• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Singkat Perusahaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Gambaran Umum Objek Penelitian Profil Singkat Perusahaan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. Profil Singkat Perusahaan

PT. Sinar Sosro merupakan perusahaan minuman teh dalam kemasan botol yang pertama di Indonesia. Perusahaan ini pertama kali didirikan pada tahun 1974 yang terletak di kawasan Cakung, Bekasi.

Hingga saat ini PT. Sinar Sosro telah memiliki 10 pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia dan delapan jenis produk unggulan. Untuk mendukung pemasaran produk-produknya, PT. Sinar Sosro memiliki beberapa kantor penjualan, salah satunya adalah PT. Sinar Sosro Kantor Penjualan Wilayah (KPW) Jawa Barat Selatan yang beralamat di jalan Soekarno Hatta no. 325-327, Bandung. Tujuan perusahaan yang sudah mulai beroperasi sejak tahun 1989 ini adalah menjadikan produk Sosro menjadi raja minuman ringan untuk daerah Jawa Barat Selatan. Selain itu juga untuk mempermudah dan memperlancar proses penjualan, sehingga pelayanan terhadap konsumen yang ada di sekitar wilayah ini akan lebih cepat. PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan memasok produk dari tiga pabrik Sosro, antara lain pabrik Cakung, pabrik Cibitung, dan pabrik Tambun. Setiap pabrik tersebut memproduksi produk yang berbeda. PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan juga memiliki 4 distributor yang menjual produk ke agen dan ritel, yaitu CV. Projasa Megamas di Bandung, CV. Tulus Maju di Bogor, CV. Sumber Makmur di Tasikmalaya, dan SIT (Garut, Sumedang, dan Banjar). (Sumber: Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012:1).

(2)

2 1.1.2. Visi, Misi, Sistem Nilai Perusahaan

Visi, misi, dan sistem nilai PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan yaitu:

a. Visi Perusahaan

“Menjadi perusahaan minuman yang dapat melepaskan rasa dahaga konsumen, kapan saja, dimana saja, serta memberi nilai tambah kepada pihak terkait”.

b. Misi Perusahaan

1) Membangun merek “Sosro” sebagai merek teh yang alami, berkualitas dan unggul.

2) Melahirkan merek dan produk minuman baru, baik yang berbasis teh atau non teh dan menjadikannya pemimpin pasar dalam kategorinya masing-masing.

3) Membangun dan memimpin jaringan distribusi.

4) Menciptakan dan memelihara komitmen terhadap pertumbuhan jangka panjang, baik dalam volume penjualan atau dalam penciptaan pelanggan.

5) Membangun sumber daya manusia (SDM) dan melahirkan pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan.

6) Memberikan kepuasan kepada para pelanggan.

7) Menyumbang devisa ke negara.

c. Sistem Nilai

Nilai-nilai utama PT. Sinar Sosro KPW. Jawa Barat Selatan merupakan pernyataan eksplisit dari organisasi perusahaan sebagai pedoman dalam bekerja yang diyakini, dihayati, dan diamalkan sebagai

(3)

3

landasan moral dalam berpola pikir, berkomunikasi, dan bertindak atau berperilaku para karyawan. Nilai-nilai tersebut antara lain:

1) Niat baik 2) Kejujuran 3) Integritas

4) Pelanggan adalah yang utama 5) Kerjasama tim

1.1.3. Jenis Produk

Tabel 1.1 merupakan jenis produk PT. Sinar Sosro:

TABEL 1.1 JENIS PRODUK SOSRO

No Kode Produk Nama Produk Jenis Produk

1 TB Teh Botol Sosro TBO150, TBK200, TBK250, TBK1L, TBK LESS, TBE LESS, TBK330, TBE R

2 FT Fruit Tea FTG200, FTC318, FTE500,

FTE300, FTO230

3 TS Tebs TSC330, TSE500

4 JT Joy Tea JT500, JT300

5 HJ Happy Jus HJG200, HJE300

6 CC Country Choice CCE300, CC250, CC1L

7 ST S-Tee ST

8 PA Prima PA

Sumber: (Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012)

