o
Senin123
17
18
19
OJan
OPeb
~ibun
Jabar
o
Sabtu12
13
27
28
OSep
OOkt
o
Selasa
0
Rabu
..
~
5
6
7
20 21 22
8
Mar OApr OMei.
Kamis0
Jumat
8 9 10 11 23 24 25 26
OJun OJul 0 Ags
o
Minggu
14
15
16
29
30
31
OHov
ODes
./
r.
I
.
.,. '
L
'. ic',Jr.
Nasib Boediono
"
RAPAT "panas" Paripurna DPR Rabu-kamis (2-3/3) kemarin menilai ada pelanggaran peraturan perundang-undangan dalam
penetapan kebijakan bail out Bank Century. Lima fraksi yakni Golkar, PDIP, PKS, Gerindra, dan Hanura menyatakan pemberian fasilitas pinjaman jangka pendek (FPJP) dan penyertaan modal sementara (PMS) bagi Bank Century bermasalah.
Lebih jauh lagi, pelanggaran tersebut juga melahirkan
penyalahgunaan
wewenang hingga terjadi dugaan tindak pidana, mulai dari tindak pidana umum, tindak pidana perbankan, tindak pidana pencucian uang, hingga tindak pidana korupsi. Mayoritas Fraksi bahkan menyebut nama Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani termaktub sebagai pihak yang bertanggunjawab.
Pandangan mayoritas Fraksi tersebut
menguatkan hasH audit BPK atas Bank Century yang menyimpulkan bahwa proses merger clan pengawasan Bank Century oleh Bank Indonesia (BI) terjadi pelanggaran di mana dalam proses akuisisi dan merger Bank Danpac, Bank Picco, dan Bank CIC menjadi Bank Century, BI bersikap tidak tegas dan tidak hati-hati (prudent)
dalam menetapkan aturan dan persyaratan yang ditetapkannya sendiri. Belum lagi persoalan yang berkaitan dengan
pemberian fasilitas pendanaanjangkapendek (FYJPL
___ __
=
-referat
SUHARIZAL SH MH. Kandidat Doktor Hukum Tata Negara Universitas Padjadjaran Bandung
Lebih jauh lagi, Bank Century digerogoti oleh pemilik dan
manajemennya sendiri, yang secara sistemik pula dibiarkan oleh BI. Setelah Bank Century
ditempatkan dalam pengawasan khusus pada 6 November 2008, BI mestinya tidak mengizinkan penarikan dana besar-besaran dari pihak terkait yang tersimpan dalam Bank Century. Hal ini didasar oleh Peraturan BI No. 6/ 9/PBI/2004 yang diubah dengan Peraturan BI No. 7/38/PBI/2005 ten tang Tindak Lanjut
Pengawasan dan Penetapan Status Bank. Namun, setelah Bank Century dalam
pengawasan khusus BI, ternyata ada penarikan dana oleh pihak terkait yangjumlahnya amat fantastis.
Proses hukum Data dan fakta
mengenai kasus dana talangan untuk Bank Century senilai Rp6,7 triliun sudah terbuka dan hal itu menjadi alasan kuat agar kasus ini dituntaskan melalui proses hukum. Penuntasan "akar permasalahan" kasus Bank Century tersebut .
-harus dapat
terlaksana
,secara
~l
;f
propor-
/,
sional, '"
profesional,
.dan
.
~{,
konSntusional
~
Yang pasti,
~..
publik m~nghendaki
adanya kepastian
I
hukum dan bukan~
sekedar retorika politik.
Bagi KP.K,Kepolisian dan Kejaksaan, putusan politik yang sudah dihasilkan oleh DPR, sesungguhnya dapat digunakan sebagai tambahan "amunisi" untuk menjerat para pihak yang terkait masalah skandal Century. Semua kesaksian yang diberikan di bawah sumpah di depan sidang pansus Century di DPR tentunya dapat mempercepat
--
kerjapenegak hukum.
Pemakzulan Boediono
Dominannya peran Wapres Boediono membuka peluang hasil investigasi panitia angket berakhir pada proses pemakzulan. Tata tertib DPR mengatur bahwa tindak lanjut atas keputusan DPR tentang penggunaan hak angket ialah menyampaikan "Hak Menyatakan Pendapat" atas keputusan hasil penyelidikan melalui penggunaan hak angket.
Pada UU no 27 tahun 2009 Pasall84 ayat (lb) mengatur Hak Menyatakan Pendapat untukmenduga bahwa "Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak
pidana
berat lainnya atau perbuatan tercel a maupun tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan/ atau Wakil Presiden".
Penggunaan ketentuan di atas bersumber dari Pasal7B ayat (1) UUD 1945. Ketentuan inilah yang dikenal dengan istilah pemakzulan
(impeachment)terhadap Presiden.
Sementara bila dibaca secara cermat ketentuan Pasal 7A, dapat diketahui bahwa secara garis besar presiden dapat dijatuhkan dengan dua sebab, yaitu (1) melakukan
pelanggaran hukum (lima jenis) dan (2) tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Pasal 7A itu lengkapnya berbunyi: Presiden dan/ atau Wakil Presiden dapat dlberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau . perbuatan tercela maupun
apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Soal pelanggaran hukum, jelas disebutkan lima jenis saja dan karenanya tidak terlalu memunculkan problem. Walaupun frase "perbuatan tercela"
misalnya sangat
- --
--
---interpretatif, yang dalam UU Pilpres diterjemahkan sangat lebar, yaitu "tidak pemah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, dan adat antara lain seperti judi, mabuk, pecandu narkoba, dan zina."
Ketentuan Pasal 7B ayat (1) UUD 1945di atas belum pemah ada praktiknya dalam sejarah
ketatanegaraan kita. Kalau pendapat DPR bahwa benar hal itu terjadi, maka Mahkamah Konstitusilah yang harus memutuskan apakah pendapat DPR itu terbukti atau tidak. Kalau MK memutuskan memang terbukti, maka DPR menyelenggarakan sidang paripuma untuk
meneruskan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada MPR (Pasal 7B ayat 5 UUD 1945jo Pasall90 Peraturan Tata Tertib DPR).
Proses pemakzulan Wapres Boediono berlangsung tiga tahap. Pertama, dugaan penyimpangan presiden diajukan DPR ke MK. Kedua, MK menguji kesahihan pendapat DPR. Dan terakhir, jika MK menyatakan bahwa Wapres Bocdiono telah melanggar impeachment article,DPR menyeleng-garakan sidang paripuma untuk meneruskan usul pemberhentian Wapres Boediono kepada MPR. Proses politik di sidang majelis MPR lah yang akan menentukan nasib Boediono.
Pada tahap ini, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Meski MK menyatakan presiden bersalah, bisa saja proses politik di MPR
memutuskan tidak mencopot Boediono.