SG Sound Governance (SG) adalah konsep yang sama SG
sekali baru di Indonesia. Konsep ini menyeruak hadir di tengah kegandrungan dunia yang teramat sangat dengan Good Governance (GG) yang seolah telah menjadi kebenaran absolut dalam wacana demokrasi dan administrasi publik. Buku ini dengan nekad hadir ke tengah kemapanan keyakinan masyarakat akan sistem nilai yang disebut GG. Mungkin saja konsep baru ini akan diabaikan begitu saja, ditentang habis karena dianggap telah melanggar pakem, atau mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Tetapi semoga tidak untuk meng- gantikan posisi dogmatis GG.
Sejak lebih dari dua dekade terakhir perkembangan ilmu administrasi publik telah sampai pada konsep GG.
Konsep ini telah menjadi kata ajaib (buzzword) yang bisa melewati batas-batas perbicangan dimensional dan sektoral. Batas dimensional adalah ketika kita berhadapan dengan semesta perbicangan ekonomi, politik, sosial, bahkan lingkungan hidup. Sedangkan batas sektoral adalah mencakup berbagai sektor seperti pertanian, kemiskinan, transportasi, bisnis perusahaan, kelautan, maupun pengendalian polusi. GG telah menjelma seperti hantu yang bisa merasuki setiap pojok ruang-ruang diskusi para sarjana dan pelaku dalam ilmu sosial. Tidak sedikit pihak yang telah mencoba untuk melakukan kritik ter- hadap GG dari berbagai sudut pandang dan posisi ideologis.
Akan tetapi baru satu yang membuktikan bahwa dirinya
BAB I
PENDAHULUAN
1
SG SG
tidak hanya mendekonstruksi, tetapi juga merekonstruksi.
Memberikan solusi konkret ketika menyarankan untuk meninggalkan proyek-proyek Good Governance beralih menuju Sound Governance.
Berakhirnya era Good Governance
Tak dipungkiri kehadiran GG cukup revolusioner dalam kancah ilmu sosial. GG juga telah melakukan revisi total atas term Administrasi Publik atau Pemerintahan yang selama ini telah terlanjur institusionalistik. Governance sudah bukan lagi secara eksklusif menjadi menu yang disuguhkan pada negara dan sub-sub organisasinya (public sectors). Governance adalah sebuah proses berinteraksinya berbagai elemen (dipersempit dalam tiga aktor kunci, yaitu negara, masyarakat dan bisnis) utamanya dalam mengelola sektor-sektor yang menjadi hak publik atau public patrimony. GG kemudian bagai kanker ganas menyebar ke segala arah. Tidak hanya berkutat pada ilmu adminis- trasi publik, tapi merambah pada berbagai kajian lain se- perti pemberdayaan masyarakat, lingkungan hidup, ekonomi, politik, hukum, dan sosiologi terapan. Produk yang paling fenomenal dari GG adalah ketika dirinya berhasil menemukan missing link antara kerja refomasi pemerintah dengan penanggulangan kemiskinan. Argumentasinya adalah dengan GG maka distribusi anggaran pemerintah dan kalangan bisnis kepada masyarakat miskin makin terbuka lebar (Renzio, 1997).
Kenyataannya memang tidaklah jauh dari harapan.
Inovasi-inovasi seperti pilkada langsung, musrenbang, penjaringan aspirasi masyarakat, adalah merupakan hasil (output) dari penerapan GG. Dampak (outcome) yang diharapkan adalah makin eratnya interaksi antara rakyat dengan negara, utamanya dalam hal distribusi anggaran.
Bukti-bukti ini juga dapat kita lihat di belahan dunia lain.
Brazil telah sangat terkenal dengan program Orçamento Participativo-nya (Partisipasi Anggaran) di Porto Alegre.
Program PARPA di Mozambique yang telah berhasil meningkatkan alokasi pendidikan dan infrastruktur rakyat 20% dalam kurun waktu empat tahun (Samuels, 2008).
Hanya saja prestasi gemilang dari GG tersebut menuai kritik tajam yang berangkat dari identitasnya itu sendiri.
Kata “good” menjadi sesuatu yang hegemonik dan seragam. Proses penyeragaman atas sesuatu yang disebut
“good” itu juga dilakukan tak jarang dengan paksaan. Ali Farazmand (2004) secara tegas menyebutnya sebagai bagian dari praktek penyesuaian struktural (structural adjustment programs/SAPs). Sebab kenyataannya di berbagai belahan dunia GG adalah program yang diintrodusir oleh lembaga-lembaga donor internasional, seperti WB, IMF, ADB, UNDP, EU dan semacamnya. Indi- kator akan sesuatu yang disebut “good” itu juga dibawa jauh dari Amerika Serikat atau Eropa untuk kemudian dipakai dalam mengukur berbagai praktek di negara- negara berkembang, baik di Asia, Afrika maupun Amerika Selatan/Karibia. Tidak ada ruang bagi lokalitas untuk mendefinisikan “good” menurut keyakinan mereka. Term
‘good’ dalam GG adalah westernized dan diabsolutkan sedemikian rupa sehingga terkadang mendekati ‘god’.
Kritik berikutnya terhadap GG adalah kegagalannya dalam memasukkan arus globalisasi dalam pigura analisisnya. Dalam GG seolah-olah kehidupan hanya ber- kutat pada interaksi antara pemerintah di negara tertentu, pelaku bisnis di negara tertentu dengan rakyat di negara tertentu pula. Tentulah ini sangat naif. Sebab kenyataan bahwa aktor yang sangat besar dan berkuasa di atas ketiga elemen tersebut tidak dimasukkan dalam hitungan. Aktor tersebut adalah dunia internasional. WTO, perusahaan multi nasional, UN, dan lembaga-lembaga donor secara nyata telah hadir dalam setiap relung kehidupan bernegara dan bermasyarakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana kehadiran aktor-aktor ini sampai ke pelosok
2 3
SG SG
desa-desa. Program-program World Bank misalnya, telah merasuki alam pikir dan nilai-nilai masyarakat hingga di tingkatan desa, bahkan komunitas yang lebih kecil.
Merestrukturisasi pola relasi pemerintah, swasta dan masyarakat secara domestik dengan mengabaikan peran aktor internasional adalah pengingkaran atas realitas global. Dampak dari pengingkaran ini adalah banyaknya variabel, yang sebenarnya sangat penting, tidak masuk ke dalam hitungan. Variabel-variabel yang absen itu adalah kearifan lokal sebagai akibat hegemoni terma ‘good’ ala Barat dan dampak dari kekuatan kooptasi internasional.
Ruang kosong inilah yang coba diisi oleh sebuah paradigma baru yang di sebut Sound Governance.
Kritik-kritik di atas sama sekali tidak menunjukkan adanya perbedaan ideologi diantara yang mengkritik dan yang dikritik. Belum lagi kalau kita hendak mengambil posisi sejenak ke dalam ideologi sosialisme atau berbagai varian neo-Marxist. Tentu kita akan menemukan daftar panjang kritik atas GG sebagai alat bagi artikulasi kepentingan kapitalisme dunia. Prinsip-prinsip dari satu piranti kapitalisme lanjut yang disebut neo-liberalisme akan sangat mudah ditemukan dalam GG. Pemerintahan yang berorietasi pasar dan sangat akomodatif dengan ke- kuatan sektor swasta adalah bukti yang paling utama atas kritik tersebut. Dalam buku ini juga akan diulas sangat lengkap tentang kritik terhadap GG yang bersandar pada nuansa ideologi neo-Marxist ini.
Di Indonesia, penerapan konsep Good Governance (GG) yang disponsori oleh lembaga donor internasional telah berlangsung lama. Di tengah kekuarangan di sana-sini, harus diakui bahwa transparansi, partispasi masyarakat, akuntablitas dan penegakan hukum di lingkup pemerin- tahan telah membaik dibandingkan sepuluh tahun terakhir.
GG juga berhasil melewati garis demarkasi ideologi kanan versus kiri. Anggapan bahwa GG adalah alat lembaga neo- liberal untuk melancarkan pembangunan kapitalisme
dunia (Wilson, 2000) telah terpatahkan dengan dicetuskan- nya “Deklarasi Dakar” dalam pertemuan Socialist International di Dakar pada Juli 2004 yang juga men- cantumkan GG sebagai agenda besar mereka.
Singkat kata, GG telah menjadi plattform global tentang kemana arah pembangunan dunia harus dicapai. Sebab dengan inklusivitas antara negara, masyarakat sipil dan bisnis, GG telah dianggap mampu menerobos pertentangan antara paradigma pertumbuhan versus pemerataan.
Dengan makin inklusifnya hubungan antara pemerintah dengan yang diperintah maka oligopoli dan korupsi akan menurun dan kesejahteraan rakyat akan meningkat (Putra, 1999). Transparansi Internasional mengatakan bahwa korupsi adalah sebab utama kemiskinan. Buktinya, secara kuantatif kita bisa bandingkan. Indonesia dengan Indeks korupsi 2,4 yang memiliki GDP nominal per kapita
$1.812 dengan Malaysia yang Indeks korupsinya 5.0 memiliki GDP nominal per kapita $6.648. Sehingga, dalam perspektif ekonomi, GG adalah lem yang merekatkan an- tara kekuatan negara dan bisnis dengan rakyat.
Secara konseptual, seharusnya “keberhasilan” penerap- an GG di berbagai dunia itu juga dibarengi dengan
“keberdampakannya” atas kuatnya fundamen ekonomi rakyat.
Perlunya Arah Baru
Kenyataannya, relasi antara kesejahteraan rakyat dengan GG tidaklah seindah teori. Makin merekatnya hubungan antara negara, bisnis dan rakyat ternyata tidak serta merta menguatkan fundamen ekonomi rakyat. Pukul- an krisis pangan adalah bukti konkret yang sekarang ada di depan mata.
