• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1. Infrastruktur

Infrastruktur yakni fasilitas yang meliputi bangunan gedung, transportasi, drainase, pengairan, dan fasilitas publik lainnya, untuk berfungsinya sistem serta mencukupi kebutuhan manusia yaitu kebutuhan sosial dan kebutuhan ekonomi di kemukakan oleh Grig (1988). Selain itu juga infrastruktur merupakan penghubung dengan sistem lingkungan melalui sistem sosial serta ekonomi pada masyarakat. Dengan hadirnya infrastruktur dalam masyarakat dapat menghasilkan dampak positif terhadap sistem sosial dan sistem ekonomi. Karena itu, Menurut Kodoatie (2005) Infrastruktur merupakan dasar-dasar pada saat mengambil suatu kebijakan untuk membangun infrastruktur.

2.1.1. Jenis Infrastruktur

Berdasarkan pengertian infrastruktur, terdapat berbagai macam jenis infrastruktur diantaranya yaitu:

1. Infrastruktur Keras

Infrastruktur keras meliputi pembangunan fasilitas/sarana umum yang berbentuk fisik. Berikut ini adalah yang termasuk kedalam infrastruktur keras sebagai berikut:

a. Jalan Raya;

b. Bandara;

c. Lajur Kereta Api;

d. Pelabuhan;

e. Saluran Irigasi;

2. Infrastruktur Keras Non-Fisik

Infrastruktur keras non-fisik ialahpembangunan yang berkaitan bersama fungsi utilitas. Yang merupakan bagian infrastruktur ini sebagai berikut:

a. Perencanaan Air Bersih;

b. Alokasi Pasokan Listrik;

c. Alokasi Pasokan Energi;

(2)

6 3. Infrastruktur Lunak

Infrastruktur lunak yakni pembangunan yang berkaitan erat terhadap peraturan, pengaturan, tatanan nilai, serta layanan publik, dimana sebelumnya telah ada dan dilayankan oleh organisasi tertentu, terutama pemerintah. Berikut yang merupakan infrastruktur lunak adalah sebagai berikut:

a. Etos Kerja;

b. Peraturan Lalu Lintas;

c. Layanan Umum yang Bertaraf;

d. Undang-undang Hukum:

2.2. Jalan

Merujuk Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2009 Pasal 1 angka 12, Jalan ialah seluruh elemen jalan, dan fasilitas penunjang yang digunakan untuk kendaraan umum yang terletak di bawah, di atas, atau di atas permukaan air, selain lintasan rel kereta serta gondola. Pada perkerasan jalan terdapat 2 syarat utama bagi jalur lalu lintas yaitu:

1. Badan jalan yang tidak mengombak, tidak berongga, cukup kaku, tidak melendut, tidak mengkilat dan mampu menahan gesekan dan keausan pada roda kendaraan yang melintas.

2. Pada perkerasan harus memiliki sifat kokoh untuk menopang serta mendistribusikan beban lalu lintas untuk kendaraan yang melintas. Oleh karena itu, perkerasan jalan harus bisa menyalurkan air dan memiliki kekuatan yang baik.

2.2.1. Klasifikasi Jalan

Berikut merupakan pengklasifikasian merujuk pada fungsinya di Indonesia merujuk UU No 22 tahun 2009 yakni:

1. Jalan Arteri

Jalan arteri merupakan jalan raya, diperuntukan untuk kendaraan sentral.

Kriteria jalan arteri yaitu jaraktempuh jauh, kecepatan tinggi, serta dibatasinya jalan masuk.

a. Jalan arteri primer

Jalan ini dikhususkan efektif untuk mempertemukan sentra aktivitas regional ataupun antar sentra aktivitas regional dengan sentra aktivitas

(3)

7 wilayah. Jalan ini memiliki ciri kapasitas jalan yang lebih besar, perjalanan sedang serta jumlah masuk terbatas dengan efisien.

b. Jalan arteri sekunder

Jalan ini berguna untuk mempertemukan antara kawasan primer dan kawasan sekunder. Selain itu juga jalan ini memiliki peranan dalam hal pelayanan penyaluran bagi penduduk dalam kota.

