• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROCEEDING SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI & PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROCEEDING SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI & PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

PROCEEDING SEMINAR NASIONAL

“GEOGRAFI & PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN”

Editor:

Dr. Rer.nat. Eko Kusratmoko, M.S Dr. Supriatna, MT.,

Drs. Astrid Damayanti, M.Si., Kuswantoro, M.Sc,

Revi Hernina, S.Si, MT.

Iqbal Putut Ash Shidiq, S.Si., M. Sc.

Penyunting:

Lady Hafidaty Rahma Kautsar, Nugraheni Setyaningrum, Muhamad Kurniawan, Ira Megawati Gunawan Putri, Mentari Pratami

Reviewer:

Dr. Supriatna, MT.,

Drs. Astrid Damayanti, M.Si., Kuswantoro, M.Sc,

Revi Hernina, S.Si, MT.

Desain Sampul dan Tata Letak:

Retno Wulandari dan Yoanna Ritsya

Published by:

Departemen Geografi FMIPA, UNIVERSITAS INDONESIA Gedung H, Kampus UI Depok 16424

Telp: +6221 78886680 Fax: +6221 7270030

Email: [email protected] Website: www.sci.ui.ac.id/geografi

Cetakan Pertama : April 2018 ISBN :

All right Reserved

No Part of This Publication May Be Reproduce Without Written Permission of The Publisher

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamu‘alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas izin-Nya, kegiatan Seminar Nasional Tahun 2018 dengan tema ―Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan‖

dapat diselenggarakan sesuai jadwal dan tempat yang direncanakan serta menghasilkan buku kumpulan abstrak yang akan dipresentasikan. Seminar yang menekankan kepada peran geografi dalam menawarkan ide dan solusi pembangunan wilayah yang berkelanjutan, memerlukan kajian kritis, kreatif, efektif dan efisien dengan didukung perkembangan teknologi guna melahirkan paradigma yang berorientasi keruangan.

Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah perlu ditinjau secara kompleks keruangan untuk mendapatkan mendapatkan solusi yang tepat dan sesuai dengan kondisi wilayah tersebut.

Dengan segala kerendahan hati panitia menyampaikan selamat datang dan selamat mengikuti rangkaian kegiatan Seminar Nasioanl Tahun 2018, yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ilmu Geografi, Departemen Geografi, FMIPA, Universitas Indonesia dengan diidukung oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Seminar yang diselenggarakan ini merupakan media edukasi dan wajah dalam bertukar ide, temuan maupun solusi dari berbagai hasil pemikiran maupun penelitian yang dilakukan para pakar geografi, akademisi, swasta maupun sektor pemerintah.

Ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada para narasumber, pemakalah, penyunting, peserta, pelaksana dan seluruh pihak yang telah mensukseskan kegiatan seminar ini. Semoga semua kebaikan yang telah dicurahkan menjadi amal soleh yang akan mendapat balasan kebaiakan yang berlimpah dari-Nya. Akhirnya, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat dan berdampak positif bagi kita semua. Atas segala kekhilafan pada penyelenggaraan kegiatan ini, kami sampaikan permohonan maaf, dan demi perbaikan untuk penyelenggaraan selanjutnya, kami sangat mengharapkan sumbang saran dan masukan.

Wassalamu‘alaikum Wr. Wb.

Depok, 4 April 2018 Penulis

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Sampul ... i

Halaman Judul ... ii

Halaman ISBN ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... Pemanfaatan Penginderaan Jauh Dalam Menentukan Lokasi Potensi Budidaya Rumput Laut Berdasarkan Parameter Oceanografi di Perairan Laut Cirebon ... i

Daftar Pustaka ... 24

Persebaran Terumbu Karang di Wilayah Perairan Karawang ... 26

Wilayah Potensi Ikan Pelagis pada Variasi Kejadian ENSO dan Normal di Selat Sunda ... 41

1. Pendahuluan ... 42

2. Metode Penelitian ... 42

3. Hasil dan Pembahasan ... 46

4. Kesimpulan ... 51

Kebijakan, Isu dan Tantangan Konservasi Hutan Mangrove (Studi Kasus Wilayah Pesisir Kabupaten Pesawaran, Lampung) ... 53

1. Pendahuluan ... 54

2. Metode Penelitian ... 54

3 Hasil dan Pembahasan ... 56

4 Kesimpulan ... 62

MITIGASI BENCANA ... 65

Potensi Bahaya Longsor Dengan Metode Geolistrik, Interpretasi Citra Dan Struktur Geologi Di Gunung Pawinihan, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara ... 66

Keterpaparan Lahan Kritis Terhadap Perubahan Iklim di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ... 77

1. Pendahuluan ... 88

2. Metode Penelitian ... 89

3. Hasil dan Pembahasan ... 90

4. Kesimpulan ... 98

Ucapan Terima Kasih ... 99

Daftar Pustaka ... 99

Mitigasi Bencana Pada Masyarakat Tradisional Kampung Air Kelurahan Mantuil Kota Banjarmasin ... 101

1. Pendahuluan ... 102

(6)

2. Metode Penelitian ... 103

3. Hasil dan Pembahasan ... 104

4. Kesimpulan ... 112

5. Ucapan Terima Kasih ... 113

Daftar Pustaka ... 113

Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal Di Desa Tieng, Kabupaten Wonosobo (Disaster Mitigation Based Local Wisdom In Tieng Village, Wonosobo District) ... 116

Peningkatan Kapasitas Lokal Melalui Kajian Bahaya Longsor Dan Penentuan Jalur Evakuasi Partisipatif Di Desa Hargomulyo, Kulonprogo, DIY ... 125

Daftar Pustaka ... 139

Pertimbangan Teknis Pertanahan Sebagai Upaya Pendukung Pengurangan Risiko Bencana ... 141

