• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH RAPAT PANJA RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDYUKAN MPR, DPR, DPD,DAN DPRD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RISALAH RAPAT PANJA RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDYUKAN MPR, DPR, DPD,DAN DPRD"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH RAPAT PANJA RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDYUKAN

MPR, DPR, DPD,DAN DPRD

RAPAT KE :22

JENIS RAPAT : RAPAT PANJA KE: 2 DENGAN : ES,ELON I DEPDAGRI T ANGGAL : 25 JUNI 2003

SEKRERATARIAT PANSUS

(2)

RISALAH RAPAT

PANSUS RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD

T ahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke

Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Ternpat

Ketua Sekretaris Acara

Hadir

FRAKSI POI PERJUANGAN 1. SUKOWALUJO MINTORAHARDJO 2. HOBBES SINAGA

3. HERIAKHMADI 4. STERRA PIETERSZ 5. DIDISUPRIYANTO

6. WI LLIAM H. TUTU HARi MA 7. RUT JI GUNUNG MULJONO 8. SADJARWO SUKARDIMAN 9. OETOYO

FRAKSIPARTAIGOLKAR 1. M .. YAHYAZAINI, SH 2. DRS.T.M. NURLIF

3. DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG 4. ORA. HJ. ROSNANIAR

2002-2003 IV

Ke-23

Rapat Panja ke-2

Pejabat Eselon I Departemen Dalam Negeri Tertutup

Kamis, 26 Juni 2003 19.50 s/d 22.45 WIB Ruang Rapat Betawi I Hotel Santika-Jakarta

M. Yahya Zaini, SH Ors. lskandar N. Basri

Membahas DIM Persandingan 24 dari 31 Anggota

(3)

6. PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA 7. ALEX HESEGEM

ANGGOTA FRAKSI PPP 1 . HM. THAHIR SAIMIMA, SH 2. HM. SJAIFUL RACHMAN, SH 3. NY. HJ. AISYAH AMINY, SH 4. DRS. HM. ABDUH PADDARE

FRAKSI KEBANGKITAN BANGSA 1. CHATIBUL UMAM WIRANU 2. DRS. ALI MASYKUR MUSA, M.Si 3. ORA. IDA FAUZIAH

4. G. SETO HARIANTO FRAKSI REFORMASI 1. ORA. Hj. NURDIATI AKMA 2. H. TB. SOENMANDJAJA, SD

FRAKSI TNl/POLRI 1. AMIRTOHAR, S.IP

2. KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc FRAKSI BULAN BINTANG 1. H.Ml. ZUBAIR SAKRY

FRAKSIKKI

1. DRS. S. MASSARDY KAPHAT FRAKSIPDU

1 DRS. H. ASNAWI LATIEF PEMERINTAH

MENTER! DALAM NEGERI BESERTA JAJARANYA

(4)

KETUA RAPAT ( dr. SUKOWALUJO MINTORAHARDJO) :

Assalamu 'alaikum Wr. Wb., selamat malam salam sejahtera untuk kita semua, telah menunjukkan pukul. 19.50, tadi jam 19.45 kita sudah buka tadi di skors dari yang adir sekarang ada meliputi 6 fraksi jadi F.PBB, FKB, FPG, F.Reformasi, F.PPP, F.PDIP, j di 9 Fraksi kalau boleh kita akan memulai rapat ini kita bisa setujui kita buka kembali skors ami cabut dan rapat dibuka kembali.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 19.50 WIB)

lbu bapak sekalian jajaran yang mewakili pemerintahan pada raphari Selasa, kita telah membahas sejumlah bahan yang masih menyisakan beberapa hal yang ingin kita ti dak lanjuti pada malam hari ini yaitu berkenaan nama nah tadi ada usulan mengenai nama ada lobi makan dengan segala pertimbangan- pertimbangan yang di lontarkan oleh lbu Ai yah Aminy, nah barangkali kalau boleh kita coba angkat disini kalau memang bisa di setujui d n di sepakati biar kita sepakati pada saat ini sehingga itu menjadi suatu langkah lebih maju dari apa yang kita sisakan masih menjadi breket kemarin 2 pendapat, mungkin lbu Aisyah A iny bisa menyampaikan apa yang tadi lobi informal di meja makan, silakan lbu Aisyah.

FPPP (NY. Hj. AISYAH AMINY, SH ) :

Terima kasih Pimpinan, Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

memang pada rapat terakhir kita belum ada kesepakatan tentang nama dari und ng- undang ini dari berbagai fraksi termasuk F.PPP sebetulnya mengusulkan nama dari und ng- undang ini cukup dengan rancangan undang-undang RI no. sekian tentang MPR , PR, DPRD, bahkan F.PPP menghilangkan DPRD, tapi itu sudah terselesaikan sehingga ang menjadi masalah sekarang ialah susunan dan kedudukan. semua yang menginginkan unt k di hilangkannya kata-kata susunan dan kedudukan itu cukup beralasan dan juga y ng mempertahankan juga ada alasannya, di samping itu juga kita perlu mempertimbangkan bila kita berdebat untuk ini kelihatannya akan sama saja tidak akan selesai, karena memang k dua fihak mempunyai alasan yang rasional, bagaimana kita mencari jalan keluar supaya dapat kita selesaikan, salah satu pertimbangan yang juga bisa kita gunakan ialah bahw di masyarakat luas termasuk, terutama masyarakat-masyarakat yang mempu yai perhatianterhadapundang-undang ini mengenalnya hanya rancangan susduk, susduk apa merekatidakperduli, tapi ini rancangan undang-undang susduk katanya begitu, nah bagai ana kalauandaikatakita mulai pembicaraan ini dan kelihatannya kearah ya sudahlah ikutin saj lah namayangumum itu, yang umum di kenal oleh masyarakat tanpa kita perdebatan agi, tentang: rasio ataupun alasan-alasannya karena ke 2 alasan, ke 2 dari fihak . ang menginginkan tetap dan yang menginginkan hilangnya kata-kata itu sama kuatnya dan dalilnya itu juga cukup masuk akal semuanya.

Oleh karena itu untuk mencapai kesepakatan ldta pakai dalilnya ialah nama yang s dah di kenal, saya menyebutkan tadi namanya sudah sukowalujo, saya bilang tidak usah digan ·1ah waktu itu, karena Pak Hobbes menyatakan namanya susunan saja, saya katakan k lau di sebut nama suko nanti suko sama suko, tidak jadilah batal lagi, nah bagaimana k lau kita sepakati sekarang nama ini kita selesaikan pada awalnya sehingga untuk selanjutnya kita bisa melaju, demikian terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi inikan laporan lobi informal di meja makan, nah sekarang ingin kita forma kan pendapat fraksi-fraksi dan pendapat pemerintah atas hal•yang tadi sudah di kemukakan leh lbu Aisyah Amini, apa kita aminkan itu memang seperti itu apakah masih ada, apa yan di sampaikan oleh lbu Aisyah Amini itu kita aminkan bersama-sama memang begitu, sung uh gitu namanya sudah seperti itu, apakah ada pendapat atau tanggapan dari fraksi-fraksi, ari pemerintah begitu. Silakan Pak Baharuddin.

(5)

FPG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG ) :

Kemarin sebenamya kami termasuk yang tidak menginginkan sepert itu cukup di hilangkan susunan dan kedudukan tapi memang di internal kami ada perdeb tan termasuk antara lain adalah memang catatan seperti itu dan kemudian juga memang jug catatan yang mengukuhkan memang undang -unda11g ini memang tidak mengatur MP , DPR, DPD karena itu juga terpecah-pecah nanti di pemilu anggotanya kemudian dan sete usnya, karena itu kami pada perinsipnya setuju bahan usulan - usulan ini dan kami juga m nberi catatan semangat lobi dan kompromi saling memberi ini juga mudah - mudahan ja i catatan kita kedepan kebelakang nanti kalau tidak juga tidak selesai apa yang kita harap an catatan ini bagi kami yang penting ini yang ingin kami kemukakan barangkali itu yang ka i kemukakan, terima kasih.

Bisa seperti itu ada semangat kita untuk menyelesaikan musyawarah ntuk mufakat, yang mana baiknya atau saling mengaminkan, jangan saya mengaminkan I u Aisyah saja beliau perlu juga mengaminkan doa saya, kan kalau tidak barang kali itu yan semangat itu yang ingin memberi catatan. Barangkali itu saja, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik saya kira apa bisa kita ketok, jadi dengan demikian nama sudah selesai yaitu Rancangan Undang -Undang Republik Indonesia no tahun 2003 tentang usunan dan Kedudukan MPR, DPR , DPD , DPRD demikian setuju oke.

(RAPAT SETUJU)

Dengan demikian selesailah persoalan tentang nama, Pak Set barangkali perkembangan terakhir sudah di lapori oleh teman-teman, kemarin pada no. 30, kem dian kita akan masuk ke mungkin bagian ke dua dulu ya, ada permintaan dari lbu Ida kita liwatin ulu, kita bicara tentang mengenai DPR dulu, ini kami tawarkan dulu kesepakatan kita karena a a permintaan belum siap.

F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO) :

Terima kasih ketua, asalamu alaikum Wr.Wb , jadi kalau kita bicara D M selanjutnya kalau tidak salah DIM no. 25 sampai no. 30 semestinya karena mbak Ida kemarin empersoalkan masalah bentuk dari MPR itu sendiri yang sebetulnya ada di DIM 51 sehingga kalau kemarin catatan dari panja ketika di tutup saya masih ingat 2 hal satu ma alah judul tadi alhamdulillah kita sudah selesai, yang kedua masalah yang berkait dengan DIM yang kemarin terpending ya itu masalah MPR sekiranya mungkin sudah ada hasil 1. bi yang bisa menyepakati atau menyamakan tentang masalah MPR ini, maka kita bisa mem ahas DIM 25 sampai ke 51, tapi kalau dari kita sendiri belum ada kesamaan tentang mema dang MPR itu sendiri saya kira kita tidak mungkin bisa membahas DIM 25 sampai 51 artiny mungkin kita endapkan lagi, kita membahas DIM selanjutnya nah ini ada dua pilihan saya kira, te ima kasih.