Bila GG telah berhasil mengurangi kesenjangan di tingkat domestik, lantas bagaimana dengan kesenjangan internasional? Bila GG telah berhasil mengadilkan distri- busi kekuasaan dan dana di tingkat lokal, apakah hal yang
4 5
SG SG
sama juga telah terjadi di tingkatan global? Bila orang miskin di negara berkembang telah memiliki media untuk bernegosiasi dengan orang kaya, apakah negara-negara miskin telah memiliki media yang sama di arus global?
Berbagai prinsip ideal GG apakah juga sudah diimplemen- tasikan dalam tataran internasional?
Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebutlah yang mengilhami Ali Farazmand (2004) untuk menggagas konsep Sound Governance (SG) sekaligus membuka arah baru bagi pembangunan global ke depan. Setelah GG berhasil menginklusifkan hubungan si kaya dan si miskin di tingkat nasional, maka fase berikutnya adalah menginklusifkan hubungan negara kaya dengan negara miskin melalui agenda SG.
Sound Governance
Sepuluh tahun lalu di depan Konferensi PBB, Presiden Tanzania Julius K. Nyerere, dengan lantang telah mengkritik habis-habisan GG yang dikatakanya sebagai konsep imperialis dan kolonialis. Sebab GG akan men- gerdilkan struktur negara-negara berkembang, sementara kekuatan bisnis dunia makin membesar. Terlepas dari benar salahnya kritik Sang Presiden, tapi gugatannya terhadap pengaruh struktur global terhadap reformasi pemerintahan inilah yang mengilhami Farazmand untuk tidak hanya terfokus pada tiga aktor (pemerintah, pasar dan civil society) tetapi juga kekuatan internasional.
Hal ini didukung oleh fakta kesenjangan global yang kian melebar. Data dari UNDP tentang perbandingan GDP per kapita konstan negara kaya, menengah dan miskin sejak tahun 1960 sampai 2002 menunjukkan fakta yang sangat menarik. Gap antara negara miskin yang ditinggali sekitar 2,5 milyar jiwa dengan negara menengah (2,7 milyar jiwa) relatif stagnan yaitu berkisar $1.500. Secara mengejutkan, gap antara negara kaya (kurang dari 1 milyar jiwa) dengan negara menengah di era 1960 berkisar
$7.000 dan terus naik secara fantastis hingga tahun 2002 menjadi $25.000 lebih. Kita bisa melihat hasil pembangun- an internasional mulai dari Growth Theory sampai terakhir GG hanya menghasilkan kerapuhan fundamen ekonomi dunia dan kesenjangan global yang semakin akut.
Kosep Sound Governance sangat perhatian pada persoalan ini. Sebab diperbaiki sedemokratis dan secanggih apapun pemerintahan lokal, bila struktur global tetap tidak adil maka kesejahteraan rakyat akan sulit tercapai.
Formula dasar Sound Governance adalah 4 aktor dan 5 komponen. Empat aktor sudah kita ketahui yaitu mem- bangun inklusifitas relasi politik antara negara, civil society, bisnis dan kekuatan internasional. Kekuatan internasional di sini mencakup korporasi global, organisasi dan perjanjian internasional. Sedangkan 5 komponen adalah mencakup reformasi struktur, proses, nilai, kebijakan dan manajemen. Kita menyadari bahwa dalam sebuah proses transformasi kelima hal tersebut merupakan bagian integral. Ekslusivitas yang terjadi selama ini adalah masing-masing organisasi/elemen menjalankan kelima komponen itu secara sendiri-sendiri. LSM memiliki nilai dan kebijakannya sendiri yang diejawantahkan dalam struktur dan manajemen organisasinya. Dimana proses tersebut sulit untuk dikompromikan dengan negara, swasta apalagi aktor-aktor global dan demikian pula sebaliknya.
Dalam hal ini, Sound Governance juga menggagas sebuah konstruksi ideal bagi hubungan antara 4 aktor yang ada.
Term “Sound” menggantikan “Good” adalah juga dalam rangka penghormatan terhadap kenyataan ke- ragaman (diversity). Sebab ketika istilah “Good” yang dipakai maka di dalamnya akan terjadi pemaksaan standar nilai. Penulis menyaksikan berbagai proyek dari World Bank, ADB dan UNDP tentang GG juga telah memiliki alat ukur matematis tentang indikator “Good”.
Sedangkan dalam konsep “Sound”, term ini bisa diartikan layak, pantas atau ideal dalam konteksnya. Dalam pepatah
6 7
SG SG
Jawa disebut empan papan. Sehingga SG pada prinsipnya juga memberikan ruang bagi tradisi atau inovasi lokal tentang bagaimana negara dan pemerintahan harus ditata, sesuai dengan kebiasaan, budaya dan konteks lokal.
Tentu ukuran universal tentang kesejahteraan rakyat dan penghormatan hak dasar harus tetap ditegakkan. Akhir- nya, SG sesungguhnya percaya bahwa reformasi tata pemerintahan dan pembangunan adalah kerja budaya bukannya teknis, matematis apalagi dogmatis.
Deskripsi di atas adalah sekelumit dari apa yang hendak disampaikan dalam buku ini untuk mengupas habis konsep SG. Secara umum buku ini akan dibagi dalam tujuh bab.
Bab pertama adalah pendahuluan yang mengantarkan pemahaman umum tentang isi buku dan sekelumit gagasan inti dari SG. Bab dua dan bab tiga pada dasarnya membicarakan soal yang sama yakni konsep dasar GG serta kritik terhadapnya. Hanya saja pada bab dua lebih menekankan aspek tata ekonomi politik neo-kolonialistik dunia yang melingkupi GG. Sedangkan dalam bab tiga lebih pada kenyataan gelombang pasang neo-liberalisme yang didorong oleh GG sebagai sebuah konsep yang seolah ilmiah. Bab empat langsung akan membahas konsep dari SG itu sendiri mulai dari pengertian, konsep dasar, hingga aspek detail dan teknis darinya. Bab lima dan enam adalah berisi tentang dua fokus utama dari SG yaitu pentingnya memasukkan realitas globalisasi dalam reformasi administrasi publik dan demokratisasi serta kewajiban adanya penghormatan terhadap budaya lokal dalam sistem pemerintahan. Bab tujuh adalah penutup yang berisi tentang tantangan dan peluang penerapan SG di masa mendatang.
Sebagai sebuah konsep baru, sudah barang tentu SG akan terus berkembang dan mendewasakan dirinya bersamaan dengan dukungan kritik terhadap dirinya.
Kekuatan sebuah konsep justru terletak pada kemampuan- nya untuk survive di tengah pujian dan kritik. Pujian yang
bisa-bisa melambungkan dirinya ke angkasa sehingga jauh meninggalkan bumi serta kritikan yang dapat mem- benamkannya dalam lembah ketakpercayaan diri. Yang paling menakutkan adalah ketidakpedulian. Untuk itu segala bentuk apresiasi tentu akan sangat penulis hormati demi makin majunya peradaban manusia tentang bagai- mana mereka seharusnya mengelola hidup dan dunia.
8 9
SG SG
BAB II
GOOD GOVERNANCE DALAM BINGKAI NEOKOLONIALISME
P
endaratan kapal-kapal Columbus di benua Amerika pada abad XV sangat menentukan sejarah dunia saat ini. Sejak saat itulah kolonialisme dimulai sekaligus memberi jalan yang sangat lapang bagi masuknya euro- centrism dalam berbagai aspek kehidupan saat ini. Stan- dard kesejahteraan dan keabsahan argumen ilmiah dunia saat ini telah bersandar secara kuat dengan tradisi dan indikator-indkator dari barat. Studi-studi tentang tricon- tinental (Asia, Afrika dan Amerika Latin) telah sejak lama berkembang marak di perguruan-perguruan tinggi baik Eropa Barat maupun Amerika Utara. Semuanya lebih di- motivasi oleh kepentingan untuk melanggengkan dominasi ketimbang advokasi terhadap kemajuan negara ber- kembang di tiga benua itu sendiri. Mitos tentang European Miracle pun diciptakan melengkapi keseragaman mimpi yang menjadi idaman seluruh peradaban di dunia (Blaut, 1993).Tak mengherankan bila kemudian banyak yang men- curigai bahwa wacana pluralisme adalah sekedar alat untuk melenakan masyarakat dunia atas fakta ketidak- adilan. Hubungan antar peradaban tidaklah seadil dan seharmonis yang dicita-citakan kaum pluralis dengan kata kunci kebersamaan (coexistence). Perbedaan peradaban yang ada bukanlah sekedar berbeda bentuk, tapi juga ber- beda ukuran kekuasaan (power). Peradaban satu lebih kuat dari lainnya. Maka polisentrisme, sebuah wacana -yang lebih melihat berbagai perbedaan dari segi hubungan
kuasa-, jauh lebih realistis ketimbang mimpi-mimpi indah kaum pluralis tentang unity in diversity (Shohat dan Stam, 1994). Melihat realitas dunia saat ini dalam kacamata polisentrisme adalah dengan memposisikan hubungan barat versus timur dan utara versus selatan dalam posisi eksploitatif, dominatif dan hegemonik. Perbedaan antar budaya bukanlah sekedar berbeda bentuk, melainkan juga berbeda power.
Dalam posisi inilah kita tidak melihat perbedaan signifi- kan antara kolonialisme dan neo-kolonialisme. Secara formal memang tidak ada lagi satu negara yang menjajah negara lain. Secara substansial pola hubungan penjajah dan terjajah tetaplah ada dan terjadi dimana-mana. Partha Chatterjee, dalam konteks budaya, menjelaskan bagaimana keberadaan sebuah standar baku (modular form) me- lakukan kontrol atas semua ekspresi budaya sub-ordinat di berbagai tempat sebagai konsep dasar dari neo- kolonialisme. J.M. Blaut menyebutnya dengan standar progress yang harus diacu semua peradaban bila ingin disebut maju dan beradab (civilize). Hal ini secara tak lang- sung sesungguhnya merupakan proses peniruan ini juga dilanggengkan oleh elit-elit lokal sendiri melalui proses yang disebut Homi K. Bhaha (1990) sebagai mimicry.