(4)

4 1.1.4. Struktur Organisasi Perusahaan

Gambar 1.1 merupakan struktur organisasi PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan:

GAMBAR 1.1

STRUKTUR ORGANISASI PT. SINAR SOSRO KPW JAWA BARAT SELATAN

Sumber: (Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012)

General Manager

Personalia dan General Affair Manager

Area Sales Manager 1

Area Sales Manager 2

Area Sales Manager 3

Unit Manager:

KP Bogor KP Cibinong KP Sukabumi

Unit Manager:

KP Bandung 1 KP Bandung 2 KP Cimahi KPP Banjaran

Unit Manager:

KP Rancaekek KP Tasikmalaya KPP Sumedang KPP Garut

Area Sales Manager Distributor

Sales SPV Distributor

MSM

General Manager General

Manager

General Manager General

Manager

General Manager

AFM

ASS AFM

SPV Accounting SPV Finance SPV Logistik Ass Personalia

dan General Affair Manager

M & S SPV (SDK) SPV Personalia

Area

Ass SPV

Personalia SPV Trainee SSS KPP CIanjur

SSS KPP Banjar

(5)

5 1. 2. Latar Belakang Penelitian

Era globalisasi saat ini, pelaku industri tidak akan menghasilkan performa maksimal jika hanya mengandalkan kompetensi internalnya saja, namun peran semua pihak (supplier, pabrik, distributor dan ritel) dari hulu hingga hilir juga menjadi salah satu penentu kesuksesan suatu perusahaan (Pujawan, 2010:4). Untuk mengoptimalkannya, dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang sama mengenai kontrol peran masing-masing pihak atau yang biasa disebut dengan supply chain management (Jacobs dan Chase, 2011:53). Borut (2008) dan Jain (2010) mengemukakan bahwa dengan supply chain yang efektif, perusahaan dapat bersaing dalam pasar global.

Banyak perusahaan yang mulai menggunakan konsep supply chain dalam mengatur bisnisnya saat ini (Mas’udin, 2008). Sejalan dengan praktek supply chain dalam dunia bisnis yang berkembang pesat, ilmu supply chain management juga mengalami perkembangan yang signifikan (talentaindonesia, 2010). Bahkan, supply chain management sudah mengarah pada pemanfaatan internet atau jaringan untuk meningkatkan kreatifitas, information sharing, dan kolaborasi antar pihak-pihak yang terlibat (Jain, 2010).

Namun pengelolaan supply chain masih belum berjalan dengan maksimal di Indonesia (Nas, 2011). Beberapa hal yang menyebabkannya antara lain birokrasi yang tidak konsisten, infrastruktur yang kurang mendukung, sedikitnya orang-orang yang berkompeten, serta kurangnya komunikasi pemerintah dengan kalangan industri dan akademisi. Dampaknya pada era globalisasi saat ini adalah semakin besarnya tantangan perusahaan-perusahaan nasional dalam aspek supply chain, karena pelaku bisnis luar negeri yang masuk ke dalam pasar Indonesia semakin banyak (id88db, 2009).

(6)

6

PT. Sinar Sosro merupakan salah satu perusahaan nasional dan pelopor teh siap minum dalam kemasan botol yang pertama di Indonesia (Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012). Hingga saat ini, PT. Sinar Sosro telah memiliki delapan jenis produk minuman yang dijual, antara lain Teh Botol Sosro, Fruit Tea, Joy Tea, Happy Jus, Tebs, Country Choice, S-tee, dan Prima.

PT. Sinar Sosro memiliki pangsa pasar paling tinggi pada produk teh dalam kemasan siap minum, yaitu sebesar 60% di tahun 2012 dan stabil selama lima tahun terakhir (Suwismo, 2012). Produk-produk Sosro yang masuk pada Top Brand Award selama lima tahun terakhir dan perbandingannya dengan produk lain dapat dilihat pada Tabel 1.2.

