• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN JASA PERUM PEGDAIAN DI MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN JASA PERUM PEGDAIAN DI MEDAN"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

ANALISIS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN JASA PERUM PEGDAIAN DI MEDAN

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

ADE SURYANI 050501056

Ekonomi Pembangunan

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Medan 2009

(2)

ABSTRACT

The title of this research is " Socioeconomic Analysis of Community in Service Use of Perum Pegadaian in Medan” This research used 100 customers of Perum Pegadaian Medan as sample. The objective of this research would be to know the effect of income level, educational level and familial burden number on the service use of Perum Pegadaian in Medan.

This research used the linier regression analysis model, the data was processed by using the computers programme of E-Views 4.1. The result of the hypothesis indicated that the higher income level, educational level and burden number, the greater use of Perum Pegadaian service would be.

By knowing the correlation between variables, the Ordinary Least Square was used for estimation. The result of estimation indicated that levels of income, education and familial burden number have significant effect on service use of Perum Pegadaian in Medan.

Keywords : Application, Income, Education, Familial Burden.

(3)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Sosial Ekonomi Masyarakat Dalam Pemanfaatan Jasa Perum Pegadaian di Medan”. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 100 orang nasabah Perum Pegadaian di medan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

Penelitian ini menggunakan model analisis regresi linier, data yang ada diproses dengan menggunakan program komputer E-views 4.1. Hasil hipotesis menunjukkan semakin tinggi tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan, maka pemanfaatan jasa perum pegadaian meningkat.

Dengan mengetahui hubungan diantara variabel-variabel, kaedah Ordinary Least Square digunakan untuk melakukan estimasi. Hasil estimasi menunjukkan tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan berpengaruh nyata terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

Kata Kunci: Pemanfaatan, Pendapatan, Pendidikan, Jumlah Tanggungan keluarga

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini, dengan judul “Analisis Sosial Ekonomi Masyarakat Dalam Pemanfaatan Jasa Perum Pegadaian di Medan”.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu pelaksanaan akademis untuk memenuhi syarat perkuliahan di jenjang studi strata – 1 dalam rangka meraih gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyelesaian skripsi ini, disebabkan keterbatasan penulis. Untuk itu penulis memohon maaf, kritik serta saran yang membangun dari seluruh pihak untuk membantu dan memotivasi penulis agar lebih baik di masa yang akan datang.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat serta sumbangsih wawasan dan pemikiran bagi seluruh pihak yang membacanya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu secara moril dam materil dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini, yaitu:

1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi Sumatera Utara.

2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, S.E., M.Ec selaku Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Rujiman, M.A., selaku dosen pembimbing penulis yang telah membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini, memberikan saran, masukan dan petunjuk yang sangat berarti bagi penulis.

(5)

4. Bapak Prof. Lic. Rer.Reg. Sirojuzilam, S.E., selaku dosen pembanding penulis yang telah memberikan kritik, saran, masukan bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Irsyad Lubis, Phd. selaku dosen pembanding penulis yang telah memberikan kritik, saran, masukan bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini.

6. Papa dan Mama penulis, Drs. Isrin dan Zamrefina atas kasih sayang, doa, serta dukungan moril dan materil yang telah diberikan kepada penulis.

7. Seluruh staf pengajar (dosen) Departemen Ekonomi Pembangunan yang telah memberikan pendidikan yang sangat berguna bagi penulis yang dapat digunakan pada masa yang akan datang serta seluruh karyawan pada Fakultas Ekonomi Sumatera Utara yang telah banyak membantu penulis selama menjalani perkuliahan.

8. Lintong Panjaitan selaku pembimbing penulis dalam melakukan research pada Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan yang telah banyak membantu penulis dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.

9. Ibu Reinta selaku karyawan bidang OPP Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan, yang telah membantu penulis memperoleh data-data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.

10. Seluruh staf dan karyawan Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan yang telah banyak membantu penulis dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.

11. Fakhrurrazi tersayang yang sudah banyak memberi semangat dan dorongan yang begitu besar kepada penulis.

12. Ade Ilham Jusuf (ade), Aidil F. Fakhruky (godil), Andriani Syafitri (riri), Fauzi Ridwan (polek popo), Ikhsantono (ichantoyo), Indrie Agustin W.

(Indi’), Marina Nasution (marintul), Sarah Dina (sarden), Wenny Subandi (wentong) dan Andri Marlia (ma’bun) atas doa, semangat yang telah diberikan kepada penulis dan telah menemani hari-hari penulis selama berada pada

(6)

bangku kuliah, serta banyak membantu penulis baik dalam penyusunan skripsi maupun dalam perkuliahan.

13. Teman-teman Departemen Ekonomi Pembangunan Khusus angkatan 2005 yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan warna, kebersamaan dan kenangan pada penulis.

14. Kepada Seluruh pihak yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengharapkan kiranya skripsi ini dapat bermanfaat dan membantu semua pihak yang memerlukannya, terutama rekan mahasiswa Ekonomi Pembangunan.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Medan, Juni 2009 Penulis

Ade Suryani

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Hipotesis Penelitian ... 7

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

1.4.1 Tujuan Penelitian ... 7

1.4.2 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Pembangunan Nasional ... 9

2.1.1 Pemerataan Pembangunan Nasional ... 9

2.1.2 Pengertian Faktor Sosial Ekonomi ... 10

2.1.3 Indikator Faktor Sosial Ekonomi ... 14

(8)

2.1.3.1 Pendapatan (Faktor Ekonomi Masyarakat) ... 14

2.1.3.2 Pendidikan (Faktor Sosial Ekonomi) ... 17

2.1.3.3 Jumlah Tanggungan Keluarga (Faktor Sosial Masyarakat) ... 22

2.2 Jasa ... 23

2.2.1 Pengertian Jasa ... 23

2.2.2 Karakteristik Jasa ... 23

2.2.3 Klasifikasi Jasa ... 24

2.2.4 Macam-macam Jasa ... 25

2.3 Pegadaian ... 27

2.3.1 Sejarah Pegadaian ... 27

2.3.2 Pengertian Pelayanan ... 29

2.3.3 Pengertian Pegadaian ... 31

2.3.4 Pinjaman/Kredit ... 33

2.3.5 Peranan Perum Pegadaian ... 34

BAB III METODE PENELITIAN ... 35

3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 35

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 35

3.3 Populasi dan Sampel ... 36

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 37

3.5 Pengolahan Data ... 38

3.6 Model Analisis Data ... 38

(9)

3.7 Test Of Goodness Of Fit (Uji Kesesuaian) ... 40

3.7.1 Koefisien Determinasi (R-Square) ... 40

3.7.2 Uji F-Statistik (Uji Keseluruhan) ... 40

3.7.3 Uji t-Statistik (Uji Parsial) ... 41

3.8 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ... 41

3.81 Multikolinearity... 41

3.8.2 Heterokedastisitas ... 42

3.9 Definisi Operasional ... 43

BAB IV PEMBAHASAN ... 44

4.1 Gambaran Umum Perum Pegadaian ... 44

4.1.1 Sejarah Berdirinya Perum Pegadaian ... 44

4.1.2 Visi dan Misi Perum Pegadaian ... 47

4.1.3 Struktur Organisasi Perum Pegadaian ... 49

4.1.4 Bidang Usaha Perum Pegadaian ... 55

4.1.5 Kredit Cepat dan Aman (KCA) ... 64

4.2 Analisis Hasil dan Pembahasan ... 66

4.2.1 Karakteristik Umum Responden ... 66

4.2.1.1 Pendapatan Nasabah ... 66

4.2.1.2 Pendidikan Akhir Nasabah ... 67

4.2.1.3 Jumlah Tanggungan Keluarga ... 69

4.3 Analisis Pemanfaatan Jasa Perum Pegadaian ... 69

4.3.1 Hasil Estimasi Model ... 69

(10)