2. Jalan Kolektor

Jalan kolektor yakni dikhsuskan untuk transportasi pembagi dimana jalan ini mempunyai kriteria jarak menengah, kecepatan sedang serta pembatasan akses.

a. Jalan kolektor primer

Jalan ini merupakan jalan raya dimana diperuntukan guna melayani serta mempertemukan pusat aktifitas kota wilayah dengan pusat aktifitas lokal ataupun dengan kawasan berskala kecil.

b. Jalan kolektor sekunder

Jalan ini yakni rute dimana diperuntukan kendaraan pengumpul ataupun pembagi dimana kriteria jalan ini yaitu jarak perjalanan menengah, kecepatan tempuh sedang, serta pembatasan akses masuk, selain itu juga berfungsi untuk pelayanan distribusi untuk masyarakat.

3. Jalan Lokal

Jalan ini termasuk jalan raya yang dikhususkan untuk kendaraan lokal. Pada umumnya jalan ini memiliki ciri jarak perjalanan dekat, serta adanya pembatasan pada aksesnya.

a. Jalan lokal primer

Merupakan jalan yang secara efektif menyatukan sentra aktifitas regional dengan sentra aktifitas lokal.

b. Jalan Lokal Sekunder

Jalan ini berfungsi untuk menyatukan antara daerah satu dengan perumahan begitupun seterusnya.

4. Jalan Lingkungan

Jalan ini mempunyai fungsi melayani transportasi lingkungan yang memiliki kriteria jarak perjalanan pendek, dan kecepatan tempuh rendah.

(4)

8 Berikut Pengelompokan Jalan merujuk Peraturan Pemerintah UU No.22 Tahun 2009 pada Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1. Pengelompokkan Kelas Jalan Menurut Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 2009

Sumber : Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 2009

2.3. Jalan Tol

Pada umumnya jalan tol ditujukan bagi kendaraan berporos dua atau lebih serta termasuk jalan raya yang merupakan lintas alternatif yang bertujuan mempersingkat waktu tempuh serta tergolong kedalam jalan nasional dimana penggunanya diharuskan membayar. Sedangkan tol sendiri merupakan jumlah tarif khusus yang dikeluarkan pemakai jalan.

Tarif yang dibayar oleh pemakai digunakan untuk perawatan, pemeliharaan jalan tol, serta pengembalian investasi. Dengan adanya jalan tol nantinya dapat meminimalisir beban lalu lintas, serta penumpukan kendaraan yang terjadi di jalan umum. Selain itu juga hadirnya jalan tol diharapkan mampu mengurangi pencemaran udara.

Jalan tol tentunya mempunyai peranan strategis yaitu untuk mencapai pemerataan pembangunan ataupun pengembangan wilayah. Wilayah-wilayah dengan tingkat perekonomian tinggi, mobilitas yang sangat pesat, sehingga diharapkan dengan hadirnya sarana transportasi berupa jalan dengan kualitas yang baik, maka dapat dipastikan mobilitas yang ada akan terdapat hambatan, sehingga membuat resesi ekonomi.

2.3.1. Syarat Teknis, Spesifikasi, dan Wewenang Jalan Tol

Merujuk Peraturan Pemerintah RI No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, terdapat syarat teknis, spesifikasi, dan wewenang yakni:

(5)

9 1. Syarat Teknis Jalan Tol

Berikut merupakan syarat teknisnya yaitu:

a. Jalan tol memiliki taraf layanan kenyamanan dan ketenangan lebih tinggi dibandingkan jalan generik yang terdapat serta bisa melayani arus kemudian lintas jeda jauh menggunakan gerak tinggi

b. Jalan tol yang dipakai dirancang dengan ketetapan kelajuan rencana terendah 80 (delapan puluh) km/jam dan pada daerah kota dirancang menggunakan kelajuan rencana terendah 60 (enam puluh) km/jam;

c. Jalan tol di design agar bisa menunda muatan sumbu terendah.

