahan DBD. Setiap jawaban diberi nilai. Sikap diukur dari pemyataandari
sikapyang
terdiridari
lima
pemyataan positif(+),
dan4
pernyataannegatif
O
dengan skalaLikert.
Untuk setiap pernyataan sikap positif(+)
: sangat setuju (ss) diberinilai
5,setuju (s) diberi
nilai
4, ragu-ragu (RR) diberinilai
3, tidak seh{u(ts)
diberi
nilai2,
aan sangattidak
setuju
(srs)
diberinilai
1. Danuntuk
pemyataan sikap negatif(-)
:
saogat setuju(ss)
diberinilai
l,
setuju (s) diberi nilai 2, ragu-ragu{RR) diberi nilai 3, tidak setuju (TS) dib€ri nilai 4, dan sangat tidak seruju
(srs)
diberinilai
5. Hasil ukurpositifjika
skor total besar dari rata-rata, dan negatifjika
skor total kecil atau sama dengan rata-rata
3.8.3. Tindakan
.
Tindakan merupakan tindakanibu
rumah tangga terhadap pencegahan:,:
OitO.tinOakan
dinilai
dari delapan pertanyaan. Setiap jawaban dengan tindakan yang benar diberinilai
satu dan untuk tindakan yang salah diberinilai
nol.flasil ukur baikjika
skor total besar dari rata-rata-Nilai
kurangjika
skor total kecil atausama dengan rata-rata.
3.8.4.Ibu rymah tangga
Wanitayang mempunyai suami dan anak
3.8.5. Pendidikan
Tingkat pendidikan dibagi dua :
i.
Tinggi
:
PT, SMA dan redenajatnya.ii.
Rendah:
SMP, SD dansdeeptnyq
tidak sekolah.3.8.6.Pendapatan
adalah rata-rata pendapatan perorangan perbulan menunrt standar nasional
yang dikeluarkan oleh
Biro
Pusat Statistik tahun 2003 untuk daerah perkotaandi
Sumatera Barat:
'
i.
Tidsk miskin : 2 Rp. 163.038,- / orangI
bulanii. Miskin
:<Rp.
163.038,-/orang / bulan5.1
BAB
5HASIL PENELITIAN
Analisis Situasi
Kelurahan
Jati Baru
adalah salah satudari
l0
kelurahanyang
ada di Kecamatan PadangTimur.
Kelurahanini
memiliki
luas
wilayah 140
ha danberada pada ketinggian 8 meter dari permukaan laut. KelurahanJati Baru didiami
olen
6.iOt.jiwa
penduduk, terdiridari
10 Rukun Warga (RW), dan33
Rukun Tetangga (RT) dengan 1.381 Kepala Keluarga.Dalam upaya pencegahan
DBD
di
KelurahanJati
Baruini
telah banyakusaha yang dilakukan
yaitu
penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk demamberdarah oleh petugas Puskesmas, abatisasi serta fogging- Kendala yang sering
ditemui dalam pembagian bubuk abatisasi adalah masih banyak masyarakat yang
tidak
mau memasukkanbubuk
abateke
dalambak
mandi.
Karena mereka beranggapan bubuk abate tersebut terbuat dari bahankimia
yang dapat merusakkesehatan.
Usaha
penyuluhanjuga
belum
mencapai
sasaran keseluruhanpenduduk karena baru dilakukan
di
tingkat
Puskesmas dan Posyandu. Fogging yang dilakukandi
Kelurahan JatiBaru
adalahfogging
fokus yang dilakukanapabila ditemukan penderita yang positif mengidap penyakit DBD.
5.2 -' Hasil Penelitian
Telah dilakukan pengumpulan data pada tanggal 15 sampai 16 Jrln
nm
terhadap ibu rumah tangga di Kelurahan Jati Baru Kecamatan
PadangTlEKotn
Padang melalui kuesioner
dari
45
orang sampel. Pengolahan data kuesioner ditampilkan pada tabel-tabel berikut :5.?.1, Analisis
Univariat
---_-'
".-
":
Tabel5.l.
Distribusi Tingkat Pendidikan
lbu-Ibu
Rumah Tanggadi
Kelurahan Jati BaruTingkat
Pendidikan
n
V"Tinggi
Rendah
40
895
ll
Jumlah
45
100Pada tabel
5.1
terlihat bahwa sebagian besar responden (897o) dengan tingkat pendidikan yang tinggi.Tabel5.2
Distribusi
Status Ekonomilbu-Ibu
Rumah Tanggadi Kelurahan Jati
Barn-Status
Ekonomi
n
VoTidak
Miskin
27
60Miskin
l8
40Jumlah
45
100pari
tabel5.2
terlihat bahwa pada umumnya responden stahrs ekonomiresponden tidak miskin (ffi%).
Tabel
53.