4.3.2 Interpretasi Model ... 70

4.3.3 Test Of Goodness Of Fit (Uji Kesesuaian) ... 71

4.3.4 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ... 77

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

5.1 Kesimpulan ... 81

5.2 Saran ... 82 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

SURAT PERNYATAAN

(11)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

4.1. Biaya Penyimpanan dan Asuransi ... 58

4.2. Penggolongan Uang Pinjaman dan Tarif Sewa Modal ... 60

4.3. Persentase Uang Pinjaman Atas Taksiran ... 61

4.4. Tarif Sewa Modal Kredit Cepat Aman (KCA) ... 64

4.5. Perkembangan Jumlah Nasabah pada Perum Pegadaian ... 65

4.6. Tingkat Jumlah Pendapatan Nasabah ... 66

4.7. Tingkat Pendidikan Nasabah ... 68

4.8. Jumlah Orang yang Menjadi Tanggungan Nasabah ... 69

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

4.1. Uji t-Statistik Tingkat Pendapatan (X1) ... 73

4.2. Uji T-Statistik Tingkat Pendidikan (X2) ... 74

4.3. Uji t-Statistik Jumlah tanggungan (X3) ... 75

4.4. Uji F-Statistik ... 76

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Regresi ... xiii

Lampiran 2 Regresi Linier ... xv

Lampiran 3 Uji Multikolinieritas ... xvi

Lampiran 4 Uji Heterokedastisitas (White Heteroskedasticity Test) ... xviii

Lampiran 5 Kuisioner Penelitian ... xix

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam Garis Besar Haluan Negara ditegaskan bahwa pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan pembangunan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spritual berdasarkan Pancasila. Melihat ini, maka tujuan pembangunan adalah mengutamakan pemerataan dan kesejahteraaan masyarakat.

Sebagai masyarakat yang menikmati pembangunan ini, masyarakat selalu mengharapkan pelayanan yang menyenangkan dan memuaskan dari segenap aparat pemerintah. Pelayanan yang cepat dan tepat harus selalu ditopang oleh sarana dan prasarana yang memadai, terutama kemampuan aparat dalam melayani. Kemampuan yang baik dari aparat pemerintah dalam pelayanan kepada masyarakat turut serta dalam membangun bangsa dan negara.

Pembangunan tidak luput dari resiko yang dapat mengganggu hasil pembangunan yang akan dicapai. Sehubungan dengan itu pula dibutuhkan hadirnya suatu lembaga pegadaian yang tangguh, yang dapat membantu masyarakat dalam menghadapi kesulitan ekonomi rumah tangganya. Kebutuhan akan jasa usaha pegadaian juga merupakan salah satu sarana finansial dalam tata kehidupan perekonomian nasional, yang kehadirannya diharapkan akan dapat membantu golongan ekonomi lemah agar dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri.

(15)

Dengan demikian Perum Pegadaian dapat membantu pemerintah dalam menghadapi tugas nasional yang berat dan komplek, yaitu menuntaskan kemiskinan.

Berbicara mengenai kemiskinan akan berkaitan dengan faktor sosial masyarakat, terutama faktor sosial dalam ekonomi. Tingkat sosial ekonomi masyarakat yang rendah akan selalu mengharapkan bantuan dari berbagai pihak.

Tingkat sosial ekonomi masyarakat yang rendah akan menyebabkan mereka menempuh berbagai cara dalam kehiupan sehari-harinya, yang terkadang sampai terjerumus kepada aktivitas yang sifatnya sangat merugikan diri sendiri. Tingkat sosial masyarakat yang rendah akan selalu menjadi mangsa dan incaran bagi lintah darat. Kaum lintah darat inilah nantinya yang akan mencekik leher bagi yang membutuhkannya, terutama bagi golongan ekonomi tingkat bawah.

Untuk mengantisipasi masalah ini pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui lembaga pegadaian. Berdasarkan SK direksi Perum Pegadaian tanggal 27 Oktober 1990 No. S.M.2/1/29 Pasal 3 dan 4, lembaga pegadaian bertujuan untuk:

a. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijakan program pemerintah dibidang ekonomi pembangunan nasional pada umumnya, melalui penyaluran uang pinjaman atas dasar hak hukum gadai.

b. Mencegah pegadaian gelap, riba dan pinjaman tidak wajar lainnya.

Dari tujuan Perum Pegadaian tersebut dapat digambarkan bahwa lembaga pegadaian didirikan oleh pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari segala praktek lintah darat yang menyengsarakannya.

(16)

Oleh karena itu, pembangunan ekonomi tanpa dibarengi dengan pembangunan aspek sosial mustahil dapat berhasil dan sebaliknya, sehingga timbul suatu pendekatan secara seimbang dan terpadu dimana komponen sosial memberikan sumbangan penting bagi kemajuan ekonomi dan akan mempengaruhi keberhasilan sosial masyarakat.

Dalam rangka meningkatkan omzet Perum Pegadaian, telah diupayakan berbagai cara. Misalnya mengoptimalkan taksiran, memperluas pangsa pasar, dan mempromosikannya secara luas. Namun demikian kita semua tahu usaha-usaha tersebut kurang berhasil jika tidak didukung oleh pelayanan yang baik dikantor- kantor pusat maupun dikantor-kantor cabang.

Untuk melindungi kepentingan masyarakat luas, pelayanan yang optimal baik itu menyangkut tingkat suku bunga/sewa modal, golongan pinjaman dan kebijaksanaan lainnya harus sesuai dengan ketentuan yang disetujui oleh pemerintah.

Hal ini dimaksud agar Perum Pegadaian tidak bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah. Selanjutnya keterbukaan masyarakat untuk menerima pelayanan jasa yang diberikan oleh pihak Perum Pegadaian adalah merupakan partisipasi masyarakat dalam rangka pencapaian tujuan pemerintah untuk memberi pelayanan dan perlindungan, serta usaha memenuhi kebutuhan masyarakat. Adanya keterbukaan masyarakat tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah melalui Perum Pegadaian.

Berdasarkan pengamatan yang diperoleh penulis, dalam kehidupan sehari–

hari bahwa minat masyarakat untuk menggunakan jasa Perum Pegadaian pada

(17)

umumnya masih kurang atau rendah. Kurang atau rendahnya minat masyarakat ini disebabkan masyarakat merasa malu datang ke Perum Pegadaian karena adanya anggapan di masyarakat bahwa Perum Pegadaian adalah lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi lemah, disamping kurangnya promosi yang dilakukan oleh Perum Pegadaian.

Di dalam skripsi ini penulis hanya membahas mengenai Kredit gadai Cepat Aman (KCA), yang merupakan salah satu produk jasa pegadaian pada Perum Pegadaian kantor Daerah I Medan. Kredit Cepat Aman merupakan bisnis utama Perum Pegadaian, yakni fasilitas pinjaman yang diberikan berdasarkan hukum gadai dengan prosedur mudah, aman dan cepat. Jumlah kredit atau uang pinjaman yang dapat diberikan berdasarkan atas besarnya taksiran nilai barang jaminan. Dengan usaha ini, Pemerintah melindungi rakyat kecil yang tidak memiliki akses kedalam perbankan.

Dengan demikian, kalangan tersebut terhindar dari praktek pemberian uang pinjaman yang tidak wajar. Pemberian kredit jangka pendek dengan pemberian pinjaman mulai dari Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 200.000.000,-. Jaminannya berupa benda bergerak, baik berupa barang perhiasan emas dan berlian, elektronik, kendaraan maupun alat rumah tangga lainnya. Jangka waktu kredit maksimum 4 bulan atau 12 hari dan dapat diperpanjang dengan cara hanya membayar sewa modalnya saja (Sumber: www.pegadaian.com).