Daftar Pustaka ... 149

Kajian Kesipsiagaan Masyarakat Terhadap Bencana Gempa Bumi Di Desa Bobanehena Kecamatan Jailolo ... 151

Daftar Pustaka ... 161

Penelusuran Banjir Sungai Pedolo Di Kota Bima ... 162

2.3. Pendekatan Hidrologi ... 164

3.1. Topografi ... 166

3.1.1. Tataguna Lahan ... 167

3.2. Analisis Hidrologi ... 167

3.2.1. Data Hujan Kawasan ... 167

3.2.2. Hujan Kala Ulang ... 168

3.2.3. Hujan Kejadian ... 171

3.3. Analisis Hidroulika ... 172

3.3.1. Data Geometri ... 172

3.3.2. Data Kondisi Batas ... 172

3.3.3. Permodelan Hidraulika ... 173

Analisis Kesiapsiagaan Terhadap Bencana Erupsi Gunung Merapi Di Sma Muhammadiyah 1 Klaten ... 175

Daftar Pustaka ... 185

Evaluasi Sekolah Di Daerah Patahan Opak Untuk Mitigasi Bencana Gempabumi Di Sekolah (Sekolah Aman) Di Kabupaten Bantul ... 186

Daftar Pustaka ... 197

Potensi Daerah Terdampak Keruntuhan Bendungan Matenggeng Di Sungai Cijolang ... 198

Daftar Pustaka ... 205

Persepsi Dan Pengetahuan Masyarakat Cotnga Dalam Menanggulangi Risiko Bencana ... 206

Daftar Pustaka ... 217

(7)

Studi Pengaruh Perubahan Tataguna Lahan Terhadap Karakteristik Banjir ... 218

(Studi Kasus Kejadian Banjir 21 Dan 23 Desember 2016 Di Kota Bima) ... 218

1. Pendahuluan ... 219

2. Metode Penelitian ... 219

2.1 Lokasi Penelitian ... 219

2.2 Ketersediaan data ... 220

2.3 Model HEC – geoHMS ... 221

2.4 Model HEC – HMS... 222

2.5 Transformasi hujan aliran ... 223

2.5.1 Volume Limpasan ... 223

2.5.2 Metode transformasi... 223

2.5.3 Baseflow ... 223

2.5.4 Hujan rancangan ... 223

3. Hasil dan Pembahasan ... 223

3.1 Parameter daerah aliran sungai (DAS) ... 223

3.2 Analisa nilai curve number (CN) ... 225

3.3 Analisa Hujan ... 226

3.3.1 Hujan rata – rata kawasan DAS ... 226

3.3.2 Analisa Frekuensi ... 227

3.3.3 Distribusi hujan jam-jaman ... 228

3.4 Penyiapan Model HEC-HMS ... 229

3.5 Simulasi hidrograf banjir... 230

4. Kesimpulan ... 233

Daftar Pustaka ... 234

Relokasi Permukiman Sebagai Solusi Mitigasi Terhadap Ancaman Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Bantul ... 235

Daftar Pustaka ... 250

Konstruksi Sosial Citra Jepang Sebagai Negara Rawan Bencana Melalui Kizuna Bond Project ... 251

DaftarPustaka... 260

Model Pengendalian Degradasi Lahan Secara Vegetatif Berbasis Integrasi Erosi Dan Longsorlahan ... 262

Daftar Pustaka ... 274

Dampak Keterpaparan Dan Sensitivitas Pantai Terhadap Keberlanjutan Wisata Pantai Di Pantai Barat Banten ... 276

Daftar Pustaka ... 286

Pemilihan Parameter Untuk Penilaian Kualitas Daerah Aliran Sungai, Mana Yang Lebih Dapat Diandalkan: Koefisien Regim Aliran Atau Koefisien Aliran Tahunan?... 287

(8)

Pola Keterpaparan Wilayah Terhadap Bencana Longsor Akibat Hujan Lebat Di Kabupaten

Probolinggo, Jawa Timur ... 298

Daftar Pustaka ... 313

PEMBANGUNAN INFORMASI GEOSPASIAL ... 314

Review Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) dalam mendukung Pembangunan di Wilayah Timur Indonesia Studi Kasus : Kabupaten Merauke ... 315

Daftar Pustaka ... 329

Struktur Kawasan Perkotaan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung ... 330

Daftar Pustaka ... 341

Pemodelan Spasial Kualitas Udara Di Kota Bekasi ... 344

Strategi Pengembangan Desa Wisata Di Kelurahan Jelekong ... 359

Daftar Pustaka ... 375

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN GEOGRAFI ... 376

Internalisasi Program Adiwiyata Oleh Sekolah Adiwiyata Mandiri Ke Sekolah Binaan Di Kota Tangerang ... 377

Daftar Pustaka ... 390

Pentingnya Pembelajaran Luar Ruangan (Fieldstudy) Dalam Geografi ... 392

Daftar Pustaka ... 405

Internalisasi Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Peserta Didik di SMA (Sekolah Menengah Atas) Kota Sabang ... 407

Daftar Pustaka ... 422

Mitigasi Bencana Longsor Sampah Melalui Pembelajaran Geografi ... 423

Daftar Pustaka ... 434

Peningkatan Pengetahuan Bencana Menggunakan Buku Panduan Pembelajaran Kebencanaan Di Kabupaten Klaten ... 438

Daftar Pustaka ... 449

TEKNOLOGI DAN INFORMASI GEOSPASIAL ... 451

Pembentukan Dsm Menggunakan Unmanned Aircraft System (UAS) Dan Kamera Digital Non Metrik ... 452

Daftar Pustaka ... 467

Pola Persebaran Fasilitas Kesehatan Masyakarat Di Kecamatan Tanjungpandan Dan Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung ... 468