Dalam konteks ilmu pemerintahan akhir-akhir ini jelas sekali terlihat praktek mimicry ini melalui para birokrat dan intelektual yang selalu berbusa-busa mengobarkan keluhuran konsep Good Governance. Seorang birokrat belum kelihatan berkualitas dan seorang ilmuan belum kelihatan berkelas ketika mereka belum meniru bahasa dan cara berpikir barat. Mereka belum terlihat percaya diri bila dalam pidato dan ceramah-ceramahnya belum menyebut kata “good governance” sebagaimana orang- orang dari Bank Dunia, PBB maupun profesor-profesor dari Amerika dan Eropa melakukannya. Inilah proses mimicry.
Di samping penjelasan psiko-kultural di atas, neo- kolonialisme juga bisa dijelaskan dalam konteks sejarah
10 11
SG SG
ekonomi politik internasional. Dalam hal ini, memahami neo-kolonialisme, utamanya yang dikendalikan oleh lembaga-lembaga donor seperti Bank Dunia dan IMF, kita perlu terlebih dahulu mengkaji tentang Perjanjian Bretton Woods. Perjanjian yang ditandatangani oleh negara- negara yang terlibat pada PD II ini dibuat sebagai jalan keluar atas krisis ekonomi yang terjadi di dunia pasca perang. Isi dari perjanjian ini adalah kewajiban bagi setiap negara untuk bersama-sama menjaga rata-rata nilai tukar mata uang dunia pada nilai yang baku, yaitu berkisar satu persen dengan mengacu pada nilai emas dan kemampuan IMF dalam menjembatani ketidakseimbangan pembayaran (Wiggin, 2006). Sistem ini sempat collaps di tahun 1971 akibat penundaan Amerika Serikat dalam hal mengubah standar moneter dari dolar ke emas. Sistem ini bersandar pada prinsip kapitalisme dan memaksa semua negara untuk mengikutinya meskipun kepercayaan sistem ekonomi mereka berbeda. Prancis contohnya, awalnya negara ini lebih percaya pada pentingnya intervensi dan proteksi ekonomi oleh negara. Tetapi karena ia menandatangani perjanjian ini, mau tidak mau Prancis harus mengubah kebijakan dasar perekonomiannya tersebut (Cohen dalam Jones, 2002).
Kontrol negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat sangatlah kuat dalam lembaga-lembaga donor dan keuangan internasional ini. Memang secara teknis mereka merupakan bagian dari PBB yang idealnya menjadi organi- sasi yang netral. Tapi ketika kita melihat lebih jauh pada tata organisasinya, terlebih Bank Dunia dan IMF, terlihat sekali bahwa kendali penuh ada di tangan Amerika Serikat.
Grup Bank Dunia misalnya, secara tegas dikatakan bahwa kepemilikannya adalah berdasarkan proporsi jumlah saham dari negara-negara anggota. Sehingga persis seperti dewan komisaris dalam sebuah perusahaan pada umumnya. Lebih lucu lagi dalam hal pemungutan suara (voting) tidaklah dilakukan one country one vote, melainkan
dimungkinkan adanya suara tambahan yang tergantung pada kontribusi finansial negara yang bersangkutan pada organisasi tersebut. Hingga data terakhir tahun 2006 ter- catat bahwa Amerika Serikat memegang saham terbesar sebanyak 16,4%, Jepang 7,9%, Jerman 4,5% sementara Prancis dan Inggris 4,3%. Pemilihan pimpinan lembaga ini adalah dengan pengajuan nominasi dari pemerintah Amerika Serikat yang kemudian akan mendapatkan per- setujuan dari dewan gubernur (Lobe, 2003).
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa lembaga-lembaga internasional yang ada, baik itu PBB maupun Bank Dunia adalah alat bagi kekuatan neo-kolonialisme dalam men- gendalikan dunia. Lembaga-lembaga agen neo-kolonialis- me ini juga dengan leluasa melancarkan aksi-aksi hegemoni dan kooptasi global selama enam puluh tahun terakhir dengan topik yang berganti-ganti. Setelah memperoleh sukses besar di era 1950-an dalam melakukan rekonstruksi ekonomi di Eropa melalui Marshall Plan yang diarsiteki oleh WW. Rostow dengan program developmentalisme-nya, lembaga-lembaga internasional ini mulai melancarkan kooptasinya ke negara-negara berkembang, termasuk Indo- nesia. Hingga akhir dekade 1990-an kata pembangunan- isme telah menjadi kata sakti yang didengungkan ke seluruh dunia, persis seperti kata Good Governance saat ini.
Alih-alih meraup sukses seperti yang terjadi di Eropa, proyek raksasa ini dengan didukung oleh konsep sosiologi struktural fungsional, Talcott Parson, malah menciptakan diktator-diktator pragmatis di berbagai negara ber- kembang. Pemerintahan diktator dan sentralistik yang ada di banyak negara berkembang sesungguhnya juga merupakan produk dari lembaga-lembaga neo-kolonial ini.
Lalu dengan tampang tak bersalah, saat ini mereka datang menawar-nawarkan konsep yang seolah demokratis, Good Governance.
12 13
SG SG
Buku kecil ini mungkin tak akan cukup untuk memuat seluruh daftar panjang kritik-kritik atas lembaga-lembaga internasional agen neo-kolonilaisme ini. Joseph Stiglitz sendiri, sebagai mantan kepala ekonomi Bank Dunia, juga melontarkan kritik yang sangat pedas. Ia mengatakan bahwa kebijakan reformasi pasar bebas dari lembaga- lembaga keuangan global telah turut berkontribusi dalam merusak tatanan ekonomi negara berkembang. Caufield (1996) juga mengatakan bahwa kemunduran ekonomi negara-negara selatan saat ini disebabkan oleh asumsi- asumis yang ada di lembaga-lembaga keuangan ini.
Ideologi yang disebutnya sebagai “western recipes” telah menyingkirkan konsep-konsep ekonomi tradisional yang kemungkinan jauh lebih tepat untuk dipakai negara-negara tertentu. Asumsi yang paling parah menurut Caufield adalah anggapan bahwa negara-negara berkembang tak akan pernah maju tanpa bantuan dari luar. Inilah praktek yang mengabadikan neo-kolonialisme hingga saat ini.
Dalam hal ini kritik dari Arif Dirlik (Mongia, 1996) sangatlah tajam, yaitu:
“The transnationalization of production is the source at once of unprecedented global unity and unprecedented fragmentation in history of capitalism.
The homogenization of the globe economically, socially and culturally is such that Marx’s prediction finally seems to be on the point of vindication”.
(transnasionalisasi produksi adalah sumber dari terjadinya penyatuan global dan fragmentasi dari sejarah kapitalisme. Hogomenisasi dunia baik secara ekonomi, sosial maupun budaya yang terjadi melalui hal itu adalah pembenaran dari prediksi Marx).
Argumen tersebut didukung oleh kenyataan akan banyaknya intelektual-intelektual di negara berkembang yang ikut-ikutan mendukung asumsi-asumsi global ter- sebut. Mereka sibuk menyalahkan faktor internal negara-
nya sebagai sumber masalah keterpurukan ekonomi mereka. Dan mengagung-agungkan pentingnya intervensi dari luar (lembaga-lembaga donor internasional) sebagai satu-satunya solusi.
Kritik-kritik beraliran kiri tersebut di atas adalah valid baik secara faktual maupun ilmiah. Kendati dalam alur paradigma lain, yakni poskolonial, ditemukan cara kritik yang agak berbeda. Dalam tradisi analisis poskolonial keadaan tidak dilihat dalam posisi hitam-putih sebagai- mana kalangan Marxist melihatnya. Yaitu hubungan antara yang menghegemoni dan yang dihegemoni, yang mengeksploitasi dan dieksploitasi, yang menjajah dan yang dijajah. Hubungan antara [neo] kolonialis dan negara- negara terkoloni sangat kompleks. Dalam studi poskolonial, kedua belah pihak sama-sama terpengaruh oleh proses transformasi di antara keduanya. Dalam fase inilah konsep hybridity berkembang dalam ilmu-ilmu sosial. Meskipun demikian kita tetap bisa melihat bahwa derajat pengaruh masing-masng pihak berbeda. Mungkin benar bahwa negara-negara kolonialis ter-pengaruh, akan tetapi tentu tidak sedahsyat apa yang terjadi pada negara terkoloni (Putra, 2008).
Dalam konteks indoktrinasi GG misalnya, memang benar bahwa praktek-praktek implementasi GG di negara-negara berkembang berpengaruh terhadap pemahaman dan kebijakan GG di negara-negara maju. Akan tetapi dampak destruktif atas proses tasformasi itu lebih dirasakan oleh negara berkembang ketimbang negara maju.
Sejak awal tahun 1990-an, organisasi-organisasi inter- nasional besar, yang pertama dan terutama diantaranya ialah International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia, memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada negara- negara anggotanya untuk menerapkan “good governance”.
Namun, definisi-definisi dari istilah ini, dan sejalan dengan hal itu, substansi dari istilah tersebut, sangat beragam dari satu institusi ke institusi lain. Hal ini kemudian meng-
14 15
SG SG
halangi perumusan definisi legal yang tepat mengenai istilah tersebut terutama karena istilah governance bisa bersifat global dan corporate (Herrera, 2004).
