• Tidak ada hasil yang ditemukan

DETERMINAN FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI INFEKSI HIV PADA PECANDU NARKOBA DI KLINIK VOLUNTARY COUNSELING TESTING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DETERMINAN FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI INFEKSI HIV PADA PECANDU NARKOBA DI KLINIK VOLUNTARY COUNSELING TESTING"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

DETERMINAN FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI INFEKSI HIV PADA PECANDU NARKOBA DI KLINIK VOLUNTARY COUNSELING

TESTING (VCT) RSU KABANJAHE KABUPATEN KARO TAHUN 2017

TESIS

Oleh

MURYANI 157032046

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

THE DETERMINANTS OF THE RISK FACTORS WHICH INFLUENCE HIV INFECTION IN NARCOTIC ADDICTS AT THE VOLUNTARY

COUNSELING TESTING CLINIC OF RSU KABANJAHE, KARO REGENCY, IN 2017

THESIS

By

MURYANI 157032046

MASTER IN PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)

DETERMINAN FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI INFEKSI HIV PADA PECANDU NARKOBA DI KLINIK VOLUNTARY COUNSELING

TESTING (VCT) RSU KABANJAHE KABUPATEN KARO TAHUN 2017

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Peminatan Kesehatan Reproduksi

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh MURYANI

157032046

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(4)

Judul Tesis : Determinan Faktor Risiko yang Memengaruhi Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di Klinik Voluntary Counseling Testing (VCT) RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017

Nama Mahasiswa : Muryani Nomor Induk Mahasiswa : 157032046

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Kesehatan Reproduksi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H) (Sri Rahayu Sanusi, S.K.M.,M.Kes.,Ph.D.)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi S2 Dekan

(Ir. Etti Sudaryati, M.K.M., Ph.D) (Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si)

Tanggal Lulus : 08 Januari 2018

(5)

Telah diuji

Pada Tanggal : 08 Januari 2018

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H Anggota : 1. Sri Rahayu Sanusi, S.K.M., M.Kes., Ph.D

2. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M 3. dr. Rahayu Lubis, M.Kes., Ph.D

(6)

PERNYATAAN

DETERMINAN FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI INFEKSI HIV PADA PECANDU NARKOBA DI KLINIK VOLUNTARY COUNSELING

TESTING (VCT) RSU KABANJAHE KABUPATEN KARO TAHUN 2017

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 08 Januari 2018

Muryani

(7)

ABSTRAK

Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu penyebab penularan infeksi HIV yang meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan faktor risiko yang memengaruhi infeksi HIV pada pecandu narkoba di Klinik Voluntary Counseling Testing (VCT) RSU Kabanjahe Kabupaten Karo.

Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan desain kasus kontrol.

Populasi adalah seluruh pecandu narkoba yang terkena infeksi HIV di Klinik VCT RSU Kabanjahe. Sampel berjumlah 66 yaitu 33 kasus dan 33 kontrol yang dilakukan dengan metode Consecutive Sampling. Tahapan analisis data yaitu analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik berganda.

Hasil analisis bivariat diperoleh jenis kelamin, umur, jenis narkoba yang digunakan, usia pertama kali melakukan hubungan seks, jumlah pasangan seks dan penggunaan kondom memengaruhi infeksi HIV pada pecandu narkoba. Faktor risiko yang mempunyai pengaruh bermakna untuk infeksi HIV pada pecandu narkoba adalah jenis kelamin (OR 12,339 (95% CI 1,664-91,524)), jumlah pasangan seks (OR 4,730 (95% CI 1,287-17,387), penggunaan kondom OR 4,999 (95% CI 1,388-18,003) dan jenis narkoba yang digunakan (OR 3,564 (95% CI 1,023-12,481). Jenis kelamin Perempuan merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi infeksi HIV dengan nilai P (value) = 0,014Exp (B) 12,339 (95% CI 1,664-91,524).

Disarankan Klinik VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo agar meningkatkan dan memperkuat layanan VCT, juga diharapkan bekerjasama dengan semua jajaran sektor kesehatan dan lintas program untuk memperkuat konsolidasi dan koordinasi dalam pencegahan HIV. Para pecandu narkoba agar menggunakan kondom dalam melakukan hubungan seksual, setia terhadap pasangan guna untuk pencegahan terjadinya HIV dan rutin untuk melakukan pemeriksaan HIV

Kata Kunci : Infeksi HIV, Faktor Risiko

(8)

ABSTRACT

Drug abuse is one of the causes of HIV infection that is increasing each year.

The objective of the research was to analyze the determinants of the risk factors which influenced the HIV infection in drug addicts at the VCT (Voluntary counseling Testing) Clinic of RSU Kabanjahe, Karo Regency.

The research used observational analytical method with case control design.

The population was all drug addicts infected by HIV at the VCT Clinic of RSU Kabanjahe. There were 66 respondents taken by using consecutive sampling Technique and divided into case group and control group with 33 respondents respectively. The data were analyzed by using univariate, bivariate and multivariate analyses with multiple logistic regression testing.

The result of bivariate analysis showed that gender, age, drug type, age at first sex, number of sexual partners and condom had some influences on the HIV infection in drug addicts. The risk factors which had significant influence on the HIV infection in drug addicts were gender (OR 12.339 (95% CI 1.664-91.524), Number of sexual partners (OR 4.730 (95% CI 1.287-17.387), condom (OR 4.999 (95% CI 1.388-18.003) and drug type (OR 3.564 (95% CI 1.023-12.481). Female gender was the most dominant variable that influenced HIV infection with P-value = 0.014Exp (β) 12.339 (95% CI 1.664-91.524)

It is suggested that VCT Clinic in RSU Kabanjahe, Karo Regency improve and strengthen VCT service, make coordination with all levels of health sector and cross program to strengthen the consolidation and coordination in HIV prevention. It is also suggested that the drug addicts use condom to have sexual intercourse, be loyal to their sexual partner to prevent HIV and regularly take HIV test.

Keywords: HIV Infection, Risk Factors

(9)

KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena berkat dan anugerah-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Determinan Faktor Risiko yang Memengaruhi Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di Klinik Voluntary Counseling Testing (VCT) RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017”. Dalam proses penyusunan tesis ini penulis mendapat bantuan, dukungan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara 2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

3. Ir. Etti Sudaryati, M.K.M., Ph.D, selaku Ketua Program Studi S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

4. Destanul Aulia S.K.M, M.B.A, M.Ec, Ph.D selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

5. Prof. dr. Sorimuda Sarumpaet, M.P.H selaku ketua komisi pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah memberikan bimbingan, ilmu serta meluangkan waktu sejak awal hingga terselesaikannya tesis ini.

(10)

6. Sri Rahayu Sanusi, S.K.M.,M.Kes.,Ph.D., selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan dan dukungan sejak awal hingga terselesaikannya tesis ini.

7. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M, selaku penguji 1 yang telah memberikan masukan, arahan dan informasi dalam penulisan tesis ini.

8. dr. Rahayu Lubis, M.Kes., Ph.D, selaku penguji 2 yang telah memberikan masukan, arahan dan informasi dalam penulisan tesis ini.

9. Seluruh dosen, staf/pegawai Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan tesis ini.

10. Seluruh keluarga besar, khususnya kepada kedua Orangtua saya tercinta yang telah banyak memberikan bantuan, motivasi dan doa selama penulis menyelesaikan pendidikan Program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

11. Semua pihak yang telah membantu proses penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa didalam penyusunan tesis ini masih belum sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak, semoga tesis ini dapat bermanfaat.

Medan, 08 Januari 2018 Penulis

Muryani 157032046

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Muryani, dilahirkan di Kabanjahe Kab.Karo pada tanggal 24 November 1991 anak kedua dari pasangan Bapak Alm. H. Ir, Yamto, M.Pd dan Ibu Hj. Siti Achirani br. Sitepu, Spd.

