Abstrak
Penelitian berbentuk critical review ini menelaah mengenai anomali pasar sebagai salah satu bentuk dari fenomena di pasar modal. Pada anomali ditemukan hal-hal yang seharusnya tidak ada bilamana dianggap bahwa pasar efisien benar-benar ada. Artinya, disini suatu peristiwa (event) dapat dimanfaatkan oleh investor untuk memperoleh abnormal return. Salah satu bentuk anomali dalam pasar modal adalah anomali musiman (seasonal anomalies).
Penelitian ini berusaha untuk menelaah mengenai pasar efisien dan beberapa penelitian di berbagai negara yang telah dilakukan seputar seasonal anomalies ini, baik day of the week effect, Monday effect atau January effect.
Abstract
This study examined the form of the critical review of market anomalies as one form of the phenomenon in the equity markets. On anomalies found some matters that should not be there when it is considered that there is a really efficient market. So that here is an event can be exploited by investors to earn abnormal returns. One of the anomalies in the stock market is seasonal anomalies. This study sought to examine the efficient market and several studies in several countries that have done the seasonal anomalies, either the day of the week effect, Monday effect or the January effect.
Kata kunci:
Pasar efisien, anomali, day of the week effect, Monday effect,
January effect
Keywords:
efficient markets, anomalies, day of the week effect, Monday effect, January effect
REVIEW
Ika Indriasari1) Sugiarto
STIE Cendekia Karya Utama Semarang Email: [email protected]1)
Pendahuluan
Para investor yang melakukan investasi melalui pasar modal sudah pasti mengharapkan tingkat keuntungan (return) dengan besaran yang sesuai dengan tingkat risiko yang ditanggungnya.
Sebagai investor, tentu mengharapkan tingkat keuntungan yang optimal dan salah satu cara untuk mengoptimalkan return yang diharapkan, investor dapat mengamati perilaku saham harian (Alteza, 2007). Berdasarkan berbagai hasil penelitian, harga saham mengalami pergerakan yang bersifat musiman (seasonal). Kondisi tersebut sebenarnya dapat dicermati dan dimanfaatkan oleh para investor agar dapat memiliki keputusan yang tepat saat menjual atau membeli saham. Pembahasan mengenai pengujian pasar efisien tidak bisa terlepas dari membahas tentang adanya ketidak- teraturan (anomali) yang terkait dengan hipotesis pasar efisien. Pasar modal yang efisien adalah pasar modal yang berisi sekuritas yang nilai pasarnya selalu menyesuaikan secara cepat dan langsung apabila terjadi perubahan nilai intrinsik dari asset yang menjadi dasar dikeluarkannya sekuritas tersebut. Jadi apabila saham suatu perusahaan tidak berubah harga pasarnya , sementara perusahaan tersebut mengalami suatu kondisi yang mempengaruhi bisnisnya dan informasi tentang hal itu telah tersebar kepada publik, berarti pasar modal itu tidaklah efisien. Anomali sendiri adalah salah satu bentuk dari fenomena yang ada di pasar modal. Artikel ini selanjutnya
akan membahas mengenai pasar efisien dan menelaah adanya anomali pada pasar modal, khususnya yang terjadi pada waktu- waktu tertentu, atau yang disebut dengan seasonal anomalies.
Pembahasan
Pasar Efisien dan Implikasinya
Pasar efisien adalah pasar dimana semua harga sekuritas secara tepat dan cepat dapat merefleksikan informasi yang ada (Jones, 2004). Pengertian tersebut disebut juga dengan efisiensi informasional, sehingga harga saham yang ada mencerminkan hal-hal berikut:
pertama, harga saham mencerminkan segala informasi yang telah diketahui baik informasi masa lampau, informasi sekarang dan kejadian yang sudah diumumkan.
Kedua, harga mencakup informasi lainnya yang dianggap beralasan untuk disimpulkan. Sebagai contoh, jika ada suatu informasi mengenai kenaikan tingkat bunga dalam waktu yang tidak lama lagi maka harga saham akan merefleksikan kepercayaan investor terhadap berita tersebut meskipun kenaikan tingkat bunga belum sungguh-sungguh terjadi. Fama (1970) dalam Alteza (2007) telah mengklasifikasikan tiga kategori efisiensi pasar berdasarkan informasi yang dicerminkan sebagai berikut:
1. Efisiensi pasar bentuk lemah ( weak form efficiency). Pada pasar dengan efisiensi lemah harga sekuritas secara penuh mencerminkan informasi masa lalu. Harga saham mengikuti random walk, sehingga
harga saham yang sudah terjadi tidak d a p at d i p e r g u n a k a n u n t u k memprediksi harga saham saat ini, sehingga strategi perdagangan dengan memanfaatkan dasar hubungan historis tidak dapat menghasilkan abnormal return bagi investor.
2. Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semi strong form efficiency), adalah jika harga saham s ecara penuh mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan, sehingga investor tidak akan memperoleh abnormal return hanya dengan memanfaatkan informasi publik seperti pengumuman laba dan dividen, pengumuman merger, pemecahan saham dan pengumuman -pengumuman lainnya.
3. Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form efficiency), yaitu harga saham mencerminkan semua informasi yang tersedia, baik informasi privat maupun yang dipublikasikan. Dalam bentuk efisiensi ini, tidak akan ada investor yang memperoleh abnormal return hanya karena memiliki informasi privat. Pada efisiensi kuat ini, pasar modal seperti pasar lelang ideal karena harga akan selalu wajar dan tidak ada investor yang mampu memperkirakan dengan baik mengenai harga saham.
Pada pasar efisien, investor yang tidak percaya terhadap pasar efisien akan cenderung melakukan strategi perdagangan
aktif, dengan maksud untuk memperoleh return yang lebih tinggi dibandingkan investor lainnya. Investor akan m en ggu n ak an an ali s is t ekn ik al , fundamental atau gabungan diantara keduanya. Dengan analisis teknikal, investor mempercayai bahwa pola-pola pergerakan harga saham di masa datang akan diketahui. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan konsep pasar efisien yang menyatakan bahwa informasi masa lalu telah tercermin dalam harga saham.
Strategi investasi yang tepat menurut Jones (2004) dapat berupa strategi pemilihan saham, rotasi sektor dan market timing. Strategi pemilihan saham adalah strategi investor dengan cara melakukan seleksi untuk mendapatkan saham terbaik dengan berdasarkan pada analisis fundamental. Strategi ini merupakan strategi yang paling rasional dan populer.
Strategi lainnya, yaitu strategi rotasi sektor dapat dilakukan oleh investor melalui dua cara (Tandelilin dalam Alteza, 2007) yaitu:
(1) melakukan investasi pada saham-saham yang bergerak pada sektor tertentu untuk mengantisipasi pergerakan siklis ekonomi di kemudian hari, dan (2) melakukan modifikasi terhadap bobot portofolio saham -saham pada sektor industri yang berbeda- beda. Strategi ketiga, yaitu strategi market timing . Strategi ini dilakukan dengan cara aktif mengamati pergerakan di pasar saham sehingga dapat menentukan waktu yang tepat untuk masuk pasar dan keluar dari pasar untuk memperoleh return yang lebih baik, atau menghindari kerugian.
Investor yang mempercayai
kebenaran pasar efisien tidak akan menggunakan strategi-strategi di atas untuk memperoleh abnormal return. Investor ini akan cenderung bersikap pasif dalam investasinya. Strategi yang dipilih akan cenderung pada strategi buy and hold atau strategi mengikuti indeks pasar (Jones, 2004). Meskipun disebut pasif, namun bukan berarti investor tidak melakukan strategi apapun. Investor pasif biasanya secara rasional akan menyeleksi saham dalam portofolionya dan melakukan penyesuaian jika risiko portofolio berubah melebihi batas toleransinya.