KETUA RAPAT ( SUKOWALUJO M.) Silakan.

FPG (Ora. Ny. Hj. ROSNANIAR )

Assalamu Alaikum Wr.Wb, sesuai apa yang di sampaikan oleh saudara Didi , Bahwa kemarin kita memberikan pembahasan, kita dari F.Golkar memang dari awal it bahwa MPR itu mernpakan lembaga permanen, artinya ada suatu lembaga mempuny i kepimpinan, kemudian ada yang berpendapat apakah itu forum apakah joint session, jadi leh karena itu kemarin kita mengendapkan artinya mengistirahatkan untuk berpikir lebih pan ang waktu itu kami ingin mendengarkan kepada dari F.PKB, apakah sudah ada semacam I bi , karena ini kaitnya terputus kita mendengarkan saya dari rapat ini yang menurut pak Seto.

KETUA RAPAT:

Jadi kami kembalikan, FKB apakah sudah, Pak Seto silakan.

(6)

FKB (G. SETO HARIANTO} : Terima kasih.

Jadi prinsipnya sebetulnya yang pertama kita ingin bertolak dari Pasal 2 ayat (1) UUD MPR terdiri atas Anggota DPR dan Anggota DPD, dengan demikian prinsipnya adalah ketika MPR bersidang itu harus ada unsur itu tidak bisa hanya satu unsur harus a a dua unsur, karena itu Anggota DPR itu garis miring MPR, Anggota DPD garis miring MPR, itulah sebabnya mengapa kita usulkan keanggotaan MPR dengan demikian tidak perlu dilantik khusus karena dia garis miring, karena ketika dia disumpah sebagai Anggota PR sekaligus sebagai Anggota MPR demikian juga anggota DPD ketika disumpah dia j ga sekaligus menjadi Anggota MPR. Lebih lanjut kaitannya dengan persoalan kepepimpin n MPR. Kita beranggapan bahwa dengan demikian Pimpinan MPR itu bahkan kala boleh kita memperbaiki usul mungkin ex officio, pimpinan DPD atau Ketua DPD menjadi Ketua MPR.

Karena dengan demikian ada sekaligus kita juga menata semacam checks and balances karena hak untuk mengimpeach presiden ada pada DPR lewat Mahkamah Konst tusi, ketika di MPR nanti Sidang MPR yang mimpin adalah Ketua dari unsur DPD. Ex fficio dengan demikian ketuanya dari DPD wakil ketuanya dari DPR, kalau mau ditambah ilakan berapa orangnya itu, tetapi ini prinsip-prinsip yang kami pikirkan di PKB sehingga de gan demikian mengalirnya itu dari Pasal 2.

Pada waktu di Pansus sudah kami sampaikan bahwa ada bahaya ketik kita memilih pimpinan MPR itu sendiri /terpisah maika kita akan berhadapan dengan realita bahwa Pi pinan MPR itu tidak punya kerjaan setelah melantik, dia melantik lalu dia tidur, fasilitas lengkap, karena yang melantik lima talhun berikutnya sudah pimpinan baru. Kalau saya menjadi Pimpinan MPR sepe i itu tidak mau, artinya saya akan cari kerjaan, kerjaannya ngutak ngutik UUD, cari prestasi, jadi ini yang ita pikirkan, jadi mengapa kita harus paksakan, tidak ada urgensinya, tetapi dia kaitannya dengan kesekj nan misalnya, Sekjen MPR yang sekarang langsung saja menjadi Setjen dari DPD, jadi kita tidak . enambah satu orangpun kaerna sudah cukup Sekjen MPR yang sekarang dengan seluruh apara sudah cukup melayani DPD, dan MPR yang sewaktu-waktu bersidang jadi dia merangkap, itu yang ita pikirkan jadi inilah usulannya itu, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan.

FKB (DRA.HJ. IDA FAUZIAH):

Saya kira sampai detik ini FKB masih seperti itu yang disampaikan Pa Seto, Cuma kami tidak ingin dianggap menghalangi pembahasan ini, makanya kami meny rankan kalau memang tidak ada titik temu, kita lanjutkan saja dengan memulai pembaha an ke DPR misalnya

KETUA RAPAT:

Kita coba ini kalau sudah diangkat . temanya topiknya mengenai pandangan ini saya kira perlu juga di respon teman-teman fraksi-fraksi yang lain supaya kita jug mendengar bagaimana pandangan yang ada yang muncul di dalam rapat ini, kami p rsilakan Pak Baharudin.

FPG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG ) :

Mendengar komentarnya saudara Seto tadi sesungguhnya banyak kal n pikiran itu sama dengan pikiran kami itu nanti akan kita yang di pimpinan, barang kali yang di persidangan persoalannya sekarang kitakan menyelesaikan pasal 2 kemarin sudah sepakat nampaknya ini Pak Seto, kalau ini rumusan ini kita ambil dari rumusan undang dasar 45 kan sepakat, ya kan selesai yang kemarin kemudian dalam konteks pasal 3 kemudian soa keanggotaan adalah itukan peresmian atau keputusan atau dituangkan oleh residen itu hanya administratif dengan konsekwens1i dan semacamnya di jelaskan ole pemerintah kemudian juga pasal 4 masa bakti saya yakin juga kalau dalam konteks ini juga, dal m konteks itu sebenarnya tidak ada persoalan yang barangkali perdebatan adalah pasal 5 Pak Seto it kan kemudian nah itu kalau kita mau bertahap cara apa penyelesaiannya, kalau

(7)

sekarang ini kita mengkoreksi dan saya rasa bukan hal yang sesua u yang tabu atau sesuatu yang ini tapi kita tidak menyebutkan bahwa ini ke iasaan, tapi memang kebiasaan kalau memang itu sesuai dengan aturan kemudian juga tidak ini mungkin tidak masalah, tapi kalau memang ada hal-hal yang ambit juga sebagai contoh sandingan lain yang memang dimungkinkan untuk itu dan kita melihat bahwa rambu-rambu nanti itu akan tertuang dalam muatan U itu sendiri saya rasa tidak berlebihan dan tidak ada salahnya masalah ini, jadi kami masih berpendapat bahwa lebih leluasa kita dengan menyebutkan cuku institusinya saja karena begini pak ketua ada pakar juga yang bingung apa kok susunan kedudukan bukannya kedudukan dan ini menjadi perdebatan juga menimbulkan hal-hal yang sebetulnya bukan lagi kesubstansi nah ini kita me ghindari hal semacam itu kami rasa memang lebih pas kalau judul itu kita s butkan saja institusinya saja, terima kasih Ketua.

I

I

KETUA PANJA:

Dari F.PDIP ada yang mau disampaikan mengenai judul silahkan.

F.PDIP (HOBBES SINAGA):

Terima kasih saudara ketua, kami kira mengenai judul rm b rangkali kita harus ada satu tim mungkin nanti yang dibentuk untuk membicara an ini lebih dalam karena seperti dikatakan pak ketua tadi ada hubungannya antara judul dengan konsideran, jadi itu harus sink:ron jadi saya kira kami mengusulkan supaya ada dibentuklah tim kecil khusus membicarakan ini lebi mendalam, terima kasih.

KETUA PANJA:

Baik silahkan dari F.Reformasi.

F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA):

Terima kasih Ketua Panja, ketua dan Angota Panja yang saya hormati j ga pemerintah Pak Oentarto dan teman-temannya,

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Memang ketika RDP-pun istilah susunan dan kedudukan ini cukup ramai ditinjau dari nara sumber dari perguruan tinggi diantaranya ada yang menyebutkan yang paling tepat itu kalaupun mau kedudukan dan susunannya, kemudian ada lagi yang menyebutkan yang paling tepat tidak menggunakan istilah susunan dan kedudukan tapi langsung kepada tentang lang ung kepada subjek vew tersebut karena tidak hanya RUU ini tidak hanya men atur tentang susunan dan kedudukan, saya sangat memahami penjelasan yang disampaikan oleh yang terhormat pemerintah tadibahwa istilah ini sudah seku ng-kurangnya ada empat pendekatan saya dengartadi dari mulai legal konstitusio al kemudian emvirik sampai keadministrasi, kami juga mempunyai alasan meng pa didalam DIM yang pertama ini ketika kita bicara di Pansus itu cenderun dihapuskan karena memang landasan yang sama yaitu Pasal 2 ayat (1) Pasal 19 ayat (2) dan Pasal 22c ayat (4) UUD'1945 itu mernjadikan alasan bagi kami untuk tidak menggunakan istilah susunan kedudukan menjadi heading dari RU ini tetapi saran kami adalah RUU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD beb rapa alasan saya mendukung terhadap penjelasan yang disampaikan oleh ya g terhormat lbu Evita dari F.PG tadi, oleh karena itu F.Reformasi sampai saat ini masih tetap pada pendapat semula bapak sekalian atau tidak menggunakan usunan dan kedudukan, demikian Ketua terima kasih.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

(8)

KETUA PANJA:

F.TNl/Polri silahkan.

F.TNl/POLRI (AMIR TOHAR, S.IP): Terima asih Bapak Pimpinan, Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Yang kami hormati para Anggota Panja,

Yang kami hormati pihak Dirjen Otda beserta jajarannya.