Di Indonesia, istilah Good Governance dianggap pen- jelasan dan sekaligus solusi paling canggih dari segenap penyakit-penyakit buruk birokrasi pemerintahan yang tak efisien dan tak demokratis. Tiba-tiba saja, ada begitu banyak pakar di dunia intelektual Indonesia yang jagoan dalam membincang good governance. Tiba-tiba saja, good governance menjadi “agama baru” bagi kaum intelektual dan birokrat jika tak ingin disebut sebagai pendukung proses pemerintahan yang buruk (atau mereka sebut sebagai bad governance). Bukankah jelas, bahwa mereka yang tak mendukung “yang-baik” (good) secara otomatis adalah pendukung “yang-buruk” (bad). Bukankah lawan good itu adalah bad?
Apa yang dilupakan oleh kaum intelektual kita yang terobsesi dengan konsep tersebut ialah bahwa good governance itu adalah sebutan bagi sebuah agregat praktek-praktek pemerintahan dan kebijakan publik sebagaimana yang dikehendaki oleh lembaga-lembaga internasional, terutama ialah IMF dan Bank Dunia. Jadi, good governance bukanlah suatu konsep linguistik murni, juga bukan suatu konsep filsafat politik murni. Meski terdapat kata ‘good’ (yang secara harfiah berarti ‘baik’), namun kata tersebut sama sekali bukan lahir dari kontem- plasi filosofis para filosof dunia. Ia dilahirkan dari badan- badan ekonomi internasional yang jelas punya agenda tertentu untuk membangun tata kehidupan bangsa-bangsa seluruh dunia. Sikap naif kaum intelektual di negeri kita yang menganggap bahwa kata ‘good’ (baik) dalam konsep Good Governance merupakan sesuatu yang netral atau bahkan bebas dari niat buruk merupakan sesuatu yang amat disayangkan. Mengapa? Karena dengan demikian, mereka melepaskan diri dari tanggung jawab keintelek- tualan mereka untuk senantiasa kritis dan reflektif
terhadap berbagai gagasan yang sekiranya turut ber- pengaruh pada pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara. Penerimaan secara mentah-mentah atas konsep tersebut malah menunjukkan betapa kaum intelektual kita menjadi apa yang dulu pernah disebut sebagai ‘Pak Turut’, orang yang hanya bisa mengekor suatu gagasan tanpa pernah sadar akan mau dibawa ke arah mana dan untuk tujuan apa gagasan itu dia emban. Konsekuensi- konsekuensi jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang dari penerapan gagasan tersebut tak pernah dipikirkan karena dianggap bahwa dalam konsepnya terkandung kata ‘good’ (baik). Seakan dengan sendirinya akan menimbulkan konsekuansi yang selalu baik pula. Suatu logika pemikiran yang simplistik dan naif!
Sesungguhnya, konsep ‘good governance’ itu sesuatu yang masih kabur substansinya. Bagaimana sesuatu yang remang-remang bisa disebut sebagai suatu kebaikan? Rémy Herrera pernah mengungkapkan betapa kaburnya substansi dari konsep tersebut di antara berbagai institusi ekonomi dunia. Kode Good Governance IMF memiliki kemampuan untuk diterapkan di negara-negara yang men- dapatkan bantuan teknis darinya dan yang berhubungan dengan perang anti-korupsi yang dijalankannya. Kode ini bertujuan untuk menciptakan keputusan atau kebijakan ekonomi yang lebih transparan dalam menciptakan ketersediaan informasi yang maksimum akan keuangan publik, untuk menstandarisasi prosedur-prosedur audit, dan yang lebih mutakhir adalah untuk “memerangi pembiayaan terorisme”. Sementara menurut Bank Dunia, governance dari “negara-negara klien” haruslah bisa “mengatasi disfungsi sektor publik (yang merupakan ‘gejala umum’) dengan jalan membantu negara-negara tersebut untuk mengadopsi reformasi-reformasi” yang dirancang untuk meningkatkan mekanisme-mekanisme alokasi sumber daya publik. Selain itu juga untuk membantu “pembangun- an institusional negara, proses-proses perumusan,
16 17
SG SG
pemilihan dan pengimplementasian kebijakan-kebijakan, dan relasi-relasi antara warga negara dan pemerintah mereka”. Jika UNDP mengkaitkan good governance dengan pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan, Bank Pembangunan Asia menekankan pada partisipasi sektor privat. Sementara itu, Inter-American Development Bank menekankan pada penguatan civil society dan OECD lebih menekankan pada akuntabilitas, transparansi, efisiensi dan efektivitas, economic forecasting dan supremasi hukum. Di sisi lain, EBRD menekankan pada hak-hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi dsb.
Ketika konsep good governance begitu kabur, maka apa yang terjadi kemudian ialah konsep tersebut menjadi cek kosong yang isinya bisa ditentukan oleh siapapun.
Kelihatannya hal ini menarik karena ada demokratisasi penentuan isi konsep tersebut. Namun sesungguhnya tidak.
Pada akhirnya, kekuasaan institusi-institusi keuangan internasional-lah yang menjadi penentu paling efektif bagi isi macam apa yang akan diadopsi oleh pemerintah- pemerintah di seluruh dunia, yang tentu saja akan ber- dampak pada nasib warga-warga dari negara-bangsa di seluruh dunia. Justru karena kekaburan itulah, maka setiap institusi keuangan internasional lantas bisa me- nunjukkan kekuasaannya masing-masing terhadap negara- negara anggota yang membutuhkan bantuan darinya dengan menetapkan isi konsep yang harus diimplementasi- kan oleh negara-negara anggota tersebut.
Bagi rezim politik dimana pun, baik di level lokal maupun nasional, istilah ‘good governance’ memiliki daya tarik yang luar biasa. Di satu sisi, dengan memakai konsep tersebut, rezim politik yang ada akan terhindar dari citra sebagai rezim yang buruk, apapun yang dilakukannya. Di sisi lain, dengan konsep tersebut pula, rezim politik yang ada bisa mendapatkan dukungan dari institusi-institusi keuangan internasional untuk membiayai proses pe- merintahannya. Dengan kata lain, konsep Good Governance
menjadi alat pencitraan yang sungguh simpel dan efektif bagi rezim-rezim politik yang berkuasa untuk menegaskan
“kebaikannya”. Apalagi jika terus-menerus dikumandang- kan bahwa Good Governance akan menjanjikan ter wujudnya penghapusan kemiskinan, terwujudnya pemerintahan yang bersih dan efisien, terwujudnya par- tisipasi rakyat dan sebagainya dan sebagainya. Jelas janji- janji tersebut sungguh menarik dan menyenangkan untuk didengar. Tapi, tidak mungkinkah janji-janji itu tak lebih suatu bualan kosong seperti layaknya janji-janji kemakmuran dan “tahap lepas landas” yang ditawarkan oleh gagasan developmentalisme pada tahun 1970-an?
Janji yang dilekatkan dengan konsep Good Governance, seperti apa yang ditegaskan oleh direktur-direktur Eksekutif IMF, bahwa ke depan tantangan kuncinya adalah memacu pertumbuhan ekonomi untuk membantu men- gentaskan kemiskinan dan menurunkan tingkat pen- gangguran. Untuk tujuan ini, mereka memuji pihak pemerintah Indonesia karena telah mengadopsi agenda reformasi struktural yang mengesankan. Namun pujian ini diiringi dengan sambil menekankan bahwa penerapan secara sungguh-sungguh agenda tersebut akan menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan investor dan me- majukan pertumbuhan sektor swasta (IMF, 2006)
Mengentaskan kemiskinan dan menurunkan tingkat pengangguran, siapa yang tidak tertarik? Bagaimana caranya? IMF memberi resep, “lakukan reformasi struktural”. Reformasi struktural yang macam apa?
Reformasi struktural yang bisa meningkatkan kepercayaan investor dan memajukan pertumbuhan sektor swasta. Jadi, agar problem kemiskinan dan pengangguran teratasi, pemerintah harus melakukan reformasi struktural yang akan melayani rasa kepercayaan investor dan pertumbuhan sektor swasta. Karena sektor swasta ini pada intinya dijalankan oleh para investor, maka sesungguhnya yang dilayani hanya satu, yaitu para investor. Asumsinya:
18 19
SG SG
investor datang, rakyat senang. Janjinya, investor datang maka lapangan kerja berkembang, rakyat punya pekerjaan dan berkuranglah angka kemiskinan.
Apakah yang dimaksud dengan ‘reformasi struktural’
itu? Barangkali penjelasan yang cukup sederhana dari arti istilah tersebut diberikan oleh David Jay Green, ADB Indonesia Resident Mission, berikut ini:
Ladies and Gentlemen,
I am pleased to open this seminar on regulatory improvements for development of a conducive business environment and good governance.
The idea of using regulation to improve economic performance of the private sector in developing countries has a long history. In the United States, formal regulatory institutions were started in the beginning of the 19th century.
The market system is generally regarded as the proper basis for modern economies. But markets themselves can be imperfect, incomplete or missing. In these circumstances there is often the need for governments and other institutions to play a role in helping markets to function efficiently.
(Nyonya-nyonya dan tuan-tuan,
Saya sungguh senang bisa membuka seminar mengenai perbaikan-perbaikan regulasi bagi pembangunan sebuah lingkungan bisnis dan good governance.
Gagasan untuk menggunakan regulasi untuk meningkatkan kinerja ekonomi sektor swasta di negara- negara berkembang sesungguhnya telah memiliki sebuah sejarah panjang. Di Amerika Serikat, institusi-institusi pengatur regulasi yang bersifat formal bahkan telah di- mulai pada awal abad ke-19 [huruf miring dari penterjemah].
Sistem pasar secara umum telah dianggap sebagai basis yang tepat bagi perekonomian modern. Namun, pasar sendiri bisa saja tak sempurna, tak lengkap atau lenyap.