Seasonal anomali dalam Pasar Saham Dalam praktik perdagangan di pasar saham, dari hasil berbagai penelitian ditemukan bahwa konsep pasar efisien sering mengalami penyimpangan, yang disebut sebagai anomali pasar. Faktor penyebab dari anomali ini sulit dijelaskan secara tepat, bahkan dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan. Pada kejadian anomali pasar ditemukan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi bilamana dianggap bahwa pasar efisien benar-benar ada. Artinya, disini suatu peristiwa (event) dapat dimanfaatkan oleh investor untuk memperoleh abnormal return. Bukti empiris adanya anomali di pasar modal muncul pada semua bentuk pasar efisien, walaupun kebanyakan ditemukan pada bentuk efisien semi-kuat (Gumanti dan Utami, 2002)
Dalam teori keuangan, dikenal sedikitnya empat macam anomali pasar.
Keempat anomali tersebut adalah anomali
perusahaan (firm anomalies), anomali musiman (seasonal anomalies), anomali peristiwa atau kejadian (event anomalies), dan anomali akuntansi (accounting anomalies) ( Levy,1996 dalam Gumanti dan Utami, 2002). Penjelasan mengenai anomali pasar tersebut adalah sebagai berikut (Cahyaningdyah, 2004).
1. Size effect, adalah anomali perusahaan yang diungkapkan oleh Banz (1981) yang menunjukkan bahwa kelebihan return perusahaan yang memiliki size lebih kecil justru cenderung lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan size yang lebih besar.
2. Market to book effect, yang merupakan anomali dimana saham yang memiliki market to book yang tinggi cenderung memiliki tingkat return yang lebih besar dibandingkan dengan saham yang memiliki market to book value rendah.
3. P/E ratio effect, yaitu anomali yang menujukkan bahwa saham dengan P/
E ratio rendah justru memiliki return yang lebih tinggi dibandingkan saham dengan P/E ratio tinggi. Hal ini berlawanan dengna teori pasar efisien, sebab mestinya tidak ada hubungan antara rasio P/E dengan return. Fama dan French (1981) menemukan bahwa efek P/E ini akan hilang apabila ada kontrol yang baik atas ukuran perusahaan dan market to book perusahaan.
4. Seasonal effect, yaitu anomali yang terkait dengan waktu-waktu
perdagangan pasar yang terjadi pada pasar modal, dan dapat berupa anomali-anomali di bawah ini:
a. January effect, yaitu anomali yang menunjukkan bahwa return di bulan Januari ditemukan cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lain. Hal ini lebih besar terjadi pada perusahaan kecil dan pada lima hari pertama perdagangan di awal bulan.
b. Holiday effect, yaitu adanya kecenderungan bahwa return saham pada satu hari menjelang libur dan return saham sehari setelah libur lebih tinggi jika dibandingkan pada hari biasa.
c. Intraday effect, yaitu adanya perbedaan return saham pada suatu jam perdagangan tertentu pada hari yang sama.
d. The day of the week effect.
Yai t u p erb ed a an h ari p e r d a g a n g a n y a n g berpengaruh terhadap pola return saham dalam sepekan.
Kasus yang biasa terjadi pada jenis anomali ini adalah Monday effect dan weekend effect.
e. Turn of the month effect.
Anomali yang terjadi dimana tingkat pengembalian pada awal bulan selalu lebih tinggi atau positif jika dibandingkan pengembalian akhir bulan
yang bisa negatif. Jika terjadi pada masa sekitar pergantian tahun maka disebut pula turn off the year effect.
Secara umum, banyak peneliti yang telah menyelidiki kejadian seputar seasonal anomali , misalnya mengenai fenomena pendapatan akhir pekan (weekend effect) yang menunjukkan adanya pendapatan negatif setelah akhir pekan.
Pendapatan negatif ini diperkirakan karena adanya efek penyelesaian dan kesalahan pengukuran. Diungkap pula, bahwa pendapatan negatif sesungguhnya terjadi selama periode non-perdagangan.
Fenomena lainnya adalah January effect, yang menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga sekuritas di bulan Januari, khususnya di hari-hari pertama ( Levy,1996), efek day of the week, day of the month, juga holidays effect. penelitian seputar anomali tersebut juga telah dilakukan oleh banyak peneliti di berbagai negara (misalnya Kohers dan Kohli, 1991;
Lee dan Chang,1988 dll)
Meskipun telah diteliti cukup lama dan dilakukan di berbagai negara, hasil yang disimpulkan dari masing-masing penelitian menunjukkan perbedaan (Kohers dan Kohli, 1991). Perbedaan-perbedaan hasil penelitian ini menunjukkan adanya peluang yang masih terbuka luas untuk menggali lebih dalam mengenai fenomena anomali pasar modal seasonal tersebut, khususnya yang terjadi pada pasar modal di Indonesia. Schwert (2003) dalam Cooper dan Ovtchinnikov (2006) menyatakan bahwa anomali lain seperti weekend effect
dan weekday effect terbukti makin mengecil hingga menjadi kurang signifikan untuk tahun 2002. Namun, tidak demikian dengan January effect. Temuan ini menunjukkan bahwa dinamika yang ada pada pasar modal dapat menyebabkan perubahan-perubahan reaksi investor yang memungkinkan untuk menjadi pemicu terjadinya anomali di pasar modal.
Selanjutnya akan dibahas mengenai beberapa penelitian yang telah ada seputar anomali musiman di pasar modal. Hal ini dimaksudkan sebagai suatu bentuk telaah terhadap hasil yang telah ditemukan oleh berbagai riset mengenai anomali, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penelitian sejenis di masa datang.
Penelitian ulang yang akan datang ini dimaksudkan untuk melengkapi temuan- temuan sebelumnya dan mencoba menemukan bukti baru seputar anomali pasar modal khususnya di Indonesia, mengingat bahwa dinamika pasar modal terus berlangsung dan fungsi utama dari pasar modal adalah menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga efek yang wajar (Nuryanti, 2007), diharapkan bukti yang diperoleh dari temuan-temuan penelitian terbaru ini akan memberikan kontribusi yang berarti bagi pasar modal di Indonesia.
Weekend Effect
Dyl dan Maberly (1988) telah melakukan suatu penelitian mengenai anomali yang dikenal sebagai fenomena akhir pekan ( weekend phenomenon/
weekend effect ) yang manjadi topik
populer bagi penelitian pasar modal pada tahun 1980an. Dalam upaya meneliti weekend effect ini Dyl dan Maberly telah mempelajari beberapa penjelasan yang mungkin menjadi penyebab fenomena tersebut, dan termotivasi untuk menemukan penyebab sesungguhnya dari weekend effect.
Pada penelitian ini Dyl dan Maberly (1988) menetapkan dua hipotesis yang akan diuji, yaitu H1 : berita baik dengan berita yang kurang baik adalah sama (seimbang) untuk masing-masing periode non-perdagangan dan H2 yang menyatakan bahwa hasil yang kurang baik dan hasil yang baik secara seragam didistribusikan selama hari-hari dalam sepekan. Dari pengujian yang dilakukan, hipotesis satu sebagian ditolak, berarti bahwa pada periode non perdagangan terdapat perbedaan untuk berita baik dan berita kurang baik, yang ditemukan pada sebagian sampel. Namun, peneliti tidak bisa menolak mengenai kemungkinan bahwa ada kemungkinan informasi yang sama untuk periode non perdagangan yang lain selama seminggu.
Hipotesis kedua, ditemukan ada hasil yang kuat bahwa informasi yang kurang baik tidak secara merata didistribusikan selama sepekan, meskipun tidak terdapat bukti bahwa informasi yang baik juga tidak terdistribusi dengan merata. Bukti dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada kejadian yang tidak biasa dari informasi secara umum dan dari informasi yang kurang baik secara khusus , yang muncul pada saat akhir pekan. Fenomena ini
menyediakan penjelasan sebagian bagi weekend effect , dan mungkin masih belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Penelitian ini, masih menyisakan pertanyaan, mengapa weekend effect tetap terjadi, dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
January Effect dan Day of week effect Lee dan Chang (1988) meneliti mengenai anomali-anomali yang terjadi pada pendapatan saham selama periode perdagangan dan non perdagangan di pasar modal Korea. Penelitian tersebut dimaksudkan untuk meneliti tiga fenomena anomali, yaitu efek ukuran perusahaan, efek Januari, dan efek hari dalam sepekan (day of week). Lee dan Chang (1988) lebih termotivasi untuk meneliti mengenai anomali pasar modal di Korea karena adanya beberapa perbedaan karakter pasar modal antara Amerika dengan Korea.
