11 HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Penelitian
Subjek penelitian dalam eksperimen ini adalah mahasiswa prodi akuntansi di tiga Universitas yang berada di Jawa Tengah, Bali dan Surabaya. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari 150 mahasiswa yang terbagi menjadi 4 grup. Subjek yang telah mendapatkan perlakuan dan lolos dari 5 pertanyaan manipulasi atas peran, tugas dan pernyataan manipulasi terkait pertimbangan pengambilan keputusan sebanyak 120 mahasiswa. Karakteristik demografi dari subjek yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, indeks prestasi kumulatif, semester dan institusi dapat dilihat melalui tabel 2.
Tabel 2
Karakteristik Partisipan
Karakteristik Demografi Jumlah
Partisipan
Presentase (%)
Jenis Kelamin Laki- laki 22 18,3
Perempuan 98 81,7
Indeks Prestasi Kumulatif
2.50 - 2.99 8 6,7
3.00 - 3.49 72 60.0
> 3.50 40 33,3
Semester
≤5 24 20,0
6-7 73 60,8
≥ 8 23 19,2
Institusi
1 41 34,2
2 59 49,2
3 20 16,7
Pada tabel 2 menunjukkan bahwa karakteristik demografi dari partisipan cukup bervariasi. Mayoritas partisipan dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan sebanyak 98 orang (81,7 persen). Indeks prestasi kumulatif sebagian besar partisipan antara 3.00 hingga 3.49 sebanyak 72 orang (60 persen). Partisipan dalam penelitian ini mayoritas sedang menempuh masa studi semester 6 dan 7 sebanyak 73 orang (60,8 persen) dan sebagian partisipan merupakan mahasiswa Institusi 2 sebanyak 59 orang (49,2 persen).
12 Pengecekan Manipulasi
Pengecekan manipulasi status pelaku kecurangan dan Machiavellian dilakukan melalui uji pemahaman atas peran dan kondisi yang dihadapi oleh subjek dalam penelitian. Subjek penelitian akan diberikan beberapa pertanyaan pre-test dan pertanyaan terkait dengan informasi penelitian pada setiap manipulasi yang diberikan.
Subjek penelitian dinyatakan lolos apabila dapat menjawab minimal 3 pertanyaan dari 5 pertanyaan yang disajikan dengan benar. Pertanyaan yang diberikan mengenai pengujian informasi apakah subjek sudah memahami tugas, peran dan kondisinya dalam pertimbangan pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini terdapat 120 subjek yang telah lolos pengecekan manipulasi. Sebanyak 6 subjek menjawab 3 pertanyaan dengan benar, sedangkan sebanyak 42 subjek menjawab 4 pertanyaan dengan benar dan sebanyak 72 subjek menjawab 5 pertanyaan dengan benar. Berdasarkan hasil pengecekan manipulasi bahwa seluruh subjek telah menerima treatment yang sesuai dengan status pelaku kecurangan dan Machiavellian. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat dilakukan pengujian selanjutnya.
Pengujian Randomisasi
Dalam penelitian eksperimen yang pertama kali dilakukan yaitu dengan melakukan pengecekan statistik yang bertujuan untuk memastikan keefektifan randomisasinya. Suatu randomisasi dapat dinyatakan efektif jika tidak terdapat pengaruh karakteristik demografi terhadap pengambilan keputusan subjek. Meskipun data yang diambil melalui google form, data reliable karena uji randomisasinya efektif.
Pengujian randomisasi dilakukan menggunakan uji One Way Analysis of Variance (ANOVA) dan hasil pengujian tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3
Hasil Pengujian Randomisasi Karakter Demografi
Mean Square Sig. Keterangan
Jenis Kelamin Between Groups 0,60 0,943 Tidak
Berpengaruh Within Groups 0,158
Indeks Prestasi Kumulatif
Between Groups 0,471 0,168 Tidak
Berpengaruh Within Groups 0,320
Semester Between Groups 0,731 0,047 Tidak
Berpengaruh Within Groups 0,367
Institusi Between Groups 0,324 0,748 Tidak
Berpengaruh
Within Groups 0,495
13
Berdasarkan hasil pengujian randomisasi pada tabel 3, dapat dilihat bahwa tidak terdapat pengaruh karakteristik demografi baik dari sisi jenis kelamin, indeks prestasi kumulatif, semester dan institusi terhadap evaluasi niat whistleblowing. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat signifikansi dari semua variabel karakteristik demografi yang berada diatas 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian antar sel dalam penelitian ini benar dikarenakan adanya manipulasi yang diberikan pada masing-masing sel, bukan karena adanya pengaruh dari karakteristik demografi subjek penelitian.