Dalam lingkungan-lingkungan yang demikian, seringkali
muncul kebutuhan agar pemerintah dan institusi-institusi lain memainkan peran untuk membantu pasar agar berfungsi secara efisien.)
David Jay Green mengungkapkan hal tersebut sebagai kata sambutan saat membuka Workshop on Conducive Businesss Environment and Good Regulatory Governance di Hotel Hyatt Aryaduta, Jakarta pada tanggal 3 Maret 2003. Dan apakah kriteria dari regulasi yang baik itu? Ada banyak cara untuk meregulasi. Namun ada beberapa pendekatan umum untuk mengevaluasi apakah regulasi itu baik atau buruk. Pertama, regulasi itu haruslah
“efektif” yaitu harus menjadikan pasar dan kerja perekonomian menjadi lebih baik. Kedua, regulasi itu harus konsisten dengan prinsip-prinsip dasar Good Governance, yaitu penyusunan regulasi harus dilakukan secara transparan yang ini secara tersirat bisa terbaca arahnya.
Jadi, jika dipahami sebagai keseluruhan, ‘reformasi struktural’ itu haruslah menjadikan pasar berfungsi secara efisien. Tentu saja, yang dimaksud disini bukanlah pasar tradisional atau pasar Senin-Kemis di desa-desa. Pasar yang dimaksud ialah proses dimana aktor-aktor privat dalam ekonomi bisa mencapai tujuan-tujuan ekonomis yaitu untuk akumulasi laba dan kapital yang sebesar-besarnya.
Subyek dari pasar ini yang dimaksud tentu bukanlah mbok penjual sayur, mbok penjual tempe, mbah penjual jamu dan sebagainya. Namun yang menjadi pelaku pasar adalah para investor. Lebih spesifik lagi, investor multinasional yang sibuk dengan bagaimana memperlancar pencapaian tujuan akumulasi laba dan kapitalnya sendiri. Mengapa investor multinasional yang sibuk mengejar kepentingan- nya masing-masing ini harus dilayani? Sekali lagi logika
“investor datang, rakyat senang” berlaku. Tapi, apakah investor asing itu selalu merupakan “Santa Klaus” yang baik hati dan dermawan?
Tentu saja, investasi merupakan sesuatu yang vital bagi pembangunan dan kemakmuran suatu bangsa. Namun
20 21
SG SG
investasi seharusnya tidak selalu diidentikkan dengan investor asing. Ketergantungan terhadap investor asing merupakan hal yang sangat berbahaya bagi kemandirian dan kemerdekaan ekonomi-politik bangsa dan negara. Jika lengah, jalur-jalur dan cabang-cabang ekonominya akan dikuasai dan dikontrol oleh investor-investor asing. Dan ketika hal ini terjadi maka denyut nadi kehidupan dan nasib rakyat bangsa tersebut sungguh berada di bawah kontrol investor-investor asing. Dalam kesempatan ini, yang ter- penting untuk diperhatikan ialah ketika Good Governance mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi regulasi yang melayani kepentingan investor asing.
Sehingga yang tercipta sesungguhnya ialah bangunan ekonomi-politik yang rapuh karena harus bergantung kepada investor asing (Putra, 2005).
Keterpukauan kebanyakan kaum intelektual dan birokrat atas konsep Good Governance sesungguhnya me- rupakan suatu yang wajar jika kita mengingat bahwa selama ini kaum intelektual maupun kaum birokrat kita memang kuat dengan tradisi text-book thinking-nya. Tradisi ini membentuk kesadaran dogmatik terhadap berbagai gagasan atau ide yang tertuang dalam teks-teks yang muncul di panggung internasional. Teks-teks dari luar dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan karena itu harus diterima sebagai suatu kebenaran mutlak. Elaborasi kritis belumlah menjadi bagian dari dunia intelektualitas dan birokrasi di negeri ini. Arus deras ide dari luar bukannya diposisikan sebagai suatu bahan yang masih harus ditimbang-timbang apakah selaras dengan -dan jika diterima, diolah lebih lanjut agar selaras dengan- tujuan bangsa dan negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Namun ide-ide asing tersebut malah diadopsi mentah-mentah menjadi paradigma fundamental dalam mempertimbangkan dan menyusun kebijakan. Bisa dikatakan, kebanyakan kaum intelektual dan birokrat di negeri ini hanya menjadi operator dan teknisi atas ide-ide
asing untuk dijalankan di negeri ini. Ide-ide asing pun mudah masuk ke dalam negeri ini secara lalu lalang karena kuatnya dogmatisme. Kerancuan antara berpikir ilmiah dengan text-book thinking menjadikan dogmatisme tetap marak dan lestari dalam tradisi intelektualitas dan birokrasi di negeri ini. Dogmatisme berlangsung tanpa ada imbangan refleksi yang memadai. Karena kerancuan berpikir itu, maka pemikiran yang dihasilkan pun rancu.
Tidak jelas ke arah mana negar-bangsa ini akan dibawa.
Semuanya hanya sekedar ikut arus ide-ide asing yang sedang tren.
Sikap dogmatisme sendiri merupakan sikap yang melupakan asal-usul maupun dampak historis dari suatu gagasan atau ide. Sikap dogmatis lupa bahwa gagasan atau ide tidak muncul dalam atau dari suatu ruang yang hampa, namun senantiasa lahir dari ruang sosial tertentu.
Yang ajaib dari sikap dogmatis ini ialah munculnya sikap puas dan bangga dengan kekaburan gagasan atau ide.
Kekaburan atau “keabstrakan” gagasan atau ide justru dianggap sebagai bagian dari karakteristik kebenaran atau kecanggihan suatu gagasan. Gagasan atau ide yang benar dan canggih itu ialah gagasan atau ide yang kabur, yang jauh dari sederhana. Demikianlah paradigma yang umum dianut di kebanyakan intelektual dan birokrat di negeri ini. Tak sulit untuk menemukan bukti dari kekaburan atau keabstrakan cara berpikir mereka. Kita bisa melihatnya dalam berbagai produk pemikiran yang ada entah itu berupa karya pemikiran, makalah diskusi, atau berupa draft rencana kebijakan. Di situ pasti akan kita temukan berbagai istilah dan konsep yang tak jelas betul apa yang dimaksud dan bagaimana pengejawantahannya secara praktis.
Niels Mulder pernah mengamati problem ini. Hanya saja dalam hubungannya dengan dunia pendidikan dengan mengatakan bahwa GG dipenuhi dengan skema-skema yang kabur dan kata-kata yang sukar. Tidak banyak dari
22 23
SG SG
mereka, termasuk pengajar mereka, yang mempunyai gambaran apa artinya teori dan untuk apa teori tersebut digunakan. Atau yang lebih mendalam, apa sesungguhnya makna mendasar sebuah penelitian sosial dilakukan. Bagi kebanyakan orang, penelitian hanya dianggap sebagai kerja pengumpulan data atau sesuatu yang harus dilakukan agar lulus dan lolos dalam sebuah tanggung- jawab normatif. Bila sudah sampai tingkat tertinggi atau mapan, orang tidak pernah merasa perlu melakukan penelitian lagi.
Tuduhan akan produk skema-skema yang kabur dalam penerjemahan sebuah gagasan mungkin merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan potret kebanyakan kaum intelektual dan birokrat di negeri ini.
Wajar jika kemudian karena dipenuhi dengan skema- skema yang kabur itu maka tak jelas pula hendak dibawa kemana organisasi besar yang disebut negara ini oleh mereka. Ide atau gagasan dihargai karena kualitas ide atau gagasan itu sendiri, bukan karena dampaknya atas realitas rakyat secara luas. Para intelektual dan birokrat telah menjadi terlalu sibuk berkutat di kantor-kantor dan berhadapan dengan tumpukan kertas-kertas kerja, bukan sibuk memperhatikan realitas nyata rakyat di desa-desa, di kota-kota, di jalan-jalan, di pasar-pasar tradisional dan sebagainya.
Buku ini merupakan usaha penulis untuk menghadirkan perspektif kritis terhadap konsep Good Governance yang sedemikian kabur itu. Di sini yang terpenting sebagai bahan sorotan bukanlah kekaburan dari konsep tersebut, namun dalam konsekuensi praktis dari konsep tersebut terhadap alam kesadaran maupun proses pemerintahan dan pengambilan kebijakan. Konsep Good Governance dalam pandangan penulis bukan lagi merupakan sekedar konsep belaka dimana wilayah analisisnya berkutat hanya di wilayah diskursus belaka. Namun karena merupakan suatu agenda yang menjadi syarat bantuan (aid conditionality)
yang harus diikuti oleh pemerintah negara penerima utang dari Bank Dunia maupun IMF. Sehingga analisis terhadap konsep Good Governance juga harus mencakup pula analisis terhadap bangunan realitas macam apa yang hendak dibangun oleh konsep tersebut. Analisa yang disajikan dalam buku ini diusahakan sedemikian rupa agar bisa memberikan pengayaan wawasan kepada khalayak pembaca mengenai konsekuensi-konsekuensi kenegaraan macam apa yang mungkin terbangun jika rezim politik yang berkuasa memilih untuk tunduk pada setiap dan segenap agenda Good Governance yang disodorkan oleh Bank Dunia maupun IMF.
Melihat sebuah peristiwa kecil dalam proses sejarah yang besar adalah prinsip yang melambari buku ini. Se- cara lebih spesifik, ‘peristiwa kecil’ yang dimaksud ialah
‘infiltrasi konsep Good Governance dalam gerak kehidupan berbangsa dan bernegara’. Sedangkan ‘proses sejarah yang besar’ itu ialah ‘proses sejarahnya bangsa Indonesia menuju masa depannya’. Kebiasaan untuk melihat sebuah peristiwa kecil dalam proses sejarah yang besar ini bagi penulis merupakan suatu kebiasaan mental-intelektual yang harus dikembangkan dalam dunia intelektual agar kemudian dunia intelektual Indonesia tidak terjerembab ke dalam lingkaran teks belaka sehingga hanya akan menghasilkan kepandaian retorika semata. Dunia intelektual Indonesia seharusnya diwarnai dengan tradisi intelektual yang selalu rajin mengembangkan tool of analysis bagi kepentingan-kepentingan bangsa dan negara.