Distribusi
Tingkat
Pengetahuanlbu-Ibu
Rumah
TanggaMengenai
DBDdi
KelurahanJati Baru.
.
Tingkat
n
VoPengetahuan
Baik
25
55Kurang
2A
45Jumlah
45
100 [image:42.472.53.426.142.258.2]Dari
tabel5.3
terlihat bahwalebih
dari separuh responden mempunyaipengetahuan yang
baik
mengenai DBD (55%).'.
-':Taliel
5.4.Distribusi
Sikaplbu-Ibu
RumahTangga
Mengenai DBDdi
Sikap 0A
Positif
Negatif24
2t
53,33 _
46,67
Jumlah
Dari
tabel5.4
terlihat bahwalebih
dari separuh responden mempunyaisikap yang positif mengenai DBD (53,33oA).
Tabel
5.5.
Distribusi
Tindakan
lbu-{bu
Rumah Tangga
Terhadap PencegahanDBD
di
KelurahanJati Baru.
Tindakan
n
V"100
45
Baik Kurang
19
4258 26
Jumlah
45 100Dari
tabel
5.5
terlihat bahwa lebih
dari
separuh responden masihmempunyai tindakan yang kurang terhadap pencegahan DBD (58%).
a
5.2.2 . Analisis
Bivariat
Tabel5.6
Hubungan
antara
Tingkat
Pendidikan
dengan,
Tindakan PencegahanDBD
Tindakan Pencegahan DBD
-Tingkat
PendidikanTotal
Baik Kurang:2,388
t9
t/o Vo 45 % 100 100 40 5 55 80 22 4 18 I 45 20 Tinggt RendahJumlah
26df=
I [image:43.476.26.441.93.266.2]Dari tabel 5.6
menunjukkan adanya kecenderungan responden yang berpendidikantinggi
memiliki
tindakan yangbaik
(45%) terhadap pencegahanDBD_bila
dibandingkan dengan responden dengan tingkat pendidikan rendah.-.
QO"A
Dariuji
statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan tindakan pencegahan DBD.Tabel5.7 Hubungan antara Status ekonomi dengan
Tindakan
Pencegahan DBDStatus Ekonomi
Tindakan
Pencegahan DBDTotal Baik Kurang oa % o/o r00 100 27 28 37 88
t7
63212
t016Tidak Miskin
Miskin
Jumlah
:
11,9df:
I
Dari data tabel 5.Tmenunjukkan adanya kecenderungan bahwa responden
yang tidak miskin memiliki
tindakan pencegahanDBD
yang baik
(63%\ dibandingkan dengan responden yang miskin (12%).Dari uji
statistik didapatkanhubung4l
yang bermakna antara status ekonomi dengan tindakan responden terhadap pencegahan DBD.Tabel5.8 Hubungan
antara
Pengetahuan denganTindakan
PencegahanDBD
Tindakan
Pencegahan DBDP6ngetahuan Kurang 45 19 Baik Yo
l9
Ot//o 33 % 45 100lm
25 20 4A 75 t0 t6 60 25l5
4 Baik Kurang JumlahDari hasil analisis hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan
tindakan pencegahan
DBD
pada tabel5.8
di
atas, diperoleh bahwa respondenyalg_mempunyai tindakan pencegahan
DBD
yangbaik
lebihtinggi
ditemukan..
- :puO" i"sponden dengan tingkat pengetahuan
baik (60%)
dibandingkan dengantingkat pengetahuan yang kurang
Q5%).
Dariuji
statistik didapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan tindakan pencegahan DBD.Tabel
59
t{ubungan antara Sikap denganTindakan
Peneegahan DBD Tindakan Pencegahan DBDTotal
Sikap Baik Kurang
o//o o//o
%
Baik
1781
4 19Kurang 2
8.33 22
91,67100 100
2L
24
Jumlah t9
=24,2
df:
IDari
tabel 5.9terlihat bahwa tindakan pencegahanDBD
yangbaik
lebihtinggi
didapatkan pada respondenyang
bersikappositif
dibandingkan denganrespondgn yang bersikap negatif (8I%o
:
8,33%).Denganuji
statistik
terdapathubungan yang bermakna antara sikap dengan tindakan pencegahan DBD.
45
26
[image:45.480.62.435.248.368.2]BAB 6 PEMBAI{ASAIY
..
.
:e.i
fingt<at Pendidikan, Status Ekonomi, Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Pencegahan DBDDari hasil penelitian yang dilakukan
di
Kelurahan Jati Baru terhadap 45orang
responden,didapatkan
tingkat
pendidikan
respondenlebih
banyakberpendidikan tinggi (8g%). Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Widyana (1997)
di
Kabupaten Bantul yang mendapatkanbahwa
87% danresponden berpendidikan rendah. Hal
ini
diasumsikan Kelurahan Jati Baru beradadi
daerah perkotaan, sehingga masyarakatnya mengenyam pendidikan yang lebihtinggi dari masyarakat di Kabupaten Bantul.