Daftar Pustaka ... 476

Penggunaan data spasial dan temporal dalam menganalisis degradasi mangrove di Kabupaten Tangerang Banten ... 477

Daftar Pustaka ... 485

Karakteristik dan Pola Persebaran Dolina di Kecamatan Ponjong dan Semanu, Kabupaten Gunungkidul ... 486

(9)

Daftar Pustaka ... 493

Analisis Spasial Tren Perubahan Iklim di Sumatera Utara ... 495

Daftar Pustaka ... 504

Analisis Spasial Curah Hujan pada Periode El Nino dengan Memanfaatkan Data CHRIPS di Sumatera Utara ... 505

Daftar Pustaka ... 512

Potensi dan Pengembangan Pengolahan Sampah di Kecamatan Sukasari, Kota Bandung ... 513

Daftar Pustaka ... 523

Analisa Penentuan Prioritas Lokasi Pemasangan Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah Di Ekosistem Gambut Dengan Metode Analytical Hierarchy Process (Studi Kasus Provinsi Kalimantan Tengah) 524 Daftar Pustaka ... 533

Estimasi kecepatan rambat gelombang geser tanah (VS30) berdasarkan topografi dan geologi di kota Padang Sumatra Barat ... 535

Daftar Pustaka ... 544

Perubahan Ruang Hijau Kabupaten Bojonegoro Menggunakan Data Penginderaan Jauh Multi- Temporal... 545

Daftar Pustaka ... 555

Potensi Dan Pengembangan Pengolahan Sampah Di Kecamatan Sukasari, Kota Bandung ... 556

Daftar Pustaka ... 565

Identifikasi Sarana Prasarana Desa Dudepo Menggunakan Citra Resolusi Tinggi Berbasis Aplikasi QGIS ... 567

Daftar Pustaka ... 577

PEMBANGUNAN SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA INDONESIA ... 578

Distribusi Sektor Tradable Unggulan: Studi Kasus Provinsi Jawa Timur ... 579

Daftar Pustaka ... 586

Wilayah Penduduk Balita Kurang Gizi di Kabupaten Lebak Provinsi Banten ... 587

Daftar Pustaka ... 595

Dampak Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung Terhadap Perekonomian Masyarakat Kabupaten Pandeglang, Banten ... 596

Daftar Pustaka ... 608

Pola Perilaku Masyarakat Padat Perkotaan Terhadap Pembangunan Sanitasi Masyarakat (Sanimas) di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara ... 609

Daftar Pustaka ... 618

Pola Keruangan Tradisi Nirok Nanggok di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung ... 619

Daftar Pustaka ... 628

Keberlanjutan Bank Sampah Sebagai Salah Satu Upaya Mengurangi Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Mojosongo ... 629

(10)

Daftar Pustaka ... 638

Tradisi Remaja Menikah (Studi Kasus di Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh) ... 640

Daftar Pustaka ... 652

Analisis Faktor Penentu Nilai Tanah di Kota Palembang, Sumatera Selatan ... 653

Daftar Pustaka ... 663

Pola Spasial Pemilihan Lokasi Hangout Oleh Para Remaja Di Kota Depok ... 664

Daftar Pustaka ... 676

Perkembangan Pola Konsumsi Penduduk di Kecamatan Citeureup ... 677

Daftar Pustaka ... 690

Analisis Spatial Sebaran dan Prevalensi Schistosomiasis Japonicum di Kecamatan Lindu, Sulawesi Tengah ... 691

Daftar Pustaka ... 696

Pemanfaatan Energi Panas Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dalam Perspektif Spasial dan Utilitarianisme ... 698

Daftar Pustaka ... 707

Orientasi Ulang Pemanfaatan Ruang Pulau Sebatik Sebagai Pulau Kecil Terluar ... 708

Daftar Pustaka ... 719

Dinamika Perkembangan Delta Sungai Bengawan Solo terhadap kajian sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Ujungpangkah, Gresik Tahun 1989-2017 ... 721

Daftar Pustaka ... 727

Analisis Daya Dukung Fisik Ekowisata Kebun Kopi Robusta Dampit Di Kabupaten Malang ... 729

Daftarpustaka ... 735

Faktor Independen Utama dalam Pendirian Industri Pengolahan Kayu Jati di Kabupaten Bojonegoro ... 736

Daftar Pustaka ... 746

PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAHAN DAN AIR... 747

Analisis Spasial Ukuran Butir Sedimen Di Pesisir Selatan Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur ... 748

Daftar Pustaka ... 755

Persepsi Sosial Ekonomi dan Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Terhadap Keberadaan Hutan Mangrove di Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat ... 760

Daftar Pustaka ... 773

Karakteristik Spasial Urban Heat Island (UHI) dengan Karakteristik Lahan di Kota Depok ... 775

Daftar Pustaka ... 791

Karakteristik Mataair Dan Penggunaan Air Domestik Di Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung ... 793

Daftar Pustaka ... 802

(11)

Aplikasi Agrobacterium sp. I30 Dan Pupuk Organik Dalam Bioremidiasi Untuk Mendukung

Kesehatan Tanah Berkelanjutan ... 807

Daftar Pustaka ... 816

Penentuan Daya Dukung Lingkungan Berbasis Neraca Lahan Tahun 2016 Di Kabupaten Bojonegoro ... 818

Daftar Pustaka ... 827

Pengaruh Embung Dan Kombinasinya Dengan Tehnik Konservasi Tanah Dan Air Lainnya Terhadap Koefisien Regim Aliran Dan Koefisien Aliran Tahunan... 828

Daftar Pustaka ... 836

Penataan Ruang Berbasis Land Management: Mengintegrasikan Status Tanah Dan Fungsi Ruang . 838 Daftar Pustaka ... 847