2. Spesifikasi Jalan Tol

Adapun spesifikasi jalan tol yakni:

a. Tidak terdapatnya simpang sejajar antara ruas jalan ataupun dengan prasarana lainnya;

b. Pintu masuk dan keluar jalan tol dikendalikan secara efektif, serta seluruh pintu masuk dan keluar patut dikendalikan sepenuhnya;

c. Mempergunakan median jalan; dan

d. Bahu jalan bisa berfungsi dalam situasi penting.

3. Wewenang Jalan Tol

Adapun wewenang jalan tol antara lain:

a. Kewenangan pengadaan jalan tol berada pada Pemerintah;

b. Pengerjaan jalan tol bertujuan agar terciptanya kesamarataan pengembangan wilayah yang menitikberatkan pada keadilan, hal ini bisa diraih dengan membangun sistemn jalan menggunakan dana dari pemakai jalan;

c. Beberapa kewenangan pemerintah terkait pengawasan, pembinaan dan pengawasan badan niaga dalam penyelenggaraan jalan tol dilaksanakan oleh BPJT.

2.4. Dampak Pembangunan Infrastruktur 2.4.1. Dampak Lingkungan

Lingkungan ialah suatu organisme dimana rentan terhadap seluruh faktor, dimana faktor ini berupa faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yaitu faktor dimana bersumber dari alam (seperti:individu, hewan, tumbuhan), sementara itu abiotik ialah faktor yang bemula dari suatu sistem yang tak bernyawa (seperti: lingkungan

(6)

10 atau cuaca). Merujuk Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyebutkan pokok perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merujuk pokok umum supremasi yang baik. Oleh sebab itu, didalam tiap prosedur pencetusan serta aktualisasi instrumen pencegahan pencemaran, dan pengelolaan ekologi harus dilaksanakan secara transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan keadilan.

Salah satu langkah yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi yaitu dengan pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan tersebut wajib memperhatikan sejumlah faktor diantaranya faktor lingkungan. Maka dari itu, pembangunan yang tidak memperhatikan faktor lingkungan akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan hidup khususnya lingkungan disekitar pembangunan infrastruktur. Sehingga kelesatarian lingkungan menjadi kunci dalam pembangunan infrastruktur

2.4.2. Dampak Sosial

Menurut Wiryohandoyo (2002:1) Perubahan sosial adalah bentuk peradaban manusia yang disebabkan oleh berubahnya alam, biologis, dan peristiwa fisik yang terjadi dalam aktivitas manusia. Transformasi struktur dan fungsi masyarakat termasuk perubahan sosial menurut pendapat Kingslay Davis (dalam Djazifah, 2012:5). Hal ini diungkapkan juga oleh Selo Soemardjan (Wulansari, 2009:126) Perubahan sosial adalah semua yang berubah dalam pola sosial masyarakat, tercakup perbuatan, adab dan tingkah-laku masyarakat antar lapisan masyarakat.Faktor ini memiliki peran yang penting dalam pembangunan infrastruktur, sehingga pemerintah memprioritaskan pemerataan pembangunan.

Salah satu cara yang digunkakan yaitu dengan meningkatkan taraf pembangunan infrastruktur agar dapat memfasilitasi perkembangan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Transportasi merupakan langkah efektif yang dilakukan pemerintah dalam hal meningkatkan taraf pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Oleh karena itu, dengan adanya peningkatkan pembangunan transportasi tersebut dapat meningkatkan keperluan manusia salah satu caranya memindahkan letak geografis barang dan orang yang akan menimbulan bisnis yang dapat menciptakan persatuan dan kesatuan yang kuat dalam bersosialisasi antar manusia.

(7)

11 2.5. Tingkat Pelayanan (Level of Service)

Tingkat Pelayanan merupakan parameter kapasitas suatu ruas jalan maupun simpang yang dapat diperkirakan berlandaskan kecepatan, taraf pemakaian, kerapatan dan hambatan. Secara Sistematis dapat ditunjukan dengan Rumus:

VCR = V

C (2.1) Keterangan:

VCR = Volume Kapasitas Rasio (nilai tingkat pelayanan) C = Kapasitas Ruas Jalan (smp

⁄jam) V = Volume Lalu Lintas (smp

⁄jam)

Nilai level of service jalan suatu ruas jalan atau simpang dapat ditetapkan karakteristik jalannya berdasarkan karakteristik jalan perkotaan yang telah di tetapkan pada Peraturan Mentri Perhubungan No:KM 14 Tahun 2006 pasal 6.