Bukan sekedar mengekor atau menjiplak tool of analysis orang lain demi kepentingan orang lain pula. Dunia intelektual Indonesia harus melangkah ke tahapan yang lebih bertanggungjawab. Tahapan dimana dirinya bukan lagi sekedar murid setia dari pemikiran asing -yang tentu saja asing bagi bangsa-negaranya-, namun menjadi dunia originalitas dan otentisitas bagi kemajuan kepentingan bangsa dan negaranya. Era ketidakotentikan harus di-
24 25
SG SG
tinggalkan untuk melangkah ke era “berani mengeksplorasi diri sendiri”. Masa “takut-takut dicap tidak ilmiah dan tak berdasar teks” harus ditinggalkan berganti dengan masa “berani menemukan diri sendiri”
di tengah rimba raya teks yang carut marut. Beranikah dunia intelektual Indonesia? Ataukah mereka akan terus menjadi murid-murid manis dari setiap gagasan atau pemikiran asing?
Hal inilah yang menjadi perhatian serius pemikir terkemuka poskolonial, Edward Said, yang mengatakan bahwa sebenarnya dalam proses penulisan sejarah tidak ada sejarah yang lebih baik atau sejarah yang lebih buruk.
Yang ada adalah artikulasi kuasa yang lebih kuat dan artikulasi kuasa yang lebih lemah. Sebab tiap jengkal sejarah yang tercatat adalah hasil dari sebuah kekuatan artikulasi satu kekuasaan tertentu. Ilmuwan-ilmuwan India dan Asia Selatan saat ini telah jauh melakukan gebrakan ilmiah ini. Kita tentu mengenal tokoh kredit mikro yang sangat fenomenal dari Bangladesh, Muhammad Yunus. Dan yang juga harus diperhatikan adalah pemikir perempuan berdarah India, Gayatri Chakavorty Spivak. Tokoh poskolonial India ini men- yebutkan bahwa masalah mendasar mengapa masyarakat tertidas (subaltern) tak dapat bersuara adalah karena media untuk bersuara sudah dikuasai oleh kelas menengah dan elit. Tata bahasa, tata krama, dan tata aturan untuk mengungkapkan pendapat telah distandarisasi oleh budaya dan kebiasaan kelompok masyarakat tertentu yang jelas berbeda dengan budaya dan kebiasaan para subaltern (Spivak, 1988).
Tatanan politik dunia juga tersusun seperti itu. Negara- negara miskin dan berkembang harus tunduk pada tata aturan dan norma global agar dapat bersuara di tingkat global. Masalahnya, setting dari tata aturan tersebut telah bias oleh budaya negara-negara kaya dan adikuasa.
Sehingga ketika seorang dari negara-negara miskin di Sub
Sahara atau Asia Tenggara ingin berbicara, maka dia harus dapat terlihat seperti standar modular form tersebut, atau paling tidak ia harus melakukan mimicry. Sayangnya ketika itu terjadi, dia sudah tidak lagi dapat merepresentasikan dirinya seratus persen sebagaimana masyarakat aslinya yang hendak ia suarakan kepentingan- nya. Hal ini pulalah yang disesalkan oleh seorang tokoh kulit hitam paling tersohor, Frantz Fanon. Fanon menyebut kondisi ini seperti orang berkulit hitam yang mengenakan topeng berwajahkan orang berkulit kulit putih agar dapat disebut ‘beradab’ dan diterima keberadaannya di tengah masyarakat (Fanon, 1967). Fanon menyebutkan:
“To speak a language is to take on a world, a culture.
The Antilles Negro who wants to be white will be the whiter as he gains greater mastery of the cultural tool that language is. Rather more than a year ago in Lyon, I remember, in a lecture I had drawn a parallel between the Negro and European poetry, and a French acquaintance told me enthusiastically, ‘At the bottom you are a white man.’ The fact that I had been able to investigate so interesting a problem through the white man’s language gave me honorary citizenship”
[berbicara menggunakan bahasa tertentu adalah juga menerima budayanya. Seorang Negro Antilles yang ingin menjadi kulit putih akan menjadi demikian sebesar ia menguasai budaya dari bahasa yang dipakainya.
Setahun lalu di Lyon, dalam sebuah ceramah seorang teman Prancis mengatakan kepadaku dengan antusias,
‘jauh di dasar dirimu kamu adalah orang kulit putih.’
Sebab kenyataannya saya dapat melihat persoalan melalui cara orang kulit putih dan menggunakan bahasanya, dari itu pulalah saya dihormati sebagai seorang warga.]
Pernyataan di atas menunjukkan betapa dominasi dan hegemoni global tengah terjadi di berbagai sisi kehidupan
26 27
SG SG
manusia. Indikator keberadaban dan kemajuan telah ter- sentral menjadi sebuah ukuran tunggal. Peradaban dunia menjadi sangat monolitik. Hal inilah sesungguhnya yang membuat capaian GG di berbagai belahan dunia sebenarnya sangat artifisial dan formalistik di atas kertas laporan belaka. Tapi secara substantif hubungan ideal ne- gara, pasar dan masyarakat sipil tidaklah sungguh- sungguh tercapai secara mendasar. Kenyataan ini sebenar- nya telah diketahui secara luas oleh berbagai kalangan.
Pada titik ini, pertanyaannya adalah mengapa lembaga- lembaga donor internasional begitu getol untuk mendesak- kan program GG ini sehingga mengalokasikan anggaran yang begitu besar dalam jangka waktu yang begitu lama (umumnya antara 10 – 15 tahun)? Faktanya, di negara- negara berkembang kesempatan kerja sangatlah sempit.
Bahwa beberapa negara berkembang yang pendidikannya cukup baik malah justru banyak menciptakan pen- gangguran terdidik. Sehingga dengan adanya proyek GG yang datang dengan berbagai macam bentuk, donor dan daerah membuat masyarakat memandangnya sebagai kesempatan kerja. Mereka bekerja untuk proyek GG tetapi bukannya memetik manfaat dari outcome dari keberadaan ruh GG itu sendiri.
Proyek yang dilahirkan oleh pihak lembaga donor ini tak lain merupakan kelanjutan dari episode terdahulu tentang deveoplentalisme. Setelah teori pertumbuhan Rostow yang didukung oleh lembaga-lembaga donor ini pada kurun waktu 1970-an sampai awal 1990-an gagal total secara mondial. Hal ini terbukti masih saja negara- negara berkembang kondisinya jauh tertinggal baik secara ekonomi maupun politik. Maka babak berikutnya adalah membawa barang dagangan baru yang bernama Good Governance. Fakta menunjukkan bahwa tingkat inflasi di seluruh negara berkembang selalu saja di atas negara maju sejak hampir 40 tahun. Konteks sejarah sangat penting untuk memahami sebenarnya dari mana asal muasal desentralsaisi hadir di negara-negara berkembang.
Kepedulian Ali Farazmand -yang sesungguhya sudah diinternaslir oleh World Bank (2005)- tentang perlunya melihat ketidakadilan global sebagai agenda utama dalam pembangunan negara berkembang adalah hal penting yang harus dipertimbangkan. Sebab berbicara tentang GG bukanlah untuk GG itu sendiri. Berbicara pembangunan adalah berbicara mengenai keberpihakan terhadap subaltern, yaitu masyarat yang umumnya miskin. Maka membuat GG sebagai sebuah wilayah kajian yang steril dari kancah kehidupan yang luas sangatlah naif. GG bukanlah sebuah akuarium dengan terumbu karang dan ikan-ikan yang indah-indah. Akan tetapi dia harus di- tempatkan di dasar laut dimana keindahan dan kengerian bersatu padu dalam sebuah kehidupan nyata.
Berbagai literatur sangat penuh sesak dengan melulu menyalahkan masalah domestik sebagai penyebab kegagalan pembangunan di negara berkembang. Apakah semua problem tersebut juga steril? Apakah korupsi, kelangkaan anggaran dan lemahnya kapasitas pemerintah lokal adalah masalah bawaan negara berkembang sejak lahir? Kita akan coba melihatnya satu persatu dalam kacamata yang lebih luas, konteks global.
Gelombang kolonalisme yang berlangsung selama ratusan tahun meninggalkan bentuk formal negara di colonized countries. Konsep birokrasi rasional Weber terkirim secara internasional melalui proses kolonialisme tersebut. Hal ini terjadi karena para penjajah memerlukan sistem organisasi yang sesuai dengan kebiasaan mereka dalam rangka menjalankan sistem pemerintahan kolonialnya. Gaya organisasi pemerintahan yang birokratis tersebut telah terintenalisir selama ratusan tahun di negara- negara colonized (yang sekarang menjadi negara berkembang). Meskipun para penjajah telah pergi tapi mereka tetap mempraktekkan gaya pemerintahan penjajah tersebut. Kolonalisme juga selalu dilangsungkan dengan cara sentralistik. Tidak hanya sentralistik di daerah tertentu
28 29
SG SG
di wilayah itu, tapi juga tersentral di negara penjajahnya (Blaut, 1993, p. 53). Maka perilaku pemerintahan negara bekas jajahan (berkembang) yang sentralisitik dan birokratis sesungguhnya juga merupakan warisan dari kolonialisme itu sendiri.
Kelangkaan anggaran yang terjadi di negara bekas jajahan apakah dikarenakan mereka memang terlahir untuk menjadi miskin? Fakta menunjukkan bahwa sesunguhnya sebagian besar negara berkembang yang ada saat ini memiliki wilayah yang luas, penduduk yang besar dan sumber daya alam yang melimpah. Tapi kenyataannya negara-negara tersebut mengalami kelangkaan anggaran sehingga mereka harus melakukan hutang luar negeri.