Pada umumnya status sosial
ekonomi
respondenyakni
tidak
miskin (60%). Hasil penelitianini
sama dengan Noviana (2001)di
Kelurahan Andalasyang mendapatkan bahwa 640lo responden dengan stahrs ekonomi tidak miskin.
?ilihat
dari segi pengetahuan, lebih dari separuh respondendi
Kelurahan Jati Baruini
mempunyai pengetahuan yang baik mengenai penyakit F)-BD (55%).Hasil penelitian
ini
sesuai dengan penelitian Holani Achmad (1992)di
Wonosari yang mendapatkan pengetahuan yangbaik
(50%) tentangDBD.
Hal
ini
dapatdikaitkan dengan tingginya pendidikan sebagran besar ibu-ibu rumah tangga di Kefirrahan
Jati
Baru. Pendidikan yangtinggi
melatarbelakangi penduduk untuk bisa mengetahui tentang DBD.Lebih
dari
separuh responden sudah mengetahui pengertiandari
DBD, penyebab penyakit, nyamuk penular- Umumnya responden belum mengetahuidengan benar penyebab
atau
faktor
yang menyebabkan timbulnya penyakitdemam
berdarah.Mereka
beranggapanbahwa
penyebabpenyakit
demam berdarah dengue adalah nyamuk. Responden umumnyajuga
belum mengetahui..
.-:ilengan benar
bagat*1*
siklus
hidup nyamuk,
kapannyamuk
beraktivitas menghisap darah manusia. Begitu pula mengenai konsep pemberantasan sarangnyamuk atau tempat berkembangbiaknya nyamuk belum diketahui dengan baik. Kurang efektiftrya penyuluhan menyebabkan sebagian besar masyarakat kurang
informasi untuk mengetahui manfaat pemberantasan (Kasnodihardjo, 1994). Hal
ini
dapat diketahui dengan sebagian besar respondentidak
mengetahui tujuanpengasapan (fogging), abatisasi, dan PSN DBD.
Dari segi sikap, lebih dari separuh ibu-ibu rumah tangga
di
Kelurahan JatiBaru
mempunyaisikap
yangpositif
(53,33%). Danini
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan sumengen Kasnodihardjo (1994\,dimana7l%
ibu-ibu rumah tanggadi
sukabumi menunjukkansikap
positif
terhadap pencegahanpenyakit DBD.
sikap
dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu pengalaman pribadi , interaksi.sosial, pengaruh
oftrng
lain yang
dianggappenting,
kebudayaan,informasi
sercafaktor
emosional {Notoatmodjo,2003).
Hasil
ini
mungkin dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden yang tinggi sehingga mereka bisa bersikap dengan dasar pengetahuan yang baik.Lebih dari separuh
ibu-ibu
rumah tanggadi
Kelurahan Jati Baru masihkurihg
tindakannya dalam pencegahan DBD (58%). Angkaini
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Sumengen Kasnodihardjo (199a)di
Sukabumi {46%). Hal ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan sosial budaya responden dari kedua tempat penelitian. Responden pada umumnya masih belum melakukantindakan penting seperti menguras
bak
mandi,dan
tempat penampungan air, membersihkan halaman, tanaman hias, mengubur kaleng bekas dan lain-lain yangberhubungan dengan tindakan pencegahan penyakit DBD.
..
. :mendukung penyebaran penyakit demam berdarah dan kurang mendukung upaya
pemberantasan
penyakit
tersebut. Munculnya
perilaku karena
adanyaperkembangan yang
dialami
seseorang, diperolehmelalui
p{oses pendidikan maupun'pengalaman merupakan bagian yang sangat penting dalam terbentuknyatindakan masyarakat
dalam
terbenhrknya tindakan masyarakat terhadap upaya pencegahan DBD (A2ru1, 1983).6-2
Faktor-
Faktor Yang Berhubungan DenganTindakan
Pencegahan DBD6.2.1 Hubungan
Tingkat
Pendidikan denganTindakan
Pencegahan DBD Persentaseibu
rumah tangga yang melaksanakan tindakan pencegahanDBD dengan baik ditemukan pada responden dengan pendidikan
tinggi
sekitar45o/s, &lbundingkan dengan responden dengan pendidikan rendah
hanya
zayo-Sehingga dapat dilihat bahwa sebagian besar responden dengan pendidikan tinggr
masih kurang tindakannya dalam pencegahan DBD (55%). Dari
uji
statistik tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan tindakenpencegahan
DBD.
Hasil
ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukanCtrisni
utaini,
dkk
di
Semarang(lgg4)
yang mendapatkan tingkat pendidikanLErg
berpengaruh terhadap kejadian DBD.