Proyeksi Kebutuhan Air Baku Pada Pengguna Pdam Dan Pengguna Non – Pdam Di Danau Toba . 848 Daftar Pustaka ... 856

Analisis Kandungan Caco3 Air Tanah Di Daerah Sekitar Kampus Universitas Negeri Semarang Menggunakan Metode Kompleksometri ... 857

Daftar Pustaka ... 861

Evaluasi Pemenuhan Serta Efektivitas Dan Efisiensi Air Irigasi Di Daerah Irigasi Cikeusik Provinsi Banten ... 863

Daftar Pustaka ... 873

Evaluasi Kinerja DAS Keduang sebagai Dasar Optimalisasi Penggunaan Lahan ... 874

Daftar Pustaka ... 884

PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN AGROINDUSTRI GUNA SWASEMBADA PANGAN ... 885

Daftar Pustaka ... 898

Pengaruh Pertambangan Emas Tradisional Terhadap Kualitas Perairan Sungai Topo Di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah ... 899

Daftar Pustaka ... 909

Rasionalisasi Penggunaan Pupuk Kocor Sebagai Alternatif Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan .. 911

Daftar Pustaka ... 921

(12)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Internalisasi Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Peserta Didik di SMA (Sekolah Menengah Atas) Kota

Sabang

Ahmad Nubli Gadeng1, Darsiharjo2, Ramli³

1Mahasiswa Doktoral Pendidikan Geografi Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

2Dosen Pendidikan Geografi Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

³ Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala Email: ¹[email protected]. ²[email protected]. ³[email protected].

Abstrak. Kearifan lokal dalam suatu masyarakat dapat bertahan dengan baik jika ada proses internalisasi. Internalisasi nilai-nilai kearifan lokal dalam masyarakat kota Sabang dapat dilakukan melalui proses formal pada pembelajaran di SMA (Sekolah Menengah Atas) dan proses nonformal pada masyarakat Kota Sabang. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses internalisasi nilai-nilai kearifan lokal pada peserta didik di SMA Kota Sabang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif verifikatif, nantinya hasil penelitian akan dituangkan dalam bentuk cerita (naratif). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara mendalam, studi literatur. Teknik analisis data dengan menggunakan metode Delphi. Proses internalisasi dapat dilakukan secara formal pada masyarakat Kota Sabang melalui proses pembelajaran geografi di SMA, yaitu pada materi pembelajaran tentang potensi dan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia. Guru mata pelajaran geografi dapat menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang yang terdapat pada masyarakat kota Sabang. Internalisasi juga dilakukan secara nonformal oleh panglima laot melalui papan pengumuman di Kota Sabang dan himbauan lisan yang disampaikan dalam masyarakat. Diharapkan dengan berbagai langkah tersebut dapat meningkatkan kesadaran peserta didik SMA untuk menjaga kelestarian terumbu karang yang terdapat di Kota Sabang sebagai warisan untuk generasi selanjutnya.

Kata kunci: Internalisasi, Nilai-nilai Kearifan Lokal, Peserta Didik

Abstract. Local wisdom in a society can survive well if there is an internalization process.

Internalization of local wisdom values in Sabang city society can be done through the formal process of learning in SMA (High School) and non-formal process in Sabang City society. The purpose of this study to determine the process of internalization of local wisdom values in students in Sabang City High School. The method used in this study is qualitative verification, later research results will be poured in the form of stories (narrative). Data collection techniques used were observations, in-depth interviews, literature studies. Data analysis technique using Delphi method. Internalization process can be done formally in Sabang City society through geography learning process in SMA, that is on learning material about potency and management of marine resources of Indonesia. Geography subject teachers can insert the values of local wisdom for coral reef conservation found in Sabang city community. Internalization is also done informally by commander laot through bulletin board in Sabang city and verbal appeal delivered

(13)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Perkembangan Pendidikan Geografi 408

in society. It is expected that with these various steps can increase awareness of high school students to preserve the coral reefs found in the city of Sabang as an inheritance for the next generation.

Keywords: Internalization, Local Wisdom Values, Learners

1. Pendahuluan

Internalisasi merupakan suatu proses penanaman nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat.

(Koentjaraningrat, 2009:185; Poerwanto, 2000:88) Proses internalisasi adalah proses panjang untuk belajar kebudayaan sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal, individu belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. Proses internalisasi dikatakan berhasil pada saat semua nilai-nilai yang terkandung diketahui, dipahami serta tertanam dengan baik dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh masyarakat, hal tersebut dapat dilihat dari perilaku keseharian masyarakat yang mencerminkan atau tidaknya dari nilai-nilai tersebut. Gadeng (2017:159) Suatu proses internalisasi dikatakan berhasil apabila seluruh masyarakat sudah mengetahui, menghafal, memahami serta dapat menerapkan seluruh pengetahuannya dalam bentuk aksi nyata serta terlihat dalam kegiatan sehari-hari pada kehidupan masyarakat.

Jikalau berbicara tentang internalisasi maka erat kaitannya dengan proses sosialisasi, tanpa adanya proses sosialisasi, maka proses internalisasi tidak akan dapat berjalan dengan baik. Gadeng (2017:159) Keberhasilan internalisasi akan dicapai dengan adanya proses sosialisasi yang terjadi dengan baik dalam masyarakat, tanpa adanya proses sosialisasi dalam masyarakat maka proses internalisasi juga tidak akan berhasil dan berjalan dengan baik. Proses sosialisasi merupakan suatu kegiatan memperkenalkan dan memberitahukan berupa informasi yang berisikan nilai-nilai kepada generasi selanjutnya, nilai-nilai tersebut biasanya berasal dari generasi sebelumnya.