Akibatnya negara tidak cukup memiliki dana untuk melakukan pembangunan domestik. Transfer dana dari pusat ke daerah pun tidak dapat berlangsung secara maksimal. Lalu kita harus melihat pada praktek MNC dan TNC di negara-negara berkembang. Apa yang mereka dapat dan berapa banyak? Apakah sebanding penghasilan perusahaan-perusahaan raksasa dengan kontribusinya pada negara dimana sumber daya alam itu mereka keruk?
Sebagai misal. Inggris adalah negara yang tidak memilki sumber minyak bumi. Namun negeri ini memiliki perusahaan minyak yang cukup besar (Knox, 2003, p. 77).
Kita juga bisa melihat bagaimana perbandingan antara anggaran tambang minyak dengan APBN kita. Di sini terlihat masalah finance yang menjadi salah satu persoalan atas kegagalan desentralisasi juga terkait dengan aspek global.
Sentralisasi, desentralisasi dan GG merupakan sebuah pemetasan yang diproduseri dan disutradaai oleh subyek yang sama. Fakta menunjukkan bahwa praktis sejak berakhirya PD II, hampir semua negara berkembang berada di bawah asuhan World Bank dan IMF, termasuk pada saat negara berkembang berada pada masa pra- desentralisasi. Lembaga-lembaga donor ini ada dan
beroperasi di masa-masa tersebut. Dan merka tetap saja men-support (untuk tidak mengatakan mendikte) praktek pemerintahan yang terjadi di sana (Panayiotopoulos and Capps, 2001, p. 48). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa otoritarian sentralistik pun sebenarnya keberadaan lembaga-lembaga donor sama persis ketika mereka mengkampanyekan desentrlisasi dan GG. Mereka sama- sama ada di dalam proses dan ada di balik dua praktek yang sebenarnya jauh bertentangan, yaitu sentralisasi dan desentralsisasi, bad governance dan good governance.
Demikian pula korupsi yang menjalar di seluruh jaringan birokrasi pemerintahan yang diakibatkan hazard debt yang diberikan lembaga-lembaga donor kepada pemerintahan- pemerintahan diktator sentralistik.
Oleh karenanya yang paling penting saat ini adalah bagaimana untuk menerapkan keadilan global dalam rangka reformasi pemerintahan di negara berkembang.
Konsep Ali Farazman “Sound Governance” (2004) merupakan sebuah terobosan yang sangat keras terhadap gaya neo-liberal bertajuk “good governance” yang hanya mempersepsi masalah negara berkembang sebagai melulu masalah domestik. Dengan strategi penataan kembali hubungan internasional yang dilakukan bersamaan dengan pembenahan internal, merupakan agenda yang paling tepat untuk perbaikan sistem pemerintahan di negara berkembang. Sebenarnya World Bank sendiri (2006) sudah menyadari adanya ketidakadilan struktural internasonal yang hal ini harus diperbaiki bersamaaan dengan perbaikan masalah domestik, seperti korupsi, finansial, kapasitas, dan lain-lain. Redistribusi kekuasaan pertumbuhan dan pemerataan jangan menjadi dikotomi.
Hanya saja baik GG maupun World Bank belum cukup memberikan bekal teknis bagaimana cara mewujudkan itu semua. Keduanya masih bersifat wacana diskursif tentang perlunya hal tersebut tapi tak memberi bimbingan bagaimana mewujudkannya. Untuk mewujudkan keadilan
30 31
SG SG
BAB III
GOOD GOVERNANCE
SEBAGAI ANAK IDEOLOGIS NEOLIBERALISME
dalam daya tawar internasional negara berkembang berhadapan dengan negara maju bukanlah soal mudah.
Dari segi ekonomi konsolidasi negara maju baik melalui OECD maupun melalui G-8 sangatlah solid. Sukar bagi negara berkembang untuk menerobos bisnis skala global bila jaringan eksklusif negara maju dengan kekuatan modal yang luar biasa masih saja bertahan.
Belum lagi berbicara tentang kekuatan militer negara maju yang sudah jauh di atas rata-rata. Hal-hal tersebut membuat daya tawar negara berkembang menjadi sangat lemah. Penekanan-penakan kebijakan negara berkembang agar berpihak pada kepentingan bisnis negara maju terus berjalan. Sementara perkembangan pembangunan saat ini sudah menghadapkan pembangunan sebagai pintu untuk memasuki bisnis global (Montgomery et all, 2003). Bila ini dipraktekkan, maka sama artinya dengan pem- bangunan di negara berkembang untuk memasuki arena pertarungan yang tak sebanding. Wajar bila Motogomery mengatakan bahwa pembangunan di negara berkembang tak mampu menjadi mesin penggerak ekonomi sebab ekonomi dunia masih ditentukan oleh segelitir negara kaya.
Buku ini sama sekali tidak mengajak kita pada sikap oksidentalisme yang serba anti barat. Sebab kenyataan dunia saat ini sudah sangat kompleks dan tak lagi dikotomis. Yang paling penting untuk dilakukan adalah, sebagaimana dikatakan Prakash, reworking sejarah barat dan melakukan provinsionalisasi atas standar barat, bukan menghabisinya (Prakash, 1996). Artinya, bagaimana me- nempatkan segala standar-standar ideal versi barat, ter- masuk terma ‘good’ dalam GG hanya untuk konteks barat saja. Dan mempersilahkan tumbuh kembangnya berbagai indikator lain di daerah lain dalam konteksnya masing- masing. Hal ini menjadi semangat dasar SG yang didasarkan pada prinsip toleransi dan pengenalan dan pengakuan atas adanya keberagaman dalam reformasi tata pemerintahan.
Sekilas Tentang Ideologi
‘Ideology is most effective when its working are least visible... And invisibility is achieved when ideologies are brought to discourse not as explicit elements of the text, but as the background assumptions which on the one hand lead the text producer to ‘textualise’ the world in a particular way, and on the other hand lead the interpreter to interpret the text in a particular way.’
(Fairclough, 1989: 85) (Ideologi itu paling efektif ketika dia bekerja dengan sangat tak terasa... Dan ketidakterasaan ini akan dicapai manakala ideologi-ideologi dihadirkan ke dalam diskursus bukan sebagai elemen-elemen yang bersifat eksplisit dari teks, namun sebagai asumsi-asumsi latar belakang yang di satu sisi mengarahkan produsen teks untuk ‘men- tekstualisasikan’ dunia dengan cara tertentu)
* * *
Bagi seorang petani, cangkul merupakan benda yang penting. Sementara bagi seorang tukang jahit, cangkul bukan termasuk benda yang penting jika dibandingkan dengan mesin jahit atau segulung benang. Mengapa benda yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi dua orang tersebut? Karena adanya perbedaan cara pandang di antara keduanya. Dan perbedaan cara pandang tersebut pada gilirannya ditentukan oleh posisi kedua orang terebut dalam struktur sosio-ekonomi yang ada. Sebagai petani,
32 33
SG SG
seseorang akan melihat dunia secara berbeda dengan seorang nelayan. Bukan karena individualitasnya, namun karena profesi keduanya membutuhkan alat-alat dan cara kerja yang berbeda satu sama lain. Posisi yang berbeda dalam struktur sosio-ekonomi telah membentuk cara pandang yang berbeda diantara keduanya dalam mem- prioritaskan makna benda yang bernama ‘cangkul.’
Cara pandang itu sendiri bukanlah sesuatu yang fixed dan tak bisa diubah. Cara pandang adalah sesuatu yang cair dan senantiasa bisa dibentuk sekaligus membentuk cara pandang pihak lain. Pada dasarnya, cara pandang itu merupakan sesuatu yang berwatak sosio-historis.
Artinya, cara pandang tertentu merupakan buah atau produk dari suatu proses sosial yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Proses sosial yang dimaksud ialah proses komunikasi. Apa yang sesungguhnya berlangsung dalam proses komunikasi bukanlah sekedar penyampaian pesan dari pihak pengirim ke pihak penerima, namun lebih dalam dari itu. Proses komunikasi merupakan proses dimana konsepsi-konsepsi atau cara-cara pandang dunia yang dianut oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam proses itu saling bertemu dan berhadap-hadapan satu sama lain. Ketika konsepsi atau cara pandang dunia itu relatif mirip, maka yang terjadi ialah penguatan atau pengukuhan cara pandang satu sama lain. Sementara ketika konsepsi atau cara pandang dunia itu saling bertentangan sehingga yang terjadi ialah sebuah pertarungan saling mendominasi.
Ketika cara pandang itu mencakup suatu gagasan yang kohesif dan komprehensif mengenai dunia sosial ideal yang dicitakan maka secara sederhana cara pandang tersebut disebut sebagai ideology. Sebagai suatu cara pandang, ideologi ada dalam ruang kesadaran, bukan dalam ruang teks. Teks menyampaikan ideologi, namun teks bukan ideologi itu sendiri. Ideologi ada dan mengeram dalam diri manusia, bukan dalam aksara. Apa yang dilakukan aksara atau teks hanya sebagai perantara antara ruang kesadaran
yang satu dengan ruang kesadaran yang lain, antara satu cara pandang dengan cara pandang lain. Pemahaman bahwa ideologi ada dan mengeram dalam ruang kesadaran manusia dan bukan dalam teks, merupakan pemahaman yang penting artinya agar di kemudian hari tidak muncul anggapan bahwa seolah-olah ideologi itu hanyalah suatu debat wacana semata. Ideologi merupakan sesuatu yang hidup karena dia ada sebagai cara pandang manusia.
Bukan ada dalam dunia teks atau sebagai bagian dari teks.