Penulis menamatkan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 1 Kabanjahe No.040443 pada tahun 1998-2003 , Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SMP Negeri 1 Kabanjahe pada tahun 2003-2006, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Tigapanah pada tahun 2006-2009, pendidikan Diploma III di Akademi Kebidanan Takasima Kabanjahe pada tahun 2009-2012, selanjutnya meneruskan pendidikan di Fakultas Keperawatan Program Studi Diploma IV Bidan Pendidik Universitas Sumatera Utara pada tahun 2013-2014.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

DAFTAR ISTILAH ... xiii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 7

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1. Defenisi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ... 9

2.1.1. Defenisi HIV/AIDS ... 9

2.1.2. Epidemi HIV/AIDS ... 10

2.1.3. Etiologi dan Patofisiologi ... 12

2.1.4. Gejala Klinis HIV/AIDS ... 14

2.1.5. Penularan HIV/AIDS ... 16

2.1.6. Kelompok Risiko Tinggi Tertular HIV ... 19

2.1.7. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi HIV ... 20

2.1.8. Terapi Untuk HIV ... 21

2.2. Pecandu Narkoba dan Risiko Terhadap Penularan HIV ... 24

2.2.1. Defenisi Pecandu Narkoba ... 24

2.2.2. Faktor Risiko Infeksi HIV Pada Pecandu Narkoba ... 26

2.3. Landasan Teori... 37

2.4. Kerangka Konsep ... 38

2.5. Hipotesis Penelitian ... 39

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 40

3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 40

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41

3.3. Populasi dan Sampel ... 41

(13)

3.3.1. Populasi ... 41

3.3.2. Besar Sampel ... 42

3.3.3. Tehnik Pengambilan Sampel ... 43

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 44

3.4.1. Data Primer ... 44

3.4.2. Data Sekunder ... 45

3.5. Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran ... 45

3.6. Tehnik Pengolahan Data ... 47

3.6.1. Editing (Pemeriksaan Data) ... 47

3.6.2. Coding ... 47

3.6.3. Entry ... 47

3.6.4. Cleaning Data ... 47

3.7. Metode Analisis Data ... 47

3.7.1. Analisis Univariat ... 47

3.7.2. Analisis Bivariat ... 48

3.7.3. Analisis Multivariat ... 49

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 52

4.1. Deskritif Lokasi Penelitian ... 52

4.2. Analisis Univariat ... 54

4.2.1. Demografi ... 54

4.2.2. Prilaku Penggunaan Narkoba ... 55

4.2.3. Prilaku Seks ... 56

4.3. Analisis Bivariat... 57

4.3.1. Pengaruh Demografi ... 58

4.3.2. Penggunaan Narkoba ... 60

4.3.3. Pengaruh Prilaku Seks ... 61

4.4. Analisis Multivariat ... 63

BAB 5. PEMBAHASAN ... 65

5.1 Pengaruh Demografi ... 65

5.1.1. Jenis Kelamin ... 65

5.1.2. Umur ... 68

5.1.3. Pendidikan ... 72

5.1.4. Status Perkawinan ... 75

5.2. . Pengaruh Penggunaan Narkoba ... 77

5.2.1. Jenis Narkoba Yang Digunakan ... 77

5.3. Pengaruh Prilaku Seks ... 79

5.3.1. Usia Pertama Kali Melakukan Hubungan Seks ... 79

5.3.2. Jumlah Pasangan Seks ... 83

5.3.3. Penggunaan Kondom ... 84

(14)

5.4. Implikasi Penelitian ... 85

5.5. Keterbatasan Penelitian ... 87

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 89

6.1 Kesimpulan ... 89

6.2 Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 95 LAMPIRAN

(15)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

3.1 Nilai OR Penelitian Sebelumnya... 42 3.2 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran ... 45 4.1 Distribusi Frekuensi Demografi (Jenis Kelamin, Umur,

Pendidikan dan Status Perkawinan) di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

52

4.2 Distribusi Frekuensi Prilaku Penggunaan Narkoba (Jenis Narkoba yang Digunakan) di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017……….

53

4.3 Distribusi Frekuensi Prilaku Seks (Usia Pertama Kali Melakukan Hubungan Seks, Jumlah Pasangan Seks dan Penggunaan Kondom) di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

54

4.4 Pengaruh Jenis Kelamin dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

56

4.5 Pengaruh Umur dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

56

4.6 Pengaruh Pendidikan dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017…………..

57

4.7 Pengaruh Status Perkawinan dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

57

4.8 Pengaruh Jenis Narkoba yang Digunakan dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

58

4.9 Pengaruh Usia Pertama Kali Melakukan Hubungan Seks dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

59

(16)

4.10 Pengaruh Jumlah Pasangan Seks dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

59

4.11 Pengaruh Penggunaan Kondom dengan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017...

60

4.12 Hasil Analisis yang Memenuhi Asumsi Multivariat

(Kandidat)...

60

4.13 Hasil Akhir Uji Regresi Logistik Berganda……… 61

(17)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.3. Kerangka Teori ... 38 2.4. Kerangka Konsep... 39 3.1. Rancangan Penelitian... 40

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Surat Permohonan Menjadi Responden ... 100

2. Persetujuan Menjadi Responden ... 101

3. Kuesioner Penelitian ... 102

4. Master Data Penelitian ... 106

5. Hasil Uji Statistik ... 108

6. Surat Permohonan Izin Survei Pendahuluan ... 128

7. Surat Persetujuan Izin Survei Pendahuluan ... 129

8. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 130

9. Surat Persetujuan Penelitian ... 131

10. Surat Persetujuan Selesai Penelitian ... 132

(19)

DAFTAR ISTILAH

ACR : AIDS Related Complex

AIDS : Acquired Immunodeficiency Syndrome ART : Terapi Antiretroviral

HIV : Human Immunodeficiency Virus IDU : Injekting Drugs User

SDGs : Indicator Sustainable Development Goal VCT : Voluntary Counseling Testing

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain (Kementrian Kesehatan, 2016).

Infeksi HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat global (seluruh dunia) (WHO, 2016) dan merupakan salah satu dari permasalahan kesehatan reproduksi (Yanti, 2011). Dalam ruang lingkup kesehatan reproduksi, HIV merupakan penyakit menular seksual yang memerlukan perhatian yang sangat serius.

Ini terlihat dari jumlah kasus HIV yang dilaporkan setiap tahunnya meningkat secara signifikan (Pratiwi,D.W, 2015).

Indicator Sustainable Development Goals (SDGs), dalam tujuan ketiganya yaitu pastikan hidup sehat dan mempromosikan kesejahteraan untuk semua disegala usia” memiliki tujuan dengan target tahun 2019 prevalensi HIV dari 0,46% menjadi 0,50 % dan presentase angka kasus HIV yang di obati dari 42% menjadi 55% serta cakupan tindakan untuk penggunaan zat tertentu seperti narkotika dan alkohol dari 16,5% jadi 50%.

(21)

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS), Secara Global HIV pada 2015 tercatat sebesar 36,7 juta (34,0 juta - 39,8 juta) orang hidup dengan HIV, dimana 2,1 (1,8-2,4) juta orang, merupakan kasus baru dari infeksi HIV dan 1,1 (940000-1.300.000) juta orang meninggal terkait dengan infeksi HIV. Sub-Sahara Afrika merupakan wilayah yang paling terkena dampak dari virus HIV, dimana 25,6 (23,1-28,5) juta orang hidup dengan HIV. Sub-Sahara Afrika juga menyumbang dua-pertiga dari total golobal infeksi HIV baru.

Pada pertengahan tahun 2016 secara global 18,2 (16,1-19,0) juta orang yang hidup dengan HIV telah menerima terapi Antiretroviral (ART). Tahun 2000-2015, kasus infeksi HIV baru turun 35%, kematian akibat AIDS turun 28% dengan sekitar 8 juta jiwa dapat diselamatkan (WHO, 2016)

Indonesia adalah negara dengan epidemi rendah HIV pada masyarakat umum, tapi terkonsentrasi pada populasi tertentu yang mempunyai faktor risiko penularan, seperti masyarakat yang mempunyai perilaku seks berisiko tidak aman dan masyarakat Penyalahguna Narkoba. (Kementrian kesehatan, 2011).

Di Indonesia, berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) 2016, sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1989 sampai dengan September 2016 HIV tersebar di 407 (80%) dari 507 kabupaten/kota diseluruh propinsi di Indonesia. Akumulasi data penderita HIV di Indonesia pada triwulan III tahun (Juli-September) tahun 2016, secara kumulatif jumlah kasus infeksi HIV yang

(22)

dilaporkan sebanyak 27.963 orang, dimana persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan berada pada kelompok umur 25-49 tahun 19,562 (69%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun 4,754 (18%) dan kelompok umur lebih dari 50 tahun 1,798 (6%).