(18)

Pemberian kredit gadai pada umumnya ditujukan untuk kebutuhan konsumtif masyarakat. Namun seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang semakin majemuk, pemberian kredit gadai sebagian telah ditujukan kepada kebutuhan yang sifatnya produktif seperti modal kerja. Hal ini merupakan suatu langkah positif dalam rangka meningkatkan mutu dan pendapatan pegadaian pada umunya dan masyarakat pada khususnya.

Hingga pada saat ini pemberian kredit umunya masih didominasi oleh golongan ekonomi menengah ke bawah. Namun manyarakat kelas atas juga sudah memanfaatkan pegadaian sebagai tempat menyelesaikan masalah keuangan mereka.

Dalam pemberian kredit, jangka waktu penyelesaian kredit dibuat sangat fleksibel dan dengan prosedur sederhana. Setiap nasabah dapat memperpanjang atau mempersingkat jangka waktu pelunasan kredit. Pelunasan kredit dapat dilakukan dengan cara cicilan atau melunasinya sekaligus bahkan dapat memperpanjang dengan hanya melunasi bunga kredit saja.

Jaminan kredit merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam perkreditan bagi pegadaian. Keberadaan barang jaminan ditujukan sebagai alat pengaman terhadap uang pinjaman yang diserahkan kepada nasabah apabila suatu saat kemudian ia tidak dapat menepati janjinya untuk melunasi hutangnya.

Jenis barang yang dapat diterima sebagai barang jaminan untuk memperoleh kredit dari Perum Pegadaian hanyalah barang-barang yang termasuk golongan barang bergerak. Jenis-jenis barang yang diterima sebagai jaminan bila ditinjau dari segi penyimpanannya secara garis besar diklasifikasikan ke dalam dua bagian besar yaitu:

(19)

1. Barang Kantong, yaitu jenis barang jaminan yang termasuk ke dalam perhiasan seperti emas, berlian, permata dan lain-lain.

2. Barang Gudang, yaitu barang yang dapat digudangkan seperti barang-barang

elektronik misalnya televisi, radio, video atau jenis barang lainnya seperti kenderaan bermotor baik roda dua, maupun roda empat (Sumber: www.pegadaian.co.id)

Sehubungan dengan hal diatas, maka didalam penelitian ini penulis tertarik untuk membahas masalah tersebut diatas, oleh karena itu penelitian ini diberi judul

“Analisis Sosial Ekonomi Masyarakat Dalam Pemanfaatan Jasa Perum Pegadaian di Medan”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah pendapatan nasabah memiliki pengaruh terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan?

2. Apakah pendidikan nasabah memiliki pengaruh terhadap pemanfaaatan jasa Perum Pegadaian di Medan?

3. Apakah jumlah tanggungan kepala keluarga memiliki pengaruh terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan?

(20)

1.3 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:

1. Pendapatan nasabah berpengaruh terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

2. Pendidikan nasabah berpengaruh terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

3. Jumlah tanggungan kepala keluarga berpengaruh terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

1.4 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh pendapatan terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

2 Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan.

3 Untuk mengetahui pengaruh jumlah tanggungan kepala keluarga terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian di Medan

(21)

1.4.2 Manfaat Penelitian

1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan penulis dalam disiplin ilmu yang penulis tekuni.

2. Sebagai tambahan informasi dan bahan masukan bagi mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara khususnya mahasiswa/i Departemen Ekonomi Pembangunan yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.

3. Sebagai sarana informasi kepada masyarakat untuk dapat mengetahui peranan Perum Pegadaian.

4. Sebagai bahan masukan bagi Perum Pegadaian untuk mengambil kebijakan sehubungan dengan menigkatkan pelayanan kepada masyarakat.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pembangunan Nasional

2.1.1 Pemerataan Pembangunan Nasional

Dalam TAP MPR No II/MPR/1993 mengenai GBHN, dinyatakan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (TAP MPR No.II/MPR/1993 GBHN, Tujuan Pembangunan Nasional).

Pelaksanaan pembangunan nasional yang dimulai sejak tahun 1969 sampai sekarang telah berhasil memajukan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini merupakan hasil nyata dari pelaksanaan berbagai program pembangunan baik sektoral maupun regional secara langsung maupun tidak langsung yang ditujukan untuk menanggulangi kemiskinan masyarakat.

Adapun 3 faktor yang menjadi penyebab timbulnya kemiskinan yaitu : 1. Faktor alam.

2. Faktor sosial ekonomi, yaitu tingkat partisipasi angkatan kerja yang rendah, waktu kerja yang rendah, tingkat mobilitas tenaga kerja yang masih rendah.

(23)

3. Faktor sosial budaya, yaitu tingkat pendidikan yang rendah, etos kerja yang rendah yaitu merasa puas diri dan pola/gaya hidup yang seadanya.

Masalah kemiskinan tidak terlepas dari kebijaksanaan dan program-program perubahan yang dilaksanakan, dimana program-program tersebut bertujuan untuk mewujudkan pemerataan pendapatan sesuai dengan tujuan trilogi pembangunan.

Yang menjadi patokan dalam menetapkan garis kemiskinan adalah kebutuhan minimum yang meliputi 9 bahan pokok kehidupan sehari-hari.

Tingkat kesejahteraan masyarakat sangat ditentukan oleh pendapatannya.

Dengan demikian, tingkat kebutuhan konsumsi keluarga atau kebutuhan fisik minimum yang dapat dipenuhi akan sangat ditentukan oleh pendapatan yang diterima masyarakat. Untuk memproses pendapatan tersebut banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya tingkat pendidikan formal, jumlah keluarga yang ditanggung, dan jumlah hari kerja.

2.1.2 Pengertian Faktor Sosial Ekonomi

Masyarakat merupakan suatu kumpulan individu yang melakukan interaksi, dimana setiap individu saling membutuhkan satu sama lainnya. Pada hakikatnya manusia mempunyai kecenderungan untuk tetap hidup guna mengembangkan bakat dan kehidupan sosialnya. Sebagai konsekuensinya, mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya baik primer maupun sekunder agar dapat hidup dengan layak sesuai dengan harkatnya sebagai anggota masyarakat ( Sumardi dan evers, 1989:129).

(24)

Dalam usaha memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak terbatas, sedangkan dilain pihak alat-alat untuk memenuhi kebutuhan sifatnya terbatas, maka manusia cenderung untuk memenuhi kebutuhan mereka menurut skala kepentingannya.

Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar sangat erat kaitannya dengan pendapatan yang diperoleh. Selain faktor ekonomi, faktor sosial terutama pendidikan dan jumlah anggota keluarga dapat juga mempengaruhi pendapatan seseorang. Jumlah anggota keluarga yang lebih banyak mendorong mencari nafkah yang lebih banyak untuk memenuhi segala kebutuhannya.

Pengertian ilmu ekonomi itu sendiri yaitu ilmu sosial yamg mempelajari cara mengelola sumber daya ekonomi yang terbatas. Maka faktor sosial dan ekonomi sangat berkaitan satu sama lainnya.

Status (kedudukan) dapat diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, yang berhubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok- kelompok lainnya dalam kelompok yang lebih besar.

Status sosial (kedudukan sosial) dapat diartikan sebagai tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya (Soekanto, 1987:216) .

Dalam kehidupan di masyarakat, pada umumnya berkembang dua jenis status sosial yaitu:

(25)

1. Asribed status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena keturunan atau kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Pada umumnya satatus sosial jenis ini dijumpai pada masyarakat-masyarakat dengan sistem berlapis-lapis yang tertutup.

2. Achived status, yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha- usaha yang disengaja. Kedudukan atau satatus ini diperoleh berdasarkan kemampuan dan kecakapan masing-masing dalam mencapai tujuannya, misalnya seseorang dapat menjadi hakim apabila memenuhi persyaratan melelui pendidikan yang sesuai dengan bidang kehakiman yaitu sarjana hukum.