Berikut Karakteristik tingkat pelayanan jalan suatu ruas seperti di Tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2. Karakteristik Tingkat Pelayanan Jalan

Tingkat

Pelayanan Rasio V/C KARAKTERISTIK

A < 0,60

1. Arus bebas dengan volume lalu lintas rendah dan kecepatan tinggi;

2. Kepadatan lalu lintas sangat rendah dengan kecepatan yang dapat dikendalikan oleh pengemudi berdasarkan batasan kecepatan maksimum/minimum dan kondisi fisik jalan.

3. Pengemudi dapat mempertahankan kecepatan yang diinginkannya tanpa atau dengan sedikit tundaan.

B 0,60 < V/C > 0,70

1. Arus stabil dengan volume lalu lintas sedang dan kecepatan mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas;

2. Kepadatan lalu lintas rendah hambatan internal lalu lintas belum mempengaruhi kecepatan;

C 0,70 < V/C > 0,80

1. Arus stabil tetapi kecepatan dan pergerakan kendaraan dikendalikan oleh volume lalu lintas yang lebih tinggi;

2. Kepadatan lalu lintas sedang karena hambatan internal lalu lintas meningkat;

3. Pengemudi memiliki keterbatasan untuk memilihi kecepatan, pindah jalur atau mendahului.

D 0,80 < V/C > 0,90

1. Arus mendekati tidak stabil dengan volume lalu lintas tinggi dan kecepatan masih ditolerir namun sangat terpengaruh oleh perubahan kondisi arus;

2. Kepadatan lalu lintas sedang namun fluktuasi volume lalu lintas dan hambatan temporer dapat menyebabkan penurunan kecepatan besar;

3. Pengemudi memiliki kebebasan yang sangat terbatas dalam menjalankan kendaraan, kenyamanan rendah,

(8)

12

Tingkat

Pelayanan Rasio V/C KARAKTERISTIK

tetapi kondisi ini masih dapat ditolerir untuk waktu yang singkat.

E 0,90 < V/C > 1

1. Arus lebih rendah, daripada tingkat pelayanan D dengan volume lalu lintas mendekati kapasitas jalan dan kecepatan sangat rendah;

2. Kepadatan lalu lintas tinggi karena hambatan internal lalu lintas tinggi;

3. Pengemudi mulai merasakan kemacetan-kemacetan durasi pendek.

F > 1

1. Arus tertahan dan terjadi antrian kendaraan panjang;

2. Kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volume rendah serta terjadi kemacetan untuk durasi yang cukup lama;

3. Dalam keadaan antrian, kecepatan maupun volume turun sampai 0.

Sumber: Peraturan Mentri Perhubungan No:KM 14 Tahun 2006 pasal 6

2.5.1. Volume Lalu Lintas Jalan

Volume ialah sebuah faktor terpenting pada teknologi traffic dan asas proses pengiraannya berkaitan dengan bilangan kali lokasi tertentu setiap unit masa (Hobbs,1995). Total aktivitas terhitung pada volume lalu lintas jalan meliputi beberapa macam moda antara lain: mobil, mobil barang, pejalan kaki, atau bus.

Waktu yang dipilih bergantung pada tujuan penelitian dan konsekuensinya, kemudian akurasi akan menentukan frekuensi, durasi dan distribusi arus terbatas.

Volume lalu lintas merupakan salah satu dampak dari perubahan tingkat pelayanan suatu jalan. Maka dari itu penelitian ini akan meneliti tingkat pelayanan jalan strategis provinsi disekitar ruas jalan tol Terbanggi Besar – Simpang Pematang.