Uji Hipotesis 1
Hubungan antara Niat Whistleblowing dengan Status Pelaku Kecurangan
Pada penelitian ini hipotesis satu menyatakan bahwa subjek dalam kondisi status pelaku kecurangan rendah akan memiliki niat whistleblowing lebih tinggi dibanding subjek dalam kondisi status pelaku kecurangan tinggi. Hipotesis 1 dilakukan menggunakan pengujian Uji beda rata- rata (independent t-test) yang terdiri dari grup 1 dan grup 2 mendapatkan perlakuan status pelaku kecurangan tinggi sedangkan grup 3 dan grup 4 mendapatkan perlakuan status pelaku kecurangan rendah.
Tabel 4
Hasil Pengujian Hipotesis 1
Mean Std Deviation T Sig. (2-tailed) Status Pelaku
Kecurangan
Tinggi 4,52 1,702 -12,819 0,000
Rendah 8,25 1,480 -12,819
Pada tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata niat whistleblowing rendah pada perlakuan status pelaku kecurangan tinggi dengan rata-rata sebesar 4,52 dibandingkan dengan perlakuan status pelaku kecurangan rendah sebesar 8,25. Hasil pengujian ini menjelaskan nilai Sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha (0,05) sehingga dapat dinyatakan signifikan pada tingkat probabilitas 5%. Hasil pengujian tersebut menjelaskan bahwa niat whistleblowing semakin rendah ketika dalam kondisi status pelaku kecurangan tinggi sedangkan niat whistleblowing tinggi ketika dalam kondisi status pelaku kecurangan rendah.
Pelapor memiliki kecenderungan melaporkan kecurangan berdasarkan status kekuatan yang dimiliki pelaku kecurangan dalam organisasi (Ahmad, 2019). J. Gao et al., (2015) menemukan bahwa seorang individu memiliki niat whistleblowing rendah bila status pelaku kecurangan adalah atasan dibanding rekan kerja atau status pelaku kecurangan rendah. Priyastiwi (2016) juga mengatakan bahwa keputusan
14
untuk melakukan whistleblowing di dalam suatu organisasi selalu terkait dengan posisi yang dijabat. Jika status pelaku kecurangan tinggi maka akan lebih sulit untuk melakukan tindakan whistleblowing atau dapat dikatakan lebih rendah niatnya dalam melakukan whistleblowing. Cortina & Magley (2003) dalam penelitiannya juga menunjukkan jika pelaku kecurangan menempati posisi yang lebih tinggi dan memiliki kekuatan besar, maka whistleblower yang posisinya lebih rendah dalam melakukan whistleblowing niatnya rendah karena mereka melihat bahwa pelaku kecurangan memiliki kekuatan untuk mencegah terjadinya whistleblowing dan takut mendapatkan pembalasan.
Uji Hipotesis 2
Hubungan antara Niat Whistleblowing dengan Machiavellian
Pada penelitian ini hipotesis dua menyatakan bahwa subjek dalam kondisi Machiavellian rendah akan memiliki niat whistleblowing lebih tinggi dibanding subjek dalam kondisi Machiavellian tinggi. Hipotesis dua dilakukan menggunakan pengujian Uji beda rata- rata (independent t-test) yang terdiri dari grup 1 dan grup 2 mendapatkan perlakuan Machiavellian tinggi sedangkan grup 3 dan grup 4 mendapatkan Machiavellian rendah.
Tabel 5
Hasil Pengujian Hipotesis 2
Mean Std Deviation T Sig. (2-tailed)
Machiavellian
Tinggi 5,22 2,256 -5,893 0,000
Rendah 7,55 2,078 -5,893
Pada tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata potensi niat whistleblowing rendah pada perlakuan Machiavellian tinggi dengan rata-rata sebesar 5,22 dibandingkan dengan perlakuan Machiavellian rendah sebesar 7,55. Hasil pengujian ini menjelaskan nilai Sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha (0,05) sehingga dapat dinyatakan signifikan pada tingkat probabilitas 5%. Hasil pengujian tersebut menjelaskan bahwa niat whistleblowing semakin rendah ketika dalam kondisi Machiavellian tinggi sedangkan niat whistleblowing tinggi ketika dalam kondisi Machiavellian rendah.