Dari fraksi kami tentang masalah judul ini kami akan melihat man yang terbaik saja, jadi tidak terlalu harus menghilangkan ataupun mungkin haru tetap menggunakan susunan kedudukan, jadi kita , mendukung mana nanti da i para forum yang dianggap terbaik itu dari F.TNIJPolri akan mendukung itu saya ira itu saja, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan dari F.KB Bu Ida.

FKB (ORA. IDA FAUZIAH) : Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pimpinan dan Anggota panja dan pemerintah yang kami hormati, Berkaitan engan

judul dalam rangka mencari yang terbaik kami

mengusulkan pertama kami memahami apa yang disampaikan pemerinta tetapi kami ingin menjelaskan dulu sikap kami kaitannya dengan judul kam tetap dengan usulan yang pertama judul ini tidak menggunakan susun n dan kedudukan tapi langsung pada objeknya MPR, DPR, DPD, dan DPRD dengan argumentasi pertama saya ingin menjawab apa yang disampaikan pe erintah kalau tadi pemerintah menggunakan ini adalah amanat konstitusi engan beberapa pasal yang disebut yang memerintahkan untuk membuat UU dan susduk saya kira dengan tanpa menyebut susunan dan kedudukan menja i judul itu bukan berarti kita tidak menjalankan amanat konstitusi karen yang diperintahkan adalah menjelaskan tentang susduk itu bukan menj laskan tentang perintah untuk menjadikan itu sebagai judul UU itu sendiri, jadi dengan mengambil judul RUU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD didalamnya sudah termasuk menjalankan perintah untuk menjelaskan tentnag susuna dan kedudukan disamping juga menjelaskan hal-hal lain yang diatur dalam UU ini karena UU ini juga ternyata menjelaskan tentang hubungan antara D D dan DPR misalnya sehingga kami tetap berprinsif. bahwa yang terbaik menur t kami adalah RUU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, terima kasih.

KETUA PANJA:

Berikutnya Pak Asnawi Latif silahkan.

FPDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF) Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saudara Pimpinan, saya ini penyambung almarhum Sdr. Harton ~a~Q

meninggal beberapa minggu yang lalu dan baru terima bahan-bahannya . an

m1

tapi sepanjang yang saya dengar tadi perdebatannya mengenai judul MPR, DPR, DPD, dan DPRD, saya pikir Pasal 3 samapi diputing sidang t hunan kemarin itu menyangkut soal susunan MPR atas ini, ini, ini yang sela jutnya diatur oleh UU, jadi memang benar itu susunan itu diatur sepanjang yan saya tahu secara .. saya tidak tahu perdebatan selama ini di Pansus ini, oleh kar na itu sebaiknya kita pending masalah judul kita buka lagi risalah rapat-rapat sidang tahunan dan juga suasana kebatinan yang ada waktu itu apa suasana ke atinan yang ada yang saya tahu bahwa MPR itu dijadikan semacam forum buk n lagi lembaga sehingga forum itu persidangan diantara ini dan ini tinggal susunan

(9)

!

MPR terdiri atas ini, jadi memang susunan dan kedudukan itu memang I harus dijadikan judul kalau MPR saja sudah didalam UU konstitusi sudah ada DPIR dan DPD sudah ada didalam UU Pemilu bahkan didalam konstitusi sudah jelas DPD itu apa, oleh karena itu yang akan diatur disini adalah susunannyf dan kedudukannya seperti apa termasuk kedudukan sekarang hak-hakny dan kewajibannya ini rupanya berulang kemarin saya mengikuti PAH I me genai komisi konstitusi sampai sekarang itu karena Tap-nya itukan membentuk komisi konstitusi huruf kecil jadi namanya ada 5 dibereket-dibereket untuk bukan bereket

1

itukan kata orang perlu ada study banding ke Eropa kayak apa 1 komisi konstitusi di Prancis yang sekarang heboh yang dilakukan para Pimpinanl MPR yang sebanyak 9 orang yang hadir, yang keluyuran itu 6 orang seharusn~a dia mendampingi panitia khusus yang sekarang sibuk-sibuk sidang enak-ena~ saja dengan segala fasilitasnya dan jumlahnya yang saya katakan dulu ~eperti

wayang golek sampai mejanya itu disambung Nusantara V itu kalau tidak hati- hati kita bisa nubruk itu, ini sebagai intermeso saudara-saudara, jadi ~isana memang dibahas karena Tap MPR itu menugaskan PAH I untuk meruriluskan susunan kedudukan persis perdebatannya seperti ini sehingga ada disitµ ada yang mengatakan membentuk tim kecil melakukan pengkajian bahkan ad~ yang lebih anuling tim kecil sekali di break dan betul itu ada, jadi dari kita mem~ereket­

bereket begini sementara kita lalui dulu kita langsung kepada pasal-pasal kita simpan dulu judul ini yang penting isinya, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan.

F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA):

Saya boleh sedikit klarifikasi sedikit saja, bukanmenaggapi tapi informasi sedi~1t untuk yang terhormat Pak Asnawi, terima kasih pak · 1 ketua.

Jadi yang pertama saya ingatkan Pak Asnawi guru saya ini Pakl ketua bahwa DIM tentang ini dari F.PDU itu dihapuskan pak, jadi F.PDU didalam pembahasan ini mengajukan usul supaya susunan kedudukanya dihilangkan, ini in~ormasi

saja pak ketua,terima kasih. I

!

KETUA PANJA: I

Saya sebenarnya tidak ingin memojokan seperti itu, artinya kal~u kita pahami awalnya sudah dikatakan bahwa saya melanjutkan dari apa yang1 diikuti karena pak almarhum Hartono Mardjono, jadi kita pahami saja Pak I Zubair silahkan.

F.PBB (H.M. ZUBAIR BARY): !

Assalamu'alaikum Wr. Wb. I

lni masalah judul dari dua substansi pendapat berbeda antara melhapus dan mencantumkan dari F.PBB memang barangkali mengusulkan netral dimana susunan dan kedudukan hanya pada DPR, jadi judul yang diusulkan F.PB ialah UU tentnag MPR baru susunan dan kedudukan DPR, DPD itu yang dala DIM itu, oleh karena kami memaknai suatu UUD terhadap apa yang tetulis walaupun didua kategori Pasal 19 ayat (2) tentang DPR itu tidak mengaitkan kedudukan yahg ada hanya susunan, kemudian untuk Pasal 22c ayat (4) susunan dan kedudukan jadi dia sebagai mediator dari pada itu sehingga F.PBB mengµsulkan tentang MPR susunan dan kedudukan DPR, DPD dan seterusny~ kami menempatkan MPR disini sebagai lembaga khusus yang tidak selevel ; engan DPR walaupun anggotanya memang dari DPR dan DPD itu sendiri kit akan berbicara tentnag lebih jauh bahwa apakah nanti seperti apa yang dikatak n Pak Asnawi Latif ada suasana batin bahwa MPR itu hanya semacam forum sa~a kira itu, tetapi jelas MPR itu adalah suatu lembaga yang jelas dalam UUD'45, jadi i

I

(10)

!

kalau memang ada suatu substansi dua pendapat yang berbeda dan sulit, un~k kita buru-buru atau mengadakan voting, jadi saya kira untuk jangan sampai jadi peng ambat apalagi waktu kita ini singkat barangkali pro kontra pendapat ini bisa coling do n dan pikir-pikir mana yang lebih baik seperti F.TNl/Polri mana yang lebih baik untuk rakyat itulah yang baik untuk F.TNl/Polri saya kira saya setujua kalau ini dipending saja dulu. i

I

KETUA PANJA: I

Dari diskusi ini ada tiga pikiran, yang pertama yang diusulkan pe · erintah adalah susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, yang kedu tidak ada kata-kata susunan dan kedudukan, yang ketiga ada tentang MPR s sunan dan kedudukan DPR, DPD dan DPRD ada tiga pikiran artinya ini sesuat yang kita coba endapkan memang kalau argumentasi mengacu kepada t kstual secara tekstual yang ada didalam UUD sebenarnya lengkapnya m stinya susunan tentang MPR, susunan DPR, dan susunan kedudukan DPD, DP D itu kira-kira kalau kita merever secara tekstual, sekarang kita akan mencoba untuk meriver kepada UU yang lama ya susunan dan kedudukan karena itu enjadi referensi tetapi kalau Partai Golkar yang sejak dulu itu gagasannya t ntang susunan dan kedudukan dan mengusulkan dihapus itu suatu langkah maj yang luar biasa, jadi saya kira itu suatu progres yang perlu dipertimbangkan ba angkali pembaharuan dari sisi itu sesuatu yang bag us yang juga mungkin I perlu dipertimbangkan juga, tapi namun demikian ini kayaknya belum biSfl kita putuskan saat ini kita coling down saja untuk waktu yang besok etelah pemerintah mengajukan konsultasi mungkin bisa mengakomodasi pikiran pikiran yang ada tidak berkeberatan untuk menghapuskan susunan dan ked dukan artinya itu menjadi keputusannya, kalau itu masih bertahan kita pendin dulu karena kalau dari fraksi-fraksi ini rasanya hanya F.PBB mempunyai usulan merifer secara tekstual yang ada di UUD, nah kalau F.TNI mana yan baik sedangkan fraksi-fraksi yang lain berkeinginan untuk menghapus ka a-kata susunan dan kedudukan tanpak mengurangi makna bahwa yang akan yang akan diatur antaqra lain mengenai susunan, kedudukan, hak, kewajibar dan seterusnya, boleh satu menit, satu menit.