2.5.2. Kapasitas

Kapasitas ialah volume maksimal yang melalui suatu ruas ataupun simpang pada kondisi tertentu. Selain itu dapat diartikan juga sebagai perbandingan kapasitas maksimum suatu ruas jalan terhadap volume lalu lintas yang melewati jalan tersebut. Rumus dasar guna menetapkan nilai kapasitas yaitu (MKJI,1997):

𝐶 = 𝐶𝑜 𝑥 𝐹𝐶𝑤 𝑥 𝐹𝐶𝑠𝑝 𝑥 𝐹𝐶𝑠𝑓 𝑥 𝐹𝐶𝑐𝑠 (2.2) Dimana :

C = Kapasitas (smp

⁄jam) Co = Kapasitas Dasar (smp

⁄jam) FCw = Faktor Penyesuaian Lebar Jalan

(9)

13 FCsp = Faktor Penyesuaian Pemisah Arah

FCsf = Faktor Penyesuaian Lebar Bahu FCcs = Faktor Penyesuaian Ukuran Kota 2.6. Penelitian Terdahulu

Pada penelitian ini menerapkan berbagai literature dari peneliti sebelumnya yang mana dianggap bisa digunakan sebagai dasar pengerjaan. Berikut terlampir Tabel 2.2 penelitian terdahulu di bawah ini.

Tabel 2.2. Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Penelitian Tujuan Kesimpulan

1 Dhony Priyo Suseno, Soedarsono,

Nina Anindyawati

(2017)

Analisis Dampak Jalan Tol Terhadap

Faktor Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan di Desa

Kaligangsa Kulon Kabupaten Brebes

Berapa presentase faktor sosial, lingkungan, dan

ekonomi pembangunan

jalan tol?

Tingkat pengaruh yang dirasakan masyarakat didominasi oleh faktor sosial sebesar (34,454%),

diikuti oleh faktor ekonomi (21,351%) dan

faktor lingkungan (13,913%) 2 Victorianus

Aries Siswanto, Tri

Pudji Wahjuningsih , Murtini (2019)

Dampak Pembangunan Jalan Tol terhadap Faktor Sosial, Ekonomi dan Lingkungan pada Usaha Batik dan Perhotelan di Kota Pekalongan

Bagaimana Respon dan dampak sosial

dari pembangunan Jalan Tol Trans

Jawa bagi penjual batik?

31,82% responden mengatakan bahwa penjualan menurun, dan

faktor sosial dan lingkungan memiliki

imbas positif

3 TrianaRosalin a Noor, dkk

(2017)

Analisis Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Jalan

Tol Surabaya- Mojokerto (Studi

Kasus Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kec.

Wringinan, Kec.

Kedamean, Kec.Driyorejo Kabupaten Gresik)

Untuk mengetahui

pengaruh pembangun

jalan tol Surabaya- Mojokerto terhadap mata

pencaharian masyarakat di

Kec.

ringinanom, Kec. Kedamean

dan Kec.

Driyorejo.

Imbas Jalan Tol Surabaya-Mojokerto terkait dengan pekerjaan,

menunjukkan bahwa beralih profesi nya petani

meningkat sekitar 7%

dengan pembangunan jalan tol

4 Egi Loveyan Jaya (2018)

Dampak Pembangunan Jalan

Tol Bakauheuni Terbanggi Besar

Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Penduduk Sekitar Gerbang Tol di Kelurahan Korpri Jaya Kota Bandar

Lampung

Untuk mengetahui dan

menjelaskan dampak pembangunan

jalan tol Bakauheuni- TerbanggiBesar

terhadap perubahan sosial

masyarakat

Menurunnya pendapatan warga Korpri Rayadan

masyarakat awalnya berprofesi sebagai petani

kehilangan mata pencaharian karena berubah tataguna lahan

pertanian.

(10)

14

No Peneliti Judul Penelitian Tujuan Kesimpulan

sekitar gerbang tol Kelurahan

Korpri Raya Kota Bandar Lampung.

5 Triadhi Hidayat, Ircham, Veronica Diana

Anis Anggorowati

(2020)

Analisis Dampak Keberadaan Jalan Tol Trans Jawa di Aria Pemalang-

Batang

Untuk mengetahui

dampak lingkungan, ekonomi, sosial

dan budaya yang terjadi

pada masyarakat sekitar terhadap

keberadaan

Dari sini didapatkan kesimpulan bahwa adanya

Jalan Tol Trans Jawa di Area Pemalang-Batang secara keseluruhan adalah

kondisi Sosial dengan nilai mean 4,6 untuk pertanyaan nomor dua di

kecamatan Sragi.