Dalton & Radtke (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pribadi yang memiliki Machiavellian tinggi dalam melakukan tindakan akan memperhitungkan keuntungan apa yang akan didapatkan dirinya. Jaffé et al., (2019) mengatakan pribadi
15
dengan Machiavellian tinggi sering melakukan perilaku tidak jujur dibandingkan dengan Machiavellian rendah. Dalton & Radtke (2013) juga menemukan bahwa Machiavellian yang tinggi kurang mungkin untuk menjadi whistleblower pada praktik yang tidak etis di organisasi dibandingkan dengan Machiavellian rendah. Individu dengan Machiavellian tinggi hanya akan melakukan whistleblowing atas dasar keinginan sendiri untuk mengungkapkan agar mendapatkan keuntungan. Individu dengan Machiavellian tinggi juga cenderung menganggap masalah etika seperti kecurangan sebagai masalah yang kurang serius oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa individu dengan Machiavellian rendah memiliki niat whistleblowing yang tinggi dibandingkan individu dengan Machiavellian yang tinggi.
Uji Hipotesis 3
Hubungan antara Status Pelaku Kecurangan, Machiavellian dengan Niat Whistleblowing
Hipotesis tiga menduga adanya interaksi antara status pelaku kecurangan dan sifat Machiavellian terhadap niat whistleblowing. Untuk menguji dugaan hipotesis tiga maka digunakan pengujian Two Way Anova untuk melihat perbandingan perbedaan mean (rata-rata) dua kelompok pada variabel independen.
Tabel 6
Test of Between - Subject Effects pada Hipotesis 3
Source Mean Square Sig.
Corrected Model 193,833 0,000
Intercept 4889,633 0,000
Status_Pelaku_ Kecurangan 418,133 0,000
Machiavellian 163,333 0,000
Status_Pelaku_
Kecurangan*Machiavellian 0,033 0,867
Pada tabel 6 menunjukkan hasil pengujian yang telah dilakukan, dijelaskan bahwa variabel independen yaitu status pelaku kecurangan dan Machiavellian memiliki hubungan terhadap variabel dependen sehingga model tersebut dinyatakan valid. Intercept Model menunjukkan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari alpha (0,05) yang berarti tidak ada pengaruh variabel independen nilai variabel dependen dapat berubah.
16
Interaksi antara status pelaku kecurangan dan Machiavellian menunjukkan nilai signifikansi 0,867 lebih besar dari alpha (0,05) sehingga interaksi status pelaku kecurangan dan Machiavellian tidak didukung yang berarti tidak memiliki hubungan terhadap niat whistleblowing. Interaksi status pelaku kecurangan dan Machiavellian digambarkan pada gambar 1.
Gambar 1. Status Pelaku Kecurangan dan Machiavellian dalam Niat Whistleblowing
Pada gambar 1 menunjukkan bahwa grup 4 dalam kondisi status pelaku kecurangan rendah dan Machiavellian rendah berada pada titik estimated marginal means 9,6 serta mempunyai posisi tertinggi urutan pertama dibandingkan dengan tiga lainnya. Grup 3 dalam kondisi status pelaku kecurangan rendah dan Machiavellian tinggi berada pada titik estimated marginal means 7,1 serta mempunyai posisi urutan kedua. Grup 2 dalam kondisi status pelaku kecurangan tinggi dan Machiavellian rendah berada pada titik estimated marginal means 5,8 serta mempunyai posisi urutan ketiga. Grup 1 dalam kondisi status pelaku kecurangan tinggi dan Machiavellian tinggi berada pada titik estimated marginal means 3,5 serta mempunyai posisi urutan keempat atau paling rendah.
Status pelaku kecurangan dan Machiavellian terhadap niat whistleblowing ternyata tidak mempunyai interaksi hal ini dapat dilihat dari hasil uji two way anova interaksi antara status pelaku kecurangan dan Machiavellian menunjukkan nilai signifikansi 0,867 lebih besar dari alpha (0,05). Hal ini terjadi karena hasil penelitian ini tidak membuktikan keterkaitan hubungan antara status pelaku kecurangan dan
17
Machiavellian terhadap niat whistleblowing. Meskipun status pelaku kecurangan tinggi maka niat whistleblowing rendah dan Machiavellian tinggi maka niat whistleblowing rendah namun status pelaku kecurangan dan Machiavellian tidak mempunyai interaksi.