Perbedaan tersebut terkait dengan empat hal. Yang pertama, mengenai perdagangan saham , dimana perdagangan saham di Amerika didominasi oleh para dealer (pialang saham), meskipun pada dasarnya perdagangan dilakukan dengan proses lelang. Dengan adanya peran pialang tersebut, harga saham menjadi terdeviasi dari harga yang sebenarnya jika transaksi mencerminkan permintaan pasar publik hanya pada satu sisi. Sementara, di Korean Stock Exchange (KSE) permintaan perdagangan dieksekusi dengan dasar proses lelang murni, baik untuk pialang maupun bid-ask spread, sehingga data pasar modal Korea tidak mengandung bias karena pengaruh penyebaran saham.
Perbedaan kedua adalah pialang saham di USA diatur oleh aturan bahwa masing-masing kutipan bid-ask harus dipertemukan dengan kriteria stabilitas dan kontinuitas untuk menjaga kerapihan pasar. Sehingga ketika terjadi suatu perubahan besar pada harga keseimbangan, harga transaksi tidak mencerminkan harga kesetimbangan secara bersamaan hingga suatu angka yang mencukupi dari suatu transaksi terjadi . Sedangkan di Korea, tidak terdapat pialang yang bertanggung jawab untuk menjaga terjadinya pasar saham yang adil dan rapi. Sehingga saat ada perubahan yang besar pada harga kesetimbangan, waktu yang mencukupi diperlukan untuk menemukan harga transaksi yang mencerminkan harga kesetimbangan. Dalam hal ini, sebagian besar perubahan harga harian terjadi pada harga transaksi yang pertama (harga pembukaan) tiap hari dan nilai absolut yang besar dari pendapatan periode non- perdagangan bisa dihasilkan selama periode penyesuaian harga.
Perbedaan karakter ketiga antara pasar modal Amerika dengan Korea adalah tidak adanya pajak pendapatan modal untuk investor individual di Korea. Sedangkan perbedaan keempat adalah pasar modal Korea buka dari hari Senin hingga Sabtu, meskipun pada hari Sabtu hanya ada sesi pagi. Sedangkan di Amerika, pasar modal buka dari Senin hingga Jum‟at. Menurut pandangan hipotesis waktu perdagangan dari Rogalski, hal ini memiliki implikasi langsung ketika periode perdagangan kembali pada hari Sabtu seharusnya
separuh dari periode perdagangan kembali untuk hari-hari lain dalam suatu pekan di Korea.
Pada penelitian ini ada tiga hipotesis yang akan diuji:1).Terdapat hubungan negatif antara ukuran perusahaan dengan pendapatan harian saham di Korea 2).Terdapat perbedaan return saham pada bulan January dibandingkan bulan-bulan lainnya pada pasar saham di Korea dan 3).Terdapat perbedaan return saham pada hari tertentu pada satu pekan pada pasar saham di Korea
Hasil pengujian menunjukkan bahwa perusahaan yang kecil di Korea, rata-rata menerima return harian yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar. Hal ini diindikasikan karena perusahaan kecil kurang berisiko dibandingkan perusahaan besar. Bukti adanya hubungan negatif antara ukuran perusahaan dengan return harian ini juga tidak diperoleh di pasar Amerika. Dari pengujian oleh Cohen, Hawawini, Maier, Schwartz dan Whitcomb beta, juga menunjukkan adanya perbedaan antara ukuran portofolio, namun terlalu kecil untuk menjelaskan besarnya return abnormal yang diterima oleh perusahaan kecil. Namun hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh ukuran perusahaan terjadi pada data pasar modal Korea, bahkan setelah dilakukan penyesuaian bias yang ditunjukkan dalam literatur.
Pengujian mengenai anomali yang terjadi pada bulan Januari juga mendapatkan bukti, bahwa January effects terjadi di pasar modal Korea, bahkan dengan kemungkinan yang kecil atas
terjadinya penjualan dengan kerugian pajak pada akhir tahun dan pengaruh tersebut terkait dengan tingginya return selama periode non-perdagangan di Januari.
Untuk pola pekanan, dalam penelitian ini dilakukan dengan menguji sepuluh ukuran portofolio. Ditemukan bahwa secara rata-rata, mean terendah penutupan-ke- penutupan terjadi pada pendapatan hari Selasa, dan mean tertinggi penutupan-ke- penutupan terjadi pada hari perdagangan terakhir pada satu pekan, yaitu Sabtu.
Sedangkan rata-rata pada periode perdagangan terenah terjadi pada hari Senin, dan rata-rata tertinggi periode perdagangan terjadi pada hari Sabtu untuk hampir keseluruhan portofolio.
Hasil pengujian secara umum menunjukkan bahwa dengan kondisi Korea yang tertutup dalam hubungan ekonomi dengan Amerika, pasar modal Korea dirasa memiliki kondisi musiman independen yang kecil. Persepsi anomali di Korea,dengan bukti internasional s e b e l u m n y a p a d a l i t e r a t u r , mengindikasikan bahwa anomali adalah fenomena umum diseluruh dunia.
Karakterisasi yang lebih rinci mengenai fenomena anomali di pasar saham Korea disediakan dengan mengubah ulang returns penutupan-ke-penutupan harian ke returns periode non perdagangan (penutupan-ke- pembukaan) dan returns periode perdagangan (pembukaan-ke-penutupan).
Efek ukuran perusahaan ditemukan untuk returns periode perdagangan, sementara itu tidak ditemukan untuk returns periode non perdagangan. Sebagian besar efek Januari
terkonsentrasi pada returns periode non perdagangan selama empat hari pertama perdagangan tahun ini. Tampaknya weak seasonality disebabkan oleh penyimpangan yang luas dari mean returns periode perdagangan pada hari Senin dan Sabtu dari keseluruhan mean returns periode p e r d a g a n g a n . H a s i l d i a t a s mengindikasikan bahwa proses yang menghasilkan return selama periode non perdagangan mungkin berbeda dari proses yang menghasilkan return selama periode perdagangan di Korea.
Hasil empiris yang dihasilkan di artikel ini ditafsirkan sebagai indikasi dari sebuah in-efisiensi di pasar saham Korea.
Fenomena anomali terjadi di dalamnya, namun, tidak selalu konsisten dengan efisiensi pasar. Mungkin terdapat beberapa faktor yang hilang pada returns saham.
Berdasarkan penyebaran dan kesamaan anomali di beberapa negara selain Korea, penafsiran tersebut dapat menyesatkan tanpa studi yang luas. Dengan demikian, penelitian selanjutnya dibutuhkan.
Pengujian formal dari hipotesis informasi tidak dilakukan dalam penelitian ini.
Dengan demikian, disarankan agar penelitian yang akan datang untuk menggunakan sampel dan informasi yang lebih lengkap dalam menyelidiki mengenai efek ukuran perusahaan, karena dalam penelitian ini dibatasi oleh terbatasnya informasi mengenai perusahaan kecil di Korea.
Penelitian ini memberi kontribusi bagi penelitian selanjutnya mengenai anomali di pasar saham Korea. Namun,
penelitian Lee dan Chang (1988) ini belum memecahkan permasalahan anomali.
Demikian juga, masih ada banyak penelitian yang harus dilakukan agar dapat menghasilkan pernyataan yang konklusif mengenai fenomena dan penyebab anomali.