Status sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam struktur sosial masyarakat, yang disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dibawakan oleh si pembawa status ( Malo dan Trinoningtias, 1982:55 ).

Untuk melihat tingkatan status sosial ekonomi seseorang ditengah-tengah masyarakat, maka banyak faktor yang harus dilihat, baik itu dari pandangan sosial maupun ekonomi. Sebab di dalam suatu masyarakat pasti ada sesuatu yang dihargainya. Suatu barang yang dihargai di masyarakat tersebut akan menjadi sebab timbulnya sistem yang berlapis-lapis dalam masyarakat.

(26)

Suatu barang yang dihargai di masyarakat itu mungkin uang atau benda-benda yang bernilai ekonomi, mungkin tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesholehan dalam agama, atau mungkin, juga keturunan dari keluarga terhormat ( Soemardjan dan soemantri, 1964: 253 )

Dengan perkataan lain, faktor-faktor tersebut diatas sangat menentukan tinggi rendahnya status seseorang dalam masyarakat, sebab barang siapa yang memiliki sesuatu yang dihargai tadi dalam jumlah banyak, akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang menduduki tingkatan/lapisan sosial yang tinggi. Sebaliknya mereka yang hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak memenuhi sesuatu yang dihargai tersebut dalam masyarakat hanya mempunyai kedudukan rendah

(Soekanto, 1987 : 27 ).

Dari paparan dan penjelasan di atas, dapatlah kita lihat bahwa penggolongan seseorang itu termasuk kedalam status sosial ekonomi tinggi, sedang dan rendah dalam lapisan masyarakat adalah berdasarkan banyak tidaknya bentuk penghargaan masyarakat kepadanya. Demikian juga terhadap pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang mampu menambah cakrawala berfikirnya seperti: pengetahuan/pendidikan, dan alat komunikasi lainnya serta alat transportasi yang notabene harus diimbangi dengan kemampuan kondisi keuangan seseorang. Sebab pada saat sekarang ini semua fasilitas yang diperlukan manusia tidak terlepas dari kemampuan seseorang untuk membeli dan membiayainya.

(27)

Ada beberapa ukuran yang bisa dipergunakan untuk menggolongkan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan yaitu ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, ukuran ilmu pengetahuan (pendidikan) (Soemardjan,1964:157).

Sedangkan Melly G. Tan menyatakan untuk melihat kedudukan sosial ekonomi seseorang adalah pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan/pendapatan dan berdasarkan inilah maka masyarakat itu dapat digolongkan kedalam kedudukan sosial ekonomi tinggi, sedang dan rendah.

2.1.3 Indikator Faktor Sosial Ekonomi Masyarakat

Beberapa indikator yang pada umumnya digunakan sebagai faktor sosial ekonomi masyarakat diantaranya adalah :

2.1.3.1 Pendapatan (Faktor Ekonomi Masyarakat)

Pendapatan merupakan balas jasa yang diperoleh seseorang atas pekerjaan yang telah dilakukan atau diselesaikannya, pendapatan sering disebut gaji atau upah.

Istilah gaji biasanya digunakan untuk para pegawai atau karyawan sedangkan upah digunakan untuk para buruh. Besarnya pendapatan yang diperoleh seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tingkat pendidikan dan pengalaman kerja.

Dengan kemajuan teknologi yang ada maka sebuah perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki pendidikan yang tinggi dan keahlian dibidang tertentu, hal ini bertujuan untuk membantu perusahaan agar bisa terus berkembang, disamping itu seorang karyawan yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari

(28)

karyawan lain maka ia akan memperoleh pendapatan yang tinggi pula. Dengan demikian semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar pendapatan yang akan diperolehnya.

Faktor lain yang mempengaruhi besarnya pendapatan yang diperoleh seseorang adalah pengalaman kerja yang didapatnya, semakin lama ia bekerja maka semakin banyak pengalaman kerja yang diperolehnya dan hal ini menyebabkan pendapatannya bertambah karena ia dianggap sebagai karyawan senior dalam perusahaan tersebut sehingga perusahaan memberi penghargaan kepadanya lewat pertambahan penghasilannya.

Untuk melihat tingkat kesejahteraan seseorang bisa dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh, dengan asumsi semakin besar pendapatannya semakin tinggi tingkat kesejahteraan yang ia peroleh karena ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain dilihat dari besarnya pendapatan dapat dilihat pula dari alokasi pengeluaran konsumsi.

Data konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumah tangga dapat digunakan sebagai suatu bahan evaluasi taraf hidup. Dari data konsumsi untuk makanan dan bahan bukan makanan, bisa memberikan gambaran bagaimanakah masyarakat mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, karena makanan merupakan kebutuhan manusia untuk tetap hidup, sehingga sebesar apapun pendapatan seseorang ia akan tetap berusaha untuk mendapatkan makanan yang memadai. Apabila secara kuantitas kebutuhan seseorang

(29)

sudah terpenuhi maka biasanya ia akan mementingkan kualitas atau beralih pada pemenuhan kebutuhan bukan makanan.

Dengan demikian ada kecenderungan semakin tinggi pendapatan seseorang semakin berkurang persentase pendapatan yang dibelanjakannya untuk makanan.

Oleh karenanya, komposisi pengeluaran rumah tangganya dapat dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kehidupan masyarakat dengan asumsi bahwa penurunan persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran merupakan gambaran baiknya tingkat kehidupan masyarakat.

Menurut kebiasaan masalah pendapatan, mengandung dua hal utama, yakni:

a. Pendapatan dari hasil kerja seseorang.

b. Pendapatan yang datangnya dari milik (Komaruddin, 1993:97 ).

Pendapatan pribadi (personal income) dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apa pun, yang diterima oleh penduduk suatu negara. Dalam pendapatan pribadi telah termasuk juga pembayaran pindahan yang merupakan pemberian-pemberian yang dilakukan oleh pemerintah kepada berbagai golongan masyarakat di mana para penerimanya tidak perlu memberikan balas jasa atau usaha apapun sebagai imbalannya. Pembayaran pindahan ini antara lain uang pensiun yang dibayarkan kepada pegawai pemerintah yang tidak bekerja lagi, bantuan-bantuan kepada orang cacat, bantuan kepada veteran dan berbagai beasiswa yang diberikan pemerintah.

Pembayaran pindahan ini lazim disebut dengan istilah subsidi atau bantuan.

(30)

Sedangkan pendapatan disposibel, yaitu pendapatan pribadi dikurangi oleh pajak yang harus dibayar oleh para penerima pendapatan. Pendapatan disposibel adalah pendapatan yang digunakan oleh para penerimanya untuk membeli barang dan jasa yang mereka inginkan. Tetapi tidak semua pendapatan ini digunakan untuk tujuan konsumsi melainkan sebagian ditabung dan membayar bunga untuk pinjaman yang digunakan untuk membeli barang-barang secara mencicil (Sadono Sukirno, 1997:49).

Sumber pendapatan dan penerimaan menurut BPS dibedakan dalam:

1. Pendapatan yang bersumber dari:

a. Penghasilan gaji dan upah

b. Penghasilan dari usaha sendiri dan pekerjaan bebas c. Penghasilan dari pemilikan harta

2. Transfer yang bersifat redistributif, terutama terjadi dari transfer pendapatan yang tidak mengikat dan biasanya bukan merupakan imbalan atas penyerahan barang, jasa atau harta milik (Sumber: www.bps.go.id).