Persentase HIV pada laki-laki sebanyak 17,512 (65%) dan perempuan sebanyak 10,451 (35%). Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks beresiko pada heteroseksual 7,209 (42%), LSL 6,012 (39%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun 664 (5%) (Kementrian Indonesia RI, 2016).

Penularan HIV/AIDS berdasarkan faktor risiko tidak mengalami perubahan dalam 5 tahun terakhir, infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual (67,6%).

Namun terjadi perubahan pola pada penasun (10,9%) dan kelompok LSL (3,3%).

Pola penularan HIV menurut jenis kelamin memiliki pola yang hampir sama selama beberapa tahun terakhir yaitu lebih banyak terjadi pada kelompok laki-laki dibandingkan kelompok perempuan. Namun rasio perbandingan antara dua kelompok tersebut semakin kecil, artinya jumlah infeksi HIV pada perempuan semakin mendekati jumlah infeksi HIV pada laki-laki (Laporan situasi perkembangan HIV AIDS dan PMS di Indonesia, Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2016).

Sumatra Utara adalah Provinsi dengan tingkat penderita HIV tertinggi ke-7 di Indonesia. Sejak tahun 2009 hingga September 2016, jumlah kumulatif HIV di Sumatera Utara sebanyak 12.443 kasus (Kementrian Kesehatan RI, 2016). Pada tahun 2014, berdasarkan dari laporan klinik VCT terjadi penambahan kasus HIV sekitar 100-120 penderita perbulannya. Berdasarkan data dari profil kesehatan kabupaten kota tahun 2014, ada penambahan kasus HIV sebesar 1.104 kasus dan AIDS

(23)

sebanyak 261 kasus. Dengan peningkatan ini maka sampai tahun 2014 jumlah kasus HIV keseluruhannya menjadi 4.020 dan AIDS sebanyak 4.889 kasus. Berdasarkan jenis kelamin diketahui penderita terbanyak adalah laki-laki (86,84%) dan wanita 31,16%. Penularan HIV terbanyak karna heteroseks sebesar 55% (Profil Kesehatan Sumatra Utara, 2016).

Tanah karo merupakan salah satu Kabupaten di Sumatera Utara yang Pertumbuhan Infeksi HIV cukup mengkhawatirkan karna dari tahun ke tahun terus meningkat. Bila tidak serius mencegahnya, dapat mengancam generasi muda daerah ini dan bisa menimbulkan lost generation (hilangnya generasi muda akibat terkena infeksi HIV). Berdasarkan laporan yang ada tercatat ditemukan 3 kasus HIV/AIDS periode 2003-2004. Pada tahun 2005 ditemukan 2 kasus HIV. Sampai tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 347 kasus HIV, tahun 2013 meningkat kembali menjadi 382 kasus, tahun 2014 terjadi penurunan menjadi 53 kasus, sedangkan pada tahun 2015 terjadi penurunan menjadi 51 kasus dan pada tahun 2016 meningkat kembali menjadi 135 kasus. Namun Jumlah kasus sebenarnya di prediksi jauh lebih besar dari angka tersebut karna diperkirakan masih banyak kasus yang masih belum terdeteksi karna masih banyaknya orang yang masih enggan, takut dan malu untuk melapor serta memeriksakan diri (Profil Kesehatan Kabupaten Karo, 2016). Kabupaten karo merupakan daerah tujuan wisata kedua setelah Parapat, Kabupaten Simalungun Sumatra utara yang cukup rentan terhadap penularan penyakit kelamin termasuk HIV.

Disamping itu judi dan narkoba juga sangat marak dan mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat dimana rumah hiburan (tempat prostitusi) juga disinyalir

(24)

berpotensi menjadi tempat transaksi seks dan peredaran narkoba secara berkesinambungan.

Penyalahgunaan narkotika yang telah menyebar pada berbagai kelompok meliputi kelompok umur, pendidikan dan strata sosial dan telah menjadikan infeksi HIV masalah sosial yang sangat besar dan serius di Indonesia (Hardisman, 2009). Di Indonesia Tercatat pada 2015 sampai dengan April 2016 telah dilakukan tes urine terhadap 186.5333 orang , dimana teridentifikasi positif sebanyak 1.175 orang yang di tangani oleh BNN pusat maupun BNN propinsi. Berdasarkan data dari BNN Kabanjahe tercatat pada bulan Januari- Juni Tahun 2017 sudah tercatat 68 orang (laki-laki 61 orang dan perempuan 7 orang) yang telah telah di rehabilitasi.

Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu penyebab penularan infeksi HIV yang meningkat dari tahun ke tahun. Beralihnya penggunaan narkoba dari menghisap menuju penyuntikan yang dikenal sebagai IDU (Injekting Drugs User) menjadikan pengguna narkoba sebagai subjek potensial tertular dan menularkan HIV melalui jarum suntik yang tidak steril atau dipakai secara bergantian (Naparudin, 2013).

Penyebaran HIV pada pengguna narkoba adalah hal yang kompleks karena seperti menjadi mata rantai yang saling berkaitan. Seorang individu akan lebih mudah terinfeksi jika melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu orang pasangan dan akan lebih rentan jika pasangannnya berasal dari kelompok yang beresiko tinggi terinfeksi HIV atau pada kondisi dimana seorang individu sering mengkonsumsi narkoba dengan alat suntik yang bergantian. Secara intuisi seorang yang sering

(25)

melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berbeda-beda sekaligus seorang pengguna narkoba jauh lebih berisiko terkena infeksi HIV (Triska, 2016).

Tidak hanya pengguna narkoba suntik yang dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. Pengguna narkoba non suntik juga dapat meningkatkan risiko infeksi HIV dengan terganggunya penilaian mereka terhadap kepuasan yang mereka pilih, terutama tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan berganti-ganti pasangan sehingga menjadi prilaku seksual yang berisiko (Faridho, 2012).

Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya kerjasama dengan FHI/ ASA di 6 propinsi di Indonesia mengenai jaringan seksual dan penggunaan narkoba suntik menemukan bahwa kebanyakan penasun pertama kali berhubungan seksual dengan pacarnya.

Selain itu, selama hidupnya penasun terlibat hubungan seksual dengan berbagai jenis pasangan. Baik pasangan seks tetap (istri/suami/pacar), pasangan seks kasual/ tidak tetap (singkat dan sewaktu-waktu, bisa teman atau kenalan) dan pasangan seks komersial. Pada periode yang bersamaan mereka dapat melakukan hubungan seks dengan semua jenis pasangan tersebut. Sebagian besar penasun memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam setahun terakhir. Sebagian dari pasangan itu juga memiliki pasangan seksual lain, termasuk pada pasangan tetap penasun (Pratiwi,D.W., 2015).

Hasil penelitian Evi Jayanti 2007 di klinik layanan tes HIV DKI Jakarta dan Bali Tahun 2007 menunjukkan bahwa penasun akan berisiko untuk HIV positif sebesar 6,3 kali lebih tinggi dibandingkan lainnya setelah dikontrol dengan faktor

(26)

kelompok umur, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan cara penularan, dengan 95% CI (2,9 13,7) (Jayanti, 2008).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Erledis Simajuntak, 2010 di Rumah Sakit Umum Haji Adamalik Medan menyatakan bahwa faktor risiko yang berhubungan terhadap kejadian HIV/AIDS di Kota Medan adalah pemakaian jarum suntik narkoba, hubungan seks bebas, pendidikan dan pekerjaan.

Berdasarkan data dari rekam medik klinik VCT RSU Kabanjahe tahun 2016 terdapat 211 orang telah melakukan tes HIV dan hasil dari pemeriksaan ada 92 orang yang positif terinfeksi HIV. Bila di lihat dari umur <4 tahun terdapat 2 kasus, umur 5-14 tahun terdapat 2 kasus, umur 15-19 tahun terdapat 1 kasus, umur 20-24 tahun terdapat 5 kasus 6 kasus, umur 25-49 tahun terdapat 72 kasus, umur >50 tahun terdapat 9 kasus. Sejak Januari-Desember 2016 terdapat 28 orang yang meninggal karna infeksi AIDS. Dari data tersebut dapat terdapat 42 orang pecandu narkoba yang terinfeksi HIV.

1.2 Rumusan Masalah

Peningkatan HIV di daerah Tanah Karo cukup meningkat secara signifikan, terutama infeksi HIV pada pecandu Narkoba. Oleh karna itu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah Faktor Risiko yang Memengaruhi Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di Klinik VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017?.