January effect
Kohers dan Kohli (1991) menyelidiki tentang anomali perilaku pasar modal pada perusahaan besar di bulan Januari ( January effects). Menurut efek Januari, secara umum, rata-rata bulanan untuk return Januari secara signifikan berbeda dari laba rata-rata bulanan selama bulan- bulan lainnya dalam setahun. Kohers dan Kohli (1991) telah mendokumentasikan berbagai penelitian mengenai anomali pasar modal dari berbagai peneliti, khususnya mengenai January effect.
Mereka mencatat bahwa kebanyakan penelitian tentang efek Januari lebih terfokus pada perusahaan kecil terutama pada hari-hari awal Januari (Keim, 1983;
Reinganum, 1983).
Dengan adanya berbagai dukungan terhadap efek bulan Januari, khususnya bagi perusahaan kecil, Kohers dan Kohli terdorong untuk melakukan pengujian komprehensif mengenai efek Januari terhadap saham perusahaan besar atau melengkapi dukungan terhadap hipotesis kerugian pajak penjualan. Penelitian Kohers dan Kohli (1991) ini bertujuan untuk menginvestigasi keberadaan efek Januari bagi surat berharga perusahaan besar dengan menyediakan bukti empiris yang didasarkan pada return bulanan untuk
komposit S&P dan indeks komponen yang menunjukkan bahwa return bulanan pada indeks perusahaan besar tidak sama untuk bulan yang berbeda, yang diteliti mulai bulan Januari 1930 hingga Desember 1949.
Satu hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah : Terjadi January effect pada saham perusahaan-perusahaan besar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara rata-rata bukti menunjukkan bahwa ternyata efek Januari tetap eksis pada perusahaan besar, dan ceteris paribus, independen terhadap pengaruh ukuran perusahaan. Kemiripan hasil untuk indeks komponen S&P menunjukkan pula bahwa anomali musiman ini eksis dalam keseluruhan industri yang ditampilkan oleh indeks S&P. Namun, keterbatasan penelitian ini hanya menguatkan beberapa hasil penelitian mengenai efek Januari saja.
Tidak dijelaskan dengan lebih mendalam, apa penyebab January effect tersebut tetap terjadi pada perusahaan besar .
Day-of-the-week effect, the month of the year effect dan the day of the month effect
Risiko return yang didasarkan pada Sharpe Performance Measure untuk mengevaluasi adanya tiga anomali dalam dua indeks saham masa depan, masa depan dari indeks sintetis perusahaan yang lebih kecil, dan masing-masing indeks spot yang mendasari. Tiga anomali yang diteliti disini adalah pengaruh dari day-of-the-week, the month of the year dan the day of the month . Ketiga anomali tersebut disebut
oleh Khaksari dan Bubnys (1992) sebagai yang didokumentasikan paling luas di indeks spot.
Tujuan dari penelitian ini adalah:
pertama adalah untuk menguji apakah indeks saham masa depan dan harga spot yang mendasari adanya efek day of the week, month of the year dan day of the month. Dua efek yang terakhir belum pernah diuji sebelumnya dengan menggunakan data indeks saham masa depan. Disini Khaksari dan Bubnys juga menginvestigasi hubungan timbal balik antara harga spot dan future markets (pasar komoditas). Tujuan kedua, untuk menguji ketiga anomali tersebut dengan menggunakan tingkat penyesuaian risiko return dan juga tingkat rata-rata return.
Khaksari dan Bubnys (1992) termotivasi untuk mempertemukan beberapa metodologi yang telah diamati dan adanya ketidak-konsistenan konseptual pada penelitian-penelitian sebelumnya mengenai indeks saham masa depan dengan menggunakan variabel dan teknik yang berbeda, serta ukuran sampel yang lebih besar..
Khaksari dan Bubnys (1992) menyatakan bahwa hasil penelitiannya tidak mendukung pernyataan-pernyataan dari para otoritas yang menyatakan indeks saham komoditas (future market) lebih efisien dibandingkan dengan indeks spot karena adanya respon yang lebih tinggi terhadap perubahan harga, leverage yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah (misal Zeckhauzer dan Neiderhoffer, 1983). Khaksari dan Bubnys (1992)
menemukan bukti lebih mengenai pengaruh day of the week dan day of the month dalam perilaku harga pada indeks komoditas dibanding pada indeks kas.
Namun, January effect ditemukan lebih muncul pada indeks spot dibanding pada kontrak-kontrak di indeks saham komoditas dan lebih pada perusahaan kecil dibanding pada perusahaan yang lebih besar.
Pengaruh day of the week menurun tajam pada indeks pendapatan spot maupun future market ketika penyesuaian resiko Sharpe Performance Measure dibuat. Tetapi penggunaan Sharpe Performance Measure tidak terlalu berpengaruh dalam menurunkan the month of the year effect. Namun demikian, the day of the month effect yang tidak muncul ketika pendapatan komoditas yang belum disesuaikan dianalisis, muncul dengan kuat setelah adanya penyesuaian risiko.
Hasil temuan Khaksari dan Bubnys (1992) cenderung kurang menyepakati pernyataan yang ada pada pernyataan teori pasar efisien. Dan dari hasil penelitian ini mereka juga menunjukkan beberapa implikasi bagi investor dan regulator. Pertama, adanya anomali yang terjadi terus menerus pada pasar spot dan indeks saham pasar komoditas yang berkembang mendukung kemungkinan yang masuk akal dari strategi ketepatan portofolio jangka pendek. Satu hal yang pokok dimana pengetahuan mengenai indeks saham komoditas berguna, adalah dalam mengembangkan dan mngimplementasikan strategi hedging (lindung nilai) sebagaimana pada penelitian
Junkus dan Lee (1985) dalam Khaksari dan Bubnys (1992).
Bukti pada penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan antara distribusi pendapatan dari indeks komoditas dengan indeks spot. Sehingga, memilih indeks komoditas yang menyediakan kesesuaian terbaik dengan portofolio spot adalah hal mendesak untuk suksesnya strategi hedging. Suatu upaya yang sungguh-sungguh diperlukan untuk menetapkan modifikasi strategi hedging yang sukses diantaranya adalah akuntansi untuk biaya transaksi.
Khaksari dan Bubnys (1992) juga menyatakan bahwa anomali yang terus terjadi juga dapat berimplikasi pada kebijakan publik bagi pasar modal.
Penemuan dari pasar yang tidak efisien memberi tekanan bagi agen-agen pemerintahan untuk menetapkan regulasi pasar modal yang lebih besar, meskipun diragukan pula apakah peningkatan regulasi akan mampu menghasilkan efisiensi pasar. Penelitian ini memberikan perkembangan kontribusi yang cukup besar bagi implikasi adanya anomali pasar.
Keterbatasan yang ada pada penelitian ini adalah hanya dilakukan pada satu negara, sehingga perlu dilakukan pengujian pada negara lain yang mungkin memiliki karakteristik pasar yang berbeda.
Penutup
Penelitian pada pasar modal menunjukkan bukti bahwa anomali pada pasar modal terjadi terus menerus di berbagai negara dan menunjukkan hasil
yang seringkali tidak konsisten (Khaksari dan Bubnys, 1992). Penelitian-penelitian telah menunjukkan dukungan terhadap adanya anomali-anomali tersebut , meskipun seringkali disampaikan bahwa anomali seperti January effect, day of the week atau day of month belum dapat dijelaskan sepenuhnya mengenai faktor penyebab utamanya. Adanya anomali pasar di berbagai pasar dunia juga menunjukkan fenomena-fenomena yang bertentangan konsep pasar efisien yang menyebutkan bahwa semestinya pergerakan saham terjadi secara acak dan sulit diprediksi.
Penelitian selanjutnya dapat lebih dikembangkan agar tidak sekedar membuktikan terjadinya anomali pada pasar di suatu rejim pasar , namun lebih luas pada implikasi ataupun pemanfaatan dari anomali tersebut bagi para pelaku pasar modal di berbagai negara dengan karakter pasarnya masing-masing. Perlu pula dikaji lebih lanjut, penyebab utama dari berbagai anomali pasar yang terjadi, dengan mengembangkan metodologi penelitian ygtepat, mengingat anomali yang terjadi sifatnya sangat kondisional dan sangat tergantung pada karakter pasar modal yang diteliti.