F.PG (PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA): I

Ketua, saya ingin tanggapi usul untuk dicoling down dan

dip~nding

masalah judul RUU ini, tadi sebelum pak ketua memudahi sidang ini itu dimintakan kita bicarakan dahulu judulnya karena ini sangat berpengaru pada saat kita membahas substansi pasal-pasal dari RUU ini, jadi saya usulka agar kalau kita arif dan bijaksana kita putuskan kesepakatan ini karena ini sangat berpengaruh pada saat kita bahas Ban dab Pasal-pasal berikutnya i i dari pemerintah, ada tambahan tadi untuk penjelasan dari fraksi kami kata s sunan dan kedudukan itu belum mencerminkan kalau kita mau memperguna an itu kepada pemerintah terhadap substansi baik judul-judul bab maupun pas 1-pasal yang ada didalam Batang Tubuh RUU ini misalnya ada kata tugas ada fungsi ada hak ada sidang dans eterusnya keanggotaan, kalau kita konsisten engan itu harus diadopsi semua kata-kata itu begitu bagus kalau menurut say , jadi fraksi tetap mengusulkan agar tolong yang belum kita sepakat bahwa jud I RUU ini agar langsung kepada substansi materinya yaitu tentang MPR, DPRI DPD dan DPRD saya kira begitu pak, terima kasih.

KETUA PANJA:

Mau nambah silahkan.

(11)

F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO):

Terima kasih, ternyata ada pepatah apalah artinya ssebua nama ternyata banyak manfaat nama kita perdebatkan disinitapi saya coba m nambahi Bu Ida bagus argumentasinya kalau kita merifer tadi pemerintah merifer masalah UUD saya kira amanat UUD itu tidak mengamanatkan kita embuat UU yang namanya itu pakai susunan kedudukan adapun mengatur asalah susunan kedudukan ada didalamnya silahkan tapi bukan harus menc ntumkan itu sebagai nama karena misalnya kalau tadi merifer UUD saya coba merifer UUD Pasal 22b misalnya" Anggota DPRdapat diberhentikan dari ja atannya yang syarat-syaratnya dan tatacaranya diatur dalam Undang-undang" ti ak ada dikatakan disini dikatakan Undang-undang tentang susunan dan kedudu an, jadi saya hanya mengefil nanti kepada pemerintah karena ini ternyata n ma ini sangat pentingbuat kita dan tadi Prof. Minta supaya ini diselesaikan d lu saya mengefil pada pemerintah mudah-mudahan saya setujulah tanp harus mencantumkan susunan dan kedudukan, terima kasih.

KETUA PANJA:

Kelihatannya ada desakan jawaban terhadap ngefil untuk diendap an lagi kalau ini belum selesai sekarang nanti yang akan lain-lain agar bisa di ahas ini mengalirnya seperti itu saya jadi terpaksa apakah kita pemerintah sed a untuk me, kayaknya kalau ini fraksi-fraksi yang keinginannya untuk seperti tu, nah pemerintah meresponsnya bagaimana terhadap usulan d:an pikiran-pi iran ini dengan memahami kita tidak merifer secara tekstual yang ada didalam rumusan konstitusi ini tetapi jiwa dan semangatnya yang ada itu perintah UUD itu kita terjemahkan bahwa yang namanya Undang-undang tentang MPR, DP , DPD dan DPRD itu akan mencakup juga mengenai susunan, kedudukan tugas, fungsi, hak, kewajiban dan seterusnya-seterusnya itu yang kita ingin r muskan dalam UU ini dan UU ini dengan demikian juga melaksanakan ketent an UU pada pasal-pasal tersebut didalam rangka • menjalankan lebih lanjut k tentuan UUD, nah kalau bisa ditanggapi seperti itu ya mungkin kita bisa me utuskan sekarang atau musti konsultasi dulu dengan Pak Menteri mewakili pe erintah kita akan lihat perkembangannya, silahkan pak.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan, lbu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati dengan tidak bermaksud mengurangi rasa hormat kami kepada masu saran- saran pertimbangan maupun pemikiran argumentasi yang ibu dan bap k-bapak sampaikan, dari tinjauan administrasi itu susunan kedudukan itu me yatakan mengenai posisi keanggotaan pimpinan dan alat kelengkapan sedang kedudukan itu adalah mencerminkan pada tugas wewenang kewaji an dan hubungan antar lembaga serta hak-haknya itulah yang menjanjikan das r disini kalau dibandingkan dikomfer terhadap lembaga-lembaga negara yang lain seperti BPK, kemudian Mahkamah Agung itu pemilihannya rekrutme nya itu tidak ada institusi lain atau ada intrumen lain yang dipakai m ka dia menggunakan nama sesuai dengan institusi itu, sedang DPR, DPRD, PD itu ada instrumen lain untuk rekrutmen yaitu UU Pemilu dan UU Parpol, j i kalau memang tidak ada UU Pemilu dan UU Parpol judul itu adalah tepat se ali saya sependapat tetapi karena ada satu mekanisme dan instrumen lain aka itu mungkin kami tetap seperti apa yang ada.

Lantas yang kedua, yang ingin kami mohonkan klarifikasi si ap kita bapak-bapak terutama yang dan itu yang juga posisinya sebagai Angg ta MPR apa yang diambil sikap apa yang akan diambil terhadap Tap-Tap M R yang bapak-bapak sebagai institusi memerintahkan kepada Presiden untuk menyiapkan penyempurnaan UU Susduk saja, nah ini tertuang kepada ibu-ibu dan bapak-bapak yang diperitahkan oleh bapak-bapak atau ibu-ibu itu dalam

(12)

kapasitas sebagai Anggota MPR ini perlu ada kejelasan kalau memang ibu dan ,bapak- bapak masih tidak menganggap adanya perintah itu dan tidak mengirjldahkan adanya Tap-Tap MPR itu mohon maaf barangkali silahkan itu bisa kita tindak lanjtliti. Yang ketiga, ada terminologi-terminologi didalam konstitusion ataupun batangt ubuh yang menggunakan susunan dan ked.udukan diantara fra~si-fraksi

menyetujui seperti misalnya didalam konsideran Menimbang butir b F.PG jelas- jelas tetap, jadi inilah sikap konstensi dari pendirian kita perlu kita bangun, oleh karena itu kalau ini belum ada kesepakatan saya sangat menghormati dari wakil F.PDU maupun dari F.TNl/Polri ataupun juga dari F.PBB kita pending ataupun kita emdapkan dengan membahas yang lain-lain, itu yang kami bisa sampaikan tanggapan terimalkasih.

KETUA PANJA:

Jadi saya kira belum ada kesiapan itu kita semua untuk mengambil keputusan konstruksi, jadi kita endapkan dulu mungkin pada rapat berikutnya kita sudah dapatkan satu pendekatan, silahkan.

F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH}:

Terima kasih diantara waktu itu barangkali kita bisa lobi.

F.PDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF}:

Karena saya baru sekarang dimasukan Panja, ketika sebelum memasuki Panja apakah judul bab-babnya sudah disepakati.

KETUA PANJA:

Jadi saya kira kita coba ada beberapa pikiran, pikiran yang pertama ~usunan

dan kedudukan dicantumkan, pikiran yang kedua dihapuskan, yang ketiga tadi diusulkan supaya ini tekstual mengenai ini, nah ini walaupun kelihatannya kalau dirumuskannya itu jadi lucu tapi kalau memang semacam itu frut-nya mau bagaimana, silahkan.

F.PBB (H.M. ZUBAIR BARY}:

Sedikit barangkali saya ingin tambah dulu selain saya mengacu • kepada tekstual saya tidak berani melanggar undang-undang, tapi logika berpi~ir yang say pakai kalau kita langsung mengacu kepada Undang-undang tentang MPR itu kan lembaga tentang DPD tentang ini, tentang ini ia bisa saja beberapa UU, UU tentang MPR, UU tentang DPR apakah wajar itu suatu lembaga MPR yan~ justru berwenang merubah UUD itu sendiri, ini logika berpikir, jadi saya menarik usul saya dan ikut mendukung pemerintah tidak lagi mengatakan susunan dan kedudukan tidak ada pada MPR tapi saya dari mengacu bahwa UU !tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR dan lain-lain sebab logika saya itu sµbstansi susunan dan kedudukan yang diatur sebagaimana teks kata susun$n dan kedudukan diatur dengan UU terkait andaikata mengatakan itu MPRJ diatur dengan UU oke tetapi susunannya lagi supaya yang dituju dan logika itu juga susunan terima kasih bu.

KETUA PANJA:

Baik ada dua, dengan demikian ada dua konsep mengenai judul yaitu ada dicantumkan kata susunan dan kedudukan dan tanpa mencantumkan susunan dan kedudukan kita endapkan setuju ini.

(RAPAT SETUJU}

(13)

Tapi .. diskusi tetap sudah jalan, yang kedua ini bunyinya naskah RUU Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia, denagkan usul dari F.KKI Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, nah saya mau merifer aja apa ada petunjukdan ini ada pada badan legislasi kalau ada sesuatu yang disepakati oelh badan legislasi mengenai bagaimana bunyi-bunyiannya barangkali sementara kita acu saja sebagai acuan kita, nah kalau tidak salah acuan yang ada dalam badan legislasi masih seperti yang diusulkan oleh pemerintah itu, jadi dengan demikian bisa kita sepakati itu, jadi ini yang dari Baleg, jadi Baleg pembukaan RUU memuat nama jabatan yang mengesahkan UU konsideran dasar hukum mengusulkan menetapkan nama UU pada pembukaan UU sebelum nama jabatan dengan mengesahkan UU dicantumkan kalimat Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa diletakan ditengah margin d jabatan yang mengesahkan UU yaitu Presiden RI ditulis seluruhnya dengan huruf kafital yang diletakan ditengah margin dan diakhiri dengan tanda koma contoh Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia koma, nah ini yang dari Baleg sampai saat ini 32/BALEG/8/2002 ya silahkan.