TABEL 1.2

BRAND INDEX PRODUK-PRODUK SOSRO TAHUN 2009-2013

No Produk

Top Brand Indekx

2009 2010 2011 2012 2013 Teh dalam kemasan siap minum

1 Teh Botol Sosro 62,5% 51,8% 59,5% 49,6% 59,5%

2 Frestea 12,5% 14,8% 10,7% 14,4% 10,4%

3 Mountea <4,5% <5,2% 7,7% 8,3% 5,0%

4 Fruit Tea Sosro <4,5% <5,2% 5,8% 6,4% 3,9%

Teh hijau dalam kemasan siap minum

1 Nu Green Tea 37,5% 33,9% 37,5% 43,7% 46,2%

2 Frestea Green 26,4% 26,8% 34,6% 29,3% 26,7%

3 Joy Tea Sosro <0,8% 26,3% 18,3% 16,7% 17,9%

Sumber: (Top Brand Award, 2009-2013)

Berdasarkan Tabel 1.2, Teh Botol Sosro memiliki brand index paling tinggi pada pasar teh dalam kemasan siap minum selama lima tahun berturut-turut dari 2009 sampai 2013. Selain itu, Joy Tea Sosro

(7)

7

masuk kedalam peringkat tiga besar dalam pasar teh hijau kemasan siap minum dengan nilai brand index sebesar 17,9% pada tahun 2013.

Jaringan distribusi yang luas merupakan salah satu alasan mengapa PT. Sinar Sosro masih sulit disaingi (tempointeraktif, 2008). Peta jaringan distribusi nasional dan internasional PT. Sinar Sosro dapat dilihat pada Gambar 1.2.

GAMBAR 1.2

PETA DISTRIBUSI NASIONAL DAN INTERNASIONAL PT. SINAR SOSRO

(Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012).

Gambar 1.2 membuktikan luasnya jaringan distribusi PT. Sinar Sosro dimana produk-produknya telah masuk ke pasar nasional

Peta Distribusi Nasional PT. Sinar Sosro

Peta Distribusi Internasional PT. Sinar Sosro

(8)

8

maupun internasional, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Timur Tengah, Afrika, Australia, dan Amerika. Luasnya jaringan distribusi PT. Sinar Sosro juga dapat dilihat dari jumlah pabrik yang mencapai 10 buah, 13 Kantor Penjualan Wilayah (KPW), 141 Kantor Perwakilan Penjualan (KPP) dan lebih dari 1.000 distributor (Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012).

Tantangan dalam mengelola supply chain berkaitan dengan semakin banyaknya pihak-pihak yang terlibat dan cakupan kegiatan yang semakin luas (Pujawan, 2010:20). Produk-produk Sosro yang telah merambah pasar nasional dan internasional, membuat pihak yang terlibat di dalam maupun diluar PT. Sinar Sosro semakin banyak dan cakupan kegiatan dalam supply chain management menjadi sangat luas, sehingga tantangan yang dihadapi PT. Sinar Sosro dalam aspek supply chain semakin besar.

Salah satu tantangan dalam supply chain management yang dihadapi perusahaan nasional atau multinasional adalah ketidakpastian permintaan (Pujawan, 2010:20). Menyesuaikan penawaran dengan permintaan pada lingkungan yang kompleks dan dinamis menjadi tantangan yang sulit bagi banyak perusahaan (Jain, 2010). Sebuah ritel tidak bisa memiliki informasi yang pasti berapa banyak suatu produk terjual pada hari atau minggu tertentu. Pesanan dari ritel ke distibutor juga tidak pernah pasti karena berbagai faktor. Bahkan semakin ke hulu ketidakpastian ini biasanya semakin meningkat. Peningkatan variabilitas permintaan yang terjadi pada setiap level supply chain ini dinamakan bullwhip effect (Susilo, 2008).