Daftar Pustaka
Alteza, Muniya, 2007, “Efek Hari Perdagangan Terhadap Return Saham: Suatu Telaah atas Anomali Pasar Efisien”, Jurnal Ilmu Manajemen, Vol 3 No. 1, hal. 31-43.
Cahyaningdyah, Dwi, 2004, Analisis Hari Perdagangan Terhadap Return
Saham: Pengujian Terhadap Week- Four Effect dan Rogalsky Efffect di BEJ, Thesis Program Studi Manajemen Sains Ilmu-ilmu Ekonomi UGM.
Cooper,J.Mc Connell., A.OVtchinnikov, 2006, “The Other January Effect”, Journal of Financial Economics, Vol.
82, No. 2, hal. 315-341.
Dyl, Edward A., Maberly,Edwin D., 1988,
“Explanation of The Weekend Effect”, Financial Analyst Journal, Vol. 4, No. 3, hal. 83-84 .
Gumanti, Tatang Ary., Utami, Elok Sri, 2002, “Bentuk Pasar Efisien dan Pengujiannya”, puslit.petra.ac.id/
journals/accounting, diakses pada 05 April 2010.
Jones, Charles P., 2004, Investment Analisys and Management, 9th Edition, John Wiley & Sons.
Kohers, Theodor., Kohli, Raj K.., 1991,”
The Anomolous Stock Market Behavior of Large Firms in January : The Evidence from the S&P Composite and Component Indexes, Quarterly Journal of Business and Economics, Vol.30, No. 3, hal. 14-32.
Lee, Ki-Young., Chang, Chung-Sik, 1988,
“Anomalies in the Stock Returns Over Trading and Non Trading Periods: Further Evidence in The Korean Stock Market”, Quarterly Journal of Business and Economics, Vol. 27, No. 2.
Nuryanti, Yuyun Aisyah, 2007, Pengujian keberadaan, Skripsi pada Universitas Indonesia, (tidak dipublikasikan).
Abstrak
Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kinerja manajerialnya. Setiap organisasi atau perusahaan akan selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja manajerial, dengan harapan apa yang menjadi tujuan perusahaan akan tercapai. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja manajerial, tetapi dalam penelitian ini dianalisis melalui kinerja keuangan dan pengelolaan internal. Obyek dalam penelitian ini adalah BMT-BMT di Kota Semarang yang sudah diasosiasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pengelolaan internal antara BMT dengan kinerja keuangan yang baik dengan BMT dengan kinerja keuangan yang tidak baik.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pimpinan BMT di Kota Semarang yang sudah diasosiasi yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini menggunakan Metode pengambilan sensus. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis diskriminan dengan sebelumnya dilakukan uji instrumen (validitas dan relibilitas) dan uji wilk’s lamda (stepwise selection). Hasil analisis dengan menggunakan SPSS Versi 17.0 menunjukkan bahwa; ada perbedaan yang signifikan antara BMT yang berkinerja baik dengan BMT yang berkinerja tidak baik pada BMT-BMT di Kota Semarang. Berdasarkan pengujian secara statistik, hal ini dipengaruhi bagaimana Usaha Sosialisasi yang dilakukan oleh BMT-BMT tersebut.
Abstract
The success of an organization is strongly influenced by managerial performance. An organization or company will always strive to improve managerial performance, with the hope what the company's objectives will be achieved. Many factors affect managerial performance, but in this study was analyzed through its financial performance and internal management. The objects of this study is BMTs in Semarang be associated by Puskopsyah. The purpose of this study is to analyze the differences between the internal management of BMT with good financial performance and BMT with worse financial performance. The population in this study are all leaders BMTs in Semarang be associated by Puskopsyah numbering 10 people. This study uses the method of sensus taking. The methods of data collection using questionnaires. The analysis technique used is previously performed discriminant analysis to test the instrument (validity and the reliability) and Wilk 's lambda test (stepwise selection). The results of the analysis using SPSS Version 17.0 shows that; no significant differences between BMT performs well with not performing well on BMTs in Semarang. Based on statistical tests, it is influenced by how the socialization efforts undertaken by the BMTs Kata kunci:
Kinerja Keuangan, Pengelolaan Internal, Baitul Maal Wat-Tamwil
Keywords: Financial Performance, Management Internal, Baitul Maal Wat - Tamwil
BMT (STUDI KASUS PADA BMT-BMT DI KOTA SEMARANG)
Widaryanti
STIE Pelita Nusantara Semarang Email : [email protected]
Pendahuluan
Perkembangan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) sebagai lembaga keuangan mikro yang berdasarkan syariah, pada realitanya tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Secara umum, fenomena yang menonjol adalah adanya ghirah atau semangat pendirian lembaga keuangan syariah sebagai sebuah gerakan dengan profesionalisme sebagai kualitatif substansi yang semestinya secara simultan dilakukan oleh para pengelola BMT dan pengguna jasanya. Pertumbuhan yang dihasilkan BMT mengalami „pasang surut‟
permasalahan dan kesulitan dalam kegiatan usahanya.
BMT sebagai lembaga keuangan mikro, yang beroperasi dengan prinsip- prinsip syariah dalam hal ini harus menyiapkan dirinya agar mampu bertahan dan berkembang di tengah masyarakat dan di tengah persaingan lembaga keuangan lainnya. Untuk itu efisiensi pengelolaan menjadi hal yang diperlukan demi keberlangsungan usaha BMT di masa mendatang.
Beberapa BMT ada yang berbentuk koperasi atau ada juga yang merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang keuangan syariah.
Beberapa alasan penelitian tentang lembaga keuangan syariah BMT ini dilakukan adalah karena pertama, BMT banyak tersebar di beberapa daerah dan melayani banyak masyarakat tingkat bawah. Kedua, BMT merupakan cikal bakal berdirinya lembaga keuangan perbankan syariah yang
sekarang banyak berdiri. Ketiga, banyak dari anggota masyarakat yang dapat memanfaatkan keberadaan BMT tetapi masih belum bisa terlayani dengan baik karena kurang tersedianya di beberapa daerah, bahkan menurut penelitian yang dilakukan Akhyar (2002), dan berdasarkan data dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) diketahui bahwa jumlah BMT yang ada di seluruh Indonesia masih kurang memadai untuk melayani jumlah pengusaha kecil yang ada. Keempat, dilihat dari perkembangan BMT yang sudah cukup lama eksis namun disarankan bahwa kontribusi BMT bagi kesejahteraan umat masih belum memadai dan juga perkembangan BMT dari tahun ke tahun tidak menunjukkan suatu perkembangan yang berarti (Adnan, 2002).
Agusman (2000, dalam Anora 2002) mengatakan bahwa terlebih dengan banyaknya lembaga keuangan mikro lain yang menjadi pesaing BMT seperti koperasi, KUD, bahkan lembaga perbankan sendiri yang beroperasi di pedesaan, seperti BRI unit dan lain sebagainya.Sama seperti bank pada umumnya BMT juga harus diketahui kesehatannya. Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku (Totok dan Sigit, 2006). Tindakan yang perlu dilakukan BMT dapat menjalankan seluruh kegiatannya dengan baik adalah
melaksanakan pengelolaan internal, diantaranya: pendayagunaan dana, pengelolaan Baitul Maal, pengelolaan operasional, pengelolaan SDM, pelaksanaan fungsi manajemen, komitmen syariah dan usaha sosialisasi.