F.PG (HJ. EVITA ASMALDA):

Perlu kita lihat kalau memang Baleg demikian karena Pasal 20 ayat (1) undang- undang dasar kita DPR memegang kekuasaan membentuk undangundang pengertian yang lalu ada perubahan itu yang dulunya itu ada Presiden tapi ini sekarang dari, jadi kalau usulan F.KKI inikan bersama-sama.

KETUA PANJA:

Jadi ini adalah sesudah itu amandemen itu Pasal 20 itu mengenai itu sidang pertama itu dan ini dibuat tahun 2002, jadi ini yang sudah terakhir apakah bisa kita sepakati.

F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):

Pimpinan barangkali supaya kita tidak berbeda pendapat kita sementara begini kecuali kalau memang Baleg sudah mempunyai ada yang baru kita ikuti acuan dari Baleg.

KETUA PANJA:

Karena sesuai dengan surat Baleg yang nomor sekian setuju, oke.

(RAPAT SETUJU)

Dan belum berubah menurut anggota Baleg belum berubah, kemudian DIM nomor 3 sampai dengan nomor 7 itu keputusan Pansus tanggal 4 Juni 2003 agar dibentuk satu tim untuk membahas khusus masalah konsideran menimbang dan seterusnya.

F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH): Nanti pada Timus saja.

KETUA PANJA:

Apakah itu masuk Timcil apa Timus apa-apa coba untuk lebih kecil barangkalilebih gampang untuk meleksanakan ini usul Timus bisa disetujui.

(RAPAT SETUJU)

(14)

8 pasal mengingat saya kira konkordan dengan DIM nomor 3 sampai 7 agar Panja mem bentuk atu tim untuk membahas khusus masalah konsideran Menimbang atau Mengingat inii supaya pasal-pasal dan ayat-ayat yang ada dalam UUD'45 coba diperiksa benar atau tidak daripada didiskusikan kayak begini apakah kita bisa serahkan pada Timus untuk melihat secara lebih teliti begitu setuju.

(RAPAT SETUJU)

Ketetapan MPR-RI nomor, tentang GBHN, mengingat pasal sekian ketetapan ini masalah Panja ini ada yang menganggap bahwa TAP MPR tidak perlu dimasukan didalam konsideran mengingat yang ada cuma dalam konsideran kalau ada dimasukan menimbang itu, nah apakah ini banyak sekali yang terkait dengan mengingat selain pasal UUD juga ada TAP MPR ada UU yang mungkin ada kaitannya dengan UU ini, nah apakah kita mau, ini prinsifnya saja prinsifnya kita mau masukan akomodir seluruhnya atau kita lihat ditinjau atau kita mengambil satu prinsif-prinsif yang lain, silahkan Bu Aisyah Aminy.

F.PPP {NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):

Saya mengusulkan bahwa dalam Mengingat ini kita pakai hanya UUD saja, sedangkan materi yang lain baik dari TAP ataupun juga yang diusulkan mengenai UUmungkin bisa esensinya dimasukan Menimbang seperti kita dulu pernah membicarakan tentnag TAP 25, terima kasih.

KETUA PANJA:

Jadi mengenai substansinya kalau ada hal yang penting sekali untuk kita cantumkan substansinya itu kita masukan didalam konsideran Menimbang, jadi kita tim ini tolong kalau ada substansi yang penting untuk dimasukan konsideran Menimbang masukan konsideran menimbang dan yang konsideran Mengingat itu hanya Pasal-pasal ayat-ayat UUD saja bisa disepakati.

{RAPAT SETUJU)

Dengan persetujuan DPR keputusan Pansus substansi disetujui redaksional diserahkan ke Timus,, jadi ini nanti tugasnya Timus pada DIM Nomor 15, sudah UU itu jadi TAP dan UU itu tidak ada hanya ada UUD saja konsideran Mengingat kalau ada substansi yang di UU itu perlu kita masukan dalam konsideran, oke keputusan Pansus konkordan dengan DIM nomor 1 disetujui pembahasannya yaitu menetapkan tentang UU ini tentnag akan konkordan, jadi kita tidak usah bahas lagi sekarang, jadi pending dalam artian kalau itu selesai ya ini selesai 16 selesai, Bab I ketentuan umum dalam UU ini yang disebut MPR usul F.KB akan dibahas masalah kuorum dan proses pengambilan keputusan MPR selanjutnya disebut MPR adalah MPR sebagaimana dimaksud dalam UUD'45 disetujui dengan rumusan MPR selanjutnya disebut MPR adalah MPR rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD negera RI setuju ya.

(RAPAT SETUJU)

setuju ya, jadi DIM 18 sebenarnya sudah setuju ya, jadi itu sudah final. Catatan dari F.KB masalah kuorum dan proses pengambilan keputusan itu sola kuorum soal lain apa kuorum dimasukan didalam ketentuan ini.

F.KB {ORA. IDA FAUZIAH):

Tidak ada jaminan bahwa nanti akan dibahas tentang itu karena istilahnya F.KB waktu itu ada lagi ada tambahan kata yang merupakan sidang gabungan

(15)

8 pasal mengingat saya kira konkordan dengan DIM nomor 3 sampai 7 agar Panja mem bentuk atu tim untuk membahas khusus mas a I ah konsideran Menimbang atau Mengingat ini supaya pasal-pasal dan ayat-ayat yang ada dalam UUD'45 coba diperiksa benar atau tidak daripada didiskusikan kayak begini apakah kita bisa serahkan pada Timus untuk melihat secara lebih teliti begitu setuju.

(RAPAT SETUJU)

Ketetapan MPR-RI nomor, tentang GBHN, mengingat pasal sekian ketetapan ini masalah Panja ini ada yang menganggap bahwa TAP MPR tidak perlu dimasukan didalam konsideran mengingat yang ada cuma dalam konsideran kalau ada dimasukan menimbang itu, nah apakah ini banyak sekali yang terkait dengan mengingat selain pasal UUD juga ada TAP MPR ada UU yang mungkin ada kaitannya dengan UU iini, nah apakah kita mau, ini prinsifnya saja prinsifnya kita mau masukan akomodir seluruhnya atau kita lihat ditinjau atau kita mengambil satu prinsif-prinsif yang lain, silahkan Bu Aisyah Aminy.

F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):

Saya mengusulkan bahwa dalam Mengingat ini kita pakai hanya UUD saja, sedangkan materi yang lain baik dari TAP ataupun juga yang diusulkan mengenai UUmungkin bisa esensinya dimasukan Menimbang seperti kita dulu pernah membicarakan tentnag TAP 25, terima kasih.

KETUA PANJA:

Jadi mengenai substansinya kalau ada hal yang panting sekali untuk kita cantumkan substansinya itu kita masukan didalam konsideran Menimbang, jadi kita tim ini tolong kalau ada substansi yang panting untuk dimasukan konsideran Menimbang masukan konsideran menimbang dan yang konsideran Mengingat itu hanya Pasal-pasal ayat-ayat UUD saja bisa disepakati.

(RAPAT SETUJU)

Dengan persetujuan DPR keputusan Pansus substansi disetujui redaksional diserahkan ke Timus,. jadi ini nanti tugasnya Timus pada DIM Nomor 15, sudah UU itu jadi TAP dan UU itu tidak ada hanya ada UUD saja konsideran Mengingat kalau ada substansi yang di UU itu perlu kita masukan dalam konsideran, oke keputusan Pansus konkordan dengan DIM nomor 1 disetujui pembahasannya yaitu menetapkan tentang UU ini tentnag akan konkordan, jadi kita tidak usah bahas lagi sekarang, jadi pending dalam artian kalau itu selesai ya ini selesai 16 selesai, Bab I ketentuan umum dalam UU ini yang disebut MPR usul F.KB akan dibahas masalah kuorum dan proses pengambilan keputusan MPR selanjutnya disebut MPR adalah MPR sebagaimana dimaksud dalam UUD'45 disetujui dengan rumusan MPR selanjutnya disebut MPR adalah MPR rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD negera RI setuju ya.

(RAPAT SETUJU)

setuju ya, jadi DIM 18 sebenarnya sudah setuju ya, jadi itu sudah final. Catatan dari F.KB masalah kuorum dan proses pengambilan keputusan itu sola kuorum soal lain apa kuorum dimasukan didalam ketentuan ini.

F.KB (ORA. IDA FAUZIAH):

Tidak ada jaminan bahwa nanti akan dibahas tentang itu karena istilahnya F.KB waktu itu ada lagi ada tambahan kata yang merupakan sidang gabungan

(16)

kita tugaskan kepada Timus untuk meninjau atau Timsin atau Timcil kalau kita pandang ini argumentasinya ada hal yang memang perlu dimasukan kedalam ketentuan umum tidak tertutup kemungkinan untuk mencantumkan didalam ketentuan umum, ya silahkan.

F.PG {DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):

Dalam konteks ini sebenarnya KPU yaitulah argumentasi yang apa, karena memang berulangkali nanti kita bahas, karena itu memang kami usulkan supaya dimasukan dalam ketentuan umum, itu yang pertama dan memang juga bukan fraksi kami F.PPP, F.Reformasi, F.KKI juga kalau itu memang tapi argumentasinya seperti itu yang lain nanti ya mungkin kalau badan kehormatan karena itu lebih spesifik sifatnya Badan kehormatan DPR berbeda dengan bdan Kehormatan di DPD tapi kalau KPU umu sifatnya maka itu dimasukan diketentuan umum,terima kasih Pak Ketua.

KETUA PANJA:

Silahkan mungkin ada dari fraksi lain F.Reformasi.