Struktur rantai pasok dapat mempengaruhi bullwhip effect.

Semakin panjang dan kompleks struktur suatu supply chain (rantai pasok), semakin besar kemungkinan terjadi bullwhip effect (Pujawan,

(9)

9

2011:219). PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan sebagai salah satu jaringan distribusi Sosro memiliki struktur supply chain yang cukup panjang. Gambar 1.3 merupakan struktur rantai pasok PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan.

GAMBAR 1.3

STRUKTUR RANTAI PASOK

PT. SINAR SOSRO KPW JAWA BARAT SELATAN

Sumber: (Profil Perusahaan PT. Sinar Sosro KPW Jabar Selatan, 2012:1) Rantai pasok PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan memiliki tujuh eselon (kategori pihak dalam rantai pasok) yang dimulai dari

Supplier teh (PT. Gunung Slamat)

Supplier olahan teh (PT. Agro Pangan)

Pabrik Cakung Pabrik Cibitung Pabrik Tambun

KPW Jabar Selatan

Distributor PJA Distributor TMB

Distributor SMR Distributor SIT

Ritel

AgenRitel Konsumen

Konsumen Ritel

Agen Ritel

Agen Ritel

Agen

Ritel Konsumen

Konsumen Ritel Konsumen

Konsumen Ritel Konsumen

Konsumen

= Aliran pengiriman produk

= Aliran informasi pemesanan

= Aliran pengiriman produk dan informasi

pemesanan Eselon 1

Eselon 6 Eselon 5 Eselon 4 Eselon 2

Eselon 3

Keterangan:

Eselon 7

(10)

10

supplier teh, supplier olahan teh, pabrik, KPW, distributor, agen, dan ritel. Distributor melakukan pemesanan ke KPW, lalu KPW merespon permintaan tersebut dan memesannya ke pabrik. Pabrik memesan bahan baku teh ke supplier, lalu memproduksi dan mengirim pesanan tersebut ke distributor. Distributor menjual produknya ke agen atau ritel, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen akhir. Berdasarkan jumlah rantai pasok PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan yang cukup panjang (tujuh eselon), maka kemungkinan bullwhip effect produk-produk Sosro cukup besar.

Selain struktur rantai pasok, harga yang fluktuatif juga dapat menyebabkan timbulnya bullwhip effect (Borut, 2008). Jika harga sedang turun, maka pembeli akan membeli dalam jumlah banyak sampai stok menumpuk. Ketika harga naik, pembeli menunda pembelian sampai persediaannya habis terjual kembali. Akibatnya permintaan tersebut tidak mencerminkan pola konsumsi pelanggan yang sebenarnya (Susilo, 2008). Tabel 1.3 adalah program promosi PT Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan ke distributor tahun 2012 yang menyebabkan fluktuasi harga.

TABEL 1.3

PROGRAM PROMOSI PT. SINAR SOSRO KPW JAWA BARAT SELATAN KE DISTRIBUTOR TAHUN 2012

Bulan ke-

Program Promosi untuk Distributor*

Produk

1 - -

2 - -

3 Beli 10 gratis 1 FTG, JT300, HJE300, CCE300 4 Beli 10 gratis 1 FTE300, CC250

5 Beli 10 gratis 1 TBK250, FTE500, HJG 6 Beli 10 gratis 1 TBO150, TBE R, FTG, JT300

(Bersambung)

(11)

11

(Sambungan) Bulan

ke-

Program Promosi untuk Distributor*

Produk 7 Beli 8 gratis 1 FTC, TSC, JT500

8 - -

9 Beli 10 TBK250, HJE300

10 Beli 10 gratis 1 TBK200, FTE300, HJE300, CC250 11 Beli 8 gratis 1 TB1lt, FTC, TSC, JT500

12 Beli 10 gratis 1, Beli 4 gratis 1 TBE R, Beli JT500 gratis JT300

FTG, HJE300 JT500 Catatan:

* Dalam karton

Sumber: (Sales Distributor PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012) PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan melaksanakan program promosi temporer pada beberapa produknya, seperti promosi “beli 10 gratis satu” untuk produk CC250 selama bulan ke empat saja atau promosi “beli delapan gratis satu” pada produk JT500 selama bulan ke tujuh saja, dan promosi-promosi temporer lainnya. Promosi yang sifatnya temporer ini dapat mengakibatkan peningkatan volume penjualan sementara. Peningkatan penjualan sementara bisa saja direspon oleh pabrik untuk memproduksi lebih banyak untuk bulan- bulan berikutnya, sehingga telah meningkatkan biaya-biaya seperti tenaga kerja, bahan baku, dan biaya lainnya. Namun toko atau ritel justru tidak memesan produk yang sama untuk 2-3 bulan berikutnya karena stok sebelumnya masih bersisa dan pola konsumsi sebenarnya tidak berubah.

Parwati dan Andrianto (2009), menyatakan bahwa bullwhip effect mengakibatkan banyak inefesiensi pada supply chain. Ketika pesanan yang dilakukan distributor berlebih, maka akan terjadi penumpukan barang sehingga menghasilkan penambahan biaya penyimpanan atau kerusakan barang. Namun ketika distributor mengurangi pesanan, dampak yang lebih besar bisa saja terjadi seperti kehilangan

(12)

12

kesempatan menjual atau bahkan kehilangan pelanggan. Dampak akhir dari bullwhip effect ini adalah berkurangnya profitabilitas perusahaan (Chopra dan Meindl, 2013:265). Gambar 1.4 adalah profitabilitas PT.

Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan yang dilihat dari perbandingan target dan realisasi penjualan selama tahun 2012.

GAMBAR 1.4

TARGET DAN REALISASI PENJUALAN PT. SINAR SOSRO KPW JAWA BARAT SELATAN TAHUN 2012 (DALAM KARTON, 1

KARTON = 24 BUAH)

Sumber: (Sales Distributor PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, 2012) Berdasarkan Gambar 1.4, terdapat beberapa produk yang target penjualannya tidak tercapai, antara lain JT, HJ, dan CC. JT merupakan produk dengan selisih target dan realisasi terbesar yaitu -14.064 karton dengan ketercapaian hanya sebesar 37,49%. selanjutnya diikuti oleh CC dengan selisih sebesar -3.125 karton dan ketercapaian sebesar

237.300

307.000

22.500 32.000

7.700 8.000

287.320

378.291

8.436 22.026 12.918

4.875 0

50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 400.000

TB FT JT HJ TS CC

TARGET REALISASI

Keterangan:

TB: Teh Botol Sosro JT: Joy Tea TS: Tebs

FT: Fruit Tea HJ: Happy Jus CC: Country Choice

(13)

13

60,94%. Walaupun HJ memiliki ketercapaian diatas rata-rata, namun selisih target dan realisasi mencapai -9.974 karton. Jika dilihat dari penjualan yang menjadi salah satu aspek profitabilitas PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan, maka kemungkinan bullwhip effect pada produk JT, HJ, dan CC cukup besar.

Berdasarkan analisis awal pada struktur rantai pasok, program promosi, dan profitabilitas PT. Sinar Sosro KPW Jabar Selatan, beberapa produk Sosro mengindikasikan terjadinya bullwhip effect.