2.1.3.2 Pendidikan ( Faktor Sosial Ekonomi)

Telaah mengenai peran pendidikan dalam pembangunan biasanya berpangkal kepada saran pendapat bahwa pendidikan merupakan prasyarat untuk meningkatkan martabat manusia. Melalui pendidikan masyarakat mendapat kesempatan untuk membina kemampuannya secara wajar. Perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan ekonomi untuk mengupayakan perbaikan dan kemajuan dalam kehidupan

(31)

masyarakat. Satu sama lain akan mendukung terlaksananya pemerataan pendapatan masyarakat (Djojohadikusumo, 1994:214).

Jadi, tingkat pendidikan yang dicapai masyarakat merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kehidupan masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat diukur dengan persentase jumlah penduduk yang memperoleh pendidikan. Ukuran yang lebih umum dan sederhana adalah persentase jumlah penduduk yang dapat membaca dan menulis. Apabila semakin tinggi persentase jumlah ukurannya, maka semakin sejahtera dan sebaliknya semakin rendah semakin tidak sejahtera.

Selanjutnya ukuran tersebut diatas ditentukan oleh banyak faktor- faktor yang paling nyata, yaitu tinggi rendahnya tingkat ekonomi masyarakat tersebut. Pada lingkungan masyarakat yang ekonominya rendah, tingkat pendidikannya juga cenderung rendah. Lingkungan sosial akibat keadaan ekonomi yang rendah, sering kali menghambat tingkat pendidikan masyarakat tersebut.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat dan memiliki makna lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

(32)

Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

a) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

b) Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

c) Pendidikan Menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun.

d) Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselengggarakan oleh perguruan tinggi. Mata pelajaran pada pendidikan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA.

Jenis Pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

(33)

a) Pendidikan Umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

b) Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tetentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jenis ini termasuk kedalam pendidikan formal.

c) Pendidikan Akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tetentu.

d) Pendidikan Profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

e) Pendidikan Vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

f) Pendidikan Keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

(34)

g) Pendidikan Khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).

Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan khususnya di Indonesia, yaitu:

1. Faktor Internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini, interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.

2. Faktor Eksternal, adalah masyarakat pada umumnya dimana masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan (Sumber: www.wikipedia.org).

Melalui pendidikan masyarakat mendapat kesempatan untuk membina kemampuannya secara wajar. Perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan ekonomi untuk mengupayakan perbaikan dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Satu sama lain akan mendukung terlaksananya pemerataan pendapatan masyarakat. Jadi tingkat pendidikan yang dicapai masyarakat merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kehidupan masyarakat.

(35)

2.1.3.3 Jumlah Tanggungan Keluarga (Faktor Sosial Masyarakat)

Selain pendidikan, indikator faktor sosial masyarakat lainnya adalah jumlah tanggungan keluarga. Yang dimaksud dengan tanggungan keluarga adalah jumlah tanggungan yang terdiri dari anak, istri, serta famili yang tinggal dalam satu rumah dan menjadi tanggungan kepala keluarga, tetapi jumlah anak tidak selalu berarti sama dengan jumlah tanggungan, hal ini disebabkan anak sewaktu-waktu dapat memisahkan diri, misalnya membentuk keluarga baru.

Beberapa faktor yang menyebabkan jumlah tanggungan dalam satu keluarga besar antara lain telah berkeluarga pada usia muda, kelahiran anak yang begitu dekat, adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki dan sanak saudara yang belum bisa berusaha sendiri sehingga harus tinggal bersama keluarga yang sudah cukup mantap.

Semakin banyak jumlah tanggungan maka semakin besar pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kata lain, hal ini membuat kepala keluarga untuk lebih giat mencari pekerjaan tambahan atau sambilan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

(36)

2.2. Jasa

2.2.1. Pengertian Jasa

Philip Kotler merumuskan jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menyebabkan kepemilikan apapun. Produksi jasa mungkin atau tidak berkaitan dengan produk fisik (Philip Kotler, 2001:603).

Zithaml dan Bitner mendefinisikan jasa itu mencakup semua aktifitas ekonomi yang keluarannya bukanlah produk atau konstruksi fisik, yang secara umum konsumsi dan produksinya dilakukan pada waktu yang sama, dan nilai tambah yang diberikannya dalam bentuk (kenyamanan, hiburan, kecepatan, dan kesehatan) yang secara prinsip intangible bagi pembeli pertamanya (Yazid, 2003:3).

2.2.2. Karakteristik Jasa

1. Tidak berwujud (intangible)

Jasa merupakan sesuatu yang tidak berwujud. Tidak seperti produk fisik, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli.

2. Tidak dapat dipisahkan (Inseparability)

Umumnya jasa dihasilkan dan diproduksi secara bersamaan. Jika jasa itu dilakukan oleh orang, maka penyedianya adalah bagian dari jasa.

3. Bervariasi (Variability)

Jasa sangat bervariasi, karena tergantung pada siapa yang meyediakan dan kapan serta dimana jasa itu dilakukan.

(37)

4. Tidak tahan lama (Perishability)

Jasa tidak disimpan. Daya tahan suatu jasa tergantung suatu situasi yang diciptakan oleh berbagai faktor (Philip Kotler, 2001:605).

2.2.3. Klasifikasi Jasa

1. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Karakteristik Tindakan Jasa

a. Tindakan nyata yang diarahkan kepada konsumen yaitu kepada badan manusia, seperti pemotongan rambut, operasi plastik.

b. Tindakan nyata yang diarahkan kepada barang atau sesuatu yang dimiliki konsumen, seperti pemotongan rumput taman, jasa pengantaran barang.

c. Tindakan tidak nyata yang dirahkan kepada intelektualita konsumen, seperti penyiaran dan pendidikan.

d. Tindakan tidak nyata yang dilakukan terhadap asset intengibel konsumen seperti asuransi, investasi di bank, dan konsultasi.

2. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Cara Penyajian/Interaksi Sistem penyajian jasa ditentukan oleh dua komponen, yaitu:

a. Komponen interaksi, perlu tidaknya interaksi fisik antara personel kontak dengan konsumen akan menentukan perlu tidaknya konsumen datang ke tempat jasa diproses, seperti tukang cukur, teater, jasa perbaikan atau pengecatan gedung/rumah, dll. Interaksi fisik ini juga ditentukan oleh dapat atau tidaknya transaksi jasa dilaksanakan dengan tanpa kontak langsung, misalnya dengan telepon.

(38)

b. Komponen geografis, cara atau sistem penyajian jasa ditentukan oleh sebaran outlet tempat organisasi melayani konsumen, yaitu di satu atau beberapa outlet/lokasi seperti pelayanan bus atau rantai fast food .

3. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Sifat Permintaan

Permintaan jasa sangat bervariasi, ada permintaan yang bisa diprediksi (seperti restoran makanan cepat saji memprediksi jumlah permintaan pada jam-jam makan siang), ada pula yang random (seperti jumlah pengunjung toko eceran dari hari ke hari, jumlah pengunjung restoran makanan cepat saji di luar jam makan siang, dan sebagainya).

4. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Jenis Hubungan Dengan Konsumen

a. Penyajian jasa yang kontinyu yaitu hubungan keanggotaan seperti asuransi, perbankan, dll, hubungan tidak formal seperti stasiun radio, jalan raya, dll.

b. Transaksi diskrit yaitu: hubungan keanggotaan seperti tiket perjalanan PP, reparasi dengan garansi, telepon jarak jauh, dll, hubungan tidak formal seperti jasa pos, jalan tol, bioskop, dll (Yazid, 2003:32).

2.2.4 Macam-Macam Jasa

Berkaitan dengan macam jasa, Aubrey Wilson dalam buku Pemasaran Jasa mengutip pendapat dari Green Field, membedakan jasa dalam dua kelompok, yaitu:

1. Jasa Konsumen

Sebagai jasa yang dimanfaatkan oleh rumah tangga dan pribadi sesuai dengan kemampuan rumah tangga. Jasa untuk konsumen digambarkan sebagai pengeluaran

(39)

oleh orang perorang dan bukan organisasi, yang tidak mengakibatkan adanya kepemilikan barang. Antara lain menyangkut perawatan pribadi, kesejahteraan (asuransi perumahan), hiburan dan transportasi.