Koentjaraningrat (2009:186) proses sosialisasi berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial, dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia adalah bagian dari suatu sistem sosial, maka setiap individu harus belajar mengenai pola- pola tindakan, agar ia dapat mengembangkan hubungannya dengan individu-individu lain di sekitarnya, proses belajar ini lebih dikenal dengan sosialisasi (Poerwanto, 2000:88). Gadeng (2017:159) Sosialisasi adalah suatu cara atau langkah yang dilakukan oleh setiap individu untuk menyampaikan informasi kepada individu lain yang berada di dalam satu wilayah atau bahkan di luar wilayah tersebut, sosialiasi berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan tidak dilakukan dalam jangka waktu yang singkat.

Dengan demikian, proses sosialisasi sebagai suatu proses penyampaian nilai-nilai yang terdapat dalam kearifan lokal pada suatu masyarakat bersumber dari generasi sebelumnya, untuk generasi pada masa yang akan datang. Kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat di suatu daerah dapat bertahan dengan baik dikarenakan adanya proses internalisasi dan sosialisasi nilai-nilai yang dilakukan oleh segenap masyarakat setempat.

Nilai-nilai merupakan suatu pedoman hidup manusia yang diyakini atau dipercayai serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, nilai biasanya berasal dari nasihat-nasihat yang bermanfaat bersumber dari generasi sebelumnya. Setiap perbuatan atau tingkah laku serta perkataan manusia selalu mengandung nilai yang tersimpan di dalamnya, baik itu nilai yang positif maupun nilai yang negatif. Zakiyah dan Rusdiana (2014:14) Dalam kehidupan sehari-hari, nilai merupakan sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Bilsky dan Schwartz (1994:163) Nilai sebagai konsep atau keyakinan tentang perilaku atau kondisi yang diharapkan, yang

(14)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

mengatasi situasi tertentu, menjadi panduan dalam memilih dan mengevaluasi perilaku dan peristiwa serta ditata berdasarkan arti penting relatifnya. Nilai merupakan gabungan semua unsur kebudayaan yang dianggap baik atau buruk dalam suatu masyarakat, karena itu pula masyarakat mendorong dan mengharuskan warganya menghayati dan mengamalkan nilai yang dianggapnya ideal (Kluckoln dalam Sauri, 2007:45; Kamakura dan Novak, 1992: 119).

Nilai-nilai tersimpan dalam kearifan lokal, setiap kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat pasti menyimpan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kearifan lokal sebagai suatu pandangan, pemahaman yang terdapat dalam masyarakat, sebagai adaptasi masyarakat dengan lingkungan sekitarnya, dan juga sebagai solusi dari berbagai fenomena yang terjadi dalam keseharian masyarakat pada masa lalu. Kearifan lokal (local wisdom) dalam kehidupan masyarakat sering juga disebut dengan: indigenous wisdom, traditional wisdom and indigenous inventions, dan pengetahuan lokal (indigenous knowledge, local genius dan invented tradition).

Sartini (2004:111) Local wisdom (kearifan lokal) adalah gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Mungmachon (2012) local wisdom is basic knowledge gained from living in balance with nature, it is related to culture in the community which is accumulated and passed on, this wisdom can be both abstract and concrete, but the important characteristics are that it comes from experiences or truth gained from life. Muhaimin (2015:93) kearifan lokal dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan kearifan lokal berasal dari kehidupan nyata pada generasi sebelumnya, sebagai jawaban atau solusi dari berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu, berlaku di suatu daerah tertentu, serta dipercayai dan dipatuhi oleh segenap masyarakat yang berada di suatu wilayah tertentu, serta menjadi budaya dalam masyarakat setempat. Poerwanto (2000: 90) semua pola dari suatu kebudayaan hanya dapat dipahami dengan melihat berbagai bentuk pola tingkah laku para individu, karena itu proses perkembangan kebudayaan lebih dipengaruhi oleh pengalaman- pengalaman individu dalam suatu masyarakat, sekalipun pengalaman tadi dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Dapat dipastikan antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda jenisnya.

Internalisasi nilai-nilai kearifan lokal yang akan ditanamkan tentang konservasi terumbu karang. Kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang terdapat pada masyarakat di Kota Sabang, masyarakat Kota Sabang sudah sangat lama secara bersama-sama antara pemerintah Kota Sabang dengan masyarakat untuk menjaga seluruh ekosistem terumbu karang secara tradisional yang terdapat di sekitar wilayah administratif pemerintahan Kota Sabang. Meskipun Kota Sabang terkenal dengan dunia pariwisata bahari, akan tetapi keberadaan terumbu karang masih tetap terjaga dengan baik.

Banyak kasus yang terjadi, pada saat obyek wisata bahari berkembang pesat, maka akan berdampak kepada rusaknya ekosistem lingkungan akibat ulah tangan wisatawan yang jahil dan tidak bertanggungjawab. Salim (2012) Peningkatan fasilitas dan aksesibilitas di sekitar kawasan pariwisata ikut pula mempercepat pertumbuhan industri pariwisata di wilayah pesisir. Perkembangan sektor pariwisata juga mendorong kerusakan terumbu karang. Salm dan Clark (1989) dalam Lubis (2009) merinci lebih lanjut dampak aktivitas pariwisata komersil terhadap terumbu karang sebagai berikut :

1. Pembangunan fasilitas wisata, dampaknya dapat merubah aliran air sekitar terumbu karang dan akhirnya merubah faktor ekologi utama terumbu karang, dapat menimbulkan kekeruhan sehingga mengurangi fotosintesis, dapat menjadi sumber pencemaran tetap.

2. Kerusakan oleh jangkar, dampaknya memecah dan merusak karang.

3. Kerusakan oleh penyelam, sering kali aktivitas penyelaman (diving) secara tidak sengaja dapat menimbulkan kerusakan pada karang dan biota lainnya.