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis faktor risiko infeksi HIV pada pecandu narkoba di Klinik

(27)

VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017, berdasarkan prilaku penggunaan narkoba, prilaku seksual dan pendidikan.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai refrensi peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan faktor risiko yang memengaruhi infeksi HIV pada pecandu narkoba di Klinik VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017.

b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan bacaan bagi pengunjung perpustakaan Universitas Sumatera Utara.

c. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai upaya pencegahan HIV pada pecandu narkoba Klinik VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo Tahun 2017.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi Human Immunodeficiency Virus (HIV) 2.1.1. Definisi HIV

Human Immunnedeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia, sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah syndrome kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. Perjalanan penyakit ini lambat dan gejala-gejala AIDS baru timbul 10 tahun sesudah terjadi infeksi, bahkan dapat lebih lama lagi. Virus masuk kedalam tubuh manusia melalui perantara darah, semen dan secret vagina. Sebahagian besar (75%) penularan terjadi melalui hubungan seksual (Noviana, 2016).

HIV merupakan retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem imun (kekebalan) tubuh , kemudian merusak sistem imun yang terinfeksi dengan meghancurkan sel darah spesifik yang disebut sel CD4 limfosit T yang sangat krusial dalam proses pertahan tubuh terhadap penyakit (WHO, 2012). Dalam beberapa minggu setelah terinfeksi HIV, pada sebagian orang akan akan muncul gejala seperti flu (flu-like symptoms) yang akan menghilang satu atau dua minggu, tetapi pada sebagian orang lagi tidak timbul gejala sama sekali. Orang yang hidup dengan HIV dapat tampak sehat selama beberapa tahun. Namun, meskipun mereka merasa sehat, virus ini tetap menggerogoti sel-sel limfosit T dalam tubuh. AIDS merupakan stadium akhir dari infeksi HIV, ketika imunitas seseorang yang terinfeksi HIV sangat rusak, sangat sulit

(29)

bertahan melawan berbagai infeksi dan beberapa jenis kanker, stadium ini disebut Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) (Marr, 1998).

HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk berubah menjadi AIDS yang mematikan (WHO, 2008). Sistem kekebalan tubuh biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari penyakit-penyakit yang akan masuk, tetapi apabila tubuh telah terinfeksi HIV secara otomatis kekebalan tubuh akan berkurang dan akan menurun sampai suatu saat tubuh tidak lagi mempunyai daya tahan terhadap penyakit dan mudah terserang penyakit. Bila itu terjadi, penyakit yang biasanya tidak berbahaya akan dapat membuat orang tersebut sakit parah atau meninggal (Maryunani, 2009).

2.1.2. Epidemi HIV a. Epidemi Global

Kasus HIV petama kali dilaporkan pada Tahun 1981 di Amerika Serikat. Pada tahun 1983 HIV berhasil diisolasi, yang kemudian diketahui sebagai penyebab AIDS. Sampai akhir tahun 2004 menurut perkiraan UNAIDS, secara kumulatif

(30)

terdapat 39,4 juta orang dengan HIV/AIDS diseluruh dunia .Meskipun kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat, dewasa ini kasus terbanyak di jumpai di Afrika. Di Asia jumlah kasus infeksi HIV terus bertambah dan diperkirakan dimasa depan, jumlah Infeksi HIV terbanyak akan banyak terdapat di Asia. Sampai akhir tahun 2005, 28 juta orang meninggal karna AIDS (Maryunani, 2009).

b. Epidemi HIV/AIDS di Indonesia

Penyakit AIDS banyak ditemukan di Luar Negeri, tetapi karna hubungan antara bangsa menjadi semakin erat, maka penularan harus tetap diwaspadai. Banyak orang asing datang ke Indonesia dan banyak pula orang Indonesia pergi ke Luar Negri untuk berbagai keperluan. Hal ini memungkinkan terjadinya penularan HIV/AIDS (Maryunani, 2009)

Di Indonesia, HIV pertama kali dilaporkan di Bali pada bulan April 1987, terjadi pada orang berkebangsaan Belanda. Penderita AIDS ke 2, sudah 2 tahun menetap di Indonesia dan meninggal di Denpasar Bali, Juni 1988. Sampai tahun 1991, secara keseluruhan tercatat 21 kasus AIDS dan tertular HIV. Penyebaran HIV meningkat pada tahun 1995- Juni 1996, Depkes mencatat 407 kasus infeksi HIV/AIDS (Maryunani, 2009). Pada Tahun 1999 terjadi fenomena baru penyebaran HIV/AIDS yaitu infeksi HIV melalui penggunaan narkoba suntik (IDU/Injecting Drugs User) dimana terdapat 635 kasus HIV dan 183 kasus baru AIDS. Mulai tahun 2000-2005 terjadi peningkatan kasus HIV dan AIDS secara signifikan di Indonesia. Kasus AIDS tahun 2000 tercatat 255 orang, meningkat menjadi 316 orang pada tahun 2003. Kasus HIV meningkat cepat tahun 2005 (859 kasus), tahun 2006 (7.195 kasus), tahun 2007

(31)

(6.048 kasus), tahun 2008 (10.362 kasus), tahun 2009 (9.793 kasus), tahun 2010 (21.591 kasus), tahun 2011 (21.031 kasus), tahun 2012 (21.511 kasus), tahun 2013 (29.037 kasus), 2014 (32.711 kasus), 2015 (30.932 kasus), 2016 (27.963 kasus).

Data laporan Triwulan III pada bulan Juni sampai dengan September 2016 jumlah Infeksi HIV yang dilaporkan sebanyak 10.116 orang. Persentasi infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (69%) diikuti kelompok umur 20-24 tahun (18%) dan kelompok umur >50 tahun (6%). Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Persentase infeksi HIV tertinggi yakni hubungan seks berisiko pada heteroseksual (42%), LSL (39%), pengguna jarum suntik (5%). Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu DKI Jakarta (4.402 kasus), diikuti Jawa Timur (4.063 kasus), Jawa Barat (3.602 kasus) Papua (2.591 kasus), Jawa Tengah (2.875 kasus), Bali (1.726 kasus), Sumatera Utara (1.357 kasus), Sulawesi Selatan (733 kasus), Maluku (394 kasus) (Kemenrian Kesehatan, 2016).

2.1.3. Etiologi dan Patofisiologi

HIV disebabkan oleh virus yang disebut HIV, virus ini ditemukan oleh Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala Limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), Gallo (National Institute of Health, USA 1984) menemukan virus HTL-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberikan nama resmi HIV.

(32)

Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan virus lain yang dapat pula menyebabkan AIDS, disebut HIV-2, dan berbeda dengan HIV-1 secara genetik maupun antigenetik. HIV-2 dianggap kurang patogen dibandingkan dengan HIV-1. Untuk memudahkan, kedua virus itu disebut sebagai HIV saja (Daili, S, F, dkk, 2016).

HIV dianggap sebagai virus penyebab AIDS. Virus ini termasuk kedalam family retroviridae. Nama retroviridae atau retrovirus diberikan pada jenis virus ini karna kemampuannya untuk mentrasfer informasi genetik mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut reverse trascriptase. Cara ini merupakan kebalikan dari proses traskripsi (dari DNA ke RNA) dan traslasi (dari RNA ke Protein) pada umumnya (Muma Richard D, 1997).

HIV tergolong retrovirus yang mempunyai materi genetik RNA. Bila mana virus masuk kedalam tubuh penderita (sel hospes), maka RNA virus dirubah menjadi DNA oleh enzim reverse trascryptase yang dimiliki oleh HIV. DNA pro-virus kemudian diintegrasi kedalam sel hospes dan selanjutnya diprogramkan untuk membentuk gen virus. HIV cendrung menyerang jenis sel tertentu, yaitu sel-sel yang mempunyai antigen permukaan CD4, terutama sekali limfosit T4 yang memegang peran penting dalam mengatur dan mempertahankan system kekebalan tubuh. Selain limfosit T4, virus juga dapat menginfeksi sel monosit dan magrofag, sel langerhans pada kulit, sel dendrite folikuler pada kelenjar limfe, magrofag pada alveoli paru, sel retina, sel serviks uteri dan sel mikrogila otak. Virus yang masuk kedalam limfosit T4 selanjutnya mengadakan replikasi sehingga menjadi banyak dan akhirnya menghancurkan sel limfosit itu sendiri. HIV juga mempunyai sejumlah gen yang

(33)

dapat mengatur replikasi maupun pertumbuhan virus yang baru. Salah satu gen tersebut ialah tat yang dapat mempercepat replikasi virus sedemikian hebatnya sehingga terjadi penghancuran limfosit T4 secara besar-besaran yang akhirnya menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi lumpuh. Kelumpuhan sistem kekebalan tubuh ini mengakibatkan timbulnya berbagai infeksi oportunistik dan keganasan yang merupakan gejala-gejala klinis AIDS (Daili, SF., dkk, 2016).