F.REFORMASI {H. TB. SOENMANDJAJA):

Terima kasih Ketua, menambah informasi yang disampaikan oleh Pak Aritonang tadi memang kami memandang perlu bahwa KPU itu masuk dalam ketentuan umum karena dia salah satu penyelenggara jadi memungkinkan adanya intruksi ini demikian ketua, oleh karena itu pula fraksi kami mengusulkan agar ketentuan umum ini dimasukan KPU bahwa tadi ketua menyarankan kalau ada pengelola-pengelola institusi atau badan diserahkan tim saya kira ini bisa saja tetapi kalau forum misalnya cenderung menegaskan adanya KPU itu lebih baik lagi, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan dari F.PPP mungkin ada.

F.PPP {NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):

Kami melihat kerena ini semua lembaga yang disebutkan disini adalah lembaga yang akan melalui pemilu baik DPR,DPRD, DPD ini yang melalui pemilu, kemudian kita akan menemui lagi berikutnya mengenai KPU makanya kami menguatkan pada bagian ini masuknya KPU, namun demikian kami tidak keberatan kalau kita nanti akan melihat lebih lanjut seberapa jauh pentingnya memasukan KPU ini disini nanti sementara ini, itulah alasan kami kenapa memasukan ini, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan.

F.PDIP {HOBBES SINAGA):

Terima kasihPak Ketua, jadi saya kira apa yang diatur didalam satu ketentuan umum itu adalah bagian-bagian penting yang akan dibicarakan dalam sernua batang tubuh, jadi kalau menurut pandangan kami jika nanti pasal-pasal itu memang ditemukan banyak mengenai KPU saya kira diketentuan umum inii bisa dimasukan tapi kalau nanti misalnya tidak ada membicarakan KPU atau hanya tidak menjadi apa fokus utama disitu saya kiratidak perlu memasukan KPU didalam ketentuan umum ini, demikian terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan Pak Kohirin.

(17)

F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc): Terima kasih Pimpinan, Yang terhormat Pemerintah.

Kami memang tidak mengajukan perubahan tetapi setelah mendengar berbagai pendapat kami juga adla tanggapan, yang pertama bahwa memang UU Parpol setara dan satu paket kita tahu bahwa KPU dalam UUD ditulis dlalam hump kecil kemudlian dlipertegas U'U 12 Tahun 2003 tentang Pemilu disana dikatakan KPU dlalam huruf besar dan KPU provinsi dlan kabupaten dalam huruf besar pengertiannya dalam UU Pemilu sudah dijelaskan apabila ini dlianggap perlu untuk diadop lagi oleh UU susduk saya kira itu tidak ada masalah hevy nya adalah pengertian kalau akan diadop harus merujuk pada UU 12 Tahun 2003 supaya tidak ada pengertian yang duplikasi atau berlainan, demikian Pimpinan terima kasih.

KETUA PANJA:

Pemerintah barangkali silahkan.

PEMERINTAH:

Terima kasih, bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati kami memahami dan bisa mengerti atas saran pertimbangan ibu dan bapak-bapak untuk menambah satu items tentang pengertian hak KPU memang kalau dilihat dari materi KPU itu memang disebut beberapa kali, jadi menggunakan dalil itu terpenuhi yaitu antara lain di Pasal 82 dan Pasal 85 itu memang ada juga 102 setidak-tidaknya jadi satu kali, saya sependapat pula dari F.TNl/Polri yang juga untuk mengingatkan kita semua sama diidalam UU yang lain sudah diberikan batasan mengenai apa yang dimaksud dengan KPU jadi toh maksudnya mau diover disini juga tidak sebaiknya juga sama dengan sana disisi lain secara jujur kami sampaikan bahwa ini kami siapkan draft ini dengan asumsi bahwa pada waktu itu KPU daerah tidak yang adalah sekretariat KPU jadi sekretariat saja karena KPU itu sifatnya nasional pada waktu itu pemahamannya begitu, jadi kalau toh didaerah misalnya ada KPU sifatnya tenporer saja sehingga tapi apa yang terjadi dalam satu proses pembahasan UU politik yang lain itu memang ditegaskan adanya KPU daerah, oleh karena itu misalnya toh harus dimasukan itu juga kami tidak keberatan tetapi seandainya pun tidak yang dimaksud KPU itu kita sudah merujuk kepada KPU didalam UU politik yang lain, terima kasih.

KETUA PANJA:

Sekarang istilah itu tidak ada mudaratnya kalau dicantumkan, manfaatnya tidak usah melihat UU lain disni sudah tahu tapi kalau toh itu diluruskan jangan berbeda dengan rumusan yang ada sudah adla di UU lain, jadli kalau toh itu dimasukan karena juga mengenai unsur dicantumkan beberapa kali supaya kalau memahami rumusan KPU itu disana itu, jadi kalau memang begitu kita serahkan saja kepada Timus untuk merumuskan secara sempurna merifer kepada rumusan yang sudah ada dalam UU 2003 bisa disetujui begitu?

(RAPAT SETUJU)

Sekarang mengenai Majelis Permusyawaratan Rakyat ini mulai judul saja sudah anu tapi diserahkan ke Timus dlengan memperhatikan usul F.PDIP, F.

Reformasi, jadi ke Timuslah nanti, tapi ini yang 23 langsung Timus ya? 25 juga ke Timus, 26 keTimus sekarang 27, 2'7 disetujui lebih lanjut diserahkan ke Panja.

(18)

F.KB (ORA IDA FAUZIAH):

Sebentar Pak Ketua, kebetulan ada usulan F.KB 25 sampai 30 satu-satu pak ketua, ya tapi ada keputusan Pansus tanggal 5 catatan itu pak.

KETUA PANJA:

Catatan disetujui Pansus usul F.KB DIM nomor 25 sampai DIM nomor 30 pembahasan lebih lanjut diserahkan ke Panja mengenai lembaga MPR merupakan joint session antara anggota DPRD dan DPD, Anggota DPR dan DPD.

F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):

Pimpinan, tadikan kita membicarakan apa itu MPR tadi kita sudah menyepakati MPR itu adalah di DIM berapa? Barang kali tidak tepat disini.

KETUA PANJA:

Majelis Permusyawaratan Rakyat selanjutnya MPR adalah Majelid Permusyawaratan Rakyat sebagaimana dimaksud UUD'1945 itu bunyi-bunyian berkenaan dengan apa ketentuan umum mengenai MPR, didalam UUD'1945 itu MPR terdiri atas Angota DPR, Anggota DPD, nah disini yang dipilih melalui Pemilu, jadi ini sudah putusan tanggal 5 Juni disetujui redaksional diserahkan ke Timus dengan memperhatikan usul F.PDIP, F. Reformasi dan F.PBB, F.PDIP mengenai dirubah kata susunan dihapus menjadi keanggotaan F.Reformasi kedudukan dulu baru susunan dan keanggotaan, F.PBB cuma keanggotaan tetapi rumusannya MPR terdiri anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui Pemilu, nah kemudian ayat 25 keanggotaan MPR diresmikan Presiden.

PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA):

Pasal 3 DIM 25.

KETUA PANJA:

DIM 25 Pasal 3 keanggotaan MPR diresmikan dengan Keppres substansi disetujui redaksionalnya diserahkan ke Timus dengan rumusan sementara keanggotaan MPR diresmikan deng,an keputusan Presiden usul F.KB keanggotaan MPR dituangkan dalam keputusan Presiden ini redaksiannya soal tuang menuang, soal resmi-meresmi itu diserahkan kepada Timus, nah catatannya Pansusmenyetujui bahwa DIM nomor 25 sampai dengan 30 diserahkan kepada Panja mengenai lembaga MPR merupakan joint session, nah inikan belum sampai soalperkataan jion setion dan sebagainya belum disini.

F.KB (DRA. IDA FAUZIAH):

Tadikan Pak Ketua meng1ajak untuk masuk pada DIM nomor 27, nah saya mengingatkan catatan pada tanggal 5 Juni itu kita akan membahas di Panja ini DIM nomor 25 sampai dengan DIM nomor 30 kaitannya dengan gabungan DPD dengan DPR.

KETUA PANJA:

Saya susah memasukannya dimina disini Pasal 3 belum mengatakan sidang dan sebagainya baru mengatakan mengenai keanggotaan MPR diresmikan dengan Keputusan Presiden atau dituangkan dalam Keputusan Presiden inikan ada dua rumusan yang mengenai itu.

F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):

Ketua ini sudah agak .. artinya, jadi sederhana saja kita Pasal 3 saja dulu kita selesaikan sekarang kita sepakat, sementara sepakat diresmi1kan F.KB

(19)

meminta dituangkan itu dulu kita batik saja dulu, kalau kita ke Timus barangkali mungkin kita sisir lagi pasal berikutnya, terima kasih ketua.

F.KB (ORA. IDA FAUZIAH):

Boleh saya menjawab dulu pak, sebenarnya usulannya F.KB kaitannya dengan keanggotaannya MPR itu mulai dari DIM 25 sampai dengan 30 ada hubungannya dengan apa yang1 kami usulkan bahwa MPR itu adalah sidang gabungan antara DPR dan DPD, pertama mengenai Pasal 3 keanggotaan MPR diresmikan dengan Keputusan Presiden, kalau DIM-nya F.KB pada awalnya adalah menghapus pada Pasal 3 ini karena menurut kami keanggotaan MPR itu adalah secara otomatis ketika dia menjadi Anggota DPR dan Anggota DPD maka otomatis dia adalah Anggota MPR melekat dalam dirinya Anggota DPD dan Anggota DPR yang otomatis menjadi Anggota MPR, artinya apa dari DIM 25 sampai 30 ini misalnya tentang masa bakti, masa baktinya DPD dan DPR itu 5 tahun sehingga tidak ada anggota tidak akan dikeluarkan keanggotaan resmi MPR seperti itu ada hubungan yang sangat erat antara Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 ada kaitannya dengan kesimpulan kami yang menterjemahkan bahwa Anggota MPR adalah sidang gabungan antara DPR dan DPD seperti juga apa yang disampaikan oleh Pak Asnawi tadi bahwa suasana yang berkembang ketika di PAH I suasana kebatinan karena saya tidak termasuk dalam aliran yang didahului dengan kebatinan saya mencoba untuk menterjemahkan kebatinannya yang disampaikan oleh Pak Asnawi tadi menggambarkan bahwa MPR itu bukanlah permanen body tapi MPR adalah merupakan sidang gabungan antara DPR dan DPD yang mengandung konsekwensi maka tidak ada namanya keanggotaan MPR kemudian tidak ada bakti dan tidak ada juga proses pengambilan sumpah karena dia melekat Anggota DPR dan DPD, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan Pak Didi.