(15)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Perkembangan Pendidikan Geografi 410

4. Kerusakan oleh perahu kecil, seringkali dasar perahu dan kapal pesiar dapat menabrak terumbu dan menimbulkan kerusakan fisik pada daerah yang dangkal, terutama pada saat surut.

5. Berjalan pada terumbu, seringkali para wisatawan berjalan-jalan pada terumbu karang saat air surut, dan cara ini sangat potensial menimbulkan kerusakan fisik karang karena terinjak.

Akan tetapi sampai saat ini hal tersebut tidak terjadi di Kota Sabang, dikarenakan masyarakat Kota Sabang sudah mengetahui dan memahami dengan baik manfaat yang didapatkan dari keberadaan terumbu karang, sebagai contoh pemahaman masyarakat yang terdapat di Kota Sabang yaitu: ―terumbu karang merupakan rumah ikan, apabila terumbu karang rusak atau hancur, berarti rumah ikan juga akan hancur, sehingga berdampak kepada kelangkaan atau hilangnya ikan-ikan di laut, pada saat ikan dan terumbu karang tidak ada, maka wisatawan tidak akan berliburan ke Kota Sabang, tidak ada wisatawan maka masyarakat akan mengalami krisis keuangan, kemiskinan dan bahkan hilangnya lapangan pekerjaan masyarakat‖. Hal ini dikarenakan masyarakat Kota Sabang sebagian besar bekerja pada sektor pariwisata, dan juga obyek wisata bahari lah yang dijual dan menjadi daya tarik utama dari Kota Sabang. Sehingga masyarakat Kota Sabang tidak ingin bencana tersebut terjadi di dalam kehidupan nyata.

Sosialisasi dan internalisasi dalam masyarakat Kota Sabang dapat dilakukan secara non formal dan formal dalam masyarakat. Sosialisasi dan internalisasi non formal lebih menuntut peran aktif masyarakat. Digdoyo (2015:29) sosialisasi yang tidak disadari atau tidak disengaja, misalnya perilaku atau sikap sehari-hari yang dilihat dan didengar atau dicontoh oleh orang lain, maka dari proses sosialisasi yang tidak disadari dan disengaja tersebut akan terjadi suatu pewarisan budaya dalam masyarakat. Sedangkan sosialisasi dan internalisasi formal lebih menuntut peran aktif guru dalam proses penyampaiannya. Digdoyo (2015:29) sosialisasi yang disengaja atau disadari adalah proses sosialisasi yang dilakukan secara sadar atau disengaja, misalnya proses pendidikan, pengajaran, doktrinasi, pertunjukan atau pementasan, dakwah, pemberian petunjuk, nasehat. Proses pembelajaran di kelas dilakukan secara terencana karena memiliki silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang sudah disusun secara baik dan matang oleh guru sebelum mengajarkan materi kepada peserta didik di kelas.

Proses pembelajaran sebagai salah satu langkah sosialisasi formal yang sangat bagus, ampuh dan efektif. Purwanto (2010:84) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Rusman (2012:252) Belajar merupakan proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman, sedangkan pembelajaran merupakan upaya yang sistemis dan sistematis dalam menata lingkungan belajar guna menumbuhkan dan mengembangkan belajar siswa. Belajar diartikan sebagai aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman, bertumpu pada kemampuan diri, belajar di bawah bimbingan pengajar (Tirtarahardja, 2005:51).

Proses sosialisasi dan internalisasi formal dapat dilakukan oleh masyarakat di Kota Sabang melalui kegiatan pembelajaran di SMA (Sekolah Menengah Atas) dan MA (Madrasah Aliyah), tepatnya yaitu pada mata pelajaran Geografi di SMA/MA Kelas XI. Hal ini dikarenakan pada silabus mata pelajaran Geografi Kelas XI SMA/MA Kurikulum 2013 Edisi Revisi terdapat materi pembelajaran yang membahas tentang posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim dunia. Oleh karena itu, sangat diharapkan peran aktif guru geografi dalam mengajarkan materi tersebut dengan baik kepada peserta didik, sebagai bentuk sosialisasi dan internalisasi formal yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran geografi pada proses pembelajaran di tingkat SMA/MA. Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas penulis mencoba untuk mengangkat penelitian yang berjudul

―Internalisasi Nilai-nilai Kearifan Lokal Pada Peserta Didik di SMA (Sekolah Menengah Atas) Kota Sabang‖. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimanakah proses sosialisasi dan internalisasi nilai-

(16)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

nilai kearifan lokal pada peserta didik di SMA/MA Kota Sabang yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Geografi selama ini pada saat proses pembelajaran berlangsung di kelas.

2. Metode Penelitian 2.1 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif verifikatif, nantinya hasil penelitian akan dituangkan dalam bentuk cerita (naratif). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara mendalam, studi literatur (kepustakaan) kepada peserta didik dan masyarakat yang terdapat di Kota Sabang. Teknik analisis data dengan menggunakan metode Delphi.

2.2 Lokasi Penelitian

Secara geografis, Kota Sabang terletak antara 5º46‘28‖- 5º54‘28‘‘LU. Dan 95º13‘12‖- 95º22‘36‖ BT dan mempunyai ketinggian daerah rata-rata 28 mdpl. Kota Sabang terdiri dari lima pulau, yaitu: Pulau Weh (Sabang) sebagai pulau terbesar yang terdapat di Kota Sabang, Pulau Rondo sebagai pulau terluar yang berbatasan dengan Laut Andaman, Pulau Rubiah, Pulau Ceulako Pulau Klah dan terdapat 1 (satu) danau Aneuk Laot. Wilayah Kota Sabang sebagai daerah kepulauan yang secara geologis hampir seluruh daratannya (98,57 persen) tersusun atas batuan vulkanis (gunung Api Jaboy dengan tipe C) dan batuan aluvial. Adapun batas-batas wilayahnya yaitu, sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Andaman. Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Andaman.