2.1.4. Gejala Klinis HIV

a. Infeksi Akut (CD4: 750-1000)

Gejala ini biasanya timbul sesudah masa inkubasi selama 1-3 bulan. Gejala yang timbul umumnya seperti influenza (flu-like syndrome; demam artralgia, mailase, anoreksia), gejala kulit (bercak-bercak merah, urtikaria), gejala syaraf (sakit kepala, nyeri rutrobulber, radikulopati, gangguan koknitif dan afektif), gaangguan gastrointestinal (mausea, vomitus, diare, kandidiasis orafarigis). Pada fase ini penyakit tersebut sangat menular karna terjadi viremia. Gejala tersebut merupakan reaksi tubuh terhadap masuknya virus dan berlangsung kira-kira 1-2 minggu.

Serokonversi terjadi pada fase ini dan antibodi virus mulai dapat dideteksi kira-kira 3- 6 bulan sesuadah infeksi.

b. Infeksi Kronis Asimtomatik (CD4 >500/ml)

Setelah infeksi akut berlalu maka selama bertahun-tahun kemudian, umumnya sekitar 5 tahun, keadaan penderita tanpak baik saja, meskipun sebenarnya terjadi replikasi virus secara lambat didalam tubuh. Beberapa penderita mengalami pembengkakan kelenjar limpe menyeluruh disebut limfadenopati generalisata

(34)

persisten (LPG), meskipun hal ini bersifat prognostik dan tidak berpengaruh pada hidup penderita. Saat ini sudah mulai terjadi penurunan jumlah sel CD4 sebagai petunjuk menurunnya kekebalan tubuh penderita, tetapi masih berada pada tingkat 500/ml. Fase ini secara sporadis muncul penyakit-penyakit autonium misalnya idiopathic thrombocytopenia (ITP). Juga sindrom Guillain-Barre akut mononuritis multipleks atau poliomyelitis idiopatik dapat muncul.

c. Infeksi Kronis Simtomatik

Fase ini dimulai rata-rata sesudah 5 tahun terkena infeksi HIV. Berbagai gejala penyakit ringan atau lebih berat timbul pada fase ini, tergantung pada tingkat imunitas penderita.

1) Penurunan imunitas sedang (CD4 200-500)

Pada awal sub-fase ini timbul penyakit-penyakit yang lebih ringan misalnya reaktifitas dari herpes zoster atau herves simpleks, namun dapat sembuh spontan atau hanya dengan pengobatan biasa. Penyakit ini seperti dermatitis seboroik, veruka vulgaris, moluskum kontangiosum atau kandidiasis oral sering timbul.

Keganasan juga dapat timbul pada fase yang lebih lanjut dari sub-fase ini dan dapat berlanjut ke subfase berikutnya (sub-fase B), demikian juga disebut AIDS Reated Comolex (ARC). Keadaan yang disebut AIDS (CDC, revisi 1993) dapat terjadi pada sub-fase ini misalnya bila sudah ditemukan sarkosa Kaposi, limfoma non-hodgkin dan lainnya.

ACR (AIDS Related Complex) adalah keadaan yang sangat ditandai oleh paling sedikit dua gejala dari gejala-gejala berikut:

(35)

- Demam yang berlangsung >dari 3 bulan - Penurunan berat badan >10%

- Limfadenopati berlangsung >3 bulan - Diare

- Kelelahan dan keringat malam

Dengan ditambah paling sedikit dua kelainan laboratorium berikut:

- T4 <400/ml - Ratio T4/T8 < 1.0

- Leukotrombositopenia dan anemi - Peningkatan serum imunoglobin - Penurunan blastogenesis sel limfosit - Tes kulit anergi

2) Penurunan imunitas berat : CD4<200

Pada sub-fase ini terjadi infeksi oportunistik yang berat yang sering mengancam jiwa penderita seperti pneumocystitis carinii (PCP), toksoplasma, cryptococcosis, tuberculosa, cytomegalo virus (CMV) dan lainnya. Keganasan juga timbul pada sub-fase ini meskipun sering pada fase yang lebih awal. Verimia terjadi untuk kedua kalinya dan boleh dikatakan tubuh sudah dalam keadaan kehilangan kekebalannya.

(Daili, SF dkk, 2016).

2.1.5. Penularan HIV

Sebelumnya virus HIV tidak mudah menular seperti virus influenza. Kita

(36)

tidak perlu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena HIV tidak akan menular dengan cara-cara seperti : hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak mengadakan hubungan seksual), bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita, bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS, makan dan minum, gigitan nyamuk dan serangga lain, sama-sama berenang dikolam renang.

Sedangkan yang dapat menyebabkan penularan HIV adalah : melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, transfusi darah yang mengandung virus HIV, melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah dipakai orang yang mengidap virus HIV, hubungan prenatal yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus HIV kepada janin yang di kandungnya.

a. HIV di Tubuh Manusia

HIV masuk kedalam tubuh manusia melalui aliran darah penderita. HIV sangat mudah mati di luar tubuh manusia (dengan air panas, sabun dan bahan-bahan pencuci yang lain), karena itu HIV tidak dapat menular melalui udara. HIV dalam tubuh manusia bersarang disalah satu sel darah putih, yaitu bernama Limfosit yang berada dicairan tubuh. HIV awalnya melakukan penempelan dengan CD-4 reseptor yang ada dipermukaan Limfosit, lalu virus memasukkan DNA virusnya kedalam inti selnya Limfosit. Virus ini juga dapat ditemukan di dalam sel manusia maesopag dan sel glia jaringan otak.

b. Masa Inkubasi HIV

Waktu antara HIV masuk kedalam tubuh sampai gejala pertama AIDS disebut masa inkubasi HIV. Masa inkubasi HIV bervariasi antara setengah tahun sampai

(37)

lebih dari tujuh tahun. HIV (antigen) hanya dapat dideteksi dalam waktu singkat kira- kita setengah bulan sampai 2,5 bulan sesudah HIV masuk kedalam tubuh. Untuk membantu menegakkan diagnosa pemeriksaan mencari HIV tidak dianjurkan karena mahal, memakan waktu lama dan hanya dapat ditemukan dalam waktu terbatas.

Tubuh memerlukan waktu untuk dapat menghasilkan antibodi. Waktu ini rata- rata 2 bulan, ini berarti bahwa seseorang dengan infeksi HIV dalam 2 bulan pertama diagnosisnya belum dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium berdasarkan penentuan antibodi. Lama waktu 2 bulan ini disebut Window Period.

c. Cara Penularan HIV

1) Hubungan Seksual (Humo maupun Heteroseksual) dengan seseorang yang tubuhnya mengidap HIV. Kebanyakan orang terjangkit HIV karna melakukan kegiatan seks yang tidak terlindung dengan orang tertentu yang telah terjangkit HIV. Diperkirakan 95% penularan karna hubungan seksual melalui vagina, dubur maupun mulut. Hubungan seks menyebabkan luka karna gesekan dan melalui luka tersebut virus ditularkan (Maryunani, 2009: Sofa,M, 2015).

2) Darah yang tercemar

Orang terjangkit HIV jika darah yang tercemar HIV masuk kedalam darah mereka. Darah yang tercemar ini dapat masuk kedalam tubuh mereka melalui trasfusi darah (penerimaan darah/produk darah) yang tercemar. Darah yang tercemar ini dapat pula berasal dari jarum suntik atau pisau yang telah digunakan pada seseorang yang telah terjangkit HIV dan tidak disucihamakan setelah jarum dan pisau itu digunakan, termasuk penggunaan alat suntik dan alat medik lain

(38)

yang tidak steril atau alat tusuk (alat tato, akupuntur, tindik) yang tercemar.

Penggunaan bergantian jarum suntik secara bergantian terutama dikalangan mereka yang menyuntikkan obat-obatan dapat menyebabkan HIV. Penularan HIV dengan cara ini banyak sekali terjadi pada mereka yang kecanduan obat bius/narkoba yang disuntikkan (Maryunani, 2009).