Dengan adanya analisa laporan keuangan dapat diketahui tingkat kinerja suatu bank, karena tingkat kinerja merupakan salah satu alat pengontrol kelangsungan hidup. Dari laporan keuangan, maka akan diketahui tingkat kinerja suatu bank (sehat atau tidak). Untuk mengetahui sehat atau tidak sehat dapat dianalisis melalui aspek yang dilakukan oleh Bank Indonesia yaitu menggunakan metode CAMEL (Capital, Asset, Management, Earning, dan Liquidity) (Kasmir, 2006). Dari latar belakang masalah tersebut, maka diambil judul
“Analisis Kinerja Keuangan dan Pengelolaan Internal BMT”(Studi Kasus Pada BMT-BMT di kota Semarang).
Perumusan Masalah
1. Dari pernyataan diatas maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
2. Bagaimanakah perkembangan kinerja keuangan BMT-BMT di Kota Semarang?
3. Bagaimanakah pengelolaan internal BMT-BMT di Kota Semarang ? 4. Apakah terdapat perbedaan
pengelolaan internal antara BMT yang berkinerja baik dengan BMT yang berkinerja tidak baik ?
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah;
1. Untuk menganalisis perkembangan kinerja keuangan BMT-BMT di Kota 2. Semarang.
3. Untuk menganalisis pengelolaan internal BMT-BMT di Kota Semarang.
4. Untuk menganalisis perbedaan pengelolaan internal antara BMT yang berkinerja baik dengan BMT yang berkinerja tidak baik.
Landasan Teori Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan dapat dikatakan sebagai hasil yang dicapai oleh perusahaan atas berbagai aktivitas yang dilakukan dalam mendayagunakan sumber keuangan yang tersedia. Kinerja keuangan dapat dilihat dari analisis laporan keuangan atau analisis rasio keuangan. Arif Habib (2008) mengemukakan bahwa: kinerja keuangan diukur dengan banyak indikator, salah satunya adalah analisis rasio keuangan.
Untuk melakukan analisis rasio keuangan tersebut diperlukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu. Rasio keuangan diperoleh dengan cara menghubungkan dua atau lebih data keuangan.
Pengukuran kinerja keuangan BMT dapat diukur dengan beberapa analisis rasio keuangan yang diterapkan oleh Bank Indonesia yaitu menggunakan metode CAMEL sebagai kriteria penilaian
kesehatan BMT. Analisa rasio CAMEL yaitu suatu analisis keuangan bank dan alat pengukuran kinerja bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk mengetahui tentang tingkat kesehatan bank yang bersangkutan dari berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank dengan menilai faktor-faktor penilaian tingkat kesehatan bank (Kasmir, 2002). Berikut ini adalah perincian dari setiap variabel yang akan dianalisis dalam analisis rasio CAMEL yaitu:
1. Capital ( Permodalan yang dimiliki BMT )
Capital adalah kriteria kecukupan permodalan. Digunakan untuk mengetahui kemampuan kecukupan modal BMT dalam mendukung kegiatan BMT secara efisien. Komponen yang diukur adalah total modal dibagi dengan simpanannya.
2. Asset ( Aktiva Produksi )
Asset adalah menilai jenis-jenis aset yang dimiliki oleh bank.
Penilaian aset harus sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dengan membandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif. Kemudian rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif diklasifikasikan. Rasio ini dapat dilihat dari neraca yang telah dilaporkan secara berkala kepada
Bank indonesia. Pengukuran dilakukan dengan mengukur kualitas aktiva produktif yang substansinya didominasi oleh komponen pembiayaan.
3. Manajemen (Management)
Aspek manajemen pada penilaian kinerja lembaga keuangan dalam penelitian ini tidak dapat menggunakan pola yang ditetapkan BI tetapi sesuai dengan data yang tersedia diproyeksikan dengan Net Profit Margin.
4. Earning (Rentabilitas)
Earning adalah kemampuan bank dalam meningkatkan labanya, apakah setiap periode atau untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Bank yang sehat yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat. Penilaian juga dilakukan dengan :
a. Rasio laba terhadap total asset (ROA)
b. Perbandingan biaya operasi dengan pendapatan operasi (BOPO)
5. Likuiditas (Liquidity)
Sebuah bank dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan dapat membayar semua hutang- hutangnya, terutama simpanan tabungan, giro dan deposito pada saat ditagih dan dapat pula memenuhi semua permohonan pembiayaan
yang layak dibiayai. Secara umum rasio ini merupakan rasio antara jumlah aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar. Yang dianalisis dalam rasio ini, adalah :
a. Rasio kewajiban bersih call money terhadap aktiva.
b. Rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh bank, seperti : giro,tabungan, deposito, dan lain- lain.
Pengelolaan Internal BMT
Dalam hal pengelolaan operasional BMT pada penelitian ini, dengan mengacu pada konsep tentang tugas-tugas perbankan, unsur kredibilitas dan profesionalitas sebuah lembaga keuangan sebagaimana menurut Saadah (1996), Fitri (1998), Team Kofesmid (2000) dan Karim (2002) dapat disimpulkan bahwa elemen kegiatan pengelolaan dalam operasional BMT dijabarkan dalam beberapa kegiatan yang menyangkut:
1. Pendayagunaan dana
Arifin (2000) berpendapat bahwa pendayagunaan dana dapat diterjemahkan sebagai usaha mendayagunakan dana yang berhasil dihimpun oleh BMT. Hal tersebut merupakan bagian dari fungsi manajemen keuangan yaitu fungsi penggunaan dana/
keputusan investasi atau capital budgeting, dan fungsi mendapatkan dana/keputusan pembelanjaan (Husnan, 1994). Adapun indikator atau ukuran pendayagunaan yaitu besarnya kekayaan bank syariah yang
menghasilkan pendapatan (aktiva produktif), besarnya kekayaan yang tidak menghasilkan, yaitu kas dan inventaris (aktiva tetap), besarnya modal bank, besarnya simpanan atau hutang dari pihak lain, banyaknya pendapatan usaha keuangan bank syariah berupa bagi hasil, mark up, fee dari jasa-jasa bank serta pendapatan administrasi yang diterima serta besarnya biaya yang harus dipikul meliputi biaya operasi, biaya gaji, manajemen, kantor dan bagi hasil bagi nasabah penyimpan dana (Arifin, 2000).
2. Pengelolaan Baitul Maal
Pengelolaan baitul maal dapat diartikan sebagai kegiatan operasional BMT yang menghimpun dana dari masyarakat untuk kepentingan kesejahteraan umat. Lembaga ini berorientasi sosial keagamaan sehingga tidak dapat dimanipulasi untuk kepentingan bisnis (profit oriented). Peran baitul maal dalam BMT yaitu sebagai fasilitator pembayar zakat dengan orang yang berhak menerima, penampung dan penyalur harta infaq dan shadaqah/ sedekah, berperan dalam usaha peningkatan bidang kesejahteraan umat seperti bantuan pembangunan sarana peribadatan, penyaluran bea siswa, santunan kesehatan (Ilmi, 2002).
3. Pengelolaan Operasional
Pengelolaan operasional BMT dapat diartikan sebagai sejauh mana BMT melakukan kegiatan operasional sehari- harinya dengan menggunakan segala fasilitas yang ada yang terkait dengan
bagaimana job description dan job specification dilakukaan. Elemen kegiatan pengelolaan operasional suatu usaha meliputi perencanaan fasilitas, perencanaan sistem kerja, penjadwalan dan penugasan (Herjanto, 1999). Kegiatan operasional ditinjau dari proses kerjanya, adalah meliputi desain jasa dan manajemen jasa (Ramaswamy,1996). Aktifitas-aktifitas dalam desain jasa dan manajemen jasa yang cukup penting yaitu pengembangan desain, penilaian kepuasan dan peningkatan kinerja. Dalam sistem operasional lembaga keuangan syariah, pengelolaan operasional berkaitan dengan bagaimana kerja dan optimalisasi masing-masing bagian dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Berdasarkan pengertian diatas, pengelolaan operasional yang berkaitan dengan karakteristik, kerja BMT antara lain perencanaan fasilitas, perancangan sistem kerja, penjadwalan dan penugasan serta penilaian kepuasan.