Pemahaman seperti ini tentu saja bertentangan dengan anggapan umum yang menganggap bahwa ideologi itu ada dalam teks yang kemudian ditanamkan secara begitu saja dalam benak manusia seolah-olah benak manusia itu bagaikan tanah yang bisa ditancapi apa saja dengan gampangnya. Ideologi pertama-tama dan terutama ada tidak di awang-awang dunia teks. Namun ia ada dalam ruang kesadaran dan isi ruang kesadaran itu selalu akan tercermin dalam corak perilaku dan terartikulasi melalui tindakan dalam bentuk praktek yang dilakukan manusia.
Ideologi bukanlah das Ding an sich, suatu benda yang ada dalam dirinya sendiri. Ideologi adalah cara manusia memandang dunia, atau dalam bahasa kerennya, suatu proyeksi atas dunia yang dilakukan manusia dalam alam batinnya.
Ini tak berarti bahwa membicarakan teks dalam hu- bungannya dengan ideologi itu menjadi tidak penting.
Justru sebaliknya, membincang teks menjadi penting disini.
Hanya saja, harus dipahami posisi teks itu mewujud sebagai apa. Seperti sudah dikatakan, teks merupakan penyampai ideologi dari satu ruang kesadaran ke ruang kesadaran lain. Efektivitas teks sebagai penyampai sangat ditentukan oleh kecanggihan suatu ruang kesadaran (yaitu manusia) untuk membangun teks yang sedemikian rupa sehingga akan bisa diminimalisir sekecil mungkin resistensi dari ruang kesadaran lain (individu yang lain). Tidak setiap teks itu bisa diterima begitu saja oleh ruang kesadaran lain.
34 35
SG SG
Tidak setiap teks bisa mengeram begitu saja dalam ruang kesadaran lain. Kutipan Norman Fairclough di atas barangkali bisa memberikan wawasan sederhana mengenai bagaimana agar suatu ideologi bisa efektif mengeram di suatu ruang kesadaran lain lewat perantaraan teks atau diskursus. Kemampuan untuk menjadikan suatu teks diskursif bisa menyampaikan ide
“secara tanpa terasa” atas cara pandang atau ideologi tertentu kepada ruang kesadaran (pikiran manusia) lain menjadi kunci dari efektivitas penyebarluasan ideologi ke khalayak yang lebih luas. Watak sosial dari teks inilah yang menjadikan perbincangan tentang teksdalm ruang ideologi itu merupakan hal amat vital karena dalam posisinya sebagai wahana komunikasi, teks mempunyai potensi secara efektif untuk menyebarluaskan ideologi ke berbagai ruang kesadaran secara luas.
Bagaimanapun juga, setiap cara pandang itu agar bisa dikomunikasikan kepada pihak lain, kepada ruang kesadaran lain, akan dihadirkan dalam bentuk ungkapan- ungkapan diskursif seperti kalimat atau konsep. Maka setiap kalimat atau konsep sesungguhnya membawa cara pandang tertentu atas dunia, baik disadari atau tidak oleh pihak pewicaranya. Tak ada kalimat atau konsep yang netral dari penyampaian cara pandang tertentu, bahkan untuk kalimat yang nampaknya sederhana. Setiap kalimat atau konsep akan disampaikan dalam suatu konteks dan dengan cara tertentu. Sebuah kalimat akan mengubah konstelasi segenap alam kesadaran yang ada dalam konteks tersebut. Ambil satu contoh, misalkan ungkapan yang mengatakan “Dia adalah anaknya si X”. Kalimat tersebut akan menjadikan orang-orang yang mendengarnya lantas paham bagaimana memposisikan “dia” karena telah di- ketahui bahwa ternyata “dia” adalah anak anak dari si X.
Informasi mengenai “anak si X” memberi petunjuk men- genai bagaimana cara memandang “dia”. Cara pandang
orang-orang terhadap si X berubah akibat adanya informasi yang terkandung dalam kalimat tersebut.
Hanya saja, memang tidak setiap kalimat atau konsep itu membawa cara pandang yang kohesif dan komprehensif.
Kohesivitas dan komprehensivitas cara pandang akan tercipta manakala cara pandang itu merupakan suatu cara pandang yang lebih saling kait-mengkait membentuk gambaran yang lebih luas tentang dunia. Kohesivitas berhubungan dengan bagaimana sesuatu dipandang memiliki hubungan (apapun jenis dan tingkatan hubungan- nya) dengan hal-hal yang lain. Sedangkan kompre- hensivitas berhubungan dengan banyaknya hal-hal yang disatukan menjadi satu untaian atau jalinan hubungan yang utuh. Jadi, ideologi tak memandang dunia sebagai keping-keping yang berserakan. Akan tetapi ia merupakan jalinan satu kisah yang mengarah atau menuju kepada hal-hal yang lain. Nah, setiap ideologi memiliki penjelasan mengenai segala sesuatu yang saling berhubungan dalam jenis dan tingkatan tertentu. Dalam konsep-konsep rasional, watak ideologis dari setiap konsep rasional tersebut niscaya ada. Hal ini karena konsep rasional senantiasa men- gandung pengandaian-pengandaian tentang gambaran dunia yang utuh dan saling jalin-menjalin diantara bagian- bagiannya. Dimana konsep tersebut merupakan proses penyederhanaan dalam merepresentasikan proses atau struktur rangkaian antara bagian-bagian yang ada atas gambaran dunia tersebut.
Sekilas tentang Neoliberalisme
Rodan, G, Kevin Hewison dan Richard Robinson (2001) secara gamblang memetakan posisi neoliberalisme di tengah ideologi-ideologi lainnya dan berbagai derivatif yang ada di dalamnya.
Teori ekonomi neo-klasik adalah sebuah pendekatan (ideology) yang mengutamakan mekanisme pasar.
Asumsinya adalah sifat alamian dari pasar (mencakup
36 37
SG SG
pemburu rente. Kedua, kebijakan publik harus mengarah pada perubahan peran negara sebagai pelaku utama pembangunan menjadi fasilitator, sebab pelaku utama pembangunan adalah pasar. Ketiga, kebijakan publik harus dapat memberikan piranti bagi negara (fasilitator) dalam menjamin keberlangsungan pasar secara efisien. Dari sini terlihat bahwa sebenarnya paham neoliberalisme tidak sepenuhnya “anti-negara.” Pada level tertentu ia masih membuthkan peran negara, mseki dalam level yang sangat minimal.
Salah satu problem inheren dari liberalisme klasik yang hendak dijawab oleh neo-liberalisme adalah masalah
“collective action dillema.” Ketika motivasi memaksimal- kan keuntungan pribadi menjadi fundamen inti dari mekanisme alamiah pasar dalam bekerja, maka masalah
“collective action” ini muncul. Pertanyaannya adalah siapa yang rela mengorbankan tenaga dan waktunya untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat kebutuhan publik (public goods)? Utamanya saat di mana kebutuhan publik itu akan terpenuhi bila hanya cukup satu orang saja yang mengerjakannya, maka semua orang akan merasakan manfaatnya. Saat situasi seperti ini terjadi, siapakah orang yang mau bersukarela mengambil peran itu? Terlebih ketika insentif yang didapatkannya sama saja dengan insentif bagi mereka yang tidak mengerjakannya. Atau bahkan insentif yang didapat lebih sedikit dan mereka- mereka yang ikut menikmati hasilnya.
Contohnya, di kota tertentu ada sebuah aktifitas industri yang menimbulkan polusi yang dapat membahayakan kesehatan seluruh warga kota. Semua orang di kota itu tahu kalau sistem pembuangan limbah perusahaan tersebut harus dievaluasi dan dikritisi. Akan tetapi tidak ada yang mengambil inisiatif, sebab mereka saling menunggu satu sama lain. Bila ada satu orang saja yang mengambil tindakan untuk berbicara pada pimpinan perusahaan dan pejabat setempat maka masalah akan hukum-hukum internal serta pilihan rasional individu-
individu yang ingin memaksimasi keuntungan) membuat pasar menjadi sebuah mekanisme yang paling effisien secara universal. Kebijakan publik yang baik, dengan demikian, adalah kebijakan yang dapat menjamin bergeraknya pasar secara bebas. Intervensi Negara terhadap bergeraknya pasar secara bebas itu akan mengurangi efektifitas dari pasar dalam mengalokasikan sumber daya. Pada basis inilah World Bank dan IMF mendesakkah strategi deregulasi ekonomi, privatisasi dan fiskal ketat (yang kemudian disebut Washington Consensus) ke negara-negara berkembang ditahun 1980- an sampai 1990an.
Neo-klasik bermetamorfosis menjadi neoliberalisme saat prinsip-prinsip pasar diperluas penerapannya tidak hanya dalam bidang ekonomi tapi juga arahan umum dalam berbagai sisi dalam kehidupan sosial, termasuk pemerintahan.
Dalam konteks ini, sekali lagi, tugas dari Negara adalah menjamin berlangusngnya pasar bebas. Pasar bebas yang dimaksud seringkali gagal berjalan dengan optimal karena adanya rent-seekers (pemburu rente), yaitu para aktor yang memanfaatkan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan sendiri dari pasar. Pasar, oleh para pemburu rente ini, dimanipulasi sehingga aliran sumberdayanya tidak mengarah pada kehendak pasar, melainkan mengarah pada kehendak para pemburu rente itu. Dari sini, tapmak bahwa konsep “rent-seeking society” juga merupakan bagian dari paham neoliberalisme. Negara, menurut para komprador neoliberalisme, dengan ke- kuasaannya, harus dapat mengeliminasi para pemburu rente dari muka publik.
Kebijakan publik yang baik, oleh karenanya, harus mencakup setidaknya tiga hal. Pertama, kebijakan publik harus dapat meningkatkan kapasitas negara dalam mengeliminasi keberadaan dan tumbuhkembangnya