F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO):

Terima kasih Ketua, saya kira apa yang disampaikan oleh F.KB ini memang jadi hat yang berbeda karena memang didalam Pasal 3 UUD'45 itu bicara masalah peresmian keanggotaan sampai dengan surnpah sedangkan tadi yang dipermasalahkan sebetulnya lebih kena ke Pasal 2 tentang masalah MPR itu terdiri dari apa, karena sementara F.KB berpendapat bahwa lembaga MPR itu sebagai hanya joint session sementara ada pendapat lain sebagai join body gabungan antara lembaga DPR dan DPD secara resmi dan permanen, nah ini dua hal yang berbeda yang seharusnya menjadi topik bahasan di Pasal 2 seharusnya bukan di DIM 25 dan seterusnya sampai ke 30 tapi justru di DIM 23 yang seharusnya menjadi fokus apakah ini nanti teknisnya kita akan kita ulang kepada Pasal 2 yang akan kita coba bicara lagi karena tadi ini masuk ke Timus sudah kita putuskan tadi sementara kalau kita bicara yang Pasal 3 seterusnya sampai ke Pasal 5 sebetulnya lebih administratif mengikuti yang Pasal 2 tadi saya kira, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan.

F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):

Pak Ketua, kali ini harus per1<uat pak karena waktu itu kebetulan baru kali ini jadi maaf, kebetulan lbu Ida memang waktu itu Pak Seto yang mengemukakan dan waktu itu saya yang merayu Pak Seto secara guyon kemudian Pak Seto mundur oleh karena memang waktu itu bahwa sebagai joint session dengan lembaga permanen body waktu itu kemudian maka clear dulu di

(20)

20

Pasal 2 karen itu Pasal 3 ini saya tidak kemudian disatu lagi ada catatan ini karena memang diadministratif posisinya Pasal 3 kebawah itu, tapi saya tidak tahu kalau kemudian yang dibuka lagi Pasal 2 itu ketika kita membahas di Pasal 3 ini bayangan aya persis seperti karena kebetulan saya yang menanggapi Pak Seto waktu itu, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan.

F.PDU (DRS. H. ASNAWI LATiEF):

Memang betul apa yang diusulkan F.KB kita inikan masih terpaku MPR masa lalu kalau keanggotaan MPR diresmikan oleh karena memang ada yang diartikan, kalau MPR itu terdiri atas dua lembaga yang anggotanya dipilih langsung dan., diresmikan oleh Presiden, oleh karena itu persidangannya adalah persidangan gabungan, jadi menurut saya sudah tidak perlu diatur disini oleh karena itu memang pada waktu itu kita bicarakan soal sidang sudah dikatakan dari awal ketika kita merumuskan MPR yang sekarang ini juga bentuk itu tidak mengikuti MPR masa lalu sebagai lembaga tertinggi pegang kedaulatan segala- galanya pada dia dan itu kedaulatan sudah dibagi-bagi, oleh karena itu harus diselesaikan disini pada waktu diamandemen kita sudah bicara langsung tentang apakah itu joint session atau lembaga permanen karena itu sudah digambarkan disitu bahwa masing-masing mempunyai kedudukan dan susunan sendiri-sendiri sedangkan fungsi MPR itu tadinyakan mau dibentuk .. kongres cuma kita menghargai tadinya ada dua senat-senat begitu tapi ini sehingga dibentuk saya kira Pak Baharuddin Aritonang paham betul itu antara kop dan hak, jadi inilah komprominya dibikin seperti itu mewakili sungai, ngarai, dan gunung karena DPR mewakili rakyat disini sebetulnya dulu itu harga sebuah seorang Anggota DPR di Jawa dan luar Jawa sama itu ide kita kan begitu tadinya jangan dua ribu pemilih itu bisa menghasilkan satu Anggota DPR yang di jawa dua ratus belum tentu itu begitu idenya.

KETUA PANJA:

Baik, saya kira begini kita alirkan saja pikiran dalam Ketentuan Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat selanjutnya disebut MPR adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, didalam UUD'45 disebutkan MPR terdiri atas Anggota DPR dan Anggota DPD yang dipilih melalui Pemilu ini tidak ada masalah hanya soal judul megenai susunan keanggotaan dan sebagainya, jadi ini sudah masuk didalam Timus tidak merubah rumusan mengenai Pasal 2.

Kemudian keanggotaan MPR diresmikan dengan Keputusan Presiden substansi disetujuiredaksionalnya diserahkan ke Timus dengan rumusan sementara sebagai berikut Pasal 3 keanggotaan MPR diresmikan dengan

Keputusan Presiden, usul F.KB keanggotaan MPR dituangkan dalam keputusan MPR ini dimasukan kedalam, silahkan oleh Timus.

Kemudian masa bakti Pasal 4 DIM nomor 26 masa bakti anggota MPR adalah 5 tahundan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR yang baru mengucapkan sumpah atau janji, substansi disetujui redaksionalnya diserahkan ke Timus dengan rumusan sementara sebagai berikut "masa bakti anggota MPR adalah lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR yang baru mengucapkan sumpah/janji, jadi ini sudah bagian dari Timus karena substansinya sudah disepakati.

F.PDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF):

Simulasinya nanti itu ya, kira-kira bayangan ini belum pernah terjadi setelah Pemilu berhasil memilih DPR dan DPD lalu disahkan dalam keputusan

(21)

Presiden apakah masih diperlukan satu keputusan lagi bahwa dua lembaga ini yang anggotanya dipilih sendiri-sendiri itu harus ektra baru sebab sekarang tidak ada yang diangkat kalau dulu pernah ada yang diangkat itu masih tidak memungkinkan over bodeh, teima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan.

F.KB (ORA. IDA FAUZIAH):

Saya Ketua, pertama saya mengulangi lagi apa yang saya sampaikan tadi, kalau kemudian F.KB di pasal sebelumnya mengenai Ketentuan Umum itu kami membiarkan saja dan menyetujui bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat yang selanjutnya disebut MPR Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD'45, kami setuju dan tidak ada hubungannya nanti dengan pasal yang kami usulkan berikutnya, kemudian pada Pasal 2 MPR terdiri dari . ANggota DPR dan Angota DPD yang dipilih melalui Pemilu memang kenyataannya seperti itu Anggota DPR dan Anggota DPD dipilih melalui Pemilu dan itu tidak berarti kemudian kalau kami mengusulkan baru di DIM berikutnya itu kemudian kami tidak konsisten dengan Pasal 1 dan Pasal 2 bukan seperti itu karena memang ketentuannya di UUD-nya seperti itu bahwa MPR itu terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD ..

Berikutnya saya ingin mencoba menjabarka apa yang dimaksud dengan MPR sesuai dengan UUD'1945 itu dalam pasal-pasal yang mengandung konsekwensi bahwa MPR itu terdiri dari Anggota DPR dan DPD itu dalam bentuk rumusan tidak perlu yang namanya keanggotaan MPR itu dituangkan dalam sebuah Keppres, kemudian tidak perlu juga yang namanya pengambilan sumpah atau janji sebelum masa, ya sumpah atau janji sebagai konsekwensi bahwa MPR itu hanya merupakan sidang gabungan DPR dan DPD menjawab juga apa yang disampaikan Pak Aritonang ketika pada waktu itu Pak Seto menyetujui bahwa Pasal 1 atau DIM nomor 18 itu MPR yang terdiri dari bla-bla-bla itu memang kami tidak menyebutkan kata sidang gabungan kami setujui seperti ini, ya memang tidak apa-apa kami setujiui tapi bahwa berikutnya kami ingin mencoba menjabarkan apa yang dimaksud dalam Pasal 1 dan Pasal 2 itu sebagai konsekwensi dari MPR itu sebagai joint session, saya kira itu untuk mengklarifikasi apa yang disampaikan oleh bapak, ibu yang lain.

KETUA PANJA:

lni ada koreksi dari Pak Yahya Zaini, usul F.Reformasi bukan usul F.KB, F.Reformasi yang mengenai Pasal 3. keanggota MPR dituangkan, jadi catatan disetujui Pansus pembahasannya lebih lanjut diserahkan ke Panja mengenai lemabaga MPR merupakan . .ini saya kira tempatnya bukan disini saya kira.

F.KB (DRA. IDA FAUZIAH):

Sekali lagi bahwa kami mengulangi kami memang sudah setuju pada Pasal 1 itu yang namanya MPR itu, ini setuju kami, kemudian mengenai Pasal 2 kami juga setuju berikutnya kami menterjemahkan Pasal 1 dan Pasal 2 itu yang menjelaskan tentang MPR itu dalam bentuk bahwa tidak perlu yang namanya keanggotaan MPR itu dituangkan dalam Keppres tidak perlu yang namanya masabakti sebagai bentuk persetujuan kami menterjemahkan Pasal 1 dan Pasal 2 dan seperti yang disampaikan oleh Pak Ketua usu I F .KB itu mendrop dan menginginkan untuk dibahas di Panja ini DIM nomor 25 sampai DIM 30 ini DIM- nya F.Reformasi.