Trasfusi darah yang tercemar HIV juga termasuk kedalam risiko tertular HIV dimana lebih dari 90% dapat tertular HIV bila pengambilan donor darah tanpa melalui skrining terhadap HIV (Sofa, 2013).

3) Penularan dari Ibu Pengidap HIV Kepada Bayi atau Anak Mereka

Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dilahirkannya yang dapat terjadi selama kehamilan berisiko terinfeksi HIV bekisar 5-10%. Pada saat persalinan 10-20%, sebahagian besar penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan ini. hal ini disebabkan karna pada saat proses persalinan , tekanan darah pada plasenta terutama pada plasenta yang mengalami peradangan atau terinfeksi menyebabkan terjadinya percampuran darah ibu dengan darah bayi. Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat pula terjadi pada saat bayi terpapar oleh lendir dari jalan lahir. Pada masa nifas (saat menyusui) berisiko sekitar 10-20%. Bila ibu pengidap HIV dan sudah menunjukkan gejala AIDS maka bayi yang dilahirkan 50% tertular HIV (Maryunani, 2009).

2.1.6. Kelompok Resiko Tinggi Tertular HIV

a. Mereka yang mempunyai banyak pasangan seksual (Homo dan heteroseksual) seperti wanita/pria tunasusila dan pelanggannya, mucikari, kelompok

(39)

homoseks, biseks dan waria. Semua diduga penyakit AIDS hanya merupakan penyakit yang menimpa laki-laki “homoseks” yang biasa berhubungan dengan sesama jenis. Namun, sekarang diketahui bahwa virus ini dapat menjangkit siapa saja melalui berbagai penularan.

b. Penederita hemophilia dan penerima trasfusi darah atau produk darah lainnya.

c. Bayi/anak yang dilahirkan dari ibu pengidap HIV d. Pengguna narkoba suntik/IDU

e. Perempuan yang mempunyai pasangan laki-laki pengidap virus HIV f. Laki-laki atau perempuan penguat seks bebas (Maryunani, 2009).

2.1.7. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi HIV

Cara pencegahan penularan HIV yang paling efektif adalah dengan memutus rantai penularan. Pencegahan dikaitkan dengan cara cara penularan HIV. Infeksi HIV/AIDS merupakan satu penyakit dengan perjalanan yang panjang dan hingga saat ini belum ditemukan obat yang efektif, maka pencegahan dan penularan menjadi sangat penting terutama melalui pendidikan kesehatan dan peningkatan pengetahuan yang benar mengenai patofisioligi HIV dan cara penularannya (Noviana, 2016).

a. Pencegahan Melalui Hubungan Seksual

Infeksi HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual, sehingga pencegahan AIDS perlu difokuskan pada hubungan seksual. Agar terhindar dari tertularnya HIV dan AIDS seseorang harus berprilaku seksual yang aman dan bertanggungjawab.

Yakni hanya mengadakan hubungan seksual yang dengan pasangan sendiri (suami/istri sendiri). Apabila salah seorang sudah terinfeksi HIV maka dalam

(40)

melakukan hubungan seksual harus menggunakan kondom secara benar. Melakukan tindakan seks yang aman dengan pendekaran “ABCD” (Abstinent, Be faithful, Condom) yaitu tidak melakukan aktifitas seksual (abstinent) merupakan metode paling aman untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual, tidak berganti-ganti pasangan (be faithful) , penggunaan kondom (use condom) dan Drug No, dilarang menggunakan narkoba (Maryunani, 2009).

b. Pencegahan Penularan Melalui Darah 1) Trasfusi Darah

Memastikan bahwa darah yang dipakai untuk trafusi tidak tercemar HIV.

2) Alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit

Desinfeksi atau membersihkan alat-alat seperti jarum, alat cukur, alat tusuk untuk tindik, dan lain-lain dengan pemanasan atau larutan desinfektan.

3) Pencegahan penularan dari ibu ke anak (Pengobatan, operasi ceasar mengindari pemberian ASI) (Noviana, 2016).

2.1.8. Terapi Untuk HIV a. Terapi Antiretroviral

Terapi antiretroviral (ART) adalah penatalaksanaan medis untuk mengatasi penyakit HIV. ART menghambat replikasi atau penggandaan dari HIV. Kombinasi Beberapa obat bertujuan untuk mengurangi jumlah virus dalam darah.

Tujuan Terapi Antiretroviral :

1) Mengurangi mordibitas mortalitas terkait HIV.

2) Memperbaiki mutu hidup

(41)

3) Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan

4) Menekan replikasi semaksimal mugkin dalam waktu yang lama.

Saat ini 3 golongan ART yang tersedia di Indonesia:

1) Necleouside Reverse Trancriptase Inkibitur (NRTI)

Obat ini menhambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA, obat dalam golongan ini : Ziduvudin (ZDV atau AZT), Lamivudin (3TC), Didonosin (ddl), Zalcitabine (ddc), Stavudin (ABC).

2) Non Nucleouside Reverse Trascriptase Inkibitur (NNRTI)

Obat ini menghambat proses perubahan RNA menjadi DNA termasuk kedalam golongan ini: Nevirapine (NVP), Efavitenz (EFV) dan delavirdine (DLV).

3) Protease inhibitor

Obat ini menghambat enzim protease yang memegang rantai panjang asam amini menjadi protein yang lebih kecil. Obat-obatan dalam golongan ini adalah Indinavir (IDV), Amprenavir (APV) dan lopinavir/litonavir (LPV/r).

ARV dapat dipakai untuk mencegah infeksi pasca pajanan (misalnya pada petugas kesehatan yang tertusuk jarum suntik bekas). Dalam pemakaian ARV akan member dampak menurunkan ,orbiditas, mortalitas serta pemulihan sistem kekebalan tubuh. Dengan pemakian ARV maka peningkatan jumlah CD4 rata- rata 100-200 pda tahun pertama.

ARV memiliki keterbatasan-keterbatasan:

1) Tidak menyembuhkan tetapi harus diminum seumur hidup

2) Dibutuhkan kepatuhan klien yang tinggi untuk meminum obat secara teratur.

(42)

3) Infeksi oportunistik masih dapat terjadi, terutama jika terapi dimulai dengan CD4 yang rendah.

4) Penularan dari ibu ke bayi masih bias terjadi

5) Layanan bermutu dan terjangkau dibutuhkan untuk konseling dan tindaklanjut perawatan.

b. Terapi Informasi

Klien yang terdiagnosis positif HIV akan merasa dunia atau hidupnya akan berakhir sampai saat itu juga, merasa buram dan tidak mempunyai masa depan.

Banyak pertanyaan yang timbul dalam diri seperti apa penyakit AIDS tersebut, apa bedanya dengan HIV, bagaimana cara penularannya, apakah ada cara untuk mengobati, gejalanya seperti apa dan sebagainya. Informasi sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Informasi akan mengobati sedikit rasa depresi, memulihkan dan menyelamatkan jiwa klien.

c. Terapi Spiritual

Pengobatan dan perawatan harus mempertimbangkan fungsi aspek biospikososiospiritual. Penempatan ini menempatkan spiritual sebagai salah satu cara untuk pengobatan dalam upaya penyembuhan. Dalam terapi spiritual, klien datang dengan HIV memerlukan rohaniawan yang memahami HIV secara benar.

Pengalaman agama dan kegiatan spiritual dapat menigkatkan motovasi ODHA untuk menjalani masa sulit dalam kehidupannya (Sumiati, dkk, 2016).

(43)

2.2. Faktor Risiko terhadap Penularan Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba 2.2.1. Defenisi Pecandu Narkoba

Narkotika dan obat-obat terlarang merupakan kasus yang semakin hari semakin meningkat baik dalam hal kualitas dan kauantitas. Hal ini merupakan masalah yang tidak bisa dianggap ringan karna kebanyakan kasus penyalahgunaan narkoba justru dijumpai pada kaum muda, generasi penerus bangsa. Penyalahgunaan narkoba ini mengakibatkan ketergantungan obat (Purwatiningsih, 2001).

Pecandu atau ketergantungan narkoba pada dasarnya merupakan dinamika yang kompleks dimana seseorang mulai nenggunakan, menggunakan secara teratur dengan dosis yang meningkat, berhenti atau menggunakan kembali sepanjang hidupnya dengan berbagai alasan (Praptoraharjo, 2015).