2. Jasa Produsen

Sebagai jasa yang dimanfaatkan oleh organisasi industri atau lembaga. Jasa untuk produsen dapat dikategorikan menjadi:

a. Jasa peralatan yaitu semua pelayanan jasa yang ada kaitannya dengan instalasi, penyelenggaraan perawatan dan perbaikan pabrik, alat pelengkap dan alat operasi, berkas dan perabotan.

b. Jasa pemberian kemudahan yaitu semua pelayanan jasa untuk menyediakan sarana operasi dan organisasi yang produktif termasuk pengadaan uang, penyimpanan, pengangkutan, promosi dan asuransi.

c. Jasa berupa nasehat dan konsultasi yaitu semua pelayanan jasa yang menyampaikan keahlian dan kecakapan khusus maupun umum termasuk penasehat , penggunaan dan pencarian sumber-sumber daya, riset, pendidikan, organisasi dan pemasaran (1982:20).

(40)

2.3. Pegadaian

2.3.1. Sejarah pegadaian

Sejarah Pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Belanda (VOC) mendirikan

‘BANK VAN LEENING’ yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816), Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari pemerintah daerah setempat (liecentie stelsel). Namun metode tersebut berdampak buruk pemegang lisensi menjalankan praktek rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan pemerintah berkuasa (Inggris). Oleh karena itu, metode liecentie stelsel diganti menjadi pacth stelsel yaitu pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayarkan pajak yang tinggi kepada pemerintah.

Pada saat Belanda berkuasa kembali pola atau metode pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang sama di mana pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menerapkan apa yang disebut dengan ‘cultuur stelsel’ di mana dalam kajian tentang pegadaian saran yang dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

(41)

Berdasarkan hasil penelitian tersebut pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad (Stbl) No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah dan tanggal 1 April 1901 didirikan Pegadaian Negara pertama di Sukabumi (Jawa Barat), selanjutnya setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung kantor pusat Jawatan Pegadaian yang terletak di jalan Kramat Raya 162 dijadikan tempat tawanan perang dan kantor pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan ke jalan Kramat Raya 132. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa pemerintahan Jepang baik dari sisi kebijakan maupun struktur organisasi Jawatan Pegadaian. Jawatan pegadaian dalam bahasa Jepang disebut ‘Sitji Eigeikyuku’, Pimpinan Jawatan Pegadaian dipegang oleh orang Jepang yang bernama Ohno-San dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M.Saubari.

Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia kantor Jawatan Pegadaian sempat pindah ke Karang anyar (Kebumen) karena situasi perang yang kian terus memanas. Agresi militer Belanda yang kedua memaksa kantor Jawatan Pegadaian dipindah lagi ke Magelang. Selanjutnya pasca perang kemerdekaan kantor Jawatan Pegadaian kembali lagi ke Jakarta dan Pegadaian kembali dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dalam masa ini Pegadaian sudah beberapa kali berubah status, yaitu sebagai Perusahaan Negada (PN) sejak 1 Januari 1961 kemudian berdasarkan PP.No.7/1969 menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) selanjutnya berdasarkan PP.No.10/1990 (yang diperbaharui dengan PP.No.103/2000) berubah lagi menjadi Perusahaan Umum (PERUM) hingga sekarang.

(42)

2.3.2. Pengertian Pelayanan

Menurut Y.B Suparlan, pelayanan adalah usaha pemberian bantuan atau pertolongan kepada orang lain baik berupa materi maupun nonmateri agar orang itu dapat mengatasi masalahnya sendiri. Dalam konteks pelayanan dimaksud adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan Perum Pegadaian kepada masyarakat sesuai dengan yang diperlukannya, yaitu memberikan pinjaman kredit menurut hukum gadai untuk mengatasi kesulitan ekonomi setiap nasabah(masyarakat). Lebih lanjut The Liang Gie dan kawan-kawan mengartikan ”Pelayanan masyarakat adalah kegiatan dari suatu organisasi yang dilakukan untuk mengamalkan dan mengabdikan diri pada masyarakat”. Dari pengertian diatas maka dapat diartikan bahwa pelayanan masyarakat itu adalah merupakan hasil yang dicapai oleh suatu organisasi /perusahaan yang ditujukan kepada kepentingan masyarakat banyak atas dasar pemberian secara ikhlas, jujur, tidak mengutamakan imbalan, tetapi mengutamakan rasa puas yang dibutuhkan oleh masyarakat. Menurut Effendi Onong Uchayana (1989: 48) kunci keberhasilan pelayanan kepada nasabah adalah:

1. Trust (kepercayaan)

Menumbuhkan rasa percaya nasabah terhadap pegawai Perum Pegadaian karena pada dasarnya seseorang akan lebih terbuka pada rang lain apabila ia menarik kepercayaan pada mereka.

2. Attitude (sikap)

Mengusahakan selalu bersikap baik dalam melayani nasabah, agar nasabah benar-benar merasa dihargai.

(43)

3. Easy (kemudahan)

Membuat nasabah merasa nyaman, santai, dan tidak merasa tegang bila datang ke loket Pegadaian.

4. Listen (Mendengarkan)

Mengusahakan mendengar segala keluhan nasabah dengan seksama dan nya, bila tidak cukup waktu dapat meminta bantuan dari rekan kerja yang lain agar tidak mengganggu pelayanan nasabah lainnya dengan cara melakukan secara halus dan luwes.

Pelayanan nasabah di Perum Pegadaian sangat menentukan dan menjadi bagian yang penting dalam menentukan besar kecilnya omzet kredit dan perolehan bunga. Dalam pemasaran jasa ada beberapa hal penting yang harus diingat antara lain pelanggan adalah pihak yang cenderung memberikan penilaian terhadap mutu pelayanan. Mereka menilai dengan membandingkan apa yang mereka terima dengan apa yang mereka harapkan. Suatu perusahaan akan meraih reputasi baik apabila mutu pelayanan senantiasa memenuhi harapan pelanggan.

Ada lima prinsip dasar yang sering digunakan para pelanggan dalam menilai mutu pelayanan (Effendi, 1989:50) yaitu:

1. Bukti langsung (tangible) meliputi fasilitas yang tampak, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi.

2. Kehandalan (reability) yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan.

(44)

3. Tanggap (responsiveness) yaitu keinginan menolong pelanggan dan memberikan pelayanan yang tanggap.

4. Kepastian (assurance) yaitu pengetahuan dan kesempatan pegawai serta kemampuan membawakan diri secara meyakinkan.

5. Simpati artinya memberikan perhatian pribadi kepada pelanggan.

2.3.3. Pengertian Pegadaian

Pegadaian adalah suatu badan atau organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa peminjaman uang dengan menggadaikan suatu barang sebagai jaminannya. Nasabah yang ingin mendapatkan uang pinjaman harus menggadaikan barang sebagai jaminan. Baru kemudian pihak pegadaian memberikan pinjaman uang sebanding dengan nilai jaminan barangnya. Tiap peminjaman memiliki jangka waktu berlaku. Nasabah dapat melunasi pinjamannya/menebus barangnya sesuai dengan jumlah pinjaman sebelum jangka waktu tersebut habis. Jika pinjaman tidak lunas dibayar sampai jangka waktu habis, maka barangnya akan hangus. Jika sudah hangus, maka barang tidak bisa ditebus dan akan dilelang oleh pihak pegadaian.

Untuk mengatasi agar masyarakat yang sedang membutuhkan uang tidak jatuh ke tangan para pelepas uang yang bunganya relatif tinggi, maka Perum Pegadaian menyediakan pinjaman uang dengan jaminan barang-barang berharga.