Pengurangan bullwhip effect bisa dimulai dengan mengukur besarnya amplifikasi permintaan suatu produk (Mas’udin, 2008). Dengan nilai tersebut, bisa diketahui seberapa besar variabilitas permintaan meningkat atau teramplifikasi. Ketika nilai menunjukkan telah terjadi bullwhip effect, pengurangan bisa dilakukan dengan berkorespondensi dengan penyebab-penyebabnya. Karena bullwhip effect disebabkan oleh multi faktor, maka salah satu model yang dapat digunakan untuk menjelaskan penyebab dan mengurangi bullwhip effect adalah Analytical Hierarchy process (AHP) (Ishizaka and Labib, 2009). AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah multifaktor dibanding metode lain karena adanya penentuan faktor bobot dan faktor evaluasi melalui pairwise comparison dan sekaligus pengujian konsistensi bobot (Render, 2009:11). Proses dalam AHP dilakukan dengan mengidentifikasi, memahami, dan menilai interaksi-interaksi dari suatu sistem sebagai suatu keseluruhan (Saaty dalam Mas’udin, 2008)

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian yang akan dilakukan adalah “Penerapan Analytical Hierarchy Process untuk Pemilihan Solusi Alternatif Pengurangan Bullwhip Effect pada Supply Chain, (Studi Kasus pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan)”.

(14)

14 1. 3. Perumusan Masalah

a. Berapa nilai bullwhip effect pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor?

b. Apa saja penyebab bullwhip effect pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor?

c. Apa solusi terbaik untuk mengurangi bullwhip effect pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor dengan menggunakan metode AHP?

1. 4. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui nilai bullwhip effect pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor.

b. Mengetahui penyebab bullwhip effect PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor.

c. Mengetahui solusi terbaik untuk mengurangi bullwhip effect PT.

Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor dengan menggunakan metode AHP.

1. 5. Kegunaan Penelitian a. Bagi Perusahaan

Memberikan informasi pada pihak manajemen perusahaan berapa nilai bullwhip effect yang ada pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis penyebab yang terjadi sekaligus memberikan solusi alternatif pengurangan bullwhip effect yang terjadi pada PT. Sinar Sosro KPW Jawa Barat Selatan dan distributor.

b. Bagi Akademisi

Menambah dan melengkapi khasanah teori mengenai Supply Chain Management, khususnya Bullwhip effect.

(15)

15 1. 6. Sistematika Penelitian

Bentuk tulisan skripsi ini akan disusun dalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang tinjauan umum mengenai penelitian ini, mulai dari gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan tugas akhir.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi uraian umum mengenai teori-teori yang berkaitan dengan penelitian dan mendukung pemecahan permasalahan yaitu tinjauan pustaka penelitian, rangkuman teori, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian, ruang lingkup penelitian.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian, variabel operasional, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas, serta teknik analisis data.

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan menjelaskan secara rinci tentang hasil penelitian dari pengukuran nilai, menganalisis penyebab, dan memberikan solusi alternatif pengurangan bullwhip effect.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan akhir dari analisa dan pembahasan bab sebelumnya serta saran-saran yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan terkait yaitu PT. Sinar Sosro KPW Jawab Barat Selatan.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui tingkat produktivitas yang dicapai, berikut disajikan tabel mengenai detail pekerjaan karyawan PLN Pusat Pemeliharaan Listrik Unit Pelaksana

Dengan penulisan penelitian diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi manajemen perusahaan untuk mengevaluasi tentang kualitas Pelayanan yang diberikan

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Kredit terhadap Pengembangan Usaha

adalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut. a) Mengklarifikasikan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa untuk belajar; b) mempresentasikan advance organizer-nya; c)

Polianilin (nanopartikel PANI) dengan ukuran partikel yang kecil namun luas permukaannya besar, digunakan sebagai matriks yang dapat mengikat enzim bebas dan mampu

Bagian tulang yang terdapat implan selanjutnya dipotong melintang lagi menjadi beberapa potongan setebal ± 1-2 mm untuk pembuatan preparat gosok dan dekalsifikasi.. Pembuatan

Disiplin kerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen sekolah, baik itu kepala sekolah, iklim sekolah, guru, karyawan maupun anak

Berdasarkan perbandingan lima format modulasi dengan efek linier dan non-linier pada kabel kaca urutan nilai Q factor dari yang terbesar adalah NRZ, RZ, RZ-DPSK, CSRZ dan RZ-DQPSK