Menurut Hser, et al, 2015, Perjalanan penggunaan narkoba dan permasalahannya tidak selalu sama bagi setiap orang dan perjalanan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor personal, sosial, dan kontekstual serta dalam konteks wilayah tertentu. Dalam konteks perjalanan penggunaan narkoba, perawatan narkoba hanyalah satu faktor dalam proses pemulihan seseorang dari ketergantungan dalam suatu waktu disamping berbagai kejadian lain yang mendorong seseorang untuk berhenti menggunakan narkoba (Praptoraharjo, 2015).

Pada tahun 1990-an ekstasi, shabu, dan heroin memasuki pasaran Indonesia.

Penyebaran ini terus berkembang, masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah meluas dan sangat mengkhawatirkan, tidak saja di perkotaan, melainkan juga menjangkau ke perdesaan. Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah

(44)

yang sangat kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen, dan konsisten.

Meskipun dalam kedokteran sebagian besar narkoba masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Indonesia saat ini tidak hanya sebagai transit perdagangan gelap serta tujuan peredaran narkoba, tetapi juga telah menjadi produsen dan pengekspor (Kemenkes RI, 2014).

Data yang akurat mengenai besaran penyalahguna narkoba secara umum memang belum ada. Namun diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba dan zat yang digunakan semakin berkembang. Setelah maraknya penggunaan amphetamin seperti ecstasy dan shabu pada awal tahun 1990-an, maka belakangan ini berkembang ke arah penggunaan heroin dalam bentuk putauw (putauw adalah salah satu jenis heroin dengan kadar lebih rendah yang berwarna putih/heroin kelas lima atau enam), kemudian berkembang pada akhir tahun 2003 mulai ditemukan penggunaan kokain.

Awalnya zat yang banyak digunakan masuk pada kelompok alkohol, psikotropika dan ganja, kemudian berkembang ke arah jenis zat yang digunakan melalui suntikan.

Jumlah kasus narkoba berdasarkan penggolongannya yang masuk dalam kategori narkotika terus mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir sedangkan yang masuk dalam kategori psikotropika jumlah kasusnya kian menurun, hal ini terlihat

(45)

jelas pada tahun 2009 jumlah kasus psikotropika 8.779 kasus dan tahun 2010 jumlah kasus psikotropika menurun secara signifikan menjadi 1.181 kasus (Kemenkes RI, 2014).

2.2.2 Faktor Risiko Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba

Pada tahun 1990-an ecstasy, shabu, dan heroin memasuki pasaran Indonesia.

Penyebaran ini terus berkembang, masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah meluas dan sangat mengkhawatirkan, tidak saja di perkotaan, melainkan juga menjangkau ke perdesaan. Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang sangat kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen, dan konsisten.

Meskipun dalam kedokteran sebagian besar narkoba masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Indonesia saat ini tidak hanya sebagai transit perdagangan gelap serta tujuan peredaran narkoba, tetapi juga telah menjadi produsen dan pengekspor.

Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan narkoba merupakan penyakit mental dan perilaku yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial. Ditinjau dari sejumlah kasus, walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalah guna narkoba, namun diperkirakan beberapa tahun terakhir jumlah kasus penyalah guna narkoba cenderung semakin

(46)

meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya diperkirakan sesuai dengan fenomena

“gunung es” (iceberg phenomena), dimana jumlah kasus yang ada jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan atau dikumpulkan. Masyarakat secara umum memandang masalah gangguan penggunaan narkoba lebih sebagai masalah moral daripada masalah kesehatan (Kemenkes RI, 2014).

Jenis narkoba pertama kali yang paling banyak digunakan adalah ganja (44%), diikuti oleh kelompok benzodiazepine (8%), shabu (6%), trihex/THP (4%), ekstasi (3%), dan tramadol (2%). Jenis narkoba yang banyak dikonsumsi dalam setahun terakhir tetap masih ganja. Sekitar 1 dari 5 orang penyalahguna masih tetap mengkonsumsi ganja (25%). Berikutnya shabu (12%), ekstasi (5%) dan tramadol (5%). Satu dari 8 orang penyalahguna mengkonsumsi shabu, sedangkan ekstasi dan tramadol lebih jarang lagi, yaitu 1 dari 20 orang. Sedangkan jenis narkoba lainnya kurang dari 4%. Konsumsi ganja, ekstasi, dan shabu di kabupaten lebih tinggi dibandingkan di kota di tahun 2015. Padahal pada 2 survei sebelumnya konsumsi ganja, shabu, dan ekstasi lebih tinggi di Kota dibandingkan Kabupaten. Hal ini mengindikasikan telah terjadi pergeseran peredaran narkoba dari tingkat kota ke tingkat kabupaten. Pergeseran ini mungkin disebabkan tingkat pemberantasan(supply reduction) di Kabupaten masih amat terbatas, sehingga para bandar/pengedar lebih leluasa mencari target sasaran peredaran narkoba baru di tingkat Kabupaten dibandingkan Kota dalam 5 tahun terakhir. Ini juga mengindikasikan peredaran narkoba semakin meluas ke wilayah Indonesia lainnya

(47)

Secara tren, ganja relatif stabil dalam 15 tahun terakhir, walaupun sempat turun dari 2005 ke 2010, terutama di Kabupaten. Ekstasi cenderung turun dari 10%

(2005) menjadi 5% (2015), sedangkan shabu cenderung naik dari 9% (2005) menjadi 12% (2015). Hal yang perlu jadi sorotan, baik pengguna shabu maupun ekstasi semakin banyak di kabupaten dibandingkan di kota. Sementara itu di kota, penggunaan ekstasi cenderung turun dan shabu relatif stabil. Sedangkan heroin/putau cenderung turun dalam 15 tahun terakhir, tetapi ada sedikit kenaikan dari 2010 ke 2015, terutama di Kabupaten (Pusat Penelitian Data dan Informasi Badan Narkotika Nasional, 2016).

Studi-studi tentang faktor resiko infeksi HIV telah dilakukan di berbagai negara sejak infeksi ini menjadi pandemi di seluruh dunia. Studi ini dilakukan dengan berbagai disain, yaitu disain kohort, trial maupun potong lintang. Namun studi yang paling banyak dilakukan adalah disain potong lintang, hal ini terkait dengan karakteristik infeksi HIV dengan masa laten yang panjang, prevalensi yang masih dibawah 10% di banyak negara dan adanya stigma (Wahyuni, D.T, 2015).

Narkoba dan prilaku berisiko HIV memiliki keterkaitan yang erat sehingga dapat meningkatkan seseorang untuk lebih dini dalam berhubungan seksual. Lebih dari sepertiga orang dengan seksual aktif menganggap narkoba dapat mempengaruhi kepuasan mereka dalam berhubungan seksual. Selain itu narkoba dapat membuat seseorang melakukan aktifitas seksual tanpa kondom dan berganti-ganti pasangan.

Sekitar 20% dewasa muda (usia 18-24 tahun) melakukan hubungan seksual tanpa kondom karna mereka menggunakan narkoba dan 12% pada remaja (usia 12-17

(48)

tahun) (Naparudin, 2013).

Tidak hanya pengguna napza suntik yang dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. Pengguna narkoba non suntik juga dapat meningkatkan risiko infeksi HIV dengan terganggunya penilaian mereka terhadap kepuasan yang mereka pilih, terutama tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan berganti-ganti pasangan sehingga menjadi prilaku seksual yang berisiko (Faridho, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fikrifar Rizki Faridho di RSKO Jakarta sepanjang Tahun 2010-2011 di dapat bahwa 116 orang penderita HIV memiliki riwayat pecandu narkoba dimana 96,6% adalah laki-laki dengan usia 30-39 tahun (65,55%) dan hanya lulusan SMA (72,4%). Setengah dari penderita populasi HIV (50%) ini merupakan pengguna narkoba tunggal (single drugs user) dengan putaw sebagai jenis narkoba yang banyak digunakan (92,2%).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Naparudin di RSKO Jakarta Tahun 2013 di dapat bahwa 47 orang memiliki riwayat pecandu narkoba. Prilaki berisiko didominasi sebahagian besar pada kelompok usia 26-35 tahun (66%), mayoritas dari mereka adalah lulusan SMA (63,8%) jenis narkoba yang sering digunakan adalah heroin dan narkoba jarum suntik (89,4%), Semua reponden pernah melakukan hubungan seksual dan prilaku seks tanpa menggunakan kondom (68,1%).