Meminjam uang ke Perum Pegadaian bukan saja karena prosedurnya mudah dan cepat, tetapi karena biaya yang dibebankan lebih ringan jika dibandingkan dengan para pelepas uang. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan dari Perum Pegadaian

(45)

dalam pemberian pinjaman kepada masyarakat dengan motto ”Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”, motto tersebut pantas disandang oleh Perum Pegadaian karena Perum Pegadaian merupakan salah satu dari perusahaan jasa yang mampu mengatasi masalah keuangan dalam waktu yang relatif singkat. Jika seseorang membutuhkan dana sebenarnya dapat diajukan ke berbagai sumber dana seperti lembaga keuangan bank, aatu nonbank, akan tetapi kendala utamanya adalah prosedur dan persyaratan yang lebih sulit sehingga membuat masyarakat mengalami kesulitan begitu pula dengan jaminan yang diberikan haruslah barang-barang tertentu, karena tidak semua barang dapat dijadikan sebagai jaminan. Namun di pegadaian masyarakat cukup datang ke kantor pegadaian dengan membawa jaminan barang tertentu agar uang pinjamannya dapat disesuaikan dengan barang dan jangka waktu yang sudah disepakati.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pegadaian adalah suatu lembaga keuangan bukan bank yang memberikan kredit kepada masyarakat secara hukum gadai. Pengertian hukum gadai menurut Subagio (1997:85), hukum gadai adalah penyerahan harta gerak oleh peminjam kepada perusahaan pegadaian sebagai agunan dalam peminjaman dana yang disertai pemberian hak pada perusahaan pegadaian untuk melakukan penjualan atau pelelangan dalam kondisi yang ditentukan.

(46)

2.3.4. Pinjaman/Kredit

Istilah kredit berasal dari bahasa Yunani ”credere” yang berarti kepercayaan, karena dasar kredit adalah kepercayaan. Dengan demikian seseorang memperoleh kredit dari orang lain atau dari badan usaha pada dasarnya adalah karena kepercayaan. Bila transaksi kredit terjadi maka akan dapat kita lihat adanya pemindahan materi dari yang memberikan kredit kepada yang diberi kredit sehingga ada dua pihak yamg terlibat yaitu:

1. Pihak yang kelebihan dana yang disebut pemberi kredit (kreditur).

2. Pihak yang membutuhkan dana disebut penerima kredit (debitur).

Menurut pendapat Muchdarsyah Sinungan (1997:3), ”kredit adalah suatu pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain dan prestasi itu akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu yang akan disertai dengan suatu kontra prestasi berupa bunga. Sedangkan menurut Susatyo Reksodiprojo, ”kredit adalah lalu lintas pembayaran dan penukaran uang, barang dan jasa oleh pihak yang memberikan prestasi baik berupa barang dan jasa atau prestasi lainnya kepada pihak lain.”

Dalam masyarakat kredit tidak lagi merupakan kata yang asing sebab kredit tidak hanya digunakan dalam proses peminjaman dan tetapi juga dikenal dalam hal membeli. Perum Pegadaian selain memberikan jasa layanan gadai juga menyalurkan kredit kepada masyarakat. Pegadaian dalam menjalankan operasional usahanya mempunyai aturan dasar dalam menetapkan barang yang dijadikan sebagai barang jaminan kredit.

(47)

2.3.5. Peranan Perum Pegadaian

Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian mempunyai peranan penting dalam penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan pengembangan usaha diperlukan dana yang cukup besar. Sumber dana yang selama ini dipergunakan untuk keperluan penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai berasal dari dana intern Perusahaan dan pinjaman dari lembaga keuangan masih belum mencukupi, maka diperlukan dana dari sumber lain yang sah.

Perusahaan Umum Pegadaian sebagai Badan Usaha Milik Negara yang melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat di bidang penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai, perlu didukung dengan partisipasi masyarakat berupa keikutsertaan dalam pendanaan.

Dengan persaingan yang begitu ketat saat ini, kualitas jasa mempunyai peranan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan jasa pegadaian.

Mempertahankan konsumen menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan jasa terutama Perum Pegadaian.

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan langkah dan prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan untuk menguji hipotesis penelitian (Muhammad Teguh, 1999:7).

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dilakukan di Kotamadya Medan tepatnya di Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian Adapun faktor- faktor sosial ekonomi masyarakat adalah Pendapatan nasabah, Pendidikan nasabah, Jumlah tanggungan keluarga.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Data Primer yang digunakan dalam Penulisan skripsi ini adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan, kuisioner yang telah dipersiapkan oleh penulis.

(49)

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan, buku literatur, media internet serta bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.3 Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Sugiyono (2003 : 78) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditetapkan kesimpulannya.

Berdasarkan pendapat diatas, yang menjadi populasi penelitian ini adalah keseluruhan pengguna jasa Perum Pegadaian, yang berjumlah 547.731 orang selama tahun 2007.

2. Sampel

Teknik penerikan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah Simple Random Sampling dengan mempergunakan rumus taro Yamane yang dikutip Rakhmat Jalaluddin (2002 : 82), yaitu :

2+1

= Nd n N

Keterangan:

n = Jumlah Sampel N= Populasi

d= Presisi (10%)

(50)

Maka :

1 ) 1 , 0 ( 731 . 547

731 . 547

2+

31 , 5478

731 .

=547 n

98 ,

=99 n

Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel sebanyak 100 orang yang ditetapkan sebagai responden. yaitu para nasabah pengguna jasa Perum Pegadaian dimana teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling yaitu secara acak.

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:

1. Observasi

Observasi adalah salah satu teknik operasional pengumpulan data melalui proses pencatatan secara cermat dan sistematis terhadap obyek yang diamati secara langsung, dalam hal ini adalah nasabah.

2. Wawancara

Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data dan informasi dengan mewawancarai pimpinan atau pejabat-pejabat berwenang di Perum Pegadaian yaitu di kantor Daerah I Medan.

(51)

3. Kuisioner (Daftar Pertanyaan)

Kuisioner adalah salah satu teknik pengumpulan data dan informasi dengan cara menyebarkan angket (daftar pertanyaan) yang harus dijawab secara tertulis oleh responden yang dijadikan sampel penelitian. Dalam hal ini yang menjadi responden adalah para nasabah.

4. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah mengumpulkan data dan informasi melalui telaah berbagai literatur yang relevan atau berhubungan dengan permasalahan yang ada di dalam penulisan skripsi ini, dapat diperoleh dari buku-buku, majalah, koran, internet dan lain-lain.

3.5. Pengolahan Data

Penulis melakukan pengolahan data dengan metode statistika menggunakan program komputer E-Views 4.1 dalam penulisan skripsi ini.

3.6 Model Analisis Data

Model analisis yang digunakan dalam menganalisa data adalah model ekonometrika. Teknik analisis yang digunakan adalah model kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square/OLS).

Adapun persamaan fungsi dasarnya adalah sebagai berikut :

Y=f(X1,X2,X3)………..(1)

(52)

Kemudian fungsi tersebut diatas dispesifikasikan kedalam kedalam model ekonometrika dengan persamaaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Y=α+β1X12X23X3+μ……….(2) Dimana:

Y = Pemanfaatan jasa Perum Pegadaian (jumlah pinjaman/Rp) α = Intercept

X1 = Pendapatan Nasabah(Rp/Bulan) X2 =Pendidikan akhir nasabah(tahun)

X3 = Jumlah Tanggungan Kepala Keluarga(Orang) β1β2β3 = Koefisien Regresi

μ = Term Of Error (kesalahan penggangu)

Bentuk hipotesis sebagai berikut:

, 1>0

X

Y artinya jika kenaikan pada X1 (pendapatan nasabah), maka Y (pemanfaatan

jasa Perum Pegadaian) akan mengalami peningkatan, ceteris paribus.