BPS (2015:5) Luas wilayah Kota Sabang secara keseluruhan mencapai 122,14 Km². Secara administratif Kota Sabang dibagi dalam 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Sukajaya dan Kecamatan Sukakarya, dan terdiri dari 18 (delapan belas) gampong, 72 (tujuh puluh dua) lingkungan, dan 7 (tujuh) mukim. Berdasarkan BPS (2015: 5) Topografi wilayah Kota Sabang terdiri dari: ± 14,10%

dataran sangat curam, ±48,17% bergunung, ±31,17% bergelombang, ±6,03% landai sampai datar. Di Kota Sabang terdapat tugu Nol Kilometer Negara Republik Indonesia, dan juga terdapat pemandangan alam yang sangat indah berupa keadaan hutan yang masih sangat rindang serta taman laut yang masih sangat terjaga dengan baik dan indah. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Sabang pada tahun 2014 tak kurang dari 3.624 wisatawan asing dan 512.992 wisatawan domestik berkunjung ke Sabang (BPS, 2015:56). Tidak heran jikalau semua orang pasti ingin berwisata ke Kota Sabang untuk menikmati keindahan alam yang masih sangat asri dan terjaga.

(17)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Perkembangan Pendidikan Geografi 412

Gambar 1. Peta Kota Sabang Sumber: Hasil Pengolahan Penulis 3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Sosialisasi dan internalisasi formal kearifan lokal

Sosialisasi dan internalisasi formal kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang dapat dilakukan melalui proses pembelajaran yang terdapat di SMA (Sekolah Menengah Atas) dan MA (Madrasah Aliyah) Kota Sabang. Tepatnya pada mata pelajaran geografi kelas XI, berikut akan dilampirkan silabus pada tabel 1. Dalam proses sosialisasi dan internalisasi formal kearifan lokal menuntut peran aktif guru dalam penyampaian kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang kepada peserta didik.

Adapun konservasi terumbu karang berbasis masyarakat lokal yang terdapat di Kota Sabang yaitu, sebagai berikut:

Tentang Larangan di Dalam Zona/Kawasan Lindung Hukom Adat Laot Lhok Iboih (Hukum Adat Laut Lhok Iboih)

1) Dilarang keras menyentuh, mengangkat, membolak-balik, menginjak, memindahkan, mengambil/memungut, merusak, mengurangi, merubah, satu atau sebahagian dan atau seluruh jenis biota dan kehidupan alam bawah air laut (Marine Lifes) baik yang dilakukan dengan sengaja atau dengan tanpa disengaja dengan suatu alasan dan dengan dalih apapun juga.

2) Dilarang keras membawa atau menggunakan mesin compressor, membawa atau menggunakan senapan ikan, membawa atau menggunakan jaring/net, membawa atau menggunakan tombak ikan, memancing ngeten (memancing dengan menggunakan ban sebagai media pelampung) dan termasuk kegiatan-kegiatan lainnya yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan dan kehidupan alam bawah air laut.

3) Dilarang keras melakukan kegiatan yang dapat mengganggu, merusak, atau mencemarkan lingkungan, biota laut dan kehidupan alam bawah air laut.

4) Sedangkan memancing dengan menggunakan perahu dan tali pancing, hanya diperbolehkan dilakukan di jalur-jalur tertentu yang secara hukom adat dapat dipastikan bahwa kegiatan

(18)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

tersebut tidak akan menimbulkan dampak kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan dan alam bawah air laut.

Guru mata pelajaran geografi dapat menyisipkan kearifan lokal yang terdapat pada masyarakat Kota Sabang seperti yang di atas ketika proses pembelajaran berlangsung, pada saat membahas materi pembelajaran posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim dunia, tepatnya pada sub pembahasan potensi dan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia. Berdasarkan kompetensi dasar yang terdapat pada silabus, setelah mempelajari tentang materi pembelajaran tersebut, maka peserta didik diharapkan dapat memahami dengan baik kondisi wilayah dan posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dan peserta didik juga dapat menyajikan contoh hasil penalaran tentang posisi strategis wilayah Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam bentuk peta, tabel, dan/atau grafik.

Pengetahuan dan pemahaman di atas didapatkan melalui proses atau kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas seperti mengamati letak geografis Indonesia melalui peta dunia, berdiskusi tentang letak dan posisi geografis Indonesia dan kaitannya dengan poros maritim dunia, menyajikan laporan hasil diskusi tentang posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim dunia dilengkapi peta, tabel, dan/atau grafik.

Sehingga guru tidak perlu memberikan contoh yang jauh dari jangkauan peserta didik, dengan tujuan agar peserta didik dapat memahaminya dengan baik, dikarenakan contoh tersebut berada dekat dengan lingkungan tempat tinggal peserta didik. Peserta didik dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang didapatkannya dalam keseharian di lingkungan masyarakat, dan diaplikasikan dalam proses pembelajaran di kelas, dapat dipastikan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik yang berada di Kota Sabang dalam bidang kemaritiman sangatlah banyak, hal ini didukung oleh lingkungan tempat tinggal peserta didik yang berdampingan dengan laut dan samudera. Tugas guru hanya mengarahkan dan membimbing untuk mengklasifikasikan semua pengalaman yang didapatkan oleh peserta didik tersebut ke dalam materi pembelajaran yang terdapat pada mata pelajaran geografi di SMA dan MA.

Tabel 1. Silabus Kelas XI SMA Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2016

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran 3.1 Memahami kondisi wilayah

dan posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim dunia.