Konsep tentang faktor risiko terjadinya infeksi HIV banyak diadaptasi dari konsep yang dibuat oleh J. Ties Boerma & Sharon S. Weir yaitu “The Proximate-

(49)

Determinants Framework”. Konsep ini membagi determinan terjadinya infeksi HIV menjadi underlying determinan, proximate determinan dan biological determinan.

Underlying determinants, termasuk di dalamnya faktor sosial ekonomi (mis. income, pendidikan, pekerjaan), sosial budaya (mis. agama, suku), demografik (mis. jenis kelamin, umur, status perkawinan, mobilitas, tempat tinggal) dan intervensi program.

Intervensi program termasuk di dalamnya konseling dan testing, pengendalian IMS, promosi kondom, pendidikan perubahan perilaku, pengamanan darah donor dan pengurangan dampak buruk napza suntik. Determinan proksi sendiri diantaranya jumlah pasangan seks, frekuensi coital, percampuran seks (sexual mixing), abstinensia, transfusi darah, pemakaian narkoba suntik, pemakaian kondom, sirkumsisi, jenis hubungan seksual, viral load, pengobatan ARV dan kerentanan biologis.

a. Demografi 1) Jenis Kelamin

Jenis kelamin juga merupakan karakteristik individu yang bisa menjadi faktor risiko infeksi HIV. Angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia secara kumulatif pada tahun 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar penderita AIDS adalah laki-laki (55%) dan perempuan (32%). Hal ini dapat terjadi karna hubungan seks yang tidak aman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, berganti-ganti pasangan, trsfusi darah yang terinfeski HIV dan penularan ibu yang terinfeksi HIV ke anak yg di kandungnya (Noviana, 2016). Puffer, et al (2011) dalam penelitiannya tentang hubungan antara individu dan keluarga dengan faktor tingkat psikososial dan perilaku

(50)

seksual pada 325 remaja usia 10-18 tahun di Kenya menjelaskan bahwa laki-laki usia muda lebih cenderung melakukan hubungan seksual berisiko dibandingkan dengan perempuan. Laporan UNFPA menyebutkan bahwa ketidaksamaan gender, praktik pernikahan dini, kekerasan seksual dan pencarian perempuan yang lebih muda dan bebas HIV oleh laki-laki dewasa, menambah risiko bagi perempuan muda di daerah sub Sahara Afrika (UNFPA, 2001).

2) Umur

Menurut Marr, L (1998) Sebagaimana disebutkan pada framework oleh Boerma

& Weir, umur merupakan salah satu underlying determinan terhadap infeksi HIV.

Delapan puluh lima persen (85%) orang yang didiagnosis IMS berusia antara 14-30 tahun. Hal ini mungkin disebabkan pada usia ini dimulainya keingin-tahuan tentang seks pada usia remaja dan dewasa muda. Pada saat yang sama pengetahuan mereka tentang penyakit dan pencegahan IMS sangat minim. Pada kasus ini umur bisa merupakan faktor risiko yang mendasar (underlying determinants) ( Wahyuni D.T , 2015).

Hasil Survey IBBS (Integrated Behaviour and Biological Survey) pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2016 menunjukkan sekitar 77,1% penasun melakukan hubungan seks sebelum usia 20 tahun (FHI, 2017.)

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erledis Simajuntak tahun 2010 di RSU Haji Adam Malik Medan, menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara umur dan HIV/AIDS pada tingkat kepercayaan 95% pada variable

(51)

kelompok umur 15-24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun (P:0,000), dan jika dilihat dari nilai OR, maka usia yang paling beresiko terhadap HIV/AIDS adalah umur 25-34 tahun (OR=23,100), 15-24 tahun (OR=6,346), 35-44 tahun (OR=4,641).

Hasil penelitian yang dilakukan Oleh Rokhmah, D pada tahun 2014 menyatakan bahwa data HIV/AIDS berdasarkan kelompok umur menunjukkan bahwa, kasus HIV/AIDS Kabupaten Jember di dominasi oleh mereka yang berusia produktif dan usia seksual aktif yaitu usia 29-49 tahun. Usia produktif dan seksual aktif dapat menularkan HIV/AIDS secara lebih mudah melalui hubungan seksual.

3) Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu karakteristik individu yang menjadi variabel yang paling sering dihubungkan dengan kejadian suatu penyakit, termask IMS dan HIV. Hasil Survey IBBS pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2009 menunjukkan bahwa penasun yang tidak bisa baca-tulis beresiko 20 kali terinfeksi HIV dibandingkan penasun yang bisa baca-tulis (FHI, 2009). Survey IBBS pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2016 menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan terhadap infeksi HIV sekitar 74,7%. (FHI, 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Erledis Simajuntak tahun 2010 RSU Haji Adam Malik Medan, menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dan HIV/AIDS (P<0,05), dimana nilai OR berpendidikan SD (nilai OR=40,500), berpendidikan SLTP (OR=8,357), dari hasil analisis disimpulkan bahwa semakin rendah pendidikan, maka semakin tinggi risiko menderita HIV/AIDS.

4) Status Perkawinan

(52)

Studi-studi tentang hubungan berbagai faktor risiko terhadap kejadian infeksi HIV telah bayak dilakukan. Hasil Survey IBBS (Integrated Behaviour and Biological Survey) pada penasun di Pokhara Valley pada tahun 2016 menunjukkan bahwa prevalensi HIV pada penasun yang pernah menikah (49,3 %) (FHI, 2017).

b. Perilaku Penggunaan Narkoba 1) Jenis Narkoba Yang Digunakan

Jenis narkoba yang banyak dikonsumsi dalam setahun terakhir tetap masih ganja. Sekitar 1 dari 5 orang penyalahguna masih tetap mengkonsumsi ganja (25%).

Berikutnya shabu (12%), ekstasi (5%) dan tramadol (5%). Satu dari 8 orang penyalahguna mengkonsumsi shabu, sedangkan ekstasi dan tramadol lebih jarang lagi, yaitu 1 dari 20 orang. Sedangkan jenis narkoba lainnya kurang dari 4%.

Para pengguna NAPZA terutama yang sedang tren pada saat ini adalah penggunaan opiat atau biasa disebut putaw. Penggunaan putaw dapat dihirup (drug) dan ada yang disuntikkan melalui intravena. Mereka yang mengkonsumsi putau dengan suntikan intravena kebanyakan dari mereka tidak mengganti jarum suntik, bahkan mereka memakai jarum suntik secara bergantian. Dengan demikian mereka secara tidak sadar telah memasukkan virus kedalam darah mereka (Sumiati, dkk, 2016).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fiktifar Rizki Faridho 2012 menyatakan bahwa jenis narkoba yang banyak digunakan oleh pecandu narkoba di

Gambar

Gambar 2.3.  Kerangka Teori Faktor-faktor yang Berhubungan   dengan Infeksi HIV
Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian
Tabel 4.9.  Pengaruh Usia Pertama Kali Melakukan Hubungan Seks dengan  Infeksi HIV pada Pecandu Narkoba di VCT RSU Kabanjahe Kabupaten Karo

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas didapatkan rumusan masalah penelitian yaitu apa saja faktor - faktor risiko prenatal dan neonatal yang berhubungan dengan kejadian infeksi tali pusat di

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 84 orang risiko tinggi HIV dan AIDS di wilayah kerja Puskesmas Simpang Tiga kecamatan Marpoyan Damai menunjukkan bahwa

Perilaku Seksual Beresiko terkait HIV/AIDS dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya pada Buruh Bangunan di Proyek P Jakarta.

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seks Berisiko terhadap Penularan HIV/AIDS pada Kelompok Pengguna Narkoba Suntik Di Jakarta, Bandung dan Surabaya (Analisis Data

Setelah dilakukan penelitian tentang hubungan penjangkauan dan stigma kelompok berisiko dengan keikutsertaan Voluntary Counseling and Testing (VCT) HIV pada kelompok

Tabulasi Silang Hubungan Karakteristik dan Sumber Informasi Terhadap Pemanfaatan Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) ... Tabulasi Silang Hubungan Persepsi Kerentanan

Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Toksoplasma pada Ibu Hamil di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2010-2013.. Rika Andriyani 1 , Kiki Megasari 2

Dari keseluruhan data yang diperoleh, untuk penentuan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap infeksi protozoa usus ditentukan dengan analisis multivariat dengan