6 Mohammad

Arif Rohman, Chris Heywood,

dan Hemanta Doloi (2015)

The Community Perspective of the Social Benefit

of Public Private Partnerships (PPP) Toll Road

Projects

Untuk Mengetahui dampak sosial

proyek Jalan Tol Kerjasama

Pemerintah Dengan Badan Usaha terhadap masyarakat

sekitar.

Diketahui bahwa proyek Jalan Tol Kerjasama Pemerintah Dengan Badan

Usaha saat ini belum sepenuhnya memberikan

manfaat sosial secara memuaskan kepada masyarakat. Tentunya ini

dapat menjadi argumen untuk proyek yang akan dibangun di Indonesia masih banyak menghadapi

masalah yang berkaitan dengan masalah sosial.

7 M Yusuf Budi Harto (2018)

Toll Road Development on The Environment and Economy

Towards Sustainable Development

Untuk Mengetahui

peran pemerintah

terhadap pembangunan jalan tol serta mengetahui

dampak Bagaimana

peran pemerintah

terhadap pembangunan jalan tol yang berkelanjutan di

bidang lingkungan dan

ekonomi?

Dari segi lingkungan dapat memberi dampak peningkatkan pencemaran

udara, oleh karena itu pemerintah juga harus dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

Namun, selain efek negatif masyarakat pun mendapat

defek positif dari pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan tol

salah satunya adalah pembukaan lowongan dan

mendapat manfaat bagi rumah yang terkena penggusuran karena

pembangunan.

(11)

15

No Peneliti Judul Penelitian Tujuan Kesimpulan

8 Susiyowati Indah Ayuni

dan S.

Sariffuddin (2019)

Local-Dis- Connection: The

Influence of Semarang-Solo

Toll Road to Socio-Spatial Disintegration

Untuk Mengetahui dampak sosial

spasial pembangunan

jalan tol Semarang - Solo pada masyarakat

di Desa Kandangan.

Hasil menunjukkan bahwasannya dampak

spasial akibat pembangunan jalan tol mengakibatkan terjadinya

perubahan fisik permukiman di Desa Kandangan yang terlihat

dari perubahannya pola permukiman antara periode tahun 2011 dan 2017. Sedangkan dampak

sosial menunjukkan karakteristik lima aset mata pencaharian yang

berubah pasca pembangunan jalan tol.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Desa

Kandangan mengalami disintegrasi sosial spasial

skala menengah, tetapi tidak mengakibatkan

sosial konflik.

9 Ormuz Firdaus (2010)

Analisis Tingkat Pelayanan Jalan pada Ruas Jalan Utama Kota Pangkalpinang

Melihat kebutuhan dan

pemenuhan pelayanan jaringan jalan yang digunakan untuk mengatasi

persoalan kemacetan

maupun persoalan lalu

lintas lainnya pada ruas jalan

utama kota Pangkalpinang

Dilihat dari Traffic Volume saat ini jaringan jalan utama kota Pangkalpinang

belum mengalami permasalahan transportasi dan solusi guna menangani pemasalahan transportasi

jaringan ialah dengan Manajemen Lalu Lintas.

10 Harwidyo Eko Prasetyo, Trijeti

(2019)

Analisis Tingkat Pelayanan Jalan (Studi Kasus Jalan

Ciledug Raya, Depan Universitas

Budhi Luhur Jakarta Selatan)

Mencari solusi permasalahan kemacetan di lokasi tersebut

diperlukan kajian awal tentang lalu lintas guna

diperoleh rekomendasi awal kondisi lalu lintas

Ruas jalan Ciledug Raya memperoleh tingkat

pelayanan E yang menunjukan arus tidak stabil, kecepatan terkadang

terhenti dan permintaan sudah mendekati kapasitas.