POSISI STRATEGIS INDONESIA SEBAGAI POROS MARITIM DUNIA

 Letak, luas, dan batas wilayah Indonesia.

 Karakteristik wilayah daratan dan perairan Indonesia.

 Perkembangan jalur transportasi dan perdagangan internasional di Indonesia.

 Potensi dan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia.

 Mengamati letak geografis Indonesia melalui peta dunia.

 Berdiskusi tentang letak dan posisi geografis Indonesia dan kaitannya dengan poros maritim dunia

 Menyajikan laporan hasil diskusi tentang posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim dunia dilengkapi peta, tabel, dan/atau grafik 4.1 Menyajikan contoh hasil

penalaran tentang posisi strategis wilayah Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam bentuk peta, tabel, dan/atau grafik.

Sumber: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2016).

Sehingga diharapkan proses internalisasi dan sosialisasi formal yang dilakukan melalui proses pembelajaran di sekolah dapat tercapai dengan baik sesuai yang diharapkan oleh guru dan

(19)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Perkembangan Pendidikan Geografi 414

masyarakat. Hasil internalisasi dan sosialisasi formal yang diberikan oleh guru akan terlihat dari sikap dan tingkah laku peserta didik kesehariannya dalam masyarakat. Pada saat sikap dan tingkah laku peserta didik yang mencerminkan nilai-nilai dari kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang, maka proses internalisasi dan sosialisasi formal dikatakan berhasil, dan begitu juga sebaliknya. Akan tetapi hasil yang diperoleh ini tidak dapat dirasakan dalam waktu yang singkat dan cepat, melainkan membutuhkan waktu yang lama dan panjang.

Keberhasilan yang dicapai dari proses sosialisasi dan internalisasi formal, dengan mengkolaborasikan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari bangku sekolah dan lingkungan masyarakat, dapat menambah rasa cinta, menjaga dan melindungi lingkungan maritim yang terdapat di sekitar tempat tinggal peserta didik, dari berbagai gangguan-gangguan yang datang baik itu melalui wisatawan dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, untuk mengganggu dan menghancurkan terumbu karang serta mencuri sumber daya ikan yang terdapat di wilayah admininstratif Kota Sabang. Tindakan yang kita lakukan saat ini dalam menjaga terumbu karang sebagai investasi masa depan, dalam menjaga warisan potensi sumber daya terumbu karang untuk anak cucu di masa yang akan datang. Dengan tujuan agar anak cucu di masa yang akan datang dapat juga menikmati keindahan alam bawah laut yang banyak terdapat terumbu karang dan sumber daya ikan lainnya, agar anak cucu di masa depan tidak mengalami kelangkaan ikan dan sumber protein yang sangat besar diperoleh dari mengkonsumsi ikan-ikan segar yang terdapat di laut.

3.2 Sosialisasi dan internalisasi Non formal Kearifan Lokal

Sosialisasi dan internalisasi kearifan lokal juga dapat dilakukan secara non formal dalam masyarakat.

Panglima Laot (panglima laut) yang berperan penting dalam sosialisasi dan internalisasi kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang yang terdapat di dalam masyarakat Kota Sabang. Masyarakat Kota Sabang lebih takut kepada peraturan adat yang berlaku dalam masyarakat dari pada peraturan pemerintah yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Terbukti dari berbagai peraturan adat yang dipatuhi serta dijaga dengan baik oleh seluruh masyarakat yang berada di Kota Sabang, dan banyak peraturan pemerintah yang dilanggar serta tidak ditakuti oleh masyarakat di Kota Sabang. Berbagai langkah sosialisasi dan internalisasi non formal kearifan lokal untuk konservasi terumbu karang yang terdapat pada masyarakat Kota Sabang yaitu, sebagai berikut:

a) Melalui papan pengumuman yang berada di lingkungan masyarakat, akan ditampilkan pada gambar berikut:

(20)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Gambar 2. Papan Pengumuman Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 3. Papan Pengumuman Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 4. Papan Pengumuman Sumber: Dokumen Penulis

(21)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Perkembangan Pendidikan Geografi 416

b) Melalui Monumen Kawasan Konservasi Perairan Pesisir (KKPP), dan papan informasi

Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7

Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 8 Papan Informasi Sumber: Dokumen Penulis

(22)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Gambar 9. Papan Informasi dan Ikon Kota Sabang Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 10. Papan Informasi Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 11. Papan Informasi Sumber: Dokumen Penulis

(23)

Seminar Nasional Geografi dan Pembangunan Berkelanjutan 2018 ISBN 978-979-16609-5-2

Perkembangan Pendidikan Geografi 418

Gambar 12. Papan Informasi Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 13. Lokasi Tugu Konservasi, Ikon Kota Sabang dan Papan Informasi Sumber: Dokumen Penulis

Gambar 14. Papan Informasi Sumber: Dokumen Penulis

Gambar

Gambar 1. Peta Kota Sabang  Sumber: Hasil Pengolahan Penulis  3. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1. Silabus Kelas XI SMA Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2016
Gambar 2. Papan Pengumuman  Sumber: Dokumen Penulis
Gambar 5    Gambar 6           Gambar 7
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pengelolaan lahan dengan kearifan lokal spesifik lokasi berdasarkan karakteristik dan kemampuan lahan, status hara tanah, kemasaman dan kandungan C-organik serta tanaman yang

Pendidikan bukan hanya mengajarkan memahami materi, melainkan juga pembentukan sikap dan media dalam melestarikan kebudayaan daerah. Penanaman kearifan lokal penting

Dalam hasil penelitian menunjukan peran mahasiswa merupakan suatu hal penting yang dapat meningkatkan, memperkenalkan, mempertahankan dan menjaga kearifan lokal sehingga tetap