KETUA PANJA:

Silahkan.

(22)

F.PBB (H.M. ZUBAIR SAKRY):

Boleh saya bicara Ketua, kita luruskan dulu acara ini karena pada DIM 23 m1 seterusnya sebenarnya hanya menyangkut masalah bagian pertama bagian kedua dan seterusnya oleh karena untuk pemerintah ada disini susunan dan kedudukan maka kami disini ada yang mengusulkan kata susunan dan kedudukan saja adapun pasalnya tidak terlalu banyak adapun masalah peresmian keanggotaan MPR diresmikan dengan keputusan Presiden oleh Bapak Mendagri waktu itu memberikan penjelasan diresmikan oleh Presiden ini menyangkut administrasi yang punya kaitan dengan hak-hak anggota nanti masalah keuangan ini, itu kalau saya tidak salah ingat itu yang dimaksudkan sehingga saya pun juga dalam DIM itu tidak setuju kalau Anggota MPR itu diresmikan dengan Keputusan Presiden ini lembaga tinggi negara yang memilih Presiden atau dalam satu waktu ataukah melantik Presiden dalam kedudukan yang lebih tinggi tapi karena alasan menteri pada waktu itu maenyangkut masalah administrasi, keuangan dan lain-lain sehingga usul itu dicabut sehingga tetap kepada konsep ini, nah kalau disini usul F.KB sudah menyangkut masalah eksistensi daripada MPR itu apa, nah saya kira bukan tempatnya disini nanti dilain tempat yang ada nanti sebab kita disini sudah sepakat saya masih tetap menganggap bahwa MPR itu masih lembaga permanen tadi daripada negara ini, terima kasih Ketua.

KETUA PANJA:

Makanya saya pikir bahwa disini substansi disetujui redaksional diserahkan ke Timus dengan rumusan sementara sebagai berikut "keanggotaan MPR diresmikan dengan Keputusan Presiden" usul F.Reformasi Pasal 3 keanggotaan MPR dituangkan dalam keputusan Presiden, jadi Timus itu hanya soal bukan soal substansi tapi soal redaksi, jadi kalau ini kita baca seperti itu keputusannya pada Pans us.

Kemudian yang Pasal 4 DIM 26 substansi disetujui redaksional diserahkan ke Timus dengan rumusan sementara sebagai berikut, jadi yang kata bakti atau tugas ini soal di pilih disitu, atau jabatan, tugas, bakti kalau pemerintah setuju bakti karena itu lebih luhur kalau kami jabatan karena pejabat negara, nah itu soal-soal yang seperti itu kayaknya hanya soal-soal sepeti itu yang berkaitan dengan DIM nomor 25, 26, nah soal mengenai MPR itu mengenai joint session sebagainya apakah ini tempat diskusi kelihatannya tidak di rumusan ini, silahkan.

F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):

Yang waktu itu memang diperdebatkan tidak tahu lepas dari catatan 1m, saya memang catatan ini kaget juga kemudian muncul seperti ini saya ingat sekali waktu itu karena kebetulan segar biiasanya saya ngantuk ketua, tapi kali ini saya kok tidak tahu kok segar banget ini pikiran saya, waktu itu memang yang diperdebatkan oleh Pak Seto sebenarnya adalah sahnya persidangan saya ingat sekali itu karena bagaimana nanti 2/3 kalau DPR saja apa susah apa kalau nanti pokoknya yang materi seperti itu yang kemudian memang dari perdebatan dan itu kita sepakat untuk tatacara persidangan atau sahnya persidangan perlu kita perdalam lagi, tapi kan tentnag joint session seingat saya waktu itu sudah clear bahwa itu adalah lembaga 1resmi permanen, nah yang belum juga clear adalah soal Pimpinannya ada yang minta dirangikap ada yang khusus pimpinan sendiri dan sekretariat jenderalnya, jadi simulasinya begitu Pak Asnawi ini sudah agak maju sedikit dari PAH I memang.

KETUA PANSUS (M. YAHYAZAINI, SH):

Saya tambahkan dulu sebelum Bu Ida, jadi memang posisi F.KB semula itu seperti yang disampaikan Bu Ida ketika membahas Pasal 1 itu adalah joint session atau sidang gabungan tapi setelah berdebat panjang itu akhirnya Pak

(23)

23

Seto juga memahami bahwa joint session itu adalah murni bikameral tidak benar beliau sendiri yang menyampaikan tidak benar kalau tidak murni harus disebut joint session saya kira ada benarnya alasan itu, jadi penyebutan sidang gabungan itu kalau bikameral murni sementara tidak bikameral murni, contohkan misalnya dalam hal pengecam undang-um:lnag itu kalau satu lembaga DPR saja dengan pemerintah itu bukan bikameral murni dan joint session Pak Seto itu betul memang, oleh karena itu yang esensi adalah justru kuorum dan pengambilan keputusan itu beliau kesana larinya perdebatannya dimana mengenai masalah kuorum dan pengambilan keputusan hanya ada dua fraksi yang mengajukan petanyaan dan berbeda pendapat yaitu F.TNl/Polri dan F.KB sedangkan kita pada prinsifnya menyetujui rumusan pemerintah, namun didalam percakapan atau diskusi memang menarik juga untuk diangkat apakah masih disebut sebagai MPR kalau anggota yang hadir atau yang menyetujui hanya

DPR saja, saya kira ini menarik kira-kira arahnya begitu, oleh karena itu memang posisi ini memang kurang relevan apalagi soal keputusan Keppres kan kaitannya dengan gaji pak ya, saya kira memang mungkin itu sekedar mengingatkan ingatan kita, terima kasih.

F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO}:

Nambah ketua, saya kita begini Bu Ida mungkin nanti kalau kita bicara masuk ke DIM 51 itu mungkin akan lebih kena anda bicara di masalah joint session atau tadi joint body karena memang ada usulan dari F.KB yang disini menyatakan merupakan forum gabungan, jadi Pasal 9 itu di DIM 21 MPR merupakan lembaga permusyawaratan rakyat yang anggotanya meliputi wakil rakyat dan wakil daerah, tapi F.KB disini mengusulkan merupakan forum gabungan antara anggota DPR dan anggota DPD saya kira mungkin di dalam ini munkin kita membahas lagi kembali apakah nanti joint session ataukah joint body yang permanen atau tidak permanen, terima kasih.

KETUA PANJA:

Silahkan Pak Asnawi.

F.PDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF}:

Karena ini pelaku amandemen masih ikut dan risalah rapat itu masih bisa dilacak, memang benar apa yang dikatakan, kita tidak menggunakan tadi kuorum tidak menggunakan joint session tapi menggunakan sidang gabungan coba periksa itu, memang pada waktu itu menghindari orang yang hobi terutama utusan golongan adanya bikameral lalu dimodifikasi sepeti itu nyata sepertinya nyatanya bikameral cuma hak-haknya tidak sama dengan senat di Amerika itu tidak modifikasi tapi hakekatnya juga lembaga yang dipilih sendiri-sendiri persidangannya itu gabungan, kalau sidang gabungan buat apa ada SK lagi disitu tidak akan ada gaji Anggota MPR lagi anggota-anggota DPD anggota DPR kalau alasannya SK itu urusan gaji paling cuma sidang saja sedang itu anggaran belanjanya bisa anggran belanja dari DPR dan DPD tidak diperlukan SK, jadi karena ada SK saya pikir supaya kita ini tidak membuat kesalahan walaupun sudah diputuskan mari kita endapkan lagi kalau memang belum bisa diputuskan menurut saya bukan hanya rumusan tapi substansinya menurut saya sudah keliru bahwa MPR itu masih diperlukan.

KETUA PANJA:

Silahkan.

F.PDIP (HOBBES SINAGA}:

Kebetulan tadi saya sebenarnya tidak mau muncul ini tapi kebetulan yang ngomong dari orang PAH I saya mantan PAH I sekarang sudah PAH II, saya kira

Referensi

Dokumen terkait

Dalam konteks ke Indonesian dengan berdasarkan pada ketentuan hierarki peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (1) UU nomor 12 Tahun 2011

Para Pemohon yang merupakan Warga Negara Indonesia yang terpilih menjadi anggota DPD telah dirugikan hak konstitusionalnya oleh ketentuan Pasal 14 ayat (1) UU MPR, DPR, DPD, dan

DRPD, diminta atau tidak diminta. menetapkan kegiatan dan jadwal acara rapat DPRD. memutuskan pilihan mengenai isi risalah rapat apabila timbul perbedaan pendapat. memberi

Menytakan bahwa pelaksanaan dan penafsiran Pasal 77 ayat (3) UU MD3 yang dilaksanakan oleh anggota DPR saat ini mengenai kasus Bank Century terhadap pemerintahan

Boleh enggak, boleh saya mengusulkan kalau ini kemudian bisa diatur lebih lanjut dalam peraturan atau pemerintah itu yang terkait dengan ketentuan, misalnya soal

138 Serta pada pasal 7 huruf f surat keputusan pemberhentian dari Partai Politik yang bersangkutan yang ditandatangani ketua dan sekretaris atau sebutan lainnya

Pak Menteri, Menteri Perhubungan, Menteri PUPR dan pejabat dari Basarnas. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini Pak Ketua. Yang pertama yang

Dalam Proses pembuatan dan pengesahan Perubahan Pasal 82 UU Nomor 27 Tahun 2009 menjadi Pasal 84 dalam UU Nomor 17 Tahun 2014 dalam ketentuan perubahan ini adanya