4. Pengelolaan SDM
Pengelolaan SDM di BMT dapat diartikan sebagai kemampuan BMT dalam mengelola aspek sumber daya manusia sebagai motor penggerak utama BMT dalam menentukan keberhasilan BMT.
Salah satu permasalahan internal BMT adalah adanya kualitas SDM yang terbatas (Suryanto, 2002). Ilmi (2002), bahwa sebab utama adanya deviasi (penyimpangan) dalam praktek lembaga keuangan mikro syariah adalah kurangnya pemahaman prinsip-prinsip syariah yang menjadi
“frame of reference”dalam BMT oleh
sebagian besar pengelola BMT sendiri.
Dessler (1997) mengidentifikasi bahwa kegiatan manajemen SDM untuk membangun keunggulan bersaing perusahaan adalah meliputi bagaimana melakukan analisis jabatan, merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan perekrutan, menata olah kompensasi karyawan, komunikasi dan hubungan masyarakat, manajemen kinerja, sistem rewad-benefit, membangun komitmen karyawan dan pengembangan karyawan dan organisasi.
Jika dijabarkan dalam pengelolaan BMT meliputi pemberian sistem rewead, pemberian kesejahteraan bagi karyawan, penarikan tenaga kerja yang berkompeten, pengembangan karyawan dengan pelatihan yang diikuti karyawan berkaitan dengan prinsip operasional lembaga keuangan syariah, pengembangan karyawan dengan pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan ZIS (Zakat, Infaq dan Shadaqah), evaluasi secara rutin dari rapat anggota BMT, dewan pengurus dan dengan pengelola BMT mengenai kinerja yang dicapai.
5. Pelaksanaan Fungsi Manajemen
Pelaksanaan fungsi manajemen dapat diartikan sebagai bagaimana BMT mengelola aspek pengorganisasian sebaik- baiknya melalui penerapan fungsi manajemen. Handoko (2003), pelaksanaan fungsi manajemen terdiri dari Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan dan Pengawasan. Muhammad (2000), implikasinya dalam lembaga keuangan syariah khususnya BMT antara lain
perencanaan untuk mencapai tujuan manajemen, pengorganisasian dalam pengembangan organisasi syariah meliputi pembagian kerja yang logis, penetapan garis tanggung jawab dan wewenang yang jelas, serta pengurus yang amanah serta pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan pimpinan untuk mengambil keputusan.
6. Komitmen Syariah
Komitmen syariah dapat diartikan sebagai sejauh mana penerapan prinsip- prinsip dasar operasional syariah yaitu:
sistem simpanan, bagi hasil, marjin keuntungan, sewa jasa, dalam mengelola suatu lembaga keuangan syariah.
Muhammad (2000) mengidentifikasi bahwa penerapan prinsip dasar operasional syariah tersebut meliputi pemahaman pengelola tentang ke-mudharat-an sistem bunga, pemahaman pengelola mengenai konsep dasar akad syariah yang menjadi dasar produk-produk lembaga keuangan syariah yang ditawarkan.
7. Usaha Sosialisasi
Usaha sosialisasi dapat diartikan sebagai aspek sosialilasi BMT kepada masyarakat mengenai keberadaan BMT dalam upaya meningkatkan minat masyarakat untuk menjadi calon nasabah BMT. Dalam hal pelaksanaan aspek sosialisasi BMT, diperlukan suatu usaha untuk memasarkan produk BMT sehingga dapat memantapkan positioning BMT di tengah persaingan yang ada. Jika dalam pemasaran dikenal istilah bauran pemasaran yang meliputi produk, harga,
distribusi dan promosi, maka usaha sosialisasi BMT dapat lebih dikhususkan kepada kegiatan promosinya. Menurut Kotler (2002) bauran promosi terdiri dari lima unsur utama, yaitu: pengiklanan, personal selling, hubungan masyarakat dan publisitas, pemasaran langsung dan promosi penjualan. Kegiatan tersebut jika diimplementasikan dalam kegiatan BMT meliputi penentuan media promosi, publisitas dan hubungan masyarakat.
Kerangka Pemikiran Teoritis
Dalam penelitian ini, laporan keuangan pada BMT dilihat perkembangan kinerja keuangan BMT dan pengelolaan internal BMT, untuk mengetahui apakah kinerja yang dilakukan BMT sudah baik atau belum. Laporan keuangan BMT dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui kinerja BMT sudah berjalan dengan baik atau belum. Indikator dari kinerja ini diukur dengan menggunakan tingkat kesehatan BMT menggunakan metode CAMEL. Pengelolaan internal pada penelitian ini mengacu pada konsep tentang tugas-tugas perbankan, dengan tujuh elemen yaitu: pendayagunaan dana, pengelolaan baitul maal, pengelolaan operasional, pengelolaan SDM, pelaksanaan fungsi manajemen, komitmen syariah dan usaha sosialisasi. Analisis diskriminan merupakan metode yang digunakan untuk membedakan BMT yang berkinerja baik dengan BMT yang berkinerja tidak baik.
Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan yang akan diuji kebenarannya dan dipakai sebagai pedoman dalam pengumpulan data.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1 : Diduga terdapat perbedaan pengelolaan internal BMT yang berkinerja baik dengan BMT yang berkinerja tidak baik
Kinerja Keuangan
Capital (permodalan BMT)
Asset (aktiva produksi)
Management
Earning (rentabilitas)
Liquidity (likuiditas)
Pengelolaan internal BMT
Pendayagunaan dana
Baitul Maal
Operasional
SDM
Fungsi manajemen
Komitmen Syariah
Usaha sosialisasi
Analisis Diskriminan
BMT yang berkinerja baik BMT yang berkinerja tidak baik
Pengelolaan internal BMT
Pendayagunaan dana
Baitul Maal
Operasional
SDM
Fungsi manajemen
Komitmen Syariah
Usaha sosialisasi
Kesimpulan
Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Metode Penelitian
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
No Variabel Indikator / pengukuran
1 Kinerja
Keuangan Capital (permodalan)
(Kasmir, 2002)
2. Asset
(Kualitas Aktiva
Produktif) Nilai Kredit = Rasio KAP x 1 = (Kasmir, 2002)
3. Management
(manajemen)
Nilai Kredit = Raasio NPM (Kasmir, 2002)
4. Earning Rasio laba terhadap total asset (ROA)
Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
(Kasmir, 2002)
5. Liquidity Rasio Kredit yang diberikan terhadap dana yang diterima (Loan to Deposito Ratio / LDR)
Nilai Kredit = (115 – Rasio LDR) x 4 (Kasmir, 2002)
Tabel 1
Variabel dan Indikator
Penentuan Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua BMT di kota Semarang yang sudah berasosiasi di Puskopsyah Jawa Tengah yang berjumlah 10 BMT. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sensus yaitu pengambilan sampel dengan cara mengambil semua populasi menjadi sampel yaitu 10 BMT.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang diperlukan berupa kinerja keuangan BMT dan tingkat pengelolaan internal BMT. Data primer yang diperoleh berupa jawaban atas kuesioner dan hasil wawancara dengan pimpinan/pengelola BMT, sedangkan data sekunder berupa laporan keuangan masing- masing BMT.
6.
Pengelolaan
internal Pendayagunaan dana Aktiva produktif.
Aktiva tetap.
Besarnya modal bank.
Besarnya simpanan atau hutang dari pihak lain.
Banyaknya pendapatan usaha keuangan bank syariah.
Besarnya biaya yang harus dipikul.
(Arifin, 2000) 7.
Pengelolaan Baitul
Maal
Fasilitator pembayar zakat.
Penampung dan penyalur harta infaq dan shadaqah.
Bantuan pembangunan sarana peribadatan Penyaluran bea siswa
Santunan kesehatan (Ilmi, 2002) 8.
Pengelolaan
Operasional Perencanaan fasilitas.
Perencanaan sistem kerja.
Penjadwalan dan penugasan.
Penilaian kepuasan.
(Herjanto1999) 9.