(12)

14 2.7. Research Gap

Tabel 2.3. Research Gap

No Judul Peneliti Peneliti

Gap

Keterangan Dampak

Lingkungan

Dampak Sosial

Dampak Ekonomi

Indeks Tingkat Pelayanan

Jalan

1

Dampak Lingkungan dan Sosial Pembangunan Jalan Tol Terbanggi

Besar – Kayu Agung (Seksi Terbanggi Besarr – Simpang

Pematang)

Verdi Hidayat

Menggunakan metode analisis

kualitatif

2

Analisis Dampak Jalan Tol Terhadap Faktor Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan di Desa Kaligangsa

Kulon Kabupaten Brebes

Dhony Priyo Suseno, Soedarsono, Nina

Anindyawati

Menggunakan metode analisis

kualitatif

3

Dampak Pembangunan Jalan Tol terhadap Faktor Sosial, Ekonomi dan Lingkungan pada Usaha Batik dan Perhotelan di Kota Pekalongan

Victorianus Aries Siswanto, Tri Pudji

Wahjuningsih , Murtini

Menggunakan metode analisis

kualitatif

4

Analisis Dampak Keberadaan Jalan Tol Trans Jawa di

Aria Pemalang-Batang

Triadhi Hidayat, Ircham, Veronica Diana Anis

Anggorowati

Menggunakan metode analisis

kualitatif

5

Dampak Pembangunan Jalan Tol Bakauheuni Terbanggi Besar Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi

Penduduk Sekitar Gerbang Tol di Kelurahan Korpri Jaya Kota Bandar

Lampung

Egi Loveyan Jaya

Menggunakan metode analisis

kualitatif

(13)

15

6

Analisis Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Jalan Tol Surabaya- Mojokerto (Studi Kasus Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kec.

Wringinan, Kec. Kedamean, Kec.Driyorejo Kabupaten Gresik)

Triana Menggunakan metode analisis kualitatif

Rosalina Noor, dkk

Menggunakan metode analisis

kuantitatif

7

The Community Perspective of the Social Benefit of Public Private

Partnerships (PPP) Toll Road Projects

Mohammad Arif Rohman, Chris Heywood, dan Hemanta Doloi (2015)

Menggunakan metode analisis

kualitatif

8

Toll Road Development on The Environment and Economy Towards

Sustainable Development

M Yusuf Budi Harto (2018)

Menggunakan metode analisis

kualitatif

9

Local-Dis-Connection: The Influence of Semarang-Solo Toll Road to

Socio-Spatial Disintegration

Susiyowati Indah Ayuni dan S. Sariffuddin (2019)

Menggunakan metode analisis

kualitatif

10

Analisis Tingkat Pelayanan Jalan pada Ruas Jalan Utama Kota

Pangkalpinang

Ormuz Firdaus (2010)

Menggunakan metode analisis

kualitatif

11

Analisis Tingkat Pelayanan Jalan (Studi Kasus Jalan Ciledug Raya, Depan Universitas Budhi Luhur

Jakarta Selatan)

Harwidyo Eko Prasetyo, Trijeti (2019)

Menggunakan metode analisis

kualitatif

Gambar

Tabel 2.1. Pengelompokkan Kelas Jalan Menurut Peraturan Pemerintah No.22  Tahun 2009
Tabel 2.2. Karakteristik Tingkat Pelayanan Jalan
Tabel 2.2. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.3. Research Gap

Referensi

Dokumen terkait

Kapasitas Jalan atau kapasitas suatu ruas jalan dalam satu sistem jalan raya merupakan jumlah kendaraan maksimum yang memiliki kemungkinan yang cukup untuk melewati ruas

43 Tahun 1993, tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan

` Menurut Peraturan Pemerintah No 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan raya yang tidak

Faktor ekivalen beban atau lebih dikenal dengan VDF adalah faktor yang menggambarkan kerusakan jalan yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintasinya, cara

Hambatan samping merupakan interaksi antara arus lalu lintas dengan kegiatan pada samping jalan dalam suatu simpang yang mengakibatkan menurunnya kapasitas jalan

Jalan Kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter,

pengertian tentang pengetahuan umum dan pengetahuan ekonomi pada umumnya, termasuk peningkatan kemampuan teori pengambilan keputusan dalam menghadapi

Lalu lintas jalan Kebisingan lalu lintas di jalan raya ditimbulkan oleh suara kendaraan bermotor dimana suara tersebut berasal dari mesin kendaraan yang melakukan pembakaran pada ruang