, 2 <0

X

Y artinya jika terjadi kenaikan pada X2 (pendidikan nasabah), maka Y

(pemanfaatan jasa Perum Pegadaian) akan mengalami penurunan, ceteris paribus.

, 3>0

X

Y artinya jika terjadi kenaikan pada X3 (jumlah tanggungan keluarga) maka

Y akan mengalami peningkatan ceteris paribus.

(53)

3.7 Test of Goodness of Fit (Uji Kesesuaian) 3.7.1. Koefisien determinasi (R-square)

Koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabel- variabel independen secara bersama mampu memberikan penjelasan mengenai variabel dependen.

3.7.2 Uji F-statistik (Uji keseluruhan)

Uji F-statistik ini adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh koefisien regresi secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

Nilai F-hitung dapat di peroleh dengan rumus:

F-hitung =

) /(

) 1 (

1 /

2 2

k n R

k R

Dimana:

R² : koefisien determinasi k : jumlah variabel independen n : jumlah sampel

Hipotesis yang digunakan :

Ho : β1β2β3 = 0 Artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

Ha : β1β2β3 ≠ 0 Artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

(54)

3.7.3 Uji t-statistik (Uji Parsial)

Uji t-statistik merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing koefisien regresi signifikan atau tidak terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel independen lainnya konstan.

3.8 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik 3.8.1 Multikolinearity

Multikolinearity adalah suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel independen dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel independen lainnya. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearity dapat dilihat dari nilai R2, F-hitung, t-hitung, dan standard error.

Adapun multikolinearity ditandai dengan:

a. Standard error tidak terhingga

b. Tidak ada satupun atau sangat sedikit t-statistik yang signifikan pada

% 10

%, 5

%,

1 = =

= α α

α .

c. Terjadi perubahan tanda atau tidak sesuai dengan teori.

d. R2 sangat tinggi (Catur Sugiyanto, 1994:82).

Pengujian yang lain, yang dapat digunakan untuk melihat multikolinearity antar variabel adalah dengan menggunakan uji parsial (Wahyu Ario Pratomo dan Paidi Hidayat, 2007:90).

(55)

3.8.2 Heterokedastisitas

Heterokedastisitas terjadi apabila variabel pengganggu (Error Term) tidak mempunyai varian yang konstan (sama) untuk semua observasi sehingga residual variabel pengganggu tidak bernilai nol atau E

( )

µi 2 ≠σ2.

Ini merupakan pelanggaran salah satu asumsi klasik tentang model regresi linier berdasarkan metode kuadrat terkecil biasa. Heterokedastisitas pada umumnya lebih banyak ditemui pada data cross section yaitu data yang menggambarkan keadaan pada suatu waktu tertentu misalnya data hasil suatu survei. Keberadaan heterokedastisitas akan dapat menyebabkan kesalahan dalam penaksiran sehingga koefisien regresi menjadi tidak efisien dan dapat meyesatkan (Nachrowi Djalal Nachrowi dan Hardius Usman, 2006:109).

Menguji Heterokedastisitas

Untuk menguji keberadaan heterokedastisitas dilakukan dengan cara uji formal yaitu Uji White (white`s General Heterocedasticity Test).

Uji White memulai pengujiannya dengan membentuk model:

i

i X X X

Y01 12 23 3

Kemudian persamaan di atas, dimodifikasi dengan membentuk regresi bantuan (auxiliary regression) sehingga model menjadi:

i

i α α X α X α X α X α X α X α X X X υ

µ 2 = 0 + 1 1+ 2 2 + 3 3 + 4 12 + 5 22 + 6 32 + 7 1 2 3 + Pedoman dari penggunaan uji white ini adalah tidak terdapat masalah heterokedastisitas dalam hasil estimasi, jika nilai R2 hasil regresi dikalikan dengan

(56)

jumlah data atau (n.R2 = χ hitung) lebih kecil dibandingkan 2 χ tabel. Sementara, 2 akan terdapat masalah heterokedastisitas apabila hasil estimasi menunjukkan bahwa χ hitung lebih besar dibandingkan 2 χ tabel (Wahyu Ario Pratomo dan Paidi 2 Hidayat, 2007:98).

3.9 Defenisi operasional

1. Pemanfaatan Jasa Perum Pegadaian (Y) yang diukur dari jumlah pinjaman nasabah (Dalam Rupiah).

2. Pendapatan (Χ ) adalah segala sesuatu bentuk penghasilan yang didapat oleh 1 nasabah baik itu gaji pokok dan juga di luar gaji pokok (Dalam Rupiah per Bulan).

3. Pendidikan (Χ2) adalah jenjang pendidikan terakhir nasabah (diberi nilai/scors SD = 1, SLTP = 2, SLTA = 3, Perguruan tinggi = 4

4. Jumlah tanggungan keluarga (Χ ) Jumlah tanggungan terdiri dari anak, istri 3 serta famili yang tinggal dalam satu rumah dan menjadi tanggungan kepala keluarga.

(57)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perum Pegadaian 4.1.1 Sejarah Berdirinya Perum Pegadaian

Lembaga kredit dengan sistem gadai pertama kali hadir di bumi nusantara pada saat VOC berkuasa, adapun institusi yang menjalankan usaha ini adalah Bank Van Leching. Dengan surat keputusan Gubernur Jenderal Van lmhof tanggal 28 agustus 1746 dengan modal sebesar (f 7.500.000) yang terdiri dari modal VOC 2/3 dan sisanya milik swasta. Tahun 1800 VOC dibubarkan dan kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh Belanda, semasa pemerintahan Deandels dikeluarkan peraturan tentang macam barang yang dapat diterima sebagai jaminan gadai seperti perhiasan, kain dan lain-lain.

Tahun 1811 kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh Inggris -Rafles selaku penguasa mengeluarkan peraturan dimana setiap orang yang dapat mendirikan Bank Van Learnig asal mendapt izin penguasa setempat, yang disebut lisentiestelsel ini ternyata tidak menguntungkan pemerintah. Tahun 1811 lisentiestelsel ini ternyata dihapuskan, dan diganti dengan pachstelsel yang dapat didirikan oleh anggota masyarakat umum dengan syarat sanggup membayar sewa dengan tinggi kepada pemerintah.

Tahun 1816 Belanda kembali menguasai Indonesia, pachstelsel semakin berkembang, namun berdasarkan penelitian pemerintah ternyata banyak pachstelsel

Gambar

Gambar 4.2. Uji t-Statistik Tingkat Pendidikan Akhir (X 2 )
Gambar  4.4. Uji F-statistik 3.95 154.43 Ha diterima H0 diterima 01.=0α

Referensi

Dokumen terkait

Arah daya paduan yang dihasilkan oleh konduktor yang membawa arus dalam medan magnet boleh ditentukan dengan menggunakan petua tangan kiri Fleming. Catapult field is the

Teknik pengumpulan data melalui wawancara (data primer) dan dokumentasi, studi kepustakaan, peraturan perundang-undangan, makalah-makalah, penelusuran internet

[r]

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsumsi zat gizi dan daya terima pasien rawat inap penyakit kardiovaskular terhadap makanan yang disajikan RSUP H..

[r]

Oleh karena itu program jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu dengan sasaran 76,4 juta jiwa ini akan dilanjutkan pada tahun 2009 dengan menggunakan manajemen

Bukan hanya itu mereka juga dapat sekalian berinvestasi dengan menggunakan asuransi kesehatan, karena asuransi kesehatan memiliki paket asuransi dimana biaya preminya akan dibagi

Secara umum kandungan logam berat pb dan cd yang terukur dari ketiga jenis sayuran bayam, sawi dan kangkung pada berbagai situs pasar di tota Medan telah berada