Pengelolaan SDM Pemberian sistem rewad.
Pemberian kesejahteraan bagi karyawan.
Penarikan tenaga kerja yang berkompeten.
Pengembangan karyawan dengan pelatihan prinsip operasional lembaga keuangan syariah.
Pengembangan karyawan dengan pelatihan pengelolaan ZIS.
Evaluasi secara rutin dari rapat anggota BMT mengenai kinerja yang dicapai.
(Suryanto,2002)
10. Pelaksanaan Fungsi
Manajemen Perencanaan untuk mencapai tujuan tujuan manajemen.
Pengorganisasian dalam pengembangan organisasi syariah.
(Muhammad, 2000).
11.
Komitmen syariah Pemahaman pengelola tentang ke-mudharat-an sistem bunga.
Pemahaman pengelola mengenai konsep dasar akad syariah.
(Muhammad, 2000).
12.
Usaha sosialisasi Media promosi.
Publisitas dan hubungan masyarakat.
(Kottler, 2002).
Sumber : data primer yang diolah
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan kuesioner.
Metode Analisis Uji Validitas
Uji Validitas adalah tingkat dimana suatu alat pengukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Supardi, 2005).
Alat untuk mengukur validitas adalah Korelasi Product Moment dari Pearson.
Suatu indikator dikatakan valid, apabila n = 61 dan α = 0,05 , maka r tabel = 0,…..
dengan ketentuan (Supardi, 2005) : Hasil r hitung > r tabel (0,...) = valid Hasil r hitung < r tabel (0,...) = tidak valid Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih (Supardi, 2005). Suatu alat ukur disebut mempunyai reliabilitas tinggi atau dapat dipercaya, jika alat ukur itu mantap, dalam pengertian bahwa alat ukur tersebut stabil, dapat diandalkan dan dapat diramalkan.
Alat untuk mengukur reliabilitas adalah Alpha Cronbach. Suatu variabel dikatakan reliabel, apabila (Nurgiyantoro, 2004) : Hasil α 0,60 = reliabel.
Analisis Diskriminan
Analisis diskriminan (discriminant analysis), yaitu merupakan salah satu metode yang digunakan dalam analisis multivariat. Dalam analisis diskriminant
terdapat dua jenis variabel yang terlibat yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas dalam analisis diskriminan berupa data metrik (interval dan rasio) sedangkan variabel terikatnya berupa data non metrik (nominal dan ordinal). Oleh karena itu, analisis diskriminan termasuk ke dalam analisis multivariat metode dependensi (Sharma, 1996). Dalam penelitian ini sampel yang digunakan < 30 responden, maka jenis analisisnya menggunakan analisis diskriminan nonparametrik (Nonparametrik Discriminant Analysis) dengan ketentuan:
data tidak terdistribusi secara normal, variant tidak sama, skala pengukuran analisis ini menggunakan ordinal atau nominal (Ghozali, 2002).
Tujuan dari analisis diskriminan adalah:
1. Mengidentifikasi variabel-variabel yang mampu membedakan antara kedua kelompok.
2. Menggunakan variabel-variabel yang telah teridentifikasi untuk menyusun persamaan atau fungsi untuk menghitung variabel baru atau indek yang dapat menjelaskan perbedaan antara dua kelompok.
3. Menggunakan variabel yang telah teridentifikasi atau indeks untuk mengembangkan aturan atau cara mengelompokkan observasi di masa datang kedalam satu dari kedua kelompok.
Hasil Dan Pembahasan Profil Responden
Uji Validitas
Tabel 2
Nama, Alamat dan Pimpinan BMT Di Kota Semarang
Sumber : Puskopsyah Jawa Tengah
No Nama BMT Alamat Pimpinan
1. BMT Anda Suyodono No. 68 Bpk Moh Reza
2. BMT At-Takwa Jln Halmahera 3 No. 14 Bpk Sumitro
3. BMT Binama Jln Tlogosari Raya 1 Bpk Kartiko
4. BMT Bondotumotu Gununng Pati Ibu Atik Kartikasari
5. BMT Damar Jln Wisma Sari Raya No.8 Bpk Moh Jaenuri 6. BMT Fosilatama Jln Cemara Raya No.1
Banyumanik Bpk Budiharjo SH
7. BMT Hudatama Jln Tumpang Raya No.140 Bpk Khoiridin Spd 8. BMT Ki Ageng PandanaranJln Mugas Dalam No.11 Bpk Mariono SE 9. BMT Pasadena PKL Gatot Subroto Pasadena Bpk H. Edi Sutanto 10. BMT Walisongo Jln Papandayan 855 Semarang Bpk Yusup SE
Tabel 3
Hasil Uji Validitas Variabel Penelitian
Sumber : Data primer yang diolah, 2012
Variabel Item Pearson correlation Status
Pendayagunaan dana X1.1 0.920 Valid
X1.2 0.776 Valid
X1.3 0.808 Valid
X1.4 0.755 Valid
X1.5 0.900 Valid
X1.6 0.760 Valid
Pengelolaan Baitu Maal X2.1 0.645 Valid
X2.2 0.645 Valid
Pengelolaan Operasional X3.1 0.923 Valid
X3.2 0.686 Valid
X3.3 0.814 Valid
Pengelolaan SDM X4.1 0.857 Valid
X4.2 0.880 Valid
X4.3 0.761 Valid
X4.4 0.790 Valid
X4.5 0.761 Valid
Pelaksanaan Fungsi
Manajemen X5.1 0.749 Valid
X5.2 0.695 Valid
X5.3 0.742 Valid
Komitmen Syariah X6.1 0.677 Valid
X6.2 0.677 Valid
Usaha Sosialisasi X7.1 0.643 Valid
X7.2 0.643 Valid
Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk melihat kehandalan instrumen /indikator sebagai alat pengumpul data. Ketentuan yang digunakan yaitu Cronbach’s Alpha ≥ 0,60 adalah reliabel dan Cronbach’s Alpha < 0,60 tidak reliabel (Nurgiyantoro,2004).
Tabel 4
Hasil Uji Reliabilitas
Sumber : Data primer yang diolah, 2012 Metode CAMEL
Berdasarkan nilai CAMEL keselu- ruhan, ditetapkan empat golongan predikat tingkat kesehatan bank sebagai berikut :
Tabel 5
Tingkat Kesehatan Menurut CAMEL
Sumber : Lukman, 2009
Tabel 6 Formula CAMEL
Sumber : Slamet, 2006
Penjumlahan nilai CAMEL yang telah dikalikan dengan bobotnya masing- masing seperti diuraikan di atas akan diperoleh nilai CAMEL secara keseluru- han. Selanjutnya, nilai CAMEL ini dapat Variabel Hasil Keterangan
Pengelolaan Internal
0,922 Reliabel Pendayagunaa
n Dana 0,933 Reliabel
Pengelolaan Baitul Maal
0,78 Reliabel Pengelolaan
Operasional 0,893 Reliabel Pengelolaan
SDM
0,925 Reliabel Pelaksanaan
Fungsi 0,853 Reliabel
Komitmen Syariah
0,804 Reliabel Usaha
Sosialisasi 0,783 Reliabel
Nilai Kredit CAMEL Predikat
81% - 100% Sehat
66% - < 81% Cukup Sehat 51% - < 66% Kurang Sehat
0% - < 51% Tidak Sehat
No Faktor-faktor yang dinilai
Komponen Bobot 1. Permodalan Rasio equity
capital dan fixed assed terhadap loans dan securities
25%
2. Kualitas Aktiva Produktif
Rasio laba sebelum pa- jak terhadap loans dan
30%
securities 3. Manajemen Rasio laba
bersih terha- dap penda- patan opera- sional
25%
4. Rentabilitas Rasio laba sebelum pajak terha- dap total as- set
5%
Rasio
laba opera- sional terha- dap penda- patan
operasional 5. Likuiditas Rasio total
kredit terha- dap total dana pihak ketiga
25%
Jumlah 100%